Search This Blog

Tuesday, December 26, 2006

S U A K A

Cerpen : DAMHURI MUHAMMAD

(Pikiran Rakyat, 23 Desember 2006)

TUBUH langsing perempuan itu, kini terbaring menelentang dikelilingi elektrokardiogram, tabung-tabung oksigen, dan selang-selang infus. Jasadnya tak lebih dari gumpalan daging sekadar pembalut tulang belulang. Begitu pun raut wajahnya (yang menurut ketajaman mata batinmu adalah rona muka paling jernih dari semua perempuan yang pernah kau kenali), kini kian buram. Lebih buram dari wajah mentari tertindih mendung senja hari. Lalu, apa lagi yang masih bisa kau harapkan dari perempuan yang sudah setengah bangkai itu? Separuh hidup, separuhnya lagi sudah mati.

"Aku tak butuh ranum tubuhnya. Aku hanya ingin ia sembuh. Itu saja!"

Hmm...! Kau tak butuh sentuhannya, Andesta? Kau tak ingin mendengar desah suara dan sengah nafasnya manakala kalian sedang berpelukan? Kau tak ingin lagi tubuhnya bersandar di dadamu? dan kedua lengannya melingkar di lehermu?

"Aku ingin ia terbebas dari rasa sakit keparat itu."

**

ANDAI saja gerak dan laju perputaran waktu dapat ditelikung jauh ke belakang, nun ke masa silam. Lalu, kau dapat berkunjung ke suatu periode sejarah paling purba, saat itu tidakkah kau hendak bertanya: Kenapa Adam masih terkepung sunyi di taman sorgawi yang "mandi" cahaya? hingga ia bermohon agar Tuhan menghadirkan Hawa di sisinya?

"Apa maksudmu?"

Ya, di titik inilah sejarah bermula, bahwa kelak laki-laki harus hidup berpasangan dengan perempuan. Kelamin jantan mesti bertemu dan beradu dengan kelamin betina dalam sistem keberpasangan intim. Maka, bermulalah sejarah cinta, kesetiaan, dan pengorbanan. Dimulai pula ritual upacara pernikahan yang paling tua. Sejarah itulah yang lantas kalian warisi di kemudian hari, hingga (entah kenapa) kau dan perempuan itu pun bertemu dan bersatu dalam bingkai jodoh. Padahal, kalian tak pernah menduga sebelumnya, bukan? Siapa yang mesti disalahkan dalam hal sejarah cinta, kesetiaan, dan pengorbanan? Tentu Adam, sebab dia manusia pertama yang mengobarkan api cinta, hingga Hawa menjadi bagian dalam hidupnya. Ah, tidak adil bila menyalahkan Adam, mungkin Hawa yang salah, sebab ia terpikat pada bujuk rayu Adam, hingga kelak kalian mewarisi kultur keberpasangan yang seringkali berakhir dengan duka dan nestapa. Iya, tapi salah Adam juga, kenapa memohon doa untuk kehadiran Hawa? Kalau begitu, yang salah bukan Adam, bukan Hawa, tapi Tuhan. Sebab, Tuhan mengabulkan doa Adam.

"Huss..., Tuhan jangan dibawa-bawa!"

Jika saja kalian tidak tergoda dan lalu terperangkap dalam kultur keberpasangan yang diwariskan nenek moyang bangsa manusia, tentulah kau bukan jodoh bagi perempuan itu. Bukan suaminya. Tentulah, tidak akan terberati perasaanmu oleh beban yang sesungguhnya tak sanggup kau pikul, bukan? Tentulah, kau tak perlu menimbun dan menumpuk hutang untuk membiayai pengobatannya. (kau tak akan mampu melunasi hutang-hutang itu meski bekerja seumur hidupmu). Tentulah, kau tidak akan ikut merasakan betapa menyiksanya petaka yang sedang menimpa perempuan itu.

**

BERSELANG dua bulan setelah pernikahan mereka, tiba-tiba saja Ladunna jatuh sakit. Perutnya terasa kembung dan mual. Muntah-muntah seperti gejala orang ngidam. Dengan perasaan penuh waswas bercampur cemas, Andesta bersegera melarikannya ke rumah sakit. Tak disangka-sangka, dokter menyatakan istrinya itu hamil. Semula Andesta tersentak bangga sembari mengumbar senyum lega. Sebab, tak lama lagi ia akan menjadi ayah bagi janin dalam kandungan Ladunna. Pucuk dicinta ulam pun tiba.

"Istri Anda positif hamil, tapi kehamilannya di luar kandungan. Karena itu, mesti dioperasi."

Seketika, jantungnya seperti hendak berhenti berdenyut. Seperti ada yang menghentak dan menyesak di rongga dadanya. Sulit ia mengatur detak nafas. Kian lama kian kencang, tak beraturan. Lelaki itu dikepung rasa cemas tak terkata. Cemas bilamana operasi itu gagal. Cemas jika operasi itu bukannya menyelamatkan kandungan Ladunna, tapi justru bisa berakibat fatal atau bahkan dapat merenggut nyawa istrinya.

Apa yang dicemaskan Andesta, akhirnya datang juga. Ya, sejak operasi itulah asal muasal musibah itu bisa dirunut. Tubuh Ladunna tergeletak lemas, menelentang tak sadarkan diri. Ladunna sekarat dan tak mampu mengenali Andesta lagi. Mengenali suaminya sendiri. Sekadar menghitung berapa banyak selang yang bersilang-pintang di tubuhnya pun, perempuan itu sudah tak kuasa. Denyut nadinya seperti kerakap tumbuh di batu. Hidup segan, namun mati tak hendak. Dokter menvonis, perempuan itu menderita vegetative state, batang otaknya rusak permanen. Bukankah itu sama saja artinya dengan kematian?

**

PERCUMA saja kau bersetia menunggu kesembuhannya dari penyakit itu! Kenapa kau masih saja sabar dan senantiasa berharap? Sudahlah, Andesta! Berhentilah menunggu sesuatu yang patut lagi ditunggu! Mestinya, petaka dan musibah itu kau percayai saja sebagai takdir!

"Ah, aku sulit untuk yakin pada takdir."

"Sst...! Kau tak bisa menolak takdir, Andesta!"

"Iya. Tapi, jika aku memercayai sakit parahnya itu adalah takdir, betapa tak mujurnya takdir Ladunna. Memilukan. Takdir yang melumpuhkan semangat hidupku."

"Jadi kau tidak percaya dengan ganasnya penyakit yang berjangkit di tubuh istrimu itu?"

"Tubuhnya memang sedang digerogoti penyakit. Tapi, bukankah tak ada penyakit yang mampu membunuh dan tak ada pula obat mampu menyembuhkan?"

Kau benar! Tapi, tidak dibunuh pun, istrimu sudah mati lebih dulu. Ladunna sudah jadi mayat sebelum ajal datang menjemputnya. Sejak batang otaknya rusak total dan syaraf-syaraf motoriknya kehilangan fungsi, sulit sekali ia mengingat-ingat dan membayangkan betapa khidmatnya prosesi pernikahan yang baru saja kalian alami dua bulan lalu. Sekadar menyimpan kenangan tentang tahi lalat yang melekat di jidatmu atau kecupan malam yang menyisakan basah di kuduknya, Ladunna sudah tak mampu. Daya ingat dan kualitas kecerdasannya amat rendah. Lebih rendah dari kecerdasan hewan.

Benarkah kau hendak membebaskan istrimu dari rasa sakit yang telah melumpuhkan itu? Kau berkenan bilamana rasa sakitnya dialirkan ke tubuhmu? Kau sungguh-sungguh, Andesta?

"Beritahu aku bagaimana cara memusnahkan rasa sakitnya!"

"Gampang sekali, Andesta!"

"Katakanlah! Akan segera kulakukan untuknya."

"Bunuh ia! Maka, penyakit istrimu akan mati, mengiringi kematiannya."

**

LADUNNA....

Penyakit itu sudah berurat, berakar, bersenyawa, dan berkelindan dengan organ-organ tubuhmu. Sukar sekali mematikan rasa sakitmu itu. Apa boleh buat. Satu-satunya cara yang dapat membunuh penyakitmu adalah dengan membunuhmu. Aku sudah bermohon pada lembaga yang berwenang agar mereka berkenan memberi izin pada dokter untuk menancapkan suntikan eutanasia di tubuhmu. Suntik mati. Maafkan aku, Ladunna! Aku tak bermaksud mengakhiri hidupmu, aku hanya ingin membunuh rasa sakitmu. Tapi, mereka menolak permintaanku dan terus-menerus menghalangi niatku. Mereka bahkan menuduhku lelaki sadis yang tega merenggut hidup istrinya sendiri.

Jadi, kau pikir mati itu menyakitkan? Bagi Ladunna, mungkin jauh lebih menyakitkan membiarkanmu senantiasa berharap pada kesembuhannya. Membiarkan suaminya mengurut dada pada setiap jeda waktu bersitatap dengan sorot matanya yang kian hari kian sayu. Bukankah akan lebih baik memilih mati ketimbang hidup, namun tak bermutu? Lebih baik mati, karena kualitas hidup Ladunna lebih buruk dari kematiannya. Maka, bagi istrimu kematian sama sekali tidak menakutkan, apalagi menyakitkan. Kematian Ladunna adalah suaka. Kematian yang membebaskan. Ya, membebaskan perempuan itu dari gairah hidup yang makin lama makin redup. Sekaligus, membebaskan Andesta, suaminya dari riwayat penungguan sia-sia.

"Lalu, bagaimana caranya?"

"Tolong beri tahu aku!"

"Aku sudah tak sabar."

Kau tak perlu bersusah-susah dan mengemis mohon izin untuk membenamkan jarum suntik mati di tubuh Ladunna. Cara yang kau pilih terlalu sulit dan berbelit-belit. Sementara ulu hatimu terus tersayat-sayat rasa ngilu melihat kondisi istrimu yang kian hari kian memburuk. Maka, akan kutunjukkan cara yang lebih mudah.

"Cabut saja salah satu selang yang melekat di tubuhnya! Selang infus di tangannya, atau selang oksigen di hidungnya. Gampang, bukan?"

"Aku tak sanggup!"

"Andesta, cabut saja selang itu!"

"Tidak! Aku tak sanggup membunuhnya."

"Ayolah!"

"Tidak!"

"Sst...! Kau tidak membunuh Ladunna, tapi 'mematikan' penyakitnya. Lakukanlah!"

"Sudah kubilang, tidak!"

"Bunuhlah ia...!"

"Bunuh penyakitnya...!"

"Bebaskan ia...!"

"Ayolah, sayang...!"

***

Jakarta, 2005

Monday, December 25, 2006

Mempertahankan 'Iman' Kepengarangan?

Oleh : DAMHURI MUHAMMAD


(Seputar Indonesia, 19 November 2006)


Kerap muncul dugaan (mungkin lebih tepat ; tuduhan) bahwa belakangan ini ada sejumlah cerpenis muda yang menggebu-gebu memburu publikasi di koran-koran minggu. Jangan heran, di hari yang sama, nama cerpenis tertentu bisa terpajang di tiga media berbeda (tentu dengan judul dan isi berbeda). Tiga cerpennya dimuat di tiga rubrik budaya koran minggu berbeda, pada hari yang sama. Saya agak sungkan menyebut nama, tapi para penyuka cerpen koran tentu sudah tahu siapa pemburu publikasi koran paling ulung sepanjang tahun 2005, misalnya. Saya punya teman seorang cerpenis yang cukup rajin mengirimkan cerpen ke meja redaktur (meski angka publikasi cerpennya tak segemuk yang diceritakan di atas). Ia pernah dijuluki 'raja koran minggu' (barangkali ini berlebihan). "Hoi, jangan terlalu mengejar jumlah publikasi! Itu bunuh diri kepengarangan!" kata teman lain, menasehatinya. Dengan lapang dada ia menerima nasehat itu. Memang, produktifitas kadang-kadang tidak serta merta berarti positif bagi masa depan kepengarangan. Bila tidak hati-hati, kualitas karya bakal sulit dipertahankan, energi kreatif yang diporsir amat beresiko melahirkan karya-karya prematur, sukar dipertanggungjawabkan, baik secara estetik maupun tematik. Gejala ini memang mulai terasa bila kita jeli memerhatikan cerpen-cerpen yang berhamburan setiap minggu.

Teman cerpenis muda pemburu publikasi koran itu seperti orang baru kecanduan merokok. Pinginnya merokok terus, sampai pipinya kempot. Begitulah bunyi ledekan yang pernah didengarnya. Tapi, benarkah ia telah kecanduan publikasi? Saya kira ini juga agak berlebihan. Ia pernah membela diri atas tuduhan tersebut, bahwa ia hanya berusaha pertahankan 'iman' kepengarangan. Sebab, bila tidak dipertahankan, ia gampang dirasuki macam-macam godaan. Misalnya ; "Berhentilah mengarang! Biar hidupmu tidak terus-terusan susah! Carilah pekerjaan yang lebih menjanjikan! Apa kau tak ingin kaya seperti orang-orang itu? Jika mengarang terus, kapan nasibmu berubah? Kau mau melarat terus hah?" Nah, untuk menghadang bisikan-bisikan itu ia tak henti-henti mengarang, tiada hari tanpa mengarang hingga cerpen-cerpennya menumpuk. Sebagai pengarang tentu ia ingin karyanya dibaca orang, dan kalau mau dibaca tentu harus dipublikasikan. Sejauh ini, publikasi cerpen memang koran minggulah tempatnya.

Lalu, apa yang salah? O, iya, mungkin kesalahannya karena sering mencaplok lahan cerpenis lain. Maklumlah, jumlah koran yang menyediakan ruang publikasi cerpen amat terbatas, sementara jumlah penulis cerpen makin membludak. Tapi, bukankah kebijakan redaksional setiap media selalu didasarkan pada mekanisme seleksi? Artinya, hanya cerpen bermutu yang bakal terpilih sebagai pengisi rubrik budaya mereka. Boleh dong teman saya itu ikut berkompetisi? Soal ia terlalu memburu dan sudah mencandu pada publikasi koran, soal produktifitas yang bakal menggiringnya pada 'bunuh diri' kepengarangan, sebaiknya kita serahkan saja pada pembaca untuk menilainya. Tugas para cerpenis hanya menghidangkan bacaan yang renyah, gampang dicerna, enak dibaca, setelah itu terserah pembaca. Bila ada yang mengatakan cerpen tertentu 'kurang maju' maka penulisnya mesti lebih banyak belajar, supaya cerpennya lebih bermutu. Sebaliknya bila ada yang memuji (ini kalau ada), si cerpenis tidak harus membusungkan dada, tak terbuai puja-puji dan decak kagum.

Maka, bahaya 'bunuh diri' kepengarangan dan tuduhan miring terhadap para cerpenis muda pemburu publikasi koran, agaknya tidak perlu terlalu dicemaskan. Sangat mungkin, tingginya angka produktifitas dalam proses kreatif (khususnya cerpen) adalah akibat tak tersengaja dari segenap 'kesabaran' mereka dalam menjaga 'iman' kepengarangan. Selain itu, (tak dapat dipungkiri) laju kekaryaan juga kerap terpicu dan terpacu oleh desakan-desakan kebutuhan hidup sehari-hari. Buktinya, cerpenis muda yang pernah beroleh julukan 'raja koran minggu' itu tidak ragu-ragu lagi mengaku bahwa ia memang menghidupi anak-istrinya dengan honorarium cerpen. Dalam darah anak-anak saya, mengalir 'darah honor', begitu ia bersijujur. Cukup banyak kawan yang meragukan pilihan sulit itu, termasuk saya. Tapi sejauh ini ia masih tetap hidup dan masih bisa mengarang. Pertanyaannya (lagi-lagi), adakah yang salah dengan kepengarangan cerpenis muda itu? Apa ada larangan bagi pengarang untuk hidup dengan karya-karyanya? Setahu saya, itu 'halal' dan sah-sah saja…

Hidup dari honor cerpen memang halal dan sah-sah saja. Tapi, pilihan itu juga bukan tanpa resiko. Cerpenis muda yang saya ceritakan di atas pernah dihadang pertanyaan yang sukar sekali dijawab. "Wah, kalau begitu kau tidak sedang mempertahankan 'iman' kepengarangan, tapi mempertahankan hidup!". Jadi, 'iman' kepengarangan yang sering disebut-sebut hanyalah siasat untuk menyembunyikan masalah yang sebenarnya. Bagaimana mungkin kualitas karya dapat dipertanggungjawabkan bila kerja kepengarangan hanya bertumpu pada uang? Cerpenis muda itu mulai gelagapan dan salah tingkah. Betapa tidak? Ia seperti menepuk air di dulang. Kian ditepuk kian basah muka sendiri. Nyaris ia tak bisa mengelak bahwa produktifitas kekaryaan yang telah dicapainya tetap saja berarti 'bunuh diri' kepengarangan. Lagi pula, belakangan ini cerpen-cerpennya yang bergentayangan setiap minggu itu mulai hambar, tidak berasa, serupa sayur kurang garam. Saya mulai kuatir, alih-alih pertahankan 'iman' kepengarangan, justru ia tergelincir pada 'kekafiran' kreatif. Ah, semoga belum…

Melacak Jejak Indentitas Sastra Indonesia

Oleh : DAMHURI MUHAMMAD

(Republika, 26 November 2006, semula berjudul : Menegasi Indentitas Sastra Indonesia )

Corak historiografi kesusastraan Indonesia modern yang masih berpijak dan bertolak dari 'asal muasal' dan pendekatan teleologis, memang sudah amat melelahkan dan terlalu banyak menguras tenaga dan pikiran. Sebagian pemerhati sastra mulai pesimis, kehilangan gairah, bahkan apriori. Nirwanto Dewanto, dalam esainya (Kompas, 4/3/2000) mempertanyakan, masih perlukah sejarah sastra? Ini mencerminkan ketidakpercayaannya pada konstruk sejarah yang ditegak-berdirikan tanpa 'kesadaran sejarah' itu sendiri. Sejarah sastra yang 'penuh lupa' atau sengaja lupa berkepanjangan. Andai seorang novelis atau penyair mengetahui sejak kapan sejarah sastra bangsanya bermula, dan bagaimana munculnya angkatan-angkatan dalam sastra, akankah ia tertolong untuk menghasilkan karya bermutu? Tidak!. Tak ada keterkaitan antara sejarah sastra dengan pergulatan sastrawan meraih kompetensi literer. Bagi Nirwan, kita tak perlu sibuk berselisih paham untuk mempertahankan pendapat bahwa sastra Indonesia bermula sejak zaman Balai Pustaka, atau jauh sebelumnya. Tak perlu bersitegang urat leher memperdebatkan angkatan-angkatan dalam sejarah sastra. Masa depan sastra Indonesia tidak bergantung pada penulisan sejarah yang bercorak tautologis itu.

Namun, tidak segampang itu penyelesaiannya bagi Maman S Mahayana. Melalui buku terbarunya, 9 Jawaban Sastra Indonesia, Sebuah Orientasi Kritik (Jakarta, Bening Publishing, 2005), penggiat dan pemerhati sastra ini justru hendak bersitegas bahwa wajah sejarah sastra yang 'buruk rupa', bopeng, dan bolong-bolong itu tidak boleh dibiarkan begitu saja, tapi mesti ditambal, diluruskan, dan (bila perlu) ditulis-ulang. Betapa tidak? Selain problem pemutakhiran data, buku-buku sejarah sastra yang terlanjur dikunyah dan dimamahbiak oleh para siswa di sekolah menengah, juga tidak luput dari keterceceran data. Banyak data yang mestinya dicatat, raib begitu saja. Tak sedikit nama yang telah berjasa dalam perjalanan sejarah kesusasteraan Indonesia terabaikan, dan terlupakan.

Tak dapat disangkal, buku-buku HB Jassin telah memberikan kontribusi amat besar. Banyak nama dan karya telah dicatat dan diangkatnya, berlimpah arsip yang didokumentasikannya, hingga nama Jassin pun kukuh sebagai dokumentator sastra dan tokoh penting dalam penulisan sejarah sastra Indonesia. Problemnya, kharisma sang 'paus' sastra itu, diterima para peneliti lain, tanpa pandangan kritis. Hal ini yang terjadi pada buku karya Zuber Usman, Ajip Rosidi, Bakri Siregar, A Teeuw dan Jacob Sumardjo. Kekeliruan mencolok adalah adanya lompatan dari periode Pujangga Baru ke periode pasca-kemerdekaan. Sementara, sastra Indonesia zaman Jepang hanya disinggung sepintas lalu. Itupun, hanya mengacu pada gagasan Jassin. Karya-karya yang dibicarakan pada masa itu hampir selalu jatuh pada dua novel terbitan Balai Pustaka, Palawija (Karim Halim) dan Cinta Tanah Air (Nur Sutan Iskandar). Dalam hal ini, para peneliti sastra merujuk pada dua buku karya HB Jassin: Kesusateraan Indonesia di Masa Djepang (1954) dan Gema Tanah Air (1959). Tapi, yang dilakukan Jassin dalam kedua buku itu, (dalam batas-batas tertentu) tidak berdasar. Mestinya karya-karya yang termuat dalam Kesusateraan Indonesia di Masa Djepang adalah karya-karya yang muncul dalam rentang waktu 1942-1945. Tapi, karya-karya yang muncul selepas merdeka juga tercatat dalam buku itu, sedangkan karya-karya yang seharusnya masuk zaman Jepang justru tercatat dalam Gema Tanah Air.

Akibatnya, orang akan menyangka Chairil Anwar dan Idrus termasuk sastrawan zaman Jepang, sedangkan Darmawidjaja justru ditempatkan pada masa sesudahnya. Dalam kedua buku itu, tidak ditemukan nama-nama seperti Muhammad Dimyati, Yousouf Sou'yb dan Merayu Sukma. Lebih parah, dalam buku Jacob Sumardjo, Zuber Usman bahkan A Teeuw (yang mengacu pada Jassin), nama-nama itu tetap tenggelam tanpa alasan. Padahal, baik dari segi kuantitas maupun kualitas, karya-karya mereka tidak kalah penting dari yang lain. "Inilah blunder para peneliti yang hanya bersandar pada satu sumber," kata Maman S Mahayana.

Selain 'berikhtiar' mengurai-jelaskan keterceceran data dalam sejarah sastra Indonesia, buku itu juga hendak mendudukkan sebuah konsepsi sastra yang bertolak 'dari dan menjadi Indonesia'. Maman seperti hendak menyuarakan 'kegelisahan akademik' yang dialaminya selama malang melintang di jagad sastra. Kegelisahannya melihat geliat perjalanan sastra Indonesia yang belum menemukan identitas. Ibarat pohon yang berdiri-tegak, bersitumbuh tanpa akar.Apakah benar sastra Indonesia itu ada? Kalau ada, dari manakah ia berasal? Di manakah akar identitas sastra Indonesia itu dapat dilacak? Inilah pertanyaan-pertanyaan hipotetik yang belum terjawab dalam penulisan sejarah sastra Indonesia dewasa ini.

Menurut Maman, kita tak perlu 'malu-malu' mengakui bahwa 'darah daging' kesusastraan Indonesia adalah 'sastra etnik' yang ditulis menggunakan bahasa Indonesia (bahasa nasional yang diangkat dari bahasa Melayu). Pencapaian jelajah tematik dan eksplorasi estetik para sastrawan, tidak terlepas dari latar belakang etnik yang melahirkan dan membesarkan mereka. Ketika novel-novel awal Balai Pustaka terbit (Azab dan Sengsara, 1920 dan Siti Nurbaya, 1922), masalah kawin paksa seolah-olah menjadi tema sentral. Lalu, ke manakah 'etos merantau' yang menjadi salah satu ciri kultur Minangkabau? Periksalah, novel-novel Balai Pustaka masa itu, sebagian besar tokoh utamanya nyaris tak pernah lepas dari semangat berkelana, ideologi perantauan. Tapi, etos ini seolah-olah sengaja dikesampingkan.

Begitu pun ketika ST Alisjahbana menyatakan, kebudayaan tradisional (kultur etnik) harus mati semati-matinya, dalam kenyataan hanya sekedar slogan belaka. Majalah Poedjangga Baroe yang dikelolanya justru banyak memuat tulisan yang mengangkat kebudayaan tradisional atau sastra yang berakar dari kultur etnik.
Seperti dicatat Poerwoto Prawirahardjo (1933), Majalah Poedjangga Baroe pernah memuat tulisan Hoesein Djajadiningrat, Arti Pantoen Melajoe jang Gaib, yang menolak pandangan orang-orang Barat tentang pantun. Pada tahun yang sama, juga dimuat artikel Armijn Pane, Kesoesasteraan Baroe, yang menegaskan bahwa kebudayaan daerah tidak dapat diabaikan dalam kesusasteraan baru. Sejumlah puisi karya Imam Soepardi, Amir Hamzah, Tatengkeng, dan A Tisna juga memperlihatkan pengaruh kebudayaan etnik.Karena itu, suara Alisjahbana sesungguhnya tak cukup representatif mewakili suara angkatan Pujangga Baru. Di sana, masih ada Armijn Pane dan Amir Hamzah yang tak berpaling dari kebudayaan etnik. Hal yang sama juga terjadi pada seniman dan budayawan Gelanggang yang memproklamirkan sikap berkesenian lewat Surat Kepercayaan Gelanggang. Dari sejumlah sastrawan Gelanggang, hanya Chairil Anwar yang mempertahankan kekaguman Alisjahbana pada kebudayaan Barat. Meski Chairil tidak menelannya secara mentah-mentah, tapi menerjemahkan semangat Barat untuk kepentingan proses kreatifnya.

Rentang panjang perjalanan sastra Indonesia yang tak pernah tercerabut dari akar budaya etnik itu dapat terlacak hingga babakan sejarah paling mutakhir sekalipun. Lihatlah, tokoh imajiner Ajo Sidi garapan AA Navis dalam cerpen Robohnya Surau Kami, yang tak lepas dari kultur Minang. Demikian pula yang dilakukan Chairul Harun (Warisan, 1979), Darman Moenir (Bako, 1983), Wisran Hadi (Orang-orang Blanti, 2000), dan Gus Tf Sakai (Tambo: Sebuah Pertemuan, 2000). Ekplorasi tematik yang digali dari kultur etnik merupakan peluang yang menjanjikan lahan berlimpah. Warna lokal seperti mata air yang tak pernah kering. Tengoklah Arswendo Atmowiloto (Canting, 1986), Ahmad Tohari (Ronggeng Dukuh Paruk, 1982), Umar Kayam (Para Priyayi, 1992), Kuntowijoyo (Pasar, 1994), beberapa contoh pengarang yang menggauli kultur Jawa dengan cara amat cerdas.

Sampai di titik ini, maka sejarah sastra tidak hanya perlu, tapi juga penting. Sebab, hanya dengan penelusuran, pelacakan dan penulisan sejarahlah dapat ditemukan dan dirumuskan sebuah konsep sastra Indonesia yang 'beridentitas' kokoh dan orisinil (asali). Semesta sastra yang 'meng-indonesia' tanpa harus menghamba dan mengekor pada budaya Barat. Ya, sastra yang hidup, tumbuh, berkembang dan membiak dengan kultur etnik sebagai ruhnya.
( )

Wednesday, November 22, 2006



Lidah Sembilu

DAMHURI MUHAMMAD

ISBN 979-99980-9-3
142 hlm + xvi ; 12 x 19 cm

"Cerpen-cerpen Damhuri Muhammad membuat saya serasa sedang berkelana di negeri legenda. Itulah, saya kira, kekuatan para pengarang muasal Sumatera Barat."
(Veven Sp. Wardhana, penikmat budaya massa)






Cerpenis muda berbakat Damhuri Muhammad menyajikan kumpulan karya terpilihnya yang telah tersebar di pelbagai media massa se-Indonesia.Dengan menjelajahi ragam tematik dan ekplorasi prosaik, antologi ini berusaha menyoroti khazanah keMinangkabauan (dan lebih luasnya keIndonesiaan) yang pelan-pelan tergerus arus kapitalisme global dengan segala kepelikannya."Lidah Sembilu adalah upaya Damhuri Muhammad untuk tak terjebak antara romantisme tradisi dan kilau modernitas. Ia mengarungi kekayaan khazanah lokal Minang tanpa membiarkan diri terperangkap oleh klise (“Perempuan Berkerudung Api”), menerobos ke jantung gaya hidup modern (“Karnaval Pusar”), atau kenangan pada lawan jenis yang berhasil menghindari jebakan melodramatik (“Rindusorang”). Kosa katanya berlimpah.
(Akmal Nasery Basral, jurnalis & novelis)

Saturday, November 18, 2006

Rumah di Dalam Surau

Cerpen : Damhuri Muhammad

(Media Indonesia, 12 November 2006)

ORANG-ORANG kampung kami tak henti-henti membangun surau. Tak pernah lelah mereka mengumpulkan wakaf, zakat, infak, dan sedekah. Menggalang dana untuk mendirikan surau. Setiap musim Lebaran, para perantau yang berdatangan dimintai bantuan. Ada yang berderma dalam bentuk bahan bangunan, ada pula yang menyumbang uang tunai. Untuk apa lagi kalau bukan buat pembangunan surau? Memang, hampir tiap sudut kampung kami, surau sudah berdiri. Tapi, itu belum cukup. Bagi kami, surau bukan saja tempat salat, wiridan, majelis taklim dan belajar mengaji, tapi juga tempat tinggal bagi semua anak laki-laki kampung kami yang sudah akil balig. Tengoklah! Rumah-rumah yang tampak berdiri kukuh itu memang rata-rata berukuran besar, pekarangannya luas. Tapi, di dalamnya tak bakal ditemukan kamar bagi anak laki-laki. Kalaupun ada, itu pasti diperuntukkan bagi anak perempuan. Laki-laki tak boleh ditinggal di rumah. Bila ada yang masih tinggal di rumah, ia bakal diolok-olok sebagai banci yang tidur di bawah ketiak emak.

Makanya, sejak usia sekolah dasar, kami sudah tidur di surau. Tak ada kamar di sana, hanya ruangan bagian belakang surau yang disekat papan tripleks menjadi beberapa bagian. Di situlah kami tidur. Berhimpit-himpitan serupa ikan pindang dalam wajan. Sebelum terlelap pulas, kerap ada yang berkelahi. Macam-macam sebabnya. Ada kawan yang iseng menyembunyikan selimut kain sarung kawan yang lain. Ada kawan yang mencaplok tempat tidur kawan lain atau ada yang sengaja kentut persis di mulut kawan lain yang sudah lebih dulu tidur. Lebih banyak waktu kami di surau ketimbang di rumah. Pulang ke rumah hanya siang hari, makan, ganti baju, sorenya balik ke surau. Ada pula yang sama sekali tidak pulang ke rumah. Semua pakaian dan perlengkapan sekolah diangkut ke surau. Di sana mereka mengaji, salat berjemaah dan bila malam mulai pekat, tibalah saatnya mereka belajar silat, (mereka kerap berkelahi itu kadang-kadang dalam rangka menghafal jurus-jurus silat). Dari surau pula mereka berangkat ke sekolah. Benar-benar seperti tidak punya rumah. Hanya surau itulah rumah mereka. Itu sebabnya surau-surau di kampung kami tak pernah sepi. Selalu riuh suara anak-anak mengaji. Tak hanya di bulan puasa, tapi juga di bulan-bulan biasa.

"Kalian belajar dan tinggal di surau, supaya kelak tidak canggung bila merantau!" begitu ajaran salah satu guru kami.

"Sabarlah! Tak lama lagi bakal tiba saatnya kalian harus merantau!"

"Anak laki-laki harus merantau! Tiada berguna tinggal di kampung bila kalian belum merantau!"

"Merantau bujang dahulu, di kampung perguna belum!"

Meskipun tidak merantau jauh, kami tetap saja akan merantau ke rumah orang. Pergi dari rumah, hidup dan tinggal di rumah anak bini. Salah seorang kawan kami, Sumanda, misalnya. Sejak dulu, ia tak berniat mengadu nasib di rantau orang. Tekadnya sudah bulat. Kelak bila tulang-tulangnya sudah kuat mengayun cangkul, mengolah sawah, menggarap ladang, laki-laki itu akan tetap di kampung. Ia ingin jadi petani. Banyak juga orang kampung kami yang bisa kaya tanpa harus merantau jauh-jauh. Lihat saja Sumanda! Selain mengolah sawah dan ladang, ia memelihara hewan-hewan ternak. Berkat gigih dan kerja keras, saat masih bujangan saja, Sumanda sudah mampu menyekolahkan adik-adiknya di kota, hingga semuanya sudah lulus jadi sarjana. Itu semua dibiayai Sumanda dari hasil sawah, ladang dan hewan-hewan ternak yang terus-menerus berkembang biak.

Kini, Sumanda bukan laki-laki lajang lagi. Sama seperti kami yang hidup di rantau, Sumanda juga sudah beranak pinak di rumah istrinya. Dua perempuan, satu laki-laki. Tahun lalu, Sumanda menikahkan Fatia, putri sulungnya. Tak terasa waktu berjalan. Sudah punya menantu kawan kami itu rupanya. Sudah pula punya cucu. Tapi, kami tak pernah lupa kenangan masa kecil saat mengaji dan tinggal bersama-sama di surau. Sumanda anak yang rajin. Pulang sekolah, ia menyabit rumput untuk kerbau-kerbau peliharaan bapaknya. Bila musim menuai tiba, Sumanda ikut pula membantu. Tapi sesibuk apa pun, ia tak pernah meninggalkan pelajaran mengaji. Tetap kembali ke surau. Mungkin karena itu, ia menjadi anak kesayangan guru mengaji kami. Suara azannya merdu sekali. Mendayu-dayu. Merinding bulu kuduk dibuatnya.

Meski jarang pulang, kami tetap mendengar kabar tentang Sumanda. Hidupnya sudah tenang. Sebelum menikah, Fatiya dan Maimuna sudah dibuatkannya rumah batu. Anwar, anak laki-lakinya juga sudah bekerja sebagai teknisi komputer di sebuah jawatan di ibu kota kabupaten. Selesai sudah tanggung jawab Sumanda sebagai orang tua, sebagai bapak, sebagai suami. Kini, ia tidak ke sawah dan ke ladang lagi. Sumanda mulai tekun beribadah. Ia kembali ke surau, tempat kami mengaji dulu. Lebih banyak waktunya di surau daripada di rumah. Makin lama makin jarang Sumanda pulang ke rumah istrinya. Sehelai demi sehelai diangkutnya pakaian ke surau, hingga akhirnya Sumanda benar-benar menetap di surau. Bila waktu salat tiba, berkumandanglah suara mendayu-dayunya itu. Sehari-hari kesibukannya merawat surau. Menggelar dan menggulung tikar, menyapu, juga membersihkan tempat wudu.

Meski tidak punya penghasilan seperti dulu, Sumanda bisa makan dari persediaan beras surau hasil sedekah para jemaah. Selain ingin menghabiskan umur yang tersisa, keputusan Sumanda kembali surau juga disebabkan oleh makin kurangnya perhatian istri dan anak-anaknya. Tak ada lagi yang menanyakan keadaannya. Padahal, di usia renta seperti itu, Sumanda kerap sakit-sakitan. Batuknya menjadi-jadi. Suatu malam, saat sesak napasnya kambuh, darah kental keluar dari mulutnya. Rupanya Sumanda tidak ingin merepotkan istri dan anak-anaknya. Istri Sumanda jarang di rumah, karena sering berkunjung ke rumah dua anak perempuannya itu. Menjenguk cucu. Sumanda merasa kesepian, merasa sendiri, merasa tidak dilayani lagi. Lagi pula, tampaknya istri Sumanda memang lebih tenang jika suaminya itu tinggal di surau.

***

Zulfikar, salah seorang kawan masa kecil kami baru saja pulang dari kampung. Setiap Lebaran ia selalu mudik. Maklumlah, Fikar orang berada. Pengusaha sukses. Sekali sebulan pun (bila mau) ia bisa saja pulang kampung. Dari Fikar, kami mendengar banyak cerita tentang keadaan kampung. Perihal satu dua sahabat masa kecil kami yang sudah lebih dulu dipanggil Tuhan, tentang jalan kampung yang mulai kinclong sejak diaspal, tentang suasana musabaqah tilawatil Qur'an setiap Ramadan yang selalu meriah, tentang salat hari raya di lapangan hijau yang penuh sesak para perantau yang pulang dengan muka berseri-seri. Tentu perantau-perantau yang mudik dengan mobil-mobil pribadi mengkilat, bukan perantau yang kurang beruntung seperti kami.

Banyak yang berubah di kampung kami. Namun, ada satu kebiasaan yang tak pernah lekang dimakan waktu. Kebiasaan orang-orang kampung kami mengumpulkan infak, wakaf, zakat dan sedekah guna membangun surau. Bagi kami, membangun surau sama artinya dengan membangun rumah. Rumah bagi anak-anak laki-laki kampung kami yang mulai beranjak besar. Bila tak ada surau, mereka tak bakal punya tempat bernaung. Rumah-rumah hanya untuk anak-anak perempuan. Beruntung sekali menjadi perempuan di kampung kami.

"Bantulah pembangunan surau baru yang terbengkalai!" begitu pesan yang dibawa Fikar untuk kami.

"Orang-orang kampung kita sangat membutuhkan surau itu!"

"Surau sudah seperti cendawan musim hujan, masih belum cukup rupanya?" tanya kami pada Fikar

"Surau-surau yang ada sudah penuh. Penghuninya membludak. Banyak yang tidak kebagian tempat!"

"Jangan mengada-ada kau! Seberapa banyak anak-anak yang belajar mengaji? Hingga tak tertampung lagi di surau-surau itu?"

"Bukan, bukan! Yang tinggal di surau bukan anak-anak mengaji seperti dulu. Surau penuh oleh duda-duda tua yang dicampakkan anak-bini. Pria-pria gaek tak berguna. Jumlah mereka makin banyak. Ini mendesak. Jadi, bantulah!"

"Akan telantar hidup mereka, bila pembangunan surau baru itu tidak segera selesai!"

"Lagi pula, bila kalian sudah pulang kelak, bukankah di surau itu juga kalian akan habiskan hari tua?!"

"Apa kalian mau mati di rantau, hah?"

Seketika kami teringat Sumanda. Jangan-jangan sahabat kami itu salah satu duda tua yang sudah tak berguna di rumah istrinya, lalu terbuang ke surau. Kecil di surau, setelah bau tanah, kembali ke surau. Menunggu mati di surau. Mengingat-ingat peruntungan Sumanda yang tak mujur, kami seperti sedang menatap bayangan kesuraman akhir hayat kami.

"Sumanda bagaimana kabarnya? Dia sehat-sehat saja?" tanya kami lagi pada Zulfikar.

"O iya, Sumanda salah satu penghuni surau yang perlu disantuni."

"Santuni? Dia kan punya istri dan anak-anak?"

"Iya, tapi ia lebih suka tinggal di surau tua tempat kita mengaji dulu. Sudah lapuk, dindingnya hampir roboh, atapnya tiris. Kasihan Sumanda! Apalagi dia sedang sakit-sakitan begitu."

"Nanti kalau surau baru sudah selesai, Sumanda kita pindahkan ke sana!"

"Tunggu apa lagi? Ayo, bantulah!"

Bergegas kami merogoh kantong. Mengeluarkan infak sesuai kemampuan sendiri-sendiri. Setelah dana terkumpul kami serahkan pada Zulfikar yang dalam waktu dekat ini juga akan pulang kampung. Ada urusan bisnis, katanya. Kami menyumbang untuk pembangunan surau baru itu, bukan semata-mata karena kasihan pada Sumanda yang bernasib malang. Kami seolah-olah sedang membangun rumah untuk tempat bernaung di hari tua. Kelak, bila kami sudah pulang dari rantau. Walau kami tak pernah tahu, apakah kami akan mati di rantau, atau mati di surau.

Kelapa Dua, 2006

Thursday, October 05, 2006

f
Kekerasan Atas Nama Kehormatan

(Kompas, 30 Juli 2006)

Judul: Burned Alive (edisi terjemahan)
Penulis: Souad
Penerjemah: Khairil Azhar
Penerbit: Pustaka Alvabet, Jakarta
Cetakan: Pertama, April 2006Tebal: 290 halaman

Oleh : Damhuri Muhammad

Perempuan hamil tua itu duduk dalam posisi membungkuk sambil membilas tumpukan cucian. Sayup-sayup terdengar pintu berderit. Saat menoleh ke belakang, lelaki bertubuh besar sudah berdiri di hadapannya. Orang itu, Hussein, suami kakak perempuannya, Noura. "Jadi, perutmu sudah besar, ya?" tanya Hussein, beringas.

Pucat pasi rona mukanya, ngeri membayangkan apa yang bakal diperbuat lelaki itu. "Aku akan mengurusmu!" ulang Hussein. Perempuan itu kembali menunduk, membilas tumpukan pakaian kotor. Sejurus kemudian, ia merasakan cairan dingin mengalir di kepalanya, menetes ke pipi, leher, kuduk, bahu hingga pergelangan tangan. Secepat kilat Hussein melemparkan korek api ke tubuh perempuan yang baru saja tersiram bensin itu. Api menyala, melalap tubuh itu. Terbirit-birit ia lari dalam keadaan terpanggang, mengerang kesakitan, berteriak minta tolong.
Selesai sudah tugas Hussein "mengurus" Souad, adik iparnya itu. Souad sedang sekarat, sebentar lagi bakal mati. Souad harus dilenyapkan. Ia aib yang telah merusak kehormatan keluarga. Hamil sebelum menikah. Maka, ia harus dirajam. Bukan dengan cara diarak keliling kampung lalu dilempari batu sampai mati. Itu sama saja dengan mempertontonkan aib di hadapan orang banyak. Hukuman bagi perempuan itu adalah rajam terselubung. Direncanakan ayah, ibu, saudara laki-laki dan ipar-iparnya. Pembunuhan yang rapi, cepat, dan tak berbekas. Tubuhnya disiram bensin, lalu disulut korek api. Hussein terpilih sebagai eksekutornya.

Inilah kesaksian tentang perempuan malang yang tinggal di sebuah desa kecil kawasan Tepi Barat, Palestina. Kisah nyata perihal kejahatan atas nama kehormatan. Dituturkan dengan cara amat rapi dan tertata oleh seorang korban yang selamat, Souad, lewat novelnya Burned Alive. Nestapa Firdausi sejak bersitumbuh jadi gadis remaja hingga dijebloskan ke penjara perempuan (Mesir) seperti dikisahkan Nawwal El-Saadawi (Perempuan di Bawah Titik Nol) atau duka lara Mirfat akibat tangan besi laki-laki seperti dituturkan Ihsan Abdel Quddous (An Evening in Cairo) memang pedih, tetapi petaka yang menimpa Souad jauh lebih pedih. Nasib dan peruntungannya nyaris sama dengan perempuan muda asal Jawa Timur, pasien bedah plastik setelah kulit mukanya meleleh dan hancur tak berbentuk akibat siraman air keras. Souad memang selamat, tetapi 24 kali operasi kulit yang dilakukan di sebuah rumah sakit di Swiss tak mampu mengembalikan tubuhnya utuh seperti semula. Kulit wajahnya penuh luka bakar, kuping sebelah kirinya tinggal separuh. Leher, kuduk, punggung, dan kedua pergelangan tangannya membekaskan sisa kejahatan yang sukar terlupakan. Setiap hari, Souad harus mengenakan baju leher panjang, menutupi bekas-bekas luka panggang itu.

Terlahir sebagai perempuan adalah kutukan. Begitu keyakinan yang kokoh dipegang gadis-gadis belia di tanah kelahiran Souad. Seorang gadis mesti berjalan cepat, kepala menunduk seperti menghitung jumlah langkah yang diayunkan. Tak boleh tengadah, dilarang menoleh ke kiri, ke kanan. Jangan coba-coba menantang sorot mata laki-laki karena akan dituduh charmuta (perempuan jalang). Bila keluar rumah, dilarang jalan sendiri, mesti ditemani ibu atau saudara perempuan. Bila tak ada mereka, keluarlah dengan sekawanan domba peliharaan sambil memikul seikat rumput atau sekeranjang buah ara. Itu lebih aman sebab semua perempuan harus bekerja, bahkan hanya perempuanlah yang bekerja. Mencukur bulu domba, memerah susu kambing, membuat keju, memetik buah tomat, dan panen gandum. Anak laki-laki adalah raja. Saudara-saudara perempuan harus melayani semua kebutuhannya. Mencuci pakaian, menyediakan air panas sebelum mandi, menyuguhkan teh, dan menyiapkan kuda sebelum ditunggangi. Assad, satu-satunya saudara laki-laki Souad, bebas keluar rumah. Bersekolah di kota.

Perempuan dilarang bersekolah. Mereka hanya menggembala domba, sesekali harus tidur di kandang bila ada kambing melahirkan. Mesti ditunggu, sambil tidur di tumpukan jerami. Tidur di kandang kambing, tetapi tak lebih berharga dari kambing-kambing itu. Binatang hasilkan susu, sementara anak-anak perempuan hanya beban, aib keluarga yang harus segera disingkirkan. Pernah Souad tak sengaja memetik tomat mengkal, semestinya ia hanya memetik tomat-tomat matang saja. Berkali-kali ikat pinggang ayah mendarat di punggungnya. Souad merintih kesakitan, tetapi lelaki itu makin kencang mencambuki tubuh gadis kecil itu hingga punggungnya penuh luka memar, sukar ia tidur telentang.

Satu-satunya kebebasan yang dapat diimpikan Souad adalah perkawinan. Pergi dari rumah, tinggal di rumah suami dan tak pernah kembali. Meski di rumah baru itu tiada jaminan tak akan ditampar dan dihajar suami. Terbebas dari mulut harimau, masuk ke mulut singa.
Jika seorang perempuan pulang ke rumah orangtua (mengadu karena sering dipukuli suami), itu aib! Maka, keluarga akan mengembalikannya ke rumah suami. Tak apa-apa dihajar lagi, asal jangan pulang membawa aib. Meski begitu, Souad tetap ingin menikah. Celakanya, saat laki-laki datang melamar, ia terhalang sebab, Kainat, saudara perempuan yang lebih tua, belum bersuami. Melangkahinya juga aib. Itu sebabnya Souad nekat menjalin hubungan dengan Faiez, lelaki idamannya. Sembunyi-sembunyi mereka bertemu di balik rimbun ilalang saat Souad menggembala domba. Bercumbu, bermesraan hingga datanglah petaka itu: Souad hamil. Kesalahannya tak terampuni. Ayah, ibu, Assad, dan Hussein menyusun siasat untuk segera melenyapkan Souad.

Berkat Jaqueline, Souad yang sekarat di sebuah rumah sakit (Jerussalem) berhasil diselamatkan. Ia dan Marwan (bayi yang lahir prematur) diboyong ke Swiss, menjalani 24 kali operasi hingga dapat bertahan hidup. Semula, kesaksian ini hanyalah cara Souad menjelaskan status Marwan kepada Laetitia dan Nadia, dua putri dari perkawinannya dengan Antonio. Hasilnya tak sesederhana yang dibayangkan Souad. Burned Alive telah diterjemahkan ke dalam 28 bahasa di 29 negara. Diam-diam Souad berharap buku ini tersebar sampai ke desa kecil di Tepi Barat, Palestina. Ia ingin dunia tahu, pembunuhan-pembunuhan atas nama kehormatan itu masih terus berlangsung hingga kini.

Wednesday, October 04, 2006


Agar Pram Tak Jadi Berhala...

Resensi Buku: Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis (Eka Kurniawan, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2006)

(Media Indonesia, Kamis, 21 September 2006)

Oleh: Damhuri Muhammad

SUDAH jamak diketahui, sebagian besar pengagum karya-karya Pramoedya Ananta Toer adalah kalangan anak-anak muda penggila sastra. Tapi kekaguman itu belum disertai kajian kritis dan berimbang terhadap sosok kepengarangannya yang masih tampak bermuka dua itu. Belakangan ini, para pembaca setia itu nyaris tergelincir pada kekaguman yang berlebihan. Kecenderungan ini telah mendedahkan terminologi baru yang disebut Pramisme. Ini cukup berbahaya. Pram bisa saja berubah jadi 'berhala' yang selalu dipuja, tanpa cela.

Di sinilah pentingnya kajian komprehensif yang dilakukan sastrawan muda, Eka Kurniawan, lewat bukunya Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis. Buku ini dapat dianggap sebagai yang pertama membincang Pram dari sudut pandang anak muda. Eka hendak meluruskan kesimpangsiuran pemahaman terhadap realisme sosialis sebagai pijakan estetik kepengarangan Pram.

Penelusuran Eka tidak sekadar mempertegas realisme sosialis sebagai 'mazhab' kesenian para seniman Lekra di bawah patronasi Partai Komunis Indonesia (1950 sd pertengahan 1960). Lebih jauh ia menggali akar kefilsafatannya sejak perkembangan paling awal di Rusia--Maxim Gorky, yang dikenal sebagai pendiri realisme sosialis--sampai munculnya teoretikus-teoretikus seni realisme sosialis.

Sebelum mengungkap realisme sosialis dalam ruh kepengarangan Pram, pelacakan Eka menelikung jauh ke fase awal abad 20, khususnya pada kiprah kepengarangan Hadji Moekti lewat Hikajat Siti Mariah (Harian Medan Priaji, 7, Oktober 1910 sampai dengan 6 Januari 1912), Tirto Adhi Soerjo (1875-1918) lewat Nyai Permana dan yang paling penting adalah Hikajat Kadiroen (1920), karya Semaoen, tokoh sayap kiri Sarekat Islam yang kelak menjadi ketua pertama PKI.

Hasil riset kepustakaan Eka menunjukkan bahwa benih-benih realisme sosialis sudah mulai tertanam pada roman-roman tersebut, meskipun Hikajat Siti Mariah dan Nyai Permana, belum tampak mengontradiksikan dua kelas yang bertentangan (borjuis dan proletar). Tapi, (sebagaimana dikuatkan Pram) itu karena belum adanya pendidikan ideologi pada masa itu. Kadar sosialis lebih kental pada Student Hidjo (1919), karya Marco Kartodikromo dan tentu makin matang lagi pada 1950-an lewat Lekra yang secara nyata mengusung realisme sosialis sebagai pedoman proses kreatif para anggotanya. Dan, Pram salah seorang sastrawan yang berpengaruh di sana.

Di bagian ini, Eka menyingkap 'sisi lain' Pram yang barangkali belum banyak diketahui para pramis. Manuver-manuver 'politik kesenian' Pram dan kawan-kawan di Lekra dalam kasus tuduhan plagiat terhadap HAMKA diurai dalam buku ini. Lepas dari soal apakah Tenggelamnya Kapal van der Wijck itu roman plagiat atau tidak, harus dikatakan bahwa objektivitas sama sekali hilang dari serangan terus-menerus terhadap tokoh kawakan itu.

Persoalan ini sengaja dipolitisasi berlarut-larut untuk hancurkan kepengarangan HAMKA (A Teeuw, 1997). Begitu pula, artikel yang dimuat Pujangga Baru (1953), HB Jassin Sudah Lama Mati Sebelum Gantung Diri, serangan terhadap Jassin, penggiat humanisme universal. Tiap minggu, Lentera (halaman budaya harian Bintang Timoer) yang dipimpin Pram melancarkan serangan tak hanya pada ideologi 'kontrarevolusioner' para manikebuis, tapi juga aspek pribadi kehidupan mereka.

Pram bersikukuh bahwa karya sastra harus menggambarkan penderitaan rakyat dan perjuangan menentang penindasan kolonial. Ia membabat habis musuh-musuh yang tak mau menyerah, sesuai slogan Maxim Gorky yang dikaguminya if the enemy does not surrender, he must be destroyed.

Meski Eka sudah melakukan kajian berimbang perihal sisi terang dan sisi kelam Pram, masih terasa ada yang ditutup-tutupi. Misalnya soal pertentangan antara realisme sosialis (berkiblat pada humanisme proletar) versus manifes kebudayaan (Lekra menyebutnya Manikebu) yang menurut Pram dan kawan-kawan bermuara pada humanisme borjuis. Padahal, baik realisme sosialis maupun Manikebu sama-sama membangun konstruksi perlawanan terhadap kecenderungan seni modern yang asyik-masyuk dengan ambiguitas, ketidakpastian, lebih mengutamakan bentuk ketimbang isi.

Kehadiran buku ini telah melengkapi dan memperpanjang daftar kajian tentang Pram yang berhamburan sejak beberapa tahun belakangan ini. Pram memang sebuah fenomena, sekaligus sebuah problema. Barangkali, memang lebih baik Pram dilihat sebagai problema, ketimbang dianggap sebagai berhala.
P A D U S I

Cerpen : DAMHURI MUHAMMAD

(Tabloid NOVA, Edisi 09/04/2006)

Seolah ada yang menghentak di rongga dadanya bila menatap mata perempuan itu, serasa menguap cairan di tenggorokan bila mendengar suaranya. Risih, salah tingkah, gugup. Mereka masih kelas dua waktu itu. Masih bau kencur. Duduknya di lajur meja murid perempuan.Sementara lelaki itu di deret paling belakang lajur meja murid laki-laki. Saat guru uraikan materi ajar, ia asyik mematut-matut bentuk tubuh perempuan itu, dan berharap sesekali ia menoleh ke belakang. Padusi, namanya. Tak termasuk kategori cantik bila dibanding dengan perempuan lain di kelas itu. Juga tak terlalu cerdas. Sedang-sedang saja rangkingnya. Tapi, kulitnya putih. Amat putih. Parasnya seperti orang Jepang. Mirip Oshin. Memang ia tidak cantik, tapi berwajah unik. Dan, lelaki itu suka!

Kota kecil itu terhampar di dataran tinggi, di garis tengah antara Padang dan Bukittinggi. Paling dingin dari kota-kota lain. Yang penting bukan soal suhu udaranya itu, tapi perihal sejarah yang mencatatnya sebagai Serambi Mekah. Pesantren-pesantren tegak berdiri. Kota Santri. Tempat orang mengaji. Tiga tahun Husnan di sana, sejak terdaftar sebagai siswa Madrasah Aliyah Negeri. Sebagian besar siswa tinggal di asrama. Tapi, Husnan menyewa kamar kost. Jangankan bayar biaya asrama, minta persetujuan emaknya untuk bersekolah di sana saja susahnya minta ampun. Bukan tak mau, tapi karena emaknya tak mampu. Husnan tinggal di kamar berlantai palupuah. Bambu kering yang dihancurkan, lalu dihamparkan seperti tikar. Memadai sebagai lantai, pengganti papan. Pemilik rumah itu perempuan paruh baya yang bersendiri sejak kematian suaminya. Di sisi kiri kamar Husnan, ia buka warung sederhana. Jualan bubur kacang hijau, ketan dan lontong sayur. Husnan memanggilnya : Etek. Sebutan paling santun bagi perempuan seusianya. Belum sempat ia bertanya, etek punya anak? jika punya di mana mereka? kenapa anaknya tak pulang? Yang jelas, etek kewalahan kerja sendiri

Tanpa disuruh, Husnan turun tangan mencuci piring kotor yang menumpuk. Diperhatikannya cara etek hidangkan porsi kacang hijau, lontong sayur dan ketan. Lambat laun, Husnan belajar cara masaknya. Sebelum subuh ia sudah bangun, kadang lebih dulu bangun dari etek. Dimulainya pekerjaan yang ia bisa. “Sejak dulu banyak anak-anak aliyah tinggal di sini, tapi belum ada yang ringan tangan sepertimu” begitu etek memuji. Tak lama, Husnan makin telaten. Masak, bumbui gulai, bikin adonan tepung untuk pisang goreng, layani pembeli. Bulan ketiga Husnan mesti bayar sewa kamar, etek menolak. Dimintanya Husnan tak merasa sebagai penyewa lagi. Sejak itu, hubungan mereka tak serupa penyewa dan pemilik barang sewaan.


Pulang sekolah Husnan ke pasar. Belanja keperluan warung. Aneka jajanan ringan pengisi toples, bumbu-bumbu masak. Kerap ia kepergok teman-teman perempuan sekelas di angkutan umum. Mukanya berpeluh setelah memikul barang bawaan. Seragamnya belepotan bumbu giling, karena plastiknya bocor. Mereka bisik-bisik, sesekali tertawa cekikik. Entah apa yang lucu. Tapi Husnan duga, tentu mereka sedang asyik bergunjing dan menertawakan kemiskinannya.

Nama lengkapnya Husnan Daresta. Tapi, di daerah sekitar warung itu dipanggil : Oyong. Karena kerempeng, cara jalannya agak aneh. Terhuyung-huyung seperti orang mabuk. Di sana, ‘terhuyung-huyung’ lebih tepat disebut ‘Oyong’. Oleng, karena tak imbang. Jadilah : Oyong. Nama warungnya ; Lepau Baru. Pagi, ia layani teman-teman asrama, malamnya bapak-bapak, preman-preman kampung yang nongkrong sambil minum kopi, nonton tv dan berjudi. Di sana, warung bakal sepi bila tak sediakan fasilitas judi.
***


Mengendap-ngendap Husnan di halaman asrama puteri. Pelan-pelan mendekat ke jendela kamar. Mengintip. Tak hanya hafal letak kamar, ia juga hafal posisi tidur perempuann itu. Tak ada hasrat apa-apa, meski nyaris tiap malam Husnan mengintipnya. Meski ada bagian tubuhnya yang tersingkap. Nyaris semua anak-anak daerah itu kenal Husnan. Meski tertangkap, mereka hanya akan ketawa atau bergabung mengintip. Bila bergabung, disarankannya agar mereka intip kamar yang lain, selain kamar Padusi.
“Cari sasaran sendiri-sendiri! Jangan caplok sasaran sesama pengintip!” bisiknya memberi peringatan
“Bilang saja kalau ndak boleh mengintip si Oshin itu!”
“Banyak cewek, tinggal pilih! Asal jangan Oshin. Jika belum ada lubang, buatlah lubang baru! Awas, jangan sampai ketahuan!”

Banyak catatan ditulisnya, tak selembar pun sampai ke tangan Oshin. Saban hari mereka berpapasan, bahkan kerap dapat kesempatan berdua. Tapi lidahnya seakan menggulung, tak mampu ucap apa-apa. Sering Oshin beli ketan dan pisang goreng masakannya. Berkeringat dingin ia saat bungkusi pesanan Oshin. Suatu pagi saat Oshin datang sendiri ke warung, tak sengaja ia pecahkan tiga gelas sekaligus.

Seorang teman dekat Husnan lancang berterus-terang pada Padusi. Maksudnya baik. Ia ingin Padusi tahu, Husnan jatuh hati setengah mati padanya. Reaksi Padusi kurang santun,

“Husnan itu preman, temannya orang-orang pasar”
“Anak sekolah kok mau jadi preman?”

Tak nyaman Husnan dengar nada sumbang itu. Tiba-tiba ia nekat. Dimintanya teman dekat itu panggil Padusi, Husnan menunggu di samping bangunan SD, tak jauh dari asrama itu. Padusi datang, Husnan langsung saja sampaikan perasaannya yang meluap-meluap selama ini. Oshin diam sambil menelan ludah, tak beri jawaban. Lalu, pergi.

Mungkin Padusi menolaknya mentah-mentah. Husnan lega. Hasrat menggebubung itu sudah terkatakan. Tapi, tak henti-henti Husnan dengar gunjing Padusi. Soal Husnan yang punya teman-teman preman, perokok berat, tak terpelajar, penjudi, suka mabuk. Bahkan Oshin pernah semburkan kalimat,“Husnan itu miskin”. Ini didengarnya dengan telinga sendiri.

Malam larut. Warung sepi. Tinggal Husnan dan teman-teman preman. Dibukanya sebotol Mansion ukuran sedang. Digasaknya sendiri. Tanpa sadar, semua kegilaannya pada Padusi terungkap. Juga luapan patah hati, karena cintanya bertepuk sebelah tangan. Rindu Seorang. Tiada berbalas. Hanya seorang.
“Ditolak ya ditolak, tapi jangan menghina!” ketus Bocet,
Husnan mabuk berat. Muntah-muntah. Wes, Jon Kompo, Cepong, Acil, Pencino, Mentiko, Onal, Muncak merasa kurang senang.
“Tenang Yong, kita buat Oshin mau. Masa’ orang seganteng kau ditolak?” kata Cepong membujuk, sekaligus meledek Husnan.
“Bila perlu kita paksa. Kalau ndak mau kita buat susah dia” dukung Pencino bersemangat.
Husnan mencegah. Tak mungkin ia biarkan preman-preman itu mencak-mencak, apalagi ngamuk-ngamuk di asrama puteri. Jangan sampai mereka bikin Husnan malu.
***

Seperti lazimnya, Koto Baru Padangpanjang penuh sesak oleh para pencinta alam. Mereka bakal nikmati detik-detik pergantian tahun di puncak gunung Singgalang. Sekilas Husnan lihat Padusi dalam keramaian itu. Rupanya Oshin juga hendak mendaki bersama rombongan teman-teman asrama. Berani-beraninya mereka berpasang-pasangan. Masa’ cewek-cewek jilbab ikut-ikutan pesta tahun baru di puncak gunung? Bila ketahuan, bisa dikeluarkan dari sekolah.

Padusi bergandengan dengan siswa kelas satu. Gila!. Ia pacaran dengan adik kelas. Husnan, Wes, Pul Cepong, Mentico, Onal, Muncak sedang nongkrong (sambil nyanyikan lagu-lagu lama dengan iringan gitar yang dimainkan Husnan), di gerbang pesangrahan yang dilewati para pendaki. Bagaimana pun desir di dadanya tak bisa sembunyi.Petikan gitarnya sejenak berhenti, Husnan ingin dekati Padusi. Walau sekedar tegur sapa.

Menyeringai seperti kucing laki-laki itu, menggertak Husnan.Postur tubuhnya besar. Lebih besar dari Husnan. Tanpa jeda, Husnan langsung tinju batang hidungnya. Berdarah. Saat ia berusaha melawan, Husnan hantam ulu hatinya, hingga tersungkur di depan Padusi. Masih mau membalas, teman-teman Husnan datang berhamburan.Satu persatu beroleh jatah. Babak belur pacar si Oshin, mukanya bonyok setelah dikeroyok. Husnan mulai kasihan, dilerainya keributan itu. Diberdirikannya laki-laki itu, dipapahnya. Bocet, Pencino, Pul Cepong dan Muncak melongo.

“Mau apa kau sebenarnya? Sudah kau hajar tapi kau pula yang menolong”
“Ndak baik berkelahi malam tahun baru” balas Husnan
“Hmn..! tapi dia sudah kau buat bengkak-bengkak”
Padusi dan rombongan batal mendaki. Berbalik arah kembali ke asrama. Ketakutan setelah saksikan sepak terjang Oyong Lepau Baru.

Sejak malam tahun baru kelabu itu, Padusi gamang lihat tampang Husnan. Ia mulai jaga cara bicaranya yang pongah itu. Diam-diam cari simpati. Tapi, Husnan tak selera lagi, meski rasa sukanya masih ada. Kegemarannya mengintip dari balik jendela kamar Padusi terus berlanjut, begitu pun kebiasaannya bayangkan segala kemungkinan paling indah andai Oshin jadi kekasihnya.
***

Lelaki itu, mahasiswa tahun pertama. Selain berkuliah ia kerja serabutan ; pengantar Susu Segar Murni keliling. Sewaktu antar pesanan pelanggan baru di sebuah perumahan di kota ini, seolah ada yang menghentak di rongga dadanya, serasa menguap cairan di tenggorokannya. Pelanggan itu mahasiswi berkulit putih serupa perempuan Jepang. Mirip Oshin ; Padusi. Ganjil penampilan Oshin. Leher mulus dan rambut lurusnya yang dulu hanya terlihat saat lelaki itu mengintip dari lubang jendela, tersingkap kini. Tanpa kerudung. Padusi pura-pura tak kenal.Padahal lekuk-lekuk wajah Oshin, mana mungkin ia lupa? Sorot mata perempuan itu ingin agar ia segera enyah. Lelaki itu pun cabut. Tapi ia lega. Sudah lama tak bertemu Oshin.

Sore itu pertemuan terakhir mereka. Tak nampak lagi batang hidung lelaki itu. Mungkin, telah dikuburnya rindu pada Padusi. Mungkin, ia sudah paham, perempuan itu tak akan berdamai dengan kemiskinannya. Mungkin sudah dilupakannya Padusi. Dilupakannya Oshin. Meski, tak pernah ia benci perempuan itu.

Jogja, 16 Juli 2001

“Di mana ia kini?”
“Di mana Oshin-mu itu, Husnan?”

Kabar terakhir yang kudengar, kuliahnya kacau. Padusi drop out. Karena buru-buru harus nikah dengan juragan kelapa sawit di kampungnya. Padusi bunting di luar nikah. Kini, ia sudah beranak tiga. Dua perempuan, satu laki-laki. Dan, raut mukanya tak serupa Oshin lagi.

Kelapa Dua, 2005

Tuesday, October 03, 2006

Menantu Baru

Cerpen: Damhuri Muhammad

(Kompas, 09 Juli 2006)

Sudah lama Irham tak menerima kiriman oleh-oleh. Rendang Ikan Pawas Bertelur. Gurih dan sedapnya seolah sudah terasa di ujung lidah. Apa Mak sedang susah? Hingga tak mampu lagi beli Ikan Pawas Bertelur dan bumbu-bumbu masaknya? Tak mungkin! Kiriman wesel dari anak-anak Mak, rasanya tak kurang-kurang. Lebih dari cukup. Jangankan Rendang Ikan Pawas Bertelur, bikin Rendang Hati Sapi pun Mak tentu mampu. Tapi, kenapa Mak tak berkirim oleh-oleh lagi? Mak sedang sakit? Kenapa pula tak ada yang berkabar? "Bukan kau saja, saya juga sudah lama tak dikirimi Krupuk Cincang," keluh Ijal, kakak sulung Irham yang tinggal di Cibinong.

Sejak kecil, mereka memang punya selera berbeda-beda. Kepala boleh sama-sama hitam, tapi tabi’at lidah tak serupa. Mak hafal makanan kesukaan masing-masing mereka, anak-anak kesayangannya. Ijal suka Krupuk Cincang. Dulu, hampir tiap pekan ia minta dibuatkan makanan itu. Pernah Ijal mengancam tidak mau ke surau bila Mak belum penuhi permintaannya. Jangan dibayangkan cemilan kampung itu dapat diperoleh di Jakarta. Meski ada satu dua toko yang menjual, tapi tak serenyah bikinan Mak. Entah bumbu apa yang dipakai Mak, hingga bunyi Krupuk Cincang itu berderuk-deruk dalam mulut Ijal. Tapi kini, Mak tak berkirim oleh-oleh lagi. Ketek, kakak laki-laki Irham yang satu lagi (tinggalnya di Ciputat) juga mengeluh. Katanya sudah kepingin sekali makan Lemang Tapai. Memang mudah dicari di Jakarta. Tapi baginya, tak ada Lemang Tapai yang mampu tandingi buatan Mak.

"Payah! Ndak ada kiriman Lemang Tapai lagi," ketusnya suatu kali, saat bertamu ke rumah Irham.

"Bukan uwan saja, semua sudah tak dapat," balas Irham.

"Basa bagaimana? Masih sering dikirimi Goreng Belut?"

"Ndak ada. Ndak ada lagi oleh-oleh!"

"Apa kalian ndak kirim uang lagi buat Mak? Mak sedang susah barangkali?"

Tanya-tanya nyinyir mereka terjawab setelah mendengar pengakuan si bungsu, Alida. Adik perempuan mereka satu-satunya. Ternyata, ia masih sering dapat oleh-oleh. Bahkan lebih sering dari biasanya. Berarti Mak masih rajin mengirim oleh-oleh. Cuma saja, datangnya bukan lagi ke rumah keluarga mereka; Ijal, Ketek, Basa dan Irham. Oleh-oleh hanya dikirim Mak ke alamat rumah kontrakan Alida, di daerah Pasar Minggu. Anehnya, kiriman Mak bukan Sambalado Tanak kesukaan Alida, tapi Dendeng Lambok, khusus buat menantu Mak. Suami Alida.

"Kenapa kau saja yang dapat oleh-oleh, Alida?"

"Bukan saya wan!"

"Iya, suamimu itu. Mestinya kami juga dikirimi bukan?"

Irham coba menghitung-hitung berapa lama Mak tak mengirim oleh-oleh. Ternyata, persis sejak Alida menikah. Sejak Mak punya menantu baru; Yung. Suami Alida. Ya, sejak itu Mak tak pernah lagi bikin Rendang Ikan Pawas Bertelur, Krupuk Cincang, Lemang Tapai dan Goreng Belut. Mak hanya kirim Dendeng Lambok buat Yung. Menantu kesayangannya.
Setahu Irham, sejak menikah dengan Alida, belum sepeser pun Yung kirim uang buat Mak. Lagi pula, apa yang bisa diharapkan dari lelaki yang tak jelas pekerjaannya itu? Sejak awal, Irham tidak setuju Alida menikah dengan Yung. Ia sudah carikan jodoh buat Alida. Firman, namanya. Sarjana teknik. Kini, bekerja di perusahaan pengeboran minyak lepas pantai. Bakal senang hidup Alida bila menikah dengan laki-laki pilihan Irham itu. Ijal juga sudah pilihkan Andra, putera tunggal pemilik perusahaan garmen di Jakarta. Ketek dan Basa memang tak pilihkan siapa-siapa. Alida boleh saja menikah dengan lelaki idamannya. Tapi dengan catatan; tidak dengan Yung.

Mereka tak mungkin merelakan Alida dipersunting Yung. Lelaki yang sudah pernah beristri. Sementara Alida masih gadis. Lagi pula, (kabarnya) perkawinan Yung yang pertama bubar karena ulah menggelapkan dana investasi di perusahaan yang dikelolanya. Yung sedang terlibat masalah besar. Perusahaannya bangkrut. Semua asetnya disita. Ia lari dari masalah. Mereka curiga, jangan-jangan Yung sedang dikejar-kejar banyak orang. Setidaknya, dikejar para penagih utang. Ah, jangan-jangan Yung berniat nikahi Alida hanya untuk berlindung, selamatkan diri. Ia terlilit utang. Bukan tak mungkin, kelak mereka juga yang turun tangan selesaikan masalah Yung. Tapi, entah ilmu apa yang dipakai Yung. Mak langsung saja menerima lamarannya. Tanpa pertimbangkan baik buruknya lebih dulu. Mak tak peduli pada keberatan kakak-kakak Alida.

"Ndak apa-apa, kalau kalian tak setuju. Mak tetap akan nikahkan Alida dengan Yung," begitu tekad Mak waktu itu.

"Pikir dulu masak-masak, baru ambil keputusan! Mak belum kenal siapa Yung itu."

"Sejak dari nenek moyangnya Mak tahu silsilah dia. Dia dari keluarga baik-baik. Kalian yang belum kenal Yung."

"Sudahlah! Tanpa kalian, pernikahan Alida tetap akan berlangsung. Mereka berjodoh, jangan kalian halangi!"

Bila sudah begitu, mereka tak bisa membantah. Suka tak suka, mesti hormati keputusan Mak. Meski berat hati, Ijal, Ketek, Basa dan Irham tetap harus pulang dan bantu penyelenggaraan pesta perkawinan Alida dan Yung. Mereka pun menyumbang sesuai kemampuan masing-masing.

Sudahlah! Tak usah kita menganggap Mak pilih kasih! Mak memang sering berkirim oleh-oleh buat Yung. Dendeng Lambok, masakan kesukaan menantunya itu. Barangkali, bukan karena Mak tak ingat lagi makanan kesukaan kita. Adik ipar kita itu baru saja memulai hidup di Jakarta. Pekerjaannya masih serabutan. Luntang-lantung. Belum ada penghasilan tetap. Masih susah. Mungkin jarang ia makan enak-enak seperti kita. Jadi, tak usahlah kita dengki!

"Ah, Mak terlalu memanjakan menantu."

"Uang Mak bisa habis karena selalu kirim oleh-oleh buat Yung."

"Makin dimanja, makin malas dia!"

Dulu, Yung memang anak baik-baik. Sekolahnya di pesantren. Sering ia memberi pengajian di mesjid kampung. Mak, salah satu jamaah yang suka dengan gayanya berceramah. Menyentuh sekali kata-katanya, begitu puji Mak. Tak jarang, jamaah ibu-ibu yang mendengar wiridannya menangis sesenggukan. Yung amat lihai bersilat lidah. Merangkai kalimat-kalimat jitu menggugah perasaan jamaah. Sejak itu, Mak ingin mengambil Yung jadi menantu. Kelak, setelah sekolahnya tamat. Tapi, harapan Mak tak kesampaian. Sebab, Yung merantau ke Jawa. Melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Inilah yang Mak belum tahu. Selama di Jawa, Yung bukan lagi mubaligh hebat seperti di kampung dulu. Ia sudah tanggalkan jubah ustadznya. Mungkin, Yung sudah lupa cara menyentuh perasaan jamaah, hingga menangis terisak-isak seperti Mak. Konon, Mak pernah datang ke rumah orang tua Yung. Melamar lelaki itu untuk Alida. Tentunya nanti setelah kuliahnya rampung. Tapi, setelah saatnya tiba, Yung tak pulang. Kabarnya, Yung menikah dengan gadis lain di Jawa. Mak juga dengar kabar buruk itu. Tapi, Mak tak kecewa.

Berselang beberapa tahun, Yung pulang. Sudah duda. Meski belum punya anak. Orangtuanya datang menemui Mak, hendak menyambung cerita lama. Melamar Alida. Bila telapak tangan kurang lebar, dengan niru saya tampung niat baik itu, jawab Mak. Gayung bersambut, hingga akhirnya Yung menjadi menantu kesayangan Mak. Dan, selalu saja dikirimi oleh-oleh.

"Gara-gara menantu Mak itu, kita tak pernah dapat oleh-oleh lagi."

"Mak lebih sayang pada menantu daripada anak-anaknya sendiri."

"Apa yang sudah diberikan Yung pada Mak? Sementara kita tiap bulan kasih jatah buat Mak."

****
Percuma saja Suarni dan Said menyekolahkan mereka tinggi-tinggi. Setelah semuanya jadi orang, bukan makin dekat, malah makin jauh dari kampung. Jauh dari orangtua. Itulah susahnya punya anak laki-laki. Bila sudah besar, mereka akan tinggal di rumah orang. Di rumah anak-bini. Sibuk mengurus keluarga sendiri-sendiri. Wesel kiriman Ijal, Ketek, Basa dan Irham (yang sudah terbang-hambur dari kampung) memang selalu datang tiap bulan. Tapi sebenarnya, Suarni dan Said tak butuh uang. Untuk apa? Tanpa kiriman wesel pun, mereka tidak akan kekurangan. Hasil sawah dan ladang sudah cukup menghidupi mereka berdua.
Di usia yang tersisa, Suarni dan Said ingin berkumpul kembali dengan anak-anak. Merasakan kehangatan di tengah-tengah mereka. Seperti dulu, saat mereka masih di kampung. Keduanya tak henti-henti berharap. Mudah-mudahan, ada di antara anak-anak yang mengajak tinggal di Jakarta, menghabiskan hari tua di sana. Aih, betapa menyenangkan bila Suarni masih dapat membuatkan makanan kesukaan Ijal, Ketek, Basa atau Irham. Tapi, setelah sekian lama menunggu dan berharap, ajakan itu tak kunjung tiba. Kalaupun sekali waktu Suarni dan Said datang berkunjung, itu hanya sekedar menjenguk cucu-cucu, sepekan dua pekan. Setelah itu, kembali pulang ke kampung. Tidak untuk tinggal berlama-lama, sebagaimana keinginan mereka.

Harapan Suarni dan Said kini beralih pada Alida. Anak perempuan semata wayang, yang juga memilih hidup di Jakarta sejak menikah dengan Yung.

"Pandai-pandailah mengambil hati menantu! Sering-seringlah berkirim oleh-oleh!" saran Said pada Suarni.

"Oleh-oleh?"

"Ya, agar lidah menantu baru kita terbiasa dengan masakanmu!"

Mungkin, itu sebabnya Suarni selalu memasak Dendeng Lambok, lalu dikirimkannya buat Yung. Berkali-kali Suarni dilarang anak-anaknya; Ijal, Ketek, Basa, Irham. Jangan terlalu memanjakan menantu! Jangan pilih kasih! Suarni tak peduli. Makin dilarang, makin gencar saja ia berkirim oleh-oleh. Tak bakal berhenti Suarni berkirim Dendeng Lambok buat Yung. Agar lidah menantunya itu terbiasa dengan masakannya. Hingga, suatu waktu (entah kapan) Yung berkenan mengajaknya tinggal, berkumpul-bersama di Jakarta. Di sanalah, Suarni dan Said bakal habiskan umur yang tersisa. Semoga!

Kelapa Dua, 2006
Untuk Mak Was…


Rabu, 10 Agustus 2005
RESENSI BUKU : LARAS, Tubuhku Bukan Milikku

Ia Jadi 'Korban' Ayah dan Lelaki Binal

Oleh: Nerma Ginting

MEDIA INDONESIA, 10 Agustus 2005

Buku berjudul Laras, Tubuhku bukan Milikku berisi kumpulan cerpen karya Damhuri Muhammad. Lewat kata-katanya yang halus dan sederhana, karya itu terasa 'menggugat'.
Dengan tebal 226 halaman, novel yang dibalut sampul hitam dan biru tersebut menyajikan kisah gadis Laras. Ia terjerumus ke lembah nista akibat 'kasih sayang' ayahnya.
Seringkas waktu, ia berkemas membuntal pakaian, lalu bergegas meninggalkan kamar mungil, tempat kegadisannya tertebas. Ditinggalkannya kenangan tentang Yu Galih yang gampang marah, namun diam-diam amat penyayang. Juga soal Yu Ratmi, yang dengan berat hati menjual jam tangan hadiah ulang tahun dari Pakde Tejo untuk membayar SPP-nya yang tertunggak dua bulan.

''Sebelum perutmu bunting, cepat pergi dari rumah ini, anak setan!'' usir Emak dengan sorot mata garang. ''Kau bukan anakku lagi! Jangan pernah berpikir untuk pulang! Ingat itu!'' ulang Emak lagi.

Waktu berlalu dan beban di perutnya semakin berat. Maka, harus dikeluarkan agar tubuhnya ringan dan leluasa melangkah melanjutkan tualang tak berujung. Nun ke negeri entah. Ia merintih kesakitan saat tangan kasar dukun beranak memelintir perutnya. Laras tidak takut kehilangan bayi tersebut. Bukankah ia tak merasa memilikinya? Jadi, biarkan saja benih sang ayah ini mati terbunuh, dicekik dukun beranak.

Di Kota Batam, Laras disanjung dan dipuja. Kedatangannya disambut senyum binal para lelaki yang berhasrat memilikinya. Untuk memiliki tubuh langsingnya. Meskipun bukan 'gadis' lagi, Laras tetap tercatat sebagai 'barang' baru. Setidaknya, baru datang dari Jawa.
Selang beberapa minggu sejak kedatangannya, nama Laras sudah tidak asing lagi di kalangan bermata sipit, teman-teman dekat Mami. Mereka harus berkenan antre menunggu giliran 'memiliki' Laras (kendati hanya kepemilikan dalam hitungan jam). Antrean paling depan, tentu petugas pulau ini: Lelaki berambut cepak, bertubuh kekar maupun berisi, serta tak berseragam dinas.

Kian lama, semakin panjang daftar lelaki yang telah 'memiliki' Laras. Berpindah dari satu hotel ke hotel lain. Mami bertambah sayang, makin memanjakannya. Lebih dari sekadar memanjakan anak kandung sendiri.

Di kalangan pecandu kota itu, tersebutlah Laras sebagai sundal paling top dan laku, 'laris manis tanjung kimpul'. Meniduri Laras tak sekadar 'selingan', tapi sudah 'kebutuhan'. Seperti, kebutuhan makan. Jika tidak terpenuhi, berarti mati. Maka, bilamana tidak menetek pada puting Laras, sama juga dengan bunuh diri.

Tak ada angin dan hujan. Laras mengaku ingin 'istirahat'. Ditolaknya ajakan para lelaki bermata sipit yang kian tidak sabar. Namun, Laras menolak. Sejatinya, Laras sudah ingin pulang. Berpulang ke pelabuhan akhir kelana sunyinya, ranah kematian, ranah pemakaman.
''Bila Tuhan memiliki diriku, mengapa Dia membiarkan Ayah menyanggamaiku? Membiarkan Ibu mengusirku? Membiarkan Mami 'menjualku'-ku?'' tanya Laras. Sampai Laras sekarat, tanya-tanya ini tak terjawab. Akhirnya, perempuan belia bermata cokelat itu 'pulang' dengan cara amat mengerikan. Mulutnya berbusa, matanya terbelalak, lidahnya terjulur sampai dagu. Menakutkan!

Sesaat sebelum Laras hendak menyudahi hidupnya. Ia tetap tidak merasa akan kehilangan hidupnya. Dipercayainya saja bahwa hidupnya tersebut bukan miliknya. Andai saja Laras merasa memiliki kehidupannya, tentu saat itu ia akan menangis, meratap, melolong sejadinya, sekuatnya. Celakanya, Laras tidak menangis. Mungkin, karena ia tidak merasa kehilangan apa pun. Atau, mungkin pula karena tangis Laras 'jatuh ke dalam', sebuah liang di ulu hatinya, dan menggenang di sana. Tidak seorang pun mampu mengukur, seberapa dalam genangan tangis Laras. Sebab, kini Laras telah terbujur dalam usungan peti mati.

Monday, October 02, 2006

Taman Benalu

Cerpen : Damhuri Muhammad

(Koran Tempo, 9 Juli 2006)

Bagaimana mungkin cucu-cucunya kelak bakal memetik buah? Pohon Limau*) yang ditanamnya mati sebelum berputik. Jangankan berbuah, berputik pun belum. Mula-mula benalu tumbuh di pangkal-pangkal daun, di ujung reranting. Tapi, perlahan-lahan akarnya menjalar. Meliuk, melingkar serupa ular, membelit dahan. Lalu, melilit pohon induk. Sukar membedakan mana daun limau, mana daun benalu yang hidup menumpang. Bukankah daun benalu dan daun limau sama-sama hijau?

Ingatan Muncak tentu makin tumpul di usia yang sesenja ini. Makin tua, makin banyak yang terlupa. Apalagi mengingat-ingat, kapan persisnya pohon limau itu mati tercekik dibelit akar benalu. Kapan persisnya tumbuhan parasit itu menikmati hisapan terakhir sari makanan dalam daging pohon limau. Muncak hanya ingat, sejak benalu tumbuh, berurat-berakar, daun-daun limau layu. Warnanya berubah kekuning-kuningan, mersik dan akhirnya lepas dari ranting dan dahan. Helai demi helai jatuh berguguran ditiup angin. Pohon induk, dahan, ranting pun bertelanjang ditempa terik, tanpa lindungan rerimbun daun. Bila masih tumbuh daun, itu bukan daun limau lagi. Tapi, daun benalu. Menghijau, sejak kematian pohon limau.

Angin apa yang menghembuskan bibit-bibit benalu ke kampung ini? Dari mana benalu itu bermuasal? Muncak hanya ingat, ia mulai bertanam limau, rambutan, durian, mangga, kuini, karena tak ada yang dapat ia wariskan pada cucu-cucu, selain tanaman-tanaman tua itu. Itupun sudah terlambat. Kenapa tidak dari dulu? Kenapa baru bertanam setelah umurnya berkepala delapan? Mungkin tak ada lagi pohon yang bakal tumbuh di tanah ini. Lihatlah! limau, rambutan, durian, mangga, kuini yang kelak buahnya bakal dipetik cucu-cucu, mati sebelum berputik. Mati muda, setelah batang dan akarnya digerogoti benalu.

Siapa penyemai benih benalu di lahan-lahan subur kampung ini? Mungkinkah ini ulah para pendatang dari kampung-kampung jauh? Para perantau dari dusun-dusun tak bertuan? Tamu-tamu tak diundang dari pedalaman tak bersuku? Dulu, mereka bukan siapa-siapa. Hanya para pengais rejeki di tanah leluhur Muncak. Anak-anak semang. Para kacung yang rela bekerja keras, andalkan tulang empat kerat. Mendulang upah demi perut tak berisi, punggung tak bertutup. Mengolah sawah tuan-tuan tanah. Menggembala ternak. Menebang kayu di hutan-hutan. Mengeping, menjual, menyetor uang pada juragan. Mereka hanya beroleh upah. Bila musim panen tiba, merekalah kuli-kuli angkut padi. Terbungkuk-bungkuk badan mereka saat memikul beban berat yang tak imbang dengan imbalan yang diperoleh.

“Apa mungkin mereka yang menyemai bibit benalu di kampung kita, pak?” tanya Nukman, putera Muncak. Dulu, sebelum ia pergi merantau jauh.

“Bukan hanya pembawa benalu. Tapi, merekalah benalu yang sesungguhnya”

Tuduhan Muncak boleh jadi benar. Andai penduduk asli seperti Muncak, keponakan-keponakannya, karib-kerabatnya sebagai pohon limau. Lalu andaikan pula para pendatang itu sebagai benalu. Tengoklah benalu-benalu itu! Bukankah si Danu, dulu hanya orang upahan yang mengolah sawah milik Muncak? Membajak, menyemai benih, bertanam, menyiang, memupuk, menuai, Danu yang mengerjakan. Tapi, setelah padi dituai, Danu membuat lukah dari anyaman bambu. Perangkap belut yang bakal dibenam ke dalam lumpur sawah sebelum tiba saatnya sawah itu ditanam kembali. Nyaris setiap sehari Danu mencari cacing tanah, sebagai umpan agar belut-belut masuk perangkap. Belut-belut sawah hasil tangkapannya, dijemur dua sampai tiga hari, sebelum dijual ke pasar Payakumbuh. Lambat laun Danu disebut-sebut sebagai penangkap belut sawah yang harga jualnya kian melonjak saja.

Orang-orang kampung sini kerap mengejek Danu, si tukang belut itu. Tiap hari tangannya bergelimang cacing. Menjijikkan. Sukar membedakan antara bau badan Danu dengan anyir bau cacing tanah. Orang-orang tak mau berlama-lama di dekatnya. Tapi, lihatlah Danu kini! Kerja kerasnya berbuah sudah. Sepetak dua petak sawah berangsur-angsur jadi miliknya. Saat Muncak perlu uang untuk biaya sekolah Nukman, ia harus melelang sawah dan sejumlah hewan ternak. Tak jauh-jauh Muncak cari pembeli. Danu pembelinya. Sejak itu, Danu mulai menggarap sawah milik sendiri. Mengembala ternak sendiri. Tak berbeda lagi antara orang datang dan orang asli kampung sini. Danu orang berpunya, kini.

Danu, Nuan, Ujangkol, Jalak dan para pendatang yang dulu hanya anak-anak buah, kini tak dapat dipandang sebelah mata. Danu bahkan sudah membeli sebidang tanah milik Muncak. Di atas tanah itu dibangunnya rumah batu. Beratap seng, berlantai keramik. Di sana ia dan anak-bininya tinggal. Di teras rumah itu, terparkir sepeda motor bebek buatan Jepang keluaran terbaru. Tak berlebihan bila disebut, Danulah orang pertama yang punya rumah besar dan terbilang mewah untuk ukuran kampung itu. Orang belum mampu beli sepeda motor, Danu sudah berjalan di atas roda. Kaki yang dulu tak berterompah itu, kini terbungkus sepatu kulit. Berpijak di atas pedal sepeda motor. Warna biru mengkilat. Halus suara mesinnya, tapi nyaring bunyi klaksonnya.

Waktu itu, Muncak lagi-lagi harus melelang tanah. Konon, untuk biaya pelicin agar Nukman diterima menjadi pegawai negeri di Jakarta. Pernah Muncak ditentang keponakan-keponakannya karena menjual tanah suku tanpa urung rembuk lebih dulu. Tapi, Muncak adalah pimpinan tertinggi para penghulu. Itu sebabnya ia bernama Muncak. Asal katanya ‘puncak’. Pucuk teratas kepemimpinan suku. Karena perubahan artikulasi, ‘puncak’ menjadi ‘muncak’. Anak dipangku keponakan dibimbing, begitu mestinya kearifan penghulu seperti Muncak. Nyatanya, Anak dipangku, keponakan dibanting. Harta warisan leluhur diboyong Muncak ke rumah bini. Ia menghidupi keluarga, membesarkan anak dengan menggadai, menjual harta pusaka. Jangankan sawah, ladang atau tanah garapan, lahan pemakaman suku pun bakal dilegonya bila perlu. Tak jauh-jauh Muncak cari pembeli. Danu, Nuan, Ujangkol, Jalak dan para pendatang yang makin kaya itu para pembelinya.

Kini tiba saatnya, Muncak hendak bertanam sesuatu. Meski hanya di lahan sempit yang tersisa, di belakang rumah kayu yang mulai lapuk. Itupun bukan miliknya. Tapi lahan milik keluarga Baiti (almarhumah istrinya), yang masih izinkan Muncak tinggal di sana. Untunglah mereka berbaik hati. Bila tidak, mungkin Muncak akan tinggal di surau. Kembali pada keponakan? Tak mungkin! Mereka tak punya rumah. Tanah yang mestinya menjadi hak mereka, ludes terjual. Tak bersisa. Keponakan-keponakan Muncak tinggal di rumah orang. Menyewa, seperti para perantau di kota-kota. Mereka merantau di tanah kelahiran sendiri.

Namun, sepohon pun tak tumbuh, apalagi berbuah. Semuanya mati sebelum berputik. Limau ditanam, benalu yang hidup. Rambutan, durian, mangga, kuini ditanam, benalu yang tumbuh. Tak ada pohon yang tumbuh di tanah gembur dan subur ini, kecuali benalu. Lahan tempat Muncak mengais-ngais tanah menanam pohon-pohon itu seumpama taman hijau yang makin rimbun, makin rindang. Tapi tak kunjung berbunga, berputik, apalagi berbuah. Bagaimana akan berbuah bila yang tumbuh hanya benalu?

****

Ragita senang bertanam-tanam. Bukan jenis bunga-bunga seperti kegemaran gadis belia lazimnya, tapi pohon-pohon yang kelak berbuah ranum dan manis. Pekarangan rumah itu penuk sesak oleh aneka pohon kesukaan Ragita. Dengan tangan halusnya Ragita menancapkan bibit jambu cangkok, kelapa hibrida, jeruk import yang dibonsaikan. Saban sore disiramnya. Ditaburkannya pupuk daun dan pupuk perangsang buah. Lalu, disemprotkannya racun pembasmi hama perusak.

Nukman heran mengamati tabi’at ganjil Ragita, anak perempuan satu-satunya itu. Tak serupa gadis-gadis sebayanya yang suka mendengar musik, baca novel teenlit atau nonton film-film bertema cinta. Ragita malah hobi bermain tanah. Meski, hanya di lahan pekarangan rumah. Sementara, papanya yang berasal dari kampung, tak pernah berfikir akan bertanam apa di tanah rantau ini. Maklumlah, sebagai pejabat eselon, Nukman sibuk dengan rutinitas pekerjaan kantor yang menyita waktu.

“Ntar kalo udah tamat SMU, sebaiknya Gita kuliah di fakultas Teknik saja! Lapangan kerjanya lebih menjanjikan”

“Ah, Papa. Nggak mungkin lah. Gita pengen pilih fakultas Pertanian”

“Mau jadi petani?”

Mungkin, Nukman ingin beritahu Ragita bahwa ia terlahir dari keluarga petani. Nun, di kampung yang sudah lama tak ditengoknya. Sejak Ragita masih bayi, hingga tumbuh jadi gadis remaja, belum pernah Nukman mengajaknya pulang kampung. Nukman hanya bilang, nenek sudah meninggal sebelum Ragita lahir. Kini, di kampung hanya ada kakek. Kakek Muncak, namanya.

“Bila ingin jadi petani, belajar dulu pada kakekmu!”

Saat musim liburan tiba, Ragita diajak papanya pulang kampung. Sambil menjenguk kakek Muncak yang mulai sakit-sakitan, tentu Ragita hendak bertanya-tanya perihal tanam menanam. Utamanya menanam bibit pohon yang kelak berbuah ranum dan manis. Dan, tiba juga saatnya Muncak perlihatkan apa yang pernah ditanamnya pada cucu tersayang itu. Di lahan sempit belakang rumahnya memang masih tersisa tunggul-tunggul pohon limau, rambutan, durian, mangga, kuini yang telah mati mengering, setelah akar dan batangnya dibelit benalu.

“Kenapa kakek biarkan benalu tumbuh di batang pohon-pohon itu?”

“Sudah kakek lakukan segala cara, tapi benalu itu ndak bisa mati”

“Wah, ini bukan kebun. Tapi, taman”

“Taman? Taman apa, Gita?”

“Taman Benalu”

Perjalanan kembali ke Jakarta amat menjengkelkan. Ragita kesal. Betapa tidak? Semula ia mengira bakal beroleh pelajaran berharga tentang bagaimana cara menanam yang baik. Sia-sia saja kepulangan Ragita temui kakek Muncak. Sesungguhnya, tak ada yang bisa tumbuh dari tangan dingin lelaki gaek itu, kecuali daun-daun benalu. Masih petanikah namanya bila yang ditanam bibit pohon jeruk, tapi yang tumbuh hanya benalu?

Kelapa Dua, 2006

Catatan :

*) Jeruk

Thursday, September 28, 2006

T U B A

Cerpen: Damhuri Muhammad

(Kompas, Edisi 04/23/2006)

Tersiar kabar perihal bupati yang mati mendadak berselang beberapa saat setelah meresmikan peletakan batu pertama proyek pembangunan masjid di kecamatan Bulukasap. Saat ditemukan, mayatnya terkapar di lantai kamar dalam keadaan mulut berbusa, seperti korban overdosis, lidah terjulur hingga dagu dan mata terbelalak serupa orang mati setelah gantung diri. Amat menakutkan. Para sesepuh adat, alim ulama, dan karib kerabat yang berdatangan dari nagari Sungai Emas (kampung kelahiran almarhum bupati) baru saja menginjakkan kaki di rumah duka. Kehadiran mereka langsung disambut ratap haru dan isak sedu istri almarhum yang tampak sangat terpukul karena kematian suaminya yang begitu tiba-tiba. Tanpa firasat, juga tanpa wasiat.

"Tadi pagi masih segar bugar, kini sudah terbujur kaku jadi mayat…."

"Istighfar kak, istighfar! Ikhlaskan saja kepergian beliau!" begitu bujuk seorang tokoh masyarakat membendung kesedihan.

"Salah apa yang telah diperbuat suami saya? Tidak adil! Sungguh tidak adil! Ini perbuatan biadab…."

"Sudahlah kak! Mungkin ini sudah jalannya"

Lusianna datang agak terlambat. Jenazah ayahnya sudah rampung dikafani, tak lama lagi akan segera disembahyangkan, sebelum diusung ke pemakaman. Raut muka perempuan itu tampak murung dan kecewa. Sebab, sudah tak mungkin lagi ia melepaskan tali pengebat kain kafan sekadar memberi kecupan di kening ayahnya, sebagai ciuman yang terakhir sebelum jenazah itu dikuburkan.

"Jadi pejabat ndak usah terlalu jujur, yah!" begitu kelakar Lusi kepada almarhum dua tahun lalu. Sesaat sebelum ia berangkat ke Mellbourne, menyelesaikan program doktor, bidang ilmu politik.

"Maksudmu?"

"Lihatlah jalan umum kampung kita! Persis seperti kubangan kerbau. Rusak parah dan sudah tak layak tempuh. Nah, mumpung ayah sedang memegang jabatan bupati, ndak ada salahnya ayah membuat proyek pelebaran jalan. Bila perlu diaspal beton sekalian!" jelas Lusi, "Hitung-hitung proyek itu dapat menunjukkan rasa terima kasih ayah pada kampung kelahiran sendiri"

"Tapi, tidak segampang itu, Lusi! masih banyak daerah lain yang jauh lebih parah kondisinya"

"Utamakan dulu pembangunan di nagari Sungai Emas, kampung kita. Jangan lupa! ayah bisa memenangi pemilihan bupati berkat dukungan masyarakat di sana bukan?"

"Wah, jika ayah tidak ’pandai-pandai’. Masih saja ’lurus tabung’ seperti ini, Lusi khawatir ayah bakal diumpat warga nagari Sungai Emas. Tapi, semuanya terserah ayah…," ketus Lusi, agak sinis.

Sejak dilantik menjadi orang nomor satu di Kabupaten Puding Bertuah, tak satu pun permintaan orang-orang nagari Sungai Emas dikabulkan almarhum. Marajo Kapunduang pernah datang menghadap ke rumah dinasnya. Bermohon kepada pak bupati, agar si Bujang Paik, anak laki-lakinya yang tamatan es te em (STM) itu dapat diterima bekerja sebagai satpam honorer. Permintaan yang sebenarnya tidaklah terlalu berlebihan.

"Daripada menganggur saja, boleh ndak anak saya bekerja di sini pak? Jadi satpam saja cukup lah!" mohon Marajo waktu itu.

"Tentu saja boleh Nduang, tapi anakmu harus mengikuti testing sesuai prosedur yang telah ditetapkan," jawab bupati, sedikit berdiplomasi.

"Iya pak, tapi saya berharap bapak dapat membantu"

"Jika ia lulus seleksi, pasti akan diterima. Kalau saya bantu, itu artinya kita berkolusi, mentang-mentang kita sekampung. Tidak bisa begitu Nduang!" tegas bupati, seperti hendak mengelak.

Marajo Kapunduang amat kecewa setelah mendengar jawaban pak bupati yang kurang mengenakkan. "Rasanya mau saya tinju saja ulu hatinya, biar mampus!" umpatnya. Betapa tidak? Sikap pak bupati keterlaluan. Seolah-olah Marajo Kapunduang sama sekali tidak punya andil memenangkannya dalam pemilihan. Seakan-akan ia berhasil menduduki kursi empuk bupati semata-mata karena reputasi sendiri. Padahal, tanpa dukungan Marajo Kapunduang dan orang- orang nagari Sungai Emas, ceritanya akan lain. Marajolah orang yang paling sibuk sebelum pemilihan berlangsung, ia pontang-panting mencari bantuan dana kampanye pada orang- orang nagari Sungai Emas yang sukses di perantauan. Sedikit demi sedikit ia kumpulkan, lalu disumbangkan untuk pelbagai keperluan dalam rangka mengangkat seorang putra kelahiran nagari Sungai Emas, sebagai kepala daerah kabupaten Puding Bertuah. Tapi, apa balasan yang telah diberikan bupati pada Marajo? Marajo tidak menuntut yang macam-macam. Hanya meminta agar anak laki-lakinya dipekerjakan sebagai satpam honorer di rumah dinas. Itu saja tidak dikabulkan bupati. Ah, memalukan sekali…!

Almarhum memang sangat berbeda dengan pejabat bupati terdahulu. Warga nagari Taeh (desa kelahirannya) amat membanggakan beliau. Selama menjabat, nagari Taeh yang dulunya udik itu (lebih udik dari Sungai Emas), tiba-tiba saja berubah menjadi kota. Di sana dibangun masjid agung dengan biaya ratusan juta. Tak ada jalan umum yang tidak diaspal beton, jaringan telepon dipasang, jalur transportasi dari dan ke Taeh lancar. Anak-anak muda yang menganggur direkrut menjadi anggota polisi pamong praja, guru-guru yang sudah puluhan tahun menjadi tenaga honorer diluluskan dalam seleksi calon pegawai negeri sipil. Hingga kini, meski tidak menjabat bupati lagi, masyarakat tetap saja mengingat jasa-jasa dan pengabdian beliau, menghormati beliau. Meski sudah pensiun, beliau tetap bupati di hati warga nagari Taeh.
Sayang sekali, almarhum tidak mau bercermin pada bupati sebelumnya. Semestinya beliau memperjuangkan guru-guru honorer di kampung Sungai Emas agar lulus menjadi pegawai negeri sipil. Warga nagari Sungai Emas tentu saja tidak akan melihat bantuan tersebut sebagai praktik nepotisme yang memalukan. Lagi pula, mana ada bupati yang diturunkan dari jabatan hanya gara-gara meluluskan guru-guru honorer dalam seleksi calon pegawai negeri? Tapi, dasar orang jujur, putra daerah Sungai Emas itu tidak mau memperjuangkan orang-orang kampungnya sendiri. Sejak itulah, bupati mulai dimusuhi. Tak dihormati lagi. Bupati dibenci karena ia terlalu jujur. Terlalu lurus, seperti tabung.

Apa boleh buat! Kini, bupati sudah tiada, hanya tinggal nama. Nagari Sungai Emas tetap saja udik dan makin terbelakang. Jalur transportasi dari dan ke Sungai Emas sulit. Jalan-jalan kampung dibiarkan saja rusak parah, tak layak tempuh. Guru-guru tetap saja menjadi tenaga honorer, entah sampai kapan. Anak-anak muda menganggur, tak jelas juntrungan. Judi sabung ayam menjadi permainan undi nasib yang amat menggiurkan. Ironis! Namanya Sungai Emas, seolah-olah ada sungai yang berlimpah-ruah kandungan emasnya. Seolah-olah negeri yang kaya sumber daya alam, padahal setiap hari orang-orang berkeluh kesah karena hidup susah. Banyak anak-anak cerdas terlahir di sana, tapi tak mampu melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Tak ada biaya. Maka, jalan satu-satunya adalah; pergi merantau, mengadu peruntungan ke Jakarta. Ada yang menjadi pedagang kaki lima, tukang jahit, petugas parkir, satpam, kuli bangunan, sebagian ada pula yang mencopet (jika itu dapat disebut pekerjaan).

Genap tujuh hari kematian bupati. Namun, penyelidikan aparat kepolisian belum kunjung berhasil menemukan titik terang tentang sebab-musabab kematian tragis yang meresahkan itu. Tidak ditemukan bekas-bekas penyiksaan di tubuh almarhum, tidak pula penyakit kronis. Kematian yang misterius. Sementara itu, kedai-kedai kopi di seluruh penjuru perkampungan Sungai Emas tak pernah reda dari perbincangan tentang sosok bupati yang sok suci, sok jujur, lurus tabung, tapi kini sudah mati.

"Mestinya ndak usah dibunuh! Diberi penyakit saja sudah cukup lah…," kata Sutan Pagarah sembari mengaduk-aduk kopi pekat yang baru saja tersuguh untuknya.

"Penyakit apa pula yang sutan maksud?" tanya kak Pi’ah, janda tua pemilik kedai kopi, pura-pura tidak paham.

"Ditambah saja lubang lancirit*)-nya. Ua-ha-ha-ha…."

"Ah, kasar benar kelakar sutan," balas kak Pi’ah, agak kesal.

Sebenarnya, orang-orang nagari Sungai Emas tidak perlu menunggu penjelasan polisi menyangkut sebab-sebab kematian almarhum bupati. Percuma saja aparat hukum mampu mengusut dan menuntaskan kasus itu. Tak bakal berhasil. Sebab, tabi’at pembunuhan keji itu tidak kasat mata. Lagi pula, di nagari Sungai Emas, musibah kematian macam itu sudah lumrah dan kerap terjadi. Meski diam-diam, hampir semua warga sepakat berkesimpulan bahwa bupati mati karena di-tuba. Dibunuh secara halus melalui kekuatan gaib. Namun, tidak mungkin disebutkan siapa pelakunya. Bila ada yang berani menyebutkan nama pembunuh bupati, itu sama saja artinya dengan bunuh diri. Kenekatan macam itu, hanya akan mengundang musibah baru, kematian selanjutnya, bisa saja jauh lebih mengerikan.

"Siapa lagi yang bakal kita calonkan untuk pemilihan tahun depan, Tuk?" tanya Marajo Kapunduang pada Datuk Rangkayo, sesepuh adat paling disegani di nagari Sungai Emas. Sejenak si Datuk menerawang, seperti mengingat-ingat seseorang sembari mengepul-ngepulkan asap rokok yang hampir memuntung.

"Oh, ada Nduang! Namanya Drs Mustajir Adimin. Putra tertua mendiang haji Adimin Ar-Raji. Kabarnya, kini ia pejabat eselon di Jakarta. Bagaimana menurutmu?" balas Datuk Rangkayo, ganti bertanya.

"O, Iya. Lupa saya. Tapi, orangnya tidak ’lurus tabung’ seperti almarhum bukan?"

"Hmn … kalau yang ini agak lain Nduang. Bila kelak ia memenangi pemilihan, hutan-hutan milik nagari Sungai Emas ini pun bisa dilelangnya. Bagaimana menurutmu?"

"Nah, itu dia yang kita cari selama ini," jawab Marajo Kapunduang, mulai bersemangat.

"Tapi, bila nanti ia hanya menumpuk kekayaan untuk kepentingan diri sendiri, apa yang akan kita lakukan?" lagi-lagi Datuk bertanya, kali ini sambil bergurau.

"Putuskan saja tali jantungnya…."

Kelapa Dua, 2006

Catatan:
*) Dubur

Friday, March 03, 2006

B U Y A

Cerpen: Damhuri Muhammad

(Jawa Pos, 23 oktober 2005)

Setitik cahaya menyembul dari balik semak-semak di kaki bukit. Mungkin suluh orang yang mencari belut sawah atau menjaring ikan di sungai Batang Mungo sepanjang lereng bukit itu. Tapi, makin mendekat, makin jelas terlihat. Makin terang terasa. Lalu, cahaya itu menggulung seperti dihempas angin limbubu. Menggumpal, membulat, membesar seperti bola api. Melayang dan melaju kencang ke arah Surau Tuo. Lama sekali bola api itu berputar-putar di atas permukaan tanah kosong, tepat di sisi kanan mihrab Surau Tuo, hingga sekeliling surau itu terang benderang seperti tersiram sinar bulan purnama keempat belas. Padahal, malam itu bukan malam terang bulan.

"Pertanda apa ini, Bilal?" tanya Katik, gemetar dan tergagap-gagap."Ini petunjuk yang kita tunggu-tunggu selama ini."
"Petunjuk?" tanya Katik lagi, "Maksudnya apa?"
"Kita sudah beroleh jawaban tentang raibnya jasad buya," jawab Bilal, sambil tersenyum lega.
"Jadi….jadi….Ini petunjuk tentang buya Ibrahim Mufti yang menghilang beberapa tahun lalu?"

Hanya dalam hitungan hari sejak Katik, Bilal, segenap ninik mamak, alim ulama bermufakat dan memutuskan bahwa peristiwa munculnya cahaya pada malam gelap bulan itu benar-benar pertanda yang tak diragukan kebenarannya, masyarakat Taram dari enam jorong: Tanjung Ateh, Tanjung Kubang, Tanjung Balai Cubadak, Parak Baru, Sipatai, dan Subarang, berbondong-bondong ke Surau Tuo. Saling bahu-membahu, menggali tanah pekuburan, mendirikan makam bagi almarhum buya Ibrahim Mufti. Hari itu, kali pertama mereka menggali kubur, tapi tak ada mayat yang bakal ditimbun di liang lahat. Keempat sisinya ditembok semen setinggi dua meter, sementara bagian atasnya diatap seng. Seperti makam para wali, kuburan orang-orang keramat.

***

Dulu, negeri Taram tanahnya gersang. Musim kering berkepanjangan. Tak ada sumber air untuk mengairi sawah. Kalaupun ada sawah yang ditanami, itu hanya mengharapkan curah hujan. Sementara, musim panas lebih lama ketimbang musim hujan. Gabah dari sawah tadah hujan hanya cukup untuk menghadang ancaman kelaparan. Sekadar bertahan hidup. Tak bersisa untuk ditabung dalam lumbung. Tapi, sejak kedatangan buya Ibrahim Mufti, perlahan-lahan alam mulai bersahabat. Keadaan berubah menjadi lebih baik. Waktu itu, buya menancapkan ujung tongkatnya ke dalam tanah, lalu dihelanya tongkat itu sambil berjalan ke arah timur. Tanah kering yang tergerus tongkat buya seketika lembab, basah dan dialiri air yang datang entah dari mana. Sesampai di ujung paling timur, buya berhenti. Dibiarkannya tongkat itu tertancap. Lebih dalam dari tancapan yang pertama. Kelak, titik tempat beliau berhenti dinamai: Kepala Bandar. Itulah mata air pertama di Taram. Airnya mengalir deras ke bandar yang semula hanya parit kecil akibat tergerus tongkat buya. Tak lama berselang, bandar pun melebar, membesar dan akhirnya berubah menjadi Sungai Batang Mungo yang menyimpan persediaan air berlimpah. Sejak itu, orang-orang Taram tak lagi tergantung pada sawah tadah hujan. Mereka telah beroleh sumber air. Sawah-sawah pun membuahkan hasil berlebih-lebih. Lumbung-lumbung padi penuh terisi.

Di tengah perkampungan, (dengan bantuan warga) buya membangun sebuah surau. Di sanalah buya tinggal, di sebuah bilik kecil di samping surau. Anak-anak berhamburan datang hendak belajar mengaji. Begitu pun orang dewasa dan orang tua-tua berduyun-duyun untuk salat berjamaah, mendengarkan wirid dan pengajian. Buya memberi nama surau itu: Surau Tuo. Surau pertama yang pernah ada di sana. Surau tertua.Selain sebagai guru mengaji, guru wirid dan guru tasawuf, buya dikenal memilki banyak keistimewaan. Di bulan Ramadan, setiap keluarga di Taram menggelar acara buka bersama, dan mengundang buya untuk mendoakan keberkahan bagi tuan rumah. Suatu kali, keluarga Nuraya, keluarga Syamsida, dan keluarga Wastiah menyelenggarakan buka bersama di hari yang sama. Secara bersamaan pula mengundang buya. Mereka bersitegang urat leher mempertahankan kesaksian masing-masing. Nuraya tidak percaya, kalau buya datang memenuhi undangan ke rumah Syamsida dan Wastiah. Sebab, hari itu buya ada di rumahnya. Begitu pun Syamsida dan Wastiah, keduanya berani bersumpah bahwa buya juga hadir di rumah mereka masing-masing. Mereka tidak salah. Buya benar-benar memenuhi undangan ketiga keluarga itu. Meski ada yang bersaksi, hari itu buya tidak ke mana-mana. Beliau berzikir dan i’tikaf di Surau Tuo, berbuka bersama dengan jamaah Maghrib. Di manakah jasad asli buya saat itu? Berapa banyakkah bayang-bayang buya? Ada yang menyebut, buya punya ilmu "bayang-bayang tujuh". Jangankan undangan dari tiga keluarga, dari tujuh keluarga pun buya akan menyanggupinya. Itu belum seberapa, ada yang pernah melihat buya berjalan di atas air saat menyelamatkan orang hanyut di Sungai Batang Mungo. Karena itu, beliau sering disebut: buya keramat.

***

Hari itu, Jumat 12 Sya’ban. Wan Tobat bergegas datang ke Surau Tuo. Memenuhi janjinya, mencukur rambut buya. Kecuali jenggot, buya tidak suka pada bulu. Begitu rambut penuh uban itu mulai tumbuh, beliau akan memanggil Wan Tobat. Meminta tukang cukur itu menggundulinya, hingga culun, licin, dan mengkilat.

"Tolong agak cepat! Gunakan pisau cukur paling tajam! Sebentar lagi waktu Jumat akan masuk," suruh buya pada Wan Tobat.

Baru separuh rambut buya tergunduli, Wan Tobat tersentak kaget. Karena tiba-tiba buya bangkit, berdiri dari duduknya. Seolah ada yang mengejutkan beliau. Tampak ganjil bentuk kepala buya. Culun sebelah. Sebelah kiri gundul, sebelah kanan masih ada rambut.

"Wah, saya harus buru-buru pergi."
"Tapi, rambut buya belum selesai dicukur bukan?"
"Ndak apa-apa. Saya tidak bisa menunggu lagi."
"Ada apa buya?"
"Ka’bah kebakaran. Saya harus segera memadamkannya."

Buya berkepala culun itu tergesa-gesa lari ke biliknya, berkemas dan memakai sorban. Masih tampak aneh, meski kepalanya sudah terlilit sorban. Sejenak beliau duduk bersila, menunduk berzikir di depan mihrab Surau Tuo, setelah itu Wan Tobat tak melihat apa-apa lagi. Seketika saja, jasad buya menghilang. Seperti menguap dan raib entah ke mana.

***

Wan Tobat, satu-satunya orang yang melepas kepergian buya. Tukang pangkas itu sudah berkali-kali meyakinkan orang-orang bahwa buya Ibrahim Mufti pergi berjihad, memadamkan api yang hendak meluluhlantakkan Baitullah di Mekah. Tapi, mereka masih sukar mempercayai kebenaran cerita Wan Tobat, antara percaya dan tidak. Malah ada yang menganggap kesaksian itu mengada-ada, tak masuk akal, omong kosong yang dibuat-buat.

"Buya itu wali. Dalam sekali kerdipan mata, beliau bisa tiba di Mekah."
"Andai bumi yang bulat ini ada tangkainya serupa buah Manggis, buya akan menjinjingnya ke mana-mana."
"Apa lagi yang kalian sangsikan?"

Berbulan-bulan, peristiwa menghilangnya buya masih menjadi duri dalam daging bagi orang-orang Taram. Mereka sulit menerima kenyataan. Apa mau dikata, Buya sungguh-sungguh telah tiada. Kesangsian mereka pada keterangan Wan Tobat terjawab setelah mendengar cerita dari Wan Tongkin. Warga kampung sebelah, yang pulang setelah berpuluh tahun hidup dan tinggal di tanah suci. Semula Wan Tongkin mendalami ilmu-ilmu agama di Mekah. Setelah pendidikannya tamat, ia tidak kembali pulang ke kampung. Tapi memilih menjadi pedagang lukisan kaligrafi dan kopiah haji di wilayah sekitar Masjidil Haram. Meluap-meluap lelaki ringkih itu berkisah tentang peristiwa kebakaran Ka’bah, beberapa hari sebelum kepulangannya.

"Baitullah nyaris hangus jadi abu."
"Siapa yang memadamkan api itu?" tanya orang-orang.
"Untunglah ada seorang lelaki tua. Secepat kilat, ia meloncat ke puncak Ka’bah. Dari ujung tongkatnya mengucur air. Deras, seperti air yang muncrat dari selang pemadam kebakaran. Sekejap, api yang menjalar-jalar itu padam."
"Masih ingat ciri-ciri orang itu?"
"Agak ganjil. Kepalanya culun sebelah. Sebelah kiri gundul, sebelah kanan masih ada rambut."

Sepeninggal buya, pengajian tasawuf dilanjutkan oleh tiga orang murid kesayangan buya Ibrahim Mufti. Haji Malih, Haji Amak dan Haji Djamil. Mereka juga memiliki banyak keistimewaan seperti buya. Dari Haji Djamil, orang-orang Taram menjawab wasiat tentang buya. Ia pernah bermimpi bertemu arwah buya. Ternyata, tak lama setelah peristiwa kebakaran Ka’bah, buya meninggal. Dalam mimpi itu, Haji Djamil bermohon agar buya memberitahukan di mana beliau dikuburkan. Agar kelak orang-orang Taram dapat berziarah ke makam beliau.

"Bila muncul cahaya di malam bukan terang bulan, di sanalah saya."
"Bagaimana cara kami mengenali cahaya itu?"
"Menggumpal, membulat, dan membesar seperti bola api. Melayang-layang dan berputar seperti gasing. Galilah kuburan persis di setentang cahaya itu! Di sanalah makam saya"

***
Bilal dan Katik sudah tiada. Begitu pun orang-orang yang dulu setia menjaga Surau Tuo dan makam buya. Satu per satu meninggal, hingga tak ada lagi yang tahu sejarah surau dan makam keramat itu. Surau lengang. Tak ada hiruk suara anak-anak mengeja alif-ba-ta. Tak ada salat berjamaah, pengajian, apalagi wirid. Surau kotor, kumuh dan berdebu. Sama seperti makam buya yang tak terawat, penuh rumput dan berlumut. Tapi, Kepala Bandar makin ramai. Mungkin karena suasananya tenang dan sejuk. Airnya jernih, ikannya jinak. Setiap hari berpuluh-puluh pasang muda-mudi (laki-laki dan perempuan) berboncengan sepeda motor beriring-iringan menuju lokasi mata air tertua itu. Di balik semak-semak sepanjang pinggir sungai, tersedia pondok-pondok bambu yang disewakan bagi setiap pasangan. Mereka leluasa berbuat apa saja. Tanpa ada yang mengusik dan menganggu. Tak ada yang tahu, Kepala Bandar yang sudah mesum dan penuh maksiat itu, dulu tempat suci yang dihormati. Konon, buya Ibrahim Mufti pernah menancapkan tongkat keramatnya untuk memperoleh mata air. Di sana pula buya kerap berdoa, memohon keberkahan dan kelimpahan rezeki bagi orang-orang Taram.

***
Kelapa Dua, 2005