Search This Blog

Tuesday, December 26, 2006

S U A K A

Cerpen : DAMHURI MUHAMMAD

(Pikiran Rakyat, 23 Desember 2006)

TUBUH langsing perempuan itu, kini terbaring menelentang dikelilingi elektrokardiogram, tabung-tabung oksigen, dan selang-selang infus. Jasadnya tak lebih dari gumpalan daging sekadar pembalut tulang belulang. Begitu pun raut wajahnya (yang menurut ketajaman mata batinmu adalah rona muka paling jernih dari semua perempuan yang pernah kau kenali), kini kian buram. Lebih buram dari wajah mentari tertindih mendung senja hari. Lalu, apa lagi yang masih bisa kau harapkan dari perempuan yang sudah setengah bangkai itu? Separuh hidup, separuhnya lagi sudah mati.

"Aku tak butuh ranum tubuhnya. Aku hanya ingin ia sembuh. Itu saja!"

Hmm...! Kau tak butuh sentuhannya, Andesta? Kau tak ingin mendengar desah suara dan sengah nafasnya manakala kalian sedang berpelukan? Kau tak ingin lagi tubuhnya bersandar di dadamu? dan kedua lengannya melingkar di lehermu?

"Aku ingin ia terbebas dari rasa sakit keparat itu."

**

ANDAI saja gerak dan laju perputaran waktu dapat ditelikung jauh ke belakang, nun ke masa silam. Lalu, kau dapat berkunjung ke suatu periode sejarah paling purba, saat itu tidakkah kau hendak bertanya: Kenapa Adam masih terkepung sunyi di taman sorgawi yang "mandi" cahaya? hingga ia bermohon agar Tuhan menghadirkan Hawa di sisinya?

"Apa maksudmu?"

Ya, di titik inilah sejarah bermula, bahwa kelak laki-laki harus hidup berpasangan dengan perempuan. Kelamin jantan mesti bertemu dan beradu dengan kelamin betina dalam sistem keberpasangan intim. Maka, bermulalah sejarah cinta, kesetiaan, dan pengorbanan. Dimulai pula ritual upacara pernikahan yang paling tua. Sejarah itulah yang lantas kalian warisi di kemudian hari, hingga (entah kenapa) kau dan perempuan itu pun bertemu dan bersatu dalam bingkai jodoh. Padahal, kalian tak pernah menduga sebelumnya, bukan? Siapa yang mesti disalahkan dalam hal sejarah cinta, kesetiaan, dan pengorbanan? Tentu Adam, sebab dia manusia pertama yang mengobarkan api cinta, hingga Hawa menjadi bagian dalam hidupnya. Ah, tidak adil bila menyalahkan Adam, mungkin Hawa yang salah, sebab ia terpikat pada bujuk rayu Adam, hingga kelak kalian mewarisi kultur keberpasangan yang seringkali berakhir dengan duka dan nestapa. Iya, tapi salah Adam juga, kenapa memohon doa untuk kehadiran Hawa? Kalau begitu, yang salah bukan Adam, bukan Hawa, tapi Tuhan. Sebab, Tuhan mengabulkan doa Adam.

"Huss..., Tuhan jangan dibawa-bawa!"

Jika saja kalian tidak tergoda dan lalu terperangkap dalam kultur keberpasangan yang diwariskan nenek moyang bangsa manusia, tentulah kau bukan jodoh bagi perempuan itu. Bukan suaminya. Tentulah, tidak akan terberati perasaanmu oleh beban yang sesungguhnya tak sanggup kau pikul, bukan? Tentulah, kau tak perlu menimbun dan menumpuk hutang untuk membiayai pengobatannya. (kau tak akan mampu melunasi hutang-hutang itu meski bekerja seumur hidupmu). Tentulah, kau tidak akan ikut merasakan betapa menyiksanya petaka yang sedang menimpa perempuan itu.

**

BERSELANG dua bulan setelah pernikahan mereka, tiba-tiba saja Ladunna jatuh sakit. Perutnya terasa kembung dan mual. Muntah-muntah seperti gejala orang ngidam. Dengan perasaan penuh waswas bercampur cemas, Andesta bersegera melarikannya ke rumah sakit. Tak disangka-sangka, dokter menyatakan istrinya itu hamil. Semula Andesta tersentak bangga sembari mengumbar senyum lega. Sebab, tak lama lagi ia akan menjadi ayah bagi janin dalam kandungan Ladunna. Pucuk dicinta ulam pun tiba.

"Istri Anda positif hamil, tapi kehamilannya di luar kandungan. Karena itu, mesti dioperasi."

Seketika, jantungnya seperti hendak berhenti berdenyut. Seperti ada yang menghentak dan menyesak di rongga dadanya. Sulit ia mengatur detak nafas. Kian lama kian kencang, tak beraturan. Lelaki itu dikepung rasa cemas tak terkata. Cemas bilamana operasi itu gagal. Cemas jika operasi itu bukannya menyelamatkan kandungan Ladunna, tapi justru bisa berakibat fatal atau bahkan dapat merenggut nyawa istrinya.

Apa yang dicemaskan Andesta, akhirnya datang juga. Ya, sejak operasi itulah asal muasal musibah itu bisa dirunut. Tubuh Ladunna tergeletak lemas, menelentang tak sadarkan diri. Ladunna sekarat dan tak mampu mengenali Andesta lagi. Mengenali suaminya sendiri. Sekadar menghitung berapa banyak selang yang bersilang-pintang di tubuhnya pun, perempuan itu sudah tak kuasa. Denyut nadinya seperti kerakap tumbuh di batu. Hidup segan, namun mati tak hendak. Dokter menvonis, perempuan itu menderita vegetative state, batang otaknya rusak permanen. Bukankah itu sama saja artinya dengan kematian?

**

PERCUMA saja kau bersetia menunggu kesembuhannya dari penyakit itu! Kenapa kau masih saja sabar dan senantiasa berharap? Sudahlah, Andesta! Berhentilah menunggu sesuatu yang patut lagi ditunggu! Mestinya, petaka dan musibah itu kau percayai saja sebagai takdir!

"Ah, aku sulit untuk yakin pada takdir."

"Sst...! Kau tak bisa menolak takdir, Andesta!"

"Iya. Tapi, jika aku memercayai sakit parahnya itu adalah takdir, betapa tak mujurnya takdir Ladunna. Memilukan. Takdir yang melumpuhkan semangat hidupku."

"Jadi kau tidak percaya dengan ganasnya penyakit yang berjangkit di tubuh istrimu itu?"

"Tubuhnya memang sedang digerogoti penyakit. Tapi, bukankah tak ada penyakit yang mampu membunuh dan tak ada pula obat mampu menyembuhkan?"

Kau benar! Tapi, tidak dibunuh pun, istrimu sudah mati lebih dulu. Ladunna sudah jadi mayat sebelum ajal datang menjemputnya. Sejak batang otaknya rusak total dan syaraf-syaraf motoriknya kehilangan fungsi, sulit sekali ia mengingat-ingat dan membayangkan betapa khidmatnya prosesi pernikahan yang baru saja kalian alami dua bulan lalu. Sekadar menyimpan kenangan tentang tahi lalat yang melekat di jidatmu atau kecupan malam yang menyisakan basah di kuduknya, Ladunna sudah tak mampu. Daya ingat dan kualitas kecerdasannya amat rendah. Lebih rendah dari kecerdasan hewan.

Benarkah kau hendak membebaskan istrimu dari rasa sakit yang telah melumpuhkan itu? Kau berkenan bilamana rasa sakitnya dialirkan ke tubuhmu? Kau sungguh-sungguh, Andesta?

"Beritahu aku bagaimana cara memusnahkan rasa sakitnya!"

"Gampang sekali, Andesta!"

"Katakanlah! Akan segera kulakukan untuknya."

"Bunuh ia! Maka, penyakit istrimu akan mati, mengiringi kematiannya."

**

LADUNNA....

Penyakit itu sudah berurat, berakar, bersenyawa, dan berkelindan dengan organ-organ tubuhmu. Sukar sekali mematikan rasa sakitmu itu. Apa boleh buat. Satu-satunya cara yang dapat membunuh penyakitmu adalah dengan membunuhmu. Aku sudah bermohon pada lembaga yang berwenang agar mereka berkenan memberi izin pada dokter untuk menancapkan suntikan eutanasia di tubuhmu. Suntik mati. Maafkan aku, Ladunna! Aku tak bermaksud mengakhiri hidupmu, aku hanya ingin membunuh rasa sakitmu. Tapi, mereka menolak permintaanku dan terus-menerus menghalangi niatku. Mereka bahkan menuduhku lelaki sadis yang tega merenggut hidup istrinya sendiri.

Jadi, kau pikir mati itu menyakitkan? Bagi Ladunna, mungkin jauh lebih menyakitkan membiarkanmu senantiasa berharap pada kesembuhannya. Membiarkan suaminya mengurut dada pada setiap jeda waktu bersitatap dengan sorot matanya yang kian hari kian sayu. Bukankah akan lebih baik memilih mati ketimbang hidup, namun tak bermutu? Lebih baik mati, karena kualitas hidup Ladunna lebih buruk dari kematiannya. Maka, bagi istrimu kematian sama sekali tidak menakutkan, apalagi menyakitkan. Kematian Ladunna adalah suaka. Kematian yang membebaskan. Ya, membebaskan perempuan itu dari gairah hidup yang makin lama makin redup. Sekaligus, membebaskan Andesta, suaminya dari riwayat penungguan sia-sia.

"Lalu, bagaimana caranya?"

"Tolong beri tahu aku!"

"Aku sudah tak sabar."

Kau tak perlu bersusah-susah dan mengemis mohon izin untuk membenamkan jarum suntik mati di tubuh Ladunna. Cara yang kau pilih terlalu sulit dan berbelit-belit. Sementara ulu hatimu terus tersayat-sayat rasa ngilu melihat kondisi istrimu yang kian hari kian memburuk. Maka, akan kutunjukkan cara yang lebih mudah.

"Cabut saja salah satu selang yang melekat di tubuhnya! Selang infus di tangannya, atau selang oksigen di hidungnya. Gampang, bukan?"

"Aku tak sanggup!"

"Andesta, cabut saja selang itu!"

"Tidak! Aku tak sanggup membunuhnya."

"Ayolah!"

"Tidak!"

"Sst...! Kau tidak membunuh Ladunna, tapi 'mematikan' penyakitnya. Lakukanlah!"

"Sudah kubilang, tidak!"

"Bunuhlah ia...!"

"Bunuh penyakitnya...!"

"Bebaskan ia...!"

"Ayolah, sayang...!"

***

Jakarta, 2005

No comments: