Search This Blog

Friday, March 03, 2006

B U Y A

Cerpen: Damhuri Muhammad

(Jawa Pos, 23 oktober 2005)

Setitik cahaya menyembul dari balik semak-semak di kaki bukit. Mungkin suluh orang yang mencari belut sawah atau menjaring ikan di sungai Batang Mungo sepanjang lereng bukit itu. Tapi, makin mendekat, makin jelas terlihat. Makin terang terasa. Lalu, cahaya itu menggulung seperti dihempas angin limbubu. Menggumpal, membulat, membesar seperti bola api. Melayang dan melaju kencang ke arah Surau Tuo. Lama sekali bola api itu berputar-putar di atas permukaan tanah kosong, tepat di sisi kanan mihrab Surau Tuo, hingga sekeliling surau itu terang benderang seperti tersiram sinar bulan purnama keempat belas. Padahal, malam itu bukan malam terang bulan.

"Pertanda apa ini, Bilal?" tanya Katik, gemetar dan tergagap-gagap."Ini petunjuk yang kita tunggu-tunggu selama ini."
"Petunjuk?" tanya Katik lagi, "Maksudnya apa?"
"Kita sudah beroleh jawaban tentang raibnya jasad buya," jawab Bilal, sambil tersenyum lega.
"Jadi….jadi….Ini petunjuk tentang buya Ibrahim Mufti yang menghilang beberapa tahun lalu?"

Hanya dalam hitungan hari sejak Katik, Bilal, segenap ninik mamak, alim ulama bermufakat dan memutuskan bahwa peristiwa munculnya cahaya pada malam gelap bulan itu benar-benar pertanda yang tak diragukan kebenarannya, masyarakat Taram dari enam jorong: Tanjung Ateh, Tanjung Kubang, Tanjung Balai Cubadak, Parak Baru, Sipatai, dan Subarang, berbondong-bondong ke Surau Tuo. Saling bahu-membahu, menggali tanah pekuburan, mendirikan makam bagi almarhum buya Ibrahim Mufti. Hari itu, kali pertama mereka menggali kubur, tapi tak ada mayat yang bakal ditimbun di liang lahat. Keempat sisinya ditembok semen setinggi dua meter, sementara bagian atasnya diatap seng. Seperti makam para wali, kuburan orang-orang keramat.

***

Dulu, negeri Taram tanahnya gersang. Musim kering berkepanjangan. Tak ada sumber air untuk mengairi sawah. Kalaupun ada sawah yang ditanami, itu hanya mengharapkan curah hujan. Sementara, musim panas lebih lama ketimbang musim hujan. Gabah dari sawah tadah hujan hanya cukup untuk menghadang ancaman kelaparan. Sekadar bertahan hidup. Tak bersisa untuk ditabung dalam lumbung. Tapi, sejak kedatangan buya Ibrahim Mufti, perlahan-lahan alam mulai bersahabat. Keadaan berubah menjadi lebih baik. Waktu itu, buya menancapkan ujung tongkatnya ke dalam tanah, lalu dihelanya tongkat itu sambil berjalan ke arah timur. Tanah kering yang tergerus tongkat buya seketika lembab, basah dan dialiri air yang datang entah dari mana. Sesampai di ujung paling timur, buya berhenti. Dibiarkannya tongkat itu tertancap. Lebih dalam dari tancapan yang pertama. Kelak, titik tempat beliau berhenti dinamai: Kepala Bandar. Itulah mata air pertama di Taram. Airnya mengalir deras ke bandar yang semula hanya parit kecil akibat tergerus tongkat buya. Tak lama berselang, bandar pun melebar, membesar dan akhirnya berubah menjadi Sungai Batang Mungo yang menyimpan persediaan air berlimpah. Sejak itu, orang-orang Taram tak lagi tergantung pada sawah tadah hujan. Mereka telah beroleh sumber air. Sawah-sawah pun membuahkan hasil berlebih-lebih. Lumbung-lumbung padi penuh terisi.

Di tengah perkampungan, (dengan bantuan warga) buya membangun sebuah surau. Di sanalah buya tinggal, di sebuah bilik kecil di samping surau. Anak-anak berhamburan datang hendak belajar mengaji. Begitu pun orang dewasa dan orang tua-tua berduyun-duyun untuk salat berjamaah, mendengarkan wirid dan pengajian. Buya memberi nama surau itu: Surau Tuo. Surau pertama yang pernah ada di sana. Surau tertua.Selain sebagai guru mengaji, guru wirid dan guru tasawuf, buya dikenal memilki banyak keistimewaan. Di bulan Ramadan, setiap keluarga di Taram menggelar acara buka bersama, dan mengundang buya untuk mendoakan keberkahan bagi tuan rumah. Suatu kali, keluarga Nuraya, keluarga Syamsida, dan keluarga Wastiah menyelenggarakan buka bersama di hari yang sama. Secara bersamaan pula mengundang buya. Mereka bersitegang urat leher mempertahankan kesaksian masing-masing. Nuraya tidak percaya, kalau buya datang memenuhi undangan ke rumah Syamsida dan Wastiah. Sebab, hari itu buya ada di rumahnya. Begitu pun Syamsida dan Wastiah, keduanya berani bersumpah bahwa buya juga hadir di rumah mereka masing-masing. Mereka tidak salah. Buya benar-benar memenuhi undangan ketiga keluarga itu. Meski ada yang bersaksi, hari itu buya tidak ke mana-mana. Beliau berzikir dan i’tikaf di Surau Tuo, berbuka bersama dengan jamaah Maghrib. Di manakah jasad asli buya saat itu? Berapa banyakkah bayang-bayang buya? Ada yang menyebut, buya punya ilmu "bayang-bayang tujuh". Jangankan undangan dari tiga keluarga, dari tujuh keluarga pun buya akan menyanggupinya. Itu belum seberapa, ada yang pernah melihat buya berjalan di atas air saat menyelamatkan orang hanyut di Sungai Batang Mungo. Karena itu, beliau sering disebut: buya keramat.

***

Hari itu, Jumat 12 Sya’ban. Wan Tobat bergegas datang ke Surau Tuo. Memenuhi janjinya, mencukur rambut buya. Kecuali jenggot, buya tidak suka pada bulu. Begitu rambut penuh uban itu mulai tumbuh, beliau akan memanggil Wan Tobat. Meminta tukang cukur itu menggundulinya, hingga culun, licin, dan mengkilat.

"Tolong agak cepat! Gunakan pisau cukur paling tajam! Sebentar lagi waktu Jumat akan masuk," suruh buya pada Wan Tobat.

Baru separuh rambut buya tergunduli, Wan Tobat tersentak kaget. Karena tiba-tiba buya bangkit, berdiri dari duduknya. Seolah ada yang mengejutkan beliau. Tampak ganjil bentuk kepala buya. Culun sebelah. Sebelah kiri gundul, sebelah kanan masih ada rambut.

"Wah, saya harus buru-buru pergi."
"Tapi, rambut buya belum selesai dicukur bukan?"
"Ndak apa-apa. Saya tidak bisa menunggu lagi."
"Ada apa buya?"
"Ka’bah kebakaran. Saya harus segera memadamkannya."

Buya berkepala culun itu tergesa-gesa lari ke biliknya, berkemas dan memakai sorban. Masih tampak aneh, meski kepalanya sudah terlilit sorban. Sejenak beliau duduk bersila, menunduk berzikir di depan mihrab Surau Tuo, setelah itu Wan Tobat tak melihat apa-apa lagi. Seketika saja, jasad buya menghilang. Seperti menguap dan raib entah ke mana.

***

Wan Tobat, satu-satunya orang yang melepas kepergian buya. Tukang pangkas itu sudah berkali-kali meyakinkan orang-orang bahwa buya Ibrahim Mufti pergi berjihad, memadamkan api yang hendak meluluhlantakkan Baitullah di Mekah. Tapi, mereka masih sukar mempercayai kebenaran cerita Wan Tobat, antara percaya dan tidak. Malah ada yang menganggap kesaksian itu mengada-ada, tak masuk akal, omong kosong yang dibuat-buat.

"Buya itu wali. Dalam sekali kerdipan mata, beliau bisa tiba di Mekah."
"Andai bumi yang bulat ini ada tangkainya serupa buah Manggis, buya akan menjinjingnya ke mana-mana."
"Apa lagi yang kalian sangsikan?"

Berbulan-bulan, peristiwa menghilangnya buya masih menjadi duri dalam daging bagi orang-orang Taram. Mereka sulit menerima kenyataan. Apa mau dikata, Buya sungguh-sungguh telah tiada. Kesangsian mereka pada keterangan Wan Tobat terjawab setelah mendengar cerita dari Wan Tongkin. Warga kampung sebelah, yang pulang setelah berpuluh tahun hidup dan tinggal di tanah suci. Semula Wan Tongkin mendalami ilmu-ilmu agama di Mekah. Setelah pendidikannya tamat, ia tidak kembali pulang ke kampung. Tapi memilih menjadi pedagang lukisan kaligrafi dan kopiah haji di wilayah sekitar Masjidil Haram. Meluap-meluap lelaki ringkih itu berkisah tentang peristiwa kebakaran Ka’bah, beberapa hari sebelum kepulangannya.

"Baitullah nyaris hangus jadi abu."
"Siapa yang memadamkan api itu?" tanya orang-orang.
"Untunglah ada seorang lelaki tua. Secepat kilat, ia meloncat ke puncak Ka’bah. Dari ujung tongkatnya mengucur air. Deras, seperti air yang muncrat dari selang pemadam kebakaran. Sekejap, api yang menjalar-jalar itu padam."
"Masih ingat ciri-ciri orang itu?"
"Agak ganjil. Kepalanya culun sebelah. Sebelah kiri gundul, sebelah kanan masih ada rambut."

Sepeninggal buya, pengajian tasawuf dilanjutkan oleh tiga orang murid kesayangan buya Ibrahim Mufti. Haji Malih, Haji Amak dan Haji Djamil. Mereka juga memiliki banyak keistimewaan seperti buya. Dari Haji Djamil, orang-orang Taram menjawab wasiat tentang buya. Ia pernah bermimpi bertemu arwah buya. Ternyata, tak lama setelah peristiwa kebakaran Ka’bah, buya meninggal. Dalam mimpi itu, Haji Djamil bermohon agar buya memberitahukan di mana beliau dikuburkan. Agar kelak orang-orang Taram dapat berziarah ke makam beliau.

"Bila muncul cahaya di malam bukan terang bulan, di sanalah saya."
"Bagaimana cara kami mengenali cahaya itu?"
"Menggumpal, membulat, dan membesar seperti bola api. Melayang-layang dan berputar seperti gasing. Galilah kuburan persis di setentang cahaya itu! Di sanalah makam saya"

***
Bilal dan Katik sudah tiada. Begitu pun orang-orang yang dulu setia menjaga Surau Tuo dan makam buya. Satu per satu meninggal, hingga tak ada lagi yang tahu sejarah surau dan makam keramat itu. Surau lengang. Tak ada hiruk suara anak-anak mengeja alif-ba-ta. Tak ada salat berjamaah, pengajian, apalagi wirid. Surau kotor, kumuh dan berdebu. Sama seperti makam buya yang tak terawat, penuh rumput dan berlumut. Tapi, Kepala Bandar makin ramai. Mungkin karena suasananya tenang dan sejuk. Airnya jernih, ikannya jinak. Setiap hari berpuluh-puluh pasang muda-mudi (laki-laki dan perempuan) berboncengan sepeda motor beriring-iringan menuju lokasi mata air tertua itu. Di balik semak-semak sepanjang pinggir sungai, tersedia pondok-pondok bambu yang disewakan bagi setiap pasangan. Mereka leluasa berbuat apa saja. Tanpa ada yang mengusik dan menganggu. Tak ada yang tahu, Kepala Bandar yang sudah mesum dan penuh maksiat itu, dulu tempat suci yang dihormati. Konon, buya Ibrahim Mufti pernah menancapkan tongkat keramatnya untuk memperoleh mata air. Di sana pula buya kerap berdoa, memohon keberkahan dan kelimpahan rezeki bagi orang-orang Taram.

***
Kelapa Dua, 2005
Lidah Bermata Sembilu

Cerpen : DAMHURI MUHAMMAD

(Pikiran Rakyat, 04 Februari 2006)

BUKANKAH akan lebih baik bilamana perempuan itu mengakhiri riwayat Wildan? Menggorok lehernya, menikamkan belati di punggungnya, atau membubuhkan bubuk racun tikus ke dalam gelas kopinya? Ya, memang lebih baik jika perempuan itu membunuh Wildan, daripada ia terus menerus melukai Wildan dengan lidah bermata sembilu itu....

"Sssst...! Aku tak berniat membunuhnya. Ini sekadar menguji ketajaman sembilu lidahku."
"Iya, tapi setelah kau pastikan ketajamannya, kelak kau tetap akan menyudahi hidupnya bukan?"
"Tidak! Aku hanya memperlakukan dirinya sebagai batu asahan untuk mempertajam mata sembilu lidahku."

Masih terngiang-ngiang di telinga Wildan, janji yang pernah diikrarkan perempuan itu. Meski telah menjelma perempuan berlidah sembilu, ia bersumpah tidak akan melukai Wildan.

"Lidah sembilu ini akan melukai setiap lelaki, kecuali kau."
"Bukankah semua lelaki adalah musuhmu?"
"Kualat aku, bila melukaimu juga."

Ah, jangan-jangan perempuan itu telah menipu Wildan. Janji-janji muluk yang keluar dari mulut manisnya tak lebih dari siasat untuk memikat para lelaki. Kelak, bila seorang lelaki sudah terjerat dalam perangkapnya, ia akan melanggar ikrar. Berkhianat dan berhasrat ingin menjilat tubuh lelaki itu dengan lidah sembilunya. Sudahlah! Tusukkan saja pisau itu di perutnya agar tubuhnya terjungkal, dan mati bersimbah darah. Agar lidah sembilumu tak melukainya lagi.
"Bila ia sudah jadi mayat, tubuhnya tak mengandung darah lagi. Tentu lidah sembiluku bakal tumpul karena tak diasah."
**

ENTAH dosa apa yang telah diperbuat Rinjali, hingga perempuan muda itu jatuh ke pelukan Triyono. Begitukah takdirnya? Tidak! Rinjali sulit percaya takdir. Jika ia memercayai takdirnya berakhir di tangan lelaki iblis itu, betapa tak mujurnya takdir Rinjali? Takdir paling malang, barangkali.

Konon, sebelum mempersunting perempuan itu, Triyono sudah insyaf dan bertekad hendak berubah menjadi lelaki baik-baik. Suami yang bersetia. Ia telah bertobat, dan ingin menghapus buruk rupa wajah masa silamnya. Tapi, ibarat seekor anjing yang sudah terlanjur ketagihan pada enaknya tahi, maka selamanya anjing itu makan tahi. Tersebab hidup yang kian bertambah susah dan nasib yang tak kunjung berubah, Triyono pun nekat, kembali ke habitatnya. Ia mulai lagi menjajakan tubuh kekarnya pada perempuan-perempuan pirang bermata cokelat. Kali ini, makin menggila. Tak segan-segan Triyono mengajak tamu-tamunya singgah ke rumahnya. Ya, rumah tempat Rinjali tinggal. Tak jarang pula, perempuan-perempuan itu diinapkannya di kamar yang bersebelahan dengan kamar istrinya.
Suatu kali, Triyono pulang bersama seorang lelaki bule. Mancung hidungnya, jangkung postur badannya. Tak biasa ia bergaul dengan laki-laki. Lumrahnya, di mana ada Triyono, di sampingnya pasti ada perempuan pirang. Seperti sudah direncanakan, sesampai di rumah, Triyono langsung saja mempersilakan si bule itu masuk kamar. Sementara, Rinjali ada di dalam, sedang rebah melepas lelah. Pintu kamar langsung dikunci (tepatnya dikunci). Triyono berlagak seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Dari luar, terdengar pekik Rinjali. Meronta, menghentak-hentak, menjerit sejadi-jadinya. Tapi, jeritan perempuan itu tak mungkin mengubah keadaan. Maka, terjuallah Rinjali pada malam jahanam itu.
**

MATA boleh rabun, telinga boleh pikun, tapi Mbah Jarot --dukun teluh yang tak tertandingi kesaktiannya-- tak pernah lupa berapa banyak jarum susuk yang telah ditancapkannya ke tubuh perempuan-perempuan yang memohon pertolongannya. Ada yang ditanam di jidat. Ada pula yang dibenamkan di dagu, alis, pipi kiri, pipi kanan, pangkal kuping, leher, kuduk bahkan juga lidah.

"Kau hanya perlu sedikit berbenah. Agaknya kau belum memerlukan susuk," begitu nasihat Mbah Jarot pada seorang perempuan yang menggebu-gebu hendak memiliki susuk.
"Jangan salah paham, orang tua! Saya tidak bermaksud mempercantik diri, tapi, hendak mempertajam lidah," balasnya, tegas.
"Kau mau lidah yang setajam apa, Nak?"
"Setajam sembilu."
"Sembilu?"
"Ya, untuk membalas luka dengan luka. Darah dengan darah. Dengan lidah sembilu itu, akan saya lukai semua lelaki. Jadi, segeralah tancapkan jarum susuk itu di lidahku ini!" mohonnya, seraya menjulurkan lidah pada Mbah Jarot.
Mulut Mbah Jarot pun mulai komat-kamit, membaca jampi-jampi saat membenamkan jarum susuk, persis di pangkal lidah perempuan itu. Sementara di benak si perempuan, mulai terbayang betapa pedihnya luka akibat sayatan mata sembilu lidahnya itu. Kelak, di kemudian hari.

"Semoga lidah sembilumu tak menggoreskan luka di tubuh lelaki tak berdosa."
"Jangan terlalu banyak petuah! Saya bebas melukai lelaki mana pun. Bukankah kau sudah saya bayar mahal, tua bangka?" bentak perempuan itu, makin beringas.
**

SENJA nyaris redup. Seorang lelaki mengantar Rinjali pulang ke rumah. Tampak raut muka sayu di wajah perempuan itu. Hanya sedikit tersisa aura kecantikan masa belia. Suram, kusam. Sesuram harapan ibu-bapaknya untuk dapat bertemu kembali dengannya. "Saya Wildan," lelaki muda itu memperkenalkan diri. Kedatangannya tak hanya sekadar memulangkan Rinjali, setelah sekian tahun tak menginjakkan kaki di rumah ini, tapi sekaligus bermohon agar Pak Handoko (ayah Rinjali) berkenan mengizinkannya menikahi Rinjali.

"Anda tidak salah pilih?" tanya Pak Handoko, "Rinjali, anak saya, sudah janda. Anda masih terlalu muda untuk menikah, bukan?"
"Rinjali tidak pernah janda di mata saya. Saya ingin menikahinya. Restui kami, Pak!" balas Wildan.

Jika Izrail adalah malaikat pencabut nyawa, maka (di mata Pak Handoko), Wildan adalah malaikat "penyambung" nyawa. Nyawa anak bungsunya yang nyaris tak tertolong. Sebelum bertemu Wildan, peruntungan Rinjali seperti kapal kertas. Terombang-ambing di tengah samudera luas. Tak perlu menunggu kecamuk badai atau gelombang pasang, riak-riak kecil saja sudah mampu membenamkan kapal kertas itu ke dasar laut untuk tak muncul lagi ke permukaan. Tapi, kini Wildan mengembalikan Rinjali yang hilang selama berbilang tahun. Sebelum kedatangannya, Pak Handoko nyaris tak punya harapan lagi. Ia mengira Rinjali sudah "tenggelam", entah di laut mana.

Gugusan sinar mulai menyemburat dari sorot mata Rinjali. Rona mukanya kembali memancarkan aura memesona. Ia seolah beroleh nyawa yang baru. Hidup yang kedua kali setelah kematian yang pertama. Cantik tak terlukiskan paras Rinjali setelah dipersunting Wildan. Hidup mereka mengalir begitu saja, seiring bergulirnya waktu. Seiring dengan hanyutnya kenangan Rinjali saat bersama Triyono yang telah membuangnya seperti membuang tahi ke dalam selokan. Seperti membuang ingus ke dalam lubang kloset.

"Saatnya kau mencabut susuk dari lidahmu, Rinjali!" begitu bisikan yang kerap mengusik ketenangan Rinjali.
"Jangan ganggu aku! Soal susuk itu, bukan urusanmu," batinnya, melawan bisikan-bisikan yang datang entah datang dari mana.
"Cabutlah! Bila tidak, lidahmu tetap akan bermata sembilu."
"Lalu?"
"Sembilu itu bisa melukai Wildan, suamimu."
"Enyah kau, Bangsat...!"
**

BELUM genap setahun usia pernikahan mereka, tiba-tiba saja sikap Rinjali berubah. Ia tidak seperti perempuan yang dulu dikenal Wildan. Nyaris tak bisa santun dan berlemah lembut seperti dulu. Perkara-perkara remeh saja sudah membuncahkan cela dan cerca dari mulutnya. Tak pernah lagi Wildan bersitatap dengan raut muka jernihnya. Lelaki itu sudah amat berhati-hati. Menjaga omongan. Menjaga sikap, dan berusaha untuk tidak pernah salah dalam hal apa pun di dekat Rinjali, istrinya. Namun, umpat, cacian, sumpah serapah tetap terpacak dari bibir perempuan itu. Tak henti-henti lidah Rinjali mengiris-iris hati Wildan. Pedih terasa. Sepedih luka tersayat sembilu.

Belum kering luka lama, lidah sembilu itu sudah menggoreskan luka baru. Belum hilang pedih luka lama, sudah dibuatnya luka baru, jauh lebih pedih. Suatu malam, saat Wildan menyeduh kopi sembari membolak-balik halaman buku yang sedang dibacanya, terjadi sedikit perdebatan. Secepat kilat, kopi panas itu melayang sekaligus dengan gelasnya, tepat di kening Wildan. Lelaki itu masih mengerang kepanasan, Rinjali melemparkan asbak rokok dari bahan keramik dan bersarang persis di pangkal telinga Wildan.
"Kere! Kawin cuma modal dengkul. Pergi kau, brengsek!"
"Sejak jadi binimu, hidupku bukannya makmur, tapi makin melarat."

Lagi-lagi lidah sembilu itu menggoreskan luka. Wildan diam, mengurut dada sambil menghela napas dalam-dalam. Tak sepatah kata pun ia menyela, apalagi membalas makian Rinjali.
Hingga sampailah pada malam jahanam, ketika Wildan menyaksikan (dengan mata kepala sendiri) Rinjali sedang bergumul dengan lelaki muda, mendesah di ranjang hotel berbintang. Di kantong celana Wildan terselip sebilah belati bermata kembar. Digenggamnya belati itu dengan kepalan tangan yang mulai gemetar. Menggigil dan berkeringat dingin.

"Apa yang kau tunggu? Ini tak bisa diampuni. Ayo, habisi dia!" batin Wildan, ragu-ragu.
"Sembelih saja lelaki begundal itu!"
Ah, lagi-lagi Wildan diam, mengurut dada sembari menghela napas dalam-dalam. Lama ia bersitatap dengan raut muka pucat Rinjali. Perempuan itu masih telentang dengan tubuh telanjang di bawah tindihan lelaki setan itu.
"Perempuan sundal! Belum puas juga kau melukaiku?"
"Belum tajam jugakah mata sembilu lidahmu?"
"Cuih.... Diam kau!" sela Rinjali. "Mestinya kau berterima kasih pada lelaki ini."
"Berterima kasih?"
"Ya, dia akan memberimu keturunan. Lelaki impoten sepertimu mesti ditolong."
"Pulanglah Wildan! Doakan agar aku segera mengidam, dan bunting!"
Entah kali yang ke berapa, Wildan meringis keperihan, menanggung pedih luka yang digoreskan perempuan berlidah sembilu itu. Tapi, ia tetap diam, mengurut dada sambil menghela napas dalam-dalam.
**

BUKANKAH akan lebih baik bilamana Rinjali mengakhiri riwayat Wildan? Menggorok lehernya, menikamkan belati di punggungnya atau membubuhkan bubuk racun tikus ke dalam gelas kopinya. Ya, memang lebih baik jika perempuan itu membunuh Wildan, daripada ia terus menerus melukai suaminya dengan lidah bermata sembilu itu....***

Kelapa Dua, 2005
Perempuan Berkerudung Api

Cerpen : Damhuri Muhammad

(Media Indonesia, 27 November 2005)

TIADA cela pada diri Nilam Sari. Cerdas otaknya. Tinggi sekolahnya. Taat ibadahnya. Anggun paras wajahnya. Santun tutur katanya. Lembut suaranya bila menyapa. Pandai benar ia membawa diri. Maka, banyaklah lelaki yang menaruh hati, berhasrat ingin mempersuntingnya. Pinangan pernah datang dari Tanbara. Lelaki dari kampung sebelah. Kabarnya, sudah tiga tahun berdinas sebagai tentara. Nilam Sari hanya menunduk dan diam sewaktu Tanbara beserta keluarga datang melamar. Tapi, bukankah tak menjawab sudah berarti sebuah jawaban? Diam pertanda menerima.

Senang tiada terkira Cu Sidar merasa. Tak disangka, ia bakal punya menantu tentara. Berpangkat sersan pula. Tegap tampangnya. Berwibawa penampilannya. Serasa mendiang ayah si Nilam bakal hidup lagi. Almarhum suami Cu Sidar, dulu juga tentara. Maka, yang hilang bakal berganti. Tentara berganti tentara. Semoga kelak mereka dikaruniai anak laki-laki yang bercita-cita jadi tentara pula.

Saat akad nikah akan digelar, (sebelum ijab dan qabul diucapkan di depan penghulu), tiba-tiba Tanbara menghentak-hentak seperti kesurupan, dan menolak duduk bersanding dengan calon istrinya. Gemetar dan menggigil lelaki berkepala cepak itu setelah melihat Nilam Sari muncul dari kamar, mengenakan baju pengantin, lengkap dengan kerudung yang melingkar di kepalanya. Konon, dari kerudung merah jambu penuh renda-renda itu, asal-muasalnya petaka. Percaya atau tidak, Tanbara bersaksi, kerudung itu dilihatnya serupa lidah api yang menjalar-jalar di ubun-ubun Nilam Sari. Perempuan itu seperti sedang menjunjung tungku yang menyala. Panas minta ampun hawa di dalam rumah Cu Sidar. Tanbara berkeringat, disertai cemas dan waswas bakal dilalap api bila mereka tetap menghadap penghulu. Seperti dikejar hantu Tanbara lari terbirit-birit, meninggalkan kerumunan orang-orang yang terperangah keheranan.

"Tidak, saya tidak akan menikah dengan Nilam. Ia memakai kerudung api. Bisa mati gosong saya dibuatnya," ucap Tanbara berulang-ulang, serupa orang mengigau.

Malanglah nasib Cu Sidar. Maksud hati hendak menggelar pesta besar-besaran. Kambing dan sapi sudah siap disembelih. Undangan sudah tersebar pula. Tapi celaka! Akad nikah batal. Entah iya, entah tidak. Nilam Sari mengenakan kerudung api. Membikin takut si tentara, hingga tak berani mendekat. Ah, siapa pula yang tak gamang melihat kobaran api? Hari itu, Cu Sidar gagal bermenantu tentara.

"Kerudung macam apa pula kiranya yang kaupakai, Nilam?"
"Apa benar yang dikatakan Tanbara?"
"Sudahlah, Mak! Mungkin tak berjodoh awak dengan tentara."

Tak sekali dua musibah ini menimpa Cu Sidar. Pernah pula pinangan datang dari Zulkifli, si perantau muda. Kabarnya, sudah punya toko kelontong di Jakarta. Setinggi-tinggi terbangnya burung bangau, di kubangan juga tempat hinggapnya. Sejauh-jauh Zulkifli merantau, di kampung juga ia hendak mencari bini. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Nilam Sari, si gadis elok laku kebetulan masih sendiri. Jatuhlah pilihan pada perempuan itu.

Sejatinya, sudah tersiar 'kabar kabur' soal Nilam Sari. Anak tunggal Cu Sidar itu memang cantik alang kepalang, mengundang puja-puji, decak kagum di sana-sini. Tapi, manalah mungkin Zulkifli dapat memilikinya? Nilam Sari serupa mawar berduri. Sedap hanya dipandang mata. Bila disentuh, Eiit…! Tangan bisa terluka. Dari mulut ke mulut diceritakan, perempuan itu kerap terlihat memakai kerudung api. Menyala, menjalar-jalar, serupa api unggun yang berkobar di ubun-ubunnya. Lebih-lebih, bila yang melihat adalah lelaki yang menaruh hati.

"Awak tak peduli. Akan awak lamar itu si Nilam," tekad Zulkifli, meluap-luap, menggebu-gebu.
"Setelah menikah, akan awak boyong ia ke Jakarta."
"Coba saja kalau kau berani!"
"Tubuhmu bakal hangus terbakar di malam pertama."
"Ingat, Nilam Sari tak akan pernah bersuami!"
"Diam kalian! Sebentar lagi awak akan jadi lakinya."

Begitulah. Nilam Sari tak menyela barang sepatah kata pun ketika ibu-bapak Zulkifli melamar ke rumah Cu Sidar. Seolah tiada bertenaga ia mengangkat kepala, sekadar menatap kening Zulkifli yang makin mengilat saja sejak sukses jadi pedagang. Tentu, diam sudah jadi kiasan sebuah jawaban. Nilam Sari tak banyak pilih.

Giranglah pula hati Cu Sidar. Dihitung-hitungnya persediaan uang yang tersisa, guna menggelar helat yang hanya sekali seumur hidupnya. Bila tak cukup, tidaklah soal. Jual saja satu-dua koin emas yang tersimpan rapi dalam kaleng bekas biskuit di biliknya. Tak perlu khawatir, bila kelak si Nilam benar-benar diboyong ke Jakarta. Sekali waktu bila rindu, bolehlah Cu Sidar berkunjung ke sana. Menjenguk cucu sambil melihat-lihat usaha si menantu. Pun, bila modal berdagang perlu ditambah, tak pula sukar bagi mertua kaya seperti Cu Sidar. Lelang saja sawah barang sepetak dua petak. Lalu, uangnya kirimkan untuk Zulkifli!

Tapi musibah datang lagi. Meski baju pengantin sudah berganti. Kali ini bersulam benang emas, mengilat kekuning-kuningan. Kerudung penutup kepala juga bukan Merah Jambu lagi. Sudah berganti Putih, pertanda hati yang suci. Namun, tetap saja ubun-ubun Nilam Sari menyemburkan hawa panas yang membara. Lidah api menjilat-jilat, menjalar-jalar. Belum lagi penghulu datang, Zulkifli sudah lari terkangkang-kangkang. Serupa dikejar hantu, calon mempelai itu menghamburi kerumunan tamu, lalu melompat lewat jendela. Tak tahan ia menanggung panas yang menyeruak dari kerudung api di kepala Nilam Sari.

"Menyesal awak cari bini di kampung ini. Masa si Nilam berkerudung api. Bisa hangus jadi abulah awak nanti."
"Cari gadis lain, jangan kawin dengan perempuan berkerudung api!"

****
Mana mungkin kami dapat memiliki delapan belas bidang sawah, empat bidang kebun kelapa, tiga kaveling ladang cengkih, dan berpuluh-puluh keping koin emas itu, bila anak gadisnya masih ada? Silsilah keluarga Cu Sidar tidak akan punah selama Nilam Sari, putri tunggalnya itu masih hidup. Tentu, ke tangan perempuan itulah hak waris bakal jatuh. Akan bertambah panjang pula penantian kami bila gadis hitam manis itu sudah dilamar orang. Menikah, berketurunan, berkembang biak melahirkan ahli-ahli waris baru. Tapi, kami sudah lama melarat. Kami ingin hidup makmur seperti Cu Sidar, saudara jauh kami itu. Kami ingin menjadi ahli waris hartanya. Sudah bosan kami hidup miskin. Tapi, bagaimana caranya?

"Nilam Sari tak boleh dapat jodoh!"
"Banyak yang jatuh hati padanya. Mana mungkin kita halangi?"
"Pokoknya, jangan sampai ia menikah, apalagi punya keturunan."
"Apa yang mesti kita perbuat?"
"Bila tak mempan cara lahir, pakai cara batin. Guna-gunai saja perempuan itu!"

Sedikit lega kami merasa. Kini, Cu Sidar sudah tiada. Sejak kegagalan demi kegagalan perkawinan anak gadisnya itu, sering ia sakit-sakitan. Jarang keluar rumah, mengurung diri dalam bilik. Ada kami tawarkan bantuan, hendak membawa perempuan ringkih itu ke rumah sakit. Siapa tahu ia mengidap penyakit kronis. Soal biaya, tidaklah jadi pikiran. Tinggal menjual satu-dua koin emas yang masih menumpuk dalam kaleng bekas biskuit. Tapi Cu Sidar menolak. Ini sudah penyakit tua, percuma, katanya. Kian hari, kian buruk saja keadaannya, hingga Cu Sidar terbaring lemas, berhari-hari tak sadar diri. Meninggal juga Cu Sidar akhirnya. Kami kuburkan jenazahnya di belakang rumah, sesuai wasiatnya.

Agaknya tidak akan lama lagi kami menunggu. Delapan belas bidang sawah, empat bidang kebun kelapa, tiga kaveling ladang cengkih dan berpuluh-puluh keping koin emas itu bakal jadi milik kami. Tentu, setelah Nilam Sari, perempuan berkerudung api itu juga mati, menyusul Cu Sidar, emaknya. Mustahil Nilam Sari beroleh suami. Sebab, ia masih dikuasai kekuatan jampi-jampi kami. Maka, ia tetap saja perempuan berkerudung api. Siap membakar tubuh lelaki mana pun yang berhasrat memperistrinya.

"Persingkat saja penungguan kita!"
"Apa pula maksudmu?"
"Putuskan tali jantung perempuan itu! Biar mampus...."
"Jangan buru-buru, sabar sedikit!"
"Tak dibunuh pun, bakal mati sendiri"

****
Lengang benar rumah itu sepeninggal Cu Sidar. Sementara itu, gunjing perihal perempuan berkerudung api tak kunjung reda. Tak tahu Nilam, ke mana hendak mengadu. Kawan-kawan sejawat dan tetangga-tetangga dekat tiada berkenan mendengar keluh kesahnya.

"Kelak bila tak ada lagi yang dapat dianggap saudara, lebih baik pergi jauh-jauh!" begitu nasihat Cu Sudar pada Nilam Sari, beberapa hari sebelum kematiannya.
"Bolehlah kau tak berjodoh di kampung ini. Siapa tahu di negeri seberang, ada lelaki yang menunggumu."

Delapan belas bidang sawah, empat bidang kebun kelapa, tiga kaveling ladang cengkih, dan berpuluh-puluh keping koin emas peninggalan Cu Sidar, dijual Nilam Sari, ludes tak bersisa. Juga rumah dan semua perabotannya. Bukankah itu semua memang milik Nilam Sari?

"Kenapa tak kausisakan kami barang sedikit, Nilam?"
"Kami juga saudara emakmu, bukan?"
"Sisakanlah barang sebidang kebun kelapa atau ladang cengkih!"
"Saudara? Saudara apa namanya yang tega mengguna-gunai anak gadis saudaranya sendiri?"
"Kalian buat saya berkali-kali gagal menikah. Kalian baca jampi-jampi agar kerudungku tampak serupa kobaran api. Kalian ingin kami punah. Lalu, kalian bakal menjawab hak waris. Kalian masih menganggap emak saya sebagai saudara?"

Tergesa-gesa Nilam Sari pergi meninggalkan kami. Entah ke mana ia hendak menuju. Terus kami perhatikan langkah-langkah gegasnya. Di ujung jalan, sedan cokelat tua berhenti dalam keadaan pintu terbuka, siap membawa perempuan itu. Sebelum masuk ke dalam mobil, masih kami lihat kobaran api menjalar-jalar di ubun-ubunnya. Nilam Sari tetaplah perempuan berkerudung api, selama masih menginjakkan kaki di kampung ini. Pengaruh guna-guna itu akan musnah, bila ia sudah menyeberang laut. Entah siapa yang membuka rahasia jampi-jampi kami. Mungkin, Nilam bakal berlayar. Jauh, ke negeri seberang. Agar kutukan kerudung api itu hilang. Agar, ia segera beroleh jodoh. Menikah. Meneruskan silsilah keluarga Cu Sidar. Meski usianya sudah berkepala empat.

** Kelapa Dua, 2005
Anak-anak Peluru

Cerpen : DAMHURI MUHAMMAD

(Kompas, 3 Juli 2005)

(1)

Anakku,

Mengharapkan kepulanganmu sama saja dengan mengharap abu dari tungku-tungku pembakaran yang tak pernah menyala! Tapi, entah kenapa masih saja ibu bersetia menyia-nyiakan waktu menunggumu. Masih saja sesak dada ibu karena denyut rindu. Masih saja jemari tangan ibu hendak menulis surat untukmu, meski kau tak pernah lagi membalasnya. Ya, masih saja terkenang tentang sekeping waktu saat bayi laki-laki menyembul dari rahim ibu. Terkenang pula saat ngeyak dan rengekmu memecah sunyi di ujung malam. Saat itu, ibu tersentak bangun dan bergegas mengelus-elus kepala culunmu, hingga kau terlelap pulas dalam dekapan ibu.

”Ibu restui kepergianmu, Nak! Tapi, jangan sampai perantauanmu seperti Anak Peluru!”
”Anak Peluru? Maksud ibu?”
”Peluru jika sudah ditembakkan, tak akan kembali ke moncong senapan, bukan?”
”Ibaratkan peluru itu seorang anak, dan moncong senapan itu seorang ibu. Mana ada peluru yang kembali ke moncong senapan setelah ditembakkan? Hengkang dan tak pernah kembali pulang.”

Tiga orang anak yang terpacak dari perut ibu, dan pada setiap prosesi kelahiran itu nyaris sebesar biji Jagung peluh mengucur dari sekujur tubuh ibu karena menanggung rasa sakit, namun hasrat ibu ingin menimang bayi perempuan tak kunjung terwujud. Tiga bayi itu semuanya laki-laki. Abangmu, Rehan, setelah tamat SMU di Payakumbuh, merengek-rengek minta izin untuk merantau. Hendak mengadu nasib ke Jakarta. Ibu gadaikan sebidang sawah untuk modalnya berjualan kaki lima. Berkat kegigihan dan kerja kerasnya, lambat laun ia sukses. Khabar terakhir yang ibu dengar tentang Rehan, ia sudah punya lima toko dan dua puluh orang karyawan. Tapi, sejak menikah dengan perempuan rantau, berkembang biak dan lalu beranak pinak seperti kucing, tak pernah lagi Rehan pulang menjenguk ibu. Lupa jalan pulang atau memang sudah tak berniat pulang?

Lain lagi ceritanya dengan Acin, abangmu yang satu lagi. Setelah lulus jadi polisi, hanya dua tahun sejak berdinas di Aceh, ia berkirim surat minta restu untuk mempersunting gadis kelahiran Takengon. Pada surat itu, Acin berjanji, setelah masa tugasnya berakhir, ia akan mengajukan permohonan agar bisa ditempatkan di Payakumbuh. Acin akan pulang membawa istrinya, dan tinggal bersama ibu. ”Kasihan, ibu sendiri saja di rumah!” katanya. Tapi, seingat ibu itulah surat pertama dan sekaligus surat terakhir Acin untuk ibu. Sejak itu, tak terdengar lagi khabar Acin. Acin tak pernah pulang menjenguk ibu. Lupa jalan pulang atau memang sudah tak berniat pulang?
”Jangan cemas, Bu! Ruz tidak akan menjadi Anak Peluru.”

Rumah kita makin lengang. Hanya kau yang tersisa, Nak! Bapakmu tak bisa diharapkan. Sejak enam tahun lalu, nyaris setiap malam ia bersetia merawat nenek yang sakit-sakitan, sekaligus menjaganya. Delapan orang anak nenek. Dua perempuan dan selebihnya laki-laki, termasuk bapakmu. Kecuali bapakmu, tak satu pun anak-anak nenek yang menyimpan kerinduan pulang menjenguknya, apalagi kerinduan ingin merawatnya. Umurnya sudah berkepala delapan. Bapakmu rela di-perempuan-kan. Mencuci pakaian, menimba air mandi, menyuapkan makan, melayani segala tetek bengek kebutuhan perempuan setua nenek. Jika kau sudah pergi, tentu ibu akan bersendiri. Tanpa bapakmu. Tanpa Rehan, Acin dan juga kau.

”Ruz ingin jadi anak ibu, bukan Anak Peluru!”

(2)

Perempuan itu, Wafa Sulastri. Pelukis yang sedang bergiat di sanggar seni I Nyoman Gunarsa. Lukisan-lukisan karyanya sering dipamerkan di beberapa kota di Pulau Jawa. Selain bergiat sebagai pelukis, ia bekerja sebagai mediator antara buyer-buyer asing yang tertarik untuk membeli produk-produk handycraft khas Jogja dengan para pengrajin sebagai produsen. Saat itu, Wafa sedang bekerja untuk Mrs Palloma, bule perempuan berkebangsaan Spanyol.

Wafa tidak hanya cantik, tapi juga cerdas seperti terlihat dari cara dan gaya bicaranya. Tampak seperti perempuan yang kenyang pengalaman. Bukan perempuan kebanyakan. Pertemanan mereka berlanjut, makin dekat. Makin akrab. Pada sebuah janji makan malam yang mengesankan, Ruz tergoda pada ajakan Wafa untuk menginap di apartemen tempat tinggalnya. Wafa tinggal di apartemen mewah yang tidak jauh dari pusat kota bersama bos bulenya, Palloma. Semula Ruz memang berhasrat hendak menikmati kencan pertamanya itu bersama Wafa. Namun, hasrat lelaki itu padam seketika. Ia gemetar dan setengah menggigil. Saat Wafa melucuti dasternya, Ruz melihat bekas jahitan panjang membelah bagian perutnya. Lebih kurang enam puluh jahitan. Juga bekas cetakan setrika panas di punggungnya, bekas cambukan di pinggangnya, bekas tusukan benda-benda tajam di paha dan kedua betisnya.

”Siapa pelaku penganiayaan ini?”
”Siapa? Katakan!”
Wafa diam. Perlahan-lahan, gerimis merintik dari bola mata coklatnya. Terisak-isak. Tersedu-sedu.
”Aku akan menjadi pendengar yang baik, jika kau mau berbagi.”
”Kau mempercayaiku, bukan? Ceritakanlah!”
”Panjang ceritanya, Mas!”

Wafa adalah korban kesadisan seorang lelaki yang tidak lain adalah suaminya sendiri. Indra Setiawan, begitu ia menyebut namanya. Setahun lalu, mereka tinggal di Denpasar, Bali, dan mengelola beberapa bidang usaha. Entah kenapa, Indra menjadi paranoid, setengah gila dan nyaris mengakhiri hidup Wafa. Tentang Indra, Wafa tidak mau bercerita panjang. ”Belum saatnya!” kata Wafa. Yang jelas, Wafa meninggalkan Bali dan melarikan diri ke kota ini, karena sudah tak tahan lagi menanggung perlakuan kasar suaminya.

”Sejak kapan mulai merokok?”
”Sejak telapak tanganku sering disulut api rokok!” jawab Wafa.
”Mulai minum?”
”Sejak aku sering teler karena setiap hari pangkal telingaku dihantam pukulan keras.”

Begitulah! Wafa sedang rapuh, goyah, dan kadang-kadang sulit dikendalikan. Beberapa kali Ruz menyelamatkan nyawanya dari tindakan konyol melakukan uji coba bunuh diri. Menenggak sebotol sprite dingin yang sebelumnya sudah dicampur bubuk racun tikus. Mengiris-iris urat nadi, bahkan dengan sengaja menabrakkan mobil yang sedang disetirnya. Wafa ingin menyudahi riwayat lukanya dengan cara; Mati. Ruz pernah membawanya ke psikiater. Setelah mempelajari gejala ganjil pada kondisi kejiwaan Wafa, psikiater itu geleng-geleng kepala sembari berbisik kepada Ruz, ”Istri Anda?” Ruz terperangah sambil menelan ludah.
Sejak kedekatannya dengan Wafa, konsentrasi kerja Ruz agak terganggu. Buyar, karena sewaktu-waktu ia mesti bergegas ke rumah sakit setelah mendengar khabar Wafa melakukan uji coba bunuh diri lagi. Tak terhitung lagi berapa kali Wafa diusung ke ruang gawat darurat akibat ulah konyolnya yang selalu ingin mati.

”Kenapa Tuhan enggan merenggut hidupku?”
”Hus… Jangan mengumpati Tuhan! Barangkali kau sedang diuji!”
”Aku sudah tak sanggup menghadapi ujian-Nya!”
”Aku ingin bebas dari ujian-Nya!”
”Dengan cara; Mati?”
”Berarti aku sudah tidak berarti lagi?”
”Kau akan berarti jika mau memberitahuku bagaimana cara mati yang paling cepat!”

Ruz berupaya menyembuhkan sakit Wafa dengan caranya sendiri. Memberikan perhatian penuh. Membujuk agar ia menghentikan kegemarannya mencelakai diri. Ruz tidak perlu mencintai Wafa waktu itu. Barangkali yang ia perlukan hanyalah bagaimana cara agar Wafa bisa sembuh dan situasi mentalnya pulih seperti sediakala. Tapi, demi kesembuhannya, Ruz akan melakukan apa saja. Tanpa sepengatahuan Wafa, diam-diam Ruz menghubungi suami Wafa via email. Meminta dan bermohon agar lelaki itu berkenan melepaskan istrinya. Dasar lelaki bajingan, (tanpa tersinggung sedikit pun) dengan senang hati ia menyerahkan istrinya pada Ruz, bahkan bersedia pula menulis surat pernyataan tidak akan menuntut jika Ruz telah menikahi Wafa, mantan istrinya itu.

”Kualat kau!” batin Ruz.

(3)

Bersusah payah Ruz memohon restu untuk menikahi Wafa. Berkali-kali ia menyurati ibu, juga menyurati sanak famili yang dipercayainya dapat melunakkan sikap keras ibu, namun Ruz gagal. Alih-alih memperoleh restu, justru yang diterimanya caci maki, umpat dan sumpah serapah.

”Ibu tidak melarang kau menikah, tapi tidak dengan perempuan rantau itu!”
”Jangan kuatir, Bu! Ruz tidak akan menjadi Anak Peluru.”
”Mungkin kau tidak akan menjadi Anak Peluru. Tapi, menikah dengan perempuan itu, kau akan jadi Anak Durhaka!’
”Ruz tidak akan melupakan ibu. Kelak, Wafa akan Ruz ajak pulang. Kami akan tinggal di kampung, menjaga dan merawat ibu. Ruz ingin jadi anak ibu!”
”Tidak, Nak! Kau bukan anak ibu lagi, jika tetap menikahi perempuan itu!”

Ruz mengurut dada membaca cercaan dan makian yang tertulis di setiap lembar surat ibu. Ia heran, tak disangka-sangka ibu yang sejak ia balita dikenalnya sebagai perempuan santun, bijak dan amat penyayang, tiba-tiba saja berubah menjadi sangat kasar, tidak penyabar, dan sulit diberi pengertian. Ibu tidak menjelaskan alasan penolakannya pada Wafa. Mencak-mencak, marah-marah, memaki dan mencela tanpa sebab musabab yang jelas. Sentimen hanya karena Wafa perempuan rantau. Ya, Wafa memang perempuan rantau, tapi apa bedanya perempuan rantau dengan perempuan-perempuan lain di ranah ibu? Bukankah Wafa juga seorang perempuan? Dan tentulah juga seorang manusia?

Hari ini entah bilangan tahun yang ke berapa sejak Ruz menikahi Wafa tanpa sepengetahuan ibu. Sejak itu pula, Ruz tak pernah pulang ke ranah ibu. Sama seperti tak pulangnya Rehan dan Acin. Tiga laki-laki itu seperti anak-anak peluru, sekali ditembakkan dari moncong senapan, tak pernah kembali pulang. Sekadar menanyakan keadaaan ibu yang kian lama kian ringkih dan sering sakit-sakitan pun tidak juga. Lupa jalan pulang atau memang sudah tak berniat pulang? Entahlah!

(4)

Anak-anakku; Rehan, Acin dan Ruz…!

Menunggu kepulangan kalian sama saja dengan menunggu sekawanan Kelinci di kandang Macan! Namun, di usia yang sudah berkepala tujuh ini, (entah kenapa) masih saja ibu bersetia menyia-nyiakan waktu menunggu kalian. Masih saja sesak dada ibu karena denyut rindu ingin bertemu kalian. Masih saja jemari tangan ibu hendak menulis surat untuk kalian, meski kalian tak pernah lagi membalasnya. Ya, masih saja terkenang tentang tiga bayi laki-laki yang menyembul dari rahim ibu.

”Sampai kapan ibu harus menunggu kalian?”
”Sampai ibu menemukan alasan untuk tak menunggu kami lagi!”
”Apa alasan paling tepat untuk melupakan kalian, Nak?”
”Kematian! Hanya kematian kami yang mampu memadamkan api rindu ibu!”

Benarkah ibu sungguh-sungguh sedang menunggu? Jangan-jangan ibu tak sedang menunggu kepulangan kalian, tapi menunggu khabar kematian kalian! Bilamana kalian sudah jadi mayat, mungkin saat itu ibu akan berhenti menunggu. Kalau pun ibu masih juga menunggu, itu hanya sekedar membunuh waktu sambil menunggu ajal datang menjemput ibu.

”Bukankah ibu hanyalah moncong senapan dan kalian adalah anak-anak peluru yang telah dimuntahkan?”

Kelapa Dua, 2005