Search This Blog

Thursday, October 05, 2006

f
Kekerasan Atas Nama Kehormatan

(Kompas, 30 Juli 2006)

Judul: Burned Alive (edisi terjemahan)
Penulis: Souad
Penerjemah: Khairil Azhar
Penerbit: Pustaka Alvabet, Jakarta
Cetakan: Pertama, April 2006Tebal: 290 halaman

Oleh : Damhuri Muhammad

Perempuan hamil tua itu duduk dalam posisi membungkuk sambil membilas tumpukan cucian. Sayup-sayup terdengar pintu berderit. Saat menoleh ke belakang, lelaki bertubuh besar sudah berdiri di hadapannya. Orang itu, Hussein, suami kakak perempuannya, Noura. "Jadi, perutmu sudah besar, ya?" tanya Hussein, beringas.

Pucat pasi rona mukanya, ngeri membayangkan apa yang bakal diperbuat lelaki itu. "Aku akan mengurusmu!" ulang Hussein. Perempuan itu kembali menunduk, membilas tumpukan pakaian kotor. Sejurus kemudian, ia merasakan cairan dingin mengalir di kepalanya, menetes ke pipi, leher, kuduk, bahu hingga pergelangan tangan. Secepat kilat Hussein melemparkan korek api ke tubuh perempuan yang baru saja tersiram bensin itu. Api menyala, melalap tubuh itu. Terbirit-birit ia lari dalam keadaan terpanggang, mengerang kesakitan, berteriak minta tolong.
Selesai sudah tugas Hussein "mengurus" Souad, adik iparnya itu. Souad sedang sekarat, sebentar lagi bakal mati. Souad harus dilenyapkan. Ia aib yang telah merusak kehormatan keluarga. Hamil sebelum menikah. Maka, ia harus dirajam. Bukan dengan cara diarak keliling kampung lalu dilempari batu sampai mati. Itu sama saja dengan mempertontonkan aib di hadapan orang banyak. Hukuman bagi perempuan itu adalah rajam terselubung. Direncanakan ayah, ibu, saudara laki-laki dan ipar-iparnya. Pembunuhan yang rapi, cepat, dan tak berbekas. Tubuhnya disiram bensin, lalu disulut korek api. Hussein terpilih sebagai eksekutornya.

Inilah kesaksian tentang perempuan malang yang tinggal di sebuah desa kecil kawasan Tepi Barat, Palestina. Kisah nyata perihal kejahatan atas nama kehormatan. Dituturkan dengan cara amat rapi dan tertata oleh seorang korban yang selamat, Souad, lewat novelnya Burned Alive. Nestapa Firdausi sejak bersitumbuh jadi gadis remaja hingga dijebloskan ke penjara perempuan (Mesir) seperti dikisahkan Nawwal El-Saadawi (Perempuan di Bawah Titik Nol) atau duka lara Mirfat akibat tangan besi laki-laki seperti dituturkan Ihsan Abdel Quddous (An Evening in Cairo) memang pedih, tetapi petaka yang menimpa Souad jauh lebih pedih. Nasib dan peruntungannya nyaris sama dengan perempuan muda asal Jawa Timur, pasien bedah plastik setelah kulit mukanya meleleh dan hancur tak berbentuk akibat siraman air keras. Souad memang selamat, tetapi 24 kali operasi kulit yang dilakukan di sebuah rumah sakit di Swiss tak mampu mengembalikan tubuhnya utuh seperti semula. Kulit wajahnya penuh luka bakar, kuping sebelah kirinya tinggal separuh. Leher, kuduk, punggung, dan kedua pergelangan tangannya membekaskan sisa kejahatan yang sukar terlupakan. Setiap hari, Souad harus mengenakan baju leher panjang, menutupi bekas-bekas luka panggang itu.

Terlahir sebagai perempuan adalah kutukan. Begitu keyakinan yang kokoh dipegang gadis-gadis belia di tanah kelahiran Souad. Seorang gadis mesti berjalan cepat, kepala menunduk seperti menghitung jumlah langkah yang diayunkan. Tak boleh tengadah, dilarang menoleh ke kiri, ke kanan. Jangan coba-coba menantang sorot mata laki-laki karena akan dituduh charmuta (perempuan jalang). Bila keluar rumah, dilarang jalan sendiri, mesti ditemani ibu atau saudara perempuan. Bila tak ada mereka, keluarlah dengan sekawanan domba peliharaan sambil memikul seikat rumput atau sekeranjang buah ara. Itu lebih aman sebab semua perempuan harus bekerja, bahkan hanya perempuanlah yang bekerja. Mencukur bulu domba, memerah susu kambing, membuat keju, memetik buah tomat, dan panen gandum. Anak laki-laki adalah raja. Saudara-saudara perempuan harus melayani semua kebutuhannya. Mencuci pakaian, menyediakan air panas sebelum mandi, menyuguhkan teh, dan menyiapkan kuda sebelum ditunggangi. Assad, satu-satunya saudara laki-laki Souad, bebas keluar rumah. Bersekolah di kota.

Perempuan dilarang bersekolah. Mereka hanya menggembala domba, sesekali harus tidur di kandang bila ada kambing melahirkan. Mesti ditunggu, sambil tidur di tumpukan jerami. Tidur di kandang kambing, tetapi tak lebih berharga dari kambing-kambing itu. Binatang hasilkan susu, sementara anak-anak perempuan hanya beban, aib keluarga yang harus segera disingkirkan. Pernah Souad tak sengaja memetik tomat mengkal, semestinya ia hanya memetik tomat-tomat matang saja. Berkali-kali ikat pinggang ayah mendarat di punggungnya. Souad merintih kesakitan, tetapi lelaki itu makin kencang mencambuki tubuh gadis kecil itu hingga punggungnya penuh luka memar, sukar ia tidur telentang.

Satu-satunya kebebasan yang dapat diimpikan Souad adalah perkawinan. Pergi dari rumah, tinggal di rumah suami dan tak pernah kembali. Meski di rumah baru itu tiada jaminan tak akan ditampar dan dihajar suami. Terbebas dari mulut harimau, masuk ke mulut singa.
Jika seorang perempuan pulang ke rumah orangtua (mengadu karena sering dipukuli suami), itu aib! Maka, keluarga akan mengembalikannya ke rumah suami. Tak apa-apa dihajar lagi, asal jangan pulang membawa aib. Meski begitu, Souad tetap ingin menikah. Celakanya, saat laki-laki datang melamar, ia terhalang sebab, Kainat, saudara perempuan yang lebih tua, belum bersuami. Melangkahinya juga aib. Itu sebabnya Souad nekat menjalin hubungan dengan Faiez, lelaki idamannya. Sembunyi-sembunyi mereka bertemu di balik rimbun ilalang saat Souad menggembala domba. Bercumbu, bermesraan hingga datanglah petaka itu: Souad hamil. Kesalahannya tak terampuni. Ayah, ibu, Assad, dan Hussein menyusun siasat untuk segera melenyapkan Souad.

Berkat Jaqueline, Souad yang sekarat di sebuah rumah sakit (Jerussalem) berhasil diselamatkan. Ia dan Marwan (bayi yang lahir prematur) diboyong ke Swiss, menjalani 24 kali operasi hingga dapat bertahan hidup. Semula, kesaksian ini hanyalah cara Souad menjelaskan status Marwan kepada Laetitia dan Nadia, dua putri dari perkawinannya dengan Antonio. Hasilnya tak sesederhana yang dibayangkan Souad. Burned Alive telah diterjemahkan ke dalam 28 bahasa di 29 negara. Diam-diam Souad berharap buku ini tersebar sampai ke desa kecil di Tepi Barat, Palestina. Ia ingin dunia tahu, pembunuhan-pembunuhan atas nama kehormatan itu masih terus berlangsung hingga kini.

Wednesday, October 04, 2006


Agar Pram Tak Jadi Berhala...

Resensi Buku: Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis (Eka Kurniawan, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2006)

(Media Indonesia, Kamis, 21 September 2006)

Oleh: Damhuri Muhammad

SUDAH jamak diketahui, sebagian besar pengagum karya-karya Pramoedya Ananta Toer adalah kalangan anak-anak muda penggila sastra. Tapi kekaguman itu belum disertai kajian kritis dan berimbang terhadap sosok kepengarangannya yang masih tampak bermuka dua itu. Belakangan ini, para pembaca setia itu nyaris tergelincir pada kekaguman yang berlebihan. Kecenderungan ini telah mendedahkan terminologi baru yang disebut Pramisme. Ini cukup berbahaya. Pram bisa saja berubah jadi 'berhala' yang selalu dipuja, tanpa cela.

Di sinilah pentingnya kajian komprehensif yang dilakukan sastrawan muda, Eka Kurniawan, lewat bukunya Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis. Buku ini dapat dianggap sebagai yang pertama membincang Pram dari sudut pandang anak muda. Eka hendak meluruskan kesimpangsiuran pemahaman terhadap realisme sosialis sebagai pijakan estetik kepengarangan Pram.

Penelusuran Eka tidak sekadar mempertegas realisme sosialis sebagai 'mazhab' kesenian para seniman Lekra di bawah patronasi Partai Komunis Indonesia (1950 sd pertengahan 1960). Lebih jauh ia menggali akar kefilsafatannya sejak perkembangan paling awal di Rusia--Maxim Gorky, yang dikenal sebagai pendiri realisme sosialis--sampai munculnya teoretikus-teoretikus seni realisme sosialis.

Sebelum mengungkap realisme sosialis dalam ruh kepengarangan Pram, pelacakan Eka menelikung jauh ke fase awal abad 20, khususnya pada kiprah kepengarangan Hadji Moekti lewat Hikajat Siti Mariah (Harian Medan Priaji, 7, Oktober 1910 sampai dengan 6 Januari 1912), Tirto Adhi Soerjo (1875-1918) lewat Nyai Permana dan yang paling penting adalah Hikajat Kadiroen (1920), karya Semaoen, tokoh sayap kiri Sarekat Islam yang kelak menjadi ketua pertama PKI.

Hasil riset kepustakaan Eka menunjukkan bahwa benih-benih realisme sosialis sudah mulai tertanam pada roman-roman tersebut, meskipun Hikajat Siti Mariah dan Nyai Permana, belum tampak mengontradiksikan dua kelas yang bertentangan (borjuis dan proletar). Tapi, (sebagaimana dikuatkan Pram) itu karena belum adanya pendidikan ideologi pada masa itu. Kadar sosialis lebih kental pada Student Hidjo (1919), karya Marco Kartodikromo dan tentu makin matang lagi pada 1950-an lewat Lekra yang secara nyata mengusung realisme sosialis sebagai pedoman proses kreatif para anggotanya. Dan, Pram salah seorang sastrawan yang berpengaruh di sana.

Di bagian ini, Eka menyingkap 'sisi lain' Pram yang barangkali belum banyak diketahui para pramis. Manuver-manuver 'politik kesenian' Pram dan kawan-kawan di Lekra dalam kasus tuduhan plagiat terhadap HAMKA diurai dalam buku ini. Lepas dari soal apakah Tenggelamnya Kapal van der Wijck itu roman plagiat atau tidak, harus dikatakan bahwa objektivitas sama sekali hilang dari serangan terus-menerus terhadap tokoh kawakan itu.

Persoalan ini sengaja dipolitisasi berlarut-larut untuk hancurkan kepengarangan HAMKA (A Teeuw, 1997). Begitu pula, artikel yang dimuat Pujangga Baru (1953), HB Jassin Sudah Lama Mati Sebelum Gantung Diri, serangan terhadap Jassin, penggiat humanisme universal. Tiap minggu, Lentera (halaman budaya harian Bintang Timoer) yang dipimpin Pram melancarkan serangan tak hanya pada ideologi 'kontrarevolusioner' para manikebuis, tapi juga aspek pribadi kehidupan mereka.

Pram bersikukuh bahwa karya sastra harus menggambarkan penderitaan rakyat dan perjuangan menentang penindasan kolonial. Ia membabat habis musuh-musuh yang tak mau menyerah, sesuai slogan Maxim Gorky yang dikaguminya if the enemy does not surrender, he must be destroyed.

Meski Eka sudah melakukan kajian berimbang perihal sisi terang dan sisi kelam Pram, masih terasa ada yang ditutup-tutupi. Misalnya soal pertentangan antara realisme sosialis (berkiblat pada humanisme proletar) versus manifes kebudayaan (Lekra menyebutnya Manikebu) yang menurut Pram dan kawan-kawan bermuara pada humanisme borjuis. Padahal, baik realisme sosialis maupun Manikebu sama-sama membangun konstruksi perlawanan terhadap kecenderungan seni modern yang asyik-masyuk dengan ambiguitas, ketidakpastian, lebih mengutamakan bentuk ketimbang isi.

Kehadiran buku ini telah melengkapi dan memperpanjang daftar kajian tentang Pram yang berhamburan sejak beberapa tahun belakangan ini. Pram memang sebuah fenomena, sekaligus sebuah problema. Barangkali, memang lebih baik Pram dilihat sebagai problema, ketimbang dianggap sebagai berhala.
P A D U S I

Cerpen : DAMHURI MUHAMMAD

(Tabloid NOVA, Edisi 09/04/2006)

Seolah ada yang menghentak di rongga dadanya bila menatap mata perempuan itu, serasa menguap cairan di tenggorokan bila mendengar suaranya. Risih, salah tingkah, gugup. Mereka masih kelas dua waktu itu. Masih bau kencur. Duduknya di lajur meja murid perempuan.Sementara lelaki itu di deret paling belakang lajur meja murid laki-laki. Saat guru uraikan materi ajar, ia asyik mematut-matut bentuk tubuh perempuan itu, dan berharap sesekali ia menoleh ke belakang. Padusi, namanya. Tak termasuk kategori cantik bila dibanding dengan perempuan lain di kelas itu. Juga tak terlalu cerdas. Sedang-sedang saja rangkingnya. Tapi, kulitnya putih. Amat putih. Parasnya seperti orang Jepang. Mirip Oshin. Memang ia tidak cantik, tapi berwajah unik. Dan, lelaki itu suka!

Kota kecil itu terhampar di dataran tinggi, di garis tengah antara Padang dan Bukittinggi. Paling dingin dari kota-kota lain. Yang penting bukan soal suhu udaranya itu, tapi perihal sejarah yang mencatatnya sebagai Serambi Mekah. Pesantren-pesantren tegak berdiri. Kota Santri. Tempat orang mengaji. Tiga tahun Husnan di sana, sejak terdaftar sebagai siswa Madrasah Aliyah Negeri. Sebagian besar siswa tinggal di asrama. Tapi, Husnan menyewa kamar kost. Jangankan bayar biaya asrama, minta persetujuan emaknya untuk bersekolah di sana saja susahnya minta ampun. Bukan tak mau, tapi karena emaknya tak mampu. Husnan tinggal di kamar berlantai palupuah. Bambu kering yang dihancurkan, lalu dihamparkan seperti tikar. Memadai sebagai lantai, pengganti papan. Pemilik rumah itu perempuan paruh baya yang bersendiri sejak kematian suaminya. Di sisi kiri kamar Husnan, ia buka warung sederhana. Jualan bubur kacang hijau, ketan dan lontong sayur. Husnan memanggilnya : Etek. Sebutan paling santun bagi perempuan seusianya. Belum sempat ia bertanya, etek punya anak? jika punya di mana mereka? kenapa anaknya tak pulang? Yang jelas, etek kewalahan kerja sendiri

Tanpa disuruh, Husnan turun tangan mencuci piring kotor yang menumpuk. Diperhatikannya cara etek hidangkan porsi kacang hijau, lontong sayur dan ketan. Lambat laun, Husnan belajar cara masaknya. Sebelum subuh ia sudah bangun, kadang lebih dulu bangun dari etek. Dimulainya pekerjaan yang ia bisa. “Sejak dulu banyak anak-anak aliyah tinggal di sini, tapi belum ada yang ringan tangan sepertimu” begitu etek memuji. Tak lama, Husnan makin telaten. Masak, bumbui gulai, bikin adonan tepung untuk pisang goreng, layani pembeli. Bulan ketiga Husnan mesti bayar sewa kamar, etek menolak. Dimintanya Husnan tak merasa sebagai penyewa lagi. Sejak itu, hubungan mereka tak serupa penyewa dan pemilik barang sewaan.


Pulang sekolah Husnan ke pasar. Belanja keperluan warung. Aneka jajanan ringan pengisi toples, bumbu-bumbu masak. Kerap ia kepergok teman-teman perempuan sekelas di angkutan umum. Mukanya berpeluh setelah memikul barang bawaan. Seragamnya belepotan bumbu giling, karena plastiknya bocor. Mereka bisik-bisik, sesekali tertawa cekikik. Entah apa yang lucu. Tapi Husnan duga, tentu mereka sedang asyik bergunjing dan menertawakan kemiskinannya.

Nama lengkapnya Husnan Daresta. Tapi, di daerah sekitar warung itu dipanggil : Oyong. Karena kerempeng, cara jalannya agak aneh. Terhuyung-huyung seperti orang mabuk. Di sana, ‘terhuyung-huyung’ lebih tepat disebut ‘Oyong’. Oleng, karena tak imbang. Jadilah : Oyong. Nama warungnya ; Lepau Baru. Pagi, ia layani teman-teman asrama, malamnya bapak-bapak, preman-preman kampung yang nongkrong sambil minum kopi, nonton tv dan berjudi. Di sana, warung bakal sepi bila tak sediakan fasilitas judi.
***


Mengendap-ngendap Husnan di halaman asrama puteri. Pelan-pelan mendekat ke jendela kamar. Mengintip. Tak hanya hafal letak kamar, ia juga hafal posisi tidur perempuann itu. Tak ada hasrat apa-apa, meski nyaris tiap malam Husnan mengintipnya. Meski ada bagian tubuhnya yang tersingkap. Nyaris semua anak-anak daerah itu kenal Husnan. Meski tertangkap, mereka hanya akan ketawa atau bergabung mengintip. Bila bergabung, disarankannya agar mereka intip kamar yang lain, selain kamar Padusi.
“Cari sasaran sendiri-sendiri! Jangan caplok sasaran sesama pengintip!” bisiknya memberi peringatan
“Bilang saja kalau ndak boleh mengintip si Oshin itu!”
“Banyak cewek, tinggal pilih! Asal jangan Oshin. Jika belum ada lubang, buatlah lubang baru! Awas, jangan sampai ketahuan!”

Banyak catatan ditulisnya, tak selembar pun sampai ke tangan Oshin. Saban hari mereka berpapasan, bahkan kerap dapat kesempatan berdua. Tapi lidahnya seakan menggulung, tak mampu ucap apa-apa. Sering Oshin beli ketan dan pisang goreng masakannya. Berkeringat dingin ia saat bungkusi pesanan Oshin. Suatu pagi saat Oshin datang sendiri ke warung, tak sengaja ia pecahkan tiga gelas sekaligus.

Seorang teman dekat Husnan lancang berterus-terang pada Padusi. Maksudnya baik. Ia ingin Padusi tahu, Husnan jatuh hati setengah mati padanya. Reaksi Padusi kurang santun,

“Husnan itu preman, temannya orang-orang pasar”
“Anak sekolah kok mau jadi preman?”

Tak nyaman Husnan dengar nada sumbang itu. Tiba-tiba ia nekat. Dimintanya teman dekat itu panggil Padusi, Husnan menunggu di samping bangunan SD, tak jauh dari asrama itu. Padusi datang, Husnan langsung saja sampaikan perasaannya yang meluap-meluap selama ini. Oshin diam sambil menelan ludah, tak beri jawaban. Lalu, pergi.

Mungkin Padusi menolaknya mentah-mentah. Husnan lega. Hasrat menggebubung itu sudah terkatakan. Tapi, tak henti-henti Husnan dengar gunjing Padusi. Soal Husnan yang punya teman-teman preman, perokok berat, tak terpelajar, penjudi, suka mabuk. Bahkan Oshin pernah semburkan kalimat,“Husnan itu miskin”. Ini didengarnya dengan telinga sendiri.

Malam larut. Warung sepi. Tinggal Husnan dan teman-teman preman. Dibukanya sebotol Mansion ukuran sedang. Digasaknya sendiri. Tanpa sadar, semua kegilaannya pada Padusi terungkap. Juga luapan patah hati, karena cintanya bertepuk sebelah tangan. Rindu Seorang. Tiada berbalas. Hanya seorang.
“Ditolak ya ditolak, tapi jangan menghina!” ketus Bocet,
Husnan mabuk berat. Muntah-muntah. Wes, Jon Kompo, Cepong, Acil, Pencino, Mentiko, Onal, Muncak merasa kurang senang.
“Tenang Yong, kita buat Oshin mau. Masa’ orang seganteng kau ditolak?” kata Cepong membujuk, sekaligus meledek Husnan.
“Bila perlu kita paksa. Kalau ndak mau kita buat susah dia” dukung Pencino bersemangat.
Husnan mencegah. Tak mungkin ia biarkan preman-preman itu mencak-mencak, apalagi ngamuk-ngamuk di asrama puteri. Jangan sampai mereka bikin Husnan malu.
***

Seperti lazimnya, Koto Baru Padangpanjang penuh sesak oleh para pencinta alam. Mereka bakal nikmati detik-detik pergantian tahun di puncak gunung Singgalang. Sekilas Husnan lihat Padusi dalam keramaian itu. Rupanya Oshin juga hendak mendaki bersama rombongan teman-teman asrama. Berani-beraninya mereka berpasang-pasangan. Masa’ cewek-cewek jilbab ikut-ikutan pesta tahun baru di puncak gunung? Bila ketahuan, bisa dikeluarkan dari sekolah.

Padusi bergandengan dengan siswa kelas satu. Gila!. Ia pacaran dengan adik kelas. Husnan, Wes, Pul Cepong, Mentico, Onal, Muncak sedang nongkrong (sambil nyanyikan lagu-lagu lama dengan iringan gitar yang dimainkan Husnan), di gerbang pesangrahan yang dilewati para pendaki. Bagaimana pun desir di dadanya tak bisa sembunyi.Petikan gitarnya sejenak berhenti, Husnan ingin dekati Padusi. Walau sekedar tegur sapa.

Menyeringai seperti kucing laki-laki itu, menggertak Husnan.Postur tubuhnya besar. Lebih besar dari Husnan. Tanpa jeda, Husnan langsung tinju batang hidungnya. Berdarah. Saat ia berusaha melawan, Husnan hantam ulu hatinya, hingga tersungkur di depan Padusi. Masih mau membalas, teman-teman Husnan datang berhamburan.Satu persatu beroleh jatah. Babak belur pacar si Oshin, mukanya bonyok setelah dikeroyok. Husnan mulai kasihan, dilerainya keributan itu. Diberdirikannya laki-laki itu, dipapahnya. Bocet, Pencino, Pul Cepong dan Muncak melongo.

“Mau apa kau sebenarnya? Sudah kau hajar tapi kau pula yang menolong”
“Ndak baik berkelahi malam tahun baru” balas Husnan
“Hmn..! tapi dia sudah kau buat bengkak-bengkak”
Padusi dan rombongan batal mendaki. Berbalik arah kembali ke asrama. Ketakutan setelah saksikan sepak terjang Oyong Lepau Baru.

Sejak malam tahun baru kelabu itu, Padusi gamang lihat tampang Husnan. Ia mulai jaga cara bicaranya yang pongah itu. Diam-diam cari simpati. Tapi, Husnan tak selera lagi, meski rasa sukanya masih ada. Kegemarannya mengintip dari balik jendela kamar Padusi terus berlanjut, begitu pun kebiasaannya bayangkan segala kemungkinan paling indah andai Oshin jadi kekasihnya.
***

Lelaki itu, mahasiswa tahun pertama. Selain berkuliah ia kerja serabutan ; pengantar Susu Segar Murni keliling. Sewaktu antar pesanan pelanggan baru di sebuah perumahan di kota ini, seolah ada yang menghentak di rongga dadanya, serasa menguap cairan di tenggorokannya. Pelanggan itu mahasiswi berkulit putih serupa perempuan Jepang. Mirip Oshin ; Padusi. Ganjil penampilan Oshin. Leher mulus dan rambut lurusnya yang dulu hanya terlihat saat lelaki itu mengintip dari lubang jendela, tersingkap kini. Tanpa kerudung. Padusi pura-pura tak kenal.Padahal lekuk-lekuk wajah Oshin, mana mungkin ia lupa? Sorot mata perempuan itu ingin agar ia segera enyah. Lelaki itu pun cabut. Tapi ia lega. Sudah lama tak bertemu Oshin.

Sore itu pertemuan terakhir mereka. Tak nampak lagi batang hidung lelaki itu. Mungkin, telah dikuburnya rindu pada Padusi. Mungkin, ia sudah paham, perempuan itu tak akan berdamai dengan kemiskinannya. Mungkin sudah dilupakannya Padusi. Dilupakannya Oshin. Meski, tak pernah ia benci perempuan itu.

Jogja, 16 Juli 2001

“Di mana ia kini?”
“Di mana Oshin-mu itu, Husnan?”

Kabar terakhir yang kudengar, kuliahnya kacau. Padusi drop out. Karena buru-buru harus nikah dengan juragan kelapa sawit di kampungnya. Padusi bunting di luar nikah. Kini, ia sudah beranak tiga. Dua perempuan, satu laki-laki. Dan, raut mukanya tak serupa Oshin lagi.

Kelapa Dua, 2005

Tuesday, October 03, 2006

Menantu Baru

Cerpen: Damhuri Muhammad

(Kompas, 09 Juli 2006)

Sudah lama Irham tak menerima kiriman oleh-oleh. Rendang Ikan Pawas Bertelur. Gurih dan sedapnya seolah sudah terasa di ujung lidah. Apa Mak sedang susah? Hingga tak mampu lagi beli Ikan Pawas Bertelur dan bumbu-bumbu masaknya? Tak mungkin! Kiriman wesel dari anak-anak Mak, rasanya tak kurang-kurang. Lebih dari cukup. Jangankan Rendang Ikan Pawas Bertelur, bikin Rendang Hati Sapi pun Mak tentu mampu. Tapi, kenapa Mak tak berkirim oleh-oleh lagi? Mak sedang sakit? Kenapa pula tak ada yang berkabar? "Bukan kau saja, saya juga sudah lama tak dikirimi Krupuk Cincang," keluh Ijal, kakak sulung Irham yang tinggal di Cibinong.

Sejak kecil, mereka memang punya selera berbeda-beda. Kepala boleh sama-sama hitam, tapi tabi’at lidah tak serupa. Mak hafal makanan kesukaan masing-masing mereka, anak-anak kesayangannya. Ijal suka Krupuk Cincang. Dulu, hampir tiap pekan ia minta dibuatkan makanan itu. Pernah Ijal mengancam tidak mau ke surau bila Mak belum penuhi permintaannya. Jangan dibayangkan cemilan kampung itu dapat diperoleh di Jakarta. Meski ada satu dua toko yang menjual, tapi tak serenyah bikinan Mak. Entah bumbu apa yang dipakai Mak, hingga bunyi Krupuk Cincang itu berderuk-deruk dalam mulut Ijal. Tapi kini, Mak tak berkirim oleh-oleh lagi. Ketek, kakak laki-laki Irham yang satu lagi (tinggalnya di Ciputat) juga mengeluh. Katanya sudah kepingin sekali makan Lemang Tapai. Memang mudah dicari di Jakarta. Tapi baginya, tak ada Lemang Tapai yang mampu tandingi buatan Mak.

"Payah! Ndak ada kiriman Lemang Tapai lagi," ketusnya suatu kali, saat bertamu ke rumah Irham.

"Bukan uwan saja, semua sudah tak dapat," balas Irham.

"Basa bagaimana? Masih sering dikirimi Goreng Belut?"

"Ndak ada. Ndak ada lagi oleh-oleh!"

"Apa kalian ndak kirim uang lagi buat Mak? Mak sedang susah barangkali?"

Tanya-tanya nyinyir mereka terjawab setelah mendengar pengakuan si bungsu, Alida. Adik perempuan mereka satu-satunya. Ternyata, ia masih sering dapat oleh-oleh. Bahkan lebih sering dari biasanya. Berarti Mak masih rajin mengirim oleh-oleh. Cuma saja, datangnya bukan lagi ke rumah keluarga mereka; Ijal, Ketek, Basa dan Irham. Oleh-oleh hanya dikirim Mak ke alamat rumah kontrakan Alida, di daerah Pasar Minggu. Anehnya, kiriman Mak bukan Sambalado Tanak kesukaan Alida, tapi Dendeng Lambok, khusus buat menantu Mak. Suami Alida.

"Kenapa kau saja yang dapat oleh-oleh, Alida?"

"Bukan saya wan!"

"Iya, suamimu itu. Mestinya kami juga dikirimi bukan?"

Irham coba menghitung-hitung berapa lama Mak tak mengirim oleh-oleh. Ternyata, persis sejak Alida menikah. Sejak Mak punya menantu baru; Yung. Suami Alida. Ya, sejak itu Mak tak pernah lagi bikin Rendang Ikan Pawas Bertelur, Krupuk Cincang, Lemang Tapai dan Goreng Belut. Mak hanya kirim Dendeng Lambok buat Yung. Menantu kesayangannya.
Setahu Irham, sejak menikah dengan Alida, belum sepeser pun Yung kirim uang buat Mak. Lagi pula, apa yang bisa diharapkan dari lelaki yang tak jelas pekerjaannya itu? Sejak awal, Irham tidak setuju Alida menikah dengan Yung. Ia sudah carikan jodoh buat Alida. Firman, namanya. Sarjana teknik. Kini, bekerja di perusahaan pengeboran minyak lepas pantai. Bakal senang hidup Alida bila menikah dengan laki-laki pilihan Irham itu. Ijal juga sudah pilihkan Andra, putera tunggal pemilik perusahaan garmen di Jakarta. Ketek dan Basa memang tak pilihkan siapa-siapa. Alida boleh saja menikah dengan lelaki idamannya. Tapi dengan catatan; tidak dengan Yung.

Mereka tak mungkin merelakan Alida dipersunting Yung. Lelaki yang sudah pernah beristri. Sementara Alida masih gadis. Lagi pula, (kabarnya) perkawinan Yung yang pertama bubar karena ulah menggelapkan dana investasi di perusahaan yang dikelolanya. Yung sedang terlibat masalah besar. Perusahaannya bangkrut. Semua asetnya disita. Ia lari dari masalah. Mereka curiga, jangan-jangan Yung sedang dikejar-kejar banyak orang. Setidaknya, dikejar para penagih utang. Ah, jangan-jangan Yung berniat nikahi Alida hanya untuk berlindung, selamatkan diri. Ia terlilit utang. Bukan tak mungkin, kelak mereka juga yang turun tangan selesaikan masalah Yung. Tapi, entah ilmu apa yang dipakai Yung. Mak langsung saja menerima lamarannya. Tanpa pertimbangkan baik buruknya lebih dulu. Mak tak peduli pada keberatan kakak-kakak Alida.

"Ndak apa-apa, kalau kalian tak setuju. Mak tetap akan nikahkan Alida dengan Yung," begitu tekad Mak waktu itu.

"Pikir dulu masak-masak, baru ambil keputusan! Mak belum kenal siapa Yung itu."

"Sejak dari nenek moyangnya Mak tahu silsilah dia. Dia dari keluarga baik-baik. Kalian yang belum kenal Yung."

"Sudahlah! Tanpa kalian, pernikahan Alida tetap akan berlangsung. Mereka berjodoh, jangan kalian halangi!"

Bila sudah begitu, mereka tak bisa membantah. Suka tak suka, mesti hormati keputusan Mak. Meski berat hati, Ijal, Ketek, Basa dan Irham tetap harus pulang dan bantu penyelenggaraan pesta perkawinan Alida dan Yung. Mereka pun menyumbang sesuai kemampuan masing-masing.

Sudahlah! Tak usah kita menganggap Mak pilih kasih! Mak memang sering berkirim oleh-oleh buat Yung. Dendeng Lambok, masakan kesukaan menantunya itu. Barangkali, bukan karena Mak tak ingat lagi makanan kesukaan kita. Adik ipar kita itu baru saja memulai hidup di Jakarta. Pekerjaannya masih serabutan. Luntang-lantung. Belum ada penghasilan tetap. Masih susah. Mungkin jarang ia makan enak-enak seperti kita. Jadi, tak usahlah kita dengki!

"Ah, Mak terlalu memanjakan menantu."

"Uang Mak bisa habis karena selalu kirim oleh-oleh buat Yung."

"Makin dimanja, makin malas dia!"

Dulu, Yung memang anak baik-baik. Sekolahnya di pesantren. Sering ia memberi pengajian di mesjid kampung. Mak, salah satu jamaah yang suka dengan gayanya berceramah. Menyentuh sekali kata-katanya, begitu puji Mak. Tak jarang, jamaah ibu-ibu yang mendengar wiridannya menangis sesenggukan. Yung amat lihai bersilat lidah. Merangkai kalimat-kalimat jitu menggugah perasaan jamaah. Sejak itu, Mak ingin mengambil Yung jadi menantu. Kelak, setelah sekolahnya tamat. Tapi, harapan Mak tak kesampaian. Sebab, Yung merantau ke Jawa. Melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Inilah yang Mak belum tahu. Selama di Jawa, Yung bukan lagi mubaligh hebat seperti di kampung dulu. Ia sudah tanggalkan jubah ustadznya. Mungkin, Yung sudah lupa cara menyentuh perasaan jamaah, hingga menangis terisak-isak seperti Mak. Konon, Mak pernah datang ke rumah orang tua Yung. Melamar lelaki itu untuk Alida. Tentunya nanti setelah kuliahnya rampung. Tapi, setelah saatnya tiba, Yung tak pulang. Kabarnya, Yung menikah dengan gadis lain di Jawa. Mak juga dengar kabar buruk itu. Tapi, Mak tak kecewa.

Berselang beberapa tahun, Yung pulang. Sudah duda. Meski belum punya anak. Orangtuanya datang menemui Mak, hendak menyambung cerita lama. Melamar Alida. Bila telapak tangan kurang lebar, dengan niru saya tampung niat baik itu, jawab Mak. Gayung bersambut, hingga akhirnya Yung menjadi menantu kesayangan Mak. Dan, selalu saja dikirimi oleh-oleh.

"Gara-gara menantu Mak itu, kita tak pernah dapat oleh-oleh lagi."

"Mak lebih sayang pada menantu daripada anak-anaknya sendiri."

"Apa yang sudah diberikan Yung pada Mak? Sementara kita tiap bulan kasih jatah buat Mak."

****
Percuma saja Suarni dan Said menyekolahkan mereka tinggi-tinggi. Setelah semuanya jadi orang, bukan makin dekat, malah makin jauh dari kampung. Jauh dari orangtua. Itulah susahnya punya anak laki-laki. Bila sudah besar, mereka akan tinggal di rumah orang. Di rumah anak-bini. Sibuk mengurus keluarga sendiri-sendiri. Wesel kiriman Ijal, Ketek, Basa dan Irham (yang sudah terbang-hambur dari kampung) memang selalu datang tiap bulan. Tapi sebenarnya, Suarni dan Said tak butuh uang. Untuk apa? Tanpa kiriman wesel pun, mereka tidak akan kekurangan. Hasil sawah dan ladang sudah cukup menghidupi mereka berdua.
Di usia yang tersisa, Suarni dan Said ingin berkumpul kembali dengan anak-anak. Merasakan kehangatan di tengah-tengah mereka. Seperti dulu, saat mereka masih di kampung. Keduanya tak henti-henti berharap. Mudah-mudahan, ada di antara anak-anak yang mengajak tinggal di Jakarta, menghabiskan hari tua di sana. Aih, betapa menyenangkan bila Suarni masih dapat membuatkan makanan kesukaan Ijal, Ketek, Basa atau Irham. Tapi, setelah sekian lama menunggu dan berharap, ajakan itu tak kunjung tiba. Kalaupun sekali waktu Suarni dan Said datang berkunjung, itu hanya sekedar menjenguk cucu-cucu, sepekan dua pekan. Setelah itu, kembali pulang ke kampung. Tidak untuk tinggal berlama-lama, sebagaimana keinginan mereka.

Harapan Suarni dan Said kini beralih pada Alida. Anak perempuan semata wayang, yang juga memilih hidup di Jakarta sejak menikah dengan Yung.

"Pandai-pandailah mengambil hati menantu! Sering-seringlah berkirim oleh-oleh!" saran Said pada Suarni.

"Oleh-oleh?"

"Ya, agar lidah menantu baru kita terbiasa dengan masakanmu!"

Mungkin, itu sebabnya Suarni selalu memasak Dendeng Lambok, lalu dikirimkannya buat Yung. Berkali-kali Suarni dilarang anak-anaknya; Ijal, Ketek, Basa, Irham. Jangan terlalu memanjakan menantu! Jangan pilih kasih! Suarni tak peduli. Makin dilarang, makin gencar saja ia berkirim oleh-oleh. Tak bakal berhenti Suarni berkirim Dendeng Lambok buat Yung. Agar lidah menantunya itu terbiasa dengan masakannya. Hingga, suatu waktu (entah kapan) Yung berkenan mengajaknya tinggal, berkumpul-bersama di Jakarta. Di sanalah, Suarni dan Said bakal habiskan umur yang tersisa. Semoga!

Kelapa Dua, 2006
Untuk Mak Was…


Rabu, 10 Agustus 2005
RESENSI BUKU : LARAS, Tubuhku Bukan Milikku

Ia Jadi 'Korban' Ayah dan Lelaki Binal

Oleh: Nerma Ginting

MEDIA INDONESIA, 10 Agustus 2005

Buku berjudul Laras, Tubuhku bukan Milikku berisi kumpulan cerpen karya Damhuri Muhammad. Lewat kata-katanya yang halus dan sederhana, karya itu terasa 'menggugat'.
Dengan tebal 226 halaman, novel yang dibalut sampul hitam dan biru tersebut menyajikan kisah gadis Laras. Ia terjerumus ke lembah nista akibat 'kasih sayang' ayahnya.
Seringkas waktu, ia berkemas membuntal pakaian, lalu bergegas meninggalkan kamar mungil, tempat kegadisannya tertebas. Ditinggalkannya kenangan tentang Yu Galih yang gampang marah, namun diam-diam amat penyayang. Juga soal Yu Ratmi, yang dengan berat hati menjual jam tangan hadiah ulang tahun dari Pakde Tejo untuk membayar SPP-nya yang tertunggak dua bulan.

''Sebelum perutmu bunting, cepat pergi dari rumah ini, anak setan!'' usir Emak dengan sorot mata garang. ''Kau bukan anakku lagi! Jangan pernah berpikir untuk pulang! Ingat itu!'' ulang Emak lagi.

Waktu berlalu dan beban di perutnya semakin berat. Maka, harus dikeluarkan agar tubuhnya ringan dan leluasa melangkah melanjutkan tualang tak berujung. Nun ke negeri entah. Ia merintih kesakitan saat tangan kasar dukun beranak memelintir perutnya. Laras tidak takut kehilangan bayi tersebut. Bukankah ia tak merasa memilikinya? Jadi, biarkan saja benih sang ayah ini mati terbunuh, dicekik dukun beranak.

Di Kota Batam, Laras disanjung dan dipuja. Kedatangannya disambut senyum binal para lelaki yang berhasrat memilikinya. Untuk memiliki tubuh langsingnya. Meskipun bukan 'gadis' lagi, Laras tetap tercatat sebagai 'barang' baru. Setidaknya, baru datang dari Jawa.
Selang beberapa minggu sejak kedatangannya, nama Laras sudah tidak asing lagi di kalangan bermata sipit, teman-teman dekat Mami. Mereka harus berkenan antre menunggu giliran 'memiliki' Laras (kendati hanya kepemilikan dalam hitungan jam). Antrean paling depan, tentu petugas pulau ini: Lelaki berambut cepak, bertubuh kekar maupun berisi, serta tak berseragam dinas.

Kian lama, semakin panjang daftar lelaki yang telah 'memiliki' Laras. Berpindah dari satu hotel ke hotel lain. Mami bertambah sayang, makin memanjakannya. Lebih dari sekadar memanjakan anak kandung sendiri.

Di kalangan pecandu kota itu, tersebutlah Laras sebagai sundal paling top dan laku, 'laris manis tanjung kimpul'. Meniduri Laras tak sekadar 'selingan', tapi sudah 'kebutuhan'. Seperti, kebutuhan makan. Jika tidak terpenuhi, berarti mati. Maka, bilamana tidak menetek pada puting Laras, sama juga dengan bunuh diri.

Tak ada angin dan hujan. Laras mengaku ingin 'istirahat'. Ditolaknya ajakan para lelaki bermata sipit yang kian tidak sabar. Namun, Laras menolak. Sejatinya, Laras sudah ingin pulang. Berpulang ke pelabuhan akhir kelana sunyinya, ranah kematian, ranah pemakaman.
''Bila Tuhan memiliki diriku, mengapa Dia membiarkan Ayah menyanggamaiku? Membiarkan Ibu mengusirku? Membiarkan Mami 'menjualku'-ku?'' tanya Laras. Sampai Laras sekarat, tanya-tanya ini tak terjawab. Akhirnya, perempuan belia bermata cokelat itu 'pulang' dengan cara amat mengerikan. Mulutnya berbusa, matanya terbelalak, lidahnya terjulur sampai dagu. Menakutkan!

Sesaat sebelum Laras hendak menyudahi hidupnya. Ia tetap tidak merasa akan kehilangan hidupnya. Dipercayainya saja bahwa hidupnya tersebut bukan miliknya. Andai saja Laras merasa memiliki kehidupannya, tentu saat itu ia akan menangis, meratap, melolong sejadinya, sekuatnya. Celakanya, Laras tidak menangis. Mungkin, karena ia tidak merasa kehilangan apa pun. Atau, mungkin pula karena tangis Laras 'jatuh ke dalam', sebuah liang di ulu hatinya, dan menggenang di sana. Tidak seorang pun mampu mengukur, seberapa dalam genangan tangis Laras. Sebab, kini Laras telah terbujur dalam usungan peti mati.

Monday, October 02, 2006

Taman Benalu

Cerpen : Damhuri Muhammad

(Koran Tempo, 9 Juli 2006)

Bagaimana mungkin cucu-cucunya kelak bakal memetik buah? Pohon Limau*) yang ditanamnya mati sebelum berputik. Jangankan berbuah, berputik pun belum. Mula-mula benalu tumbuh di pangkal-pangkal daun, di ujung reranting. Tapi, perlahan-lahan akarnya menjalar. Meliuk, melingkar serupa ular, membelit dahan. Lalu, melilit pohon induk. Sukar membedakan mana daun limau, mana daun benalu yang hidup menumpang. Bukankah daun benalu dan daun limau sama-sama hijau?

Ingatan Muncak tentu makin tumpul di usia yang sesenja ini. Makin tua, makin banyak yang terlupa. Apalagi mengingat-ingat, kapan persisnya pohon limau itu mati tercekik dibelit akar benalu. Kapan persisnya tumbuhan parasit itu menikmati hisapan terakhir sari makanan dalam daging pohon limau. Muncak hanya ingat, sejak benalu tumbuh, berurat-berakar, daun-daun limau layu. Warnanya berubah kekuning-kuningan, mersik dan akhirnya lepas dari ranting dan dahan. Helai demi helai jatuh berguguran ditiup angin. Pohon induk, dahan, ranting pun bertelanjang ditempa terik, tanpa lindungan rerimbun daun. Bila masih tumbuh daun, itu bukan daun limau lagi. Tapi, daun benalu. Menghijau, sejak kematian pohon limau.

Angin apa yang menghembuskan bibit-bibit benalu ke kampung ini? Dari mana benalu itu bermuasal? Muncak hanya ingat, ia mulai bertanam limau, rambutan, durian, mangga, kuini, karena tak ada yang dapat ia wariskan pada cucu-cucu, selain tanaman-tanaman tua itu. Itupun sudah terlambat. Kenapa tidak dari dulu? Kenapa baru bertanam setelah umurnya berkepala delapan? Mungkin tak ada lagi pohon yang bakal tumbuh di tanah ini. Lihatlah! limau, rambutan, durian, mangga, kuini yang kelak buahnya bakal dipetik cucu-cucu, mati sebelum berputik. Mati muda, setelah batang dan akarnya digerogoti benalu.

Siapa penyemai benih benalu di lahan-lahan subur kampung ini? Mungkinkah ini ulah para pendatang dari kampung-kampung jauh? Para perantau dari dusun-dusun tak bertuan? Tamu-tamu tak diundang dari pedalaman tak bersuku? Dulu, mereka bukan siapa-siapa. Hanya para pengais rejeki di tanah leluhur Muncak. Anak-anak semang. Para kacung yang rela bekerja keras, andalkan tulang empat kerat. Mendulang upah demi perut tak berisi, punggung tak bertutup. Mengolah sawah tuan-tuan tanah. Menggembala ternak. Menebang kayu di hutan-hutan. Mengeping, menjual, menyetor uang pada juragan. Mereka hanya beroleh upah. Bila musim panen tiba, merekalah kuli-kuli angkut padi. Terbungkuk-bungkuk badan mereka saat memikul beban berat yang tak imbang dengan imbalan yang diperoleh.

“Apa mungkin mereka yang menyemai bibit benalu di kampung kita, pak?” tanya Nukman, putera Muncak. Dulu, sebelum ia pergi merantau jauh.

“Bukan hanya pembawa benalu. Tapi, merekalah benalu yang sesungguhnya”

Tuduhan Muncak boleh jadi benar. Andai penduduk asli seperti Muncak, keponakan-keponakannya, karib-kerabatnya sebagai pohon limau. Lalu andaikan pula para pendatang itu sebagai benalu. Tengoklah benalu-benalu itu! Bukankah si Danu, dulu hanya orang upahan yang mengolah sawah milik Muncak? Membajak, menyemai benih, bertanam, menyiang, memupuk, menuai, Danu yang mengerjakan. Tapi, setelah padi dituai, Danu membuat lukah dari anyaman bambu. Perangkap belut yang bakal dibenam ke dalam lumpur sawah sebelum tiba saatnya sawah itu ditanam kembali. Nyaris setiap sehari Danu mencari cacing tanah, sebagai umpan agar belut-belut masuk perangkap. Belut-belut sawah hasil tangkapannya, dijemur dua sampai tiga hari, sebelum dijual ke pasar Payakumbuh. Lambat laun Danu disebut-sebut sebagai penangkap belut sawah yang harga jualnya kian melonjak saja.

Orang-orang kampung sini kerap mengejek Danu, si tukang belut itu. Tiap hari tangannya bergelimang cacing. Menjijikkan. Sukar membedakan antara bau badan Danu dengan anyir bau cacing tanah. Orang-orang tak mau berlama-lama di dekatnya. Tapi, lihatlah Danu kini! Kerja kerasnya berbuah sudah. Sepetak dua petak sawah berangsur-angsur jadi miliknya. Saat Muncak perlu uang untuk biaya sekolah Nukman, ia harus melelang sawah dan sejumlah hewan ternak. Tak jauh-jauh Muncak cari pembeli. Danu pembelinya. Sejak itu, Danu mulai menggarap sawah milik sendiri. Mengembala ternak sendiri. Tak berbeda lagi antara orang datang dan orang asli kampung sini. Danu orang berpunya, kini.

Danu, Nuan, Ujangkol, Jalak dan para pendatang yang dulu hanya anak-anak buah, kini tak dapat dipandang sebelah mata. Danu bahkan sudah membeli sebidang tanah milik Muncak. Di atas tanah itu dibangunnya rumah batu. Beratap seng, berlantai keramik. Di sana ia dan anak-bininya tinggal. Di teras rumah itu, terparkir sepeda motor bebek buatan Jepang keluaran terbaru. Tak berlebihan bila disebut, Danulah orang pertama yang punya rumah besar dan terbilang mewah untuk ukuran kampung itu. Orang belum mampu beli sepeda motor, Danu sudah berjalan di atas roda. Kaki yang dulu tak berterompah itu, kini terbungkus sepatu kulit. Berpijak di atas pedal sepeda motor. Warna biru mengkilat. Halus suara mesinnya, tapi nyaring bunyi klaksonnya.

Waktu itu, Muncak lagi-lagi harus melelang tanah. Konon, untuk biaya pelicin agar Nukman diterima menjadi pegawai negeri di Jakarta. Pernah Muncak ditentang keponakan-keponakannya karena menjual tanah suku tanpa urung rembuk lebih dulu. Tapi, Muncak adalah pimpinan tertinggi para penghulu. Itu sebabnya ia bernama Muncak. Asal katanya ‘puncak’. Pucuk teratas kepemimpinan suku. Karena perubahan artikulasi, ‘puncak’ menjadi ‘muncak’. Anak dipangku keponakan dibimbing, begitu mestinya kearifan penghulu seperti Muncak. Nyatanya, Anak dipangku, keponakan dibanting. Harta warisan leluhur diboyong Muncak ke rumah bini. Ia menghidupi keluarga, membesarkan anak dengan menggadai, menjual harta pusaka. Jangankan sawah, ladang atau tanah garapan, lahan pemakaman suku pun bakal dilegonya bila perlu. Tak jauh-jauh Muncak cari pembeli. Danu, Nuan, Ujangkol, Jalak dan para pendatang yang makin kaya itu para pembelinya.

Kini tiba saatnya, Muncak hendak bertanam sesuatu. Meski hanya di lahan sempit yang tersisa, di belakang rumah kayu yang mulai lapuk. Itupun bukan miliknya. Tapi lahan milik keluarga Baiti (almarhumah istrinya), yang masih izinkan Muncak tinggal di sana. Untunglah mereka berbaik hati. Bila tidak, mungkin Muncak akan tinggal di surau. Kembali pada keponakan? Tak mungkin! Mereka tak punya rumah. Tanah yang mestinya menjadi hak mereka, ludes terjual. Tak bersisa. Keponakan-keponakan Muncak tinggal di rumah orang. Menyewa, seperti para perantau di kota-kota. Mereka merantau di tanah kelahiran sendiri.

Namun, sepohon pun tak tumbuh, apalagi berbuah. Semuanya mati sebelum berputik. Limau ditanam, benalu yang hidup. Rambutan, durian, mangga, kuini ditanam, benalu yang tumbuh. Tak ada pohon yang tumbuh di tanah gembur dan subur ini, kecuali benalu. Lahan tempat Muncak mengais-ngais tanah menanam pohon-pohon itu seumpama taman hijau yang makin rimbun, makin rindang. Tapi tak kunjung berbunga, berputik, apalagi berbuah. Bagaimana akan berbuah bila yang tumbuh hanya benalu?

****

Ragita senang bertanam-tanam. Bukan jenis bunga-bunga seperti kegemaran gadis belia lazimnya, tapi pohon-pohon yang kelak berbuah ranum dan manis. Pekarangan rumah itu penuk sesak oleh aneka pohon kesukaan Ragita. Dengan tangan halusnya Ragita menancapkan bibit jambu cangkok, kelapa hibrida, jeruk import yang dibonsaikan. Saban sore disiramnya. Ditaburkannya pupuk daun dan pupuk perangsang buah. Lalu, disemprotkannya racun pembasmi hama perusak.

Nukman heran mengamati tabi’at ganjil Ragita, anak perempuan satu-satunya itu. Tak serupa gadis-gadis sebayanya yang suka mendengar musik, baca novel teenlit atau nonton film-film bertema cinta. Ragita malah hobi bermain tanah. Meski, hanya di lahan pekarangan rumah. Sementara, papanya yang berasal dari kampung, tak pernah berfikir akan bertanam apa di tanah rantau ini. Maklumlah, sebagai pejabat eselon, Nukman sibuk dengan rutinitas pekerjaan kantor yang menyita waktu.

“Ntar kalo udah tamat SMU, sebaiknya Gita kuliah di fakultas Teknik saja! Lapangan kerjanya lebih menjanjikan”

“Ah, Papa. Nggak mungkin lah. Gita pengen pilih fakultas Pertanian”

“Mau jadi petani?”

Mungkin, Nukman ingin beritahu Ragita bahwa ia terlahir dari keluarga petani. Nun, di kampung yang sudah lama tak ditengoknya. Sejak Ragita masih bayi, hingga tumbuh jadi gadis remaja, belum pernah Nukman mengajaknya pulang kampung. Nukman hanya bilang, nenek sudah meninggal sebelum Ragita lahir. Kini, di kampung hanya ada kakek. Kakek Muncak, namanya.

“Bila ingin jadi petani, belajar dulu pada kakekmu!”

Saat musim liburan tiba, Ragita diajak papanya pulang kampung. Sambil menjenguk kakek Muncak yang mulai sakit-sakitan, tentu Ragita hendak bertanya-tanya perihal tanam menanam. Utamanya menanam bibit pohon yang kelak berbuah ranum dan manis. Dan, tiba juga saatnya Muncak perlihatkan apa yang pernah ditanamnya pada cucu tersayang itu. Di lahan sempit belakang rumahnya memang masih tersisa tunggul-tunggul pohon limau, rambutan, durian, mangga, kuini yang telah mati mengering, setelah akar dan batangnya dibelit benalu.

“Kenapa kakek biarkan benalu tumbuh di batang pohon-pohon itu?”

“Sudah kakek lakukan segala cara, tapi benalu itu ndak bisa mati”

“Wah, ini bukan kebun. Tapi, taman”

“Taman? Taman apa, Gita?”

“Taman Benalu”

Perjalanan kembali ke Jakarta amat menjengkelkan. Ragita kesal. Betapa tidak? Semula ia mengira bakal beroleh pelajaran berharga tentang bagaimana cara menanam yang baik. Sia-sia saja kepulangan Ragita temui kakek Muncak. Sesungguhnya, tak ada yang bisa tumbuh dari tangan dingin lelaki gaek itu, kecuali daun-daun benalu. Masih petanikah namanya bila yang ditanam bibit pohon jeruk, tapi yang tumbuh hanya benalu?

Kelapa Dua, 2006

Catatan :

*) Jeruk