Search This Blog

Tuesday, December 26, 2006

S U A K A

Cerpen : DAMHURI MUHAMMAD

(Pikiran Rakyat, 23 Desember 2006)

TUBUH langsing perempuan itu, kini terbaring menelentang dikelilingi elektrokardiogram, tabung-tabung oksigen, dan selang-selang infus. Jasadnya tak lebih dari gumpalan daging sekadar pembalut tulang belulang. Begitu pun raut wajahnya (yang menurut ketajaman mata batinmu adalah rona muka paling jernih dari semua perempuan yang pernah kau kenali), kini kian buram. Lebih buram dari wajah mentari tertindih mendung senja hari. Lalu, apa lagi yang masih bisa kau harapkan dari perempuan yang sudah setengah bangkai itu? Separuh hidup, separuhnya lagi sudah mati.

"Aku tak butuh ranum tubuhnya. Aku hanya ingin ia sembuh. Itu saja!"

Hmm...! Kau tak butuh sentuhannya, Andesta? Kau tak ingin mendengar desah suara dan sengah nafasnya manakala kalian sedang berpelukan? Kau tak ingin lagi tubuhnya bersandar di dadamu? dan kedua lengannya melingkar di lehermu?

"Aku ingin ia terbebas dari rasa sakit keparat itu."

**

ANDAI saja gerak dan laju perputaran waktu dapat ditelikung jauh ke belakang, nun ke masa silam. Lalu, kau dapat berkunjung ke suatu periode sejarah paling purba, saat itu tidakkah kau hendak bertanya: Kenapa Adam masih terkepung sunyi di taman sorgawi yang "mandi" cahaya? hingga ia bermohon agar Tuhan menghadirkan Hawa di sisinya?

"Apa maksudmu?"

Ya, di titik inilah sejarah bermula, bahwa kelak laki-laki harus hidup berpasangan dengan perempuan. Kelamin jantan mesti bertemu dan beradu dengan kelamin betina dalam sistem keberpasangan intim. Maka, bermulalah sejarah cinta, kesetiaan, dan pengorbanan. Dimulai pula ritual upacara pernikahan yang paling tua. Sejarah itulah yang lantas kalian warisi di kemudian hari, hingga (entah kenapa) kau dan perempuan itu pun bertemu dan bersatu dalam bingkai jodoh. Padahal, kalian tak pernah menduga sebelumnya, bukan? Siapa yang mesti disalahkan dalam hal sejarah cinta, kesetiaan, dan pengorbanan? Tentu Adam, sebab dia manusia pertama yang mengobarkan api cinta, hingga Hawa menjadi bagian dalam hidupnya. Ah, tidak adil bila menyalahkan Adam, mungkin Hawa yang salah, sebab ia terpikat pada bujuk rayu Adam, hingga kelak kalian mewarisi kultur keberpasangan yang seringkali berakhir dengan duka dan nestapa. Iya, tapi salah Adam juga, kenapa memohon doa untuk kehadiran Hawa? Kalau begitu, yang salah bukan Adam, bukan Hawa, tapi Tuhan. Sebab, Tuhan mengabulkan doa Adam.

"Huss..., Tuhan jangan dibawa-bawa!"

Jika saja kalian tidak tergoda dan lalu terperangkap dalam kultur keberpasangan yang diwariskan nenek moyang bangsa manusia, tentulah kau bukan jodoh bagi perempuan itu. Bukan suaminya. Tentulah, tidak akan terberati perasaanmu oleh beban yang sesungguhnya tak sanggup kau pikul, bukan? Tentulah, kau tak perlu menimbun dan menumpuk hutang untuk membiayai pengobatannya. (kau tak akan mampu melunasi hutang-hutang itu meski bekerja seumur hidupmu). Tentulah, kau tidak akan ikut merasakan betapa menyiksanya petaka yang sedang menimpa perempuan itu.

**

BERSELANG dua bulan setelah pernikahan mereka, tiba-tiba saja Ladunna jatuh sakit. Perutnya terasa kembung dan mual. Muntah-muntah seperti gejala orang ngidam. Dengan perasaan penuh waswas bercampur cemas, Andesta bersegera melarikannya ke rumah sakit. Tak disangka-sangka, dokter menyatakan istrinya itu hamil. Semula Andesta tersentak bangga sembari mengumbar senyum lega. Sebab, tak lama lagi ia akan menjadi ayah bagi janin dalam kandungan Ladunna. Pucuk dicinta ulam pun tiba.

"Istri Anda positif hamil, tapi kehamilannya di luar kandungan. Karena itu, mesti dioperasi."

Seketika, jantungnya seperti hendak berhenti berdenyut. Seperti ada yang menghentak dan menyesak di rongga dadanya. Sulit ia mengatur detak nafas. Kian lama kian kencang, tak beraturan. Lelaki itu dikepung rasa cemas tak terkata. Cemas bilamana operasi itu gagal. Cemas jika operasi itu bukannya menyelamatkan kandungan Ladunna, tapi justru bisa berakibat fatal atau bahkan dapat merenggut nyawa istrinya.

Apa yang dicemaskan Andesta, akhirnya datang juga. Ya, sejak operasi itulah asal muasal musibah itu bisa dirunut. Tubuh Ladunna tergeletak lemas, menelentang tak sadarkan diri. Ladunna sekarat dan tak mampu mengenali Andesta lagi. Mengenali suaminya sendiri. Sekadar menghitung berapa banyak selang yang bersilang-pintang di tubuhnya pun, perempuan itu sudah tak kuasa. Denyut nadinya seperti kerakap tumbuh di batu. Hidup segan, namun mati tak hendak. Dokter menvonis, perempuan itu menderita vegetative state, batang otaknya rusak permanen. Bukankah itu sama saja artinya dengan kematian?

**

PERCUMA saja kau bersetia menunggu kesembuhannya dari penyakit itu! Kenapa kau masih saja sabar dan senantiasa berharap? Sudahlah, Andesta! Berhentilah menunggu sesuatu yang patut lagi ditunggu! Mestinya, petaka dan musibah itu kau percayai saja sebagai takdir!

"Ah, aku sulit untuk yakin pada takdir."

"Sst...! Kau tak bisa menolak takdir, Andesta!"

"Iya. Tapi, jika aku memercayai sakit parahnya itu adalah takdir, betapa tak mujurnya takdir Ladunna. Memilukan. Takdir yang melumpuhkan semangat hidupku."

"Jadi kau tidak percaya dengan ganasnya penyakit yang berjangkit di tubuh istrimu itu?"

"Tubuhnya memang sedang digerogoti penyakit. Tapi, bukankah tak ada penyakit yang mampu membunuh dan tak ada pula obat mampu menyembuhkan?"

Kau benar! Tapi, tidak dibunuh pun, istrimu sudah mati lebih dulu. Ladunna sudah jadi mayat sebelum ajal datang menjemputnya. Sejak batang otaknya rusak total dan syaraf-syaraf motoriknya kehilangan fungsi, sulit sekali ia mengingat-ingat dan membayangkan betapa khidmatnya prosesi pernikahan yang baru saja kalian alami dua bulan lalu. Sekadar menyimpan kenangan tentang tahi lalat yang melekat di jidatmu atau kecupan malam yang menyisakan basah di kuduknya, Ladunna sudah tak mampu. Daya ingat dan kualitas kecerdasannya amat rendah. Lebih rendah dari kecerdasan hewan.

Benarkah kau hendak membebaskan istrimu dari rasa sakit yang telah melumpuhkan itu? Kau berkenan bilamana rasa sakitnya dialirkan ke tubuhmu? Kau sungguh-sungguh, Andesta?

"Beritahu aku bagaimana cara memusnahkan rasa sakitnya!"

"Gampang sekali, Andesta!"

"Katakanlah! Akan segera kulakukan untuknya."

"Bunuh ia! Maka, penyakit istrimu akan mati, mengiringi kematiannya."

**

LADUNNA....

Penyakit itu sudah berurat, berakar, bersenyawa, dan berkelindan dengan organ-organ tubuhmu. Sukar sekali mematikan rasa sakitmu itu. Apa boleh buat. Satu-satunya cara yang dapat membunuh penyakitmu adalah dengan membunuhmu. Aku sudah bermohon pada lembaga yang berwenang agar mereka berkenan memberi izin pada dokter untuk menancapkan suntikan eutanasia di tubuhmu. Suntik mati. Maafkan aku, Ladunna! Aku tak bermaksud mengakhiri hidupmu, aku hanya ingin membunuh rasa sakitmu. Tapi, mereka menolak permintaanku dan terus-menerus menghalangi niatku. Mereka bahkan menuduhku lelaki sadis yang tega merenggut hidup istrinya sendiri.

Jadi, kau pikir mati itu menyakitkan? Bagi Ladunna, mungkin jauh lebih menyakitkan membiarkanmu senantiasa berharap pada kesembuhannya. Membiarkan suaminya mengurut dada pada setiap jeda waktu bersitatap dengan sorot matanya yang kian hari kian sayu. Bukankah akan lebih baik memilih mati ketimbang hidup, namun tak bermutu? Lebih baik mati, karena kualitas hidup Ladunna lebih buruk dari kematiannya. Maka, bagi istrimu kematian sama sekali tidak menakutkan, apalagi menyakitkan. Kematian Ladunna adalah suaka. Kematian yang membebaskan. Ya, membebaskan perempuan itu dari gairah hidup yang makin lama makin redup. Sekaligus, membebaskan Andesta, suaminya dari riwayat penungguan sia-sia.

"Lalu, bagaimana caranya?"

"Tolong beri tahu aku!"

"Aku sudah tak sabar."

Kau tak perlu bersusah-susah dan mengemis mohon izin untuk membenamkan jarum suntik mati di tubuh Ladunna. Cara yang kau pilih terlalu sulit dan berbelit-belit. Sementara ulu hatimu terus tersayat-sayat rasa ngilu melihat kondisi istrimu yang kian hari kian memburuk. Maka, akan kutunjukkan cara yang lebih mudah.

"Cabut saja salah satu selang yang melekat di tubuhnya! Selang infus di tangannya, atau selang oksigen di hidungnya. Gampang, bukan?"

"Aku tak sanggup!"

"Andesta, cabut saja selang itu!"

"Tidak! Aku tak sanggup membunuhnya."

"Ayolah!"

"Tidak!"

"Sst...! Kau tidak membunuh Ladunna, tapi 'mematikan' penyakitnya. Lakukanlah!"

"Sudah kubilang, tidak!"

"Bunuhlah ia...!"

"Bunuh penyakitnya...!"

"Bebaskan ia...!"

"Ayolah, sayang...!"

***

Jakarta, 2005

Monday, December 25, 2006

Mempertahankan 'Iman' Kepengarangan?

Oleh : DAMHURI MUHAMMAD


(Seputar Indonesia, 19 November 2006)


Kerap muncul dugaan (mungkin lebih tepat ; tuduhan) bahwa belakangan ini ada sejumlah cerpenis muda yang menggebu-gebu memburu publikasi di koran-koran minggu. Jangan heran, di hari yang sama, nama cerpenis tertentu bisa terpajang di tiga media berbeda (tentu dengan judul dan isi berbeda). Tiga cerpennya dimuat di tiga rubrik budaya koran minggu berbeda, pada hari yang sama. Saya agak sungkan menyebut nama, tapi para penyuka cerpen koran tentu sudah tahu siapa pemburu publikasi koran paling ulung sepanjang tahun 2005, misalnya. Saya punya teman seorang cerpenis yang cukup rajin mengirimkan cerpen ke meja redaktur (meski angka publikasi cerpennya tak segemuk yang diceritakan di atas). Ia pernah dijuluki 'raja koran minggu' (barangkali ini berlebihan). "Hoi, jangan terlalu mengejar jumlah publikasi! Itu bunuh diri kepengarangan!" kata teman lain, menasehatinya. Dengan lapang dada ia menerima nasehat itu. Memang, produktifitas kadang-kadang tidak serta merta berarti positif bagi masa depan kepengarangan. Bila tidak hati-hati, kualitas karya bakal sulit dipertahankan, energi kreatif yang diporsir amat beresiko melahirkan karya-karya prematur, sukar dipertanggungjawabkan, baik secara estetik maupun tematik. Gejala ini memang mulai terasa bila kita jeli memerhatikan cerpen-cerpen yang berhamburan setiap minggu.

Teman cerpenis muda pemburu publikasi koran itu seperti orang baru kecanduan merokok. Pinginnya merokok terus, sampai pipinya kempot. Begitulah bunyi ledekan yang pernah didengarnya. Tapi, benarkah ia telah kecanduan publikasi? Saya kira ini juga agak berlebihan. Ia pernah membela diri atas tuduhan tersebut, bahwa ia hanya berusaha pertahankan 'iman' kepengarangan. Sebab, bila tidak dipertahankan, ia gampang dirasuki macam-macam godaan. Misalnya ; "Berhentilah mengarang! Biar hidupmu tidak terus-terusan susah! Carilah pekerjaan yang lebih menjanjikan! Apa kau tak ingin kaya seperti orang-orang itu? Jika mengarang terus, kapan nasibmu berubah? Kau mau melarat terus hah?" Nah, untuk menghadang bisikan-bisikan itu ia tak henti-henti mengarang, tiada hari tanpa mengarang hingga cerpen-cerpennya menumpuk. Sebagai pengarang tentu ia ingin karyanya dibaca orang, dan kalau mau dibaca tentu harus dipublikasikan. Sejauh ini, publikasi cerpen memang koran minggulah tempatnya.

Lalu, apa yang salah? O, iya, mungkin kesalahannya karena sering mencaplok lahan cerpenis lain. Maklumlah, jumlah koran yang menyediakan ruang publikasi cerpen amat terbatas, sementara jumlah penulis cerpen makin membludak. Tapi, bukankah kebijakan redaksional setiap media selalu didasarkan pada mekanisme seleksi? Artinya, hanya cerpen bermutu yang bakal terpilih sebagai pengisi rubrik budaya mereka. Boleh dong teman saya itu ikut berkompetisi? Soal ia terlalu memburu dan sudah mencandu pada publikasi koran, soal produktifitas yang bakal menggiringnya pada 'bunuh diri' kepengarangan, sebaiknya kita serahkan saja pada pembaca untuk menilainya. Tugas para cerpenis hanya menghidangkan bacaan yang renyah, gampang dicerna, enak dibaca, setelah itu terserah pembaca. Bila ada yang mengatakan cerpen tertentu 'kurang maju' maka penulisnya mesti lebih banyak belajar, supaya cerpennya lebih bermutu. Sebaliknya bila ada yang memuji (ini kalau ada), si cerpenis tidak harus membusungkan dada, tak terbuai puja-puji dan decak kagum.

Maka, bahaya 'bunuh diri' kepengarangan dan tuduhan miring terhadap para cerpenis muda pemburu publikasi koran, agaknya tidak perlu terlalu dicemaskan. Sangat mungkin, tingginya angka produktifitas dalam proses kreatif (khususnya cerpen) adalah akibat tak tersengaja dari segenap 'kesabaran' mereka dalam menjaga 'iman' kepengarangan. Selain itu, (tak dapat dipungkiri) laju kekaryaan juga kerap terpicu dan terpacu oleh desakan-desakan kebutuhan hidup sehari-hari. Buktinya, cerpenis muda yang pernah beroleh julukan 'raja koran minggu' itu tidak ragu-ragu lagi mengaku bahwa ia memang menghidupi anak-istrinya dengan honorarium cerpen. Dalam darah anak-anak saya, mengalir 'darah honor', begitu ia bersijujur. Cukup banyak kawan yang meragukan pilihan sulit itu, termasuk saya. Tapi sejauh ini ia masih tetap hidup dan masih bisa mengarang. Pertanyaannya (lagi-lagi), adakah yang salah dengan kepengarangan cerpenis muda itu? Apa ada larangan bagi pengarang untuk hidup dengan karya-karyanya? Setahu saya, itu 'halal' dan sah-sah saja…

Hidup dari honor cerpen memang halal dan sah-sah saja. Tapi, pilihan itu juga bukan tanpa resiko. Cerpenis muda yang saya ceritakan di atas pernah dihadang pertanyaan yang sukar sekali dijawab. "Wah, kalau begitu kau tidak sedang mempertahankan 'iman' kepengarangan, tapi mempertahankan hidup!". Jadi, 'iman' kepengarangan yang sering disebut-sebut hanyalah siasat untuk menyembunyikan masalah yang sebenarnya. Bagaimana mungkin kualitas karya dapat dipertanggungjawabkan bila kerja kepengarangan hanya bertumpu pada uang? Cerpenis muda itu mulai gelagapan dan salah tingkah. Betapa tidak? Ia seperti menepuk air di dulang. Kian ditepuk kian basah muka sendiri. Nyaris ia tak bisa mengelak bahwa produktifitas kekaryaan yang telah dicapainya tetap saja berarti 'bunuh diri' kepengarangan. Lagi pula, belakangan ini cerpen-cerpennya yang bergentayangan setiap minggu itu mulai hambar, tidak berasa, serupa sayur kurang garam. Saya mulai kuatir, alih-alih pertahankan 'iman' kepengarangan, justru ia tergelincir pada 'kekafiran' kreatif. Ah, semoga belum…

Melacak Jejak Indentitas Sastra Indonesia

Oleh : DAMHURI MUHAMMAD

(Republika, 26 November 2006, semula berjudul : Menegasi Indentitas Sastra Indonesia )

Corak historiografi kesusastraan Indonesia modern yang masih berpijak dan bertolak dari 'asal muasal' dan pendekatan teleologis, memang sudah amat melelahkan dan terlalu banyak menguras tenaga dan pikiran. Sebagian pemerhati sastra mulai pesimis, kehilangan gairah, bahkan apriori. Nirwanto Dewanto, dalam esainya (Kompas, 4/3/2000) mempertanyakan, masih perlukah sejarah sastra? Ini mencerminkan ketidakpercayaannya pada konstruk sejarah yang ditegak-berdirikan tanpa 'kesadaran sejarah' itu sendiri. Sejarah sastra yang 'penuh lupa' atau sengaja lupa berkepanjangan. Andai seorang novelis atau penyair mengetahui sejak kapan sejarah sastra bangsanya bermula, dan bagaimana munculnya angkatan-angkatan dalam sastra, akankah ia tertolong untuk menghasilkan karya bermutu? Tidak!. Tak ada keterkaitan antara sejarah sastra dengan pergulatan sastrawan meraih kompetensi literer. Bagi Nirwan, kita tak perlu sibuk berselisih paham untuk mempertahankan pendapat bahwa sastra Indonesia bermula sejak zaman Balai Pustaka, atau jauh sebelumnya. Tak perlu bersitegang urat leher memperdebatkan angkatan-angkatan dalam sejarah sastra. Masa depan sastra Indonesia tidak bergantung pada penulisan sejarah yang bercorak tautologis itu.

Namun, tidak segampang itu penyelesaiannya bagi Maman S Mahayana. Melalui buku terbarunya, 9 Jawaban Sastra Indonesia, Sebuah Orientasi Kritik (Jakarta, Bening Publishing, 2005), penggiat dan pemerhati sastra ini justru hendak bersitegas bahwa wajah sejarah sastra yang 'buruk rupa', bopeng, dan bolong-bolong itu tidak boleh dibiarkan begitu saja, tapi mesti ditambal, diluruskan, dan (bila perlu) ditulis-ulang. Betapa tidak? Selain problem pemutakhiran data, buku-buku sejarah sastra yang terlanjur dikunyah dan dimamahbiak oleh para siswa di sekolah menengah, juga tidak luput dari keterceceran data. Banyak data yang mestinya dicatat, raib begitu saja. Tak sedikit nama yang telah berjasa dalam perjalanan sejarah kesusasteraan Indonesia terabaikan, dan terlupakan.

Tak dapat disangkal, buku-buku HB Jassin telah memberikan kontribusi amat besar. Banyak nama dan karya telah dicatat dan diangkatnya, berlimpah arsip yang didokumentasikannya, hingga nama Jassin pun kukuh sebagai dokumentator sastra dan tokoh penting dalam penulisan sejarah sastra Indonesia. Problemnya, kharisma sang 'paus' sastra itu, diterima para peneliti lain, tanpa pandangan kritis. Hal ini yang terjadi pada buku karya Zuber Usman, Ajip Rosidi, Bakri Siregar, A Teeuw dan Jacob Sumardjo. Kekeliruan mencolok adalah adanya lompatan dari periode Pujangga Baru ke periode pasca-kemerdekaan. Sementara, sastra Indonesia zaman Jepang hanya disinggung sepintas lalu. Itupun, hanya mengacu pada gagasan Jassin. Karya-karya yang dibicarakan pada masa itu hampir selalu jatuh pada dua novel terbitan Balai Pustaka, Palawija (Karim Halim) dan Cinta Tanah Air (Nur Sutan Iskandar). Dalam hal ini, para peneliti sastra merujuk pada dua buku karya HB Jassin: Kesusateraan Indonesia di Masa Djepang (1954) dan Gema Tanah Air (1959). Tapi, yang dilakukan Jassin dalam kedua buku itu, (dalam batas-batas tertentu) tidak berdasar. Mestinya karya-karya yang termuat dalam Kesusateraan Indonesia di Masa Djepang adalah karya-karya yang muncul dalam rentang waktu 1942-1945. Tapi, karya-karya yang muncul selepas merdeka juga tercatat dalam buku itu, sedangkan karya-karya yang seharusnya masuk zaman Jepang justru tercatat dalam Gema Tanah Air.

Akibatnya, orang akan menyangka Chairil Anwar dan Idrus termasuk sastrawan zaman Jepang, sedangkan Darmawidjaja justru ditempatkan pada masa sesudahnya. Dalam kedua buku itu, tidak ditemukan nama-nama seperti Muhammad Dimyati, Yousouf Sou'yb dan Merayu Sukma. Lebih parah, dalam buku Jacob Sumardjo, Zuber Usman bahkan A Teeuw (yang mengacu pada Jassin), nama-nama itu tetap tenggelam tanpa alasan. Padahal, baik dari segi kuantitas maupun kualitas, karya-karya mereka tidak kalah penting dari yang lain. "Inilah blunder para peneliti yang hanya bersandar pada satu sumber," kata Maman S Mahayana.

Selain 'berikhtiar' mengurai-jelaskan keterceceran data dalam sejarah sastra Indonesia, buku itu juga hendak mendudukkan sebuah konsepsi sastra yang bertolak 'dari dan menjadi Indonesia'. Maman seperti hendak menyuarakan 'kegelisahan akademik' yang dialaminya selama malang melintang di jagad sastra. Kegelisahannya melihat geliat perjalanan sastra Indonesia yang belum menemukan identitas. Ibarat pohon yang berdiri-tegak, bersitumbuh tanpa akar.Apakah benar sastra Indonesia itu ada? Kalau ada, dari manakah ia berasal? Di manakah akar identitas sastra Indonesia itu dapat dilacak? Inilah pertanyaan-pertanyaan hipotetik yang belum terjawab dalam penulisan sejarah sastra Indonesia dewasa ini.

Menurut Maman, kita tak perlu 'malu-malu' mengakui bahwa 'darah daging' kesusastraan Indonesia adalah 'sastra etnik' yang ditulis menggunakan bahasa Indonesia (bahasa nasional yang diangkat dari bahasa Melayu). Pencapaian jelajah tematik dan eksplorasi estetik para sastrawan, tidak terlepas dari latar belakang etnik yang melahirkan dan membesarkan mereka. Ketika novel-novel awal Balai Pustaka terbit (Azab dan Sengsara, 1920 dan Siti Nurbaya, 1922), masalah kawin paksa seolah-olah menjadi tema sentral. Lalu, ke manakah 'etos merantau' yang menjadi salah satu ciri kultur Minangkabau? Periksalah, novel-novel Balai Pustaka masa itu, sebagian besar tokoh utamanya nyaris tak pernah lepas dari semangat berkelana, ideologi perantauan. Tapi, etos ini seolah-olah sengaja dikesampingkan.

Begitu pun ketika ST Alisjahbana menyatakan, kebudayaan tradisional (kultur etnik) harus mati semati-matinya, dalam kenyataan hanya sekedar slogan belaka. Majalah Poedjangga Baroe yang dikelolanya justru banyak memuat tulisan yang mengangkat kebudayaan tradisional atau sastra yang berakar dari kultur etnik.
Seperti dicatat Poerwoto Prawirahardjo (1933), Majalah Poedjangga Baroe pernah memuat tulisan Hoesein Djajadiningrat, Arti Pantoen Melajoe jang Gaib, yang menolak pandangan orang-orang Barat tentang pantun. Pada tahun yang sama, juga dimuat artikel Armijn Pane, Kesoesasteraan Baroe, yang menegaskan bahwa kebudayaan daerah tidak dapat diabaikan dalam kesusasteraan baru. Sejumlah puisi karya Imam Soepardi, Amir Hamzah, Tatengkeng, dan A Tisna juga memperlihatkan pengaruh kebudayaan etnik.Karena itu, suara Alisjahbana sesungguhnya tak cukup representatif mewakili suara angkatan Pujangga Baru. Di sana, masih ada Armijn Pane dan Amir Hamzah yang tak berpaling dari kebudayaan etnik. Hal yang sama juga terjadi pada seniman dan budayawan Gelanggang yang memproklamirkan sikap berkesenian lewat Surat Kepercayaan Gelanggang. Dari sejumlah sastrawan Gelanggang, hanya Chairil Anwar yang mempertahankan kekaguman Alisjahbana pada kebudayaan Barat. Meski Chairil tidak menelannya secara mentah-mentah, tapi menerjemahkan semangat Barat untuk kepentingan proses kreatifnya.

Rentang panjang perjalanan sastra Indonesia yang tak pernah tercerabut dari akar budaya etnik itu dapat terlacak hingga babakan sejarah paling mutakhir sekalipun. Lihatlah, tokoh imajiner Ajo Sidi garapan AA Navis dalam cerpen Robohnya Surau Kami, yang tak lepas dari kultur Minang. Demikian pula yang dilakukan Chairul Harun (Warisan, 1979), Darman Moenir (Bako, 1983), Wisran Hadi (Orang-orang Blanti, 2000), dan Gus Tf Sakai (Tambo: Sebuah Pertemuan, 2000). Ekplorasi tematik yang digali dari kultur etnik merupakan peluang yang menjanjikan lahan berlimpah. Warna lokal seperti mata air yang tak pernah kering. Tengoklah Arswendo Atmowiloto (Canting, 1986), Ahmad Tohari (Ronggeng Dukuh Paruk, 1982), Umar Kayam (Para Priyayi, 1992), Kuntowijoyo (Pasar, 1994), beberapa contoh pengarang yang menggauli kultur Jawa dengan cara amat cerdas.

Sampai di titik ini, maka sejarah sastra tidak hanya perlu, tapi juga penting. Sebab, hanya dengan penelusuran, pelacakan dan penulisan sejarahlah dapat ditemukan dan dirumuskan sebuah konsep sastra Indonesia yang 'beridentitas' kokoh dan orisinil (asali). Semesta sastra yang 'meng-indonesia' tanpa harus menghamba dan mengekor pada budaya Barat. Ya, sastra yang hidup, tumbuh, berkembang dan membiak dengan kultur etnik sebagai ruhnya.
( )