Search This Blog

Monday, December 03, 2007



Menggagas Sejarah
dengan Timbunan Cerita


Oleh : DAMHURI MUHAMMAD

(Media Indonesia, 01 Desember 2007)


Tak perlu diragukan bahwa gerak kepengarangan tak henti-henti memproduksi cerita yang siap dilepas ke pasaran, atau untuk sementara ditimbun, dan disimpan sebagai ‘stock cerita’. Tapi, tidak banyak pengarang yang terampil memayungi koleksi ceritanya dengan gagasan-gagasan besar. Sebutlah misalnya Dan Brown yang piawai menghubungkaitkan konstruksi ceritanya dengan alur hidup seniman besar, Leonardo Davinci, hingga novelis itu berhasil melahirkan The Davinci Code yang menggemparkan. Begitu juga dengan Matthew Pearl yang membingkai kisahnya dengan kepeloporan penyair, Dante Alighieri (1265-1321), hingga sukses mendedahkan The Dante Club, novel yang telah melambungkan namanya dalam kancah sastra dunia.

Rahasia Meede, novel karya pengarang muda, Es Ito ini, juga bertolak dari semangat membingkai kisah dengan gagasan besar sebagaimana dilakukan Dan Brown dan Matthew Pearl. Ia memayungi kisahnya dengan sejarah kartel dagang Belanda, VOC, sejak masa awal, masa kejayaan, hingga fase kebangkrutannya, 1799. Pusaran kisahnya berkisar di seputar perburuan harta karun VOC yang bermula dari kedatangan laki-laki misterius ke penginapan delegasi Indonesia untuk Konfrensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag. Kala itu, para juru runding Indonesia sedang dihadapkan pada pilihan sulit. Pihak Belanda menyodorkan klausul tentang pengalihan utang Hindia Belanda sebesar 4,3miliar gulden kepada Indonesia. Bung Hatta sudah mencari jalan tengah, tapi para perunding tak berhasil mencapai mufakat. Orang asing itu memberikan selembar kertas lusuh pada seorang delegasi, Ontvangen maar die onderhandeling. Indonesie heeft niets te verliezen! (Terima itu perundingan! Indonesia tidak akan rugi!), begitu ia berbisik.

Tentu saja Indonesia tak bakal rugi, sebab yang diserahkan laki-laki itu adalah dokumen rahasia berisi petunjuk tentang lokasi penyimpanan emas batangan milik VOC. Celakanya, dokumen itu raib, tak ditemukan di dalam peti dokumen KMB yang dibawa delegasi Indonesia. Inilah cikal soal setiap rangkaian cerita dalam novel setebal 671halaman ini. Tapi, pengarang tidak langsung menukik pada perburuan harta karun yang tertimbun selama lebih dari tiga abad itu. Es Ito malah membuka cerita dengan kasus pembunuhan berantai yang meninggalkan sejumlah tanda tanya besar. Dalam waktu kurang lebih lima bulan, ditemukan lima mayat yang semuanya terbilang orang penting. Mayat Saleh Sukira (ulama) ditemukan Bukittinggi, Santoso Wanadjaya (pengusaha) dibunuh di Brussels, Nursinta Tegarwati (anggota DPR) dibunuh di Bangka, JP Surono (birokrat) dibunuh di Boven Digoel dan Nono Didaktika (peneliti) dibunuh di Banda Besar. Wartawan harian Indonesiaraya, Batu Noah Gultom, mencurigai ini bukan pembunuhan biasa. Lima kali pembunuhan terjadi di kota yang selalu diawali huruf B (Bukittinggi, Brussels, Bangka, Boven Digoel, Banda Besar). Lebih jauh, Batu menyebut kasus ini dengan ‘pembunuhan Gandhi’. Sebab, di setiap tubuh korban selalu ditemukan pesan, antara lain ; peribadatan tanpa pengorbanan, perniagaan tanpa moralitas, politik tanpa etika, kekayaan tanpa kerja keras, dan sains tanpa humanita. Pesan-pesan itu adalah lima item dari ‘Tujuh Dosa Sosial’ dalam pemikiran Mahatma Gandhi. Andai dugaan itu benar, tentu akan ada dua korban lagi dengan pesan ; pengetahuan tanpa karakter dan kesenangan tanpa nurani. Anehnya lagi, setiap TKP pembunuhan adalah kota-kota yang pernah dikunjungi Bung Hatta semasa hidupnya. Jadi, pembunuhan itu merujuk pada dua nama tokoh penting ; Gandhi dan Hatta. Satu lagi gagasan besar meresap dalam konstruksi cerita novel ini.

Satu selubung misteri belum tersingkap, pengarang sudah merancang keterkejutan baru. Batu makin dipusingkan oleh penculikan Cathleen Zwinckel, mahasiswi universitas Leiden yang sedang melakukan penelitian tentang sejarah ekonomi kolonial di Jakarta. Sebelum diculik, Cathleen dititipkan oleh Prof. Huygens (pembimbingnya) di lembaga penelitian partikelir, Central Strategic Affair (CSA). Redaktur senior Indonesiaraya, Parada Gultom, juga hilang entah ke mana. Batu hampir memastikan bahwa dalang semua peristiwa itu adalah gerakan bawah tanah yang menyebut dirinya ; Anarki Nusantara. Sebelumnya, kelompok pengacau yang dipimpin Attar Malaka itu juga dituduh sebagai otak penyerangan bersenjata dan perusakan gedung di sebelah utara Jakarta.

Dalam membingkai suspense-fiction dengan latar belakang sejarah VOC, pengarang berani untuk tidak berjarak dengan realitas kekinian. Dengan leluasa, Es Ito menggiring pembaca ke dalam suasana Batavia di masa gubernur jenderal Cornelis J Spellman (1682) dan sepak terjang Monsterverbond (persekutuan rahasia yang mengendalikan VOC), lalu dengan sangat tiba-tiba ia mengungkap penemuan terowongan bawah tanah (De Ondergrondse Stad) di Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah). Terowongan itu diduga berujung di tempat penyimpanan dokumen rahasia tentang harta karun VOC yang hilang sejak 1949. Pada saat yang sama, Es Ito memotret suasana Jakarta hari ini, ia menyebut ‘Bis Transjakarta’, Mikrolet S-11 jurusan Pasar Minggu-Lebak Bulus dan KRL Bojongggede Ekspress. Realitas yang sangat ‘menyehari’ bagi warga Jakarta hari ini. Agak ganjil ketika Es Ito menghubungkan ‘pembunuhan Gandhi’ (peristiwa yang terjadi di tahun 2000-an) dengan harian Indonesiaraya, sementara harian itu sudah gulung tikar sejak 1980-an. Ini bisa merusak asosiasi pembaca dan mencemari nalar cerita.

Makin ke ujung, buku ini makin mengejutkan. Batu Noah Gultom ternyata bukan wartawan biasa, ia anggota intelijen militer yang menyusup di Indonesiaraya guna melacak persembunyian Attar Malaka (sebelum buron ia bekerja di sana). Saat menyelamatkan Cathleen dari penculikan, Batu mengaku polisi bernama Roni, padahal ia adalah Batu August Mendrofa, intelijen militer dengan nama sandi ‘Lalat Merah’. Sebenarnya Batu tahu pelaku penculikan Parada Gultom. Redaktur senior itu ‘diambil’ oleh orang-orang suruhan Darmoko, jenderal purnatugas, pemimpin ‘Operasi Omega’ untuk membasmi antek-antek Anarki Nusantara. Parada diinterogasi untuk mengorek informasi perihal keterlibatan Attar Malaka dalam penyerangan bersenjata, perusakan gedung, pembunuhan berantai dan penculikan Cathleen.

Batu yang sudah berhasil mengelabui orang-orang Indonesiaraya, menipu Cathleen, bahkan berhasil membekuk Attar Malaka, ternyata masih jadi pecundang dalam sebuah permainan yang lebih besar. Permainan itu dikendalikan Darmoko, orang yang ingin memiliki emas batangan warisan VOC untuk pembelian senjata guna melakukan gerakan makar. Suryono Lelono (CSA), Darmoko (Operasi Omega) dan Prof. Huygens (Oud Batavie) bersekongkol mengambinghitamkan kelompok Anarki Nusantara sebagai pelaku pembunuhan orang-orang bertato pasca kekisruhan di Jakarta Utara dan ‘pembunuhan Gandhi’, padahal pelakunya adalah Darmoko dan Suryo Lelono. Lima orang penting yang tewas mengenaskan itu dibunuh, sebab mereka terlalu banyak tahu tentang rencana besar Darmoko dan Suryo Lelono. Eksekutor ‘pembunuhan Gandhi’ seorang guru sejarah yang sangat terobsesi pada Hatta dan Gandhi. Ia bukan guru biasa, tapi mantan anggota intelijen militer yang pernah terlibat dalam Operasi Pidie dengan kode sandi ‘Melati Putih’. Sejak lama, ia di bawah kendali Darmoko, hingga berbalik melakukan kekerasan sebesar pesan perdamaian yang diusung Hatta dan Gandhi. ‘Melati Putih’ menerima pesan pembunuhan yang selalu mengatasnamakan Anarki Nusantara, padahal itu hanya akal bulus Darmoko. Dua sejawat sesama alumni SMA Taruna Nusantara, Batu dan Kalek alias Attar Malaka akhirnya bergabung untuk menggagalkan penggalian emas batangan di pulau Onrust. Attar Malaka berhasil menyelamatkan Cathleen sebelum Batu ditembak oleh anak buah Darmoko. Tak lama kemudian, Kalek menarik pemicu granat di dalam terowongan panjang yang setiap batu batanya berisi batangan emas.

Buku ini tidak berpretensi untuk disebut ‘novel sejarah’ sebagaimana dinobatkan oleh para komentator di sampul depan. Pengarang hanya membingkai kompleksitas cerita dengan detailitas sejarah Batavia Tempoe Doeloe. Setidaknya ada dua pilihan ; cerita atau sejarah? Atau ‘jangan-jangan’ kita memang lebih gampang membangun kesadaran sejarah bila ‘diumpan’ dengan sederet cerita. Apa mau dikata…




DATA BUKU

Judul : RAHASIA MEEDE
Penulis : ES.Ito
Penerbit : HIKMAH, Jakarta
Cetakan : I, Agustus 2007
Tebal : 671 halaman

Tuesday, September 18, 2007

Jo Ampok

Cerpen DAMHURI MUHAMMAD

(Media Indonesia, 16 September 2007)

Sejak dipercaya menjadi guru mengaji, Engku tidak pernah lagi mampir di lapau.*) Sekedar melepas lelah sambil minum kopi dan bergurau pun ia tidak punya waktu lagi. Padahal, sepulang dari surau, Engku selalu melewati lapau yang selalu berjibun pengunjung itu. Mungkin ia takut disangka ikut-ikutan berjudi bila masih berbaur dengan orang-orang lapau. Jadi, lebih baik bujangan jebolan madrasah itu menjauhi lapau, meski ia juga tidak mau dianggap sok alim. Mentang-mentang sudah jadi orang surau, lupa pada kawan-kawan di lapau.

“Dipikirnya orang lapau tak pandai mengaji?” begitu Jo Ampok menyindir kelakuan Engku.

“Apa pula urusan kau? Apa rugimu bila Engku tak singgah ke lapau?” sela Bunduk, agak sinis.

“Sejak Engku jadi guru mengaji, awak kalah terus.”

“Biasanya selalu awak modali dia main Remi. Menang terus. Murah benar rejeki anak tu.”

“Engku sudah jadi orang surau, mana mungkin duduk di meja judi?”

“Awak tak larang Engku ke surau. Tapi, kalau bisa, jangan tinggalkan lapau. Di surau dia mengaji, di lapau dia berjudi.”

“Huss….jangan campur aduk begitu. Apa awak sudah gila hah?”

****

Selain tempat ngopi sembari melepas penat, lapau-lapau di lingkar kampung Guci juga menyediakan meja-meja khusus untuk berjudi. Begitu pula dengan lapau milik Sinaro yang letaknya tidak terlalu jauh dari surau Baitul Hikmah, tempat Engku mengajar anak-anak mengaji. Lapau itu buka siang malam, dua puluh empat jam. Macam-macam judi tersedia di sana. Para pelanggan bebas memilih ; Domino, Remi, Koa **) atau Putar Dadu. Jangan tertipu! Sepintas lalu memang tampak sepi-sepi saja. Barangkali hanya terlihat tiga sampai empat orang yang sedang mengobrol sambil bersilunjur kaki, atau main Domino dengan taruhan kecil. Tapi, ada banyak bilik di bagian dalam dan belakang lapau. Sinaro sengaja membuat bilik-bilik itu untuk para penjudi dengan taruhan tingkat tinggi. Di sanalah permainan Remi, Koa dan Putar Dadu dilangsungkan. Jangan dikira Sinaro takut polisi. Sama sekali tidak! Di kampung Guci, aparat hukum agak kewalahan. Tak terhitung lagi berapa kali lapau-lapau digerebek, dan berapa banyak penjudi yang meringkuk dalam sel. Tapi, mereka tak pernah jera. Setelah bebas, mereka kembali ke lapau, berjudi lagi. Mungkin, karena judi sudah begitu mengakar di kalangan orang-orang kampung Guci. Jangan sekali-kali mengaku orang Guci, bila tidak mahir berjudi. Kartu-kartu Remi ibarat tikar sembahyang bagi orang-orang Guci, begitu kelakar yang biasa terdengar.


“Judi di kampung kami tak bisa dibasmi, tapi bisa dijauhi,” tegas Nduk Angkang, tetua kampung Guci saat membuat kesepakatan dengan polisi.

“Bisa lebih jelas pak tua?”

“Para penjudi jangan ditangkapi, kami berjanji akan menjauhkan judi dari pandangan masyarakat. Bersembunyi. Yang penting lingkungan tetap aman. Bagaimana pak?”

“Tidak ada kompromi dengan judi! Selama lapau-lapau belum bebas judi, kalian tetap melanggar hukum.”

“Kami paham. Tapi, di kampung Guci, judi sudah jadi tradisi.”

Sinaro benar-benar berkelimpahan rejeki sejak membangun lapau itu. Kalau hanya berjualan makanan dan minuman, tentu pendapatannya tidak seberapa. Tapi, dengan judi, ia menerima sewa bilik, tikar, lampu, alat-alat judi dan sewa-sewa lain dari para penjudi. Dulu, sewaktu Engku masih bersekolah di madrasah, tiap malam ia nongkrong di sana, kadang-kadang sampai tidur di lapau itu. Engku membantu Sinaro, menggelar tikar, membersihkan bilik-bilik judi, menyuguhkan makanan dan minuman untuk para penjudi dan menagih macam-macam uang sewa, lalu disetorkan pada Sinaro. Dari sana, Engku beroleh uang sekolah, hingga ia tidak lagi membebani ibu-bapaknya. Tak ada salahnya bila disebut ; Engku bersekolah dengan uang judi. Tak jarang, Engku juga ikut berjudi, meski dengan taruhan kecil-kecilan. Karena setiap malam bergaul dengan para penjudi, Engku makin mahir berjudi. Ia penjudi berbakat yang jarang kalah. Karena itu, banyak penjudi kelas kakap yang berani memodalinya bermain Domino, Remi, Koa atau Putar Dadu. Itu sebabnya Jo Ampok merasa kehilangan sejak Engku hengkang dari lapau.

****


“Awak tak ingin lanjutkan sekolah Ngku?” tanya Sinaro, sehabis shalat Maghrib berjamaah di surau Baitul Hikmah.

“Ah, dari mana pula awak bakal beroleh biaya? Ijazah madrasah cukup lah,”

“Itu tak soal lah Ngku, Jo Ampok menunggumu di lapau.”

“Segan awak dilihat murid-murid.”

“Kenapa pula Ngku segan? Orang tua murid-murid Ngku semuanya orang lapau.”

“Kalau Ngku mau, mungkin bisa lanjutkan sekolah.”

“Ngku itu cerdas. Masa’ cuma jadi guru ngaji?”

“Tak usah sungkan, segeralah temui Jo Ampok di lapau!”

Akhir-akhir ini Jo Ampok memang mengalami kekalahan beruntun. Kabarnya, raja judi kampung Guci itu terpaksa melego tiga ekor hewan ternak dan menggadaikan lima petak sawah guna membayar utang karena kalah judi. Tapi, soal jual-menjual dan gadai-menggadai, itu biasa bagi Jo Ampok. Harta peninggalan orang tuanya tidak akan ludes untuk tujuh orang istri sekalipun. Kini, Jo Ampok baru punya tiga istri. Masing-masing istrinya sudah dapat jatah rumah baru. Beruntung sekali perempuan-perempuan yang menjadi istri Jo Ampok. Dari ketiga istri Jo Ampok, tidak ada yang berani melarang kebiasaan buruk suami mereka ; menghambur-hamburkan uang di lapau. Mencampuri urusan Jo Ampok sama saja artinya dengan minta cerai. Istri yang tak bakal ditalak Jo Ampok hanyalah ; judi. Tapi, kini Jo Ampok merasa kurang percaya diri. Lebih-lebih setelah Engku, anak muda kepercayaannya itu enyah dari lapau. Padahal, jika ia masih bersetia, Jo Ampok tentu tak akan segan-segan menyambung sekolah Engku. Seberapa lah biaya menjadi sarjana bagi Jo Ampok?

Namun, tekad Engku benar-benar sudah bulat, tiada sumbing sedikit pun. Sepertinya tak dapat ditawar-tawar. Buktinya, guru mengaji itu telah membelakang bulat ke lapau. Tak peduli orang-orang lapau mau bilang ia sok alim, sok suci atau sok insaf. Engku memang teguh pendirian. Ia berjanji tidak akan menyentuh kartu Remi, Koa dan Batu Domino lagi. Itulah yang membuat Jo Ampok mulai jarang muncul di lapau. Tak ada lagi orang yang bisa diandalkannya. Lagi pula, untuk apa datang ke lapau kalau hanya akan menanggung malu karena terus-terusan kalah judi? Berhari-hari Jo Ampok mengurung diri di rumah istri pertamanya, hingga suatu hari ia dikabarkan jatuh sakit.

****

Semula, orang-orang lapau, kawan-kawan Jo Ampok, termasuk Sinaro si pemilik lapau menduga Jo Ampok cuma terserang demam biasa. Dipijit sebatang badan akan segera sembuh, setelah itu kembali ke lapau. Tapi, sudah dua minggu, tak tampak juga batang hidung Jo Ampok. Ada yang memberitahu kalau sakitnya makin parah. Dan, tanpa pikir panjang, orang-orang lapau pun bersegera menjenguk Jo Ampok.

Nafasnya sesak. Merintih-rintih sambil ngorok. Sekujur badannya menggigil hebat. Ujung-ujung jari tangan dan jari kakinya terasa dingin sekali. Pasi. Mukanya pucat serupa mayat. Mulutnya komat-kamit menyebut kata-kata yang terdengar agak ganjil.

“LLLaaaaaaa…………”

“LLLaaaaaaaaaaaaa………”

“LLLaaaaaaaaaaaaaaaa………Nnnnnnnnaaaam.”

Sinaro, Baba, Mampalar, Cunambai, Yombauk, Bunduk, Kurai, Dalinas, Jilatang dan konco-konco Jo Ampok yang duduk bersila dalam posisi setengah lingkaran saling berbisik. Satu sama lain saling bertanya-tanya, apa sesungguhnya yang sedang terjadi pada Jo Ampok, apa pula arti gigauannya itu?

“Istighfar Mpok, Istighfar! Astagfirullah, astagfirullah, astagfirullah….” begitu Sinaro membisiki Jo Ampok yang serupa orang sekarat.

“LLLaaaaaaa………Nnnnnnnnaaaaam.”

“LLLaaaaaaaaaaaa………Nnnnnnnnaaaaam.”

“LLLaaaaaaaaaaaaaaaa………Nnnnnnnnaaaaam.”

Selalu begitu suara janggal yang keluar dari mulut Jo Ampok. Sama sekali tidak dihiraukannya ajakan menyebut asma Tuhan. Entah karena disengaja atau karena Jo Ampok memang sudah tak sadar diri. Orang-orang lapau seolah kehabisan akal. Mereka mulai kebingungan dan nyaris putus harapan. Tabi’at Jo Ampok seperti menujumkan firasat bahwa umur si raja judi itu tak bakal panjang. Mungkin sebentar lagi mereka akan kehilangan kawan sepermainan. Jo Ampok kepayahan menghadang sakratul maut.

“Mengucap, mengucap, mengucaplah!” tiba-tiba saja Engku muncul di tengah kerumunan orang-orang lapau itu. Perlahan ia merangsek masuk, lantas menghampiri pembaringan Jo Ampok, kawan lama yang kerap memodalinya berjudi itu.

“Lailaha illallah, lailaha illallah, lailaha illallah...” bimbing Engku sambil mengusap kepala Jo Ampok yang mulai berkeringat dingin.

“Lailaha illallah, Lailaha illallah, Lailaha illallah…” ulang Engku lagi.

“LLLaaaaaaa………Nnnnnnnnaaaaam.”

“LLLaaaaaaaaaaaa………Nnnnnnnnaaaaaaaaaam.”

“LLLaaaaaaaaaaaaaaaaa………Nnnnnnnnaaaaaaaaaam.”

Lagi-lagi gigauan itu yang keluar dari mulut Jo Ampok. Entah apa maksudnya.

Bergegas Engku bangkit dari duduknya. Setengah berlari ia keluar rumah yang sedang penuh sesak itu, lantas buru-buru menuju arah lapau Sinaro yang lumayan jauh. Engku Seperti hendak mengambil sesuatu. Orang-orang hanya terperangah heran dan melongo melihat tingkah aneh anak muda yang kini dipercaya sebagai guru mengaji di surau Baitul Hikmah itu. Tapi, tak berselang lama Engku muncul lagi di kerumunan orang-orang lapau yang mulai panik menghadapi pesakitan Jo Ampok.

“LLLaaaa………Nnnnnnnnaaam.”

“LLLaaaaaaaaa………Nnnnnnnnaaaaaam.”

“LLLaaaaaaaaaaaaaaa………Nnnnnnnnaaaaam.”


Tak henti-henti Jo Ampok menyeracau. Masih racauan yang sukar dimengerti. Sementara, Engku masih mengusap ubun-ubun Jo Ampok. Tak lama kemudian, ia mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya. O, ternyata sebuah batu berbentuk segiempat, kombinasi warnanya putih-biru menyerupai potongan kue agar-agar. Batu domino berjenis Balak Enam. Dua belas titik hitam yang dibatasi satu garis melintang. Pelan-pelan ditaruhnya balak enam itu dalam genggaman Jo Ampok. Seketika, raja judi itu tersenyum lega sambil menghembuskan nafas terakhir. Jo Ampok mati sebagai penjudi sejati. Tangannya masih mengenggam balak enam. Orang-orang lapau terhenyak dalam sunyi.

Kelapa Dua, 2007

Catatan : * ) warung kopi

**) kartu ceki Cina

Thursday, September 06, 2007



Fiksi Thriller Berkedok Novel Sejarah

Judul : Glonggong
Penulis : Junaedi Setiyono
Penerbit : Serambi, Jakarta
Cetakan : I, Juli 2007
Tebal : 293 halaman


Oleh : DAMHURI MUHAMMAD


(MEDIA INDONESIA, Sabtu, 25 Agustus 2007)

Siapa yang berwenang menentukan sebuah novel dapat disebut novel sejarah? Apa kriteria artistik sebuah novel sejarah? Khazanah kita mungkin belum memiliki pengertian yang bulat tentang novel sejarah. Tapi kenapa tim juri Sayembara Novel DKJ (2006) memasang ‘harga mati’ bahwa Glonggong (juara harapan I), karya Junaedi Setiyono ini adalah novel sejarah? Bahkan ada yang menulis pujian di sampul depan ; novel sejarah paling mengesankan yang pernah saya baca.

Meski tak ada definisi utuh tentang novel sejarah, setidaknya genre ini diidentifikasi sebagai teks yang berpijak pada peristiwa masa lalu, sehingga tokoh rekaan, plot, alur dan gagasannya dapat dilacak dari perspektif historiografi. Bila ditimbang dengan alat takar macam ini, mungkin novel berlatar Perang Diponegoro ini patut disebut novel sejarah. Tapi, novelis yang memaktubkan fakta dan pelaku-pelaku sejarah dalam karyanya selalu dipicu oleh ketidakpuasan terhadap sejarah yang taken for granted, tapi cenderung menyesatkan. Maka, novel kerap mendekonstruksi kemapanan konsep historiografi, agar sejarah tak melulu digenggam oleh kuasa tafsir tunggal. Inilah yang dilakukan oleh Sir Walter Scott lewat Waverley (1810) yang disebut-sebut sebagai novel sejarah pertama di dunia. Ia sepenuhnya mengambil karakter Alasdair Ranaldson MacDonell (1771-1828), prajurit yang nyaris tak tercatat dalam sejarah panjang klan Skotlandia. (Bagja Hidayat,2006).

Bila ditakar dengan semangat dekonstruksi sebagaimana dilakukan Sir Walter Scott agaknya Glonggong segera gugur sebagai novel sejarah. Buku ini tidak menawarkan kebaruan dalam menyikapi sejarah Perang Diponegoro. Java Oorlog (Perang Jawa), penangkapan dan tahun kematian Pangeran Diponegoro dalam teks novel ini persis sama dengan data buku-buku sejarah. Ini tentu dapat ditolerir, karena pengarang tak hendak menyingkap segi-segi tak tercatat dalam peristiwa itu, tapi mengungkap moralitas bobrok para priyayi yang bersekutu dengan Belanda untuk menghadang Laskar Dipanegaran. Penggambaran itu terkuak melalui sudut pandang Glonggong (tokoh utama) yang sejak awal ditegaskan berasal dari keluarga ningrat, tapi hidup sebagai orang biasa dan bergabung dalam barisan prajurit Pangeran Diponegoro.

Jadi, alih-alih ‘menobatkan’ Glonggong sebagai novel sejarah, barangkali lebih patut bila buku ini ditimbang sebagai fiksi thriller yang sejak awal tiada henti merancang ketegangan, intrik-intrik politik, siasat dan muslihat yang bikin penasaran. Ketegangan bermula sejak terusirnya Glonggong dan ibunya dari Puri Suwandan. Den Mas Suwanda (ayah tiri Glonggong), pejabat kraton itu malu punya istri yang tiba-tiba berubah jadi tak waras, tak lama setelah dipersuntingnya. Dulu, Ibu Glonggong dibujuk untuk menerima lamaran Den Mas Suwanda dengan memastikan bahwa Ki Sela (ayah kandung Glonggong), prajurit pemberontak itu sudah tewas. Tapi kelak, Glonggong menyadari, cerita perihal tewasnya Ki Sela hanyalah muslihat Den Mas Suwanda untuk meluluhkan hati ibunya. Seseorang memberitahu, Ki Sela masih hidup dan sedang meringkuk di tahanan. Meski tidak tinggal di Puri Suwandan lagi, di mata teman-teman kecilnya, ia tetap pendekar yang sukar dikalahkan dalam perang-perangan dengan menggunakan Glonggong, pedang dari tangkai daun pepaya (karena itu ia digelari Glonggong). Dari Kyai Ngali, ia belajar ilmu agama, juga beroleh cerita perihal seorang kerabat istana yang hidup bersahaja dan menjauh dari kemewahan kraton. Kelak Glonggong tahu, orang itu adalah Kanjeng Pangeran Aria Dipanegara.

Pengarang menghadirkan sejumlah tokoh antagonis dan menempatkannya pada posisi yang ‘seabu-abu’ mungkin. Den Mas Surya, musuh bebuyutan yang pernah mengalahkan Glonggong dalam sebuah perkelahian tiba-tiba berubah menjadi orang baik setelah ia menginjak usia dewasa. Glonggong tak ragu menjadi penunjuk jalan tatkala Surya hendak menyusup ke Puri Suwandan. Ia jadi tahu, ternyata rumah itu sudah dihuni oleh istri muda Den Mas Suwanda, Den Ayu Sekar. Perempuan ini punya anak gadis, Endang namanya, inilah gadis incaran Surya. Ia minta tolong pada Glonggong untuk mengantarkan surat ke kamar tidur Endang. Meski Surya gagal memiliki Endang, persahabatannya mereka terus berlanjut. Ketika gubuk tempat tinggal Glonggong dibakar seseorang tak dikenal, Surya yang menyelamatkannya, meski ibu Glonggong tewas. Surya pula yang membantu Glonggong agar ia dapat bekerja sebagai abdi di Puri Pringgawinatan. Semula, Glongong hanya tukang sapu, tapi kemudian dipercaya menjadi pengawal para priyayi di lingkungan karib kerabat Den Mas Pringga, bahkan kerap mengawal Den Mas Pringga sendiri. Di sini Glonggong mulai menyibak sekian banyak selubung teka-teki, tentang ayahnya yang ternyata masih hidup, tentang tabiat bejat para priyayi yang doyan perempuan, desas-desus tentang perang besar yang bakal pecah, tentang Laskar Dipanegaran yang sedang menyusun rencana perang. Di rumah itu pula Glonggong bertemu Danar, centeng andalan Den Mas Pringga yang berkedok sebagai penjaga perpustakaan di Puri Pringgadinatan.

Ketegangan terus meninggi selepas Glonggong hengkang dari Puri Pringgadinatan, ia bergabung dalam barisan laskar Dipanegaran. Seseorang berupaya menyelamatkan Glonggong dari tangan Den Mas Pringga yang telah bersekongkol dengan kompeni untuk meringkus Pangeran. Sayangnya, penegasan bahwa Glonggong bergabung dalam barisan prajurit Pangeran Diponegoro seperti tertera di sampul belakang buku ini berbeda dengan perjalanan kisah yang sebenarnya. Tak ada satu bagian pun yang menjelaskan bahwa Glonggong terlibat dalam perang. Ia (lagi-lagi) hanya pengawal, mengantarkan barang-barang berharga milik laskar ke suatu tempat rahasia. Puncak ketegangan terjadi saat kereta Glonggong dihadang gerombolan rampok yang ternyata dipimpin oleh Danar. Glonggong berhasil membunuh centeng berjuluk Dasamuka itu. Kelak, seseorang memberitahu, Danar adalah saudara kandungnya. Kekecewaannya sama dengan kekecewaan setelah mengetahui kakak perempuannya, Danti Arumdalu, dipergundik oleh Den Mas Pringga, bekas majikannya sendiri.

Meski Danar sudah tewas, Glonggong tetap kehilangan kereta berisi harta milik laskar. Seseorang menodongkan bedil di kuduknya, ia luka parah dan setelah siuman sudah berada di rumah Rubinem, perempuan yang dikenalnya di rumah pelacuran Ngluwek, saat mencari Danti Arumdalu. Tokoh-tokoh rekaan yang semula tampak abu-abu, perlahan mulai buka topeng, Kyai Ngali yang dulu mendukung Pangeran kemudian membelot ke kraton, begitu pun Surya, Pringga, Danar, bahkan Kyai Sufyan (murid Kyai Maja) yang mengaku telah berkhianat pada Pangeran. Otak perampokan ternyata Den Mas Suwanda. Ia yang menembak Glonggong selepas membunuh Danar, bahkan pelaku pembakaran rumah Glonggong, juga Suwanda. Glonggong berhasil merebut kembali ‘harta karun’ milik laskar itu berkat bantuan Den Ayu Sekar. Tapi, ia gagal menemui Pangeran. Setiba di Magelang, Glonggong melihat Pangeran sudah berada dalam pengawalan ketat serdadu kompeni.

Selain kompleksitas ketegangan yang terus terjaga, intrik politik, siasat dan muslihat para priyayi dalam pusaran sejarah Perang Dipenogoro, sedikit bumbu romantika Glonggong dan Endang, rasanya buku ini tak menjanjikan apa-apa, apalagi pretensi untuk meraih derajat novel sejarah. Ah, mungkin para juri saja yang tergesa hendak menobatkannya...

Tuesday, August 21, 2007

Anjing Pemburu

Cerpen DAMHURI MUHAMMAD


(MEDIA INDONESIA,19 Agustus 2007)


Secepat kilat kepalan tinju mendarat di mulut Ipun, bocah sembilan tahun itu sempoyongan, terhuyung-huyung, hilang keseimbangan, lalu jatuh tersungkur. Piring berisi nasi dingin tanpa lauk yang tadi dalam genggamannya pecah berkeping-keping. Remah-remah tumpah, berserak di lantai. Tapi, ayah belum puas melampiaskan amarah, Ipun yang sudah tertelungkup dengan mulut berdarah, ditendangnya kuat-kuat hingga tubuh cekingnya terguling, menggelinding serupa bola pingpong.

“Ampun, ampun!” pekik Ipun, kesakitan.

Bila ayah sedang marah, aku, ibu, Ipun, dan adik-adik yang lain kerap hanya diam sambil berharap semoga amuk ayah segera reda. Kalau dihadang, ayah bisa lebih buas. Barangkali lebih buas dari binatang-binatang buruan yang selalu hendak ditaklukkannya. Kemarahan ayah pada Ipun seperti kemarahan yang menggelegak tatkala ia sedang berburu babi di hutan. Mungkin karena terlalu sering berburu, bagi ayah, rumah ini seolah-olah hutan penuh belukar, dan kami seumpama hewan-hewan buruan yang selayaknya dicabik-cabik. Seperti tiada beda antara kami dan babi-babi buruan ayah. Bila seekor babi sudah roboh, para pemburu biasanya menyerahkan bangkai itu pada anjing-anjing kesayangan mereka. Tak begitu dengan Ipun, setelah tumbang tak berkutik, ayah masih bernafsu hendak menerkam dan mencekik batang lehernya.

“Sekali lagi kau mencuri makanan Kalupak, kupatahkan lehermu seperti aku mematahkan leher babi,” bentak ayah, makin beringas.

“Ampun, ampun….”

“Diam kau, anak babi!”


Kalaulah bukan karena Kalupak, seekor anjing pemburu yang sepanjang hari melolong dan menggonggong di rumah kami, tentulah Ipun tiada bakal jadi sasaran hantaman kaki ayah. Pagi na’as itu perut Ipun keroncongan alang kepalang, menggigil lulutnya menahan lapar, sementara di dapur hanya ada sepiring nasi dingin yang disiapkan ayah untuk Kalupak. Berani benar Ipun mencuri makanan anjing peliharaan ayah. Akibatnya, muka Ipun jadi bonyok, bibirnya bengkak sebesar limau sundai. Itu imbalan yang setimpal bagi siapa saja yang menelantarkan Kalupak.

“Ayah lebih sayang pada Kalupak daripada anak-anaknya sendiri,” keluhku pada ibu.

“Lebih baik kasih racun serangga saja anjing itu.”

“Anggap saja Kalupak bagian dari keluarga kita,” bujuk ibu.

“Ah, tak sudi aku bersaudara dengan anjing!”

“Sssst….nanti didengar ayahmu.”

Ayah kami pemburu ternama yang sangat disegani di kampung ini. Keberingasan Kalupak saat membunuh babi telah mengangkat martabat ayah sebagai pemburu nomor satu. Belum ada yang mampu menandingi tajamnya pengendusan anjing pemburu itu. Pada setiap perburuan, selalu saja Kalupak yang pertamakali mengendus jejak buruan, yang pertamakali pula memburaikan isi perut babi. Anjing-anjing pemburu lain selalu memangsai buruan yang sebelumnya telah membangkai dalam terkaman Kalupak. Seolah-olah perburuan itu hanya dilakukan oleh anjing pemburu milik ayah semata. Berkat kehebatan Kalupak, ayah telah menjadi penguasa para pemburu. Tanpa Kalupak, ayah bukan siapa-siapa, hanya pecundang malang yang tiada bakal dihormati orang. Maka, jangan sia-siakan hidup Kalupak, jangan coba-coba merampas hak hidupnya. Anjing pemburu itu lebih berharga ketimbang hidup kami yang hanya membebani, tiada memberi arti. Kami hanyalah babi-babi jinak yang bila tiba saatnya bakal dimangsai.

Kalupak bukan anjing sembarangan. Bukan anjing penjaga rumah yang bila tidak diberi makan, bisa makan tai atau sisa-sisa tulang setelah pasar usai. Kalupak anjing mahal, sebidang sawah telah tergadai guna membeli anjing itu. Dua butir telur mentah dicampur susu kental dijatahkan ayah untuk Kalupak tiap hari. Belum lagi obat-obatan khusus yang dioleskan di lubang hidungnya guna mempertajam pengendusan dan shampoo bermerk guna membasmi kutu dan kuman di bulunya. Makin hari Kalupak makin gemuk, gesit larinya, panjang kejarannya. Tak begitu dengan ibu dan kami, anak-anak ayah. Seumur-umur, ibu belum pernah keramas pakai shampoo hingga rambutnya kusut, tak terurus. Sejak bayi, aku dan adik-adik tak pernah minum susu. Kata ibu, kami hanya diberi air tajen, air bekas menanak nasi. Lihatlah, Ipun, Izen dan Iyen, kurus kering, mata mereka mencukam ke dalam, tidak gesit seperti anak-anak lain, larinya lambat, tak bergairah, sekali kena tendang, langsung tumbang.

Tak hanya Ipun, Izen, Iyen dan aku yang kerap dihajar ayah. Ibu sering pula jadi korbannya. Pernah ayah melempari muka ibu dengan kotak sabun mandi. Saking kuatnya ayunan tangan ayah, kotak sabun itu remuk berderai di kening ibu. Waktu itu, Ipun, Izen dan Iyen menjerit melihat darah meleleh di kening ibu. Ketiganya mendekap ibu, membentengi tubuh ibu.

“Bukan ibu yang salah, kami yang mengambil shampoo itu. Hu…hu….hu” mohon Izen, terisak-isak.

“Kami ingin mandi pakai shampoo, buihnya banyak,” dukung Iyen dan Ipun serentak.

“Kami saja yang dihukum. Hu…hu…hu.”

“Diam kalian, anak-anak babi!”

Ayah makin kesetanan, ia belum puas melihat ibu yang sudah bersimpuh di pojok dapur dikelilingi Ipun, Izen dan Iyen yang merasa bersalah telah membuat ibu diamuki. Meskipun mereka telah menghalang-halangi, tetap saja tamparan ayah mendarat di pelipis ibu. Spontan tubuhku terloncat, dan seketika aku berada di antara ayah dan ibu. Kusuruh adik-adik cepat menyingkir. Kutantang sorot mata garang ayah, kujadikan tubuhku sebagai tameng ibu. Ayo, tampar aku, jangan hanya berani pada perempuan, batinku.

“Rupanya sudah berani kau melawan pemburu?” gertak ayah,

“Babi saja bisa melawan, kenapa kami tidak?” ungkapku dalam hati.

Naluri berburu ayah tiba-tiba mengendor. Tergesa ia pergi meninggalkan kami. Padahal aku sudah siap jadi babi buruannya. Rupanya pemburu itu punya rasa takut juga. Kukumpulkan keping-keping kotak sabun yang berserakan di lantai dapur. Kuseka bekas-bekas luka di kening ibu dan kupapah ibu masuk kamar. Kami paham mengapa ayah ngamuk lagi. Shampoo yang disiapkannya untuk memandikan Kalupak dipakai Ipun, Izen dan Iyen buat main keramas-keramasan di kali belakang rumah. Padahal besok Kalupak bakal unjuk taring, ada buru babi besar-besaran. Kurang lengkap rasanya bila Kalupak belum dikeramasi. Ayah tentu malu bila Kalupak menggaruk-garuk di depan anjing-anjing pemburu lain karena kutu-kutu dibulunya belum dibersihkan.

****

Keng, keng, keng, keng, keng, hauk, hauk, hauk…..
Keng, keng, keng, keng, keng, keng………..

Balok kayu peyangga pintu menghantam kepala Kalupak. Anjing itu menyeringai dan menghentak hendak lepas dari rantai yang mengebatnya. Tak terhitung berapakali balok kayu itu kupukulkan tepat di kepala Kalupak. Dalam sekejap, anjing kesayangan ayah itu tergeletak, kepalanya retak. Setelah kuhampiri, ternyata Kalupak sudah tak bernapas. Seperti mimpi saja rasanya, padahal aku benar-benar telah menghabisi seekor anjing pemburu. Kalau memang kami hanya babi-babi jinak yang suatu saat bakal dimangsai, kini seekor babi telah menerkam anjing pemburu. Entah kenapa aku jadi seberani ini. Mungkin karena ketakutanku sudah memuncak. Kata orang, puncak rasa takut adalah berani tiada tanding.

Setiba di rumah, ayah langsung panik, muka bengisnya berkeringat dingin. Dibolak-baliknya tubuh Kalupak yang terkapar dengan lidah menjulur. Bulu di bagian kepala Kalupak menyisakan bercak-bercak merah yang mulai mengering. Langau hijau mengerubungi bangkai itu. Kami terus menyigi ayah yang masih duduk membatu di depan bangkai Kalupak. Entah seperti apa kemarahan yang bakal meledak sesaat lagi. Tak lama berselang, ayah bergegas masuk. Satu tamparan tiba-tiba bersarang di bawah alisku, tubuhku terpelingsut ke dinding, berkali-kali sepak kaki ayah menghantam rusukku. Ia belum puas. Dijambaknya rambutku, lalu dengan sigap tangannya menerkam leherku. Akh….sukar aku bernapas. Cengkraman tangan ayah di leherku tertahan oleh jerit ibu yang sejak tadi menyaksikan upacara penyiksaan itu. Ia berpaling menghadap ibu, keduanya saling bersitatap. Kini, ibu yang menantang keberingasan ayah. Ibu dihajar habis-habisan, dihantam dari belakang hingga tubuhnya terjepit di sela-sela pintu. Kaki ayah yang akan menginjak-injak perut ibu tertahan oleh teriakan Ipun, Izen dan Iyen.

“Kalian memang anak-anak babi, tunggu giliran kalian! ”

“Jangan kuatir, semua babi di rumah ini bakal dapat jatah.”

Aku sudah tak berdaya, berdiri saja tak ada tenaga. Adik-adik pucat mendengar hardikan ayah. Mereka berlindung di samping ibu yang sudah tergeletak sambil merintih kesakitan. Ipun, Izen dan Iyen pun beroleh bogem mentah, jatah dari ayah, satu persatu terkapar. Sunyi seketika. Perlahan aku merangkak ke arah ibu. Lagi-lagi aku mengusap darah segar yang masih meleleh di pipinya. Ipun, Izen dan Iyen tergolek di samping ibu, entah pingsan, entah tertidur. Rasanya upacara ini sudah usai, ayah sudah tak ada. Ibu bangun, merapikan rambut yang acak-acakan, kami duduk berhadap-hadapan.

****

Kini, Kalupak sudah tiada. Entah di mana ayah mengubur bangkainya. Sejak kematian anjing pemburu itu, ayah tak pernah pulang menjenguk kami. Kami yatim, meski ayah belum mati. Lama-lama kami sadari, ada atau tidak adanya lelaki itu di rumah ini, sama saja, tak ada bedanya.

“Sebaiknya kita pelihara anjing pemburu yang baru, supaya rumah ini tidak terasa sepi,” begitu kata ibu suatu hari.

“Ya, tapi kita tebus dulu sawah yang tergadai untuk membeli Kalupak.” bantahku, sambil menatap kerinduan di mata ibu.

***

Kelapa Dua, 2007

Wednesday, August 15, 2007

Bigau

Cerpen DAMHURI MUHAMMAD


(Kompas, Minggu, 12 Agustus 2007)

Semenjak usianya genap 80 tahun, orang-orang Kampung Lekung berkeyakinan, ajal Kurai sudah dekat. Melihat tubuh ringkihnya terkulai letai di atas dipan usang tanpa selimut, barangkali tak akan habis baju sehelai, ia sudah mengembuskan napas penghabisan. Rimba persilatan tentu berkabung sebab kehilangan pendekar paling licin yang pernah ada di Kampung Lekung. Mungkin sudah tiba saatnya, lelaki yang seluruh bagian tubuhnya tahan bacok dan tak mempan peluru itu mewariskan ilmu silat tua, lebih-lebih mewariskan Rantai Celeng yang telah tertanam selama bertahun-tahun di dalam daging paha sebelah kirinya. Sebelum terlambat, sebelum mayatnya dibenam ke liang lahat, sebaiknya Kurai segera menentukan siapa yang pantas menjawab hak waris barang keramat itu.

"Harganya lebih mahal dari harga diri Kurai sendiri," begitu luapan kekesalan seorang cukong barang antik yang datang ke Kampung Lekung tapi ditolak mentah-mentah oleh Kurai.

"Bujuk tua bangka itu, agar mau mewariskannya pada salah seorang di antara kalian! Itu bila kalian tidak ingin melarat seumur-umur."

"Jaga mulutmu, kau bisa mati berdiri sepulang dari sini. Enyahlah! Itu kalau kau masih ingin melihat matahari besok pagi," gertak Candung, anak muda kampung Lekung, penguasa lahan parkir di kota kabupaten. Ia pulang menjenguk Kurai yang dikabarkan mulai sakit-sakitan.

"Sekali lagi kau meremehkan Kurai, kujamin kau pulang dengan hidung disumpal kapas."

Kurang tepat bila benda itu dinamai rantai, karena bentuknya bulat melingkar, hampir menyerupai cincin. Tapi, tidak patut pula disebut cincin, sebab diameternya terlalu besar untuk ukuran jari tangan manusia. Disebut rantai, mungkin karena orang-orang membayangkan bila logam menyerupai ring itu dihubungkaitkan dengan logam sejenis, dalam jumlah banyak tentu akan membentuk seutas rantai. Menurut para tetua kampung, Kurai berhasil menggondol Rantai Celeng seusai menyabung nyawa dalam pertarungan melawan celeng berbulu putih sebesar anak kerbau jantan yang keganasannya sudah menjadi kisah turun temurun. Binatang yang dipercaya sebagai raja celeng itu berkali-kali menubruk rusuk Kurai dengan kecepatan melebihi kemampuan celeng biasa. Bila kurang awas, taring sepanjang satu setengah jengkal itu tentu sudah menikam ulu hati dan membuat usus-usus Kurai berhamburan keluar. Semua jurus tangkis dikerahkan Kurai, sesekali tubuhnya terloncat ke atas dahan pohon jirak saat posisinya terdesak, kali lain ia berayun serupa siamang, lalu dalam sekejap mata sudah berdiri di atas punggung celeng tua yang tengah mengamuk itu. Kurai sengaja membuat bermacam-macam gerak tipu, memancing agar celeng terus menyerang, hingga tiba saatnya kehabisan tenaga. Dan benar, begitu serudukannya mulai melemah, sigap tangan Kurai merenggut logam kuning gelap berbentuk bulat melingkar yang tersangkut di salah satu taringnya. Ia berhasil merebut Rantai Celeng yang konon di situlah letak kekuatan celeng itu. Ini hanya satu serpihan cerita perihal kehebatan Kurai tatkala merobohkan raja celeng dan membuat pendekar itu tersohor sampai ke pelosok-pelosok.

Riwayat lain menuturkan, setelah Kurai menumbangkan binatang itu, ia belum sepenuhnya menguasai Rantai Celeng, karena tiba-tiba ia dihadang makhluk berperawakan ganjil. Meski masih menyerupai manusia, tapi tinggi badan makhluk itu hanya sepinggang Kurai dan kedua tumitnya menghadap ke depan, sedang jari-jari kakinya menghadap ke belakang, berkebalikan dengan bentuk kaki manusia biasa. Orang-orang menamainya; Bigau, makhluk jadi-jadian, penjaga babi-babi liar di hutan Kampung Lekung. Suatu masa di musim berburu, tak seekor babi pun ditemukan, ketajaman pengendusan anjing-anjing pemburu tak mempan melacak jejak. Tapi kegagalan itu dianggap lazim, para pemburu akan mempercayai bahwa gerombolan babi tengah disembunyikan oleh Bigau. Jadi, masuk akal bila seusai pertarungan paling melelahkan itu, Kurai dihadang Bigau, meski tak ada yang tahu apa yang terjadi setelah keduanya saling bersiap, pasang kuda-kuda. Orang-orang tergesa mengambil langkah seribu, ketakutan melihat rupa buruk Bigau yang sebelumnya hanya didengar dari cerita di kedai-kedai kopi.

Jangan dibayangkan Kurai membedah paha kirinya dengan pisau, lalu menanam Rantai Celeng di dalamnya, kemudian menjahit belahan itu kembali sebagaimana pekerjaan dokter bedah. Tidak! Kurai melakukannya tanpa mengeluarkan darah, lebih kurang seperti orang menanam susuk di salah satu bagian tubuh perempuan, tanpa harus merasakan perih dan sakit.

Mereka yang ingin memiliki Rantai Celeng tak mau pusing dengan urusan nama, apakah benda ajaib yang bikin Kurai jadi kebal itu layak disebut cincin ataukah rantai? Yang pasti, telah ada kesepakatan diam-diam, bahwa barang keramat yang kini bersarang di tubuh pendekar itu adalah benar Rantai Celeng. Kurai tidak hanya masyhur sebagai satu-satunya pewaris silat tua, tak hanya tangkas menangkis serangan musuh, lelaki yang tahan membujang sampai gaek itu juga kebal senjata, dan karena itu jurus-jurus tangkisnya tidak terlalu berguna lagi. Untuk apa menangkis serangan lawan, tiada senjata yang mempan lukai tubuhnya.

Suatu hari di musim petai, seorang anggota tim buru sergap melepas tembakan saat mengejar peladang ganja yang diduga bersembunyi di hutan tempat Kurai biasa mencari petai rimba. Kurai yang sedang terbungkuk-bungkuk mengumpulkan buah petai yang baru saja dipanjatinya dikira peladang ganja yang akan mereka ringkus, timah panas bersarang di kuduk lelaki itu. Tapi Kurai hanya merasa ditimpa kencing tupai, perlahan ada sesuatu yang terasa dingin di punggungnya, karena geli Kurai menyentuhnya. Ternyata cairan itu bukan kencing tupai, tapi peluru yang sudah leleh. Polisi berpangkat sersan mayor itu terbirit-birit seperti dikejar hantu, meremang semua bulu di badannya setelah menyaksikan peluru meleleh di punggung lelaki pemetik buah petai. Saat masih terengah-engah ia bersumpah tak bakal menginjakkan kaki di hutan celaka itu lagi. Sejak itu, orang-orang Kampung Lekung bebas membuka ladang ganja, sebebas menanam jagung atau tembakau. Para peladang membiarkan Kurai memetik daun ganja sepuasnya. Ia mau menggelek hingga mabuk tiga hari tiga malam pun mereka tak peduli. Nyatanya, seberapa pun banyaknya lintingan ganja digasak Kurai, tak sekalipun ia mabuk dibuatnya. Rupanya Kurai tak hanya kebal senjata, tapi juga kebal dari mabuk ganja.

"Rantai itu mau dibawa mati?" kelakar Candung, centeng lahan parkir yang selalu mengaku cucu Kurai lantaran kerap mengirimkan pendekar itu minuman keras murahan merek T.K.W, meski Kurai tak pernah teler dibuatnya. Menenggak minuman keras sama dengan berkumur-kumur tiap bangun pagi bagi Kurai. Rupanya ia tak hanya kebal senjata dan kebal mabuk ganja, tapi juga kebal dari mabuk minuman beralkohol, jangan-jangan juga kebal dari mabuk buah kecubung.

"Siapa yang bakal mewarisinya? Sebaiknya lekas diputuskan, agar kelak tidak jadi sengketa." bujuk Candung lagi.

"Aku masih menunggu!"

"Menunggu? Menunggu mati? Tidakkah cucumu ini orang yang beruntung itu?"

Kurai tak bergairah menjawab pertanyaan bodoh si cucu gadungan itu. Sejak mula ia mencium gelagat jahat Candung. Penguasa lahan parkir yang kabarnya sedang terancam oleh musuh-musuh bersengat itu tidak tertarik hendak berguru ilmu silat tua pada Kurai. Ia ingin mentahnya saja; kebal senjata, tahan celurit, tak mempan pistol. Selain akan membuat musuh-musuhnya bertekuk lutut, Candung hendak memperlebar sayap kekuasaan, bila perlu hengkang dari kota kabupaten, mencaplok lahan parkir di kota-kota besar. Tak perlu gamang bila Rantai Celeng sudah dalam genggaman.

Para kolektor barang antik belum sepenuhnya percaya kalau pendekar pemetik petai benar- benar memiliki Rantai Celeng, sebab rantai itu bukan sembarang peliharaan. Dalam setahun, sekurang-kurangnya tiga kali benda itu mesti didarahi dengan menyembelih kambing jantan di malam terang bulan. Penyembelihan dipersembahkan untuk Bigau, si penjaga celeng. Sekali syarat itu diabaikan, Rantai Celeng tiada bakal ampuh lagi, kekuatannya akan diisap Bigau. Bagaimana mungkin Kurai mampu melakukan tirakat penyembelihan tiga ekor kambing dalam setahun, sementara hidupnya hanya mengandalkan petai rimba yang kadang berbuah, kadang tak bersisa dimakan beruk. Kalaupun ia masih menyimpan Rantai Celeng, tentu keampuhannya sudah hilang, atau pendekar itu sudah menyerahkannya kembali pada Bigau. Tapi, dugaan itu tidak sepenuhnya benar. Mereka tidak pernah tahu betapa berterima kasihnya para peladang ganja pada Kurai. Selagi ia masih hidup, tak bakal ada yang berani membakar ladang-ladang mereka. Itu sebabnya, secara bergilir mereka menyediakan seekor kambing jantan bila tiba saatnya Rantai Celeng harus didarahi. Apa pun sanggup mereka lakukan demi kedigdayaan Kurai, orang yang telah membuat mereka seperti kejatuhan durian runtuh. Jangankan kambing jantan, kerbau jantan pun mereka sanggupi, asal ladang-ladang ganja aman dari kejaran.

****

Kurai mulai resah, bukan karena sesak napasnya kambuh, tapi karena teringat perjanjian dengan Bigau selepas perkelahian mati-matian puluhan tahun silam. Makhluk jadi-jadian itu memang tidak mampu merebut Rantai Celeng di genggaman Kurai, tapi Bigau mengancam, bila Kurai nekat menggondol Rantai Celeng, sawah-sawah di wilayah Kampung Lekung tidak akan bisa dipanen. Bila sawah-sawah mulai menguning, Bigau akan menghalau gerombolan babi liar guna mengobrak-abrik dan membucuti setiap rumpunnya. Buah padi akan ludes sebelum sempat dituai. Paceklik bakal menimpa Kampung Lekung dan tidak akan berhenti selama Rantai Celeng masih bersarang di tubuh Kurai. Itu sebabnya, para petani tidak bersemangat lagi menggarap sawah, mereka membuka lahan baru dalam hutan, menggarap ladang-ladang terlarang.

"Jadi, siapa orang yang beruntung itu?" tanya Candung lagi, kali ini penuh harap.

"Bigau!" balas pendekar gaek itu, dan tak lama kemudian sesak napasnya kambuh.


Kelapa Dua, 2007

Thursday, August 02, 2007















Sintren, Riwayatmu Kini…


Oleh : DAMHURI MUHAMMAD

Data Buku : Sintren -novel, karya Dianing Widya Yudhistira, Jakarta : Grasindo, 2007

(Kompas, 30 Juli 2007)

Bilamana tabiat para sastrawan hanya sekadar menjalankan laku mimetik dan menggambarkan wajah realitas sebagaimana yang "tersurat" saja (bukan tersirat), karya sastra tentu saja bakal segera menjemukan, lekas lapuk dimakan waktu. Lagi pula, laku peniruan sukar dipertanggungjawabkan sebagai kerja kreatif yang selalu saja menyimpan obsesi-obsesi literer. Maka, pergulatan melahirkan karya sastra semestinya bergeser dari sekadar tiru-meniru realitas menjadi sebuah "ikhtiar" menciptakan realitas baru, bila perlu dengan cara meloncati atau "melampaui" realitas usang, merangsek masuk ke lorong-lorong permenungan yang tidak berhasil ditembus oleh para filsuf.

Barangkali, di titik inilah letak perbedaan antara jalan sastra dan jalan filsafat. Bila tradisi berpikir diskursif-spekulatif di medan filsafat senantiasa mengayuh biduk menuju hulu, tempat kebenaran bersemayam, sastra justru bersitungkin menggali lubang-lubang kemungkinan sebanyak mungkin agar pencarian itu tidak berlabuh pada wujud kebenaran yang bulat, dan tidak melulu tertumpu pada arche transendental yang tunggal dan tak sumbing sebagaimana yang hendak digenggam oleh filsafat. Filsafat begitu bernafsu dan menggebu-gebu ingin menggapai "semesta kepastian", sebaliknya, sastra malah tekun membukakan pintu-pintu "keserbamungkinan".


Watak literer yang terobsesi hendak membangun (setidaknya menawarkan) dunia baru dalam sastra sangat terasa pada novel Sintren, karya novelis muda Dianing Widya Yudhistira ini. Ia mempertentangkan dua sisi realitas dalam posisi saling membelakangi. Realitas pertama adalah dunia keseharian Saraswati, murid SD berparas ayu tapi terlahir dari keluarga miskin. Pada jam istiharat, ia lebih suka membaca buku di ruang kelas, sementara kawan-kawannya menghambur-hamburkan uang jajan di kantin sekolah. Jangankan beroleh uang jajan dari Mak, uang sekolah saja sudah menunggak tiga bulan. Kemiskinan itulah yang membuat ia selalu tergesa-gesa melucuti seragam seusai jam sekolah, lalu bergegas ke Klidang, membantu Mak yang bekerja sebagai buruh penjemur ikan.

Sementara realitas kedua adalah ruang dan waktu suprainderawi yang diselami Saraswati tatkala gadis bau kencur itu harus tampil sebagai penari sintren. Tubuhnya dibebat dengan berlapis-lapis pakaian, lalu diikat erat-erat dengan tali yang melilit sekujur badan sebagaimana kerap dijumpai dalam atraksi sulap tingkat tinggi, setelah itu ia dimasukkan ke kurungan ayam.Tak lama kemudian, Mbah Mo mulai melafalkan mantra-mantra gaib, hingga datanglah serombongan anak kecil menghampiri Saraswati. Mereka akan segera merasuki raga Saraswati untuk kemudian dilenggak-lenggokkan serupa anak-anak kecil sungguhan bermain boneka. Penonton bertepuk tangan dan bersorak sorai kegirangan menyaksikan sintren yang tiba-tiba muncul dalam keadaan sudah berdandan ala penari, memancarkan aura kecantikan yang membuat mata para lelaki enggan berkedip, pinggang langsing Saraswati meliuk-liuk, sampai tiba saatnya menagih saweran. Padahal, sesungguhnya, Saraswati tidak beranjak ke mana- mana, ia tetap duduk diam dalam kurungan, bahkan ikut pula menyaksikan lentik jemarinya berayun-berayun gemulai seiring irama gendang.


Peristiwa metafisis tatkala Saraswati menjadi sintren inilah yang dapat disebut sebagai salah satu lubang "keserbamungkinan" hasil galian pengarang dalam rangka membangun dan menawarkan realitas baru. Boleh jadi tidak ada pretensi pengarang untuk menonjolkan salah satu sisi dari dua dunia yang saling membelakang bulat itu.
Tetapi, "diam-diam" kekuatan teks seolah menyuarakan bahwa pengalaman supranatural dan adikodrati yang dialami Saraswati adalah sungguh-sungguh nyata. Senyata peristiwa ketika gadis kecil itu dipaksa menerima lamaran Kirman, anak juragan Wargo, di usia yang belum genap empat belas tahun (meski pernikahan itu gagal), senyata kemelaratan yang tak jemu-jemu menimpa keluarganya. Ketakmujuran itu pula yang membuat Saraswati terpaksa menjadi sintren agar ia tetap bisa sekolah. Membiayai sekolah dengan uang saweran.

Dunia sintren memang dunia gaib, asing dan tak kasatmata, selayaknya dunia pesugihan yang selalu menghendaki tumbal. Tumbal paling mula tentulah si penari itu sendiri. Betapa tidak? Sejak jadi penari sintren, Saraswati dengan lapang dada harus menerima kenyataan bakal kerasukan setan di setiap penampilan, harus pula pasrah pada "takdir" sintren yang cantik alang kepalang, tapi pantang disentuh laki-laki sebab dunia sintren menghendaki keperawanan abadi, tiada seorang laki-laki pun yang boleh menjamah tubuhnya. Tumbal selanjutnya tentu saja para lelaki yang mabuk kepayang dan tergila-gila ingin mempersunting Saraswati. Lihatlah riwayat peruntungan Dharma, Warno, Royali, dan Sumito, empat laki-laki yang pernah nekat mempersunting Saraswati, semuanya mati mengenaskan sebelum sempat mencicipi ranum tubuh sintren paling masyhur di Kampung Batang itu.

Namun, Saraswati sudah kadung menjatuhkan pilihan, tidak bakal sanggup ia melarikan diri dari kurungan gaib itu, mustahil ia berhenti jadi penari sintren. Saraswati siap menanggung segala akibat dari pilihannya, siapa melompat siapa jatuh. Sampai di titik ini, realitas yang tidak kasatmata telah menjelma dunia yang sesungguhnya, sementara keseharian Saras dengan Wati, Sinur dan teman-teman sekolahnya seolah-olah tidak nyata, seakan-akan fiksi belaka, begitu juga kesehariannya dengan Mak, Bapak, Lik Wastini, Lik Menur, dan juragan Wargo. Itu sebabnya Saraswati dengan berat hati menolak lamaran Sinur. Menerimanya sama saja dengan mempercepat kematian laki-laki pujaannya itu. Saraswati berusaha memercayai gejolak cintanya kepada Sinur adalah angan-angan saja, tidak nyata, karena yang paling nyata bagi gadis itu adalah dirinya sintren yang telah menelan banyak korban.


Hampir separuh dari kisah yang disuguhkan buku ini menyiratkan semacam kerinduan pada tarian sintren yang perlahan-lahan mulai punah di Batang, kampung kelahiran Saraswati. Dan separuhnya lagi menampakkan kelegaan setelah kematian Saraswati, pangkal segala bala, biang segala tumbal, musabab segala sial.

Laku bertutur Dianing memang tidak terlalu menggiurkan, datar, bersahaja, dan tidak pongah mempermainkan bentuk sebagaimana perilaku novelis muda lainnya. Alurnya lempeng, gampang ditebak, tidak berpilin-pilin. Tapi, justru dalam kesederhanaan itu keistimewaan novel ini mengemuka.

Meskipun pilihan tematiknya terbilang berat, setidaknya memerlukan penghayatan dan kepekaan tingkat tinggi, Dianing berhasil mengangkat sintren dengan menggunakan point of view masa kanak-kanak. Ia menghayati sintren seperti merindukan kenangan masa kecil yang begitu mengasyikkan.

Di tangan Dianing, jelajah prosaik yang "asing" sekalipun ternyata dapat tergarap dengan laku penuturan yang lugas dan terang-benderang sehingga buku sastra tidak melulu dinikmati oleh peminat sastra belaka, tapi juga digandrungi peminat buku-buku fiksi umumnya.

Barangkali, kebersahajaan dalam merancang kisah macam inilah yang selama ini terabaikan dalam kerja kreatif novelis-novelis kita yang kerap sumringah hendak melahirkan teks sastra simbolik, metaforik, bila perlu (sengaja) dirumit-rumitkan. Tapi, celakanya, sebagian besar buku sastra hanya dapat digauli oleh peminat sastra yang jumlahnya tak seberapa, seperti cemoohan bahasa iklan; jeruk makan jeruk…

Tuesday, July 24, 2007

Gasing Tengkorak

Cerpen DAMHURI MUHAMMAD


(Suara Merdeka, minggu 22 Juli 2007)


Jangan coba-coba meludah di hadapan lelaki itu! Ia memang buruk rupa, muka kusut, mata juling, gigi kuning, mulut bau tembakau murahan, hanya satu dua orang yang tahan duduk lama-lama di dekatnya. Tapi jangan lupa, ia punya Gasing Tengkorak. Bila ia mau, semua perempuan di kampung ini bisa jadi bininya, tak peduli gadis belia, janda kembang atau bini orang. Bila Gasing Tengkorak sudah berkehendak, tak bakal ada perempuan yang menolak. Siapapun bakal takluk, tergila-gila pada tukang panjat pohon kelapa itu. Gasing bukan sembarang gasing. Bila lelaki itu sudah membaca mantra teluh sambil menggasing di malam buta, perempuan yang dituju akan terjaga, badannya serasa sedang direbus, panas alang kepalang, uring-uringan dan mulai menggigau, Dinir, Dinir, jadikan aku istrimu! Besok pagi, perempuan itu akan bergegas mencari Dinir, lalu bermohon ; Dinir, Dinir, jadikan aku istrimu!

Begitulah kejadian yang menimpa Nurmala, gadis muda yang baru saja menyelesaikan kuliah di kota. Setelah menyandang gelar sarjana, Nurmala pulang kampung minta doa restu mak dan bapak. Ia sudah mengajukan lamaran kerja, semoga mak dan bapak ikut berdoa, agar Nurmala diterima. Selain itu, Nurmala juga membawa kabar gembira bahwa sudah ada laki-laki yang berniat mempersuntingnya. Syamsudin nama kekasihnya itu, dokter muda yang kini bertugas di kota. Bila mak dan bapak merestui, keluarga Syamsudin bakal datang melamar Nurmala. Mujur benar nasib Nurmala. Sudah sarjana, akan segera bekerja, dan bakal dapat jodoh pula. Tapi, petaka muncul tiba-tiba. Suatu pagi, Dinir, tukang panjat pohon kelapa dipanggil ke rumah. Mak dan bapak hendak menggelar syukuran sederhana, karena anak gadis mereka sudah jadi sarjana, indeks prestasinya memuaskan pula. Untuk acara masak-memasak mak butuh buah kelapa. Setelah buah kelapa berjatuhan dari pohon belakang rumah, Dinir menyelunsu turun serupa Beruk. Tak sengaja, mata liarnya melirik Nurmala yang sibuk mengumpulkan buah kelapa.

“Rupanya tak hanya buah kelapa yang sudah matang. Anak perempuan di rumah ini sudah patut pula kiranya.” kata Dinir sambil membetulkan simpul tali pengebat celananya.

“Jangan banyak cakap! Angku cuma tukang panjat.” sela Nurmala, angkuh.

“Jangan kasar begitu, dinda! Awak cuma bercanda.”

“Angku cuma tukang panjat, seperti Beruk. Jangan ganggu anak gadis orang!” gerutu Nurmala lagi.

“Ketemu orang bersengat awak rupanya. Mukamu rancak, tapi muncungmu bercirit.”

Tak hirau Dinir pada upah panjat yang belum diterima. Tergesa ia meninggalkan tempat itu. Seolah ada yang baru saja menampar mukanya. Mentang-mentang bersekolah di kota, Nurmala seenaknya menghina tukang panjat seperti dirinya, disamakan dengan Beruk pula. Dinir sudah berusaha sabar, tapi kata-kata Nurmala terngiang-ngiang terus di telinganya. Siapa melompat siapa jatuh. Agaknya Gasing Tengkorak bakal berputar nanti malam. Tunggulah Nurmala, sebentar lagi tukang panjat pohon kelapa akan memanjat tubuhmu, Dinir membatin.

Tatkala orang-orang kampung masih melungkar tidur, mak dan bapak kelimpasingan, tak tahu harus berbuat apa. Nurmala anak gadisnya tiba-tiba bertingkah ganjil, seperti orang kesurupan setan. Menggelinjang-gelinjang kepanasan, berguling-guling di tempat tidur. Mula-mula selimut dicampakkanya, bantal guling dibantingnya. Nurmala masih tidak tahan panas, daster pun ditanggalkan, hingga tubuhnya telanjang bulat. Sebesar biji jagung peluh di kuduknya. Tak lama kemudian, Nurmala menyeracau, Dinir sayang, Dinir sayang, datanglah, datanglah! Dinir sayang, Dinir sayang, datanglah, datanglah! begitu berulang-ulang. Wakbai, dukun hebat yang konon belum ada tandingannya dijemput malam itu juga. Semula, mak dan bapak menduga Nurmala hanya mimpi buruk. Tapi, setelah wajahnya disembur air yang keluar dari mulut Wakbai, ia masih saja bertingkah ganjil seperti orang kesurupan. Makin menjadi-jadi. Nurmala menyeringai sambil meronta-ronta, antarkan awak ke ke rumah Dinir, antarkan awak ke rumah Dinir!

“Dinir? Apa salahmu pada tukang panjat itu?” tanya mak.

“Antarkan awak ke rumah Dinir, antarkan awak ke rumah Dinir!”

Wakbai geleng-geleng kepala. Dukun masyhur itu angkat tangan. Rupanya ia berhadapan dengan kekuatan pukau Gasing Tengkorak. Dari siapa lagi muasalnya kalau bukan dari Dinir. Wakbai keok. Tak punya nyali melawan guna-guna Dinir.

“Segera temui Dinir! Mungkin anakmu buat kesalahan pada tukang panjat itu. Minta maaf!”

“Pukau Gasing Tengkorak tak ada tandingannya.”


Tak tercegah, Nurmala akhirnya jatuh ke tangan Dinir. Kesalahannya tak terampuni. Nurmala harus membayar dengan menjadi istri kelima. Upah panjat memang tak sempat diterima Dinir, tapi bukankah tubuh Nurmala imbalan yang tak ternilai? Mak dan bapak tiada punya pilihan. Banyak dukun didatangkan untuk menghadang pukau Gasing Tengkorak. Tapi, semuanya menyerah. Mak dan bapak pasrah, merelakan anak gadisnya dipersunting Dinir. Apa boleh buat. Bila dicegah, Nurmala bisa gila selamanya. Maka, jadilah mak dan bapak bermenantu lelaki bergigi kuning, bermata juling. Sudahlah, mungkin Dinir memang jodohnya Nurmala, kata mak.

****

Kini, Nurmala sudah lupa peristiwa malam itu. Lupa kalau ia harus kembali ke kota, memenuhi panggilan kerja. Lupa pada Syamsudin yang hendak melamarnya.Yang ia tahu hanya Dinir, suami tercinta, ayah empat orang anaknya. Dua laki-laki, dua perempuan. Yang perempuan mukanya mirip Dinir, sedang yang laki-laki wajahnya mirip Nurmala.

Lama kelamaan, Rukaya, Saanih, Simatukila, Sansida dan Nurmala (lima istri Dinir) jadi tahu, ternyata Gasing Tengkorak itu benar-benar dibuat dari tengkorak manusia, tengkorak kepala bayi laki-laki tepatnya.Ukurannya tidak sebesar tengkorak orang dewasa, hanya sebesar kepalan tinju. Sebab, mayat yang digali dari kuburan itu mayat bayi yang mati di usia tujuh hari, dan konon, bayi itu mati berdarah. Sisi kanan dan kiri tengkorak itu dilubangi, masing-masing dua lubang sebesar buah rimbang. Di kedua lubang itulah dimasukkan tali gasing yang sebelumnya sudah dibelit benang tujuh rupa, jadilah Gasing Tengkorak. Bukan Dinir yang menggali kubur, ia hanya beroleh cerita. Dinir mewarisi gasing ajaib itu dari kakek-buyutnya. Ia diajari mantra teluh, juga diberitahu pantangan-pantangan yang harus dihindari selama ia masih ingin memelihara Gasing Tengkorak itu. Bila Dinir patuh pada pantangan, kekuatan pukau Gasing Tengkorak tiada bakal tertandingi. Dan benar, sejak memiliki Gasing Tengkorak, Dinir tak hanya piawai memanjat pohon kelapa sebagaimana pekerjaannya sehari-hari, tapi juga lincah memanjati tubuh perempuan.

“Bawalah gasingmu ke kota? Pasti banyak yang butuh.” bujuk Nurmala suatu hari.

“Ada-ada saja awak tu, siapa pula yang mau?”

“Banyak laki-laki patah hati di sana. Kau bisa kaya kalau mau bantu mereka.”

“Bagaimana caranya?”

“Kucarikan kau pelanggan.”

“Kalau mereka mau, datang saja ke sini.”

“Dari mana pula mereka tau, kalau kau punya Gasing Tengkorak?"

“Ke kotalah, kalau mau kaya!”

Rayuan Nurmala didukung Rukaya, Saanih, Simatukila dan Sansida. Lama-lama Dinir tergoda juga. Nurmala berhasil membawa Dinir dan Gasing Tengkorak itu keluar dari kampung ini. Sementara istri-istri Dinir yang lain berharap semoga suami mereka beroleh celaka di kota. Agar mereka bebas dari pasungan lelaki itu. Diam-diam mereka mulai berontak. Betapa tidak? Dinir tak pernah memberi nafkah untuk menghidupi anak-anak. Dasar tukang panjat, Dinir hanya bisa memanjat tubuh istri-istrinya. Setelah beranak-pinak seperti kucing, Dinir membiarkan mereka begitu saja. Untunglah, Rukaya, Saanih, Simatukila, dan Sansida orang-orang berada. Justru mereka yang menafkahi Dinir. Anehnya, mereka sudah menyadari kebodohan itu selama bertahun-tahun, tapi mereka tak kunjung lepas dari pukau Gasing Tengkorak. Mengajak Dinir ke kota mungkin hanya muslihat istri-istrinya, agar tidak ada lagi korban-korban Gasing Tengkorak berikutnya. Cukup mereka saja. Bila Dinir terus berada di kampung ini, bisa-bisa semua gadis dimakannya bulat-bulat.

Semula, memang banyak laki-laki yang tertarik menggunakan jasa Dinir. Ada yang sekedar ingin punya istri baru, supaya ada variasi. Ada pula yang benar-benar patah hati karena cintanya ditolak, entah karena melarat, entah karena ketahuan sudah punya istri. Mereka menjanjikan bayaran menggiurkan, tentu bila Dinir berhasil membuat perempuan-perempuan pilihan mereka bertekuk lutut dan minta dikawini. Sementara itu, Nurmala mulai membeberkan bahwa Dinir, suaminya itu, menyimpan tengkorak kepala manusia yang digalinya dari kuburan, entah di mana, ya tengkorak bayi yang mati berdarah.
Jonatan, salah seorang pelanggan, mulai meragukan kehebatan Dinir. Ia sudah membayar mahal, tapi Karina, perempuan idamannya tidak mengalami kejadian apa-apa. Padahal, hampir tiap malam Dinir memutar Gasing Tengkorak yang mantra teluhnya ditujukan pada perempuan itu.

“Bila perempuan itu tak bisa kau taklukkan, kulaporkan kau ke polisi.”

“Tuduhannya jelas, kau menyimpan tengkorak bayi. Bisa-bisa kau tertuduh sebagai pembunuh.” ancam Jonatan.


Dinir pucat. Tangannya gemetar. Tapi, Nurmala senang bukan main. Jebakannya berhasil menjerat Dinir. Tunggu petakamu, Dinir!

Tak lama berselang, Gasing Tengkorak itu disita sebagai barang bukti kejahatan Dinir. Dinir meringkuk dalam tahanan. Nurmala dan anak-anak melenggang pulang. Tapi, ia tak bisa melupakan Dinir, lelaki yang telah mengguna-gunai itu. Begitu pula Rukaya, Saanih, Simatukila dan Sansida. Mereka malah sering berkunjung ke kota, membawakan makanan kesukaaan Dinir. Di mata anak-anaknya (kalau tidak salah jumlahnya delapan belas), Dinir tetaplah ayah yang mereka rindukan. Belakangan, Nurmala menyesal telah menjebak suaminya. Cintanya pada lelaki bermata juling itu makin membara. Sejak Dinir ditahan, makannya tak enak, tidurnya tak nyenyak. Kini, Nurmala mati-matian berusaha membebaskan Dinir dari tahanan. Sabarlah suamiku, kita akan berkumpul kembali seperti dulu…

Kelapa Dua, 2007
Anak Bapak


Cerpen DAMHURI MUHAMMAD


(Pikiran Rakyat, Sabtu 21 Juli 2007)

(1)

Seolah ada tangan-tangan gaib yang tengah sibuk menggaruk-garuk daging di dada tipis bapak. Geli campur nyeri, sedikit perih. Makin kencang garukan itu, makin geli rasanya.Lalu gundukan daging kedua belah dada bapak berangsur-angsur mengembang. Seperti ada yang bergerak dan menyentak hendak menyembul keluar, hingga kedua bulatannya menegang dan membesar serupa balon ditiup pelan-pelan. Begitu juga putingnya, makin mekar. Montok serupa buah kelimunting matang. Kenyal dan setengah basah.

Jangan risau, nak! Tak akan lama kau tersiksa! Lihatlah, sebentar lagi Bapak bakal punya payudara. Kau meneteklah sepuasnya! Tak perlu mimik botol lagi. Bila haus, menyeruduk saja ke dada bapak. Ngangakan mulut, kenyotlah! Bila perlu sampai kempot. Kau suka yang mana? Kiri atau kanan? Setiap hari Bapak menyantap sayuran bergizi tinggi, agar kandungan susu Bapak melimpah. Supaya kau cepat besar. Sekarang, diamlah! Jangan menangis terus. Anak Bapak tak boleh rewel. Agar kelak, tidak manja. Jangan terlalu berharap air susu ibumu. Tak ada air susu ibu, air susu dari payudara Bapak yang baru tumbuh ini pun jadi. Toh, sama-sama air susu manusia. Bukan air susu sapi. Sabar ya, ini sudah bengkak. Pasti sebentar lagi airnya muncrat. Boboklah dulu!

Sejak kelahiranmu, Bapak kerap berpikiran ganjil. Saat ibumu tidur pulas, ingin sekali Bapak memotong dua payudaranya, lalu Bapak pasangkan di dada bapak. Masih disebut perempuankah ibumu bila tak punya payudara lagi? Masih ibukah namanya bila ia tidak mau menyusuimu? Dulu ibumu seperti kebelet pingin anak. Hidupku sunyi bila tak ada suara bayi, begitu katanya. Tapi setelah kau lahir, jangankan merawat, menyusuimu saja ia keberatan. Bukan aku tak mau, tapi tak punya waktu. Kasih saja susu formula! Isapannya bikin payudara jadi lembek, dalih ibumu lagi. Apa bedanya kau dengan ternak bila yang kau minum susu sapi? Untunglah kini Bapak punya payudara. Tengoklah, bulatannya makin padat. Tentu isinya air susu. Kau tak bakal minum susu ternak lagi. Tapi, masih bapakkah namanya bila punya payudara? Masih laki-lakikah Bapak bila kau menetek pada Bapak?

"Ngeyaaaaak, ngeyaaaaaaak, ngeyaaaaaaaak…..!"

Lho, kok nangis lagi? Kau tak suka Bapak punya payudara? Apa kelihatannya janggal? Tak apa-apalah. Yang penting kau sehat dan cepat besar. Emangnya cuma perempuan yang bisa menyusui? Bapak juga bisa! Bapak telah menjelma perempuan. Menggendongmu, memandikanmu, ganti popok, gurita, dan bedong bila ngompol, bersihkan e'ek dan kini juga, menyusui. Kalau begitu kenapa kau tak lahir dari rahim Bapak saja? Kenapa bukan Bapak yang hamil? Bapak pula yang menahan sakit saat melahirkan. Biar lengkap wujud Bapak sebagai perempuan. Siapa tahu Bapak juga punya rahim dan bisa melahirkan. Tapi, dari mana keluarnya? Tak ada jalan keluar bayi di organ vital bapak. O iya, bukankah bisa dioperasi caesar? Zaman sudah maju, melahirkan anak tak perlu lewat jalan keluarnya. Dibedah juga bisa. Tapi, masih disebut lahir jugakah bila kau tak terpacak di jalan yang semestinya? Bila kau keluar dari perut, bagaimana cara Bapak menentukan waktu kelahiranmu?

Nah, ini sudah muncrat. Minumlah! Jangan rewel. Ibumu tak suka anak rewel. Pusing kepalaku mendengar tangis bayi, katanya. Lho, bayi memang bisanya cuma nangis. Bahasamu, ya eyak-eyak itu! Berisik, tapi Bapak tak merasa pusing kalau kau nangis. Begitulah dunia bayi. Mau mimik nangis, mau tidur nangis, ngompol nangis, mandi nangis, kegerahan nangis. Ibumu kok pusing? Dikiranya anak baru lahir langsung bisa ngomong, begitu? Atau langsung berdiri dan lari-lari? Repot sekali punya anak, katanya. Wah, kalau tak mau repot, jangan beranak!

(2)

Apa-apaan ini? Dadamu kok membusung seperti semangka begitu? Doa apa yang kau baca hah? Lucu juga kelihatannya laki-laki punya payudara. Mau jadi perempuan rupanya. Kenapa tidak bilang dari dulu? Kau bisa operasi kelamin. Rahimku pindahkan ke tubuhmu. Kita bertukar kelamin. Kau pakai semua daster dan rokku. Kemeja, kaus oblong, celana jeansmu aku yang pakai. Kau yang belanja dapur, masak, nyuci pirinng, nyuci pakaian. Aku jadi bapak. Kerja. Cari nafkah. Aku suami. Kau istriku. Harus patuh dan hormat kau padaku.

"Tidak, aku tetap suami! Meski kini aku punya payudara. Aku tetap laki-laki meski aku menyusui bayi kita."

"Aku hanya ingin ia beroleh susu. Itu saja!"

"Aku laki-laki. Suamimu. Harus patuh kau padaku. Ngerti?"

Sudah kubilang, aku sibuk. Pergi pagi pulang malam. Mimik botol apa salahnya? Banyak juga bayi yang tak minum air susu ibu. Kau saja yang terlalu berlebihan. Kini lihatlah akibatnya, kau tak malu? Punya jakun, tapi ada payudara. Laki-laki tidak, perempuan juga tanggung. Lalu apa kelaminmu? Apa dunia mau kiamat? Laki-laki menyusui. Sebentar lagi mungkin laki-laki hamil. Edan!

"Aku juga heran, tiba-tiba tumbuh sendiri, tak disuntik sama sekali"

"Tak apalah, mudahan-mudahan setelah anak kita besar, payudaraku menyusut kembali."

Iya. Tapi bagaimana aku menyebutmu suami bila kau setengah jantan setengah betina? Apa kata orang nanti? Masa suamiku punya payudara? Apalagi bila kau benar-benar bunting. Terus siapa ba paknya? Siapa yang menghamili? Gila apa? Jijik aku melihat payudaramu itu. Pergilah ke rumah sakit. Dioperasi bila perlu!

"Ngeyak…..ngeyak…..ngeyaaaaaaaaaaaaaak….!"

Anak Ibu kok rewel? Udah mimik belum? Ah, jangan-jangan ini karena terlalu banyak minum susu bapakmu. Ibu sudah bilang, minum susu formula saja! Bapakmu itu terlalu keibuan. Saking keibuan, payudaranya tumbuh sendiri. Bengkak serupa semangka. Apa enak susu bapakmu hah? Serbasusah punya suami seperti bapakmu. Coba kalau bapakmu kerja, Ibu bisa di rumah. Masak, nyuci, nyapu, ngepel, ngurus anak, apa saja Ibu kerjakan. Tapi, kalau Bapak di rumah, Ibu di rumah, kita makan apa? Jadi, Ibu harus banting tulang. Cari uang. Biar dapur kita tetap ngepul.

“Ngeyak…..ngeyak…..ngeyaaaaaaaaaaaaaak….!"

"Ngeyaaaak…..ngeyaaaaaaaak…..ngeyaaaaaaaaaaaaaak….!"

Sudah, sudah! Diam! Tuh kan, jadi nggak mau mimik botol. Duh, gimana caranya biar kau diam? Repot kalau tak ada bapakmu. Sebentar ya, bapakmu lagi belanja sayur-sayuran, katanya biar air susunya banyak. Ayolah, sementara mimik botol dulu! Mau ya? Ih, gimana ini? Bingung Ibu jadinya…

(3)

"Bapak jahat, bapak jahat! Dedek mau mobil-mobilan, bapak nggak beliin, hu….. hu…….hu……"

"Sudah, sudah, Dek! Jangan cengeng begitu! Dedek udah gede. Ntar Ibu yang beliin. Dedek mau yang mana?"

"Bapak nakal, bapak nakal…..hu…..hu….hu….."

"Iya. Bapak nakal. Nanti kita jalan-jalan ya. Beli mobil-mobilan. Sudah, diam dulu!"

"Dedek mau main ama Ibu aja. Nggak mau ama Bapak. Bapak jahat!"

Sudah besar anak bapak rupanya. Sudah bisa bilang bapak nakal, bapak jahat. Kenapa tidak mau jalan-jalan sama bapak? Pinginnya sama Ibu terus ya? Memang menyenangkan kalau sama ibu. Tiap akhir pekan diajak main ke mal. Beli mobil-mobilan, robot-robotan, pedang-pedangan, pistol-pistolan. Sampai-sampai kau kecanduan ke mal. Bapak memang bisanya cuma ngajak Dedek lihat gajah, buaya, burung, ikan, dan angsa di kebun binatang. Jalan-jalan sama Bapak tidak pernah jajan ya? Ah, bapak memang jahat, nakal, pelit.

"Apa kubilang? Ntar kalau sudah besar mau juga sama aku. Kau lihat sendiri kan? Kecil-kecil sudah bisa bilang tidak suka bapak"

"Dedek biar ikut aku saja. Di kantor ada penitipan anak"

"Tapi, tapi….."

"Tapi apa?"

"Dia kan sudah berhenti mimik susumu, mimik botol aja!"

"Dedek rewel terus kalau sama bapaknya!"

"Kurang ajar! Hati-hati kalau ngomong! Dulu, waktu masih bayi kenapa tidak mau ngurus?"

"Kalau sudah besar begini aku mau. Sudah ngerti bila dikasih tahu. Pokoknya sekarang aku yang ngurus anak!"

"Kau mulai nggak becus!"

"Buktinya, dia minta mainan, kenapa diam saja? Makanya, kerja! Cari duit, biar bisa beliin mobil-mobilan buat anak."

(4)

Serasa ditampar berkali-kali mukanya ketika bocah enam tahun yang gendut itu bilang bapak nakal, bapak jahat. Sejak umur 1 hari ia menggendong Dedek. Tiap malam berjaga-jaga bila sewaktu-waktu Dedek kecil bangun, ngeyak dan ngompol. Ganti popok, bedong, gurita. Di tangannya Dedek tumbuh hingga jadi imut-imut seperti sekarang. Dalam aliran darah Dedek, tentu masih ada resapan air susu laki-laki itu. Air susu dari payudara yang tumbuh secara ajaib. Kini, setelah Dedek kuat berlari ke sana ke mari. Sudah lancar ngomong dan berhenti nyusu, ia seolah tak diperlukan lagi. Dedek lebih suka main dan jalan-jalan bersama ibu. Berkeliling di pusat-pusat perbelanjaan, cari mainan model baru. Baju baru. Sepatu baru. Sudah menumpuk mobil-mobilan pembelian ibu, tapi Dedek tak pernah puas. Terus-terusan ingin mainan baru. Belakangan Dedek minta Play Station 2. Sudah pasti, laki-laki itu tak bakal mampu belikan Dedek. Lagi-lagi Dedek bilang bapak jahat, bapak nakal dan bapak pelit.

"Makanya, punya anak jangan modal dengkul aja!"

"Jangankan PS2, robot-robotan kaki lima saja kau tidak mampu beli. Ih, gimana sih jadi bapak?"

"Payah."

Suatu malam, (sekali lagi) laki-laki itu mengalami kejadian ajaib. Seolah ada tangan-tangan gaib sedang sibuk menggaruk-garuk daging di dada tipisnya. Geli bercampur nyeri, sedikit perih. Makin kencang garukannya, makin geli rasanya. Lalu, tonjolan daging kedua buah dadanya berangsur-angsur menyusut seperti ada yang menghisap dari dalam, hingga kedua bulatannya kempes serupa balon mengisut pelan-pelan. Begitu pun bulatan putingnya, makin layu, mengering, tak segar seperti kelimunting matang lagi. Dadanya kembali rata, seperti semula. Ia kembali jadi laki-laki. Payudaranya hilang seketika. Sayang sekali, Dedek tak menyadari perubahan mencolok di tubuh bapaknya. Bocah yang makin nakal itu juga tak diberi tahu kalau dulu ia pernah menetek pada bapaknya.

"Ikut Bapak yuk, nak!"

"Nggak mau, nggak mau, nggak mau. Dedek nggak suka liat ikan. Maunya mandi bola di mal."

"Ayolah nak! Bapak kangen jalan-jalan ama Dedek."

"Bosan ah…!"

***

Kelapa Dua 2007

Thursday, July 19, 2007

Yth, Tuan Nirwan..

Oleh : DAMHURI MUHAMMAD

(Esai ini disampaikan dalam acara TEMU KANGEN SENIMAN, di Yayasan PITALOKA, Kukusan, Depok, Minggu 15 Juli 2007).

Menyoal pergeseran selera penjurian dalam cerpen ‘Kompas’ pilihan 2005-2006, lewat esai Mendustai Sastra Koran (Kompas, 8/07/07), Binhad Nurrohmat hampir memaklumatkan ‘harga mati’ bahwa pemilihan cerpen terbaik yang diselenggarakan harian Kompas tiap tahun (sejak 1991 hingga sekarang) sudah tegak sebagai tradisi. Padahal, pihak Kompas yang kali ini langsung dipengantari Suryopratomo (Pemimpin Redaksi) telah menegaskan bahwa momentun tahunan itu hanyalah rutinitas yang kemudian secara serampangan dianggap ‘tradisi’. Berkebalikan dengan sikap Binhad yang begitu was-was ketika penjurian tahun ini sepenuhnya dipercayakan pada pihak luar bakal berpotensi ‘mencederai’ pilihan estetik Kompas yang telah dirawat sejak lama, Kompas justru sedang ‘berikhtiar’ agar rutinitas itu tak terjerumus ke dalam lubang kemapanan dan tak terkungkung dalam ‘jerat’ tradisi. Maka, dengan pergeseran dari mekanisme penjurian ‘orang dalam’ ke ‘orang luar’ (kali ini dipercayakan pada Nirwan Dewanto dan Bambang Sugiharto), Kompas mengharapkan munculnya kemungkinan-kemungkinan baru dan kriteria-kriteria artistik yang lain, yang boleh jadi berbeda, andai itu dilakukan oleh redaksi Kompas sebagaimana lazimnya.

Keterbukaan dan kerendah-hatian ini tentu bukan tanpa resiko, mengingat setiap laku penjurian terhadap karya sastra (khususnya cerpen) selalu didera kesulitan menentukan parameter dan standar penilaian, dan akibatnya selera subyektif sukar dihindari. Agaknya, bagian inilah yang perlu diberi catatan, bila perlu diperdebatkan. Kata pembuka Nirwan Dewanto di bagian awal buku itu barangkali bukan sekedar laporan penjurian, tapi semacam lemparan ‘bola liar’ yang patut ditanggapi, setidaknya perlu diimbangi. Nirwan bilang, sastra yang unggul terselenggara jika si pengarang menjadi pengrajin belaka, lalu pada paragraf selanjutnya ia begitu tergesa hendak menegaskan ; pengarang tidak bisa semau-maunya memperalat bahasa (atau ia akan dibinasakan oleh bahasa). Bukankah kepengrajinan adalah laku kreatif yang mustahil menghasilkan produk kerajinan tanpa perkakas yang memadai? Dalam kerja sastra, perkakas itu tidak lain adalah bahasa. Lalu, bagaimana mungkin etos kepengrajinan bakal terbangun bila pengarang dilarang memperalat bahasa? Mungkin tuan Nirwan lupa bahwa hingga kini kata pengarang masih disebut author, artinya orang yang punya otoritas untuk ’memperkakasi’ bahasa, menggerakkan bahasa, menghidupkan bahasa, bahkan ’menyuntikkan’ pesan-pesan tertentu ke dalam teks. Lelaku ini tetaplah lelaku sastra, bukan setengah-psikologi, setengah-sosiologi, setengah-antropologi, setengah-historiografi dan akhirnya setengah-sastra sebagaimana simpulan Nirwan.

Jatuhnya pilihan pada cerpen Ripin, karya cerpenis muda Ugoran Prasad untuk menempati peringkat terbaik dalam bunga rampai itu memang tak perlu disangkal. Saya bersetuju dengan penilaian Nirwan bahwa Ripin memberi contoh tentang bagaimana realisme dikerjakan hari ini. Sudut pandang seorang anak lelaki (tokoh utama cerita) telah membebaskan pengarang dari heroisme yang tak perlu. Ia membiarkan tokoh-tokohnya berkelindan sendiri dengan latarnya. Saya pun ‘lumayan’ percaya, dalam Ripin, pengarang berhasil menghilang ke sebalik lelaku dan ujaran tokoh, dan karena itu patut dianggap yang paling berhasil. Tapi, agak janggal, ketika Rumah Hujan (Dewi Ria Utari) dan Nistagmus (Danarto) terpilih sebagai dua cerpen yang satu garis identifikasi dengan Ripin. Meski dalam Rumah Hujan, pengarang berhasil melebur ke dalam lelaku tokoh, tapi peleburan itu membuat cerpen ini begitu remang, berpilin-pilin, sukar dicerna. Perihal Nistagmus, bukankah cerpen ini hendak menunjukkan keterlibatan pengarang dalam sebuah peristiwa faktual tertentu? Tidakkah ini hanyalah esai komentar sosial yang ’menyaru’ sebagai cerpen seperti tudingan Nirwan pada Bocah-bocah Berseragam Biru Laut (Puthut EA) dan Piknik (Agus Noor)? Bukankah tuan Nirwan juga bilang bahwa memaksakan muatan, pesan, hikmah, filosofi, ajaran tertentu tidak bisa dituangkan begitu saja di dalam karya sastra? Bila tuan Nirwan bersetia pada ’cita-cita’ literernya, enam dari enam belas cerpen yang terhimpun dalam buku itu, semestinya disingkirkan. Sebab, keenam cerpen itu sungguh memperlihatkan betapa berita meresap ke dalam cerita, dan membuat cerita tak mampu bergerak dengan kaki sendiri, cerita hanyalah semacam berita yang tidak bergerak ke mana pun, demikian tuan Nirwan berwejang. Bagaimana mungkin tikam jejak pengarang dapat dihapus dalam teks? Pada seorang teman penyuka cerpen, iseng-iseng saya pernah menyuguhkan salah satu cerpen karya Kuntowijoyo dengan menghapus nama pengarangnya. Setelah khatam membaca, saya mengujinya ; coba tebak, ini cerpen karya siapa? Ia menjawab, siapa lagi kalau bukan Kuntowijoyo? Saya mulai percaya, teman penyuka cerpen itu dapat mengendus jejak pengarang dalam setiap cerpen yang dilahapnya. Ah, barangkali pengarang tak sungguh-sungguh menghilang dalam teks.

Munculnya sudut pandang baru dalam laku penjurian sebagaimana didedahkan Nirwan Dewanto dan Bambang Sugiharto lewat buku cerpen ’Kompas’ pilihan 2005-2006, barangkali cukup berhasil ’menganggu’ rutinitas pemilihan cerpen terbaik versi Kompas agar tidak terjerembab menjadi ’tradisi’ yang baku dan beku. ‘Realisme bertendens’ (yang selama ini dianggap khas Kompas) secara terang benderang dihadang dengan eksperimentalisme (meski belum menemukan bentuk yang sepadan) sebagai siasat baru dalam menggarap cerpen. ’Umpan lambung’ Nirwan Dewanto patut disambut dengan girang-gemirang, tentu bila itu dilakukan dengan kearifan bahwa apapun ’mazhab’ kesenian dapat bersitumbuh dalam khazanah cerpen kita, berdampingan secara bijak, saling menghormati, tanpa hasrat untuk saling menggantikan satu sama lain, apalagi hasrat hendak menguasai....

Tuesday, June 26, 2007



MERANTAU DI KAMPUNG SENDIRI

Judul : Perantau
Penulis : Gus Tf Sakai
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan : I, 2007
Tebal : 130 halaman

Oleh : DAMHURI MUHAMMAD


(Koran Tempo, Minggu, 24 Juni 2007)


Bagaimana mungkin pengarang yang tak pernah merantau tiba-tiba menulis cerita tentang perantau? Begitu sak wasangka yang menggelayut di benak saya saat berhadapan dengan buku kumpulan cerpen Perantau karya terkini Gus Tf Sakai ini. Saya begitu tergesa hendak menyingkap watak perantauan macam apa yang bakal dimaklumatkan cerpenis asal Payakumbuh itu. Bagi anak rantau seperti saya, merantau tidak sekedar jalan terjal dan berliku yang mesti ditempuh untuk melesap ke masa depan, tidak pula semata-mata mengadu nasib di negeri orang, dan kelak bila sudah beruntung akan kembali ke kampung halaman. Tidak sesederhana itu!

Merantau adalah sebuah keniscayaan, keharusan yang tidak dapat ditolak, atau (barangkali) semacam sisi lain dari ‘takdir’ malang laki-laki Minang. Ini resiko yang mesti ditanggung akibat dalamnya tikaman ‘garis ibu’ yang tak lekang dimakan waktu. Setelah sampai akil baligh, anak laki-laki ‘dihalau’ ke surau. Mengaji sekaligus tidur di surau. Di rumah-rumah gedang sembilan ruang yang halamannya luas itu tidak tersedia kamar bagi mereka. Kamar hanya diperuntukkan bagi anak perempuan. Maka, berhimpitan-himpitanlah mereka tidur di surau, seperti ikan pindang dalam wajan. Itu tak lama, hanya sampai mereka terbiasa jauh dari ketiak emak, setelah itu tiba saatnya ; pergi merantau. Merantau bujang dahulu, (sebab) di kampung perguna belum. Falsafah ini sudah menjadi ‘lagu wajib’ yang selalu didendangkan ibu-ibu di ranah Minang, hingga anak-anak mereka berani merantau, terbang-hambur dari tanah kelahiran. Tiada tempat di rumah, lantas menggelandang ke surau-surau, setelah itu merantau ke negeri orang, tidakkah itu siasat pengusiran yang paling santun?

Inilah musabab sak wasangka saya, betapa seorang Gus Tf Sakai, laki-laki Minang yang tidak pernah merantau kemudian merancang kisah tentang perantau? Saya kuatir, buku ini tidak mencukam di kedalaman pahit-getir hidup anak rantau yang terbuang dari kampung sendiri. Buktinya, alih-alih mengenggam realitas rantau yang sejatinya, cerpenis peraih The Lontar Foundation (2002) ini malah buru-buru mengunci cerpennya dengan kalimat tak perlu jadi burung untuk tahu rahasia sayap. Tampak nyata obsesi literer pengarang yang hendak membangun konsep merantau tanpa (harus) jadi anak rantau. Karena pengarang tak pernah merantau kah?

Ketakpatuhan pada suruhan Merantaulah, Nak! diperkokoh dengan menghadirkan sosok Mak Itam, lelaki gaek yang sepanjang umurnya tak beranjak dari kampung, hidup menyendiri di dangau usang, lemah digasak batuk. Mak Itam membujuk si calon perantau (tokoh utama) yang sedang gamang dan ragu-ragu memilih jalan antara merantau atau tidak. Lelaki renta itu memberi petuah bahwa masa depan tidak ditentukan oleh merantau atau tak merantau, tapi bakal datang sendiri. Persoalannya apakah ketika masa depan itu datang, kita masih ada atau tidak? Dan Mak Itam yang sudah hampir bau tanah itu belum menemukan masa depannya, (tapi sudah pasti akan segera menemui ajalnya).

Agak mencengangkan kenapa Gus Tf Sakai mengidentifikasi konsep merantau dengan sudut pandang futuristik, bahwa etos merantau bertujuan untuk meraih masa depan, agar roda nasib bergerak ke atas. Padahal merantau tidak selalu berarti menuju sesuatu, tapi lebih kerap meninggalkan sesuatu. Membebaskan diri dari iklim ketakberdayaan, hengkang sebagai pecundang malang, hidup menumpang di negeri orang, dan tak bakal kembali pulang. Bukankah tak terhitung berapa banyak perantau yang sudah melupakan jalan pulang? Seamsal merantau cina, sekali pergi, tiada pernah kembali. Sekali layar terkembang, pantang surut ke belakang.

Meski begitu, ada sisi lain perantauan yang hendak digambarkan buku ini, bahwa laki-laki Minang yang tidak merantau pun pada akhirnya tetap saja (seolah-olah) merantau. Meski tidak berlayar ke negeri seberang, mereka tetap akan meninggalkan rumah, hidup dan tinggal di rumah anak-bini. Tapi, fase ini tidak akan bertahan lama, hanya selagi tangan kuat mengayun cangkul, menggarap sawah dan ladang guna menghidupi keluarga. Bila tenaga mulai berkurang, tulang-tulang tak berdaya, mereka tak berguna lagi, serupa tebu yang telah habis disesap rasa manisnya. Tengoklah betapa banyaknya peruntungan laki-laki Minang yang berakhir menjadi duda-duda tua, tercampak dari rumah bini. Jalan satu-satunya adalah kembali ke surau. Kecil di surau, setelah beranjak tua pun kembali ke surau, menunggu mati di surau. Ketakmujuran macam ini setali tiga uang dengan nasib Mak Itam yang lapuk digasak batuk, tinggal seorang diri di dangau usang sebagaimana dikisahkan dalam Perantau. Meski tidak pernah merantau, tapi sepanjang hidup, ia seperti berada di rantau, tersisih, kesepian dan tak dihargai. Merantau di kampung sendiri.

Corak pengisahan sejumlah cerpen dalam buku ini (Lelaki Bermantel, Tujuh Puluh Lidah Emas, Jejak Yang Kekal, Tok Sakat dan Sumur) seperti hendak mewartakan bahwa jalan kepengarangan cerpenis peraih SEA Write Award (2004) ini telah menyimpang ke arah laku penuturan yang meliuk-liuk, berkelok-kelok. Alurnya berbelit-belit, rumit. Diksinya gelap, sukar dicerna. Cerpen-cerpen Gus Tf Sakai tidak lagi terang, lugas dan peka isi seperti karya-karya sebelumnya (Istana Ketirisan, 1996, Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta, 1999 dan Laba-laba, 2003). Buku ini lebih asik-masyuk mengolah cara bercerita ketimbang membangun kepekaan pada substansi cerita itu sendiri. Meski belum pernah merantau, dalam proses kreatif paling mutakhir, Gus Tf Sakai benar-benar sudah ‘merantau’ jauh. Saya was-was, dalam perantauan ini, ia bakal lupa jalan pulang.


Laku Etik dan Estetik dalam Watak Kepenyairan


Oleh : DAMHURI MUHAMMAD

(Pikiran Rakyat, 23 Juni 2007)


Sejak akhir Juli hingga pertengahan Agustus 2004 silam, sejumlah koran riuh oleh polemik menyoal diluncurkannya buku kumpulan puisi Kuda Ranjang, karya Binhad Nurrohmat. Tak kurang dari 15 esai telah menimbang buku itu. Banyak yang memuji kepiawaian Binhad mengurai tubuh perempuan dalam bait sajak, banyak pula yang menghujat, bahkan ada yang terang-terangan menyeringai : “Menjijikkan membaca puisimu.” Tapi, Binhad tak kunjung jera menuai cela, penyair itu baru saja melepas antologi puisi terbaru, Bau Betina (2007). Setali tiga uang dengan Kuda Ranjang, lewat Bau Betina ia masih latah bergunjing perihal ‘dunia basah’, ‘dunia tengah’, (tapi diburu banyak watak). Bukan berarti ia sedang mengutukinya sebagaimana para ustazd berwejang di mimbar-mimbar khutbah, Binhad justru mendekonstruksi seks sebagai dunia yang tak perlu ‘diaibkan’. Nalar puitiknya bernujum bahwa peristiwa seksual seamsal peristiwa buang hajat (Berak). Bukankah buang hajat adalah gejala alamiah yang niscaya? Jadi, tak perlu malu berbincang soal buang hajat, sebagaimana tak harus tabu bersijujur bahwa kita mendambakan kenikmatan seksual. Berak memang kotor, sebagaimana persetubuhan liar juga keji, tapi kenapa malu mengakui bahwa kita memang ‘doyan’ pada yang kotor dan keji itu. Hubungan antara peristiwa seks dan peristiwa buang hajat dipetakan Binhad dengan permisalan baru ; Kota Tanpa Bordil adalah Rumah Tanpa Kakus.

Bagi Binhad, seks dipotret sebagai realitas yang kacau, carut marut, beringas. Seks identik dengan kata menggigit, mencekik, menghujah, bukan menyentuh, mengelus atau membelai. Persebadanan tak lagi berarti bersekutunya dua tubuh dalam bingkai ‘suka sama suka’, tapi pertarungan satu lawan satu yang berhasrat saling mengalahkan. Gejala ini jelas pada “Ajal Begundal” : Setelah empatpuluh hari kematian/seluruh kota bernafas lega/tak ingat lagi coretan dinding penuh ancaman/atau erang perkosaan di belakang bioskop murahan/. Pejantan yang sebelumnya disimbolisasikan dengan Kuda (dalam Kuda Ranjang) dan Singa (dalam Bau Betina) rupanya tidak melulu ‘menaklukkan’, tapi kerap pula ‘ditaklukkan’. Sebagai pejantan yang diburu banyak betina, ringkik dan aungnya hanya terdengar bila sedang di ranjang, setelah itu bakal menelentang sebagai pecundang.

Kepenyairan Binhad yang menjalankan laku ‘tarekat tubuh’ seperti termaktub dalam sajak Hidung Belang, Sex After Lunch, Pengakuan Sepasang Girang, Ulang Tahun Tubuhmu, Malam Janda, Homo Eroticus, Tak Sedalam Tubuhmu memang bukan tanpa resiko. Antologi puisi Kuda Ranjang yang semula sudah terpajang di rak sastra toko-toko buku, tiba-tiba raib, ditarik dari peredaran. Seperti dilaporkan Anton Kurnia (mailing list pasarbuku@yahoogroups.com), sejak 3 Agustus 2004 lalu, toko buku Gramedia telah menarik peredaran buku itu dari toko-tokonya di seluruh Jakarta. Dalam salah satu seminar sastra, seorang penyair senior mengukuhkan nama Binhad sebagai penyair perusak moral bangsa. Bakal seperti apakah nasib Bau Betina? Wallahualam.

Pada masa orde baru, teks sastra yang berseberangan dengan ideologi stabilitas politik (Binhad menyebutnya ; ‘sastra sosial’) dianggap subversif. Masa itu, ‘sastra sosial’ lebih berisiko ketimbang ‘sastra seks’. Penguasa bebas memberangus teks dan ‘mengamankan’ sastrawan tanpa proses peradilan. Kini, situasinya terbalik, sastra seks yang dianggap subversif. Bedanya, teks-teks ‘berlendir’ itu tidak lagi berhadapan dengan kekuasaan negara, tapi menuai sinisme dan caci maki dari sebagian sastrawan, pengamat sastra dan khalayak pembaca umum dengan alasan-alasan moral. Penyair Taufik Ismail tak sudi menyebutnya sebagai karya sastra, melainkan pornografi (Ermina K, Suara Karya, 14/03/05). Padahal, sastra seks juga berperan sebagaimana sastra sosial. Jika sastra sosial menggambarkan kobobrokan moral kekuasaan, sastra seks memetakan kemunafikan dan kebobrokan moralitas masyarakat, begitu Binhad berdalih. Jadi, mana yang lebih tak senonoh antara para petinggi negara yang menjarah uang rakyat (di tengah-tengah duka-nestapa rakyat akibat bencana bertubi-tubi) dengan sajak-sajak Binhad? Tapi, di sinilah celakanya. Sastra diukur berdasarkan sudut pandang etika, bukan ditelaah berdasarkan pencapaian estetika sastrawi. Sukar mencari titik temu antara sastra dan etika, seperti pernah dikemukakan Ribut Wijoto (2002), etika menciptakan pagar, sementara sastra membongkarnya. Sastra merayakan kerapuhan, sementara etika memperkokohnya kembali. Laku estetik kerap tak berjalan seiring dengan laku etik. Lagi pula, teks sastra tentu bukan kitab suci, bukan traktat dogmatik agama tertentu.

Agak mengejutkan, seorang alumnus pesantren Krapyak (Yogyakarta) seperti Binhad memilih jalan ‘menyimpang’ dengan menulis sajak-sajak bergelimang syahwat. Apakah ia sudah terjerembab dalam asyik-masyuk dunia malam kota Jakarta yang memang kerap menyesatkan? Marshall Clark, peneliti sastra Indonesia di School of Asian Languages and Studies memang menyebut puisi-puisi Binhad sebagai ‘puisi metropolitan’. Kuda Ranjang dan Bau Betina adalah buah dari ekplorasi estetik selama ia tinggal di Jakarta. Tapi, bukan berarti ia telah ‘membelakang bulat’ dari etos santri yang membesarkannya. Justru latar belakang pesantren yang mewarnai kepenyairan Binhad. Hipotesis ini terdengar ganjil. Mestinya, Binhad menulis puisi sufistik sebagaimana Ahmadun Y Herfanda menulis Sembahyang Rumputan (1996) atau mengikuti jejak kepenyairan Jamal D Rahman, Radhar P Dahana dan Ahmad Nurullah, bukan menulis sajak-sajak yang tidak mencerminkan budaya santri. Tapi, kitab-kitab kuning sangat akrab dengan wacana seks. Bukalah kitab Qurrat al-Uyun yang detail mengurai tipe-tipe perempuan berdasarkan perspektif seks, juga membahas tahapan-tahapan dalam hubungan suami-istri serta seluk beluk masalah seks lainnya. Begitu pun Kitabun Nikah, Uqudullijain, dan Ushfuriyah yang tak asing lagi bagi para santri. Berkat pembacaan terhadap kitab-kitab itu, seks bukan sesuatu yang terlarang dibicarakan. Mata pelajaran tentang seks di pesantren, tak ada bedanya dengan Tarikh, Tasawwuf, Nahwu, Syaraf dan Balaghah. Mungkin, wacana seks sudah menjadi air berkumur Binhad setiap pagi.

Maka, penghakiman terhadap kepenyairan Binhad hanya akan dihadang dengan jurus Anjing Menggongong Kafilah Berlalu. Bukankah Moammar Emka (Jakarta Undercover, 2003) yang sempat menghebohkan jagat perbukuan Indonesia itu juga lahir dari tradisi pesantren? Jika Inul Daratista menujumkan sasmita tentang kemunafikan massal dengan bahasa bokong, maka jalan yang ditempuh Binhad lebih santun, menorehkan kata Pantat, Selangkang dan Cupang dalam sajak. Ketika mulut-mulut para ustazd tak mempan lagi menyeru kesadaran umat dari ketersesatan, Binhad berwejang dengan sajak-sajak telanjang…

Wednesday, June 20, 2007



Menyingkap Akar Sejarah Poligami

Judul : Duduk Perkara Poligami
Judul Asli : The Right of Women in Islam
Penulis : Murthadha Muthahhari
Penerbit : Serambi, Jakarta
Cetakan : I, 2007
Tebal : 154 halaman


Oleh : DAMHURI MUHAMMAD

(Majalah Mingguan GATRA, edisi 14-20 Juni 2007)

Poligami merupakan topik kajian yang selalu sengit diperdebatkan dalam diskursus fiqh munakahat Islam. Tak jarang sejumlah sejarahwan melancarkan serangan telak bahwa nabi Muhammad lah yang pertamakali memprakarsai tradisi poligami, sampa-sampai ada yang berkesimpulan bahwa salah satu penyebab cepatnya penyebaran Islam karena penghalalan poligami, namun kemunduran dunia Islam disebabkan oleh poligami pula. Sepintas lalu, kesimpulan itu seolah-olah masuk akal, tapi bila ditelusuri lebih dalam, tudingan macam itu terlalu mengada-ada dan sukar dipertanggungjawabkan. Sebab, sejarah membuktikan bahwa tradisi poligami sudah ada dan berkembang pesat puluhan tahun sebelum Islam datang. Praktik mengawini lebih dari satu istri telah berlangsung di kalangan suku-suku Arab pra-Islam, Persia,Yahudi dan suku-suku lainnya. Tak hanya dilakukan oleh suku-suku primitif, poligami juga beroleh tempat di kalangan suku-suku beradab.

Inilah cikal bakal silang pendapat perihal poligami yang hendak didedahkan Murthadha Muthahhari dalam bukunya Duduk Perkara Poligami dengan menggali akar sejarah tradisi poligami sejak dari perkembanganya yang paling purba. Bagaimana mungkin para sejarahwan itu berkesimpulan bahwa Islam menumbuhsuburkan adat poligami, padahal usia sejarah poligami lebih tua dari usia Islam itu sendiri. Sinyalemen ini diakui oleh seorang sarjana Barat, Wiil Durant dalam The Story of Civilization bahwa bertahun-tahun sebelum kedatangan Islam, poligami telah menjadi adat yang lumrah di kalangan suku-suku primitif Arab.

Kalau memang demikian, kenapa Islam tidak menghapus tradisi perkawinan majemuk yang hanya akan memperkokoh dominasi pria terhadap wanita? Bukankah penghalalan poligami akan mengingkari hak-hak perempuan yang semestinya dijunjung tinggi dan dihormati? Bagi Murthadha, pertanyaan-pertanyaan di atas muncul akibat dangkalnya pemahaman terhadap poligami. Islam memang tidak sepenuhnya menghapus poligami (meski sepenuhnya menghapus poliandri), tapi membatasi poligami, artinya menghapus ketidakterbatasan poligami dan membatasinya sampai empat istri. Itupun dengan syarat dan batasan-batasan yang sangat ketat. Sayang sekali, buku ini hanya hasil terjemahan satu bab dari The Right of Women in Islam (1981), bukan gagasan utuh Murthadha yang sangat erat kaitannya dengan polemik soal poligami. Inilah resiko yang mesti ditanggung akibat ketergesaan penerbit dalam mengejar target tema yang sedang santer dibincang, tapi abai pada bagian-bagian yang ‘diduga’ tak punya nilai jual.

Murthadha menyangkal poligami sebagai tirani, dominasi dan perbudakan pria atas wanita sebagaimana kerap didengungkan para pemuja feminisme. Muasal sejarah poligami bukan karena pria mendominasi wanita, lalu mereka merancang adat dan peraturan yang menguntungkan mereka. Kemunduran poligami juga bukan karena dominasi pria sudah mulai goyah bahkan hampir roboh. Dalam konteks ini, ia menggunakan logika terbalik, kalau memang dominasi pria menjadi sebab poligami, kenapa Barat tidak menerapkannya? Mengapa sistem partriarkat dianggap hanya terbatas di wilayah Timur saja? Padahal, di abad pertengahan, wanita Barat adalah wanita yang paling tidak beruntung di dunia, sebagaimana diakui Gustave le Bon bahwa pada zaman peradaban Islam, wanita diberi kedudukan yang persis sama dengan wanita Barat jauh hari kemudian. Kita tahu bahwa raja-raja kita tidak menaruh hormat pada wanita. Setelah mempelajari sejarah zaman dahulu, tak ada lagi keraguan bahwa sebelum Islam mengajari kakek-kakek kita mengasihi wanita dan menghormatinya, raja-raja kita memperlakukan wanita dengan sangat biadab.

Kalau memang Islam menaruh hormat pada hak-hak wanita, kenapa hanya kaum pria yang boleh menikahi lebih dari satu istri (poligami) sementara wanita tidak diberi hak menikah lebih dari satu suami (poliandri)? Murthadha merujuk sebuah riwayat tentang peristiwa ketika sekelompok wanita menghadap saidina Ali r.a dan mereka bertanya, “Mengapa Islam memperkenankan laki-laki punya lebih dari seorang istri tapi tidak mengizinkan wanita bersuami lebih dari seorang? Bukankah ini tidak adil?” Ali menyuruh masing-masing mereka mengambil cangkir berisi air, lalu meminta mereka menuangkan air dalam cangkir masing-masing ke dalam mangkuk besar yang diletakkan di tengah-tengah pertemuan itu. Setelah cangkir-cangkir mereka kosong, Ali meminta masing-masing wanita itu mengisi kembali cangkir mereka dengan air dalam mangkuk besar itu dengan ketentuan ; setiap orang harus mengambil air yang tadi ditumpahkannya ke dalam mangkuk itu. “Air itu sudah tercampur, tidak mungkin dipisahkan lagi” kata mereka. Maka, Ali berkata ; “Apabila seorang istri mempunyai beberapa orang suami, ia akan melakukan hubungan seks dengan setiap suaminya, kemudian ia akan hamil. Bagaimana ia menentukan ayah dari anak yang dikandungnya?”

Murthadha hendak meluruskan pemahaman yang keliru terhadap tradisi poligami yang telah memicu polemik tak kunjung usai. Buku ini tidak berpretensi memaklumatkan poligami lebih bermartabat ketimbang monogami, hanya mempertanyakan kenapa banyak orang mengecam keras perilaku poligami dan menuding poligami menindas hak-hak perempuan? Ironisnya, ketika mereka menentang poligami, pada saat yang sama, seks bebas dan homoseksual justru diperkenankan. Pria-pria modern bisa gonta-ganti pacar tanpa harus memerlukan formalitas dalam bentuk mahar, nafkah atau perceraian. Mungkin itu sebabnya Moise Tshombe (mantan perdana menteri Kongo) menentang poligami. Ia pernah sesumbar dalam sebuah wawancara surat kabar, bahwa satu istri sudah cukup baginya selama ia dapat mengganti sekretaris wanitanya setiap tahun. Bertrand Russell, pemikir paling keras mengecam poligami, dalam otobiografinya berkisah bahwa dalam hidupnya ada dua orang wanita setelah ibunya, yaitu Aliys (istrinya) dan Lady Ottoline Morell (kekasihnya). Meski Russell tidak menyukai poligami, suatu hari filsuf itu bersijujur mengakui ; mendadak saya sadar bahwa saya tidak lagi mencintai Alys. Kalau sudah begini, tentu poligami tak berguna lagi…