Search This Blog

Thursday, May 10, 2007

Pawang Hujan

Cerpen : DAMHURI MUHAMMAD

(PIKIRAN RAKYAT, 5 Mei 2007)

Sudah berpuluh-puluh batang rokok dari lintingan daun Nipah dihisap Iwik sejak ia bertirakat menahan hujan. Sepanjang malam ia mengelilingi kompleks perumahan Griya Kemilau Asri sambil menghembus-hembuskan asap rokoknya ke langit sebelah utara. Dengan kepulan asap dari linting demi linting yang sudah dimantra-mantrai, Iwik menghalau gerakan angin, agar hujan deras tidak mengguyur wilayah itu. Sebenarnya sudah cukup lama Iwik tidak menggunakan kepandaiannya sebagai pawang hujan. Lagi pula, di kota besar ini siapa pula yang masih percaya bahwa ada orang yang sanggup menahan hujan?

Tapi, tidak disangka-sangka, pak Satmoko minta bantuan Iwik untuk menahan hujan di pemukiman yang tiap tahun menjadi langganan banjir. Ketua RW yang juga pensiunan tentara itu bisa memastikan rumah-rumah di wilayahnya bakal terendam banjir bila hujan lebat tiba. Tak perlu menunggu kali Cilesung meluap, tumpukan sampah yang menyumbat saluran pembuangan saja sudah cukup untuk bikin air comberan naik ke permukaan, lalu masuk ke rumah-rumah warga. Tahun lalu, banjir datang begitu tiba-tiba, di saat warga sedang tidur pulas. Air meninggi sampai tiga meter. Warga berhamburan keluar rumah. Mengungsi tanpa memikirkan mobil-mobil import, lukisan-lukisan dinding, kursi-kursi antik dan barang-barang elektronik yang tenggelam dan hanyut terseret arus.

Sebagai ketua RW, bang Sat (begitu warga memanggilnya) benar-benar malu dan merasa bersalah karena tidak mampu menanggulangi banjir yang kerap menimpa warganya. Ia kerap dibilang seperti keledai yang berkali-kali terjerembab di lubang yang sama. Sejak dipercaya menjadi ketua RW, sudah tiga kali perumahan itu ditenggelamkan banjir. Maka, di akhir masa jabatannya yang tinggal dua bulan lagi, bang Sat ingin lengser tanpa cela dan kesan buruk, setidaknya tanpa bencana banjir yang membuat warganya kerepotan, panik, lalu menuduh ketua RW ; pimpinan yang tak becus, tak peduli got-got yang tersumbat, tak memikirkan jalan keluar agar perumahan mereka terselamatkan dari luapan kali Cilesung. Karena itulah Iwik sengaja didatangkan. Bang Sat memperbantukan pawang hujan itu sebagai satpam paruh waktu. Itu hanya penyamaran yang diatur oleh ketua RW. Sebenarnya Iwik bukan petugas jaga sungguhan seperti Rojak, Jauhar, Jakdul, Paijin dan Ripin yang tiap hari bertugas di pos penjagaan, pintu gerbang perumahan. Kalaupun disebut penjaga, Iwik adalah penjaga pemukiman itu dari ancaman banjir. Ia pawang hujan tersohor yang konon sanggup menahan hujan selama berbulan-bulan.

“Saya tidak mau kebanjiran lagi. Malu saya!” keluh bang Sat penuh harap. Ia tampak mulai resah, sebab akhi-akhir ini cuaca memang kurang bersahabat. Lebih banyak mendung ketimbang cerah.

“Upayakan menahan hujan selama mungkin! Minimal sampai dua bulan ke depan”

“Waduh, apa ndak terlalu lama bang?” tanya Iwik

“Jangan kuatir, bayarannya setimpal!”

“Bukan soal itu bang! Bang Sat lihat sendiri kan? Perkampungan yang bersebelahan dengan perumahan ini sudah lama kekeringan. Mereka butuh hujan bang!” jelas Iwik meyakinkan bang Sat.

“Ah, itu bukan urusan saya. Pokoknya, sebelum saya melepaskan jabatan ketua RW, jangan sampai turun hujan. Setelah itu, mau tenggelam, mau kelelep, ya terserah!” tegas bang Sat, sedikit mengancam.

Kehebatan Iwik memang tak diragukan lagi. Lelaki itu benar-benar mampu menenangkan kegelisahan bang Sat. Siang malam Iwik berjaga dengan kepulan-kepulan asap rokok daun Nipah yang selalu dihembuskan ke arah utara. Setelah berkali-kali mengitari areal perumahan, biasanya Iwik istirahat sejenak di pos penjagaan, di pintu gerbang utama. Seperti biasa pula, selalu didapatinya satpam yang piket malam sudah melungkar dalam kain sarung. Iwik duduk bersila sambil menengadah. Lintingan rokok daun Nipah tak kunjung lepas dari mulutnya. Lagi-lagi, ia mengepul-ngepulkan asap, lalu menghembuskan ke langit sebelah utara. Bila arah yang dituju berlawanan dengan pergerakan angin, Iwik akan menghalau asap itu dengan kibasan kain sarung yang menebarkan bau tak sedap. Bau tembakau usang berbaur dengan aroma apak kain sarung yang sudah berbulan-bulan tak dicuci. Bila ada pertanda mendung, Iwik akan menghisap rokok lebih sering, lebih ngebut, hingga mulutnya serupa moncong lokomotif. Bila perlu, lintingan rokok itu dibakarnya sebanyak mungkin, lalu Iwik membangunkan Rojak dan Jauhar untuk dimintai bantuan menghisap rokok yang rasanya pahit minta ampun itu. Satu mulut bisa menghisap tiga linting sekaligus.

“Aku bisa muntah kalau terus-terusan menghisap daun Nipah itu! Apa ndak bisa diganti Dji Sam Soe?” kelakar Rojak, yang kebetulan sedang kehabisan rokok.

“Ini bukan sembarang tembakau, Jak! Tapi tembakau pengusir angin. Tembakau pawang hujan. Apa kau mau kebanjiran lagi seperti tahun lalu?”

“Malah bagus kalau ada banjir. Kita dapat Durian Runtuh!” sela Jauhar yang terbangun karena pembicaran mereka.

“Durian Runtuh?”

“Ya, rejeki nomplok. Bila banjir datang, pastilah kita juga sibuk. Anggarannya lumayan besar. Dari banjir tahun lalu, Rojak bisa bayar cicilan motor tuh!”
“Huh, resek lu Har!”

“Ayo kita halau lagi anginnya. Ini mulai mendung tampaknya.”

“Biarkan saja hujan turun, jangan ditahan lagi Wik! Anggaran banjir lebih besar dari upah menahan hujan. Nanti kita bagi rata.”

“Sudah lama nggak ada pendapatan tambahan. Biniku mau melahirkan Wik. Butuh biaya!”


Hisapan Iwik terhenti sejenak setelah mendengar keluhan Jauhar. Sepertinya ia tidak main-main. Dari mana pula Jauhar akan beroleh biaya persalinan bila hanya mengharapkan gaji bulanan? Seketika, Iwik pun teringat wasiat gurunya sebelum menurunkan ilmu pawang hujan itu, dulu sewaktu ia masih di kampung. Bagaimanapun sulitnya keadaanmu, jangan sampai kau salahgunakan kepandaian itu, begitu pesan guru Iwik sebelum meninggal. Iwik tentu tahu akibatnya bila nekat melanggar pantangan. Bisa kualat seumur-umur.

****

“Kalau sampai terjadi banjir lagi, copot saja ketua RW yang nggak becus itu!” begitu gunjing yang terdengar saat arisan ibu-ibu rumah tangga.

“Jangan main pecat gitu dong! Kalau banjir datang, kenapa selalu RW yang disalahkan?”

“Lho, itu tanggungjawab ketua RW.”

“Bukan saja tanggungjawab RW, tapi juga tanggungjawab semua warga perumahan ini. Kita harus jaga kebersihan, jangan buang sampah sembarangan, jangan sampai ada saluran pembuangan yang mampet. Masa’ semua harus dibebankan pada ketua RW?”

“Tapi bagaimana kalau kali Cilesung meluap seperti tahun lalu?”

“Kalau itu sih banjir kiriman, bukan salah kita!”

“Tapi, RW bisa ngusulin ke lurah, agar tempat tinggal kita tidak menerima kiriman banjir terus-terusan. Ini salahnya ketua RW! Abai pada keselamatan warga. Maunya jabatan saja. Rumah-rumah warga tenggelam karena luapan kali Cilesung, malah tenang-tenang saja”

“Pecat saja!”

“Pilih lagi ketua RW yang baru!”

“Nggak beres tuh! Mungkin dulu waktu jadi tentara juga nggak beres”

Usaha Iwik lumayan mendatangkan hasil. Setidaknya, pawang hujan itu sudah unjuk kebolehan. Ia sudah menahan hujan selama satu setengah bulan. Bang Sat agak lega. Sebab, tinggal setengah bulan lagi ia menjabat ketua RW, dan tampaknya cuaca masih menggembirakan. Cerah, meski suhu tidak terlalu panas. Ini berkat kerja keras Iwik yang tak henti-henti mengusir hujan dari wilayah perumahan Griya Kemilau Asri. Ia terus waspada dan berjaga-jaga. Kepulan-kepulan asap dari lintingan rokok daun Nipah itu benar-benar ampuh menghalau angin ke arah utara. Hujan yang mestinya turun di pemukiman itu, akhirnya tumpah di laut. Sejauh ini, warga masih merasa aman-aman saja. Setidaknya, ibu-ibu rumah tangga yang judes dan cerewet itu belum sungguh-sungguh menggelar demonstrasi untuk menumbangkan jabatan bang Sat sebagai ketua RW.

“Kau sudah salahgunakan kesaktianmu Wik.” ketus Rojak pada Iwik yang masih sibuk melinting rokok daun Nipah, sebab persediaannya mulai menipis.

“Ta, ta, ta, tapi….ini demi keselamatan warga perumahan ini.”

“Ndak usah basa-basi, Wik! Bilang saja kau sudah dibayar ketua RW.”

“Bang Sat ingin lepaskan jabatan tanpa cela bukan?”

“Kami justru ingin daerah ini kebanjiran, supaya ada pendapatan tambahan. Cicilan sepeda motorku sudah nunggak dua bulan.”

“Apa yang bisa kubantu, Jak?” tanya Iwik, sedikit bersimpati.

“Berhenti saja melinting rokok itu, berhentilah menahan hujan. Biarkan hujan deras turun. Bila perlu perumahan ini kelelep. Nanti pasti ada anggaran penanggulangan banjir. Bagaimana? Bisa bantu kami Wik?”

****

Tiga hari tiga malam hujan lebat tak henti-henti mengguyur perumahan elit Griya Kemilau Asri. Pada saat yang sama, air kali Cilesung meninggi, mungkin karena tingginya curah hujan di hulu. Dini hari, saat warga tidur nyenyak, air hujan dan luapan kali Cilesung dalam sekejap menggenangi areal perumahan. Mula-mula hanya setinggi tumit orang dewasa, tapi dalam waktu yang tidak terlalu lama, jadi sepinggang hingga seleher orang dewasa. Orang-orang kasak-kasuk, berteriak-teriak minta tolong, lalu berhamburan keluar rumah, menyelamatkan diri dengan peralatan seadanya. Tak lama kemudian, genangan air sudah mencapai atap rumah mereka. Tak satupun barang-barang yang terselamatkan, termasuk mobil-mobil pribadi yang masih terparkir di garasi. Semuanya terendam. Sebagian warga memang masih ada yang bertahan di lantai dua rumah mereka. Mereka diminta bersegera menaiki perahu karet tim penyelamat, mengungsi ke tempat aman, karena diperkirakan genangan air bakal terus meninggi. Bisa saja, banjir tahun ini, lebih besar dari tahun lalu. Bila tidak ingin terjebak banjir, sebaiknya warga mengungsi saja, begitu ajakan bang Sat, ketua RW yang lebih duluan mengungsi. Rojak, Jauhar, Jakdul, Paijin dan Ripin sibuk mengayuh perahu karet, berusaha sekuat tenaga menyelamatkan warga yang masih bertahan di rumah masing-masing. Tak nampak batang hidung Iwik di sana. Pawang hujan itu menghilang, entah ke mana.

Kelapa Dua, 2007

1 comment:

Pipin said...

Saya kagum dengan cerpen ini. Kebetulan ketika kuliah dulu, teman saya sampai menjadikannya bahan penelitiannya sebagai bahan tugas akhir. Mohon izin untuk nge-share cerpennya, Bang? Terima kasih.