Search This Blog

Tuesday, June 05, 2007

Asung Pitanah

Cerpen : DAMHURI MUHAMMAD

(tabloid NOVA, edisi 28 Mei 2007)

Saat umur Nupik masih enam tahun, kampung Sikabalapa heboh karena Rifayah pulang dari pulau Mbata dalam keadaan berbadan dua. Bunting. “Siapa bapaknya?” tanya nyinyir orang-orang waktu itu. Ah, mungkin teman lelaki sesama buruh pabrik, mungkin sopir taksi, tukang ojek, centeng pasar, mungkin pula supervisor bermata sipit. Kini, si Rifayah sudah janda, beranak satu. Zaituna, nama anaknya, sudah kelas tiga SMU. "Anak haram dari pulau Mbata." begitu orang menggunjingkannya.

Tak berselang lama sejak musibah menimpa Rifayah, orang-orang Sikabalapa kembali dirundung petaka karena kepulangan Salma. Masih dari pulau Mbata. Lebih menyedihkan dari sekedar pulang dalam keadaan perut buncit, Salma hanya pulang nama. Jenazahnya tergeletak kaku dalam usungan keranda. Desas-desus yang bergulir, Salma meninggal setelah mabuk berat pada suatu malam di sebuah diskotik ternama. Saat ditemukan, masih tercium aroma alkohol di mulutnya. Tak ada yang bertanggung jawab atas kematian itu. Orang-orang Sikabalapa tak mampu berbuat apa-apa, kecuali menangisi dan meratapi. Sesungguhnya masih banyak lagi risalah luka tentang gadis-gadis Sikabalapa yang mengadu untung di pulau Mbata. Tapi, apalah gunanya cerita itu diungkit-ungkit lagi. Hanya membuat orang-orang Sikabalapa makin berduka, makin terluka.

Sedari awal emak sudah katakan, “Hujan uang di negeri orang, hujan batu di kampung kita, sebaiknya anak gadis tak usah ke mana-mana, tetap sajalah di Sikabalapa!” Tapi, si Nupik keras kepala, tak hirau ia pada petuah emak. Merengek-rengek mohon ijin hendak berlayar ke pulau jauh, Mbata. Pulau yang dulu hanya semak belukar dan rawa-rawa, tiada penghuni selain lintah, ular dan biawak. Tapi, sejak pohon rupiah tumbuh di sana, pulau pun penuh sesak para perantau. Berbondong-bondong, berdatangan entah dari negeri mana. Seperti petuah emak yang lain, “Di mana ada gula, di situ banyak semut.” Tapi, mestinya Nupik tak menjadi semut yang ikut pula mengerubungi tumpukan gula. Bukankah Nupik gadis belia, kembang bunga Sikabalapa? Banyak kumbang berhasrat hendak hinggap. Ada kumbang janti putih kaki yang jinak tak bersengat. Terbang rendah hendak menghisap madu. Ada pula kumbang dari rantau, ingin membawa bunga, terbang tinggi ke negeri seberang. Tapi, Nupik acuh, seolah tak butuh. Kumbang-kumbang pun terbang lagi, lalu hinggap di kelopak bunga lain.

“Nupik ingin dik Tantri jadi guru seperti keinginan mendiang ayah. Dik Hudan bisa kursus mengemudi. Dik Rafki sekolahnya mesti sampai. Sebab, cita-citanya mulia, mau jadi ulama.” ungkap Nupik, tulus.

Emak tak menyangka, Nupik yang hanya tamatan madrasah, ternyata sudah bisa berfikir dewasa. Lebih dewasa dari usianya.

“Nupik mau jadi apa nak?” tanya emak, ragu-ragu.

“Nupik hanya ingin anak-anak emak jadi orang semua.”

Sebuah rumah sederhana telah berdiri tegak, berkat lembar demi lembar rupiah kiriman Nupik dari pulau Mbata. Atapnya seng, lantainya keramik. Lengkap pula dengan perabotan rumah tangga. Kursi tamu, lampu kristal, gorden warna lembayung, televisi 14 inch, rice cooker dan magic jar. Semuanya dibeli dari wesel yang datang dari Mbata. Kabarnya, Nupik bekerja sebagai karyawan pabrik, berseragam biru muda. Kepalanya sudah terbuka, tak berkerudung lagi, tak serupa gadis tamatan madrasah lagi. Apa lagi yang emak risaukan? Tantri sedang menyelesaikan tugas akhir untuk meraih gelar sarjana di fakultas Tarbiyah. Sebentar lagi akan jadi guru. Hudan sudah punya SIM A, bekerja sebagai sopir pribadi di kota. Rafki sudah bersekolah di pesantren modern. Ia satu-satunya anak muda Sikabalapa yang bisa bersekolah di sana. Tak ada yang mahal bagi rupiah yang dikirim Nupik.

“Pantas saja dia mampu bangun rumah, menyekolahkan anak sampai sarjana. Ternyata si Nupik tak hanya karyawan pabrik, tapi ada kerja sampingan yang menghasilkan uang berjuta-juta.” begitu asung pitanah perlahan mulai berserak di kampung Sikabalapa.

“Kerja sampingan? Wah, apa pula itu?”

“Ah, rendah benar antenamu. Sudah heboh kampung awak karena berita si Nupik. Sudah kaya dia di sana, jadi bini simpanan lelaki bermata sipit, orang asing dari Singapura.”

“Duh, tak usahlah mengada-ada! Kalau belum jelas benar, jangan disebarkan dulu, nanti jadi fitnah! Lagi pula, tak baik membuka aib orang kampung sendiri.”

“Telinga kau saja yang pekak. Semua orang sudah tahu. Awak dengar langsung dari Janilah, anak gadis sutan Pambangih yang baru pulang dari Mbata.”

“Kau lihat saja sendiri! Sudah dua pekan emak si Nupik tak keluar rumah, mengurung diri. Malu mendengar desas-desus anak gadisnya menjual diri di rantau orang.”

“Iba juga kita melihat nasibnya ya?”

“Iba apanya? Bodoh kau ini!”

***

Para pekerja pabrik yang tergabung dalam Koalisi Buruh Perempuan (KBP) cabang Mbata, bolehlah sedikit berbangga. Mereka sedang jadi pusat perhatian. Lebih-lebih, setelah Nupita Darwis, pimpinan mereka, meraih penghargaan bergengsi dari organisasi buruh internasional. Akhir-akhir ini, perempuan muda pemberani itu kerap dihadang tanya para pewarta.

“Sebagai aktivis buruh yang baru saja dapat penghargaan, bagaimana perasaan anda?”

“Tentu saya bangga. Kerja keras kami mendokumentasikan kasus-kasus pelecehan seksual terhadap buruh perempuan akhirnya beroleh perhatian serius dari dunia internasional. Tak sia-sia kami berjuang.” jawab Nupik, lugas.

“Anda layak disebut lokomotif perjuangan buruh perempuan di Mbata, massa pendukung anda ribuan orang, tak tertarik terjun ke dunia politik?”

“Lembaga ini non partisan, wadah untuk menampung segala macam permasalahan buruh perempuan, jangan sampai jadi komoditas politik!”

“Selamat! O, ya hadiah uang sebanyak itu, kalau boleh tau mau digunakan untuk apa?”

“Mau tau saja anda ini, yang pasti akan saya kirim ke kampung. Adik-adik saya sedang butuh biaya pendidikan.”

“Luar biasa! Anda bukan saja pahlawan bagi ribuan buruh perempuan, tapi juga pahlawan bagi keluarga anda.”

“Bisa aja anda ini.”

Berkali-kali wajah Nupik terpampang di halaman surat kabar. Nupik, kini tak lagi sekedar buruh yang mengadu nasib di pulau Mbata. Di mata kawan-kawan sesama buruh, ia pejuang gigih, tak henti-henti memperjuangkan kepentingan kaumnya. Perempuan bernyali besar yang konon hanya tamatan madrasah itu, telah menjadi ikon perjuangan buruh perempuan. Di mana ada demonstarsi buruh, di barisan paling depan pasti ada Nupik sedang bersemangat meneriakkan yel-yel tuntutan. Makin lama, Nupik makin sibuk. Sering ke Jakarta, memenuhi undangan-undangan seminar diskriminasi gender, bahkan beberapa minggu terakhir ini sering bolak balik Mbata-Lamaka, karena KBP Mbata sedang bekerjasama dengan sebuah LSM di Lamaka yang bergerak di bidang rehabilitasi mental tekawe asal Indonesia korban-korban pemerkosaan.

Sementara itu, di kampung, emak masih saja gelisah. Tak kuasa menanggung malu. Asung pitanah tentang Nupik tak kunjung reda. Makin menjadi-jadi. Maklumlah, mulut orang-orang Sikabalapa. Selalu saja merasa lebih tahu, meski belum terang duduk perkaranya. Berita masih simpang siur, sudah disemburkan ke mana-mana. Berita baik bisa saja jadi kabar buruk. Memang benar, lidah tak bertulang. Tapi, sekali menyampaikan berita bohong, fatal akibatnya. Lihatlah! Kini emak si Nupik terbaring lemas dalam bilik. Letai. Selera makannya hilang. Makin hari badannya makin kurus. Tinggal kulit pembalut belulang.

“Rafki tak usah diberitahu kalau emak sakit, nanti mengganggu konsentrasi belajarnya!” pinta emak, lirih.

“Bagaimana dengan kak Nupik, mak?” tanya Tantri, agak gugup.

Seketika, merah menyala rona muka emak, seperti memendam marah tak terkata.
“Jangan sebut nama itu lagi!” bentaknya,

“Lupakan dia! Anak tak tahu diuntung. Mencoreng arang di kening orang tua.” ulangnya lagi.

“Kak Nupik tak seburuk yang dibicarakan orang-orang. Emak lebih tahu sifat kak Nupik, bukan?”

“Diam kau! Tau apa kau soal Nupik, hah?”

“Jangan percaya gunjingan orang, mak. Itu tidak benar!"

“Jangan dengar asungan orang!”

Itulah hardikan emak yang terakhir, sebelum perempuan ringkih itu tenggelam dalam sakratul maut yang singkat. Lalu, mata lelah emak terpejam seiring mengaburnya pelangi di ujung senja yang berangsur lindap.“Mak, Mak, Maaaaaak…….. !! Jangan tinggalkan kami, mak!” Tantri meratap sambil memeluk jasad emak kuat-kuat.Orang-orang Sikabalapa berkabung karena kepergian emak si Nupik. Setiba di kampung, Nupik hanya melihat gundukan tanah yang masih merah. Saat berita duka itu diterimanya, ia sedang berada di Jakarta, mengiringi pemulangan puluhan buruh perempuan yang mengalami gangguan mental setelah dipaksa menjadi pekerja seks komersial di Mbata. Berkali-kali Nupik bermohon pada sanak keluarga, agar jenazah emak jangan dikubur dulu, sebelum ia tiba. Tapi, permintaannya tak dihiraukan. Mungkin, mereka masih menganggap Nupik durhaka pada emak. Tersebab asung pitanah, Nupik tak dapat mencium kening emak untuk kali yang terakhir.

“Kenapa tak ada yang berkabar kalau emak sakit?"

"Tiba-tiba saja datang berita duka, mengabarkan emak sudah tiada.”

“Maafkan Nupik, terlambat menjenguk emak.”

Berat kaki Nupik beranjak dari pusara emak. Lelah terasa. Lebih lelah lagi setelah didengarnya gunjing perihal gadis muda Sikabalapa yang menjual diri di pulau Mbata.

Kelapa Dua, 2007

3 comments:

crystalistgita said...

trus om setelah nupik pulang, asung pitanahnya berhenti gak?

itu bahasa mana ya?
hehehe..

Blognya sih mang sepi pernak pernik tapi tulisan2nya apikk tenan..!

damhurimuhammad said...

he3. Makasih sudah baca.

Muttaqin Kholis said...

Pulau mbata dan lakama, ini dapat d artikan da dam, sikalabapa ini apa da dam??