Search This Blog

Tuesday, July 24, 2007

Anak Bapak


Cerpen DAMHURI MUHAMMAD


(Pikiran Rakyat, Sabtu 21 Juli 2007)

(1)

Seolah ada tangan-tangan gaib yang tengah sibuk menggaruk-garuk daging di dada tipis bapak. Geli campur nyeri, sedikit perih. Makin kencang garukan itu, makin geli rasanya.Lalu gundukan daging kedua belah dada bapak berangsur-angsur mengembang. Seperti ada yang bergerak dan menyentak hendak menyembul keluar, hingga kedua bulatannya menegang dan membesar serupa balon ditiup pelan-pelan. Begitu juga putingnya, makin mekar. Montok serupa buah kelimunting matang. Kenyal dan setengah basah.

Jangan risau, nak! Tak akan lama kau tersiksa! Lihatlah, sebentar lagi Bapak bakal punya payudara. Kau meneteklah sepuasnya! Tak perlu mimik botol lagi. Bila haus, menyeruduk saja ke dada bapak. Ngangakan mulut, kenyotlah! Bila perlu sampai kempot. Kau suka yang mana? Kiri atau kanan? Setiap hari Bapak menyantap sayuran bergizi tinggi, agar kandungan susu Bapak melimpah. Supaya kau cepat besar. Sekarang, diamlah! Jangan menangis terus. Anak Bapak tak boleh rewel. Agar kelak, tidak manja. Jangan terlalu berharap air susu ibumu. Tak ada air susu ibu, air susu dari payudara Bapak yang baru tumbuh ini pun jadi. Toh, sama-sama air susu manusia. Bukan air susu sapi. Sabar ya, ini sudah bengkak. Pasti sebentar lagi airnya muncrat. Boboklah dulu!

Sejak kelahiranmu, Bapak kerap berpikiran ganjil. Saat ibumu tidur pulas, ingin sekali Bapak memotong dua payudaranya, lalu Bapak pasangkan di dada bapak. Masih disebut perempuankah ibumu bila tak punya payudara lagi? Masih ibukah namanya bila ia tidak mau menyusuimu? Dulu ibumu seperti kebelet pingin anak. Hidupku sunyi bila tak ada suara bayi, begitu katanya. Tapi setelah kau lahir, jangankan merawat, menyusuimu saja ia keberatan. Bukan aku tak mau, tapi tak punya waktu. Kasih saja susu formula! Isapannya bikin payudara jadi lembek, dalih ibumu lagi. Apa bedanya kau dengan ternak bila yang kau minum susu sapi? Untunglah kini Bapak punya payudara. Tengoklah, bulatannya makin padat. Tentu isinya air susu. Kau tak bakal minum susu ternak lagi. Tapi, masih bapakkah namanya bila punya payudara? Masih laki-lakikah Bapak bila kau menetek pada Bapak?

"Ngeyaaaaak, ngeyaaaaaaak, ngeyaaaaaaaak…..!"

Lho, kok nangis lagi? Kau tak suka Bapak punya payudara? Apa kelihatannya janggal? Tak apa-apalah. Yang penting kau sehat dan cepat besar. Emangnya cuma perempuan yang bisa menyusui? Bapak juga bisa! Bapak telah menjelma perempuan. Menggendongmu, memandikanmu, ganti popok, gurita, dan bedong bila ngompol, bersihkan e'ek dan kini juga, menyusui. Kalau begitu kenapa kau tak lahir dari rahim Bapak saja? Kenapa bukan Bapak yang hamil? Bapak pula yang menahan sakit saat melahirkan. Biar lengkap wujud Bapak sebagai perempuan. Siapa tahu Bapak juga punya rahim dan bisa melahirkan. Tapi, dari mana keluarnya? Tak ada jalan keluar bayi di organ vital bapak. O iya, bukankah bisa dioperasi caesar? Zaman sudah maju, melahirkan anak tak perlu lewat jalan keluarnya. Dibedah juga bisa. Tapi, masih disebut lahir jugakah bila kau tak terpacak di jalan yang semestinya? Bila kau keluar dari perut, bagaimana cara Bapak menentukan waktu kelahiranmu?

Nah, ini sudah muncrat. Minumlah! Jangan rewel. Ibumu tak suka anak rewel. Pusing kepalaku mendengar tangis bayi, katanya. Lho, bayi memang bisanya cuma nangis. Bahasamu, ya eyak-eyak itu! Berisik, tapi Bapak tak merasa pusing kalau kau nangis. Begitulah dunia bayi. Mau mimik nangis, mau tidur nangis, ngompol nangis, mandi nangis, kegerahan nangis. Ibumu kok pusing? Dikiranya anak baru lahir langsung bisa ngomong, begitu? Atau langsung berdiri dan lari-lari? Repot sekali punya anak, katanya. Wah, kalau tak mau repot, jangan beranak!

(2)

Apa-apaan ini? Dadamu kok membusung seperti semangka begitu? Doa apa yang kau baca hah? Lucu juga kelihatannya laki-laki punya payudara. Mau jadi perempuan rupanya. Kenapa tidak bilang dari dulu? Kau bisa operasi kelamin. Rahimku pindahkan ke tubuhmu. Kita bertukar kelamin. Kau pakai semua daster dan rokku. Kemeja, kaus oblong, celana jeansmu aku yang pakai. Kau yang belanja dapur, masak, nyuci pirinng, nyuci pakaian. Aku jadi bapak. Kerja. Cari nafkah. Aku suami. Kau istriku. Harus patuh dan hormat kau padaku.

"Tidak, aku tetap suami! Meski kini aku punya payudara. Aku tetap laki-laki meski aku menyusui bayi kita."

"Aku hanya ingin ia beroleh susu. Itu saja!"

"Aku laki-laki. Suamimu. Harus patuh kau padaku. Ngerti?"

Sudah kubilang, aku sibuk. Pergi pagi pulang malam. Mimik botol apa salahnya? Banyak juga bayi yang tak minum air susu ibu. Kau saja yang terlalu berlebihan. Kini lihatlah akibatnya, kau tak malu? Punya jakun, tapi ada payudara. Laki-laki tidak, perempuan juga tanggung. Lalu apa kelaminmu? Apa dunia mau kiamat? Laki-laki menyusui. Sebentar lagi mungkin laki-laki hamil. Edan!

"Aku juga heran, tiba-tiba tumbuh sendiri, tak disuntik sama sekali"

"Tak apalah, mudahan-mudahan setelah anak kita besar, payudaraku menyusut kembali."

Iya. Tapi bagaimana aku menyebutmu suami bila kau setengah jantan setengah betina? Apa kata orang nanti? Masa suamiku punya payudara? Apalagi bila kau benar-benar bunting. Terus siapa ba paknya? Siapa yang menghamili? Gila apa? Jijik aku melihat payudaramu itu. Pergilah ke rumah sakit. Dioperasi bila perlu!

"Ngeyak…..ngeyak…..ngeyaaaaaaaaaaaaaak….!"

Anak Ibu kok rewel? Udah mimik belum? Ah, jangan-jangan ini karena terlalu banyak minum susu bapakmu. Ibu sudah bilang, minum susu formula saja! Bapakmu itu terlalu keibuan. Saking keibuan, payudaranya tumbuh sendiri. Bengkak serupa semangka. Apa enak susu bapakmu hah? Serbasusah punya suami seperti bapakmu. Coba kalau bapakmu kerja, Ibu bisa di rumah. Masak, nyuci, nyapu, ngepel, ngurus anak, apa saja Ibu kerjakan. Tapi, kalau Bapak di rumah, Ibu di rumah, kita makan apa? Jadi, Ibu harus banting tulang. Cari uang. Biar dapur kita tetap ngepul.

“Ngeyak…..ngeyak…..ngeyaaaaaaaaaaaaaak….!"

"Ngeyaaaak…..ngeyaaaaaaaak…..ngeyaaaaaaaaaaaaaak….!"

Sudah, sudah! Diam! Tuh kan, jadi nggak mau mimik botol. Duh, gimana caranya biar kau diam? Repot kalau tak ada bapakmu. Sebentar ya, bapakmu lagi belanja sayur-sayuran, katanya biar air susunya banyak. Ayolah, sementara mimik botol dulu! Mau ya? Ih, gimana ini? Bingung Ibu jadinya…

(3)

"Bapak jahat, bapak jahat! Dedek mau mobil-mobilan, bapak nggak beliin, hu….. hu…….hu……"

"Sudah, sudah, Dek! Jangan cengeng begitu! Dedek udah gede. Ntar Ibu yang beliin. Dedek mau yang mana?"

"Bapak nakal, bapak nakal…..hu…..hu….hu….."

"Iya. Bapak nakal. Nanti kita jalan-jalan ya. Beli mobil-mobilan. Sudah, diam dulu!"

"Dedek mau main ama Ibu aja. Nggak mau ama Bapak. Bapak jahat!"

Sudah besar anak bapak rupanya. Sudah bisa bilang bapak nakal, bapak jahat. Kenapa tidak mau jalan-jalan sama bapak? Pinginnya sama Ibu terus ya? Memang menyenangkan kalau sama ibu. Tiap akhir pekan diajak main ke mal. Beli mobil-mobilan, robot-robotan, pedang-pedangan, pistol-pistolan. Sampai-sampai kau kecanduan ke mal. Bapak memang bisanya cuma ngajak Dedek lihat gajah, buaya, burung, ikan, dan angsa di kebun binatang. Jalan-jalan sama Bapak tidak pernah jajan ya? Ah, bapak memang jahat, nakal, pelit.

"Apa kubilang? Ntar kalau sudah besar mau juga sama aku. Kau lihat sendiri kan? Kecil-kecil sudah bisa bilang tidak suka bapak"

"Dedek biar ikut aku saja. Di kantor ada penitipan anak"

"Tapi, tapi….."

"Tapi apa?"

"Dia kan sudah berhenti mimik susumu, mimik botol aja!"

"Dedek rewel terus kalau sama bapaknya!"

"Kurang ajar! Hati-hati kalau ngomong! Dulu, waktu masih bayi kenapa tidak mau ngurus?"

"Kalau sudah besar begini aku mau. Sudah ngerti bila dikasih tahu. Pokoknya sekarang aku yang ngurus anak!"

"Kau mulai nggak becus!"

"Buktinya, dia minta mainan, kenapa diam saja? Makanya, kerja! Cari duit, biar bisa beliin mobil-mobilan buat anak."

(4)

Serasa ditampar berkali-kali mukanya ketika bocah enam tahun yang gendut itu bilang bapak nakal, bapak jahat. Sejak umur 1 hari ia menggendong Dedek. Tiap malam berjaga-jaga bila sewaktu-waktu Dedek kecil bangun, ngeyak dan ngompol. Ganti popok, bedong, gurita. Di tangannya Dedek tumbuh hingga jadi imut-imut seperti sekarang. Dalam aliran darah Dedek, tentu masih ada resapan air susu laki-laki itu. Air susu dari payudara yang tumbuh secara ajaib. Kini, setelah Dedek kuat berlari ke sana ke mari. Sudah lancar ngomong dan berhenti nyusu, ia seolah tak diperlukan lagi. Dedek lebih suka main dan jalan-jalan bersama ibu. Berkeliling di pusat-pusat perbelanjaan, cari mainan model baru. Baju baru. Sepatu baru. Sudah menumpuk mobil-mobilan pembelian ibu, tapi Dedek tak pernah puas. Terus-terusan ingin mainan baru. Belakangan Dedek minta Play Station 2. Sudah pasti, laki-laki itu tak bakal mampu belikan Dedek. Lagi-lagi Dedek bilang bapak jahat, bapak nakal dan bapak pelit.

"Makanya, punya anak jangan modal dengkul aja!"

"Jangankan PS2, robot-robotan kaki lima saja kau tidak mampu beli. Ih, gimana sih jadi bapak?"

"Payah."

Suatu malam, (sekali lagi) laki-laki itu mengalami kejadian ajaib. Seolah ada tangan-tangan gaib sedang sibuk menggaruk-garuk daging di dada tipisnya. Geli bercampur nyeri, sedikit perih. Makin kencang garukannya, makin geli rasanya. Lalu, tonjolan daging kedua buah dadanya berangsur-angsur menyusut seperti ada yang menghisap dari dalam, hingga kedua bulatannya kempes serupa balon mengisut pelan-pelan. Begitu pun bulatan putingnya, makin layu, mengering, tak segar seperti kelimunting matang lagi. Dadanya kembali rata, seperti semula. Ia kembali jadi laki-laki. Payudaranya hilang seketika. Sayang sekali, Dedek tak menyadari perubahan mencolok di tubuh bapaknya. Bocah yang makin nakal itu juga tak diberi tahu kalau dulu ia pernah menetek pada bapaknya.

"Ikut Bapak yuk, nak!"

"Nggak mau, nggak mau, nggak mau. Dedek nggak suka liat ikan. Maunya mandi bola di mal."

"Ayolah nak! Bapak kangen jalan-jalan ama Dedek."

"Bosan ah…!"

***

Kelapa Dua 2007

2 comments:

Anonymous said...

hikss ....

sayang bapak

Praptomo Dwi said...

Membaca ini membuatku sedih dan teringat saat Bapak mengajak jalan2 dengan motor bututnya. Aah, Bapak. Aku rindu...