Search This Blog

Wednesday, January 10, 2007


Ular Bunga Emas dari Kyoto


Oleh : DAMHURI MUHAMMAD

(Kompas, 07 Jan 2007)



Sejauh ini, beberapa novelis perempuan masih gandrung mengusung imaji ketubuhan sebagai sandaran estetik karya-karya mereka. Lebih sinis lagi, ada anggapan yang meniscayakan bahwa mereka hanya bisa menulis tentang seks. Meski tuduhan itu agak sentimentil, saya tetap dirasuki sinisme yang sama ketika berhadapan dengan Perempuan Kembang Jepun, karya Lan Fang. Tapi, kecurigaan itu harus segera saya gugurkan. Sebab, tabi’at literernya berbeda dengan novel-novel berlumur lendir yang berhamburan akhir-akhir ini. Beberapa bagian, memang masing memuat adegan-adegan ’panas’. Tapi, ibarat menu masakan, imaji seksual itu hanya bumbu penyedap rasa. Agar masakan lebih sedap, gurih, mengenyangkan.


Riwayat cinta memang tak pernah lekang dikunyah gerigi waktu. Terus bersitumbuh menjadi semangat zaman di setiap kurun. Cinta tak ada matinya. Itu sebabnya para novelis masih tekun menggaulinya. Perempuan Kembang Jepun menyuguhkan sajian ‘cinta tak biasa’. Bersemi di keremangan kelap-kelap malam, kawasan Kembang Jepun, Surabaya (1940-an) --yang menjadi latar pengisahannya. Lan Fang (masih) memercayai cinta masih ada, di mana-mana, termasuk di tempat mesum, yang bergelimang maksiat.

Adalah Matsumi, perempuan penghibur kelas kakap yang datang (didatangkan?) dari Kyoto. Memenuhi permintaan seorang petinggi militer Jepang, Shosho Kobayashi. Demi martabat bangsa Jepang, di Kembang Jepun, ia harus menanggalkan identitas kejepangan, berganti nama ; Tjoa Kim Hwa, artinya Ular Bunga Emas. Nama yang liar, seliar gelinjang tubuhnya di atas ranjang. Tapi juga anggun, seanggun gemulai jemarinya saat menari di depan tamu-tamu berkantong tebal. Semula, kedatangan Matsumi memang karena uang. Tapi, bekas geisha ternama itu menolak disebut jugun ianfu (pelayan seks). Sebab, ia pandai menari dan memainkan shamisen (alat musik petik tradisional Jepang), dan (tentu) piawai memuaskan laki-laki. Suatu ketika ia bertemu Sujono, buruh angkut di toko kain Babah Oen. Biasanya Matsumi selalu memegang kendali ‘permainan’, tapi saat berhadapan dengan laki-laki itu, ia tak berdaya. Matsumi malah ‘menikmati’ permainan itu. Sujono terpaksa mencuri uang di brankas Babah Oen guna membayar ’harga’ Matsumi yang selangit itu. Perjumpaan ‘tidak biasa’ itu membuat Tjoa Kim Hwa bertekuk lutut. Ia jatuh cinta, ‘pensiun’ sebagai sundal dan menikah dengan Sujono. Inilah muasal nestapa Matsumi.

Bagi Sujono, menikahi Matsumi hanya karena uang. Sejak dipecat Babah Oen, Sujono berubah jadi pemalas. Sehari-hari, hanya bermanja-manja menikmati layanan ‘istimewa’ dari istrinya, Matsumi. Mencicip kebahagiaan tanpa harus kerja keras layaknya seorang suami. Sujono memanfaatkan kekayaan Matsumi. Tak jarang, nafkah untuk istri pertamanya (Sulis) pun dirogohnya dari kantong Matsumi. Benar-benar ‘buaya darat’. Petaka tak terbendung lagi. Setelah melahirkan Kaguya, tabungan Matsumi menipis. Lebih parah lagi, keadaan sedang genting waktu itu. Sekutu menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Kedigdayaan Jepang di Indonesia lumpuh seketika. Kelap-kelap malam di kawasan Kembang Jepun disegel. Surabaya tidak aman lagi bagi siapapun yang beridentitas Jepang, termasuk bagi Tjoa Kim Kwa alias Matsumi. Matsumi harus pulang ke Jepang, tanpa Kaguya. Sebab, Kaguya tak punya kelengkapan administrasi sebagai orang Jepang. Bocah perempuan usia 2 tahun itu dititipkannya pada mama Mio dan tuan Tan di Klenteng Hok An Kiong, tak jauh dari Kembang Jepun.

Sujono kelimpungan sejak kepergian Matsumi yang tanpa pamit. Beruntung kemudian ia menemukan Kaguya dan bertekad tak bakal menyia-nyiakannya. Menyayangi Kaguya berarti menunjukkan rasa cinta pada Matsumi. Dibawanya Kaguya ke rumah petakan yang sumpek, tempat tinggalnya dengan Sulis. Agar aman, nama Kaguya diganti ; Lestari. Tapi, di sini pula bermula derita Lestari, yang tinggal dengan ibu tiri. Ia dibesarkan dengan hardikan, cacian, sumpah serapah. Tak hanya itu, setelah beranjak remaja, (saat rumah sedang sepi) Lestari diperkosa kakak tirinya, Joko, anak laki-laki dari perkawinan Sujono dan Sulis.

Sujono yang semula digambarkan sebagai laki-laki bejat, tiba-tiba berubah jadi sosok ayah yang memeras keringat siang malam sebagai tukang becak di pelabuhan Tanjung Perak. Mengerahkan segenap tenaga demi menghidupi Lestari. Sejak Lestari diperawani Joko, Sujono hengkang dari kehidupan Sulis. Dibawanya Lestari ke rumah Matsumi yang sudah lama ditinggalkan dalam keadaan terkunci. Kelak, Sujono dan Lestari menampung anak-anak terlantar di sana, hingga rumah itu menjadi panti asuhan. Lestari punya seorang anak angkat bernama Maya.

Sujono mulai ringkih, sakit-sakitan. Tak ada yang bisa dilakukannya selain membuat burung orisuru dari kertas washi. “Matsumi yang mengajari ayah membuat orisuru….”. Hingga detik-detik terakhir hidupnya, Sujono masih menyebut-nyebut nama Matsumi. Saat mengucapkan nama itu, seperti ada yang bergetar di dadanya, ada yang bergejolak di jantungnya. Denyut rindu yang menyesakkan.

Lan Fang tidak mengusung pembelaan terhadap ketertindasan perempuan, tidak pula ‘mempersetankan’ laki-laki dalam novel ini. Ia bijak, meski kosakatanya kerap ’menyeramkan’. Lestari memperlakukan ayahnya (Sujono) seperti pahlawan, tiada cela. Padahal, di mata Matsumi, Sujono adalah keparat yang telah menghancurkan hidupnya.

Sebuah peristiwa kebetulan yang (agak) dipaksakan tak terelakkan. Lestari dan Matsumi berjumpa kembali. Pertemuan itu terjadi ketika Lestari menerima tamu istimewa. Higashi, pelukis asal Jepang yang kerap berkunjung ke Kembang Jepun, hendak melamar Maya. Ia datang bersama perempuan renta yang masih menyisakan kecantikan masa muda, ibu angkat Higashi. Namanya Matsumi. Satu hal lagi yang mengganggu pembacaan adalah inkonsistensi Lan Fang soal identitas kejepangan Matsumi yang disembunyikan dengan nama cina. Tapi kenapa Tjoa Kim Hwa masih mengenakan Kimono?

Berkali-kali Lestari ingin menyela saat Matsumi berkisah perihal kebejatan Sujono. Tapi, ia dapat merasakan pahit getir Matsumi karena ulah Sujono, ayahnya. Sebaliknya, bertahun-tahun Lestari juga menanggung perih luka, karena ditinggalkan begitu saja oleh Matsumi. Agaknya, tak ada lagi puing cinta Matsumi pada Sujono. Padahal, denyut rindu Sujono pada Matsumi tak kunjung padam. Cinta pada Matsumi dibawanya mati. Seperti bertepuk sebelah tangan. Sunyi tiada berbunyi. Hampa tiada suara. Mengharukan!

Kenapa Lan Fang masih getol merancang kisah cinta? Bukankah banyak lahan tematik yang lebih pelik dan belum tergarap? Karena ia terbiasa menulis novel pop? Saya teringat jawaban cerpenis Kurnia Effendi saat dihadang tanya yang sama, “Persoalan cinta di negeri ini belum selesai!”. Mungkin, Lan Fang juga bakal berdalih seperti itu. Apa boleh buat…

Tuesday, January 09, 2007



Bila Jurnalis Jadi Cerpenis…

Oleh : DAMHURI MUHAMMAD

(Jawa Pos, Minggu, o7 Jan 2007)

Banyak dalih dapat diacungkan untuk menjawab tanya; kenapa seorang jurnalis tiba-tiba jadi cerpenis? Mungkin, karena jurnalis punya tumpukan data, dan sayang sekali bila hanya digunakan untuk menulis laporan jurnalistik. Seiring dengan berhamburannya buku-buku fiksi akhir-akhir ini, tentu tidak ada salahnya bila data-data yang berlimpah itu diracik dan diolah untuk "memproduksi" karya sastra, khususnya cerita pendek. Kenapa tidak? Mungkin pula karena para jurnalis hendak menyuarakan sesuatu yang tidak tersampaikan dalam laporan jurnalistik, dan salah satu pintu yang dapat mereka lalui adalah dengan menulis cerpen. Atau (jangan-jangan) karena sejak mula jurnalis itu memang sudah terobsesi hendak menjadi cerpenis.


Latar belakang kewartawanan memang cukup potensial menggiring sesorang menjadi sastrawan. Barangkali, karena dalam penggarapan karya jurnalistik mereka mesti taat kode etik, patuh pada rambu-rambu. Sementara dalam penulisan karya sastra, kode etik boleh dilanggar, tak ada rambu-rambu yang mesti dipatuhi. Bila cerpenis diamsalkan serupa pengendara di jalan raya, maka ia boleh menerobos lampu merah, parkir di sembarang tempat, bahkan boleh pula "mabuk berat" saat mengemudi. Agaknya, inilah pintu paling "aman" yang dapat disingkap sebelum masuk ke dalam "rumah kreatif" Akmal Nasery Baseral yang dijudulinya Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku.

Sekali lagi, ibarat seorang pengendara, "kecerpernisan" Akmal memang terbilang lumayan ngebut, meski saat mengemudi ia belum pernah mabuk (jadi, belum pernah mengalami kecelakaan). Saya bilang ngebut, karena hanya dalam rentang waktu empat bulan (Juli-Oktober 2006) cerpen-cerpennya yang "bergentanyangan" di sejumlah media cetak sudah memenuhi "kuota" untuk sebuah antologi. Bilamana staminanya terus terjaga, dalam setahun, Akmal tentu sanggup menelurkan empat kumpulan cerpen. Tergesa-gesakah Akmal membukukan cerpen-cerpennya? Inilah tanya yang merasuki saya saat menggauli 13 cerpen dalam buku ini. Lebih-lebih setelah mencermati catatan penutup kritikus sastra, Budi Darma, yang kerap menyebut kata instant dan seolah-olah hendak meniscayakan bahwa isi kumpulan cerpen ini sederhana, dan untuk mengimbanginya, Akmal menyediakan bentuk yang sederhana pula. Celakanya, pada catatan pencerita (Memoria), alih-alih menyela dan membantah, Akmal justru mengamini kata sederhana itu. Padahal, terminologi sederhana terdengar agak pejoratif (meremehkan). Menyiratkan ketidakcukupan, kekuranglengkapan, ketidaksempurnaan.

Bila seorang ibu tega membakar bayinya, lalu mengunyah-ngunyah dagingnya seperti menyantap ayam panggang, sebagaimana yang terjadi di Kelapa Dua, Depok, sebulan lalu, mungkin masih patut disebut masalah sederhana. Apa pasal? Si kanibal yang dijuluki "Sumanti" itu terbukti tidak waras alias sinting. Tapi, ihwal tentang perempuan terdidik (Nila) yang meringkuk di penjara setelah menghabisi nyawa suami dan anaknya (Ada Seseorang di Kepalaku…), apakah itu usungan tema yang sederhana? Di mana letak sederhananya? Lalu, tema macam apa yang "tidak sederhana" bagi Budi Darma?O, iya, mungkin karena Akmal berprofesi sebagai wartawan. Pelbagai peristiwa, setragis dan sesadis apa pun, karena tiap hari diamati, lalu dianggap biasa-biasa saja. Tapi, bagaimana dengan Abdullah (Lelaki yang Berumah di Tepi Pantai) yang tiba-tiba bergelar si Mulhid (Orang Sesat) karena nekat hendak menantang kuasa Tuhan? Masih sederhanakah "tirakat" Mulhid? Lagi-lagi pertanyaannya, di mana letak kesederhanaan eksplorasi tematik buku ini? Perwatakan yang terbangun dalam cerpen-cerpen Akmal justru memperlihatkan kerunyaman gagasan yang sukar diurai satu per satu. Pengarang berupaya meninggalkan jejak pikiran dengan meminimalisasi jejak tindakan pada cerpen-cerpennya. Di titik inilah keunikan cita rasa cerpen-cerpen Akmal dapat dinikmati.

Maka, bila saya jadi Akmal, akan saya tolak (mentah-mentah) kata sederhana sebagaimana ditudingkan Budi Darma. Bagaimana mungkin menyederhanakan musibah banjir lumpur panas (yang telah menimbun tidak hanya rumah-rumah penduduk Sidoarjo, tapi juga menenggelamkan mata air penghidupan mereka), yang dijadikan sandaran faktual cerpen Lebaran Terakhir? Ini jelas runyam. Rumit. Serupa benang kusut. Sukar dicari, mana ujung, mana pangkal.

Sebagai pendatang baru di jagat cerpen (Akmal lebih dulu membukukan novel ketimbang cerpen), tampaknya Akmal sudah tidak bermasalah dengan teknik berkisah, jelajah tematik, bahkan (lagi-lagi) Budi Darma sampai mencatat: Akmal telah memilih putusan bijak, yaitu menyeimbangkan tuntutan isi dan bentuk. Tapi, cerpenis ini belum sungguh-sungguh melepaskan baju jurnalisnya. Ia masih taat kode etik, patuh rambu-rambu. Karena itu, Akmal tampil seperti cerpenis lugu, polos, dan (terlalu) jujur. Semua cerpen yang didedahkan buku ini dilengkapinya dengan catatan kaki, mulai dari lirik lagu Gun’s N Roses, novel Ernest Hemingway hingga film James Bond. Padahal, tanpa membubuhkan referensi macam itu, cerpen-cerpen Akmal tetap utuh, tak bakal bercela. Justru dengan bersijujur membeberkan riwayat proses kreatifnya, Akmal seolah-olah sedang melukis di atas lukisan (meski ia berdalih; tak ada yang baru di bawah matahari). Cerpen Lelaki yang Berumah di Tepi Pantai, disebut-sebut terinspirasi dari Robohnya Surau Kami (A.A. Navis), padahal tanpa diberi tahu pun, pembaca yang telaten akan tergiring ke sana. Bukankah sebaiknya pengarang menyerahkan "bulat-bulat" karyanya pada khalayak pembaca? Cerpen bukan makalah ilmiah, Bung! Jadi, tak perlu kejujuran akademik. Karena, terlalu lugu, Akmal menjadi pencerita yang tidak mandiri, selalu bergantung pada referensi dan catatan kaki (apa yang terjadi bila Akmal kehabisan referensi?).

Barangkali, Akmal memang pembaca yang rakus, lalu menjadi pengarang yang terlalu lurus (padahal, mana ada pengarang yang jujur?). Mungkin, beginilah tabiat literer yang terbangun, bila jurnalis sudah jadi cerpenis…