Search This Blog

Sunday, May 20, 2007



Gairah Kebangsaan dalam Menu Masakan


Judul Buku : Melawan dengan Restoran
Penulis : Sobron Aidit & Budi Kurniawan
Penerbit : Mediakita, Jakarta
Cetakan : I, 2007
Tebal : 154 halaman


Oleh : DAMHURI MUHAMMAD

(JAWA POS, 20 Mei 2007)

Mengenang sosok Sobron Aidit seamsal menengadah pandang pada sebuah layang-layang yang sedang tegak tinggi tali. Jauh, tapi terasa begitu dekat. Tinggi, tapi terasa terbang rendah. Adik mantan ketua Centra Commite Partai Komunis Indonesia (PKI), D.N. Aidit itu adalah salah seorang dari sekian banyak "orang-orang terbuang" pasca tragedi 30 September 1965. Sejak 1964, Sobron Aidit bekerja sebagai pengajar Sastra dan Bahasa Indonesia di Institut Bahasa Asing Beijing. Selain itu ia juga menjadi wartawan di Peking Review. Tak berselang lama setelah Sobron berdomisili di Beijing, tersiar kabar perihal tewasnya Bang Amat (begitu Sobron memanggil kakaknya, D.N. Aidit) setelah dibunuh tentara di Boyolali, Jawa Tengah. Karena sedang berada di Beijing, Sobron dan keluarga serta ratusan orang Indonesia lainnya, selamat dari pembantaian rezim Orba. Mereka terpaksa bermukim di Tiongkok sambil terus berharap bisa pulang ke tanah air. Namun, harapan itu serupa pungguk merindukan bulan, pemerintahan Orde Baru terus-menerus memupuk dendam kusumat pada kaum kiri. Akhirnya, Sobron Aidit harus "menggelandang" di negeri orang. Delapan belas tahun di Tiongkok, 21 tahun di Paris.

Meskipun jauh, hampir setiap hari tulisan-tulisan Sobron (puisi, cerpen, kolom, esai, dan catatan-catatan perjalanan) dapat dijumpai di berbagai mailing list (grup diskusi di internet). Ia berdiskusi, berpolemik bahkan tidak jarang berdebat sengit dengan kawan-kawan penulis muda tanah air. Sobron memang pecandu diskusi, meski usianya sudah renta. Ia tak pernah abai pada kritik dan tanggapan kawan-kawan sesama anggota mailing list terhadap tulisan-tulisannya. Selalu dibalas, dan balasan itu jauh lebih panjang dari esainya yang tengah jadi pusat perhatian. Dalam sehari, tak kurang dari tiga sampai empat tulisan ia kirimkan ke sejumlah mailing list. Rata-rata panjang tulisan itu lebih dari delapan halaman dengan format 1,5 spasi. Sebuah gambaran tentang energi kreatif yang tiada pernah sumbing meski usia Sobron sudah berkepala tujuh.

Dapat dibayangkan betapa sabar dan tekunnya ia duduk berlama-lama di depan komputer. Beberapa hari sebelum Sobron Aidit meninggal dunia pada 10 Februari 2007, seperti diceritakan salah seorang anaknya, dia terpeleset dan jatuh di sebuah stasiun bawah tanah di Paris saat mencari layanan internet. Lagi-lagi untuk urusan berkomunikasi dengan kawan-kawan mudanya di dunia maya, di Indonesia. Sobron sepertinya "tidak di sana", sebab ia sungguh "dekat di sini", di negerinya sendiri, di Indonesia yang selalu disinggahinya, meski hanya lewat internet.

Buku Melawan dengan Restoran yang ditulis Sobron bersama Budi Kurniawan ini adalah salah satu buah dari stamina kepengarangan Sobron yang tiada pernah surut itu. Berbeda dengan buku-buku yang sudah terbit sebelumnya, kali ini Sobron tampil dengan bahasa tutur yang bersahaja, kalimat-kalimatnya dibumbui senda gurau khas kaum eksil. Berkisah perihal suka duka ketika Sobron Cs tertatih-tatih mendirikan restoran Indonesia di Paris. Sobron, Umar Said, J.J. Kusni, Ibbaruri (putera D.N. Aidit) dan kawan-kawan sesama eksil saling bahu-membahu, hingga akhirnya restoran Indonesia pertama pun tegak berdiri di Rue de Vaugirard, jantung kota Paris (1982).

Apa yang hendak dicari Sobron? Selain untuk bertahan hidup, restoran itu saksi bahwa kaum eksil tak sungguh-sungguh merasa terasing dari tanah air mereka, Indonesia. Di restoran itu mereka berjuang, melawan hasrat rindu ingin pulang ke tanah kelahiran. Mereka sajikan aneka masakan khas Indonesia (aasi rawon, gudeg Jogja, rendang Padang dan lain-lain) seolah-olah tidak sedang berada di negeri orang.

Banyak aral melintang menghadang Sobron setelah mendirikan restoran itu. KBRI Perancis bahkan mengeluarkan maklumat larangan berkunjung ke restoran milik orang-orang kiri itu. Tapi, banyak pula yang tidak patuh pada larangan tak masuk akal itu. Masak makan di restoran saja dilarang?

Pertentangan ideologis masa lalu telah membuat hidup Sobron Aidit selalu di bawah tekanan dan ancaman, bahkan dalam urusan restoran yang tujuannya hanya untuk menyediakan lapangan kerja bagi kaum eksil pun dihubung-kaitkan dengan persoalan ideologi. Tapi, begitulah Sobron Aidit! Bila memang lewat restoran itu ia berpeluang melawan, ia tak bakal sia-siakan peluang itu. Sobron akan terus melawan, meski hanya lewat restoran. Nasib dan peruntungan kaum eksil yang terkatung-katung selama berbilang tahun di negeri orang harus diperjuangkan. Lewat menu makanan, Sobron mengibarkan semangat keindonesiaan di restoran yang kemudian menjadi tempat berkumpul yang mengasikkan bagi para pejabat tanah air bila berkunjung ke Prancis. Tak kurang-kurang, mantan presiden Gus Dur berkali-kali singgah di sana.

Kini, Sobron Aidit sudah tiada. Tapi, restoran Indonesia yang berdiri kokoh di jantung kota Paris tetap saja menjadi "posko perlawanan" orang-orang buangan. Begitu pula dengan buku setebal 154 halaman yang (amat disayangkan) penggarapan sampul dan perwajahan isinya tidak maksimal dan buru-buru ini, hendak menikamkan jejak tekstual perlawanan Sobron Aidit lewat restoran, lewat menu rendang Padang yang sudah dimodifikasi sesuai selera orang Paris, lewat obrolan-obrolan nostalgik tentang tanah tumpah darah yang selalu dirindukannya. Terlepas dari anutan ideologi di masa silam, bagaimana pun, Sobron telah menyalakan gairah kebangsaan yang tiada kunjung padam. Maka, Sobron Aidit perlu dicatat, dibukukan, dibaca, dihargai… (*)

Thursday, May 10, 2007

Pawang Hujan

Cerpen : DAMHURI MUHAMMAD

(PIKIRAN RAKYAT, 5 Mei 2007)

Sudah berpuluh-puluh batang rokok dari lintingan daun Nipah dihisap Iwik sejak ia bertirakat menahan hujan. Sepanjang malam ia mengelilingi kompleks perumahan Griya Kemilau Asri sambil menghembus-hembuskan asap rokoknya ke langit sebelah utara. Dengan kepulan asap dari linting demi linting yang sudah dimantra-mantrai, Iwik menghalau gerakan angin, agar hujan deras tidak mengguyur wilayah itu. Sebenarnya sudah cukup lama Iwik tidak menggunakan kepandaiannya sebagai pawang hujan. Lagi pula, di kota besar ini siapa pula yang masih percaya bahwa ada orang yang sanggup menahan hujan?

Tapi, tidak disangka-sangka, pak Satmoko minta bantuan Iwik untuk menahan hujan di pemukiman yang tiap tahun menjadi langganan banjir. Ketua RW yang juga pensiunan tentara itu bisa memastikan rumah-rumah di wilayahnya bakal terendam banjir bila hujan lebat tiba. Tak perlu menunggu kali Cilesung meluap, tumpukan sampah yang menyumbat saluran pembuangan saja sudah cukup untuk bikin air comberan naik ke permukaan, lalu masuk ke rumah-rumah warga. Tahun lalu, banjir datang begitu tiba-tiba, di saat warga sedang tidur pulas. Air meninggi sampai tiga meter. Warga berhamburan keluar rumah. Mengungsi tanpa memikirkan mobil-mobil import, lukisan-lukisan dinding, kursi-kursi antik dan barang-barang elektronik yang tenggelam dan hanyut terseret arus.

Sebagai ketua RW, bang Sat (begitu warga memanggilnya) benar-benar malu dan merasa bersalah karena tidak mampu menanggulangi banjir yang kerap menimpa warganya. Ia kerap dibilang seperti keledai yang berkali-kali terjerembab di lubang yang sama. Sejak dipercaya menjadi ketua RW, sudah tiga kali perumahan itu ditenggelamkan banjir. Maka, di akhir masa jabatannya yang tinggal dua bulan lagi, bang Sat ingin lengser tanpa cela dan kesan buruk, setidaknya tanpa bencana banjir yang membuat warganya kerepotan, panik, lalu menuduh ketua RW ; pimpinan yang tak becus, tak peduli got-got yang tersumbat, tak memikirkan jalan keluar agar perumahan mereka terselamatkan dari luapan kali Cilesung. Karena itulah Iwik sengaja didatangkan. Bang Sat memperbantukan pawang hujan itu sebagai satpam paruh waktu. Itu hanya penyamaran yang diatur oleh ketua RW. Sebenarnya Iwik bukan petugas jaga sungguhan seperti Rojak, Jauhar, Jakdul, Paijin dan Ripin yang tiap hari bertugas di pos penjagaan, pintu gerbang perumahan. Kalaupun disebut penjaga, Iwik adalah penjaga pemukiman itu dari ancaman banjir. Ia pawang hujan tersohor yang konon sanggup menahan hujan selama berbulan-bulan.

“Saya tidak mau kebanjiran lagi. Malu saya!” keluh bang Sat penuh harap. Ia tampak mulai resah, sebab akhi-akhir ini cuaca memang kurang bersahabat. Lebih banyak mendung ketimbang cerah.

“Upayakan menahan hujan selama mungkin! Minimal sampai dua bulan ke depan”

“Waduh, apa ndak terlalu lama bang?” tanya Iwik

“Jangan kuatir, bayarannya setimpal!”

“Bukan soal itu bang! Bang Sat lihat sendiri kan? Perkampungan yang bersebelahan dengan perumahan ini sudah lama kekeringan. Mereka butuh hujan bang!” jelas Iwik meyakinkan bang Sat.

“Ah, itu bukan urusan saya. Pokoknya, sebelum saya melepaskan jabatan ketua RW, jangan sampai turun hujan. Setelah itu, mau tenggelam, mau kelelep, ya terserah!” tegas bang Sat, sedikit mengancam.

Kehebatan Iwik memang tak diragukan lagi. Lelaki itu benar-benar mampu menenangkan kegelisahan bang Sat. Siang malam Iwik berjaga dengan kepulan-kepulan asap rokok daun Nipah yang selalu dihembuskan ke arah utara. Setelah berkali-kali mengitari areal perumahan, biasanya Iwik istirahat sejenak di pos penjagaan, di pintu gerbang utama. Seperti biasa pula, selalu didapatinya satpam yang piket malam sudah melungkar dalam kain sarung. Iwik duduk bersila sambil menengadah. Lintingan rokok daun Nipah tak kunjung lepas dari mulutnya. Lagi-lagi, ia mengepul-ngepulkan asap, lalu menghembuskan ke langit sebelah utara. Bila arah yang dituju berlawanan dengan pergerakan angin, Iwik akan menghalau asap itu dengan kibasan kain sarung yang menebarkan bau tak sedap. Bau tembakau usang berbaur dengan aroma apak kain sarung yang sudah berbulan-bulan tak dicuci. Bila ada pertanda mendung, Iwik akan menghisap rokok lebih sering, lebih ngebut, hingga mulutnya serupa moncong lokomotif. Bila perlu, lintingan rokok itu dibakarnya sebanyak mungkin, lalu Iwik membangunkan Rojak dan Jauhar untuk dimintai bantuan menghisap rokok yang rasanya pahit minta ampun itu. Satu mulut bisa menghisap tiga linting sekaligus.

“Aku bisa muntah kalau terus-terusan menghisap daun Nipah itu! Apa ndak bisa diganti Dji Sam Soe?” kelakar Rojak, yang kebetulan sedang kehabisan rokok.

“Ini bukan sembarang tembakau, Jak! Tapi tembakau pengusir angin. Tembakau pawang hujan. Apa kau mau kebanjiran lagi seperti tahun lalu?”

“Malah bagus kalau ada banjir. Kita dapat Durian Runtuh!” sela Jauhar yang terbangun karena pembicaran mereka.

“Durian Runtuh?”

“Ya, rejeki nomplok. Bila banjir datang, pastilah kita juga sibuk. Anggarannya lumayan besar. Dari banjir tahun lalu, Rojak bisa bayar cicilan motor tuh!”
“Huh, resek lu Har!”

“Ayo kita halau lagi anginnya. Ini mulai mendung tampaknya.”

“Biarkan saja hujan turun, jangan ditahan lagi Wik! Anggaran banjir lebih besar dari upah menahan hujan. Nanti kita bagi rata.”

“Sudah lama nggak ada pendapatan tambahan. Biniku mau melahirkan Wik. Butuh biaya!”


Hisapan Iwik terhenti sejenak setelah mendengar keluhan Jauhar. Sepertinya ia tidak main-main. Dari mana pula Jauhar akan beroleh biaya persalinan bila hanya mengharapkan gaji bulanan? Seketika, Iwik pun teringat wasiat gurunya sebelum menurunkan ilmu pawang hujan itu, dulu sewaktu ia masih di kampung. Bagaimanapun sulitnya keadaanmu, jangan sampai kau salahgunakan kepandaian itu, begitu pesan guru Iwik sebelum meninggal. Iwik tentu tahu akibatnya bila nekat melanggar pantangan. Bisa kualat seumur-umur.

****

“Kalau sampai terjadi banjir lagi, copot saja ketua RW yang nggak becus itu!” begitu gunjing yang terdengar saat arisan ibu-ibu rumah tangga.

“Jangan main pecat gitu dong! Kalau banjir datang, kenapa selalu RW yang disalahkan?”

“Lho, itu tanggungjawab ketua RW.”

“Bukan saja tanggungjawab RW, tapi juga tanggungjawab semua warga perumahan ini. Kita harus jaga kebersihan, jangan buang sampah sembarangan, jangan sampai ada saluran pembuangan yang mampet. Masa’ semua harus dibebankan pada ketua RW?”

“Tapi bagaimana kalau kali Cilesung meluap seperti tahun lalu?”

“Kalau itu sih banjir kiriman, bukan salah kita!”

“Tapi, RW bisa ngusulin ke lurah, agar tempat tinggal kita tidak menerima kiriman banjir terus-terusan. Ini salahnya ketua RW! Abai pada keselamatan warga. Maunya jabatan saja. Rumah-rumah warga tenggelam karena luapan kali Cilesung, malah tenang-tenang saja”

“Pecat saja!”

“Pilih lagi ketua RW yang baru!”

“Nggak beres tuh! Mungkin dulu waktu jadi tentara juga nggak beres”

Usaha Iwik lumayan mendatangkan hasil. Setidaknya, pawang hujan itu sudah unjuk kebolehan. Ia sudah menahan hujan selama satu setengah bulan. Bang Sat agak lega. Sebab, tinggal setengah bulan lagi ia menjabat ketua RW, dan tampaknya cuaca masih menggembirakan. Cerah, meski suhu tidak terlalu panas. Ini berkat kerja keras Iwik yang tak henti-henti mengusir hujan dari wilayah perumahan Griya Kemilau Asri. Ia terus waspada dan berjaga-jaga. Kepulan-kepulan asap dari lintingan rokok daun Nipah itu benar-benar ampuh menghalau angin ke arah utara. Hujan yang mestinya turun di pemukiman itu, akhirnya tumpah di laut. Sejauh ini, warga masih merasa aman-aman saja. Setidaknya, ibu-ibu rumah tangga yang judes dan cerewet itu belum sungguh-sungguh menggelar demonstrasi untuk menumbangkan jabatan bang Sat sebagai ketua RW.

“Kau sudah salahgunakan kesaktianmu Wik.” ketus Rojak pada Iwik yang masih sibuk melinting rokok daun Nipah, sebab persediaannya mulai menipis.

“Ta, ta, ta, tapi….ini demi keselamatan warga perumahan ini.”

“Ndak usah basa-basi, Wik! Bilang saja kau sudah dibayar ketua RW.”

“Bang Sat ingin lepaskan jabatan tanpa cela bukan?”

“Kami justru ingin daerah ini kebanjiran, supaya ada pendapatan tambahan. Cicilan sepeda motorku sudah nunggak dua bulan.”

“Apa yang bisa kubantu, Jak?” tanya Iwik, sedikit bersimpati.

“Berhenti saja melinting rokok itu, berhentilah menahan hujan. Biarkan hujan deras turun. Bila perlu perumahan ini kelelep. Nanti pasti ada anggaran penanggulangan banjir. Bagaimana? Bisa bantu kami Wik?”

****

Tiga hari tiga malam hujan lebat tak henti-henti mengguyur perumahan elit Griya Kemilau Asri. Pada saat yang sama, air kali Cilesung meninggi, mungkin karena tingginya curah hujan di hulu. Dini hari, saat warga tidur nyenyak, air hujan dan luapan kali Cilesung dalam sekejap menggenangi areal perumahan. Mula-mula hanya setinggi tumit orang dewasa, tapi dalam waktu yang tidak terlalu lama, jadi sepinggang hingga seleher orang dewasa. Orang-orang kasak-kasuk, berteriak-teriak minta tolong, lalu berhamburan keluar rumah, menyelamatkan diri dengan peralatan seadanya. Tak lama kemudian, genangan air sudah mencapai atap rumah mereka. Tak satupun barang-barang yang terselamatkan, termasuk mobil-mobil pribadi yang masih terparkir di garasi. Semuanya terendam. Sebagian warga memang masih ada yang bertahan di lantai dua rumah mereka. Mereka diminta bersegera menaiki perahu karet tim penyelamat, mengungsi ke tempat aman, karena diperkirakan genangan air bakal terus meninggi. Bisa saja, banjir tahun ini, lebih besar dari tahun lalu. Bila tidak ingin terjebak banjir, sebaiknya warga mengungsi saja, begitu ajakan bang Sat, ketua RW yang lebih duluan mengungsi. Rojak, Jauhar, Jakdul, Paijin dan Ripin sibuk mengayuh perahu karet, berusaha sekuat tenaga menyelamatkan warga yang masih bertahan di rumah masing-masing. Tak nampak batang hidung Iwik di sana. Pawang hujan itu menghilang, entah ke mana.

Kelapa Dua, 2007
Ulil, Adab Al-Jadl dan Tipu Muslihat Intelektual

Judul : Menyegarkan Kembali Pemikiran Islam
Penulis : Ulil Abshar Abdalla
Penerbit : NALAR, Jakarta
Cetakan : I, Februari 2007
Tebal : 234 halaman

Oleh : DAMHURI MUHAMMAD


(MEDIA INDONESIA, 28 April 2007)

Buku Menyegarkan Kembali Pemikiran Islam (Bunga Rampai Surat-surat Tersiar) karya terbaru Ulil Abshar Abdalla ini tentu saja mengingatkan pembaca pada sebuah artikel dengan redaksi judul yang kurang lebih sama ; Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam yang juga ditulis Ulil sekitar empat tahun lalu (Kompas, 18/11/2002). Artikel pendek itu telah menyita perhatian sejumlah tokoh Islam, baik yang pro maupun kontra. Reaksi yang muncul terbilang cukup menggemparkan, hingga popularitas Ulil pun melambung tinggi. Silang pendapat yang terjadi saat itu, tidak lagi sekedar wacana versus wacana sebagaimana layaknya polemik di surat kabar. Lebih jauh, Athian Ali, ketua Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI) Jawa Barat sampai mengeluarkan fatwa hukuman mati bagi Ulil dengan tuduhan ; menghina Islam, Nabi Muhammad, bahkan menghina Tuhan. Lalu, kenapa Ulil masih saja menggunakan formulasi judul yang relatif sama pada buku ini? Selain menjemput ‘sensasi’ empat tahun lalu demi meraih selling point (nilai jual), agaknya memang belum tampak alasan yang lebih tegas.

Padahal, gairah intelektual Ulil dalam buku ini jauh dari kesan sarkastis, tidak sesangar dan seberingas artikel yang menghebohkan itu. Kali ini, Ulil tampil lebih hati-hati, santun, meski sesekali masih terlihat menggebu-gebu. Kecuali bagian epilog yang ditulis Ulil untuk membuhul keseluruhan pokok bahasan, materi buku ini dihimpun dari surat-surat elektronik yang di-posting Ulil untuk mailing list (kelompok diskusi internet) Jaringan Islam Liberal (islamliberal@yahoogroups.com). Ini dilakukan Ulil disela-sela kesibukannya menyelesaikan studi di Departement of Religion, Boston University, AS. Temanya cukup beragam, mulai dari ‘kriminalisasi’ terhadap jemaat Ahmadiyah dan komunitas Eden pimpinan Lia Aminuddin, tradisi ‘membunuh’ dalam Islam, dialog agama-agama, Bom Bali hingga sejarah penyaliban Yesus.

Pertanyaan kunci yang menjadi ultimate concern Ulil dalam buku setebal 234 halaman ini adalah Kenapa Islam Harus Saya Kritik? Ibarat seorang pengendara yang sudah pernah mengalami ‘kecelakaan’, Ulil masih saja berani melintasi medan-medan ‘rawan’ yang bila kurang perhitungan, resikonya cukup fatal. Bila tidak bertabrakan dengan kendaraan lain, sekurang-kurangnya Ulil bisa dicegat polisi lalu lintas, lalu ‘ditilang’ karena telah ‘melanggar’ sejumlah pasal. Ulil tak segan-segan mencatat data yang membuktikan kemungkinan Qur’an salah cetak. Hipotesis yang terdengar agak ganjil ini disandarkan pada tafsir Qurtubi, khususnya pada pembahasan surah Al-Isra’ ayat 23 yang berbunyi “Wa qadha rabbuka…” Al-Qurtubi menjelaskan bahwa Ibn Abbas membaca ayat itu “Wa wash-sha” dengan alasan ; huruf waw yang kedua pada kata Wa wash-sha menempel pada huruf shad, maka bacaannya menjadi Wa qadha. Menurut Ulil, bila fakta ini benar, maka variasi bacaan Qur’an tentu tidak sekedar berkaitan dengan perbedaan dialek suku-suku Arab sebagaimana yang dipahami dalam kajian ulum al-qur’an selama ini, variasi bacaan bisa saja timbul karena ‘kecelakaan sejarah’. Apakah variasi bacaan Quran bisa terjadi karena salah cetak? demikian Ulil mempertanyakan, dan celakanya, pembahasan topik itu dianggap selesai begitu saja, tanpa penjelasan lebih lanjut. Sekedar keterangan menyangkut otoritas tafsir Qurtubi yang terdengar agak menyimpang itu juga tidak. Padahal, amat sukar mengambarkan kenapa huruf waw yang menempel pada huruf shad, lalu terlihat (seolah-olah) huruf qhaf (wa qadha).

Lebih rawan lagi, pada bagian yang lain, Ulil membincang soal pengaruh tradisi paganisme dalam ibadah Thawaf. Ia mengutip ungkapan kekesalan sayidina Umar Bin Khattab tatkala hendak mencium hajar aswad yang kurang lebih berbunyi ; “Kalau tidak karena sunnah Nabi, tak sudi aku menciummu.” Menurut pemahaman Ulil, praktik mencium hajar aswad itu mengingatkan Umar pada praktik paganisme pra-Islam. Seterusnya, Ulil mempertanyakan, kalau kita mau berpikir jernih, kenapa saat shalat kita menghadap ke sebuah batu kubus bernama Ka’bah? Bila Tuhan tidak mempunyai tempat (ghairu mutahayyiz), kenapa kita mesti menghadap batu, seolah-olah kita menyembah batu? Anda mungkin akan mengatakan bahwa yang kita sembah bukan Ka’bah, tetapi Allah. Saya katakan ; persis itu jawaban orang-orang pagan di Mekah. Mereka tidak menyembah berhala, tapi menjadikan berhala sebagai wasilah (medium) untuk sampai pada Tuhan. Lagi-lagi, pembicaraan disudahi Ulil sampai di situ. Ia sengaja meninggalkan pernyataan-pernyataan bersayap tanpa argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Inilah medan-medan ‘rawan’ yang diterobos Ulil tanpa perhitungan matang. ‘Pengendara ugal-ugalan’ seperti Ulil bisa saja terjerumus masuk jurang.

Lewat buku ini Ulil mendedahkan asumsi-asumsi setengah jadi tanpa landasan metodologi yang kokoh. Aspek metodologis nampaknya memang kerap terabaikan dalam sederetan kerja intelektual Ulil selama ini. Meskipun ia sangat menguasai literatur-literatur Islam klasik, pengetahuan gramatikal arab (qawaid al-lughah)-nya sangat mendalam (Ulil juga hafal kaidah-kaidah ushul fiqh yang jumlahnya ratusan), tapi sebagaimana pernah disinyalir Haidar Baqir (2003), penarikan kesimpulan tanpa basis metodologi dapat menimbulkan kesan arbitrer. Acak, tak terarah dan tak punya kerangka yang jelas. Tanpa dukungan metodologi, Ulil hanyalah seorang polemikus yang lihai dan piawai mempermainkan epistemologi keberagamaan (yang menurutnya penuh borok dan perlu segera diobati, setidaknya perlu disegarkan kembali). Tapi, apa yang sesungguhnya hendak disegarkan Ulil dengan wacana Islam Liberal itu? Kalau memang Ulil sedang concern pada studi-studi perbandingan agama, kenapa masih mengobrak-abrik wilayah fiqh, kalam, ‘ulum al-qur’an bahkan ilmu tafsir? Apakah Ulil itu ahli fiqh, teolog, mufassir atau ahli perbandingan agama? Muncul kesan, seolah-olah Ulil telah mengenggam dan menguasai wacana pemikiran Islam dalam segala bidang. Sebuah kompetensi keilmuan yang mustahil digapai oleh intelektual muslim paling jenius sekalipun.

Dalam arena ‘diskusi maya’ di mailing list Jaringan Islam Liberal itu, tampaknya tidak ada ‘lawan’ yang benar-benar sepadan dengan Ulil. Setidaknya, lawan berpolemik yang juga menguasai literatur Islam klasik yang sejauh ini dianggap sebagai ‘pedang tajam’ Ulil. Akibatnya, pola diskusi terkesan sangat menggurui. Amat leluasa Ulil ‘mengkhutbahkan’ gagasan-gagasan penyegarannya tanpa ‘perlawanan’yang memadai. Sebagian besar gagasan Ulil dalam buku ini diarahkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan sejumlah anggota klub diskusi menyangkut masalah-masalah tertentu. Tapi, agak mengherankan, tulisan-tulisan para penanya itu tidak disertakan dalam bunga rampai surat-surat tersiar ini. Seolah-olah ada kesengajaan hendak menonjolkan gagasan-gagasan Ulil, tapi prinsip keseimbangan dan kesepadanan dalam sebuah diskursus keilmuan terabaikan. Pola interaksinya satu arah, tak imbang dan cenderung memihak.

Sebagai polemikus handal, Ulil mewarisi semangat adab al-jadl, semacam aturan main berpolemik di kalangan filsuf muslim abad pertengahan. Lazimya, sebelum gagasan digulirkan, seorang polemikus sudah memperkirakan bantahan dan gejolak kemarahan yang bakal mengemuka. Untuk menghadang gejolak itu, polemikus lebih dulu ‘pasang kuda-kuda’ dan mempersiapkan siasat ‘bersilat lidah’ yang memang sulit dilumpuhkan. Sebentuk intellectual gimmick (tipu muslihat intelektual) yang lumrah dilakukan oleh pemikir-pemikir muda Jaringan Islam Liberal (JIL) akhir-akhir ini.


Harta Karun di Atas Kursi Panas

Judul : Q & A
Penulis : Vikas Swarup
Penerjemah : Agung Prihantoro
Penerbit : Serambi, Jakarta
Cetakan : I, Desember 2006
Tebal : 458 halaman

Oleh : DAMHURI MUHAMMAD

(GATRA, edisi Maret 2007)

Produser kuis spektakuler Who Will Win A Billion? (W3B) kelimpasingan setelah pelayan Jimmy’s Bar and Restaurant berhasil menjawab pertanyaan terakhir dengan sukses. Entah muslihat apa yang dipakai lelaki delapan belas tahun itu. Rekor hadiah 1 milyar rupee pecah sudah. Penonton berdecak kagum. Mungkin karena keluasan pengetahuan pramusaji yang konon tak pernah bersekolah itu, mungkin juga karena keberuntungan belaka. Lagi pula, dalam kuis-kuis berhadiah, memang tipis sekali beda antara pengetahuan dengan keberuntungan. Tapi, yang pasti, perusahaan pemegang lisensi megakuis Who Want To Be A Millionaire versi India itu bakal rugi besar. Mereka baru ‘balik modal’ setelah bulan ke delapan. Celaka, Ram Mohammad Thomas mengacaukan segalanya. Ia tumbangkan kuis itu di episode kelimabelas. Ini tak boleh terjadi, bila mereka tak ingin gulung tikar. Untunglah episode itu belum ditayangkan TV, masih ada kesempatan ‘berkompromi’. Ram pun dibekuk. Ia meringkuk dalam sel dengan tuduhan ; curang. Meski, polisi tak punya bukti.

Pesakitan Ram menghadang interogasi dan intimidasi menjadi titik tolak pengisahan novel Q & A (mungkin singkatan Question and Answer) karya diplomat India, Vikas Swarup ini. Menengok maklumat yang termaktub dalam dua tanda kurung di bawah judul ; sebuah novel tentang seorang pelayan restoran yang menang kuis satu milyar rupee, ada kesan seolah-olah buku ini hendak menyingkap rahasia di balik penyelenggaraan kuis-kuis spektakuler, atau paling tidak, ingin membocorkan trik-trik jitu memenangkan hadiah satu milyar. Siapa yang tak tergiur uang sebanyak itu? Sebagaimana diakui Ram, godaan terbesar di dunia ini bukan seks, tapi uang. Makin besar jumlahnya, makin menggoda. Itu sebabnya ia mati-matian berusaha agar terpilih menjadi salah satu peserta yang duduk di kursi panas. Tak dinyana, Ram menang. Sialnya, alih-alih dapat ‘harta karun’, ia malah dihadiahi ‘bogem mentah’ di kantor polisi.

Seorang pengacara berbaik hati ingin membela Ram, dengan syarat ; ia harus jujur menjelaskan apa sebab pertanyaan-pertanyaan sulit itu jadi mudah baginya. Vikas Swarup memanfaatkan momen pertemuan empat mata antara Ram dan pengacara itu sebagai pintu masuk untuk merancang struktur penceritaan yang beranak-pinak. Cerita beranak cerita. Berlapis-lapis. Setiap pertanyaan yang berhasil dijawab Ram ternyata memiliki riwayat sendiri-sendiri. Ram tak mungkin lupa bahwa Surdas adalah nama seorang penyair buta pemuja dewa Khrisna (pertanyaan keempat). Sebab, ia, Salim, Kallu, Pyare, Pawan dan Jashim pernah menjadi korban kekerasan di rumah penampungan anak-anak terlantar. Dari panti remaja, Ram diadopsi seorang yang berpura-pura akan menjadi orangtua asuh, padahal orang itu adalah anggota sindikat kejahatan yang telah menelan banyak korban. Ram dan kawan-kawan diajarkan membaca syair-syair Surdas, si penyair buta. Tak hanya itu, mereka kemudian benar-benar dibutakan (dibuat cacat), lalu dipaksa membaca syair di gerbong-gerbong kereta api ekspres, berjalan terseok-seok sambil membawa tongkat. Semua penghasilan pengamen-pengamen buta itu jatuh ke tangan Maman, gembong penjahat yang memelihara mereka. Ram dan Salim kabur dari tempat itu.

Kenapa Ram yang tak biasa baca buku tahu kalau Neelima Kumari, aktris kondang India itu pernah beroleh penghargaan nasional pada 1985? (pertanyaan kesepuluh). Tentu saja. Sebab ia pernah jadi babu di apartemen Juhu Vile Parle, tempat tinggal Neelima. Di sana, berkali-kali Ram menyaksikan keberingasan lelaki begundal yang seperti hendak mencabik-cabik kecantikan Neelima. Kedua belah pipinya penuh luka memar bekas pukulan kasar, bibirnya pecah dan berdarah, sukar Neelima bicara. Tapi, bekas bintang film terkenal itu masih saja menerima lelaki yang setiap kedatangannya menggores perih tak terkira. Bila tak dicegah Neelima, Ram sudah pasti membunuh bajingan itu. Lalu, kenapa Ram juga tahu sejarah Taj Mahal? Sehingga benar pula pilihan jawaban ‘Asaf Jah’ pada pertanyaan keduabelas (siapa nama ayah Mumtaz Mahal?). Ram cukup lama bekerja sebagai pemandu wisata di Taj Mahal, salah satu keajaiban dunia itu. Di sanalah Ram bertemu Nita, pelacur yang kemudian hendak dinikihanya. Tersebab hasrat ganjil itu, ia mesti berhadapan dengan mucikari yang terus menerus memerasnya, hingga suatu hari Nita tergeletak di rumah sakit dalam kondisi mengenaskan. Di sekujur tubuh perempuan itu tercetak bekas-bekan cambukan, alat vitalnya penuh luka bakar akibat sulutan puntung rokok.

Banyak peristiwa kebetulan dalam novel ini. Tapi, keberhasilan dalam memenangkan kuis, faktor kebetulan dan keberuntungan memang dominan. Lagi pula, pertanyaan kenapa Ram mampu pecahkan rekor satu mliyar rupee?, hanyalah celah untuk menyingkap potret suram realitas sosial masyarakat India modern, mulai dari Delhi, Mumbai, Dharavi hingga Agra, kota-kota ‘neraka’ yang sempat disinggahi Ram. Dengan keterampilan pengisahan yang mendebarkan, Vikas Swarup berhasil menggambarkan wajah India yang sangar dan menyeramkan ; jaringan mafia yang merusak masa depan anak-anak, para ekspatriat kulit putih yang menghajar babu-babu mereka dan praktek spionase berkedok diplomat. Ada pula kisah tentang sebuah suku yang melelang keperawanan anak-anak perempuan mereka. Edisi terjemahan buku ini cukup memadai, meski tergesa dalam penyuntingan. Sejumlah kesalahan ketik terabaikan.

Makin ke ujung, novel ini makin menegangkan. Keikutsertaan Ram dalam megakuis itu ternyata tidak semata-mata karena uang, tapi karena hasrat hendak membunuh orang yang sudah lama diburunya. Orang itu adalah Prem Kumar, presenter W3B. Ram mengaku pada Smita, pengacaranya, bahwa Prem Kumar adalah pelaku penyiksaan terhadap Neelima Kumari. Lebih mencengangkan lagi, Prem Kumar pula yang menyulut puntung rokok pada alat-alat vital Nita, kekasih Ram yang sampai saat ia duduk di kursi panas masih terbaring di rumah sakit. Tekad Ram sudah bulat, berharap pertanyaan pertama gagal terjawab, lalu ia akan bergegas mengeluarkan pistol dari saku celana, menembak kepala Prem Kumar. Tapi, tigabelas pertanyaan terlewati, hingga produser W3B terancam bangkrut. Tak terduga pula, Smita ternyata hanya nama samaran. Pengacara muda itu adalah Gudiya, perempuan yang di masa remajanya nyaris diperkosa ayah kandung sendiri. Beruntung, orang tak dikenal muncul dari arah belakang, menghantam kuduk keparat itu dengan balok kayu hingga tersungkur tak sadar diri. Si penolong Gudiya tak lain adalah Ram. Sebentuk lingkaran cerita yang terbuhul kokoh, padat dan padu.