Search This Blog

Tuesday, June 26, 2007



MERANTAU DI KAMPUNG SENDIRI

Judul : Perantau
Penulis : Gus Tf Sakai
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan : I, 2007
Tebal : 130 halaman

Oleh : DAMHURI MUHAMMAD


(Koran Tempo, Minggu, 24 Juni 2007)


Bagaimana mungkin pengarang yang tak pernah merantau tiba-tiba menulis cerita tentang perantau? Begitu sak wasangka yang menggelayut di benak saya saat berhadapan dengan buku kumpulan cerpen Perantau karya terkini Gus Tf Sakai ini. Saya begitu tergesa hendak menyingkap watak perantauan macam apa yang bakal dimaklumatkan cerpenis asal Payakumbuh itu. Bagi anak rantau seperti saya, merantau tidak sekedar jalan terjal dan berliku yang mesti ditempuh untuk melesap ke masa depan, tidak pula semata-mata mengadu nasib di negeri orang, dan kelak bila sudah beruntung akan kembali ke kampung halaman. Tidak sesederhana itu!

Merantau adalah sebuah keniscayaan, keharusan yang tidak dapat ditolak, atau (barangkali) semacam sisi lain dari ‘takdir’ malang laki-laki Minang. Ini resiko yang mesti ditanggung akibat dalamnya tikaman ‘garis ibu’ yang tak lekang dimakan waktu. Setelah sampai akil baligh, anak laki-laki ‘dihalau’ ke surau. Mengaji sekaligus tidur di surau. Di rumah-rumah gedang sembilan ruang yang halamannya luas itu tidak tersedia kamar bagi mereka. Kamar hanya diperuntukkan bagi anak perempuan. Maka, berhimpitan-himpitanlah mereka tidur di surau, seperti ikan pindang dalam wajan. Itu tak lama, hanya sampai mereka terbiasa jauh dari ketiak emak, setelah itu tiba saatnya ; pergi merantau. Merantau bujang dahulu, (sebab) di kampung perguna belum. Falsafah ini sudah menjadi ‘lagu wajib’ yang selalu didendangkan ibu-ibu di ranah Minang, hingga anak-anak mereka berani merantau, terbang-hambur dari tanah kelahiran. Tiada tempat di rumah, lantas menggelandang ke surau-surau, setelah itu merantau ke negeri orang, tidakkah itu siasat pengusiran yang paling santun?

Inilah musabab sak wasangka saya, betapa seorang Gus Tf Sakai, laki-laki Minang yang tidak pernah merantau kemudian merancang kisah tentang perantau? Saya kuatir, buku ini tidak mencukam di kedalaman pahit-getir hidup anak rantau yang terbuang dari kampung sendiri. Buktinya, alih-alih mengenggam realitas rantau yang sejatinya, cerpenis peraih The Lontar Foundation (2002) ini malah buru-buru mengunci cerpennya dengan kalimat tak perlu jadi burung untuk tahu rahasia sayap. Tampak nyata obsesi literer pengarang yang hendak membangun konsep merantau tanpa (harus) jadi anak rantau. Karena pengarang tak pernah merantau kah?

Ketakpatuhan pada suruhan Merantaulah, Nak! diperkokoh dengan menghadirkan sosok Mak Itam, lelaki gaek yang sepanjang umurnya tak beranjak dari kampung, hidup menyendiri di dangau usang, lemah digasak batuk. Mak Itam membujuk si calon perantau (tokoh utama) yang sedang gamang dan ragu-ragu memilih jalan antara merantau atau tidak. Lelaki renta itu memberi petuah bahwa masa depan tidak ditentukan oleh merantau atau tak merantau, tapi bakal datang sendiri. Persoalannya apakah ketika masa depan itu datang, kita masih ada atau tidak? Dan Mak Itam yang sudah hampir bau tanah itu belum menemukan masa depannya, (tapi sudah pasti akan segera menemui ajalnya).

Agak mencengangkan kenapa Gus Tf Sakai mengidentifikasi konsep merantau dengan sudut pandang futuristik, bahwa etos merantau bertujuan untuk meraih masa depan, agar roda nasib bergerak ke atas. Padahal merantau tidak selalu berarti menuju sesuatu, tapi lebih kerap meninggalkan sesuatu. Membebaskan diri dari iklim ketakberdayaan, hengkang sebagai pecundang malang, hidup menumpang di negeri orang, dan tak bakal kembali pulang. Bukankah tak terhitung berapa banyak perantau yang sudah melupakan jalan pulang? Seamsal merantau cina, sekali pergi, tiada pernah kembali. Sekali layar terkembang, pantang surut ke belakang.

Meski begitu, ada sisi lain perantauan yang hendak digambarkan buku ini, bahwa laki-laki Minang yang tidak merantau pun pada akhirnya tetap saja (seolah-olah) merantau. Meski tidak berlayar ke negeri seberang, mereka tetap akan meninggalkan rumah, hidup dan tinggal di rumah anak-bini. Tapi, fase ini tidak akan bertahan lama, hanya selagi tangan kuat mengayun cangkul, menggarap sawah dan ladang guna menghidupi keluarga. Bila tenaga mulai berkurang, tulang-tulang tak berdaya, mereka tak berguna lagi, serupa tebu yang telah habis disesap rasa manisnya. Tengoklah betapa banyaknya peruntungan laki-laki Minang yang berakhir menjadi duda-duda tua, tercampak dari rumah bini. Jalan satu-satunya adalah kembali ke surau. Kecil di surau, setelah beranjak tua pun kembali ke surau, menunggu mati di surau. Ketakmujuran macam ini setali tiga uang dengan nasib Mak Itam yang lapuk digasak batuk, tinggal seorang diri di dangau usang sebagaimana dikisahkan dalam Perantau. Meski tidak pernah merantau, tapi sepanjang hidup, ia seperti berada di rantau, tersisih, kesepian dan tak dihargai. Merantau di kampung sendiri.

Corak pengisahan sejumlah cerpen dalam buku ini (Lelaki Bermantel, Tujuh Puluh Lidah Emas, Jejak Yang Kekal, Tok Sakat dan Sumur) seperti hendak mewartakan bahwa jalan kepengarangan cerpenis peraih SEA Write Award (2004) ini telah menyimpang ke arah laku penuturan yang meliuk-liuk, berkelok-kelok. Alurnya berbelit-belit, rumit. Diksinya gelap, sukar dicerna. Cerpen-cerpen Gus Tf Sakai tidak lagi terang, lugas dan peka isi seperti karya-karya sebelumnya (Istana Ketirisan, 1996, Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta, 1999 dan Laba-laba, 2003). Buku ini lebih asik-masyuk mengolah cara bercerita ketimbang membangun kepekaan pada substansi cerita itu sendiri. Meski belum pernah merantau, dalam proses kreatif paling mutakhir, Gus Tf Sakai benar-benar sudah ‘merantau’ jauh. Saya was-was, dalam perantauan ini, ia bakal lupa jalan pulang.


Laku Etik dan Estetik dalam Watak Kepenyairan


Oleh : DAMHURI MUHAMMAD

(Pikiran Rakyat, 23 Juni 2007)


Sejak akhir Juli hingga pertengahan Agustus 2004 silam, sejumlah koran riuh oleh polemik menyoal diluncurkannya buku kumpulan puisi Kuda Ranjang, karya Binhad Nurrohmat. Tak kurang dari 15 esai telah menimbang buku itu. Banyak yang memuji kepiawaian Binhad mengurai tubuh perempuan dalam bait sajak, banyak pula yang menghujat, bahkan ada yang terang-terangan menyeringai : “Menjijikkan membaca puisimu.” Tapi, Binhad tak kunjung jera menuai cela, penyair itu baru saja melepas antologi puisi terbaru, Bau Betina (2007). Setali tiga uang dengan Kuda Ranjang, lewat Bau Betina ia masih latah bergunjing perihal ‘dunia basah’, ‘dunia tengah’, (tapi diburu banyak watak). Bukan berarti ia sedang mengutukinya sebagaimana para ustazd berwejang di mimbar-mimbar khutbah, Binhad justru mendekonstruksi seks sebagai dunia yang tak perlu ‘diaibkan’. Nalar puitiknya bernujum bahwa peristiwa seksual seamsal peristiwa buang hajat (Berak). Bukankah buang hajat adalah gejala alamiah yang niscaya? Jadi, tak perlu malu berbincang soal buang hajat, sebagaimana tak harus tabu bersijujur bahwa kita mendambakan kenikmatan seksual. Berak memang kotor, sebagaimana persetubuhan liar juga keji, tapi kenapa malu mengakui bahwa kita memang ‘doyan’ pada yang kotor dan keji itu. Hubungan antara peristiwa seks dan peristiwa buang hajat dipetakan Binhad dengan permisalan baru ; Kota Tanpa Bordil adalah Rumah Tanpa Kakus.

Bagi Binhad, seks dipotret sebagai realitas yang kacau, carut marut, beringas. Seks identik dengan kata menggigit, mencekik, menghujah, bukan menyentuh, mengelus atau membelai. Persebadanan tak lagi berarti bersekutunya dua tubuh dalam bingkai ‘suka sama suka’, tapi pertarungan satu lawan satu yang berhasrat saling mengalahkan. Gejala ini jelas pada “Ajal Begundal” : Setelah empatpuluh hari kematian/seluruh kota bernafas lega/tak ingat lagi coretan dinding penuh ancaman/atau erang perkosaan di belakang bioskop murahan/. Pejantan yang sebelumnya disimbolisasikan dengan Kuda (dalam Kuda Ranjang) dan Singa (dalam Bau Betina) rupanya tidak melulu ‘menaklukkan’, tapi kerap pula ‘ditaklukkan’. Sebagai pejantan yang diburu banyak betina, ringkik dan aungnya hanya terdengar bila sedang di ranjang, setelah itu bakal menelentang sebagai pecundang.

Kepenyairan Binhad yang menjalankan laku ‘tarekat tubuh’ seperti termaktub dalam sajak Hidung Belang, Sex After Lunch, Pengakuan Sepasang Girang, Ulang Tahun Tubuhmu, Malam Janda, Homo Eroticus, Tak Sedalam Tubuhmu memang bukan tanpa resiko. Antologi puisi Kuda Ranjang yang semula sudah terpajang di rak sastra toko-toko buku, tiba-tiba raib, ditarik dari peredaran. Seperti dilaporkan Anton Kurnia (mailing list pasarbuku@yahoogroups.com), sejak 3 Agustus 2004 lalu, toko buku Gramedia telah menarik peredaran buku itu dari toko-tokonya di seluruh Jakarta. Dalam salah satu seminar sastra, seorang penyair senior mengukuhkan nama Binhad sebagai penyair perusak moral bangsa. Bakal seperti apakah nasib Bau Betina? Wallahualam.

Pada masa orde baru, teks sastra yang berseberangan dengan ideologi stabilitas politik (Binhad menyebutnya ; ‘sastra sosial’) dianggap subversif. Masa itu, ‘sastra sosial’ lebih berisiko ketimbang ‘sastra seks’. Penguasa bebas memberangus teks dan ‘mengamankan’ sastrawan tanpa proses peradilan. Kini, situasinya terbalik, sastra seks yang dianggap subversif. Bedanya, teks-teks ‘berlendir’ itu tidak lagi berhadapan dengan kekuasaan negara, tapi menuai sinisme dan caci maki dari sebagian sastrawan, pengamat sastra dan khalayak pembaca umum dengan alasan-alasan moral. Penyair Taufik Ismail tak sudi menyebutnya sebagai karya sastra, melainkan pornografi (Ermina K, Suara Karya, 14/03/05). Padahal, sastra seks juga berperan sebagaimana sastra sosial. Jika sastra sosial menggambarkan kobobrokan moral kekuasaan, sastra seks memetakan kemunafikan dan kebobrokan moralitas masyarakat, begitu Binhad berdalih. Jadi, mana yang lebih tak senonoh antara para petinggi negara yang menjarah uang rakyat (di tengah-tengah duka-nestapa rakyat akibat bencana bertubi-tubi) dengan sajak-sajak Binhad? Tapi, di sinilah celakanya. Sastra diukur berdasarkan sudut pandang etika, bukan ditelaah berdasarkan pencapaian estetika sastrawi. Sukar mencari titik temu antara sastra dan etika, seperti pernah dikemukakan Ribut Wijoto (2002), etika menciptakan pagar, sementara sastra membongkarnya. Sastra merayakan kerapuhan, sementara etika memperkokohnya kembali. Laku estetik kerap tak berjalan seiring dengan laku etik. Lagi pula, teks sastra tentu bukan kitab suci, bukan traktat dogmatik agama tertentu.

Agak mengejutkan, seorang alumnus pesantren Krapyak (Yogyakarta) seperti Binhad memilih jalan ‘menyimpang’ dengan menulis sajak-sajak bergelimang syahwat. Apakah ia sudah terjerembab dalam asyik-masyuk dunia malam kota Jakarta yang memang kerap menyesatkan? Marshall Clark, peneliti sastra Indonesia di School of Asian Languages and Studies memang menyebut puisi-puisi Binhad sebagai ‘puisi metropolitan’. Kuda Ranjang dan Bau Betina adalah buah dari ekplorasi estetik selama ia tinggal di Jakarta. Tapi, bukan berarti ia telah ‘membelakang bulat’ dari etos santri yang membesarkannya. Justru latar belakang pesantren yang mewarnai kepenyairan Binhad. Hipotesis ini terdengar ganjil. Mestinya, Binhad menulis puisi sufistik sebagaimana Ahmadun Y Herfanda menulis Sembahyang Rumputan (1996) atau mengikuti jejak kepenyairan Jamal D Rahman, Radhar P Dahana dan Ahmad Nurullah, bukan menulis sajak-sajak yang tidak mencerminkan budaya santri. Tapi, kitab-kitab kuning sangat akrab dengan wacana seks. Bukalah kitab Qurrat al-Uyun yang detail mengurai tipe-tipe perempuan berdasarkan perspektif seks, juga membahas tahapan-tahapan dalam hubungan suami-istri serta seluk beluk masalah seks lainnya. Begitu pun Kitabun Nikah, Uqudullijain, dan Ushfuriyah yang tak asing lagi bagi para santri. Berkat pembacaan terhadap kitab-kitab itu, seks bukan sesuatu yang terlarang dibicarakan. Mata pelajaran tentang seks di pesantren, tak ada bedanya dengan Tarikh, Tasawwuf, Nahwu, Syaraf dan Balaghah. Mungkin, wacana seks sudah menjadi air berkumur Binhad setiap pagi.

Maka, penghakiman terhadap kepenyairan Binhad hanya akan dihadang dengan jurus Anjing Menggongong Kafilah Berlalu. Bukankah Moammar Emka (Jakarta Undercover, 2003) yang sempat menghebohkan jagat perbukuan Indonesia itu juga lahir dari tradisi pesantren? Jika Inul Daratista menujumkan sasmita tentang kemunafikan massal dengan bahasa bokong, maka jalan yang ditempuh Binhad lebih santun, menorehkan kata Pantat, Selangkang dan Cupang dalam sajak. Ketika mulut-mulut para ustazd tak mempan lagi menyeru kesadaran umat dari ketersesatan, Binhad berwejang dengan sajak-sajak telanjang…

Wednesday, June 20, 2007



Menyingkap Akar Sejarah Poligami

Judul : Duduk Perkara Poligami
Judul Asli : The Right of Women in Islam
Penulis : Murthadha Muthahhari
Penerbit : Serambi, Jakarta
Cetakan : I, 2007
Tebal : 154 halaman


Oleh : DAMHURI MUHAMMAD

(Majalah Mingguan GATRA, edisi 14-20 Juni 2007)

Poligami merupakan topik kajian yang selalu sengit diperdebatkan dalam diskursus fiqh munakahat Islam. Tak jarang sejumlah sejarahwan melancarkan serangan telak bahwa nabi Muhammad lah yang pertamakali memprakarsai tradisi poligami, sampa-sampai ada yang berkesimpulan bahwa salah satu penyebab cepatnya penyebaran Islam karena penghalalan poligami, namun kemunduran dunia Islam disebabkan oleh poligami pula. Sepintas lalu, kesimpulan itu seolah-olah masuk akal, tapi bila ditelusuri lebih dalam, tudingan macam itu terlalu mengada-ada dan sukar dipertanggungjawabkan. Sebab, sejarah membuktikan bahwa tradisi poligami sudah ada dan berkembang pesat puluhan tahun sebelum Islam datang. Praktik mengawini lebih dari satu istri telah berlangsung di kalangan suku-suku Arab pra-Islam, Persia,Yahudi dan suku-suku lainnya. Tak hanya dilakukan oleh suku-suku primitif, poligami juga beroleh tempat di kalangan suku-suku beradab.

Inilah cikal bakal silang pendapat perihal poligami yang hendak didedahkan Murthadha Muthahhari dalam bukunya Duduk Perkara Poligami dengan menggali akar sejarah tradisi poligami sejak dari perkembanganya yang paling purba. Bagaimana mungkin para sejarahwan itu berkesimpulan bahwa Islam menumbuhsuburkan adat poligami, padahal usia sejarah poligami lebih tua dari usia Islam itu sendiri. Sinyalemen ini diakui oleh seorang sarjana Barat, Wiil Durant dalam The Story of Civilization bahwa bertahun-tahun sebelum kedatangan Islam, poligami telah menjadi adat yang lumrah di kalangan suku-suku primitif Arab.

Kalau memang demikian, kenapa Islam tidak menghapus tradisi perkawinan majemuk yang hanya akan memperkokoh dominasi pria terhadap wanita? Bukankah penghalalan poligami akan mengingkari hak-hak perempuan yang semestinya dijunjung tinggi dan dihormati? Bagi Murthadha, pertanyaan-pertanyaan di atas muncul akibat dangkalnya pemahaman terhadap poligami. Islam memang tidak sepenuhnya menghapus poligami (meski sepenuhnya menghapus poliandri), tapi membatasi poligami, artinya menghapus ketidakterbatasan poligami dan membatasinya sampai empat istri. Itupun dengan syarat dan batasan-batasan yang sangat ketat. Sayang sekali, buku ini hanya hasil terjemahan satu bab dari The Right of Women in Islam (1981), bukan gagasan utuh Murthadha yang sangat erat kaitannya dengan polemik soal poligami. Inilah resiko yang mesti ditanggung akibat ketergesaan penerbit dalam mengejar target tema yang sedang santer dibincang, tapi abai pada bagian-bagian yang ‘diduga’ tak punya nilai jual.

Murthadha menyangkal poligami sebagai tirani, dominasi dan perbudakan pria atas wanita sebagaimana kerap didengungkan para pemuja feminisme. Muasal sejarah poligami bukan karena pria mendominasi wanita, lalu mereka merancang adat dan peraturan yang menguntungkan mereka. Kemunduran poligami juga bukan karena dominasi pria sudah mulai goyah bahkan hampir roboh. Dalam konteks ini, ia menggunakan logika terbalik, kalau memang dominasi pria menjadi sebab poligami, kenapa Barat tidak menerapkannya? Mengapa sistem partriarkat dianggap hanya terbatas di wilayah Timur saja? Padahal, di abad pertengahan, wanita Barat adalah wanita yang paling tidak beruntung di dunia, sebagaimana diakui Gustave le Bon bahwa pada zaman peradaban Islam, wanita diberi kedudukan yang persis sama dengan wanita Barat jauh hari kemudian. Kita tahu bahwa raja-raja kita tidak menaruh hormat pada wanita. Setelah mempelajari sejarah zaman dahulu, tak ada lagi keraguan bahwa sebelum Islam mengajari kakek-kakek kita mengasihi wanita dan menghormatinya, raja-raja kita memperlakukan wanita dengan sangat biadab.

Kalau memang Islam menaruh hormat pada hak-hak wanita, kenapa hanya kaum pria yang boleh menikahi lebih dari satu istri (poligami) sementara wanita tidak diberi hak menikah lebih dari satu suami (poliandri)? Murthadha merujuk sebuah riwayat tentang peristiwa ketika sekelompok wanita menghadap saidina Ali r.a dan mereka bertanya, “Mengapa Islam memperkenankan laki-laki punya lebih dari seorang istri tapi tidak mengizinkan wanita bersuami lebih dari seorang? Bukankah ini tidak adil?” Ali menyuruh masing-masing mereka mengambil cangkir berisi air, lalu meminta mereka menuangkan air dalam cangkir masing-masing ke dalam mangkuk besar yang diletakkan di tengah-tengah pertemuan itu. Setelah cangkir-cangkir mereka kosong, Ali meminta masing-masing wanita itu mengisi kembali cangkir mereka dengan air dalam mangkuk besar itu dengan ketentuan ; setiap orang harus mengambil air yang tadi ditumpahkannya ke dalam mangkuk itu. “Air itu sudah tercampur, tidak mungkin dipisahkan lagi” kata mereka. Maka, Ali berkata ; “Apabila seorang istri mempunyai beberapa orang suami, ia akan melakukan hubungan seks dengan setiap suaminya, kemudian ia akan hamil. Bagaimana ia menentukan ayah dari anak yang dikandungnya?”

Murthadha hendak meluruskan pemahaman yang keliru terhadap tradisi poligami yang telah memicu polemik tak kunjung usai. Buku ini tidak berpretensi memaklumatkan poligami lebih bermartabat ketimbang monogami, hanya mempertanyakan kenapa banyak orang mengecam keras perilaku poligami dan menuding poligami menindas hak-hak perempuan? Ironisnya, ketika mereka menentang poligami, pada saat yang sama, seks bebas dan homoseksual justru diperkenankan. Pria-pria modern bisa gonta-ganti pacar tanpa harus memerlukan formalitas dalam bentuk mahar, nafkah atau perceraian. Mungkin itu sebabnya Moise Tshombe (mantan perdana menteri Kongo) menentang poligami. Ia pernah sesumbar dalam sebuah wawancara surat kabar, bahwa satu istri sudah cukup baginya selama ia dapat mengganti sekretaris wanitanya setiap tahun. Bertrand Russell, pemikir paling keras mengecam poligami, dalam otobiografinya berkisah bahwa dalam hidupnya ada dua orang wanita setelah ibunya, yaitu Aliys (istrinya) dan Lady Ottoline Morell (kekasihnya). Meski Russell tidak menyukai poligami, suatu hari filsuf itu bersijujur mengakui ; mendadak saya sadar bahwa saya tidak lagi mencintai Alys. Kalau sudah begini, tentu poligami tak berguna lagi…

Tuesday, June 05, 2007

Asung Pitanah

Cerpen : DAMHURI MUHAMMAD

(tabloid NOVA, edisi 28 Mei 2007)

Saat umur Nupik masih enam tahun, kampung Sikabalapa heboh karena Rifayah pulang dari pulau Mbata dalam keadaan berbadan dua. Bunting. “Siapa bapaknya?” tanya nyinyir orang-orang waktu itu. Ah, mungkin teman lelaki sesama buruh pabrik, mungkin sopir taksi, tukang ojek, centeng pasar, mungkin pula supervisor bermata sipit. Kini, si Rifayah sudah janda, beranak satu. Zaituna, nama anaknya, sudah kelas tiga SMU. "Anak haram dari pulau Mbata." begitu orang menggunjingkannya.

Tak berselang lama sejak musibah menimpa Rifayah, orang-orang Sikabalapa kembali dirundung petaka karena kepulangan Salma. Masih dari pulau Mbata. Lebih menyedihkan dari sekedar pulang dalam keadaan perut buncit, Salma hanya pulang nama. Jenazahnya tergeletak kaku dalam usungan keranda. Desas-desus yang bergulir, Salma meninggal setelah mabuk berat pada suatu malam di sebuah diskotik ternama. Saat ditemukan, masih tercium aroma alkohol di mulutnya. Tak ada yang bertanggung jawab atas kematian itu. Orang-orang Sikabalapa tak mampu berbuat apa-apa, kecuali menangisi dan meratapi. Sesungguhnya masih banyak lagi risalah luka tentang gadis-gadis Sikabalapa yang mengadu untung di pulau Mbata. Tapi, apalah gunanya cerita itu diungkit-ungkit lagi. Hanya membuat orang-orang Sikabalapa makin berduka, makin terluka.

Sedari awal emak sudah katakan, “Hujan uang di negeri orang, hujan batu di kampung kita, sebaiknya anak gadis tak usah ke mana-mana, tetap sajalah di Sikabalapa!” Tapi, si Nupik keras kepala, tak hirau ia pada petuah emak. Merengek-rengek mohon ijin hendak berlayar ke pulau jauh, Mbata. Pulau yang dulu hanya semak belukar dan rawa-rawa, tiada penghuni selain lintah, ular dan biawak. Tapi, sejak pohon rupiah tumbuh di sana, pulau pun penuh sesak para perantau. Berbondong-bondong, berdatangan entah dari negeri mana. Seperti petuah emak yang lain, “Di mana ada gula, di situ banyak semut.” Tapi, mestinya Nupik tak menjadi semut yang ikut pula mengerubungi tumpukan gula. Bukankah Nupik gadis belia, kembang bunga Sikabalapa? Banyak kumbang berhasrat hendak hinggap. Ada kumbang janti putih kaki yang jinak tak bersengat. Terbang rendah hendak menghisap madu. Ada pula kumbang dari rantau, ingin membawa bunga, terbang tinggi ke negeri seberang. Tapi, Nupik acuh, seolah tak butuh. Kumbang-kumbang pun terbang lagi, lalu hinggap di kelopak bunga lain.

“Nupik ingin dik Tantri jadi guru seperti keinginan mendiang ayah. Dik Hudan bisa kursus mengemudi. Dik Rafki sekolahnya mesti sampai. Sebab, cita-citanya mulia, mau jadi ulama.” ungkap Nupik, tulus.

Emak tak menyangka, Nupik yang hanya tamatan madrasah, ternyata sudah bisa berfikir dewasa. Lebih dewasa dari usianya.

“Nupik mau jadi apa nak?” tanya emak, ragu-ragu.

“Nupik hanya ingin anak-anak emak jadi orang semua.”

Sebuah rumah sederhana telah berdiri tegak, berkat lembar demi lembar rupiah kiriman Nupik dari pulau Mbata. Atapnya seng, lantainya keramik. Lengkap pula dengan perabotan rumah tangga. Kursi tamu, lampu kristal, gorden warna lembayung, televisi 14 inch, rice cooker dan magic jar. Semuanya dibeli dari wesel yang datang dari Mbata. Kabarnya, Nupik bekerja sebagai karyawan pabrik, berseragam biru muda. Kepalanya sudah terbuka, tak berkerudung lagi, tak serupa gadis tamatan madrasah lagi. Apa lagi yang emak risaukan? Tantri sedang menyelesaikan tugas akhir untuk meraih gelar sarjana di fakultas Tarbiyah. Sebentar lagi akan jadi guru. Hudan sudah punya SIM A, bekerja sebagai sopir pribadi di kota. Rafki sudah bersekolah di pesantren modern. Ia satu-satunya anak muda Sikabalapa yang bisa bersekolah di sana. Tak ada yang mahal bagi rupiah yang dikirim Nupik.

“Pantas saja dia mampu bangun rumah, menyekolahkan anak sampai sarjana. Ternyata si Nupik tak hanya karyawan pabrik, tapi ada kerja sampingan yang menghasilkan uang berjuta-juta.” begitu asung pitanah perlahan mulai berserak di kampung Sikabalapa.

“Kerja sampingan? Wah, apa pula itu?”

“Ah, rendah benar antenamu. Sudah heboh kampung awak karena berita si Nupik. Sudah kaya dia di sana, jadi bini simpanan lelaki bermata sipit, orang asing dari Singapura.”

“Duh, tak usahlah mengada-ada! Kalau belum jelas benar, jangan disebarkan dulu, nanti jadi fitnah! Lagi pula, tak baik membuka aib orang kampung sendiri.”

“Telinga kau saja yang pekak. Semua orang sudah tahu. Awak dengar langsung dari Janilah, anak gadis sutan Pambangih yang baru pulang dari Mbata.”

“Kau lihat saja sendiri! Sudah dua pekan emak si Nupik tak keluar rumah, mengurung diri. Malu mendengar desas-desus anak gadisnya menjual diri di rantau orang.”

“Iba juga kita melihat nasibnya ya?”

“Iba apanya? Bodoh kau ini!”

***

Para pekerja pabrik yang tergabung dalam Koalisi Buruh Perempuan (KBP) cabang Mbata, bolehlah sedikit berbangga. Mereka sedang jadi pusat perhatian. Lebih-lebih, setelah Nupita Darwis, pimpinan mereka, meraih penghargaan bergengsi dari organisasi buruh internasional. Akhir-akhir ini, perempuan muda pemberani itu kerap dihadang tanya para pewarta.

“Sebagai aktivis buruh yang baru saja dapat penghargaan, bagaimana perasaan anda?”

“Tentu saya bangga. Kerja keras kami mendokumentasikan kasus-kasus pelecehan seksual terhadap buruh perempuan akhirnya beroleh perhatian serius dari dunia internasional. Tak sia-sia kami berjuang.” jawab Nupik, lugas.

“Anda layak disebut lokomotif perjuangan buruh perempuan di Mbata, massa pendukung anda ribuan orang, tak tertarik terjun ke dunia politik?”

“Lembaga ini non partisan, wadah untuk menampung segala macam permasalahan buruh perempuan, jangan sampai jadi komoditas politik!”

“Selamat! O, ya hadiah uang sebanyak itu, kalau boleh tau mau digunakan untuk apa?”

“Mau tau saja anda ini, yang pasti akan saya kirim ke kampung. Adik-adik saya sedang butuh biaya pendidikan.”

“Luar biasa! Anda bukan saja pahlawan bagi ribuan buruh perempuan, tapi juga pahlawan bagi keluarga anda.”

“Bisa aja anda ini.”

Berkali-kali wajah Nupik terpampang di halaman surat kabar. Nupik, kini tak lagi sekedar buruh yang mengadu nasib di pulau Mbata. Di mata kawan-kawan sesama buruh, ia pejuang gigih, tak henti-henti memperjuangkan kepentingan kaumnya. Perempuan bernyali besar yang konon hanya tamatan madrasah itu, telah menjadi ikon perjuangan buruh perempuan. Di mana ada demonstarsi buruh, di barisan paling depan pasti ada Nupik sedang bersemangat meneriakkan yel-yel tuntutan. Makin lama, Nupik makin sibuk. Sering ke Jakarta, memenuhi undangan-undangan seminar diskriminasi gender, bahkan beberapa minggu terakhir ini sering bolak balik Mbata-Lamaka, karena KBP Mbata sedang bekerjasama dengan sebuah LSM di Lamaka yang bergerak di bidang rehabilitasi mental tekawe asal Indonesia korban-korban pemerkosaan.

Sementara itu, di kampung, emak masih saja gelisah. Tak kuasa menanggung malu. Asung pitanah tentang Nupik tak kunjung reda. Makin menjadi-jadi. Maklumlah, mulut orang-orang Sikabalapa. Selalu saja merasa lebih tahu, meski belum terang duduk perkaranya. Berita masih simpang siur, sudah disemburkan ke mana-mana. Berita baik bisa saja jadi kabar buruk. Memang benar, lidah tak bertulang. Tapi, sekali menyampaikan berita bohong, fatal akibatnya. Lihatlah! Kini emak si Nupik terbaring lemas dalam bilik. Letai. Selera makannya hilang. Makin hari badannya makin kurus. Tinggal kulit pembalut belulang.

“Rafki tak usah diberitahu kalau emak sakit, nanti mengganggu konsentrasi belajarnya!” pinta emak, lirih.

“Bagaimana dengan kak Nupik, mak?” tanya Tantri, agak gugup.

Seketika, merah menyala rona muka emak, seperti memendam marah tak terkata.
“Jangan sebut nama itu lagi!” bentaknya,

“Lupakan dia! Anak tak tahu diuntung. Mencoreng arang di kening orang tua.” ulangnya lagi.

“Kak Nupik tak seburuk yang dibicarakan orang-orang. Emak lebih tahu sifat kak Nupik, bukan?”

“Diam kau! Tau apa kau soal Nupik, hah?”

“Jangan percaya gunjingan orang, mak. Itu tidak benar!"

“Jangan dengar asungan orang!”

Itulah hardikan emak yang terakhir, sebelum perempuan ringkih itu tenggelam dalam sakratul maut yang singkat. Lalu, mata lelah emak terpejam seiring mengaburnya pelangi di ujung senja yang berangsur lindap.“Mak, Mak, Maaaaaak…….. !! Jangan tinggalkan kami, mak!” Tantri meratap sambil memeluk jasad emak kuat-kuat.Orang-orang Sikabalapa berkabung karena kepergian emak si Nupik. Setiba di kampung, Nupik hanya melihat gundukan tanah yang masih merah. Saat berita duka itu diterimanya, ia sedang berada di Jakarta, mengiringi pemulangan puluhan buruh perempuan yang mengalami gangguan mental setelah dipaksa menjadi pekerja seks komersial di Mbata. Berkali-kali Nupik bermohon pada sanak keluarga, agar jenazah emak jangan dikubur dulu, sebelum ia tiba. Tapi, permintaannya tak dihiraukan. Mungkin, mereka masih menganggap Nupik durhaka pada emak. Tersebab asung pitanah, Nupik tak dapat mencium kening emak untuk kali yang terakhir.

“Kenapa tak ada yang berkabar kalau emak sakit?"

"Tiba-tiba saja datang berita duka, mengabarkan emak sudah tiada.”

“Maafkan Nupik, terlambat menjenguk emak.”

Berat kaki Nupik beranjak dari pusara emak. Lelah terasa. Lebih lelah lagi setelah didengarnya gunjing perihal gadis muda Sikabalapa yang menjual diri di pulau Mbata.

Kelapa Dua, 2007