Search This Blog

Tuesday, July 24, 2007

Gasing Tengkorak

Cerpen DAMHURI MUHAMMAD


(Suara Merdeka, minggu 22 Juli 2007)


Jangan coba-coba meludah di hadapan lelaki itu! Ia memang buruk rupa, muka kusut, mata juling, gigi kuning, mulut bau tembakau murahan, hanya satu dua orang yang tahan duduk lama-lama di dekatnya. Tapi jangan lupa, ia punya Gasing Tengkorak. Bila ia mau, semua perempuan di kampung ini bisa jadi bininya, tak peduli gadis belia, janda kembang atau bini orang. Bila Gasing Tengkorak sudah berkehendak, tak bakal ada perempuan yang menolak. Siapapun bakal takluk, tergila-gila pada tukang panjat pohon kelapa itu. Gasing bukan sembarang gasing. Bila lelaki itu sudah membaca mantra teluh sambil menggasing di malam buta, perempuan yang dituju akan terjaga, badannya serasa sedang direbus, panas alang kepalang, uring-uringan dan mulai menggigau, Dinir, Dinir, jadikan aku istrimu! Besok pagi, perempuan itu akan bergegas mencari Dinir, lalu bermohon ; Dinir, Dinir, jadikan aku istrimu!

Begitulah kejadian yang menimpa Nurmala, gadis muda yang baru saja menyelesaikan kuliah di kota. Setelah menyandang gelar sarjana, Nurmala pulang kampung minta doa restu mak dan bapak. Ia sudah mengajukan lamaran kerja, semoga mak dan bapak ikut berdoa, agar Nurmala diterima. Selain itu, Nurmala juga membawa kabar gembira bahwa sudah ada laki-laki yang berniat mempersuntingnya. Syamsudin nama kekasihnya itu, dokter muda yang kini bertugas di kota. Bila mak dan bapak merestui, keluarga Syamsudin bakal datang melamar Nurmala. Mujur benar nasib Nurmala. Sudah sarjana, akan segera bekerja, dan bakal dapat jodoh pula. Tapi, petaka muncul tiba-tiba. Suatu pagi, Dinir, tukang panjat pohon kelapa dipanggil ke rumah. Mak dan bapak hendak menggelar syukuran sederhana, karena anak gadis mereka sudah jadi sarjana, indeks prestasinya memuaskan pula. Untuk acara masak-memasak mak butuh buah kelapa. Setelah buah kelapa berjatuhan dari pohon belakang rumah, Dinir menyelunsu turun serupa Beruk. Tak sengaja, mata liarnya melirik Nurmala yang sibuk mengumpulkan buah kelapa.

“Rupanya tak hanya buah kelapa yang sudah matang. Anak perempuan di rumah ini sudah patut pula kiranya.” kata Dinir sambil membetulkan simpul tali pengebat celananya.

“Jangan banyak cakap! Angku cuma tukang panjat.” sela Nurmala, angkuh.

“Jangan kasar begitu, dinda! Awak cuma bercanda.”

“Angku cuma tukang panjat, seperti Beruk. Jangan ganggu anak gadis orang!” gerutu Nurmala lagi.

“Ketemu orang bersengat awak rupanya. Mukamu rancak, tapi muncungmu bercirit.”

Tak hirau Dinir pada upah panjat yang belum diterima. Tergesa ia meninggalkan tempat itu. Seolah ada yang baru saja menampar mukanya. Mentang-mentang bersekolah di kota, Nurmala seenaknya menghina tukang panjat seperti dirinya, disamakan dengan Beruk pula. Dinir sudah berusaha sabar, tapi kata-kata Nurmala terngiang-ngiang terus di telinganya. Siapa melompat siapa jatuh. Agaknya Gasing Tengkorak bakal berputar nanti malam. Tunggulah Nurmala, sebentar lagi tukang panjat pohon kelapa akan memanjat tubuhmu, Dinir membatin.

Tatkala orang-orang kampung masih melungkar tidur, mak dan bapak kelimpasingan, tak tahu harus berbuat apa. Nurmala anak gadisnya tiba-tiba bertingkah ganjil, seperti orang kesurupan setan. Menggelinjang-gelinjang kepanasan, berguling-guling di tempat tidur. Mula-mula selimut dicampakkanya, bantal guling dibantingnya. Nurmala masih tidak tahan panas, daster pun ditanggalkan, hingga tubuhnya telanjang bulat. Sebesar biji jagung peluh di kuduknya. Tak lama kemudian, Nurmala menyeracau, Dinir sayang, Dinir sayang, datanglah, datanglah! Dinir sayang, Dinir sayang, datanglah, datanglah! begitu berulang-ulang. Wakbai, dukun hebat yang konon belum ada tandingannya dijemput malam itu juga. Semula, mak dan bapak menduga Nurmala hanya mimpi buruk. Tapi, setelah wajahnya disembur air yang keluar dari mulut Wakbai, ia masih saja bertingkah ganjil seperti orang kesurupan. Makin menjadi-jadi. Nurmala menyeringai sambil meronta-ronta, antarkan awak ke ke rumah Dinir, antarkan awak ke rumah Dinir!

“Dinir? Apa salahmu pada tukang panjat itu?” tanya mak.

“Antarkan awak ke rumah Dinir, antarkan awak ke rumah Dinir!”

Wakbai geleng-geleng kepala. Dukun masyhur itu angkat tangan. Rupanya ia berhadapan dengan kekuatan pukau Gasing Tengkorak. Dari siapa lagi muasalnya kalau bukan dari Dinir. Wakbai keok. Tak punya nyali melawan guna-guna Dinir.

“Segera temui Dinir! Mungkin anakmu buat kesalahan pada tukang panjat itu. Minta maaf!”

“Pukau Gasing Tengkorak tak ada tandingannya.”


Tak tercegah, Nurmala akhirnya jatuh ke tangan Dinir. Kesalahannya tak terampuni. Nurmala harus membayar dengan menjadi istri kelima. Upah panjat memang tak sempat diterima Dinir, tapi bukankah tubuh Nurmala imbalan yang tak ternilai? Mak dan bapak tiada punya pilihan. Banyak dukun didatangkan untuk menghadang pukau Gasing Tengkorak. Tapi, semuanya menyerah. Mak dan bapak pasrah, merelakan anak gadisnya dipersunting Dinir. Apa boleh buat. Bila dicegah, Nurmala bisa gila selamanya. Maka, jadilah mak dan bapak bermenantu lelaki bergigi kuning, bermata juling. Sudahlah, mungkin Dinir memang jodohnya Nurmala, kata mak.

****

Kini, Nurmala sudah lupa peristiwa malam itu. Lupa kalau ia harus kembali ke kota, memenuhi panggilan kerja. Lupa pada Syamsudin yang hendak melamarnya.Yang ia tahu hanya Dinir, suami tercinta, ayah empat orang anaknya. Dua laki-laki, dua perempuan. Yang perempuan mukanya mirip Dinir, sedang yang laki-laki wajahnya mirip Nurmala.

Lama kelamaan, Rukaya, Saanih, Simatukila, Sansida dan Nurmala (lima istri Dinir) jadi tahu, ternyata Gasing Tengkorak itu benar-benar dibuat dari tengkorak manusia, tengkorak kepala bayi laki-laki tepatnya.Ukurannya tidak sebesar tengkorak orang dewasa, hanya sebesar kepalan tinju. Sebab, mayat yang digali dari kuburan itu mayat bayi yang mati di usia tujuh hari, dan konon, bayi itu mati berdarah. Sisi kanan dan kiri tengkorak itu dilubangi, masing-masing dua lubang sebesar buah rimbang. Di kedua lubang itulah dimasukkan tali gasing yang sebelumnya sudah dibelit benang tujuh rupa, jadilah Gasing Tengkorak. Bukan Dinir yang menggali kubur, ia hanya beroleh cerita. Dinir mewarisi gasing ajaib itu dari kakek-buyutnya. Ia diajari mantra teluh, juga diberitahu pantangan-pantangan yang harus dihindari selama ia masih ingin memelihara Gasing Tengkorak itu. Bila Dinir patuh pada pantangan, kekuatan pukau Gasing Tengkorak tiada bakal tertandingi. Dan benar, sejak memiliki Gasing Tengkorak, Dinir tak hanya piawai memanjat pohon kelapa sebagaimana pekerjaannya sehari-hari, tapi juga lincah memanjati tubuh perempuan.

“Bawalah gasingmu ke kota? Pasti banyak yang butuh.” bujuk Nurmala suatu hari.

“Ada-ada saja awak tu, siapa pula yang mau?”

“Banyak laki-laki patah hati di sana. Kau bisa kaya kalau mau bantu mereka.”

“Bagaimana caranya?”

“Kucarikan kau pelanggan.”

“Kalau mereka mau, datang saja ke sini.”

“Dari mana pula mereka tau, kalau kau punya Gasing Tengkorak?"

“Ke kotalah, kalau mau kaya!”

Rayuan Nurmala didukung Rukaya, Saanih, Simatukila dan Sansida. Lama-lama Dinir tergoda juga. Nurmala berhasil membawa Dinir dan Gasing Tengkorak itu keluar dari kampung ini. Sementara istri-istri Dinir yang lain berharap semoga suami mereka beroleh celaka di kota. Agar mereka bebas dari pasungan lelaki itu. Diam-diam mereka mulai berontak. Betapa tidak? Dinir tak pernah memberi nafkah untuk menghidupi anak-anak. Dasar tukang panjat, Dinir hanya bisa memanjat tubuh istri-istrinya. Setelah beranak-pinak seperti kucing, Dinir membiarkan mereka begitu saja. Untunglah, Rukaya, Saanih, Simatukila, dan Sansida orang-orang berada. Justru mereka yang menafkahi Dinir. Anehnya, mereka sudah menyadari kebodohan itu selama bertahun-tahun, tapi mereka tak kunjung lepas dari pukau Gasing Tengkorak. Mengajak Dinir ke kota mungkin hanya muslihat istri-istrinya, agar tidak ada lagi korban-korban Gasing Tengkorak berikutnya. Cukup mereka saja. Bila Dinir terus berada di kampung ini, bisa-bisa semua gadis dimakannya bulat-bulat.

Semula, memang banyak laki-laki yang tertarik menggunakan jasa Dinir. Ada yang sekedar ingin punya istri baru, supaya ada variasi. Ada pula yang benar-benar patah hati karena cintanya ditolak, entah karena melarat, entah karena ketahuan sudah punya istri. Mereka menjanjikan bayaran menggiurkan, tentu bila Dinir berhasil membuat perempuan-perempuan pilihan mereka bertekuk lutut dan minta dikawini. Sementara itu, Nurmala mulai membeberkan bahwa Dinir, suaminya itu, menyimpan tengkorak kepala manusia yang digalinya dari kuburan, entah di mana, ya tengkorak bayi yang mati berdarah.
Jonatan, salah seorang pelanggan, mulai meragukan kehebatan Dinir. Ia sudah membayar mahal, tapi Karina, perempuan idamannya tidak mengalami kejadian apa-apa. Padahal, hampir tiap malam Dinir memutar Gasing Tengkorak yang mantra teluhnya ditujukan pada perempuan itu.

“Bila perempuan itu tak bisa kau taklukkan, kulaporkan kau ke polisi.”

“Tuduhannya jelas, kau menyimpan tengkorak bayi. Bisa-bisa kau tertuduh sebagai pembunuh.” ancam Jonatan.


Dinir pucat. Tangannya gemetar. Tapi, Nurmala senang bukan main. Jebakannya berhasil menjerat Dinir. Tunggu petakamu, Dinir!

Tak lama berselang, Gasing Tengkorak itu disita sebagai barang bukti kejahatan Dinir. Dinir meringkuk dalam tahanan. Nurmala dan anak-anak melenggang pulang. Tapi, ia tak bisa melupakan Dinir, lelaki yang telah mengguna-gunai itu. Begitu pula Rukaya, Saanih, Simatukila dan Sansida. Mereka malah sering berkunjung ke kota, membawakan makanan kesukaaan Dinir. Di mata anak-anaknya (kalau tidak salah jumlahnya delapan belas), Dinir tetaplah ayah yang mereka rindukan. Belakangan, Nurmala menyesal telah menjebak suaminya. Cintanya pada lelaki bermata juling itu makin membara. Sejak Dinir ditahan, makannya tak enak, tidurnya tak nyenyak. Kini, Nurmala mati-matian berusaha membebaskan Dinir dari tahanan. Sabarlah suamiku, kita akan berkumpul kembali seperti dulu…

Kelapa Dua, 2007
Anak Bapak


Cerpen DAMHURI MUHAMMAD


(Pikiran Rakyat, Sabtu 21 Juli 2007)

(1)

Seolah ada tangan-tangan gaib yang tengah sibuk menggaruk-garuk daging di dada tipis bapak. Geli campur nyeri, sedikit perih. Makin kencang garukan itu, makin geli rasanya.Lalu gundukan daging kedua belah dada bapak berangsur-angsur mengembang. Seperti ada yang bergerak dan menyentak hendak menyembul keluar, hingga kedua bulatannya menegang dan membesar serupa balon ditiup pelan-pelan. Begitu juga putingnya, makin mekar. Montok serupa buah kelimunting matang. Kenyal dan setengah basah.

Jangan risau, nak! Tak akan lama kau tersiksa! Lihatlah, sebentar lagi Bapak bakal punya payudara. Kau meneteklah sepuasnya! Tak perlu mimik botol lagi. Bila haus, menyeruduk saja ke dada bapak. Ngangakan mulut, kenyotlah! Bila perlu sampai kempot. Kau suka yang mana? Kiri atau kanan? Setiap hari Bapak menyantap sayuran bergizi tinggi, agar kandungan susu Bapak melimpah. Supaya kau cepat besar. Sekarang, diamlah! Jangan menangis terus. Anak Bapak tak boleh rewel. Agar kelak, tidak manja. Jangan terlalu berharap air susu ibumu. Tak ada air susu ibu, air susu dari payudara Bapak yang baru tumbuh ini pun jadi. Toh, sama-sama air susu manusia. Bukan air susu sapi. Sabar ya, ini sudah bengkak. Pasti sebentar lagi airnya muncrat. Boboklah dulu!

Sejak kelahiranmu, Bapak kerap berpikiran ganjil. Saat ibumu tidur pulas, ingin sekali Bapak memotong dua payudaranya, lalu Bapak pasangkan di dada bapak. Masih disebut perempuankah ibumu bila tak punya payudara lagi? Masih ibukah namanya bila ia tidak mau menyusuimu? Dulu ibumu seperti kebelet pingin anak. Hidupku sunyi bila tak ada suara bayi, begitu katanya. Tapi setelah kau lahir, jangankan merawat, menyusuimu saja ia keberatan. Bukan aku tak mau, tapi tak punya waktu. Kasih saja susu formula! Isapannya bikin payudara jadi lembek, dalih ibumu lagi. Apa bedanya kau dengan ternak bila yang kau minum susu sapi? Untunglah kini Bapak punya payudara. Tengoklah, bulatannya makin padat. Tentu isinya air susu. Kau tak bakal minum susu ternak lagi. Tapi, masih bapakkah namanya bila punya payudara? Masih laki-lakikah Bapak bila kau menetek pada Bapak?

"Ngeyaaaaak, ngeyaaaaaaak, ngeyaaaaaaaak…..!"

Lho, kok nangis lagi? Kau tak suka Bapak punya payudara? Apa kelihatannya janggal? Tak apa-apalah. Yang penting kau sehat dan cepat besar. Emangnya cuma perempuan yang bisa menyusui? Bapak juga bisa! Bapak telah menjelma perempuan. Menggendongmu, memandikanmu, ganti popok, gurita, dan bedong bila ngompol, bersihkan e'ek dan kini juga, menyusui. Kalau begitu kenapa kau tak lahir dari rahim Bapak saja? Kenapa bukan Bapak yang hamil? Bapak pula yang menahan sakit saat melahirkan. Biar lengkap wujud Bapak sebagai perempuan. Siapa tahu Bapak juga punya rahim dan bisa melahirkan. Tapi, dari mana keluarnya? Tak ada jalan keluar bayi di organ vital bapak. O iya, bukankah bisa dioperasi caesar? Zaman sudah maju, melahirkan anak tak perlu lewat jalan keluarnya. Dibedah juga bisa. Tapi, masih disebut lahir jugakah bila kau tak terpacak di jalan yang semestinya? Bila kau keluar dari perut, bagaimana cara Bapak menentukan waktu kelahiranmu?

Nah, ini sudah muncrat. Minumlah! Jangan rewel. Ibumu tak suka anak rewel. Pusing kepalaku mendengar tangis bayi, katanya. Lho, bayi memang bisanya cuma nangis. Bahasamu, ya eyak-eyak itu! Berisik, tapi Bapak tak merasa pusing kalau kau nangis. Begitulah dunia bayi. Mau mimik nangis, mau tidur nangis, ngompol nangis, mandi nangis, kegerahan nangis. Ibumu kok pusing? Dikiranya anak baru lahir langsung bisa ngomong, begitu? Atau langsung berdiri dan lari-lari? Repot sekali punya anak, katanya. Wah, kalau tak mau repot, jangan beranak!

(2)

Apa-apaan ini? Dadamu kok membusung seperti semangka begitu? Doa apa yang kau baca hah? Lucu juga kelihatannya laki-laki punya payudara. Mau jadi perempuan rupanya. Kenapa tidak bilang dari dulu? Kau bisa operasi kelamin. Rahimku pindahkan ke tubuhmu. Kita bertukar kelamin. Kau pakai semua daster dan rokku. Kemeja, kaus oblong, celana jeansmu aku yang pakai. Kau yang belanja dapur, masak, nyuci pirinng, nyuci pakaian. Aku jadi bapak. Kerja. Cari nafkah. Aku suami. Kau istriku. Harus patuh dan hormat kau padaku.

"Tidak, aku tetap suami! Meski kini aku punya payudara. Aku tetap laki-laki meski aku menyusui bayi kita."

"Aku hanya ingin ia beroleh susu. Itu saja!"

"Aku laki-laki. Suamimu. Harus patuh kau padaku. Ngerti?"

Sudah kubilang, aku sibuk. Pergi pagi pulang malam. Mimik botol apa salahnya? Banyak juga bayi yang tak minum air susu ibu. Kau saja yang terlalu berlebihan. Kini lihatlah akibatnya, kau tak malu? Punya jakun, tapi ada payudara. Laki-laki tidak, perempuan juga tanggung. Lalu apa kelaminmu? Apa dunia mau kiamat? Laki-laki menyusui. Sebentar lagi mungkin laki-laki hamil. Edan!

"Aku juga heran, tiba-tiba tumbuh sendiri, tak disuntik sama sekali"

"Tak apalah, mudahan-mudahan setelah anak kita besar, payudaraku menyusut kembali."

Iya. Tapi bagaimana aku menyebutmu suami bila kau setengah jantan setengah betina? Apa kata orang nanti? Masa suamiku punya payudara? Apalagi bila kau benar-benar bunting. Terus siapa ba paknya? Siapa yang menghamili? Gila apa? Jijik aku melihat payudaramu itu. Pergilah ke rumah sakit. Dioperasi bila perlu!

"Ngeyak…..ngeyak…..ngeyaaaaaaaaaaaaaak….!"

Anak Ibu kok rewel? Udah mimik belum? Ah, jangan-jangan ini karena terlalu banyak minum susu bapakmu. Ibu sudah bilang, minum susu formula saja! Bapakmu itu terlalu keibuan. Saking keibuan, payudaranya tumbuh sendiri. Bengkak serupa semangka. Apa enak susu bapakmu hah? Serbasusah punya suami seperti bapakmu. Coba kalau bapakmu kerja, Ibu bisa di rumah. Masak, nyuci, nyapu, ngepel, ngurus anak, apa saja Ibu kerjakan. Tapi, kalau Bapak di rumah, Ibu di rumah, kita makan apa? Jadi, Ibu harus banting tulang. Cari uang. Biar dapur kita tetap ngepul.

“Ngeyak…..ngeyak…..ngeyaaaaaaaaaaaaaak….!"

"Ngeyaaaak…..ngeyaaaaaaaak…..ngeyaaaaaaaaaaaaaak….!"

Sudah, sudah! Diam! Tuh kan, jadi nggak mau mimik botol. Duh, gimana caranya biar kau diam? Repot kalau tak ada bapakmu. Sebentar ya, bapakmu lagi belanja sayur-sayuran, katanya biar air susunya banyak. Ayolah, sementara mimik botol dulu! Mau ya? Ih, gimana ini? Bingung Ibu jadinya…

(3)

"Bapak jahat, bapak jahat! Dedek mau mobil-mobilan, bapak nggak beliin, hu….. hu…….hu……"

"Sudah, sudah, Dek! Jangan cengeng begitu! Dedek udah gede. Ntar Ibu yang beliin. Dedek mau yang mana?"

"Bapak nakal, bapak nakal…..hu…..hu….hu….."

"Iya. Bapak nakal. Nanti kita jalan-jalan ya. Beli mobil-mobilan. Sudah, diam dulu!"

"Dedek mau main ama Ibu aja. Nggak mau ama Bapak. Bapak jahat!"

Sudah besar anak bapak rupanya. Sudah bisa bilang bapak nakal, bapak jahat. Kenapa tidak mau jalan-jalan sama bapak? Pinginnya sama Ibu terus ya? Memang menyenangkan kalau sama ibu. Tiap akhir pekan diajak main ke mal. Beli mobil-mobilan, robot-robotan, pedang-pedangan, pistol-pistolan. Sampai-sampai kau kecanduan ke mal. Bapak memang bisanya cuma ngajak Dedek lihat gajah, buaya, burung, ikan, dan angsa di kebun binatang. Jalan-jalan sama Bapak tidak pernah jajan ya? Ah, bapak memang jahat, nakal, pelit.

"Apa kubilang? Ntar kalau sudah besar mau juga sama aku. Kau lihat sendiri kan? Kecil-kecil sudah bisa bilang tidak suka bapak"

"Dedek biar ikut aku saja. Di kantor ada penitipan anak"

"Tapi, tapi….."

"Tapi apa?"

"Dia kan sudah berhenti mimik susumu, mimik botol aja!"

"Dedek rewel terus kalau sama bapaknya!"

"Kurang ajar! Hati-hati kalau ngomong! Dulu, waktu masih bayi kenapa tidak mau ngurus?"

"Kalau sudah besar begini aku mau. Sudah ngerti bila dikasih tahu. Pokoknya sekarang aku yang ngurus anak!"

"Kau mulai nggak becus!"

"Buktinya, dia minta mainan, kenapa diam saja? Makanya, kerja! Cari duit, biar bisa beliin mobil-mobilan buat anak."

(4)

Serasa ditampar berkali-kali mukanya ketika bocah enam tahun yang gendut itu bilang bapak nakal, bapak jahat. Sejak umur 1 hari ia menggendong Dedek. Tiap malam berjaga-jaga bila sewaktu-waktu Dedek kecil bangun, ngeyak dan ngompol. Ganti popok, bedong, gurita. Di tangannya Dedek tumbuh hingga jadi imut-imut seperti sekarang. Dalam aliran darah Dedek, tentu masih ada resapan air susu laki-laki itu. Air susu dari payudara yang tumbuh secara ajaib. Kini, setelah Dedek kuat berlari ke sana ke mari. Sudah lancar ngomong dan berhenti nyusu, ia seolah tak diperlukan lagi. Dedek lebih suka main dan jalan-jalan bersama ibu. Berkeliling di pusat-pusat perbelanjaan, cari mainan model baru. Baju baru. Sepatu baru. Sudah menumpuk mobil-mobilan pembelian ibu, tapi Dedek tak pernah puas. Terus-terusan ingin mainan baru. Belakangan Dedek minta Play Station 2. Sudah pasti, laki-laki itu tak bakal mampu belikan Dedek. Lagi-lagi Dedek bilang bapak jahat, bapak nakal dan bapak pelit.

"Makanya, punya anak jangan modal dengkul aja!"

"Jangankan PS2, robot-robotan kaki lima saja kau tidak mampu beli. Ih, gimana sih jadi bapak?"

"Payah."

Suatu malam, (sekali lagi) laki-laki itu mengalami kejadian ajaib. Seolah ada tangan-tangan gaib sedang sibuk menggaruk-garuk daging di dada tipisnya. Geli bercampur nyeri, sedikit perih. Makin kencang garukannya, makin geli rasanya. Lalu, tonjolan daging kedua buah dadanya berangsur-angsur menyusut seperti ada yang menghisap dari dalam, hingga kedua bulatannya kempes serupa balon mengisut pelan-pelan. Begitu pun bulatan putingnya, makin layu, mengering, tak segar seperti kelimunting matang lagi. Dadanya kembali rata, seperti semula. Ia kembali jadi laki-laki. Payudaranya hilang seketika. Sayang sekali, Dedek tak menyadari perubahan mencolok di tubuh bapaknya. Bocah yang makin nakal itu juga tak diberi tahu kalau dulu ia pernah menetek pada bapaknya.

"Ikut Bapak yuk, nak!"

"Nggak mau, nggak mau, nggak mau. Dedek nggak suka liat ikan. Maunya mandi bola di mal."

"Ayolah nak! Bapak kangen jalan-jalan ama Dedek."

"Bosan ah…!"

***

Kelapa Dua 2007

Thursday, July 19, 2007

Yth, Tuan Nirwan..

Oleh : DAMHURI MUHAMMAD

(Esai ini disampaikan dalam acara TEMU KANGEN SENIMAN, di Yayasan PITALOKA, Kukusan, Depok, Minggu 15 Juli 2007).

Menyoal pergeseran selera penjurian dalam cerpen ‘Kompas’ pilihan 2005-2006, lewat esai Mendustai Sastra Koran (Kompas, 8/07/07), Binhad Nurrohmat hampir memaklumatkan ‘harga mati’ bahwa pemilihan cerpen terbaik yang diselenggarakan harian Kompas tiap tahun (sejak 1991 hingga sekarang) sudah tegak sebagai tradisi. Padahal, pihak Kompas yang kali ini langsung dipengantari Suryopratomo (Pemimpin Redaksi) telah menegaskan bahwa momentun tahunan itu hanyalah rutinitas yang kemudian secara serampangan dianggap ‘tradisi’. Berkebalikan dengan sikap Binhad yang begitu was-was ketika penjurian tahun ini sepenuhnya dipercayakan pada pihak luar bakal berpotensi ‘mencederai’ pilihan estetik Kompas yang telah dirawat sejak lama, Kompas justru sedang ‘berikhtiar’ agar rutinitas itu tak terjerumus ke dalam lubang kemapanan dan tak terkungkung dalam ‘jerat’ tradisi. Maka, dengan pergeseran dari mekanisme penjurian ‘orang dalam’ ke ‘orang luar’ (kali ini dipercayakan pada Nirwan Dewanto dan Bambang Sugiharto), Kompas mengharapkan munculnya kemungkinan-kemungkinan baru dan kriteria-kriteria artistik yang lain, yang boleh jadi berbeda, andai itu dilakukan oleh redaksi Kompas sebagaimana lazimnya.

Keterbukaan dan kerendah-hatian ini tentu bukan tanpa resiko, mengingat setiap laku penjurian terhadap karya sastra (khususnya cerpen) selalu didera kesulitan menentukan parameter dan standar penilaian, dan akibatnya selera subyektif sukar dihindari. Agaknya, bagian inilah yang perlu diberi catatan, bila perlu diperdebatkan. Kata pembuka Nirwan Dewanto di bagian awal buku itu barangkali bukan sekedar laporan penjurian, tapi semacam lemparan ‘bola liar’ yang patut ditanggapi, setidaknya perlu diimbangi. Nirwan bilang, sastra yang unggul terselenggara jika si pengarang menjadi pengrajin belaka, lalu pada paragraf selanjutnya ia begitu tergesa hendak menegaskan ; pengarang tidak bisa semau-maunya memperalat bahasa (atau ia akan dibinasakan oleh bahasa). Bukankah kepengrajinan adalah laku kreatif yang mustahil menghasilkan produk kerajinan tanpa perkakas yang memadai? Dalam kerja sastra, perkakas itu tidak lain adalah bahasa. Lalu, bagaimana mungkin etos kepengrajinan bakal terbangun bila pengarang dilarang memperalat bahasa? Mungkin tuan Nirwan lupa bahwa hingga kini kata pengarang masih disebut author, artinya orang yang punya otoritas untuk ’memperkakasi’ bahasa, menggerakkan bahasa, menghidupkan bahasa, bahkan ’menyuntikkan’ pesan-pesan tertentu ke dalam teks. Lelaku ini tetaplah lelaku sastra, bukan setengah-psikologi, setengah-sosiologi, setengah-antropologi, setengah-historiografi dan akhirnya setengah-sastra sebagaimana simpulan Nirwan.

Jatuhnya pilihan pada cerpen Ripin, karya cerpenis muda Ugoran Prasad untuk menempati peringkat terbaik dalam bunga rampai itu memang tak perlu disangkal. Saya bersetuju dengan penilaian Nirwan bahwa Ripin memberi contoh tentang bagaimana realisme dikerjakan hari ini. Sudut pandang seorang anak lelaki (tokoh utama cerita) telah membebaskan pengarang dari heroisme yang tak perlu. Ia membiarkan tokoh-tokohnya berkelindan sendiri dengan latarnya. Saya pun ‘lumayan’ percaya, dalam Ripin, pengarang berhasil menghilang ke sebalik lelaku dan ujaran tokoh, dan karena itu patut dianggap yang paling berhasil. Tapi, agak janggal, ketika Rumah Hujan (Dewi Ria Utari) dan Nistagmus (Danarto) terpilih sebagai dua cerpen yang satu garis identifikasi dengan Ripin. Meski dalam Rumah Hujan, pengarang berhasil melebur ke dalam lelaku tokoh, tapi peleburan itu membuat cerpen ini begitu remang, berpilin-pilin, sukar dicerna. Perihal Nistagmus, bukankah cerpen ini hendak menunjukkan keterlibatan pengarang dalam sebuah peristiwa faktual tertentu? Tidakkah ini hanyalah esai komentar sosial yang ’menyaru’ sebagai cerpen seperti tudingan Nirwan pada Bocah-bocah Berseragam Biru Laut (Puthut EA) dan Piknik (Agus Noor)? Bukankah tuan Nirwan juga bilang bahwa memaksakan muatan, pesan, hikmah, filosofi, ajaran tertentu tidak bisa dituangkan begitu saja di dalam karya sastra? Bila tuan Nirwan bersetia pada ’cita-cita’ literernya, enam dari enam belas cerpen yang terhimpun dalam buku itu, semestinya disingkirkan. Sebab, keenam cerpen itu sungguh memperlihatkan betapa berita meresap ke dalam cerita, dan membuat cerita tak mampu bergerak dengan kaki sendiri, cerita hanyalah semacam berita yang tidak bergerak ke mana pun, demikian tuan Nirwan berwejang. Bagaimana mungkin tikam jejak pengarang dapat dihapus dalam teks? Pada seorang teman penyuka cerpen, iseng-iseng saya pernah menyuguhkan salah satu cerpen karya Kuntowijoyo dengan menghapus nama pengarangnya. Setelah khatam membaca, saya mengujinya ; coba tebak, ini cerpen karya siapa? Ia menjawab, siapa lagi kalau bukan Kuntowijoyo? Saya mulai percaya, teman penyuka cerpen itu dapat mengendus jejak pengarang dalam setiap cerpen yang dilahapnya. Ah, barangkali pengarang tak sungguh-sungguh menghilang dalam teks.

Munculnya sudut pandang baru dalam laku penjurian sebagaimana didedahkan Nirwan Dewanto dan Bambang Sugiharto lewat buku cerpen ’Kompas’ pilihan 2005-2006, barangkali cukup berhasil ’menganggu’ rutinitas pemilihan cerpen terbaik versi Kompas agar tidak terjerembab menjadi ’tradisi’ yang baku dan beku. ‘Realisme bertendens’ (yang selama ini dianggap khas Kompas) secara terang benderang dihadang dengan eksperimentalisme (meski belum menemukan bentuk yang sepadan) sebagai siasat baru dalam menggarap cerpen. ’Umpan lambung’ Nirwan Dewanto patut disambut dengan girang-gemirang, tentu bila itu dilakukan dengan kearifan bahwa apapun ’mazhab’ kesenian dapat bersitumbuh dalam khazanah cerpen kita, berdampingan secara bijak, saling menghormati, tanpa hasrat untuk saling menggantikan satu sama lain, apalagi hasrat hendak menguasai....