Search This Blog

Tuesday, August 21, 2007

Anjing Pemburu

Cerpen DAMHURI MUHAMMAD


(MEDIA INDONESIA,19 Agustus 2007)


Secepat kilat kepalan tinju mendarat di mulut Ipun, bocah sembilan tahun itu sempoyongan, terhuyung-huyung, hilang keseimbangan, lalu jatuh tersungkur. Piring berisi nasi dingin tanpa lauk yang tadi dalam genggamannya pecah berkeping-keping. Remah-remah tumpah, berserak di lantai. Tapi, ayah belum puas melampiaskan amarah, Ipun yang sudah tertelungkup dengan mulut berdarah, ditendangnya kuat-kuat hingga tubuh cekingnya terguling, menggelinding serupa bola pingpong.

“Ampun, ampun!” pekik Ipun, kesakitan.

Bila ayah sedang marah, aku, ibu, Ipun, dan adik-adik yang lain kerap hanya diam sambil berharap semoga amuk ayah segera reda. Kalau dihadang, ayah bisa lebih buas. Barangkali lebih buas dari binatang-binatang buruan yang selalu hendak ditaklukkannya. Kemarahan ayah pada Ipun seperti kemarahan yang menggelegak tatkala ia sedang berburu babi di hutan. Mungkin karena terlalu sering berburu, bagi ayah, rumah ini seolah-olah hutan penuh belukar, dan kami seumpama hewan-hewan buruan yang selayaknya dicabik-cabik. Seperti tiada beda antara kami dan babi-babi buruan ayah. Bila seekor babi sudah roboh, para pemburu biasanya menyerahkan bangkai itu pada anjing-anjing kesayangan mereka. Tak begitu dengan Ipun, setelah tumbang tak berkutik, ayah masih bernafsu hendak menerkam dan mencekik batang lehernya.

“Sekali lagi kau mencuri makanan Kalupak, kupatahkan lehermu seperti aku mematahkan leher babi,” bentak ayah, makin beringas.

“Ampun, ampun….”

“Diam kau, anak babi!”


Kalaulah bukan karena Kalupak, seekor anjing pemburu yang sepanjang hari melolong dan menggonggong di rumah kami, tentulah Ipun tiada bakal jadi sasaran hantaman kaki ayah. Pagi na’as itu perut Ipun keroncongan alang kepalang, menggigil lulutnya menahan lapar, sementara di dapur hanya ada sepiring nasi dingin yang disiapkan ayah untuk Kalupak. Berani benar Ipun mencuri makanan anjing peliharaan ayah. Akibatnya, muka Ipun jadi bonyok, bibirnya bengkak sebesar limau sundai. Itu imbalan yang setimpal bagi siapa saja yang menelantarkan Kalupak.

“Ayah lebih sayang pada Kalupak daripada anak-anaknya sendiri,” keluhku pada ibu.

“Lebih baik kasih racun serangga saja anjing itu.”

“Anggap saja Kalupak bagian dari keluarga kita,” bujuk ibu.

“Ah, tak sudi aku bersaudara dengan anjing!”

“Sssst….nanti didengar ayahmu.”

Ayah kami pemburu ternama yang sangat disegani di kampung ini. Keberingasan Kalupak saat membunuh babi telah mengangkat martabat ayah sebagai pemburu nomor satu. Belum ada yang mampu menandingi tajamnya pengendusan anjing pemburu itu. Pada setiap perburuan, selalu saja Kalupak yang pertamakali mengendus jejak buruan, yang pertamakali pula memburaikan isi perut babi. Anjing-anjing pemburu lain selalu memangsai buruan yang sebelumnya telah membangkai dalam terkaman Kalupak. Seolah-olah perburuan itu hanya dilakukan oleh anjing pemburu milik ayah semata. Berkat kehebatan Kalupak, ayah telah menjadi penguasa para pemburu. Tanpa Kalupak, ayah bukan siapa-siapa, hanya pecundang malang yang tiada bakal dihormati orang. Maka, jangan sia-siakan hidup Kalupak, jangan coba-coba merampas hak hidupnya. Anjing pemburu itu lebih berharga ketimbang hidup kami yang hanya membebani, tiada memberi arti. Kami hanyalah babi-babi jinak yang bila tiba saatnya bakal dimangsai.

Kalupak bukan anjing sembarangan. Bukan anjing penjaga rumah yang bila tidak diberi makan, bisa makan tai atau sisa-sisa tulang setelah pasar usai. Kalupak anjing mahal, sebidang sawah telah tergadai guna membeli anjing itu. Dua butir telur mentah dicampur susu kental dijatahkan ayah untuk Kalupak tiap hari. Belum lagi obat-obatan khusus yang dioleskan di lubang hidungnya guna mempertajam pengendusan dan shampoo bermerk guna membasmi kutu dan kuman di bulunya. Makin hari Kalupak makin gemuk, gesit larinya, panjang kejarannya. Tak begitu dengan ibu dan kami, anak-anak ayah. Seumur-umur, ibu belum pernah keramas pakai shampoo hingga rambutnya kusut, tak terurus. Sejak bayi, aku dan adik-adik tak pernah minum susu. Kata ibu, kami hanya diberi air tajen, air bekas menanak nasi. Lihatlah, Ipun, Izen dan Iyen, kurus kering, mata mereka mencukam ke dalam, tidak gesit seperti anak-anak lain, larinya lambat, tak bergairah, sekali kena tendang, langsung tumbang.

Tak hanya Ipun, Izen, Iyen dan aku yang kerap dihajar ayah. Ibu sering pula jadi korbannya. Pernah ayah melempari muka ibu dengan kotak sabun mandi. Saking kuatnya ayunan tangan ayah, kotak sabun itu remuk berderai di kening ibu. Waktu itu, Ipun, Izen dan Iyen menjerit melihat darah meleleh di kening ibu. Ketiganya mendekap ibu, membentengi tubuh ibu.

“Bukan ibu yang salah, kami yang mengambil shampoo itu. Hu…hu….hu” mohon Izen, terisak-isak.

“Kami ingin mandi pakai shampoo, buihnya banyak,” dukung Iyen dan Ipun serentak.

“Kami saja yang dihukum. Hu…hu…hu.”

“Diam kalian, anak-anak babi!”

Ayah makin kesetanan, ia belum puas melihat ibu yang sudah bersimpuh di pojok dapur dikelilingi Ipun, Izen dan Iyen yang merasa bersalah telah membuat ibu diamuki. Meskipun mereka telah menghalang-halangi, tetap saja tamparan ayah mendarat di pelipis ibu. Spontan tubuhku terloncat, dan seketika aku berada di antara ayah dan ibu. Kusuruh adik-adik cepat menyingkir. Kutantang sorot mata garang ayah, kujadikan tubuhku sebagai tameng ibu. Ayo, tampar aku, jangan hanya berani pada perempuan, batinku.

“Rupanya sudah berani kau melawan pemburu?” gertak ayah,

“Babi saja bisa melawan, kenapa kami tidak?” ungkapku dalam hati.

Naluri berburu ayah tiba-tiba mengendor. Tergesa ia pergi meninggalkan kami. Padahal aku sudah siap jadi babi buruannya. Rupanya pemburu itu punya rasa takut juga. Kukumpulkan keping-keping kotak sabun yang berserakan di lantai dapur. Kuseka bekas-bekas luka di kening ibu dan kupapah ibu masuk kamar. Kami paham mengapa ayah ngamuk lagi. Shampoo yang disiapkannya untuk memandikan Kalupak dipakai Ipun, Izen dan Iyen buat main keramas-keramasan di kali belakang rumah. Padahal besok Kalupak bakal unjuk taring, ada buru babi besar-besaran. Kurang lengkap rasanya bila Kalupak belum dikeramasi. Ayah tentu malu bila Kalupak menggaruk-garuk di depan anjing-anjing pemburu lain karena kutu-kutu dibulunya belum dibersihkan.

****

Keng, keng, keng, keng, keng, hauk, hauk, hauk…..
Keng, keng, keng, keng, keng, keng………..

Balok kayu peyangga pintu menghantam kepala Kalupak. Anjing itu menyeringai dan menghentak hendak lepas dari rantai yang mengebatnya. Tak terhitung berapakali balok kayu itu kupukulkan tepat di kepala Kalupak. Dalam sekejap, anjing kesayangan ayah itu tergeletak, kepalanya retak. Setelah kuhampiri, ternyata Kalupak sudah tak bernapas. Seperti mimpi saja rasanya, padahal aku benar-benar telah menghabisi seekor anjing pemburu. Kalau memang kami hanya babi-babi jinak yang suatu saat bakal dimangsai, kini seekor babi telah menerkam anjing pemburu. Entah kenapa aku jadi seberani ini. Mungkin karena ketakutanku sudah memuncak. Kata orang, puncak rasa takut adalah berani tiada tanding.

Setiba di rumah, ayah langsung panik, muka bengisnya berkeringat dingin. Dibolak-baliknya tubuh Kalupak yang terkapar dengan lidah menjulur. Bulu di bagian kepala Kalupak menyisakan bercak-bercak merah yang mulai mengering. Langau hijau mengerubungi bangkai itu. Kami terus menyigi ayah yang masih duduk membatu di depan bangkai Kalupak. Entah seperti apa kemarahan yang bakal meledak sesaat lagi. Tak lama berselang, ayah bergegas masuk. Satu tamparan tiba-tiba bersarang di bawah alisku, tubuhku terpelingsut ke dinding, berkali-kali sepak kaki ayah menghantam rusukku. Ia belum puas. Dijambaknya rambutku, lalu dengan sigap tangannya menerkam leherku. Akh….sukar aku bernapas. Cengkraman tangan ayah di leherku tertahan oleh jerit ibu yang sejak tadi menyaksikan upacara penyiksaan itu. Ia berpaling menghadap ibu, keduanya saling bersitatap. Kini, ibu yang menantang keberingasan ayah. Ibu dihajar habis-habisan, dihantam dari belakang hingga tubuhnya terjepit di sela-sela pintu. Kaki ayah yang akan menginjak-injak perut ibu tertahan oleh teriakan Ipun, Izen dan Iyen.

“Kalian memang anak-anak babi, tunggu giliran kalian! ”

“Jangan kuatir, semua babi di rumah ini bakal dapat jatah.”

Aku sudah tak berdaya, berdiri saja tak ada tenaga. Adik-adik pucat mendengar hardikan ayah. Mereka berlindung di samping ibu yang sudah tergeletak sambil merintih kesakitan. Ipun, Izen dan Iyen pun beroleh bogem mentah, jatah dari ayah, satu persatu terkapar. Sunyi seketika. Perlahan aku merangkak ke arah ibu. Lagi-lagi aku mengusap darah segar yang masih meleleh di pipinya. Ipun, Izen dan Iyen tergolek di samping ibu, entah pingsan, entah tertidur. Rasanya upacara ini sudah usai, ayah sudah tak ada. Ibu bangun, merapikan rambut yang acak-acakan, kami duduk berhadap-hadapan.

****

Kini, Kalupak sudah tiada. Entah di mana ayah mengubur bangkainya. Sejak kematian anjing pemburu itu, ayah tak pernah pulang menjenguk kami. Kami yatim, meski ayah belum mati. Lama-lama kami sadari, ada atau tidak adanya lelaki itu di rumah ini, sama saja, tak ada bedanya.

“Sebaiknya kita pelihara anjing pemburu yang baru, supaya rumah ini tidak terasa sepi,” begitu kata ibu suatu hari.

“Ya, tapi kita tebus dulu sawah yang tergadai untuk membeli Kalupak.” bantahku, sambil menatap kerinduan di mata ibu.

***

Kelapa Dua, 2007

Wednesday, August 15, 2007

Bigau

Cerpen DAMHURI MUHAMMAD


(Kompas, Minggu, 12 Agustus 2007)

Semenjak usianya genap 80 tahun, orang-orang Kampung Lekung berkeyakinan, ajal Kurai sudah dekat. Melihat tubuh ringkihnya terkulai letai di atas dipan usang tanpa selimut, barangkali tak akan habis baju sehelai, ia sudah mengembuskan napas penghabisan. Rimba persilatan tentu berkabung sebab kehilangan pendekar paling licin yang pernah ada di Kampung Lekung. Mungkin sudah tiba saatnya, lelaki yang seluruh bagian tubuhnya tahan bacok dan tak mempan peluru itu mewariskan ilmu silat tua, lebih-lebih mewariskan Rantai Celeng yang telah tertanam selama bertahun-tahun di dalam daging paha sebelah kirinya. Sebelum terlambat, sebelum mayatnya dibenam ke liang lahat, sebaiknya Kurai segera menentukan siapa yang pantas menjawab hak waris barang keramat itu.

"Harganya lebih mahal dari harga diri Kurai sendiri," begitu luapan kekesalan seorang cukong barang antik yang datang ke Kampung Lekung tapi ditolak mentah-mentah oleh Kurai.

"Bujuk tua bangka itu, agar mau mewariskannya pada salah seorang di antara kalian! Itu bila kalian tidak ingin melarat seumur-umur."

"Jaga mulutmu, kau bisa mati berdiri sepulang dari sini. Enyahlah! Itu kalau kau masih ingin melihat matahari besok pagi," gertak Candung, anak muda kampung Lekung, penguasa lahan parkir di kota kabupaten. Ia pulang menjenguk Kurai yang dikabarkan mulai sakit-sakitan.

"Sekali lagi kau meremehkan Kurai, kujamin kau pulang dengan hidung disumpal kapas."

Kurang tepat bila benda itu dinamai rantai, karena bentuknya bulat melingkar, hampir menyerupai cincin. Tapi, tidak patut pula disebut cincin, sebab diameternya terlalu besar untuk ukuran jari tangan manusia. Disebut rantai, mungkin karena orang-orang membayangkan bila logam menyerupai ring itu dihubungkaitkan dengan logam sejenis, dalam jumlah banyak tentu akan membentuk seutas rantai. Menurut para tetua kampung, Kurai berhasil menggondol Rantai Celeng seusai menyabung nyawa dalam pertarungan melawan celeng berbulu putih sebesar anak kerbau jantan yang keganasannya sudah menjadi kisah turun temurun. Binatang yang dipercaya sebagai raja celeng itu berkali-kali menubruk rusuk Kurai dengan kecepatan melebihi kemampuan celeng biasa. Bila kurang awas, taring sepanjang satu setengah jengkal itu tentu sudah menikam ulu hati dan membuat usus-usus Kurai berhamburan keluar. Semua jurus tangkis dikerahkan Kurai, sesekali tubuhnya terloncat ke atas dahan pohon jirak saat posisinya terdesak, kali lain ia berayun serupa siamang, lalu dalam sekejap mata sudah berdiri di atas punggung celeng tua yang tengah mengamuk itu. Kurai sengaja membuat bermacam-macam gerak tipu, memancing agar celeng terus menyerang, hingga tiba saatnya kehabisan tenaga. Dan benar, begitu serudukannya mulai melemah, sigap tangan Kurai merenggut logam kuning gelap berbentuk bulat melingkar yang tersangkut di salah satu taringnya. Ia berhasil merebut Rantai Celeng yang konon di situlah letak kekuatan celeng itu. Ini hanya satu serpihan cerita perihal kehebatan Kurai tatkala merobohkan raja celeng dan membuat pendekar itu tersohor sampai ke pelosok-pelosok.

Riwayat lain menuturkan, setelah Kurai menumbangkan binatang itu, ia belum sepenuhnya menguasai Rantai Celeng, karena tiba-tiba ia dihadang makhluk berperawakan ganjil. Meski masih menyerupai manusia, tapi tinggi badan makhluk itu hanya sepinggang Kurai dan kedua tumitnya menghadap ke depan, sedang jari-jari kakinya menghadap ke belakang, berkebalikan dengan bentuk kaki manusia biasa. Orang-orang menamainya; Bigau, makhluk jadi-jadian, penjaga babi-babi liar di hutan Kampung Lekung. Suatu masa di musim berburu, tak seekor babi pun ditemukan, ketajaman pengendusan anjing-anjing pemburu tak mempan melacak jejak. Tapi kegagalan itu dianggap lazim, para pemburu akan mempercayai bahwa gerombolan babi tengah disembunyikan oleh Bigau. Jadi, masuk akal bila seusai pertarungan paling melelahkan itu, Kurai dihadang Bigau, meski tak ada yang tahu apa yang terjadi setelah keduanya saling bersiap, pasang kuda-kuda. Orang-orang tergesa mengambil langkah seribu, ketakutan melihat rupa buruk Bigau yang sebelumnya hanya didengar dari cerita di kedai-kedai kopi.

Jangan dibayangkan Kurai membedah paha kirinya dengan pisau, lalu menanam Rantai Celeng di dalamnya, kemudian menjahit belahan itu kembali sebagaimana pekerjaan dokter bedah. Tidak! Kurai melakukannya tanpa mengeluarkan darah, lebih kurang seperti orang menanam susuk di salah satu bagian tubuh perempuan, tanpa harus merasakan perih dan sakit.

Mereka yang ingin memiliki Rantai Celeng tak mau pusing dengan urusan nama, apakah benda ajaib yang bikin Kurai jadi kebal itu layak disebut cincin ataukah rantai? Yang pasti, telah ada kesepakatan diam-diam, bahwa barang keramat yang kini bersarang di tubuh pendekar itu adalah benar Rantai Celeng. Kurai tidak hanya masyhur sebagai satu-satunya pewaris silat tua, tak hanya tangkas menangkis serangan musuh, lelaki yang tahan membujang sampai gaek itu juga kebal senjata, dan karena itu jurus-jurus tangkisnya tidak terlalu berguna lagi. Untuk apa menangkis serangan lawan, tiada senjata yang mempan lukai tubuhnya.

Suatu hari di musim petai, seorang anggota tim buru sergap melepas tembakan saat mengejar peladang ganja yang diduga bersembunyi di hutan tempat Kurai biasa mencari petai rimba. Kurai yang sedang terbungkuk-bungkuk mengumpulkan buah petai yang baru saja dipanjatinya dikira peladang ganja yang akan mereka ringkus, timah panas bersarang di kuduk lelaki itu. Tapi Kurai hanya merasa ditimpa kencing tupai, perlahan ada sesuatu yang terasa dingin di punggungnya, karena geli Kurai menyentuhnya. Ternyata cairan itu bukan kencing tupai, tapi peluru yang sudah leleh. Polisi berpangkat sersan mayor itu terbirit-birit seperti dikejar hantu, meremang semua bulu di badannya setelah menyaksikan peluru meleleh di punggung lelaki pemetik buah petai. Saat masih terengah-engah ia bersumpah tak bakal menginjakkan kaki di hutan celaka itu lagi. Sejak itu, orang-orang Kampung Lekung bebas membuka ladang ganja, sebebas menanam jagung atau tembakau. Para peladang membiarkan Kurai memetik daun ganja sepuasnya. Ia mau menggelek hingga mabuk tiga hari tiga malam pun mereka tak peduli. Nyatanya, seberapa pun banyaknya lintingan ganja digasak Kurai, tak sekalipun ia mabuk dibuatnya. Rupanya Kurai tak hanya kebal senjata, tapi juga kebal dari mabuk ganja.

"Rantai itu mau dibawa mati?" kelakar Candung, centeng lahan parkir yang selalu mengaku cucu Kurai lantaran kerap mengirimkan pendekar itu minuman keras murahan merek T.K.W, meski Kurai tak pernah teler dibuatnya. Menenggak minuman keras sama dengan berkumur-kumur tiap bangun pagi bagi Kurai. Rupanya ia tak hanya kebal senjata dan kebal mabuk ganja, tapi juga kebal dari mabuk minuman beralkohol, jangan-jangan juga kebal dari mabuk buah kecubung.

"Siapa yang bakal mewarisinya? Sebaiknya lekas diputuskan, agar kelak tidak jadi sengketa." bujuk Candung lagi.

"Aku masih menunggu!"

"Menunggu? Menunggu mati? Tidakkah cucumu ini orang yang beruntung itu?"

Kurai tak bergairah menjawab pertanyaan bodoh si cucu gadungan itu. Sejak mula ia mencium gelagat jahat Candung. Penguasa lahan parkir yang kabarnya sedang terancam oleh musuh-musuh bersengat itu tidak tertarik hendak berguru ilmu silat tua pada Kurai. Ia ingin mentahnya saja; kebal senjata, tahan celurit, tak mempan pistol. Selain akan membuat musuh-musuhnya bertekuk lutut, Candung hendak memperlebar sayap kekuasaan, bila perlu hengkang dari kota kabupaten, mencaplok lahan parkir di kota-kota besar. Tak perlu gamang bila Rantai Celeng sudah dalam genggaman.

Para kolektor barang antik belum sepenuhnya percaya kalau pendekar pemetik petai benar- benar memiliki Rantai Celeng, sebab rantai itu bukan sembarang peliharaan. Dalam setahun, sekurang-kurangnya tiga kali benda itu mesti didarahi dengan menyembelih kambing jantan di malam terang bulan. Penyembelihan dipersembahkan untuk Bigau, si penjaga celeng. Sekali syarat itu diabaikan, Rantai Celeng tiada bakal ampuh lagi, kekuatannya akan diisap Bigau. Bagaimana mungkin Kurai mampu melakukan tirakat penyembelihan tiga ekor kambing dalam setahun, sementara hidupnya hanya mengandalkan petai rimba yang kadang berbuah, kadang tak bersisa dimakan beruk. Kalaupun ia masih menyimpan Rantai Celeng, tentu keampuhannya sudah hilang, atau pendekar itu sudah menyerahkannya kembali pada Bigau. Tapi, dugaan itu tidak sepenuhnya benar. Mereka tidak pernah tahu betapa berterima kasihnya para peladang ganja pada Kurai. Selagi ia masih hidup, tak bakal ada yang berani membakar ladang-ladang mereka. Itu sebabnya, secara bergilir mereka menyediakan seekor kambing jantan bila tiba saatnya Rantai Celeng harus didarahi. Apa pun sanggup mereka lakukan demi kedigdayaan Kurai, orang yang telah membuat mereka seperti kejatuhan durian runtuh. Jangankan kambing jantan, kerbau jantan pun mereka sanggupi, asal ladang-ladang ganja aman dari kejaran.

****

Kurai mulai resah, bukan karena sesak napasnya kambuh, tapi karena teringat perjanjian dengan Bigau selepas perkelahian mati-matian puluhan tahun silam. Makhluk jadi-jadian itu memang tidak mampu merebut Rantai Celeng di genggaman Kurai, tapi Bigau mengancam, bila Kurai nekat menggondol Rantai Celeng, sawah-sawah di wilayah Kampung Lekung tidak akan bisa dipanen. Bila sawah-sawah mulai menguning, Bigau akan menghalau gerombolan babi liar guna mengobrak-abrik dan membucuti setiap rumpunnya. Buah padi akan ludes sebelum sempat dituai. Paceklik bakal menimpa Kampung Lekung dan tidak akan berhenti selama Rantai Celeng masih bersarang di tubuh Kurai. Itu sebabnya, para petani tidak bersemangat lagi menggarap sawah, mereka membuka lahan baru dalam hutan, menggarap ladang-ladang terlarang.

"Jadi, siapa orang yang beruntung itu?" tanya Candung lagi, kali ini penuh harap.

"Bigau!" balas pendekar gaek itu, dan tak lama kemudian sesak napasnya kambuh.


Kelapa Dua, 2007

Thursday, August 02, 2007















Sintren, Riwayatmu Kini…


Oleh : DAMHURI MUHAMMAD

Data Buku : Sintren -novel, karya Dianing Widya Yudhistira, Jakarta : Grasindo, 2007

(Kompas, 30 Juli 2007)

Bilamana tabiat para sastrawan hanya sekadar menjalankan laku mimetik dan menggambarkan wajah realitas sebagaimana yang "tersurat" saja (bukan tersirat), karya sastra tentu saja bakal segera menjemukan, lekas lapuk dimakan waktu. Lagi pula, laku peniruan sukar dipertanggungjawabkan sebagai kerja kreatif yang selalu saja menyimpan obsesi-obsesi literer. Maka, pergulatan melahirkan karya sastra semestinya bergeser dari sekadar tiru-meniru realitas menjadi sebuah "ikhtiar" menciptakan realitas baru, bila perlu dengan cara meloncati atau "melampaui" realitas usang, merangsek masuk ke lorong-lorong permenungan yang tidak berhasil ditembus oleh para filsuf.

Barangkali, di titik inilah letak perbedaan antara jalan sastra dan jalan filsafat. Bila tradisi berpikir diskursif-spekulatif di medan filsafat senantiasa mengayuh biduk menuju hulu, tempat kebenaran bersemayam, sastra justru bersitungkin menggali lubang-lubang kemungkinan sebanyak mungkin agar pencarian itu tidak berlabuh pada wujud kebenaran yang bulat, dan tidak melulu tertumpu pada arche transendental yang tunggal dan tak sumbing sebagaimana yang hendak digenggam oleh filsafat. Filsafat begitu bernafsu dan menggebu-gebu ingin menggapai "semesta kepastian", sebaliknya, sastra malah tekun membukakan pintu-pintu "keserbamungkinan".


Watak literer yang terobsesi hendak membangun (setidaknya menawarkan) dunia baru dalam sastra sangat terasa pada novel Sintren, karya novelis muda Dianing Widya Yudhistira ini. Ia mempertentangkan dua sisi realitas dalam posisi saling membelakangi. Realitas pertama adalah dunia keseharian Saraswati, murid SD berparas ayu tapi terlahir dari keluarga miskin. Pada jam istiharat, ia lebih suka membaca buku di ruang kelas, sementara kawan-kawannya menghambur-hamburkan uang jajan di kantin sekolah. Jangankan beroleh uang jajan dari Mak, uang sekolah saja sudah menunggak tiga bulan. Kemiskinan itulah yang membuat ia selalu tergesa-gesa melucuti seragam seusai jam sekolah, lalu bergegas ke Klidang, membantu Mak yang bekerja sebagai buruh penjemur ikan.

Sementara realitas kedua adalah ruang dan waktu suprainderawi yang diselami Saraswati tatkala gadis bau kencur itu harus tampil sebagai penari sintren. Tubuhnya dibebat dengan berlapis-lapis pakaian, lalu diikat erat-erat dengan tali yang melilit sekujur badan sebagaimana kerap dijumpai dalam atraksi sulap tingkat tinggi, setelah itu ia dimasukkan ke kurungan ayam.Tak lama kemudian, Mbah Mo mulai melafalkan mantra-mantra gaib, hingga datanglah serombongan anak kecil menghampiri Saraswati. Mereka akan segera merasuki raga Saraswati untuk kemudian dilenggak-lenggokkan serupa anak-anak kecil sungguhan bermain boneka. Penonton bertepuk tangan dan bersorak sorai kegirangan menyaksikan sintren yang tiba-tiba muncul dalam keadaan sudah berdandan ala penari, memancarkan aura kecantikan yang membuat mata para lelaki enggan berkedip, pinggang langsing Saraswati meliuk-liuk, sampai tiba saatnya menagih saweran. Padahal, sesungguhnya, Saraswati tidak beranjak ke mana- mana, ia tetap duduk diam dalam kurungan, bahkan ikut pula menyaksikan lentik jemarinya berayun-berayun gemulai seiring irama gendang.


Peristiwa metafisis tatkala Saraswati menjadi sintren inilah yang dapat disebut sebagai salah satu lubang "keserbamungkinan" hasil galian pengarang dalam rangka membangun dan menawarkan realitas baru. Boleh jadi tidak ada pretensi pengarang untuk menonjolkan salah satu sisi dari dua dunia yang saling membelakang bulat itu.
Tetapi, "diam-diam" kekuatan teks seolah menyuarakan bahwa pengalaman supranatural dan adikodrati yang dialami Saraswati adalah sungguh-sungguh nyata. Senyata peristiwa ketika gadis kecil itu dipaksa menerima lamaran Kirman, anak juragan Wargo, di usia yang belum genap empat belas tahun (meski pernikahan itu gagal), senyata kemelaratan yang tak jemu-jemu menimpa keluarganya. Ketakmujuran itu pula yang membuat Saraswati terpaksa menjadi sintren agar ia tetap bisa sekolah. Membiayai sekolah dengan uang saweran.

Dunia sintren memang dunia gaib, asing dan tak kasatmata, selayaknya dunia pesugihan yang selalu menghendaki tumbal. Tumbal paling mula tentulah si penari itu sendiri. Betapa tidak? Sejak jadi penari sintren, Saraswati dengan lapang dada harus menerima kenyataan bakal kerasukan setan di setiap penampilan, harus pula pasrah pada "takdir" sintren yang cantik alang kepalang, tapi pantang disentuh laki-laki sebab dunia sintren menghendaki keperawanan abadi, tiada seorang laki-laki pun yang boleh menjamah tubuhnya. Tumbal selanjutnya tentu saja para lelaki yang mabuk kepayang dan tergila-gila ingin mempersunting Saraswati. Lihatlah riwayat peruntungan Dharma, Warno, Royali, dan Sumito, empat laki-laki yang pernah nekat mempersunting Saraswati, semuanya mati mengenaskan sebelum sempat mencicipi ranum tubuh sintren paling masyhur di Kampung Batang itu.

Namun, Saraswati sudah kadung menjatuhkan pilihan, tidak bakal sanggup ia melarikan diri dari kurungan gaib itu, mustahil ia berhenti jadi penari sintren. Saraswati siap menanggung segala akibat dari pilihannya, siapa melompat siapa jatuh. Sampai di titik ini, realitas yang tidak kasatmata telah menjelma dunia yang sesungguhnya, sementara keseharian Saras dengan Wati, Sinur dan teman-teman sekolahnya seolah-olah tidak nyata, seakan-akan fiksi belaka, begitu juga kesehariannya dengan Mak, Bapak, Lik Wastini, Lik Menur, dan juragan Wargo. Itu sebabnya Saraswati dengan berat hati menolak lamaran Sinur. Menerimanya sama saja dengan mempercepat kematian laki-laki pujaannya itu. Saraswati berusaha memercayai gejolak cintanya kepada Sinur adalah angan-angan saja, tidak nyata, karena yang paling nyata bagi gadis itu adalah dirinya sintren yang telah menelan banyak korban.


Hampir separuh dari kisah yang disuguhkan buku ini menyiratkan semacam kerinduan pada tarian sintren yang perlahan-lahan mulai punah di Batang, kampung kelahiran Saraswati. Dan separuhnya lagi menampakkan kelegaan setelah kematian Saraswati, pangkal segala bala, biang segala tumbal, musabab segala sial.

Laku bertutur Dianing memang tidak terlalu menggiurkan, datar, bersahaja, dan tidak pongah mempermainkan bentuk sebagaimana perilaku novelis muda lainnya. Alurnya lempeng, gampang ditebak, tidak berpilin-pilin. Tapi, justru dalam kesederhanaan itu keistimewaan novel ini mengemuka.

Meskipun pilihan tematiknya terbilang berat, setidaknya memerlukan penghayatan dan kepekaan tingkat tinggi, Dianing berhasil mengangkat sintren dengan menggunakan point of view masa kanak-kanak. Ia menghayati sintren seperti merindukan kenangan masa kecil yang begitu mengasyikkan.

Di tangan Dianing, jelajah prosaik yang "asing" sekalipun ternyata dapat tergarap dengan laku penuturan yang lugas dan terang-benderang sehingga buku sastra tidak melulu dinikmati oleh peminat sastra belaka, tapi juga digandrungi peminat buku-buku fiksi umumnya.

Barangkali, kebersahajaan dalam merancang kisah macam inilah yang selama ini terabaikan dalam kerja kreatif novelis-novelis kita yang kerap sumringah hendak melahirkan teks sastra simbolik, metaforik, bila perlu (sengaja) dirumit-rumitkan. Tapi, celakanya, sebagian besar buku sastra hanya dapat digauli oleh peminat sastra yang jumlahnya tak seberapa, seperti cemoohan bahasa iklan; jeruk makan jeruk…