Search This Blog

Tuesday, September 18, 2007

Jo Ampok

Cerpen DAMHURI MUHAMMAD

(Media Indonesia, 16 September 2007)

Sejak dipercaya menjadi guru mengaji, Engku tidak pernah lagi mampir di lapau.*) Sekedar melepas lelah sambil minum kopi dan bergurau pun ia tidak punya waktu lagi. Padahal, sepulang dari surau, Engku selalu melewati lapau yang selalu berjibun pengunjung itu. Mungkin ia takut disangka ikut-ikutan berjudi bila masih berbaur dengan orang-orang lapau. Jadi, lebih baik bujangan jebolan madrasah itu menjauhi lapau, meski ia juga tidak mau dianggap sok alim. Mentang-mentang sudah jadi orang surau, lupa pada kawan-kawan di lapau.

“Dipikirnya orang lapau tak pandai mengaji?” begitu Jo Ampok menyindir kelakuan Engku.

“Apa pula urusan kau? Apa rugimu bila Engku tak singgah ke lapau?” sela Bunduk, agak sinis.

“Sejak Engku jadi guru mengaji, awak kalah terus.”

“Biasanya selalu awak modali dia main Remi. Menang terus. Murah benar rejeki anak tu.”

“Engku sudah jadi orang surau, mana mungkin duduk di meja judi?”

“Awak tak larang Engku ke surau. Tapi, kalau bisa, jangan tinggalkan lapau. Di surau dia mengaji, di lapau dia berjudi.”

“Huss….jangan campur aduk begitu. Apa awak sudah gila hah?”

****

Selain tempat ngopi sembari melepas penat, lapau-lapau di lingkar kampung Guci juga menyediakan meja-meja khusus untuk berjudi. Begitu pula dengan lapau milik Sinaro yang letaknya tidak terlalu jauh dari surau Baitul Hikmah, tempat Engku mengajar anak-anak mengaji. Lapau itu buka siang malam, dua puluh empat jam. Macam-macam judi tersedia di sana. Para pelanggan bebas memilih ; Domino, Remi, Koa **) atau Putar Dadu. Jangan tertipu! Sepintas lalu memang tampak sepi-sepi saja. Barangkali hanya terlihat tiga sampai empat orang yang sedang mengobrol sambil bersilunjur kaki, atau main Domino dengan taruhan kecil. Tapi, ada banyak bilik di bagian dalam dan belakang lapau. Sinaro sengaja membuat bilik-bilik itu untuk para penjudi dengan taruhan tingkat tinggi. Di sanalah permainan Remi, Koa dan Putar Dadu dilangsungkan. Jangan dikira Sinaro takut polisi. Sama sekali tidak! Di kampung Guci, aparat hukum agak kewalahan. Tak terhitung lagi berapa kali lapau-lapau digerebek, dan berapa banyak penjudi yang meringkuk dalam sel. Tapi, mereka tak pernah jera. Setelah bebas, mereka kembali ke lapau, berjudi lagi. Mungkin, karena judi sudah begitu mengakar di kalangan orang-orang kampung Guci. Jangan sekali-kali mengaku orang Guci, bila tidak mahir berjudi. Kartu-kartu Remi ibarat tikar sembahyang bagi orang-orang Guci, begitu kelakar yang biasa terdengar.


“Judi di kampung kami tak bisa dibasmi, tapi bisa dijauhi,” tegas Nduk Angkang, tetua kampung Guci saat membuat kesepakatan dengan polisi.

“Bisa lebih jelas pak tua?”

“Para penjudi jangan ditangkapi, kami berjanji akan menjauhkan judi dari pandangan masyarakat. Bersembunyi. Yang penting lingkungan tetap aman. Bagaimana pak?”

“Tidak ada kompromi dengan judi! Selama lapau-lapau belum bebas judi, kalian tetap melanggar hukum.”

“Kami paham. Tapi, di kampung Guci, judi sudah jadi tradisi.”

Sinaro benar-benar berkelimpahan rejeki sejak membangun lapau itu. Kalau hanya berjualan makanan dan minuman, tentu pendapatannya tidak seberapa. Tapi, dengan judi, ia menerima sewa bilik, tikar, lampu, alat-alat judi dan sewa-sewa lain dari para penjudi. Dulu, sewaktu Engku masih bersekolah di madrasah, tiap malam ia nongkrong di sana, kadang-kadang sampai tidur di lapau itu. Engku membantu Sinaro, menggelar tikar, membersihkan bilik-bilik judi, menyuguhkan makanan dan minuman untuk para penjudi dan menagih macam-macam uang sewa, lalu disetorkan pada Sinaro. Dari sana, Engku beroleh uang sekolah, hingga ia tidak lagi membebani ibu-bapaknya. Tak ada salahnya bila disebut ; Engku bersekolah dengan uang judi. Tak jarang, Engku juga ikut berjudi, meski dengan taruhan kecil-kecilan. Karena setiap malam bergaul dengan para penjudi, Engku makin mahir berjudi. Ia penjudi berbakat yang jarang kalah. Karena itu, banyak penjudi kelas kakap yang berani memodalinya bermain Domino, Remi, Koa atau Putar Dadu. Itu sebabnya Jo Ampok merasa kehilangan sejak Engku hengkang dari lapau.

****


“Awak tak ingin lanjutkan sekolah Ngku?” tanya Sinaro, sehabis shalat Maghrib berjamaah di surau Baitul Hikmah.

“Ah, dari mana pula awak bakal beroleh biaya? Ijazah madrasah cukup lah,”

“Itu tak soal lah Ngku, Jo Ampok menunggumu di lapau.”

“Segan awak dilihat murid-murid.”

“Kenapa pula Ngku segan? Orang tua murid-murid Ngku semuanya orang lapau.”

“Kalau Ngku mau, mungkin bisa lanjutkan sekolah.”

“Ngku itu cerdas. Masa’ cuma jadi guru ngaji?”

“Tak usah sungkan, segeralah temui Jo Ampok di lapau!”

Akhir-akhir ini Jo Ampok memang mengalami kekalahan beruntun. Kabarnya, raja judi kampung Guci itu terpaksa melego tiga ekor hewan ternak dan menggadaikan lima petak sawah guna membayar utang karena kalah judi. Tapi, soal jual-menjual dan gadai-menggadai, itu biasa bagi Jo Ampok. Harta peninggalan orang tuanya tidak akan ludes untuk tujuh orang istri sekalipun. Kini, Jo Ampok baru punya tiga istri. Masing-masing istrinya sudah dapat jatah rumah baru. Beruntung sekali perempuan-perempuan yang menjadi istri Jo Ampok. Dari ketiga istri Jo Ampok, tidak ada yang berani melarang kebiasaan buruk suami mereka ; menghambur-hamburkan uang di lapau. Mencampuri urusan Jo Ampok sama saja artinya dengan minta cerai. Istri yang tak bakal ditalak Jo Ampok hanyalah ; judi. Tapi, kini Jo Ampok merasa kurang percaya diri. Lebih-lebih setelah Engku, anak muda kepercayaannya itu enyah dari lapau. Padahal, jika ia masih bersetia, Jo Ampok tentu tak akan segan-segan menyambung sekolah Engku. Seberapa lah biaya menjadi sarjana bagi Jo Ampok?

Namun, tekad Engku benar-benar sudah bulat, tiada sumbing sedikit pun. Sepertinya tak dapat ditawar-tawar. Buktinya, guru mengaji itu telah membelakang bulat ke lapau. Tak peduli orang-orang lapau mau bilang ia sok alim, sok suci atau sok insaf. Engku memang teguh pendirian. Ia berjanji tidak akan menyentuh kartu Remi, Koa dan Batu Domino lagi. Itulah yang membuat Jo Ampok mulai jarang muncul di lapau. Tak ada lagi orang yang bisa diandalkannya. Lagi pula, untuk apa datang ke lapau kalau hanya akan menanggung malu karena terus-terusan kalah judi? Berhari-hari Jo Ampok mengurung diri di rumah istri pertamanya, hingga suatu hari ia dikabarkan jatuh sakit.

****

Semula, orang-orang lapau, kawan-kawan Jo Ampok, termasuk Sinaro si pemilik lapau menduga Jo Ampok cuma terserang demam biasa. Dipijit sebatang badan akan segera sembuh, setelah itu kembali ke lapau. Tapi, sudah dua minggu, tak tampak juga batang hidung Jo Ampok. Ada yang memberitahu kalau sakitnya makin parah. Dan, tanpa pikir panjang, orang-orang lapau pun bersegera menjenguk Jo Ampok.

Nafasnya sesak. Merintih-rintih sambil ngorok. Sekujur badannya menggigil hebat. Ujung-ujung jari tangan dan jari kakinya terasa dingin sekali. Pasi. Mukanya pucat serupa mayat. Mulutnya komat-kamit menyebut kata-kata yang terdengar agak ganjil.

“LLLaaaaaaa…………”

“LLLaaaaaaaaaaaaa………”

“LLLaaaaaaaaaaaaaaaa………Nnnnnnnnaaaam.”

Sinaro, Baba, Mampalar, Cunambai, Yombauk, Bunduk, Kurai, Dalinas, Jilatang dan konco-konco Jo Ampok yang duduk bersila dalam posisi setengah lingkaran saling berbisik. Satu sama lain saling bertanya-tanya, apa sesungguhnya yang sedang terjadi pada Jo Ampok, apa pula arti gigauannya itu?

“Istighfar Mpok, Istighfar! Astagfirullah, astagfirullah, astagfirullah….” begitu Sinaro membisiki Jo Ampok yang serupa orang sekarat.

“LLLaaaaaaa………Nnnnnnnnaaaaam.”

“LLLaaaaaaaaaaaa………Nnnnnnnnaaaaam.”

“LLLaaaaaaaaaaaaaaaa………Nnnnnnnnaaaaam.”

Selalu begitu suara janggal yang keluar dari mulut Jo Ampok. Sama sekali tidak dihiraukannya ajakan menyebut asma Tuhan. Entah karena disengaja atau karena Jo Ampok memang sudah tak sadar diri. Orang-orang lapau seolah kehabisan akal. Mereka mulai kebingungan dan nyaris putus harapan. Tabi’at Jo Ampok seperti menujumkan firasat bahwa umur si raja judi itu tak bakal panjang. Mungkin sebentar lagi mereka akan kehilangan kawan sepermainan. Jo Ampok kepayahan menghadang sakratul maut.

“Mengucap, mengucap, mengucaplah!” tiba-tiba saja Engku muncul di tengah kerumunan orang-orang lapau itu. Perlahan ia merangsek masuk, lantas menghampiri pembaringan Jo Ampok, kawan lama yang kerap memodalinya berjudi itu.

“Lailaha illallah, lailaha illallah, lailaha illallah...” bimbing Engku sambil mengusap kepala Jo Ampok yang mulai berkeringat dingin.

“Lailaha illallah, Lailaha illallah, Lailaha illallah…” ulang Engku lagi.

“LLLaaaaaaa………Nnnnnnnnaaaaam.”

“LLLaaaaaaaaaaaa………Nnnnnnnnaaaaaaaaaam.”

“LLLaaaaaaaaaaaaaaaaa………Nnnnnnnnaaaaaaaaaam.”

Lagi-lagi gigauan itu yang keluar dari mulut Jo Ampok. Entah apa maksudnya.

Bergegas Engku bangkit dari duduknya. Setengah berlari ia keluar rumah yang sedang penuh sesak itu, lantas buru-buru menuju arah lapau Sinaro yang lumayan jauh. Engku Seperti hendak mengambil sesuatu. Orang-orang hanya terperangah heran dan melongo melihat tingkah aneh anak muda yang kini dipercaya sebagai guru mengaji di surau Baitul Hikmah itu. Tapi, tak berselang lama Engku muncul lagi di kerumunan orang-orang lapau yang mulai panik menghadapi pesakitan Jo Ampok.

“LLLaaaa………Nnnnnnnnaaam.”

“LLLaaaaaaaaa………Nnnnnnnnaaaaaam.”

“LLLaaaaaaaaaaaaaaa………Nnnnnnnnaaaaam.”


Tak henti-henti Jo Ampok menyeracau. Masih racauan yang sukar dimengerti. Sementara, Engku masih mengusap ubun-ubun Jo Ampok. Tak lama kemudian, ia mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya. O, ternyata sebuah batu berbentuk segiempat, kombinasi warnanya putih-biru menyerupai potongan kue agar-agar. Batu domino berjenis Balak Enam. Dua belas titik hitam yang dibatasi satu garis melintang. Pelan-pelan ditaruhnya balak enam itu dalam genggaman Jo Ampok. Seketika, raja judi itu tersenyum lega sambil menghembuskan nafas terakhir. Jo Ampok mati sebagai penjudi sejati. Tangannya masih mengenggam balak enam. Orang-orang lapau terhenyak dalam sunyi.

Kelapa Dua, 2007

Catatan : * ) warung kopi

**) kartu ceki Cina

Thursday, September 06, 2007



Fiksi Thriller Berkedok Novel Sejarah

Judul : Glonggong
Penulis : Junaedi Setiyono
Penerbit : Serambi, Jakarta
Cetakan : I, Juli 2007
Tebal : 293 halaman


Oleh : DAMHURI MUHAMMAD


(MEDIA INDONESIA, Sabtu, 25 Agustus 2007)

Siapa yang berwenang menentukan sebuah novel dapat disebut novel sejarah? Apa kriteria artistik sebuah novel sejarah? Khazanah kita mungkin belum memiliki pengertian yang bulat tentang novel sejarah. Tapi kenapa tim juri Sayembara Novel DKJ (2006) memasang ‘harga mati’ bahwa Glonggong (juara harapan I), karya Junaedi Setiyono ini adalah novel sejarah? Bahkan ada yang menulis pujian di sampul depan ; novel sejarah paling mengesankan yang pernah saya baca.

Meski tak ada definisi utuh tentang novel sejarah, setidaknya genre ini diidentifikasi sebagai teks yang berpijak pada peristiwa masa lalu, sehingga tokoh rekaan, plot, alur dan gagasannya dapat dilacak dari perspektif historiografi. Bila ditimbang dengan alat takar macam ini, mungkin novel berlatar Perang Diponegoro ini patut disebut novel sejarah. Tapi, novelis yang memaktubkan fakta dan pelaku-pelaku sejarah dalam karyanya selalu dipicu oleh ketidakpuasan terhadap sejarah yang taken for granted, tapi cenderung menyesatkan. Maka, novel kerap mendekonstruksi kemapanan konsep historiografi, agar sejarah tak melulu digenggam oleh kuasa tafsir tunggal. Inilah yang dilakukan oleh Sir Walter Scott lewat Waverley (1810) yang disebut-sebut sebagai novel sejarah pertama di dunia. Ia sepenuhnya mengambil karakter Alasdair Ranaldson MacDonell (1771-1828), prajurit yang nyaris tak tercatat dalam sejarah panjang klan Skotlandia. (Bagja Hidayat,2006).

Bila ditakar dengan semangat dekonstruksi sebagaimana dilakukan Sir Walter Scott agaknya Glonggong segera gugur sebagai novel sejarah. Buku ini tidak menawarkan kebaruan dalam menyikapi sejarah Perang Diponegoro. Java Oorlog (Perang Jawa), penangkapan dan tahun kematian Pangeran Diponegoro dalam teks novel ini persis sama dengan data buku-buku sejarah. Ini tentu dapat ditolerir, karena pengarang tak hendak menyingkap segi-segi tak tercatat dalam peristiwa itu, tapi mengungkap moralitas bobrok para priyayi yang bersekutu dengan Belanda untuk menghadang Laskar Dipanegaran. Penggambaran itu terkuak melalui sudut pandang Glonggong (tokoh utama) yang sejak awal ditegaskan berasal dari keluarga ningrat, tapi hidup sebagai orang biasa dan bergabung dalam barisan prajurit Pangeran Diponegoro.

Jadi, alih-alih ‘menobatkan’ Glonggong sebagai novel sejarah, barangkali lebih patut bila buku ini ditimbang sebagai fiksi thriller yang sejak awal tiada henti merancang ketegangan, intrik-intrik politik, siasat dan muslihat yang bikin penasaran. Ketegangan bermula sejak terusirnya Glonggong dan ibunya dari Puri Suwandan. Den Mas Suwanda (ayah tiri Glonggong), pejabat kraton itu malu punya istri yang tiba-tiba berubah jadi tak waras, tak lama setelah dipersuntingnya. Dulu, Ibu Glonggong dibujuk untuk menerima lamaran Den Mas Suwanda dengan memastikan bahwa Ki Sela (ayah kandung Glonggong), prajurit pemberontak itu sudah tewas. Tapi kelak, Glonggong menyadari, cerita perihal tewasnya Ki Sela hanyalah muslihat Den Mas Suwanda untuk meluluhkan hati ibunya. Seseorang memberitahu, Ki Sela masih hidup dan sedang meringkuk di tahanan. Meski tidak tinggal di Puri Suwandan lagi, di mata teman-teman kecilnya, ia tetap pendekar yang sukar dikalahkan dalam perang-perangan dengan menggunakan Glonggong, pedang dari tangkai daun pepaya (karena itu ia digelari Glonggong). Dari Kyai Ngali, ia belajar ilmu agama, juga beroleh cerita perihal seorang kerabat istana yang hidup bersahaja dan menjauh dari kemewahan kraton. Kelak Glonggong tahu, orang itu adalah Kanjeng Pangeran Aria Dipanegara.

Pengarang menghadirkan sejumlah tokoh antagonis dan menempatkannya pada posisi yang ‘seabu-abu’ mungkin. Den Mas Surya, musuh bebuyutan yang pernah mengalahkan Glonggong dalam sebuah perkelahian tiba-tiba berubah menjadi orang baik setelah ia menginjak usia dewasa. Glonggong tak ragu menjadi penunjuk jalan tatkala Surya hendak menyusup ke Puri Suwandan. Ia jadi tahu, ternyata rumah itu sudah dihuni oleh istri muda Den Mas Suwanda, Den Ayu Sekar. Perempuan ini punya anak gadis, Endang namanya, inilah gadis incaran Surya. Ia minta tolong pada Glonggong untuk mengantarkan surat ke kamar tidur Endang. Meski Surya gagal memiliki Endang, persahabatannya mereka terus berlanjut. Ketika gubuk tempat tinggal Glonggong dibakar seseorang tak dikenal, Surya yang menyelamatkannya, meski ibu Glonggong tewas. Surya pula yang membantu Glonggong agar ia dapat bekerja sebagai abdi di Puri Pringgawinatan. Semula, Glongong hanya tukang sapu, tapi kemudian dipercaya menjadi pengawal para priyayi di lingkungan karib kerabat Den Mas Pringga, bahkan kerap mengawal Den Mas Pringga sendiri. Di sini Glonggong mulai menyibak sekian banyak selubung teka-teki, tentang ayahnya yang ternyata masih hidup, tentang tabiat bejat para priyayi yang doyan perempuan, desas-desus tentang perang besar yang bakal pecah, tentang Laskar Dipanegaran yang sedang menyusun rencana perang. Di rumah itu pula Glonggong bertemu Danar, centeng andalan Den Mas Pringga yang berkedok sebagai penjaga perpustakaan di Puri Pringgadinatan.

Ketegangan terus meninggi selepas Glonggong hengkang dari Puri Pringgadinatan, ia bergabung dalam barisan laskar Dipanegaran. Seseorang berupaya menyelamatkan Glonggong dari tangan Den Mas Pringga yang telah bersekongkol dengan kompeni untuk meringkus Pangeran. Sayangnya, penegasan bahwa Glonggong bergabung dalam barisan prajurit Pangeran Diponegoro seperti tertera di sampul belakang buku ini berbeda dengan perjalanan kisah yang sebenarnya. Tak ada satu bagian pun yang menjelaskan bahwa Glonggong terlibat dalam perang. Ia (lagi-lagi) hanya pengawal, mengantarkan barang-barang berharga milik laskar ke suatu tempat rahasia. Puncak ketegangan terjadi saat kereta Glonggong dihadang gerombolan rampok yang ternyata dipimpin oleh Danar. Glonggong berhasil membunuh centeng berjuluk Dasamuka itu. Kelak, seseorang memberitahu, Danar adalah saudara kandungnya. Kekecewaannya sama dengan kekecewaan setelah mengetahui kakak perempuannya, Danti Arumdalu, dipergundik oleh Den Mas Pringga, bekas majikannya sendiri.

Meski Danar sudah tewas, Glonggong tetap kehilangan kereta berisi harta milik laskar. Seseorang menodongkan bedil di kuduknya, ia luka parah dan setelah siuman sudah berada di rumah Rubinem, perempuan yang dikenalnya di rumah pelacuran Ngluwek, saat mencari Danti Arumdalu. Tokoh-tokoh rekaan yang semula tampak abu-abu, perlahan mulai buka topeng, Kyai Ngali yang dulu mendukung Pangeran kemudian membelot ke kraton, begitu pun Surya, Pringga, Danar, bahkan Kyai Sufyan (murid Kyai Maja) yang mengaku telah berkhianat pada Pangeran. Otak perampokan ternyata Den Mas Suwanda. Ia yang menembak Glonggong selepas membunuh Danar, bahkan pelaku pembakaran rumah Glonggong, juga Suwanda. Glonggong berhasil merebut kembali ‘harta karun’ milik laskar itu berkat bantuan Den Ayu Sekar. Tapi, ia gagal menemui Pangeran. Setiba di Magelang, Glonggong melihat Pangeran sudah berada dalam pengawalan ketat serdadu kompeni.

Selain kompleksitas ketegangan yang terus terjaga, intrik politik, siasat dan muslihat para priyayi dalam pusaran sejarah Perang Dipenogoro, sedikit bumbu romantika Glonggong dan Endang, rasanya buku ini tak menjanjikan apa-apa, apalagi pretensi untuk meraih derajat novel sejarah. Ah, mungkin para juri saja yang tergesa hendak menobatkannya...