Search This Blog

Thursday, December 11, 2008




Ateisme Kepenyairan, Jalan Menuju Tuhan

Oleh DAMHURI MUHAMMAD

(Kompas, Selasa, 9/12/2008)

Bisakah sastra dan agama bersekutu, lalu mendedahkan kebenaran yang sama? Bila pertanyaan ini diajukan kepada Adonis, dipastikan jawabnya mustahil. Bagi penyair Arab terkemuka itu, puisi dan agama bagai dua sumbu kebenaran yang bertolak belakang.

Puisi adalah pertanyaan, sementara agama adalah jawaban. Puisi adalah pengembaraan yang dituntun oleh keragu-raguan, sedangkan agama adalah tempat berlabuhnya iman dan kepasrahan. Lebih jauh, di ranah kesusastraan Arab, puisi dan agama bukan saja tak seiring jalan, agama bahkan memaklumatkan, jalan puisi bukan jalan yang menghulu pada kebenaran, tetapi menjerumuskan pada lubang kesesatan. Agama menyingkirkan para penyair Arab jahiliah ke dalam kelompok orang-orang sesat, orang-orang majnun (gila), penyihir. Inilah muasal segala kegelisahan dalam kepenyairan Adonis, yang disampaikannya pada kuliah umum di Komunitas Salihara, Jakarta (3/11/2008).

Tak ragu Adonis mengatakan bahwa sejak munculnya agama, tradisi puisi Arab redup dan akhirnya padam. Para penyair dianggap gila lantaran jalan puisi adalah jalan sesat, lagi menyesatkan. Itu sebabnya Adonis menjadi pembela jalan puisi yang telah disumbat rapat-rapat itu. Lahir dengan nama asli Ali Ahmad Said di Desa Al-Qassabin, Suriah, 1930. Meski baru bersekolah di usia 13 tahun, anak seorang petani yang juga imam masjid itu sudah belajar menulis dan membaca pada seorang guru di desanya dan sudah hafal Al Quran di usia sebelia itu.

Pada tahun 1944 ia membacakan puisi heroiknya di hadapan Presiden Suriah Shukri al-Kuwatli. Presiden terpesona dan mengirimkan Adonis masuk ke sebuah sekolah Perancis di kota Tartus. Adonis lulus dari Universitas Damaskus (1954) dengan spesifikasi filsafat.Ia menerbitkan kumpulan sajak pertamanya pada 1955 dan pernah dipenjara karena pandangan politiknya. Pada 1956, Adonis meninggalkan tanah airnya, pindah ke Lebanon. Selama 20 tahun ia tinggal dan jadi warga negara di tanah jiran itu. Sejak 1986 Adonis pindah ke Paris. Ia telah menulis karya: puisi dan prosa lebih kurang 30 buku dan telah diterjemahkan ke pelbagai bahasa. Namanya kerap disebut sebagai calon kuat peraih Hadiah Nobel Sastra (tahun 2005, 2006, 2007).

Antologi puisi Nyanyian Mihyar dari Damaskus (terjemahan dari Aghânî Mihyâr Dimasyqî ini disebut-sebut sebagai karyanya yang paling masyhur di samping al-Tsawâbit wal Mutahawwil (Yang Tetap dan Yang Berubah)—yang kerap disebut karya pengarang ateis khas Timur. Adonis mengagumi pencapaian puitis para penyair Arab klasik seperti Imrul Qays (w. 550 M) yang menurutnya telah meniupkan ruh kebebasan berkreasi, memperlihatkan upaya pencarian ”yang baharu” dalam ungkapan, susunan kata, dan tidak mengacu pada ukuran-ukuran masa lampau. Namun, menurut dia, tradisi puisi yang gemilang ini mati sejak munculnya tradisi wahyu. Dalam pencarian kebenaran, penyair digantikan nabi. Di titik inilah ateisme kepenyairan Adonis bertumbuh, berkembang lalu memuncak pada sajak-sajak pendeknya seperti;

kita mati jika tidak kita ciptakan Tuhan
kita mati jika tidak kita bunuh Tuhan (dari sajak ”Sebuah Kematian”).

Mihyar sebentuk lagu pilu, elegi guna meratapi matinya kebebasan di jalan puisi. Adonis membangun sekian banyak pengamsalan tentang ketersingkiran penyair Arab kuno; penyihir debu, lonceng tanpa denting, orang-orang asing yang bahkan diasingkan oleh bahasanya sendiri. Ini senada dengan penilaian Ulil Abshar Abdalla (2004) bahwa Adonis mengumpamakan tradisi kepenyairan Arab seperti keterlunta-luntaan dan kepahitan hidup Al-Mutanabbi, penyair besar masa Dinasti Abbasiyah (abad ke-9). Al-Mutanabbi salah satu penyair yang dikagumi Adonis dan ia hendak mengasosiasikan diri pada sosok penyair yang hidupnya penuh liku dan dramatis itu. Satu ketika menjadi penyair istana, dipuja-puji, dihormati, tetapi kemudian dimusuhi istana, dijauhi oleh masyarakat, sejak itu ia menulis sajak-sajak yang pesimistis. Hidupnya berantakan dan akhirnya meninggal dengan cara yang tragis karena miskin. Pesimisme macam itu juga tergambar dalam sajak-sajak Adonis;

akan kami bunuh kebangkitan dan harapankami akan menyanyi dan berlindung

kami akan hidup bersama batu: kami, puisi, dan hujan

Biarkan kami o, Abu Nuwas.
(Elegi untuk Abu Nuwas).


Akan tetapi, benarkah Adonis mengingkari jalan wahyu karena tradisi kenabian telah mengalahkan tradisi kepenyairan? Apakah tuduhan ”ateis” layak diberikan kepadanya lantaran ia hendak meniadakan Tuhan demi kelapangan jalan puisi? Kalaupun ada teks agama yang memaktubkan ketersesatan penyair Arab, tentu tidak serta-merta berarti ketersesatan semua penyair pada masa itu. Tengoklah Hasan bin Tsabit yang tetap menggubah syair-syair madah (pujian) setelah teks turun. Berapa banyak penyair Arab yang cemerlang di masa nabi, lebih- lebih masa sesudah nabi? Lagi pula setiap ayat yang turun selalu dilatarbelakangi oleh asbab an-nuzul (sebab-sebab turun ayat). Artinya, penegasan teks perihal penyair sebagai penyihir dan majnun itu sifatnya kasuistik, tidak menggeneralisasi semua penyair. Bila Adonis kecewa dengan jalan kepenyairan yang menurutnya telah dibuntukan itu, kenapa ia masih mengakui pencapaian estetik Al-Mutanabbi, Al-Ma’arri dan Al-Buhturi yang ketiganya hidup di kurun pasca-kenabian?

Meski Adonis ”meniadakan” Tuhan di jalan kepenyairan, tetapi ”ateisme” itu tidak dalam rangka menjauhi Tuhan sebagaimana lelaku para ateis lain. Tampaknya Adonis hanya sedang dijangkiti kegelisahan lantaran sekian banyak jalan lama ternyata gagal mengantarkannya kepada Tuhan. Itu sebabnya ia meneruka jalan baru, yang meski tanpa Tuhan, tetapi pasti menghulu ke hadirat-Nya. Diam-diam Adonis sedang mempersiapkan sajak-sajaknya menjadi sebentuk ”bahasa lain” guna menjelaskan Tuhan masa depan:

sungguh, aku bahasa untuk Tuhan masa depan
sungguh aku penyair debu (Orpheus).

Jalan puisi yang hendak menyelamatkan nama Tuhan, yang selama berkurun-kurun terperangkap dalam bahasa agama-agama. Sampai di sini, Mihyar bukan lagi elegi untuk kematian puisi, di tangan Adonis, ia menjadi gairah asketis yang tiada bersudah dalam meraih persekutuan dengan Tuhan. Maka, tak ada yang perlu dicemaskan pada kepenyairan Adonis sebab ia bukan ateis, tetapi (mungkin) seorang perenialis….

Thursday, December 04, 2008

Satu Wajah, Dua Muka...

(KOMPAS, Minggu, 30 November 2008)

Oleh : DAMHURI MUHAMMAD

Pekanbaru, Riau, 1954. Menteri Pendidikan dan Perkembangan Kebudayaan Mohammad Yamin berpidato. Tak lama selepas pidato itu, seorang lelaki naik panggung. Tanpa sungkan, ia menyanggah bahwa dalam urusan pendidikan, masyarakat Riau dianggap ”anak tiri” oleh pemerintah pusat. Buktinya, di Riau belum ada SMA negeri. Yamin tersinggung. Tergesa ia kembali ke Jakarta, tanpa sepatah kata pun. Beberapa hari kemudian, ia menyurati Gubernur Sumatera Tengah Marah Ruslan, sebagai pegawai pemerintah, tidak semestinya orang itu menggunakan istilah ’anak tiri’. Yamin meminta Marah Ruslan menyampaikan teguran itu.

Orang yang telah membuat Menteri Pendidikan (kabinet Ali Sastroamidjojo, 1953-1955) itu marah adalah Soeman Hs (1904-1999), pengarang dua roman penting; Kasih Tak Terlerai (1930) dan Mencari Pencuri Anak Perawan (1932). Tak banyak yang tahu, novelis kelahiran Tapanuli Selatan (kemudian menetap di Riau) itu juga pejuang pendidikan yang gigih. Di Riau, ia mendirikan SMA Setia Dharma, sekolah menengah atas pertama, sebelum SMA negeri berdiri di sana. Tak hanya itu, pada tahun 1961 ia mendirikan Universitas Islam Riau (UIR), perguruan tinggi pertama di Riau.

Di ranah sastra, penelitian terbaru tentang karya-karya Soeman Hs dilakukan oleh Eko Sugiarto—dibukukan dengan tajuk Melayu di Mata Soeman Hs (Yogyakarta, Adicita, 2007)—membuka jalan untuk lebih jauh membincang roman-roman karya Soeman Hs yang telah menikam jejak selama puluhan tahun. Eko melakukan pembacaan sintagmatik-paradigmatik terhadap roman Kasih Tak Terlerai (KTT) guna melacak jejak perlawanan Soeman Hs terhadap eksklusivisme adat melayu yang pada masanya dianggap kolot. Eko berhasil menggambarkan masa pancaroba budaya melayu di awal persinggungannya dengan budaya Arab-Islam di kawasan pesisir Riau yang dipasang sebagai latar roman ini. Menurut dia, roman itu, lewat karakter tokoh-tokohnya, berhasil mendedahkan kiasan perihal jurang pemisah antara ”orang asli” dan ”orang di pinggang” dalam konstelasi adat melayu masa itu, juga membangun pengamsalan perihal bangsa ”loyang” yang mustahil bersekutu dengan bangsa ”emas”. Tapi, sesederhana itukah pencapaian estetis roman itu?

Semula Eko telah meneruka jalan untuk menguliti perwatakan si Taram, Nurhaida, Encik Abbas, dan Syekh Wahab dengan mencincang roman itu menjadi beberapa fase penceritaan. Tapi, lantaran dibebani oleh tantangan pengujian hipotesis (apakah KTT benar-benar kritis terhadap adat melayu?), hal-ihwal yang kompleks dalam struktur roman itu terabaikan sehingga hasil penelitian itu terjebak pada legitimasi akademik bahwa upaya kreatif Soeman Hs dalam KTT itu masih dalam laku ”menyalin rupa” realitas. Padahal, KTT mendobrak realitas kebekuan adat, dan lewat perwatakan si Taram yang bersusah payah menghadang kekolotan, Soeman sedang menawarkan sebuah kemungkinan baru dalam menegakkan etos egalitarianisme dalam situasi yang seterkungkung apa pun.

Lelaku penceritaan Soeman berada di luar langgam roman-roman Balai Pustaka yang sarat keberpihakan pada kepentingan kolonial di satu sisi, dan sinis pada perlawanan kaum terjajah di sisi lain, sebagaimana tergambar dalam Adab dan Sengsara ((1920), Siti Nurbaya (1922). KTT memang tidak mengembuskan denyut perlawanan terhadap kaum penjajah, tapi menghadang kebobrokan dan pembusukan yang berlangsung dalam ranah adat melayu masa itu. Berkisah tentang si Taram, anak angkat seorang batin (pemangku adat) yang jatuh hati kepada Nurhaida, anak orang terpandang, Encik Abbas. Lamaran ditolak karena si Taram hanya anak pungut, derajatnya sebatas ”orang di pinggang”, orang datang, yang tak tumbuh dan berakar dalam struktur adat setempat. Pada suatu kesempatan, si Taram dan Nurhaida melarikan diri, berlayar ke Singapura, menikah di sana. Sementara itu, keluarga Encik Abbas terus melacak jejak si Taram yang telah berani melarikan anak gadisnya itu. Utusan Encik Abbas berhasil membujuk, lalu memboyong Nurhaida kembali pulang. Kepergian Nurhaida tidak diketahui si Taram, suaminya, karena pada waktu itu ia sedang bepergian ke Johor.

Sampai di sini, kisah seolah-olah bersudah, tapi ternyata pengarang memulai kisah baru. Diceritakan tentang sebuah kapal dagang yang merapat di pantai, kampung Nurhaida. Syekh Wahab nama nakhodanya. Lelaki berperawakan Arab, jenggotnya lebat, lengkap dengan jubah dan sorban. Selama kapalnya merapat, beberapa kali Syekh Wahab tampil sebagai khatib Jumat di masjid kampung itu, bahkan sampai diangkat menjadi guru mengaji. Tak hanya itu, saking mulianya orang Arab di mata penduduk kampung itu, lamaran Syekh Wahab untuk mempersunting janda kembang, Nurhaida, pun diterima dengan senang hati. Orangtua si Taram (yang dulu pernah melarikan Nurhaida) paling banyak menyumbang dalam kenduri pernikahan Syekh Wahab dan Nurhaida.

Dua penggal kisah ini seperti tiada berhubungan, apalagi ketika pengarang menyudahi cerita perihal perkawinan agung itu dengan berlayarnya pasangan pengantin menuju Singapura. Kalaupun ada, itu hanya soal pelayaran Nurhaida yang kedua ke tanah seberang itu. Bila dulu kepergian Nurhaida dan si Taram dicerca-dimaki orang sekampung, pada pelayaran ini ia dilepas dengan doa dan sukaria. Ia digandeng suami yang sah. Orang Arab, guru mengaji, saudagar kaya, pula. Pembaca lagi-lagi mengira roman ini sudah khatam. Tapi, Soeman masih menyisakan sepenggal kisah lagi. Diceritakan perihal kepulangan Syekh Wahab dan istrinya pada Lebaran Idul Fitri. Syekh Wahab didaulat menjadi khatib pada shalat id. Inilah puncak pengisahannya. Pada khotbah kali ini, Syekh Wahab digambarkan begitu berbeda dari biasanya. Jenggotnya dicukur gundul, sorbannya dilepas, ia tidak seperti orang Arab lagi sebab Syekh Wahab yang selama ini dipuja-puja orang sekampung tak lain adalah si Taram yang sedang menyamar, untuk kembali mendapatkan Nurhaida. Orang-orang terperangah, ternyata si Taram yang telah mereka campakkan adalah orang yang dalam sekali pengetahuan ilmu agamanya, dan telah berjasa membuat anak- anak di kampung itu pandai mengaji.

Double casting ala Soeman Hs ibarat perbedaan ”loyang” dan ”emas”. Satu muka mencerminkan sosok pembangkang, muka yang lain harus menampilkan sosok lelaki santun, lemah lembut, dan karena ia mubalig tentu harus cermat menjaga tindak-tanduk. Soeman tidak lengah ketika dua muka pada satu wajah itu menjadi protagonis sekaligus antagonis. Memang ada beberapa kejanggalan, misalnya ciri fisik Syekh Wahab yang tidak lagi dirinci sebagaimana rincinya penggambaran fisik si Taram yang bertampang melayu. Bagaimana mungkin Nurhaida bisa lupa pada ciri fisik dan kebiasaan suaminya? Fisik boleh berubah, tapi bagaimana dengan perasaan seorang istri kepada suami? Begitu pula kejanggalan pada orangtua angkat si Taram yang bulat-bulat tertipu oleh penyamaran itu. Anehnya, kejanggalan-kejanggalan itu kiat mempertajam pencitraan betapa memukaunya sosok Syekh Wahab, yang Arab, padahal, setiap yang bulat belum tentu telur, meski setiap telur sudah barang tentu bulat….

Monday, November 24, 2008

Jacques Derrida: Biar Tergugat Tetap Berhala...

Oleh : DAMHURI MUHAMMAD

(KOMPAS, Sabtu, 22 November 2008)


Laku filsafat lazimnya dimaknai sebagai ikhtiar ”memburu” kebenaran. Memburu hingga ke ujung yang paling hulu. Di sanalah kapal filsuf yang setia berlayar bakal berlabuh. Bila kebenaran hulu telah direngkuh, berakhir pulakah kelananya yang jauh?
Sepertinya tidak. Tidak seorang pun yang sebenarnya sungguh-sungguh dapat menggapai kebenaran hulu itu. Makin jauh mereka bergerak menuju hulu, biduk yang mereka kayuh justru makin terseret ke hilir. Sebagaimana amsal para penggali sumur yang berharap hendak menemukan mata air. Akan tetapi, makin digali, sumur malah terasa makin dangkal. Seolah-olah mata air kebenaran itu tak pernah ada.

Kebenaran seakan-akan mengelak setiap ada upaya menghampirinya. Inilah problem rasionalitas modern yang telah melahirkan ”anak kandung” bernama logosentrisme. Cara berpikir yang selalu bergerak menuju sebuah telos dan arkhe transendental. Sebuah metafisika yang mengandalkan Pikiran (cogito), Diri, Tuhan, Ada (being) sebagai hulu kebenaran, sebagai pusat yang stabil dan kokoh.

Tabiat berpikir macam ini mendedahkan sebuah asumsi yang dalam terminologi Jacques Derrida (1930-2004) disebut metaphysics of presence (Metafisika Kehadiran), yang meniscayakan logos (kebenaran transendental) di sebalik semesta fenomena. Dalam teks, utamanya teks sastra, kehadiran logos begitu nyata dan kentara lewat hadirnya pengarang (author). Subyek yang memiliki otoritas terhadap makna. Lebih jauh, Derrida menganggap ”kehadiran pengarang” sebagai logos itu sendiri.

Inilah yang hendak dirobohkan filsuf itu dengan palu godam: dekonstruksi. Agar makna (kebenaran) tak terpasung dalam ”kuasa tunggal” pengarang. Di tangan Derrida, laku filsafat sebagai perburuan mencari kebenaran bergeser menjadi ikhtiar penafsiran terhadap teks.

Teks, seumpama tenunan kain, terbentuk dari untaian-untaian benang yang jalin-menjalin tak terhingga banyaknya. Makna (kebenaran) ada dalam kompleksitas kerumitan tenunan itu. Dalam situasi itu, tidak ada lagi pusat dan hulu. Tak ada oposisi bineriknya: pinggiran. Semua dapat berposisi pusat dapat berposisi pinggiran.

Bukan makna, tapi prosesnya

Ketaklaziman cara berfilsafat Derrida yang hendak meruntuhkan tradisi logosentrisme itu antara lain dipetakan oleh Muhammad Al-Fayyadl dalam bukunya Derrida (2005). Lewat pembacaan intens, sabar, dan hati-hati terhadap karya-karya Derrida (Of Grammatology, Writing and Difference, Dissemination, Margin of Philosophy), Fayyadl berhasil menggambarkan betapa tradisi logosentrisme filsafat pencerahan telah runtuh dan sedang di ambang kehancuran.

Selain menghadirkan Derrida sebagai ”problema”, Fayyadl juga membangun pembelaan terhadap sosok kefilsafatan Derrida yang memang tak disambut ramah kalangan pendukung logosentrisme. Keberatan utama terhadap dekonstruksi adalah karena ”metode” (sekaligus anti-metode) itu cenderung relatif.

Banyak yang menuduh proyek prestisius Derrida itu tak lebih dari intellectual gimmick (tipu-muslihat intelektual) yang tak berisi apa-apa selain permainan kata-kata. Oleh karena itu, berkali-kali Fayyadl menegaskan bahwa dekonstruksi tak bermaksud menihilkan, apalagi menafikan makna (kebenaran). Makna tetap ada, tetapi ia tidak mungkin dicapai dengan sebuah rumusan mutlak. Cuma saja, penekanan dekonstruksi bukan pada makna, melainkan pada proses meraihnya.

Bila Derrida memaklumatkan afirmasi terhadap ”yang lain” (the Other) dengan menolak kehadiran pengarang (kuasa tafsir tunggal) dalam teks, bagaimana cara menemukan makna (kebenaran) pada sebuah peristiwa pembunuhan? Bukankah Derrida meniscayakan ”tak ada sesuatu di luar teks” (il n’y a pas de hors-texte)?

Ini berarti, seluruh semesta fenomena adalah teks, termasuk peristiwa pembunuhan di atas. Bagaimana cara menemukan pelaku (makna) bila si pembunuh (pengarang) telah disingkirkan? Pelaku harus hadir, bukan? Dilema ini tak sempat ditelaah Fayyadl. Ini akibat terlalu sibuk membela pembacaan dekonstruktif Derrida, hingga abai pada ”problema” dekonstruksi yang tak kunjung terselesaikan itu.

Derrida tetap berhala

Cara berpikir Fayyadl tampaknya sangat terpengaruh oleh ”pola permainan” Derrida. Padahal, istilah ”permainan” tanda-tanda dalam teks itu masih problematis. Bukankah dalam sebuah permainan masih ada logika kalah-menang?

Derrida belum terbebas dari perangkap oposisi biner yang hendak ditolaknya. Mungkinkah laku penafsiran teks ditempuh tanpa pretensi (tanpa tujuan, tanpa telos)? Tendensi penafsiran mutlak ada, yakni; makna (kebenaran). Meski, makna itu bukan sosok kebenaran tunggal. Bukan makna yang stabil dan tak sumbing.

Maka, laku pembacaan dekonstruktif Derrida ibarat permainan sepak bola paling ironis sepanjang sejarah. Semua pemain dari kedua kesebelasan dilarang keras menciptakan gol. Para pemain hanya boleh menggiring bola, men-dribling, mengoper dan memberi umpan-umpan silang. Misalkan Fayyadl salah satu pemain dalam pertandingan itu, tentu ia akan bermain secantik mungkin.

Sialnya, ia akan selalu terhalang untuk memasukkan bola ke gawang lawan. Sebab, dalam logika dekonstruksi tak boleh ada gol (telos). Bila ceroboh dan tidak mampu ”menjinakkan” hasrat ingin menang, dikhawatirkan pemain akan melakukan gol bunuh diri, menendang bola ke gawang sendiri. Senjata makan tuan. Dekonstruksi (yang berperilaku meruntuhkan) akhirnya merobohkan tatanan analisis komprehensif yang bersusah-payah dibangun Fayyadl sejak mula. Sia-sia ia menghadirkan Derrida sebagai ”problema”. Ujung-ujungnya, Derrida malah tegak sebagai ”berhala”….

Wednesday, September 24, 2008

Pergolakan PRRI dalam Cerpen


Oleh: DAMHURI MUHAMMAD

(Kompas, Minggu 21/09/2008)



“SAYA hadir dalam pertemuan Dewan Banteng di Bukittinggi (1956). Malam itu telah mengubah wajah Sumatera Tengah, dan menyeretnya ke suatu medan laga mengerikan,” begitu pengakuan Soewardi Idris (1930-2004), satu-satunya jurnalis yang menyaksikan pertemuan rahasia tokoh-tokoh PRRI. Setelah itu Soewardi bergabung dengan PRRI, tiga tahun keluar-masuk hutan, hingga akhirnya “turun gunung” setelah mendapat amnesti dari pemerintah. Soewardi bukan “pembangkang” biasa. Ia wartawan, juga sastrawan—bukan tentara atau bekas tentara seperti pemberontak lainnya. Setelah lelah bergerilya, ia menukilkan asam-garamnya perjuangan PRRI melawan pemerintah pusat, tulisan-tulisan itu digarapnya menjadi karya sastra. Soewardi telah menulis novel Dari Puncak Bukit Talang (1964), dan dua antologi cerpen; Di Luar Dugaan (1964) dan Istri Seorang Sahabat (1964). Dua buku terakhir, baru-baru ini diterbit-ulangkan oleh penerbit Beranda (Yogyakarta, 2008) dengan tajuk Antologi Cerpen Pergolakan (senarai kisah pemberontakan PRRI).

Menurut kritikus HB. Jassin (1985), cerita tentang pemberontakan PRRI yang meletus pada 1958 itu tidak banyak, karena para pengarang menganggap pemberontakan itu kurang menarik, dianggap tabu, karena itu mereka takut membicarakannya. Beberapa cerpen karya A Bastari Amin memang menyinggung soal ini, juga sajak-sajak Mansur Samin, tapi hanya Soewardi Idris yang keseluruhan karyanya mengambil tema pemberontakan PRRI. Itu sebabnya Wisran Hadi (2008) hendak menyejajarkan kepengarangan Soewardi dengan AA Navis, khususnya dalam pilihan tematik; Pergolakan Daerah. Lagi pula, keduanya sama-sama berasal dari Sumbar dan masa kekaryaan mereka berada pada kurun yang sama.

Sisi menarik dari Soewardi adalah ketertarikannya yang begitu intens pada moralitas para pejuang PRRI, menjelang kegagalan gerakan itu. Semacam sisi lain dari individu-individu pemberontak yang tidak tercatat di buku-buku sejarah. Ia tidak membincang sebab-musabab pemberontakan itu, tapi menukik untuk sedalam-dalamnya mengekplorasi situasi mental para pejuang akibat perang saudara itu. Ia seperti hendak menakar berapa banyak istri yang telah menjanda lantaran suaminya tewas, berapa banyak anak-anak yang telah yatim lantaran bapaknya terbunuh, berapa banyak orangtua yang telah kehilangan anak lantaran terlibat dalam pergolakan. Karya-karya Soewardi banyak memaklumatkan “mudharat” ketimbang “maslahat” dari pergolakan itu. Kalah jadi arang, menang jadi abu.

Strategi literernya jauh dari pengisahan yang dramatik dan heroik sebagaimana teks-teks sastra yang menggambarkan kemelut perang. Ia pencerita yang memang sedang memikul, namun serasa tiada berbeban, karena kuatnya sense of humor dalam cerita-ceritanya. Cerpen “Di Luar Dugaan,” dapat mencontohkan keterampilan artistik yang unik dari cerpenis ini. Dikisahkan seorang pejuang PRRI yang mencegat kendaraan umum yang melintas di sekitar persembunyian mereka. Begitu bis berhenti, mereka mengepung, menurunkan semua penumpang, melucuti pakaian, merampas benda-benda berharga. Ini mereka lakukan karena penduduk setempat tidak sanggup lagi menyuplai logistik, sementara perlawanan tak boleh padam. Dalam kekalutan itu, Hadi (tokoh rekaan) berhadapan dengan seorang wanita yang sudah dilucuti pakaiannya. Ia berusaha membela diri dengan mengatakan bahwa kakak iparnya juga sedang berada di hutan, bergabung dengan PRRI. Hadi mengurungkan niat “menggarap” wanita itu setelah ia mengaku bahwa kakak iparnya itu bernama Hadi, asal Solok. Hadi gugup. Ia nyaris “menggagahi” perempuan yang tak lain adalah istri adik kandungnya. Inilah yang dimaksud dengan “kemudharatan” akibat pergolakan PRRI yang ditakar oleh Soewardi. Orang-orang yang semula teguh berpegang pada idealisme perlawanan, saat terdesak dan terkepung oleh APRI, bisa menghalalkan segala cara, dan tak segan-segan memerkosa gadis-gadis kampung di wilayah yang “konon” sedang mereka perjuangkan.

Akibat terlalu berani menyingkap mentalitas bobrok para pejuang PRRI, buku-buku Soewardi ditarik dari peredaran, master cetaknya dimusnahkan. Itu tidak datang pemerintah, tapi dari sejumlah mantan pejuang PRRI yang merasa dipermalukan. Tentang pemberangusan ini AA. Navis menulis “Tingkah Laku Bangsa Kita Mengganggu Penciptaan” (Kompas, 14/07/1981). Sejarahwan Taufik Abdullah juga mencatat, pada pertengahan dekade 50-an, Soewardi pernah diadili secara in absentia oleh sejumlah sastrawan Yogyakarta, karena karya-karyanya dianggap terlalu “terbuka”. Terbuka di sini tentu saja “jujur” atau dalam cemoohan khas Minang; “lurus-tabung”.

Sebaliknya, cerpen “Isteri Seorang Sahabat” (1964) memperlihatkan etos kesetiakawanan antar sesama pemberontak dalam keadaan terdesak sekalipun. Berkisah tentang “Aku” yang tercampak sebagai pecundang; gagal dalam perjuangannya, juga kehilangan istri. Karena tak kunjung pulang, Tini (istri tokoh “Aku”) menganggap suaminya sudah gugur, ia menikah dengan lelaki lain, lalu merantau ke Jawa. Sementara itu, “Aku” yang dengan mata kepala sendiri menyaksikan Martunus, teman seperjuangannya, ditembak mati oleh APRI, berusaha menutup-nutupi kabar kematian itu pada Nani (istri Martunus). Ia bahkan berpura-pura menyerahkan titipan uang dari Martunus untuk Nani, padahal uang itu dari kantongnya sendiri, agar Nani teryakinkan bahwa suaminya benar-benar masih hidup. Namun, dari seseorang Nani beroleh kabar bahwa Martunus sudah tiada. Tapi kesedihannya berangsur-angsur hilang karena sejawat Martunus itu memberikan perhatian penuh pada Nani, juga pada anaknya. Nani ingin lelaki itu menggantikan posisi Martunus. Berkali-kali Nani bermohon, berkali-kali pula ia menolak ajakan menikah. Bukan karena tidak mencintai Nani, tapi karena ia tidak akan pernah mengkhianati sahabat karibnya sesama pejuang PRRI, Martunus.

Cerpen tentu bukan fakta sejarah, dan mustahil menjadi buku sejarah. Bila sejarah mengacu pada kepastian epistemologis (benar-salah, terjadi-tidak terjadi), sastra berkiblat pada pencapaian kualitas estetik yang tak perlu diverifikasi keabsahannya. Meski cerpen-cerpen Soewardi memuat sejumlah fakta keras tentang “sisi lain” pergolakan PRRI yang latar belakang dan tendensi politisnya masih diperdebatkan, itu hanya satu sudut pandang yang berbeda, yang lebih unik ketimbang perspektif sejarah yang dibebani kaidah keilmiahan, juga tendensi politis tertentu. Soewardi, lewat karya-karyanya, dengan cara yang bersahaja, memberi warna baru pada konsep historiografi perihal sejarah PRRI, agar tidak menjadi fakta yang baku dan beku, dan tidak disepakati secara tergesa.

Friday, August 29, 2008

BUKU BARU



Kenduri itu memang semarak, tapi keluarga mempelai laki-laki nyaris meninggalkan helat lantaran aneka juadah yang tersuguh ternyata bukan masakan Makaji, Juru Masak handal Lareh Panjang itu. Gulai Kambing terasa hambar karena racikan bumbu tidak meresap ke dalam daging. Kuah Gulai Rebung encer karena keliru menakar jumlah kelapa parut, lebih banyak air ketimbang santan. Maka, berseraklah gunjing dan cela yang mesti ditanggung tuan rumah. Bukan karena kenduri kurang meriah, tidak pula karena pelaminan tempat bersandingnya pasangan mempelai tak sedap dipandang mata, tapi karena macam-macam menu yang tersaji tak menggugah selera. Nasi banyak gulai melimpah, tapi helat tiada membuat kenyang.

Makaji tak mungkin menjadi Juru Masak di kenduri pernikahan Renggogeni dengan lelaki lain. Ngeri ia membayangkan betapa terpiuh-piuhnya perasaan Azrial, anak laki-lakinya, yang mencintai Renggogeni, lebih dari mencintai dirinya sendiri. Tapi Mangkudun (ayah Renggogeni) bulat-bulat menolak pinangan itu; jatuh martabat keluarga kita bila anak Juru Masak itu jadi suamimu…




Kampung di luar kota bisa tampak eksotik, apalagi jika jarak yang terbentuk bukan hanya ruang, melainkan juga waktu. Dalam sebagian besar cerita Damhuri, kampung terungkapkan dalam bahasanya sendiri, yakni bahasa yang mengungkap perbendaharaan kampung, tanpa harus berarti usang, karena baik persoalan, maupun sudut pandang dan pendekatannya, sepenuhnya berpijak pada masa kini. Bagai menjawab suatu nostalgia, sekaligus mengingatkan agar tak terlena.

Seno Gumira Ajidarma, novelis



Judul : Juru Masak
Penulis : Damhuri Muhammad
Penerbit: KOEKOESAN
Cetakan : I, September 2008
Tebal : 170 halaman
ISBN : 978-979-1442-23-7

Thursday, August 28, 2008

Ratap Gadis Suayan

Cerpen: DAMHURI MUHAMMAD

(Kompas,Minggu,24/08/08)


Di mana ada kematian, di sana ada Raisya, janda beranak satu yang bibir pipihnya masih menyisakan kecantikan masa belia. Ia pasti datang, meski tanpa diundang. Di dusun Suayan ini, kabar baik dihimbaukan, kabar buruk berhamburan. Maka, bilamana kabar kematian dimaklumatkan, orang-orang akan bergegas menuju rumah mendiang. Begitu pula Raisya. Tapi ia tidak bakal ikut-ikutan sibuk meramu daun serai, pandan wangi dan minyak kesturi sebelum jenazah dimandikan, tidak pula memetik bunga-bunga guna ditabur di tanah makam seperti kesibukan para pelayat perempuan. Raisya hanya akan mengisi tempat yang telah tersedia, di samping pembaringan mendiang, lalu meratap sejadi-jadinya, sekeras-kerasnya, sepilu-pilunya.

Duduk, berdiri, melonjak-lonjak, menghentak-hentakkan kaki, berputar-putar mengelilingi jenazah sambil terus menyebut-nyebut dan memuji tabiat baik mendiang semasa hidup. Ada irama di suara tangisnya, kadang seperti melantunkan sebuah nyanyian yang memiuh-miuh ulu hati. Lagu kematian itu serasi dengan hentak kakinya. Ratapan, tarian, nyanyian, bersekutu jadi satu. Remuknya perasaan tuan rumah tidak mampu menandingi dalamnya kepiluan Raisya, tukang ratap yang telah mahir menanak risau itu. Mendengar ratapannya, mungkin Raisya lebih berduka ketimbang keluarga mendiang. Padahal ia bukan siapa-siapa, hanya tukang ratap yang terbiasa mendulang perih rasa kehilangan di setiap kematian yang dijenguknya.

Ada dua penyebab yang membuat orang-orang gampang mengingat dusun Suayan. Sebab pertama, perempuan paruh baya bernama Raisya, tukang ratap itu. Namanya mashur berkat kepiawaian meratap. Kerap ia dijemput-antar oleh karib kerabat yang sedang tertimpa musibah kematian. Mereka datang dari dusun-dusun tak terduga, guna memohon kematian itu diratapi. Bagi mereka, kematian kurang khidmat tanpa ratapan Raisya. Sebab kedua, Suayan gampang dikenang karena dusun itu pabrik jodoh. Bila tuan sedang bimbang untuk menjatuhkan pilihan perihal gadis mana yang bakal tuan persunting, barangkali tak ada salahnya tuan berkunjung ke Suayan. Bisa jadi tuan bakal abai dengan pilihan-pilihan tuan sebelumnya. Sebab, di dusun Suayan, meminang perempuan dalam keadaan mata terpicingpun dijamin tidak salah pilih. Sembilan dari sepuluh laki-laki pencari jodoh yang datang ke Suayan berhasil menggondol pasangan. Kalaupun ada yang gagal, sebabnya pasti bukan pada pihak perempuan, tapi karena pihak laki-laki tidak sanggup membayar uang pinangan yang terbilang mahal. Harga pinangan termurah untuk gadis Suayan cukup untuk menebus empat bidang ladang yang tergadai. Konon, hidup orang-orang Suayan terselamatkan oleh pinangan demi pinangan. Memiliki anak perempuan di dusun Suayan seperti menyimpan celengan gemuk yang sewaktu-waktu bisa dibanting-hempaskan, tentu setelah pinangan datang. Dan, celakalah setiap keluarga yang tidak punya anak perempuan. Mereka terpuruk di kerak kemelaratan.

Sejak dulu kecantikan gadis-gadis Suayan belum terkalahkan oleh perempuan-perempuan di dusun manapun. Dusun Suayan memang bukan daerah subur penghasil Damar atau Gambir sebagaimana dusun-dusun lain. Tanahnya gersang, padi tak menjadi, hampa sebelum berbuah. Tapi Tuhan memberi anugerah dari pintu yang tak diduga-duga. Bayi-bayi perempuan selalu terlahir dengan kecantikan yang menakjubkan. Mereka tumbuh dan mendewasa menjadi gadis-gadis yang memiliki bibir pipih seperti bibir Raisya, pipi merah merona, kulit mulus seperti kulit orang Jepang, hidung mancung seperti hidung orang Arab. Postur tubuh tinggi, langsing, sintal seperti bintang film. Bila bintang film yang kerap mereka lihat di layar tivi itu tampak anggun dan molek karena olesan bedak yang berlapis tujuh, maka kecantikan gadis-gadis Suayan mukjizat yang jatuh dari langit, bawaan sejak dari rahim. Tanpa olesan bedak dan lipstikpun wajah mereka sudah memancarkan aura kecantikan yang mencengangkan. Siapa tak tergiur? Dusun Suayan seamsal hamparan ladang luas tempat bersitumbuhnya bunga-bunga anggun segala rupa, tiada pernah langkas, meski kumbang-kumbang datang silih berganti.

*

“Bagaimana Raisya? Sekarang atau tidak sama sekali!” desak Datuk Pucuk, penghulu suku Pilawas, suku Raisya.
Seorang lelaki datang hendak meminang Laila, anak gadis Raisya. Satu-satunya.

“Tidak! Biarkan dia melanjutkan sekolah,” sangkal Raisya.Tegas.

“Sekolah? Kau akan menguliahkan Laila dengan upah meratap? Berapa banyak kematian harus kau tunggu?”

“Terimalah pinangan itu! Hidupnya bakal selamat dengan lelaki itu. Juga hidupmu. Tak perlu kau menunggu-nunggu kabar kematian lagi.”

“Tak ada kematianpun aku tetap meratap!”

Memandang raut wajah Laila serasa menatap Raisya. Ada jernih mata Raisya di jernih matanya. Ada pipih bibir Raisya di pipih bibirnya. Ada alis Raisya di alisnya (tebal, hitam, nyaris bertaut). Tapi, bakal adakah malang nasib Raisya di malang nasibnya? Raisya tidak mau itu terjadi. Laila tak boleh kawin muda. Jangan sampai ia terbujuk godaan para pencari jodoh yang berhamburan ke dusun ini, seperti berhamburannya orang-orang selepas mendengar kabar kematian.

Raisya tidak rela Laila hanya menjadi sebatang tebu yang disesap rasa manisnya, setelah jadi ampas, dicampakkan begitu saja, seperti yang dialaminya di masa lalu. Waktu itu Raisya baru lulus tsanawiyah, Nurman meminangnya. Mentah-mentah ia menolak pinangan ganjil itu. Tapi siapa berani melawan kehendak Datuk Pucuk? Satu-satunya keluarga Raisya yang tersisa. Dengan berat hati ia mengubur segala impian. Rela ia diperistri Nurman, lelaki yang sebenarnya lebih patut menjadi ayahnya. Raisya daun muda ketiga yang takluk di tangan toke Damar itu. Dari gunjing yang berserak di dusun Suayan, ada kabar tak sedap, dengan perjodohan itu Datuk Pucuk sesungguhnya tidak hendak menyelamatkan hidup Raisya, kemenakannya itu, tapi hendak menyelamatkan hidup anak-bininya sendiri. Belakangan Raisya tahu, adik kandung mendiang ibunya itu, sedang terlilit utang, dan ia membayarnya dengan menyerahkan Raisya pada Nurman.

Hanya berselang beberapa bulan setelah kelahiran Laila, Nurman lagi-lagi memetik daun muda. Dipersuntingnya Bunaiya, sahabat karib Raisya sewaktu bersekolah dulu. Tiada alasan yang absah saat Nurman meninggalkan Raisya. Barangkali hanya karena lelaki itu sudah hilang gairah, sebab tubuh Raisya tak montok lagi. Ia sibuk mengurus anak, lupa merawat tubuhnya sendiri. Kabar terakhir yang didengar Raisya, suaminya pergi karena memang begitulah perjanjiannya dengan Datuk Pucuk. Ia sanggup membayar pinangan seharga dua ekor sapi jantan, hanya untuk mencicip ranum tubuh Raisya. Hutang-hutang Datuk Pucuk lunas, Raisya punya anak, Nurman pergi, dan kawin lagi. Sejak itu Raisya hidup sendiri, menghidupi anak tanpa suami. Laila yatim, meski ayahnya belum mati.

Semasa bersekolah dulu, Raisya bintang Qasidah. Napasnya panjang, suaranya tinggi, nyaring. Bila tampil di panggung, lengking suaranya membuat para penonton melonjak-lonjak girang, lebih-lebih kalau ia menyanyikan ya rabbi barik. Tartilnya benar-benar seperti tartil orang Arab, cengkok suaranya membuat penonton terhenyak dan berdecak kagum. Tapi sejak menjadi istri orang, nama Raisya seolah menguap, tak pernah lagi ia tampil di atas panggung, kalah bersaing dengan biduan-biduan muda yang suara dan penampilan mereka lebih cemerlang. Raisya kehilangan banyak hal, empat bidang ladang peninggalan orangtuanya dikuasai Datuk Pucuk, kehilangan suami, dan tentu saja; kehilangan ranum tubuhnya.

Mak Sima, sesepuh suku Pilawas merasa terpanggil untuk meringankan beban Raisya. Ia mewariskan kepandaian meratap pada janda muda itu. Setidaknya ia bisa membesarkan Laila dari upah meratap.

“Kau sudah punya syarat-rukunnya, Raisya. Akan lekas mahir,” bujuk Mak Sima waktu itu.

“Aku sudah tua. Kau penggantiku! Jadilah tukang ratap yang bisa menyelami lubuk kepiluan lebih dalam dari selaman keluarga mendiang.”

“Bukankah kau sudah terlatih menanak risau?”

*

Setelah berhari-hari terkapar di tempat tidur akhirnya lelaki itu meninggal juga. Tak ada yang tahu penyakit apa yang dideritanya. Belakangan ini ia kerap batuk-batuk kering. Tiga dari lima kali batuknya disertai muntah. Sebesar jeruk purut gumpalan darah keluar dari mulutnya. Susah ia tidur karena batuk-batuk keras itu tak kunjung reda, hingga tubuhnya terkulai tak bertenaga, kencing dan berak dipacakkannya saja di kasur. Bunaiya, istrinya, sudah berkali-kali membujuk agar ia mau dibawa ke rumah sakit, tapi ia menolak. Ini penyakit tua, tak akan lama, rintihnya.
Kini jenazahnya sudah dimandikan, sudah pula diyasinkan, dishalatkan, tinggal menunggu waktu sebelum diusung ke pekuburan. Tapi sebagaimana kebiasaan orang-orang dusun Suayan, kurang sempurna upacara kematian jika belum diratapi. Maka, jenazahnya masih dibaringkan di ruang tengah rumah itu, menunggu kedatangan Raisya, si tukang ratap.

“Bagaimana mungkin Raisya meratapi orang yang telah membuat ia meratap seumur-umur?” tanya Bunaiya.

“Tak usah cemaskan soal itu. Bila kematian ini tak diratapi, apa kata orang nanti?” bujuk Wan Uncu, kakak laki-laki Bunaiya.

“Raisya harus dijemput! Ia satu-satunya tukang ratap di dusun ini. ”

*

Sejatinya Raisya tidak pernah berdoa memohon kematian, meski hidupnya sangat bergantung pada kematian. Untunglah hari ini datang juga kabar buruk itu. Ia akan meratap sebagaimana lazimnya, beroleh upah, lalu pulang. Meski yang akan diratapinya mendiang Nurman, bekas suaminya, lelaki yang telah menghancurkan hidupnya. Ada tak ada kematian, Raisya tetap meratap. Itu karena ulah Nurman!
Di samping pembaringan mendiang, Raisya meratap sekeras-kerasnya, sepilu-pilunya, sejadi-jadinya. Tak ada yang tahu apakah Raisya benar-benar menyelam di kerak kepiluan, atau dalam ratap itu ia justru menyimpan amarah yang tak terkata.

Jakarta, 2008

Tuesday, June 17, 2008

Wajah Baru Anak-anak Revolusi

Oleh : DAMHURI MUHAMMAD

(Jawa Pos, 15 Juni 2008)

Kairo, 30 Agustus 2006, lelaki ringkih 95 tahun menghembuskan napas penghabisan. Mesir berkabung, dan para penggemar novel di seluruh dunia berduka atas wafatnya Naguib Mahfouz, pemenang nobel sastra 1988 itu. Sepanjang riwayat kepengarangannya, ia sudah menulis tidak kurang dari 40 novel dan ratusan cerita pendek. Penulis The Cairo Trilogy (Bayn Qasrayn,1956, Qasr al Shawq, 1957 dan As Sukkariyya, 1957) itu tak luput dari kontroversi. Pada 1994, seseorang menghunuskan belati di lehernya tatkala ia sedang dalam perjalanan menuju pertemuan mingguan dengan rekan-rekan sesama pengarang di sebuah kafe di Kairo. Naguib Mahfouz luka parah, saraf tangan kanannya terganggu. Serangan itu sebentuk harga yang mesti dibayar Naguib Mahfouz lantaran novelnya Aulad Haratyna (1962) yang dituding sesat. Ceritanya berkisar di Kairo masa silam dengan tokoh utama, Gabalawi. Banyak yang menganggap tokoh ayah dalam novel yang semula dimuat bersambung di harian Al Ahram itu sebagai alegori bahwa Tuhan lebih sayang pada Adham (nabi Adam) dibanding pada Gabal (Musa) Rifa’a (Isa Almasih) dan Qasim (Muhammad). Karena itu, Naguib Mahfouz dituding atheis. Seorang ulama garis keras Mesir mengeluarkan pernyataan; jika Naguib Mahfouz tidak menulis Awlad Haratyna, barangkali Salman Rushdie tidak akan menulis The Satanic Verses yang menggemparkan itu.

Tidak sukar menemukan novel-novel Naguib Mahfouz dalam edisi Indonesia, misalnya Awal dan Akhir (2001), Lorong Midaq (1996), Pengemis (1997), Tragedi di Puncak Bukit (2000) dan lain-lain. Novel berjudul Karnak Cafe (2008) ini merupakan karya Naguib Mahfouz paling anyar dalam edisi terjemahan Indonesia. Edisi Arabnya (Al Karnak) terbit pertamakali di Kairo,1974. Sementara edisi Inggrisnya terbit pada 2007 untuk mengenang satu tahun kematian Naguib Mahfouz. Dalam sebuah sesi wawancara, sebagaimana dicatat Nadine Gordimer (1995), Naguib Mahfouz pernah ditanya perihal tema apa yang paling dekat di hati anda? Novelis itu menjawab; "Kebebasan. Ya, kekebasan dari penjajahan, dari kepemimpinan absolut raja-raja, dan kebebasan dalam konteks masyarakat dan keluarga. Dalam Trilogi saya misalnya, setelah revolusi membawa kebebasan politik, keluarga Abdul Jawad menuntut kebebasan yang lebih dari dirinya." Tapi, berbeda dengan novel-novel Naguib Mahfouz sebelumnya, Karnak Cafe justru menggambarkan pandangan pesimistik terhadap isu kebebasan dan demokrasi yang menyeruak pasca revolusi 1952. Trauma kekalahan Mesir dari Israel pada perang Juni 1967 menjadi mainstream novel ini. Kafe Karnak sebagai poros dari keseluruhan kisah buku ini bukan kafe biasa, tapi sebuah wadah tempat berkumpulnya ‘anak-anak revolusi’ yang kecewa akibat perang enam hari yang membawa Mesir terpuruk pada fase kemunduran, jauh sebelum revolusi 1952 (terbebasnya Mesir dari absolutisme kerajaan) terjadi. Di dunia Arab, malapetaka Juni 1967 itu biasa disebut dengan al naksa (kemerosotan).

Periode kekalutan ini bermula dari pengunduran diri presiden Gamal Abdul Nasser, figur utama yang tak tergoyahkan. Tak lama berselang, pada 1970 ia meninggal dalam sebuah serangan setelah berpidato di hadapan para pemimpin Arab yang tengah berkumpul di Kairo. Penggantinya Anwar Sadat, wakil presiden waktu itu. Banyak darah tertumpah di bawah jembatan di Mesir sejak Sadat dikukuhkan menjadi presiden. Para ekstrimis agama, politisi dan intelektual kiri dibersihkan. Para penyetia revolusi 1952 seperti Hilmi Hamada, Ismail Syeikh dan Zaenab Diyab, tokoh-tokoh imajiner dalam Karnak Cafe tidak lagi bisa menghirup udara kebebasan. Hilmi Hamada, pengunjung setia kafe itu berkali-kali dipenjara, dituduh sebagai pengkhianat revolusi hanya karena gagasan politiknya berhaluan sosialisme. Lelaki tambatan hati Qurunfula (mantan artis kondang Mesir, pemilik kafe Karnak) itu akhirnya mati di penjara, tanpa kejelasan di mana jenazahnya dimakamkan. Zaenab, aktifis muda, mengalami pencabulan di salah satu ruang interogasi. Ia ditangkap karena punya hubungan khusus dengan Ismail Syeikh yang dituduh sebagai antek Ikhwanul Muslimin, gerakan bawah tanah yang hendak diberangus oleh pemerintahan Sadat.

Qurunfula, daya pikat kafe Karnak itu sangat terpukul oleh kematian Hilmi Hamada. Namun kesepiannya sedikit terobati oleh kembalinya Ismail dan Zaenab hingga keriuhan senda gurau masih tetap berdengung di kafe Karnak. Tapi, Ismail ternyata bukan lagi lelaki yang teguh pendirian seperti dulu, bukan pengikut setia revolusi lagi. Ia bebas setelah menerima tawaran untuk menjadi spion guna membekuk para pembelot yang saban malam berkumpul di kafe Karnak. Begitu juga Zaenab, ia kembali dengan wajah baru sebagai agen rahasia yang tidak segan-segan menjual kehormatannya demi memperoleh informasi perihal para ekstrimis dan para aktivis kiri yang harus disingkirkan. Tak jelas lagi siapa kawan, siapa lawan. Para pengunjung kafe Karnak saling curiga, hingga tak ada lagi kenyamanan saat menikmati suguhan kopi seperti dulu. Mereka dalam situasi terancam oleh ‘musang-musang berbulu Ayam’ yang berkeliaran di kafe Karnak.

Strategi literer pengarang belum bergeser dari realisme usang khas Naguib Mahfouz, dengan satu narator dan sudut pandang tunggal. Selain itu, eksplorasi prosaiknya benar-benar tidak berjarak dari realitas keseharian Naguib Mahfouz. Baik sebelum maupun sesudah memenangkan nobel, Naguib Mahfouz akrab dengan kafe. Mulai dari kafe El Feshawi yang bernuansa klasik di kawasan kota tua Kairo, hingga cafe Riche di seberang sungai Nil. Di El Feshawi, ia pelanggan terhormat, setiap pagi sebelum berangkat ke kantornya, ia memesan kopi hitam, menyapa orang-orang di sekitarnya, membaca koran dan menulis. Berbeda dengan El Feshawi, kafé Riche terkenal sebagai tempat berkumpulnya pimpinan majelis revolusi dan tokoh-tokoh pergerakan nasional kelas menengah, seiring dengan pulangnya kaum intelektual Mesir dari Perancis. Sejak 1963, di kafe Riche kerap diselenggarakan ‘salon sastra Mahfouz’ yang dihadiri oleh sastrawan dan budayawan Mesir seperti Gamal el-Gheitani, Amal Danqel, Yahya Tahir Abdullah, Sarwat Abaza dan lain-lain. “Jika kamu baca cerita-ceritanya, kamu akan menemukan sejumlah karakter yang diambil dari sejumlah pelanggan Kafe ini,” kata pemilik kafe itu seperti dikutip Qaris Tajuddin (2006). Di kafe ini Naguib Mahfouz memotret pelbagai sisi kegamangan akibat malapetaka Juni 1967, yang tergambar secara benderang dalam novel Karnak Café ini.

Tapi, semata-mata merujuk pada peristiwa perang enam hari itu akan mengabaikan kompleksitas persoalan yang tersirat. Sebab, Karnak Cafe bukanlah buku sejarah yang mesti terukur keakuratan konsep historiografinya, tapi teks yang digarap dengan keterampilan artistik dan berhulu pada pencapaian estetika tertentu. Bukankah hubungan ganjil Qurunfula dengan Hilmi Hamada menyuguhkan realitas baru yang terlepas dari ‘fakta keras’ perang Mesir-Israel 1967? Begitu juga dengan kegilaan Arif Sulaiman, mantan staf ahli menteri keuangan Mesir yang tergila-gila pada Qurunfula. Ia menghamburkan-hamburkan uang demi menaklukkan artis kondang itu, hingga akhirnya dipenjara karena kasus korupsi. Setelah bebas, Arif Sulaiman terlunta-lunta, Qurunfula menampungnya sebagai pelayan di kafe Karnak. “Ia bukan korbanku, tapi korban dari ketidakberdayaannya sendiri,” kilah Qurunfula. Kalimat yang seolah-olah menjadi bentuk pengamsalan terhadap keterpurukan Mesir masa itu.


DATA BUKU

Judul : Karnak Cafe
Penulis : Naguib Mahfouz
Penerbit : Alvabet, Jakarta
Cetakan : I, Februari 2008
Tebal : 166 halaman

Monday, May 12, 2008

SEMBILU TALANG PERINDU

Cerpen DAMHURI MUHAMMAD

(Jawa Pos, Minggu 11 Mei 2008)

Jangan dikira tiada puncak di atas puncak! Begitu kalian menginjakkan kaki di tepi kawah seluas dua lingkar pacuan kuda itu, arahkan pandang ke sisi kiri, kalian akan melihat sepasang pohon kembar yang tegak dalam posisi bersilang hingga menyerupai huruf X. Awas! Itu tanda larangan, agar para pendaki gunung Seribu Bidadari tak gegabah menerobosnya. Tapi jikalau kalian memang punya nyali untuk menantang bahaya, duapuluh depa saja dari persilangan pohon kembar tak terbilang usia itu, akan tersingkap jalan setapak penuh semak kelimunting yang makin ke ujung makin menanjak. Itulah jalan menuju puncak yang lebih tinggi dari puncak tempat para pendaki memancang bendera pertanda telah menaklukkan gunung Seribu Bidadari yang keganasannya tersohor di segala penjuru mata angin.

Ya, puncak terlarang bagi siapa saja yang tak hendak berpisah dengan sanak-saudara setelah pendakian yang bersabung nyawa itu. Di puncak larangan itu terhampar sebuah telaga yang airnya begitu jernih, tapi dinginnya menusuk hingga tulang sumsum. Bila daya tahan tubuh sedang menurun, jangan coba-coba membasuh badan dengan air telaga itu, bisa mati beku kalian dibuatnya. Sejak lama, orang-orang di sekitar lereng Seribu Bidadari menamainya, Telaga Dewi. Telaga pemandian dewi-dewi penunggu puncak terlarang. Kecantikan mereka nyaris menyerupai malaikat tatkala menyamar sebagai bidadari. Itu sebabnya gunung itu dinamai Seribu Bidadari. Banyak yang percaya, bidadari-bidadari itulah yang telah membuat pendaki-pendaki yang tersesat di kedalaman belukar puncak terlarang, merasa tidak perlu dicari, tidak perlu kembali, untuk selamanya. Berapa banyak pendaki yang raib, tapi akhirnya dianggap mati lantaran tak satu mayat pun ditemukan? Sebenarnya mereka masih hidup, bahkan usia mereka bakal lebih panjang ketimbang sanak saudara yang belum sepenuhnya merelakan kehilangan tak berjejak itu. Tidak hilang, hanya saja jasad mereka tak terjangkau pandang mata telanjang. Mereka sudah menjelma makhluk halus dan hidup bahagia sebagai pasangan bidadari-bidadari yang memang harus terus beranak-pinak.
"Akan kami renangi telaga hantu itu. Sebab, Talang Perindu ada di tengah-tengahnya," begitu tekad Gacik Pangawan, salah satu dari tiga pendekar tanggung yang datang dari negeri jauh.

"Barang keramat itu syarat pokok untuk menyempurnakan kesaktian kami," sambung Incekmato Batangkai, pendekar yang tampangnya cukup bersahabat, tapi cepat sekali naik pitam.

"Lebih baik mati terjungkang di puncak terlarang daripada turun tanpa Talang Perindu!" dukung Sakotok Takujai, pendekar paling muda, tapi dadanya paling membusung.

Tak salah lagi. Ada serumpun aur yang tumbuh subur di telaga itu. Setiap buluh di rumpun itu kelak memang akan menjadi Talang Perindu, barang keramat yang sejak dulu dicari-cari para penghamba ilmu pelet.

"Jaga mulutmu tua bangka! Kami bukan pemuja ilmu pelet.” gertak Incekmato Batangkai.

“Cecunguk ini benar juga, kita memang akan merenggut semua bunga yang kita suka. Bila perlu bunga di jambangan. Dengan begitu, akan ternobatlah kita sebagai Pendekar Pemetik Bunga," sela Sakotok Tagujai.

"Pokoknya semua makluk bernama perempuan bakal berlutut di kaki kita."

Barangkali ada yang kalian lupa. Rumpun aur itu tidak tumbuh di tengah-tengah Telaga Dewi sebagaimana kalian duga. Mungkin kalian juga lupa kalau rumpun aur itu bisa berpindah dari tengah ke tepi telaga, sekali waktu juga bisa menghilang seolah terhisap arus di dasar telaga. Lalu, bagaimana cara kalian mendapatkan Talang Perindu? Saya kuatir, pendakian kalian akan sia-sia.

"Aha, tua bangka ini meragukan kehebatan kita?"

"Tunggulah, sebentar lagi ia akan melihat tuah Talang Perindu di perkampungan lereng gunung ini. Perempuan-perempuan di tanah kelahirannya itu akan kita boyong pergi jauh. Dan, anak gadisnya yang bermata biru itu pantas pula melayani juragan-juragan di negeri kita."

"Sebelumnya tentu kita ujicoba lebih dahulu. Ua ha ha ha….."

***

Semasa darah mudanya masih menggelegak, lelaki ringkih pencari belerang itu pernah pula menggebu-gebu hendak memiliki Talang Perindu sebagaimana tiga pendekar pongah itu. Andai mereka tahu bahwa ia adalah Pendekar Pemetik Bunga yang sesungguhnya, tentu mereka tidak akan berani menggertak, apalagi mengancam akan meneluh anak gadisnya dengan Talang Perindu. Lelaki setengah bongkok itu memang gagal menggapai rumpun aur di tengah Telaga Dewi lantaran diserang kawanan elang gunung yang bertubi-tubi mencengkram kuduk dan pucuk kepalanya. Tubuhnya terapung-apung sebelum tangannya sempat berpegangan pada salah satu buluh di rumpun aur itu. Apa boleh buat, hasrat hendak membuat seruling dari Talang Perindu pupus sudah. Sedianya seruling itu akan menjadi seruling bertuah yang bila ditiup akan menaburkan benih-benih rindu setiap perempuan yang mendengarnya. Itu sebabnya disebut Talang Perindu, talang penumbuh rindu. Sayup-sayup bunyi seruling akan membuat gadis-gadis mabuk kepayang hingga datang mendekat satu persatu, serupa gerombolan ikan berbondong lantaran mencium bau umpan dalam jala. Ia bisa pilih, ranum tubuh mana yang mesti dicicip lebih dulu. Jangan segan-segan, mereka sudah jadi budak, dan lelaki peniup seruling adalah tuannya. Budak-budak tiada bakal bebas, bila pemilik Talang Perindu belum melepasnya.

Ah, itu hanya angan-angan yang tak kesampaian. Tapi, berputus asa pantang bagi seorang pendekar. Meski Talang Perindu tak didapat, suatu masa ia beroleh mujur juga. Saat terbungkuk-bungkuk memikul karung berisi belerang lembab, kakinya tersandung sarang elang yang baru saja jatuh dari dahan pohon Medang. Saking kagetnya, tak sengaja ia mengeluarkan jurus Terjang Halimbubu, hingga gumpalan berisi rumput-rumput kering itu hancur menjadi serpihan-serpihan halus seperti tepung terigu dihembus angin. Tapi ia masih saja kesal, sebab kelingking jari kakinya terasa perih. Seperti ada duri yang mencucuk daging kelingking itu. Terus saja ia berjalan sembari menjinjit kaki. Saat membasuh kaki di kali yang hanya beberapa langkah dari dangau tempat tinggalnya, ia mencabut duri yang tertancap di kelingking kaki kirinya. Bukan duri ternyata, tapi patahan sembilu sebesar ujung batangan tusuk gigi. Mungkin sembilu yang terkelupas dari batangan buluh kering, lalu elang gunung membawanya terbang untuk membuat sarang. Sembilu yang telah mendarahi kelingkingnya itu mengapung, hanyut perlahan. Tapi, tampaknya ada yang ganjil. Sembilu itu tidak hanyut ke hilir, justru mengarah ke hulu kali. Hanyut sungsang. Lekas ia memungutnya. Bila sudah rejeki tak hendak ke mana, itu bukan sembilu biasa, tapi sembilu yang terkelupas dari Talang Perindu di puncak Seribu Bidadari. Tak ada rotan, akar pun jadi. Tak ada Talang, sembilu pun cukup.

Benda yang semula jadi duri dalam dagingnya kelak membuat ia ternobat sebagai Pendekar Pemetik Bunga. Sembilu dari Talang Perindu menjadi jimat ajaib di tangannya. Tapi, seumur-umur hanya sekali ia meneluh perempuan dengan sembilu bertuah itu. Masa itu, sekelompok perempuan pirang datang hendak mendaki gunung Seribu Bidadari, dan lelaki penambang pelerang itu terpilih sebagai penunjuk jalan. Jane, perempuan paling mancung, sekali waktu menutup hidung saat berdekatan dengan si penunjuk jalan itu. Seolah-olah Jane tidak tahan dengan bau tubuhnya. Maklum, ia hanya akan sungguh-sungguh mandi di malam satu Syuro, setahun sekali. Ia tersinggung, dan obat satu-satunya hanya perempuan itu sendiri. Sembilu Talang Perindu membuat Jane bersenang hati jadi bininya. Pantaslah anak gadisnya kelak juga bermata biru sepertinya Jane. Sejak itu, tak pernah lagi ia meneluh. Puas ia dengan satu perempuan saja, tidak seperti hasrat tiga pendekar tanggung yang hendak menjadi tuhan bagi semua makhluk bernama perempuan, padahal mereka belum tentu sanggup menggapai puncak terlarang di gunung Seribu Bidadari.

***

Gelang-gelang Kawat marah besar. Warung Kopang miliknya sedang terancam gulung tikar. Sepi pengunjung, karena perempuan-perempuan yang tersedia sudah kadaluarsa, tak menggairahkan lagi. Suguhan kopi di warung remang-remang itu memang tiada duanya, tapi para pejajan tentu lebih tergiur dengan kenikmatan saat duduk di atas paha gadis-gadis muda sembari menyeruput kopi. Itu sebabnya disebut Kopang, Kopi Pangku, minum kopi sambil dipangku. Saatnya gadis-gadis pelayan Kopang itu diganti dengan perawan-perawan kinclong, segar dan berkulit kencang. Tapi, tiga murid Gelang-gelang Kawat yang diutusnya ke puncak gunung Seribu Bidadari pulang dengan tangan kosong.

“Keparat busuk! Masih berani kalian pulang tanpa Talang Perindu?” bentak Gelang-gelang Kawat, tubuh bongsornya gemetar hendak lekas menghabisi bedebah-bedebah itu.

“Tuan guru, beri kami satu kesempatan lagi,” jawab Incekmato Batangkai dengan kepala menunduk.

“Kami janji, Talang Perindu akan jatuh ke tangan kita. Warung Kopang akan semarak kembali seperti dulu!”

“Akan kami paksa tua bangka penambang belerang itu menunjukkan di mana sebenarnya Talang Perindu itu berada,” tambah Sakotok Tagujai

“Penambang Belerang? ” Tanya Gelang-gelang Kawat, terperangah.

“Ya, lelaki sepuh di lereng Seribu Bidadari itu tahu segala rahasia tentang Talang Perindu. Ia mengenal Talang Perindu seperti mengenal urat lehernya sendiri.”

“Jadi, berilah kami kesempatan!” mohon Gacik Pangawan, mulai ketakutan, sebab geraham Gelang-gelang Kawat sudah bergemeretuk, seolah akan mengunyah-ngunyah mereka bertiga.

Gelang-gelang Kawat langsung teringat raut wajah lelaki pencari belerang yang diceritakan murid-muridnya itu. Ia tidak lain adalah Pendekar Pemetik Bunga yang sebenarnya. Dulu, Gelang-gelang Kawat pernah berguru pada empunya jurus Terjang Halimbubu itu. Tapi sesungguhnya ia hanya berpura-pura jadi murid, untuk mencuri sembilu Talang Perindu, jimat ampuh yang diincarnya sejak lama. Tapi, memiliki Talang Perindu rupanya tak segampang mengirim Gacik Pangawan, Sakotok Takujai, Incekmato Batangkai, tiga murid tololnya itu ke liang kubur.

Kelapa Dua, 2008

Monday, April 28, 2008


Malu (Aku) Jadi Orang Turki...




Oleh : DAMHURI MUHAMMAD

(Media Indonesia, 26 April 2008)


Dalam sebuah wawancara dengan koran Swiss, Tages Anzeiger (2005), Orhan Pamuk terang-terangan bicara tentang “Genosida Armenia” di masa kesultanan Ottoman (1915). Novelis Turki pemenang Nobel Sastra (2006) itu juga mengungkit-ungkit soal perseteruan antara Turki dan minoritas Kurdi sejak 1980-an. “Sejuta orang Armenia dan tigapuluh ribu orang Kurdi dibunuh di tanah ini. Tak ada yang berani menyatakannya, kecuali saya,” ungkap Pamuk dengan kepala tegak. Akibatnya, ia harus berurusan dengan pengadilan. Pemerintah Turki menjeratnya dengan tuduhan menghina negara. Tapi, pengarang yang berhasil menggambarkan konstelasi perbenturan antara sekularisme warisan Kemal Attaturk, militer pro pemerintah, Islam militan dan nasionalisme Kurdi dalam novel-novelnya itu menyangkal bahwa ia tidak sedang menghina negara. Ia hanya meminta pemerintah Turki untuk menjunjung tinggi kebebasan berekspresi. Lagi pula, pernyataan itu bukan isapan jempol belaka, tapi fakta sejarah yang seolah-olah hendak dilupakan begitu saja.

Jalan kepengarangan Orhan Pamuk seumpama “menepuk air di dulang”, makin ditepuk, makin basah muka sendiri. Tengoklah Darkness and Light (1979), Bey and His Son (1982), White Castle (1991), The Black Book (1990), My Name is Red (2000) dan Snow (2004). Banyak yang menuding Pamuk sebagai “pengarang Turki yang gandrung menghina agama dan menyumpah-serapahi tanah airnya sendiri.” Mungkin ini resiko yang mesti ditanggung oleh sastrawan yang hidup di dalam tubuh peradaban yang sedang retak dan nyaris terbelah. Separuh hendak mengembalikan kejayaan Ottoman Empire yang pernah tercatat dalam sejarah, separuhnya lagi digoda oleh denyut modernisasi yang berkiblat ke Eropa. Pamuk seperti terjerembab ke dalam ranah kemenduaan yang kerap membuatnya bimbang dan gamang.

Kegamangan itu tampak nyata dalam Snow, novel karya Orhan Pamuk yang baru saja diedisi-indonesiakan oleh penerbit Serambi. Pusaran kisahnya berlangsung di Kars, sebuah kota kecil di Anatolia. Strategi literer Pamuk seperti sedang menapaktilasi kepulangan penyair Turki, Kerim Alakusoglu (Pamuk menggunakan inisial; Ka) ke Istambul setelah terbuang ke Jerman selama 12 tahun. Ia datang ke Kars untuk menyelidiki sejumlah kasus bunuh diri di kalangan gadis-gadis muda kota itu. Salahsatunya Teslime, siswi madrasah aliah yang bunuh diri karena kecewa dengan peraturan sekolah yang melarang siswi-siswinya mengenakan jilbab. Bila larangan itu diabaikan, Teslime dan kawan-kawan akan diusir dari ruang kelas. Orangtua Teslime sudah berkali-kali menasehati agar ia mematuhi larangan itu, mencopot jilbabnya, hingga ia tetap bisa bersekolah. Tapi, Teslime bersikukuh mempertahankan jilbabnya. Pada suatu malam, ia berwudlu, dan shalat di kamarnya. Selesai shalat, ia mengikatkan jilbabnya ke cantolan lampu, dan gantung diri.

Kasus bunuh diri yang meruyak di Kars hanya pintu masuk untuk menelusuri kompleksitas perbenturan antara militer pro pemerintahan sekuler, kelompok Islam garis keras dan nasionalis Kurdi yang sedang mencuat sebelum pemilihan walikota Kars. Para penghamba Ataturk menunggangi kasus bunuh diri gadis-gadis muda Kars untuk menghantam kelompok Islam yang menurut mereka tidak mampu menyelamatkan para pengikutnya dari tindakan konyol yang sudah pasti berujung di kerak Neraka. Itu sebabnya, Lazuardi, pemimpin kelompok Islam militan yang termashur di seantero Istambul, datang ke Kars. Ka makin sulit melepaskan diri dari lingkaran perseteruan itu sejak ia (secara kebetulan) menyaksikan pembunuhan seorang direktur Institut Pendidikan. Desas-desus pun bergulir, lelaki itu ditembak, karena ia orang pertama yang mengesahkan peraturan pelarangan jilbab. Pemimpin redaksi surat kabar lokal, Border City News, Serday Bey, diintimidasi oleh kelompok tertentu agar ia membangun opini publik bahwa pelaku pembunuhan itu tidak lain adalah kaki tangan Lazuardi.

Pamuk juga merancang sebentuk ‘romantika tak biasa’ perihal hubungan Ka dengan perempuan masa lalunya, Ipek. Kehadiran Ka di Kars tidak semata-mata untuk penyelidikan kasus bunuh diri yang menghebohkan itu. Diam-diam, ia hendak menyambung kembali hubungan asmaranya dengan Ipek, dan ingin memboyong perempuan itu ke Frankfurt. Namun, kembali mendapatkan cinta Ipek teryata tidak segampang menulis puisi yang kerap dipersembahkannya untuk perempuan itu. Ipek ternyata sudah janda. Ia pernah dipersunting Muhtar, calon walikota Kars yang terus diganjal oleh lawan-lawan politiknya. Persoalan makin runyam ketika Ka berhasil mengungkap bahwa beberapa tahun sebelum kedatangannya ke Kars, ternyata Lazuardi pernah pula menjadi laki-laki yang dicintai Ipek. Maka, kedatangan buronan politik kelas kakap itu ke Kars juga bukan hanya untuk membereskan kasus-kasus bunuh diri. Sebagaimana Ka, Lazuardi juga hendak menyambung kembali hubungan asmaranya dengan Ipek.

Lewat novel setebal 731 halaman ini, Pamuk menggambarkan betapa tidak nyamannya “hidup di tanah orang mati yang terus saja berkuasa.” Tidak hanya sikap politik, ideologi, dan gaya hidup, kesenian pun harus menghamba pada sekularisme. Gejala inilah disuguhkan lewat proganda-proganda politik dalam pementasan-pementasan teater pimpinan Sunay. Di atas panggung, Sunay memaklumatkan bahwa jilbab menghambat kebebasan perempuan. Sudah saatnya, gadis-gadis Kars mencopot jilbab mereka, sebagaimana perempuan-perempuan Eropa. Ketegangan makin memuncak ketika Sunay (didukung oleh agen-agen rahasia dari Istambul) memaksa Kadife (adik Ipek), pemimpin kaum berjilbab Kars untuk tampil menjadi pemain pada pementasan penting di teater nasional. Kadife harus memerankan adegan perempuan yang mencopot jilbabnya, lalu melemparkannya ke hadapan penonton. Dengan begitu, acaman laten kaum berjilbab di Kars dapat dilumpuhkan. Tidak ada yang tahu bahwa Kadife sebenarnya sedang terancam. Ia menerima tawaran itu karena Lazuardi, kekasihnya, sedang disandra oleh Sunay di sebuah tempat tersembunyi. Bila ia ingin Lazuardi bebas, Kadife itu harus mau memainkan peran itu. Dan Ka, adalah orang yang menegosiasikan perjanjian itu dengan Sunay. Agen-agen rahasia yang berada di belakang Sunay berjanji akan membiarkan Ka keluar dari Kars dengan selamat, tentu bersama Ipek, dan mereka akan hidup bahagia di Frankfurt. Celakanya, pada hari yang sudah dijanjikan, tersiar kabar bahwa Lazuardi tewas setelah persembunyian dibombardir tentara. Ipek menuduh Ka telah berkhianat. Sebab, hanya Ka satu-satunya orang yang tahu persembunyian Lazuardi. Ia kecewa dan membatalkan keberangkatannya ke Frankfurt bersama Ka. Lazuardi memang sudah jadi milik Kadife, tapi Ipek masih mencintai pemberontak berwajah tampan itu.

Siapa pelaku pembunuhan direktur Institut Pendidikan? Benarkah Ka berkhianat pada Kadife, Ipek dan Lazuardi? Siapa pula pelaku pembunuhan Ka yang terjadi setelah ia kembali ke Frankfurt? Pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah terjawab. Tampaknya Pamuk memang sengaja menggantung kisah thriller politik ini. Tapi, ia benar-benar sempurna menggambarkan identitas ‘keturkian’ Ka yang terbelah dua. Menggunakan nama Turki (Kerim Alakusoglu) saja ia begitu terbebani, ia lebih suka menyebut dirinya; Ka. Sebaliknya, alih-alih menghirup udara bebas di Eropa, Ka malah mati bersimbah darah di sana. Agaknya, keberanian mengungkap krisis identitas di Turki inilah yang membuat Pamuk dituding sebagai pengarang yang sedang menguliti wajah sendiri…


DATA BUKU

Judul : SNOW (Di Balik Keheningan Salju)
Penulis : Orhan Pamuk
Penerbit : SERAMBI, Jakarta
Cetakan : I, April 2008
Tebal : 731 halaman

Monday, April 07, 2008

TIKAM KUKU

Cerpen DAMHURI MUHAMMAD

(Suara Merdeka, 6/April/2008)

Belajar silat pada lelaki itu barangkali memang seperti menyongsong kematian. Betapa tidak? Barangsiapa yang hendak menjadi murid harus menyerahkan sebilah pisau siraut dibungkus selembar kain kafan sebagai mahar sebelum pendekar itu mengajarkan gerak pelangkahan, jurus-jurus elak dan tentu saja; jurus-jurus terkam yang terbilang mematikan. Apa gunanya kain kafan kalau bukan buat bekal bila kelak muridnya mati ditikam pisau siraut atau dicabik cakaran jurus Tikam Kuku? Mungkin tak hanya pisau siraut dan kain kafan yang sebelumnya harus diserahkan, jangan-jangan pendekar itu sudah menggali kubur untuk murid-muridnya, tentu bila kelak murid-muridnya sampai ajal saat berguru. Dan, bila tiba saatnya seorang murid diputus kaji, ia harus menempuh ujian Gulung Tikar.

“Eit, tunggu dulu Kisanak!”

Mungkin Kisanak menduga, kalau hanya disuruh menggulung tikar, apa pula susahnya ujian itu? Bukankah semua murid pendekar berjulukan Harimau Campo itu sangat terlatih menggulung tikar karena mereka memang anak-anak surau?

”Aha, tak semudah yang Kisanak bayangkan.”

Ujian itu lebih tepat disebut Tikar Gulung ketimbang Gulung Tikar. Apa sebab? Murid yang hendak putus kaji itu akan digulung dengan selembar tikar pandan serupa kain kafan menggulung mayat. Maka, tubuh yang terbebat gulungan itu tak akan bisa bergerak, apalagi mengelak. Jangankan bergerak, mengambil napas saja susah alang kepalang. Nah, saat itulah Harimau Campo menghunus tombak, menghujani gulungan tikar pandan dengan jurus tusuk dan tikam. Ia tak peduli, apakah muridnya bakal mati dengan usus terbusai, atau mati dalam keadaan kepala retak-rengkah. Bertubi-tubi, hingga gulungan tikar berisi mayat hidup itu koyak-moyak, bolong di sana sini.

“Kisanak tahu apa jadinya calon pendekar itu?”

Kulit tubuhnya tak tergores mata tombak barang sedikitpun. Jangankan luka gores, tersentuh pun tidak. Dalam kesempitan rupanya ia masih bisa bergerak dan mengelak serangan Harimau Campo yang tak henti-henti hingga ayam kinantan berkokok tiga kali. Tersebab pertarungan hidup mati dalam ujian Tikar Gulung itulah tidak banyak orang-orang dusun Subakir yang berani memercayakan anak-anak mereka untuk belajar silat pada Harimau Campo. Lagi pula, dari sekian banyak murid yang pernah berguru pada pendekar gaek itu, hampir duapertiganya, alih-alih putus kaji, malah putus di tengah jalan.

“Kisanak tahu siapa murid yang lulus dalam ujian Tikar Gulung itu?”

Salahsatunya Dahlan. Tapi orang-orang dusun Subakir menambahkan kata ‘Beruk’ di belakang namanya, hingga jadilah ; Dahlan Beruk. Lama-kelamaan orang-orang menghilangkan kata ‘Dahlan’, dan lebih suka menyebut nama belakang saja ; Beruk.

“Mungkin Kisanak menduga, ia dipanggil Beruk karena mukanya seperti muka Beruk?”

Dugaan Kisanak hampir benar, tapi bukan mukanya yang serupa Beruk, melainkan perangainya. Kisanak pernah mendengar cerita tentang peristiwa kebakaran rumah gonjong milik keluarga tuan Gedang puluhan tahun silam? Waktu itu orang-orang dusun Subakir sengaja membiarkan rumah warisan gembong PKI itu dilalap api hingga rata dengan tanah. Mereka mengira, itu balasan dari kekejaman tuan Gedang yang telah membunuh orang-orang dusun Subakir dalam jumlah tak terbilang. Kisanak tahu kenapa bukit di sebelah utara dusun ini dinamai Bukit Sibusuk? Di bukit itu tuan Gedang dan anak buahnya menguburkan orang-orang dusun Subakir yang sudah dihabisinya karena dianggap membangkang. Mayat-mayat ditumpuk dalam sebuah lubang besar yang tidak terlalu dalam, ditimbun sekenanya saja, hingga bau busuk menyeruak ke dalam kampung. Berhari-hari orang-orang dusun tidak berani keluar rumah lantaran bau bangkai yang bikin mual, hingga kelak mereka menamai bukit itu ; Bukit Sibusuk. Ya, bau bangkai korban kebiadaban orang-orang gestapu. Jadi, meski mereka tak sempat balas dendam pada tuan Gedang yang tiba-tiba lenyap seolah diculik orang Bunian, maka kebakaran itu setidaknya dapat melunaskan sakit hati yang mereka pendam sejak lama. Tapi, tatkala jilatan api sudah mencapai atap rumah gonjong sembilan ruang itu, Dahlan sudah bergelayut serupa Beruk di dahan pohon durian, belakang rumah itu. Hanya dari pohon itu Dahlan bisa meloncat masuk, dari tangga hingga anjungan, kobaran api sudah tak mungkin diterobos.

“Hoi, Dahlan, mau cari mati kau?”

“Biarkan saja anak-cucu si Gedang itu mati terpanggang!”

“Apa kau lupa, bapakmu juga mati di tangan si Gedang bukan?”

“Turun kau, Beruk!”

Dahlan memang lekas turun sambil menggendong cucu tuan Gedang yang tadi terperangkap kobaran api. Tapi, sigap ia meloncat lagi ke atas dahan pohon durian, dan lagi-lagi berayun serupa beruk, masuk lewat atap, lalu kembali dengan menggendong cucu tuan Gedang yang lain. Begitu seterusnya, hingga semua penghuni rumah itu selamat. Sejak itu Dahlan beroleh gelar ’Beruk’.

Musuh tidak dicari, tapi jika bersua pantang dielakkan. Begitu petuah Harimau Campo saat Dahlan masih berguru. Itu sebabnya, aliran silat Dahlan Beruk lebih banyak memiliki jurus elak ketimbang jurus serang. Ia tak bakal menyerang bila musuh tidak menyerang. Kalau terpaksa menyerang, itupun dilakukan Dahlan dengan menghisap kekuatan serangan lawan. Ia tak gamang dengan ukuran badan lawan. Makin besar tubuh lawan, makin gampang Dahlan menumbangkannya. Dan yang paling berbahaya tentu jurus Tikam Kuku yang sempurna dikuasai Dahlan. Jarang yang selamat dari terkaman Tikam Kuku. Bila tak langsung dikirim ke liang lahat, setidaknya musuh bakal tergolek berlumur darah.

”Kisanak pernah dengar Jilatang Layur, tukang pukul Cen Bi, tengkulak tembakau di dusun Subakir ini?”

Lelaki jangkung itu pendekar yang mahir dalam jurus Patah-Mematah. Ia tak segan-segan mematahkan leher petani-petani yang tidak berkenan menjual tembakau pada Cen Bi lantaran harganya sangat miring. Cen Bi mematok harga seenaknya, padahal untung yang diperolehnya berlipat-lipat. Jangan coba-coba beralih pada toke lain, bila tak ingin berhadapan dengan kebengisan Jilatang Layur. Tapi suatu masa, pendekar dari aliran hitam itu ketemu lawan bersengat. Ia tertangkap basah sedang menghabisi Tunjang, petani tembakau yang tak lain adalah adik ipar Dahlan Beruk. Sudah kerap Dahlan mengingatkan centeng keparat itu untuk tidak lagi memeras petani tembakau di dusun Subakir. Tapi dasar orang bayaran, Jilatang Layur malah makin beringas.

“Langkahi dulu mayatku sebelum kau ganggu keluargaku!”

“Tak usah banyak cakap, Beruk! Sudah lama awak ingin patahkan lehermu. Bersiaplah!”

Satu dua serangan Jilatang Layur masih dielakkan Dahlan, tapi serangan ketiga tiada ampun. Dahlan tak ingin berlama-lama. Cengkraman tangan Jilatang yang hendak menangkap batang lehernya, sigap dipiuhnya hingga mengeluarkan bunyi deruk. Lalu, dua jari Dahlan menyelinap di rusuk Jilatang, hingga membuat dua lubang, satu sebesar jari telunjuk, satu lagi sebesar jari tengah. Centeng itu tergeletak dalam posisi tidak siap. Pada saat yang sama, Dahlan berayun serupa Beruk hendak menjangkau dahan, lalu mendarat di dada Jilatang. Sekali lagi jurus Tikam Kuku bersarang di rusuknya yang sudah bocor itu. Jilatang mengerang kesakitan, dari mulutnya keluar gumpalan darah sebesar limau purut. Tukang pukul tengkulak tembakau itu beres di tangan Dahlan Beruk.

***

“Membuat Cen Bi enyah berarti membunuh penghidupan orang sedusun,” begitu kemarahan Tumanggung, petinggi adat dusun Subakir setelah Dahlan melumpuhkan Jilatang Layur.

“Kalau tidak karena Cen Bi, anak-cucu kita tidak bisa makan.”

“Tak usah jadi pahlawan. Mentang-mentang punya lading tajam, jangan sembarang kau catukkan! Kau kira tak ada langit di atas langit, hah?”

“Sekali lagi kau cari masalah dengan orang-orang Cen Bi, kami buang kau dari suku. Paham kau Beruk?”

Orang-orang yang tak suka perangai Dahlan tentulah mereka yang terancam periuk nasinya. Dahlan sudah maklum, tuan-tuan itu sudah disuap Cen Bi. Tak hanya urusan tembakau, mereka juga melindungi cukong-cukong yang mengeruk kerikil di lereng Bukit Sibusuk, hingga lahan-lahan sawah tertimbun longsoran. Mereka tak segan lagi pada Dahlan Beruk. Pendekar Tikam Kuku sudah mati kutu. Lagi pula, sejak beroleh ancaman itu, Dahlan tak tampang lagi batang hidungnya. Tak ada yang tahu, ia pergi ke mana. Hanya ada desas-desus bahwa Dahlan Beruk dihabisi oleh sekelompok orang sebagai balasan atas kekalahan Jilatang Layur. Tapi ada pula yang bilang, Dahlan Beruk berdiam di Hutan Sirasah, ia sedang menjalankan laku putus kaji bagi murid-murid terbaiknya.

“Kisanak tahu apa yang terjadi di dusun Subakir sejak Dahlan Beruk menghilang tak tentu sebab?”

Tengkulak tembakau tidak puas hanya memeras petani tembakau dusun Subakir, mereka menyulap Bukit Sibusuk menjadi arena sabung ayam yang penuh sesak dikunjungi pejudi. Lubang-lubang bekas pengerukan kerikil di sepanjang lereng bukit itu berubah jadi danau buatan. Para cukong membangun kawasan itu menjadi obyek wisata. Di sana sudah berdiri ratusan pondok beratap rumbia yang disewakan pada pasangan muda-mudi yang datang hendak bersenang-senang. Bagi tamu yang tidak membawa pasangan, perempuan-perempuan muda dusun Subakir siap melayani, tentu dengan imbalan yang setimpal. Orang-orang dusun beroleh untung pula dari tempat mesum itu. Mereka berjualan rokok, tuak atau jadi calo dengan penghasilan sepuluh kali lipat dibanding hasil ladang tembakau. Bukit Sibusuk sudah menjadi jamban tempat orang buang hajat. Kalau dulu, bukit itu menebarkan bau bangkai, kini menyeruakkan aroma lendir yang menjijikan.

“Kau tahu di mana kuburan Dahlan Beruk?”

“Saat orang-orang dusun Subakir sudah melupakan jawara itu, Kisanak malah mencarinya.”

“Apa perlunya Kisanak mencari Dahlan Beruk?”

“Tapi, melihat tampang Kisanak, saya ingat raut muka tuan Gedang. Jangan-jangan Kisanak salah seorang cucu tuan Gedang yang pernah diselamatkan Dahlan Beruk dari kebakaran puluhan tahun lalu.”

”Siapa Kisanak sebenarnya?”


Kelapa Dua, 2007

Monday, March 10, 2008

Nasionalisme Sastra Pinggiran

Oleh : DAMHURI MUHAMMAD

(Pikiran Rakyat, 8/Maret/2008)


Politik kolonial jelas membias dalam geliat pertumbuhan sastra Indonesia. Gejala ini tampak kentara sejak berdirinya Balai Pustaka (1918) sebagai lembaga penerbitan Belanda yang bukan saja ‘memperalat’ sastra, tapi juga ‘mengendalikan’ gerak-geriknya agar tak menjadi ancaman laten. D.A Rinkes (direktur pertama Balai Pustaka) seperti dikutip Maman S. Mahayana (2001), mencatat tiga kriteria yang digunakan Balai Pustaka dalam menyensor naskah-naskah yang akan diterbitkan yaitu tidak antikolonial, tidak menyinggung perasaan dan etika golongan tertentu, tidak menyinggung perasaan agama tertentu. Akibatnya, lahirlah sastra elitis, tak menyinggung masalah perbedaan etnis, dan yang paling muntlak adalah terlarang menghembuskan semangat kebangsaan.

Pemerintah kolonial tak henti-henti berupaya membendung pengaruh bacaan non Balai Pustaka. Diusungnya sejumlah istilah pejoratif yang meminggirkan proses kreatif para pengarang di luar pagar Balai Pustaka. Karya-karya mereka diklaim sebagai ‘bacaan liar’, berbahaya, menyesatkan. Sentimentalisme D.A Rinkes (1923) menyebut mereka saudagar kitab jang kurang sutji hatinja. Untuk menyediakan bacaan sastra (yang ‘tidak liar’) bagi bumiputera, pada 1918 Balai Pustaka menerbitkan Tjerita Si Djamin dan Si Djohan (saduran dari Jan Smees karya J. Van Maurik). Dua tahun kemudian, terbitlah roman Azab dan Sengsara (1920), karya Merari Siregar, disusul Siti Nurbaja (1922), karya Marah Rusli.

Tapi, ‘bacaan-bacaan liar’ justru makin liar menyuarakan etos perlawanan terhadap pemerintah kolonial. Buah karya para pengarang yang ‘membangkang’ itu serupa api dalam sekam, yang di permukaan panasnya tak terasa, tapi di kedalaman timbunan sekam, gejolaknya tiada kunjung padam. Ironisnya, sejarah sastra kita tidak mencatat gejolak perlawanan itu (dalam batas-batas tertentu ada kesengajaan menghapus jejaknya). Padahal, sepak terjang sastra pinggiran ini berperan penting dalam membangun kesadaran kebangsaan paling awal. Jangan-jangan keterceceran ini juga bagian dari kepentingan tertentu untuk mengukuhkan bahwa sejarah sastra Indonesia modern lahir sejak Balai Pustaka tegak berdiri?

Siswa-siswa sekolah dewasa ini merasa asing dengan teks-teks sastra karya para pengarang pribumi seperti Hikajat Siti Mariah (1912 ), karya Haji Moekti, Njai Permana (1912) karya RM. Tirto Adhi Soerjo, Hikajat Kadiroen (1924), karya Semaoen dan Studen Hidjo (1919) karya M.M Kartodikromo. Begitu juga karya-karya pengarang Tionghoa peranakan seperti Oey Se (1903), karya Thio Tjien Boen, Lo Fen Koei (1903) karya Gouw Peng Liang, Tjerita si Riboet (1917) karya Tam Boen Kim, Nyai Marsina (1923) karya Numa, Boenga Roos Dari Tjikembang (1927) karya Kweek Tek Hoaij, Itu Bidadari dari Rawa Pening (1929) karya Madame d’Eden Lovely dan Njai Isah (1931) karya Sie Liplap.

Roman Njai Permana berkisah perihal seorang mantri polisi berwatak serakah. Menghalalkan segala tipu muslihat untuk menguasai kepemilikan tanah pada saat rakyat sedang terpuruk dalam kemiskinan dan ancaman kelaparan. Sementara Hikajat Kadiroen, menceritakan seorang pegawai negeri (Tjitro) yang semula mengabdi pada pemerintah Belanda, lalu berhenti dari pekerjaannya dan bergabung dalam aktivitas politik sebagai bentuk perlawanan. Semaoen menunjukkan bagaimana persinggungan dengan realitas objektif menjadi muasal kesadaran kritis di kalangan menengah terpelajar (Agus Hernawan, 2004). Hasrat melawan ‘bacaan-bacaan liar’ berbeda dengan produk-produk Balai Pustaka yang mengawal para pengarangnya agar tidak kebablasan memperlihatkan watak kekuasaan kolonial. Maka, yang terbaca adalah sikap apatis dan pasrah pada nasib. Dalam banyak roman, yang tergambar hanyalah perwatakan hitam putih, ‘kebaikan’ selalu mengalahkan ‘kejahatan’. Tapi, yang ‘baik’ itu selalu tokoh kolonial atau setidaknya pro kolonial. Watak kolonial dicitrakan sebagai orang sabar, dan bijak, sementara yang ‘jahat’ selalu pribumi seperti Datuk Maringgih (tokoh zalim, tidak taat pajak dan membangkang) dalam Siti Nurbaja.

Selain pencitraan yang merendahkan sastra non Balai Pustaka, pemerintah kolonial juga memarginalkan peranan bahasa Melayu sebagai media ekspresi sastra perlawanan dengan pemisahan dikotomik antara Melayu Tinggi dan Melayu Rendah (Melayu Pasar). Bahasa Melayu tinggi adalah bahasa Melayu baku yang dikembangkan oleh guru-guru Melayu, utamanya yang bekerja di Balai Pustaka. Ditegaskan bahwa bahasa Melayu Tinggi (Melayu Balai Pustaka) inilah yang kemudian menjadi muasal Bahasa Indonesia (A.Teeuw, 1972). Sementara bahasa Melayu Pasar adalah bahasa yang berkembang di kalangan rakyat dan penerbitan swasta milik orang-orang Tionghoa peranakan (Hindia Bergerak, Sinar Hindia, Oetoesan Hindia, dan Persatoean Hindia) dan Indo Eropa sebagai ‘bukan bahasa’ dan tidak patut digunakan (Hilmal Farid, 1996). Pola pemisahan ini bertolak belakang dengan egaliterianisme dan iklusivisme bahasa Melayu. Di sini, lagi-lagi ada agenda tersembunyi yang hendak dilakukan pemerintah kolonial (melalui Balai Pustaka); memperlakukan bahasa Melayu dalam jenjang hirarkis, kasta-kasta dan derajat bertingkat-tingkat. Perumusan tata bahasa Melayu Tinggi yang dipelopori C.A Van Ophuijsen telah menempatkan peradaban tanah jajahan dalam tata pandang universalitas Barat (Ariel Heryanto, 1989). Ada gelagat hendak menguasai bahasa untuk memperkokoh dominasi dan kekuatan, language is also a medium of domination and power, kata Jurgen Habermas (1967).

Geliat sastra pinggiran ini juga dilatarbelakangi oleh corak karya sastra pengarang-pengarang Belanda yang menggambarkan masyarakat pribumi dalam image yang berderajat rendah (malas, bodoh, kampungan). Salah satunya terlihat pada kejelian G. Francis dalam Njai Dasima, seperti dicatat Saifur Rohman (2002). Nyai Dasima adalah gundik Edward (Belanda totok). Kebahagiaan mereka terusik oleh seorang pribumi berstatus kyai. Diceritakan, kyai itu berhasil membujuk Nyai Dasima agar memeluk Islam. Dengan piawai, pengarang menuturkan bahwa seorang muslimah tidak boleh bersuami orang Belanda. Maka, Nyai Dasima harus melepaskan diri dari Edward. Tapi, kyai yang kemudian menikahi Nyai Dasima (setelah lari dari Edward) ternyata berniat jahat, ingin menguasai harta Nyai Dasima. Setelah jatuh miskin, Nyai Dasima dibunuh, mayatnya dibuang ke sungai yang mengalir sampai ke belakang rumah Edward. Edward menemukan mayat Nyai Dasima yang sudah membusuk. Pribumi digambarkan secara berjarak oleh pengarang ; pembohong, licik, penipu.

Berangkat dari model penggambaran distortif ini, para pengarang pribumi (juga pengarang Tionghoa peranakan) membangun budaya tanding untuk mengembalikan dan menempatkan etos masyarakat terjajah pada ‘maqam’ yang lebih bermartabat. Di titik ini, sastra dilawan dan dipatahkan dengan sastra pula. Amat disayangkan, geliat sastra pinggiran sebagai ‘juru bicara zaman’ di saat keadaban bumiputera sedang terhimpit di bawah hegemoni kolonial dilupakan dalam sejarah sastra kita? Menghapus jejak sastra pinggiran sama saja dengan mengakui bahwa sastra Indonesia bermula sejak berdirinya Balai Pustaka yang berwatak kolonial itu…

Tuesday, January 29, 2008

Juru Masak

Cerpen DAMHURI MUHAMMAD

(Tabloid NOVA, edisi Senin, 21-27 Jan 2008)


Perhelatan bisa kacau tanpa kehadiran lelaki itu. Gulai Kambing akan terasa hambar lantaran racikan bumbu tak meresap ke dalam daging. Kuah Gulai Kentang dan Gulai Rebung bakal encer karena keliru menakar jumlah kelapa parut hingga setiap menu masakan kekurangan santan. Akibatnya, berseraklah gunjing dan cela yang mesti ditanggung tuan rumah, bukan karena kenduri kurang meriah, tidak pula karena pelaminan tempat bersandingnya pasangan pengantin tak sedap dipandang mata, tapi karena macam-macam hidangan yang tersuguh tak menggugah selera. Nasi banyak gulai melimpah, tapi helat tak bikin kenyang. Ini celakanya bila Makaji, juru masak handal itu tak dilibatkan.

Beberapa tahun lalu, pesta perkawinan Gentasari dengan Rustamadji yang digelar dengan menyembelih tigabelas ekor kambing dan berlangsung selama tiga hari, tak berjalan mulus, bahkan hampir saja batal. Keluarga mempelai pria merasa dibohongi oleh keluarga mempelai wanita yang semula sudah berjanji bahwa semua urusan masak-memasak selama kenduri berlangsung akan dipercayakan pada Makaji, juru masak nomor satu di Lareh Panjang ini. Tapi, di hari pertama perhelatan, ketika rombongan keluarga mempelai pria tiba, Gulai Kambing, Gulai Nangka, Gulai Kentang, Gulai Rebung dan aneka hidangan yang tersaji ternyata bukan masakan Makaji. Mana mungkin keluarga calon besan itu bisa dibohongi? Lidah mereka sudah sangat terbiasa dengan masakan Makaji.

“Kalau besok Gulai Nangka masih sehambar hari ini, kenduri tak usah dilanjutkan!” ancam Sutan Basabatuah, penghulu tinggi dari keluarga Rustamadji.

“Apa susahnya mendatangkan Makaji?”

“Percuma bikin helat besar-besaran bila menu yang terhidang hanya bikin malu.”

Begitulah pentingnya Makaji. Tanpa campur tangannya, kenduri terasa hambar, sehambar Gulai Kambing dan Gulai Rebung karena bumbu-bumbu tak diracik oleh tangan dingin lelaki itu. Sejak dulu, Makaji tak pernah keberatan membantu keluarga mana saja yang hendak menggelar pesta, tak peduli apakah tuan rumah hajatan itu orang terpandang yang tamunya membludak atau orang biasa yang hanya sanggup menggelar syukuran seadanya. Makaji tak pilih kasih, meski ia satu-satunya juru masak yang masih tersisa di Lareh Panjang. Di usia senja, ia masih tangguh menahan kantuk, tangannya tetap gesit meracik bumbu, masih kuat ia berjaga semalam suntuk.

***

“Separuh umur Ayah sudah habis untuk membantu setiap kenduri di kampung ini, bagaimana kalau tanggungjawab itu dibebankan pada yang lebih muda?” saran Azrial, putra sulung Makaji sewaktu ia pulang kampung enam bulan lalu.

“Mungkin sudah saatnya Ayah berhenti,”

“Belum! Akan Ayah pikul beban ini hingga tangan Ayah tak lincah lagi meracik bumbu,” balas Makaji waktu itu.

“Kalau memang masih ingin jadi juru masak, bagaimana kalau Ayah jadi juru masak di salah satu Rumah Makan milik saya di Jakarta? Saya tak ingin lagi berjauhan dengan Ayah,”


Sejenak Makaji diam mendengar tawaran Azrial. Tabiat orangtua selalu begitu, walau terasa semanis gula, tak bakal langsung direguknya, meski sepahit empedu tidak pula buru-buru dimuntahkannya, mesti matang ia menimbang. Makaji memang sudah lama menunggu ajakan seperti itu. Orangtua mana yang tak ingin berkumpul dengan anaknya di hari tua? Dan kini, gayung telah bersambut, sekali saja ia mengangguk, Azrial segera memboyongnya ke rantau, Makaji tetap akan punya kesibukan di Jakarta, ia akan jadi juru masak di Rumah Makan milik anaknya sendiri.

“Beri Ayah kesempatan satu kenduri lagi!”

“Kenduri siapa?” tanya Azrial.

“Mangkudun. Anak gadisnya baru saja dipinang orang. Sudah terlanjur Ayah sanggupi, malu kalau tiba-tiba dibatalkan,”


Merah padam muka Azrial mendengar nama itu. Siapa lagi anak gadis Mangkudun kalau bukan Renggogeni, perempuan masa lalunya. Musabab hengkangnya ia dari Lareh Panjang tidak lain adalah Renggogeni, anak perempuan tunggal babeleng itu. Siapa pula yang tak kenal Mangkudun? Di Lareh Panjang, ia dijuluki tuan tanah, hampir sepertiga wilayah kampung ini miliknya. Sejak dulu, orang-orang Lareh Panjang yang kesulitan uang selalu beres di tangannya, mereka tinggal menyebutkan sawah, ladang atau tambak ikan sebagai agunan, dengan senang hati Mangkudun akan memegang gadaian itu.

Masih segar dalam ingatan Azrial, waktu itu Renggogeni hampir tamat dari akademi perawat di kota, tak banyak orang Lareh Panjang yang bisa bersekolah tinggi seperti Renggogeni. Perempuan kuning langsat pujaan Azrial itu benar-benar akan menjadi seorang juru rawat. Sementara Azrial bukan siapa-siapa, hanya tamatan madrasah aliyah yang sehari-hari bekerja honorer sebagai sekretaris di kantor kepala desa. Ibarat emas dan loyang perbedaan mereka.

“Bahkan bila ia jadi kepala desa pun, tak sudi saya punya menantu anak juru masak!” bentak Mangkudun, dan tak lama berselang berita ini berdengung juga di kuping Azrial.

“Dia laki-laki taat, jujur, bertanggungjawab. Renggo yakin kami berjodoh,”

“Apa kau bilang? Jodoh? Saya tidak rela kau berjodoh dengan Azrial. Akan saya carikan kau jodoh yang lebih bermartabat!”

“Apa dia salah kalau ayahnya hanya juru masak?”

“Jatuh martabat keluarga kita bila laki-laki itu jadi suamimu. Paham kau?”


Derajat keluarga Azrial memang seumpama lurah tak berbatu, seperti sawah tak berpembatang, tak ada yang bisa diandalkan. Tapi tidak patut rasanya Mangkudun memandangnya dengan sebelah mata. Maka, dengan berat hati Azrial melupakan Renggogeni. Ia hengkang dari kampung, pergi membawa luka hati. Awalnya ia hanya tukang cuci piring di Rumah Makan milik seorang perantau dari Lareh Panjang yang lebih dulu mengadu untung di Jakarta. Sedikit demi sedikit dikumpulkannya modal, agar tidak selalu bergantung pada induk semang. Berkat kegigihan dan kerja keras selama bertahun-tahun, Azrial kini sudah jadi juragan, punya enam Rumah Makan dan duapuluh empat anak buah yang tiap hari sibuk melayani pelanggan. Barangkali, ada hikmahnya juga Azrial gagal mempersunting anak gadis Mangkudun. Kini, lelaki itu kerap disebut sebagai orang Lareh Panjang paling sukses di rantau. Itu sebabnya ia ingin membawa Makaji ke Jakarta. Lagi pula, sejak ibunya meninggal, ayahnya itu sendirian saja di rumah, tak ada yang merawat, adik-adiknya sudah terbang-hambur pula ke negeri orang. Meski hidup Azrial sudah berada, tapi ia masih saja membujang. Banyak yang ingin mengambilnya jadi menantu, tapi tak seorang perempuan pun yang mampu luluhkan hatinya. Mungkin Azrial masih sulit melupakan Renggogeni, atau jangan-jangan ia tak sungguh-sungguh melupakan perempuan itu.

***

Kenduri di rumah Mangkudun begitu semarak. Dua kali meriam ditembakkan ke langit, pertanda dimulainya perhelatan agung. Tak biasanya pusaka peninggalan sesepuh adat Lareh Panjang itu dikeluarkan. Bila yang menggelar kenduri bukan orang berpengaruh seperti Mangkudun, tentu tak sembarang dipertontonkan. Para tetua kampung menyiapkan pertunjukan pencak guna menyambut kedatangan mempelai pria. Para pesilat turut ambil bagian memeriahkan pesta perkawinan anak gadis orang terkaya di Lareh Panjang itu. Maklumlah, menantu Mangkudun bukan orang kebanyakan, tapi perwira muda kepolisian yang baru dua tahun bertugas, anak bungsu pensiunan tentara, orang disegani di kampung sebelah. Kabarnya, Mangkudun sudah banyak membantu laki-laki itu, sejak dari sebelum ia lulus di akademi kepolisian hingga resmi jadi perwira muda. Ada yang bergunjing, perjodohan itu terjadi karena keluarga pengantin pria hendak membalas jasa yang dilakukan Mangkudun di masa lalu. Aih, perkawinan atas dasar hutang budi.

Mangkudun benar-benar menepati janji pada Renggogeni, bahwa ia akan carikan jodoh yang sepadan dengan anak gadisnya itu, yang jauh lebih bermartabat. Tengoklah, Renggogeni kini tengah bersanding dengan Yusnaldi, perwira muda polisi yang bila tidak ‘macam-macam’ tentu karirnya lekas menanjak. Duh, betapa beruntungnya keluarga besar Mangkudun. Tapi, pesta yang digelar dengan menyembelih tiga ekor kerbau jantan dan tujuh ekor kambing itu tak begitu ramai dikunjungi. Orang-orang Lareh Panjang hanya datang di hari pertama, sekedar menyaksikan benda-benda pusaka adat yang dikeluarkan untuk menyemarakkan kenduri, setelah itu mereka berbalik meninggalkan helat, bahkan ada yang belum sempat mencicipi hidangan tapi sudah tergesa pulang.

“Gulai Kambingnya tak ada rasa,” bisik seorang tamu.

“Kuah Gulai Rebungnya encer seperti kuah sayur Toge. Kembung perut kami dibuatnya,”

“Dagingnya keras, tidak kempuh. Bisa rontok gigi awak dibuatnya,”

“Masakannya tak mengeyangkan, tak mengundang selera.”

“Pasti juru masaknya bukan Makaji!”


Makin ke ujung, kenduri makin sepi. Rombongan pengantar mempelai pria diam-diam juga kecewa pada tuan rumah, karena mereka hanya dijamu dengan menu masakan yang asal-asalan, kurang bumbu, kuah encer dan daging yang tak kempuh. Padahal mereka bersemangat datang karena pesta perkawinan di Lareh Panjang punya keistimewaan tersendiri, dan keistimewaan itu ada pada rasa masakan hasil olah tangan juru masak nomor satu. Siapa lagi kalau bukan Makaji?

“Kenapa Makaji tidak turun tangan dalam kenduri sepenting ini?” begitu mereka bertanya-tanya.

“Sia-sia saja kenduri ini bila bukan Makaji yang meracik bumbu,”

“Ah, menyesal kami datang ke pesta ini!”

***

Dua hari sebelum kenduri berlangsung, Azrial, anak laki-laki Makaji, datang dari Jakarta. Ia pulang untuk menjemput Makaji. Kini, juru masak itu sudah berada di Jakarta, mungkin tak akan kembali, sebab ia akan menghabiskan hari tua di dekat anaknya. Orang-orang Lareh Panjang telah kehilangan juru masak handal yang pernah ada di kampung itu. Kabar kepergian Makaji sampai juga ke telinga pengantin baru Renggogeni. Perempuan itu dapat membayangkan betapa terpiuh-piuhnya perasaan Azrial setelah mendengar kabar kekasih pujaannya telah dipersunting lelaki lain.

Kelapa Dua, 2007

Thursday, January 17, 2008



Citra Mendua
Janda Calon Arang




Oleh : DAMHURI MUHAMMAD

(GATRA, edisi Kamis, 10-16 Januari 2008)

Sebuah cerita, betapapun fiktifnya ternyata mampu mendedahkan pencitraan buruk yang bahkan tak lekang dihantam jaman. Tengoklah cerita Calon Arang yang sudah berbilang kurun menikam jejak pencitraan perihal seorang pandita perempuan pemuja Dewi Durga, kemudian berubah jadi bengis dan sadis. Ia menyalahgunakan kesaktiannya untuk menzalimi orang-orang tak berdosa. Riwayat mencatat, Calon Arang murka lantaran tidak seorang lelaki pun yang tertarik meminang Ratna Manggali, putri kesayangannya. Itu sebabnya, ia memohon kesediaan Dewi Durga untuk menyebarkan wabah penyakit mematikan di seluruh penjuru wilayah Daha (ibukota kerajaan Kediri) yang kala itu dipimpin Airlangga. Calon Arang punya banyak murid yang kedigdayaan mereka sudah menjadi cerita turun temurun. Disebut-sebut, ia dan murid-muridnya kerap melakukan tirakat ; berkeramas dengan darah manusia. Inilah salah satu versi cerita Calon Arang yang berkembang di Jawa. Purbatjaraka menerjemahkannya ke dalam bahasa Belanda, kemudian dimacapatkan (dilagukan) oleh Raden Wiradat dan diterbitkan Balai Pustaka pada 1931. Versi lain cerita Calon Arang berkembang di Bali. Pramoedya Ananta Toer (1954) membenarkan bahwa ada sedikit perbedaan di antara kedua versi cerita itu, namun katanya, tak perlu dipanjanglebarkan.

Meski tidak sepatah katapun menyebut nama Calon Arang, Janda dari Jirah, novel terbaru Cok Sawitri ini dapat disambut sebagai satu serpihan cerita Calon Arang yang berserakan di Bali. Lebih jauh, buku ini dapat dimaklumi sebagai cerita tandingan terhadap Calon Arang versi Jawa yang terlalu sarkastis menggambarkan watak jahat janda dari Jirah itu, padahal di Bali hingga hari ini, cerita Calon Arang masih menjadi rujukan dalam ritual ruwatan. Maka selayaknya, novel ini bukan sekedar membenarkan adanya ‘sedikit’ perbedaan antara Calon Arang versi Jawa dan versi Bali, tapi hendak memaklumatkan bahwa perbedaan itu amat mencolok, bahkan saling bertolak belakang. Bila naskah-naskah kuno di Jawa menggambarkan Calon Arang sebagai penyihir jahat yang telah menelan banyak korban, Cok Sawitri malah membangun pencitraan Calon Arang sebagai perempuan suci yang sangat dihormati. Saking sucinya, pejabat istana tidak berani menginjakkan kaki di tanah Kabikuan Jirah, tempat tinggal Rangda Ing Jirah (begitu novel ini menyebutnya). Mereka takut melanggar tatakrama Kabikuan Jirah yang dijaga oleh sang Ibu Kebajikan (begitu Calon Arang dijuluki). Barangsiapa melanggar, akibatnya sangat berbahaya, masa kecermelangan Kediri bisa padam seketika. Para pengikut ajaran Rangda Ing Jirah menjalani laku asketik, menjauhi urusan duniawi, lebih-lebih perkara politik.

Cerita bermula tatkala di istana Kediri sedang terjadi perseteruan diam-diam antara pendukung Airlangga dengan para pejabat yang ingin membangkitkan kembali kejayaan wangsa Isana setelah mengalami kehancuran. Airlangga (putra sulung Udayana yang datang dari Bali) tidak disukai karena ia hanyalah menantu Dharmmawangsa Tguh, tak pantas menggenggam tahta, sebab tidak berasal dari wangsa Isana. Semula Rangda Ing Jirah tidak mau terlibat ‘perang dingin’ itu, tapi Mpu Narotama, pengawal Airlangga kerap datang menemuinya di Kabikuan Jirah. Narotama kerap minta nasehat perihal niat Airlangga yang akan menobatkan anak perempuannya sebagai putri mahkota. Karena itu, Rangda Ing Jirah merasa perlu mengurai silsilah wangsa Isana jauh sebelum Airlangga berkuasa. Ia juga menjelaskan sebab-musabab kenapa orang-orang Kabikuan Jirah dari masa ke masa nyaris tak tersentuh kewajiban membayar upeti. Percakapan kedua orang ini menjadi pintu masuk untuk menyingkap wajah baru Calon Arang. Sekali waktu Rangda Ing Jirah berkisah pada Narotama ; di suatu masa seusai melakukan sembah di tempat pemujaan Brahma, sepasang suami-istri lupa membawa tempayan air suci mereka. Keesokan hari, dari tempayan air itu lahir seorang bayi perempuan, bayi itu adalah Rangda Ing Jirah. Penggalan riwayat ini kerap dirujuk untuk menjelaskan ontologi penciptaan manusia dalam ajaran Budha Tantra. Air simbol kebajikan, maka Calon Arang adalah Ibu Kebajikan (muasal segala kebaikan), bukan Ibu Kejahatan sebagaimana ditemukan dalam teks-teks kuno di Jawa.

Sama sekali tidak ada dendam-kusumat, apalagi permusuhan antara Airlangga dan Rangda Ing Jirah. Buku ini juga tidak menyebut-nyebut tirakat keramas darah Calon Arang sebagai syarat terkabulnya teluh seperti yang ditulis Pramoedya Ananta Toer dalam Cerita Calon Arang (1999). Alih-alih menyebarkan wabah penyakit di wilayah kekuasaan Airlangga, orang-orang Kabikuan Jirah malah membina masyarakat Dusun Buangan, mengajarkan mereka bertani dan berladang hingga dusun itu jadi makmur karena hasil pertanian. Kalaupun ada permusuhan, Airlangga yang justru mencurigai gerak-gerik Rangda Ing Jirah. Ia menyimpan sak wasangka bahwa kelak orang-orang Kabikuan Jirah bisa saja bersekutu dengan orang-orang Wura-wuri yang kabarnya sedang merencanakan sebuah pemberontakan.

Sebelum Bahula melamar Ratna Manggali, memang tidak ada yang berminat mempersunting putri Rangda Ing Jirah itu. Tapi pinangan itu atas kemauan Bahula sendiri, bukan karena siasat Mpu Bharadah (guru Bahula) untuk mencuri kitab, sumber kesaktian Calon Arang sebagaimana cerita yang jamak terdengar. Dalam teks ini, Mpu Bharadah bukan orang asing, penasehat istana itu adalah kakak seperguruan Rangda Ing Jirah, dan mereka tidak pernah bermusuhan.

Tapi, terasa janggal ketika pengarang mengungkit-ungkit sikap bijak Rangda Ing Jirah membesarkan seorang bayi dan menyembunyikan harta pusaka peninggalan wangsa Isana. Kelak bayi itu diperkenalkan sebagai Samarawijaya, cucu Dharmmawangsa Tguh, orang yang paling berhak mewarisi tahta kerajaan Kediri. Setelah ia beranjak dewasa, Rangda Ing Jirah menyerahkan sejumlah daerah binaannya pada Samarawijaya, luasnya hampir separuh wilayah kekuasaan Airlangga. Inilah muasal pecahnya kekuasaan Airlangga menjadi Kediri dan Jenggala. Tanpa pasukan, tanpa pertumpahan darah, Rangda Ing Jirah berhasil menobatkan Samarawijaya menjadi raja. Tapi, bukankah ini urusan politik yang sejak mula hendak dijauhi oleh tatakarama Kabikuan Jirah? Tidakkah perkara duniawi ini akan menodai kesucian ajaran Rangda In Jirah? Ah, barangkali Calon Arang memang tak sungguh-sungguh suci. Pembaca akan bimbang memosisikan ketokohan Calon Arang, apakah ia layak disebut pahlawan ataukah musuh dalam selimut? Tapi jangan lupa, ini teks sastra, bukan buku sejarah! Sudah sepatutnya buku ini membuka kemungkinan tafsir ganda.

Novel ini juga mencantumkan kisah usang tentang Uma (nama lain Dewi Durga) yang diusir ke bumi oleh Siwa (suaminya), karena sebuah kesalahan. Semula Uma turun dengan kecantikan yang sempurna, kemudian menjelma raksasa yang menakutkan. Di sebuah kuburan, Uma bertemu Kalika (raksasa yang wajahnya mirip dengan Uma). Keduanya terlibat perkelahian hebat, hingga Brahma datang mendamaikan. Uma dan Kalika akhirnya dibimbing Brahma, lalu berubah wujud menjadi dua perempuan cantik dan dipercaya menjadi juru tulis Brahma. Menimbang kisah ini, boleh jadi Dewi Durga yang dipuja Calon Arang versi Jawa adalah Kalika, bukan Dewi Durga sebenarnya. Bila yang dipuja Calon Arang adalah Dewi Durga yang sesungguhnya, tentu ia tak bakal berkeramas dengan darah manusia.




DATA BUKU

Judul : Janda dari Jirah
Penulis : Cok Sawitri
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan : I, Juni 2007
Tebal : 187 halaman