Search This Blog

Thursday, October 22, 2009

Dari Gontor ke Trafalgar Square...


Oleh : DAMHURI MUHAMMAD

Jawa Pos, Minggu 18/10/2009




BEBERAPA bulan lalu sebuah media melansir kabar perihal sinisme seorang pejabat—di lingkungan Pemprov Sumbar—terhadap etos kepengarangan novelis-novelis asal Minang yang katanya sedang merosot, sehingga mereka tidak mampu melahirkan karya-karya besar seperti "Laskar Pelangi", novel yang bisa membuat Belitong—kampung asal pengarangnya—tersohor hingga ke pelosok-pelosok. Ekspektasi petinggi itu terhadap “novel bermutu” dari para pengarang Minang dapat memicu sejumlah pertanyaan, misalnya, apa kriteria “karya besar” itu? Apakah novel yang berhasil menangguk apresiasi ratusan ribu pembaca, sehingga latar demografi dan geografi—sandaran kisahnya—menjadi termasyhur, dengan serta-merta dapat dinobatkan sebagai karya besar? Kalau begitu apa bedanya teks sastra dengan teks-teks dalam brosur-brosur yang diiklankan oleh biro perjalanan wisata? Bagaimana dengan novel yang sengaja menyamarkan latar tempatan? Apakah novel itu mustahil terkukuhkan sebagai karya besar?

Selain “karya besar” yang ditakar dengan ketersohoran latar tempatannya di kemudian hari, ada pula yang menimbang keberhasilan novel dari sisi “memotivasi” atau “tidak-memotivasi” pembaca. Kalau begitu, apa bedanya novel dengan buku-buku berjenis how to? Bagaimana kalau sebuah novel tidak berpretensi mempromosikan latar tempatan dan tidak berkecenderungan memotivasi pembacanya? Apakah novel itu tidak memenuhi “syarat-rukun” kenovelan, dan tak patut dikukuhkan sebagai buku bermutu? Inilah sejumlah kegamangan yang muncul akibat dominasi pendekatan non-artistik terhadap kreativitas literer. Akibatnya, unsur-unsur estetik dan artistik menjadi terabaikan lantaran pengalaman baca hanya sampai pada pencapaian pesan-pesan etik dan didaktik.

"Negeri 5 Menara", novel karya A. Fuadi ini memperlihatkan betapa dominannya parameter non-artistik dalam menentukan kualitas dan kedalaman sebuah karya sastra. Sampul belakang buku ini sarat dengan endorsement yang ditulis oleh nama-nama beken, dari mantan presiden, sutradara tersohor, gubernur, budayawan, intelektual hingga pimpinan pesantren. Hampir semua komentar itu menyingkapkan segi-segi etik dan didaktik dari novel setebal 416 halaman ini. Tak satupun ulasan dari sudut pandang estetika sastrawi. Apakah segi-segi estetik dan artistik yang sepatutnya menjadi kriteri utama dalam menimbang sebuah karya sastra tidak lagi penting?

Berkisah tentang upaya keras enam orang santri di sebuah pondok pesantren dalam menggapai obsesi dan cita-cita besar mereka. Setelah menghadapi kegiatan belajar-mengajar yang sedemikian padat dan aturan-aturan kedisiplinan ekstra ketat di Pondok Madani (PM), Alif (Padang), Atang (Bandung), Raja (Medan), Dulmajid (Sumenep) Said (Mojokerto) dan Baso (Gowa), bersembunyi di bawah menara masjid PM, membangun mimpi-mimpi masa depan dengan mantra ampuh yang sama-sama mereka percayai; man jadda wajada (siapa yang bersungguh pasti akan sukses). Alif tidak pernah mengira bahwa ia akan jadi santri PM yang disebut-sebut telah mencetak banyak ulama dan intelektual muslim itu. Sebab, sejak kecil ia ingin menjadi “habibie”. Baginya, Habibie tidak dalam arti seorang teknokrat jenius, tapi sebuah profesi sendiri, lantaran ia sangat kagum pada tokoh itu. Itu sebabnya Alif ingin masuk SMA, dan kelak akan melanjutkan pendidikannya ke ITB, sebagaimana riwayat perjalanan intelektual Habibie. Namun, ibunda Alif menginginkan anaknya mewarisi keulamaan Buya Hamka, ulama kondang yang lahir dan besar tidak jauh dari Bayur, tanah kelahiran Alif. Maka, dalam kebimbangan Alif menerima tawaran itu, hingga ia bertemu dengan santri-santri berkemauan keras seperti Baso yang mati-matian menghafal 30 juzz Qur’an sebagai syarat guna menggapai impiannya bersekolah di Madinah. Begitu juga dengan Raja, Dulmajid, Said, dan Atang.

Hanya beberapa bulan waktu berbicara dengan bahasa Indonesia bagi santri-santri baru di PM, setelah itu mereka wajib berbicara dalam bahasa Arab atau bahasa Inggris. Bila aturan dilanggar, ganjarannya tidak main-main, bila tidak digunduli, sekurang-kurangnya bakal dapat jeweran berantai. Bahkan bila pelanggarannya berat, santri bisa dipulangkan. Saking kerasnya kemauan para sahibul-menara untuk menguasai percakapan dalam kedua bahasa asing itu, gigaun dalam tidur mereka pun terungkapkan dalam bahasa Arab. Berkali-kali mereka tertangkap basah melanggar aturan, terlambat datang ke masjid—lantaran matanya yang sukar diajak kompromi—atau ketahuan berbicara dalam bahasa Indonesia, berkali-kali pula mereka harus menghadap ke "Qism Al-amni" (bagian keamanan pondok), diganjar hukuman dengan menjadi "jasus" (mata-mata bagi santri yang melakukan pelanggaran).

Dengan deskripsi ruang yang nyaris sempurna, A Fuadi berhasil memetakan seluk-beluk dunia pesantren modern yang selama ini hanya menjadi cerita dari mulut ke mulut. Pahit dan getir, riang dan gamang kaum santri dengan humor khas pesantren ditandaskannya dengan modus pengisahan yang menakjubkan. Tengoklah pelbagai alasan yang sengaja dirancang sahibul-menara agar mereka beroleh ijin keluar PM, bersepeda mengelilingi kota Ponorogo, dan tak lupa melintas di pintu gerbang pesantren puteri, sekadar “nampang”. Begitu pula dengan siasat Dulmajid memengaruhi ustadz Torik agar beroleh ijin nonton bareng pertandingan final bulutangkis di lingkungan PM, padahal "Qanun" (aturan pondok) menegaskan, santri PM dilarang menonton TV. “Ustad, lob antum itu mirip sekali dengan punya Icuk dan smes antum mirip Liem Swie King. Kalau nggak percaya kita tonton siaran langsung besok malam.” Ustad Torik langsung takluk, dan terjadilah peristiwa bersejarah itu: TV masuk PM. Satirisme macam ini mengingatkan kita pada kolom Emha Ainun Nadjib, "Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai" (1994) tentang seorang kiai pesantren yang bersikukuh melarang murid-muridnya mendengar lagu dangdut, tapi begitu alunan lagu yang mendayu-dayu itu sayup-sayup terdengar, di bawah meja, ujung kaki kiai bergoyang-goyang ritmik secara spontan.

Lewat satirisme khas kaum santri inilah segi-segi estetik novel ini dapat ditandai, hingga martabat kenovelannya tidak semata-mata ditakar dengan nilai didaktik dan etiknya saja. Bukankah jalan sastra adalah ikhtiar merancang sebuah alegori dari pelbagai realitas faktual yang menjadi panggilan penciptaan pengarangnya? Maka, kerja pemaknaan terhadap teks novel tak segampang sebagaimana yang dilakukan para komentator novel ini. Bahwa kemudian ditemukan tendensi-tendensi didaktik, itu kenyataan yang tak bisa dielakkan, karena setiap pembaca berhak menafsirkannya sesuai dengan kepentingan masing-masing. Pelbagai istilah yang dewasa ini berhamburan di bursa penjualan buku sastra seperti “novel pembangunan jiwa”, “novel spritual”, “novel motivasi”, termasuk “novel yang terinspirasi kisah nyata” sebagaimana termaktub di sampul depan Negeri 5 Menara ini, alih-alih dapat menjembatani novel ini dengan penikmatnya, justru akan mendistorsi estetika kenovelannya.

Tak dipungkiri bahwa di sebalik kisah yang digarap A. Fuadi dalam buku ini, ada pengalaman empirik, katakanlah semacam fakta-fakta keras semasa pengarang mondok di Gontor yang menjadi muasal pengisahannya. Tapi, dalam kerja kepengarangan, fakta-fakta keras itu digiling sehalus-halusnya oleh imajinasi, sehingga tidak bisa lagi dilihat dengan kaca mata hitam-putih, tidak bisa diukur secara positivistik. “Imajinasi” di sini bukan dalam pemahaman yang menyehari. Filsuf Arab, Al-Farabi (850-950) dalam kitabnya Ara’ Ahl Madinah Wa Al-Fadhilah menyebutnya "Quwwatul Muttakhilah", semacam potensi dalam subyek, yang berpijak pada pengalaman empirik dan penalaran (reasoning), sehingga ia sangat berbeda dengan “fantasi”—yang tidak perlu berangkat dari pengalaman inderawi, apalagi penalaran. Dalam epistemologi Al-Farabi, “imajinasi” dalam batas-batas tertentu bahkan dapat melampaui pencapaian akal-budi dan pengalaman empirik itu sendiri.

Maka, dunia imajiner dalam Negeri 5 Menara, bukan lagi semata-mata dunia A Fuadi dan sejawat-sejawatnya semasa di Gontor. Kisah yang disudahi pengarang dengan reuni bersejarah di Trafalgar Square, London— setelah 15 tahun masa-masa sulit di PM berlalu—telah terdedahkan sebagai ruang fiksional dengan segenap kemungkinan tak terduga yang menyertainya. Bukankah Alif (Washington DC), Atang (Kairo) dan Raja (London) yang bertemu pada sebuah konfrensi di London tidak pernah terbayangkan sebelumnya? Mereka tak pernah menyangka para sahibul-menara bakal mengenggam impian masing-masing. Yang mereka tahu hanya "man jadda wajada", siapa bersungguh-sungguh, bakal sukses. Dulu memendam gamang di bawah menara masjid PM, kini girang-gemirang di bawah menara Trafalgar Square, London. Dulu menjual mengkudu, kini berdagang durian, dulu tidak laku, kini jadi rebutan...


DATA BUKU :

Judul : Negeri 5 Menara
Penulis : A.Fuadi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan : I, Juli 2009
Tebal : 416 halaman

Friday, August 07, 2009

ROMANTIKA PASCA-ENAM LIMA

Oleh: DAMHURI MUHAMMAD

(Kompas, Minggu 02/08/2009)

BILA watak kepengarangan ditinjau berdasarkan ranah tematik yang dijelajahi seorang sastrawan, maka luka dan nestapa para eks-tapol pasca-1965 begitu identik dengan prosa-prosa karya Martin Aleida. Sukar disanggah jika dikatakan bahwa rupa-rupa peristiwa tragis-traumatis yang ditanggung para pewaris “dosa turunan”—lantaran stigma PKI—adalah “kampung halaman” kepengarangan mantan aktivis termuda LEKRA itu, sejak dari kumpulan cerpen "Malam Kelabu, Ilyana dan Aku" (1998), novelet "Layang-Layang Itu Tak Lagi Mengepak Tinggi-tinggi" (2000), hingga kumpulan cerpen "Leontin Dewangga" (2003). Sastrawan yang dijuluki sebagai penggerak “sastra kesaksian” itu tampak sukar untuk beranjak dari medan tempuh yang itu-itu juga. Disingkapnya setiap pintu, disiginya setiap ruang, disibaknya setiap tabir.

Demikian pula dengan konstruksi realitas yang terbangun dalam kumpulan cerpen, "Mati Baik-Baik, Kawan" (2009). Meski dimaksudkan sebagai antologi baru, namun dari segi materi cerpen, mungkin lebih patut disambut sebagai “barang lama stok baru”. Dari sembilan cerpen dalam buku itu, masih ada "Leontin Dewangga", "Ode Untuk Selembar KTP" dan "Malam Kelabu" yang sudah pernah terbit sebelumnya. Begitupun "Dendang Perempuan Pendendam"—pernah terbit tahun 2007—dan "Bertungkus Lumus", yang masuk dalam antologi cerpen TITIAN (2008). Kalaupun ada kebaruan, mungkin bukan pada aspek kandungan cerpen, tapi dari payung tematik yang dengan ketat membuhul semua cerpen, yakni serba-serbi pengalaman traumatik pasca-1965.

Asvi Warman Adam (2004) pernah menimbang cerpen-cerpen Martin sebagai upaya mengejek dan menertawakan nasib orang-orang yang tergetahi stigma PKI. Bila bagi orang-orang beriman, jodoh, rejeki, dan mati, ada di tangan Tuhan, bagi mereka yang diduga terlibat G30S/PKI, ada yang jauh lebih berkuasa. Peruntungan mereka lebih ditentukan oleh stigma PKI itu. Perjodohan bisa batal bila seseorang ketahuan berasal dari keturunan keluarga PKI—meski ia tidak tahu-menahu soal komunisme dan tidak pernah meminta untuk dilahirkan sebagai anak PKI. Bagi Asvi, di titik inilah upaya perlawanan cerpen-cerpen Martin Aleida dapat ditandai. Lebih jauh, Katrin Bandel (2009)—sebagaimana tertera pada catatan penutup buku itu—menegaskan, “tampak jelas Martin bukan sekadar ingin menceritakan peristiwa 65 dari perspektif yang berbeda, ia juga punya misi untuk melawan pemalsuan sejarah.” Cara menimbang yang agak berlebihan dalam konteks pembacaan teks sastra. Sekadar geliat perlawanan tentu tak disangsikan, tapi cukup berdayakah teks sastra disetarakan dengan konsep historiografi tertentu? Sejarah dipancangkan atas dasar kepastian epistemologis (benar-salah, terjadi atau tak-terjadi) sementara teks sastra digubah atas dasar pencapaian estetika sastrawi. Sejarah adalah “dunia sesungguhnya”, sebaliknya sastra adalah “dunia seandainya”. Lalu, di titik manakah napas perlawanan itu bisa tertandai?

Maka, sudah waktunya semesta cerita dalam cerpen-cerpen Martin Aleida diselami lebih dalam, agar pembaca tidak buru-buru pada fakta yang memang sengaja dimunculkan, dan tidak lupa bahwa cerpen adalah sebuah karya seni yang dibangun dengan keterampilan artistik, yang tentu tidak hanya berdiri sebagai juru bicara “sejarah versi baru” sebagaimana diharapkan. Salah satu sisi yang kerap terabaikan—bila tidak bisa disebut ‘sengaja dilupakan’—adalah bahwa kerja pembacaan tidak pernah lepas dari konteks ruang-waktu yang menyertainya, sehingga pengulangan demi pengulangan tidak menjadi sebuah kesalahan. Akan selalu ada yang “baharu” di setiap fase pembacaan, lantaran ruang-waktu yang terlibat di dalamnya.

Dipastikan ada perbedaan persepsi yang signifikan antara pengalaman baca terhadap cerpen "Malam Kelabu" lima tahun lalu dengan pengalaman baca terhadap cerpen yang sama di tahun ini. Boleh jadi, mainstream-nya bukan lagi peristiwa amuk massa yang membakar rumah Partini lantaran keluarga itu menyembunyikan gembong PKI—hingga Partini, Ibu dan adik-adiknya tewas dalam kebakaran itu—tapi beralih pada gejolak asmara Kamaluddin Armada yang jauh-jauh datang dari Jakarta ke desa Soroyudan—seberang sungai Bengawan Solo—guna melamar Partini, kekasih pujaannya. Sejak mula, tiada sesuatu yang disembunyikan Partini. Pada Kamaluddin, ia mengakui bahwa ayahnya (Mulyoraharjo), mantan gembong PKI yang semasa berkuasa sangat ditakuti, ia pembela setia Barisan Tani Indonesia (BTI) dalam aksi-aksi pencaplokan tanah. Kamaluddin juga tahu bahwa calon mertuanya itu menghilang dan tak pernah kembali setelah gestapu. Tapi, kejujuran Partini tidak meredupkan gairah cinta Kamaluddin. Dengan segenap rindu yang membuncah ia datang ke Solo, hendak mempersunting anak gadis gembong PKI itu. Sejauh-jauh matamu memandang, yang tampak hanya sawah. Sawah semata.Dan lihatlah ke kanan Mas, inilah desa di mana adikmu menunggu, Soroyudan, begitu bunyi surat Partini yang menjadi petunjuk jalan bagi Kamaluddin. Inilah romantika tak biasa yang digarap Martin guna melawan stigma PKI. Atas nama cinta, diterabasnya segala pantangan, dilangkahinya segala tabu, termasuk tabu menikahi anak PKI. Realitas ini bertolak belakang dengan tinjauan Asvi Warman Adam—karena stigma PKI perjodohan bisa batal. Di cerpen Malam Kelabu ini, jangankan anak PKI, bahkan bila Partini “anak-jadah” sekalipun, Kamaluddin tiada bakal berpaling ke lain hati. Tengoklah, begitu kematian Partini terpastikan, ia bunuh-diri, menyusul kekasihnya. Dan, kematian itu dipastikan tak ada hubungannya peristiwa-peristiwa berdarah pasca-65. Ia mati demi cintanya pada Partini. Tragedi yang tak kalah lebih menyakitkan dari kematian orang-orang eks PKI yang satu persatu “dijemput malam” selepas peristiwa gestapu.

Romantika serupa juga muncul di "Leontin Dewangga", khususnya kisah cinta Abdullah Peureulak dan Dewangga, dua sejoli yang justru dipertemukan oleh silang-sengkarut peristiwa 65. Setelah bertahun-tahun hidup sebagai pasangan suami-istri Abdullah akhirnya mengaku telah mengkhianati Dewangga, bahwa sebelum menikahi perempuan itu, ia bukan “lelaki baik-baik” tapi mantan tapol yang dimusuhi banyak orang dan hidup menggelandang demi menghindari kejaran. Dewangga yang saat itu sedang bertarung melawan kanker stadium akhir bukannya kecewa dan berpaling, tapi makin teguh memercayai bahwa Abdullah sungguh-sungguh telah memartabatkan ia sebagai perempuan. Pada detik-detik terakhir sebelum kematiannya, Dewangga merenggut Leontin yang melingkar di lehernya, lalu diberikannya pada suaminya. Abdullah terperangah melihat simbol bulan sabit merah dari sebuah katup yang ia buka pada Leontin itu, lambang gerakan tani yang melancarkan aksi sepihak guna melaksanakan Undang-Undang Pokok Agraria. Dewangga menerima hadiah Leontin itu dari ayahnya sewaktu ia berusia 17 tahun. Sejak 1965, ayah Dewangga tak pernah pulang, persisnya setelah seorang algojo datang menjemputnya. Maka, nasib Dewangga tak jauh beda dengan ketakmujuran Abdullah, perempuan itu juga pernah ditahan, ia bebas setelah merelakan tubuhnya ditiduri oleh seorang komandan militer. Setali tiga uang dengan Kamaluddin-Partini, Abdullah-Dewangga, dua sejoli yang sehidup-semati, meski kedua pasangan itu sama-sama tak mampu melarikan diri dari stigma PKI yang telah menelan banyak korban tak berdosa. Tapi, tabu setangguh apapun, tiada bakal berkutik di hadapan cinta sejati.

Seandainya tabu lantaran stigma PKI sebagaimana tampak pada romantika Malam Kelabu dan Leontin Dewangga dialih-rupa dengan tabu-tabu subversif lainnya, kisah tetap akan berdiri sebagai peristiwa yang mandiri, tanpa harus bergantung pada fakta-fakta yang selalu dimunculkan. Inilah yang disebut Willem G. Weststeijn (terj Akhadiati Ikram, 1991) sebagai kisah yang “memiliki dunianya sendiri”, sehingga pembaca tidak perlu mencari rujukan-rujukan faktualnya. Dengan begitu, cerpen-cerpen Martin Aleida tidak perlu pula dicurigai mengusung tendensi tertentu. “Kisah yang memiliki dunianya sendiri” pada "Malam Kelabu", "Leontin Dewangga", "Bertungkus Lumus" dapat disebut sebagai Romantika Pasca-65…

Thursday, July 23, 2009

Optimisme Dalam Prosa Betawi

Oleh: DAMHURI MUHAMMAD

(Kompas, 18/07/09)

KHAZANAH Betawi yang terhidang dalam prosa tidak lepas dari peran kepengarangan SM Ardan (1932-2006) sebagaimana terlihat dalam bukunya "Terang Bulan Terang Di Kali" (1955)—dicetak-ulang oleh Masup Jakarta (2007). HB Jassin (1954) mencatat, karya-karya Ardan sangat membantu ahli ilmu bahasa, ilmu bangsa-bangsa dan kemasyarakatan dalam penelitian tentang Jakarta. Dialek lahir, tumbuh dan mati. Adat dan kebiasaan muncul, berubah, dan hilang. Begitu pula permainan anak-anak Betawi yang lahir, tumbuh, sirna. Amat besar jasa Ardan dalam mendokumentasikannya. Menurut Ajip Rosidi (2007), istilah “cerita” pada antologi cerita pendek SM Ardan itu kurang tepat, karena (kecuali satu-dua cerpen) tidak ada ceritanya sama sekali. Periksalah Pulang Pesta, Pulang Siang, atau Bang Senan Mau ke Mekah, tidak menjalin cerita, hingga yang terasa hanya “suasana”. Kalaupun ada cerpennya yang mengandung “cerita”, bagi Ajip, cerita itu tidak seru, menyehari, gampang dijumpai dalam keseharian orang-orang kecil Jakarta masa itu. Tapi, justru di sinilah keistimewaan Ardan. Boejoeng Saleh (1955)—dikutip JJ.Rizal (2007)—mencatat, ibarat seorang kameramen, Ardan punya lensa tajam. Ia tak hanya memotret realitas eksotik-romantik, tapi juga realistik; kenyataan yang sepahit-pahitnya.

Bila pengalaman baca terhadap karya-karya Aman Dt. Majoindo (1896-1969), M. Balfas (1921-1975), Firman Muntaco, hingga SM. Ardan, menimbulkan kesan: “Ternyata orang Betawi seperti itu ya,” maka prosa-prosa berlatar Betawi garapan para pengarang masa kini mendedahkan sebentuk keheranan: “Ternyata orang Betawi kini sudah banyak berubah, tidak seperti Betawi yang dulu.” Tengoklah "Rumah Kawin" (2004) antologi cerpen Zen Hae, "Sebelas Colen di Malam Lebaran" (2008) karya C.G Ramadhan, "Rosid dan Delia" (2008) novel karya Ben Sohib, dan yang paling mutakhir, "Kronik Betawi" (2009) karya Ratih Kumala. Resistensi masyarakat Betawi terhadap modernisasi Jakarta yang semakin mengaburkan—bila tidak bisa disebut menggerus—identitas dan kejatidirian mereka, ditampakkan oleh karya-karya pengarang muda itu.

Zen Hae dalam "Kelewang Batu" misalnya, melakukan demitologisasi kisah usang tentang para pemburu mustika api milik naga raksasa yang konon diberkati dewa-dewa sebagai penguasa jazirah selatan selama 2882 purnama. Maka, pertarungan hebat tak terhindarkan, hingga naga itu tumbang. Selepas pertarungan itu, danau kering, tanah tempat matinya naga itu menjadi sebuah kampung yang kelak disebut Kampung Naga. Bekas-bekas jejak naga menjelma sungai yang kelak dikenal “Kali Bangkai”. Penduduk setempat menyebutnya Kali Bangke, dan keturunann berikutnya melafalkannya; Kali Angke. Begitu salah satu versi riwayat Kali Angke yang kini telah dilupakan, karena itu perlu dibangkitkan kembali. Modus pengisahan serupa terjadi pula pada Hikayat Siti Rahima, bertolak dari mitos sebagai medium guna menyuarakan sikap kritis orang Betawi terhadap gairah hedonisme Jakarta yang nyaris tak terbendung itu, tentang sebuah pohon keramat yang ditunggui arwah perempuan terkutuk akibat bunting di luar nikah. Sebagaimana cerita-cerita tentang pohon anker, siapa nekat menebangnya, fatal akibatnya. Tapi karena tamak dan kemaruk, pohon keramat “diembat” juga.

Tidak banyak warga Jakarta yang tahu bahwa dulu, di salah satu belahan kota itu, orang Belanda pernah membangun sebuah rumah mewah dengan ukiran-ukiran Jawa dan lukisan-lukisan ala Eropa. Pemilik rumah itu menyebutnya “pondog”, dan karena ukurannya besar sekali—sementara rumah-rumah di sekitarnya rata-rata berukuran kecil—orang menyebutnya “pondog gede”. Begitu riwayat singkat perihal sebuah nama daerah yang kini dikenal sebagai Pondok Gede. Para pendatang hanya tahu “menteng” sebagai kawasan gedongan, hunian orang-orang “tajir” dan berada , padahal “menteng” sejatinya adalah nama buah. Begitu pula “bintaro” yang sesungguhnya adalah nama pohon. Seiring dengan semakin menterengnya wajah Jakarta, tak hanya khazanah tanaman itu yang terlupakan, sejarah, kearifan dan memori kolektif tentang Jakarta juga tenggelam dalam hingar-bingar panggung kosmopolitanisme. Suasana nostalgik—sekaligus ironik—semacam ini tergambar dalam novel "Kronik Betawi" (2009), karya Ratih Kumala, yang secara terang-benderang memperlihatkan wajah Jakarta sebagai ironi. Betapa tidak ironis bila orang asli Jakarta terlambat menyadari bahwa tugu monas yang tersohor itu ternyata tidak lagi menjadi bangunan tertinggi, karena ketinggiannya telah dilampaui oleh gedung-gedung jangkung tegak-berdiri bak cendawan di musim hujan. Lebih ironis lagi ketika kampung mereka telah menjadi deretan ruko-ruko yang tidak lagi menyisakan ruang, bahkan untuk sekadar leluasa berjalan kaki, arena bermain masa kanak-kanak mereka disulap menjadi kompleks perkantoran—saking berdempetannya, tidak menyisakan sekadar tanda, di titik mana lingkungan masa kecil itu pernah berada. Inilah dampak dari gerak perubahan yang sedemikian tergesa. Artifak-artifak yang menyimpan kesadaran kolektif orang Betawi tentang tanah kelahiran mereka telah karam, mereka kehilangan kampung halaman, dan perlahan-lahan tergusur ke pinggiran, menjadi perantau di negeri sendiri.

"Kronik Betawi" mengisahkan sebuah keluarga Betawi, pewaris usaha peternakan sapi perah. Setelah berkali-kali mengelak dari bujuk-goda dan iming-iming untuk tidak melepas tanahnya di daerah Kuningan, Jaelani—kepala keluaga itu—akhirnya takluk juga, menyusul sejawat dan kerabat yang telah lebih dahulu angkat kaki. Keluarga Jaelani pindah ke Ciganjur, sementara sapi-sapi perah itu diboyongnya ke Pondok Rangon. Meski telah tersingkir, Jaelani tidak tertarik membangun rumah-rumah kontrakan seperti sejawat-sejawatnya yang “ujug-ujug” telah menjadi juragan. Tapi, bertahan dengan etos kemandirian orang Betawi ternyata tidak gampang. Japri dan Juned, dua anak laki-lakinya lebih tergiur menjadi tukang ojek ketimbang mengurus sapi-sapi di kandang, hingga akhirnya usaha itu nyaris bangkrut.

Setiap tokoh dalam Kronik Betawi memikul beban persoalan orang Betawi masa kini. Bila Jaelani harus menerima kenyataan tentang anak-anak yang tidak punya etos mandiri, Jarkasi (adik Jaelani) berhadapan dengan betapa sulitnya mempertahankan kesenian tradisional Betawi di kurun R & B dan Jazz ini. Ia mendedikasikan hidupnya demi kelesatrian Gambang Kromong—semacam orkes, perpaduan antara gamelan, musik Barat dan corak kesenian Cina. Jarkasi jatuh-bangun sebagai seniman Betawi. Baginya, tanah kelahiran bolehlah lenyap ditelan gemuruh perubahan Jakarta, tapi Betawi masih punya Lenong dan Gambang Kromong, yang sedapat-dapat harus tetap hidup. Seni, satu-satunya milik mereka yang belum terbeli. Namun, Jarkasi tak bisa menutup mata bahwa apresiasi terhadap kesenian tradisional begitu minim. Kerap ia berselisih paham dan Enden (istrinya) lantaran ia bersikukuh mendukung bakat seni Edah (anak gadisnya) sebagai penari. Di mata sebagian orang, penari identik dengan perempuan panggung yang boleh dicolak-colek oleh para lelaki.

Dibanding dengan pesimisme orang Betawi yang telah kehilangan tanah-pangkal, seperti dalam cerpen "Dahulu" (C.G. Ramadhan), atau keterasingan Mat Jago, lantaran tidak bisa lagi unjuk gigi di panggung-panggung Gambang Kromong, seperti dalam cerpen "Rumah Kawin" (Zen Hae), tokoh-tokoh dalam "Kronik Betawi" lebih riang—lelucon khas Betawi terselip di sana-sini—dan bergairah. Tengoklah Juleha (adik bungsu Jaelani)—meski juga menanggung beban—habis-habisan mendukung Edah sebagai penari Betawi, bahkan ia ikut berperan dalam keberhasilan Edah sebagai salah satu penari Betawi yang terpilih untuk tampil di pentas terhormat di negeri Belanda. Di satu sisi, Juleha yang terpuruk dalam kesendirian sejak suaminya menikah lagi terasa memperkuat citraan tentang laki-laki Betawi yang “doyan kawin”, tapi pada sisi lain, pengarang memperlihatkan kesetiaan Jaelani pada almarhumah istrinya. Bahwa kemudian ia menikahi Salomah, itu bukan karena Jaelani “doyan kawin”, tapi karena “tidak baik lama-lama menduda”.

Optimisme dalam menyongsong masa depan Betawi yang gemilang tampak kentara pada kerja keras Salomah guna melanjutkan pendidikan anaknya (Fauzan), hingga jenjang universitas. Diceritakan, Fauzan berhasil meraih predikat “tukang insinyur” dari perguruan tinggi terbaik di Jakarta, lalu beroleh beasiswa untuk melanjutkan studi di Amerika. Bagian ujung "Kronik Betawi" menampilkan Salomah- Jaelani sebagai manusia Betawi yang terobsesi hendak mencetak kaum intelek, agar orang Betawi tidak sekadar menjadi juragan kontrakan, calo tanah, atau tukang ojek. Sebagaimana dibuktikan oleh sejarah terkini, Jaelani ingin kaumnya menjadi orang-orang yang diperhitungkan, disegani, dan bukan kuli di kampung sendiri…

Monday, June 15, 2009

BADAR BESI

Cerpen DAMHURI MUHAMMAD

(Jawa Pos, Minggu, 14/6/2009)

(1)

Centeng los daging yang ditakuti para pemalak di pasar ini di masa lalu hanya seorang tukang cukur. Meski begitu, menjadi tukang cukur, baginya, adalah sebuah kuasa yang belum tentu dimiliki oleh pembunuh bertangan dingin sekalipun. Betapa tidak? Tanpa gamang dan was-was, leluasa tangannya menekan, menekuk, dan bila perlu memelintir tempurung kepala siapa saja yang sedang dicukurnya. Di tangannya, semua kepala sama harganya, atau barangkali tak berharga. Tak peduli orang terpandang, tetua adat yang pantang disentuh bahkan ujung rambutnya sekalipun, atau jawara kampung yang kerap menagih jatah begitu gilirannya duduk di kursi cukur, bila bertingkah macam-macam, tukang cukur itu tentu sangat berpeluang menggunting daun kupingnya.

Di suatu senja yang sepi pelanggan, ia kedatangan bocah sembilan tahun yang memohon-mohon, merengek-rengek, agar rambutnya lekas dipangkas. Rona mukanya ketakutan, matanya merah-sembab. Ia mengaku rusuk dan pinggangnya memar setelah dicambuki bapaknya dengan ikat pinggang ukuran sedang. Bapaknya naik darah, sebab sudah kerap ia disuruh pangkas rambut, tapi suruhan itu bagai masuk di telinga kanan, tapi keluar lagi di telinga kiri.

''Upah pangkas dari bapak sudah habis untuk beli gundu. Begitu ada uang jajan lagi, akan saya bayar.''

Tukang cukur tak berpikir panjang. Dililitkannya kain belacu buram di leher anak itu hingga tertutup sekujur tubuhnya, agar bekas-bekas potongan rambut tidak lengket di bajunya. Gunting di kanan, sisir di kiri. Tak berselang lama, ia merasa ada yang janggal. Rambut anak itu tak seperti rambut pelanggan biasanya --yang begitu dimakan gunting langsung jatuh berserak di atas kain belacu. Ia mengira mungkin guntingnya sudah majal lantaran lama tak diasah, karena itu digantinya dengan yang lebih tajam. Tapi rambut itu tetap tak mempan digunting. Begitu keras, begitu kesat, bagai menggunting kawat.

''Ini rambut atau kawat baja? Semua gunting dan pisauku pepat dibuatnya,'' gerutu tukang cukur yang mulai berkeringat.

Anak itu diam, sementara ia mulai menduga-duga. Jangan-jangan bukan rambutnya saja yang tak mempan dimakan mata gunting. Mungkin kulitnya juga tak bisa dilukai. Diam-diam digoreskannya pisau cukur paling tajam di kuduk anak itu. Diulangnya sekali lagi. Ditikamnya lebih dalam, lebih mencukam. Lagi-lagi pisau itu bagai tumpul. Jangankan luka, tergores pun tidak. Rupanya ia benar-benar sedang berhadapan dengan bocah kebal.

''Apa yang kau simpan dalam saku celanamu?'' tanya tukang cukur.

''Cuma batu. Saya menukarnya dengan batu milik bapak. Cukup licin dan bulat untuk main gundu-gunduan,'' jawabnya sambil menunjukkan batu seukuran gundu yang baru saja dirogohnya dari saku. ''Bila suka, ambil saja. Lumayan buat batu cincin, daripada dibuang.''

''Ayolah, kau harus segera dicukur.''

''Bagaimana dengan upahnya?''

''Tak usah pikirkan soal itu!''

Sejak itu, tak tampak lagi batang hidung si tukang cukur. Orang-orang bilang, ia hengkang sebab upah cukur tidak lagi memadai. Diterimanya tawaran seorang sejawat untuk membuka usaha pangkas rambut di rantau orang. Diboyongnya anak-bini ke tanah seberang, hingga orang-orang kampungnya harus merelakan kepala mereka di tangan tukang pangkas keliling yang kadang datang, kadang tidak, lantaran ia menyambi sebagai kusir bendi. Ada pula yang bercukur di kampung sebelah, meski mutu cukuran itu tidak ada apa-apanya dibanding kerapian cukuran tukang pangkas cekatan yang sudah terbang-hambur itu.

(2)

Tanbasa nyaris dihabisi oleh tiga sejawatnya karena ia sembarangan menyimpan barang berharga hasil penggalian mereka selama berbulan-bulan. Satu di antara tiga sejawat itu, Sitorus, mantan anggota polisi yang meminta pensiun dini setelah menemukan selembar peta usang dalam sebuah penggeledahan di rumah yang ditengarai sebagai markas pengedar ganja. Bukan sembarang peta, tapi peta yang menandai tempat-tempat rahasia penyimpanan barang-barang berharga peninggalan orang-orang di masa dahulu. Peta harta karun, barangkali. Menurut perkiraan Sitorus, bila satu titik saja berhasil digali, nilainya setara dengan kekayaan tujuh turunan. Dari sekian banyak tempat yang tertandai, terpilih satu titik di lereng sebelah selatan Bukit Tui yang menurut mereka paling aman. Tanbasa, petani kentang yang begitu tekun, terbujuk iming-iming Sitorus. Kentang yang mulai matang tidak lagi diurusnya. Istrinya kerap marah-marah karena Tanbasa sibuk bolak-balik ke lereng Bukit Tui. Selalu pulang larut malam, karena harus memperlihatkan setiap hasil penggalian pada Nisar, dukun pilih tanding yang dipercaya Sitorus mengawal penggalian itu. Selepas dua minggu penggalian, Nisar menyampaikan kabar baik. Menurut penglihatan mata batinnya, di lubang yang telah mereka gali itu tersimpan sebuah peti besi berisi bongkahan-bongkahan emas, batu-batu permata, dan barang-barang pecah-belah berusia ratusan tahun. Namun, makhluk penunggu lubang itu baru bisa memberikan sebuah batu seukuran gundu. Barang siapa memegang dan menyimpan batu itu, niscaya semua anggota tubuhnya kebal dari semua senjata yang berasal dari unsur besi. Orang-orang dulu menyebutnya Badar Besi. Maka, pada malam yang telah ditentukan, Nisar turun ke lokasi penggalian. Dikerahkannya segenap kesaktian guna membangkitkan Badar Besi dari lubang itu. Tanah di sekeliling lubang retak-rengkah, nyaris terbelah dua, lalu serpihan-serpihannya membesut ke permukaan. Nisar menyediakan kain seukuran sapu tangan yang katanya dirajut dari benang tujuh rupa, guna menampungnya saat jatuh kembali ke permukaan. Badar Besi ada dalam salah satu serpihan itu.

''Bagaimana cara kami membaginya, sementara hanya ada satu batu?''

''Barang itu hanya bisa menjadi milik bersama.''

''Bagaimana kalau dijual? Hasilnya dibagi rata.''

''Begitu lebih baik. Tapi, tak boleh ada keculasan. Bisa celaka.''

Mereka memercayai Tanbasa sebagai orang yang paling layak menyimpan Badar Besi sebelum tiba saatnya dijemput oleh seseorang, tentu setelah mereka sepakat perihal imbalan yang setimpal dengan kehebatan Badar Besi. Calon pembeli yang duitnya konon tak berseri itu bahkan berkenan menanggung berapa pun biaya yang diperlukan untuk penggalian selanjutnya, tentu setelah terbukti bahwa Badar Besi yang berada di tangan Tanbasa benar-benar asli. Celakanya, Badar Besi itu ternyata omong kosong belaka. Orang suruhan pembeli membelitkan Badar Besi yang masih terbungkus sapu tangan dari rajutan benang tujuh rupa itu di leher seekor kucing. Ia menyembelihnya, dan kucing itu menggelepar-gelepar sebelum tumbang berlumur darah, sebagaimana penyembelihan biasa. Badar Besi yang semula bakal mengubah peruntungan Sitorus, Tanbasa, Tuninjun, dan Jukamba telah ditukar seseorang dengan batu lain. Meski warna, kebulatan dan kelicinannya hampir sama, tapi itu palsu, tak lebih bernilai dari batu akik yang biasa dijajakan di kaki lima.

''Bila Badar Besi tidak kembali, kusembelih kau seperti kucing kurap itu!'' gertak Sitorus yang mulai naik pitam.

''Gara-gara penggalian itu, anakku sering kerasukan setan. Dan, kau lalai menjaga barang itu. Setan!'' tambah Tuninjun.

''Kau sia-siakan kepercayaan kami. Keparat busuk!''

(3)

Bertahun-tahun mereka menunggu. Badar Besi tiada kunjung kembali. Sia-sia belaka kerja keras mereka. Sialnya lagi, mereka tak henti-henti dirundung petaka. Para penggali itu tak setangguh dulu. Kini, Sitorus lumpuh. Separo badannya mati-rasa, terkulai tak berdaya di atas kursi roda. Orang-orang bilang ia terserang stroke, sementara Sitorus yakin bahwa penyakit itu akibat dari penggalian harta karun yang ia pimpin puluhan tahun silam. Anak laki-laki Tuninjun tak kunjung sembuh. Saat kerasukan, ia mengunyah-ngunyah pisau silet seperti mengunyah keripik talas. Belum ada dukun yang sanggup mengobatinya, termasuk Nisar, yang semakin menurun saja kesaktiannya. Begitu pun Jukamba, ia sering mengeluh lantaran hidupnya tak pernah tenteram sejak malam penemuan Badar Besi itu. Kerap ia dihantui mimpi buruk. Dalam mimpi itu ia didatangi sosok berwajah iblis yang selalu mengingatkan bahwa tidak lama lagi ia akan mati, dan celakanya, kematian itu bakal berdarah-darah.

Hanya Tanbasa yang masih segar-bugar. Meski tubuhnya mulai ringkih, lelaki tua itu sehat walafiat, tak kurang satu apa pun. Tidak pula mengalami keganjilan-keganjilan sebagaimana sejawat-sejawatnya. Bila Sitorus, Tuninjun, dan Jukamba sudah membuang semua angan-angan muluk tentang Badar Besi, Tanbasa justru kian bergairah untuk kembali menemukan barang keramat itu.

''Dulu, bapak pernah menyambukimu dengan ikat pinggang hingga rusukmu memar. Masih ingat?'' tanya Tanbasa pada Juangkat, anak laki-lakinya yang mulai beranjak dewasa.

''Tentu. Hingga kini aku tidak pernah telat pangkas rambut.''

''Waktu itu bapak ingin menguji kekuatan Badar Besi di dalam saku celanamu. Kau menukarnya dengan batu gundu bukan? Tapi bapak biarkan saja.''

''Bapak juga tahu kalau batu itu kuberikan pada tukang cukur sebagai ganti upah cukur?'' tanya Juangkat.

''Untuk sementara Badar Besi lebih aman di tangan cukur itu.''

''Bapak lakukan itu agar kelak kau memilikinya. Kini saatnya kau merebutnya kembali.''

(4)

Lama sekali aku mengabdi sebagai kaki-tangan centeng los daging di pasar ini. Tapi ia tak pernah tahu asal-usulku. Lagi pula, itu tidak penting baginya, ia hanya perlu anak semang yang siap mati demi ketersohorannya. Tapi aku sangat mengenalnya, seperti aku mengenal puncak hidungku sendiri. Kutandai segala tindak-tanduknya, kuhapal segala pantangannya, kumata-matai di tubuh bagian mana ia menyembunyikan Badar Besi yang konon menjadi sumber kesaktiannya. Ia makin menua, tak sebengis dulu. Ia memang tak mempan ditikam, tapi mustahil ia kebal dari ajal. Akan tiba saatnya aku merenggut Badar Besi dari tangannya. Aku bukan Marpaung --kacung yang dipercayainya rela hilang nyawa demi nama besarnya. Tidak! Nama asliku Juangkat. Saat umurku sembilan tahun, aku pernah membuat ia berkeringat dingin lantaran rambutku tak mempan dimakan mata gunting dan mata pisau cukurnya.

Jakarta, 2009

Tuesday, June 02, 2009

IKHTIAR MENYELAMATKAN PUISI

Oleh : DAMHURI MUHAMMAD

(Pikiran Rakyat, Minggu 17/5/2009)

SENI paling unggul adalah seni yang mampu membangkitkan hasrat-berkehendak setelah sekian lama tersumbat. Begitu ketegasan penyair mashur kelahiran Pundjab, India, Muhammad Iqbal, sebagaimana dikutip S.A Vahid dalam Iqbal, His Art & Thought (1916). Oleh karena itu, the dogma of Art for the sake of Art is a clever invention of decadence to cheat us out of life and power—dogma ‘seni untuk seni’ adalah sebuah rekayasa cerdas dari kebobrokan yang mengecoh dan menipu agar kita semakin terasing dari realitas kehidupan dan kekuatan—lanjut Iqbal lagi. Bagi penulis epos Javid Nama (1932) itu, seni harus menghayati manusia dan segala kehidupannya. Di samping memberi rasa nikmat, seni harus dapat memandu pikiran manusia. Demikian Iqbal menegakkan kepenyairannya, sebagaimana tercermin dalam Asrar-i Khudi (1915), Rumuz-i Bekhudi (1918), dan Payam-i-Mashriq (1923).

Tak disangsikan bahwa puisi adalah ekspresi estetik paling hulu. Induk segala bentuk ekspresi sastrawi, dan belum ada yang melampauinya. Itu sebabnya, penyair Arab tersohor, Adonis (Ali Ahmad Said), tak segan-segan menyejajarkan antara “jalan kepenyairan” dengan “jalan kenabian”. Baginya, penyair—dengan azwaq al-adaby (cita-rasa sastra) yang mereka genggam—sanggup menggapai anak-tangga paling puncak guna menangkap pesan-pesan profetik sebagaimana kemampuan nabi dalam menyambut risalah Tuhan yang bermuasal dari lauh-mahfuz. Bila filsuf Arab, Al-Farabi ((870-950) menegaskan bahwa derajat kenabian dapat diraih oleh manusia-manusia khawwas (khusus) berkat pencapaian mereka pada jenjang aql-fa’al (akal aktif), maka dalam batas-batas tertentu golongan penyair juga berlabuh di maqam itu. Bagi Adonis, “komunikasi nubuwwat” yang secara bulat-penuh disambut oleh sejumlah penyair Arab pra-kenabian, mampu mendedahkan sajak-sajak yang nyaris menyamai estetika qur’ani. Ada “lelaku kenabian” yang secara tak sengaja terbangun dalam proses kreatif mereka, sebagaimana lelaku kenabian yang dimiliki oleh orang-orang yang bakal terpilih sebagai pembawa risalah. Inilah puncak pencapaian para penyair Arab yang dalam catatan sejarah dikenal sebagai muallaqat (penyair-penyair terpilih yang sajak-sajak mereka digantungkan di dinding Ka’bah) dan muhazzabat (sajak-sajak yang ditulis dengan tinta emas). Thomas Patrick Hughes dalam Dictionary of Islam (1895) mencatat tujuh nama penyair Arab klasik yang lahir dari tradisi muhazzabat dan muallaqat ini, antara lain: Zuhair, Trafah, Imrul Qays, Amru ibn Kulsum, al-Haris, Antarah dan Labid. Di antara tujuh penyair itu, yang paling berpengaruh adalah Imrul Qays (wafat tahun 550 M), sebagaimana diakui oleh al-Ashma’i dalam al-Fuhul asy-Syuara’ (1971). Menurutnya, Imrul Qays pionir bagi para penyair “jahiliyah” lainnya. Ibnu Qutaibah dalam asy-Syi’ir wa asy-Syu’ara (1969) mencatat, di masa selanjutnya, bahkan tokoh penting, Umar bin Khattab pernah memuji kepiawaian penyair ini. Khalifah kedua setelah Abu Bakar Siddieq itu bilang, Imrul Qays pencipta mata air puisi bagi para penyair di zamannya.

Imrul Qays memperlihatkan gairah pencarian terhadap kesadaran puitik yang sama sekali baru, setidaknya bila ditakar dengan langgam estetika puisi “jahiliyah”. Diterabasnya batas-batas, dilanggarnya tabu, dibangkitkannya hasrat-berkehendak yang selama berkurun-kurun tertimbun dalam ortodoksi dan kekolotan tetua-tetua kabilah Quraisy, dengan menciptakan metafora baru yang tanpa disadarinya ternyata melampaui konvensi-konvensi bahasa yang masih merujuk pada masa lalu. Aku naiki kuda dalam peperangan/bagaikan belalang/lembut gemulai/jambulnya tergerai menutupi wajahnya, begitu bunyi salah satu sajaknya. “Kuda” yang lazim digunakan sebagai simbol heroik dan kegagah-beranian di medan tempur antar suku, dialih-fungsikan menjadi pengamsalan yang dianggap janggal dan bermasalah di masa itu; simbol kejantanan laki-laki yang tergeletak sebagai pecundang di atas ranjang. Akibatnya, “kuda” itu bagai “belalang” yang gemulai, atau lemah syahwat, tepatnya. Selain itu, seperti dicatat Al-Marzabani dalam Al-Muwassiyah (1965), sajak-sajak Imrul Qays juga melanggar kelaziman struktur puisi Arab yang setiap baitnya tidak boleh saling bertentangan, setiap kata saling mengokohkan, hingga membentuk kesatuan makna yang utuh dan tak tergoyahkan—dalam terminologi sastra Arab disebut Qafiyah. Bagi Adonis, gairah kepenyairan para perintis genre sajak rasya’ (ratapan), ghazzal (erotik), dan madh (pujian) itu memperlihatkan rancangan realitas yang terus berubah (mutahawwil) sebagai antitesis dari ortodoksi, dan fanatisme tokoh-tokoh Quraisy yang stagnan, dogmatis, atau dalam bahasa Adonis as-tsabit (yang tetap).
Contoh sederhana ini kiranya dapat memaklumatkan betapa beratnya beban yang dipikul puisi. Ia mengemban desakan gerak transformasi sosial dan kultural dalam masyarakat yang melahirkannya. Sama halnya dengan tanggung jawab para nabi yang dengan teks-teks suci memikul risalah guna menyempurnakan watak dan moralitas umat. Maka, tidak ada alasan untuk bermain-main, apalagi mendistorsi martabat kepenyairan menjadi puisi-puisi yang hanya mahir berbicara tentang hujan, salju, embun, atau bunga mawar. Gagasan ganjil inilah yang menjadi pangkal-bala silang pendapat antara saya (Kesadaran Puitis & Politik (PR, 5/4) dan Yopi Setia Umbara (Dam, Dam, Dam, (PR, 19/4). Beberapa hari selepas esai saya diturunkan, dengan nada sinis, seorang sejawat penyair bertanya; “benarkah tuan mencintai puisi?” Tegas saya menjawab; “sepenuh hati.” Tapi, tampaknya itu belum dapat melenyapkan kecurigaannya pada saya, yang menurutnya tidak bulat-bulat menyukai puisi. “Tapi mengapa tuan bilang; apalah guna sebait sajak yang hanya mampu menggambarkan setetes embun yang jatuh di atas sehelai daun?” tanyanya lagi. Saya jadi maklum, ternyata kalimat itu telah membuat panas kuping seorang penyair. Ia tidak sedang bertanya, tapi menagih pertanggungjawaban atas kesembronoan saya, lantaran telah meremehkan pencapaian estetika dari puisi-puisi gemulai yang dibelanya itu. “Sebab, bagi saya, itu bukan puisi!” Begitu saya mengakhiri pembicaraan.

Antologi sajak Demonstran Sexy (2008) karya Binhad Nurrohmat yang menjadi cikal-soal perbantahan ini, bagi saya, dapat menjadi umpan yang jitu guna memancing penggalian yang lebih berkedalaman perihal nilai-guna puisi di tengah kebisingan suasana politis yang kian hari kian menyengsarakan. Bila Khudori Husnan (PR, 3/5) menimbangnya dengan hipotesis “bergerak bersama puisi”, saya hendak menegaskan; puisi—tidak hanya puisi Binhad, tentunya—adalah gerak (aksi) itu sendiri, sebab ia subjek yang aktif, bukan sekadar medium. Di tangan Binhad, puisi selekasnya mesti turun dari menara gading kepenyairan yang sejak lama dipuja-puji itu. Puisi harus merakyat, hidup berdampingan dengan rakyat, muasal puisi itu sendiri. Ini berarti puisi harus segera “diselamatkan” dari keterasingan lantaran keterikatannya pada kultus dan ritus, sebagaimana syair-syair Homerus di masa lalu. Walter Benjamin (1892-1940) filsuf Jerman terkemuka, pernah membincang perihal pudarnya basis-basis kultus dan ritual seiring dengan gelombang sekularisasi pasca-renaisance, yang di satu sisi memang mengakibatkan seni kehilangan autentisitas dan otonomi, tapi pada sisi lain, seni mampu mendedahkan emansipasi sosial tanpa harus bergantung pada ritus dan kultus itu. Menurut Benjamin, sesuatu yang menarik dalam peradigma baru sejarah seni itu adalah bahwa ruang kosong yang di masa lalu diisi oleh ritus dan kultus, dalam seni modern dipenuh-sesaki oleh praktik sosial lain, yakni: politik. (F.Budi Hardiman, 2007).

Maka, sejak itu, seni mengalami perubahan dari coraknya yang esoterik menjadi eksoterik. Seni mulai disuguhkan secara langsung pada “rakyat jelata”—meminjam ungkapan khas Binhad—dan tentu saja sarat dengan muatan politis, sebagaimana terlihat pada drama-drama karya Bertold Brect (1898–1956). Segala bentuk tabir yang selama berkurun-kurun telah mengaburkan makna puisi, harus selekasnya disingkap, dibuka selebar-lebarnya, agar ia dapat dimasuki oleh sebanyak-banyaknya “umat puisi”. Demonstran Sexy yang ditegakkan atas dasar kepekaaan politis demi tendensi praksis-emansipatoris—karena itu ia bermuatan politis—meski bukan tanpa persoalan, agaknya dapat menjadi langkah awal dalam ikhtiar “menyelamatkan” riwayat perpuisian kita yang akhir-akhir ini semakin tertimbun di lubuk keterasingan…

Monday, April 20, 2009

JURU MASAK; Sebuah Telisik Ringan



Oleh : KHRISNA PABICHARA




Pada Mulanya


KAMPUNG. Dari sanalah “Juru Masak” berpangkal. Dari sanalah Damhuri Muhammad, selanjutnya saya sebut Damhuri, mulai merakit cerita-cerita yang dikemasnya dengan telaten. Kampung, itu pula yang membuka gerbang ingatan masa kecil saya dan membuat saya “jatuh hati” pada kisah demi kisah yang dituturkan Damhuri dalam sehimpun cerita pendeknya itu. Kenapa? Karena saya orang kampung, itu jelas. Namun, ada pernik lain yang menyeret segala ingatan saya ke “kampung”.

Ketika saya menelisik cerpen-cerpen Damhuri, saya tiba-tiba teringat sentilan Raudal Tanjung Banua. Pengarang sebagai narator, dalam teropong Raudal, belakangan tampak begitu dominan dengan balutan bahasa yang rimbun dan miskin dialog.

Beruntunglah, ketika saya memasuki kampung Damhuri yang dikemas dengan bahasa sederhana dan bersahaja, saya menemukan narasi dan dialog yang ditata begitu imbang. Boleh jadi, sebagaimana tutur Damhuri, karena ia menulis cerpen layaknya meraut sepasang bilah layang-layang dengan sangat telaten, sampai permukaannya benar-benar halus dan imbang bila ditimbang. Bahkan, ada beberapa cerpen yang disimpannya berbulan-bulan. Dibaca lagi, diraut lagi. Dibaca lagi, ditimbang lagi.

Selalu begitu.



Membaca Juru Masak

DALAM JURU MASAK, Damhuri menampilkan suasana kampung dari segala sisi. Pada Gasing Tengkorak, Damhuri berkisah tentang kehebatan Dinir menaklukkan semua perempuan yang diidamkannya, dengan jimat yang didapatkannya sebagai warisan turun-temurun dari para leluhur. Namun, ketika jimat itu digelandang ke kota sebagai aset untuk diniagakan, atas hasut isteri-isterinya, jimat itu ternyata tidak bisa menunjukkan daya pukaunya yang mumpuni itu. Saya sempat menaruh syak, jangan-jangan ini kisah nyata.

Sementara pada Ratap Gadis Suayan, Damhuri menyeret saya ke masa lalu. Di pelosok Jeneponto, sekitar 80 kilometer dari Makassar ke arah selatan, memang ada budaya appitoto, menangis-meratap-meraung setiap ada orang yang meninggal. Hanya saja, dalam cerpen ini, Damhuri meletakkannya dengan suguhan warna yang lain, meratap itu menjadi profesi yang dibenci sekaligus dicari-cari. Dibenci karena mengais rupiah dari upacara kematian, dan dicari-cari karena upacara dianggap kurang khidmat tanpa ritual ratap-meratap itu. Namun, apa yang akan terjadi jika jenazah yang harus diratapi Raisya adalah jenazah orang yang telah menghancurkan hidupnya? Lagi-lagi, saya sempat menduga ini kisah nyata.


Suasana kampung juga sangat kental dalam Tikam Kuku. Di beberapa daerah biasanya ada “bekal khusus” bagi yang hendak merantau. Sebelum calon perantau (bukan calon legislatif!) itu meninggalkan kampung, biasanya dibekali dulu dengan rerupa jurus silat. Damhuri berkisah dengan lincah tentang kehebatan Harimau Campo dan kedigjayaan Dahlan Beruk. Akan tetapi, bukan semata bagaimana proses bersilat yang digambarkan oleh Damhuri dengan narasi yang indah. Jika direntang lebih lapang, cerita ini juga dibidik untuk memanah “tengkulak-tengkulak modern” yang menguasai negara, lebih dari kuasa “tengkulak tembakau” yang menyingkirkan “patriot” seperti Dahlan Beruk.

Dan, sebagai cerita yang dipilih sebagai andalan, Juru Masak pun menawarkan aroma khas “kampung”, yang benar-benar kampung. Kali ini, Damhuri menilik suasana kampung dari sudut perhelatan, pesta pernikahan. Di kampung saya, pesta pernikahan adalah prestise yang menunjukkan kelas dan martabat seseorang. Hal sama, boleh jadi, berlaku pada kampung-kampung lain di seantero nusantara. Hanya saja, bukan sekadar bercerita tentang betapa “wah” sebuah perhelatan digelar, Damhuri mengerucutkan kisahnya pada “masakan” yang disajikan. Alkisah, tidaklah lengkap sebuah kenduri, jika bukan Makaji yang menjadi Juru Masak. Konflik terjadi ketika yang menggelar hajat adalah Mangkudun, tuan tanah yang pernah memiuh harga diri Makaji. Sementara, yang hendak dinikahkan adalah Renggogeni, perempuan yang sangat dicintai putra juru masak itu, Azrial. Sungguh, cerita ini menyuguhkan nilai yang sangat manusiawi, cinta dan harga diri.


Begitulah, saya membaca Juru Masak seperti orang kampung membaca kitab di surau. Khidmat, dan nikmat.



Menelisik Juru Masak

SAYA SEDANG BELAJAR menjadi pembaca sastra yang selalu menikmati kenyamanan dan keindahan karya sastra, termasuk cerpen. Sebelum saya membaca sebuah karya sastra, meminjam istilah Hernowo, saya bertanya hal mendasar, “Apakah karya sastra ini bermanfaat bagi saya?” Jika tidak, saya tidak akan membacanya. Mungkin ini terkesan arogan. Padahal, biasa saja. Lumrah. Dan, sah-sah saja. Karena saya tidak mau melakukan sesuatu yang sia-sia, yang tidak memberi apa-apa, meski hanya secuil manfaat.

Bagi saya, membaca itu menyerap tenaga, waktu, dan pikiran. Membaca adalah pekerjaan serius.. Karena itu, saya tidak mau membuang tenaga, waktu, dan pikiran itu dengan percuma. Hal sama berlaku ketika saya membaca Juru Masak. Saya berharap ada, nilai atau hikmah, yang bisa saya serap seusai membacanya. Ya, saya berharap dapat menemukan sesuatu yang “menggugah”. Syukur-syukur “mengubah” atau “menggerakkan”.

Jika berpijak pada saran Budi Darma, formula yang digunakan dalam penulisan cerpen oleh Damhuri, telah memenuhi dua komponen penting penulisan karya sastra, termasuk cerpen. Kedua komponen itu adalah isi dan bentuk. Isi adalah bahan utama penulisan, dan bentuk adalah cara untuk mengungkapkan isi. Dengan cerdas, Damhuri memenuhi kedua komponen itu, isi dan bentuk. Meskipun pada beberapa cerpen, saya merasa kurang “klik”. Seperti pada cerpen Anak Bapak, yang bagi saya terkesan belum “diraut” dan “ditimbang” dengan telaten. Ada juga cerpen yang sarat “kekuatan pesan” dengan latar sejarah, yakni Mardijker, namun kurang nyambung dengan cerpen lainnya, meskipun tetap mengusung tema “kampoeng depok tempo doeloe”. Hal sama terlihat pada Kesturi, kuat pada pencitraan, narasi, dan dialog, tetapi tidak terlihat benang merahnya dengan cerita lain, yang beraroma “kampung” itu.


Memang, tidak harus sebuah antologi diikat dengan merah melalui kesamaan setting atau tema. Hanya saja, suasana membaca saya yang “nyaman” dan “khidmat”, yang terbangun dari awal, menjadi “sedikit” buyar ketika membaca Anak Bapak, Mardijker, dan Kesturi.


Lantas, apa yang saya dapatkan dari Juru Masak?
Ada dua hal penting yang saya petik dari jejak pena cerpenis kelahiran Payakumbuh ini. Pertama, kemampuan menggugah. Membaca Juru Masak bukan semata membuka-buka romansa atau mengorek-ngorek ingatan masa kecil, melainkan lahirnya sebentuk kesadaran baru, bagi saya, bahwa bersastra adalah pekerjaan yang serius. Yang harus dilakukan dengan telaten dan penuh kesabaran. Yang harus dicicil setiap hari. Yang harus diraut dan ditimbang. Hanya dengan cara seperti itulah yang bisa membuat saya bisa bertumbuh-berkembang dengan subur dan rimbun.


Kedua, kekuatan mengubah atau menggerakkan. Tamu dari Kampung adalah cerpen yang paling “saya”, dengan kata lain paling mencerminkan kondisi saya sebagai “orang kampung” yang merantau ke pinggiran Jakarta. Sebenarnya, lebih tepat disebut pinggiran Bogor. Ya, saya sering mengalami hal sama seperti yang dialami Tanur. Menerima tamu dari kampung, lalu ketika mereka kembali ke kampung, tersebarlah cerita yang sebenarnya jauh panggang dari api. Mengapa kita harus membagus-baguskan sesuatu yang hakikatnya belum boleh disebut “bagus”? Itulah dua manfaat mendasar yang saya temukan dari Juru Masak.


Pada Akhirnya

SEKARANG, kita kembali ke filosofi “meraut bilah” untuk dijadikan layang-layang itu. Kegiatan bersastra, termasuk mengarang cerpen, adalah kegiatan yang menantang, sekaligus menyenangkan. Sama seperti membuat layang-layang. Tidak boleh kesusu. Tidak boleh tergesa-gesa. Tidak boleh asal-asalan.


Bagi Damhuri, juga saya, tidak ada kegirangan yang lebih hebat bagi seorang pengarang selain kegirangan ketika karya-karyanya dibaca orang.



Parung, 19 April 2009
Khrisna Pabichara, motivator pembelajaran dan penyuka cerpen.



Tulisan ini disampaikan pada Diskusi Bulanan D'Smart Community, sebuah komunitas pelajar yang "kurang beruntung" dari sudut ekonomi, pada Minggu, 19 April 2009, bertempat di Madrasah Ibtidaiyah Al-Ijtihad Kp. Lengkong Barang Desa Iwul Kecamatan Parung Kabupaten Bogor.
Terima kasih kepada Damhuri Muhammad atas sumbangsih tulisannya dalam JURU MASAK: sehimpun cerita pendek.Terima kasih kepada Kepala MI Al-Ijtihad, Dedi Munadih, atas ijin dan kepeduliannya.

Monday, April 13, 2009

Sastra yang Mendustai Pembaca...

(KOMPAS, Sabtu, 4 April 2009)

Oleh: DAMHURI MUHAMMAD

Seorang kawan, sebutlah Fulan, pernah datang memenuhi panggilan sebuah perusahaan penerbitan buku berkelas di Jakarta. Konon, ia memperoleh tawaran menjadi penyunting naskah sastra terjemahan, khususnya dari roman-roman berbahasa Arab.Dalam perjalanan, kawan itu tiba-tiba khawatir bakal gagal sebab tak ada yang bisa diandalkannya, selain sedikit kemahiran menulis fiksi dan sedikit kemampuan membaca teks-teks berbahasa Arab.

Selepas bincang-bincang penuh basa-basi yang sesekali bernada menguji, Fulan bertanya kepada penguji yang tampak sudah kenyang pengalaman di dunia sastra terjemahan dari bahasa Arab itu—seperti roman- roman karya para pengarang Mesir: Thaha Husain, Naguib Mahfouz, Nawwal el-Saadawi, Radwa Ashour, atau Ala Al-Aswany.
”Jebolan universitas Al-Azhar (Kairo) banyak sekali. Kemampuan bahasa Arab mereka tak diragukan, kenapa Bapak malah memanggil saya?” Sambil menggeleng penguji itu bilang, ”Bahasa Arab mereka memang hebat, tetapi mereka kurang cakap dalam berbahasa Indonesia.”

Pernyataan penguji memperlihatkan problem dunia penerjemahan Arab-Indonesia. Para penerjemah begitu menguasai aspek gramatikal Arab (qawaid al-lughah), tetapi kurang ”maju” dalam berbahasa Indonesia. Banyak dari mereka yang belum mempraktikkan bahasa Indonesia yang ”baik” dan ”benar”. Kerja terjemahan mereka bukan alih bahasa dalam arti sejatinya, tetapi hanya mendedahkan teks bahasa Indonesia yang masih bercita rasa Arab. Meski sudah (meng)-Indonesia, jejak Arabnya masih saja tersisa. Setengah Arab, setengah Indonesia.

Terjemahan, satu contoh

”Seorang pelayan keluar dari sebuah vila yang megah, matanya sibuk mengitari jalanan yang lengang. Angin sepoi-sepoi bertiup dengan lembut, menyanyikan pada dedaunan sebuah nyanyian senja.” Kutipan ini salah satu contoh teks terjemahan dari sebuah roman berbahasa Arab.

Tengoklah, kata "keluar" yang terbaca rancu meski mungkin tidak salah. Lebih tepat bila diganti "muncul". Kata "megah" tidak tepat menyifati vila—sebab, "megah" lazimnya menyifati gedung. Lebih sepadan bila "megah" diganti "mewah". Begitupun kata "sibuk" tidak serasi bersanding dengan "mata", lagi-lagi meski tidak salah. Sorot mata lebih berjodoh dengan kata "awas"—kejelian, ketelitian mengamati obyek. Mengitari akan terasa lebih tajam bila diganti dengan "menyigi" atau "menelusuri".

Menyunting bukan sekadar menggunting kalimat, tetapi juga memperkaya pilihan kata guna mempertajam pesan-pesan teks. Agaknya belum memadai bila kerja penyuntingan hanya mempertimbangkan aspek leksikal-gramatikal saja, dituntut pula eksplorasi yang mendalam untuk memilih padanan kata yang jitu, yang sepadan satu sama lain, dan karena yang disunting adalah teks sastra, ambiguitasnya tentu harus tetap terjaga.

”Angin sepoi-sepoi bertiup dengan lembut, menyanyikan pada dedaunan sebuah nyanyian senja” terdengar janggal. Dalam cita rasa bahasa Indonesia, "sepoi-sepoi" sesungguhnya lebih tepat bila ditempatkan sebagai kata sifat. "Bertiup" dapat diganti dengan "berembus" atau "berkesiur." Hal kata "dengan", inilah yang disebut sebagai jejak bahasa asal dalam teks terjemahan. Dapat diduga, "dengan" adalah terjemahan dari "bi" (huruf ba berharakat kasrah), yang di dalam kaidah tata bahasa Arab disebut huruf Jar. "Angin berembus/berkesiur sepoi-sepoi" sudah mengandung sifat lembut. Maka, dengan lembut tidak perlu lagi. Inilah salah satu cara menghapus jejak bahasa asal dalam teks terjemahan.

Adapun frase ”menyanyikan pada dedaunan sebuah nyanyian senja”, selain mengulang kata (nyanyi), preposisinya terdengar tidak logis. Seolah-olah embusan angin sepoi-sepoi yang bernyanyi. Padahal yang bernyanyi bukan angin, melainkan daun-daun. Dedaunan bergerak—melenggok-lenggok, menimbulkan bunyi—akibat embusan angin. Karena kesiur angin sepoi-sepoi, dedaunan (seolah-olah) menyanyikan sebuah lagu senja. Maka boleh jadi akan lebih baik bila kalimat tersebut berbunyi, ”angin berembus sepoi-sepoi, hingga daun-daun seolah-olah menyanyikan sebuah lagu senja.

Dengan perubahan itu, preposisinya menjadi sangat logis dan secara tidak sengaja malah menciptakan sebuah metafora (”lenggok-lenggok daun yang menimbulkan bunyi serupa nyanyian lagu senja”).

Setelah disunting dengan cara mempertajam diksi, memangkas kata yang tak perlu, menghilangkan repetisi, meluruskan preposisi, rumusan teks hasil terjemahan di atas akan berubah menjadi: ”Seorang pelayan muncul dari sebuah vila mewah. Sorot matanya awas menelusuri jalan yang lengang. Angin berkesiur sepoi-sepoi, hingga daun-daun seolah-olah sedang menyanyikan sebuah lagu senja”.

Buah dusta

Menyunting teks terjemahan, tampaknya tidak hanya perlu penguasaan terjemahan tekstual, tetapi juga membutuhkan kecerdasan dalam menyingkap tafsir kontekstual. Sebagai contoh, kata "hadist" (bahasa Arab) dalam teks ilmu hadis, asosiasi maknanya mengarah pada sumber hukum Islam kedua setelah Al Quran. Namun, bila kata itu ditemukan dalam teks filsafat, tidak bisa lagi dimaknai sebagaimana maknanya dalam konteks ilmu hadis.

"Hadist" dalam bahasa filsafat bermakna ”temporal” (nisbi, relatif). Begitu juga kata "qadim", dalam ilmu sejarah, asosiasi maknanya mengarah pada waktu yang telah berlalu (lampau, dahulu). Namun, dalam konteks ilmu kalam (teologi Islam), filsafat dan sebagian besar teks sastra, "qadim" bermakna; ”eternal” (kekal, tak berubah).

Kerja penyuntingan teks terjemahan sangat berpeluang membuahkan dusta. Itu terjadi ketika muncul ketidakselarasan antara pesan teks asli dan teks alih bahasa. Dusta yang bermula dari penerjemah, dilanjutkan oleh penyunting, hingga menjadi dusta berkepanjangan yang terus-menerus ditimpakan kepada khalayak pembaca ”tak berdosa”. Ini kerap terjadi dalam penerjemahan dan penyuntingan teks sastra terjemahan, khususnya dari roman-roman berbahasa Arab yang terus berhamburan dalam khazanah perbukuan Tanah Air sejak beberapa tahun belakangan ini.

Ironisnya, dalam banjir naskah itu, masih saja ditemukan sebagian penyunting yang bekerja tanpa pengetahuan yang memadai terhadap aspek ketatabahasaan Arab. Sementara kebutuhan pengetahuan tentang itu sangat vital, bahkan masih perlu dilengkapi dengan pemahaman tentang dasar-dasar ilmu stilistika Arab (Bayan, Ma’ani, Badi’, ’Arudh dan Qawafi).

Itupun sebenarnya masih perlu dilengkapi dengan kemampuan yang terlatih dalam menulis karya sastra, membentangkan layar estetik, meraih diksi-diksi yang tepat, dan piawai bermain tamsil, amsal, dan umpama. Dengan begitu, penyunting dapat menyulap roman-roman berbahasa Arab menjadi (seolah-olah) bukan karya terjemahan.

Maka, saya jadi mengerti, kenapa kawan saya, Fulan, lebih bisa dipercaya dibandingkan dengan para penyunting yang canggih bahasa Arab-nya, tetapi payah dan bermasalah bahasa Indonesia-nya. Pilihan tersebut sudah tepat. Tentu saja penguji tersebut berharap agar kerja penyuntingan dapat menghasilkan sastra terjemahan yang bisa dipertanggungjawabkan keabsahannya sehingga tidak lagi sewenang-wenang mendustai pembaca...

Monday, March 16, 2009

Wajah sebagai Topeng




Oleh: DAMHURI MUHAMMAD

(KOMPAS,15/Maret/2009)


SEBERAPA jernih raut wajah mencerminkan kejatidirian yang paling asali? Lelaku, sifat dan tabiat barangkali memang dapat tergambar dari garis-garis wajah. Dalam realitas yang menyehari, pertanda amarah biasa digambarkan oleh rona muka merah-padam, begitupun keramahan, tertandai dengan raut wajah yang bersih dan berseri-seri. Itu sebabnya, kerap terniscaya bahwa manusia itu adalah wajahnya, bukan akal-budinya, bukan pula ruhnya. Tak soal bila tuan tidak punya kaki lantaran diamputasi, tidak punya tangan lantaran cacat semenjak rahim. Tuan masih leluasa bergaul, bahkan menjalin hubungan asmara dengan orang-orang normal. Dijamin tuan masih bisa dikenali, wajahnya tuan masih bisa bersitatap dengan wajah-wajah lain, dan terus-menerus mengirimkan sinyal tentang segi-segi kedirian tuan. Tapi, apa jadinya bila yang cacat dari tubuh tuan adalah wajah? Masih percaya dirikah tuan tegak-berdiri, berinteraksi sebagaimana layaknya orang-orang yang punya wajah? Bagaimana orang akan mengenal tuan yang tidak lagi punya wajah, meski tuan masih punya tubuh?

Inilah pertanyaan penting yang terdedahkan dalam novel Wajah Lelaki Lain (terjemahan dari The Face of Another) karya pengarang Jepang terkemuka, Kobo Abe (1924-1993) ini. Namun, alih-alih mengafirmasi wajah sebagai pusat eksistensi sebagaimana pengandaian ringan di atas, buku ini justru sedang berupaya menjungkirbalikkan kuasa wajah sebagai satu-satunya penanda identitas, tabiat, dan kejatidirian. Demi penyangkalan telak itu, “aku” (tokoh utama)—seorang ahli kimia molekuler yang wajahnya terbakar akibat kecelakaan di laboratorium hingga yang tersisa hanya gundukan-gundukan jejaring daging akibat luka keloid—merancang sebuah topeng guna mengganti wajah lamanya. Sejak kehilangan wajah, ia merasa terkucil, terasing dari lingkungannya, dan yang paling memberatkan adalah ketidakrelaan istrinya menjadi pendamping bagi seorang suami yang tidak lagi punya wajah. Lebih parah lagi, dalam keterasingan yang tak terpermanai itu, dengan mata kepala sendiri terus-menerus ia menyaksikan perselingkuhan istrinya dengan lelaki lain. Mungkin itu sebabnya ia ingin terlahir kembali dengan wajah utuh sebagaimana dulu. Bila perlu lebih sempurna, lebih asali dari wajah aslinya. Maka, ia menopengi dirinya dengan perangkat dan bahan-bahan yang ia olah sedemikian rupa dengan kecanggihan tingkat tinggi, hingga topeng hasil karyanya itu bahkan bisa berkeringat, di permukaannya bisa tumbuh kumis, jenggot dan jerawat, sebagaimana wajah sungguhan.

Sayangnya, topeng itu, alih-alih membebaskannya dari ceruk keterasingan, malah membuat ia semakin terpuruk dalam skeptisisme eksistensial yang sukar terpecahkan. Jangankan topeng itu, bahkan wajah aslinya yang sudah remuk tak berbentuk itu, tetap tidak bisa merepresentasikan kediriannya yang paling sejati. Ia seakan-akan terus didesak untuk memercayai bahwa wajah asli itu juga topeng, tak lebih berharga dari topeng bikinan yang memang telah berhasil mengelabui mantan istrinya. Baginya, tak ada sesuatu yang bisa dimaklumatkan oleh seraut wajah, selain kepalsuan, pengkhianatan, kebohongan, dan basa-basi. Kalaupun wajah memberikan sasmita dan pertanda, itu semu dan palsu.

Semula, dengan topeng itu, ia merasa telah menaklukkan perempuan yang memberhalakan wajah itu. Di luar dugaan, sejak mula pula, mantan istrinya itu tahu bahwa lelaki tampan yang telah membuat ia bertekuk lutut itu tidak lain adalah mantan suaminya yang sedang menyamar. Realitas yang terbangun menjadi serba terbalik, serba jungkir-balik. Betapa tidak? Lelaki bertopeng merasa telah menguasai permainan, padahal kenyataannya ia sudah kalah, bahkan jauh sebelum permainan itu dimulai. Bukan ia yang mematai-matai mantan istrinya, sebaliknya sedetikpun perempuan itu tidak pernah lalai mengawasi gerak-geriknya.

Hampir tiga perempat dari buku setebal 350 halaman ini dipenuh-sesaki oleh ketegangan-ketegangan eksistensial yang diperankan oleh lelaki bertopeng itu. Ia begitu menggebu-gebu hendak meraih eksistensi diri yang bulat dengan mewujud menjadi orang lain. Tapi, pada saat yang sama, ia begitu bergairah untuk kembali pada diri yang asali dengan cara membuka topeng itu, lalu tampil sebagai sosok lelaki dengan wajahnya dibalut gulungan perban. Sebentuk keraguan-raguan eksistensial yang keduanya terbukti tidak menjanjikan apa-apa selain kepalsuan. Lalu, dengan apa semestinya jejak eksistensi diri itu bisa ditandai?

Novelis pemenang Akutagawa Prize (1961, untuk novel The Crime of Mr.S.Karuma ) dan pengagum berat eksistensialis Martin Heidegger dan Karl Jasper ini dengan cara yang unik berhasil membangun semacam alegori eksistensial yang menakjubkan lewat The Face of Another. Dalam perkembangannya, tidak banyak sastrawan yang berhasil menitiskan kompleksitas persoalan eksistensialisme modern ke dalam karya sastra, apalagi novel. Sebelumnya hanya Frans Kafka, Edgar Allan Poe dan Samuel Becket yang melakukannya—meski dengan ultimate concern, mainstream, perspektif dan keterampilan artistik yang berbeda-beda. Itu sebabnya dalam sejumlah telaah akademik terhadap novel-novel Kobo Abe (The Woman in The Dunes, The Ruined Map, The Face of Another) para kritikus kerap membandingkannya dengan karya-karya Kafka, Poe dan Becket.

Amat disayangkan, edisi Indonesia novel ini tampaknya hanya mengolah dan dan menonjolkan segi-segi dramatik dari remuk-redam dan terpiuh-piuhnya perasaan lelaki bertopeng lantaran penyamarannya dibalas pula dengan penyamaran, kepalsuan dibalas kepalsuan, lantaran cintanya bertepuk sebelah tangan, lantaran dendam yang tiada kunjung tertuntaskan. Problem kesadaran eksistensial—bagian paling rumit dari sumbu pemikiran eksistensialisme modern—sebagai mainstream yang hendak dieksplorasi oleh novel ini menjadi hambar. Barangkali karena penerjemahnya tidak begitu menguasai akar-akar persoalan kefilsafatan kontemporer, khususnya yang berkaitan dengan sayap pemikiran eksistensialisme. Begitu juga dengan kerja penyuntingan yang tampaknya main gunting sembarangan hingga sejumlah bagian yang semestinya menjadi inti, menjadi substansi, tapi terposisikan hanya sebagai sisipan, suplemen, pelengkap belaka. Akibatnya, kedalaman yang dijanjikannya—sebagaimana terbaca dalam edisi Inggrisnya—sukar untuk diselami.

Meski ada gairah yang menyala-nyala untuk menyangkal wajah sebagai pusat kejatidirian, novel ini tidak berpretensi untuk menuntaskan pertanyaan besar perihal bagian manakah dari jagad cilik (mikromosmos) itu yang paling jujur memancarkan kejadirian yang paling utuh? Buku ini hanya menawarkan sejumlah kemungkinan guna menolak kepalsuan yang selama ini bermuasal dari wajah—tapi terus-menerus dipercayai sebagai kejujuran. Jangan-jangan sisi paling hakiki dari kedirian “mengada” justru setelah kita kehilangan wajah, bahkan setelah kita menghilangkan semua fungsi ketubuhan. Maka, lelaki bertopeng itu tidak sedang mencari keasalian eksistensi diri dengan wajah baru, tapi justru terus-menerus membangun semesta kehilangan guna memberi ruang bagi kehadiran diri yang asali. Ia yang justru “mengada” setelah “meniada”…



DATA BUKU

Judul : The Face of Another
Penulis : Kobo Abe
Penerjemah : Wawan E Yulianto
Penerbit : Jalasutra, Yogyakarta
Cetakan : I, Oktober 2008
Tebal : 350 halaman

Wednesday, January 21, 2009

MARDIJKER

Cerpen: DAMHURI MUHAMMAD

(Suara Merdeka,Minggu 18/01/2009)


Sepintas lalu, orang-orang yang lalu lalang dari dan ke arah Latanza Cafe tentu sudah mafhum bahwa lelaki ringkih itu tidak jauh berbeda dengan gembel-gembel yang terus membiak seperti kuman ganas yang menggerogoti kota ini. Satu kakinya diselunjurkan, satunya lagi ditekuk untuk menyangga tangan yang sedang memegang puntung rokok kretek, tapi belum sempat dinyalakannya. Tampang kusutnya masih seperti yang sudah-sudah. Bajunya lusuh, penuh tambalan dengan jahitan serampangan. Celana belacunya panjang sebelah, pisaknya bolong, hingga kancutnya menyembul keluar. Tapi, tepat jam setengah lima sore, di saat pengunjung Latanza Cafe sedang ramai, ia akan tampak berbeda dari gelandangan-gelandangan yang lain. Lelaki itu akan berdiri dengan dada sedikit membusung, mengacung-acungkan jari telunjuk ke arah Latanza Café, lalu berteriak,

“Rumah itu memang sudah jadi milik kalian. Tapi jangan sombong! Kalian tetap saja Mardijker, sama seperti saya.”

Tak perlu cemas dengan teriakan yang meledak-ledak dan setengah mengancam itu. Sebagaimana biasanya, salah seorang pelayan akan lekas membalas teriakan itu dari balik jendela Latanza Café.

“Kita semua memang orang-orang Mardijker, termasuk kamu.”
Lelaki itu akan diam seketika, dan kembali duduk bersilunjur seperti semula.


Begitulah yang terjadi setiap hari, sejak cafe bergaya arsitektur Eropa klasik itu mulai beroperasi. Seorang pengusaha dari Jakarta membeli rumah kuno peninggalan zaman VOC itu (kabarnya dengan harga miring), lalu merehapnya sedemikian rupa hingga menjadi Latanza Cafe, tempat nongkrong anak-anak muda kalangan kelas menengah kota ini. Petugas keamanan Latanza Café rupanya belum berhasil membuat si tua renta kurang waras itu segera hengkang dari situ. Padahal, bermacam-macam cara sudah mereka lakukan, mulai dari membujuknya dengan nasi bungkus, rokok murahan, bahkan pernah diseret paksa oleh tiga orang satpam sekaligus. Percuma, malam diusir, besok pagi ia akan nongol lagi. Entah apa yang membuatnya begitu betah duduk berlama-lama di keramaian itu. Belum ada pula pengunjung Latanza Café yang sungguh-sungguh mengerti kata “Mardijker” yang kerap terpacak dari mulut monyongnya.

Suatu ketika, Timor, salah satu pelanggan setia memberanikan diri mendekatinya. Mahasiswa pecandu café itu tampaknya mulai risih melihat perangai ganjil gembel gaek yang tak semestinya menganggu kenyamanan para pengunjung Latanza Cafe.

“Apa yang bisa membuat bapak bisa meninggalkan tempat ini?” tanya Timor, sedikit membentak.

“Mardijker tengik, beraninya kau mengusirku!” balasnya, menggertak.

“Bapak mau apa? Sebutkan saja, akan kami kasih. Asal bapak mau pergi dan tidak kembali lagi.”

“Kurang ajar! Kau kira saya gembel hah?”

“Kalau bukan gembel, lalu siapa?”

“Saya Mardijker! Sama seperti kalian. ”

“Apa itu Mardijker?”

“Cari tahu dulu apa arti ‘Mardijker’, dan jelaskan pada mereka. Setelah itu saya akan pergi dari sini,” jawabnya sambil menunjuk ke arah Latanza Café.

***

Mahasiswa sejarah yang waktunya lebih banyak habis di Latanza Cafe ketimbang di bangku kuliah itu tidak buru-buru menyibak tabir di balik kata “Mardijker”. Sebelumnya Timor melacak siapa sebenarnya lelaki sinting itu. Dari beberapa orang warga di sekitar lokasi Latanza Cafe ia beroleh keterangan bahwa orang itu bernama Soedira, lengkapnya Natan Soedira. Nama yang asing di telinga Timor. Setelah itu barulah ia memulai pelacakan yang sesungguhnya.

Dan, inilah temuannya;

Titik terang pertamakali saya temukan di gereja tua yang masih tegak berdiri di jalan protokol kota ini. Nama “Soedira” tertera di salah satu pintu dari duabelas pintu gereja itu. Di sebelas pintu yang lain tertulis; Jonathans, Leander, Loens, Bakar, Samuel, Jacob, Laurens, Joseph,Tholense, Iskah dan Zadokh. Nama-nama itu erat hubungannya dengan Cornelis Chastelein, tuan tanah yang pernah hidup di kota ini ratusan tahun silam. Konon, ia bisa sampai di Batavia karena peristiwa berdarah yang pernah dialami orangtuanya. Di negeri asalnya, peristiwa itu dikenang sebagai malam Bartholomeus, saat pesta perkawinan petinggi Hugenot dengan perempuan bangsawan penganut keyakinan berbeda diselenggarakan. Malam itu para pengikut Hugenot berbondong-bondong datang menghadiri pesta pernikahan yang sekaligus bisa mendamaikan penganut dua keyakinan yang berbeda, hingga permusuhan bisa disudahi.Tapi, ternyata pesta besar-besaran itu tak lebih dari muslihat para pengikut aliran yang dipimpin wanita bangsawan itu. Orang-orang Hugenot yang tertidur karena kelelahan kemudian dibantai hingga nyaris tak tersisa. Kalaupun ada yang selamat, itu hanya seorang lelaki bernama Anthony Chastelein. Setelah peristiwa naas itu ia melarikan diri ke Belanda, menikah dengan putri walikota, Maria Cruydenier, dan lahirlah seorang anak bernama Cornelis Chastelein.

Cornelis Chastelein menginjakkan kaki di tanah Batavia pada 16 Agustus 1674, setelah menempuh pelayaran selama 233 hari dengan kapal t Huis te Cleff. Ia bekerja pada VOC sebagai akuntan. Cornelis bisa menjalin hubungan baik dengan Champhuys, gubernur jenderal VOC waktu itu. Tapi, ia mulai kurang nyaman bekerja setelah Van Outhoorn menggantikan Champuys. Lebih tidak nyaman lagi setelah Van Outhoorn mengangkat menantunya sebagai atasan Cornelis Chastelein. Akhirnya, ia berhenti sebagai pejabat VOC. Cornelis keluar dari Batavia dan membeli sebidang tanah di kota ini. Kelak, di kota inilah ia mewujudkan segala impiannya. Digarapnya tanah itu menjadi lahan perkebunan yang menghasilkan panen melimpah. Orang-orang yang menggarap lahan itu adalah tawanan perang (berstatus budak) setelah Belanda mengalahkan Malaka, 1941. Cornelis memerdekakan budak-budak itu hingga mereka disebut “Mardijker” atau ‘orang merdeka’. Supaya gampang diatur, ia mengelompokkan mereka menjadi duabelas marga. Hingga kini nama-nama marga itu masih termaktub di duabelas pintu gereja tua kota ini. Sekali lagi, salahsatunya “Soedira”. Nama belakang gembel yang setiap hari bersilunjur kaki di sisi kiri pintu masuk Latanza Cafe.

Cornelis Chastelein pernah menikah dengan gadis Bali dan punya anak bernama Maria Chastelein. Itu sebabnya ia menaruh perhatian pada alat musik gamelan, utamanya gamelan Bali. Ia punya dua gamelan. Satu hanya dipakai pada upacara-upacara penting, satu lagi dipakai untuk latihan di hari-hari biasa. Tak hanya itu, ia juga punya sebuah gong yang di kemudian hari dikenal dengan; Gong Bolong. Meski bolong, bila dipukul, bunyinya begitu nyaring hingga terdengar dari jarak yang sangat jauh. Kini, Gong Bolong masih tersimpan di kota ini, masih kerap dipakai dalam acara-acara ruwatan. Seseorang yang tidak mau disebut namanya mengatakan; Chastelein juga mengoleksi lukisan-lukisan karya seniman-seniman abad pencerahan. Ia membangun sebuah landhuis (semacam villa) dengan arsitektur khas Eropa guna menyimpan lukisan-lukisan berselera tinggi itu.

Dalam surat wasiatnya, Chastelein menyebutkan marga “Soedira” sebagai satu-satunya pewaris villa itu, sekaligus dengan koleksi lukisan-lukisan yang sangat berharga itu. Saya teringat pada gembel dengan nama belakang “Soedira” itu. Dan, yang membuat saya makin penasaran adalah soal Latanza Café, tempat nongkrong favorit saya itu. Boleh jadi cafe itu adalah bekas landhuis milik Chastelein di masa lalu. Boleh jadi pula Natan Soedira adalah keturunan yang kesekian ratus dari marga “Soedira”. Mardijker yang paling disukai Chastelein. Lalu, siapa yang beruntung mendapatkan lukisan-lukisan abad pencerahan itu?

****

Timor sudah tak sabar ingin segera memberitahukan penemuannya pada kawan-kawan sesama pelanggan Latanza Cafe. Semua hal ihwal menyangkut misteri Mardijker telah tersingkap. Tuntas dari A sampai Z, dari ekor hingga kepala. Jangankan menjelaskan maksud kata ganjil yang selama ini diteriakkan Natan Soedira, mengungkap asal muasal kota ini sejak zaman VOC pun Timor tidak merasa kesulitan. Itu artinya, ia akan menjadi orang yang berhasil mengusir “Mardijker Soedira” dari Latanza Café hingga kenyamanan pengunjung tak bakal terusik lagi.

Tapi, sejak dua hari lalu, Latanza Café, tutup. Timor belum tahu alasan yang paling masuk akal perihal penutupan yang begitu mendadak itu. Hanya ada desas desus yang bergulir bahwa satu bulan terakhir ini pengelola Latanza Cafe merugi lantaran sepi pengunjung. Ini terjadi sejak tua bangka gembel yang saban hari bersilunjur di sisi kiri pintu masuk cafe itu mati mengenaskan. Mayatnya ditemukan menggelantung di salah satu dahan pohon beringin, lebih kurang duapuluh langkah dari pelataran halaman Latanza Cafe. Para pelanggan ketakutan. Sebab, setiap malam selasa legi, hantu gembel itu bergentayangan di sekitar lokasi café. Timor tidak bisa langsung memercayai kabar simpang siur itu. Apalagi hasil visum menyimpulkan; korban telah meninggal beberapa jam sebelum ditemukan menggelantung di pohon beringin itu. Karena terlalu banyak tahu tentang bangunan Latansa Café masa lalu, bisa saja ia menghalangi niat busuk orang-orang tertentu. Maka, Mardijker itu barangkali harus ‘dimerdekakan’ dari hidupnya yang tak mujur. Bisa saja, ia dihabisi dulu, kemudian mayatnya digantung di pohon beringin. Timor seperti hendak menceritakan sesuatu pada kawan-kawan sesama penongkrong di Latanza Café yang sudah bangkrut itu. Tapi ia tidak terlalu yakin bakal ada percaya pada omongannya.

Mardijker, landhuis warisan tuan tanah Cornelis Chalestein dan koleksi lukisan abad pencerahan tetap jadi misteri yang awet tersimpan dalam ingatan Timor. Tak lama kemudian, di sebelah barat bekas Latanza Café berdiri sebuah Mall, pusat perbelanjaan terbesar di kota ini. Rumah usang itupun berganti pemilik. Meski tidak sampai dirobohkan, tata ruangnya dirancang dengan sentuhan yang bernuansa metropolitan. Namanya berubah menjadi; Olala Café. Timor masih saja betah tinggal di kota ini. Sesekali ia nongkrong di café baru itu, utamanya di malam selasa legi. Kadang-kadang hingga larut malam.

Depok, 2008

Monday, January 05, 2009


Bayang-Bayang Tujuh

Cerpen DAMHURI MUHAMMAD

(JAWA POS, Minggu, 4 Januari 2009)

Dalam sekali helaan napas, riuh sorak-sorai para petaruh yang berdiri di sekeliling lingkar arena sabung ayam di lereng Bukit Limbuku tiba-tiba terhenyak dalam hening. Orang-orang seperti dihadang kegamangan. Tiada hirau lagi para petaruh itu pada kibasan dan kelebat kaki-kaki bertaji dalam tarung Jalak Itam dan Kurik Bulu yang tengah berlaga begitu sengit hingga jambul kedua jago turunan Bangkok itu bergelimang darah. Semua mata seolah terisap ke dalam pancaran mata bengis Langkisau yang sedang mengamuk. Ia baru saja menghajar lelaki tanggung yang tampaknya orang baru di kalangan para petaruh.

Melihat raut mukanya yang begitu teduh, hampir bisa dipastikan ia bukan penggila judi sabung yang tengah menunggu kokok kemenangan Jalak Itam dan keok kekalahan Kurik Bulu, atau sebaliknya. Menurut penuturan seorang pejudi, ia guru ngaji yang sedang memantau kalau-kalau ada di antara murid-muridnya yang ikut-ikutan menonton permainan itu. Bila ada murid yang tertangkap tangan sedang berada di arena judi sabung, guru muda itu akan menyeretnya turun. Di surau ia akan beroleh hukuman sepadan. Biasanya, telapak tangan si murid dicambuk dengan rotan, berkali-kali, tak henti-henti, dari selepas Magrib hingga tiba waktu Isya.

Begitu menginjak tanah lereng Bukit Limbuku, ia berjalan mengendap-endap di sela-sela kerumunan para petaruh yang sedang berdebar-debar, cemas kalau-kalau jagoan mereka tumbang, dan segepok uang taruhan tentu bakal melayang. Pada saat yang sama, Langkisau sedang sibuk mengumpulkan taruhan. Tanpa disengaja, guru muda itu melangkahi bayang-bayang tubuh Langkisau. Telapak kakinya menginjak bayangan kepala Langkisau. Perlu ditegaskan, ia tidak melangkahi kepala Langkisau, hanya melangkahi bayang-bayangnya. Tapi, itu sudah melanggar pantangan. Langkisau menyeringai, menyerungut, serupa anjing yang hendak menerkam buruan. Dari arah depan, dua kali tendangan gasingnya mendarat di ulu hati lelaki itu. Aliran napasnya seolah disumbat oleh hantaman kaki Langkisau. Ia sempoyongan. Badannnya oleng. Pandangannya kabur.

''Mampus kau!''

''Melangkahi bayang-bayang kepalaku sama dengan menginjak kepalaku.''

''Belum tahu siapa Langkisau kau rupanya?''

''Huaaap...''

Tiada ampun, guru muda tumbang, kepalanya mencukik ke dalam comberan tempat membasuh luka-luka di jambul ayam jago selepas berlaga. Buruk benar cara jatuhnya. Menelungkup dengan muka berkubang lumpur. Sementara itu, para petaruh makin ketakutan kalau-kalau anak muda itu tidak bangun lagi, apalagi kalau ia mati terkulai di tangan Langkisau. Kalau benar ia salah satu guru ngaji, keributan kecil itu tiada bakal berhenti sampai di sini. Para tetua Surau Tuo tak akan tinggal diam. Bukan Langkisau saja yang akan terancam, semua petaruh di lereng bukit itu akan tahu akibatnya.

''Cukup Langkisau!''

Begitu teriak Inyik Centang, kaki-tangan Langkisau. Ia muncul tiba-tiba, menghadang Langkisau yang hendak mencatukkan lading di kuduk lelaki tanggung yang sudah tak berkutik itu.

''Belum puas aku kalau orang ini masih hidup,'' bentak Langkisau, ''kukirim sekalian ke liang lahat.''

''Sekali lagi, cukup! Dia orang Surau Tuo. Bisa jadi orang suruhan Engku 21.''

''Nah, itu yang kutunggu sejak dulu. Sudah lama aku ingin menjajal kehebatan tuan-tuan Engku 21 itu.''

''Jangan takabur! Mereka sukar dikalahkan. Lebih-lebih si Gelang-Gelang Kawat. Ilmu Bayang-Bayang Tujuh matang di tangannya.''

''Keparat! Kau pikir aku takut? Akan kucincang si Bayang-Bayang Tujuh itu.''

''Cincang? Saat kau hendak menggoroknya, tubuh kasarnya hilang. Kau hanya bisa mendengar suaranya.''

***

Cerita Inyik Centang benar. Jauh sebelum lereng Bukit Limbuku penuh sesak oleh para penyabung, Gelang-Gelang Kawat menebang Betung di lahan itu. Ia beroleh upah dari seorang cukong yang konon telah memborong semua rumpun aur di lereng bukit itu. Suatu ketika, di musim kemarau, terjadi kebakaran karena ulah para penebang yang abai mematikan puntung rokok sebelum dibuang ke semak-semak. Celakanya, Gelang-Gelang Kawat tertuduh sebagai perokok yang buang puntung sembarangan itu hingga seperempat lereng bukit gosong dilalap api. Maka, ia harus berurusan dengan aparat.

''Benar Saudara yang menyebabkan Bukit Limbuku terbakar?'' bentak seorang petugas dengan memasang tampang sangar agar Gelang-Gelang Kawat lekas mengaku.

''Bukan saya, tapi tangan saya!'' balasnya. Tegas.

Pada saat Gelang-Gelang Kawat mengucapkan kata-kata itu, polisi yang memeriksanya hanya bisa mendengar suara paraunya, tidak bisa melihat wujud si tertuduh. Tubuhnya bagai menguap, bagai mengelayap entah ke mana, lenyap seketika. Lutut petugas itu gemetar karena takut. Bulu kuduknya meremang. Seumur-umur ia mengurus kasus kebakaran hutan, baru kali itu ia ketemu orang yang tak bertubuh kasar. Ia merasa tidak lagi berhadapan dengan tersangka, tapi dengan hantu penunggu lereng Bukit Limbuku.

Sejak peristiwa itu, Gelang-Gelang Kawat jarang ke lereng Bukit Limbuku. Pohon-pohon betung yang biasa ditebangnya sudah jadi abu. Ia mencurahkan perhatian untuk mengajar anak-anak mengaji di Surau Tuo. Lebih-lebih, sejak ia dipercaya menjadi salah satu Engku dari dua puluh satu Engku di surau itu. Sejak lama, masing-masing suku mengutus tiga orang Engku guna menyemarakkan surau usang itu; satu bilal, satu imam, satu khatib. Lantaran ada tujuh suku di kampung itu, maka azan-iqamah, salat berjamaah, belajar ngaji, wirid mingguan, dan khatib Jumat diurus oleh dua puluh satu Engku. Itu sebabnya mereka disebut Engku 21.

''Kalaulah tidak karena permintaan Engku-Engku, sudah kupatahkan pinggangnya,'' kata lelaki muda itu, sesekali ia meringis kesakitan saat Gelang-Gelang Kawat mengobati tulang belikatnya yang memar akibat tendangan gasing Langkisau.

''Makanya jangan lengah, masa' kau langkahi kepalanya? Ha ha ha...''

''Bukan kepalanya, hanya bayang-bayang kepalanya...''

''Di situ letak kelemahan Langkisau. Ada enam bagian lagi dari tubuhnya yang harus kau langkahi.''

''Tapi, kenapa aku tidak boleh mengelak? Jangankan melawan, mengelak pun pantang,''

''Kau ingin mengalahkan Langkisau bukan?'' sela Gelang-Gelang Kawat.

***

Kepulangan Langkisau ke kampung ini barangkali kepulangan paling celaka bagi setiap perantau. Setelah mengadu untung selama puluhan tahun dan beranak-pinak di negeri seberang, ia pulang dengan gairah hidup yang hampir redup. Tubuh jangkungnya kian ceking, namun perutnya buncit-padat lantaran berhari-hari ia tak bisa berak. Kabarnya, waktu itu, seseorang dengan kemampuan guna-guna tingkat tinggi menahan semua unsur yang berjenis racun untuk tetap bersarang di tubuh Langkisau, hingga tiba saatnya racun-racun itu menjadi penyakit yang bakal menyudahi riwayat si raja copet itu.

Sehebat-hebatnya Langkisau, tetap saja ada yang lebih hebat. Selihai-lihai tupai melompat, sekali waktu jatuh-terpelanting juga. Padahal, bila tidak terlalu kemaruk, Langkisau tak bakal ketemu lawan bersengat seperti itu. Anak buahnya banyak, wilayah kuasanya luas, ia disegani lantaran ilmu Bayang-Bayang Tujuh sempurna dikuasainya. Betapa tidak? Langkisau bisa menguras uang dari tujuh saku korban sekaligus, itu hanya dengan sekali gerak. Tubuhnya membelah jadi tujuh, tiada yang tahu mana jasad aslinya. Yang pasti, tujuh bayangan itu tidak pernah pulang percuma. Tapi, Langkisau tidak pernah puas. Masih saja ia menyabot wilayah orang lain. Ingin menjadi satu-satunya raja copet ia rupanya, ingin semua pencopet kota itu tunduk, bertekuk lutut di hadapannya. Langkisau lupa, di atas langit ada langit. Akibatnya, ia harus pulang sebagai pecundang. Dengan kekuatan guna-guna, ia ditumbangkan.

Untunglah, saudara seperguruannya, Gelang-Gelang Kawat, tidak tinggal diam. Meski Langkisau sudah menempuh jalan berbeda, Gelang-Gelang Kawat tetap mengerahkan segenap kesaktiannya guna menyelamatkan Langkisau yang sudah di ambang kematian. Tak lama Gelang-Gelang Kawat bekerja, sejawatnya sesama pewaris ilmu Bayang-Bayang Tujuh itu sembuh dan gairah jawaranya kembali menyala. ''Menyelamatkan nyawa Langkisau sama dengan membangunkan harimau tidur,'' kata orang-orang yang menginginkan kematian Langkisau.

''Biarkan saja keparat itu mati busuk!''

''Tak ingin jadi nomor satu? Bila Langkisau masih hidup, kau tetap nomor dua."

***

Lereng Bukit Limbuku yang lapang selepas terbakar disulap Langkisau menjadi arena sabung ayam. Diundangnya para penyabung dari mana-mana hingga setiap hari lereng bukit itu seperti pasar. Bila di rantau Langkisau raja copet, di sini, di kampung ini, ia raja judi. Tak ada yang berani menghadangnya, tidak pula para tetua kampung yang diam-diam ternyata sudah menjadi kacung-kacung Langkisau. Tak jelas lagi, siapa kawan siapa lawan, sejak Langkisau kembali bertaji. Kalaupun ada yang dapat mengimbangi kesaktiannya, itu hanya dapat dilakukan oleh orang-orang Engku 21, utamanya Gelang-Gelang Kawat.

''Menurut Engku, aku sanggup menumbangkannya?'' tanya murid terbaik Gelang-Gelang Kawat yang tulang belikatnya sudah enam kali jadi sasaran tendangan gasing Langkisau.

''Bayang-bayang Langkisau bagian mana lagi yang harus aku langkahi?''

''Jangan gegabah! Tinggal satu lagi.''

''Cepat katakan!''

''Langkahi bayang-bayang daerah gelang-gelang*) Langkisau! Itu pantangan ilmu Gelang-Gelang Kawat. Langkisaulah Gelang-gelang Kawat sebenarnya.''

Lelaki itu mulai bimbang. Jangan-jangan Langkisau dan Gelang-Gelang Kawat hanyalah dua kepingan dari satu jasad yang telah membelah. Bukankah keduanya sama-sama menempuh tarekat Bayang-Bayang Tujuh? Mungkin Langkisau telah membelah diri menjadi Gelang-Gelang Kawat atau Gelang-gelang Kawat yang membiak jadi Langkisau. Lalu, siapa wujud aslinya, di mana lima bayangan yang lain? Ah.

''Apa yang kau tunggu?'' desak Gelang-Gelang Kawat.

Lekas ia beranjak. Tapi, langkahnya bagai ditahan. Apa mungkin Engku Guru membunuh bayangan sendiri? Ia membatin. Sejurus kemudian, ia merasa telah menjadi orang lain. Kadang-kadang merasa sebagai Gelang-Gelang Kawat, tapi sesekali menggebu hendak jadi jawara seperti Langkisau.

*) Usus besar

Jakarta, 2008