Search This Blog

Monday, January 05, 2009


Bayang-Bayang Tujuh

Cerpen DAMHURI MUHAMMAD

(JAWA POS, Minggu, 4 Januari 2009)

Dalam sekali helaan napas, riuh sorak-sorai para petaruh yang berdiri di sekeliling lingkar arena sabung ayam di lereng Bukit Limbuku tiba-tiba terhenyak dalam hening. Orang-orang seperti dihadang kegamangan. Tiada hirau lagi para petaruh itu pada kibasan dan kelebat kaki-kaki bertaji dalam tarung Jalak Itam dan Kurik Bulu yang tengah berlaga begitu sengit hingga jambul kedua jago turunan Bangkok itu bergelimang darah. Semua mata seolah terisap ke dalam pancaran mata bengis Langkisau yang sedang mengamuk. Ia baru saja menghajar lelaki tanggung yang tampaknya orang baru di kalangan para petaruh.

Melihat raut mukanya yang begitu teduh, hampir bisa dipastikan ia bukan penggila judi sabung yang tengah menunggu kokok kemenangan Jalak Itam dan keok kekalahan Kurik Bulu, atau sebaliknya. Menurut penuturan seorang pejudi, ia guru ngaji yang sedang memantau kalau-kalau ada di antara murid-muridnya yang ikut-ikutan menonton permainan itu. Bila ada murid yang tertangkap tangan sedang berada di arena judi sabung, guru muda itu akan menyeretnya turun. Di surau ia akan beroleh hukuman sepadan. Biasanya, telapak tangan si murid dicambuk dengan rotan, berkali-kali, tak henti-henti, dari selepas Magrib hingga tiba waktu Isya.

Begitu menginjak tanah lereng Bukit Limbuku, ia berjalan mengendap-endap di sela-sela kerumunan para petaruh yang sedang berdebar-debar, cemas kalau-kalau jagoan mereka tumbang, dan segepok uang taruhan tentu bakal melayang. Pada saat yang sama, Langkisau sedang sibuk mengumpulkan taruhan. Tanpa disengaja, guru muda itu melangkahi bayang-bayang tubuh Langkisau. Telapak kakinya menginjak bayangan kepala Langkisau. Perlu ditegaskan, ia tidak melangkahi kepala Langkisau, hanya melangkahi bayang-bayangnya. Tapi, itu sudah melanggar pantangan. Langkisau menyeringai, menyerungut, serupa anjing yang hendak menerkam buruan. Dari arah depan, dua kali tendangan gasingnya mendarat di ulu hati lelaki itu. Aliran napasnya seolah disumbat oleh hantaman kaki Langkisau. Ia sempoyongan. Badannnya oleng. Pandangannya kabur.

''Mampus kau!''

''Melangkahi bayang-bayang kepalaku sama dengan menginjak kepalaku.''

''Belum tahu siapa Langkisau kau rupanya?''

''Huaaap...''

Tiada ampun, guru muda tumbang, kepalanya mencukik ke dalam comberan tempat membasuh luka-luka di jambul ayam jago selepas berlaga. Buruk benar cara jatuhnya. Menelungkup dengan muka berkubang lumpur. Sementara itu, para petaruh makin ketakutan kalau-kalau anak muda itu tidak bangun lagi, apalagi kalau ia mati terkulai di tangan Langkisau. Kalau benar ia salah satu guru ngaji, keributan kecil itu tiada bakal berhenti sampai di sini. Para tetua Surau Tuo tak akan tinggal diam. Bukan Langkisau saja yang akan terancam, semua petaruh di lereng bukit itu akan tahu akibatnya.

''Cukup Langkisau!''

Begitu teriak Inyik Centang, kaki-tangan Langkisau. Ia muncul tiba-tiba, menghadang Langkisau yang hendak mencatukkan lading di kuduk lelaki tanggung yang sudah tak berkutik itu.

''Belum puas aku kalau orang ini masih hidup,'' bentak Langkisau, ''kukirim sekalian ke liang lahat.''

''Sekali lagi, cukup! Dia orang Surau Tuo. Bisa jadi orang suruhan Engku 21.''

''Nah, itu yang kutunggu sejak dulu. Sudah lama aku ingin menjajal kehebatan tuan-tuan Engku 21 itu.''

''Jangan takabur! Mereka sukar dikalahkan. Lebih-lebih si Gelang-Gelang Kawat. Ilmu Bayang-Bayang Tujuh matang di tangannya.''

''Keparat! Kau pikir aku takut? Akan kucincang si Bayang-Bayang Tujuh itu.''

''Cincang? Saat kau hendak menggoroknya, tubuh kasarnya hilang. Kau hanya bisa mendengar suaranya.''

***

Cerita Inyik Centang benar. Jauh sebelum lereng Bukit Limbuku penuh sesak oleh para penyabung, Gelang-Gelang Kawat menebang Betung di lahan itu. Ia beroleh upah dari seorang cukong yang konon telah memborong semua rumpun aur di lereng bukit itu. Suatu ketika, di musim kemarau, terjadi kebakaran karena ulah para penebang yang abai mematikan puntung rokok sebelum dibuang ke semak-semak. Celakanya, Gelang-Gelang Kawat tertuduh sebagai perokok yang buang puntung sembarangan itu hingga seperempat lereng bukit gosong dilalap api. Maka, ia harus berurusan dengan aparat.

''Benar Saudara yang menyebabkan Bukit Limbuku terbakar?'' bentak seorang petugas dengan memasang tampang sangar agar Gelang-Gelang Kawat lekas mengaku.

''Bukan saya, tapi tangan saya!'' balasnya. Tegas.

Pada saat Gelang-Gelang Kawat mengucapkan kata-kata itu, polisi yang memeriksanya hanya bisa mendengar suara paraunya, tidak bisa melihat wujud si tertuduh. Tubuhnya bagai menguap, bagai mengelayap entah ke mana, lenyap seketika. Lutut petugas itu gemetar karena takut. Bulu kuduknya meremang. Seumur-umur ia mengurus kasus kebakaran hutan, baru kali itu ia ketemu orang yang tak bertubuh kasar. Ia merasa tidak lagi berhadapan dengan tersangka, tapi dengan hantu penunggu lereng Bukit Limbuku.

Sejak peristiwa itu, Gelang-Gelang Kawat jarang ke lereng Bukit Limbuku. Pohon-pohon betung yang biasa ditebangnya sudah jadi abu. Ia mencurahkan perhatian untuk mengajar anak-anak mengaji di Surau Tuo. Lebih-lebih, sejak ia dipercaya menjadi salah satu Engku dari dua puluh satu Engku di surau itu. Sejak lama, masing-masing suku mengutus tiga orang Engku guna menyemarakkan surau usang itu; satu bilal, satu imam, satu khatib. Lantaran ada tujuh suku di kampung itu, maka azan-iqamah, salat berjamaah, belajar ngaji, wirid mingguan, dan khatib Jumat diurus oleh dua puluh satu Engku. Itu sebabnya mereka disebut Engku 21.

''Kalaulah tidak karena permintaan Engku-Engku, sudah kupatahkan pinggangnya,'' kata lelaki muda itu, sesekali ia meringis kesakitan saat Gelang-Gelang Kawat mengobati tulang belikatnya yang memar akibat tendangan gasing Langkisau.

''Makanya jangan lengah, masa' kau langkahi kepalanya? Ha ha ha...''

''Bukan kepalanya, hanya bayang-bayang kepalanya...''

''Di situ letak kelemahan Langkisau. Ada enam bagian lagi dari tubuhnya yang harus kau langkahi.''

''Tapi, kenapa aku tidak boleh mengelak? Jangankan melawan, mengelak pun pantang,''

''Kau ingin mengalahkan Langkisau bukan?'' sela Gelang-Gelang Kawat.

***

Kepulangan Langkisau ke kampung ini barangkali kepulangan paling celaka bagi setiap perantau. Setelah mengadu untung selama puluhan tahun dan beranak-pinak di negeri seberang, ia pulang dengan gairah hidup yang hampir redup. Tubuh jangkungnya kian ceking, namun perutnya buncit-padat lantaran berhari-hari ia tak bisa berak. Kabarnya, waktu itu, seseorang dengan kemampuan guna-guna tingkat tinggi menahan semua unsur yang berjenis racun untuk tetap bersarang di tubuh Langkisau, hingga tiba saatnya racun-racun itu menjadi penyakit yang bakal menyudahi riwayat si raja copet itu.

Sehebat-hebatnya Langkisau, tetap saja ada yang lebih hebat. Selihai-lihai tupai melompat, sekali waktu jatuh-terpelanting juga. Padahal, bila tidak terlalu kemaruk, Langkisau tak bakal ketemu lawan bersengat seperti itu. Anak buahnya banyak, wilayah kuasanya luas, ia disegani lantaran ilmu Bayang-Bayang Tujuh sempurna dikuasainya. Betapa tidak? Langkisau bisa menguras uang dari tujuh saku korban sekaligus, itu hanya dengan sekali gerak. Tubuhnya membelah jadi tujuh, tiada yang tahu mana jasad aslinya. Yang pasti, tujuh bayangan itu tidak pernah pulang percuma. Tapi, Langkisau tidak pernah puas. Masih saja ia menyabot wilayah orang lain. Ingin menjadi satu-satunya raja copet ia rupanya, ingin semua pencopet kota itu tunduk, bertekuk lutut di hadapannya. Langkisau lupa, di atas langit ada langit. Akibatnya, ia harus pulang sebagai pecundang. Dengan kekuatan guna-guna, ia ditumbangkan.

Untunglah, saudara seperguruannya, Gelang-Gelang Kawat, tidak tinggal diam. Meski Langkisau sudah menempuh jalan berbeda, Gelang-Gelang Kawat tetap mengerahkan segenap kesaktiannya guna menyelamatkan Langkisau yang sudah di ambang kematian. Tak lama Gelang-Gelang Kawat bekerja, sejawatnya sesama pewaris ilmu Bayang-Bayang Tujuh itu sembuh dan gairah jawaranya kembali menyala. ''Menyelamatkan nyawa Langkisau sama dengan membangunkan harimau tidur,'' kata orang-orang yang menginginkan kematian Langkisau.

''Biarkan saja keparat itu mati busuk!''

''Tak ingin jadi nomor satu? Bila Langkisau masih hidup, kau tetap nomor dua."

***

Lereng Bukit Limbuku yang lapang selepas terbakar disulap Langkisau menjadi arena sabung ayam. Diundangnya para penyabung dari mana-mana hingga setiap hari lereng bukit itu seperti pasar. Bila di rantau Langkisau raja copet, di sini, di kampung ini, ia raja judi. Tak ada yang berani menghadangnya, tidak pula para tetua kampung yang diam-diam ternyata sudah menjadi kacung-kacung Langkisau. Tak jelas lagi, siapa kawan siapa lawan, sejak Langkisau kembali bertaji. Kalaupun ada yang dapat mengimbangi kesaktiannya, itu hanya dapat dilakukan oleh orang-orang Engku 21, utamanya Gelang-Gelang Kawat.

''Menurut Engku, aku sanggup menumbangkannya?'' tanya murid terbaik Gelang-Gelang Kawat yang tulang belikatnya sudah enam kali jadi sasaran tendangan gasing Langkisau.

''Bayang-bayang Langkisau bagian mana lagi yang harus aku langkahi?''

''Jangan gegabah! Tinggal satu lagi.''

''Cepat katakan!''

''Langkahi bayang-bayang daerah gelang-gelang*) Langkisau! Itu pantangan ilmu Gelang-Gelang Kawat. Langkisaulah Gelang-gelang Kawat sebenarnya.''

Lelaki itu mulai bimbang. Jangan-jangan Langkisau dan Gelang-Gelang Kawat hanyalah dua kepingan dari satu jasad yang telah membelah. Bukankah keduanya sama-sama menempuh tarekat Bayang-Bayang Tujuh? Mungkin Langkisau telah membelah diri menjadi Gelang-Gelang Kawat atau Gelang-gelang Kawat yang membiak jadi Langkisau. Lalu, siapa wujud aslinya, di mana lima bayangan yang lain? Ah.

''Apa yang kau tunggu?'' desak Gelang-Gelang Kawat.

Lekas ia beranjak. Tapi, langkahnya bagai ditahan. Apa mungkin Engku Guru membunuh bayangan sendiri? Ia membatin. Sejurus kemudian, ia merasa telah menjadi orang lain. Kadang-kadang merasa sebagai Gelang-Gelang Kawat, tapi sesekali menggebu hendak jadi jawara seperti Langkisau.

*) Usus besar

Jakarta, 2008

2 comments:

radhar said...

blogwalking hehehe....

damhurimuhammad said...

sambel terasi, lalapannya pete muda