Search This Blog

Wednesday, January 21, 2009

MARDIJKER

Cerpen: DAMHURI MUHAMMAD

(Suara Merdeka,Minggu 18/01/2009)


Sepintas lalu, orang-orang yang lalu lalang dari dan ke arah Latanza Cafe tentu sudah mafhum bahwa lelaki ringkih itu tidak jauh berbeda dengan gembel-gembel yang terus membiak seperti kuman ganas yang menggerogoti kota ini. Satu kakinya diselunjurkan, satunya lagi ditekuk untuk menyangga tangan yang sedang memegang puntung rokok kretek, tapi belum sempat dinyalakannya. Tampang kusutnya masih seperti yang sudah-sudah. Bajunya lusuh, penuh tambalan dengan jahitan serampangan. Celana belacunya panjang sebelah, pisaknya bolong, hingga kancutnya menyembul keluar. Tapi, tepat jam setengah lima sore, di saat pengunjung Latanza Cafe sedang ramai, ia akan tampak berbeda dari gelandangan-gelandangan yang lain. Lelaki itu akan berdiri dengan dada sedikit membusung, mengacung-acungkan jari telunjuk ke arah Latanza Café, lalu berteriak,

“Rumah itu memang sudah jadi milik kalian. Tapi jangan sombong! Kalian tetap saja Mardijker, sama seperti saya.”

Tak perlu cemas dengan teriakan yang meledak-ledak dan setengah mengancam itu. Sebagaimana biasanya, salah seorang pelayan akan lekas membalas teriakan itu dari balik jendela Latanza Café.

“Kita semua memang orang-orang Mardijker, termasuk kamu.”
Lelaki itu akan diam seketika, dan kembali duduk bersilunjur seperti semula.


Begitulah yang terjadi setiap hari, sejak cafe bergaya arsitektur Eropa klasik itu mulai beroperasi. Seorang pengusaha dari Jakarta membeli rumah kuno peninggalan zaman VOC itu (kabarnya dengan harga miring), lalu merehapnya sedemikian rupa hingga menjadi Latanza Cafe, tempat nongkrong anak-anak muda kalangan kelas menengah kota ini. Petugas keamanan Latanza Café rupanya belum berhasil membuat si tua renta kurang waras itu segera hengkang dari situ. Padahal, bermacam-macam cara sudah mereka lakukan, mulai dari membujuknya dengan nasi bungkus, rokok murahan, bahkan pernah diseret paksa oleh tiga orang satpam sekaligus. Percuma, malam diusir, besok pagi ia akan nongol lagi. Entah apa yang membuatnya begitu betah duduk berlama-lama di keramaian itu. Belum ada pula pengunjung Latanza Café yang sungguh-sungguh mengerti kata “Mardijker” yang kerap terpacak dari mulut monyongnya.

Suatu ketika, Timor, salah satu pelanggan setia memberanikan diri mendekatinya. Mahasiswa pecandu café itu tampaknya mulai risih melihat perangai ganjil gembel gaek yang tak semestinya menganggu kenyamanan para pengunjung Latanza Cafe.

“Apa yang bisa membuat bapak bisa meninggalkan tempat ini?” tanya Timor, sedikit membentak.

“Mardijker tengik, beraninya kau mengusirku!” balasnya, menggertak.

“Bapak mau apa? Sebutkan saja, akan kami kasih. Asal bapak mau pergi dan tidak kembali lagi.”

“Kurang ajar! Kau kira saya gembel hah?”

“Kalau bukan gembel, lalu siapa?”

“Saya Mardijker! Sama seperti kalian. ”

“Apa itu Mardijker?”

“Cari tahu dulu apa arti ‘Mardijker’, dan jelaskan pada mereka. Setelah itu saya akan pergi dari sini,” jawabnya sambil menunjuk ke arah Latanza Café.

***

Mahasiswa sejarah yang waktunya lebih banyak habis di Latanza Cafe ketimbang di bangku kuliah itu tidak buru-buru menyibak tabir di balik kata “Mardijker”. Sebelumnya Timor melacak siapa sebenarnya lelaki sinting itu. Dari beberapa orang warga di sekitar lokasi Latanza Cafe ia beroleh keterangan bahwa orang itu bernama Soedira, lengkapnya Natan Soedira. Nama yang asing di telinga Timor. Setelah itu barulah ia memulai pelacakan yang sesungguhnya.

Dan, inilah temuannya;

Titik terang pertamakali saya temukan di gereja tua yang masih tegak berdiri di jalan protokol kota ini. Nama “Soedira” tertera di salah satu pintu dari duabelas pintu gereja itu. Di sebelas pintu yang lain tertulis; Jonathans, Leander, Loens, Bakar, Samuel, Jacob, Laurens, Joseph,Tholense, Iskah dan Zadokh. Nama-nama itu erat hubungannya dengan Cornelis Chastelein, tuan tanah yang pernah hidup di kota ini ratusan tahun silam. Konon, ia bisa sampai di Batavia karena peristiwa berdarah yang pernah dialami orangtuanya. Di negeri asalnya, peristiwa itu dikenang sebagai malam Bartholomeus, saat pesta perkawinan petinggi Hugenot dengan perempuan bangsawan penganut keyakinan berbeda diselenggarakan. Malam itu para pengikut Hugenot berbondong-bondong datang menghadiri pesta pernikahan yang sekaligus bisa mendamaikan penganut dua keyakinan yang berbeda, hingga permusuhan bisa disudahi.Tapi, ternyata pesta besar-besaran itu tak lebih dari muslihat para pengikut aliran yang dipimpin wanita bangsawan itu. Orang-orang Hugenot yang tertidur karena kelelahan kemudian dibantai hingga nyaris tak tersisa. Kalaupun ada yang selamat, itu hanya seorang lelaki bernama Anthony Chastelein. Setelah peristiwa naas itu ia melarikan diri ke Belanda, menikah dengan putri walikota, Maria Cruydenier, dan lahirlah seorang anak bernama Cornelis Chastelein.

Cornelis Chastelein menginjakkan kaki di tanah Batavia pada 16 Agustus 1674, setelah menempuh pelayaran selama 233 hari dengan kapal t Huis te Cleff. Ia bekerja pada VOC sebagai akuntan. Cornelis bisa menjalin hubungan baik dengan Champhuys, gubernur jenderal VOC waktu itu. Tapi, ia mulai kurang nyaman bekerja setelah Van Outhoorn menggantikan Champuys. Lebih tidak nyaman lagi setelah Van Outhoorn mengangkat menantunya sebagai atasan Cornelis Chastelein. Akhirnya, ia berhenti sebagai pejabat VOC. Cornelis keluar dari Batavia dan membeli sebidang tanah di kota ini. Kelak, di kota inilah ia mewujudkan segala impiannya. Digarapnya tanah itu menjadi lahan perkebunan yang menghasilkan panen melimpah. Orang-orang yang menggarap lahan itu adalah tawanan perang (berstatus budak) setelah Belanda mengalahkan Malaka, 1941. Cornelis memerdekakan budak-budak itu hingga mereka disebut “Mardijker” atau ‘orang merdeka’. Supaya gampang diatur, ia mengelompokkan mereka menjadi duabelas marga. Hingga kini nama-nama marga itu masih termaktub di duabelas pintu gereja tua kota ini. Sekali lagi, salahsatunya “Soedira”. Nama belakang gembel yang setiap hari bersilunjur kaki di sisi kiri pintu masuk Latanza Cafe.

Cornelis Chastelein pernah menikah dengan gadis Bali dan punya anak bernama Maria Chastelein. Itu sebabnya ia menaruh perhatian pada alat musik gamelan, utamanya gamelan Bali. Ia punya dua gamelan. Satu hanya dipakai pada upacara-upacara penting, satu lagi dipakai untuk latihan di hari-hari biasa. Tak hanya itu, ia juga punya sebuah gong yang di kemudian hari dikenal dengan; Gong Bolong. Meski bolong, bila dipukul, bunyinya begitu nyaring hingga terdengar dari jarak yang sangat jauh. Kini, Gong Bolong masih tersimpan di kota ini, masih kerap dipakai dalam acara-acara ruwatan. Seseorang yang tidak mau disebut namanya mengatakan; Chastelein juga mengoleksi lukisan-lukisan karya seniman-seniman abad pencerahan. Ia membangun sebuah landhuis (semacam villa) dengan arsitektur khas Eropa guna menyimpan lukisan-lukisan berselera tinggi itu.

Dalam surat wasiatnya, Chastelein menyebutkan marga “Soedira” sebagai satu-satunya pewaris villa itu, sekaligus dengan koleksi lukisan-lukisan yang sangat berharga itu. Saya teringat pada gembel dengan nama belakang “Soedira” itu. Dan, yang membuat saya makin penasaran adalah soal Latanza Café, tempat nongkrong favorit saya itu. Boleh jadi cafe itu adalah bekas landhuis milik Chastelein di masa lalu. Boleh jadi pula Natan Soedira adalah keturunan yang kesekian ratus dari marga “Soedira”. Mardijker yang paling disukai Chastelein. Lalu, siapa yang beruntung mendapatkan lukisan-lukisan abad pencerahan itu?

****

Timor sudah tak sabar ingin segera memberitahukan penemuannya pada kawan-kawan sesama pelanggan Latanza Cafe. Semua hal ihwal menyangkut misteri Mardijker telah tersingkap. Tuntas dari A sampai Z, dari ekor hingga kepala. Jangankan menjelaskan maksud kata ganjil yang selama ini diteriakkan Natan Soedira, mengungkap asal muasal kota ini sejak zaman VOC pun Timor tidak merasa kesulitan. Itu artinya, ia akan menjadi orang yang berhasil mengusir “Mardijker Soedira” dari Latanza Café hingga kenyamanan pengunjung tak bakal terusik lagi.

Tapi, sejak dua hari lalu, Latanza Café, tutup. Timor belum tahu alasan yang paling masuk akal perihal penutupan yang begitu mendadak itu. Hanya ada desas desus yang bergulir bahwa satu bulan terakhir ini pengelola Latanza Cafe merugi lantaran sepi pengunjung. Ini terjadi sejak tua bangka gembel yang saban hari bersilunjur di sisi kiri pintu masuk cafe itu mati mengenaskan. Mayatnya ditemukan menggelantung di salah satu dahan pohon beringin, lebih kurang duapuluh langkah dari pelataran halaman Latanza Cafe. Para pelanggan ketakutan. Sebab, setiap malam selasa legi, hantu gembel itu bergentayangan di sekitar lokasi café. Timor tidak bisa langsung memercayai kabar simpang siur itu. Apalagi hasil visum menyimpulkan; korban telah meninggal beberapa jam sebelum ditemukan menggelantung di pohon beringin itu. Karena terlalu banyak tahu tentang bangunan Latansa Café masa lalu, bisa saja ia menghalangi niat busuk orang-orang tertentu. Maka, Mardijker itu barangkali harus ‘dimerdekakan’ dari hidupnya yang tak mujur. Bisa saja, ia dihabisi dulu, kemudian mayatnya digantung di pohon beringin. Timor seperti hendak menceritakan sesuatu pada kawan-kawan sesama penongkrong di Latanza Café yang sudah bangkrut itu. Tapi ia tidak terlalu yakin bakal ada percaya pada omongannya.

Mardijker, landhuis warisan tuan tanah Cornelis Chalestein dan koleksi lukisan abad pencerahan tetap jadi misteri yang awet tersimpan dalam ingatan Timor. Tak lama kemudian, di sebelah barat bekas Latanza Café berdiri sebuah Mall, pusat perbelanjaan terbesar di kota ini. Rumah usang itupun berganti pemilik. Meski tidak sampai dirobohkan, tata ruangnya dirancang dengan sentuhan yang bernuansa metropolitan. Namanya berubah menjadi; Olala Café. Timor masih saja betah tinggal di kota ini. Sesekali ia nongkrong di café baru itu, utamanya di malam selasa legi. Kadang-kadang hingga larut malam.

Depok, 2008

1 comment:

engku said...

muda menakjubkan, empat jempol teracung kalo sopan diberikan untuk Damhuri