Search This Blog

Monday, April 20, 2009

JURU MASAK; Sebuah Telisik Ringan



Oleh : KHRISNA PABICHARA




Pada Mulanya


KAMPUNG. Dari sanalah “Juru Masak” berpangkal. Dari sanalah Damhuri Muhammad, selanjutnya saya sebut Damhuri, mulai merakit cerita-cerita yang dikemasnya dengan telaten. Kampung, itu pula yang membuka gerbang ingatan masa kecil saya dan membuat saya “jatuh hati” pada kisah demi kisah yang dituturkan Damhuri dalam sehimpun cerita pendeknya itu. Kenapa? Karena saya orang kampung, itu jelas. Namun, ada pernik lain yang menyeret segala ingatan saya ke “kampung”.

Ketika saya menelisik cerpen-cerpen Damhuri, saya tiba-tiba teringat sentilan Raudal Tanjung Banua. Pengarang sebagai narator, dalam teropong Raudal, belakangan tampak begitu dominan dengan balutan bahasa yang rimbun dan miskin dialog.

Beruntunglah, ketika saya memasuki kampung Damhuri yang dikemas dengan bahasa sederhana dan bersahaja, saya menemukan narasi dan dialog yang ditata begitu imbang. Boleh jadi, sebagaimana tutur Damhuri, karena ia menulis cerpen layaknya meraut sepasang bilah layang-layang dengan sangat telaten, sampai permukaannya benar-benar halus dan imbang bila ditimbang. Bahkan, ada beberapa cerpen yang disimpannya berbulan-bulan. Dibaca lagi, diraut lagi. Dibaca lagi, ditimbang lagi.

Selalu begitu.



Membaca Juru Masak

DALAM JURU MASAK, Damhuri menampilkan suasana kampung dari segala sisi. Pada Gasing Tengkorak, Damhuri berkisah tentang kehebatan Dinir menaklukkan semua perempuan yang diidamkannya, dengan jimat yang didapatkannya sebagai warisan turun-temurun dari para leluhur. Namun, ketika jimat itu digelandang ke kota sebagai aset untuk diniagakan, atas hasut isteri-isterinya, jimat itu ternyata tidak bisa menunjukkan daya pukaunya yang mumpuni itu. Saya sempat menaruh syak, jangan-jangan ini kisah nyata.

Sementara pada Ratap Gadis Suayan, Damhuri menyeret saya ke masa lalu. Di pelosok Jeneponto, sekitar 80 kilometer dari Makassar ke arah selatan, memang ada budaya appitoto, menangis-meratap-meraung setiap ada orang yang meninggal. Hanya saja, dalam cerpen ini, Damhuri meletakkannya dengan suguhan warna yang lain, meratap itu menjadi profesi yang dibenci sekaligus dicari-cari. Dibenci karena mengais rupiah dari upacara kematian, dan dicari-cari karena upacara dianggap kurang khidmat tanpa ritual ratap-meratap itu. Namun, apa yang akan terjadi jika jenazah yang harus diratapi Raisya adalah jenazah orang yang telah menghancurkan hidupnya? Lagi-lagi, saya sempat menduga ini kisah nyata.


Suasana kampung juga sangat kental dalam Tikam Kuku. Di beberapa daerah biasanya ada “bekal khusus” bagi yang hendak merantau. Sebelum calon perantau (bukan calon legislatif!) itu meninggalkan kampung, biasanya dibekali dulu dengan rerupa jurus silat. Damhuri berkisah dengan lincah tentang kehebatan Harimau Campo dan kedigjayaan Dahlan Beruk. Akan tetapi, bukan semata bagaimana proses bersilat yang digambarkan oleh Damhuri dengan narasi yang indah. Jika direntang lebih lapang, cerita ini juga dibidik untuk memanah “tengkulak-tengkulak modern” yang menguasai negara, lebih dari kuasa “tengkulak tembakau” yang menyingkirkan “patriot” seperti Dahlan Beruk.

Dan, sebagai cerita yang dipilih sebagai andalan, Juru Masak pun menawarkan aroma khas “kampung”, yang benar-benar kampung. Kali ini, Damhuri menilik suasana kampung dari sudut perhelatan, pesta pernikahan. Di kampung saya, pesta pernikahan adalah prestise yang menunjukkan kelas dan martabat seseorang. Hal sama, boleh jadi, berlaku pada kampung-kampung lain di seantero nusantara. Hanya saja, bukan sekadar bercerita tentang betapa “wah” sebuah perhelatan digelar, Damhuri mengerucutkan kisahnya pada “masakan” yang disajikan. Alkisah, tidaklah lengkap sebuah kenduri, jika bukan Makaji yang menjadi Juru Masak. Konflik terjadi ketika yang menggelar hajat adalah Mangkudun, tuan tanah yang pernah memiuh harga diri Makaji. Sementara, yang hendak dinikahkan adalah Renggogeni, perempuan yang sangat dicintai putra juru masak itu, Azrial. Sungguh, cerita ini menyuguhkan nilai yang sangat manusiawi, cinta dan harga diri.


Begitulah, saya membaca Juru Masak seperti orang kampung membaca kitab di surau. Khidmat, dan nikmat.



Menelisik Juru Masak

SAYA SEDANG BELAJAR menjadi pembaca sastra yang selalu menikmati kenyamanan dan keindahan karya sastra, termasuk cerpen. Sebelum saya membaca sebuah karya sastra, meminjam istilah Hernowo, saya bertanya hal mendasar, “Apakah karya sastra ini bermanfaat bagi saya?” Jika tidak, saya tidak akan membacanya. Mungkin ini terkesan arogan. Padahal, biasa saja. Lumrah. Dan, sah-sah saja. Karena saya tidak mau melakukan sesuatu yang sia-sia, yang tidak memberi apa-apa, meski hanya secuil manfaat.

Bagi saya, membaca itu menyerap tenaga, waktu, dan pikiran. Membaca adalah pekerjaan serius.. Karena itu, saya tidak mau membuang tenaga, waktu, dan pikiran itu dengan percuma. Hal sama berlaku ketika saya membaca Juru Masak. Saya berharap ada, nilai atau hikmah, yang bisa saya serap seusai membacanya. Ya, saya berharap dapat menemukan sesuatu yang “menggugah”. Syukur-syukur “mengubah” atau “menggerakkan”.

Jika berpijak pada saran Budi Darma, formula yang digunakan dalam penulisan cerpen oleh Damhuri, telah memenuhi dua komponen penting penulisan karya sastra, termasuk cerpen. Kedua komponen itu adalah isi dan bentuk. Isi adalah bahan utama penulisan, dan bentuk adalah cara untuk mengungkapkan isi. Dengan cerdas, Damhuri memenuhi kedua komponen itu, isi dan bentuk. Meskipun pada beberapa cerpen, saya merasa kurang “klik”. Seperti pada cerpen Anak Bapak, yang bagi saya terkesan belum “diraut” dan “ditimbang” dengan telaten. Ada juga cerpen yang sarat “kekuatan pesan” dengan latar sejarah, yakni Mardijker, namun kurang nyambung dengan cerpen lainnya, meskipun tetap mengusung tema “kampoeng depok tempo doeloe”. Hal sama terlihat pada Kesturi, kuat pada pencitraan, narasi, dan dialog, tetapi tidak terlihat benang merahnya dengan cerita lain, yang beraroma “kampung” itu.


Memang, tidak harus sebuah antologi diikat dengan merah melalui kesamaan setting atau tema. Hanya saja, suasana membaca saya yang “nyaman” dan “khidmat”, yang terbangun dari awal, menjadi “sedikit” buyar ketika membaca Anak Bapak, Mardijker, dan Kesturi.


Lantas, apa yang saya dapatkan dari Juru Masak?
Ada dua hal penting yang saya petik dari jejak pena cerpenis kelahiran Payakumbuh ini. Pertama, kemampuan menggugah. Membaca Juru Masak bukan semata membuka-buka romansa atau mengorek-ngorek ingatan masa kecil, melainkan lahirnya sebentuk kesadaran baru, bagi saya, bahwa bersastra adalah pekerjaan yang serius. Yang harus dilakukan dengan telaten dan penuh kesabaran. Yang harus dicicil setiap hari. Yang harus diraut dan ditimbang. Hanya dengan cara seperti itulah yang bisa membuat saya bisa bertumbuh-berkembang dengan subur dan rimbun.


Kedua, kekuatan mengubah atau menggerakkan. Tamu dari Kampung adalah cerpen yang paling “saya”, dengan kata lain paling mencerminkan kondisi saya sebagai “orang kampung” yang merantau ke pinggiran Jakarta. Sebenarnya, lebih tepat disebut pinggiran Bogor. Ya, saya sering mengalami hal sama seperti yang dialami Tanur. Menerima tamu dari kampung, lalu ketika mereka kembali ke kampung, tersebarlah cerita yang sebenarnya jauh panggang dari api. Mengapa kita harus membagus-baguskan sesuatu yang hakikatnya belum boleh disebut “bagus”? Itulah dua manfaat mendasar yang saya temukan dari Juru Masak.


Pada Akhirnya

SEKARANG, kita kembali ke filosofi “meraut bilah” untuk dijadikan layang-layang itu. Kegiatan bersastra, termasuk mengarang cerpen, adalah kegiatan yang menantang, sekaligus menyenangkan. Sama seperti membuat layang-layang. Tidak boleh kesusu. Tidak boleh tergesa-gesa. Tidak boleh asal-asalan.


Bagi Damhuri, juga saya, tidak ada kegirangan yang lebih hebat bagi seorang pengarang selain kegirangan ketika karya-karyanya dibaca orang.



Parung, 19 April 2009
Khrisna Pabichara, motivator pembelajaran dan penyuka cerpen.



Tulisan ini disampaikan pada Diskusi Bulanan D'Smart Community, sebuah komunitas pelajar yang "kurang beruntung" dari sudut ekonomi, pada Minggu, 19 April 2009, bertempat di Madrasah Ibtidaiyah Al-Ijtihad Kp. Lengkong Barang Desa Iwul Kecamatan Parung Kabupaten Bogor.
Terima kasih kepada Damhuri Muhammad atas sumbangsih tulisannya dalam JURU MASAK: sehimpun cerita pendek.Terima kasih kepada Kepala MI Al-Ijtihad, Dedi Munadih, atas ijin dan kepeduliannya.

Monday, April 13, 2009

Sastra yang Mendustai Pembaca...

(KOMPAS, Sabtu, 4 April 2009)

Oleh: DAMHURI MUHAMMAD

Seorang kawan, sebutlah Fulan, pernah datang memenuhi panggilan sebuah perusahaan penerbitan buku berkelas di Jakarta. Konon, ia memperoleh tawaran menjadi penyunting naskah sastra terjemahan, khususnya dari roman-roman berbahasa Arab.Dalam perjalanan, kawan itu tiba-tiba khawatir bakal gagal sebab tak ada yang bisa diandalkannya, selain sedikit kemahiran menulis fiksi dan sedikit kemampuan membaca teks-teks berbahasa Arab.

Selepas bincang-bincang penuh basa-basi yang sesekali bernada menguji, Fulan bertanya kepada penguji yang tampak sudah kenyang pengalaman di dunia sastra terjemahan dari bahasa Arab itu—seperti roman- roman karya para pengarang Mesir: Thaha Husain, Naguib Mahfouz, Nawwal el-Saadawi, Radwa Ashour, atau Ala Al-Aswany.
”Jebolan universitas Al-Azhar (Kairo) banyak sekali. Kemampuan bahasa Arab mereka tak diragukan, kenapa Bapak malah memanggil saya?” Sambil menggeleng penguji itu bilang, ”Bahasa Arab mereka memang hebat, tetapi mereka kurang cakap dalam berbahasa Indonesia.”

Pernyataan penguji memperlihatkan problem dunia penerjemahan Arab-Indonesia. Para penerjemah begitu menguasai aspek gramatikal Arab (qawaid al-lughah), tetapi kurang ”maju” dalam berbahasa Indonesia. Banyak dari mereka yang belum mempraktikkan bahasa Indonesia yang ”baik” dan ”benar”. Kerja terjemahan mereka bukan alih bahasa dalam arti sejatinya, tetapi hanya mendedahkan teks bahasa Indonesia yang masih bercita rasa Arab. Meski sudah (meng)-Indonesia, jejak Arabnya masih saja tersisa. Setengah Arab, setengah Indonesia.

Terjemahan, satu contoh

”Seorang pelayan keluar dari sebuah vila yang megah, matanya sibuk mengitari jalanan yang lengang. Angin sepoi-sepoi bertiup dengan lembut, menyanyikan pada dedaunan sebuah nyanyian senja.” Kutipan ini salah satu contoh teks terjemahan dari sebuah roman berbahasa Arab.

Tengoklah, kata "keluar" yang terbaca rancu meski mungkin tidak salah. Lebih tepat bila diganti "muncul". Kata "megah" tidak tepat menyifati vila—sebab, "megah" lazimnya menyifati gedung. Lebih sepadan bila "megah" diganti "mewah". Begitupun kata "sibuk" tidak serasi bersanding dengan "mata", lagi-lagi meski tidak salah. Sorot mata lebih berjodoh dengan kata "awas"—kejelian, ketelitian mengamati obyek. Mengitari akan terasa lebih tajam bila diganti dengan "menyigi" atau "menelusuri".

Menyunting bukan sekadar menggunting kalimat, tetapi juga memperkaya pilihan kata guna mempertajam pesan-pesan teks. Agaknya belum memadai bila kerja penyuntingan hanya mempertimbangkan aspek leksikal-gramatikal saja, dituntut pula eksplorasi yang mendalam untuk memilih padanan kata yang jitu, yang sepadan satu sama lain, dan karena yang disunting adalah teks sastra, ambiguitasnya tentu harus tetap terjaga.

”Angin sepoi-sepoi bertiup dengan lembut, menyanyikan pada dedaunan sebuah nyanyian senja” terdengar janggal. Dalam cita rasa bahasa Indonesia, "sepoi-sepoi" sesungguhnya lebih tepat bila ditempatkan sebagai kata sifat. "Bertiup" dapat diganti dengan "berembus" atau "berkesiur." Hal kata "dengan", inilah yang disebut sebagai jejak bahasa asal dalam teks terjemahan. Dapat diduga, "dengan" adalah terjemahan dari "bi" (huruf ba berharakat kasrah), yang di dalam kaidah tata bahasa Arab disebut huruf Jar. "Angin berembus/berkesiur sepoi-sepoi" sudah mengandung sifat lembut. Maka, dengan lembut tidak perlu lagi. Inilah salah satu cara menghapus jejak bahasa asal dalam teks terjemahan.

Adapun frase ”menyanyikan pada dedaunan sebuah nyanyian senja”, selain mengulang kata (nyanyi), preposisinya terdengar tidak logis. Seolah-olah embusan angin sepoi-sepoi yang bernyanyi. Padahal yang bernyanyi bukan angin, melainkan daun-daun. Dedaunan bergerak—melenggok-lenggok, menimbulkan bunyi—akibat embusan angin. Karena kesiur angin sepoi-sepoi, dedaunan (seolah-olah) menyanyikan sebuah lagu senja. Maka boleh jadi akan lebih baik bila kalimat tersebut berbunyi, ”angin berembus sepoi-sepoi, hingga daun-daun seolah-olah menyanyikan sebuah lagu senja.

Dengan perubahan itu, preposisinya menjadi sangat logis dan secara tidak sengaja malah menciptakan sebuah metafora (”lenggok-lenggok daun yang menimbulkan bunyi serupa nyanyian lagu senja”).

Setelah disunting dengan cara mempertajam diksi, memangkas kata yang tak perlu, menghilangkan repetisi, meluruskan preposisi, rumusan teks hasil terjemahan di atas akan berubah menjadi: ”Seorang pelayan muncul dari sebuah vila mewah. Sorot matanya awas menelusuri jalan yang lengang. Angin berkesiur sepoi-sepoi, hingga daun-daun seolah-olah sedang menyanyikan sebuah lagu senja”.

Buah dusta

Menyunting teks terjemahan, tampaknya tidak hanya perlu penguasaan terjemahan tekstual, tetapi juga membutuhkan kecerdasan dalam menyingkap tafsir kontekstual. Sebagai contoh, kata "hadist" (bahasa Arab) dalam teks ilmu hadis, asosiasi maknanya mengarah pada sumber hukum Islam kedua setelah Al Quran. Namun, bila kata itu ditemukan dalam teks filsafat, tidak bisa lagi dimaknai sebagaimana maknanya dalam konteks ilmu hadis.

"Hadist" dalam bahasa filsafat bermakna ”temporal” (nisbi, relatif). Begitu juga kata "qadim", dalam ilmu sejarah, asosiasi maknanya mengarah pada waktu yang telah berlalu (lampau, dahulu). Namun, dalam konteks ilmu kalam (teologi Islam), filsafat dan sebagian besar teks sastra, "qadim" bermakna; ”eternal” (kekal, tak berubah).

Kerja penyuntingan teks terjemahan sangat berpeluang membuahkan dusta. Itu terjadi ketika muncul ketidakselarasan antara pesan teks asli dan teks alih bahasa. Dusta yang bermula dari penerjemah, dilanjutkan oleh penyunting, hingga menjadi dusta berkepanjangan yang terus-menerus ditimpakan kepada khalayak pembaca ”tak berdosa”. Ini kerap terjadi dalam penerjemahan dan penyuntingan teks sastra terjemahan, khususnya dari roman-roman berbahasa Arab yang terus berhamburan dalam khazanah perbukuan Tanah Air sejak beberapa tahun belakangan ini.

Ironisnya, dalam banjir naskah itu, masih saja ditemukan sebagian penyunting yang bekerja tanpa pengetahuan yang memadai terhadap aspek ketatabahasaan Arab. Sementara kebutuhan pengetahuan tentang itu sangat vital, bahkan masih perlu dilengkapi dengan pemahaman tentang dasar-dasar ilmu stilistika Arab (Bayan, Ma’ani, Badi’, ’Arudh dan Qawafi).

Itupun sebenarnya masih perlu dilengkapi dengan kemampuan yang terlatih dalam menulis karya sastra, membentangkan layar estetik, meraih diksi-diksi yang tepat, dan piawai bermain tamsil, amsal, dan umpama. Dengan begitu, penyunting dapat menyulap roman-roman berbahasa Arab menjadi (seolah-olah) bukan karya terjemahan.

Maka, saya jadi mengerti, kenapa kawan saya, Fulan, lebih bisa dipercaya dibandingkan dengan para penyunting yang canggih bahasa Arab-nya, tetapi payah dan bermasalah bahasa Indonesia-nya. Pilihan tersebut sudah tepat. Tentu saja penguji tersebut berharap agar kerja penyuntingan dapat menghasilkan sastra terjemahan yang bisa dipertanggungjawabkan keabsahannya sehingga tidak lagi sewenang-wenang mendustai pembaca...