Search This Blog

Monday, June 15, 2009

BADAR BESI

Cerpen DAMHURI MUHAMMAD

(Jawa Pos, Minggu, 14/6/2009)

(1)

Centeng los daging yang ditakuti para pemalak di pasar ini di masa lalu hanya seorang tukang cukur. Meski begitu, menjadi tukang cukur, baginya, adalah sebuah kuasa yang belum tentu dimiliki oleh pembunuh bertangan dingin sekalipun. Betapa tidak? Tanpa gamang dan was-was, leluasa tangannya menekan, menekuk, dan bila perlu memelintir tempurung kepala siapa saja yang sedang dicukurnya. Di tangannya, semua kepala sama harganya, atau barangkali tak berharga. Tak peduli orang terpandang, tetua adat yang pantang disentuh bahkan ujung rambutnya sekalipun, atau jawara kampung yang kerap menagih jatah begitu gilirannya duduk di kursi cukur, bila bertingkah macam-macam, tukang cukur itu tentu sangat berpeluang menggunting daun kupingnya.

Di suatu senja yang sepi pelanggan, ia kedatangan bocah sembilan tahun yang memohon-mohon, merengek-rengek, agar rambutnya lekas dipangkas. Rona mukanya ketakutan, matanya merah-sembab. Ia mengaku rusuk dan pinggangnya memar setelah dicambuki bapaknya dengan ikat pinggang ukuran sedang. Bapaknya naik darah, sebab sudah kerap ia disuruh pangkas rambut, tapi suruhan itu bagai masuk di telinga kanan, tapi keluar lagi di telinga kiri.

''Upah pangkas dari bapak sudah habis untuk beli gundu. Begitu ada uang jajan lagi, akan saya bayar.''

Tukang cukur tak berpikir panjang. Dililitkannya kain belacu buram di leher anak itu hingga tertutup sekujur tubuhnya, agar bekas-bekas potongan rambut tidak lengket di bajunya. Gunting di kanan, sisir di kiri. Tak berselang lama, ia merasa ada yang janggal. Rambut anak itu tak seperti rambut pelanggan biasanya --yang begitu dimakan gunting langsung jatuh berserak di atas kain belacu. Ia mengira mungkin guntingnya sudah majal lantaran lama tak diasah, karena itu digantinya dengan yang lebih tajam. Tapi rambut itu tetap tak mempan digunting. Begitu keras, begitu kesat, bagai menggunting kawat.

''Ini rambut atau kawat baja? Semua gunting dan pisauku pepat dibuatnya,'' gerutu tukang cukur yang mulai berkeringat.

Anak itu diam, sementara ia mulai menduga-duga. Jangan-jangan bukan rambutnya saja yang tak mempan dimakan mata gunting. Mungkin kulitnya juga tak bisa dilukai. Diam-diam digoreskannya pisau cukur paling tajam di kuduk anak itu. Diulangnya sekali lagi. Ditikamnya lebih dalam, lebih mencukam. Lagi-lagi pisau itu bagai tumpul. Jangankan luka, tergores pun tidak. Rupanya ia benar-benar sedang berhadapan dengan bocah kebal.

''Apa yang kau simpan dalam saku celanamu?'' tanya tukang cukur.

''Cuma batu. Saya menukarnya dengan batu milik bapak. Cukup licin dan bulat untuk main gundu-gunduan,'' jawabnya sambil menunjukkan batu seukuran gundu yang baru saja dirogohnya dari saku. ''Bila suka, ambil saja. Lumayan buat batu cincin, daripada dibuang.''

''Ayolah, kau harus segera dicukur.''

''Bagaimana dengan upahnya?''

''Tak usah pikirkan soal itu!''

Sejak itu, tak tampak lagi batang hidung si tukang cukur. Orang-orang bilang, ia hengkang sebab upah cukur tidak lagi memadai. Diterimanya tawaran seorang sejawat untuk membuka usaha pangkas rambut di rantau orang. Diboyongnya anak-bini ke tanah seberang, hingga orang-orang kampungnya harus merelakan kepala mereka di tangan tukang pangkas keliling yang kadang datang, kadang tidak, lantaran ia menyambi sebagai kusir bendi. Ada pula yang bercukur di kampung sebelah, meski mutu cukuran itu tidak ada apa-apanya dibanding kerapian cukuran tukang pangkas cekatan yang sudah terbang-hambur itu.

(2)

Tanbasa nyaris dihabisi oleh tiga sejawatnya karena ia sembarangan menyimpan barang berharga hasil penggalian mereka selama berbulan-bulan. Satu di antara tiga sejawat itu, Sitorus, mantan anggota polisi yang meminta pensiun dini setelah menemukan selembar peta usang dalam sebuah penggeledahan di rumah yang ditengarai sebagai markas pengedar ganja. Bukan sembarang peta, tapi peta yang menandai tempat-tempat rahasia penyimpanan barang-barang berharga peninggalan orang-orang di masa dahulu. Peta harta karun, barangkali. Menurut perkiraan Sitorus, bila satu titik saja berhasil digali, nilainya setara dengan kekayaan tujuh turunan. Dari sekian banyak tempat yang tertandai, terpilih satu titik di lereng sebelah selatan Bukit Tui yang menurut mereka paling aman. Tanbasa, petani kentang yang begitu tekun, terbujuk iming-iming Sitorus. Kentang yang mulai matang tidak lagi diurusnya. Istrinya kerap marah-marah karena Tanbasa sibuk bolak-balik ke lereng Bukit Tui. Selalu pulang larut malam, karena harus memperlihatkan setiap hasil penggalian pada Nisar, dukun pilih tanding yang dipercaya Sitorus mengawal penggalian itu. Selepas dua minggu penggalian, Nisar menyampaikan kabar baik. Menurut penglihatan mata batinnya, di lubang yang telah mereka gali itu tersimpan sebuah peti besi berisi bongkahan-bongkahan emas, batu-batu permata, dan barang-barang pecah-belah berusia ratusan tahun. Namun, makhluk penunggu lubang itu baru bisa memberikan sebuah batu seukuran gundu. Barang siapa memegang dan menyimpan batu itu, niscaya semua anggota tubuhnya kebal dari semua senjata yang berasal dari unsur besi. Orang-orang dulu menyebutnya Badar Besi. Maka, pada malam yang telah ditentukan, Nisar turun ke lokasi penggalian. Dikerahkannya segenap kesaktian guna membangkitkan Badar Besi dari lubang itu. Tanah di sekeliling lubang retak-rengkah, nyaris terbelah dua, lalu serpihan-serpihannya membesut ke permukaan. Nisar menyediakan kain seukuran sapu tangan yang katanya dirajut dari benang tujuh rupa, guna menampungnya saat jatuh kembali ke permukaan. Badar Besi ada dalam salah satu serpihan itu.

''Bagaimana cara kami membaginya, sementara hanya ada satu batu?''

''Barang itu hanya bisa menjadi milik bersama.''

''Bagaimana kalau dijual? Hasilnya dibagi rata.''

''Begitu lebih baik. Tapi, tak boleh ada keculasan. Bisa celaka.''

Mereka memercayai Tanbasa sebagai orang yang paling layak menyimpan Badar Besi sebelum tiba saatnya dijemput oleh seseorang, tentu setelah mereka sepakat perihal imbalan yang setimpal dengan kehebatan Badar Besi. Calon pembeli yang duitnya konon tak berseri itu bahkan berkenan menanggung berapa pun biaya yang diperlukan untuk penggalian selanjutnya, tentu setelah terbukti bahwa Badar Besi yang berada di tangan Tanbasa benar-benar asli. Celakanya, Badar Besi itu ternyata omong kosong belaka. Orang suruhan pembeli membelitkan Badar Besi yang masih terbungkus sapu tangan dari rajutan benang tujuh rupa itu di leher seekor kucing. Ia menyembelihnya, dan kucing itu menggelepar-gelepar sebelum tumbang berlumur darah, sebagaimana penyembelihan biasa. Badar Besi yang semula bakal mengubah peruntungan Sitorus, Tanbasa, Tuninjun, dan Jukamba telah ditukar seseorang dengan batu lain. Meski warna, kebulatan dan kelicinannya hampir sama, tapi itu palsu, tak lebih bernilai dari batu akik yang biasa dijajakan di kaki lima.

''Bila Badar Besi tidak kembali, kusembelih kau seperti kucing kurap itu!'' gertak Sitorus yang mulai naik pitam.

''Gara-gara penggalian itu, anakku sering kerasukan setan. Dan, kau lalai menjaga barang itu. Setan!'' tambah Tuninjun.

''Kau sia-siakan kepercayaan kami. Keparat busuk!''

(3)

Bertahun-tahun mereka menunggu. Badar Besi tiada kunjung kembali. Sia-sia belaka kerja keras mereka. Sialnya lagi, mereka tak henti-henti dirundung petaka. Para penggali itu tak setangguh dulu. Kini, Sitorus lumpuh. Separo badannya mati-rasa, terkulai tak berdaya di atas kursi roda. Orang-orang bilang ia terserang stroke, sementara Sitorus yakin bahwa penyakit itu akibat dari penggalian harta karun yang ia pimpin puluhan tahun silam. Anak laki-laki Tuninjun tak kunjung sembuh. Saat kerasukan, ia mengunyah-ngunyah pisau silet seperti mengunyah keripik talas. Belum ada dukun yang sanggup mengobatinya, termasuk Nisar, yang semakin menurun saja kesaktiannya. Begitu pun Jukamba, ia sering mengeluh lantaran hidupnya tak pernah tenteram sejak malam penemuan Badar Besi itu. Kerap ia dihantui mimpi buruk. Dalam mimpi itu ia didatangi sosok berwajah iblis yang selalu mengingatkan bahwa tidak lama lagi ia akan mati, dan celakanya, kematian itu bakal berdarah-darah.

Hanya Tanbasa yang masih segar-bugar. Meski tubuhnya mulai ringkih, lelaki tua itu sehat walafiat, tak kurang satu apa pun. Tidak pula mengalami keganjilan-keganjilan sebagaimana sejawat-sejawatnya. Bila Sitorus, Tuninjun, dan Jukamba sudah membuang semua angan-angan muluk tentang Badar Besi, Tanbasa justru kian bergairah untuk kembali menemukan barang keramat itu.

''Dulu, bapak pernah menyambukimu dengan ikat pinggang hingga rusukmu memar. Masih ingat?'' tanya Tanbasa pada Juangkat, anak laki-lakinya yang mulai beranjak dewasa.

''Tentu. Hingga kini aku tidak pernah telat pangkas rambut.''

''Waktu itu bapak ingin menguji kekuatan Badar Besi di dalam saku celanamu. Kau menukarnya dengan batu gundu bukan? Tapi bapak biarkan saja.''

''Bapak juga tahu kalau batu itu kuberikan pada tukang cukur sebagai ganti upah cukur?'' tanya Juangkat.

''Untuk sementara Badar Besi lebih aman di tangan cukur itu.''

''Bapak lakukan itu agar kelak kau memilikinya. Kini saatnya kau merebutnya kembali.''

(4)

Lama sekali aku mengabdi sebagai kaki-tangan centeng los daging di pasar ini. Tapi ia tak pernah tahu asal-usulku. Lagi pula, itu tidak penting baginya, ia hanya perlu anak semang yang siap mati demi ketersohorannya. Tapi aku sangat mengenalnya, seperti aku mengenal puncak hidungku sendiri. Kutandai segala tindak-tanduknya, kuhapal segala pantangannya, kumata-matai di tubuh bagian mana ia menyembunyikan Badar Besi yang konon menjadi sumber kesaktiannya. Ia makin menua, tak sebengis dulu. Ia memang tak mempan ditikam, tapi mustahil ia kebal dari ajal. Akan tiba saatnya aku merenggut Badar Besi dari tangannya. Aku bukan Marpaung --kacung yang dipercayainya rela hilang nyawa demi nama besarnya. Tidak! Nama asliku Juangkat. Saat umurku sembilan tahun, aku pernah membuat ia berkeringat dingin lantaran rambutku tak mempan dimakan mata gunting dan mata pisau cukurnya.

Jakarta, 2009

Tuesday, June 02, 2009

IKHTIAR MENYELAMATKAN PUISI

Oleh : DAMHURI MUHAMMAD

(Pikiran Rakyat, Minggu 17/5/2009)

SENI paling unggul adalah seni yang mampu membangkitkan hasrat-berkehendak setelah sekian lama tersumbat. Begitu ketegasan penyair mashur kelahiran Pundjab, India, Muhammad Iqbal, sebagaimana dikutip S.A Vahid dalam Iqbal, His Art & Thought (1916). Oleh karena itu, the dogma of Art for the sake of Art is a clever invention of decadence to cheat us out of life and power—dogma ‘seni untuk seni’ adalah sebuah rekayasa cerdas dari kebobrokan yang mengecoh dan menipu agar kita semakin terasing dari realitas kehidupan dan kekuatan—lanjut Iqbal lagi. Bagi penulis epos Javid Nama (1932) itu, seni harus menghayati manusia dan segala kehidupannya. Di samping memberi rasa nikmat, seni harus dapat memandu pikiran manusia. Demikian Iqbal menegakkan kepenyairannya, sebagaimana tercermin dalam Asrar-i Khudi (1915), Rumuz-i Bekhudi (1918), dan Payam-i-Mashriq (1923).

Tak disangsikan bahwa puisi adalah ekspresi estetik paling hulu. Induk segala bentuk ekspresi sastrawi, dan belum ada yang melampauinya. Itu sebabnya, penyair Arab tersohor, Adonis (Ali Ahmad Said), tak segan-segan menyejajarkan antara “jalan kepenyairan” dengan “jalan kenabian”. Baginya, penyair—dengan azwaq al-adaby (cita-rasa sastra) yang mereka genggam—sanggup menggapai anak-tangga paling puncak guna menangkap pesan-pesan profetik sebagaimana kemampuan nabi dalam menyambut risalah Tuhan yang bermuasal dari lauh-mahfuz. Bila filsuf Arab, Al-Farabi ((870-950) menegaskan bahwa derajat kenabian dapat diraih oleh manusia-manusia khawwas (khusus) berkat pencapaian mereka pada jenjang aql-fa’al (akal aktif), maka dalam batas-batas tertentu golongan penyair juga berlabuh di maqam itu. Bagi Adonis, “komunikasi nubuwwat” yang secara bulat-penuh disambut oleh sejumlah penyair Arab pra-kenabian, mampu mendedahkan sajak-sajak yang nyaris menyamai estetika qur’ani. Ada “lelaku kenabian” yang secara tak sengaja terbangun dalam proses kreatif mereka, sebagaimana lelaku kenabian yang dimiliki oleh orang-orang yang bakal terpilih sebagai pembawa risalah. Inilah puncak pencapaian para penyair Arab yang dalam catatan sejarah dikenal sebagai muallaqat (penyair-penyair terpilih yang sajak-sajak mereka digantungkan di dinding Ka’bah) dan muhazzabat (sajak-sajak yang ditulis dengan tinta emas). Thomas Patrick Hughes dalam Dictionary of Islam (1895) mencatat tujuh nama penyair Arab klasik yang lahir dari tradisi muhazzabat dan muallaqat ini, antara lain: Zuhair, Trafah, Imrul Qays, Amru ibn Kulsum, al-Haris, Antarah dan Labid. Di antara tujuh penyair itu, yang paling berpengaruh adalah Imrul Qays (wafat tahun 550 M), sebagaimana diakui oleh al-Ashma’i dalam al-Fuhul asy-Syuara’ (1971). Menurutnya, Imrul Qays pionir bagi para penyair “jahiliyah” lainnya. Ibnu Qutaibah dalam asy-Syi’ir wa asy-Syu’ara (1969) mencatat, di masa selanjutnya, bahkan tokoh penting, Umar bin Khattab pernah memuji kepiawaian penyair ini. Khalifah kedua setelah Abu Bakar Siddieq itu bilang, Imrul Qays pencipta mata air puisi bagi para penyair di zamannya.

Imrul Qays memperlihatkan gairah pencarian terhadap kesadaran puitik yang sama sekali baru, setidaknya bila ditakar dengan langgam estetika puisi “jahiliyah”. Diterabasnya batas-batas, dilanggarnya tabu, dibangkitkannya hasrat-berkehendak yang selama berkurun-kurun tertimbun dalam ortodoksi dan kekolotan tetua-tetua kabilah Quraisy, dengan menciptakan metafora baru yang tanpa disadarinya ternyata melampaui konvensi-konvensi bahasa yang masih merujuk pada masa lalu. Aku naiki kuda dalam peperangan/bagaikan belalang/lembut gemulai/jambulnya tergerai menutupi wajahnya, begitu bunyi salah satu sajaknya. “Kuda” yang lazim digunakan sebagai simbol heroik dan kegagah-beranian di medan tempur antar suku, dialih-fungsikan menjadi pengamsalan yang dianggap janggal dan bermasalah di masa itu; simbol kejantanan laki-laki yang tergeletak sebagai pecundang di atas ranjang. Akibatnya, “kuda” itu bagai “belalang” yang gemulai, atau lemah syahwat, tepatnya. Selain itu, seperti dicatat Al-Marzabani dalam Al-Muwassiyah (1965), sajak-sajak Imrul Qays juga melanggar kelaziman struktur puisi Arab yang setiap baitnya tidak boleh saling bertentangan, setiap kata saling mengokohkan, hingga membentuk kesatuan makna yang utuh dan tak tergoyahkan—dalam terminologi sastra Arab disebut Qafiyah. Bagi Adonis, gairah kepenyairan para perintis genre sajak rasya’ (ratapan), ghazzal (erotik), dan madh (pujian) itu memperlihatkan rancangan realitas yang terus berubah (mutahawwil) sebagai antitesis dari ortodoksi, dan fanatisme tokoh-tokoh Quraisy yang stagnan, dogmatis, atau dalam bahasa Adonis as-tsabit (yang tetap).
Contoh sederhana ini kiranya dapat memaklumatkan betapa beratnya beban yang dipikul puisi. Ia mengemban desakan gerak transformasi sosial dan kultural dalam masyarakat yang melahirkannya. Sama halnya dengan tanggung jawab para nabi yang dengan teks-teks suci memikul risalah guna menyempurnakan watak dan moralitas umat. Maka, tidak ada alasan untuk bermain-main, apalagi mendistorsi martabat kepenyairan menjadi puisi-puisi yang hanya mahir berbicara tentang hujan, salju, embun, atau bunga mawar. Gagasan ganjil inilah yang menjadi pangkal-bala silang pendapat antara saya (Kesadaran Puitis & Politik (PR, 5/4) dan Yopi Setia Umbara (Dam, Dam, Dam, (PR, 19/4). Beberapa hari selepas esai saya diturunkan, dengan nada sinis, seorang sejawat penyair bertanya; “benarkah tuan mencintai puisi?” Tegas saya menjawab; “sepenuh hati.” Tapi, tampaknya itu belum dapat melenyapkan kecurigaannya pada saya, yang menurutnya tidak bulat-bulat menyukai puisi. “Tapi mengapa tuan bilang; apalah guna sebait sajak yang hanya mampu menggambarkan setetes embun yang jatuh di atas sehelai daun?” tanyanya lagi. Saya jadi maklum, ternyata kalimat itu telah membuat panas kuping seorang penyair. Ia tidak sedang bertanya, tapi menagih pertanggungjawaban atas kesembronoan saya, lantaran telah meremehkan pencapaian estetika dari puisi-puisi gemulai yang dibelanya itu. “Sebab, bagi saya, itu bukan puisi!” Begitu saya mengakhiri pembicaraan.

Antologi sajak Demonstran Sexy (2008) karya Binhad Nurrohmat yang menjadi cikal-soal perbantahan ini, bagi saya, dapat menjadi umpan yang jitu guna memancing penggalian yang lebih berkedalaman perihal nilai-guna puisi di tengah kebisingan suasana politis yang kian hari kian menyengsarakan. Bila Khudori Husnan (PR, 3/5) menimbangnya dengan hipotesis “bergerak bersama puisi”, saya hendak menegaskan; puisi—tidak hanya puisi Binhad, tentunya—adalah gerak (aksi) itu sendiri, sebab ia subjek yang aktif, bukan sekadar medium. Di tangan Binhad, puisi selekasnya mesti turun dari menara gading kepenyairan yang sejak lama dipuja-puji itu. Puisi harus merakyat, hidup berdampingan dengan rakyat, muasal puisi itu sendiri. Ini berarti puisi harus segera “diselamatkan” dari keterasingan lantaran keterikatannya pada kultus dan ritus, sebagaimana syair-syair Homerus di masa lalu. Walter Benjamin (1892-1940) filsuf Jerman terkemuka, pernah membincang perihal pudarnya basis-basis kultus dan ritual seiring dengan gelombang sekularisasi pasca-renaisance, yang di satu sisi memang mengakibatkan seni kehilangan autentisitas dan otonomi, tapi pada sisi lain, seni mampu mendedahkan emansipasi sosial tanpa harus bergantung pada ritus dan kultus itu. Menurut Benjamin, sesuatu yang menarik dalam peradigma baru sejarah seni itu adalah bahwa ruang kosong yang di masa lalu diisi oleh ritus dan kultus, dalam seni modern dipenuh-sesaki oleh praktik sosial lain, yakni: politik. (F.Budi Hardiman, 2007).

Maka, sejak itu, seni mengalami perubahan dari coraknya yang esoterik menjadi eksoterik. Seni mulai disuguhkan secara langsung pada “rakyat jelata”—meminjam ungkapan khas Binhad—dan tentu saja sarat dengan muatan politis, sebagaimana terlihat pada drama-drama karya Bertold Brect (1898–1956). Segala bentuk tabir yang selama berkurun-kurun telah mengaburkan makna puisi, harus selekasnya disingkap, dibuka selebar-lebarnya, agar ia dapat dimasuki oleh sebanyak-banyaknya “umat puisi”. Demonstran Sexy yang ditegakkan atas dasar kepekaaan politis demi tendensi praksis-emansipatoris—karena itu ia bermuatan politis—meski bukan tanpa persoalan, agaknya dapat menjadi langkah awal dalam ikhtiar “menyelamatkan” riwayat perpuisian kita yang akhir-akhir ini semakin tertimbun di lubuk keterasingan…