Search This Blog

Sunday, December 19, 2010

Menghormati Pengarang Negeri Sendiri


Oleh: DAMHURI MUHAMMAD


(Pikiran Rakyat, 12 Desember 2010)


Sejumlah Perkutut Buat Bapak (2010), karya Gunawan Maryanto dan Buwun (2010) karya Mardi Luhung ternobat sebagai pemenang kembar anugerah Khatulistiwa Literary Award 2010 untuk kategori puisi, selain Rahasia Selma (2010), kumpulan cerpen karya Linda Christanty, untuk kategori prosa. Dua buku sajak itu menyisihkan tiga nominator lain: Penyeret Babi (2010) karya Inggit Putria Marga, Tersebab Aku Melayu (2010) karya Taufik Ikram Jamil, dan Konde Penyair Han (2010) karya Hanna Fransisca. Sementara pemenang kategori prosa menyisihkan Kekasih Marionette (2009) karya Dewi Ria Utari, Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia (2010) karya Agus Noor, 9 Dari Nadira (2010) karya Leila S Chudori, dan Klop (2010) karya Putu Wijaya.

Saya mengalami sebuah peristiwa sederhana di akhir kerja penjurian yang telah berlangsung sejak Juli 2010. Meski sederhana, pengaruhnya masih terngiang hingga kini. Waktu itu, saya menghubungi salah seorang nominator kategori puisi via telpon, meminta soft-copy biodata dan foto terkini untuk keperluan publikasi pada malam anugerah. Dengan nada bimbang sekaligus sinis, nominator itu mempertanyakan keseriusan kerja penjurian. Ia bilang, bukunya tipis, tapi bisa masuk 5 besar. Saya tidak menanggapi pertanyaan itu, sebab saya yakin bahwa yang bersangkutan tidak akan menyanggah bahwa kerja penjurian tidak mempertimbangkan tebal-tipis dan berat-ringan buku sastra yang sedang diseleksi. Namun, keragu-raguan semacam itu tampaknya bermuasal dari inferioritas kepenyairan dan keterpinggiran dunia puisi itu sendiri. Pesimisme serupa disinyalir pula oleh testimoni Sindu Putra (pemenang KLA 2009) yang mengacungkan jempol pada ketekunan dan kerja keras pihak penyelenggara KLA hingga dapat bertahan sampai tahun ke-10, namun ia masih mengeluhkan bahwa wajah kepenyairan Indonesia belum tergambar secara utuh. Sebab, sangat boleh jadi, banyak naskah puisi bermutu yang tersembunyi di rak dan laci, lantaran penyairnya tiada kunjung mendapatkan penerbit. Akibatnya, naskah-naskah itu tidak terjaring dalam kerja penjurian KLA.

Kecemasan Sindu dapat dimaklumi. Tengoklah berapa banyak penyair yang menenteng naskah puisi ke sana-ke mari, namun dengan alasan selling point dan segmentasi pembaca yang tidak menjanjikan, penerbit mentah-mentah menolaknya. Memang ada satu-dua penerbit major label yang tidak alergi dengan naskah puisi. Tapi, mekanisme kuratorial dalam memutuskan kelayakan naskah sudah mengabaikan segala macam pertimbangan pasar dan semata-mata hanya untuk menghargai tradisi puisi. Maka, setidaknya masih ada jatah 1 buku pusi dalam setahun, yang bila ditakar dengan analisis pasar dipastikan tiada bakal balik-modal. Peluang sempit inilah yang diperebutkan oleh ratusan penyair di negeri yang konon sangat menggandrungi puisi ini.

Akhirnya, bila tetap menginginkan buku sajak, seorang penyair mesti menyodorkan estimasi biaya produksi buku pada sejumlah pihak─baik perorangan maupun lembaga─yang sudi membiayai penerbitannya. Bila tidak ada sponsor yang berkenan, penyair terpaksa merogoh kantong sendiri. Tengoklah daftar shortlist KLA 2010, khususnya kategori puisi, hampir semuanya terbit dengan siasat, kerja keras dan militansi para penyair dalam memperjuangkan puisi-puisi mereka. Dalam pidato singkat pada malam anugerah KLA 2010, Gunawan Maryanto, membenarkan bahwa bukunya diterbitkan secara POD (print on demand); dicetak terbatas, sesuai pesanan. Inilah yang saya sebut dengan keterpinggiran buku puisi di dunia perbukuan kita, yang pada akhirnya menimbulkan kebimbangan, pesimisme, bahkan inferioritas penyair.

Maka, keagungan puisi yang konon dapat melampaui pencapaian filsafat sebagaimana pembelaan filsuf eksistensialis Martin Heidegger (1889-1976) terhadap sajak-sajak penyair Jerman, Friedrich Holderin, atau gairah keberpihakan Octavia Paz (1914-1998) terhadap puisi yang pantas dipertahankan seperti mempertahankan kemerdekaan untuk mendedahkan pikiran, agaknya sukar terpetakan dalam khazanah perpuisian kita belakangan ini. Karya-karya para penyair Indonesia mutakhir tertimbun jauh di kedalaman tumpukan novel-novel best-seller semacam Laskar Pelangi, Ayat-ayat Cinta, dan Negeri 5 Menara. Tersembunyi di rak-rak paling pojok yang jarang disambangi pembaca. Tergeletak penuh debu, hingga akhirnya digudangkan.

Novelis, cerpenis, apalagi penyair, sedang mengalami ketidakmujuran yang sama. Kerja para sastrawan dalam segi-segi non-artistik sama kerasnya dengan pergelutan kreatif guna membuahkan karya-karya bermutu. Buku sastra jenis prosa pun tak luput dari persoalan serupa. Penerbit-penerbit komersial, akhir-akhir ini, lebih gandrung mengimpor novel dari luar negeri ketimbang menerbitkan novel karya pengarang negeri sendiri. Rasio antara novel terjemahan dan novel lokal saat ini sedemikian jomplang; 10 : 1. Artinya, penerbit-penerbit yang concern pada buku sastra, mencetak 10 novel asing, dan hanya 1 novel lokal. Konon, untuk sekadar memperlihatkan penghargaan terhadap sastra Indonesia, meski sudah dipastikan bakal merugi. Maka, tengoklah cerpenis yang belakangan ini begitu gencar melakukan self-marketing lewat situs jejaring sosial Facebook. Sebutlah misalnya Benny Arnas yang baru saja melepas antologi cerpen bertajuk Bulan Celurit Api (2010). Awal Oktober 2010 bukunya turun-cetak, tapi sejak September 2010 ia sudah melakukan direct selling di dunia maya. Hasilnya terbilang spektakuler untuk ukuran buku sastra, 100 exp BCA telah terjual, tiga minggu sebelum buku terbit. Pemesanan langsung berdatangan dari Jakarta, Aceh, Makassar, Kalimatan, Yogyakarta, Padang, Medan. Kabar terkini yang saya terima, Bulan Celurit Api, bakal cetak-ulang, padahal launching-nya belum diselenggarakan. Kerja serupa juga dilakukan oleh Bamby Cahyadi untuk bukunya Tangan Untuk Utik (2009), dan Khrisna Pabichara untuk kumpulan cerpen Mengawini Ibu (2010). Mungkin fenomena ini patut disambut sebagai kabar baik bagi sastra Indonesia, namun stamina para pengarang kita tentu bakal terus terkuras untuk hal-ihwal yang non-artistik. Para pengarang yang sekaligus juga pedagang.

Maka, dalam konteks inilah peran Khatulistiwa Literary Award dapat ditandai. Ia ditegakkan di atas sebuah itikad untuk menghargai, bukan saja kedalaman eksplorasi estetik dalam sebuah karya sastra, tapi yang jauh lebih penting adalah menghargai pilihan hidup sebagai pengarang, jalan kepengarangan yang terjal dan berliku, sebelum membuahkan karya besar. Dengan nilai penghargaan yang terbilang memadai, KLA dapat memperkuat posisi tawar para pengarang, untuk terus bertahan dan bersetia menempuh jalan kepengarangan, dan tidak tergoda untuk berganti haluan lantaran apresiasi yang setengah hati…


DAMHURI MUHAMMAD
Koordinator Tim Juri KLA 2010

Monday, October 25, 2010

BANUN

Cerpen: DAMHURI MUHAMMAD

(KOMPAS, 24 Oktober 2010)

BILA ada yang bertanya, siapa makhluk paling kikir di kampung itu, tidak akan ada yang menyanggah bahwa perempuan ringkih yang punggungnya telah melengkung serupa sabut kelapa itulah jawabannya. Semula ia hanya dipanggil Banun. Namun, lantaran sifat kikirnya dari tahun ke tahun semakin mengakar, pada sebuah pergunjingan yang penuh dengan kedengkian, seseorang menambahkan kata “kikir” di belakang nama ringkas itu, hingga ia ternobat sebagai Banun Kikir. Konon, hingga riwayat ini disiarkan, belum ada yang sanggup menumbangkan rekor kekikiran Banun.

Ada banyak Banun di perkampungan lereng bukit yang sejak dulu tanahnya subur hingga tersohor sebagai daerah penghasil padi kwalitet nomor satu itu. Pertama, Banun dukun patah-tulang yang dangau usangnya kerap didatangi laki-laki pekerja keras bila pinggang atau pangkal lengannya terkilir akibat terlampau bergairah mengayun cangkul. Disebut-sebut, kemampuan turun-temurun Banun ini tak hanya ampuh mengobati patah-tulang orang-orang tani, tapi juga bisa mempertautkan kembali lutut kuda yang retak, akibat bendi yang dihelanya terguling lantaran sarat muatan. Kedua, Banun dukun beranak yang kehandalannya lebih dipercayai ketimbang bidan desa yang belum apa-apa sudah angkat tangan, lalu menyarankan pasien buntingnya bersalin di rumah sakit kabupaten. Sedemikian mumpuninya kemampuan Banun kedua ini, bidan desa merasa lebih banyak menimba pengalaman dari dukun itu ketimbang dari buku-buku semasa di akademi. Ketiga, Banun tukang lemang yang hanya akan tampak sibuk pada hari Selasa dan Sabtu, hari berburu yang nyaris tak sekali pun dilewatkan oleh para penggila buru babi dari berbagai pelosok. Di hutan mana para pemburu melepas anjing, di sana pasti tegak lapak lemang-tapai milik Banun. Berburu seolah tidak afdol tanpa lemang-tapai bikinan Banun, yang hingga kini belum terungkap rahasianya.

Tapi, hanya ada satu Banun Kikir yang karena riwayat kekikirannya begitu menakjubkan, tanpa mengurangi rasa hormat pada Banun-banun yang lain, sepatutnyalah ia menjadi lakon dalam cerita ini.

***

Di sepanjang usianya, Banun Kikir tak pernah membeli minyak tanah untuk mengasapi dapur keluarganya. Perempuan itu menanak nasi dengan cara menyorongkan seikat daun kelapa kering ke dalam tungku, dan setelah api menyala, lekas disorongkannya pula beberapa keping kayu bakar yang selalu tersedia di bawah lumbungnya. Saban petang, selepas bergelimang lumpur sawah, daun-daun kelapa kering itu dipikulnya dari kebun yang sejak lama telah digarapnya. Mungkin sudah tak terhitung berapa jumlah simpanan Banun selama ia menahan diri untuk tidak membeli minyak tanah guna menyalakan tungku. Sebab, daun-daun kelapa kering di kebunnya tiada bakal pernah berhenti berjatuhan.

“Hasil sawah yang tak seberapa itu hendak dibawa mati, Mak?” tanya Rimah suatu ketika. Kuping anak gadis Banun itu panas karena gunjing perihal Banun Kikir tiada kunjung reda.

“Mak tak hanya kikir pada orang lain, tapi juga kikir pada perut sendiri,” gerutu Nami,
anak kedua Banun.

“Tak usah hiraukan gunjingan orang! Kalau benar apa yang mereka tuduhkan, kalian tak bakal mengenyam bangku sekolah, dan seumur-umur akan jadi orang tani,” bentak Banun.

“Sebagai anak yang lahir dari rahim orang tani, semestinya kalian paham bagaimana tabiat petani sejati.”

Sejak itulah Banun menyingkapkan rahasia hidupnya pada anak-anaknya, termasuk pada Rimah, anak bungsunya itu. Ia menjelaskan kata “tani” sebagai penyempitan dari “tahani”, yang bila diterjemahkan ke dalam bahasa orang kini berarti: “menahan diri.” Menahan diri untuk tidak membeli segala sesuatu yang dapat diperoleh dengan cara bercocok tanam. Sebutlah misalnya, sayur-mayur, cabai, bawang, seledri, kunyit, lengkuas, jahe. Di sepanjang riwayatnya dalam menyelenggarakan hidup, orang tani hanya akan membeli garam. Minyak goreng sekalipun, sedapat-dapatnya dibikin sendiri. Begitu ajaran mendiang suami Banun, yang meninggalkan perempuan itu ketika anak-anaknya belum bisa mengelap ingus sendiri. Semakin banyak yang dapat “ditahani” Banun, semakin kokoh ia berdiri sebagai orang tani.

Maka, selepas kesibukannya menanam, menyiangi, dan menuai padi di sawah milik sendiri, dengan segenap tenaga yang tersisa, Banun menghijaukan pekarangan dengan bermacam-ragam sayuran, cabai, seledri, bawang, lengkuas, jahe, kunyit, gardamunggu, jeruk nipis, hingga semua kebutuhannya untuk memasak tersedia hanya beberapa jengkal dari sudut dapurnya. Bila semua kebutuhan memasak harus dibeli Banun dengan penghasilannya sebagai petani padi, tentu akan jauh dari memadai. Bagi Banun, segala sesuatu yang dapat tumbuh di atas tanahnya─lagipula apa yang tak bisa tumbuh di tanah kampung itu?─akan ditanamnya, agar ia selalu terhindar dari keharusan membeli. Dengan begitu, penghasilan dari panen padi, kelak bakal terkumpul, guna membeli lahan sawah yang lebih luas lagi. Dan, setelah bertahun-tahun menjadi orang tani, tengoklah keluarga Banun kini. Hampir separuh dari lahan sawah yang terbentang di wilayah kampung tempat ia lahir dan dibesarkan, telah jatuh ke tangannya. Orang-orang menyebutnya tuan tanah, yang seolah tidak pernah kehabisan uang guna meladeni mereka yang terdesak keperluan biaya sekolah anak-anak─tak jarang pula untuk biaya keberangkatan anak-anak gadis mereka ke luar negeri, untuk menjadi TKW─lalu menggadai, bahkan menjual lahan sawah. Empat orang anak Banun telah disarjanakan dengan kucuran peluhnya selama menjadi orang tani.
***

Sesungguhnya Banun tidak lupa pada orang yang pertamakali menjulukinya Banun Kikir hingga nama buruk itu melekat sampai umurnya hampir berkepala tujuh. Orang itu tidak lain adalah Palar, laki-laki pewaris tunggal kekayaan ibu-bapaknya. Namun, karena tak terbiasa berkubang lumpur sawah, Palar tak pernah sanggup menjalankan lelaku orang tani. Untuk sekebat sayur Kangkung pun, Zubaidah (istri Palar), harus berbelanja ke pasar. Pekarangan rumahnya gersang. Kolamnya kering. Bahkan sebatang pohon Singkong pun menjadi tumbuhan langka. Selama masih tersedia di pasar, kenapa harus ditanam? Begitu kira-kira prinsip hidup Palar. Baginya, bercocok tanam aneka tumbuhan untuk kebutuhan makan sehari-hari, hanya akan membuat pekerjaan di sawah jadi terbengkalai. Lagipula, bukankah ada tauke yang selalu berkenan memberi pinjaman, selama orang tani masih mau menyemai benih? Namun, tauke-tauke yang selalu bermurah-hati itu─bahkan sebelum sawah digarap─akan mematok harga jual padi seenak perutnya, dan para petani tidak berkutik dibuatnya. Perangai lintah-darat itu sudah merajalela, bahkan sejak Banun belum mahir menyemai benih. Palar salah satu korbannya. Dua-pertiga lahan sawah yang diwarisinya telah berpindah tangan pada seorang tauke, lantaran dari musim ke musim hasil panennya merosot. Palar juga terpaksa melego beberapa petak sawah guna membiayai kuliah Rustam, anak laki-laki satu-satunya, yang kelak bakal menyandang gelar Insinyur Pertanian. Dalam belitan hutang yang entah kapan bakal terlunasi, Palar mendatangi rumah Banun, hendak meminang Rimah untuk Rustam.

“Karena kita sama-sama orang tani, bagaimana kalau Rimah kita nikahkan dengan Rustam?” bujuk Palar masa itu.

“Pinanganmu terlambat. Rimah sudah punya calon suami,” balas Banun dengan sorot mata sinis.

“Keluargamu beruntung bila menerima Rustam. Ia akan menjadi satu-satunya Insinyur Pertanian di kampung ini, dan hendak menerapkan cara bertani jaman kini, hingga orang-orang tani tidak lagi terpuruk dalam kesusahan,” ungkap Palar sebelum meninggalkan rumah Banun.

“Maafkan saya, Palar.”

Rupanya penolakan Banun telah menyinggung perasaan Palar. Lelaki itu merasa terhina. Mentang-mentang sudah kaya, Banun mentah-mentah menolak pinangannya. Dan, yang lebih menyakitkan, ini bukan penolakan yang pertama. Tiga bulan setelah suami Banun meninggal, Palar menyampaikan niatnya hendak mempersunting janda kembang itu. Tapi, Banun bertekad akan membesarkan anak-anaknya tanpa suami baru. Itu sebabnya Palar menggunakan segala siasat dan muslihat agar Banun termaklumatkan sebagai perempuan paling kikir di kampung itu. Palar hendak membuat Banun menanggung malu, bila perlu sampai ajal datang menjemputnya.
***


Meski kini sudah jaman gas elpiji, Banun masih mengasapi dapur dengan daun kelapa kering dan kayu bakar, hingga ia masih menyandang julukan si Banun Kikir. “Nasi tak terasa sebagai nasi bila dimasak dengan elpiji,” kilah Banun saat menolak tawaran Rimah yang hendak membelikannya kompor gas. Rimah sudah hidup berkecukupan bersama suaminya yang bekerja sebagai guru di ibukota kabupaten. Begitu pula dengan Nami dan dua anak Banun yang lain. Sejak menikah, mereka tinggal di rumah masing-masing. Setiap Jumat, Banun datang berkunjung, menjenguk cucu, secara bergiliran.

“Kalau Mak menerima pinangan Rustam, tentu julukan buruk itu tak pernah ada,” sesal Rimah suatu hari.

“Masa itu kenapa Mak mengatakan bahwa aku sudah punya calon suami, padahal belum, bukan?”
“Bukankah calon menantu Mak calon insinyur?”

“Tak usah kau ungkit-ungkit lagi cerita lama. Mungkin Rustam bukan jodohmu!” sela Banun.

“Tapi seandainya kami berjodoh, Mak tak akan dinamai Banun Kikir!”

Sesaat Banun diam. Tanya-tanya nyinyir Rimah mengingatkan ia pada Palar yang begitu bangga punya anak bertitel Insinyur Pertanian, yang katanya dapat melipatgandakan hasil panen dengan mengajarkan teori-teori pertanian. Tapi, bagaimana mungkin Rustam akan memberi contoh cara bertani modern, sementara sawahnya sudah ludes terjual? Kalau memang benar Palar orang tani yang sesungguhnya, ia tidak akan gampang menjual lahan sawah, meski untuk mencetak Insinyur Pertanian yang dibanggakannya itu. Apalah guna Insinyur Pertanian bila tidak mengamalkan laku orang tani? Banun menolak pinangan itu bukan karena Palar sedang terbelit hutang, tidak pula karena ia sudah jadi tuan tanah, tapi karena perangai buruk Palar yang dianggapnya sebagai penghinaan pada jalan hidup orang tani…

tanah baru, 2010

Monday, September 20, 2010

LETUSAN KRAKATAU DALAM SYAIR MELAYU


LETUSAN KRAKATAU
DALAM SYAIR MELAYU


Oleh: DAMHURI MUHAMMAD

(versi panjang dari resensi yang tersiar di harian Kompas, 19/9/2010)


KEPULAN awan panas membubung setinggi 70 km. Gelombang tsunami menyapu bersih kawasan pantai sebelah Sumatera (Lampung) dan Jawa (Banten dan sekitarnya). 36.000 orang tewas. Ribuan permukiman luluh-lantak. Harta-benda hanyut tergilas arus. Begitu para peneliti menggambarkan suasana kalut selepas letusan gunung Krakatau, 1883. Ombak setinggi 40 m dari perairan Selat Sunda mencapai pantai Australia, Srilangka, Calcutta, bahkan Cape Town, selang beberapa jam kemudian. Sementara letusan terdengar hingga 3000 mil. Tak mengherankan bila seorang peneliti menyebutnya letusan terbesar sepanjang sejarah bumi.

Lebih dari 1000 kajian tentang letusan Krakatau telah ditulis, sejak dari geologi, vulkanologi, metereologi hingga oseanografi. Bermunculan pula sejumlah prosa karya seniman Eropa dari tahun 1889 hingga 1969. Beberapa film yang menggambarkan bencana akbar itu telah diproduksi. Sebutlah misalnya Krakatoa—The Last Days (2006). Tapi, beragam kajian dan karya seni berlatar letusan Krakatau, melulu dari perspektif orang asing.

Maka, buku "Syair Lampung Karam" (Sebuah Dokumen Pribumi tentang Dahsyatnya Letusan Krakatau 1883) karya Suryadi ini patut ditimbang sebagai penemuan yang mengejutkan. Ahli filologi dan peneliti sastra klasik di Universitas Leiden itu menemukan naskah usang mengenai peristiwa letusan Krakatau 1883, bertajuk "Syair Lampung Karam" karya Muhammad Saleh, terbit di Singapura pada akhir abad 19. Suryadi mencatat, SLK pernah terbit dalam bentuk litografi (cetak batu) dengan aksara Arab-Melayu sebanyak 4 kali. Edisi 1 berjudul "Syair Negeri Lampung yang Dinaiki oleh Air dan Hujan Abu" (1883/1884), kini tersimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dan The Russian State Library, Moscow. Edisi 2, "Inilah Syair Lampung Dinaiki Air laut" (1884), juga tersimpan di PNRI. Edisi 3, "Syair Lampung dan Anyer dan Tanjung Karang" (1886)─tersimpan di Cambridge University Library─dan edisi 4, "Inilah Syair Lampung Karam Adanya" (1888), penyalinnya Encik Ibrahim dan penerbitnya “Al-Hajj Muhammad Tayib” di Singapura, tersimpan di PNRI, Perpustakaan Universitas Leiden, SOAS University of London, Universiti Malaya dan dalam koleksi kitab-kitab Melayu milik penginjil Methodist Emil Luring di Frankfurt, Jerman.

Muhammad Saleh menulis SLK di Kampung Bengkulu─kini Bencoolen Street─Singapura. "Di Singapura duduk mengarang/Di kampung Bangkahulu disebut orang" (bait 369). Ia berasal dari Tanjung Karang (Lampung) tempat ia secara langsung menyaksikan bencana itu. "Awal mula hamba berpikir/Di Tanjung Karang tempat musyafir" (bait 4). Boleh jadi ia salah seorang pengungsi dari Lampung yang menyeberang ke Singapura selepas bencana. "Orang banyak nyatalah tentu/bilangan lebih daripada seribu/mati sekalian orangnya itu/ditimpa lumpur, api dan abu" (bait 128). Demikian salah satu potret suasana setelah letusan Krakatau dalam SLK. Sejumlah peneliti menyebutnya “syair kewartawanan”, semacam laporan pandang mata tentang sebuah peristiwa, sebagaimana kerja jurnalistik masa kini. Namun, aspek “khayali” (imajinasi) dan efek dramatik tentu tak lepas dari kerja kepenyairan. Tak diragukan bahwa SLK bersandar pada fakta-fakta di seputar peristiwa letusan Krakatau 1883, tapi penyair biasanya tidak semata-mata menyalin rupa peristiwa. Mata kepenyairan lebih menukik pada labirin “suasana hati” saat berhadapan dengan fakta (bukan fakta itu sendiri), atau yang disebut “Stimmung” oleh filsuf eksistensialis Jerman, Martin Heidegger (1889-1976).
Tengoklah pengakuan Muhammad Saleh pada bait 3: "Fakir yang daif dagang yang hina/mengarang syair sebarang guna/sajaknya janggal banyak tak kena." Ungkapan perihal kekhilafan yang bisa saja terjadi. Lagi pula, bukankah teks sastra terikat pada bahasa yang digunakannya? Sementara realitas itu semakin dibahasakan, bukan semakin terang, tapi justru semakin menyusut. Itu sebabnya Ludwig Wittgeisten (1889-1951) mensinyalir bahwa bahasa “sewenang-wenang” terhadap realitas.

Lalu, argumentasi apa yang dapat memperkuat hipotesis bahwa SLK bisa ditempatkan sebagai dokumentasi historis tentang letusan Krakatau? Sementara dalam ulasannya untuk bait penutup─"Kerana hati gundah gulana/Terlalu banyak pikir kiranya/Terkena demam hampir matinya"─Suryadi mengakui, tak ada jaminan apa yang digambarkan penyair sepenuhnya benar, sebab dalam sastra selalu terbuka ruang untuk berimajinasi (hal.18). Pada bait 235 penyair bahkan menegaskan permohonan maaf bila penggambarannya tentang peristiwa penting itu salah; "Sekedar itulah hamba sebutkan/Khabar yang betul hamba katakan/tetapi tidak dengan penglihatan/Jikalau salah Tuan maafkan." Terbuka kemungkinan bahwa beberapa bagian dari 375 bait dalam SLK bukan sebagai laporan pandang mata, tapi sebatas tafsir terhadap cerita yang didengar penyair dari sumber tertentu, sebagaimana diakuinya pada bait 84; "Neneknya sendiri yang membilang/Bukannya hamba mengarang-ngarang."

Kesulitan menjangkau rujukan faktual dari naskah kuno berupa teks sastra pernah pula dialami Henri Chambert-Loir (2009) saat menelaah "Hikayat Nakhoda Asik" dan "Hikayat Merpati Mas," terbit pada paruh kedua abad ke-19. Rujukan geografis dalam kedua teks itu kabur. Hanya ada satu unsur yang dipertahankan pengarang—itupun hanya dalam HNA—yaitu laut. Nakhoda Asyik terus berlayar dari satu negeri ke negeri lain. Di laut ia bertemu dengan putri Asma Penghibur. Di laut pula ia dicelakai menteri yang zalim. Laut di sini sukar ditimbang sebagai rujukan geografis, karena lebih terasa sebagai laut simbolik. "Hikayat Merpati Mas" juga menggambarkan tentang sebuah negeri yang dilanda petaka. "Pada suatu malam datanglah air dari sebekah wetan, gemuruh suaranya, maka segala isi negeri habislah, ada yang berlari ke sana ke mari, ada yang mencari pohon yang tinggi-tinggi." Menurut Henri, teks ini erat kaitannya dengan SLK.

Ketimbang menegaskan bahwa Hikayat Merpati Mas mengandung fakta-fakta tentang letusan Krakatau 1883, Henri hanya merujuk pada SLK yang berusia lebih tua. Lagi pula, siapa yang menjamin tidak akan ditemukan lagi naskah yang lebih tua? Maka, daripada memartabatkan SLK dalam kerangka kerja historiografi, akan lebih bebas-risiko menempatkannya sebagai teks yang menjalankan fungsi konservasi terhadap sebuah kenangan yang mengharukan, tentang bencana besar yang pernah melanda negeri ini, agar kita tak lupa, tak lena, dan selalu waspada.

Judul : Syair Lampung Karam
(Sebuah Dokumen Pribumi tentang Dahsyatnya Letusan Krakatau 1883)
Penulis : Suryadi
Penyunting : Yurnaldi
Penerbit : KPSP, Padang
Cetakan : II, Januari 2010
Tebal : 200 halaman

Monday, June 21, 2010

Anak-anak Masa Lalu

Cerpen: DAMHURI MUHAMMAD

Jawa Pos, Minggu 20 Juni 2010


BILA tidak ingin celaka, jangan melintas di Jembatan Sinamar pada waktu-waktu lengang, apalagi tepat di saat berserah-terimanya ashar dan magrib! Bukankah begitu sejak dulu, petuah para tetua, perihal jembatan yang tak pernah lekang dan usang itu? Namun, sebagaimana titian biasa runtuh, pantangan biasa dilanggar, bukankah pula, dari masa ke masa, selalu ada gerombolan anak-anak kampung ini, yang diam-diam hendak menyingkap rahasia tersuruk di sebalik pantang dan larang yang terus dimaklumatkan?

Maka, dengan segelimang gamang yang tak ditampakkan, mengendap-endaplah bocah-bocah kerempeng itu, tepat pada waktu terlarang. Mula-mula, sayup-sayup terdengar jerit dan rintih anak-anak seusia mereka, bagai sedang didera rasa sakit yang tak tertanggungkan. Seiring rembang petang, makin terang kedengarannya, hingga mereka memercayai suara gaib yang membuat bulu kuduk meremang itu berasal dari lantai Jembatan Sinamar. Menimbang keriuhan yang kian meninggi, rasa-rasanya asal jerit-rintih itu bukan dari satu orang, mungkin dua atau tiga. Lalu, di benak mereka, terbayang jasad anak-anak yang terjepit dalam jejaring beton bertulang. Mereka lekas berbalik, lari pontang-panting, seperti benar-benar sedang diburu hantu petang hari.
Dua hari selepas petang itu, Tongkin turun tangan. Sebab, Alimba, salah satu dari gerombolan anak-anak pelanggar pantang itu kesurupan. Ia mencak-mencak, lalu membanting barang-barang pecah-belah di rumahnya. Beling dari piring yang berserak di lantai, satu persatu ia kunyah, seperti mengunyah keripik singkong, hingga berderuk-deruk di tenggorokannya. Lantaran tingkah Alimba makin liar, dua penambang pasir sungai Sinamar meringkusnya, hingga ia menghentak-hentak sambil mengeluarkan pekik yang membuat pedih gendang telinga. Tongkin, dukun pilih tanding, mengerahkan segenap kesaktian, guna merenggut makhluk halus itu dari jasad Alimba.

“Rumahku di sini, di kampung ini, bukan di Jembatan Sinamar!” ancam Alimba, dengan tatap bengis.

Tongkin tak peduli gertakan itu. Mulutnya terus komat-kamit, melafalkan mantra-mantra.
“Kau tak akan sanggup mengusirku,” bentaknya lagi.

Sesaat Tongkin mundur, ia memperkokoh posisi duduknya. Rupanya ia sedang berhadapan dengan lawan bersengat.

“Siapa kau sebenarnya?” tanya Tongkin dengan napas terengah-engah.

“Jangan pura-pura tidak tahu! Aku salah satu dari tiga anak yang kepalanya dibenamkan di lantai Jembatan Sinamar.”

Orang-orang terperangah. Tongkin menghela napas dalam-dalam. Tak biasanya, roh jahat yang merasuk ke dalam tubuh kasar mengungkap asal-muasalnya. Sesaat kemudian, Alimba tumbang, lalu pingsan.

**

Dulu, bila ada yang kesurupan, Tongkin selalu berkilah bahwa makhluk halus yang merasuk hanyalah penghuni sungai Sinamar yang terusik sejak pembangunan jembatan. Namun, setelah Alimba kerasukan, rahasia Jembatan Sinamar mulai tersingkap. Tongkin membenarkan bahwa riwayat usang tentang pemenggal kepala bukan cerita bohong. Kekejaman pemenggal kepala yang telah menjadi kabar petakut di kampung Subarang, ternyata bukan sekadar dongeng pengantar tidur bagi anak-anak malas yang lebih banyak bermain gundu ketimbang membantu orangtua di ladang. Mulai dari ibu-bapak Alimba, tetangga-tetangga dekat hingga tersiar ke seluruh penjuru kampung, Tongkin membeberkan bahwa jika Jembatan Sinamar hanya dipancangkan dengan beton-beton bertulang, menimbang usianya yang sudah uzur, tentu sudah rubuh. Namun, tiga kepala yang dibenamkan bersama adukan cor, telah membuatnya bagai tiada pernah lekang dimakan usia. Saat gempa dahsyat memporak-porandakan rumah-rumah warga kampung Subarang, Jembatan Sinamar, jangankan runtuh, terguncang pun tidak. Tiang-tiangnya masih menancap kokoh, apalagi lantainya, meski setiap hari truk pasir bermuatan sarat lalu-lalang melintasinya. Dan, itu sudah berlangsung selama bertahun-tahun.

Di masa lalu, kampung Subarang pernah gempar lantaran kehilangan tiga bocah laki-laki, sepulang menonton pacuan sapi, tak jauh dari tepian sungai Sinamar. Mereka dikabarkan hanyut saat menyeberangi sungai itu. Begitu hasil penerawangan batin para dukun yang melacak keberadaan mereka. Berhari-hari sungai Sinamar diselami, dari hilir hingga hulu, tapi mayat mereka tak ditemukan. Setelah semua daya-upaya dilakukan, akhirnya ketiga orangtua dari anak-anak yang hilang tak jelas rimbanya itu memercayai bahwa mereka telah diculik orang bunian. Tidak meninggal sebagaimana yang diperkirakan, tapi mustahil kembali, karena mereka sudah terhisap ke dalam alam halus. Orang-orang Subarang merelakan tiga bocah itu menjadi anak-anak masa lalu yang tak pernah lagi diungkit-ungkit riwayatnya.

Padahal, mereka tergoda oleh iming-iming dua lelaki asing namun berperawakan ramah dan baik hati. Mereka dibujuk dengan ajakan menonton pertunjukan kelompok sirkus yang waktu itu sedang manggung di kota kabupaten. Dua lelaki itu mengendarai mobil bak, dan sudah pasti mereka akan dibolehkan bergelantungan di mobil itu. Pengalaman yang mahal untuk ukuran anak-anak kampung Subarang masa itu.
Namun, sebelum sampai di kota, di sebuah tempat lengang, mobil tiba-tiba berhenti. Salah satu dari dua lelaki asing turun, mendekati tiga bocah yang sedang asyik bergelantungan.

“Sebelum masuk ke arena sirkus, kalian harus pakai ini,” katanya, sembari membagikan topi warna hijau.

Sekilas topi itu mirip lackpet yang biasa dipakai tentara zaman dulu. Bila cuaca dingin, dua sisi bawahnya dapat dikancingkan di dagu. Sementara di sisi belakang, yang bersentuhan langsung dengan kuduk, menyembul dua ujung kawat halus sepanjang empat senti. Kawat baja itu tersembunyi di dalam kain yang akan melingkari leher.

“Arena sirkus akan ramai pengunjung. Topi itu memudahkan kami mencari kalian, begitu pertunjukan usai.”

“Bila tidak, kalian bisa hilang dalam keramaian.”

Mereka bergegas menyarungkan topi di kepala masing-masing, dan memasang kancing di bawah dagu. Ada yang berdetak di kuduk, bunyinya seperti gembok yang terkunci, hingga leher mereka bagai tercekik. Anak-anak yang telah masuk perangkap diminta turun. Mereka tidak membantah lantaran tenggorokan yang tersekat, sementara topi tidak bisa dibuka lagi. Dengan posisi menyilang dua lelaki itu menyentakkan kawat baja di kuduk anak-anak itu. Seketika kepala mereka lepas dari badan. Nyaris tak ada pekikan. Penyembelihan yang dingin. Lebih lekas dari menggorok leher sapi. Tiga topi berisi kepala menggelinding di dalam mobil bak, segera diserahkan pada pimpinan proyek pembangunan Jembatan Sinamar.
**

Setelah meraih gelar insinyur dengan predikat cum-laude dari sebuah universitas ternama di Jawa, belasan tahun lalu, Alimba memang belum pernah pulang. Namun, sosoknya seumpama layang-layang yang sedang tegak-tinggi tali. Jauh, namun tampak dekat. Dekat, tapi tampak jauh. Selalu ada yang berkabar bahwa di tanah Jawa, insinyur Alimba, telah menjadi pemborong besar, utamanya dalam proyek pembangunan jembatan layang. Kualitas konstruksi yang dikerjakan oleh perusahaan milik Alimba telah teruji. Tiga dari lima tender proyek jembatan layang selalu dimenangkan oleh PT.Sinamar Jaya Karya. Tak terbayangkan, Alimba bocah kerempeng dari kampung Subarang, terlahir dari keluarga susah, kini menjadi kontraktor dengan reputasi tak tertandingi, bahkan konstruksi jembatan karya para insinyur tamatan luar negeri tak sanggup mengimbangi karya-karyanya.

Kalaupun ada kelemahan Alimba, itu hanya soal suara-suara gaib yang menyeruak dari setiap jembatan yang pernah dibangunnya. Tepat di saat bertimbang- terimanya ashar dan magrib, akan terdengar jerit dan rintih anak-anak yang seolah-olah sedang terjepit di dalam jejaring beton bertulang. Siapa yang melintas pada waktu terlarang itu, bakal celaka. Bila tidak tabrakan beruntun, setidaknya kendaraan terguling lantaran kecepatan yang tak terkendali. Sejauh ini sudah tak terhitung jumlah korbannya.

“Pasti ada yang tidak beres! Mesti diungkap. Bila kita tidak ingin terus kalah tender,” begitu sinisme seorang pesaing Alimba.

“Bagaimana cara membuktikan setan-setan jembatan itu?” tanya anak buahnya.

“Alimba terlalu kuat. Sekuat konstruksi jembatan hasil karyanya.”

“Ah, apalah guna mutu, bila setiap bulan selalu menagih darah?”

**

Bila di masa lalu, Subarang heboh karena kehilangan tiga bocah laki-laki yang telah direlakan menjadi anak-anak masa lalu, kini kampung itu kembali gempar setelah tv dan koran-koran menayangkan kabar tentang seorang kontraktor proyek jembatan layang yang diduga sebagai otak di balik penemuan potongan-potongan tubuh mayat yang belakangan ini telah meresahkan. Dikabarkan, buronan bernama Alimba itu telah membenamkan ratusan butir kepala anak-anak jalanan di dalam jejaring beton bertulang, sebagai tumbal demi kekokohan konstruksi setiap jembatan yang dibangunnya. Orang-orang suruhan Alimba berkhianat, dan menyebarkan jasad-jasad tanpa kepala di setiap penjuru kota, hingga reputasi PT.Sinamar Jaya Karya tak terselamatkan.

Dari kejauhan, orang-orang Subarang berdoa semoga Alimba, si pemenggal kepala, beroleh tempat bersembunyi yang tidak bakal terlacak siapapun. Betapapun sadisnya perbuatan Alimba, ia telah menghidupi anak-anak muda yang dulu hanya pemadat jalan di kampung Subarang, kini menjadi orang-orang yang beruntung di perantauan. Alimba menampung dan mempekerjakan mereka.

“Ini salah Tongkin,” umpat salah seorang tetua kampung Subarang.

“Tongkin sudah mati. Ia jangan dibawa-bawa!”

“Bukankah Tongkin yang membeberkan cerita tentang pemenggal kepala, dan Alimba mengambil pelajaran dari situ?”

Daruih, dukun muda pewaris kesaktian Tongkin, menyanggah. Baginya, kabar yang telah menjadi aib kampung Subarang bukan salah Tongkin, bukan pula Alimba, tapi ulah salah seorang dari anak-anak masa lalu, tumbal Jembatan Sinamar. Arwah yang pernah merasuki Alimba semasa kanak-kanak tak sungguh-sungguh pergi, hingga kini bahkan masih bersarang di tubuh insinyur hebat itu. Ia melunaskan dendam lewat tangan Alimba…

cahaya titis, 2010