Search This Blog

Monday, November 14, 2011

Para Pecundang dari Lampuki



Oleh: DAMHURI MUHAMMAD

(Kompas, 13 Nov 2011)


SEKALI LAGI, silang-sengkarut konflik Aceh masa silam membuahkan novel. Kali ini bertajuk Lampuki, karya Arafat Nur, yang ternobat sebagai pemenang unggulan dalam sayembara menulis novel Dewan Kesenian Jakarta, 2010. Lampuki─dirujuk dari nama sebuah kampung di wilayah Pasai─adalah realitas remuk, lantaran trauma perang dan iklim ketertindasan yang bagai tiada pernah khatam. Berkisah tentang remah-remah militansi seorang pemberontak bernama Ahmadi. Bila sedang aman, lelaki kekar berkumis tebal itu turun gunung, menyulut nyala-gairah anak-anak muda Lampuki, dengan janji muluk perihal martabat dan kejayaan bangsa Aceh masa datang, bila terbebas dari “penjajahan” orang-orang seberang. Mulut besar si Kumis Tebal berbusa-busa, meneriakkan ajakan berperang di balai-balai pengajian, kedai-kedai kopi, dan Pasar Simpang. Namun, tidak banyak yang tergiur. Alih-alih mengamini, mereka malah sibuk mencari alibi. Sebagian besar orang-orang Lampuki rela membayar pajak ketimbang masuk hutan keluar hutan bersama laskar pimpinan Ahmadi. Ulah komplotan Ahmadi, yang kerap menyerang pos-pos penjagaan militer di sekitar Lampuki, telah sempurna menciptakan suasana mencekam, dan tentu akan semakin menakutkan bila suami atau anak-anak mereka bergabung dengan para pembangkang itu.

Inilah masa ketika militansi untuk terus menggenggam etos perlawanan di kalangan orang-orang Aceh telah surut─bila bukan padam sama sekali─yang habis-habisan hendak dieksplorasi Arafat Nur. Pesimisme akut itu digambarkan pengarang bukan dengan modus yang biasa, melainkan dengan cara menertawakannya. Menertawakan kepatuhan orang-orang Lampuki pada perintah Ahmadi untuk menutup semua sekolah, karena hanya mengajarkan kebodohan dan membutakan mata anak-cucu mereka pada situasi keterjajahan yang terus berlangsung. Mengolok-ngolok kemalasan mereka yang enggan masuk hutan guna menggarap ladang. Alasannya tegas, tentara bakal meringkus mereka sebagai pemberontak sebagaimana komplotan Ahmadi. Padahal, mereka memang malas tiada terkira. “Pesong” (bodoh), begitu narator menyebutnya.

Watak mendua akibat trauma perang begitu kentara dalam novel ini. Hayati, Laila, dan Rukiyah membenci Ahmadi setengah mati, tapi sekaligus juga menghormati si Kumis Tebal itu. Bukan saja karena ia satu-satunya laki-laki Lampuki yang masih terus menyalakan gairah perlawanan, tapi juga karena Ahmadi tidak banyak membuat keributan di sekitar Kampung Bawah, tempat keluarganya bermukim. Dengan begitu, Lampuki masih terbilang aman, dan mereka merasa terlindungi. Begitu pula keterbelahan persepsi terhadap Halimah (istri Ahmadi), yang tiada gentar mengutip pajak dari rumah ke rumah, bahkan dalam situasi genting sekalipun. Ia berani membentak dan mengancam bila ada warga yang mangkir membayar pajak. Halimah penyamar handal, ia leluasa lalu-lalang di depan pos jaga sebagaimana orang biasa, tak ada tentara yang mencurigainya sebagai antek pemberontak. Itu sebabnya, guru mengaji─narator yang diperalat pengarang di sepanjang novel ini─sesekali mengungkapkan nada penghormatan pada sosok perempuan licik itu.

Ada yang bermatabat dari yang keparat, ada yang terpuji dari yang dibenci, ada yang luhur dalam yang bejat. Lelaku estetik semacam inilah yang ditandai oleh Mikhail Bakhtin (1895-1975) dengan konsep “Carnaval.” Ada yang terang dalam yang gelap, ada riuh dalam sunyi, ada nyala dalam yang padam. Maka, narator novel ini bisa saja menggoda pembaca untuk berpihak pada Karim, si pedagang ganja, kaki-tangan Ahmadi. Karim melakoni pekerjaan itu demi menghidupi komplotan pimpinan Ahmadi yang tengah berlatih dalam hutan. Guru mengaji dengan senang hati menerima pemberian Karim, ia berdamai dengan sak-wasangka bahwa uang itu adalah hasil dari penjualan barang haram.

Ranah abu-abu tidak saja perihal orang-orang Lampuki, tapi juga berlangsung di pos-pos jaga hampir di semua penjuru Lampuki. Mereka dilanda kejenuhan laten lantaran ditugaskan begitu lama, dan saban hari terancam oleh serangan tiba-tiba. Tak sekali-dua sejawat mereka sesama tentara mati terjungkal dalam sebuah kontak senjata. Itu sebabnya, mereka membabi-buta, menghabisi siapa pun laki-laki yang berkumis tebal, meski tak pernah terpastikan apakah itu benar-benar Kumis Tebal yang mereka incar. Dalam sebuah penceritaan, narator meledek kebodohan sebuah regu tentara selepas menghabisi seorang laki-laki Lampuki yang ditengarai pemberontak, padahal korban hanyalah salah satu dari orang pesong di Lampuki. Lagi-lagi, muncul empati dari narator, perihal betapa tersiksanya tentara-tentara muda yang tiada tahu-menahu perihal konflik Aceh, tapi mesti menyabung nyawa saban hari, hanya karena mereka terpilih untuk dikirim ke Aceh selepas kejatuhan Soeharto, 1998.

Sekali lagi, pengarang memperlihatkan anasir-anasir luhur dalam yang keji. Dengan senjata di tangan, mereka memang bisa menghabisi siapa saja, tapi pada saat yang sama, mereka juga berada dalam situasi terancam sebagaimana orang-orang Lampuki. Dua muka narator ini mengingatkan kita pada kebimbangan Olenin saat bertugas sebagai tentara penjaga wilayah perbatasan Kaukasus, dalam novel Kazak (1863), karya Leo Tolstoy. Ia tegak-berdiri di wilayah antara; menggapai kehormatan bangsanya dengan cara membunuh, atau diam-diam berpihak pada kaum terjajah yang sedang mati-matian berjuang mempertahankan hak dan kedaulatan mereka.

Menimbang komposisi penokohan yang rata-rata bermuka ganda lantaran kegamangan akibat trauma perang berkepanjangan, sosok Jibral si Rupawan yang sejak mula hendak dipentingkan narator sebagaimana Ahmadi, Halimah, dan Karim, agaknya tidak begitu berhasil. Selain, perangainya bergonta-ganti pasangan, tiada terasa pijakan dan panggilan penciptaan yang tegas bagi kemunculan tokoh ini. Ada atau tiadanya Jibral, novel setebal 433 halaman ini tetap menjanjikan pengalaman baca yang tiada bakal tuntas dalam sekali duduk. Selain itu, bagaimanapun juga, dengan keterampilan literer yang sangat terukur dan memadai, Lampuki telah berhasil membendakan sebuah kesadaran bahwa perang hanya akan membuat yang kalah jadi abu, sementara yang menang bakal jadi arang...

Judul : LAMPUKI
Penulis : Arafat Nur
Penerbit: Serambi, Jakarta
Cetakan : I, Mei 2011
Tebal : 433 halaman

Monday, July 25, 2011

Ari-ari Puisi

DAMHURI MUHAMMAD

(Pikiran Rakyat, 24 Juli 2011)

SECARA fisik, ari-ari tak lebih dari selaput pelindung janin semasa bersemayam di rahim ibu. Namun jangan lupa, ari-ari adalah pangkal dari segala macam obsesi, busur yang melesatkan anak panah harapan, doa, dan cita-cita. Selepas prosesi kelahiran yang melelahkan, bukankah banyak syarat-rukun yang mesti dipenuhi sebelum ari-ari ditanamkan? Bila menginginkan watak luhur yang dipuja-sanjung banyak orang, maka serakkan lah kembang tujuh-rupa dalam wadah ari-ari. Mendambakan kejeniusan yang pilih tanding? Sertakan pensil dan buku. Atau bilamana menginginkan jiwa petualang, bubuhkan pasir dari tujuh muara. Untuk syarat yang disebutkan terakhir, percaya atau tidak, bila sudah tiba saatnya, seorang anak akan melesat bagai pelor yang ditembakkan dari muncung senapan laras panjang. Pergi sejauh-sejauhnya, dan jangan harap ia bakal pulang. Anak itu akan menjadi petualang sejati, yang bakal segera melupakan jalan pulang. Lupa kembali ke pangkal jalan.

Inilah panggilan penciptaan sajak bertajuk “Bangkinang” dalam antologi Manusia Utama (2011) karya terkini penyair muda Y.Thendra BP. Pernah sekali/angin dini hari/menyusup lewat jendela bis/yang tak terkunci/menegur aku/menoleh pada tanah kelahiran itu/tapi tak tahu aku/di bawah pohon apa ibu/menanam ari-ariku/dan bis terus melaju. Tentu saja bukan sekadar alam Bangkinang, kampung kelahiran itu, yang bakal dieksplorasi penyair. Menurut hemat saya, perhatian utama sajak ini adalah ari-ari. Sejarah mula-mula, muasal paling purba dari sebuah identitas. Tiada satu pun teori yang dapat menakar sejauhmana signifikansi ketercapaian obsesi dan cita-cita itu, kelak di kemudian hari. Namun, pengharapan dan hasrat selalu saja hendak dilekatkan pada ari-ari, dari satu kelahiran ke kelahiran yang baru. Maka, sajak ini adalah sebuah ikhtiar penggalian kenangan yang nyaris hilang perihal dunia ari-ari, atau lebih jauh, sebuah pemancangan tanda bahwa di bawah “pohon yang entah di mana” itulah segala macam tarikh manusia bermula. Kecenderungan semacam inilah yang dalam bahasa filsuf Jacques Ranciere (2010) disebut petrification, sebuah upaya pembatuan kenangan, pemosilan sebuah peristiwa yang nyaris tertimbun oleh debu dan residu sejarah.

Sajak-sajak yang terbuhul dalam antologi Manusia Utama itu sebagian besar─bila tak dapat disebut dominan─bermula dari sejumlah peristiwa perjalanan, baik perjalanan spasial-temporal maupun mental-transendental. Tengoklah sajak bertajuk “Di Jembatan Siti Nurbaya,” yang menegaskan sebuah afirmasi betapa latennya pengaruh the power of imagination. Betapa tidak? Hingga esai ini dinukilkan, di belahan Indonesia manapun, bila ada peristiwa kawin-paksa, selalu saja muncul hasrat melawan yang direpresentasikan dengan ungkapan: “Ah, ini bukan lagi zaman Siti Nurbaya!” Pertanyaan saya, dalam ranah historiografi kita, kapan sesungguhnya kurun yang patut disebut zaman Siti Nurbaya itu? Sama sekal tidak bisa ditandai bukan? Inilah bukti paling absah dari upaya pemosilan (to petrify) sebagaimana disinyalir Ranciere. Sedemikian besarnya pengaruh pembatuan itu, di Ranah Minang masa kini─ latar tempatan roman karya Marah Rusli itu─bahkan ada kuburan Siti Nurbaya (entah siapa yang berinisiatif menggali dan menuliskan efitapnya), ada umat yang rutin berziarah ke sana, mendoakan keselamatan arwah Siti Nurbaya. Ada pula jembatan yang diberinama “Siti Nurbaya,” yang kemudian menjadi asbab al-wurud sajak Y. Thendra B.P: siti, muara teramat senja/mengalir di bawah rambutmu/mengingat kasih menggenggam/untuk melepas. Sajak ini, lagi-lagi tampak hendak membendakan sebuah kenangan yang bermuasal dari dunia bernama imajinasi, dunia khayali, dunia antah barantah.

Dalam perjalanan yang lain, tak lupa Thendra menyinggahi kampung halaman, Minangkabau selepas megabencana, gempa yang tak hanya mengakibatkan korban manusia, tapi juga korban kemanusiaan, sebagaimana ternukil dalam sajak “Kepada Farits dan 30 September 2009.” Pada sajak itu, penyair tidak sekadar singgah, lalu memotret semesta duka sebagaimana kerja seorang pewarta. Tidak! Subjek penyair berada dalam ketegangan antara penyelamat dan korban. Ia survivor, sekaligus korban. aku sanggup melupakan yang datang/tapi tak sanggup melupakan yang pergi. Rumah kalau mau rubuh rubuh lah, sawah-ladang kalau mau amblas ya amblas lah, namun masih ada kemujuran, sebab nyawa dapat terselamatkan. Bukankah selalu begitu kita mencari yang luhur dan yang mujur dari setiap musibah yang datang tiba-tiba? Ada yang luhur dalam petaka. Inilah yang barangkali ditegaskan oleh Mikhail Bakhtin (1895-1975) dengan konsep “Karnaval.” Ada yang terang dalam yang gelap, ada riuh dalam sunyi. Dalam batas-batas tertentu, subjek pembaca bisa saja berpihak pada pemegang kuasa bencana. Lantaran musibah yang telah menyebabkan kematian, yang tak pernah terpanggil untuk menengok kampung halaman, akan datang, yang tercerai-berai bakal tersambung. Kalau begitu, tak heran bila orang-orang kampung selalu berharap pada kematian, sebab hanya dengan kematian itu kerinduan pada orang-orang rantau bakal terlunaskan.

Lalu, di titik manakah tualang kepenyairan bakal berlabuh? Di dunia kepenyairan, bukan perjalanan lagi namanya bila gerak petualangan itu sudah berhenti. Namun, sajak yang hendak membendakan kenangan dari setiap perjalanan (Merak-Bakauheni, Tanjung Pinang, Papua, Jalan Lintas Sumatera, Bangkinang, dll) tentu bukan sekadar perjalanan spasial-temporal yang sama sekali tak menyisakan memorable-line. Bila itu yang terjadi, maka sajak-sajak dalam antologi itu akan jatuh sebagai feature perjalanan belaka, atau sekadar reportase tanpa kesadaran puitik yang dapat diandalkan. Selain itu, mengingat Thendra telah memaklumatkan jalan sajaknya sebagai jalan “yang bukan buat ke pesta” (April, Haiku, Chairil), maka riwayat perjalanannya tak lagi sekadar singgah dari kota ke kota, berlabuh dari pelabuhan ke pelabuhan, melainkan perantauan yang semestinya berangkat dari sebuah obsesi, pencapaian, tujuan, sebagaimana obsesi seorang ayah saat menanamkan ari-ari bayinya. Bila tidak, maka perjalanan tanpa haluan, tanpa tujuan, sesungguhnya lebih pantas disebut pelarian…

Monday, July 11, 2011

Mata Kesejarahan Onghokam


(Majalah TEMPO, edisi 4-10 Juli 2011)


Oleh: DAMHURI MUHAMMAD



PAGI buta di sudut Jakarta, lelaki ringkih dengan muka pasi dan gigil lutut melangkah terhuyung-huyung. Ia berhenti di pinggiran got yang penuh-sesak gundukan sampah, lalu melepaskan beberapa muntahan, hingga dari kejauhan tubuhnya tampak meliuk-liuk, nyaris terjungkal. Seorang wartawan muda bergegas meminggirkan mobilnya, berhenti di belakang orang tua bersimbah muntah itu. Wajah lelaki tua itu tidak asing baginya, karena ia pernah mewawancarainya perihal peristiwa pembantaian massal anti-komunis pasca 1965. Dipapahnya pemabuk itu, dituntunnya masuk mobil, diantarkannya pulang.

Lelaki renta itu adalah Onghokam (1933-2007), sejarawan senior, doktor jebolan Yale University, AS (1975). Pagi itu adalah perjalanan pulang Ong selepas pesta wine entah di mana. Cerita ini dituturkan seorang alumnus sejarah FSUI yang pernah mengecap kuliah Ong, dosen “killer” yang tidak taat pada disiplin administratif perkuliahan. Buku absensi mahasiswa selalu hilang, mengajar tak taat silabus. Satu topik perkuliahan bisa terulang dalam tiga kali petemuan. Bila diingatkan, Ong ngotot dengan suara tinggi. “Memang harus tiga kali! Supaya sempurna tanaknya di benak kalian!”

Begitulah Ong, sejarawan nyentrik yang di era 1980-1990-an begitu produktif menyiarkan tulisannya di Kompas, Tempo, dan Prisma. Sepanjang riwayatnya, Ong bergelimang buku, memenuhi undangan kedutaan asing, diskusi sejarah, memasak, dan mabuk Scotch. Ia berbeda haluan dengan Sartono Kartodirjo dan Nugroho Notosusanto, dua sejarawan yang pernah “dinobatkan” negara sebagai penentu bulat-lonjong historiografi Indonesia. Ong tak peduli pada gelar profesor yang layak ia sandang. Alih-alih predikat guru besar, kepangkatan pegawai pun tidak ia urus, bahkan sampai pensiun. Ia sibuk menelaah buku-buku babon─dari George Lefebvre, Albert Soboul, Braudel─menerima tamu–tamu ilmuan dari luar negeri, dan tentu saja menulis guna memancangkan pemahaman tentang hakikat ilmu sejarah yang dianutnya.

“Apa artinya Indonesia bagi Ong?” begitu Andi Achdian, penulis buku “Sang Guru dan Secangkir Kopi” ini bertanya dalam sebuah obrolan. “Bila tidak ada Indonesia, kau akan berjalan membungkuk-bungkuk di hadapan raja-raja Jawa,” jawab Ong. Baginya, Indonesia adalah sebuah konstruksi realitas yang memungkinkan persamaan antara warganegara, dan membebaskan orang dari ikatan primordial dari Sabang sampai Merauke. Indonesia adalah pencapaian paling ajaib sebuah negara-bangsa dengan wilayah geografis yang sebanding dengan perjalanan dari London menuju Istambul dari ujung barat sampai timur. Gerakan separatisme di Aceh dan Papua tidak mengakibatkan Balkanisasi, tidak pula terbelah sebagaimana India menjadi Pakistan dan Bangladesh (1947). Pada suatu masa ketika siswa-siswa Sekolah Menengah Belanda (HBS) ditawari pilihan menjadi warga negara Belanda atau tetap menjadi orang Indonesia, dari puluhan siswa di kelas itu hanya satu yang memilih Indonesia. Orang itu bernama Onghokham.

Lewat buku ini, Andi memetakan penglihatan mata kesejarahan Ong dengan cara tak biasa. Data-data ia himpun dari kenangan semasa menjadi murid sekaligus sahabat Ong sejak 2002. Cakrawala intelektualitas Ong yang sedemikian kaya itu tentu tidak terbuhul secara utuh, tapi obrolan yang melibatkan sisi personalitas Ong memperlihatkan cara kerja seorang sejarahwan yang unik dan khas. Tengoklah obrolan perihal kegemaran Ong meracik bumbu saat memasak makanan kegemarannya. Awalnya hanya soal merica, tapi obrolan meluas menjadi sejarah mula-mula pelayaran orang Eropa guna memburu rempah-rempah, sebagaimana pelayaran Vasco Da Gama dan Cornelis de Houtman. Diceritakan, ketika para perempuan Inggris mencampurkan rempah-rempah ke dalam masakan, rasanya lebih enak, makanan lebih awet dan tak perlu dimasak setiap hari. Maka, perempuan-perempuan itu menyuruh suami mereka mencari rempah-remah, hingga para suami takut istri itu menjadi pelaut-pelaut tangguh.

Mata kesejarahan Ong yang disingkap Andi─disebut-sebut murid paling bungsu Ong─memaklumatkan pemahaman sejarah sebagai “his-story,” sejarah tentang manusia, bukan sejarah institusi, struktur, bukan pula sekadar peristiwa. Dengan mata itulah Ong melahirkan gagasan brilian dalam Brotodiningrat Affair, yang menurut Andi adalah masterpiece Ong. Pilihan yang kurang masuk akal, sebab tulisan itu masih berupa paper yang belum sempat terbit. Tarikh kecil tentang kehilangan gordin penutup ruang depan sebuah rumah keresedinan di Madiun abad ke-18. Asisten residen menuding kehilangan itu tak lepas dari peran Bupati bernama Brotodiningrat, yang hendak menelanjangi wajah kemaruk kolonialisme. Karya sejarah yang alegorik dan metaforik.

Di mata kawan-kawan, kedekatan Andi dengan Ong menimbulkan kecurigaan bahwa sejarawan muda ini hendak mendompleng popularitas. Tapi, menimbang perbincangan dari hati ke hati sebagaimana tersuguh dalam buku ini, kenyataannya malah terbalik. Seamsal dunia persilatan, di akhir hayatnya justru Ong yang ingin mewariskan jurus paling sulung pada Andi, si murid paling bungsu itu.


DATA BUKU

Judul : Sang Guru dan Secangkir Kopi
Penulis : Andy Achdian
Penerbit: Kekal Press, Bogor
Cetakan : I, April 2011
Tebal : 139 halaman

Tuesday, May 31, 2011

Korupsi Dalam Teks Fiksi


Oleh: DAMHURI MUHAMMAD

(Kompas, 29/5/2011)

TERMINOLOGI “lapan-anam” (86) yang menjadi gairah utama novel karya Okky Madasari ini terpelanting ke dalam tafsir yang pejoratif. Salah satu kata sandi kepolisian─selain 10.2, 813, 871, dan lain-lain─yang digunakan dalam berbagai komunikasi kedinasan itu pada dasarnya berarti dimengerti, dimaklumi, namun di sekujur tubuh novel setebal 252 halaman ini, “lapan-anam” bergeser menjadi sinisme, sekaligus pemakluman terhadap berbagai modus jual-beli perkara di sebuah kantor pengadilan, lantaran sudah menyehari, dianggap lazim, dan sama-sama tahu. Maka, dunia “lapan-anam” adalah dunia yang tidak lagi tabu, tapi dunia yang serba tersingkap, serba dibenarkan. Dunia yang memelintir kejujuran dan kebersetiaan pada kebenaran menjadi cacat-historis. Sebaliknya, kebohongan dan hipokritas berubah menjadi keluhuran yang pantas dipuja-puji.

Pemakluman─lebih tepat disebut pembenaran─semacam inilah muasal nestapa Arimbi, juru ketik putusan perkara yang akhirnya tergoda juga menerima suap. Sebelumnya Arimbi gadis lugu asal Ponorogo yang tidak tahu apa-apa soal dunia “lapan-anam.” Ia PNS yang bekerja sebagaimana pegawai biasa, dan menerima gaji bulanan yang tak seberapa. Namun, lantaran praktik suap-menyuap telah sedemikian banal di lingkungan kerjanya─bermula dari tips-tips kecil, hadiah berupa barang elektronik, hingga amplop berisi uang─mentalitas Arimba berubah 180 derajat. Tak tanggung-tanggung, gadis itu kemudian terobsesi hendak mengubah nasibnya dengan jalan-pintas itu.

Puncak nestapa Arimbi terjadi ketika ia tertangkap tangan oleh petugas KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) dengan tuduhan menerima suap guna memenangkan sebuah perkara besar. Waktu itu, Arimbi disuruh menemui seseorang di sebuah restoran. Ia menerima koper berisi uang senilai 2M yang akan diserahkan pada bu Danti. Atasan Arimbi itu “makelar perkara” yang menjembatani pengacara kasus-kasus korupsi dengan oknum hakim nakal yang dapat membebaskan terdakwa. Lagi-lagi ini dunia “lapan-anam.” Dengan uang, semua tuntutan yang memberatkan koruptor dapat diringankan, bahkan dihapuskan. Celakanya, sebagai orang suruhan, Arimbi yang sejatinya beroleh jatah 50 juta, akhirnya digelandang ke tahanan bersama Danti.

Kronologi kisah sejak Arimbi lulus kuliah hingga merantau ke Jakarta, lalu diterima sebagai PNS, terasa linear dan datar, sebagaimana kisah orang-orang yang merantau ke Jakarta yang tervisualisasikan dalam film-film Indonesia tahun 80-an. Cerita berputar-putar di sekitar kepayahan hidup keluarga Arimbi dan orang-orang kampungnya yang selalu ditakar dengan penghasilan berupa uang. Tak ada upaya membangun alegori guna menggambarkan mentalitas yang kronis dan dekaden. Menjadi pegawai negeri bagi manusia-manusia di republik ini nyaris sama derajatnya dengan “masuk-sorga.” Begitu mulia, begitu terpandang. Itu sebabnya banyak orang rela menghamburkan ratusan juta, menyuap sana-sani, guna meraih obsesi menjadi pegawai negeri. Padahal, secara finansial, penghasilan pegawai negeri seperti Arimbi jauh dari memadai. Lalu, apa persoalannya? Inilah yang tidak diselami lebih dalam oleh Pengarang. Okky hanya memperlihatkan fenomena “lapan-anam” dalam praktik suap-menyuap. Dianggap biasa, bahkan hampir tidak dipandang sebagai ketercelaan.

Ketegangan baru terasa pada peristiwa-peristiwa yang dialami Arimbi selama di penjara, khususnya hubungan ganjil antara Arimbi dengan sejawat sesama napi bernama Tutik. Dikisahkan, Tutik janda beranak satu, pembantu rumah tangga yang tertuduh melakukan percobaan pembunuhan majikan, meski kenyataannya ia membela diri saat dicelakai majikan. Tak berselang lama setelah Danti dan Arimbi datang, Tutik dipercaya menjadi pelindung, sekaligus pelayan semua kebutuhan Danti, napi yang beroleh perlakuan istimewa. Ia punya ruangan khusus, dengan fasilitas mewah sebagaimana hotel berbintang. Tutik tidak pernah tahu bahwa Arimbi adalah staf Danti, dan Arimbi pun merahasiakannya. Di balik perhatian Tutik pada Arimbi ternyata ada maksud tersembunyi. Lantaran merasa berhutang budi, Arimbi akhirnya pasrah ketika Tutik memperlakukannya sebagai pasangan lesbian. Lagi-lagi muncul fatsoen “lapan-anam.” Semua biaya rumah sakit ibu Arimbi ditanggung Tutik, maka wajar Arimbi melunaskan hasrat seksual Tutik. Namun, suspensi perihal rahasia Arimbi-Danti tidak menjadi perhatian novel ini. Okky lebih terdorong membangun militansi Arimbi dalam mempertahankan hidup dan keluarganya di saat-saat genting. Ia bahkan nekad menjadi pengedar narkoba demi membiayai pengobatan orangtuanya di kampung. Arimbi juga merelakan suaminya menjadi pengedar sabu-sabu demi akumulasi laba yang bakal membuat hidupnya sejahtera selepas menjadi napi. Maka, novel ini bergelimang dengan angka-angka, nominal rugi-laba, dan berbagai hitungan matematis-ekonomis lainnya.

Fenomena korupsi, pejabat negara yang tertangkap tangan, jual-beli perkara, perlakuan khusus terhadap napi kelas kakap, bisnis narkoba di lembaga pemasyarakatan, adalah fakta-fakta yang setiap hari berhamburan di televisi, sejak beberapa tahun belakangan ini. Peristiwa-peristiwa yang sedemikian dramatik dan sinetronik, lebih dramatik dari prosa paling dramatik. Tengoklah betapa dramatiknya pemberitaan tentang anggota parlemen yang tertangkap tangan oleh KPK di sebuah hotel berbintang. Lihat pula perlakuan khusus terhadap Artalyta Suryani di tahanan, yang bukan rahasia lagi. Kalau begitu, boleh jadi novel “86” yang mengetengahkan serba-serbi peristiwa tersebut, akan kalah dramatik dari kejadian sebenarnya. Sinyalemen ini dibenarkan oleh novelis Afrika, Njabulo Ndebele (1998), bahwa kesulitan terbesar para novelis abad ini adalah menemukan metafora dari kehidupan sehari-hari yang sudah sedemikian mengerikan.

Prosa bukan sekadar fiksionalisasi dari peristiwa-peristiwa saban hari yang berseliweran di koran, majalah, dan tabloid gosip. Kompetensi artistik semestinya menggiling fakta-fakta keras menjadi realitas baru, yang dalam konteks novel ini, dapat memunculkan tafsir baru perihal watak korup, yang hingga kini belum terpecahkan. Pengarang dapat membangun ironi, atau memancangkan alegori tentang mentalitas korup, tanpa harus habis-habisan memperlihatkan bagaimana praktik-praktik suap itu berlangsung dengan berbagai modus dan siasat. Bila tidak, maka teks sastra akan terpelanting menjadi feature atau sejenis reportase, yang bila tidak “diprosakan” pun, pembaca sudah “lapan-anam” lebih dulu.

Waktu penceritaan linear dan corak realisme yang dipertahankan pengarang dari awal hingga akhir memang cukup jitu menyingkap praktik suap-menyuap serinci-rincinya, meski dalam kerja kreatif ada wilayah sumir dan samar yang hendaknya tersisa bagi pembaca. Tapi, corak serba-terang macam ini barangkali memang sedang dibutuhkan oleh penyuka prosa masa kini. Di belahan dunia lain, novelis Chili, Isabel Allende, dalam The Art and Craft of The Political Novel (1989) menegaskan, bahwa “dunia ketiga memerlukan ketersingkapan realitas serinci mungkin, ketimbang eksperimentasi bentuk yang membuat sastra kehilangan gairah perlawanannya.” Jadi, “lapan-anam” lah…




DATA BUKU

Judul : 86
Penulis : Okky Madasari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan : I, Maret 2011
Tebal : 252 halaman

Monday, April 18, 2011

Orang-orang Larenjang




Cerpen: DAMHURI MUHAMMAD


(Kompas, Minggu, 17 April 2011)


1

DARI pagi ke pagi, mulut-mulut itu, satu demi satu, bagai beralih-rupa menjadi toa. Bila toa di surau mengumandangkan azan, maka toa-toa segala rupa yang terpancang seperti antena itu begitu kemaruk memancar-luaskan gunjing, asung, dan pitanah, bahkan sekali-dua melepas umpat dan makian. Gema suara mereka bagai gendang irama gambus di musim helat, begitu semarak, begitu menyentak.

Ah, betapa lekas, betapa gegas, gunjing itu tersiar, bahkan jauh sebelum pantang dan larang kami langgar. Toa-toa itu bagai beranak-pinak, sambung-menyambung, balik-bertimbal, berteriak di pangkal kuping kami. Perihal beban berat yang bakal ditimpakan di pundak kami, tentang hutang yang selekasnya mesti kami lunasi. Diselang-selingi pula dengan peringatan yang kadang terdengar serupa ancaman: "siapa melompat siapa jatuh." Sekali lagi, jauh sebelum pantang dan larang yang disebut-sebut itu kami terabasi. Seolah-olah kami telah lengah menimbang dan menakar, bahwa bila "hidung dicucuk, tentulah mata bakal berair."

Toa yang terus menyala itu telah menjadi sebab paling absah menghilangnya yang terhormat pengulu kami, Bendara Gemuk. Sudah empat petang tak tampak batang hidungnya di lepau kopi, tidak pula di surau. Di usia kepala tujuh, Gemuk tentu tiada bakal pergi jauh. Sesungguhnya ia tidak pergi, hanya saja tidak pulang, dari ladang gambirnya, di rimba Cempuya. Mengingat, kerabat dekat kami, Julfahri, bersikeras hendak mempersunting Nurhusni, yang tidak lain adalah juga sanak-famili kami. Dua sejoli yang sedang mabuk kepayang itu berasal dari rumpun yang sama: Larenjang. "Kawin sesuku," demikian leluhur kami menukilkan sebutan bagi pantang dan larang itu. Bila dilanggar, suku kami akan terbuang. Julfahri dan Nurhusni wajib kami hapus dari ranji silsilah dan hak waris. Keduanya diharamkan menginjakkan kaki di tanah Larenjang. Mereka harus angkat kaki dan tidak akan pernah ada tempat berpulang. Sementara itu, dalam beberapa musim, akibat menerabas pantangan, orang-orang Larenjang─tanpa kecuali─akan dikucilkan dari pergaulan antarsuku. Bagi kami, tidak akan berlaku lagi, duduk sama-rendah, apalagi tegak sama-tinggi. Pucuk pimpinan yang membawahi semua wilayah persukuan akan menetapkan denda, dan hukuman yang mesti kami jalani. Pendeknya, sebagaimana Julfahri dan Nurhusni, kami pun bakal merantau, meski bermukim di kampung sendiri.

Maka, bagi Bendara Gemuk, daripada hidup berkalang malu, tentulah lebih baik mati berkalang tanah. Ia bertahan di rimba Cempuya, menggelepak di dangau lapuk dengan bekal seadanya. Meski lengang dan hawa dingin menusuk-nusuk tulang tuanya, tetap saja terasa lebih baik ketimbang terus-menerus mendengar desas-desus yang tak kunjung reda.

"Kenapa awak mesti menghamba pada aturan usang itu?" begitu Julfahri berkelit ketika Gemuk mendesaknya untuk membatalkan rencana itu.

"Mentang-mentang bersekolah tinggi, berani kau melanggar pantangan adat?" bentak Gemuk.

"Kami tidak punya hubungan tali-darah, jadi kami bisa menikah! Kami siap dibuang dari Larenjang!"

"Tapi, bagaimana dengan kami yang akan menanggung malu seumur-umur?"

"Bila tidak berbuat salah, kenapa harus malu?”

"Kau tidak takut akibat dari melanggar pantangan itu?"

"Awak hanya takut melanggar ajaran Tuhan!"

"Jaga mulutmu, Julfahri. Bisa kualat kau nanti!"


2

Kami tidak menutup mata, bahwa tiga dari lima pengulu di setiap suku di kampung ini lebih kerap beroleh celaan ketimbang menerima pujian. Alih-alih mencurahkan perhatian pada kemenakan, mereka lebih kerap menjadi benalu dalam suku. Betapa tidak? Tengoklah, para pengulu itu, bagai berlomba-lomba mengeruk kekayaan suku, lalu hasilnya diboyong ke rumah anak-bini. Mentang-mentang berkuasa, tak segan-segan mereka menggadai-melego tanah suku, guna membangun rumah batu, untuk istri dan anak-anaknya, sementara banyak kemenakannya putus-sekolah lantaran tidak ada biaya. Maka jangan heran, kalau ada pengulu yang sudah dibawa-lalu, tidak lagi diperlakukan sebagaimana pengulu. Sekali waktu, ada pengulu yang sampai babak-belur setelah dihajar-digebuk oleh kemenakannya sendiri.

Namun, yang terhormat Bendara Gemuk, selalu dapat kami kecualikan. Sejak dulu, belum sekali pun ia mengecewakan kami. Nyaris separuh umumrnya telah habis oleh segala macam urusan kemenakan. Tak jarang ia mesti bersitegang urat leher dengan istrinya, lantaran perhatiannya lebih tercurah pada kemenakan dalam suku Larenjang. Perkara seremeh apapun yang menimpa kami, Gemuk selalu menjadi orang yang pertamakali turun-tangan menyelesaikannya. Bahkan bila terjadi kegentingan, ia tidak gamang “pasang-badan” demi membela kami, para kemenakannya. Suatu hari, ketika judi sabung merajalela di kampung ini, kami tertangkap tangan dan beberapa hari harus meringkuk di sel kantor polisi. Bendara Gemuk kasak-kusuk, berupaya mencarikan jalan, agar secepatnya kami terbebas dari kurungan. Begitu pun ketika kerabat kami Julfahri bertekad hendak menjadi sarjana, meski ibu-bapaknya melarat. Gemuk pula orang yang tak bisa dilupakan jasanya. Betapa tidak? Waktu itu, di kota propinsi, ia mencarikan induk-semang bagi Julfahri. Dari sanalah ia dapat membiayai kuliah hingga tercapai juga cita-citanya. Dan, ketika tiba masanya kami menerima pembagian jatah lahan untuk berladang, Gemuk melakukan pembagian dengan cara seadil-adilnya hingga tak seorang pun dari kami yang merasa kurang, apalagi mencurigai ada yang curang. Bila ada keluarga kami yang jatuh sakit, Gemuk yang pertamakali tahu kabar itu. Apalagi bila ada di antara kami yang merasa sudah patut menikah, Gemuk mengurusnya hingga tuntas. Pokoknya, bagi kami─orang-orang Larenjang yang tak sempat mengecap sekolah tinggi ini─Bendara Gemuk lebih dari sekadar pengulu. Kami menghormatinya, sebagaimana kami menghormati ayah kami. Ajaran dan nasihatnya kami patuhi sebagaimana kami menuruti ajaran ibu-bapak kami.

Maka, membuat lelaki sepuh itu terluka, sama dengan melukai perasaan kami. Merendahkan martabat Gemuk berarti juga menghina kami. Melangkahi Gemuk adalah juga menampar muka kami. Oleh karena itu, siapa pun yang mendukung rencana pernikahan terlarang antara Julfahri dan Nurhusni akan berhadapan dengan kami.

"Bila ajal Gemuk lebih lekas lantaran menanggung malu akibat perangai gilamu itu, kau tak bakal selamat!" begitu kami menggertak Julfahri.

"Lantaran kami tidak berpendidikan sepertimu, kami tidak pandai menyelesaikan kusut ini dengan cara berunding."

"Lalu dengan cara apa kalian akan menyelesaikannya?" tanya Julfahri, pongah.

"Dengan kerat kayu. Paham kau, keparat busuk?"

“Atau mulut besarmu itu kami sumpal dengan ketupat bengkulu!”


3

DI USIA sepetang ini, hidup sebatangkara─di tanah rantau pula─tentu akan menjadi tahun-tahun penghujung yang sulit bagi lelaki ringkih itu. Selepas kematian Yanuar, ia mengira musibah bakal bersudah. Namun, suratan nasib berkata lain, tak lama berselang, Imelda, anak perempuan yang dibangga-banggakannya, mengidap kanker otak stadium puncak. Berbagai cara telah ditempuh Julfahri dan Nurhusni guna menyelamatkan satu-satunya keturunan mereka yang tersisa. Selepas menjalani operasi dengan pertaruhan hidup-mati, kondisi Imelda kian memburuk. Julfahri dan Nurhusni mulai dihantui rasa gamang pada kehilangan yang kedua. Mereka begitu was-was, begitu cemas, bilamana hidup Imelda berakhir seperti saudaranya, Yanuar. Itu berarti mereka tidak akan punya siapa-siapa lagi, selain harta-benda yang melimpah-ruah itu. Apa guna kekayaan yang bertahun-tahun ia kumpulkan, bila akhirnya ia hidup seorang diri?

Sementara itu, dalam kecemasan bakal kehilangan Imelda, istrinya perlahan-lahan menunjukkan tanda-tanda orang yang kurang sehat. Badannya kurus, sorot matanya begitu sayu, tak bergairah sebagaimana dulu. Kerisauan Julfahri kian bertambah-tambah. Dan, setelah berkali-kali diperiksa, Nurhusni divonis menderita diabetes, yang akhirnya berujung pada kehilangan daya penglihatannya. Buta permanen. Hanya berselang satu tahun selepas kepergian Imelda untuk selamanya, Nurhusni─perempuan yang diperjuangkan Julfahri dengan cara melanggar pantang dan larangan adat─menghembuskan napas penghabisan.

Ah, betapa lekas, betapa gegas, orang-orang dekat Julfahri pergi. Musibah yang bagai sambung-menyambung itu mengingatkan ia pada mulut orang-orang kampungnya puluhan tahun silam, yang dari pagi ke pagi, bagai bersalin-rupa menjadi toa. Memaklumatkan gunjing dan pitanah perihal orang-orang Larenjang yang bakal terbuang, bahkan sebelum pantang dan larang itu dilanggar. Kenangan usang itu pula yang membangkitkan ingatannya pada Bendara Gemuk, yang di masa itu terpaksa menyingkir dari kampung, lantaran tak sanggup menanggung malu.

Kini─setelah puluhan tahun perantauannya di tanah seberang─tajam sorot mata pengulu yang separuh usianya telah terkuras oleh urusan orang-orang Larenjang itu, kerap muncul dalam lamunannya. Ia sukar melupakan jasa Bendara Gemuk yang telah mencarikan induk-semang di kota propinsi, hingga ia bisa bekerja dan membiayai kuliah, meraih cita-cita sarjananya. Dan, yang paling menghantui kesendiriannya saat ini adalah perseteruan hebatnya dengan Bendara Gemuk sebelum ia nekat melanggar pantang. Ia menyadari, betapa perbuatannya di masa lalu telah melukai hati pengulu, dan menistai keluarga besar suku Larenjang. Hingga bumi jungkir-balik pun, kesalahan fatal itu tiada bakal terampuni. Tanah orang-orang Larenjang sudah mustahil menjadi tempat ia berpulang.

Dalam kesepian yang terasa semakin ganjil, kadang lelaki renta itu berangan-angan, kelak bila waktunya tiba, ia ingin dimakamkan di tanah pemakaman suku Larenjang. Pulang ke pangkal jalan. Namun, tiba-tiba saja ada yang mendenging di kupingnya, dan lekas ia batalkan niat itu. Bila menimbang pantang dan larang yang telah ia langkahi, apalagi menakar arang yang tercoreng di kening Bendara Gemuk, dan amarah orang-orang Larenjang, tanah pemakaman itu tiada bakal sudi menerima bangkainya.


tanah baru, 2011

Wednesday, January 12, 2011

Elitisme Kritikus Seni

Oleh: DAMHURI MUHAMMAD

(Kompas ,2/1/2011)


ARIF B Prasetyo memaklumatkan kurun Facebook dan Twitter sebagai era kematian kritikus seni (Kompas, 9/1). Ia membincang berlimpah-ruahnya ulasan karya seni di dunia maya, yang lantaran demokratisasi pembacaan, kemudian merenggut otoritas para kritikus. “Siapa pun kini bisa menjadi kritikus yang berhak mengevaluasi puisi, dan melegitimasi siapa pun yang ingin menjadi penyair,” ungkap Arif. Ia memperkokoh argumentasinya dengan diktum “kematian pengarang” Roland Barthes (1915-1980) sebagai akibat dari meluasnya pembaca. Menurut Arif, otoritas pengarang yang telah dilumpuhkan oleh perayaan tafsir-bebas pembaca juga berakibat pada “kematian kritikus.” Sebab, dalam banalitas pembacaan, komentar pakar seni tidak ada lagi bedanya dengan suara khalayak ramai. Tak jarang, pembaca jamak lebih berwibawa ketimbang kritikus seni.

Dalam konteks “kematian pengarang”, Barthes hanya mendeklarasikan perluasan hak pembaca, agar pengarang tidak menjadi satu-satunya penentu bulat-lonjongnya makna sebuah teks. Barthes tidak mengklaim “kematian kritikus”─yang juga pembaca─seperti disinyalir Arif. Justru bila Arif mengatakan “kematian pengarang” sebagai momen “kelahiran pembaca,” itu juga berarti “kelahiran kritikus,” bukan sebaliknya, bahkan kematian kritikus konvensional sekalipun. Bukankah pada akhir esainya Arif menegaskan bahwa kematian pengarang dapat menjadi momen kebangkitan kritikus? Selain itu, merajalelanya ulasan-ulasan karya seni dalam hiruk-pikuk banalitas pembacaan di jagad maya yang tak terbendung itu, tidak relevan dengan diktum “kematian pengarang.” Ada atau tidaknya diktum itu, perluasan hak pembacaan terhadap karya seni tetap tak terelakkan, karena yang bekerja bukan lagi gagasan filsafat, tapi teknologi IT yang bergerak sedemikian cepat dan pesat.

Demokratisasi pembaca lebih tepat ditimbang sebagai akibat paling nyata dari gelombang industrialisasi sejak awal abad 20, yang telah memperlakukan karya seni sebagai komoditas, sebagaimana barang-barang hasil produksi. “Nilai-guna” karya seni telah merosot menjadi sekadar “nilai-tukar,” begitu sinisme filsuf Jerman, Theodor W Adorno (1903-1969). Maka, parameter keberhasilan sebuah karya sastra kini hanya ditakar dengan jumlah eksemplar buku yang terjual di pasaran. Padahal, membeli sebuah novel, belum tentu berarti memahami dan menyelami kedalamannya. Fenomena pergeseran paradigma seni semacam inilah yang ditandai Walter Benjamin (1892-1940) sebagai akibat dari reproduksi mekanistik hingga seni kehilangan aura, subtilitas, dan otentisitasnya.

Dalam khazanah sastra Indonesia mutakhir, tengoklah fenomena berhamburannya novel-novel dengan embel-embel “pembangunan jiwa”, “kisah inspiratif”, yang sejak lima tahun terakhir menggemparkan dunia perbukuan, karena angka penjualannya mencapai ratusan ribu eksemplar, puluhan kali lipat dibanding penjualan karya sastra semacam Ronggeng Dukuh Paruk, Kunang-kunang di Manhattan, dan Orang-orang Bloomington. Meski buku laku belum tentu buku bermutu. Bagaimana bisa dikatakan bermutu bila yang bermunculan hanya prosa yang mementingkan segi didaktik (motivasi, menginspirasi, how to) ketimbang unsur estetik sebagai kekuatan paling inti. Kematian kritikus barangkali bukan karena banalitas pembacaan, tapi karena sastra kita sedang defisit mutu estetik.

Gagasan Arif tentang kematian kritikus seni menyisakan dua hal penting yang patut dibincang. Pertama, hak pembacaan yang panjang-lebar diuraikannya. Kedua, kualitas pembacaan yang kurang dipertimbangkan, atau memang sengaja dilupakan. Muncul kesan, Arif memandang sebelah mata pada mutu pembacaan khalayak ramai, dan menaruh respek pada pembaca “yang kritikus.” Padahal, dalam kejamakan pembacaan yang dilakukan oleh para blogger dan facebooker tidak bisa dipukul rata bahwa semuanya berselera rendah. Emas tiada bakal menjadi loyang, meski tercampak di comberan. Masalahnya hanya karena mereka tidak berbasis akademik, atau tidak berafiliasi pada sebuah “institusi sastra” yang kerap menjadi tolak-ukur sebuah pengakuan. Sebagai contoh, kajian komprehensif penyuka sastra Amerika Latin, Ronny Agustinus, terhadap novel-novel Isabel Allende di blog pribadinya (www.sastraalibi.blogspot.com) menurut saya bisa bersaing dengan ulasan para akademisi di jurnal sastra. Dalam keriuhan tafsir-bebas pembaca─apapun medianya─tetap ada yang dapat ditimbang sebagai kerja kritikus, bukan “pembaca sekadar.” Lagi pula, bila Arif sudah meniscayakan tidak ada lagi beda antara suara kritikus seni dengan suara pembaca massal, tentulah esai perihal kematian kritikus seni itu tidak akan muncul. Maka, alih-alih meratapi kematian kritikus, esai itu malah membuat saya riang-gembira, karena ia justru memperlihatkan jantung kritikus seni masih berdetak, dan akan terus bersuara dalam gemuruh banalitas pembacaan.

Analogi kritikus sebagai “ia yang menari” dan pembaca awam sebagai “mereka yang berjoged” dapat membuktikan mutu pembacaan yang terabaikan itu. “Ia yang menari,” menyiratkan sebentuk elitisme kritikus yang masih berhasrat mengenggam otoritas penilaian terhadap karya seni. Garis demarkasi ini mengingatkan saya pada masalah usang tentang otoritas filsuf dan non-filsuf dalam sejarah filsafat. Tokoh filsafat profetik, Al-Farabi (850-950), membuat kategori ‘am (umum) dan khawwas (khusus). Hanya kelompok khawwas yang berpeluang meraih aql al-mustafad, kemampuan kognitif paling puncak dalam abstraksi filsafat. Di ranah penciptaan “surplus makna,” kaum khawwas dapat dinisbahkan kepada seniman dan kritikus. Bila Arif bereksperimen dengan menceburkan dirinya dalam kemassalan penikmat seni, menyiarkan esai-esainya di blog pribadi, akan tetap terasa beda antara pembaca expert dengan pembaca biasa─yang menulis secara instant, tanpa pijakan metodologi, dan tentu saja serampangan sebagaimana analogi; “yang berjoged.”

Begitu pula dengan endorsement di sampul buku-buku sastra. Akan sangat berbeda mutu endorsement yang ditulis kritikus sastra seperti Budi Dharma, Sapardi Djoko Damono, Melani Budianta─untuk menyebut beberapa nama─dengan testimoni seorang artis yang dipasang hanya untuk mendongkrak penjualan. Akan tampak jelas mana emas, mana loyang, mana yang hampa, mana yang bernas. Maka, kritikus seni tak pernah mati, ia akan terus menguasai panggung sebagai “penari” dengan pesona lenggang-lenggok tubuhnya di tengah-tengah kerumunan “pejoget” yang berjingkrak-jingkrak dengan hasrat murahan…


catatan:
esai tanggapan ini disiarkan lebih dahulu dari esai sumber polemik.
minggu (9/1) lalu, saat esai Arif B Prasetyo bertajuk "kritik seni sudah mati" diturunkan, redaksi Kompas telah memberikan penjelasan.

Tuesday, January 04, 2011

Intrik Politik dalam Cerita Silat


Oleh: DAMHURI MUHAMMAD

TAK diragukan bahwa gairah kepengarangan tiada bakal bersudah memproduksi cerita yang siap dilepas ke pasaran, atau untuk sementara disimpan sebagai “stock cerita”. Namun, tidak banyak pengarang yang terampil membuhul koleksi ceritanya dengan gagasan-gagasan besar. Sebutlah misalnya, Dan Brown, yang menghubung-kaitkan rancang-bangun ceritanya dengan alur hidup dan riwayat kekaryaan seniman besar, Leonardo Davinci, hingga ia berhasil mendedahkan The Davinci Code yang menggemparkan itu. Begitu pun dengan Matthew Pearl yang membingkai kisahnya dengan kepeloporan penyair, Dante Alighieri (1265-1321), hingga sukses menyuguhkan The Dante Club, novel yang telah melangitkan namanya dalam kancah sastra dunia.

Kepiawaian memadu-padankan kepengrajinan berkisah dengan sebuah gagasan besar tampaknya juga terupayakan dalam Nagabumi, (2010) karya terkini Seno Gumira Ajidarma. Sekilas, mungkin hanya tampak sebagai kelebat pertarungan dengan jurus-jurus jitu dalam rimba persilatan, sebagaimana telah dijejakkan oleh sejumlah novel silat pendahulunya, dari Bu Kek Siansu (Kho Ping Hoo), Naga Sastra Sabuk Inten (S.H Mintardja), Giring-Giring Perak (Makmur Hendrik) hingga Senopati Pamungkas (Arswendo Atmowiloto). Namun, riwayat kependekaran dengan latar sejarah Jawa abad 8-9 dalam novel itu dipancangkan di tengah-tengah perseteruan pada masa kekuasaan Samaratungga, selepas berdirinya Kamulan Bhumisambhara─kini dikenal sebagai candi Borobudur─satu dari tujuh keajaiban dunia. Inilah yang agaknya dapat memartabatkan Nagabumi menjadi bukan sekadar novel silat biasa.

Adalah Pendekar Tanpa Nama yang mengungkit-ungkit kembali riwayat usang tentang ribuan orang yang diperbudak selama pembangunan Kamulan Bhumisambhara. Penduduk yang telah merelakan tanah mereka untuk mendirikan candi itu, dipaksa bekerja—dengan cara menyandera keluarga mereka—karena pembangunan candi itu memerlukan ribuan tenaga. Penguasa bahkan semena-mena memperlakukan anak-anak mereka sebagai "ulun" (budak). Kesucian Kamulan Bhumisambhara telah ternodai oleh kesewenang-wenangan. Pendekar Tanpa Nama menghembuskan gairah perlawanan, hingga beberapa kali terjadi gelombang protes dan mogok kerja.

Inilah salah satu kemungkinan jawaban kenapa para pendekar di rimba persilatan tidak sabar menunggu kematian Pendekar Tanpa Nama, meski usianya sudah 100 tahun. Tapi, menyibak misteri dan teka-teki ini tidak segampang membalik telapak tangan. Dari beberapa pendekar yang telah ia “sempurnakan” dalam kematian, Pendekar Tanpa Nama memang kerap menemukan lembaran lontar dengan maklumat—Pendekar Tanpa Nama. Pengkhianat negara. 10.000 keping emas bagi yang bisa membunuhnya—tapi menjadi biang-kerok terjadinya mogok kerja pada masa pembangunan candi suci itu tampaknya bukan satu-satunya dalih yang menyebabkan ia ternobat sebagai pengkhianat negara. Maka, Pendekar Tanpa Nama pun turun gunung setelah mengundurkan diri selama bertahun-tahun, mencari sebab-musabab kenapa penguasa Yavabhumi dan semua pendekar di rimba persilatan menginginkan kematiannya.

Pengarang tidak menyia-nyiakan peluang ini. Pencarian Pendekar Tanpa Nama menjadi jurus ampuh guna menyingkap selapang-lapangnya ruang pengisahan dalam Nagabumi. Diceritakan, pemilik jurus "Bayangan Cermin" yang dalam satu kali kedipan mampu menghisap kedigdayaan semua jurus musuh itu, berhasrat hendak menulis risalah yang kelak dapat meluruskan penyimpangan dalam berbagai kisah, desas-desus, bahkan dongeng tentang Pendekar Tanpa Nama. Risalah itulah yang menjadi materi utama novel itu. Sebagaimana gerombolan Kera Gila, murid Naga Hitam—musuh bebuyutan Pendekar Tanpa Nama—mengepung pemilik jurus "Dua Pedang Menulis Kematian" itu di sebuah penyergapan, setiap bagian dalam Nagabumi juga mengepung pembaca dengan rasa penasaran yang terus membiak dan beranak-pinak. Teka-teki perihal perburuan Pendekar Tanpa Nama belum terpecahkan, pengarang sudah merancang teka-teki baru perihal Naga Hitam yang bersekutu dengan kelompok Cakrawarti dalam menggulingkan kekuasaan Rakai Panangkaran, hingga Rakai Panunggalan naik tahta. Namun, setelah ambisi politik Rakai Panunggalan tercapai, Naga Hitam yang bernafsu hendak menjadi petinggi istana ternyata tak beroleh apa-apa. Lalu, ia mengacau hampir di semua wilayah Yavabhumi. Tapi, Naru, Telapak Darah, Kera Gila, murid-murid terbaik Naga Hitam tewas di tangan Pendekar Tanpa Nama. Ini menimbulkan kecurigaan baru, bahwa karena dendam, Naga Hitam bisa saja terlibat dalam muslihat yang memaklumatkan Pendekar Tanpa Nama sebagai pengkhianat yang harus segera ditamatkan riwayatnya. Namun, lagi-lagi ini menjadi siasat penceritaan untuk terus membiakkan suspensi dalam Nagabumi, dan karena itu misteri Naga Hitam tidak buru-buru disingkap.

Semula, Pendekar Tanpa Nama, mungkin tampak seperti orang biasa yang memilih jalan kependekaran, bisa menyamar sebagai tukang batu di masa pembangunan candi, dan setelah berusia 100 tahun menyamar sebagai pengrajin lontar. Tak jauh beda dengan Wiro Sableng, Bajing Ireng, atau Giring-giring Perak, dalam cerita silat pada umumnya. Tapi, dalam riwayat Sepasang Naga dari Celah Kledung terceritakan bahwa bayi laki-laki yang mereka besarkan hingga usia 15 tahun itu bukan anak kandung mereka. Bayi tak bernama itu ditemukan dalam sebuah gerobak di tepi jurang. Wajah mungilnya penuh cipratan darah lantaran semua orang di gerobak itu dihabisi dengan tebasan pedang. Satu-satunya yang selamat hanya bayi itu. Sepasang Naga menemukan secarik surat di keranjang bayi itu: selamatkan putra kami! Siapa sebenarnya pendekar tanpa nama? Boleh jadi ia putra mahkota yang hendak dilenyapkan demi sebuah ambisi politik. Namun, lagi-lagi ini tidak segera dijelaskan titik terangnya.

Membuhul cerita dengan gagasan besar yang terupayakan dalam Nagabumi, tidak sekadar membutuhkan fantasi guna membangun kelebat pertarungan maut di antara para pendekar demi menggapai wibawa naga (Naga Hitam, Naga Putih, Naga Emas, Naga Jingga, Naga Laut, Naga Kembar, dan Nagabumi), tapi juga memerlukan apa yang disebut filsuf Arab, Al-Farabi (850-950), sebagai "Quwwah Al-Muttahilah," yang dalam kerja kepengarangan terus-menerus menggiling fakta-fakta sejarah Mataram kuno, sehalus-halusnya, hingga yang tersisa hanya konstruksi alegorik dari intrik-intrik politik kurun itu. Tak sengaja, juga mencerminkan pergulatan politik hari ini. Terlepas dari keganasannya di masa silam, Pendekar Tanpa Nama adalah sosok yang dikambing-hitamkan penguasa. Untunglah, setelah menggapai wibawa naga dengan Jurus Tanpa Bentuk yang mematikan itu, dalam menulis risalah guna membersihkan namanya, ia juga meraih keseimbangan antara ilmu silat dengan ilmu surat. Naga di dunia silat, pujangga di dunia surat…