Search This Blog

Monday, November 19, 2012

Dahlan dan Sepatu Peradaban




Inilah kisah tentang sepatu. Kisah perihal cita-cita sederhana seorang bocah dari keluarga miskin di pelosok Magetan, Jawa Timur, yang ingin memiliki sepasang sepatu. Mengingatkan kita pada kemauan keras seorang siswa sekolah dasar di Iran guna mendapatkan sepatu, dalam film The Children of Heaven (1997), karya Majid Majidi. Berbeda dari film asing berdurasi pendek itu, Sepatu Dahlan adalah novel panjang yang diangkat dari tarikh kemiskinan masa silam seorang menteri bersahaja, yang dalam pertemuan-pertemuan penting sekalipun, tetap melenggang dengan sepatu kets, bahkan saat menghadap presiden di istana negara.
Ia adalah Dahlan Iskan, CEO Jawa Pos Group, yang kemudian dipercaya menjadi Dirut PLN, dan kini berlabuh di kursi menteri BUMN.  Dahlan tak henti-henti menjadi perhatian, bukan karena dugaan korupsi sebagaimana yang menimpa sejumlah pejabat teras di republik ini, melainkan karena prestasi kerja, komitmen dan ketegasan sebagai pemimpin kementerian strategis, dan etos kebersahajaan yang dipandang nyentrik di kurun yang silau oleh budaya ewuh-pakewuh dan basa-basi. Dahlan satu-satunya menteri yang nyaris ditolak oleh paspampres sebelum memasuki ruang rapat kabinet di istana Bogor, lantaran ia datang dengan ojek. Untunglah seseorang tergesa meneriakkan bahwa laki-laki yang baru turun dari ojek itu adalah seorang menteri. Dahlan pula menteri yang bisa lahap menyantap soto atau gado-gado di warung kaki lima, dan menginap di rumah warga dalam sejumlah kunjungan kerja, yang tentu jauh dari fasilitas, apalagi layanan bagi orang sekaliber menteri.  
            Dikisahkan, sejak duduk di bangku SR (Sekolah Rakyat) hingga tsanawiyah dan aliyah di pesantren Sabilul Muttaqien, Takeran, Dahlan bersekolah tanpa sepatu alias nyeker. Mungkin itu sebabnya, segala bentuk ikhtiar guna mendapatkan sepatu menjadi perhatian utama novel setebal 369 halaman ini. Cerita dibuka dengan ketegangan sebelum Dahlan menjalani operasi transplantasi hati lantaran penyakit liver yang dideritanya. Masa lalu  yang kembali terngiang dalam kenangan Dahlan setelah suntikan pembiusan menjadi pintu masuk bagi pengarang guna menyingkap detail-detail riwayat masa kecil Dahlan;  sejumlah peristiwa memalukan di kebun tebu, keinginan bersekolah di SMP Magetan (bukan di pesantren Takeran), horor sumur tua Cigrok¾tempat pembuangan mayat di masa kuasa PKI Madiun 1948¾dua ekor domba yang direlakan sebagai ganti-rugi sepeda teman yang rusak, kematian ibu yang sangat tiba-tiba, dan tentu saja; keinginan besar untuk memiliki sepatu.
            Dalam sebuah diskusi, Khrisna Pabichara mengakui penulisan novel ini terbilang sangat bergegas, karena penerbit tampaknya tidak mau kehilangan momentum. “Mumpung tokohnya sedang bertabur bintang”.  Meski begitu, hingga resensi ini ditulis, angka penjualan Sepatu Dahlan terus melejit  dan sudah memasuki memasuki cetakan keempat. Seorang pembahas dalam perbincangan yang lain, dengan nada sinis mengatakan; “Sepatu Dahlan laku keras bukan karena mutu kenovelannya, tapi karena jaman telah memilihnya, sebagaimana jaman memilih Jokowi ketimbang Foke dalam pilkada DKI”. Ada benarnya sinisme itu, sebab pola-pola penceritaan yang dirancang pengarang rasanya terlalu biasa, bahkan pada bagian-bagian tertentu terlalu memaksakan. Suasana pesantren Sabilul Muttaqien, 1961, yang lebih banyak dideskripsikan dengan sepak-terjang dan kebolehan Dahlan sebagai pemain inti dalam tim bola Volly mengesankan suasana pergaulan antarsantri di lingkungan pesantren masa kini. Sama sekali tidak tercium aroma kitab kuning, ungkapan-ungkapan khas bahasa Arab yang di masa itu tentu amat kaya dengan rujukan ilmu bayan, ma’ani, dan badi’.  Lebih dari separuh novel ini dihabiskan oleh pengisahan tentang Dahlan, Kadir, Fadli, Arif dalam tim bola Volly pesantren Takeran, yang bila kurang sabar, akan sangat menjemukan.
Tengok pula peristiwa kedatangan juragan Akbar ke rumah orangtua Dahlan setelah Dahlan dituding merusak sepeda Maryati, teman sekolahnya. Entah karena penuh tanggung jawab atau karena tersinggung, ayah Dahlan  menyerahkan dua ekor domba sebagai ganti rugi. Ayah Dahlan sanggup membayar ganti rugi sepeda dengan harga mahal, tetapi kenapa ia begitu enggan membelikan sepatu bagi anaknya? Padahal, jarak antara Kebon Dalem dan Takeran lebih kurang 12 km perjalanan pulang-pergi. Bisa dibayangkan betapa melepuhnya kaki Dahlan karena nyeker setiap hari. Muncul kesan bahwa cita-cita memiliki sepatu yang tak kunjung kesampaian bukan karena etos berhemat keluarga Dahlan, melainkan karena kepentingan hendak membangun efek dramatik cerita. Bukankah Dahlan punya kakak perempuan bernama Shofwati yang sedang berkuliah di Madiun? Sebagai wakil dari tokoh terdidik, tentu tidak mungkin Shofwati membiarkan adiknya nyeker selama bertahun-tahun. Setidaknya ia bisa meyakinkan orangtuanya bahwa sepatu lebih penting dari sepeda.
            Diceritakan pula bahwa Dahlan adalah anak yang kerap melampiaskan penyesalan dan kekecewaan pada lembaran-lembaran buku diary. Di era tahun 60-an, mungkinkah seorang anak miskin, yang saban hari disibukkan oleh pekerjaan mengembalakan domba dan karena deraan kelaparan kerap tertangkap basah mencuri tebu, bisa akrab dengan buku harian? Rasanya jauh panggang dari api. Meski begitu, hampir di setiap bab, pengarang menyelipkan kutipan catatan harian Dahlan, hingga muncul kesan bahwa pola-pola semacam itu tampaknya telah menjadi siasat pengarang tatkala kehabisan bahan, sebagaimana yang sering ditemukan dalam novel-novel yang pengarangnya terobsesi untuk sekadar menjadi buku tebal, supaya tampak rinci dan serius.
Romantika masa muda Dahlan yang menjatukan pilihan pada Aisha, anak gadis mandor perkebunan tebu agaknya dapat menjadi penggalan kisah yang dapat membuai pembaca, meski waktu penceritaan tidak terbuhul sebagaimana mestinya. Perpindahan waktu dari masa tsanawiyah ke masa aliyah meloncat begitu saja, tanpa menyuguhkan peristiwa-peristiwa yang dapat menjembataninya. Aisha yang menyatakan cintanya pada Dahlan lewat surat yang sekaligus berpamitan karena gadis itu akan berkuliah di Yogyakarta, cukup mengagetkan. Sebab, narasi tentang hubungan mereka hampir semuanya terjadi ketika sekolah Dahlan masih di tingkat tsanawiyah dan Aisha masih di SMP Magetan.
Memang tidak gampang menulis novel dari riwayat seorang tokoh yang sedang berkilau cahaya. Pengarang bisa terjebak dalam ungkapan-ungkapan prosaik bergelimang decak-kagum, atau terancam oleh kemarahan lantaran menyingkap hal-ihwal tak terlihat yang boleh jadi mencemari keterpujian tokoh tersebut.  Khrisna Pabichara tampaknya telah selamat dari dua jebakan itu. Dahlan akhirnya meraih cita-cita punya sepatu. Dengan sepatu baru ia meninggalkan Kebon Dalem, bertolak menuju Samarinda, menyongsong masa depan. Tapi anehnya, sejak itu, dan sebagaimana Dahlan Iskan masa kini, justru tidak memperlakukan sepatu sebagai pertanda pencapaian, tapi sebagai lambang kesederhanaan. Dalam sebuah perbincangan, seorang teman menyebutnya; sepatu peradaban…            

DATA BUKU
Judul        :  Sepatu Dahlan
Penulis    :  Khrisna Pabhicara
Penerbit  :  Noura Books, Jakarta
Cetakan :  I,  Mei 2012
Tebal      :  369  halaman

   

Monday, October 15, 2012

Mengasah Cerita dengan Ketajaman Mata



 Oleh: Damhuri Muhammad

 (Kompas, 7 Oktober 2012)

Selama berkurun-kurun filsafat modern telah memartabatkan akal sebagai  pusat dalam setiap subjek manusia. Pikiran dinobatkan sebagai satu-satunya penguasa yang berwenang sebagai penentu segala arah, cikal dan muasal segala gerak, nakhoda dari sebuah bahtera bernama tubuh. Kesadaran Cogito, demikian Rene Descartes menamainya. Maka, tubuh-kasar menjadi sekadar sarang, sekadar kandang bagi akal. Sejak itu, tubuh terpelanting ke dunia tepi, dunia yang mutlak menjadi bangkai bila akal sudah mati.
Meski begitu, dalam situasi yang paling menyehari, sejarah kerap memperlihatkan sejumlah momentum ketika akal bertekuk lutut di hadapan tubuh. Tengoklah seorang pekerja keras yang nekad begadang semalam suntuk guna melunaskan beban deadline yang kian mendesak. Satu-dua pekerjaan barangkali dapat ia tuntaskan, tapi di separuh malam, atau beberapa saat menjelang dini-hari, ia jatuh tertidur. Pikiran yang semula menjadi pusat dalam subjek pekerja keras  itu  akhirnya  takluk oleh kuasa kantuk, oleh mata yang tak bisa berdamai, oleh tubuh yang sudah terlanjur dipandang rendah itu. Bayi yang sedang belajar berjalan kerap pula menjadi contoh perihal tubuh yang berpeluang menjadi pusat. Menurut sejumlah filsuf─khususnya mereka yang menyangkal regim akal─bayi yang sedang belajar melangkah, tidak dipandu oleh pikiran, melainkan oleh keseimbangan tubuhnya. Maka, pada fase tumbuh-kembang tersebut, tubuh adalah pusat dari subjek bayi itu.
 Raut muka, sorot-mata, telinga, adalah anggota tubuh yang kerap menggulingkan kuasa akal. Mata, sebagaimana ditunjukkan oleh sejumlah cerita dalam antologi Wajah Terakhir karya Mona Sylviana ini, bukan mata yang dipandu, apalagi dikuasai oleh pikiran, melainkan mata yang berdaulat menentukan jauh-dekat, dalam-dangkalnya sebuah kerja penglihatan. Mata yang mampu berpikir dan melampaui kedalaman selaman pikiran. Periksalah betapa kokohnya “hafalan-mata” Andin─dalam cerpen Mata Andin (hal 29)─yang tidak saja mendokumentasikan aneka rupa peristiwa pertengkaran ibu-bapaknya lantaran kemiskinan yang tak bersudah, siasat bapak menutupi aib kelaki-lakiannya, hingga kenekatan ibunya menjual satu ginjal dengan harga miring, tapi juga membendakan peristiwa-peristiwa tersebut, hingga pikiran tak perlu bersusah-payah membangun analogi dan permisalan guna menjelaskan duduk-perkaranya. Semuanya tampak utuh, dan terasa penuh. Begitulah, kuasa akal dalam subjek Andin telah terguling oleh kejeniusan matanya.
Penggulingan kuasa akal terjadi pula pada cerpen Mata yang Menyala  (hal 103). Kali ini Mona membangun semacam ruang tempat beradunya dua subjek yang masing-masing mengandalkan ketajaman mata. Satu mata musang pelaku pemerkosaan yang menyeret mangsa di malam buta, satu lagi mata kejora bocah perempuan yang menyaksikan mata musang itu tatkala meringkus tubuh ibunya. Bertahun-tahun bocah itu mempertahankan “hafalan-mata”  agar ia tak lupa raut wajah pemerkosa ibunya, agar bila tiba waktunya menuntut balas, ia tidak salah-orang. Nyala mata pemerkosa itu bagai terus menerus mengasah ketajaman matanya hingga menjelma sebagai mata kejora. Maka, lagi-lagi mata─sebagai tubuh─menumbangkan kuasa akal. Pikiran bocah perempuan itu bisa saja dipelintir, dibohongi, atau bahkan “dicuci-bersihkan,” namun matanya telah mengunci sebuah sosok yang mustahil dilupakan. Siasat dan muslihat sejahat apapun tiada bakal melengahkan ia dari kenangan yang telah dibendakan oleh mata kejoranya.
Mata ketiga yang menjadi panggilan penciptaan Mona Sylviana adalah Mata Marza (hal 111). Mata pelacur muda yang tak henti-henti membangun monumentasi bagi liang vagina yang perlahan-lahan menggelambir, mulut rahim yang remuk, rasa ngilu dan perih permanen, lantaran digasak laki-laki selama bertahun-tahun. Mata Marza bagai lensa kamera berkemampuan tinggi yang berhasil mengabadikan momen-momen bersejarah dalam tarikh kepelacurannya, dan kelak pada suatu masa, peristiwa-peristiwa itu bakal dibendakan, hingga para lelaki yang pernah menindih tubuhnya akan mengunjunginya sebagaimana mengunjungi sebuah museum. Tiada satu pun peristiwa yang luput dari “hafalan-mata” Marza. Detail, jernih, dan terpilah-pilah sedemikian rupa.
Matang tajam mata pula yang pada akhirnya dapat meniscayakan pelaku pemerkosa gadis Cina bernama Maria dalam cerpen Wajah Terakhir (hal 121), yang menjadi tajuk buku ini. Cerpen berlatar peristiwa pemerkosaan massal 1998 itu menumbangkan segala bentuk alibi yang hendak menyangkal atau sekadar melunakkan kebiadaban yang berlangsung masa itu. Perangkat akal tentu punya sekian banyak strategi guna menutup-nutupi aib, namun mata Maria adalah kesaksian yang tak diragukan keabsahannya. Di sepanjang sisa riwayatnya, wajah pemerkosa itu menyesaki semua ruang dalam rongga matanya, bahkan muka sangar laki-laki keparat itu telah menjadi wajah penghabisan yang direkamnya, hingga mustahil ia melupakannya. Kerap pikiran memandunya untuk berdamai dengan dendam-khusumat pada laki-laki yang telah membuat ia cacat seumur-umur, namun sekali lagi, dalam situasi semacam ini,  kuasa akalnya telah terguling oleh kedigdayaan mata.  
Semesta tubuh yang sejak lama terdistorsi dalam tradisi filsafat Barat, di ranah sastra malah beroleh tempat yang sangat layak, bahkan dalam buku ini dipancangkan sebagai  pusat yang tak dapat diganggu gugat.  Tubuh tidak saja diperjuangkan, dibela, dan dihargai, tapi juga dimanusiakan, sebagaimana filsafat memanusiakan pikiran. Betapa tidak akan dibela? Bagaimana saya akan mengarahkan pikiran, bila tidak bersama tubuh saya?  Demikian ungkapan Afrizal Malna dalam sebuah perbincangan. Penyair yang sajak-sajaknya juga berangkat dari momen-momen ketubuhan.      
Cerpen-cerpen Mona Sylviana tidak berpijak di atas pergulatan pikiran, tapi terdedahkan dari ketajaman penglihatan. Ia menyingkirkan segala macam dalih  kenapa  riwayat  kekaryaannya melulu disesaki oleh duka dan nestapa perempuan, dan kenapa ia tidak menikam jejak perihal perlawanan perempuan atas iklim ketertindasan yang terus menimpa mereka. Mata cerita Mona hanya memperlihatkan sejumlah kesaksian tentang betapa tidak mujurnya nasib dan peruntungan menjadi makhluk bernama perempuan. Oleh karena cerita-ceritanya terpancang di atas “kesadaran-mata”, maka dalam batas-batas tertentu, akan cukup sukar dicerna bila hanya dengan perkakas pikiran. Bukankah tajam sorot mata hanya dapat diroboh-tumbangkan oleh tajam sorot mata pula? 



DATA BUKU:
  
Judul        :  Wajah Terakhir
Penulis    :  Mona Sylviana
Penerbit  :  Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan :  I,  Agustus 2011
Tebal      :  143  halaman



Monday, June 04, 2012

Riwayat Perempuan Tuna Silsilah


Oleh:  DAMHURI MUHAMMAD


(Jawa Pos, Minggu, 3 Juni 2012)

Aurora terperangah setelah memperlihatkan sebuah karya fotonya pada Ivan Radovic. Pose Susana (kakak iparnya) dengan Diego Dominguez (suaminya) menimbulkan kesan ganjil. Dari cara ia merangkul pinggang Susana, Ivan menduga kuat bahwa Diego adalah suami Susana. Meski sudah ditegaskan bahwa lelaki dalam foto itu adalah suaminya--dan suami Susana adalah Eduardo--sangkaan itu tetap menjadi “api dalam sekam” bagi Aurora. Tak lama berselang, di remang cahaya lentera, Aurora menyaksikan Diego dan Susana bergumul dengan segenap hasrat tak terbendung di atas gundukan jerami, tak jauh dari rumah keluarga besar Dominguez.
            Begitulah kerja fotografi yang tak sekadar memotret, tapi juga  menyingkap hal-ihwal tak terlihat. “Kita hanya melihat apa yang ingin kita lihat,” kata Juan Libero, maestro fotografi, guru Aurora. Mungkin saat membuat pose Susana dan Diego, Aurora ingin melihat bukti pengkhianatan suaminya. Sejak itu, Aurora memastikan bahwa Diego menikahinya hanya untuk menutupi kecurigaan pada hubungan gelapnya dengan Susana. Diego bermohon agar Aurora tidak hengkang dari rumahnya, tidak membeberkan aib itu pada kakaknya Eduardo--karena itu sama saja dengan membunuh ibunya pelan-pelan. Dicukupinya semua kebutuhan Aurora, dibebaskannya Aurora menggeluti dunia fotografi, dan hubungan mereka beralih-rupa menjadi persaudaraan kakak-adik. Peran dramatik itu hanya bagian kecil dari nestapa Aurora dalam novel Portrait in Sepia  karya Isabel Allende ini.
Aurora menyandang nama “del Valle” milik keluarga bangsawan Cile yang bermukim di San Fransisco, namun tak pernah tahu siapa ayahnya. Hidup mewah dalam asuhan nenek Paulina del Valle, tapi dijauhkan dari rasa ingin tahu pada asal-usul. Ikhtiar penyingkapan riwayat perempuan buta silsilah itu menjadi perhatian utama novel setebal 406 halaman ini. Portrait In Sepia adalah novel kedua dari trilogi yang berjalan mundur--bermula dari The Daughter of Fortune (1999) dan berakhir dengan The House of  Spirit (1982). Kisah anak haram (Aurora) mengulang kembali nestapa Eliza Sommers dalam The Daughter of Fortune. Gadis tak bersilsilah yang tumbuh dalam keluarga aristokrat Inggris di Valparaiso, Cile. Bayi Eliza ditemukan di depan pintu rumah Rose, dalam kardus dan diselimuti sweater usang. Semula, Jeremy (kakak Rose) keberatan, tapi karena Rose bersikukuh hendak merawatnya, Jeremy mengalah. Berbeda dengan Jeremy, saudara Rose yang lain, John Sommers, malah menyambut Eliza penuh-riang. Eliza bukan orang asing, di ujung kisah diungkap bahwa bayi itu adalah hasil hubungan gelap John Sommers dengan perempuan masa silam. Maklumlah, John pelaut ulung. Di setiap pelabuhan yang disinggahinya, selalu ada perempuan yang berlabuh di pangkuannya.
            Ketakmujuran Eliza setali tiga uang dengan Aurora. Ia juga anak haram dari hubungan Matias del Valle--salah satu putra Paulina--dengan Lynn Sommers, belasteran Cina-Amerika, putri pemilik toko kue, sejawat karib Paulina. Orangtua Lynn tak lain adalah Eliza Sommers yang sejak menikah dengan ahli pengobatan herbal asal Canton, lalu bermukim di wilayah pecinan, San Fransisco. Lynn yang kecantikannya sukar dibahasakan, tak tergiur rayuan kecuali oleh Matias. Sementara Matias hanya memperlakukan Lynn sebagai barang taruhan. Ia hendak membuktikan pada teman-temannya bahwa Aurora bakal takluk di tangannya. Hubungan main-main itu berbuah kehamilan. Paulina yang gila kehormatan tak merestui pernikahan Matias dan Lynn, sebab dalam tubuh Lynn mengalir darah Cina. Ia bersedia membesarkan cucunya, tapi menolak kehadiran Lynn. Maka, lahirlah bayi bernama Aurora, sementara Lynn meninggal akibat pendarahan. Severo del Valle menyematkan nama “del Valle” di belakang nama Aurora. Atas dasar cinta yang tak diragukan, tanpa sepengetahuan bibi Paulina, Severo menikahi Lynn, dan bersedia menjadi ayah yuridis Aurora.
Dunia imajiner dalam novel-novel Isabel Allende identik dengan orang-orang tersingkir, atau dalam bahasa Isabel; orang-orang di luar payung besar kemapanan. “Saya berpihak pada mereka yang tersingkir. Mereka tidak mungkin dapat perlindungan,” ungkapnya dalam sebuah wawancara. Mungkin maksud Isabel, orang-orang terusir, sebagaimana dirinya. Setelah presiden Salvador Allende terbunuh dalam huru-hara kudeta militer pimpinan Augusto Pinochet (1974), ia meninggalkan Cile. “Kami mengira akan tinggal beberapa bulan saja di Venezuela, lalu pulang ke Cile dengan perasaan tenang,” kata Isabel. Tapi, ternyata ia telah menghabiskan waktu 13 tahun di Venezuela, dan sejak 1987 menetap di California, AS.
Lima tahun pertama Aurora dibesarkan oleh kakek-nenek Tao Chien-Eliza, sebelum berada dalam didikan Paulina. Masa kanak-kanak di pecinan timbul-tenggelam dalam kenangan Aurora setelah dewasa. Mata kanak-kanaknya menyaksikan beberapa orang tak dikenal menikam  rusuk  Tao Chien hingga tergeletak bersimbah darah, dan tewas mengenaskan.  Kelak Aurora tahu, orang-orang yang menganiaya Tao Chien adalah anak buah penyeludup gadis-gadis Cina dalam bisnis pelacuran di San Fransisco. Tao Chien menyisihkan pendapatannya guna menyelamatkan gadis-gadis malang itu. Aurora juga tahu betapa menyesalnya Tao Chien lantaran gagal menyelamatkan Lynn dari kematian. Itu sebabnya ia menghabiskan sisa umurnya untuk membesarkan Aurora.  Di bagian ini, Allende rinci menggambarkan betapa celakanya menjadi Cina di San Fransisco masa itu. Mereka seperti kutu yang mesti dibasmi. Karena itulah Eliza menginginkan Aurora tumbuh sebagai perempuan Amerika sejati, hingga ia menyerahkan anak-haram itu pada Paulina, nenek dari pihak ayah.
Hubungan gelap selanjutnya tersingkap setelah kepulangan Matias. Masa itu Paulina sudah hijrah ke Cile. Setelah melancong di Eropa, ayah biologis Aurora pulang dengan membawa penyakit kelamin. Amanda Lowell menyelamatkan Matias hingga ia sampai juga ke pangkuan ibunda, Paulina. Celakanya, Amanda adalah perempuan paling dicari Paulina di masa lalu. Feliciano (suaminya) pernah berselingkuh dengan bekas wanita penghibur kelas atas San Fransisco itu. Namun, karena ketulusan cinta Amanda pada Matias, nyala kebencian Paulina padam. Ia berdamai dengan dua hubungan gelap yang telah mencoreng kehormatan keluarganya.  Frasa “jeruk bali” yang digunakan penerjemah sebagai analogi bagi penyakit batu ginjal Paulina rasanya sedikit mengganggu, meski maksudnya tentu hendak merumuskan teks terjemahan yang kontekstual dengan pembaca Indonesia. Selebihnya, alih-bahasa yang langsung dari edisi Spanyol (Retrato En Sepia, 2000) begitu subtil, kreatif, dan terukur.  
Sebagai novelis migran, yang tak terlupakan adalah “hubungan gelap” Allende dengan rupa-rupa peristiwa bersejarah di Cile, tanah airnya. Perseteruan antara sayap liberal--tapi membelot sebagai pendukung regim miiter presiden Macelda--dengan kubu konservatif pada 1891 yang menewaskan ribuan orang menjadi artefak ingatan yang terpahat dalam novel ini. Begitu pula dengan patriotisme angkatan muda dalam revolusi Cile sebagaimana tampil dalam sosok Severo. “Kau sudah kehilangan satu kaki. Bila kehilangan satu kaki lagi, kau akan tampak seperti orang cebol,” kata Paulina saat Severo bertolak ke medan tempur untuk sekian kalinya. Potret Lynn dalam warna sepia yang bagi Aurora menjadi satu-satunya pintu masuk guna mengurai silsilahnya, juga menjadi alegori bagi upaya keras Allende dalam menyingkap sejarah kelam bangsanya. Dalam The Art and Craft of The Political Novel (1989-terj Ronny Agustinus, 2010), Allende menegaskan; Aku berasal dari Amerika Latin, negeri penuh orang gila dan gonjang ganjing politik—tanah yang begitu luas dan mendalam, indah dan menakutkan, sampai-sampai hanya novel yang bisa menjabarkan kompleksitasnya…






DATA BUKU

Judul                  :  Portrait in Sepia   (Potret Warna Sepia)             
Penulis               :  Isabel Allende
Penerbit             :  Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Penerjemah        :  Ronny Agustinus
Cetakan             :  I,  Februari 2012
Tebal                 :  406  halaman




Monday, May 28, 2012

TEMBILUK


cerpen: Damhuri Muhammad
(Kompas, Minggu, 27/Mei/2012)


Di masa silam, anjing itu tak lebih dari anjing biasa, milik seorang tuan yang sedang mendalami ilmu hitam. Puncak kedigdayaan ilmu hitam itu adalah hidup abadi, alias tak bisa mati. Namun, setiap kaji-penghabisan tentulah membutuhkan pengujian, agar pencapaiannya benar-benar tak diragukan. Maka, pada suatu malam keramat, ia menggorok leher anjingnya hingga putus dari batang leher, dan kepala hewan itu menggelinding seperti buah mumbang jatuh dari pohon. Sebelum penyembelihan, ia memasang jimat di ekor anjingnya, disertai mantra gaib yang hanya bisa dilafalkan oleh pengikut jalan sesat seperti dirinya. Ia tidak bermaksud membunuh anjing kesayangannya, karena ia hanya sedang membuktikan kedahsyatan ilmu yang telah sempurna dikuasainya.
Sembari menunggu jasad anjing tanpa kepala benar-benar tergeletak sebagai bangkai, dengan pisau yang sama, ia menyembelih leher sendiri. Juga putus, dan sebutir kepala menggelinding tak jauh dari kepala anjingnya. Dengan tangan bergelimang darah, ia memungut masing-masing kepala untuk dipasang ke masing-masing badan. Celakanya, tuan itu keliru. Ia menancapkan kepalanya ke leher anjing. Sebaliknya, melekatkan kepala anjing ke batang lehernya, hingga pada malam itu terwujudlah seekor anjing berkepala manusia, dan seorang manusia berkepala anjing. Seketika, kedua makhluk ganjil yang tak direncanakan itu melesat lari menuju arah yang berlawanan. Dan, selama bermusim-musim mereka tidak pernah bertemu.
Puluhan tahun kemudian, di malam gelap-bulan orang-orang kampung Lubuktusuk mendengar bunyi  gemerincing rantai akibat gesekan-gesekan dengan kerikil jalan. Anjing berkepala manusia dipercayai sedang berkeliling kampung, mencari kepalanya yang telah berpindah ke lain tubuh. Gemerincing itu mengerikan. Orang yang terbilang paling berani berhadapan dengan jinaku atau hantu-belau sekalipun, bila mendengarnya tetap saja gamang. Ketimbang turun, dan memeriksa asal bunyi  ke halaman, ia lebih memilih merapatkan selimut kain sarung. Bagi yang terbangun, akan berupaya tidur kembali hingga terbebas dari mendengar bunyi itu. “Hantu pemburu”, begitu mereka menamainya. Bukan pemburu babi, sebagaimana anjing-anjing biasa, tapi pemburu kepala sendiri, yang sudah hilang selama berpuluh-puluh tahun.
***
Kenapa mereka hanya memercayai bahwa yang beralih-rupa menjadi hantu adalah anjing berkepala manusia? Ke mana perginya tuan pemilik anjing yang sudah pula beralih-wujud menjadi manusia berkepala anjing? Bukankah beberapa saat menjelang subuh, di kampung itu juga terdengar suara lolongan yang meremangkan segala macam bulu? Lolongan yang tersimak bagai rintihan kesakitan, dan sekali waktu terdengar bagai isyarat meminta pertolongan. Apakah tidak ada kemungkinan bahwa suara itu datang dari mulut manusia berkepala anjing? Tak ada yang berpikir sejauh itu. Mereka menganggap tuan pemilik anjing telah raib sejak peristiwa malam keramat. Perihal kehilangan itu, ada dua riwayat yang tertanam di Lubuktusuk.
Pertama, selepas malam celaka itu, tuan yang setelah diurai silsilahnya ternyata bernama Tungkirang, hengkang dari Lubuktusuk. Mustahil ia bertahan di kampung dengan gelar “anjing” di belakang namanya, dan lebih tak mungkin lagi, mempertontonkan tabiat anjing di tengah-tengah kampung. Ia bertolak ke selatan, menuju rimba Puncak Sicupak, hutan pekat yang pada masa itu belum terjamah. Di sana ia membuat sarang yang tersuruk di kedalaman belukar. Dimangsainya segala macam hewan berdaging, mulai dari babi, kijang, hingga ular dan biawak. Tatkala rimba Puncak Sicupak mulai dijejaki orang, beberapa pencari kayu gaharu dikabarkan hilang di sana. Konon, mereka telah diterkam oleh Tungkirang,  manusia berkepala anjing. Itu sebabnya, di masa kini, orang-orang yang bepergian melewati Puncak Sicupak, melepaskan seekor anak ayam ke dalam rimbun semak, sebagai penghormatan pada Tungkirang.
Kedua, Tungkirang bertolak ke kota. Jaman  itu,  jalan belum diaspal, dan setiap perjalanan masih ditempuh dengan pedati, atau berjalan kaki. Namun, Tungkirang menapakinya dengan berlari secepat mungkin. Siang ia bersembunyi di tempat-tempat sepi, dan bila malam tiba ia kembali berlari, dan berlari. Begitulah pengembaraannya dari satu kota ke kota lain, dari tahun ke tahun, hingga tibalah ia di sebuah kota besar yang kini menjadi kiblat para perantau. Di kota itu Tungkirang diselamatkan oleh seorang lelaki yang kelak ditakdirkan menjadi penguasa. Lantaran budi-baiknya, Tungkirang menghamba sebagai anjing istana. Dengan ketajaman penciuman yang menakjubkan, ia mengendus setiap muslihat yang hendak menjatuhkan kuasa tuannya. Suatu ketika tuannya tertuduh sebagai otak di balik skandal penggelapan uang negara, yang bila terbukti bakal menggulingkan kekuasaannya. Di sinilah kehebatan Tungkirang diperlukan. Setiap gelagat yang mengungkit-ungkit keterlibatan tuan itu sudah diendusnya lebih dulu, dan lekas dilaporkannya. Tak ada yang luput dari pengendusan manusia berkepala anjing, hingga tuannya nyaris tak tersentuh. Ia berlumur dosa, namun tampak suci, bagai tanpa noda. Tanpa Tungkirang, tentu ia sudah meringkuk di penjara. Itu sebabnya, musuh-musuh tuan besar terus bersiasat guna menaklukkan Tungkirang, atau sekalian melenyapkannya bila perlu.
Seorang peramal yang dipekerjakan oleh salah satu musuh tuan besar menyarankan; “satu-satunya cara melumpuhkan anjing itu adalah mengembalikannya menjadi manusia.”
“Bagaimana caranya?”
“Bius. Lalu, culik!”
“Tuan baru berpikir akan mencelakainya, Tungkirang sudah tahu. Ia lebih licin dari  intel paling lihai sekalipun. ”
Dengan kemampuan gaib tingkat tinggi, peramal dapat menjelaskan asal-mula anjing istana  itu. Tersebutlah sebuah kampung bernama Lubuktusuk. Banyak yang ragu, banyak pula yang bersetuju. Tapi demi tegaknya keadilan, dikirimlah utusan guna mencari makhluk berwujud anjing berkepala manusia.
***
Orang-orang Lubuktusuk tidak perlu takut lagi pada gemerincing rantai yang dulu mengancam di malam gelap-bulan. Sebab, anjing berkepala manusia sudah tertangkap. Rantai itu kini berada di genggaman lelaki pencari madu-lebah bernama Tembiluk. Orang-orang Lubuktusuk menamainya “manusia rimba”, karena lebih kerap tinggal di hutan ketimbang menghuni rumahnya di kampung Lubuktusuk. Ia hanya akan turun ke kampung bila madu-lebah hasil panjatannya sudah cukup untuk dijual ke pasar. Atau bila ada panggilan darurat dari tetua kampung karena ada persoalan genting yang tak terselesaikan. Misalnya, ada jagoan yang memeras petani-petani karet, atau sekadar menggertak orang-orang yang diam-diam menjual getah karet ke luar Lubuktusuk, ketimbang pada tengkulak induk-semang mereka.
Para jagoan itu sukar ditaklukkan lantaran rata-rata mereka adalah para pengguna ilmu sesat yang sudah pasti kebal senjata. Orang yang sanggup meladeni ancaman itu hanya Tembiluk. Sudah tak terhitung begundal yang ia patahkan tiada ampun. Baginya, tidak ada orang yang benar-benar kebal. Tak bisa ditikam dengan pisau atau lading, dengan ilalang atau butiran padi ia menusuknya. Bila tak mempan, ia akan mengerahkan kesaktian paling ampuh;  meneriakkan sebuah mantra di pangkal telinga musuh. Keparat pengacau seketika akan menggigil ketakutan, dan lari terkangkang-kangkang. “Seumur-umur ia tidak akan berani lagi menginjakkan kaki di kampung ini,”  begitu biasanya Tembiluk menegaskan.
Ini pula yang terjadi pada suatu musim kemarau, semasa sapi dan kambing peliharaan orang kampung kerap menjadi santapan harimau lapar. Tembiluk  memaklumatkan teriakan di mulut rimba pada suatu petang. Huaaaaaaaa, uwiwua, uwiwua, huaaaaaa, begitu kira-kira bunyinya. Menurut para tetua, alamat teriakan Tembiluk mendengar mantra itu bagai sambaran petir yang mematikan. Sejak itu, di musim kering paling ganas sekalipun, tiada seekor harimau pun yang masuk kampung. Begitulah sepak-terjang Tembiluk yang telah meringkus anjing berkepala manusia. Setelah mendengar teriakan maut Tembiluk, makhluk itu berubah jinak dan menurut saja ketika Tembiluk menggiringnya ke rimba Bukit Kecubung. Ia mengatakan bahwa tuan yang dicari-cari anjing itu telah enyah dari Lubuktusuk, hingga percumalah segala upayanya selama ini. Anjing berkepala manusia sudah punya tuan baru. Sebagai balasan atas kebaikan Tembiluk, ia mengabdi sebagai anjing peliharaan yang saban petang berkeliling rimba guna mengendus sarang lebah siap-panjat. Tembiluk merawat anjing itu seperti merawat telapak kakinya sendiri.  Pertemanan mereka berlangsung lama, hingga pada suatu hari rimba Bukit Kecubung dikunjungi gerombolan orang berpenampilan necis. Mereka memohon kesediaan Tembiluk untuk menyerahkan anjing berkepala manusia itu.
“Masa depan negeri ini sangat bergantung pada hewan milik Bapak,” bujuk salah seorang dari mereka.
“Menyerahkan makhluk itu sama artinya dengan menyelamatkan bangsa.”
Jauh sebelum kedatangan mereka, Tembiluk sudah tahu bahwa manusia berkepala anjing telah menjadi biang kebangkrutan. Uang rakyat terus-terusan dirampok, pejabat bersekongkol dengan aparat, hukum tajam ke bawah. Pemimpin terpucuk yang telah menyengsarakan rakyat, harus segera diseret ke meja hijau. Tapi, Tungkirang terus menghadang. Ia akan berhenti bila sudah dipertemukan dengan anjing peliharaannya, bila mendapatkan wajah asalinya.
         Anjing berkepala manusia menghentak-hentak, lantas lari terengah-engah. Ia menolak dibawa pergi, meski akan bertemu dengan tuan masa silamnya, dan akan kembali menjadi anjing biasa.  “Hanya Bapak yang bisa menangkapnya,” harap ketua gerombolan.
Mudah bagi Tembiluk mengembalikan hewan itu. Ia tidak lari, hanya bersembunyi dari orang-orang yang tampak begitu bernafsu. Tembiluk tak bisa melihat kejernihan di raut wajah mereka. Keruh sempurna. Alih-alih itikad baik untuk menyelamatkan negeri itu, Tembiluk justru menangkap isyarat tentang watak kemaruk. Ketajaman penciuman anjingku juga ajaib, sebagaimana Tungkirang. Dengan hewan itu, mereka bisa memancangkan kuasa baru yang jauh lebih rakus, batin Tembiluk, sebelum ia menghilang di kedalaman rimba.   
tanah baru, 2012




Thursday, April 19, 2012

Gairah Seni dan Negara yang Abai

ADALAH lumrah bila sejumlah aktor di sebuah kelompok teater tekun berlatih dan sibuk mematangkan kesiapan artistik sebelum pertunjukan digelar. Namun, belakangan ini, di kelompok teater manapun di negeri ini, kerja-keras para seniman panggung bukan saja dalam rangka pencapaian estetik, tapi juga dibuat repot oleh sukarnya meyakinkan sponsor agar berkenan mendukung pagelaran mereka. Tak hanya para pemain, sutradara pun turun-tangan dalam urusan non-artistik. Kerja dalam segi-segi non-artistik hampir sama kerasnya dengan pergelutan kreatif guna mendedahkan pertunjukan bermutu. Akibatnya, konsentrasi pecah. Di satu sisi hendak membulatkan pencapaian estetik, tapi di sisi lain, peristiwa kesenian terancam gagal bila sponsor batal memberi dukungan. Lantas, bagaimana seniman bisa leluasa berkarya bila terus direcoki urusan-urusan non-artistik?

Lain teater, lain pula sastra. Proses kreatif dalam melahirkan sebuah novel misalnya, tersendat-sendat lantaran minimnya biaya riset dan pengumpulan data. Kalaupun akhirnya novel itu selesai, pengarang sendiri lah yang mengupayakannya. Persoalan selanjutnya adalah berhadapan dengan penerbit yang makin alergi dengan naskah-naskah dari negeri sendiri. Penerbit-penerbit komersial, akhir-akhir ini, lebih gandrung mengimpor novel dari luar negeri ketimbang menerbitkan novel karya pengarang negeri sendiri. Rasio antara novel terjemahan dan novel lokal saat ini begitu jomplang; 10 : 1. Artinya, penerbit-penerbit yang concern pada buku sastra, mencetak 10 novel asing, dan hanya 1 novel lokal. Konon, sekadar memperlihatkan penghargaan terhadap sastra Indonesia, meski bila ditimbang dengan analisis pasar, dipastikan tak bakal balik-modal. Maka, bisa dihitung berapa banyak naskah-naskah karya pengarang negeri sendiri yang tergeletak di laci selama bertahun-tahun. Lalu, bagaimana iklim kekaryaan akan tumbuh bila apresiasinya separuh hati? Kalaupun ada satu-dua naskah yang dinyatakan layak-buku, pengarang harus bersenang hati menerima royalti senilai 10% dari harga jual, dibayar secara berkala, per tiga bulan sekali. Tak ada bargaining position bagi pengarang guna menaikkan nilai royalti menjadi 15%-20%, misalnya. Setelah dihitung-hitung, ternyata pihak yang paling banyak menangguk keuntungan dari bisnis perbukuan adalah toko buku, yang tidak segan-segan menuntut rabat 45-50% kepada distributor. Urutan kedua dipegang distributor, lalu penerbit, dan bagian paling kecil adalah pengarang, kreator yang menyebabkan semua transaksi terjadi. Masih beruntung bila naskah itu jatuh ke penerbit major label yang manajemen keuangannya sudah tertata. Tapi, bila jatuh ke penerbit kecil, ceritanya lain. Laporan penjualan yang seharusnya per tiga bulan sekali bisa dirapel menjadi enam bulan sekali, dan lebih parah lagi, data penjualan kerap dimanipulasi guna mengurangi nilai pembayaran pada pengarang. Buku yang terjual 100 eks, katakanlah dalam dua bulan, bisa terlapor 50 eks. Lalu, ke mana perlakuan-perlakuan yang tidak memartabatkan pelaku seni seperti ini dapat diadukan?

Masalah ini memang bukan dalam wilayah artistik, tapi begitu mendesak, sebab menyangkut hak dan kesejahteraan para sastrawan yang seumur-umur telah mendedikasikan hidup mereka pada sastra Indonesia. Di ranah seni tradisional, beberapa waktu lalu program talkshow di sebuah stasiun tv swasta menghadirkan kelompok pemain angklung asal Jawa Barat yang pernah tampil di sejumlah negara di Eropa. Bukan perihal prestasi mereka yang telah mengharumkan nama Indonesia itu yang hendak mereka bincang, tapi soal ketertatihan para personilnya dalam mencari ongkos pulang ke tanah air. Tanpa dukungan finansial yang maksimal, mereka nekat berangkat hingga selepas menggelar sejumlah pertunjukan, kehabisan biaya. Berbulan-bulan mereka terlunta-lunta di negeri orang. Begitu juga dengan seorang pemain Rebab Pesisir di Sumatera Barat, yang sudah berkali-kali tampil di sejumlah negara, memperkenalkan Indonesia lewat seni tradisional, tapi lantaran tidak beroleh apresiasi dari negara, seniman itu kini hidup menggelandang dari panggung hajatan ke panggung hajatan, tentu dengan honorarium ala hajatan khitanan yang tidak imbang bila diukur dari jam terbangnya.

Seni, apapun bentuknya, adalah medium ekspresi yang secara estetik membangun watak dan karakter Indonesia dalam setiap wujudnya. Tak jarang, “manusia Indonesia”─identitas, mentalitas dan harga dirinya─ditemukan bukan dari mata pelajaran budi-pekerti di sekolah-sekolah, bukan pula dari Wawasan Nusantara sebagai mata kuliah wajib di berbagai perguruan tinggi, tapi dari sebuah lakon yang dipentaskan oleh Teater Bengkel, Koma, atau Gandrik. “Kepribadian Indonesia” juga ditemukan pada roman-roman karya Pramoedya Ananta Toer, Umar Kayyam, Mochtar Lubis, atau dalam sajak-sajak Chairil Anwar, WS.Rendra, Sutardji Calzoum Bachri, dan sederetan nama sastrawan yang dimiliki negeri ini. Intinya, kesenian (dari semua lini) yang berakar di tanah Indonesia, telah menegakkan “kesadaran Indonesia” sebagai rumah estetiknya.

Maka, selayaknya negara berperan dalam menumbuhkan kesadaran estetik guna menghargai produk-produk seni yang lahir di negeri ini. Bukan dalam wilayah artistik, sebagaimana tampak pada pemberlakuan undang-undang pornografi dan pornoaksi. Bila negara mengintervensi ranah kekaryaan, iklim kekaryaan bakal layu sebelum berbuah. Adapun yang sangat membutuhkan perhatian adalah hal-ihwal non-artistik sebagaimana dibincang di atas. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan sejauh ini belum memiliki kebijakan yang khusus guna memberikan dukungan maksimal bagi terselenggaranya peristiwa-peristiwa kesenian. Kalaupun ada, dukungan itu tidak reguler, lebih karena hubungan personal antara segelintir seniman dengan elit-elit birokrasi di departemen itu. Satu-dua komunitas memang gampang beroleh dukungan bagi penyelenggaraan panggung mereka, tapi bagaimana dengan komunitas-komunitas seni yang menjamur di seluruh pelosok Indonesia? Begitu pula dengan dewan-dewan kesenian di masing-masing daerah, realisasi program-progamnya terhambat lantaran pencairan anggaran yang selalu terlambat. Bentuk dukungan parsial, insidentil, sarat masalah. Akibatnya, para pelaku seni tidak bisa berharap banyak pada negara.

Negara semestinya berinisiatif membangun wadah guna mengurus hal-hal non-artistik di ranah seni, yang memberikan selapang-lapangnya ruang bagi tumbuhnya iklim kekaryaan, dapat pula melindungi hak-hak para seniman, dengan kebijakan-kebijakan menyangkut standarisasi royalti karya seni yang patut dan manusiawi, perihal sangsi-sangsi bagi pembajakan hak cipta yang hingga saat ini belum teratasi. Lembaga itu diharapkan dapat menjadi tempat mengadu bagi segenap pekerja seni, khususnya segi-segi non-artistik. Agar, seni tidak lagi menjadi anak tiri di negeri ini...



esai ringan ini pernah tersiar di rubrik "teroka" harian Kompas, 2010 dengan judul "Seni sebagai Anak Tiri".