Search This Blog

Tuesday, October 01, 2013

Lelaki Ragi dan Perempuan Santan


Cerpen: Damhuri Muhammad
 
 
(Kompas, Minggu, 29 September 2013)
  
Apa jadinya lemang tanpa tapai?  Tanpa manis tapai, manalah mungkin legit lemang dapat digapai? Barangkali itu sebabnya buah tangan yang kau bawa dari pekan ke pekan tiada beralih dari lemang-tapai. Padahal, sekali waktu bolehlah rantangmu berisi paniaram, lepat-pisang, atau limping-rebus, dagangan emakmu yang lain. “Persekutuan kita seperti pasangan lemang-tapai ini,” dalihmu. Selalu.
Perihal selera tentu aku bersetuju. Tapi, pernahkah kau menimbang asal mula pasangan lemang-tapai yang hakikatnya saling bertolak-belakang?  Bukankah lemang ditanak dengan pati santan, hingga usianya tiada lebih dari satu hari? Bila tak lekas disuguhkan, tentu akan terbuang sebagai sipulut basi. Sementara bukankah tapai matang lantaran ragi? Makin diperam makin ajaib rasa manisnya.Tapai senantiasa melesat menuju aras keabadian, sedangkan lemang mundur ke ranah kesementaraan. “Akulah lemang, engkaulah tapai. Cintaku basi tanpamu, ikrarmu. Selalu.
          Lantaran lemang-tapai itu, kuabaikan rantang-rantang gulai kentang yang datang silih berganti. Kau tahu, di kampung ini hantaran gulai kentang adalah bahasa pinangan paling santun. Mungkin tampak murah dan sederhana--sebab tanpa campuran daging--tapi ia mengandung kiasan yang kedalamannya hingga kini belum tergantikan. Kuah yang kental, kentang yang kempuh sempurna, bagai mencerminkan kesungguhan niat dan ketulusan perasaan keluarga yang hendak beroleh menantu. Masa itu, selepas wisuda sarjana, sembari menunggu peluang kerja, aku mengabdi sebagai guru mengaji bagi anak-anak kampung. Tak banyak yang sanggup bertahan menjadi guru mengaji. Bagaimana mereka akan bergairah mengajarkan alif-ba-ta bila hanya diupah dengan zakat fitrah setahun sekali. Maka, jatuhnya pilihanku untuk menggantikan guru-guru mengaji yang sebagian besar telah berkeputusan menjadi buruh penakik getah atau kuli kasar proyek pengaspalan jalan, dicatat sebagai keberanian yang  layak disanjung.
Sebenarnya aku bisa langsung berangkat ke Pekanbaru atau bahkan ke Jakarta. Sambil menunggu panggilan kerja, aku tak akan menganggur di sana. Penghidupan sanak-saudara ibu-ayahku di perantauan cukup mapan. Mereka tak akan keberatan memodaliku membuka usaha. Tapi, aku memilih bertahan di kampung karena tak ingin jauh darimu. Selain itu, aku satu-satunya anak ibu yang masih tersisa di kampung. Sebelum pergi, aku ingin merawat orangtua dan menjaga mereka. Pilihan ganjilku itu rupanya telah menaikkan pasaranku di mata para pengantar gulai kentang.
“Sebelum balam terbang jauh, tak salah jika dipikat lebih dahulu,” begitu bisik-bisik  yang terdengar.
“Bila semua laki-laki terdidik merantau jauh, siapa yang akan membangun kampung kita?”
“Kalau dia jadi menantuku, kumodali dengan dua mesin gilingan padi. Jadi, tak usah mencari kerja ke mana-mana.” 
Mereka tak peduli hubungan kita, apalagi pada persekutuan lemang-tapai yang kau ikrarkan. Sebelum kau dan aku syah terikat oleh akad-nikah, bagi mereka belum terkunci peluang untuk menenteng rantang gulai kentang, lalu menyampaikan pinangan pada ibu-ayahku. Namun, aku tak goyah. Aku selalu punya modus penolakan yang tak menyinggung perasaan mereka. Meski yang satu bisa maklum, bulan depan datang lagi rantang gulai kentang yang baru, begitu seterusnya.    
 Beberapa bulan kemudian, pada sebuah petang di serambi rumahmu, sejawat karibku melihat seorang lelaki rantau sedang berunding dengan emak-bapakmu.  
“Waspadai perangai elang dari seberang! Ayam terkebat pun bisa disambarnya,” begitu nasihatnya.
           “Apalagi ia orang kaya muda. Usahanya maju pesat. Ia sudah punya segalanya, kecuali istri!” tambah sejawat yang lain.
Semula, aku tak terguncang oleh bisik-bisik yang terus mengusik itu. Aku percaya, kau juga punya siasat penolakan yang lemah-lembut, sebagaimana yang kulakukan pada setiap hantaran gulai kentang. Lagi pula, bukankah kau lemang yang masih bersetia pada tapai?  
Namun, tak lama setelah kepulangan orang kaya muda itu, tersiar kabar bahwa ia ternyata telah menawarkan pekerjaan sebagai kasir di salah satu restoran miliknya di Jakarta.
            “Selain bekerja, aku juga beroleh kesempatan kuliah di sana,” ungkapmu girang.
            “Kau bisa menyusulku nanti. Aku akan terus berkabar padamu.”
Kalau untuk urusan sekolah, rasanya mustahil aku menahan keberangkatanmu. Aku tahu betapa besarnya keinginanmu hendak bersekolah tinggi, namun cita-cita itu kau pendam lantaran tak mungkin membiayai kuliah dari hasil penjualan lemang-tapai, pekerjaan sehari-hari emak-bapakmu.  
            “Kejar masa depanmu! Aku akan menyusul ke Jakarta.” 
 
***
 
Kurang tiga bulan sejak kepergianmu, emak-bapak dan beberapa orang perwakilan keluargamu bertolak ke Jakarta. Tak tanggung-tanggung, orang kaya muda yang mempekerjakanmu sebagai kasir restoran itu menyewakan satu bis bagi perjalanan mereka. Sekadar melepas rindu pada anak gadisnya? Tapi kenapa keberangkatan itu tampak begitu ramai? Pasti ada sesuatu yang hendak mereka gelar di sana. Dugaanku tak meleset, ternyata mereka akan menghadiri kenduri pernikahanmu dengan induk semang itu. Segala persiapan telah beres diurus  keluarga calon suamimu, perhelatan besar selekasnya dilangsungkan. Sama sekali tak berkabar kau padaku. Sama sekali tak kau layangkan alasan menyingkirkanku. Kau anggap aku debu, yang dalam sekali embus bakal terbang bersama angin masa lalu.
Rupanya inilah ujung dari tarikh lemang-tapaimu. Lantaran cemas bakal lekas basi, kau pasrahkan kudukmu dalam cengkraman elang-seberang itu. Pecah sudah sekutu lemang-tapai. Tapaiku, karena terlalu lama dalam masa peram, lelaku ragi yang mestinya membuahkan manis, berbalik mendedahkan pahit. Sepahit liurku sejak mendengar kabar bahwa lantaran kokohnya genggam tangan lelaki rantau itu, kau sampai lupa cara meremas santan guna menanak lemang. Maka, terpelantinglah aku sebagai lelaki jatuh-tapai, ketercampakan paling celaka dalam riwayat kampung tak bernama ini.
***
 
Kenduri pernikahanmu bertepatan dengan kelumpuhan ayahku. Hari itu tensinya sedang tinggi, kepalanya serasa berputar-putar, lututnya gemetar, tapi karena sudah berjanji akan menaikkan kuda-kuda atap di rumah yang sedang dikerjakannya, ia memaksakan diri. Dasar tukang kampung yang sulit percaya pada anak buah, ia ikut pula memanjat sambil berteriak-teriak hingga tidak mempertimbangkan balok tempat kakinya berpijak. Ia jatuh dari ketinggian dua meter. Semula tampak seperti tidak terjadi apa-apa, karena ia tidak merintih kesakitan. Namun setelah dihampiri oleh anak buahnya, ayahku tidak bisa diajak bicara, bibirnya mencong, separuh badannya mati-rasa, hingga ia dilarikan ke rumah sakit. Darah tinggi yang memuncak telah membuat ayahku lumpuh.
Tipis harapan ayahku akan pulih seperti sediakala. Setelah rawat-inap, sudah berkali-kali aku membawanya berobat dan menjalani terapi, namun ayah tetap saja lumpuh, pita suaranya seperti terlipat, dan hanya bisa menangis bila dijenguk para kerabat. Karena sibuk mengurus ayah, aku tidak terlalu memikirkan kendurimu yang tentu semarak dan bergelimang kemewahan. Siapa yang tidak kecewa pada kekasih yang tiada angin tiada hujan, lalu membelot begitu saja? Tapi, seberapalah tenagaku untuk menghambatmu. Maka, saat mendorong kursi roda ayah untuk pertama kali, dari kejauhan aku mengucapkan selamat menempuh hidup baru kepadamu, selamat berbahagia.
Sejak kelumpuhan ayah, aku makin jauh dari mimpi-mimpi ingin pergi jauh. Akulah pengganti ayah di rumah ini. Berdosa aku bila meninggalkan ibu sendirian. Dua saudaraku yang sudah lama meninggalkan kampung rasanya tak mungkin merawat ayah. Mereka punya keluarga dan kesibukan pekerjaan masing-masing. Pulang hanya sesekali bila dapat cuti. Sejak awal mereka tegaskan, akan menanggung semua biaya, termasuk biaya hidupku, asal aku mau menetap di kampung. Kupikul tanggung jawab itu dengan penuh ketulusan. Akan kudampingi ayah hingga akhir hayatnya, kujaga ibu, kusumbat niat untuk hengkang dari kampung ini.
***
Hingga kini aku masih bertahan sebagai guru mengaji. Surau makin megah dan tercukupi semua fasilitasnya berkat bantuan suamimu--semoga terus berlimpah kekayaannya. Dari tahun ke tahun muridku terus berganti. Khatam, lalu datang lagi murid baru. Selain di surau, aku dipercayai memimpin karang taruna, membuat kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi anak-anak muda, bahkan aku pernah didaulat menjadi kepala desa. Tegas aku menolak, karena aku sudah nyaman menjadi orang surau saja.
Keadaan ayahku begitu-begitu saja. Tidak membaik, meski tidak pula memburuk. Saban pagi kumandikan, kusuapi makannya, dan kudorong kursi rodanya untuk menghirup udara pagi. Sementara ibuku semakin tua dan kerap mengeluh. Bukan mengeluh karena lelah menunggu kesembuhan ayah, tapi karena aku belum juga terpanggil untuk menikah.
“Kau masih menunggu anak si tukang lemang itu? Sudah tiga anaknya,” kata ibu suatu petang.
“Banyak gadis muda di sini. Tak satu pun yang kau suka?” 
“Atau hendak melajang sampai tua?”
Rantang-rantang gulai kentang masih berdatangan. Ada yang datang membawa puji, ada yang tiba menjunjung janji, bahkan ada yang telah meminang dua-tiga kali. Kadang aku hampir tergoda, apalagi anak-anak gadis mereka cantik tak terkira, dan jauh di bawah usiamu. Tapi, lagi-lagi aku tak pernah kehabisan ungkapan santun guna membuat mereka mundur. Bukan karena tak suka, tapi karena aku tidak mau lagi memikirkan pasangan. Aku sudah terlatih hidup sendiri. Duniaku kini hanya ayah yang lumpuh, ibu yang gandrung mengeluh, dan murid-murid yang sesekali liar berkelakar, tapi sangat menyenangkan.
Sudah kulupakan sekutu lemang-tapai masa lalu itu, dan memercayai bahwa mencintaimu adalah kerelaan menerima rasa sakit akibat pengkhianatanmu. Tapi, aku kembali tersentak di suatu hari, pada kepulanganmu untuk syukuran akikah putri bungsumu. Seseorang datang mengantar undangan dengan secarik kertas dalam lipatannya. Datanglah. Akan kusuguhkan lemang-tapai kegemaranmu
 
Tanah Baru, 2013