Search This Blog

Friday, November 21, 2014

Menggali Pusara Bagi Bangkai Kenangan



 
Damhuri Muhammad

(esai pengantar novel Maha Cinta  karya Aguk Irawan MN, 2014)


Keriangan masa muda boleh saja berlalu. Usia yang senantiasa menua tentu tak bisa dibendung. Di jagad yang fana ini, tak ada yang sanggup melawan keringkihan. Setiap tubuh bakal lapuk, setiap yang tangguh bakal rapuh, lantaran ia terus bergerak menuju keusangan. Renta, ringkih, dan rapuh adalah sebuah keniscayaan. Namun, dalam tarikh manusia, rupanya ada yang tak lekang dihempas waktu, yang tak mempan dimakan masa, yang terus-menerus hadir di sekitar kita, dan tak terlupa hingga dunia dan semesta raya digulung sekalipun. Ia bernama “kenangan,” atau lebih tepatnya; kenangan pada kisah cinta. Berakhir bahagia atau malah terpelanting ke dalam bahaya, banyak aral yang melintang atau lancar-mulus saja, tragik, dramatik atau melankolik, kenangan setiap orang pada kisah cintanya, tiada pernah terkelupas dari ingatan. Ia akan terus berkembang biak, beranak-pinak, dan secara tak sengaja diwariskan secara turun-temurun, dari kurun ke kurun.

Kalaupun ada upaya hendak melupakannya, bahkan obsesi untuk membenamkannya di lubuk-lubuk telaga tak berdasar, nyalanya tetap akan menguap ke permukaan, puing-puing wewangiannya mengalir ke mana-mana. Dalam sebuah riwayat, seorang laki-laki yang menapaki jalan kesendirian seumur hidupnya akibat pengkhianatan cinta, pernah memaklumatkan bahwa romantika yang dulu berbunga-bunga itu telah dipusarakan dan kini sudah terkubur sebagai bangkai kenangan. Anehnya, saban hari ia senantiasa mengendus-endus, mencari aroma tak sedap yang menyeruak dari bangkai itu, hingga hidungnya tiada lagi dapat mengenal aroma  lain. Ia sedemikian kecanduan menghisap aroma bangkai kenangan itu. Hidupnya seolah-olah kiamat bilamana terpisah jauh dari pusara kenangan masa silamnya.

Begitulah “hukum kekekalan kenangan,” yang tak pernah dapat dimusnahkan. Sesaat mungkin bisa dialihkan pada individu atau obyek-obyek lain, namun itu sekadar batu loncatan untuk kemudian kembali berpulang pada romantika sejatinya. Sejarah cinta berserakan di mana-mana, bertebaran hampir di seluruh belahan dunia. Ada yang hanya dikenang dalam semesta kesunyian, ada yang dicatat lalu disembunyikan rapat-rapat dalam lembaran-lembaran nukilan rahasia, dan ada pula yang sengaja atau tak, dimonumentasikan dalam karya-karya masterpiece para pujangga. Sebutlah misalnya, tragedi cinta Romeo dan Juliet, mahapetaka cinta Steven dan Magdalena, Layla dan Majnun, atau kasih tak sampai Zaenuddin dan Hayati, yang tak bosan-bosan dibaca-ulang oleh segenap penggila kisah-kisah cinta. 

Kisah-kisah itu telah menjadi rujukan, menjadi sandaran, dan dalam batas-batas tertentu diperlakukan sebagai perkakas guna mengungkit-ungkit kembali kisah-kisah lain yang bersarang dalam perasaan masing-masing pembaca. Akibatnya, kita mengalami semacam De Javu, bahwa malapetaka cinta yang terjadi dalam roman-roman kelas dunia itu, juga berlangsung dalam tarikh hidup masing-masing pembaca. Oleh karena itu, romantika tragik yang telah menguras airmata dalam roman Tenggelamnya Kapan Van der Wijck, bukan lagi milik Hamka sebagai pengarang semata, tapi telah menjadi milik semua penikmat yang terbawa hanyut oleh deras arus kepiluannya.
         
Nama Hayati dipancangkan sebagai monumen kenangan tentang pengkhianatan cinta. Ia memilih Engku Aziz, laki-laki tajir bergelimang harta, orang beradat, orang bermartabat. Diabaikannya Zaenuddin, cinta platoniknya, laki-laki tuna-silsilah, miskin, dan tak berwibawa, demi nasib dan peruntungan yang lebih menjanjikan, demi hidup yang bergelimang kemewahan, demi mimpi-mimpi masa datang yang bagai “bersayap uang kertas.” Maka, Zaenuddin adalah monumen yang kedua, artefak luka yang senantiasa berdarah, yang terus menyimpan harapan,  mengendus-endus bangkai kenangan. Memiliki Hayati dalam arti seutuh-utuhnya adalah mustahil, hingga ia hanya dapat hidup dan bernapas bersama kenangan, dalam kenangan, untuk kenangan, selama-lamanya. Cinta sucinya pada Hayati tak pernah lusuh, gejolak rindunya tiada kunjung berhenti menderu, bahkan hingga Hayati meninggal dunia. Bagi Zaenuddin, Hayati, sebagaimana namanya, adalah “hidupku” adalah “nyawaku,” dan mencintai perempuan itu adalah kerelaan menerima perih dan ngilu luka akibat pengkhianatannya.

Agaknya, di sini pulalah medan tempat berpijaknya roman bertajuk “Maha Cinta” karya Aguk Irawan ini. Cinta yang akbar. Cinta yang tak tertandingi kebesarannya. Cinta yang tiada duanya. Adalah Imran, laki-laki yang tengah menapaki perjalanan cinta itu bersama kembang desa Sembungan, Wonosobo, bernama Marwa. Pangkal-soal dari  kasih tak sampai itu bermula dalih yang klise sekaligus klasik; status sosial. Marwa berasal dari keluarga juragan tembakau, Haji Nurcahya, tuan tanah yang sangat disegani di Sembungan. Sementara Imran hanya pemuda desa biasa, ayah-ibunya petani tembakau sebagaimana orang kebanyakan, dan bukan keluarga terhormat. Maka, sudah gampang diterka, Haji Nurcahya memandang hubungan remaja yang akan segera menamatkan studi di bangku SMA itu sebagai aib, yang tak mungkin direstui. Tak berhenti sampai di situ, ayah Marwa sampai menegaskan penghinaan pada Ali, ayah Imran hingga menyulut amarah dan ketegangan, yang tak henti-henti dipergunjingkan di tengah kampung.  






Pengarang membuhul roman ini dengan latar belakang budaya santri yang kental. Oleh karenanya, jangan dibayangkan percintaan Imran-Marwa sebagai hubungan yang liar sebagaimana pergaulan muda-mudi masa kini. Mereka hanya bertemu di majelis pengajian, tanpa berbincang-bincang secara langsung, apalagi bergandengan tangan. Kontak fisik paling mungkin hanyalah saling bersitatap yang kemudian berujung dengan senyuman yang terus dikenang saban petang. Selebihnya, diselesaikan dengan surat-menyurat sebagaimana layaknya cara berkasih-kasihan di era tahun 80-an. Jauh sebelum demam Blackberry dan Android mewabah dan menjangkiti siapa saja. Dengan jalan pengisahan yang jadul dan usang begitu, maka pertaruhan roman ini tidaklah main-main, pengarang sedapat-dapatnya harus merancang kekuatan ungkapan prosaik, yang sama sekali berbeda dengan jaman pesan pendek yang sedang merajalela di kurun ini.

Dalam beberapa bagian, narasi-narasi yang ditancapkan terasa masih verbal, cair, dan datar, hingga pembaca akan bergegas melampauinya untuk sampai pada dialog-dialog eksperimental sesuai dengan semangat masa itu. “Hati hanya satu, maka cinta tak bisa dibagi,” demikian ungkap Imran suatu ketika. Ungkapan yang genuine, khas, memorable line, dan cepat bersarang di benak pembaca. 

Imran dan Marwa sejatinya tak pernah goyah, apalagi menyerah. Mereka berjanji akan terus bersetia hingga tiba masanya Haji Nurcahya luluh dan berdamai dengan ketulusan cinta mereka. Marwa dikirim ke Jakarta untuk melanjutkan kuliah, sementara Imran memang sejak mula bertekad hendak kuliah di Yogyakarta. Mereka terpisah hampir 5 tahun lamanya, meskipun surat-menyurat terus berlangsung. Janji-janji terus disemaikan. Impian masa datang yang bahagia terus pula dibayangkan. Marwa hanya diijinkan pulang ke Sembungan bilamana Imran tidak pulang. Begitu sebaliknya, hingga mereka tidak pernah bertemu muka. Masing-masing hanya dapat mengandalkan kabar dari Muniri, Rowiyatin, Zamroni, Hikmah, Sirhadi, Rufiah, Khotibi Miratul, teman-teman karib yang selalu ada di Sembungan. Itu saja sudah terasa melegakan, meski rindu yang menggebu tentulah tidak tertuntaskan. 
      
Lalu, muncullah orang ketiga, yang hampir dapat diterka pula peran pentingnya dalam kisah ini.  Ia bernama Maman, teman kuliah Marwa di Universitas Trisakti, Jakarta. Diam-diam ia menaruh hati pada Marwa, meskipun dari teman-teman perempuan Marwa ia tahu bahwa Marwa sudah punya kekasih yang sedang berkuliah di Yogyakarta. Namun, Jakarta rupanya telah membuat perempuan sholehah itu berubah. Dalam waktu tak lama, santriwati itu berubah menjadi perempuan urban yang tak segan-segan lagi menanggalkan jilbabnya. Antagonis ini tentu merasa semakin berpeluang. Petaka bermula dari gagalnya perjumpaan Imran dan Marwa di pernikahan sahabat karib mereka, Muniri dan Rowiyatin, yang sudah lama direncanakan. Imran benar-benar pulang ke Sembungan, sementara Marwa sengaja dilengahkan oleh Maman. Ia bersiasat mengajak Marwa, Fitri dan Yeni untuk melakukan survei ke lokasi KKN di Bogor hingga Marwa lupa pada janji pulang ke Wonosobo pada hari yang sama. Atas kebaikan hati Maman yang sedang menjadi sutradara dari sandiwara itu, Marwa memang tetap bisa menepati janji. Mobil pribadi Maman meluncur ke Jawa membawa Marwa, Fitri, Yeni menuju desa Sembungan. Mereka mengantarkan Marwa bertemu Imran, pujaan hati yang sangat dirindukannya. 
 
Sialnya, pesta sudah usai. Tepat pada saatnya Imran hendak menaiki bis menuju Jogja, Marwa dan teman-temannya dari Jakarta sampai di Sembungan. Sekilas Marwa melihat Imran, namun bis sudah melaju kencang. Alih-alih kepulangan itu melunaskan rindunya pada Imran, Marwa malah membawa persoalan; Maman. Muniri, Rowiyatin, dan sejawat-sejawat Imran yang lain mencurigai laki-laki asal Bogor itu sebagai kekasih baru Marwa, dan itu berarti ia telah berpaling dari Imran. Apalagi, Haji Nurcahya kemudian tergiur dengan basa-basi Maman. Gagah, kaya, dan sudah rela berkorban mengantarkan putrinya jauh-jauh dari Jakarta.

Di pihak Imran, pengarang menghadirkan karakter Dewi Halimatus Sa’diyah, lagi-lagi sosok gadis santri. Hubungan mereka sangat karib, bahkan Dewi pun diam-diam kagum pada kepribadian dan kesalehan Imran. Petaka kedua tak terelakkan. Betapa tidak? Saat Marwa menyambangi Imran ke pesantren, tempat Imran beraktivitas sembari kuliah, ia beroleh kabar  bahwa Imran, Dewi dan Zaid baru saja bertolak ke Jakarta. Ketiganya terpilih sebagai peserta studi banding di sebuah perusahaan bonafid di Jakarta. Marwa dibakar cemburu. Sementara itu, saat menyambangi tempat kos Marwa di bilangan Grogol, Imran tiba-tiba harus mundur selangkah. Pasalnya, ia melihat laki-laki lain di pintu kamar Marwa. Tak tanggung-tanggung, dari kejauhan Imran menyaksikan laki-laki itu mencium tangan Marwa. Hangat, mesra, penuh gairah. Hal yang belum pernah ia lakukan pada kekasihnya. Laki-laki itu tidak lain adalah Maman, si antagonis kita.

Lambat laun nama Imran semakin bersinar di kampung halaman. Calon sarjana Pertanian yang tak tercerabut dari akar kesantrian masa remajanya. Aktivis organisasi. Cerdas, santun, dan bergelimang prestasi. Orang-orang Sembungan memperkirakan masa depannya akan cemerlang, meski ladang tembakau ayahnya telah terjual untuk membiayai sekolahnya. Surat-surat Imran pada Marwa tidak lagi berbalas. Ia sudah menjelaskan duduk-perkara hubungan pertemanannya dengan Dewi, namun itu ternyata tidak bisa lagi mengubah keadaan. Marwa berbalik membencinya, hingga ia jatuh ke pangkuan Maman. Keluarga Nurcahya berpaling memuja-muja Imran, dan berubah merestui hubunganya dengan Marwa. Tapi apa boleh buat, Marwa tidak lagi bisa percaya pada kesetiaan Imran. Ia menuding Maman telah berkhianat, dan cinta mereka tak perlu diselamatkan.

Sedalam apa dosa yang telah diperbuat Marwa dan Maman, sebesar apa ketakjuban keluarga Nurcahya pada kehalusan budi Imran--pemuda miskin yang kini telah naik-daun menjadi orang paling berpengaruh di perusahaan perkebunan milik tuan Subrata yang berkantor di salah satu gedung jangkung di Jakarta--dan apa upaya Muniri,  Rowiyatin, Dewi dan Zaid untuk menyembuhkan luka-luka Imran, rasanya tidak perlu saya singkapkan dalam ulasan ini. Yang pasti, setelah beroleh kabar  tentang kematian Marwa--beberapa saat selepas kelahiran bayi yang diwasiatkannya bernama “Imran Maulana”--Imran benar-benar jatuh dan terpuruk ke dalam liang kepedihan yang tak terpermanai. 

Menyelami kepedihan yang terpiuh-piuh dalam roman ini seperti menziarahi pusara yang telah digali Imran guna menyemayamkan jenazah kenangan masa silamnya bersama Marwa. Meski begitu, “Hati hanya satu, maka cinta tak bisa dibagi,” Imran tak hendak bergeser sedikit pun. Cintanya pada Marwa tidak mungkin disudahi, sebagaimana cintanya pada Tuhan. Tarikh Marwa dalam hidupnya telah menjelma sebagai nyawa, sebagai nyala semangatnya, sebagai keriuhan dalam kesepiannya. Selama-lamanya. Sekekal-kekalnya…


No comments: