Search This Blog

Wednesday, December 03, 2014

Dalam Kegamangan Manusia Urban

-->
Damhuri Muhammad






Tak ada lagi Minggu dalam diriku
seluruh tubuhku sudah jadi hari kerja dan hari bicara

(Joko Pinurbo, 2012)





Suatu ketika seorang sejawat pengarang, membujuk saya untuk tinggal dan menetap di Jakarta. Sebuah kota, yang dalam imajinasi sahabat karib itu, bagai gelanggang raksasa tempat segala rupa pertarungan berlangsung begitu sengit, keras, dan beringas. Wahana tempat segala macam kompetisi dan kontestasi berlangsung sedemikian runcing, kejam, dan tiada ampun. “Kau bisa menjadi pengarang yang melambung setinggi langit, tapi dalam sekejap bisa pula tenggelam dan tak muncul ke permukaan untuk selama-lamanya,” katanya. Dengan intonasi suara yang dalam pendengaran saya terdengar sebagai “ancaman,” ia juga menegaskan bahwa kepengarangan yang telah saya upayakan selama bertahun-tahun, tidak akan ada gunanya, akan terbuang percuma, bilamana saya tidak berani hijrah ke Jakarta, arena pertarungan yang sesungguhnya. 

Maka, gambaran saya tentang kota metropolitan yang selama beberapa dekade telah menjadi kiblat bagi segala macam ukuran itu, adalah panggung besar yang mesti dipanjati guna meraih pengakuan sebagai pengarang, sebagai penulis, sebagai sastrawan. Bagi saya, di masa itu, seorang pengarang yang hendak bertolak ke Jakarta, hampir tak ada bedanya dengan anak-anak muda berandalan yang memiliki sedikit “modal” ilmu kanuragan dari kampung halaman--semacam tahan bacok atau kebal peluru, misalnya--yang mengadu ketangguhan dengan para jagoan guna merebut kuasa di terminal Pulogadung, Pasar Tanah Abang, atau terminal Grogol, misalnya. Barangsiapa yang bernyali mematahkan kuasa lama, seketika akan ternobat dan diakui sebagai jawara baru, dengan keberlimpahan dan ketersohoran yang bakal menyertai tarikh hidupnya. 

Bertahun-tahun kemudian, setelah saya benar-benar memberanikan diri untuk turun ke gelanggang panas bernama Jakarta, saya harus mengenang dan membenarkan wejangan sejawat pengarang itu. Di Taman Ismail Marzuki (TIM)--basecamp para seniman kelas berat--saya merasa seperti beruk yang masih berbulu sekujur tubuhnya, lantaran baru keluar dari semak-belukar hutan belantara. Kampungan, polos, dan gagap bercakap-cakap dengan dialek “lu-gue”. Untuk bisa duduk satu meja dengan pengarang-pengarang beken di warung-warung tenda sekitar kompleks TIM, sulit luar biasa bagi saya. Para sastrawan senior--tidak perlu saya sebut nama mereka--yang berusaha saya dekati dengan segenap kesantunan ala kampung, tidak menunjukkan sikap yang bersahabat. Mereka justru sinis, under-estimate, bahkan pada momen-momen tertentu, membuat saya merasa terhina sebagai orang daerah. Tapi begitulah Jakarta, yang perlahan-lahan saya pahami, saya maklumi, dan saya siasati, saban hari.

Lambat laun, saya bisa beradaptasi dengan manusia-manusia urban di Jakarta. Bukan hanya dengan kalangan praktisi sastra, tapi juga dengan individu-individu yang menekuni dan menggeluti berbagai bidang kesenian. Saya tidak lagi minder, berusaha “cuek” menyikapi sinisme, dan bila perlu saya juga memaklumatkan sedikit arogansi, sekadar memperlihatkan bahwa saya pun telah lahir sebagai subyek urban yang sama-sama mengais kemujuran, sebagaimana mereka. Saya mulai akrab dengan dunia malam Jakarta, terbiasa menenggak sebotol-dua botol bir dalam perjumpaan siang hari dengan klien di Senayan City atau Pacific Place, dan tidak merasa asing dengan pergaulan just having fun yang kerap terjadi di lingkungan seniman urban. 

Selain bekerja sebagai penulis profesional--fiksi atau nonfiksi--yang dapat tersiar di media mainstream atau diterbitkan di major-label publisher, di Jakarta juga terbuka bermacam-macam peluang. Ada banyak politisi berlimpah harta benda yang sedang membangun “proyek pencitraan” lewat buku biografi. Ada banyak pengusaha yang hendak terjun ke dunia politik dan karena itu ia perlu diperkenalkan melalui sebuah novel biografis. Banyak pula artis terkemuka yang berminat masuk ke dunia sastra--supaya tampak seperti manusia yang berbudaya. Pendek kata, bagi sastrawan urban, khususnya di Jakarta, tersedia banyak jalan guna mendapatkan honorarium yang jauh melebihi kompensasi pemuatan sebuah cerpen atau puisi di koran. Jasa penulisan buku biografi dapat dibandrol dengan harga Rp.100 hingga 150 juta, yang hanya digarap dalam waktu kurang lebih dua bulan. Bandingkan dengan nominal honor cerita pendek atau honor puisi di koran nomor wahid sekalipun.

Dalam suasana keberlimpahan itulah mereka dapat sedikit menikmati kesenyapan dalam lalu-lalang kebisingan Jakarta. Menyendiri di café-café. Menulis dengan perkakas canggih, mulai dari laptop, ipad, hingga smartphone layar sentuh seri terkini. Bila di masa lalu, warung, kedai, atau café digunakan sebagai tempat untuk saling bertemu, nongkrong bersama teman-teman, di café-café Jakarta masa kini, semua orang memilih duduk di bangku kosong, memesan menu untuk kebutuhan sendiri, lalu sibuk memencet keypad, dan mengutak-atik scroling pada gadget masing-masing, tanpa peduli kanan-kiri. 

Secara fisik memang tampak ramai, namun dalam kenyataannya, mereka tidak pernah saling menyapa, apalagi bercengkrama, lantaran semuanya sedang melayang-layang dan mabuk-kepayang di dunia facebook, twitter, instagram, dan lain-lain. Maka, yang saban petang duduk berdampingan selama berbulan-bulan, bisa jadi tidak pernah saling mengenal, apalagi terlibat dalam perbincangan hangat dan penuh keakraban. Di ruang-ruang publik, manusia-manusia urban ternyata justru sedang mencari kesendirian. Dan sebaliknya, dalam kesendirian  mereka merasa ramai, lantaran punya ribuan teman virtual di media-media jejaring sosial. Inilah semesta kesendiran yang palsu dan keramaian yang tak kasat mata.

Dalam lanskap dunia yang serba personal inilah para sastrawan urban menyelenggarakan proses kreatifnya. Dapat dibayangkan sejauh mana tingkat kepekaan mereka dalam merespon peristiwa-peristiwa sosial yang berlangsung setiap hari. Oleh karena itu, jangan dibayangkan dalam karya-karya mereka, akan tampil dengan kompleksitas persoalan kota besar sebagaimana yang pernah dilakukan Iwan Simatupang dalam cerpen Tunggu Aku di Pojok Jalan itu, misalnya. Prosa yang berkisah tentang sebuah pojok jalan tempat bertemu sekaligus tempat berpisahnya sepasang suami-istri. Bermula dari permintaan suami kepada istrinya untuk menunggu di pojok jalan, sementara ia hendak membeli rokok di warung. Namun si suami ternyata tidak kembali. Setelah 10 tahun berlalu, barulah suami itu muncul di pojok jalan yang sama. Tapi celakanya, si istri telah menjadi pelacur. Ketika ia hendak bercinta, istrinya meminta bayaran. Hal serupa pernah juga ditulis Pramoedya Ananta Toer dalam cerpen Cerita dari Jakarta (2002, cetak ulang). Tentang seorang perempuan yang akhirnya menjadi pelacur lantaran keras dan asingnya realitas kota.

Pengarang-pengarang urban hari ini tidak berselera menghadirkan persoalan-persoalan utama kota besar seperti kemiskinan, premanisme, kemacetan yang hampir tak teratasi, tata kota yang amburadul, layanan publik yang tak manusiawi, dan sederet persoalan manusia urban Jakarta sepanjang hidup mereka. Jika ada, itu sekadar latar, atau yang dalam dunia fotografi kerap disebut  background. Kerunyaman masalah dalam dunia urban tak sungguh-sungguh menjadi point of interest (PoI) dalam kerja kreatif mereka. Barangkali karena lingkungan sastra urban adalah bagian dari persoalan itu sendiri. Sebagaimana sudah saya katakan, bahwa pertarungan untuk mendapatkan pengakuan sebagai pengarang di Jakarta sama saja dengan pergulatan seorang pendekar kampung yang terobsesi hendak menjadi jawara. Sama pula dengan ketatnya kompetisi di ajang pencairan bakat di dunia seni musik semacam Indonesian Idol, X-factor, atau The Rising Star. Segala bentuk upaya pencarian tersebut berujung pada satu muara bernama; ketersohoran. Maka, proses kreatif yang berlangsung adalah kesibukan-kesibukan artifisial untuk meraih mimpi-mimpi besar, hingga lupa pada kedalaman gagasan, abai pada kualitas kekaryaan. “Yang penting terkenal dulu, setelah itu baru serius berkarya.” 

Adalah Afrizal Malna, penyair yang sepanjang dua dekade telah mencurahkan perhatian pada seluk-beluk dunia urban. Muhammad Alfayyadl dalam esainya Tiga Halaman Belakang untuk Puisi-puisi Afrizal Malna (2010), mencatat Afrizal sebagai penyair urban yang paling konsisten menjelajah ruang urbannya. Ia menjelajah ruang-ruang yang tak tersentuh di pekatnya kemiskinan di pinggiran ibukota, makin sempitnya lahan, dan kehidupan yang makin berjejalan berbagi, berebut, dan berkonflik di antara manusia-manusianya.

Menurut Alfayyadl, puisi-puisi Afrizal bahkan telah meninggalkan dikotomi kota/kampung, dan mengantisipasi berbagai perubahan kultural, sosial, dan politis yang meluruhkan pembagian-pembagian itu. Semua itu campur-aduk sedemikian rupa dalam puisinya, dengan cara tak terduga dan membingungkan, demi menunjukkan kekalutan, rasa frustasi, kemarahan, dan kemustahilan yang membayangi Indonesia hari ini. Sajak-sajak Afrizal dibangun dengan idiom-idiom “es krim”, “coklat”, “shampo”, “donat”, “sikat gigi”, body lotion, styling foam, “Coca-cola”, sejak tahun 1990-an, yang menurut Alfayyadl, mengantisipasi, tapi sekaligus membenarkan, datangnya suatu era baru, di mana benda-benda akan bertahta dan menggantikan manusia. Di dunia urban, kata Afrizal, “Kita hanya mengenang manusia, dari kota-kota, yang ditata kaleng-kaleng coca-cola” (Antropologi dari Kaleng-kaleng Coca-cola). Manusia tak lagi ditemukan, atau memang jangan-jangan, telah tiada. “Di manakah manusia kalian temukan di antara kartu pos, donat, dan serakan tissu?” 

Rutininas yang semakin menyiksa, basa-basi yang membosankan, perilaku brutal di jalan raya, obsesi-obsesi yang membuat orang mempertaruhkan segalanya, tidur yang tak nyenyak lantaran minimnya rasa aman, pertemanan yang penuh kecurigaan, ternyata telah menguras banyak waktu dan tenaga. Oleh karena itu, subyek urban Jakarta sibuk menyelamatkan diri sendiri-sendiri--seperti menyelamatkan diri dari copet atau garong di Kopaja dan Metromini--terenyah-enyah berlari mengejar ekspektasi masing-masing. Tak terkecuali subyek pengarang, hingga yang muncul dalam karya-karya mereka adalah suara-suara “dari dalam diri”. Suara yang nyaris tenggelam dalam lautan kebisingan, yang senantiasa tersesat dalam lalu-lalang keramaian. Tak ada waktu untuk menyuarakan sesuatu “di luar diri”, lantaran mereka bukan malaikat penyelamat, bukan ratu adil, melainkan subyek yang juga tergilas oleh mesin-mesin urban dari waktu ke waktu. Maka, sebagaimana kata penyair Joko Pinurbo, tak ada lagi Minggu dalam diriku. Seluruh tubuhku sudah jadi hari kerja dan hari bicara.
***



*esai ini salah satu bagian dari paper panjang yang saya sampaikan dalam seminar sastra bertajuk "Suara Lokal, Suara Urban" pada Temu Sastrawan MPU, yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Provinsi DKI Jakarta, di Taman Menteng, Jakarta, 11 Oktober 2014.
*ulasan tentang cerpen Tunggu Aku di Pojok Jalan itu dan Cerita dari Jakarta, saya kutip dari esai "Cerpen, Ruang, dan Kota" karya Imam Muhtarom, yang terhimpun dalam buku Kulminasi (Teks, Konteks, dan Kota), Yogyakarta: Kasim Press, 2014
-->  -->

No comments: