Search This Blog

Wednesday, December 23, 2015

Gendang Kepulangan Leon Agusta


 
Damhuri Muhammad

(versi cetak artikel ini tersiar di harian Padang Ekspres,  Minggu, 13 Desember 2015)


Abang bahagia sebagai penyair?” Itulah pertanyaan penting yang dengan amat hati-hati pernah saya ajukan kepadanya. Ia hanya diam sembari menengadah, menimbang-nimbang sesuatu untuk diungkapkan. Bagi saya, diamnya cukup sebagai jawaban.Di kurun yang begitu sesak oleh kekeruhan yang tak terpermanai ini, rasanya kejernihan hanya dapat dipandang dari balik jendela puisi. Di jaman ketika kemunafikan diperjuangkan mati-matian, dan kejujuran dianggap ketercelaan, tubuh kebenaran hanya bisa disingkapkan oleh puisi. 
Sejak lama sahabat saya itu telah memilih jalan puisi. Ketika fotografer amatir seperti saya dipercayainya untuk membuat foto-profil guna dipasang di sampul belakang buku puisi terkininya Gendang Pengembara (2012), lensa kamera saya menangkap aura bercahaya dari raut mukanya. Ekspresinya dingin, tapi begitu tajam, seperti Charles Bronson. Lembut, tapi sedemikian tangguh, seperti Robert de Niro. Ia bernama Leon Agusta (1938-2015). Kabar duka yang saya terima dari putrinya, Julia Agusta, Kamis (10/12/15), membuat saya tertunduk lama, lalu hanyut dalam kesedihan yang panjang.






Leon Agusta, lahir 5 Agustus 1938 di Maninjau, kota kecil di pinggir danau. Setelah menyelesaikan SGA di Payakumbuh (1956), ia mengajar di SGB Sijunjung, Sumbar. Pada 1957 ia pindah ke Bengkalis (Riau), hingga SGB ditiadakan pada 1961. Selepas itu ia pindah ke Pekanbaru, mengajar di SMP, sampai 1964. Ia berhenti setelah menandatangani Manifesto Kebudayaan (MANIKEBU). Masa itu ia merasa tak nyaman lagi  menjadi pegawai pemerintah. Dengan dakwaan pasal 107 KUHP (pasal yang terkenal dengan hatzaai artikellen), dari 21 Januari hingga 20 Juli 1970, ia menjalani hukuman di penjara Tanah Merah, Pekanbaru. Sejumlah sajak yang ia tulis selama di penjara tersiar di majalah sastra Horison edisi Desember 1970. Selepas peristiwa Malari (1974), ia juga sempat ditahan di Padang.
Leon mengikuti International Writing Program, di Iowa City, Amerika Serikat (1975), Theatre Observer di Festival Teater Internasional di Perancis (1977), peserta Pacific People Theatre Festival di San Jose, California (1978). Ia menyelenggarakan Theatre Workshop di National School of Drama, New Delhi, India (1980). Agustus 1989, ia diundang sebagai peserta Struga International Poetry Reading Festival (Yugoslavia). Desember 1989, ia mengikuti  Marbyd Poetry Festival di Baghdad. Sejak 1986-1990 ia sekretaris eksekutif Dewan Kesenian Jakarta, dan kemudian dipercaya sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta. Karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Arab, Cina, Korea, Polandia, Islandia, Belanda, Inggris, Perancis, dan Macedonia.
Trauma akibat peristiwa PRRI sangat mempengaruhi kepenyairannya. Sejarah resmi menyebut peristiwa itu sebagai pemberontakan PRRI, sementara Leon menyebutnya perang saudara. Dua istilah yang berseberangan. Abang dan ayahnya bagian dari korban perang saudara itu. Perang saudara itu menggoreskan luka dan selalu terbawa di sepanjang hayatnya. Hati yang menjerit terluka dalam puisinya menjelma pekik perjuangan, meski dengan suara yang terdengar ganjil atau tertahan; rasa ngilu dan keperihan yang menyimpan doa. Penyair ini mengalami tekanan keharusan menjaga keselamatan dirinya agar tak menjadi mangsa kekuasaan (selfcensorship). Inilah alas dari sajak-sajak HUKLA, bahasa stylish, trade mark, sekaligus ideolek kepenyairan Leon. Bentuk baru yang otentik; Kata Pengantar pada Hukla, Hukla Final Pacuan Kuda, Hukla Mimpi Tanpa Akhir, Hukla Mengganti Rakyat, Hukla Tangis Anak, Hukla Koran Lisan,  Hukla Pesta di Rumah Edan,
Leon adalah penyair flamboyan yang tersohor. Ia telah melancong ke mana-mana. Mengecap asam-garam pergaulan dengan seniman-seniman kelas dunia. Sejawatnya orang-orang besar, dari pengusaha, teknokrat, hingga mantan presiden. Tapi, kesehariannya jauh dari keriuhan mimbar-mimbar perbincangan sastra, tak terlalu sering tampil di forum-forum diskusi puisi, apalagi muncul membacakan sajak-sajak yang didramatisir dengan tangis pura-pura di layar televisi. Di usia 77 tahun, sahabat saya ini masih mampu bepergian sendiri, menghadiri obrolan-obrolan ringan di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Jakarta, dan sesekali bermain catur. Lantaran asma yang dideritanya, setiap bepergian ia selalu menenteng alat pengencer dahak yang sewaktu-waktu diperlukan. Ia tak punya sopir, apalagi mobil pribadi. Tapi, dalam setiap diskusi santai yang sempat saya singgahi, setiap kali Leon berbicara, saya selalu ingin mencatatnya sebagai puisi. Cara ia menggeser posisi duduk, menatap lawan bicara, bahkan caranya mengatur napas tatkala sesaknya kambuh, bagi saya, adalah juga puisi. Mungkin karena ia begitu kokoh bertahan di jalan puisi. Berpegang-terus pada puisi, senantiasa bergelimang puisi. Live in art.
Leon adalah pengembara keras kepala. Dengan mesra kusandang dosa itu/sudah diamanatkan bagiku: mengembara/bagi hasratku yang berjalan jauh/hingga sudah biasa aku berpisah/napas damai dan tidur yang nikmat/khianat diterima tanpa kesumat/kini aku menghempas sendiri/loncat dan terusir dari segala dekapan/setelah amanat diterima:mengembara (Mengembara, 1970). Etos mengembara dalam sajak itu seolah-olah telah menjadi dosa turunan, yang suka atau tak, mesti ditempuh-dijalani. Bagi Leon, mengembara itu selamanya, tak ada sudahnya. Maka, bukan saja cita-cita kepulangan yang mesti ia tiadakan, tapi juga tujuan dari pengembaraan itu sendiri. Akibatnya, Leon harus membebaskan diri dari segala godaan untuk berhenti mengembara. Ia mengamalkan sebuah tarekat guna melupakan gerak langkahnya sebagai petualangan. Orang-orang berkelompok/melupakan nama masing-masing/mereka adalah kafilah/jemaah pengungsi kehilangan tujuan  (“Gendang Pengembara,” 2006)  
Di titik inilah perbedaan antara jalan puisi dan jalan filsafat. Bila tradisi diskursif-spekulatif di medan filsafat senantiasa mengayuh biduk menuju hulu, yang diniscayakan sebagai tempat kebenaran bersemayam, puisi justru menggali lubang-lubang kemungkinan sebanyak-banyaknya, agar pencarian tak berlabuh pada wujud kebenaran yang bulat, dan tak melulu tertumpu pada arche transendental yang tunggal. Filsafat begitu menggebu-gebu hendak menggapai “semesta kepastian,” puisi asyik dan tabah menyingkap pintu-pintu “keserbamungkinan.” Leon menapak di jalan yang kedua. Pengembaraan puitiknya adalah kembara tanpa peta, adalah kelana tanpa muara. 
Bila sungai-sungai bermuara ke lautan/laut manakah muara bagi sungai dalam hatiku/bila burung-burung terbang bebas di cakrawala/manakah cakrawala tempat mengembangkan sayap/bagi rindu yang menggelepar dalam dadaku/bila taman-taman pun juga punya pengasuh/siapakah pengasuh jiwaku yang buncah ini? (“Ya, Kita Menerlukan Seorang Kekasih,” 1967). Tiada muara bagi sungai yang mengalir dalam hati Leon. Tak akan pernah ada cakrawala bagi rindu yang menyala dalam dadanya. Sajak-sajak Leon adalah putra laut tanpa benua, mengembara di seantero lautan, menengadah pada kabut, mencari cahaya gaib, burung-burung di awan gemawan, kembara tanpa tujuan, tanpa peta buat kembali, sebilah panah yang patah tanpa sasaran, hilang tanpa daerah (“Bahan Sebuah Kisah,” 1967).
Kita boleh saja telah menjadi saksi bagi kepulangan sang pengembara pada Kamis petang yang berkabut itu. Tapi dari kejauhan, saya sama sekali tidak melihat Leon pulang. Alih-alih pulang, saya justru melihat Leon masih pergi, dan lagi-lagi  masih pergi. Leon Agusta baru saja memulai sebuah pengembaraan baru, yang mungkin tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Selamat jalan, selamat mengembara ke dunia yang jauh, Abangku Sayang…


Saturday, November 28, 2015

Tentang Puisi Mantan Presiden

-->


Damhuri Muhammad





Sejarah puisi adalah sejarah yang pahit. Puisi kerap dicurigai, ruang geraknya dibatasi, tak jarang penyair dimusuhi, bahkan dilenyapkan tiada ampun. Bagi filsuf Plato, penyair tak lebih dari seorang penutur di jalan sesat. Lelaku kepenyairan sekadar peniruan yang tak akurat dari dunia senyatanya. Puisi berlumur dusta ketimbang menyingkap wajah kebenaran. Di belahan Timur, para penyair Arab seperti Zuhair, Trafah,  dan Imrul Qays, dianggap kaum laknat, orang-orang majnun yang bertutur dengan kekuatan sihir, karena itu tak pantas dipercayai. Sejarah kita mencatat sebuah tragedi ketika Hamzah Fansuri (1607-1636) dienyahkan oleh kekuasaan Sultan Iskandar Muda, lantaran syair-syairnya dianggap menyebarkan ajaran tasawuf yang sesat.
Kini, lembaran tarikh puisi yang suram itu telah ditutup. Puisi tak lagi dianggap berbahaya. Di republik ini, selepas tragedi Wiji Thukul (1998),  hampir tak ada lagi penyair yang dimata-matai oleh tentara. Puisi telah disambut ramah di istana negara. Susilo Bambang Yudhoyono, di ujung masa baktinya sebagai presiden RI, bahkan menerbitkan sebuah buku puisi bertajuk Membasuh Hati di Taman Kehidupan  (2014). Diluncurkan di Istana Cipanas, 8 Agustus 2014 lalu, dan dihadiri oleh beberapa penyair yang tak asing lagi dalam peta sastra Indonesia. Penyair Taufik Ismail tampil dengan mata berkaca-kaca, membacakan puisi karya presiden RI ke-6 itu.      
Pandainya kau berdusta/dan bergaya/dalam kata-kata/yang tak pernah ada/Teganya kau bersandiwara/bertopeng sepuluh warna/dan mendongeng seribu cerita/bualan sempurna/Kenapa kau berbohong?/Itulah dirimu yang kosong/terjatuh di kegelapan lorong. Begitu bunyi puisi bertajuk “Dusta” yang menurut catatan di bagian bawahnya; ditulis SBY di Cikeas, 4 Februari 2004. Hanya SBY dan Tuhan yang tahu siapa yang “pandai berdusta” itu. Oleh karena puisi itu ditulis sebelum ia terpilih sebagai presiden periode pertama (Oktober 2004), boleh jadi subyek yang “tega bersandiwara” itu adalah lawan politik, sekadar memotret lelaku hipokrit seorang politisi, atau semacam otokritik untuk dirinya sendiri. Betapapun individu yang “bertopeng sepuluh warna” itu sukar dilacak, nuansa politis yang kental, hipokrasi yang tak malu-malu, dan aroma politik pencitraan, tak bisa lepas dari puisi itu. 
Benar,
 jika aku sibuk melihat orang lain/kapan aku bisa melihat diriku sendiri/yang tidak luput dari kurang dan khilaf/Benar,
 jika orang lain selalu kulihat keburukannya/kapan aku bisa melihat kebaikannya/
yang diriku pun belum tentu punya. Cuplikan puisi “Taman Hati” (2010) ini  lebih terasa sebagai nasihat ke dalam diri, ketimbang himbauan bagi khalayak ramai. Memang, presiden adalah juga manusia, yang tak luput dari salah dan khilaf. Tapi di lingkaran istana, siapa yang berani mengingatkan presiden secara langsung? Maka, lebih baik ia melihat ke dalam, atau setidaknya menyikapi hujatan dari luar pagar istana dengan puisi. Bukan menyangkalnya dengan pidato yang hanya akan menyingkap muka sangar penguasa. 
Antologi Membasuh Hati di Taman Kehidupan merupakan kompilasi dari dua buku puisi yang sudah terbit dalam edisi terbatas sebelumnya, yaitu Taman Kehidupan (2004) dan Membasuh Hati (2010), dengan beberapa penambahan puisi baru. Buku itu dikata-pengantari oleh penyair Mustofa Bisri dan novelis-dramawan terkemuka Putu Wijaya. Keduanya menyikapi puisi-puisi presiden dengan ulasan yang sesederhana puisi-puisi itu sendiri, dan sedapat-dapatnya tidak terjerumus pada kajian, apalagi analisis yang mendalam dan komprehensif. Sebab, pada bagian pengantar penerbit, telah ditegaskan bahwa puisi-puisi itu ditulis SBY dengan bahasa sederhana tanpa pretensi untuk disebut penyair. SBY berbicara tentang kasih sayang dan cinta, tentang perdamaian dan persahabatan, serta liku­liku kehidupan. Dengan begitu, tak perlu pula diperdebatkan, apakah SBY sudah layak disebut penyair atau tidak?
Adapun yang perlu dipertanyakan adalah sejauhmana akibat dari keterlibatan kepala negara di dalam puisi terhadap dunia perpuisian kita yang sedang paceklik. Buku puisi mantan presiden itu terbit bersamaan dengan musim buruk di dunia puisi kita. Dari aspek pasar, sejumlah toko buku menyatakan keberatan menyediakan tempat bagi buku puisi. “Tak punya nilai-jual,” “tak mungkin best-selling,” “hanya menyesaki rak,” begitu dalih mereka. Seorang petugas pencatat kerjasama penjualan konsinyasi pernah bilang; “Berhentilah menerbitkan buku puisi! Lebih baik jualan buku masak-memasak atau buku panduan cara bersolek!” Banyak penerbit yang mengeluh, meski tetap bersetia pada puisi. Banyak yang terpaksa menghentikan produksi, banyak pula yang muncul kembali. Begitulah tarik-ulur minat penerbit terhadap puisi di republik yang telah melahirkan Amir Hamzah, Chairil Anwar, WS Rendra, Sitor Situmorang, dan Sutardji Calzoum Bahcri.
Kedigdayaan pasar yang tegak di atas pemberhalaan pada uang, bukan sekadar merendahkan, tapi sedang membinasakan dunia puisi secara perlahan. Bila dalihnya kelarisan, kecap dan terasi juga barang yang laku di pasaran. Tapi sebagai anak kandung peradaban yang diakui di belahan dunia mana pun, puisi tak selayaknya ditakar semata-mata dengan parameter laku-tak laku, apalagi dengan kalkulasi untung-rugi belaka. Buku laku belum tentu buku bermutu. Tengoklah, deretan karya picisan yang tidak berangkat dari kedalaman pikiran, justru laris bagai martabak terang-bulan, sementara puisi yang didedahkan dengan pencapaian artistik, justru tergeletak, tak tersentuh, lalu berdebu selama berbulan-bulan. Inilah keadaban yang gandrung memuja kedangkalan dan bersuka-ria dengan kepandiran. Tidak ada keharusan bagi kepala negara untuk terlibat secara langsung dalam dunia puisi, kecuali bila kebetulan yang bersangkutan memang menyukai puisi. Adapun yang perlu dipertimbangkan oleh seorang kepala negara adalah mengembalikan marwah dan kehormatan puisi, sebagai anak kandung dari kebudayaan.  
Pada sampul album Tembang untuk Bangsaku (2011), SBY menulis; bila berkomunikasi dengan dasar logika, ukurannya benar-salah, dan berbicara dengan dasar etika, ukurannya baik-buruk. Tapi dengan musik, kita dapat berbagi dengan rasa.” Itu pula yang terjadi ketika ia menapaki bahasa puisi, bahasa rasa, yang melampaui ukuran benar-salah dan baik-buruk. Saatnya hampir tiba/
Pilkada di sebuah kota/Yang Baru menantang Yang Lama/Entah siapa yang bakal berkuasa/Yang Baru harus punya peluru/Obral janji pun tak harus ragu/Fitnah dan fakta bisa jadi satu, kata SBY dalam puisi “Pilkada” (2010). Sinisme pada silang-sengkarut persaingan liar dalam kontestasi pemilihan Kepala Daerah melalui puisi, tak berpretensi menuding atau menyalahkan siapa-siapa. SBY masih tegas berpihak pada Pilkada langsung, meski fraksi Partai Demokrat yang dipimpinnya walk out dari sidang paripurna, hingga pendukung Pilkada langsung kalah suara. Mengingat hak rakyat untuk memilih langsung telah dipenggal, puisi “Pilkada” setidaknya akan menjadi monumen penting tentang peristiwa demokrasi yang pernah ada dan berlangsung penuh hingar-bingar di republik ini. 
Sebagaimana keterlibatan SBY--saat menjadi presiden--di dunia musik, yang diharapkan oleh etnomusikolog Franki Raden sebagai insider yang dapat melakukan “intervensi kreatif” guna mendudukkan posisi dunia musik Indonesia, dan sebagaimana mantan presiden itu telah menunjukkan sedikit perhatian pada dunia puisi,  begitu pula hendaknya presiden yang baru bersikap terhadap dunia seni pada umumnya. Jokowi barangkali tidak perlu menciptakan lagu, meluncurkan album, apalagi menerbitkan antologi puisi, tapi cukup dengan menunjukkan itikad untuk  memartabatkan dunia kesenian di Indonesia, membuat negara menghargainya,  berkontribusi secara terukur dalam iklim kekaryaan, dan memanusiakan para pelakunya…


Thursday, September 17, 2015

Politik Tanpa Urat Malu



Damhuri Muhammad



(versi cetak artikel ini tersiar di harian Padang Ekspres,  Kamis, 17/9/2015)


Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya. Begitu kearifan lama, yang dalam riuh gelanggang politik masa kini tiada berdengung lagi. “Sekali lancung ke ujian,” yang dapat ditafsirkan dengan “sekali saja berbuat jahat,” bisa menggugurkan kepercayaan orang selamanya, dalam kontestasi politik justru menjadi modal sosial. Kejahatan korupsi misalnya, selalu mengundang perhatian, pelakunya kerap tampil di layar kaca, lalu tersohor seketika. Terkenal atau tercemar bukan soal pokok lagi. Batas antara keduanya bagai lebih tipis dari kulit bawang. Yang pasti, dua kata itu mengandung apa yang hendak direngkuh para politisi dalam persaingan menuju kekuasaan;  popularitas.
            Dalam kenduri demokrasi menjelang Pilkada serentak pada Desember 2015, popularitas sekali lagi menjadi kata kunci dan syarat-rukun paling mula. Tak dapat disangkal, mantan Napi--apalagi Napi kasus korupsi--adalah individu-individu yang raut mukanya akrab dalam ingatan kita (ternama meski tercela), dan tentu punya kesanggupan membiayai ongkos politik yang tinggi. Itu sebabnya Parpol menimbang mereka berpeluang memenangkan Pilkada. Maka, mengharapkan kemampuan leadership yang andal, komitmen pada perubahan, visi-misi guna mewujudkan kesejahteraan rakyat, akan terdengar samar saja dalam perayaan kemasyhuran itu.
            "Kita punya masa lalu. Saat persoalan sudah selesai kita harus berbaik sangka. Kita menghargai orang yang telah tobat," kata fungsionaris partai pengusung Cabup eks-Napi di Kabupaten 50 Kota, Sumbar (www.tempo.co 31/7/2015). Cabup yang sudah resmi terdaftar di KPU itu adalah mantan anggota DPR-RI (2004-2009), terpidana kasus korupsi alih-fungsi hutan lindung Pantai Air Telang di Kabupaten Banyuasin (Sumsel) menjadi Pelabuhan Tanjung Api-api. Parpol biasanya punya ukuran yang diperoleh dari hasil survei internal sebelum mengusung calon. Pertanyaannya, pemilih dari jenis apa yang  menjatuhkan pilihan pada eks-Napi?  “Barangkali itu kerumunan orang-orang malas yang gampang lupa,” begitu sinisme M Rahmat Yananda, penulis buku Branding Tempat; Membangun Kota, Kabupaten, dan Provinsi Berbasis Identitas (2014). Kejahatan berat yang pernah menimpa kita mungkin dapat dimaafkan, tapi biasanya sulit dilupakan. Mungkinkah kita begitu tergesa melupakan--sekaligus memaafkan--koruptor yang telah menggerogoti uang rakyat dengan akibat yang terasa sampai ke periuk nasi kita? Ajaibnya, ada yang dengan sadar menaruh kepercayaan kepadanya.            
Calon eks-Napi muncul pula di Manado, Sulawesi Utara. Ia mendaftarkan diri dengan kepala tegak dan segenap kegirangan tim pemandu sorak. Cawalkot itu bebas Maret 2015, setelah menjalani 7 tahun hukuman karena dinyatakan bersalah dalam perkara korupsi APBD Kota Manado tahun 2006, senilai Rp 64 miliar. Begitu juga di Semarang,  satu dari tiga pasangan Cawalkot yang terdaftar juga mantan Napi korupsi. “Saya terbuka mengenai status hukum saya. Silahkan warga kota Semarang menilainya,” kata sang calon (Kompas, 29/7/15). Sampai di sini, kita patut bertanya, di mana sesungguhnya biang penyakit itu? Undang-undang, partai politik, atau justru menjalar dalam kerumunan pemilih yang tak terdefinisikan?
Putusan Mahkamah Konstitusi 9 Juli 2015 yang menyatakan bahwa mantan narapidana dapat mengikuti Pilkada tanpa menunggu jeda lima tahun setelah menjalani hukuman, memang tak dapat dibantah. Tapi selayaknya orang yang pernah bersalah--sengaja atau tak--dalam kelaziman adab kita, biasanya akan menyingkir ke tepi-tepi, menjauh dalam jarak yang tiada mungkin dijangkau orang banyak, bila perlu melenyapkan diri selamanya. Lebih baik mati berkalang tanah, ketimbang hidup berkeranda malu.
Jangankan karena sebuah kesalahan fatal, hanya lantaran haluan politik yang tak lagi seiring jalan, Bung Hatta melenggang turun dari panggung kekuasaan. Dengan gagah dan berwibawa ia meninggalkan jabatan Wakil Presiden pada 1956. Laku yang sebelumnya juga ditempuh politisi kawakan Natsir. Setelah berselisih paham dengan Soekarno, pada 1951 ia mundur dari jabatan Perdana Menteri. Kedudukan yang sejatinya masih pantas ditempati, namun ia merasa tiada patut lagi mengenggamnya.  Etos  “pantas” dan “patut” bagi Hatta dan Natsir berakibat besar pada kemaslahatan rakyat.
Urat malu politisi masa kini telah direnggut oleh hasrat berkuasa. Kepantasan dan kepatutan menguap dalam ambisi yang tiada kunjung henti. Panggung demokrasi telah membelakang-bulat pada keteladanan warisan para pemimpin masa silam. Bila politik dulu adalah ikhtiar memperjuangkan gagasan demi kepentingan semua orang, politik kini adalah arena balapan mendulang suara dengan cara menjajakan popularitas. Bukan popularitas akibat pencapaian-pencapaian penting, tapi ketersohoran palsu yang dirancang di balik layar, dan dimodali para cukong. Penjahat bisa tampil dalam sosok yang sudah bertobat. Pasang badan sebagai orang yang berpihak pada kepentingan rakyat, dengan kefasihan berbahasa yang didiktekan oleh para konsultan politik. Popularitas boleh jadi menjulang tinggi, tapi kelayakan memimpin berkarat di telapak kaki. “Mereka kami usung karena popular dan berpeluang memenangkan Pilkada,” dalih seorang tokoh partai pengusung Cawalkot eks-Napi di Manado (Kompas 1/8/15).
Pilkada serentak yang diharapkan bakal melahirkan pemimpin-pemimpin bermutu, jauh-jauh hari justru menimbulkan keterkejutan yang juga serentak. Dari 838 pasangan calon yang telah terdaftar dalam Pilkada serentak tahap pertama, tercatat  9 orang mantan Napi, dan semuanya didukung Parpol. Rata-rata mereka adalah bekas Kepala Daerah (kabupaten-kota), anggota DPRD, dan DPR-RI. Artinya, mereka pernah dipercayai, tapi kemudian mengkhianati amanah rakyat. Akan lebih menggemparkan bila nanti ada yang sukses memenangkan Pilkada. Konstitusi, partai politik, dan kita semua--insan pelupa dan pemaaf--adalah kreator dari kepemimpinan yang dekaden itu. Tiga unsur itu pula yang telah berperan penting dalam perhelatan demokrasi level Pilkada dengan produk gagal bernama; politik dinasti. Maka, mengecam apalagi menyesali napas kepemimpinan yang berdenyut tanpa urat malu, bagai membasuh muka saban pagi, dengan air liur sendiri.    
Meneriakkan yel-yel dukungan pada calon-calon Kepala Daerah eks-Napi adalah menegakkan tiang-tiang politik tanpa urat malu. Mendukung keternamaan yang bergelimang ketercelaan seperti melihat masa depan dengan kacamata kuda. Tangan kotor yang berikrar hendak mengemban laku membersihkan, adalah kemustahilan yang terang-benderang. Menobatkan mantan penjahat sebagai pemimpin adalah penghinaan terhadap akal-sehat… 


Damhuri Muhammad
Sastrawan



Friday, July 24, 2015

Pergaulan Tanpa Perjumpaan


Damhuri Muhammad



(artikel ini sebelumnya telah tersiar di harian Kompas, 18 April 2015)


Sepuluh  tahun  lalu, warung kopi barangkali masih lazim menjadi tempat berkumpul, ruang yang lapang untuk bertemu-muka, dan bercengkrama dengan kawan-kawan sebaya. Tapi di era digital ini, kedai kopi--atau yang di kota-kota besar dimoderenkan menjadi cafe--telah beralih-rupa menjadi ruang untuk bersembunyi, tempat yang paling layak guna mengasingkan diri. Saban petang selepas jam kerja, dua orang yang selama berminggu-minggu duduk berdampingan meja di café yang sama, bisa tidak saling menyapa, apalagi  berkenalan.
Masing-masing sibuk dan asyik memencet keypad telpon pintar, tanpa peduli kanan-kiri. Keganjilan itu lumrah dan mungkin bisa dimaklumi, karena hampir semua pengunjung di café itu datang dengan itikad yang serupa; mencari kesendirian. Maka, jangan mengharapkan ada tegur-sapa yang ramah di sana--sebagaimana perjumpaan di kedai kopi masa silam--kecuali basa-basi yang tampak sangat dipaksakan.
           Ini pula yang terjadi saban pagi di gerbong-gerbong kereta api listrik (commuterline) di Jakarta. Dalam situasi keberhimpitan--ketika lutut nyaris tak bisa digerakkan dan kuduk hampir beradu dengan siku penumpang lain--setiap orang masih nyaman dan tampak lincah memainkan tombol-tombol telpon pintar dengan sebelah tangan, sementara tangan satu lagi tetap kuat berpegangan. Orang-orang yang bahu dan lengan mereka setiap hari saling bersentuhan di gerbong yang sama, boleh jadi tak pernah saling menyapa, apalagi berbincang dengan saling bertatapan, karena mereka mempercayai dunia lain yang lebih  menggembirakan; media sosial. Bahkan, agar terhindar dari percakapan, banyak yang sengaja memasang perangkat handsfree di telinga masing-masing. Bagaimana kalau ada yang tiba-tiba pusing, lalu pingsan dalam situasi penuh-sesak itu?
            Beberapa orang sahabat lama yang bertemu setelah belasan tahun mereka terpisah oleh jarak dan waktu, kecewa karena reuni singkat itu jauh dari harapan. Betapa tidak? Setelah berbasa-basi sekadarnya, lantas sedikit bernostalgia tentang masa-masa bersama di sebuah restoran, satu per satu kemudian sibuk dengan gawai sendiri-sendiri. Meja pertemuan yang semula dibayangkan bakal riuh dan riang, tiba-tiba sunyi dari obrolan dan canda-tawa. Kerinduan yang meluap-meluap itu tak terlunaskan. Rencana pertemuan selanjutnya mungkin tak layak dilanjutkan. Reuni itu dingin dan tak bermutu.
            Begitulah kemarau kehangatan yang sedang melanda, karena kita gandrung bersembunyi di rumah virtual dalam telpon pintar. Hubungan persahabatan yang secara manusiawi direkat oleh ekspresi muka yang berseri-seri, kini menjadi sekadar angka-angka jumlah friendship di facebook, jumlah follower di twitter dan instagram. “Untuk apa berjumpa bila setiap urusan beres dengan cara mengudara di dunia maya,” begitu kira-kira semboyannya. Lalu, di mana wajah (le visage) yang dalam gagasan filsuf Emmanuel Levinas (1906-1995) dipandang sebagai syarat utama perjumpaan? Bagi Levinas, hidup bersama adalah hidup yang terus berdenyut dengan pertemuan antarwajah. Demikian pula dengan keseharian kita. Kekariban sesungguhnya hanya terwujud atas dasar muka bertemu muka. Ekspresi dan emosi yang terpancar di raut wajah adalah bagian paling inti dalam relasi persahabatan.
            Pada tingkat yang lebih janggal, telpon pintar telah sukses membuat banyak orang gamang pada perjumpaan. Banyak yang hampir percaya, bukan hanya muka dan segenap anggota tubuh, tapi perasaan juga bisa di-online-kan. Sepasang kekasih merasa telah berbahagia dengan romantika artifisial via blackberry messenger (BBM) atau whatsapp messenger (WA). Keduanya saling berimajinasi, memupuk kerinduan, saling bertukar-gambar, tapi takut menghadapi perjumpaan fisik. “Jumpa-darat”  hanya akan menggerogoti angan-angan dan khayalan, mendistorsi semarak-nyala kerinduan, dan sangat mungkin menyebabkan perpisahan. Tapi, apanya yang berpisah? Bukankah bertemu saja belum?
            Di masa lalu, bila kita hendak mencari sebuah alamat, ada pribahasa lama yang selalu memandu; malu bertanya sesat di jalan. Maka, sebelum tiba di tujuan, kita bisa dua-tiga kali bertanya pada warga sekitar. Bukan bertanya pada aplikasi Global Positioning System (GPS) di perangkat telpon pintar, sebagaiman kini. GPS mungkin tak pernah salah dalam menunjuk arah, tapi ia mengasingkan para penggunannya dari relasi sosial yang lumrah, menjauhkan kita dari keramahan (hospitality) yang sejak lama telah menjadi basis kebudayaan kita. Banyak orang tak lagi mengandaikan keberadaan manusia di sekitarnya, atau bahkan tidak lagi memerlukannya. Bila tersesat, bukankah ada nomor yang bisa dikontak? Tapi bagaimana kalau signal tiba-tiba hilang, atau telpon pintar tiba-tiba kehabisan daya?
         Demam gawai tak mungkin dibendung. Harganya semakin terjangkau. Selain karena iming-iming cicilan ringan, kita memang gemar berbelanja barang-barang yang sebenarnya tak dibutuhkan. Menurut data terkini Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik, Kemkomimfo RI, seperti diberitakan Kompas (13/4/2015), sejak 2013, jumlah gawai yang terdiri dari telpon pintar, komputer genggam dan komputer tablet, telah melampaui jumlah penduduk Indonesia. Jumlah gawai 240 juta unit, sedangkan jumlah penduduk Indonesia sekitar 230 juta. “Jangankan anak-anak sekolah, tukang beruk pun kini punya hape,” begitu sinisme seorang petani di kampung saya, saat anak perempuannya--kelas III SMP--merengek-rengek minta dibelikan telpon genggam layar-sentuh. Di desa pedalaman, seorang petani lebih gelisah bila tak ada pulsa di telpon genggamnya, ketimbang tak ada beras di dapurnya.
            Di pelosok-pelosok jauh, dalam jarak hanya empat-lima rumah, seorang ibu rumah tangga yang hendak meminjam wajan  dan rupa-rupa perkakas makan untuk sebuah hajatan, tak perlu berjalan kaki menyampaikan maksudnya. Cukup dengan menelpon, dan beres persoalan. Tapi, bagaimana dengan kekerabatan bertetangga yang dulu berpijak pada hubungan antarmuka? Bagaimana dengan etos keguyuban yang tak mungkin ada tanpa bertemu-muka? Rumah virtual yang kita pancangkan di telpon genggam telah merenggutnya sedemikian rupa, hingga kita merasa tidak lagi butuh perjumpaan ragawi. Dunia cyberspace memang telah melipat ruang spasial, tapi pada saat yang sama, ia juga menggali jurang sosial yang nyaris tak terjembatani. Inilah etos pergaulan tanpa perjumpaan di era digital. Alih-alih memperkokoh relasi sosial, ia justru melahirkan personalitas yang a-sosial…


Wednesday, July 22, 2015

Eskatologi Batu Akik

-->
Damhuri Muhammad



 (artikel ini sebelumnya telah disiarkan di harian Kompas, 18 Maret 2015)


Jauh sebelum histeria Batu Akik merajalela, di lereng sebuah bukit, pedalaman Sumatera, sekelompok orang menggelar semacam ritual mengangkat benda keramat dari sebuah lubang yang telah mereka gali selama berbulan-bulan. Dukun pilih-tanding khusyu’ membaca mantra, sementara tiga laki-laki bertubuh kekar berjaga-jaga dan waspada, bila ada orang lain yang mengintip peristiwa ganjil itu dari kedalaman rimba. Lalu, gumpalan-gumpalan tanah di dasar lubang menyembur hebat ke permukaan, seperti ada tenaga sempurna yang mengisapnya dari angkasa. Serpihan-serpihan tanah liat yang berjatuhan disambut dengan selembar kain putih yang lebih dahulu telah dihamparkan di sekitar lubang. Benda keramat yang mereka tunggu-tunggu telah berada dalam lipatan kain putih. Ia bernama Badar Besi. Batu hitam-bundar sebesar buah duku, yang dipercayai berkhasiat dapat membuat pemiliknya kebal senjata, alias tak mempan bacokan. 
            Pada suatu petang berkabut, dukun pilih tanding melakukan tirakat pengujian sederhana. Badar Besi dipilin erat dengan kain putih, lalu dikebatkan di lingkar leher seekor anjing. Masing-masing anggota kelompok menebas kuduk si anjing dengan golok panjang yang biasa dipakai untuk menyembelih kambing. Tebasan demi tebasan berkelebat, namun tak setetes darah pun yang tertumpah. Anjing hanya mengengking dan menyalak ketakutan setiap kali mata golok bersarang di badannya. Dagingnya kebal sempurna. Begitulah kesaktian Badar Besi. Siapa yang memilikinya, tiada bakal mempan dilukai oleh segala macam senjata dari unsur besi. Itu sebabnya ia bernama Badar Besi.
            Tapi, sebelum Badar Besi berpindah tangan pada penadah, sebelum ia mendatangkan keberlimpahan yang mesti dibagi rata, keluarga dari tiga lelaki pemburu barang keramat itu hancur-berantakan. Betapa tidak? Ladang dan sawah telah ditinggalkan. Dapur yang mesti terus berasap tak dihiraukan. Satu diusir istri secara tak terhormat. Satu tercekik utang dalam jumlah yang mustahil dapat ditebus. Satu lagi tergeletak sakit tak tentu sebab. Para anggota kelompok rahasia itu bertumbangan, lantaran terobsesi pada Badar Besi dengan segenap keberlimpahan yang bakal tiba. Mereka melarikan diri dari hidup yang meletihkan, dari kenyataan keseharian yang dari waktu ke waktu, terpuruk dalam kepayahan, dari harapan-harapan yang tak kunjung tercapai.
            Inilah kenyataan yang sedang melanda hidup kita kini. Harapan besar pada seorang pemimpin yang sungguh-sungguh akan mewujudkan kesejahteraan, putus di tengah jalan. Optimisme pada perubahan yang dijanjikan, terkubur sebelum waktunya. Janji-janji tentang keadilan tak lebih dari residu musim kampanye. Tak ada yang bisa jadi pegangan. Tempat menggantungkan cita-cita telah rubuh. Di medan  kekuasaan, mereka sibuk dan kasak-kusuk, saling-sikut berebut kue kemenangan, sementara kita menonton dari kejauhan. Tiada lagi idola yang pantas dibanggakan. Banyak orang dilanda kekecewaan yang banal dan nyaris tak terselamatkan.
Maka, tibalah saatnya kita beralih mencari idola baru. Barangkali lebih baik berbicara dengan hewan-hewan piaraan seperti Perkutut, Murai Batu, Ikan Louhan, Ikan Cupang, ketimbang memikirkan hidup yang makin tak bermutu. Lebih baik membaca sasmita, pertanda, dan keajaiban yang tersembunyi dalam Bacan, Sungai Dareh, Lumut Suliki, nama-nama Batuk Akik yang sedang menjadi pusat perhatian. Kita lebih bersuka-ria membincangkan seluk-beluk dunia Batu Akik, ketimbang menyimak retorika penguasa dengan segenap iming-iming kosong di layar kaca. Kalau sudah bicara, mulut mereka berbusa-busa, seolah-olah akan betul-betul bekerja menuntaskan segala persoalan. Tapi, angka pengangguran tetap menanjak tinggi, lapangan kerja langka, nilai-tukar rupiah kian merosot, Tarif Dasar Listrik (TDL) akan naik. Subsidi pupuk akan dicabut. Hukum tajam ke bawah. Ekonomi senantiasa payah.
Histeria Batu Akik setali tiga uang dengan antusiasme ibu-ibu rumah tangga saat menyaksikan prosesi pernikahan Raffi Ahmad yang disiarkan secara live oleh televisi swasta. Banyak pihak yang mengumpat, karena peristiwa private telah mencemari frekuensi pubik, dan oleh karenanya tidak patut dipertontonkan. Apalagi mempertontonkan kemewahan dalam situasi kepayahan yang sedang menjalar hingga pelosok-pelosok kampung. Tapi, tayangan infotainment dan sinetron adalah oase yang menyejukkan bagi mereka yang sudah jenuh, bahkan jengkel pada tayangan berita politik yang tak berakibat pada berubahnya peruntungan mereka. Apapun kebijakan pemerintah yang dimaklumatkan di media, hidup mereka begitu-begitu saja. Kamar rawat inap tetap penuh bagi para pemegang kartu BPJS. Layanan kesehatan bagi mereka tetap saja tidak manusiawi, meski itu bukanlah layanan gratis. Sebagaimana amanat Undang-Undang BPJS, rakyat membayar iuran--kecuali yang terkategori Penerima Bantuan Iuran (PBI), yang ditanggung APBN.
Maka, biarkanlah rakyat mencari hiburan sendiri, atau menemukan gelanggang pelarian, tepatnya. Infotainment, sinetron tak bermutu, Kucing Anggora, Bunga Antarium, Murai Batu, dan Batu Akik, adalah media hiburan baru di tengah padang gersang harapan di dunia nyata. Ia dapat menjinakkan keliaran dalam kekecewaan massal lantaran kemarau keteladan, harapan, dan masa depan. Batu Akik menyuguhkan eskatologi tersendiri. Banyak orang dibuat sibuk mencari, mengasah, dan memperjualbelikan mimpi-mimpi eskatologik yang tersembunyi dalam tarikh setiap batu. Tentang sakit yang bakal sembuh, rezeki yang akan berlimpah, karomah-karomah yang akan tiba dari pintu-pintu tak terduga, yang dikabarkan oleh berbagai pertanda dalam sekian banyak jenis Batu Akik.
Kegandrungan pada dunia batu yang hampir tak terbendung dewasa ini barangkali pula sebuah cakrawala pandang baru yang hendak memaklumatkan bahwa, moralitas kekuasaan masa kini sedang berada di ambang zaman batu. Keras dan culas. Cadas dan telengas. Menggergaji dalam permufakatan. Menggunting dalam lipatan. Balapan menangguk ikan di air keruh. Berkepala batu bila ditegur dan diingatkan. Mungkin hanya kaum penggenggam batu yang bakal sanggup membereskannya. Maka, Batu Akik akan senatiasa dipuja dan dirayakan, hingga datang idola baru yang lebih membahagiakan…    

Kami Mudik, Maka Kami Ada...


Damhuri  Muhammad



(artikel ini sebelumnya telah disiarkan di harian Kompas, 11 Juli 2015)
 

Silsilah linguistik mudik dapat diurai dari kata dasar udik. Dalam ungkapan yang menyehari, mudik jamak dipahami sebagai perjalanan menuju hulu. Oleh karena wilayah hulu itu jauh di pedalaman, terpelosok di lereng-lereng perbukitan, maka terminologi udik mengacu pada daerah pedesaan, atau perdusunan. Demikian peneliti Sastra Melayu, Maman S Mahayana, menjelaskan dalam sebuah konferensi di UI, beberapa tahun lalu.
Di sini makna udik  masih stabil, netral, dan tak bernada pejoratif.  Bila saya mengaku “orang udik,” itu hanya berarti, saya datang dari dusun pedalaman atau dari pelosok jauh. Tapi seiring dengan pesatnya pertumbuhan kota di berbagai wilayah, dan Jakarta terpancang sebagai parameter segala bentuk kemajuan, terma udik mulai memikul beban. Maknanya bergeser menjadi wilayah yang belum tersapu peradaban. Kampungan, tertinggal, terbelakang, melekat sebagai sidik-jari kata udik. Ia bertolak belakang dengan kemajuan, ketumbuh-pesatan, dan keterdidikan masyarakat urban.
Saban tahun, menjelang lebaran hingga selepas Idul Fitri, dua kutup yang bersimpang jalan itu, bertemu dalam momentum Pulang Mudik. Jutaan orang berduyun-duyun menuju kampung halaman. Betapapun kritisnya ekonomi keluarga, berlebaran tetaplah di tanah kelahiran. Semelonjak apapun ongkos mudik, tetap tak semahal kesempatan berkumpul dengan keluarga, dan sanak-famili di hari lebaran. Kita rela terjebak kemacetan berjam-jam lamanya, mau berhimpitan di atas motor bebek di bawah terik matahari siang, senang hati berdesak-desakan dalam antrean guna memperoleh tiket mudik. Penyair Leon Agusta, dalam Gendang Pengembara (2012) secara satiristik menggambarkan peristiwa itu. TOTAL KORBAN TEWAS DALAM 13 HARI/596 ORANG/Judul sajak ini adalah judul berita utama/pada sebuah koran Ibukota/Bukankah kami bahagia? (sajak Orang Jawa Mudik Lebaran).
Di masa lalu, bertemu dengan ibu-bapak dan segenap keluarga besar di tanah asal mungkin hanya dapat dicapai dengan perjumpaan fisik, dan pilihannya selalu jatuh pada momentum lebaran. Tapi, di era telpon seluler yang begitu massal ini, berbicara langsung dengan mereka saban pagi pun, nyaris tak ada kendala. Jalur transportasi udara memungkinkan penerbangan dari Jawa ke Sumatera, Kalimantan, atau Sulawesi ditempuh secara Pulang-Pergi (PP). Orang bisa mudik setiap akhir pekan. Tapi, pasalnya tak sesederhana itu. Mudik bukan hanya urusan sungkem pada ayah-ibu, bukan sekadar melunaskan kerinduan nostalgik pada alam kultural tempat kita tumbuh dan dibesarkan--sebelum merantau, lalu menjelma manusia urban.
Mudik juga ikhtiar melarikan diri dari kebisingan kota dengan segala persoalannya. Kemajuan, ketumbuh-pesatan, keterdidikan yang tadi  diniscayakan melekat pada insan perkotaan, tidak begitu dalam kenyataannya. Pergulatan demi pergulatan guna mempertahankan hidup di Jakarta misalnya, tidak lagi memungkinkan kita merawat akar keguyuban dan kehidupan komunal bawaan dari kampung. Rutinitas membuat orang kota menjadi individu yang gemar menyendiri di balik pagar rumah sendiri. Tak cukup waktu untuk bergaul, apalagi membaur dengan sesama warga kota. Kita riang dan antusias untuk bertemu klien atau rekan bisnis, tapi mencari banyak alibi guna menghindar dari forum arisan RT, atau pertemuan rutin komunitas perantau. Basis komunal telah beralih-rupa menjadi mental individual yang miskin kepekaan sosial. 
Di kota besar pula, karena himpitan banyak persoalan, kita hampir tidak mampu lagi mendefinisikan diri sebagai manusia. Pejalan kaki yang terengah-engah melangkah lantaran jalur pedestrian penuh-sesak oleh lapak kaki lima, masih mungkin ditabrak sepeda motor yang sewaktu-waktu memanjati trotoar, terutama saat kemacetan Jakarta sedang parah. Bila Tuan pengendara roda dua, cobalah sesekali berhenti guna memberi jalan pada pejalan kaki yang melintas. Bila kurang segera, Tuan akan dibombardir oleh suara klakson berantai yang dapat meremukkan gendang telinga, ditambah caci-maki, lengkap dengan bahasa dari  kamus kebun binatang.
Di titik ini, manusia urban tak lebih dari semut yang sewaktu-waktu bisa digilas kuasa jalanan. Jangan coba-coba menegur pedagang sayur di pasar tumpah yang sengaja menyumbat jalan umum dengan gerobaknya. Ia akan lebih sangar karena merasa telah membayar sewa entah pada siapa. Kota besar bagai rimba raya dengan aturan yang hanya melingkar di pangkal lengan. Siapa yang kuat akan aman, sebelum datang yang lebih kuat lagi. Sedangkan si lemah terpinggir ke tepi-tepi, sebagai kutu-kutu yang bisa diinjak sewaktu-waktu.       
Warga kota metropolitan, apapun profesi dan status sosialnya, tak lebih dari sekrup kecil dari sebuah mesin urban raksasa. Tak gampang menemukan medan aktualisasi diri, apalagi mencari pengakuan. Di atas langit, masih banyak lapisan langit yang lain. Di atas yang kaya, ada yang lebih kaya lagi. Di atas yang sukses, ada yang lebih sukses lagi. Di atas yang beringas, ada yang lebih beringas lagi. Penghargaan atas eksistensi personal--pekerjaan, jabatan, pendidikan--sulit direngkuh di padang gersang perkotaan yang panas, dan  tak manusiawi.
Di sinilah kerinduan pada “yang udik” terus menyala. Di kampung, Tuan bisa menangguk puja-puji sebagai saudagar tersohor. Boleh jadi pula ditahbiskan sebagai tauladan bagi calon perantau yang masih gamang untuk hengkang dari kampung. Tapi celakanya, orang kampung masa kini tidak lagi se-udik yang kita duga. Televisi yang saban hari mengumbar kemewahan lewat sinetron-sinetron tak bermutu, informasi yang mengalir deras bagai air bah berkat kecanggihan gawai, termasuk histeria politik lokal yang bergelimang iming-iming uang, telah mengubah mental mereka menjadi lebih urban, dan hedonistik ketimbang manusia urban sejati.
Maka, pengakuan itu semakin mahal harganya. Decak-kagum hanya tersedia bagi kepulangan yang menghela keberlimpahan dan rupa-rupa kemewahan. Mobil mewah seri terkini mesti merayap di jalan berlubang.  Derma dan sumbangan harus disebar di setiap penjuru mata angin, termasuk janji-janji memugar kantor desa yang rusak-parah. Bila syarat itu tak mungkin dipenuhi, masih bisa dengan sedikit kamuflase. Sewalah mobil rental lengkap dengan sopirnya, berlagaklah seolah-olah itu milik pribadi. Bila beruntung, orang kampung akan mengacungkan jempol. Inilah laku berminyak air. Hakikatnya air, tapi dipaksakan tampak sebagai minyak.
“Dulu pemudik membawa pengetahuan dan kisah-kisah sukses yang berfaedah, kini kita mudik hanya untuk pamer kekayaan,” begitu sinisme seorang netizen. Mudik mustahil dibendung. Rupa-rupa kepalsuan demi meraih aktualisasi diri akan semakin kreatif. Tapi, ada laku mudik yang sebenarnya lebih menjanjikan.Bukan kepulangan spasial-temporal yang berulang-ulang, tapi mudik substansial-transendental. Pulang ke pangkal jalan, ke ranah kefitrian, lalu bertahan untuk tidak kembali terkotori…

Tuesday, January 06, 2015

Lembar Sastra dalam Rimba Raya Cerita


Damhuri Muhammad

(Media Indonesia, 28/12/2014)



Bila tuan penyuka cerita, tuan tak perlu repot pergi ke toko buku, mengobrak-abrik rak buku fiksi guna menemukan jenis cerita yang sesuai selera. Di era  facebook dan twitter, keseharian kita sudah bergelimang cerita. Di mana pun tuan berada--sedang bersantai di rumah, menunggu pacar di restoran cepat-saji, di sela jadwal rapat yang padat, atau sekadar mengisi waktu dalam kalutnya kemacetan di Jakarta--tuan leluasa menyantap rupa-rupa cerita. Tuan tiada bakal kekurangan stok cerita. Sebab, ia melimpah-ruah dan beralih-rupa dalam waktu tak terduga. Tuntas satu cerita, tiba cerita baru yang lebih dahsyat, hingga dalam beban persoalan yang kian berat, kita sedikit terhibur, atau mungkin terpesona dibuatnya.
Ada kisah ringan tentang ibu rumah tangga yang “ngomel-ngomel” di dinding facebook lantaran fenomena “Jilboobs”--berjilbab di kepala, tapi menganga bagian dada (boobs)--yang seolah menyindir gayanya berbusana. Betapa tidak? Kepala memang sudah berkerudung, tapi wilayah dada masih membusung. Itulah awal mula isu “Jilboobs” bergulir dan menjadi pergunjingan yang sibuk di media sosial. Maklumlah, ibu muda itu baru saja terpanggil untuk berhijab, dan ia belum dapat meninggalkan penampilan seksi sebagaimana dulu. Ia sudah punya niat baik, tapi dunia maya malah menertawakan prosesi pertobatannya.  
Atau kisah tragis tentang bocah perempuan yang disiksa hingga meninggal dunia oleh ibu kandungnya. Pasalnya sepele; saat ditinggal di rumah, si bocah asik bermain corat-coret menggunakan lipstick milik ibunya. Ia memperlakukan lipstick mahal sebagai kapur tulis guna mencoreti dinding, daun pintu, hingga seprei. Setiba di rumah, ibunda marah bukan main. Tega ia menghajar anak manisnya. Menjambak rambutnya, menendangnya, hingga tersungkur di lantai, lalu mencekik anak-kandungnya itu hingga tewas. Tak lama berselang, ibu muda itu menemukan secarik kertas berisi tulisan pensil lipstick goresan tangan almarhumah gadis kecilnya; I Love Mama.
Ada pula ironi tentang perempuan bercadar yang sedang berbelanja di sebuah minimarket di Paris. Setelah mendapatkan barang-barang kebutuhan, lekas ia menuju kasir. Kasir yang dituju adalah perempuan keturunan Arab berbusana modern. Sinis ia menatap perempuan bercadar itu. Ia menghitung nilai barang-barang belanjaan perempuan bercadar, lantas melemparkannya secara kasar ke atas meja. Tapi perempuan bercadar begitu tenang, hingga kasir kian geram. "Kita punya banyak masalah di Prancis dan cadar kamu itu salah satu masalahnya. Di sini kita berbisnis, bukan untuk pamer agama. Kalau kamu mau mengenakan cadar, pulanglah ke negerimu dan jalani agamamu sesukamu!" Sesaat perempuan bercadar berhenti memasukkan belanjaan ke dalam keranjang. Lekas ia membuka cadar, lalu menatap mata kasir. Wajah di balik cadar ternyata wajah perempuan kulit putih dengan sepasang mata biru. "Aku perempuan Prancis tulen. Begitu pula ibu-bapakku. Ini Islamku dan ini negeriku. Kalian telah menjual agama kalian, dan kami membelinya."
Kisah-kisah semacam itu lalu-lalang saban hari.  Tak perlu repot mencari alamat situsnya. Cukup mengikuti dinamika linimasa (timeline) masing-masing media sosial. Setiap user akan mendistrisibusikannya kepada sesama pengguna. Mungkin pada mulanya tuan tak berminat, tapi karena tautannya terus-menerus menghujani linimasa, mau tak mau, tuan akan membacanya, suka atau tak. Inilah jaman ketika lubang kesendirian yang kita gali di dalam telepon pintar menjelma belantara cerita, belukar kisah yang rimbun dan subur, dengan dramaturgi yang dapat diuji ketajamannya, imaji tragik yang bisa dipertandingkan mutunya, elegi yang lebih menikam tingkat kepedihannya ketimbang cerita garapan pengarang sungguhan. Lalu, apa yang tersisa bagi cerpen koran?  
Cerpen koran tak bisa melarikan diri dari belantara maya itu, apalagi menganggapnya sebagai residu kelisanan belaka. Cerpenis yang tak memiliki kepekaan pada realitas ganjil yang sedang menggejala, akan terkepung dalam lingkaran keusangan yang kehilangan daya tariknya. Cerpen bisa tersingkir dan tergeletak sebagai teks lapuk lantaran tak disentuh pembaca. Sebab, cerita yang berseliweran di sekitar kita lebih tragik ketimbang teks sastra yang di masa lalu mungkin dipuja sebagai karya besar dan adiluhung. Maka, kreativitas untuk melahirkan bentuk-bentuk baru menjadi penting di ranah kepengarangan. Menemukan ide yang genuine memang bukan perkara mudah. Namun, bukan berarti kebaruan tak dapat digali, dan realisme udik tak bisa diperbarui.
Upaya-upaya eksperimental dalam merancang cerita menjadi salah satu pertimbangan rubrik cerpen Media Indonesia sepanjang 2014. Boleh jadi gagasannya adalah etika politik yang dekaden sebagaimana tampak pada Pilpres 2014, namun cerpen tak berpretensi menghisap realitas itu seutuhnya. Satmoko Budi Santoso dalam Peci Ayah (MI, 31/8/14) misalnya, hanya menggunakan imaji tentang peci yang melekat di kepala ketua RT. Lipatan peci yang biasa digunakan ketua RT untuk menyimpan uang, berkembang menjadi sumber kecurigaan warga, bahwa ia juga menyimpan uang hasil korupsi di situ. Simbol peci yang berkonotasi kesucian dikontradiksikan dengan watak korup yang bejat. Satmoko mengaburkan makna “peci’ menjadi dunia abu-abu. Keterpujian yang bersenyawa dengan ketercelaan, hingga keduanya tak dapat dipisahkan.
Dalam konteks berbeda, imaji tentang peci terulang pada Lelaki Berpeci  (MI,22/6/14) karya Yusri Fajar. Di sini peci dicurigai sebagai atribut yang erat kaitannya dengan radikalisme, sebagaimana imaji banyak orang tentang cadar dan sorban, sejak maraknya fundamentalisme agama di berbagai belahan dunia. Sekali lagi, cerpen mempertukarkan “yang putih” dan “yang hitam” dalam ruang metafiksionalnya. Bila etika dan agama menegaskan garis demarkasi bahkan menempatkan “yang mulia” dan “yang tercela” secara hierarkis, sastra bekerja mencampur-baurkannya, membuat keduanya berkelit-kelindan, hingga sukar memilahnya. Dalam “yang tercela” selalu saja ada “yang pantas dipuja,” atau sebaliknya.
Eep Saefulloh Fatah dalam Jaket Ayah (MI 4/5/14) juga menunjukkan upaya eksperimental serupa. Muka dua kaum politisi yang sudah jamak dalam penglihatan kita, tak direkam dalam gambaran utuh, tapi hanya dikisahkan melalui atribut partai di musim kampanye. Jaket yang sejatinya menjadi identitas sekaligus kebanggaan terhadap partai yang mengantarkan seorang politisi menjadi bupati, di tangan pengarang berbalik menjadi muasal kebencian, hingga Eep mengunci cerpennya dengan adegan seorang istri membakar jaket partai milik suaminya, lantaran kecewa pada lelaku politik yang telah mengubah suaminya menjadi individu ambisius, lalu menghalalkan segala cara demi merengkuh kekuasaan.
Upaya kreatif dalam pencarian bentuk baru telah memunculkan nama-nama baru dengan kedalaman refleksi dan keterampilan teknis yang layak diperhitungkan. Sebutlah misalnya, cerpen Keputusan Ely (MI 3/8/14) karya Dewi Kharisma Michellia, dan Kisah Sedih Kontemporer (MI, 7/12/14) karya Dea Anugrah. Michellia mengembangkan layar imaji tentang keretakan hubungan suami-istri yang berakibat berat bagi anak-anak usia pradewasa. Tak ada kekerasan, juga dialog-dialog yang menggambarkan perseteruan sebelum perceraian. Ia hanya membangun karakter Ely, yang mengangkut semua mainan kesayangan semasa masih bersama ayah kandung, ke rumah ayah tiri yang tidak ia sukai. Di sana, Ely merawat ingatan bahwa dirinya masih berada di pangkuan ayah kandung. Ruang penceritaan penuh dengan halusinasi tentang ayah yang hilang dan masa kanak-kanak yang lekas berlalu. Cerpen dikunci dengan penegasan bahwa sejatinya ayah Ely sudah lama meninggal dunia, hingga ceracau gadis kecil di sepanjang cerpen itu hanya sandiwara yang tak perlu. Tapi, imaji pembaca mustahil direnggut begitu saja. Problem psikis yang dialami Ely tetap menjadi “penyakit jiwa” yang bisa menimpa siapa saja.
            Dea Anugerah merancang sentimentalisme terhadap pseudo-romantika dunia maya. Cinta sejati, belahan jiwa, setia sampai tua sebagai “ideologi” dalam romantika masa silam hendak dipatahkan, atau ditempatkan sebagai jargon lapuk yang tak layak dipercaya. Kisah Sedih Kontemporer adalah kamuflase dalam hubungan percintaan modern. Banyak yang latah mengucapkan rindu dan cemburu dalam hubungan “terselubung” yang berlangsung tanpa perjumpaan fisik. Ada yang patah hati lantaran merasa dikhianati, frustasi hanya karena pasangan abai membalas pesan yang terkirim melaui private message, padahal mereka tak pernah bertemu-muka. Banyak orang terobsesi hendak meng-online-kan perasaan, tapi mereka kerap tersiksa, hanya karena mati lampu atau koneksi internet terputus tiba-tiba.
            Ekplorasi imajiner dengan corak kebaruan serupa dapat pula ditemukan pada Menara Dosa (MI, 13/7/14) karya Maya Lestari Gf,  Seekor Capung Merah (MI, 25/5/14) karya Rilda A. Oe. Taneko, dan Dunia Angka (MI, 27/4/14)  karya Wina Bojonegoro. Para pendatang baru yang patut jadi perhatian, setelah generasi Taufik Ikram Jamil, Arswendo Atmowiloto, Yanusa Nugroho, Gus Tf Sakai, Agus Noor, Ratih Kumala, Iksaka Banu--sekadar menyebut beberapa nama.
Demikianlah semestinya peran lembar sastra di harian dengan segmen pembaca umum. Ia mempertimbangkan bacaan yang tak hanya bisa dikonsumsi penyuka sastra, tapi juga dapat dinikmati oleh sebanyak-banyaknya pembaca. Selain itu, lembar sastra tak melulu mengisi ruangnya dengan nama-nama besar, tapi memberi peluang pada nama-nama baru dengan mekanisme kuratorial yang ketat dan terukur. Maka, tunai pula tugas koran selanjutnya; melahirkan cerpenis baru guna memperkaya khazanah sastra. Jayalah terus cerpen Indonesia…



Damhuri Muhammad
Kurator cerpen lembar sastra Media Indonesia