Search This Blog

Friday, July 24, 2015

Pergaulan Tanpa Perjumpaan


Damhuri Muhammad



(artikel ini sebelumnya telah tersiar di harian Kompas, 18 April 2015)


Sepuluh  tahun  lalu, warung kopi barangkali masih lazim menjadi tempat berkumpul, ruang yang lapang untuk bertemu-muka, dan bercengkrama dengan kawan-kawan sebaya. Tapi di era digital ini, kedai kopi--atau yang di kota-kota besar dimoderenkan menjadi cafe--telah beralih-rupa menjadi ruang untuk bersembunyi, tempat yang paling layak guna mengasingkan diri. Saban petang selepas jam kerja, dua orang yang selama berminggu-minggu duduk berdampingan meja di café yang sama, bisa tidak saling menyapa, apalagi  berkenalan.
Masing-masing sibuk dan asyik memencet keypad telpon pintar, tanpa peduli kanan-kiri. Keganjilan itu lumrah dan mungkin bisa dimaklumi, karena hampir semua pengunjung di café itu datang dengan itikad yang serupa; mencari kesendirian. Maka, jangan mengharapkan ada tegur-sapa yang ramah di sana--sebagaimana perjumpaan di kedai kopi masa silam--kecuali basa-basi yang tampak sangat dipaksakan.
           Ini pula yang terjadi saban pagi di gerbong-gerbong kereta api listrik (commuterline) di Jakarta. Dalam situasi keberhimpitan--ketika lutut nyaris tak bisa digerakkan dan kuduk hampir beradu dengan siku penumpang lain--setiap orang masih nyaman dan tampak lincah memainkan tombol-tombol telpon pintar dengan sebelah tangan, sementara tangan satu lagi tetap kuat berpegangan. Orang-orang yang bahu dan lengan mereka setiap hari saling bersentuhan di gerbong yang sama, boleh jadi tak pernah saling menyapa, apalagi berbincang dengan saling bertatapan, karena mereka mempercayai dunia lain yang lebih  menggembirakan; media sosial. Bahkan, agar terhindar dari percakapan, banyak yang sengaja memasang perangkat handsfree di telinga masing-masing. Bagaimana kalau ada yang tiba-tiba pusing, lalu pingsan dalam situasi penuh-sesak itu?
            Beberapa orang sahabat lama yang bertemu setelah belasan tahun mereka terpisah oleh jarak dan waktu, kecewa karena reuni singkat itu jauh dari harapan. Betapa tidak? Setelah berbasa-basi sekadarnya, lantas sedikit bernostalgia tentang masa-masa bersama di sebuah restoran, satu per satu kemudian sibuk dengan gawai sendiri-sendiri. Meja pertemuan yang semula dibayangkan bakal riuh dan riang, tiba-tiba sunyi dari obrolan dan canda-tawa. Kerinduan yang meluap-meluap itu tak terlunaskan. Rencana pertemuan selanjutnya mungkin tak layak dilanjutkan. Reuni itu dingin dan tak bermutu.
            Begitulah kemarau kehangatan yang sedang melanda, karena kita gandrung bersembunyi di rumah virtual dalam telpon pintar. Hubungan persahabatan yang secara manusiawi direkat oleh ekspresi muka yang berseri-seri, kini menjadi sekadar angka-angka jumlah friendship di facebook, jumlah follower di twitter dan instagram. “Untuk apa berjumpa bila setiap urusan beres dengan cara mengudara di dunia maya,” begitu kira-kira semboyannya. Lalu, di mana wajah (le visage) yang dalam gagasan filsuf Emmanuel Levinas (1906-1995) dipandang sebagai syarat utama perjumpaan? Bagi Levinas, hidup bersama adalah hidup yang terus berdenyut dengan pertemuan antarwajah. Demikian pula dengan keseharian kita. Kekariban sesungguhnya hanya terwujud atas dasar muka bertemu muka. Ekspresi dan emosi yang terpancar di raut wajah adalah bagian paling inti dalam relasi persahabatan.
            Pada tingkat yang lebih janggal, telpon pintar telah sukses membuat banyak orang gamang pada perjumpaan. Banyak yang hampir percaya, bukan hanya muka dan segenap anggota tubuh, tapi perasaan juga bisa di-online-kan. Sepasang kekasih merasa telah berbahagia dengan romantika artifisial via blackberry messenger (BBM) atau whatsapp messenger (WA). Keduanya saling berimajinasi, memupuk kerinduan, saling bertukar-gambar, tapi takut menghadapi perjumpaan fisik. “Jumpa-darat”  hanya akan menggerogoti angan-angan dan khayalan, mendistorsi semarak-nyala kerinduan, dan sangat mungkin menyebabkan perpisahan. Tapi, apanya yang berpisah? Bukankah bertemu saja belum?
            Di masa lalu, bila kita hendak mencari sebuah alamat, ada pribahasa lama yang selalu memandu; malu bertanya sesat di jalan. Maka, sebelum tiba di tujuan, kita bisa dua-tiga kali bertanya pada warga sekitar. Bukan bertanya pada aplikasi Global Positioning System (GPS) di perangkat telpon pintar, sebagaiman kini. GPS mungkin tak pernah salah dalam menunjuk arah, tapi ia mengasingkan para penggunannya dari relasi sosial yang lumrah, menjauhkan kita dari keramahan (hospitality) yang sejak lama telah menjadi basis kebudayaan kita. Banyak orang tak lagi mengandaikan keberadaan manusia di sekitarnya, atau bahkan tidak lagi memerlukannya. Bila tersesat, bukankah ada nomor yang bisa dikontak? Tapi bagaimana kalau signal tiba-tiba hilang, atau telpon pintar tiba-tiba kehabisan daya?
         Demam gawai tak mungkin dibendung. Harganya semakin terjangkau. Selain karena iming-iming cicilan ringan, kita memang gemar berbelanja barang-barang yang sebenarnya tak dibutuhkan. Menurut data terkini Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik, Kemkomimfo RI, seperti diberitakan Kompas (13/4/2015), sejak 2013, jumlah gawai yang terdiri dari telpon pintar, komputer genggam dan komputer tablet, telah melampaui jumlah penduduk Indonesia. Jumlah gawai 240 juta unit, sedangkan jumlah penduduk Indonesia sekitar 230 juta. “Jangankan anak-anak sekolah, tukang beruk pun kini punya hape,” begitu sinisme seorang petani di kampung saya, saat anak perempuannya--kelas III SMP--merengek-rengek minta dibelikan telpon genggam layar-sentuh. Di desa pedalaman, seorang petani lebih gelisah bila tak ada pulsa di telpon genggamnya, ketimbang tak ada beras di dapurnya.
            Di pelosok-pelosok jauh, dalam jarak hanya empat-lima rumah, seorang ibu rumah tangga yang hendak meminjam wajan  dan rupa-rupa perkakas makan untuk sebuah hajatan, tak perlu berjalan kaki menyampaikan maksudnya. Cukup dengan menelpon, dan beres persoalan. Tapi, bagaimana dengan kekerabatan bertetangga yang dulu berpijak pada hubungan antarmuka? Bagaimana dengan etos keguyuban yang tak mungkin ada tanpa bertemu-muka? Rumah virtual yang kita pancangkan di telpon genggam telah merenggutnya sedemikian rupa, hingga kita merasa tidak lagi butuh perjumpaan ragawi. Dunia cyberspace memang telah melipat ruang spasial, tapi pada saat yang sama, ia juga menggali jurang sosial yang nyaris tak terjembatani. Inilah etos pergaulan tanpa perjumpaan di era digital. Alih-alih memperkokoh relasi sosial, ia justru melahirkan personalitas yang a-sosial…


No comments: