Search This Blog

Wednesday, January 27, 2016

Terorisme dan Bunuh Diri Ganda

-->
 
-->
Damhuri Muhammad

 
-->

(versi cetak kolom ini tersiar di majalah Esquire Indonesia, edisi Januari 2016)




Luka yang menganga di Paris, selepas peristiwa berdarah 14 November 2015, adalah luka yang perih bagi seluruh umat manusia. Ratusan orang tak berdosa tewas di gedung teater Bataclan, saat menyaksikan aksi panggung band rock asal California (AS), The Eagles of Death Metal. Penonton panik, lalu berhamburan mencari perlindungan, lantaran digasak tembakan membabibuta. The Guardian (14/11/15) melaporkan, 89 orang tewas di sana. Nick Alexander, merchandis manager TEODM, salah satu korban tewas malam itu. "Ia berdarah karena tak ingin orang lain tersakiti," ungkap Jesse Hughes, vokalis TEODM sambil bercucuran airmata.
Darah juga tertumpah di Stade de France, stadion sepakbola kebanggaan Perancis, saat laga persahabatan Perancis-Jerman berlangsung, dan presiden Francois Hollande yang berada di lokasi segera diamankan. Dari enam lokasi penembakan (disertai penyanderaan), dan ledakan akibat bom bunuh diri, 129 orang tewas, 89 di antaranya di teater Bataclan, 352 orang lainnya cedera, termasuk 99 yang luka serius. The Telegraph (14/11/15) menulis, serangan itu aksi paling mematikan di Perancis sejak Perang Dunia II, dan di Uni Eropa sejak bom kereta api Madrid 2004.
            Beberapa hari selepas itu, media-media internasional penuh sesak oleh kosakata Terorisme, ISIS--yang mengklaim sebagai pihak yang bertanggung jawab--serta Perang atas Terorisme. Kemarahan yang sedemikian murka itu kembali mengingatkan kita pada maklumat George W Bush, selepas malapetaka 9/11 (2001). Ini bukan perang bangsa Amerika. Apa yang terguncang bukan hanya kebebasan Amerika. Ini perang dunia. Ini perang peradaban.
            Tapi, bagaimana cara memerangi terorisme? Ia bagai makhluk tanpa tubuh. Bila disebut musuh, ia musuh-musuh tak berteritori, laksana jiwa-jiwa yang bergentayangan, di mana-mana. Meski banyak yang mati, itu hanya mati-raga, bukan mati-sukma. Terorisme tak akan bisa mati, lebih-lebih sejak kosakata “terorisme” itu sendiri dilahirkan, atau lebih tepatnya; diciptakan. Para filsuf mengamsalkannya seperti unslaying hydra, hewan imajiner dalam mitologi Yunani, yang tak bisa mati. Dalam khazanah cerita wayang Jawa, ia seperti Candabirawa, raksasa sakti, jimat raden Narasoma, yang patah tumbuh, hilang berganti.




Perancis, sesungguhnya tak berjarak dengan terma “teror.” Adalah Pierre-Joseph Proudhon (1809-1865), politisi Perancis sendiri, yang pertamakali menggunakan kata itu. Proudhon mendeklarasikan diri sebagai anarkhis tulen, penganut anarkhisme yang bercokol di era Revolusi Perancis. Penganut anarkhisme Rusia, Mikhail Bakunin (1814-1876)--sebagaimana dicatat  Teguh Wahyu Utomo--menetapkan langkah-langkah penting dalam usaha menghancurkan struktur sosial, di antaranya;  bunuh mereka yang paling cerdas; culik orang kaya dan orang berkuasa; susupi para politisi (untuk menjatuhkan mereka); bantu penjahat (untuk membingungkan masyarakat tentang hukuman dan keadilan); bela mereka yang membuat pernyataan berani dan berbahaya; dan matangkan para pendukung kehancuran sistem sosial. Sejak 1875 hingga 1912, kaum anarkhis membunuh, atau berusaha membunuh para pemimpin puncak di sembilan negara--termasuk Presiden AS, William McKinley, pada 1901. Di era 1970-an, Brigade Merah berhasil menghabisi PM Italia, Aldo Moro. Kelompok teroris abad 20 antara lain, Tentara Merah di Jepang, Baader-Meinhof di Jerman, Weatherman di AS, gerakan Zapatista di Meksiko, hingga Al Fatah yang melawan Israel di Palestina.
Bagi filsuf Antonio Negri (2004), terorisme adalah konsep politik. Ia merujuk pada tiga fenomena utama; pembangkangan pada pemerintahan yang sah, aksentuasi kekerasan politik oleh negara terhadap warganya, dan penggunaan kekuatan yang menyalahi rules of engagement, misalnya penyerangan terhadap warga sipil. Dengan begitu, pijakan utama dari terorisme adalah politik. Bukan agama, sebagaimana yang disangka selama ini. Pemikir muslim, Bassam Tibi (1988), menegaskan bahwa fundamentalisme yang melahirkan terorisme adalah sebuah ideologi politik, bukan agama Islam. Fundamentalisme adalah ketaatan pada keyakinan dengan cara pandang politis. Membedakan antara Islam sebagai keimanan dengan ideologi politik Islam sebagai fundamentalisme agama, sangat penting,  untuk menyangkal klaim para teroris sebagai representasi Islam.
Itu sebabnya, filsuf Slavoj Zizek, dalam Robespierre: Virtue and Terror (2007)--sebagaimana dikutip Zen R.S (2015)--tak bisa membuat jarak antara politik dengan kekerasan. Robespierre yang menjadi pusat kajian Zizek dalam buku itu, adalah pemimpin kelompok teroris Jacobin, yang mengambil-alih Perancis pasca revolusi 1789. Mereka menghancurkan Bastille dan melengserkan Louis XVI. Lalu muncullah “rezim teror” yang dipimpin Robespierre dengan para kaki-tangan yang sangat ganas. Siapapun yang kontra-revolusioner mereka habisi. 20 ribuan nyawa melayang di masa kepemimpinan Robespierre. Termasuk Raja Louis XVI dan Ratu Antoinette (Zen RS,  2015).
Filsuf Perancis Jacques Derrida (1930-2004) membaca retorika “terorisme” dan “perang atas terorisme” dengan logika “oto-imunitas” (auto-immunity), yang berkesimpulan bahwa, keduanya sama-sama bermasalah, dan pada tingkat yang paling nyata, sama jahatnya. Subyek teroris yang terus melakukan perlawanan--tapi pada saat itu pula menyudahi  hidupnya dengan bom bunuh diri--sama bermasalahnya dengan kedigdayaan adikuasa AS dan sekutu Eropanya, yang mendabik dada hendak membasmi terorisme, termasuk negara-negara yang dituding melindunginya (Irak, Afghanistan, atau Palestina). AS dan sekutunya, tak pelak lagi, kemudian menjadi penyebab dari kejahatan yang hendak diberantasnya. “Begitu seterusnya, sampai tak berkesudahan,” kata Derrida, dalam sebuah wawancara dengan Giovanna Borradori pasca peristiwa 9/11. Hasil wawancara itu dibukukan dalam Philosophy In a Time of Terror (2003).
Pelaku teror adalah personalitas yang terbelah. Ia berdoa bagi terciptanya dunia baru yang bebas dari penindasan dan hegemoni, tapi kemudian ia menghancurkan dirinya sendiri, bersama korban-korban yang dikehendakinya. Setali tiga uang dengan negara adikuasa yang melatih dan mempersenjatai kelompok mujahidin Afghanistan guna melawan invasi Soviet. Setelah Perang Dingin usai dan AS ternobat sebagai jawara, kelompok terlatih itu berbalik menyerang tuannya. Bagai petaka membesarkan seekor anak singa. Setelah besar, ia memangsai orang yang telah menghidupinya.  
Inilah bunuh diri ganda. Baik terma “terorisme” maupun “perang atas terorisme” sama-sama mengandung cita-cita mulia mewujudkan tata dunia baru dengan basis ideologi yang saling berpunggungan, tapi pada saat bersamaan, keduanya sama-sama bunuh diri. Lingkaran setan tak berkesudahan. Celakanya, dua terma besar ini telah menjadi kata kunci, bahkan “berhala” dalam arus pemberitaan yang tak terbendung di media-media abad mutakhir ini. Terorisme, seperti disinyalir Magnis Suseno (2009), bukan kata yang konsisten. Dua pemimpin kelompok teroris Yahudi, Yitzhak Shamir dan Manachem Begin, berhasil menduduki kursi PM Israel. Sebelum itu, keduanya tercatat sebagai pemimpin “Palmach” (1940) dan “Irgun” (1944), organisasi teroris paling dibenci Inggris dan dunia internasional. Teroris yang dulu dikutuk dan dicela, kini dipuja sebagai pahlawan.
Terorisme tak bisa diniscayakan begitu saja bentuk tubuhnya, sidik-jari ideologinya, muasal etos perlawanannya, lalu genderang perang ditabuh guna membinasakannya. Sepanjang kesewenang-wenangan makna dipaksakan pada terma “terorisme” dan “perang atas terorisme”--yang tak henti-henti dikampanyekan--bunuh diri ganda tak akan berakhir. Telinga dunia akan terus mendengar lafal doa dari orang yang memohon keselamatan, tapi pada saat yang sama juga mendengar isak-tangis yang menyeruak dari upacara-upacara pemakaman…


Tuesday, January 05, 2016

Leon Agusta dan Mantra Hukla


Damhuri Muhammad

  


(Versi cetak artikel ini tersiar di harian kompas, Minggu 3 Januari 2016)



Serpihan  kenangan  tentang sebuah peristiwa mungkin sudah tertimbun oleh tarikh dan riwayat baru. Namun, sebuah bunyi yang pernah bergaung dalam peristiwa usang itu bagai tiada pernah kehabisan tenaga guna membangkitkan ingatan lama. Sengaja atau tak, begitu bunyi itu hadir kembali, kesadaran masa kini bagai direnggut untuk mundur jauh ke masa silam. Bila kurang yakin, cobalah putar sebuah lagu lawas yang pernah Tuan dengar bersama kekasih masa lalu yang sudah hilang entah di mana. Demikianlah kedigdayaan bunyi. Ia dapat diredam, tapi mustahil dimusnahkan.         
Bila ada hal-ihwal yang berat untuk dibahasakan, bila kata tidak lagi sanggup menunaikan maksudnya, orang akan bilang: “Biarlah gendang yang menyampaikan.” Yang tak terlunaskan oleh bahasa verbal, biarlah ditunaikan oleh bunyi. Dalam kearifan Minangkabau kerap muncul ungkapan: “Saluang sajalah yang mendendangkannya.”  Risau hati, kecamuk rindu, amarah yang mengendap, kadang-kadang sukar dimaklumatkan dengan perkakas kelisanan. Maka, pilihan akan jatuh pada gedebuk gendang, gesekan rebab, atau dendang saluang, yang dapat mengabadikan bunyi. Ia tidak saja kekal dalam ketajaman, tapi juga setia merawat kenangan.
         “Hukum kekekalan bunyi” ini menjadi bagian penting dari pengembaraan puitik dalam Gendang Pengembara (2012) antologi puisi penghabisan Leon Agusta. Sejumlah sajak dalam buku setebal 235 halaman itu menyuarakan bunyi “Hukla” sebagai syarat-rukun paling mula. Dalam “Kata Pengantar Pada Hukla” (1977), bunyi ganjil itu boleh jadi sebuah isyarat tentang trauma akibat perang saudara (PRRI). Waktu masih kecil/sampai tamat sekolah menengah/aku sangat suka menyanyi/konon kata orang suaraku bagus sekali/kemudian datanglah perang saudara/senapan dan meriam gantikan pantun dan kecapi/aku berhenti menyanyi/aku harus pandai mendengar/kalau bicara mesti berhati-hati/hingga kini aneka perang saudara tak pernah reda/sengketa demi sengketa silih berganti/aku sudah lama tak lagi bisa menyanyi. “Hukla” memang belum tersuarakan dalam kalimat-kalimat itu, tapi judul “Kata Pengantar Hukla” hendak mengarahkan kita pada musabab lahirnya bunyi itu; dari lantunan suara yang tertata dan rapi-irama, menjadi lagu yang kacau-nada, sumbang-suara; Hukla. 
foto: damhuri muhammad

   
            Boleh jadi “hukla” dalam sajak itu tidak hendak ditegakkan sebagai kata sifat, tapi sebagai pertanda yang sumir perihal mentalitas yang rapuh─lagi-lagi akibat trauma perang saudara─hingga subjek yang sedang dibincangnya mudah tergelincir menjadi pribadi berperangai bejat: korupsi. Sudah kusia-siakan suaraku yang indah/yang dikaruniakan Tuhan kepadaku/aku telah korupsi. ya, Tuhan/kini aku ingin bisa menyanyi kembali/bicara bebas dengan suaraku yang indah dan lepas/tapi mungkinkah, aku justru semakin berhati-hati/siapakah pelindungku, bila aku berhenti korupsi/Hukla? Bila tidak trauma akibat perang saudara, tidak pula menjelaskan gelombang dekadensi, agaknya “Hukla” pada sajak itu masih dapat disimak sebagai timbangan yang menyama-berat-kan antara situasi perang saudara yang mengakibatkan tersumbatnya segala mata air bunyi, dengan tertutupnya semua pintu kejujuran akibat kerakusan hendak mengambil segala yang bukan hak.
            Dalam “Hukla Final Pacuan Kuda” (1977), semula bunyi itu dapat disimak sebagai lantang-teriak para petaruh guna menghalau kuda jagoan masing-masing, supaya berlari secepat-cepatnya hingga menjadi kuda pertama yang menginjakkan kaki di garis finish, atau sekadar bunyi lecutan cambuk para joki lantaran hasrat hendak menjadi nomor satu, yang lamat-lamat terdengar sampai ke balkon penonton. Tapi “Hukla” agaknya juga sedang menyembunyikan keresahan bila kuda jagoan pada akhirnya kalah. Ia seperti hendak menggambarkan wajah-wajah tegang karena bayangan kekalahan, yang tentu akan memalukan. Maka, “Hukla” dapat pula menjadi bunyi detak jantung yang kian lama kian kencang, karena rasa takut pada kekalahan.
Tapi, Leon malah menyudahi sajaknya begini; dalam pacuan itu/tak ada pemenang nomor 2/kuda yang dipacu/hanya satu. Riuh gelanggang pacuan senyap seketika. Begitu pula dengan was-was pada kekalahan. Ini menggugurkan semua dugaan yang mungkin tentang makna “Hukla”. Ia yang semula menggambarkan hingar-bingar gelanggang pacuan, tiba-tiba sunyi. Bila hanya ada 1 ekor kuda, mana mungkin ada risau? Mana mungkin ada kelebat lecutan cambuk joki yang terobsesi hendak menjadi nomor satu? Kuda tunggal pastilah menang, bahkan sebelum ia turun ke gelanggang. Sampai di sini, “Hukla” adalah alegori tentang otoritarianisme. Ada isyarat tentang pemujaan, decak-kagum, pengkultusan. Bukan karena kepantasan, tapi karena ketakutan yang terus diproduksi oleh penguasa. Dengan begitu, bunyi “Hukla” ternyata masih mengandung irama yang menakutkan. Di lain waktu, “Hukla” bisa beralih-rupa menjadi arus kemarahan yang sukar dielakkan. Bukankah rasa takut, perasaan terancam, dan pedihnya penghinaan, dapat membangkitkan keberanian yang tak terbendung? Wajah mereka yang selalu takut memang tak indah/wajah mereka yang selalu cemas memang tak bergairah/tapi mereka bisa nekad tiba-tiba/Hukla (“Wajah  Mereka,” 1979).
Nun di pedalaman Sumatra, tersebutlah seorang lelaki pemetik petai rimba bernama Tongkin. Ia dikenal sebagai manusia rimba lantaran lebih kerap tinggal di hutan ketimbang di rumahnya. Ia turun ke kampung bila petai hasil penjatannya sudah cukup untuk dijual, atau bila ada panggilan-panggilan khusus dari tetua kampung lantaran soal-soal genting yang tak beres. Misalnya, ada centeng dari kampung-kampung lain yang memeras petani-petani tembakau. Mereka sukar dilumpuhkan karena rata-rata kebal senjata. Maka, yang sanggup menghadapinya hanya si manusia rimba. Di tangan Tongkin, tak ada orang yang benar-benar tahan-bacok. Tak bisa ditikam dengan lading atau belati, dengan ilalang atau butiran padi ia menghabisinya. Bila tak mempan, tibalah saatnya ia mengerahkan kesaktian paling ampuh. Ia akan meneriakkan sebuah kata yang tak bisa dipahami artinya, di pangkal kuping centeng itu. Seketika si begundal akan menggigil ketakutan, lalu lari sekencang-kencangnya. Selepas itu, dapat dipastikan ia tak akan muncul kembali. Seumur-umur ia tidak akan berani lagi menginjakkan kaki di kampung ini. Begitu Tongkin menegaskan. 
Ini pula yang terjadi pada suatu musim kering, sapi peliharaan orang kampung Tongkin kerap menjadi mangsa kawanan harimau yang turun gunung. Tongkin lagi-lagi memaklumatkan teriakan keramat di mulut rimba pada suatu petang. Huaaaaaaaaaaaaaaa, uwiwua, uwiwua, huaaaa…begitu kira-kira teriakan Tongkin, sebagaimana dikisahkan oleh tetua kampung. Sejak itu, pada musim kemarau paling ganas sekalipun, tiada seekor harimau pun yang berani masuk kampung. Orang-orang percaya, kawanan binatang buas itu tidak saja dibuat ketakutan, tapi juga punah akibat mantra keramat Tongkin. Menakutkan, sekaligus mematikan. “Hukla,” bunyi otentik dalam sajak-sajak Leon, mengingatkan saya pada mantra si manusia rimba. Menusuk-menikam, dan mematikan.
Leon sudah tiada. Ia berpulang pada Kamis (10/12/2015) di usia 77 tahun. Penyair flamboyan, salah satu penandatangan Manifesto Kebudayaan (Manikebu), dan alumni International Writing Program, Iowa City, AS (1975) itu telah pergi, tapi  mantra “Hukla” akan terus menggema di telinga kita. Selamanya…