Search This Blog

Wednesday, November 30, 2016

Dalam Kebencian, Cinta Tak Hilang…


 
Damhuri Muhammad


 (versi cetak artikel ini tersiar di harian Kompas, Selasa, 29 November 2016)


“Bayangkanlah seorang gadis belia di Israel. Ia hidup di zona nyaman dan tak pernah bertemu muka dengan orang-orang Palestina”, demikian salah satu penggalan percakapan Niza Yanay, penulis buku Ideology of Hatred; The Psychic Power of Discourse (2012) dalam sebuah wawancara yang disiarkan oleh www.aljazeera.com (14/11/2012). “Secara personal, mungkinkah gadis itu memiliki kebencian terhadap warga Palestina atau semua orang Arab? Tapi,  kenapa begitu banyak warga Israel--yang tak pernah dilukai oleh rakyat Palestina--kemudian membenci saudara-saudaranya di Palestina?” lanjut Niza, menjelaskan bagaimana cara kebencian bekerja. Baginya, kebencian bukan lagi sekadar hasrat yang membara di labirin personal, tapi kesadaran palsu yang sudah bergerak secara massal, karena dikendalikan oleh sebuah kekuatan yang tak kasat mata. Atas dasar itu, ia berkesimpulan, kebencian telah beralih rupa menjadi ideologi.
            Dalam realitas politik di Indonesia hari ini, pengandaian associate professor Departemen Sosiologi dan Antropologi Universitas Ben Gurion, Beer Sheva (Israel) itu cukup masuk akal. Mungkinkah seorang anak muda di pedalaman Sumatera bisa membenci sejawat dunia mayanya--katakanlah ia bermukim di Jakarta--meskipun keduanya tak pernah bertatap muka secara langsung? Tapi di media sosial, dua anak muda yang berbeda pilihan politik itu tiada henti-henti saling memaki, tiada sudah-sudah saling menyerang--dengan berbagai macam argumen, alibi, dan fitnah guna mempertajam kebencian masing-masing--dan tak kunjung letih dari aktivitas saling mengejek, saling mempermalukan, saling menantang.
            Pengandaian Niza Yanay dapat pula diputarbalikkan ke kutub yang berlawanan. Bagaimana mungkin dua orang yang bersahabat karib selama bertahun-tahun, hidup setikar-setempat tidur, lapar-kenyang dan sedih-riang bersama, bisa pecah kongsi kemudian saling membenci, karena berbeda pilihan politik dalam sebuah kontestasi Pilkada? Dalam perseteruan yang berkesinambungan itu, ucapan selamat ulang tahun, atau ungkapan turut berduka pun dapat ditimbang sebagai muslihat dan ancaman. Pilihan politik yang berbeda telah mengakibatkan jembatan persahabatan mereka runtuh, pertemanan yang karib pecah berkeping-keping, dan yang tersisa hanyalah kebencian.









            Inilah sisi tak terbayangkan dari pergaulan dunia maya yang sedang merebak di mana-mana. Di awal pertumbuhannya, media sosial mendekatkan kembali semua yang renggang, menyatukan kembali orang-orang yang terpisah selama bertahun-tahun, dan menghadirkan rasa menemukan bagi sekian banyak orang yang dulu merasa kehilangan. Media sosial juga dapat membiakkan kasih sayang dan cinta di antara orang-orang yang sebelumnya tak pernah bertemu muka. Banyak orang, yang sedemikian bahagianya menikmati asmara tanpa temu muka, lalu menganggap perjumpaan fisik hanya akan menyusutkan kedalaman perasaan mereka. Namun pada sisi yang kelam, pergaulan dunia maya juga dapat menjauhkan yang semula berkerabat, merenggangkan yang semula akrab, menghancurkan banyak hubungan persahabatan, dan menistai etos kepedulian yang telah dibangun sejak lama. Kehangatan, kebersamaan, dan solidaritas berubah wajah menjadi sinisme, kedengkian, dan caci-maki yang tiada henti, hanya karena pilihan politik yang berseberangan. Seorang tokoh penting tidak lagi dianggap sebagai bagian dari kampung halamannya, lantaran ia memiliki pandangan yang  berbeda dengan orang-orang di tanah kelahirannya. Sejak kapan berbeda pendapat menjadi dalil guna membenci seseorang? Begitu pertanyaan seorang kawan di laman medsosnya.
            Tentang hal ini, ada pelajaran berharga dari persahabatan Buya Hamka dengan Mr. Mohamad Yamin, sebagaimana diikhtisarkan kembali oleh situs www.ranah.id (12/11/2016). Sidik jari politik Yamin adalah PNI, sementara Hamka mewakili Partai Masyumi yang menghendaki Islam sebagai ideologi negara. Pidato keras Hamka di konstituante menjadi awal mula permusuhan keduanya. Bagi Yamin, Hamka bukan hanya musuh ideologis tapi juga seteru pribadi. Setelah konstituante dibubarkan dan Demokrasi Terpimpin dijalankan, Yamin menjabat sebagai Menteri Sosial dan Kebudayaan, sementara Partai Masyumi dibubarkan. Hamka kian terjepit karena tuduhan keterlibatan Masyumi dalam PRRI/Permesta. Sikap Yamin yang memusuhi PRRI di kampung halamannya membuat ia terus dipercaya dalam pemerintahan. Pada 1962, Chairul Saleh mendatangi rumah Hamka. Menteri Perindustrian itu membawa pesan dari Yamin yang sedang sakit di RSPAD. Pada musuh ideologisnya itu, Yamin meminta agar ia didampingi menjelang akhir hayatnya, dan jika Hamka berkenan agar memakamkan jenazahnya di Talawi, Sijunjung. Yamin khawatir, orang kampungnya tidak mau menerima jenazahnya, karena sikapnya yang memusuhi PRRI. Permintaan itu ikhlas ditunaikan oleh Hamka. Yamin meninggal dalam genggaman tangannya di RSPAD. Hamka pula yang mengantarkan jenazah Yamin ke Minangkabau. Kisah ini membuktikan ungkapan Niza Yanay; In hate, love is never lost  (dalam benci, cinta tak pernah hilang).  
            Kini, dalam arus kebencian yang begitu deras, ikhtiar menyampaikan pendapat pribadi saja bukanlah perkara yang gampang. Di musim Pilkada, bila dilakukan secara terang-terangan, itu sama saja dengan berdiri di hadapan gerombolan anak-anak berandalan dengan ketapel di genggaman masing-masing. Inilah risiko yang mesti ditanggung orang-orang yang hidup di era personal politic. Tak ada yang tak bisa dikaitkan dengan politik. Sekadar menginformasikan kemacetan parah selepas hujan di jalur tertentu, bisa ditanggapi sebagai sikap politik. Ibu rumah tangga yang mengeluh tentang harga cabai yang terus melambung, adalah juga pernyataan politik yang bisa direspon macam-macam. “Tak ada yang kebal dari jaring laba-laba politik. Dunia sedang bernapas politik. Makan politik. Berak politik”, kata sastrawan Argentina, Luisa Valenzuela.
            Begitu pula ideologi kebencian bekerja. Kebencian bukan lagi hasrat individual, tapi hasrat komunal untuk bertahan dari rasa takut. Dalam iklim Pilkada, tentulah itu rasa takut akan kekalahan. Iklim politik yang minim pikiran, menyambut baik karnaval kebencian itu. Bila realitas politik di masa lalu adalah arena pertarungan gagasan demi kemaslahatan bersama, politik masa kini semata-mata meringkus kuasa dengan karnaval kebencian sebagai kendaraannya. Selepas kompetisi, kebencian tak menyusut, ia meluas ke mana-mana. Dalam kebencian, cinta mungkin tak hilang, tapi akal sehat yang sekarat bisa mengubah pesta demokrasi menjadi sekadar kisah panjang tentang sumbu-sumbu yang pendek…      
           
           
           

Monday, November 07, 2016

Nelayan yang Malas Melepas Jala



Damhuri Muhammad


(versi cetak dari cerita ini telah tersiar di harian Kompas, Minggu 6 November 2016)


Bagaimana sebaiknya kau mengumpamakan persekutuan dua manusia yang sama-sama meringkuk di lubuk asmara, tapi tak mungkin hidup bersama? Seorang penasihat hubungan percintaan spesialis usia setengah tua (es-te-we) pernah menyarankan; andaikan kau dan kekasih gelapmu sedang dilanda kegemaran mencari kesenyapan di sebuah pulau asing, atau sebut saja pulau tak bernama. Tapi kalian hanya boleh berada di sana sepanjang petang! Sebelum malam sempurna kelam, kalian sudah harus berlayar kembali ke pulau masing-masing. Kau pulang ke pangkuan suamimu. Kekasih gelapmu kembali menunaikan tugas mengurus keluarganya.  
           Bagaimana bila kelak pulau tak bernama itu sudah menjadi target intel-intel swasta guna memotret setiap gerak-gerik penghuninya, lalu kabar akan  tersiar di pulauku dan pulau kekasihku? Tanyamu pada suatu senja sambil memasang muka was-was ketimbang waspada. Di pulau tak bernama, cinta juga tak bisa dinamai, kata kekasih gelapmu, sekadar menenangkan kecemasan berdua. Intel-intel swasta yang mungkin dikirim khusus dari pulaumu--tentu juga dari pulau kekasih gelapmu--membawa kamera tersembunyi, dan mereka tak perlu perkakas bahasa saat melaporkan rupa-rupa peristiwa.
            Akhirnya kau tidak lagi percaya pada konsultan asmara itu, meski belum sedikit pun terbersit niatmu untuk menyudahi persekutuan ganjilmu. Kau dan kekasih gelapmu tetap melepas rindu, paling tidak seminggu sekali, baik di ruang terbuka maupun di tempat-tempat rahasia. Kalian tetap bertukar kabar dalam situasi sepayah apapun. Kekasih gelapmu maklum, bahwa sebelum senja tiba kau mesti pulang, dan itu berarti perjumpaan kalian mesti bubar sampai di situ. Ia tak pernah ngeyel menahanmu barang sejenak. Justru ia tak pernah alpa menjadi alarm bagi waktu berpisah, yang sama-sama kalian benci.




     
Kenapa ia tak pernah protes bila aku terlambat membalas pesan-pesan singkatnya? Tanyamu pada seorang peramal hubungan gelap yang lagi-lagi spesialis perselingkuhan kaum setengah tua. Kekasih gelapmu adalah pribadi yang tidak hobi berburuk sangka. Di matanya, apapun yang kau lakukan adalah benar. Apa saja yang kau perbuat adalah wajar. Dadamu berdebar saat mendengar komentar dukun kekinian itu. Sedikit-banyaknya mekar juga rasa banggamu karena punya kekasih yang tidak cerewet, apalagi kepo tak karuan.
            Kau masih ingat saat mengunggah foto bersama suamimu tatkala kalian merayakan ulang tahun pernikahan? Kau merangkul bahu suamimu sekuat kau memeluk bantal guling di kala hujan lebat tengah malam--sementara suamimu sedang dinas ke luar kota. Saking eratnya, seolah-olah bahu suamimu menyatu dengan sekujur kulit di tubuhmu. Celakanya lagi, itu kau selenggarakan sambil mendaratkan sebuah kecupan modern di pipinya, bukan? Hampir semua teman dekatmu di laman media sosial itu memberi selamat, serta mendoakan kejayaan sejarah perkawinanmu. Apakah selepas itu kekasih gelapmu merajuk atau setidaknya menampakkan muka cemburu? Alih-alih bersedih, ia malah ikut menumpang bahagia dan bersuka-cita. “Usia pernikahan boleh bertambah, tapi umur kemesraan hendaknya kekal di masa muda. Berbahagialah sampai usia renta,” begitu bunyi sebuah kalimat yang termaktub dalam sebuah surat panjang. Ia mengirimkannya menjelang dini hari, mungkin sebelum suamimu terjaga untuk memberi selamat.
Kekasih gelapmu adalah seorang fotografer, spesialis potret keluarga. Soal membaca jiwa dari sebuah potret keluarga, mungkin kemampuannya melampaui ketajaman mata batin cenayang-cenayang metropolis yang sering kau sewa.  Ia tak sembarangan mengumbar ucapan “selamat berbahagia” bila jiwa yang ia tangkap dalam potret keluarga itu adalah nestapa yang disamarkan. Maka, kekasih gelapmu telah memastikan bahwa kau dan suamimu adalah pasangan yang sejahtera lahir-batin, tak kurang satu apapun juga.
Masih ingat perjumpaan di sebuah restoran tepi laut, saat ia mendiskusikan hasil pengamatannya terhadap foto-foto reunian yang berseliweran di laman-laman media sosial? Busana, pose, sudut pandang, dan latar-tempatan boleh saja berbeda-beda, tapi jiwa dari sebagian besar foto-foto itu menurutnya punya corak yang serupa. Riang-gembira, tapi diam-diam seperti menyimpan luka. Bersahaja, tapi menyembunyikan ambisi tak terkira. Bersuka-ria, tapi memelihara dengki yang tak kasat mata. Berbahagia tapi sekadar basa-basi yang dipaksakan. Suci dan berseri-seri, tapi mengoleksi banyak laku hipokrasi.
Sandiwara dalam pose-pose itu mengingatkan ia pada pesan seorang kerabat dekat bahwa ia sudah lama tak berkunjung ke rumahnya, ia sudah bertahun-tahun tak menjaga silaturahmi, ia hanya datang dan berjabat tangan bila sudah ada yang mati di sana. Itupun kalau hatinya sedang terpanggil. Lalu, ia bilang, kenapa yang harus datang berkunjung itu selalu yang lemah kepada yang kuat, yang muda kepada yang tua, dan yang paling sering terjadi adalah yang miskin kepada yang kaya? Pernahkah sekali saja pihak-pihak yang kuat itu beritikad untuk menjenguk saudara lemahnya, yang tua berkenan singgah sejenak di rumah saudara mudanya?

***
Bandingkan dengan sikapmu setelah kekasih gelapmu menyiarkan sebuah foto keluarga saat ia dan istrinya merayakan hari jadi putri mereka. Pose yang sama sekali tak mengumbar keintiman mencolok. Meski terbilang dekat, di antara kekasih gelapmu dan istrinya masih dibatasi oleh tubuh putri kecilnya yang tampak sedang meniup lilin di atas permukaan kue. Apa yang terjadi selepas itu?  Kau mengirim surat panjang yang bila disimpulkan dapat berarti kau telah menudingnya sebagai laki-laki jahat yang tak pandai menjaga perasaan perempuan. Lebih dari dua pekan kau tak merespons satu pun pesan pendeknya. Kau diserang penyakit ngambek stadium parah, meski kekasih gelapmu tidak panik dan malah segera memaafkanmu.
“Ia mungkin bukan laki-laki yang baik, apalagi laki-laki yang suci dari rupa-rupa kenakalan pada perempuan. Tapi, saya pastikan ia orang yang jujur!” kata konsultan amatir yang diperkenalkan seorang sejawatmu selepas menghadiri seminar bertajuk “Usaha Mencegah Kerut Ketuaan” di sebuah pusat perniagaan.  Kau tidak menunjukkan sikap percaya. Sebaliknya, kau cuek sambil menulis komentar atas pesan-pesan sampah di sebuah chat-group kumpulan ibu-ibu hebring kurang piknik. Tapi, ramalan cenayang pemula itu membuatmu tak bisa lupa obrolan ringan dengan kekasih gelapmu, tepatnya pada pertemuan ketiga sejak kalian berkenalan di dunia maya.
“Boleh aku menyebutmu sebagai pendekar pemetik bunga?” tanyamu dengan nada mengejek. Kata “pemetik” dalam kalimatmu menurutnya  berkonotasi kegemaran mencari. Sementara ia bukan tipe pencari atau sebutlah pemburu. Maka, kata “pendekar” sebaiknya diganti dengan “nelayan.” Itupun kalau bisa nelayan yang diumpamakan tidak sedang membentangkan jala. Bayangkan saja nelayan itu sedang mendayung perahu di sebuah danau, sementara jala menggumpal dan teronggok  begitu saja di sudut perahunya. Hanya beberapa bagian ujung jala yang menjuntai ke permukaan air. Di situlah sesekali ikan kecil datang dan kerap terjaring tak sengaja. Demikianlah, ia tak pernah mencari, tapi sekadar menyambut setiap perempuan yang berkenan singgah.
“Lalu sudah berapa ekor ikan yang datang suka-suka ke dalam jalamu?” tanyamu, ketus.
“Setiap yang datang biasanya sudah  punya rencana pamit sendiri-sendiri.”
“Iya. Sudah berapa yang pamit setelah kau karantina dalam perangkapmu?”
”Dan, sampai kapan kau membiarkan jala itu menjuntai di permukaan air hingga ikan-ikan terperangkap silih berganti?”
Kau mencecarnya dengan banyak pertanyaan. Makin lama suaramu makin terdengar sebagai kemarahan.

***
Pada perjumpaan selanjutnya ia tegaskan bahwa kasusmu sedikit berbeda dengan hikayat nelayan yang enggan melepas jala itu. “Sebelum menemukanmu, nelayan itu sedang dilanda keinginan hendak melepas mata kail,” katanya. Bukan kau yang merapat sukarela ke jalanya, tapi ia yang gigih hendak menangkapmu.
Lalu, ia menyerupakan dirinya seperti sepeda motor yang akan turun mesin. Mur dan baut di tubuhnya sudah berguguran. Ada yang lepas sendiri lantaran aus, ada yang direnggut paksa sekuat tenaga. Ia mengaku telah bertelanjang di hadapanmu. Tak ada lagi yang belum ia singkap. Tentang ikan-ikan yang sukarela melekat di jalanya, rencananya melacak kembali kesendirian yang lenyap sejak ia berkeluarga, dan keberuntungan tak terduga sejak ia bertemu perempuan yang ternyata juga pecandu kesunyian, hingga terbangunlah hubungan gelap yang amat mendebarkan, sekaligus rawan-ketahuan itu.  
Kau punya anak-anak yang manis dan lucu. Ia punya anak-anak yang girang dan menyenangkan. Kau punya suami yang tekun bekerja dan sayang keluarga. Ia punya istri yang tabah mempercayai kesetiaan seorang laki-laki. Hubungan gelap kalian adalah cinta yang mustahil. Rencana-rencana kalian percuma. Kau bahagia bersama keluargamu. Ia rukun-tentram bersama istri dan anak-anaknya. 
Tapi kalian tetap hobi meringkus senja di pulau tak bernama. Tetap gemar melarikan diri dari sumbu-sumbu kebahagiaan masing-masing. Sehari saja kalian tak bertukar kabar, bagai akan tiba amuk badai, mengguncang tugu kerinduan yang kalian lestarikan di sana. Itu sebabnya kau masih mencari umpama yang relevan bagi hubungan rahasia, dan konon terus diincar oleh mata liar intel-intel swasta.
Aku bukan konsultan orang kasmaran. Bukan pula ahli nujum kontemporer yang bisa meramal masa depan permainan serong. Tapi baiklah, kusumbangkan sebuah permisalan yang paten. Andaikan kau dan kekasihmu sebagai dua narapidana. Kalian meringkuk di sel yang bersebelahan. Di antara selmu dan selnya ada sebuah meja kecil dengan papan catur yang terbuka, berikut dengan bidak-bidak yang siap digerakkan. Julurkan tanganmu dari balik jeruji besi. Kekasih gelapmu juga melakukan gerakan serupa. Bermainlah sepanjang hari. Jangan pernah berhenti. Kalian memang sedang menanggung vonis berat, tapi menyudahi permainan itu akan mengakibatkan kalian menjadi terpidana seumur hidup…