<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss'><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243</id><updated>2009-10-22T12:40:51.328+07:00</updated><title type='text'>rumah kreatif damhuri muhammad</title><subtitle type='html'>TENTANG CERITA PENDEK, YG MESKIPUN PENDEK, TAPI TAK KUNJUNG SELESAI KUNUKILKAN...
JUGA TENTANG NOVEL-NOVEL INDONESIA YANG TERABAIKAN, KARENA PENERBIT KITA LEBIH GANDRUNG MENGIMPOR NOVEL DARI LUAR NEGERI...</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25'/><author><name>damhurimuhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>hulutualang@gmail.com</email></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>61</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-910322002117953033</id><published>2009-10-22T12:34:00.002+07:00</published><updated>2009-10-22T12:40:51.499+07:00</updated><title type='text'>Dari Gontor ke Trafalgar Square...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/St_wGbZ8j4I/AAAAAAAAAFA/Wlpn3wE5ijE/s1600-h/n5m+2.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/St_wGbZ8j4I/AAAAAAAAAFA/Wlpn3wE5ijE/s320/n5m+2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5395294871839608706" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jawa Pos,&lt;/span&gt; Minggu 18/10/2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BEBERAPA bulan lalu sebuah media melansir kabar perihal sinisme seorang pejabat—di lingkungan Pemprov Sumbar—terhadap etos kepengarangan novelis-novelis asal Minang yang katanya sedang merosot, sehingga mereka tidak mampu melahirkan karya-karya besar seperti "Laskar Pelangi", novel yang bisa membuat Belitong—kampung asal pengarangnya—tersohor hingga ke pelosok-pelosok. Ekspektasi petinggi itu terhadap “novel bermutu” dari para pengarang Minang dapat memicu sejumlah pertanyaan, misalnya, apa kriteria “karya besar” itu? Apakah novel yang berhasil menangguk apresiasi ratusan ribu pembaca, sehingga latar demografi dan geografi—sandaran kisahnya—menjadi termasyhur, dengan serta-merta dapat dinobatkan sebagai karya besar? Kalau begitu apa bedanya teks sastra dengan teks-teks dalam brosur-brosur yang diiklankan oleh biro perjalanan wisata? Bagaimana dengan novel yang sengaja menyamarkan latar tempatan? Apakah novel itu mustahil terkukuhkan sebagai karya besar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain “karya besar” yang ditakar dengan ketersohoran latar tempatannya di kemudian hari, ada pula yang menimbang keberhasilan novel dari sisi “memotivasi” atau “tidak-memotivasi” pembaca. Kalau begitu, apa bedanya novel dengan buku-buku berjenis how to? Bagaimana kalau sebuah novel tidak berpretensi mempromosikan latar tempatan dan tidak berkecenderungan memotivasi pembacanya? Apakah novel itu tidak memenuhi “syarat-rukun” kenovelan, dan tak patut dikukuhkan sebagai buku bermutu? Inilah sejumlah kegamangan yang muncul akibat dominasi pendekatan non-artistik terhadap kreativitas literer. Akibatnya, unsur-unsur estetik dan artistik menjadi terabaikan lantaran pengalaman baca hanya sampai pada pencapaian pesan-pesan etik dan didaktik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Negeri 5 Menara", novel karya A. Fuadi ini memperlihatkan betapa dominannya parameter non-artistik dalam menentukan kualitas dan kedalaman sebuah karya sastra. Sampul belakang buku ini sarat dengan endorsement yang ditulis oleh nama-nama beken, dari mantan presiden, sutradara tersohor, gubernur, budayawan, intelektual hingga pimpinan pesantren. Hampir semua komentar itu menyingkapkan segi-segi etik dan didaktik dari novel setebal 416 halaman ini. Tak satupun ulasan dari sudut pandang estetika sastrawi. Apakah segi-segi estetik dan artistik yang sepatutnya menjadi kriteri utama dalam menimbang sebuah karya sastra tidak lagi penting?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkisah tentang upaya keras enam orang santri di sebuah pondok pesantren dalam menggapai obsesi dan cita-cita besar mereka. Setelah menghadapi kegiatan belajar-mengajar yang sedemikian padat dan aturan-aturan kedisiplinan ekstra ketat di Pondok Madani (PM), Alif (Padang), Atang (Bandung), Raja (Medan), Dulmajid (Sumenep) Said (Mojokerto) dan Baso (Gowa), bersembunyi di bawah menara masjid PM, membangun mimpi-mimpi masa depan dengan mantra ampuh yang sama-sama mereka percayai; man jadda wajada (siapa yang bersungguh pasti akan sukses). Alif tidak pernah mengira bahwa ia akan jadi santri PM yang disebut-sebut telah mencetak banyak ulama dan intelektual muslim itu. Sebab, sejak kecil ia ingin menjadi “habibie”. Baginya, Habibie tidak dalam arti seorang teknokrat jenius, tapi sebuah profesi sendiri, lantaran ia sangat kagum pada tokoh itu. Itu sebabnya Alif ingin masuk SMA, dan kelak akan melanjutkan pendidikannya ke ITB, sebagaimana riwayat perjalanan intelektual Habibie. Namun, ibunda Alif menginginkan anaknya mewarisi keulamaan Buya Hamka, ulama kondang yang lahir dan besar tidak jauh dari Bayur, tanah kelahiran Alif. Maka, dalam kebimbangan Alif menerima tawaran itu, hingga ia bertemu dengan santri-santri berkemauan keras seperti Baso yang mati-matian menghafal 30 juzz Qur’an sebagai syarat guna menggapai impiannya bersekolah di Madinah. Begitu juga dengan Raja, Dulmajid, Said, dan Atang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya beberapa bulan waktu berbicara dengan bahasa Indonesia bagi santri-santri baru di PM, setelah itu mereka wajib berbicara dalam bahasa Arab atau bahasa Inggris. Bila aturan dilanggar, ganjarannya tidak main-main, bila tidak digunduli, sekurang-kurangnya bakal dapat jeweran berantai. Bahkan bila pelanggarannya berat, santri bisa dipulangkan. Saking kerasnya kemauan para sahibul-menara untuk menguasai percakapan dalam kedua bahasa asing itu, gigaun dalam tidur mereka pun terungkapkan dalam bahasa Arab. Berkali-kali mereka tertangkap basah melanggar aturan, terlambat datang ke masjid—lantaran matanya yang sukar diajak kompromi—atau ketahuan berbicara dalam bahasa Indonesia, berkali-kali pula mereka harus menghadap ke "Qism Al-amni" (bagian keamanan pondok), diganjar hukuman dengan menjadi "jasus" (mata-mata bagi santri yang melakukan pelanggaran).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan deskripsi ruang yang nyaris sempurna, A Fuadi berhasil memetakan seluk-beluk dunia pesantren modern yang selama ini hanya menjadi cerita dari mulut ke mulut. Pahit dan getir, riang dan gamang kaum santri dengan humor khas pesantren ditandaskannya dengan modus pengisahan yang menakjubkan. Tengoklah pelbagai alasan yang sengaja dirancang sahibul-menara agar mereka beroleh ijin keluar PM, bersepeda mengelilingi kota Ponorogo, dan tak lupa melintas di pintu gerbang pesantren puteri, sekadar “nampang”. Begitu pula dengan siasat Dulmajid memengaruhi ustadz Torik agar beroleh ijin nonton bareng pertandingan final bulutangkis di lingkungan PM, padahal "Qanun" (aturan pondok) menegaskan, santri PM dilarang menonton TV. “Ustad, lob antum itu mirip sekali dengan punya Icuk dan smes antum mirip Liem Swie King. Kalau nggak percaya kita tonton siaran langsung besok malam.” Ustad Torik langsung takluk, dan terjadilah peristiwa bersejarah itu: TV masuk PM. Satirisme macam ini mengingatkan kita pada kolom Emha Ainun Nadjib, "Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai" (1994) tentang seorang kiai pesantren yang bersikukuh melarang murid-muridnya mendengar lagu dangdut, tapi begitu alunan lagu yang mendayu-dayu itu sayup-sayup terdengar, di bawah meja, ujung kaki kiai bergoyang-goyang ritmik secara spontan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat satirisme khas kaum santri inilah segi-segi estetik novel ini dapat ditandai, hingga martabat kenovelannya tidak semata-mata ditakar dengan nilai didaktik dan etiknya saja. Bukankah jalan sastra adalah ikhtiar merancang sebuah alegori dari pelbagai realitas faktual yang menjadi panggilan penciptaan pengarangnya? Maka, kerja pemaknaan terhadap teks novel tak segampang sebagaimana yang dilakukan para komentator novel ini. Bahwa kemudian ditemukan tendensi-tendensi didaktik, itu kenyataan yang tak bisa dielakkan, karena setiap pembaca berhak menafsirkannya sesuai dengan kepentingan masing-masing. Pelbagai istilah yang dewasa ini berhamburan di bursa penjualan buku sastra seperti “novel pembangunan jiwa”, “novel spritual”, “novel motivasi”, termasuk “novel yang terinspirasi kisah nyata” sebagaimana termaktub di sampul depan Negeri 5 Menara ini, alih-alih dapat menjembatani novel ini dengan penikmatnya, justru akan mendistorsi estetika kenovelannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak dipungkiri bahwa di sebalik kisah yang digarap A. Fuadi dalam buku ini, ada pengalaman empirik, katakanlah semacam fakta-fakta keras semasa pengarang mondok di Gontor yang menjadi muasal pengisahannya. Tapi, dalam kerja kepengarangan, fakta-fakta keras itu digiling sehalus-halusnya oleh imajinasi, sehingga tidak bisa lagi dilihat dengan kaca mata hitam-putih, tidak bisa diukur secara positivistik. “Imajinasi” di sini bukan dalam pemahaman yang menyehari. Filsuf Arab, Al-Farabi (850-950) dalam kitabnya Ara’ Ahl Madinah Wa Al-Fadhilah menyebutnya "Quwwatul Muttakhilah", semacam potensi dalam subyek, yang berpijak pada pengalaman empirik dan penalaran (reasoning), sehingga ia sangat berbeda dengan “fantasi”—yang tidak perlu berangkat dari pengalaman inderawi, apalagi penalaran. Dalam epistemologi Al-Farabi, “imajinasi” dalam batas-batas tertentu bahkan dapat melampaui pencapaian akal-budi dan pengalaman empirik itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, dunia imajiner dalam Negeri 5 Menara, bukan lagi semata-mata dunia A Fuadi dan sejawat-sejawatnya semasa di Gontor. Kisah yang disudahi pengarang dengan reuni bersejarah di Trafalgar Square, London— setelah 15 tahun masa-masa sulit di PM berlalu—telah terdedahkan sebagai ruang fiksional dengan segenap kemungkinan tak terduga yang menyertainya. Bukankah Alif (Washington DC), Atang (Kairo) dan Raja (London) yang bertemu pada sebuah konfrensi di London tidak pernah terbayangkan sebelumnya? Mereka tak pernah menyangka para sahibul-menara bakal mengenggam impian masing-masing. Yang mereka tahu hanya "man jadda wajada", siapa bersungguh-sungguh, bakal sukses. Dulu memendam gamang di bawah menara masjid PM, kini girang-gemirang di bawah menara Trafalgar Square, London. Dulu menjual mengkudu, kini berdagang durian, dulu tidak laku, kini jadi rebutan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DATA BUKU :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul     : Negeri 5 Menara&lt;br /&gt;Penulis   : A.Fuadi&lt;br /&gt;Penerbit  : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan   : I, Juli 2009&lt;br /&gt;Tebal     : 416 halaman&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-910322002117953033?l=damhurimuhammad.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/910322002117953033/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=910322002117953033&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/910322002117953033'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/910322002117953033'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2009/10/dari-gontor-ke-trafalgar-square.html' title='Dari Gontor ke Trafalgar Square...'/><author><name>damhurimuhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>hulutualang@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='08966147596844497280'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/St_wGbZ8j4I/AAAAAAAAAFA/Wlpn3wE5ijE/s72-c/n5m+2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-385511171540608482</id><published>2009-08-07T11:59:00.002+07:00</published><updated>2009-08-07T12:06:21.316+07:00</updated><title type='text'>ROMANTIKA PASCA-ENAM LIMA</title><content type='html'>Oleh: DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kompas,&lt;/span&gt; Minggu 02/08/2009)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BILA watak kepengarangan ditinjau berdasarkan ranah tematik yang dijelajahi seorang sastrawan, maka luka dan nestapa para eks-tapol pasca-1965 begitu identik dengan prosa-prosa karya Martin Aleida. Sukar disanggah jika dikatakan bahwa rupa-rupa peristiwa tragis-traumatis yang ditanggung para pewaris “dosa turunan”—lantaran stigma PKI—adalah “kampung halaman” kepengarangan mantan aktivis termuda LEKRA itu, sejak dari kumpulan cerpen "Malam Kelabu, Ilyana dan Aku" (1998), novelet "Layang-Layang Itu Tak Lagi Mengepak Tinggi-tinggi" (2000), hingga kumpulan cerpen "Leontin Dewangga" (2003). Sastrawan yang dijuluki sebagai penggerak “sastra kesaksian” itu tampak sukar untuk beranjak dari medan tempuh yang itu-itu juga. Disingkapnya setiap pintu, disiginya setiap ruang, disibaknya setiap tabir. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Demikian pula dengan konstruksi realitas yang terbangun dalam kumpulan cerpen, "Mati Baik-Baik, Kawan" (2009). Meski dimaksudkan sebagai antologi baru, namun dari segi materi cerpen, mungkin lebih patut disambut sebagai “barang lama stok baru”. Dari sembilan cerpen dalam buku itu, masih ada "Leontin Dewangga",  "Ode Untuk Selembar KTP"  dan  "Malam Kelabu" yang sudah pernah terbit sebelumnya. Begitupun "Dendang Perempuan Pendendam"—pernah terbit tahun 2007—dan "Bertungkus Lumus", yang masuk dalam antologi cerpen TITIAN (2008). Kalaupun ada kebaruan, mungkin bukan pada aspek kandungan cerpen, tapi dari payung tematik yang dengan ketat membuhul semua cerpen, yakni serba-serbi pengalaman traumatik pasca-1965. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Asvi Warman Adam (2004) pernah menimbang cerpen-cerpen Martin sebagai upaya mengejek dan menertawakan nasib orang-orang yang tergetahi stigma PKI. Bila bagi orang-orang beriman, jodoh, rejeki, dan mati, ada di tangan Tuhan, bagi mereka yang diduga terlibat G30S/PKI, ada yang jauh lebih berkuasa. Peruntungan mereka lebih ditentukan oleh stigma PKI itu. Perjodohan bisa batal bila seseorang ketahuan berasal dari keturunan keluarga PKI—meski ia tidak tahu-menahu soal komunisme dan tidak pernah meminta untuk dilahirkan sebagai anak PKI. Bagi Asvi, di titik inilah upaya perlawanan cerpen-cerpen Martin Aleida dapat ditandai.  Lebih jauh, Katrin Bandel (2009)—sebagaimana tertera pada catatan penutup buku itu—menegaskan, “tampak jelas Martin bukan sekadar ingin menceritakan peristiwa 65 dari perspektif yang berbeda, ia juga punya misi untuk melawan pemalsuan sejarah.” Cara menimbang yang agak berlebihan dalam konteks pembacaan teks sastra. Sekadar geliat perlawanan tentu tak disangsikan, tapi cukup berdayakah teks sastra disetarakan dengan konsep historiografi tertentu? Sejarah dipancangkan atas dasar kepastian epistemologis (benar-salah, terjadi atau tak-terjadi) sementara teks sastra digubah atas dasar pencapaian estetika sastrawi. Sejarah adalah “dunia sesungguhnya”, sebaliknya sastra adalah “dunia seandainya”. Lalu, di titik manakah napas perlawanan itu bisa tertandai?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Maka, sudah waktunya semesta cerita dalam cerpen-cerpen Martin Aleida diselami lebih dalam, agar pembaca tidak buru-buru pada fakta yang memang sengaja dimunculkan, dan tidak lupa bahwa cerpen adalah sebuah karya seni yang dibangun dengan keterampilan artistik, yang tentu tidak hanya berdiri sebagai juru bicara “sejarah versi baru” sebagaimana diharapkan. Salah satu sisi yang kerap terabaikan—bila tidak bisa disebut ‘sengaja dilupakan’—adalah bahwa kerja pembacaan tidak pernah lepas dari konteks ruang-waktu yang menyertainya, sehingga pengulangan demi pengulangan tidak menjadi sebuah kesalahan.  Akan selalu ada yang “baharu” di setiap fase pembacaan, lantaran ruang-waktu yang terlibat di dalamnya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dipastikan ada perbedaan persepsi yang signifikan antara pengalaman baca terhadap cerpen "Malam Kelabu" lima tahun lalu dengan pengalaman baca terhadap cerpen yang sama di tahun ini. Boleh jadi, mainstream-nya bukan lagi peristiwa amuk massa yang membakar rumah Partini lantaran keluarga itu menyembunyikan gembong PKI—hingga Partini, Ibu dan adik-adiknya tewas dalam kebakaran itu—tapi beralih pada gejolak asmara Kamaluddin Armada yang jauh-jauh datang dari Jakarta ke desa Soroyudan—seberang sungai Bengawan Solo—guna melamar Partini, kekasih pujaannya. Sejak mula, tiada sesuatu  yang disembunyikan Partini. Pada Kamaluddin, ia mengakui bahwa ayahnya (Mulyoraharjo), mantan gembong PKI yang semasa berkuasa sangat ditakuti, ia pembela setia Barisan Tani Indonesia (BTI) dalam aksi-aksi pencaplokan tanah. Kamaluddin juga tahu bahwa calon mertuanya itu menghilang dan tak pernah kembali setelah gestapu. Tapi, kejujuran Partini tidak meredupkan gairah cinta Kamaluddin. Dengan segenap rindu yang membuncah ia datang ke Solo, hendak mempersunting anak gadis gembong PKI itu. Sejauh-jauh matamu memandang, yang tampak hanya sawah. Sawah semata.Dan lihatlah ke kanan Mas, inilah desa di mana adikmu menunggu, Soroyudan, begitu bunyi surat Partini yang menjadi petunjuk jalan bagi Kamaluddin. Inilah romantika tak biasa yang digarap Martin guna melawan stigma PKI. Atas nama cinta, diterabasnya segala pantangan, dilangkahinya segala tabu, termasuk tabu menikahi anak PKI. Realitas ini bertolak belakang dengan tinjauan Asvi Warman Adam—karena stigma PKI perjodohan bisa batal. Di cerpen Malam Kelabu ini, jangankan anak PKI, bahkan bila Partini “anak-jadah” sekalipun, Kamaluddin tiada bakal berpaling ke lain hati. Tengoklah, begitu kematian Partini terpastikan, ia bunuh-diri, menyusul kekasihnya. Dan, kematian itu dipastikan tak ada hubungannya peristiwa-peristiwa berdarah pasca-65. Ia mati demi cintanya pada Partini. Tragedi yang tak kalah lebih menyakitkan dari kematian orang-orang eks PKI yang satu persatu “dijemput malam” selepas peristiwa gestapu.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Romantika serupa juga muncul di "Leontin Dewangga", khususnya kisah cinta Abdullah Peureulak dan Dewangga, dua sejoli yang justru dipertemukan oleh silang-sengkarut peristiwa 65. Setelah bertahun-tahun hidup sebagai pasangan suami-istri  Abdullah akhirnya mengaku telah mengkhianati Dewangga, bahwa sebelum menikahi perempuan itu, ia bukan “lelaki baik-baik” tapi mantan tapol yang dimusuhi banyak orang dan hidup menggelandang demi menghindari kejaran. Dewangga yang saat itu sedang bertarung melawan kanker stadium akhir bukannya kecewa dan berpaling, tapi makin teguh memercayai bahwa Abdullah sungguh-sungguh telah memartabatkan ia sebagai perempuan. Pada detik-detik terakhir sebelum kematiannya, Dewangga merenggut Leontin yang melingkar di lehernya, lalu diberikannya pada suaminya. Abdullah terperangah melihat simbol bulan sabit merah dari sebuah katup yang ia buka pada Leontin itu, lambang gerakan tani yang melancarkan aksi sepihak guna melaksanakan Undang-Undang Pokok Agraria. Dewangga menerima hadiah Leontin itu dari ayahnya sewaktu ia berusia 17 tahun. Sejak 1965, ayah Dewangga tak pernah pulang, persisnya setelah seorang algojo datang menjemputnya. Maka, nasib Dewangga tak jauh beda dengan ketakmujuran Abdullah, perempuan itu juga pernah ditahan, ia bebas setelah merelakan tubuhnya ditiduri oleh seorang komandan militer. Setali tiga uang dengan Kamaluddin-Partini, Abdullah-Dewangga, dua sejoli yang sehidup-semati, meski kedua pasangan itu sama-sama tak mampu melarikan diri dari  stigma PKI yang telah menelan banyak korban tak berdosa. Tapi, tabu setangguh apapun, tiada bakal berkutik  di hadapan cinta sejati. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Seandainya tabu lantaran stigma PKI sebagaimana tampak pada romantika Malam Kelabu dan Leontin Dewangga dialih-rupa dengan tabu-tabu subversif lainnya, kisah tetap akan berdiri sebagai peristiwa yang mandiri, tanpa harus bergantung pada fakta-fakta yang selalu dimunculkan. Inilah yang disebut Willem G. Weststeijn (terj  Akhadiati Ikram, 1991) sebagai kisah yang “memiliki dunianya sendiri”, sehingga pembaca tidak perlu mencari rujukan-rujukan faktualnya. Dengan begitu, cerpen-cerpen Martin Aleida tidak perlu pula dicurigai mengusung tendensi tertentu.  “Kisah yang memiliki dunianya sendiri” pada "Malam Kelabu", "Leontin Dewangga", "Bertungkus Lumus" dapat disebut  sebagai  Romantika Pasca-65…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-385511171540608482?l=damhurimuhammad.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/385511171540608482/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=385511171540608482&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/385511171540608482'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/385511171540608482'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2009/08/romantika-pasca-enam-lima.html' title='ROMANTIKA PASCA-ENAM LIMA'/><author><name>damhurimuhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>hulutualang@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='08966147596844497280'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-6558141579353030723</id><published>2009-07-23T19:07:00.000+07:00</published><updated>2009-07-23T19:09:18.778+07:00</updated><title type='text'>Optimisme Dalam Prosa Betawi</title><content type='html'>Oleh: DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kompas&lt;/span&gt;, 18/07/09)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KHAZANAH Betawi yang terhidang dalam prosa tidak lepas dari peran kepengarangan SM Ardan (1932-2006) sebagaimana terlihat dalam bukunya "Terang Bulan Terang Di Kali" (1955)—dicetak-ulang oleh Masup Jakarta (2007). HB Jassin (1954) mencatat, karya-karya Ardan sangat membantu ahli ilmu bahasa, ilmu bangsa-bangsa dan kemasyarakatan dalam penelitian tentang Jakarta. Dialek lahir, tumbuh dan mati. Adat dan kebiasaan muncul, berubah, dan hilang. Begitu pula permainan anak-anak Betawi yang lahir, tumbuh, sirna. Amat besar jasa Ardan dalam mendokumentasikannya. Menurut Ajip Rosidi (2007), istilah “cerita” pada antologi cerita pendek SM Ardan itu kurang tepat, karena (kecuali satu-dua cerpen) tidak ada ceritanya sama sekali. Periksalah Pulang Pesta, Pulang Siang, atau Bang Senan Mau ke Mekah, tidak menjalin cerita, hingga yang terasa hanya “suasana”. Kalaupun ada cerpennya yang mengandung “cerita”, bagi Ajip, cerita itu tidak seru, menyehari, gampang dijumpai dalam keseharian orang-orang kecil Jakarta masa itu. Tapi, justru di sinilah keistimewaan Ardan. Boejoeng Saleh (1955)—dikutip JJ.Rizal (2007)—mencatat, ibarat seorang kameramen, Ardan punya lensa tajam. Ia tak hanya memotret realitas eksotik-romantik, tapi juga realistik; kenyataan yang sepahit-pahitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila pengalaman baca terhadap karya-karya Aman Dt. Majoindo (1896-1969), M. Balfas (1921-1975), Firman Muntaco, hingga SM. Ardan, menimbulkan kesan: “Ternyata orang Betawi seperti itu ya,” maka prosa-prosa berlatar Betawi garapan para pengarang masa kini mendedahkan sebentuk keheranan: “Ternyata orang Betawi kini sudah banyak berubah, tidak seperti Betawi yang dulu.” Tengoklah "Rumah Kawin" (2004) antologi cerpen Zen Hae, "Sebelas Colen di Malam Lebaran" (2008) karya C.G Ramadhan, "Rosid dan Delia" (2008) novel karya Ben Sohib, dan yang paling mutakhir, "Kronik Betawi" (2009) karya Ratih Kumala. Resistensi masyarakat Betawi terhadap modernisasi Jakarta yang semakin mengaburkan—bila tidak bisa disebut menggerus—identitas dan kejatidirian mereka, ditampakkan oleh karya-karya pengarang muda itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zen Hae dalam "Kelewang Batu" misalnya, melakukan demitologisasi kisah usang tentang para pemburu mustika api milik naga raksasa yang konon diberkati dewa-dewa sebagai penguasa jazirah selatan selama 2882 purnama. Maka, pertarungan hebat tak terhindarkan, hingga naga itu tumbang. Selepas pertarungan itu, danau kering, tanah tempat matinya naga itu menjadi sebuah kampung yang kelak disebut Kampung Naga. Bekas-bekas jejak naga menjelma sungai yang kelak dikenal “Kali Bangkai”. Penduduk setempat menyebutnya Kali Bangke, dan keturunann berikutnya melafalkannya; Kali Angke. Begitu salah satu versi riwayat Kali Angke yang kini telah dilupakan, karena itu perlu dibangkitkan kembali. Modus pengisahan serupa terjadi pula pada Hikayat Siti Rahima, bertolak dari mitos sebagai medium guna menyuarakan sikap kritis orang Betawi terhadap gairah hedonisme Jakarta yang nyaris tak terbendung itu, tentang sebuah pohon keramat yang ditunggui arwah perempuan terkutuk akibat bunting di luar nikah. Sebagaimana cerita-cerita tentang pohon anker, siapa nekat menebangnya, fatal akibatnya. Tapi karena tamak dan kemaruk, pohon keramat “diembat” juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak banyak warga Jakarta yang tahu bahwa dulu, di salah satu belahan kota itu, orang Belanda pernah membangun sebuah rumah mewah dengan ukiran-ukiran Jawa dan lukisan-lukisan ala Eropa. Pemilik rumah itu menyebutnya “pondog”, dan karena ukurannya besar sekali—sementara rumah-rumah di sekitarnya rata-rata berukuran kecil—orang menyebutnya “pondog gede”. Begitu riwayat singkat perihal sebuah nama daerah yang kini dikenal sebagai Pondok Gede. Para pendatang hanya tahu “menteng” sebagai kawasan gedongan, hunian orang-orang “tajir” dan berada , padahal “menteng” sejatinya adalah nama buah. Begitu pula “bintaro” yang sesungguhnya adalah nama pohon. Seiring dengan semakin menterengnya wajah Jakarta, tak hanya khazanah tanaman itu yang terlupakan, sejarah, kearifan dan memori kolektif tentang Jakarta juga tenggelam dalam hingar-bingar panggung kosmopolitanisme. Suasana nostalgik—sekaligus ironik—semacam ini tergambar dalam novel "Kronik Betawi" (2009), karya Ratih Kumala, yang secara terang-benderang memperlihatkan wajah Jakarta sebagai ironi. Betapa tidak ironis bila orang asli Jakarta terlambat menyadari bahwa tugu monas yang tersohor itu ternyata tidak lagi menjadi bangunan tertinggi, karena ketinggiannya telah dilampaui oleh gedung-gedung jangkung tegak-berdiri bak cendawan di musim hujan. Lebih ironis lagi ketika kampung mereka telah menjadi deretan ruko-ruko yang tidak lagi menyisakan ruang, bahkan untuk sekadar leluasa berjalan kaki, arena bermain masa kanak-kanak mereka disulap menjadi kompleks perkantoran—saking berdempetannya, tidak menyisakan sekadar tanda, di titik mana lingkungan masa kecil itu pernah berada. Inilah dampak dari gerak perubahan yang sedemikian tergesa. Artifak-artifak yang menyimpan kesadaran kolektif orang Betawi tentang tanah kelahiran mereka telah karam, mereka kehilangan kampung halaman, dan perlahan-lahan tergusur ke pinggiran, menjadi perantau di negeri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kronik Betawi" mengisahkan sebuah keluarga Betawi, pewaris usaha peternakan sapi perah. Setelah berkali-kali mengelak dari bujuk-goda dan iming-iming untuk tidak melepas tanahnya di daerah Kuningan, Jaelani—kepala keluaga itu—akhirnya takluk juga, menyusul sejawat dan kerabat yang telah lebih dahulu angkat kaki. Keluarga Jaelani pindah ke Ciganjur, sementara sapi-sapi perah itu diboyongnya ke Pondok Rangon. Meski telah tersingkir, Jaelani tidak tertarik membangun rumah-rumah kontrakan seperti sejawat-sejawatnya yang “ujug-ujug” telah menjadi juragan. Tapi, bertahan dengan etos kemandirian orang Betawi ternyata tidak gampang. Japri dan Juned, dua anak laki-lakinya lebih tergiur menjadi tukang ojek ketimbang mengurus sapi-sapi di kandang, hingga akhirnya usaha itu nyaris bangkrut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap tokoh dalam Kronik Betawi memikul beban persoalan orang Betawi masa kini. Bila Jaelani harus menerima kenyataan tentang anak-anak yang tidak punya etos mandiri, Jarkasi (adik Jaelani) berhadapan dengan betapa sulitnya mempertahankan kesenian tradisional Betawi di kurun R &amp; B dan Jazz ini. Ia mendedikasikan hidupnya demi kelesatrian Gambang Kromong—semacam orkes, perpaduan antara gamelan, musik Barat dan corak kesenian Cina. Jarkasi jatuh-bangun sebagai seniman Betawi. Baginya, tanah kelahiran bolehlah lenyap ditelan gemuruh perubahan Jakarta, tapi Betawi masih punya Lenong dan Gambang Kromong, yang sedapat-dapat harus tetap hidup. Seni, satu-satunya milik mereka yang belum terbeli. Namun, Jarkasi tak bisa menutup mata bahwa apresiasi terhadap kesenian tradisional begitu minim. Kerap ia berselisih paham dan Enden (istrinya) lantaran ia bersikukuh mendukung bakat seni Edah (anak gadisnya) sebagai penari. Di mata sebagian orang, penari identik dengan perempuan panggung yang boleh dicolak-colek oleh para lelaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibanding dengan pesimisme orang Betawi yang telah kehilangan tanah-pangkal, seperti dalam cerpen "Dahulu" (C.G. Ramadhan), atau keterasingan Mat Jago, lantaran tidak bisa lagi unjuk gigi di panggung-panggung Gambang Kromong, seperti dalam cerpen "Rumah Kawin" (Zen Hae), tokoh-tokoh dalam "Kronik Betawi" lebih riang—lelucon khas Betawi terselip di sana-sini—dan bergairah. Tengoklah Juleha (adik bungsu Jaelani)—meski juga menanggung beban—habis-habisan mendukung Edah sebagai penari Betawi, bahkan ia ikut berperan dalam keberhasilan Edah sebagai salah satu penari Betawi yang terpilih untuk tampil di pentas terhormat di negeri Belanda. Di satu sisi, Juleha yang terpuruk dalam kesendirian sejak suaminya menikah lagi terasa memperkuat citraan tentang laki-laki Betawi yang “doyan kawin”, tapi pada sisi lain, pengarang memperlihatkan kesetiaan Jaelani pada almarhumah istrinya. Bahwa kemudian ia menikahi Salomah, itu bukan karena Jaelani “doyan kawin”, tapi karena “tidak baik lama-lama menduda”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Optimisme dalam menyongsong masa depan Betawi yang gemilang tampak kentara pada kerja keras Salomah guna melanjutkan pendidikan anaknya (Fauzan), hingga jenjang universitas. Diceritakan, Fauzan berhasil meraih predikat “tukang insinyur” dari perguruan tinggi terbaik di Jakarta, lalu beroleh beasiswa untuk melanjutkan studi di Amerika. Bagian ujung "Kronik Betawi" menampilkan Salomah- Jaelani sebagai manusia Betawi yang terobsesi hendak mencetak kaum intelek, agar orang Betawi tidak sekadar menjadi juragan kontrakan, calo tanah, atau tukang ojek. Sebagaimana dibuktikan oleh sejarah terkini, Jaelani ingin kaumnya menjadi orang-orang yang diperhitungkan, disegani, dan bukan kuli di kampung sendiri…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-6558141579353030723?l=damhurimuhammad.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/6558141579353030723/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=6558141579353030723&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/6558141579353030723'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/6558141579353030723'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2009/07/optimisme-dalam-prosa-betawi.html' title='Optimisme Dalam Prosa Betawi'/><author><name>damhurimuhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>hulutualang@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='08966147596844497280'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-7624095514489097963</id><published>2009-06-15T14:33:00.001+07:00</published><updated>2009-06-15T14:35:19.103+07:00</updated><title type='text'>BADAR BESI</title><content type='html'>Cerpen DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jawa Pos&lt;/span&gt;, Minggu, 14/6/2009) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Centeng los daging yang ditakuti para pemalak di pasar ini di masa lalu hanya seorang tukang cukur. Meski begitu, menjadi tukang cukur, baginya, adalah sebuah kuasa yang belum tentu dimiliki oleh pembunuh bertangan dingin sekalipun. Betapa tidak? Tanpa gamang dan was-was, leluasa tangannya menekan, menekuk, dan bila perlu memelintir tempurung kepala siapa saja yang sedang dicukurnya. Di tangannya, semua kepala sama harganya, atau barangkali tak berharga. Tak peduli orang terpandang, tetua adat yang pantang disentuh bahkan ujung rambutnya sekalipun, atau jawara kampung yang kerap menagih jatah begitu gilirannya duduk di kursi cukur, bila bertingkah macam-macam, tukang cukur itu tentu sangat berpeluang menggunting daun kupingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di suatu senja yang sepi pelanggan, ia kedatangan bocah sembilan tahun yang memohon-mohon, merengek-rengek, agar rambutnya lekas dipangkas. Rona mukanya ketakutan, matanya merah-sembab. Ia mengaku rusuk dan pinggangnya memar setelah dicambuki bapaknya dengan ikat pinggang ukuran sedang. Bapaknya naik darah, sebab sudah kerap ia disuruh pangkas rambut, tapi suruhan itu bagai masuk di telinga kanan, tapi keluar lagi di telinga kiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Upah pangkas dari bapak sudah habis untuk beli gundu. Begitu ada uang jajan lagi, akan saya bayar.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tukang cukur tak berpikir panjang. Dililitkannya kain belacu buram di leher anak itu hingga tertutup sekujur tubuhnya, agar bekas-bekas potongan rambut tidak lengket di bajunya. Gunting di kanan, sisir di kiri. Tak berselang lama, ia merasa ada yang janggal. Rambut anak itu tak seperti rambut pelanggan biasanya --yang begitu dimakan gunting langsung jatuh berserak di atas kain belacu. Ia mengira mungkin guntingnya sudah majal lantaran lama tak diasah, karena itu digantinya dengan yang lebih tajam. Tapi rambut itu tetap tak mempan digunting. Begitu keras, begitu kesat, bagai menggunting kawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Ini rambut atau kawat baja? Semua gunting dan pisauku pepat dibuatnya,'' gerutu tukang cukur yang mulai berkeringat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak itu diam, sementara ia mulai menduga-duga. Jangan-jangan bukan rambutnya saja yang tak mempan dimakan mata gunting. Mungkin kulitnya juga tak bisa dilukai. Diam-diam digoreskannya pisau cukur paling tajam di kuduk anak itu. Diulangnya sekali lagi. Ditikamnya lebih dalam, lebih mencukam. Lagi-lagi pisau itu bagai tumpul. Jangankan luka, tergores pun tidak. Rupanya ia benar-benar sedang berhadapan dengan bocah kebal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Apa yang kau simpan dalam saku celanamu?'' tanya tukang cukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Cuma batu. Saya menukarnya dengan batu milik bapak. Cukup licin dan bulat untuk main gundu-gunduan,'' jawabnya sambil menunjukkan batu seukuran gundu yang baru saja dirogohnya dari saku. ''Bila suka, ambil saja. Lumayan buat batu cincin, daripada dibuang.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Ayolah, kau harus segera dicukur.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Bagaimana dengan upahnya?''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Tak usah pikirkan soal itu!''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu, tak tampak lagi batang hidung si tukang cukur. Orang-orang bilang, ia hengkang sebab upah cukur tidak lagi memadai. Diterimanya tawaran seorang sejawat untuk membuka usaha pangkas rambut di rantau orang. Diboyongnya anak-bini ke tanah seberang, hingga orang-orang kampungnya harus merelakan kepala mereka di tangan tukang pangkas keliling yang kadang datang, kadang tidak, lantaran ia menyambi sebagai kusir bendi. Ada pula yang bercukur di kampung sebelah, meski mutu cukuran itu tidak ada apa-apanya dibanding kerapian cukuran tukang pangkas cekatan yang sudah terbang-hambur itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanbasa nyaris dihabisi oleh tiga sejawatnya karena ia sembarangan menyimpan barang berharga hasil penggalian mereka selama berbulan-bulan. Satu di antara tiga sejawat itu, Sitorus, mantan anggota polisi yang meminta pensiun dini setelah menemukan selembar peta usang dalam sebuah penggeledahan di rumah yang ditengarai sebagai markas pengedar ganja. Bukan sembarang peta, tapi peta yang menandai tempat-tempat rahasia penyimpanan barang-barang berharga peninggalan orang-orang di masa dahulu. Peta harta karun, barangkali. Menurut perkiraan Sitorus, bila satu titik saja berhasil digali, nilainya setara dengan kekayaan tujuh turunan. Dari sekian banyak tempat yang tertandai, terpilih satu titik di lereng sebelah selatan Bukit Tui yang menurut mereka paling aman. Tanbasa, petani kentang yang begitu tekun, terbujuk iming-iming Sitorus. Kentang yang mulai matang tidak lagi diurusnya. Istrinya kerap marah-marah karena Tanbasa sibuk bolak-balik ke lereng Bukit Tui. Selalu pulang larut malam, karena harus memperlihatkan setiap hasil penggalian pada Nisar, dukun pilih tanding yang dipercaya Sitorus mengawal penggalian itu. Selepas dua minggu penggalian, Nisar menyampaikan kabar baik. Menurut penglihatan mata batinnya, di lubang yang telah mereka gali itu tersimpan sebuah peti besi berisi bongkahan-bongkahan emas, batu-batu permata, dan barang-barang pecah-belah berusia ratusan tahun. Namun, makhluk penunggu lubang itu baru bisa memberikan sebuah batu seukuran gundu. Barang siapa memegang dan menyimpan batu itu, niscaya semua anggota tubuhnya kebal dari semua senjata yang berasal dari unsur besi. Orang-orang dulu menyebutnya Badar Besi. Maka, pada malam yang telah ditentukan, Nisar turun ke lokasi penggalian. Dikerahkannya segenap kesaktian guna membangkitkan Badar Besi dari lubang itu. Tanah di sekeliling lubang retak-rengkah, nyaris terbelah dua, lalu serpihan-serpihannya membesut ke permukaan. Nisar menyediakan kain seukuran sapu tangan yang katanya dirajut dari benang tujuh rupa, guna menampungnya saat jatuh kembali ke permukaan. Badar Besi ada dalam salah satu serpihan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Bagaimana cara kami membaginya, sementara hanya ada satu batu?''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Barang itu hanya bisa menjadi milik bersama.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Bagaimana kalau dijual? Hasilnya dibagi rata.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Begitu lebih baik. Tapi, tak boleh ada keculasan. Bisa celaka.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka memercayai Tanbasa sebagai orang yang paling layak menyimpan Badar Besi sebelum tiba saatnya dijemput oleh seseorang, tentu setelah mereka sepakat perihal imbalan yang setimpal dengan kehebatan Badar Besi. Calon pembeli yang duitnya konon tak berseri itu bahkan berkenan menanggung berapa pun biaya yang diperlukan untuk penggalian selanjutnya, tentu setelah terbukti bahwa Badar Besi yang berada di tangan Tanbasa benar-benar asli. Celakanya, Badar Besi itu ternyata omong kosong belaka. Orang suruhan pembeli membelitkan Badar Besi yang masih terbungkus sapu tangan dari rajutan benang tujuh rupa itu di leher seekor kucing. Ia menyembelihnya, dan kucing itu menggelepar-gelepar sebelum tumbang berlumur darah, sebagaimana penyembelihan biasa. Badar Besi yang semula bakal mengubah peruntungan Sitorus, Tanbasa, Tuninjun, dan Jukamba telah ditukar seseorang dengan batu lain. Meski warna, kebulatan dan kelicinannya hampir sama, tapi itu palsu, tak lebih bernilai dari batu akik yang biasa dijajakan di kaki lima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Bila Badar Besi tidak kembali, kusembelih kau seperti kucing kurap itu!'' gertak Sitorus yang mulai naik pitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Gara-gara penggalian itu, anakku sering kerasukan setan. Dan, kau lalai menjaga barang itu. Setan!'' tambah Tuninjun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Kau sia-siakan kepercayaan kami. Keparat busuk!''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertahun-tahun mereka menunggu. Badar Besi tiada kunjung kembali. Sia-sia belaka kerja keras mereka. Sialnya lagi, mereka tak henti-henti dirundung petaka. Para penggali itu tak setangguh dulu. Kini, Sitorus lumpuh. Separo badannya mati-rasa, terkulai tak berdaya di atas kursi roda. Orang-orang bilang ia terserang stroke, sementara Sitorus yakin bahwa penyakit itu akibat dari penggalian harta karun yang ia pimpin puluhan tahun silam. Anak laki-laki Tuninjun tak kunjung sembuh. Saat kerasukan, ia mengunyah-ngunyah pisau silet seperti mengunyah keripik talas. Belum ada dukun yang sanggup mengobatinya, termasuk Nisar, yang semakin menurun saja kesaktiannya. Begitu pun Jukamba, ia sering mengeluh lantaran hidupnya tak pernah tenteram sejak malam penemuan Badar Besi itu. Kerap ia dihantui mimpi buruk. Dalam mimpi itu ia didatangi sosok berwajah iblis yang selalu mengingatkan bahwa tidak lama lagi ia akan mati, dan celakanya, kematian itu bakal berdarah-darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya Tanbasa yang masih segar-bugar. Meski tubuhnya mulai ringkih, lelaki tua itu sehat walafiat, tak kurang satu apa pun. Tidak pula mengalami keganjilan-keganjilan sebagaimana sejawat-sejawatnya. Bila Sitorus, Tuninjun, dan Jukamba sudah membuang semua angan-angan muluk tentang Badar Besi, Tanbasa justru kian bergairah untuk kembali menemukan barang keramat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Dulu, bapak pernah menyambukimu dengan ikat pinggang hingga rusukmu memar. Masih ingat?'' tanya Tanbasa pada Juangkat, anak laki-lakinya yang mulai beranjak dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Tentu. Hingga kini aku tidak pernah telat pangkas rambut.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Waktu itu bapak ingin menguji kekuatan Badar Besi di dalam saku celanamu. Kau menukarnya dengan batu gundu bukan? Tapi bapak biarkan saja.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Bapak juga tahu kalau batu itu kuberikan pada tukang cukur sebagai ganti upah cukur?'' tanya Juangkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Untuk sementara Badar Besi lebih aman di tangan cukur itu.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Bapak lakukan itu agar kelak kau memilikinya. Kini saatnya kau merebutnya kembali.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama sekali aku mengabdi sebagai kaki-tangan centeng los daging di pasar ini. Tapi ia tak pernah tahu asal-usulku. Lagi pula, itu tidak penting baginya, ia hanya perlu anak semang yang siap mati demi ketersohorannya. Tapi aku sangat mengenalnya, seperti aku mengenal puncak hidungku sendiri. Kutandai segala tindak-tanduknya, kuhapal segala pantangannya, kumata-matai di tubuh bagian mana ia menyembunyikan Badar Besi yang konon menjadi sumber kesaktiannya. Ia makin menua, tak sebengis dulu. Ia memang tak mempan ditikam, tapi mustahil ia kebal dari ajal. Akan tiba saatnya aku merenggut Badar Besi dari tangannya. Aku bukan Marpaung --kacung yang dipercayainya rela hilang nyawa demi nama besarnya. Tidak! Nama asliku Juangkat. Saat umurku sembilan tahun, aku pernah membuat ia berkeringat dingin lantaran rambutku tak mempan dimakan mata gunting dan mata pisau cukurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-7624095514489097963?l=damhurimuhammad.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/7624095514489097963/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=7624095514489097963&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/7624095514489097963'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/7624095514489097963'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2009/06/badar-besi.html' title='BADAR BESI'/><author><name>damhurimuhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>hulutualang@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='08966147596844497280'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-2909297194687716572</id><published>2009-06-02T13:08:00.001+07:00</published><updated>2009-06-02T13:10:03.600+07:00</updated><title type='text'>IKHTIAR  MENYELAMATKAN  PUISI</title><content type='html'>Oleh : DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pikiran Rakyat&lt;/span&gt;, Minggu 17/5/2009)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SENI paling unggul adalah seni yang mampu membangkitkan hasrat-berkehendak setelah sekian lama tersumbat. Begitu ketegasan penyair mashur kelahiran Pundjab, India, Muhammad Iqbal, sebagaimana dikutip S.A Vahid  dalam  Iqbal, His Art &amp; Thought (1916). Oleh karena itu, the dogma of Art for the sake of Art  is a clever invention of decadence to cheat us out of life and power—dogma ‘seni untuk seni’ adalah sebuah rekayasa cerdas dari kebobrokan yang mengecoh dan menipu agar kita semakin terasing dari realitas kehidupan dan kekuatan—lanjut Iqbal lagi. Bagi penulis epos Javid  Nama (1932) itu, seni harus menghayati manusia dan segala kehidupannya. Di samping memberi rasa nikmat, seni harus dapat memandu pikiran manusia. Demikian Iqbal menegakkan kepenyairannya, sebagaimana tercermin dalam Asrar-i Khudi (1915), Rumuz-i Bekhudi (1918), dan  Payam-i-Mashriq (1923). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tak disangsikan bahwa puisi adalah ekspresi estetik paling hulu. Induk segala bentuk ekspresi sastrawi, dan belum ada yang melampauinya. Itu sebabnya, penyair Arab tersohor, Adonis (Ali Ahmad Said), tak segan-segan menyejajarkan antara “jalan kepenyairan” dengan “jalan kenabian”. Baginya, penyair—dengan azwaq al-adaby (cita-rasa sastra) yang mereka genggam—sanggup menggapai anak-tangga paling puncak guna menangkap pesan-pesan profetik sebagaimana kemampuan nabi dalam menyambut risalah Tuhan yang  bermuasal dari lauh-mahfuz. Bila  filsuf Arab, Al-Farabi  ((870-950) menegaskan bahwa derajat kenabian dapat diraih oleh manusia-manusia khawwas (khusus) berkat pencapaian mereka pada jenjang aql-fa’al (akal aktif), maka dalam batas-batas tertentu golongan penyair juga berlabuh di maqam itu. Bagi Adonis, “komunikasi nubuwwat” yang secara bulat-penuh disambut oleh sejumlah penyair Arab pra-kenabian, mampu mendedahkan sajak-sajak yang nyaris menyamai estetika qur’ani. Ada “lelaku kenabian” yang secara tak sengaja terbangun dalam proses kreatif mereka, sebagaimana lelaku kenabian yang dimiliki oleh orang-orang yang bakal terpilih sebagai pembawa risalah. Inilah puncak pencapaian para penyair Arab yang dalam catatan sejarah dikenal sebagai muallaqat (penyair-penyair terpilih yang sajak-sajak mereka digantungkan di dinding Ka’bah)  dan  muhazzabat (sajak-sajak yang ditulis dengan tinta emas). Thomas Patrick Hughes dalam Dictionary of Islam (1895)  mencatat tujuh nama penyair Arab klasik yang lahir dari tradisi muhazzabat dan muallaqat ini, antara lain: Zuhair, Trafah, Imrul Qays, Amru ibn Kulsum, al-Haris, Antarah dan Labid. Di antara tujuh penyair itu, yang paling berpengaruh adalah Imrul Qays (wafat tahun 550 M), sebagaimana diakui oleh al-Ashma’i dalam al-Fuhul asy-Syuara’ (1971). Menurutnya,  Imrul Qays  pionir bagi para penyair “jahiliyah” lainnya. Ibnu Qutaibah dalam asy-Syi’ir wa asy-Syu’ara (1969) mencatat, di masa selanjutnya, bahkan tokoh penting, Umar bin Khattab pernah memuji kepiawaian penyair ini. Khalifah kedua setelah Abu Bakar Siddieq itu bilang, Imrul Qays pencipta mata air puisi bagi para penyair di zamannya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Imrul Qays memperlihatkan gairah pencarian terhadap kesadaran puitik yang sama sekali baru, setidaknya bila ditakar dengan langgam estetika puisi “jahiliyah”. Diterabasnya batas-batas, dilanggarnya tabu, dibangkitkannya hasrat-berkehendak yang selama berkurun-kurun tertimbun dalam ortodoksi dan kekolotan tetua-tetua kabilah Quraisy, dengan menciptakan metafora baru yang tanpa disadarinya ternyata melampaui konvensi-konvensi bahasa yang masih merujuk pada masa lalu. Aku naiki kuda dalam peperangan/bagaikan belalang/lembut gemulai/jambulnya tergerai menutupi wajahnya, begitu bunyi salah satu sajaknya. “Kuda” yang lazim digunakan sebagai simbol heroik dan kegagah-beranian di medan tempur antar suku, dialih-fungsikan menjadi pengamsalan yang  dianggap janggal dan bermasalah di masa itu; simbol kejantanan laki-laki yang tergeletak sebagai pecundang di atas ranjang. Akibatnya, “kuda” itu bagai “belalang” yang gemulai, atau lemah syahwat, tepatnya. Selain  itu, seperti dicatat Al-Marzabani dalam Al-Muwassiyah (1965), sajak-sajak Imrul Qays juga melanggar kelaziman struktur  puisi Arab yang setiap baitnya tidak boleh saling bertentangan, setiap kata saling mengokohkan, hingga membentuk kesatuan makna yang utuh dan tak tergoyahkan—dalam terminologi sastra Arab disebut Qafiyah. Bagi Adonis, gairah kepenyairan para perintis genre sajak rasya’ (ratapan), ghazzal  (erotik), dan madh (pujian) itu memperlihatkan rancangan realitas yang terus  berubah (mutahawwil) sebagai antitesis dari ortodoksi, dan fanatisme  tokoh-tokoh Quraisy  yang stagnan, dogmatis, atau dalam bahasa Adonis as-tsabit  (yang tetap).  &lt;br /&gt;Contoh sederhana ini kiranya dapat memaklumatkan  betapa beratnya beban yang dipikul puisi. Ia mengemban desakan gerak transformasi sosial dan kultural dalam masyarakat yang melahirkannya. Sama halnya dengan tanggung jawab para nabi yang dengan teks-teks suci memikul risalah guna menyempurnakan watak dan moralitas umat. Maka, tidak ada alasan untuk bermain-main, apalagi mendistorsi martabat kepenyairan menjadi puisi-puisi yang hanya mahir berbicara tentang hujan, salju, embun, atau bunga mawar. Gagasan ganjil inilah yang menjadi pangkal-bala silang pendapat antara saya (Kesadaran Puitis &amp; Politik (PR, 5/4) dan Yopi Setia Umbara (Dam, Dam, Dam, (PR, 19/4). Beberapa hari selepas esai saya diturunkan, dengan nada sinis, seorang sejawat penyair bertanya; “benarkah tuan mencintai puisi?” Tegas saya menjawab; “sepenuh hati.” Tapi, tampaknya itu belum dapat melenyapkan kecurigaannya pada saya, yang menurutnya tidak bulat-bulat menyukai puisi. “Tapi mengapa tuan bilang;  apalah guna sebait sajak yang hanya mampu menggambarkan setetes embun yang jatuh di atas sehelai daun?” tanyanya lagi. Saya jadi maklum, ternyata kalimat itu telah membuat panas kuping seorang penyair. Ia tidak sedang bertanya, tapi menagih pertanggungjawaban atas kesembronoan saya, lantaran telah meremehkan pencapaian estetika dari puisi-puisi gemulai yang dibelanya itu. “Sebab, bagi saya, itu bukan puisi!”  Begitu saya mengakhiri pembicaraan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antologi sajak Demonstran Sexy (2008) karya Binhad Nurrohmat yang menjadi cikal-soal perbantahan ini, bagi saya, dapat menjadi umpan yang jitu guna memancing penggalian yang lebih berkedalaman perihal nilai-guna puisi di tengah kebisingan suasana politis yang kian hari kian menyengsarakan. Bila Khudori Husnan (PR, 3/5) menimbangnya dengan hipotesis “bergerak bersama puisi”, saya hendak menegaskan; puisi—tidak hanya puisi Binhad, tentunya—adalah gerak (aksi) itu sendiri, sebab ia subjek yang aktif, bukan sekadar medium. Di tangan Binhad, puisi  selekasnya mesti turun dari menara gading kepenyairan yang sejak lama dipuja-puji itu. Puisi harus merakyat, hidup berdampingan dengan rakyat, muasal puisi itu sendiri. Ini berarti puisi harus segera “diselamatkan” dari keterasingan lantaran keterikatannya pada kultus dan ritus, sebagaimana syair-syair Homerus di masa lalu. Walter Benjamin (1892-1940) filsuf Jerman terkemuka, pernah membincang perihal pudarnya basis-basis kultus dan ritual seiring dengan gelombang sekularisasi pasca-renaisance, yang di satu sisi memang mengakibatkan seni kehilangan autentisitas dan otonomi, tapi pada sisi lain, seni mampu mendedahkan emansipasi sosial tanpa harus bergantung pada ritus dan kultus itu. Menurut Benjamin, sesuatu yang menarik dalam peradigma baru sejarah seni itu adalah bahwa ruang kosong  yang di masa lalu diisi oleh ritus dan kultus, dalam seni modern dipenuh-sesaki oleh praktik sosial lain, yakni: politik. (F.Budi Hardiman, 2007).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, sejak itu, seni mengalami perubahan dari coraknya yang esoterik menjadi  eksoterik. Seni mulai disuguhkan secara langsung pada “rakyat jelata”—meminjam ungkapan khas Binhad—dan tentu saja sarat dengan muatan politis, sebagaimana terlihat pada drama-drama karya Bertold Brect (1898–1956). Segala bentuk tabir yang selama berkurun-kurun telah mengaburkan makna puisi, harus selekasnya disingkap, dibuka selebar-lebarnya, agar ia dapat dimasuki oleh sebanyak-banyaknya “umat puisi”. Demonstran Sexy yang ditegakkan atas dasar kepekaaan politis demi tendensi praksis-emansipatoris—karena itu ia bermuatan politis—meski bukan tanpa persoalan, agaknya dapat menjadi langkah awal dalam ikhtiar “menyelamatkan” riwayat perpuisian kita yang akhir-akhir  ini semakin tertimbun di lubuk keterasingan…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-2909297194687716572?l=damhurimuhammad.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/2909297194687716572/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=2909297194687716572&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/2909297194687716572'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/2909297194687716572'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2009/06/ikhtiar-menyelamatkan-puisi.html' title='IKHTIAR  MENYELAMATKAN  PUISI'/><author><name>damhurimuhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>hulutualang@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='08966147596844497280'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-3754025086235049109</id><published>2009-04-20T14:45:00.002+07:00</published><updated>2009-04-20T14:53:47.164+07:00</updated><title type='text'>JURU MASAK; Sebuah Telisik Ringan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/SewpWeWU1zI/AAAAAAAAAE4/1O-xWoEDh34/s1600-h/sample+cover+revisi.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 269px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/SewpWeWU1zI/AAAAAAAAAE4/1O-xWoEDh34/s320/sample+cover+revisi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5326677925353019186" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : KHRISNA PABICHARA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Mulanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KAMPUNG. Dari sanalah “Juru Masak” berpangkal. Dari sanalah Damhuri Muhammad, selanjutnya saya sebut Damhuri, mulai merakit cerita-cerita yang dikemasnya dengan telaten. Kampung, itu pula yang membuka gerbang ingatan masa kecil saya dan membuat saya “jatuh hati” pada kisah demi kisah yang dituturkan Damhuri dalam sehimpun cerita pendeknya itu. Kenapa? Karena saya orang kampung, itu jelas. Namun, ada pernik lain yang menyeret segala ingatan saya ke “kampung”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya menelisik cerpen-cerpen Damhuri, saya tiba-tiba teringat sentilan Raudal Tanjung Banua. Pengarang sebagai narator, dalam teropong Raudal, belakangan tampak begitu dominan dengan balutan bahasa yang rimbun dan miskin dialog. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntunglah, ketika saya memasuki kampung Damhuri yang dikemas dengan bahasa sederhana dan bersahaja, saya menemukan narasi dan dialog yang ditata begitu imbang. Boleh jadi, sebagaimana tutur Damhuri, karena ia menulis cerpen layaknya meraut sepasang bilah layang-layang dengan sangat telaten, sampai permukaannya benar-benar halus dan imbang bila ditimbang. Bahkan, ada beberapa cerpen yang disimpannya berbulan-bulan. Dibaca lagi, diraut lagi. Dibaca lagi, ditimbang lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca Juru Masak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DALAM JURU MASAK, Damhuri menampilkan suasana kampung dari segala sisi. Pada Gasing Tengkorak, Damhuri berkisah tentang kehebatan Dinir menaklukkan semua perempuan yang diidamkannya, dengan jimat yang didapatkannya sebagai warisan turun-temurun dari para leluhur. Namun, ketika jimat itu digelandang ke kota sebagai aset untuk diniagakan, atas hasut isteri-isterinya, jimat itu ternyata tidak bisa menunjukkan daya pukaunya yang mumpuni itu. Saya sempat menaruh syak, jangan-jangan ini kisah nyata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara pada Ratap Gadis Suayan, Damhuri menyeret saya ke masa lalu. Di pelosok Jeneponto, sekitar 80 kilometer dari Makassar ke arah selatan, memang ada budaya appitoto, menangis-meratap-meraung setiap ada orang yang meninggal. Hanya saja, dalam cerpen ini, Damhuri meletakkannya dengan suguhan warna yang lain, meratap itu menjadi profesi yang dibenci sekaligus dicari-cari. Dibenci karena mengais rupiah dari upacara kematian, dan dicari-cari karena upacara dianggap kurang khidmat tanpa ritual ratap-meratap itu. Namun, apa yang akan terjadi jika jenazah yang harus diratapi Raisya adalah jenazah orang yang telah menghancurkan hidupnya? Lagi-lagi, saya sempat menduga ini kisah nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana kampung juga sangat kental dalam Tikam Kuku. Di beberapa daerah biasanya ada “bekal khusus” bagi yang hendak merantau. Sebelum calon perantau (bukan calon legislatif!) itu meninggalkan kampung, biasanya dibekali dulu dengan rerupa jurus silat. Damhuri berkisah dengan lincah tentang kehebatan Harimau Campo dan kedigjayaan Dahlan Beruk. Akan tetapi, bukan semata bagaimana proses bersilat yang digambarkan oleh Damhuri dengan narasi yang indah. Jika direntang lebih lapang, cerita ini juga dibidik untuk memanah “tengkulak-tengkulak modern” yang menguasai negara, lebih dari kuasa “tengkulak tembakau” yang menyingkirkan “patriot” seperti Dahlan Beruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, sebagai cerita yang dipilih sebagai andalan, Juru Masak pun menawarkan aroma khas “kampung”, yang benar-benar kampung. Kali ini, Damhuri menilik suasana kampung dari sudut perhelatan, pesta pernikahan. Di kampung saya, pesta pernikahan adalah prestise yang menunjukkan kelas dan martabat seseorang. Hal sama, boleh jadi, berlaku pada kampung-kampung lain di seantero nusantara. Hanya saja, bukan sekadar bercerita tentang betapa “wah” sebuah perhelatan digelar, Damhuri mengerucutkan kisahnya pada “masakan” yang disajikan. Alkisah, tidaklah lengkap sebuah kenduri, jika bukan Makaji yang menjadi Juru Masak. Konflik terjadi ketika yang menggelar hajat adalah Mangkudun, tuan tanah yang pernah memiuh harga diri Makaji. Sementara, yang hendak dinikahkan adalah Renggogeni, perempuan yang sangat dicintai putra juru masak itu, Azrial. Sungguh, cerita ini menyuguhkan nilai yang sangat manusiawi, cinta dan harga diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, saya membaca Juru Masak seperti orang kampung membaca kitab di surau. Khidmat, dan nikmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menelisik Juru Masak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAYA SEDANG BELAJAR menjadi pembaca sastra yang selalu menikmati kenyamanan dan keindahan karya sastra, termasuk cerpen. Sebelum saya membaca sebuah karya sastra, meminjam istilah Hernowo, saya bertanya hal mendasar, “Apakah karya sastra ini bermanfaat bagi saya?” Jika tidak, saya tidak akan membacanya. Mungkin ini terkesan arogan. Padahal, biasa saja. Lumrah. Dan, sah-sah saja. Karena saya tidak mau melakukan sesuatu yang sia-sia, yang tidak memberi apa-apa, meski hanya secuil manfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, membaca itu menyerap tenaga, waktu, dan pikiran. Membaca adalah pekerjaan serius.. Karena itu, saya tidak mau membuang tenaga, waktu, dan pikiran itu dengan percuma. Hal sama berlaku ketika saya membaca Juru Masak. Saya berharap ada, nilai atau hikmah, yang bisa saya serap seusai membacanya. Ya, saya berharap dapat menemukan sesuatu yang “menggugah”. Syukur-syukur “mengubah” atau “menggerakkan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika berpijak pada saran Budi Darma, formula yang digunakan dalam penulisan cerpen oleh Damhuri, telah memenuhi dua komponen penting penulisan karya sastra, termasuk cerpen. Kedua komponen itu adalah isi dan bentuk. Isi adalah bahan utama penulisan, dan bentuk adalah cara untuk mengungkapkan isi. Dengan cerdas, Damhuri memenuhi kedua komponen itu, isi dan bentuk. Meskipun pada beberapa cerpen, saya merasa kurang “klik”. Seperti pada cerpen Anak Bapak, yang bagi saya terkesan belum “diraut” dan “ditimbang” dengan telaten. Ada juga cerpen yang sarat “kekuatan pesan” dengan latar sejarah, yakni Mardijker, namun kurang nyambung dengan cerpen lainnya, meskipun tetap mengusung tema “kampoeng depok tempo doeloe”. Hal sama terlihat pada Kesturi, kuat pada pencitraan, narasi, dan dialog, tetapi tidak terlihat benang merahnya dengan cerita lain, yang beraroma “kampung” itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, tidak harus sebuah antologi diikat dengan merah melalui kesamaan setting atau tema. Hanya saja, suasana membaca saya yang “nyaman” dan “khidmat”, yang terbangun dari awal, menjadi “sedikit” buyar ketika membaca Anak Bapak, Mardijker, dan Kesturi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, apa yang saya dapatkan dari Juru Masak? &lt;br /&gt;Ada dua hal penting yang saya petik dari jejak pena cerpenis kelahiran Payakumbuh ini. Pertama, kemampuan menggugah. Membaca Juru Masak bukan semata membuka-buka romansa atau mengorek-ngorek ingatan masa kecil, melainkan lahirnya sebentuk kesadaran baru, bagi saya, bahwa bersastra adalah pekerjaan yang serius. Yang harus dilakukan dengan telaten dan penuh kesabaran. Yang harus dicicil setiap hari. Yang harus diraut dan ditimbang. Hanya dengan cara seperti itulah yang bisa membuat saya bisa bertumbuh-berkembang dengan subur dan rimbun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, kekuatan mengubah atau menggerakkan. Tamu dari Kampung adalah cerpen yang paling “saya”, dengan kata lain paling mencerminkan kondisi saya sebagai “orang kampung” yang merantau ke pinggiran Jakarta. Sebenarnya, lebih tepat disebut pinggiran Bogor. Ya, saya sering mengalami hal sama seperti yang dialami Tanur. Menerima tamu dari kampung, lalu ketika mereka kembali ke kampung, tersebarlah cerita yang sebenarnya jauh panggang dari api. Mengapa kita harus membagus-baguskan sesuatu yang hakikatnya belum boleh disebut “bagus”? Itulah dua manfaat mendasar yang saya temukan dari Juru Masak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Akhirnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEKARANG, kita kembali ke filosofi “meraut bilah” untuk dijadikan layang-layang itu. Kegiatan bersastra, termasuk mengarang cerpen, adalah kegiatan yang menantang, sekaligus menyenangkan. Sama seperti membuat layang-layang. Tidak boleh kesusu. Tidak boleh tergesa-gesa. Tidak boleh asal-asalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Damhuri, juga saya, tidak ada kegirangan yang lebih hebat bagi seorang pengarang selain kegirangan ketika karya-karyanya dibaca orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parung, 19 April 2009&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Khrisna Pabichara&lt;/span&gt;, motivator pembelajaran dan penyuka cerpen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini disampaikan pada Diskusi Bulanan D'Smart Community, sebuah komunitas pelajar yang "kurang beruntung" dari sudut ekonomi, pada Minggu, 19 April 2009, bertempat di Madrasah Ibtidaiyah Al-Ijtihad Kp. Lengkong Barang Desa Iwul Kecamatan Parung Kabupaten Bogor. &lt;br /&gt;Terima kasih kepada Damhuri Muhammad atas sumbangsih tulisannya dalam JURU MASAK: sehimpun cerita pendek.Terima kasih kepada Kepala MI Al-Ijtihad, Dedi Munadih, atas ijin dan kepeduliannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-3754025086235049109?l=damhurimuhammad.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/3754025086235049109/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=3754025086235049109&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/3754025086235049109'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/3754025086235049109'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2009/04/juru-masak-sebuah-telisik-ringan.html' title='JURU MASAK; Sebuah Telisik Ringan'/><author><name>damhurimuhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>hulutualang@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='08966147596844497280'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/SewpWeWU1zI/AAAAAAAAAE4/1O-xWoEDh34/s72-c/sample+cover+revisi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-6432228270092333816</id><published>2009-04-13T10:38:00.002+07:00</published><updated>2009-04-13T10:47:36.242+07:00</updated><title type='text'>Sastra  yang Mendustai  Pembaca...</title><content type='html'>(&lt;span style="font-style:italic;"&gt;KOMPAS,&lt;/span&gt; Sabtu, 4 April 2009) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang kawan, sebutlah Fulan, pernah datang memenuhi panggilan sebuah perusahaan penerbitan buku berkelas di Jakarta. Konon, ia memperoleh tawaran menjadi penyunting naskah sastra terjemahan, khususnya dari roman-roman berbahasa Arab.Dalam perjalanan, kawan itu tiba-tiba khawatir bakal gagal sebab tak ada yang bisa diandalkannya, selain sedikit kemahiran menulis fiksi dan sedikit kemampuan membaca teks-teks berbahasa Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas bincang-bincang penuh basa-basi yang sesekali bernada menguji, Fulan bertanya kepada penguji yang tampak sudah kenyang pengalaman di dunia sastra terjemahan dari bahasa Arab itu—seperti roman- roman karya para pengarang Mesir: Thaha Husain, Naguib Mahfouz, Nawwal el-Saadawi, Radwa Ashour, atau Ala Al-Aswany.&lt;br /&gt;”Jebolan universitas Al-Azhar (Kairo) banyak sekali. Kemampuan bahasa Arab mereka tak diragukan, kenapa Bapak malah memanggil saya?” Sambil menggeleng penguji itu bilang, ”Bahasa Arab mereka memang hebat, tetapi mereka kurang cakap dalam berbahasa Indonesia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan penguji memperlihatkan problem dunia penerjemahan Arab-Indonesia. Para penerjemah begitu menguasai aspek gramatikal Arab (qawaid al-lughah), tetapi kurang ”maju” dalam berbahasa Indonesia. Banyak dari mereka yang belum mempraktikkan bahasa Indonesia yang ”baik” dan ”benar”. Kerja terjemahan mereka bukan alih bahasa dalam arti sejatinya, tetapi hanya mendedahkan teks bahasa Indonesia yang masih bercita rasa Arab. Meski sudah (meng)-Indonesia, jejak Arabnya masih saja tersisa. Setengah Arab, setengah Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Terjemahan, satu contoh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Seorang pelayan keluar dari sebuah vila yang megah, matanya sibuk mengitari jalanan yang lengang. Angin sepoi-sepoi bertiup dengan lembut, menyanyikan pada dedaunan sebuah nyanyian senja.” Kutipan ini salah satu contoh teks terjemahan dari sebuah roman berbahasa Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tengoklah, kata "keluar" yang terbaca rancu meski mungkin tidak salah. Lebih tepat bila diganti "muncul". Kata "megah" tidak tepat menyifati vila—sebab, "megah" lazimnya menyifati gedung. Lebih sepadan bila "megah" diganti "mewah". Begitupun kata "sibuk" tidak serasi bersanding dengan "mata", lagi-lagi meski tidak salah. Sorot mata lebih berjodoh dengan kata "awas"—kejelian, ketelitian mengamati obyek. Mengitari akan terasa lebih tajam bila diganti dengan "menyigi" atau "menelusuri".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyunting bukan sekadar menggunting kalimat, tetapi juga memperkaya pilihan kata guna mempertajam pesan-pesan teks. Agaknya belum memadai bila kerja penyuntingan hanya mempertimbangkan aspek leksikal-gramatikal saja, dituntut pula eksplorasi yang mendalam untuk memilih padanan kata yang jitu, yang sepadan satu sama lain, dan karena yang disunting adalah teks sastra, ambiguitasnya tentu harus tetap terjaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Angin sepoi-sepoi bertiup dengan lembut, menyanyikan pada dedaunan sebuah nyanyian senja” terdengar janggal. Dalam cita rasa bahasa Indonesia, "sepoi-sepoi" sesungguhnya lebih tepat bila ditempatkan sebagai kata sifat. "Bertiup" dapat diganti dengan "berembus" atau "berkesiur." Hal kata "dengan", inilah yang disebut sebagai jejak bahasa asal dalam teks terjemahan. Dapat diduga, "dengan" adalah terjemahan dari "bi" (huruf ba berharakat kasrah), yang di dalam kaidah tata bahasa Arab disebut huruf Jar. "Angin berembus/berkesiur sepoi-sepoi" sudah mengandung sifat lembut. Maka, dengan lembut tidak perlu lagi. Inilah salah satu cara menghapus jejak bahasa asal dalam teks terjemahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun frase ”menyanyikan pada dedaunan sebuah nyanyian senja”, selain mengulang kata (nyanyi), preposisinya terdengar tidak logis. Seolah-olah embusan angin sepoi-sepoi yang bernyanyi. Padahal yang bernyanyi bukan angin, melainkan daun-daun. Dedaunan bergerak—melenggok-lenggok, menimbulkan bunyi—akibat embusan angin. Karena kesiur angin sepoi-sepoi, dedaunan (seolah-olah) menyanyikan sebuah lagu senja. Maka boleh jadi akan lebih baik bila kalimat tersebut berbunyi, ”angin berembus sepoi-sepoi, hingga daun-daun seolah-olah menyanyikan sebuah lagu senja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan perubahan itu, preposisinya menjadi sangat logis dan secara tidak sengaja malah menciptakan sebuah metafora (”lenggok-lenggok daun yang menimbulkan bunyi serupa nyanyian lagu senja”).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah disunting dengan cara mempertajam diksi, memangkas kata yang tak perlu, menghilangkan repetisi, meluruskan preposisi, rumusan teks hasil terjemahan di atas akan berubah menjadi: ”Seorang pelayan muncul dari sebuah vila mewah. Sorot matanya awas menelusuri jalan yang lengang. Angin berkesiur sepoi-sepoi, hingga daun-daun seolah-olah sedang menyanyikan sebuah lagu senja”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Buah dusta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyunting teks terjemahan, tampaknya tidak hanya perlu penguasaan terjemahan tekstual, tetapi juga membutuhkan kecerdasan dalam menyingkap tafsir kontekstual. Sebagai contoh, kata "hadist" (bahasa Arab) dalam teks ilmu hadis, asosiasi maknanya mengarah pada sumber hukum Islam kedua setelah Al Quran. Namun, bila kata itu ditemukan dalam teks filsafat, tidak bisa lagi dimaknai sebagaimana maknanya dalam konteks ilmu hadis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hadist" dalam bahasa filsafat bermakna ”temporal” (nisbi, relatif). Begitu juga kata "qadim", dalam ilmu sejarah, asosiasi maknanya mengarah pada waktu yang telah berlalu (lampau, dahulu). Namun, dalam konteks ilmu kalam (teologi Islam), filsafat dan sebagian besar teks sastra, "qadim" bermakna; ”eternal” (kekal, tak berubah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerja penyuntingan teks terjemahan sangat berpeluang membuahkan dusta. Itu terjadi ketika muncul ketidakselarasan antara pesan teks asli dan teks alih bahasa. Dusta yang bermula dari penerjemah, dilanjutkan oleh penyunting, hingga menjadi dusta berkepanjangan yang terus-menerus ditimpakan kepada khalayak pembaca ”tak berdosa”. Ini kerap terjadi dalam penerjemahan dan penyuntingan teks sastra terjemahan, khususnya dari roman-roman berbahasa Arab yang terus berhamburan dalam khazanah perbukuan Tanah Air sejak beberapa tahun belakangan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironisnya, dalam banjir naskah itu, masih saja ditemukan sebagian penyunting yang bekerja tanpa pengetahuan yang memadai terhadap aspek ketatabahasaan Arab. Sementara kebutuhan pengetahuan tentang itu sangat vital, bahkan masih perlu dilengkapi dengan pemahaman tentang dasar-dasar ilmu stilistika Arab (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bayan, Ma’ani, Badi’, ’Arudh&lt;/span&gt; dan Qawafi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itupun sebenarnya masih perlu dilengkapi dengan kemampuan yang terlatih dalam menulis karya sastra, membentangkan layar estetik, meraih diksi-diksi yang tepat, dan piawai bermain tamsil, amsal, dan umpama. Dengan begitu, penyunting dapat menyulap roman-roman berbahasa Arab menjadi (seolah-olah) bukan karya terjemahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, saya jadi mengerti, kenapa kawan saya, Fulan, lebih bisa dipercaya dibandingkan dengan para penyunting yang canggih bahasa Arab-nya, tetapi payah dan bermasalah bahasa Indonesia-nya. Pilihan tersebut sudah tepat. Tentu saja penguji tersebut berharap agar kerja penyuntingan dapat menghasilkan sastra terjemahan yang bisa dipertanggungjawabkan keabsahannya sehingga tidak lagi sewenang-wenang mendustai pembaca...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-6432228270092333816?l=damhurimuhammad.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/6432228270092333816/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=6432228270092333816&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/6432228270092333816'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/6432228270092333816'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2009/04/sastra-yang-mendustai-pembaca.html' title='Sastra  yang Mendustai  Pembaca...'/><author><name>damhurimuhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>hulutualang@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='08966147596844497280'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-450481638365764837</id><published>2009-03-16T09:26:00.002+07:00</published><updated>2009-03-16T09:35:03.635+07:00</updated><title type='text'>Wajah sebagai Topeng</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/Sb25qnhOLpI/AAAAAAAAAEw/R53J1GCohyc/s1600-h/cover+the+face+of+another-edisi+terjemahan+.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 194px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/Sb25qnhOLpI/AAAAAAAAAEw/R53J1GCohyc/s320/cover+the+face+of+another-edisi+terjemahan+.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5313607277181021842" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;span style="font-style:italic;"&gt;KOMPAS&lt;/span&gt;,15/Maret/2009)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEBERAPA jernih raut wajah mencerminkan kejatidirian yang paling asali? Lelaku, sifat dan tabiat  barangkali memang dapat tergambar dari garis-garis wajah. Dalam realitas yang menyehari, pertanda amarah biasa digambarkan oleh rona muka merah-padam, begitupun keramahan, tertandai dengan raut wajah yang bersih dan berseri-seri. Itu sebabnya,  kerap terniscaya bahwa manusia itu adalah wajahnya, bukan akal-budinya, bukan pula ruhnya. Tak soal bila tuan tidak punya kaki lantaran diamputasi, tidak punya tangan lantaran cacat semenjak rahim. Tuan masih leluasa bergaul, bahkan menjalin hubungan asmara dengan orang-orang normal. Dijamin tuan masih bisa dikenali, wajahnya tuan masih bisa bersitatap dengan wajah-wajah lain, dan terus-menerus mengirimkan sinyal tentang segi-segi  kedirian tuan. Tapi, apa jadinya bila yang cacat dari tubuh tuan adalah wajah? Masih percaya dirikah tuan tegak-berdiri, berinteraksi sebagaimana layaknya orang-orang yang punya wajah? Bagaimana orang akan mengenal tuan yang tidak lagi punya wajah, meski tuan masih punya tubuh?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Inilah pertanyaan penting yang terdedahkan dalam novel Wajah Lelaki Lain (terjemahan dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Face of Another&lt;/span&gt;) karya pengarang Jepang terkemuka, Kobo Abe (1924-1993) ini. Namun, alih-alih mengafirmasi wajah sebagai pusat eksistensi sebagaimana pengandaian ringan di atas, buku ini justru sedang berupaya menjungkirbalikkan kuasa wajah sebagai satu-satunya penanda identitas, tabiat, dan kejatidirian. Demi penyangkalan telak itu, “aku” (tokoh utama)—seorang ahli kimia molekuler yang wajahnya terbakar akibat kecelakaan di laboratorium hingga yang tersisa hanya gundukan-gundukan jejaring daging akibat luka keloid—merancang sebuah topeng guna mengganti wajah lamanya. Sejak kehilangan wajah, ia merasa terkucil, terasing dari lingkungannya, dan yang paling memberatkan adalah ketidakrelaan istrinya menjadi pendamping bagi seorang suami yang tidak lagi punya wajah. Lebih parah lagi, dalam keterasingan yang tak terpermanai itu, dengan mata kepala sendiri terus-menerus ia menyaksikan perselingkuhan istrinya dengan lelaki lain. Mungkin itu sebabnya ia ingin terlahir kembali dengan wajah utuh sebagaimana dulu. Bila perlu lebih sempurna, lebih asali dari wajah aslinya. Maka, ia menopengi dirinya dengan perangkat dan bahan-bahan yang ia olah sedemikian rupa dengan kecanggihan tingkat tinggi, hingga topeng hasil  karyanya itu bahkan bisa berkeringat, di permukaannya bisa tumbuh kumis, jenggot dan jerawat, sebagaimana wajah sungguhan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sayangnya, topeng itu, alih-alih membebaskannya dari ceruk keterasingan, malah membuat ia semakin terpuruk dalam skeptisisme eksistensial yang sukar terpecahkan. Jangankan topeng itu, bahkan wajah aslinya yang sudah remuk tak berbentuk itu, tetap tidak bisa merepresentasikan kediriannya yang paling sejati. Ia seakan-akan terus didesak untuk memercayai bahwa wajah asli itu juga topeng, tak lebih berharga dari topeng bikinan yang memang telah berhasil mengelabui mantan istrinya. Baginya, tak ada sesuatu yang bisa dimaklumatkan oleh seraut wajah, selain kepalsuan, pengkhianatan, kebohongan, dan basa-basi. Kalaupun wajah memberikan sasmita dan pertanda, itu semu dan palsu. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Semula, dengan topeng itu, ia merasa telah menaklukkan perempuan yang memberhalakan wajah itu. Di luar dugaan, sejak mula pula, mantan istrinya itu  tahu bahwa lelaki tampan yang telah membuat ia bertekuk lutut  itu tidak lain adalah mantan suaminya yang sedang menyamar. Realitas yang terbangun  menjadi serba terbalik, serba jungkir-balik. Betapa tidak? Lelaki bertopeng merasa telah menguasai permainan, padahal kenyataannya ia sudah kalah, bahkan jauh sebelum permainan itu dimulai. Bukan ia yang mematai-matai mantan istrinya, sebaliknya sedetikpun perempuan itu tidak pernah lalai mengawasi gerak-geriknya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hampir tiga perempat dari buku setebal  350 halaman ini  dipenuh-sesaki oleh ketegangan-ketegangan eksistensial yang diperankan oleh lelaki bertopeng itu. Ia begitu menggebu-gebu hendak meraih eksistensi diri yang bulat dengan mewujud menjadi orang lain. Tapi, pada saat yang sama, ia begitu bergairah untuk kembali pada diri yang asali dengan cara membuka topeng itu, lalu tampil sebagai sosok lelaki dengan wajahnya dibalut gulungan perban. Sebentuk keraguan-raguan eksistensial yang keduanya terbukti tidak menjanjikan apa-apa selain kepalsuan. Lalu, dengan apa semestinya jejak eksistensi diri itu bisa ditandai?  &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Novelis pemenang Akutagawa Prize (1961, untuk novel &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Crime of Mr.S.Karuma&lt;/span&gt; ) dan pengagum berat eksistensialis Martin Heidegger dan Karl Jasper ini  dengan cara yang unik berhasil membangun semacam alegori eksistensial yang menakjubkan lewat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Face of Another&lt;/span&gt;. Dalam perkembangannya, tidak banyak sastrawan yang berhasil menitiskan kompleksitas persoalan eksistensialisme modern ke dalam karya sastra, apalagi novel.  Sebelumnya hanya Frans Kafka, Edgar Allan Poe dan Samuel Becket yang melakukannya—meski dengan ultimate concern,  mainstream, perspektif dan keterampilan artistik yang berbeda-beda. Itu sebabnya dalam sejumlah telaah akademik terhadap novel-novel Kobo Abe (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Woman in The Dunes, The Ruined Map, The Face of  Another&lt;/span&gt;)  para kritikus  kerap membandingkannya dengan karya-karya Kafka, Poe dan Becket. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Amat disayangkan, edisi Indonesia novel ini tampaknya hanya mengolah dan dan menonjolkan segi-segi dramatik dari remuk-redam dan terpiuh-piuhnya perasaan lelaki bertopeng lantaran penyamarannya dibalas pula dengan penyamaran, kepalsuan dibalas kepalsuan, lantaran cintanya bertepuk sebelah tangan, lantaran dendam yang tiada kunjung tertuntaskan. Problem kesadaran eksistensial—bagian paling rumit dari sumbu pemikiran eksistensialisme modern—sebagai mainstream yang hendak dieksplorasi oleh novel ini menjadi hambar. Barangkali karena penerjemahnya tidak begitu menguasai akar-akar persoalan kefilsafatan kontemporer, khususnya yang berkaitan dengan sayap pemikiran eksistensialisme. Begitu juga dengan kerja penyuntingan  yang  tampaknya main gunting sembarangan hingga sejumlah bagian yang semestinya menjadi inti, menjadi substansi, tapi terposisikan hanya sebagai sisipan, suplemen, pelengkap belaka. Akibatnya, kedalaman yang dijanjikannya—sebagaimana terbaca dalam edisi Inggrisnya—sukar untuk diselami. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Meski ada gairah yang menyala-nyala untuk  menyangkal wajah sebagai pusat kejatidirian, novel ini tidak berpretensi untuk menuntaskan pertanyaan besar perihal bagian manakah dari jagad cilik (mikromosmos) itu yang paling jujur memancarkan kejadirian yang paling utuh? Buku ini hanya menawarkan sejumlah kemungkinan guna menolak kepalsuan yang selama ini bermuasal dari wajah—tapi terus-menerus dipercayai sebagai kejujuran. Jangan-jangan sisi paling hakiki dari kedirian “mengada” justru setelah kita kehilangan wajah, bahkan setelah kita menghilangkan semua fungsi ketubuhan. Maka, lelaki bertopeng itu tidak sedang mencari keasalian eksistensi diri dengan wajah baru, tapi justru terus-menerus membangun semesta kehilangan guna memberi ruang bagi kehadiran diri yang asali. Ia yang justru “mengada” setelah “meniada”…    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DATA BUKU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul  :  The Face of Another&lt;br /&gt;Penulis  :  Kobo Abe&lt;br /&gt;Penerjemah :  Wawan E  Yulianto  &lt;br /&gt;Penerbit :  Jalasutra, Yogyakarta&lt;br /&gt;Cetakan  :  I,  Oktober 2008 &lt;br /&gt;Tebal  :  350 halaman&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-450481638365764837?l=damhurimuhammad.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/450481638365764837/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=450481638365764837&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/450481638365764837'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/450481638365764837'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2009/03/wajah-sebagai-topeng.html' title='Wajah sebagai Topeng'/><author><name>damhurimuhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>hulutualang@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='08966147596844497280'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/Sb25qnhOLpI/AAAAAAAAAEw/R53J1GCohyc/s72-c/cover+the+face+of+another-edisi+terjemahan+.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-3427748128589094561</id><published>2009-01-21T13:49:00.002+07:00</published><updated>2009-01-21T13:55:15.812+07:00</updated><title type='text'>MARDIJKER</title><content type='html'>Cerpen: DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;em&gt;Suara Merdeka&lt;/em&gt;,Minggu 18/01/2009)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepintas lalu, orang-orang yang lalu lalang dari dan ke arah Latanza Cafe  tentu  sudah mafhum bahwa lelaki ringkih itu tidak jauh berbeda dengan gembel-gembel yang terus membiak seperti kuman ganas yang menggerogoti kota ini. Satu kakinya diselunjurkan, satunya lagi ditekuk untuk menyangga tangan yang sedang memegang puntung rokok kretek, tapi belum sempat dinyalakannya. Tampang kusutnya masih seperti yang sudah-sudah. Bajunya lusuh, penuh tambalan dengan jahitan serampangan. Celana belacunya panjang sebelah, pisaknya bolong, hingga kancutnya menyembul keluar. Tapi, tepat jam setengah lima sore, di saat pengunjung Latanza Cafe sedang ramai, ia akan tampak berbeda dari gelandangan-gelandangan yang lain. Lelaki itu akan berdiri dengan dada sedikit membusung, mengacung-acungkan jari telunjuk ke arah Latanza Café, lalu  berteriak, &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Rumah itu memang sudah jadi milik kalian. Tapi jangan sombong! Kalian tetap saja  Mardijker, sama seperti saya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak perlu cemas dengan teriakan yang meledak-ledak dan setengah mengancam itu. Sebagaimana biasanya, salah seorang pelayan akan lekas membalas teriakan itu dari balik jendela Latanza Café. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Kita semua memang orang-orang Mardijker, termasuk kamu.” &lt;br /&gt;Lelaki itu akan diam seketika, dan kembali duduk bersilunjur seperti semula. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Begitulah yang terjadi setiap hari, sejak cafe bergaya arsitektur Eropa klasik itu mulai beroperasi. Seorang pengusaha dari Jakarta membeli rumah kuno peninggalan zaman VOC itu (kabarnya dengan harga miring), lalu merehapnya sedemikian rupa hingga menjadi Latanza Cafe, tempat nongkrong anak-anak muda kalangan kelas menengah kota ini. Petugas keamanan Latanza Café rupanya belum berhasil membuat  si tua renta kurang waras itu segera hengkang dari situ. Padahal, bermacam-macam cara sudah mereka lakukan, mulai dari membujuknya dengan nasi bungkus, rokok murahan, bahkan pernah diseret paksa oleh tiga orang satpam sekaligus. Percuma, malam diusir, besok pagi ia akan nongol lagi. Entah apa yang membuatnya begitu betah duduk berlama-lama di keramaian itu. Belum ada pula pengunjung Latanza Café yang sungguh-sungguh mengerti kata  “Mardijker”  yang  kerap terpacak dari mulut monyongnya. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Suatu ketika, Timor, salah satu pelanggan setia memberanikan diri mendekatinya. Mahasiswa pecandu café itu tampaknya mulai risih melihat perangai ganjil gembel gaek yang tak semestinya menganggu kenyamanan para pengunjung Latanza Cafe. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Apa yang bisa membuat bapak bisa meninggalkan tempat ini?” tanya Timor, sedikit membentak.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Mardijker tengik, beraninya kau mengusirku!” balasnya, menggertak. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Bapak mau apa? Sebutkan saja, akan kami kasih. Asal bapak mau pergi dan tidak kembali lagi.”&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Kurang ajar!  Kau kira saya gembel hah?”&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Kalau bukan gembel, lalu siapa?”&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Saya  Mardijker! Sama seperti kalian. ”&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Apa itu Mardijker?”&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Cari tahu dulu apa arti ‘Mardijker’, dan jelaskan pada mereka. Setelah itu saya akan pergi dari sini,” jawabnya sambil menunjuk ke arah Latanza Café.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;Mahasiswa sejarah yang waktunya lebih banyak habis di Latanza Cafe  ketimbang di bangku kuliah itu tidak buru-buru menyibak tabir di balik kata “Mardijker”. Sebelumnya Timor melacak siapa sebenarnya lelaki sinting itu. Dari beberapa orang warga di sekitar lokasi Latanza Cafe ia beroleh keterangan bahwa orang itu bernama Soedira, lengkapnya Natan Soedira. Nama yang asing di telinga Timor. Setelah itu barulah ia memulai pelacakan yang sesungguhnya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dan, inilah temuannya;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Titik terang pertamakali saya temukan di gereja tua yang masih tegak berdiri di jalan protokol kota ini. Nama “Soedira” tertera di salah satu pintu dari duabelas pintu gereja itu. Di sebelas pintu yang lain tertulis; Jonathans, Leander, Loens, Bakar, Samuel, Jacob, Laurens, Joseph,Tholense, Iskah dan Zadokh. Nama-nama itu erat hubungannya dengan Cornelis Chastelein, tuan tanah yang pernah hidup di kota ini ratusan tahun silam. Konon, ia bisa sampai di Batavia karena peristiwa berdarah yang pernah dialami orangtuanya. Di negeri asalnya, peristiwa itu dikenang sebagai malam Bartholomeus, saat pesta perkawinan petinggi Hugenot  dengan perempuan bangsawan penganut keyakinan berbeda diselenggarakan. Malam itu para pengikut Hugenot berbondong-bondong datang menghadiri pesta pernikahan yang sekaligus bisa mendamaikan penganut dua keyakinan yang berbeda, hingga permusuhan bisa disudahi.Tapi, ternyata pesta besar-besaran itu tak lebih dari muslihat para pengikut aliran yang dipimpin wanita bangsawan itu. Orang-orang Hugenot yang tertidur karena kelelahan kemudian dibantai hingga nyaris tak tersisa. Kalaupun ada yang selamat, itu hanya seorang lelaki bernama Anthony Chastelein. Setelah peristiwa naas itu ia melarikan diri ke Belanda, menikah dengan putri walikota, Maria Cruydenier, dan lahirlah seorang anak bernama Cornelis Chastelein.  &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Cornelis Chastelein menginjakkan kaki di tanah Batavia pada 16 Agustus 1674, setelah menempuh pelayaran selama 233 hari dengan kapal t Huis te Cleff. Ia bekerja pada VOC sebagai akuntan. Cornelis bisa menjalin hubungan baik dengan Champhuys, gubernur jenderal VOC waktu itu. Tapi, ia mulai kurang nyaman bekerja setelah Van Outhoorn menggantikan Champuys. Lebih tidak nyaman lagi setelah Van Outhoorn mengangkat menantunya sebagai atasan Cornelis Chastelein. Akhirnya, ia berhenti sebagai pejabat VOC. Cornelis keluar dari Batavia dan membeli sebidang tanah di kota ini. Kelak, di kota inilah ia mewujudkan segala impiannya. Digarapnya tanah itu menjadi lahan perkebunan yang menghasilkan panen melimpah. Orang-orang yang menggarap lahan itu adalah tawanan perang (berstatus budak) setelah Belanda mengalahkan Malaka, 1941. Cornelis memerdekakan budak-budak itu hingga mereka disebut “Mardijker” atau ‘orang merdeka’. Supaya gampang diatur, ia mengelompokkan mereka menjadi duabelas marga. Hingga kini nama-nama marga itu masih termaktub di duabelas pintu gereja tua kota ini. Sekali lagi, salahsatunya “Soedira”. Nama belakang gembel yang setiap hari bersilunjur kaki di sisi kiri pintu masuk Latanza Cafe. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Cornelis Chastelein pernah menikah dengan gadis Bali dan punya anak bernama Maria Chastelein. Itu sebabnya ia menaruh perhatian pada alat musik gamelan, utamanya gamelan Bali. Ia punya dua gamelan. Satu hanya dipakai pada upacara-upacara penting, satu lagi dipakai untuk latihan di hari-hari biasa. Tak hanya itu, ia juga punya sebuah gong yang di kemudian hari dikenal dengan; Gong Bolong. Meski bolong, bila dipukul, bunyinya begitu nyaring hingga terdengar dari jarak yang sangat jauh. Kini, Gong Bolong masih tersimpan di kota ini, masih kerap dipakai dalam acara-acara  ruwatan. Seseorang yang tidak mau disebut namanya mengatakan; Chastelein juga mengoleksi lukisan-lukisan karya seniman-seniman abad pencerahan. Ia membangun sebuah landhuis (semacam villa) dengan arsitektur khas Eropa guna menyimpan lukisan-lukisan berselera tinggi itu. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Dalam surat wasiatnya, Chastelein menyebutkan marga “Soedira” sebagai satu-satunya pewaris villa itu, sekaligus dengan koleksi lukisan-lukisan yang sangat berharga itu. Saya teringat pada gembel dengan nama belakang “Soedira” itu. Dan, yang membuat saya makin penasaran adalah soal Latanza Café, tempat nongkrong favorit saya itu. Boleh jadi cafe itu adalah bekas landhuis milik Chastelein di masa lalu. Boleh jadi pula Natan Soedira adalah keturunan yang kesekian ratus dari marga “Soedira”. Mardijker yang paling disukai Chastelein. Lalu, siapa yang beruntung mendapatkan lukisan-lukisan abad pencerahan itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Timor sudah tak sabar ingin segera memberitahukan penemuannya pada kawan-kawan sesama pelanggan Latanza Cafe. Semua hal ihwal menyangkut misteri  Mardijker telah tersingkap. Tuntas dari A sampai Z, dari ekor hingga kepala. Jangankan menjelaskan maksud  kata ganjil yang selama ini diteriakkan Natan Soedira, mengungkap asal muasal kota ini sejak zaman VOC pun Timor tidak merasa kesulitan. Itu artinya, ia akan menjadi orang yang berhasil mengusir “Mardijker Soedira” dari  Latanza Café hingga kenyamanan pengunjung tak bakal terusik lagi.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Tapi, sejak dua hari lalu, Latanza Café, tutup. Timor belum tahu alasan yang paling masuk akal perihal penutupan yang begitu mendadak itu. Hanya ada desas desus yang bergulir bahwa satu bulan terakhir ini pengelola Latanza Cafe merugi lantaran sepi pengunjung. Ini terjadi sejak tua bangka gembel yang saban hari bersilunjur di sisi kiri pintu masuk cafe itu mati mengenaskan. Mayatnya ditemukan menggelantung di salah satu dahan pohon beringin, lebih kurang duapuluh langkah dari pelataran halaman Latanza Cafe. Para pelanggan ketakutan. Sebab, setiap malam selasa legi, hantu gembel itu bergentayangan di sekitar lokasi café. Timor tidak bisa langsung memercayai kabar simpang siur itu. Apalagi hasil visum menyimpulkan; korban telah meninggal beberapa jam sebelum ditemukan menggelantung di pohon beringin itu. Karena terlalu banyak tahu tentang bangunan Latansa Café masa lalu, bisa saja ia menghalangi niat busuk orang-orang tertentu. Maka, Mardijker itu barangkali harus ‘dimerdekakan’ dari hidupnya yang tak mujur. Bisa saja, ia dihabisi dulu, kemudian mayatnya digantung di pohon beringin. Timor seperti hendak menceritakan sesuatu pada kawan-kawan sesama penongkrong di Latanza Café yang sudah bangkrut itu. Tapi ia tidak terlalu yakin bakal ada percaya pada omongannya. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Mardijker, landhuis warisan tuan tanah Cornelis Chalestein dan koleksi lukisan abad pencerahan tetap jadi misteri yang awet tersimpan dalam ingatan Timor. Tak lama kemudian, di sebelah barat bekas Latanza Café berdiri sebuah Mall, pusat perbelanjaan terbesar di kota ini. Rumah usang itupun berganti pemilik. Meski tidak sampai dirobohkan, tata ruangnya dirancang dengan sentuhan yang bernuansa metropolitan. Namanya berubah menjadi; Olala Café. Timor masih saja betah tinggal di kota ini. Sesekali ia nongkrong di café baru itu,  utamanya di malam selasa legi. Kadang-kadang hingga  larut malam. &lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;Depok, 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-3427748128589094561?l=damhurimuhammad.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/3427748128589094561/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=3427748128589094561&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/3427748128589094561'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/3427748128589094561'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2009/01/mardijker.html' title='MARDIJKER'/><author><name>damhurimuhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>hulutualang@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='08966147596844497280'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-1147212314556614699</id><published>2009-01-05T12:32:00.002+07:00</published><updated>2009-01-05T12:39:46.772+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/SWGc9N_5ZFI/AAAAAAAAAEY/bEIElsqXVnI/s1600-h/ilustr+BBT.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 170px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/SWGc9N_5ZFI/AAAAAAAAAEY/bEIElsqXVnI/s320/ilustr+BBT.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5287680013053289554" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bayang-Bayang Tujuh &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;em&gt;JAWA POS, &lt;/em&gt;Minggu, 4 Januari 2009)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sekali helaan napas, riuh sorak-sorai para petaruh yang berdiri di sekeliling lingkar arena sabung ayam di lereng Bukit Limbuku tiba-tiba terhenyak dalam hening. Orang-orang seperti dihadang kegamangan. Tiada hirau lagi para petaruh itu pada kibasan dan kelebat kaki-kaki bertaji dalam tarung Jalak Itam dan Kurik Bulu yang tengah berlaga begitu sengit hingga jambul kedua jago turunan Bangkok itu bergelimang darah. Semua mata seolah terisap ke dalam pancaran mata bengis Langkisau yang sedang mengamuk. Ia baru saja menghajar lelaki tanggung yang tampaknya orang baru di kalangan para petaruh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat raut mukanya yang begitu teduh, hampir bisa dipastikan ia bukan penggila judi sabung yang tengah menunggu kokok kemenangan Jalak Itam dan keok kekalahan Kurik Bulu, atau sebaliknya. Menurut penuturan seorang pejudi, ia guru ngaji yang sedang memantau kalau-kalau ada di antara murid-muridnya yang ikut-ikutan menonton permainan itu. Bila ada murid yang tertangkap tangan sedang berada di arena judi sabung, guru muda itu akan menyeretnya turun. Di surau ia akan beroleh hukuman sepadan. Biasanya, telapak tangan si murid dicambuk dengan rotan, berkali-kali, tak henti-henti, dari selepas Magrib hingga tiba waktu Isya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu menginjak tanah lereng Bukit Limbuku, ia berjalan mengendap-endap di sela-sela kerumunan para petaruh yang sedang berdebar-debar, cemas kalau-kalau jagoan mereka tumbang, dan segepok uang taruhan tentu bakal melayang. Pada saat yang sama, Langkisau sedang sibuk mengumpulkan taruhan. Tanpa disengaja, guru muda itu melangkahi bayang-bayang tubuh Langkisau. Telapak kakinya menginjak bayangan kepala Langkisau. Perlu ditegaskan, ia tidak melangkahi kepala Langkisau, hanya melangkahi bayang-bayangnya. Tapi, itu sudah melanggar pantangan. Langkisau menyeringai, menyerungut, serupa anjing yang hendak menerkam buruan. Dari arah depan, dua kali tendangan gasingnya mendarat di ulu hati lelaki itu. Aliran napasnya seolah disumbat oleh hantaman kaki Langkisau. Ia sempoyongan. Badannnya oleng. Pandangannya kabur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Mampus kau!''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Melangkahi bayang-bayang kepalaku sama dengan menginjak kepalaku.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Belum tahu siapa Langkisau kau rupanya?''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Huaaap...'' &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiada ampun, guru muda tumbang, kepalanya mencukik ke dalam comberan tempat membasuh luka-luka di jambul ayam jago selepas berlaga. Buruk benar cara jatuhnya. Menelungkup dengan muka berkubang lumpur. Sementara itu, para petaruh makin ketakutan kalau-kalau anak muda itu tidak bangun lagi, apalagi kalau ia mati terkulai di tangan Langkisau. Kalau benar ia salah satu guru ngaji, keributan kecil itu tiada bakal berhenti sampai di sini. Para tetua Surau Tuo tak akan tinggal diam. Bukan Langkisau saja yang akan terancam, semua petaruh di lereng bukit itu akan tahu akibatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Cukup Langkisau!'' &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu teriak Inyik Centang, kaki-tangan Langkisau. Ia muncul tiba-tiba, menghadang Langkisau yang hendak mencatukkan lading di kuduk lelaki tanggung yang sudah tak berkutik itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Belum puas aku kalau orang ini masih hidup,'' bentak Langkisau, ''kukirim sekalian ke liang lahat.'' &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Sekali lagi, cukup! Dia orang Surau Tuo. Bisa jadi orang suruhan Engku 21.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Nah, itu yang kutunggu sejak dulu. Sudah lama aku ingin menjajal kehebatan tuan-tuan Engku 21 itu.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Jangan takabur! Mereka sukar dikalahkan. Lebih-lebih si Gelang-Gelang Kawat. Ilmu Bayang-Bayang Tujuh matang di tangannya.'' &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Keparat! Kau pikir aku takut? Akan kucincang si Bayang-Bayang Tujuh itu.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Cincang? Saat kau hendak menggoroknya, tubuh kasarnya hilang. Kau hanya bisa mendengar suaranya.'' &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita Inyik Centang benar. Jauh sebelum lereng Bukit Limbuku penuh sesak oleh para penyabung, Gelang-Gelang Kawat menebang Betung di lahan itu. Ia beroleh upah dari seorang cukong yang konon telah memborong semua rumpun aur di lereng bukit itu. Suatu ketika, di musim kemarau, terjadi kebakaran karena ulah para penebang yang abai mematikan puntung rokok sebelum dibuang ke semak-semak. Celakanya, Gelang-Gelang Kawat tertuduh sebagai perokok yang buang puntung sembarangan itu hingga seperempat lereng bukit gosong dilalap api. Maka, ia harus berurusan dengan aparat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Benar Saudara yang menyebabkan Bukit Limbuku terbakar?'' bentak seorang petugas dengan memasang tampang sangar agar Gelang-Gelang Kawat lekas mengaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Bukan saya, tapi tangan saya!'' balasnya. Tegas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat Gelang-Gelang Kawat mengucapkan kata-kata itu, polisi yang memeriksanya hanya bisa mendengar suara paraunya, tidak bisa melihat wujud si tertuduh. Tubuhnya bagai menguap, bagai mengelayap entah ke mana, lenyap seketika. Lutut petugas itu gemetar karena takut. Bulu kuduknya meremang. Seumur-umur ia mengurus kasus kebakaran hutan, baru kali itu ia ketemu orang yang tak bertubuh kasar. Ia merasa tidak lagi berhadapan dengan tersangka, tapi dengan hantu penunggu lereng Bukit Limbuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak peristiwa itu, Gelang-Gelang Kawat jarang ke lereng Bukit Limbuku. Pohon-pohon betung yang biasa ditebangnya sudah jadi abu. Ia mencurahkan perhatian untuk mengajar anak-anak mengaji di Surau Tuo. Lebih-lebih, sejak ia dipercaya menjadi salah satu Engku dari dua puluh satu Engku di surau itu. Sejak lama, masing-masing suku mengutus tiga orang Engku guna menyemarakkan surau usang itu; satu bilal, satu imam, satu khatib. Lantaran ada tujuh suku di kampung itu, maka azan-iqamah, salat berjamaah, belajar ngaji, wirid mingguan, dan khatib Jumat diurus oleh dua puluh satu Engku. Itu sebabnya mereka disebut Engku 21. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Kalaulah tidak karena permintaan Engku-Engku, sudah kupatahkan pinggangnya,'' kata lelaki muda itu, sesekali ia meringis kesakitan saat Gelang-Gelang Kawat mengobati tulang belikatnya yang memar akibat tendangan gasing Langkisau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Makanya jangan lengah, masa' kau langkahi kepalanya? Ha ha ha...''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Bukan kepalanya, hanya bayang-bayang kepalanya...''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Di situ letak kelemahan Langkisau. Ada enam bagian lagi dari tubuhnya yang harus kau langkahi.'' &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Tapi, kenapa aku tidak boleh mengelak? Jangankan melawan, mengelak pun pantang,'' &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Kau ingin mengalahkan Langkisau bukan?'' sela Gelang-Gelang Kawat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepulangan Langkisau ke kampung ini barangkali kepulangan paling celaka bagi setiap perantau. Setelah mengadu untung selama puluhan tahun dan beranak-pinak di negeri seberang, ia pulang dengan gairah hidup yang hampir redup. Tubuh jangkungnya kian ceking, namun perutnya buncit-padat lantaran berhari-hari ia tak bisa berak. Kabarnya, waktu itu, seseorang dengan kemampuan guna-guna tingkat tinggi menahan semua unsur yang berjenis racun untuk tetap bersarang di tubuh Langkisau, hingga tiba saatnya racun-racun itu menjadi penyakit yang bakal menyudahi riwayat si raja copet itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehebat-hebatnya Langkisau, tetap saja ada yang lebih hebat. Selihai-lihai tupai melompat, sekali waktu jatuh-terpelanting juga. Padahal, bila tidak terlalu kemaruk, Langkisau tak bakal ketemu lawan bersengat seperti itu. Anak buahnya banyak, wilayah kuasanya luas, ia disegani lantaran ilmu Bayang-Bayang Tujuh sempurna dikuasainya. Betapa tidak? Langkisau bisa menguras uang dari tujuh saku korban sekaligus, itu hanya dengan sekali gerak. Tubuhnya membelah jadi tujuh, tiada yang tahu mana jasad aslinya. Yang pasti, tujuh bayangan itu tidak pernah pulang percuma. Tapi, Langkisau tidak pernah puas. Masih saja ia menyabot wilayah orang lain. Ingin menjadi satu-satunya raja copet ia rupanya, ingin semua pencopet kota itu tunduk, bertekuk lutut di hadapannya. Langkisau lupa, di atas langit ada langit. Akibatnya, ia harus pulang sebagai pecundang. Dengan kekuatan guna-guna, ia ditumbangkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untunglah, saudara seperguruannya, Gelang-Gelang Kawat, tidak tinggal diam. Meski Langkisau sudah menempuh jalan berbeda, Gelang-Gelang Kawat tetap mengerahkan segenap kesaktiannya guna menyelamatkan Langkisau yang sudah di ambang kematian. Tak lama Gelang-Gelang Kawat bekerja, sejawatnya sesama pewaris ilmu Bayang-Bayang Tujuh itu sembuh dan gairah jawaranya kembali menyala. ''Menyelamatkan nyawa Langkisau sama dengan membangunkan harimau tidur,'' kata orang-orang yang menginginkan kematian Langkisau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Biarkan saja keparat itu mati busuk!''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Tak ingin jadi nomor satu? Bila Langkisau masih hidup, kau tetap nomor dua." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lereng Bukit Limbuku yang lapang selepas terbakar disulap Langkisau menjadi arena sabung ayam. Diundangnya para penyabung dari mana-mana hingga setiap hari lereng bukit itu seperti pasar. Bila di rantau Langkisau raja copet, di sini, di kampung ini, ia raja judi. Tak ada yang berani menghadangnya, tidak pula para tetua kampung yang diam-diam ternyata sudah menjadi kacung-kacung Langkisau. Tak jelas lagi, siapa kawan siapa lawan, sejak Langkisau kembali bertaji. Kalaupun ada yang dapat mengimbangi kesaktiannya, itu hanya dapat dilakukan oleh orang-orang Engku 21, utamanya Gelang-Gelang Kawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Menurut Engku, aku sanggup menumbangkannya?'' tanya murid terbaik Gelang-Gelang Kawat yang tulang belikatnya sudah enam kali jadi sasaran tendangan gasing Langkisau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Bayang-bayang Langkisau bagian mana lagi yang harus aku langkahi?''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Jangan gegabah! Tinggal satu lagi.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Cepat katakan!'' &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Langkahi bayang-bayang daerah gelang-gelang*) Langkisau! Itu pantangan ilmu Gelang-Gelang Kawat. Langkisaulah Gelang-gelang Kawat sebenarnya.'' &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu mulai bimbang. Jangan-jangan Langkisau dan Gelang-Gelang Kawat hanyalah dua kepingan dari satu jasad yang telah membelah. Bukankah keduanya sama-sama menempuh tarekat Bayang-Bayang Tujuh? Mungkin Langkisau telah membelah diri menjadi Gelang-Gelang Kawat atau Gelang-gelang Kawat yang membiak jadi Langkisau. Lalu, siapa wujud aslinya, di mana lima bayangan yang lain? Ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Apa yang kau tunggu?'' desak Gelang-Gelang Kawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lekas ia beranjak. Tapi, langkahnya bagai ditahan. Apa mungkin Engku Guru membunuh bayangan sendiri? Ia membatin. Sejurus kemudian, ia merasa telah menjadi orang lain. Kadang-kadang merasa sebagai Gelang-Gelang Kawat, tapi sesekali menggebu hendak jadi jawara seperti Langkisau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Usus besar &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-1147212314556614699?l=damhurimuhammad.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/1147212314556614699/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=1147212314556614699&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/1147212314556614699'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/1147212314556614699'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2009/01/bayang-bayang-tujuh-cerpen-damhuri.html' title=''/><author><name>damhurimuhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>hulutualang@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='08966147596844497280'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/SWGc9N_5ZFI/AAAAAAAAAEY/bEIElsqXVnI/s72-c/ilustr+BBT.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-5160521372058802083</id><published>2008-12-11T13:56:00.002+07:00</published><updated>2008-12-11T14:06:06.896+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/SUC6XpVnaeI/AAAAAAAAAEQ/qC3eDFc5tGM/s1600-h/Adonis+cover+buku.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 270px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/SUC6XpVnaeI/AAAAAAAAAEQ/qC3eDFc5tGM/s400/Adonis+cover+buku.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5278423678674495970" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ateisme Kepenyairan, Jalan Menuju Tuhan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                    Oleh DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;em&gt;Kompas,&lt;/em&gt; Selasa, 9/12/2008)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisakah sastra dan agama bersekutu, lalu mendedahkan kebenaran yang sama? Bila pertanyaan ini diajukan kepada Adonis, dipastikan jawabnya mustahil. Bagi penyair Arab terkemuka itu, puisi dan agama bagai dua sumbu kebenaran yang bertolak belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi adalah pertanyaan, sementara agama adalah jawaban. Puisi adalah pengembaraan yang dituntun oleh keragu-raguan, sedangkan agama adalah tempat berlabuhnya iman dan kepasrahan. Lebih jauh, di ranah kesusastraan Arab, puisi dan agama bukan saja tak seiring jalan, agama bahkan memaklumatkan, jalan puisi bukan jalan yang menghulu pada kebenaran, tetapi menjerumuskan pada lubang kesesatan. Agama menyingkirkan para penyair Arab jahiliah ke dalam kelompok orang-orang sesat, orang-orang &lt;em&gt;majnun&lt;/em&gt; (gila), penyihir. Inilah muasal segala kegelisahan dalam kepenyairan Adonis, yang disampaikannya pada kuliah umum di Komunitas Salihara, Jakarta (3/11/2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ragu Adonis mengatakan bahwa sejak munculnya agama, tradisi puisi Arab redup dan akhirnya padam. Para penyair dianggap gila lantaran jalan puisi adalah jalan sesat, lagi menyesatkan. Itu sebabnya Adonis menjadi pembela jalan puisi yang telah disumbat rapat-rapat itu. Lahir dengan nama asli Ali Ahmad Said di Desa Al-Qassabin, Suriah, 1930. Meski baru bersekolah di usia 13 tahun, anak seorang petani yang juga imam masjid itu sudah belajar menulis dan membaca pada seorang guru di desanya dan sudah hafal Al Quran di usia sebelia itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1944 ia membacakan puisi heroiknya di hadapan Presiden Suriah Shukri al-Kuwatli. Presiden terpesona dan mengirimkan Adonis masuk ke sebuah sekolah Perancis di kota Tartus. Adonis lulus dari Universitas Damaskus (1954) dengan spesifikasi filsafat.Ia menerbitkan kumpulan sajak pertamanya pada 1955 dan pernah dipenjara karena pandangan politiknya. Pada 1956, Adonis meninggalkan tanah airnya, pindah ke Lebanon. Selama 20 tahun ia tinggal dan jadi warga negara di tanah jiran itu. Sejak 1986 Adonis pindah ke Paris. Ia telah menulis karya: puisi dan prosa lebih kurang 30 buku dan telah diterjemahkan ke pelbagai bahasa. Namanya kerap disebut sebagai calon kuat peraih Hadiah Nobel Sastra (tahun 2005, 2006, 2007).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antologi puisi &lt;em&gt;Nyanyian Mihyar dari Damaskus &lt;/em&gt;(terjemahan dari &lt;em&gt;Aghânî Mihyâr Dimasyqî&lt;/em&gt; ini disebut-sebut sebagai karyanya yang paling masyhur di samping &lt;em&gt;al-Tsawâbit wal Mutahawwil &lt;/em&gt;(Yang Tetap dan Yang Berubah)—yang kerap disebut karya pengarang ateis khas Timur. Adonis mengagumi pencapaian puitis para penyair Arab klasik seperti Imrul Qays (w. 550 M) yang menurutnya telah meniupkan ruh kebebasan berkreasi, memperlihatkan upaya pencarian ”yang baharu” dalam ungkapan, susunan kata, dan tidak mengacu pada ukuran-ukuran masa lampau. Namun, menurut dia, tradisi puisi yang gemilang ini mati sejak munculnya tradisi wahyu. Dalam pencarian kebenaran, penyair digantikan nabi. Di titik inilah ateisme kepenyairan Adonis bertumbuh, berkembang lalu memuncak pada sajak-sajak pendeknya seperti;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;kita mati jika tidak kita ciptakan Tuhan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;kita mati jika tidak kita bunuh Tuhan &lt;/em&gt;(dari sajak ”Sebuah Kematian”).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Mihyar&lt;/em&gt; sebentuk lagu pilu, elegi guna meratapi matinya kebebasan di jalan puisi. Adonis membangun sekian banyak pengamsalan tentang ketersingkiran penyair Arab kuno; penyihir debu, lonceng tanpa denting, orang-orang asing yang bahkan diasingkan oleh bahasanya sendiri. Ini senada dengan penilaian Ulil Abshar Abdalla (2004) bahwa Adonis mengumpamakan tradisi kepenyairan Arab seperti keterlunta-luntaan dan kepahitan hidup Al-Mutanabbi, penyair besar masa Dinasti Abbasiyah (abad ke-9). Al-Mutanabbi salah satu penyair yang dikagumi Adonis dan ia hendak mengasosiasikan diri pada sosok penyair yang hidupnya penuh liku dan dramatis itu. Satu ketika menjadi penyair istana, dipuja-puji, dihormati, tetapi kemudian dimusuhi istana, dijauhi oleh masyarakat, sejak itu ia menulis sajak-sajak yang pesimistis. Hidupnya berantakan dan akhirnya meninggal dengan cara yang tragis karena miskin. Pesimisme macam itu juga tergambar dalam sajak-sajak Adonis;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;em&gt;&lt;em&gt;akan kami bunuh kebangkitan dan harapan&lt;/em&gt;kami akan menyanyi dan berlindung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kami akan hidup bersama batu: kami, puisi, dan hujan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarkan kami o, Abu Nuwas.&lt;/em&gt; (&lt;em&gt;Elegi untuk Abu Nuwas&lt;/em&gt;).&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, benarkah Adonis mengingkari jalan wahyu karena tradisi kenabian telah mengalahkan tradisi kepenyairan? Apakah tuduhan ”ateis” layak diberikan kepadanya lantaran ia hendak meniadakan Tuhan demi kelapangan jalan puisi? Kalaupun ada teks agama yang memaktubkan ketersesatan penyair Arab, tentu tidak serta-merta berarti ketersesatan semua penyair pada masa itu. Tengoklah Hasan bin Tsabit yang tetap menggubah syair-syair madah (pujian) setelah teks turun. Berapa banyak penyair Arab yang cemerlang di masa nabi, lebih- lebih masa sesudah nabi? Lagi pula setiap ayat yang turun selalu dilatarbelakangi oleh asbab an-nuzul (sebab-sebab turun ayat). Artinya, penegasan teks perihal penyair sebagai penyihir dan majnun itu sifatnya kasuistik, tidak menggeneralisasi semua penyair. Bila Adonis kecewa dengan jalan kepenyairan yang menurutnya telah dibuntukan itu, kenapa ia masih mengakui pencapaian estetik Al-Mutanabbi, Al-Ma’arri dan Al-Buhturi yang ketiganya hidup di kurun pasca-kenabian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski Adonis ”meniadakan” Tuhan di jalan kepenyairan, tetapi ”ateisme” itu tidak dalam rangka menjauhi Tuhan sebagaimana lelaku para ateis lain. Tampaknya Adonis hanya sedang dijangkiti kegelisahan lantaran sekian banyak jalan lama ternyata gagal mengantarkannya kepada Tuhan. Itu sebabnya ia meneruka jalan baru, yang meski tanpa Tuhan, tetapi pasti menghulu ke hadirat-Nya. Diam-diam Adonis sedang mempersiapkan sajak-sajaknya menjadi sebentuk ”bahasa lain” guna menjelaskan Tuhan masa depan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;sungguh, aku bahasa untuk Tuhan masa depan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;sungguh aku penyair debu &lt;/em&gt;(Orpheus).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan puisi yang hendak menyelamatkan nama Tuhan, yang selama berkurun-kurun terperangkap dalam bahasa agama-agama. Sampai di sini, Mihyar bukan lagi elegi untuk kematian puisi, di tangan Adonis, ia menjadi gairah asketis yang tiada bersudah dalam meraih persekutuan dengan Tuhan. Maka, tak ada yang perlu dicemaskan pada kepenyairan Adonis sebab ia bukan ateis, tetapi (mungkin) seorang perenialis….&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-5160521372058802083?l=damhurimuhammad.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/5160521372058802083/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=5160521372058802083&amp;isPopup=true' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/5160521372058802083'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/5160521372058802083'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2008/12/ateisme-kepenyairan-jalan-menuju-tuhan.html' title=''/><author><name>damhurimuhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>hulutualang@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='08966147596844497280'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/SUC6XpVnaeI/AAAAAAAAAEQ/qC3eDFc5tGM/s72-c/Adonis+cover+buku.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-2502017778948867266</id><published>2008-12-04T11:27:00.002+07:00</published><updated>2008-12-04T11:32:34.655+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Satu Wajah, Dua Muka...&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;em&gt;KOMPAS&lt;/em&gt;, Minggu, 30 November 2008)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekanbaru, Riau, 1954. Menteri Pendidikan dan Perkembangan Kebudayaan Mohammad Yamin berpidato. Tak lama selepas pidato itu, seorang lelaki naik panggung. Tanpa sungkan, ia menyanggah bahwa dalam urusan pendidikan, masyarakat Riau dianggap ”anak tiri” oleh pemerintah pusat. Buktinya, di Riau belum ada SMA negeri. Yamin tersinggung. Tergesa ia kembali ke Jakarta, tanpa sepatah kata pun. Beberapa hari kemudian, ia menyurati Gubernur Sumatera Tengah Marah Ruslan, sebagai pegawai pemerintah, tidak semestinya orang itu menggunakan istilah ’anak tiri’. Yamin meminta Marah Ruslan menyampaikan teguran itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang telah membuat Menteri Pendidikan (kabinet Ali Sastroamidjojo, 1953-1955) itu marah adalah Soeman Hs (1904-1999), pengarang dua roman penting; &lt;em&gt;Kasih Tak Terlerai &lt;/em&gt;(1930) dan &lt;em&gt;Mencari Pencuri Anak Perawan &lt;/em&gt;(1932). Tak banyak yang tahu, novelis kelahiran Tapanuli Selatan (kemudian menetap di Riau) itu juga pejuang pendidikan yang gigih. Di Riau, ia mendirikan SMA Setia Dharma, sekolah menengah atas pertama, sebelum SMA negeri berdiri di sana. Tak hanya itu, pada tahun 1961 ia mendirikan Universitas Islam Riau (UIR), perguruan tinggi pertama di Riau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ranah sastra, penelitian terbaru tentang karya-karya Soeman Hs dilakukan oleh Eko Sugiarto—dibukukan dengan tajuk &lt;em&gt;Melayu di Mata Soeman Hs&lt;/em&gt; (Yogyakarta, Adicita, 2007)—membuka jalan untuk lebih jauh membincang roman-roman karya Soeman Hs yang telah menikam jejak selama puluhan tahun. Eko melakukan pembacaan sintagmatik-paradigmatik terhadap roman &lt;em&gt;Kasih Tak Terlerai &lt;/em&gt;(KTT) guna melacak jejak perlawanan Soeman Hs terhadap eksklusivisme adat melayu yang pada masanya dianggap kolot. Eko berhasil menggambarkan masa pancaroba budaya melayu di awal persinggungannya dengan budaya Arab-Islam di kawasan pesisir Riau yang dipasang sebagai latar roman ini. Menurut dia, roman itu, lewat karakter tokoh-tokohnya, berhasil mendedahkan kiasan perihal jurang pemisah antara ”orang asli” dan ”orang di pinggang” dalam konstelasi adat melayu masa itu, juga membangun pengamsalan perihal bangsa ”loyang” yang mustahil bersekutu dengan bangsa ”emas”. Tapi, sesederhana itukah pencapaian estetis roman itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semula Eko telah meneruka jalan untuk menguliti perwatakan si Taram, Nurhaida, Encik Abbas, dan Syekh Wahab dengan mencincang roman itu menjadi beberapa fase penceritaan. Tapi, lantaran dibebani oleh tantangan pengujian hipotesis (apakah KTT benar-benar kritis terhadap adat melayu?), hal-ihwal yang kompleks dalam struktur roman itu terabaikan sehingga hasil penelitian itu terjebak pada legitimasi akademik bahwa upaya kreatif Soeman Hs dalam KTT itu masih dalam laku ”menyalin rupa” realitas. Padahal, KTT mendobrak realitas kebekuan adat, dan lewat perwatakan si Taram yang bersusah payah menghadang kekolotan, Soeman sedang menawarkan sebuah kemungkinan baru dalam menegakkan etos egalitarianisme dalam situasi yang seterkungkung apa pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaku penceritaan Soeman berada di luar langgam roman-roman Balai Pustaka yang sarat keberpihakan pada kepentingan kolonial di satu sisi, dan sinis pada perlawanan kaum terjajah di sisi lain, sebagaimana tergambar dalam Adab dan Sengsara ((1920), Siti Nurbaya (1922). KTT memang tidak mengembuskan denyut perlawanan terhadap kaum penjajah, tapi menghadang kebobrokan dan pembusukan yang berlangsung dalam ranah adat melayu masa itu. Berkisah tentang si Taram, anak angkat seorang batin (pemangku adat) yang jatuh hati kepada Nurhaida, anak orang terpandang, Encik Abbas. Lamaran ditolak karena si Taram hanya anak pungut, derajatnya sebatas ”orang di pinggang”, orang datang, yang tak tumbuh dan berakar dalam struktur adat setempat. Pada suatu kesempatan, si Taram dan Nurhaida melarikan diri, berlayar ke Singapura, menikah di sana. Sementara itu, keluarga Encik Abbas terus melacak jejak si Taram yang telah berani melarikan anak gadisnya itu. Utusan Encik Abbas berhasil membujuk, lalu memboyong Nurhaida kembali pulang. Kepergian Nurhaida tidak diketahui si Taram, suaminya, karena pada waktu itu ia sedang bepergian ke Johor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di sini, kisah seolah-olah bersudah, tapi ternyata pengarang memulai kisah baru. Diceritakan tentang sebuah kapal dagang yang merapat di pantai, kampung Nurhaida. Syekh Wahab nama nakhodanya. Lelaki berperawakan Arab, jenggotnya lebat, lengkap dengan jubah dan sorban. Selama kapalnya merapat, beberapa kali Syekh Wahab tampil sebagai khatib Jumat di masjid kampung itu, bahkan sampai diangkat menjadi guru mengaji. Tak hanya itu, saking mulianya orang Arab di mata penduduk kampung itu, lamaran Syekh Wahab untuk mempersunting janda kembang, Nurhaida, pun diterima dengan senang hati. Orangtua si Taram (yang dulu pernah melarikan Nurhaida) paling banyak menyumbang dalam kenduri pernikahan Syekh Wahab dan Nurhaida.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua penggal kisah ini seperti tiada berhubungan, apalagi ketika pengarang menyudahi cerita perihal perkawinan agung itu dengan berlayarnya pasangan pengantin menuju Singapura. Kalaupun ada, itu hanya soal pelayaran Nurhaida yang kedua ke tanah seberang itu. Bila dulu kepergian Nurhaida dan si Taram dicerca-dimaki orang sekampung, pada pelayaran ini ia dilepas dengan doa dan sukaria. Ia digandeng suami yang sah. Orang Arab, guru mengaji, saudagar kaya, pula. Pembaca lagi-lagi mengira roman ini sudah khatam. Tapi, Soeman masih menyisakan sepenggal kisah lagi. Diceritakan perihal kepulangan Syekh Wahab dan istrinya pada Lebaran Idul Fitri. Syekh Wahab didaulat menjadi khatib pada shalat id. Inilah puncak pengisahannya. Pada khotbah kali ini, Syekh Wahab digambarkan begitu berbeda dari biasanya. Jenggotnya dicukur gundul, sorbannya dilepas, ia tidak seperti orang Arab lagi sebab Syekh Wahab yang selama ini dipuja-puja orang sekampung tak lain adalah si Taram yang sedang menyamar, untuk kembali mendapatkan Nurhaida. Orang-orang terperangah, ternyata si Taram yang telah mereka campakkan adalah orang yang dalam sekali pengetahuan ilmu agamanya, dan telah berjasa membuat anak- anak di kampung itu pandai mengaji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Double casting &lt;/em&gt;ala Soeman Hs ibarat perbedaan ”loyang” dan ”emas”. Satu muka mencerminkan sosok pembangkang, muka yang lain harus menampilkan sosok lelaki santun, lemah lembut, dan karena ia mubalig tentu harus cermat menjaga tindak-tanduk. Soeman tidak lengah ketika dua muka pada satu wajah itu menjadi protagonis sekaligus antagonis. Memang ada beberapa kejanggalan, misalnya ciri fisik Syekh Wahab yang tidak lagi dirinci sebagaimana rincinya penggambaran fisik si Taram yang bertampang melayu. Bagaimana mungkin Nurhaida bisa lupa pada ciri fisik dan kebiasaan suaminya? Fisik boleh berubah, tapi bagaimana dengan perasaan seorang istri kepada suami? Begitu pula kejanggalan pada orangtua angkat si Taram yang bulat-bulat tertipu oleh penyamaran itu. Anehnya, kejanggalan-kejanggalan itu kiat mempertajam pencitraan betapa memukaunya sosok Syekh Wahab, yang Arab, padahal, setiap yang bulat belum tentu telur, meski setiap telur sudah barang tentu bulat….&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-2502017778948867266?l=damhurimuhammad.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/2502017778948867266/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=2502017778948867266&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/2502017778948867266'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/2502017778948867266'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2008/12/satu-wajah-dua-muka.html' title=''/><author><name>damhurimuhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>hulutualang@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='08966147596844497280'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-2785742203482679846</id><published>2008-11-24T12:12:00.004+07:00</published><updated>2008-11-24T12:25:12.556+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Jacques Derrida: Biar Tergugat Tetap Berhala&lt;/strong&gt;...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;em&gt;KOMPAS,&lt;/em&gt; Sabtu, 22 November 2008)  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laku filsafat lazimnya dimaknai sebagai ikhtiar ”memburu” kebenaran. Memburu hingga ke ujung yang paling hulu. Di sanalah kapal filsuf yang setia berlayar bakal berlabuh. Bila kebenaran hulu telah direngkuh, berakhir pulakah kelananya yang jauh?&lt;br /&gt;Sepertinya tidak. Tidak seorang pun yang sebenarnya sungguh-sungguh dapat menggapai kebenaran hulu itu. Makin jauh mereka bergerak menuju hulu, biduk yang mereka kayuh justru makin terseret ke hilir. Sebagaimana amsal para penggali sumur yang berharap hendak menemukan mata air. Akan tetapi, makin digali, sumur malah terasa makin dangkal. Seolah-olah mata air kebenaran itu tak pernah ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebenaran seakan-akan mengelak setiap ada upaya menghampirinya. Inilah problem rasionalitas modern yang telah melahirkan ”anak kandung” bernama logosentrisme. Cara berpikir yang selalu bergerak menuju sebuah telos dan arkhe transendental. Sebuah metafisika yang mengandalkan Pikiran (cogito), Diri, Tuhan, Ada (being) sebagai hulu kebenaran, sebagai pusat yang stabil dan kokoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabiat berpikir macam ini mendedahkan sebuah asumsi yang dalam terminologi Jacques Derrida (1930-2004) disebut &lt;em&gt;metaphysics of presence &lt;/em&gt;(Metafisika Kehadiran), yang meniscayakan &lt;em&gt;logos&lt;/em&gt; (kebenaran transendental) di sebalik semesta fenomena. Dalam teks, utamanya teks sastra, kehadiran logos begitu nyata dan kentara lewat hadirnya pengarang (&lt;em&gt;author&lt;/em&gt;). Subyek yang memiliki otoritas terhadap makna. Lebih jauh, Derrida menganggap ”kehadiran pengarang” sebagai logos itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang hendak dirobohkan filsuf itu dengan palu godam: dekonstruksi. Agar makna (kebenaran) tak terpasung dalam ”kuasa tunggal” pengarang. Di tangan Derrida, laku filsafat sebagai perburuan mencari kebenaran bergeser menjadi ikhtiar penafsiran terhadap teks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teks, seumpama tenunan kain, terbentuk dari untaian-untaian benang yang jalin-menjalin tak terhingga banyaknya. Makna (kebenaran) ada dalam kompleksitas kerumitan tenunan itu. Dalam situasi itu, tidak ada lagi pusat dan hulu. Tak ada oposisi bineriknya: pinggiran. Semua dapat berposisi pusat dapat berposisi pinggiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bukan makna, tapi prosesnya&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketaklaziman cara berfilsafat Derrida yang hendak meruntuhkan tradisi logosentrisme itu antara lain dipetakan oleh Muhammad Al-Fayyadl dalam bukunya &lt;em&gt;Derrida&lt;/em&gt; (2005). Lewat pembacaan intens, sabar, dan hati-hati terhadap karya-karya Derrida (&lt;em&gt;Of Grammatology, Writing and Difference, Dissemination, Margin of Philosophy&lt;/em&gt;), Fayyadl berhasil menggambarkan betapa tradisi logosentrisme filsafat pencerahan telah runtuh dan sedang di ambang kehancuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain menghadirkan Derrida sebagai ”problema”, Fayyadl juga membangun pembelaan terhadap sosok kefilsafatan Derrida yang memang tak disambut ramah kalangan pendukung logosentrisme. Keberatan utama terhadap dekonstruksi adalah karena ”metode” (sekaligus anti-metode) itu cenderung relatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak yang menuduh proyek prestisius Derrida itu tak lebih dari &lt;em&gt;intellectual gimmick&lt;/em&gt; (tipu-muslihat intelektual) yang tak berisi apa-apa selain permainan kata-kata. Oleh karena itu, berkali-kali Fayyadl menegaskan bahwa dekonstruksi tak bermaksud menihilkan, apalagi menafikan makna (kebenaran). Makna tetap ada, tetapi ia tidak mungkin dicapai dengan sebuah rumusan mutlak. Cuma saja, penekanan dekonstruksi bukan pada makna, melainkan pada proses meraihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila Derrida memaklumatkan afirmasi terhadap ”yang lain” (&lt;em&gt;the Other&lt;/em&gt;) dengan menolak kehadiran pengarang (kuasa tafsir tunggal) dalam teks, bagaimana cara menemukan makna (kebenaran) pada sebuah peristiwa pembunuhan? Bukankah Derrida meniscayakan ”tak ada sesuatu di luar teks” (&lt;em&gt;il n’y a pas de hors-texte&lt;/em&gt;)?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini berarti, seluruh semesta fenomena adalah teks, termasuk peristiwa pembunuhan di atas. Bagaimana cara menemukan pelaku (makna) bila si pembunuh (pengarang) telah disingkirkan? Pelaku harus hadir, bukan? Dilema ini tak sempat ditelaah Fayyadl. Ini akibat terlalu sibuk membela pembacaan dekonstruktif Derrida, hingga abai pada ”problema” dekonstruksi yang tak kunjung terselesaikan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Derrida tetap berhala&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara berpikir Fayyadl tampaknya sangat terpengaruh oleh ”pola permainan” Derrida. Padahal, istilah ”permainan” tanda-tanda dalam teks itu masih problematis. Bukankah dalam sebuah permainan masih ada logika kalah-menang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Derrida belum terbebas dari perangkap oposisi biner yang hendak ditolaknya. Mungkinkah laku penafsiran teks ditempuh tanpa pretensi (tanpa tujuan, tanpa telos)? Tendensi penafsiran mutlak ada, yakni; makna (kebenaran). Meski, makna itu bukan sosok kebenaran tunggal. Bukan makna yang stabil dan tak sumbing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, laku pembacaan dekonstruktif Derrida ibarat permainan sepak bola paling ironis sepanjang sejarah. Semua pemain dari kedua kesebelasan dilarang keras menciptakan gol. Para pemain hanya boleh menggiring bola, men-&lt;em&gt;dribling,&lt;/em&gt; mengoper dan memberi umpan-umpan silang. Misalkan Fayyadl salah satu pemain dalam pertandingan itu, tentu ia akan bermain secantik mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sialnya, ia akan selalu terhalang untuk memasukkan bola ke gawang lawan. Sebab, dalam logika dekonstruksi tak boleh ada gol (&lt;em&gt;telos&lt;/em&gt;). Bila ceroboh dan tidak mampu ”menjinakkan” hasrat ingin menang, dikhawatirkan pemain akan melakukan gol bunuh diri, menendang bola ke gawang sendiri. Senjata makan tuan. Dekonstruksi (yang berperilaku meruntuhkan) akhirnya merobohkan tatanan analisis komprehensif yang bersusah-payah dibangun Fayyadl sejak mula. Sia-sia ia menghadirkan Derrida sebagai ”problema”. Ujung-ujungnya, Derrida malah tegak sebagai ”berhala”….&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-2785742203482679846?l=damhurimuhammad.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/2785742203482679846/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=2785742203482679846&amp;isPopup=true' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/2785742203482679846'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/2785742203482679846'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2008/11/jacques-derrida-biar-tergugat-tetap.html' title=''/><author><name>damhurimuhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>hulutualang@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='08966147596844497280'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-4484785251555713004</id><published>2008-09-24T10:58:00.002+07:00</published><updated>2008-09-24T11:13:30.059+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Pergolakan PRRI dalam Cerpen&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh:  DAMHURI MUHAMMAD &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;em&gt;Kompas,&lt;/em&gt; Minggu 21/09/2008)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“SAYA hadir dalam pertemuan Dewan Banteng di Bukittinggi (1956). Malam itu telah mengubah wajah Sumatera Tengah, dan menyeretnya ke suatu medan laga mengerikan,” begitu pengakuan Soewardi Idris (1930-2004), satu-satunya jurnalis yang menyaksikan pertemuan rahasia tokoh-tokoh PRRI. Setelah itu  Soewardi bergabung dengan PRRI, tiga tahun keluar-masuk hutan, hingga akhirnya “turun gunung” setelah mendapat amnesti dari pemerintah. Soewardi bukan “pembangkang” biasa. Ia wartawan, juga sastrawan—bukan tentara atau bekas tentara seperti pemberontak lainnya. Setelah lelah bergerilya, ia menukilkan asam-garamnya perjuangan PRRI melawan pemerintah pusat, tulisan-tulisan itu digarapnya menjadi karya sastra. Soewardi telah menulis novel &lt;em&gt;Dari Puncak Bukit Talang&lt;/em&gt; (1964), dan dua antologi cerpen; &lt;em&gt;Di Luar Dugaan &lt;/em&gt;(1964) dan &lt;em&gt;Istri Seorang Sahabat &lt;/em&gt;(1964). Dua buku terakhir, baru-baru ini diterbit-ulangkan oleh penerbit Beranda (Yogyakarta, 2008) dengan tajuk &lt;em&gt; Antologi Cerpen Pergolakan &lt;/em&gt;(senarai kisah pemberontakan PRRI). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Menurut kritikus HB. Jassin (1985), cerita tentang pemberontakan PRRI yang meletus pada 1958 itu tidak banyak, karena para pengarang menganggap pemberontakan itu kurang menarik, dianggap tabu, karena itu mereka takut membicarakannya. Beberapa cerpen karya A Bastari Amin memang menyinggung soal ini, juga sajak-sajak Mansur Samin, tapi hanya Soewardi Idris yang keseluruhan karyanya mengambil tema pemberontakan PRRI. Itu sebabnya Wisran Hadi (2008) hendak menyejajarkan kepengarangan Soewardi dengan AA Navis, khususnya dalam pilihan tematik; Pergolakan Daerah. Lagi pula, keduanya sama-sama berasal dari Sumbar dan masa kekaryaan mereka berada pada kurun yang sama.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sisi menarik dari Soewardi adalah ketertarikannya yang begitu intens pada moralitas para pejuang PRRI, menjelang kegagalan gerakan itu. Semacam sisi lain dari individu-individu pemberontak yang tidak tercatat di buku-buku sejarah. Ia tidak membincang sebab-musabab pemberontakan itu, tapi menukik untuk sedalam-dalamnya mengekplorasi situasi mental para pejuang akibat perang saudara itu. Ia seperti hendak menakar berapa banyak istri yang telah menjanda lantaran suaminya tewas, berapa banyak anak-anak yang telah yatim lantaran bapaknya terbunuh, berapa banyak orangtua yang telah kehilangan anak lantaran terlibat dalam pergolakan. Karya-karya Soewardi banyak memaklumatkan “mudharat” ketimbang  “maslahat” dari pergolakan itu. Kalah  jadi arang, menang jadi abu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strategi literernya jauh dari pengisahan yang dramatik dan heroik sebagaimana teks-teks sastra yang menggambarkan kemelut perang. Ia pencerita yang memang sedang memikul, namun serasa tiada berbeban, karena kuatnya sense of humor dalam cerita-ceritanya. Cerpen “Di Luar Dugaan,” dapat mencontohkan keterampilan artistik yang unik dari cerpenis ini. Dikisahkan seorang pejuang PRRI yang mencegat kendaraan umum yang melintas di sekitar persembunyian mereka. Begitu bis berhenti, mereka mengepung, menurunkan semua penumpang, melucuti pakaian, merampas benda-benda berharga. Ini mereka lakukan karena penduduk setempat tidak sanggup lagi menyuplai logistik, sementara perlawanan tak boleh padam. Dalam kekalutan itu, Hadi (tokoh rekaan) berhadapan dengan seorang wanita yang sudah dilucuti pakaiannya. Ia berusaha membela diri dengan mengatakan bahwa kakak iparnya juga sedang berada di hutan, bergabung dengan PRRI. Hadi mengurungkan niat “menggarap” wanita itu setelah ia mengaku bahwa kakak iparnya itu bernama Hadi, asal Solok. Hadi gugup. Ia nyaris “menggagahi” perempuan yang tak lain adalah istri adik kandungnya. Inilah yang dimaksud dengan “kemudharatan” akibat pergolakan PRRI yang ditakar oleh Soewardi. Orang-orang yang semula teguh berpegang pada idealisme perlawanan, saat terdesak dan terkepung oleh APRI, bisa menghalalkan segala cara, dan tak segan-segan memerkosa gadis-gadis kampung di wilayah yang “konon” sedang mereka perjuangkan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Akibat terlalu berani menyingkap mentalitas bobrok para pejuang PRRI, buku-buku Soewardi ditarik dari peredaran, master cetaknya dimusnahkan. Itu tidak datang pemerintah, tapi dari sejumlah mantan pejuang PRRI yang merasa dipermalukan. Tentang pemberangusan ini AA. Navis menulis “Tingkah Laku Bangsa Kita Mengganggu Penciptaan” (Kompas, 14/07/1981). Sejarahwan Taufik Abdullah juga mencatat, pada pertengahan dekade 50-an, Soewardi pernah diadili secara in absentia oleh sejumlah sastrawan Yogyakarta, karena karya-karyanya dianggap terlalu “terbuka”. Terbuka di sini tentu saja “jujur” atau dalam cemoohan khas Minang;  “lurus-tabung”. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebaliknya, cerpen “Isteri Seorang Sahabat” (1964) memperlihatkan etos kesetiakawanan antar sesama pemberontak dalam keadaan terdesak sekalipun. Berkisah tentang “Aku” yang tercampak sebagai pecundang; gagal dalam perjuangannya, juga kehilangan istri. Karena tak kunjung pulang, Tini (istri tokoh “Aku”) menganggap suaminya sudah gugur, ia menikah dengan lelaki lain, lalu merantau ke Jawa. Sementara itu, “Aku” yang dengan mata kepala sendiri menyaksikan Martunus, teman seperjuangannya, ditembak mati oleh APRI, berusaha menutup-nutupi kabar kematian itu pada Nani (istri Martunus). Ia bahkan berpura-pura menyerahkan titipan uang dari Martunus untuk Nani, padahal uang itu dari kantongnya sendiri, agar Nani teryakinkan bahwa suaminya benar-benar masih hidup. Namun, dari seseorang Nani beroleh kabar bahwa Martunus sudah tiada. Tapi kesedihannya berangsur-angsur hilang karena sejawat Martunus itu memberikan perhatian penuh pada Nani, juga pada anaknya. Nani ingin lelaki itu menggantikan posisi Martunus. Berkali-kali Nani bermohon, berkali-kali pula ia menolak ajakan menikah. Bukan karena tidak mencintai Nani, tapi karena ia tidak akan pernah mengkhianati sahabat karibnya sesama pejuang PRRI, Martunus.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Cerpen tentu bukan fakta sejarah, dan mustahil menjadi buku sejarah. Bila sejarah mengacu pada kepastian epistemologis (benar-salah, terjadi-tidak terjadi), sastra berkiblat pada pencapaian kualitas estetik yang  tak  perlu diverifikasi keabsahannya. Meski cerpen-cerpen Soewardi memuat sejumlah fakta keras tentang “sisi lain” pergolakan PRRI yang latar belakang dan tendensi politisnya masih diperdebatkan, itu hanya satu sudut pandang yang berbeda, yang lebih unik ketimbang perspektif sejarah yang dibebani kaidah keilmiahan, juga tendensi politis tertentu. Soewardi, lewat karya-karyanya, dengan cara yang bersahaja, memberi warna baru pada konsep historiografi perihal sejarah PRRI, agar tidak menjadi fakta yang baku dan beku, dan tidak disepakati secara  tergesa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-4484785251555713004?l=damhurimuhammad.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/4484785251555713004/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=4484785251555713004&amp;isPopup=true' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/4484785251555713004'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/4484785251555713004'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2008/09/pergolakan-prri-dalam-cerpen-oleh.html' title=''/><author><name>damhurimuhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>hulutualang@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='08966147596844497280'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-6185590128677321393</id><published>2008-08-29T09:50:00.003+07:00</published><updated>2008-08-29T09:58:55.858+07:00</updated><title type='text'>BUKU BARU</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/SLdkUcaZ0VI/AAAAAAAAADA/MYJkPOTGSlg/s1600-h/Juru+Masak+Cover+-+Front.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/SLdkUcaZ0VI/AAAAAAAAADA/MYJkPOTGSlg/s400/Juru+Masak+Cover+-+Front.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5239766993855959378" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenduri itu memang semarak, tapi keluarga mempelai laki-laki nyaris meninggalkan helat lantaran aneka juadah yang tersuguh ternyata bukan masakan Makaji, Juru Masak handal Lareh Panjang itu. Gulai Kambing terasa hambar karena racikan bumbu tidak meresap ke dalam daging. Kuah Gulai Rebung encer karena keliru menakar jumlah kelapa parut, lebih banyak air ketimbang santan. Maka, berseraklah gunjing dan cela yang mesti ditanggung tuan rumah. Bukan karena kenduri kurang meriah, tidak pula karena pelaminan tempat bersandingnya pasangan mempelai tak sedap dipandang mata, tapi karena macam-macam menu yang tersaji tak menggugah selera. &lt;em&gt;Nasi banyak gulai melimpah,&lt;/em&gt; tapi helat tiada membuat kenyang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makaji tak mungkin menjadi Juru Masak di kenduri pernikahan Renggogeni dengan lelaki lain. Ngeri ia membayangkan betapa terpiuh-piuhnya perasaan Azrial, anak laki-lakinya, yang mencintai Renggogeni, lebih dari mencintai dirinya sendiri. Tapi Mangkudun (ayah Renggogeni) bulat-bulat menolak pinangan itu; &lt;em&gt;jatuh martabat keluarga kita bila anak Juru Masak itu jadi suamimu… &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kampung di luar kota bisa tampak eksotik, apalagi jika jarak yang terbentuk bukan hanya ruang, melainkan juga waktu. Dalam sebagian besar cerita Damhuri, kampung terungkapkan dalam bahasanya sendiri, yakni bahasa yang mengungkap perbendaharaan kampung, tanpa harus berarti usang, karena baik persoalan, maupun sudut pandang dan pendekatannya, sepenuhnya berpijak pada masa kini. Bagai menjawab suatu nostalgia, sekaligus mengingatkan agar tak terlena.&lt;/em&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Seno Gumira Ajidarma&lt;/strong&gt;, &lt;em&gt;novelis&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul :  &lt;em&gt;Juru Masak&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Penulis :  Damhuri Muhammad &lt;br /&gt;Penerbit:  KOEKOESAN &lt;br /&gt;Cetakan :  I, September 2008&lt;br /&gt;Tebal :  170 halaman&lt;br /&gt;ISBN :  978-979-1442-23-7&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-6185590128677321393?l=damhurimuhammad.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/6185590128677321393/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=6185590128677321393&amp;isPopup=true' title='10 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/6185590128677321393'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/6185590128677321393'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2008/08/buku-baru.html' title='BUKU BARU'/><author><name>damhurimuhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>hulutualang@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='08966147596844497280'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/SLdkUcaZ0VI/AAAAAAAAADA/MYJkPOTGSlg/s72-c/Juru+Masak+Cover+-+Front.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-4274701742984945030</id><published>2008-08-28T16:45:00.002+07:00</published><updated>2008-08-28T16:51:35.866+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Ratap Gadis Suayan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen: DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;em&gt;Kompas&lt;/em&gt;,Minggu,24/08/08)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mana ada kematian, di sana ada Raisya, janda beranak satu yang bibir pipihnya masih menyisakan kecantikan masa belia. Ia pasti datang, meski tanpa diundang. Di dusun Suayan ini, kabar baik dihimbaukan, kabar buruk berhamburan. Maka, bilamana kabar kematian dimaklumatkan, orang-orang akan bergegas menuju rumah mendiang. Begitu pula Raisya. Tapi ia tidak bakal ikut-ikutan sibuk meramu daun serai, pandan wangi dan minyak kesturi sebelum jenazah dimandikan, tidak pula memetik bunga-bunga guna ditabur di tanah makam seperti kesibukan para pelayat perempuan. Raisya hanya akan mengisi tempat yang telah tersedia, di samping pembaringan mendiang, lalu meratap sejadi-jadinya, sekeras-kerasnya, sepilu-pilunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duduk, berdiri, melonjak-lonjak, menghentak-hentakkan kaki, berputar-putar mengelilingi jenazah sambil terus menyebut-nyebut dan memuji tabiat baik mendiang semasa hidup. Ada irama di suara tangisnya, kadang seperti melantunkan sebuah nyanyian yang memiuh-miuh ulu hati. Lagu kematian itu serasi dengan hentak kakinya. Ratapan, tarian, nyanyian, bersekutu jadi satu. Remuknya perasaan tuan rumah tidak mampu menandingi dalamnya kepiluan Raisya, tukang ratap yang telah mahir menanak risau itu. Mendengar ratapannya, mungkin Raisya lebih berduka ketimbang keluarga mendiang. Padahal ia bukan siapa-siapa, hanya tukang ratap yang terbiasa mendulang perih rasa kehilangan di setiap kematian yang dijenguknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua penyebab yang membuat orang-orang gampang mengingat dusun Suayan. Sebab pertama, perempuan paruh baya bernama Raisya, tukang ratap itu. Namanya mashur berkat kepiawaian meratap. Kerap ia dijemput-antar oleh karib kerabat yang sedang tertimpa musibah kematian. Mereka datang dari dusun-dusun tak terduga, guna memohon kematian itu diratapi. Bagi mereka, kematian kurang khidmat tanpa ratapan Raisya. Sebab kedua, Suayan gampang dikenang karena dusun itu pabrik jodoh. Bila tuan sedang bimbang untuk menjatuhkan pilihan perihal gadis mana yang bakal tuan persunting, barangkali tak ada salahnya tuan berkunjung ke Suayan. Bisa jadi tuan bakal abai dengan pilihan-pilihan tuan sebelumnya. Sebab, di dusun Suayan, meminang perempuan dalam keadaan mata terpicingpun dijamin tidak salah pilih. Sembilan dari sepuluh laki-laki pencari jodoh yang datang ke Suayan berhasil menggondol pasangan. Kalaupun ada yang gagal, sebabnya pasti bukan pada pihak perempuan, tapi karena pihak laki-laki tidak sanggup membayar uang pinangan yang terbilang mahal. Harga pinangan termurah untuk gadis Suayan cukup untuk menebus empat bidang ladang yang tergadai. Konon, hidup orang-orang Suayan terselamatkan oleh pinangan demi pinangan. Memiliki anak perempuan di dusun Suayan seperti menyimpan celengan gemuk yang sewaktu-waktu bisa dibanting-hempaskan, tentu setelah pinangan datang. Dan, celakalah setiap keluarga yang tidak punya anak perempuan. Mereka terpuruk di kerak kemelaratan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak dulu kecantikan gadis-gadis Suayan belum terkalahkan oleh perempuan-perempuan di dusun manapun. Dusun Suayan memang bukan daerah subur penghasil Damar atau Gambir sebagaimana dusun-dusun lain. Tanahnya gersang, padi tak menjadi, hampa sebelum berbuah. Tapi Tuhan memberi anugerah dari pintu yang tak diduga-duga. Bayi-bayi perempuan selalu terlahir dengan kecantikan yang menakjubkan. Mereka tumbuh dan mendewasa menjadi gadis-gadis yang memiliki bibir pipih seperti bibir Raisya, pipi merah merona, kulit mulus seperti kulit orang Jepang, hidung mancung seperti hidung orang Arab. Postur tubuh tinggi, langsing, sintal seperti bintang film. Bila bintang film yang kerap mereka lihat di layar tivi itu tampak anggun dan molek karena olesan bedak yang berlapis tujuh, maka kecantikan gadis-gadis Suayan mukjizat yang jatuh dari langit, bawaan sejak dari rahim. Tanpa olesan bedak dan lipstikpun wajah mereka sudah memancarkan aura kecantikan yang mencengangkan. Siapa tak tergiur? Dusun Suayan seamsal hamparan ladang luas tempat bersitumbuhnya bunga-bunga anggun segala rupa, tiada pernah langkas, meski kumbang-kumbang datang silih berganti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana Raisya? Sekarang atau tidak sama sekali!” desak Datuk Pucuk, penghulu suku Pilawas, suku Raisya. &lt;br /&gt;Seorang lelaki datang hendak meminang Laila, anak gadis Raisya. Satu-satunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak! Biarkan dia melanjutkan sekolah,” sangkal Raisya.Tegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekolah? Kau akan menguliahkan Laila dengan upah meratap? Berapa banyak kematian harus kau tunggu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terimalah pinangan itu! Hidupnya bakal selamat dengan lelaki itu. Juga hidupmu. Tak perlu kau menunggu-nunggu kabar kematian lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak ada kematianpun aku tetap meratap!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memandang raut wajah Laila serasa menatap Raisya. Ada jernih mata Raisya di jernih matanya. Ada pipih bibir Raisya di pipih bibirnya. Ada alis Raisya di alisnya (tebal, hitam, nyaris bertaut). Tapi, bakal adakah malang nasib Raisya di malang nasibnya? Raisya tidak mau itu terjadi. Laila tak boleh kawin muda. Jangan sampai ia terbujuk godaan para pencari jodoh yang berhamburan ke dusun ini, seperti berhamburannya orang-orang selepas mendengar kabar kematian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raisya tidak rela Laila hanya menjadi sebatang tebu yang disesap rasa manisnya, setelah jadi ampas, dicampakkan begitu saja, seperti yang dialaminya di masa lalu. Waktu itu Raisya baru lulus tsanawiyah, Nurman meminangnya. Mentah-mentah ia menolak pinangan ganjil itu. Tapi siapa berani melawan kehendak Datuk Pucuk? Satu-satunya keluarga Raisya yang tersisa. Dengan berat hati ia mengubur segala impian. Rela ia diperistri Nurman, lelaki yang sebenarnya lebih patut menjadi ayahnya. Raisya daun muda ketiga yang takluk di tangan toke Damar itu. Dari gunjing yang berserak di dusun Suayan, ada kabar tak sedap, dengan perjodohan itu Datuk Pucuk sesungguhnya tidak hendak menyelamatkan hidup Raisya, kemenakannya itu, tapi hendak menyelamatkan hidup anak-bininya sendiri. Belakangan Raisya tahu, adik kandung mendiang ibunya itu, sedang terlilit utang, dan ia membayarnya dengan menyerahkan Raisya pada Nurman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya berselang beberapa bulan setelah kelahiran Laila, Nurman lagi-lagi memetik daun muda. Dipersuntingnya Bunaiya, sahabat karib Raisya sewaktu bersekolah dulu. Tiada alasan yang absah saat Nurman meninggalkan Raisya. Barangkali hanya karena lelaki itu sudah hilang gairah, sebab tubuh Raisya tak montok lagi. Ia sibuk mengurus anak, lupa merawat tubuhnya sendiri. Kabar terakhir yang didengar Raisya, suaminya pergi karena memang begitulah perjanjiannya dengan Datuk Pucuk. Ia sanggup membayar pinangan seharga dua ekor sapi jantan, hanya untuk mencicip ranum tubuh Raisya. Hutang-hutang Datuk Pucuk lunas, Raisya punya anak, Nurman pergi, dan kawin lagi. Sejak itu Raisya hidup sendiri, menghidupi anak tanpa suami. Laila yatim, meski ayahnya belum mati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semasa bersekolah dulu, Raisya bintang Qasidah. Napasnya panjang, suaranya tinggi, nyaring. Bila tampil di panggung, lengking suaranya membuat para penonton melonjak-lonjak girang, lebih-lebih kalau ia menyanyikan ya rabbi barik. Tartilnya benar-benar seperti tartil orang Arab, cengkok suaranya membuat penonton terhenyak dan berdecak kagum. Tapi sejak menjadi istri orang, nama Raisya seolah menguap, tak pernah lagi ia tampil di atas panggung, kalah bersaing dengan biduan-biduan muda yang suara dan penampilan mereka lebih cemerlang. Raisya kehilangan banyak hal, empat bidang ladang peninggalan orangtuanya dikuasai Datuk Pucuk, kehilangan suami, dan tentu saja; kehilangan ranum tubuhnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mak Sima, sesepuh suku Pilawas merasa terpanggil untuk meringankan beban Raisya. Ia mewariskan kepandaian meratap pada janda muda itu. Setidaknya ia bisa membesarkan Laila dari upah meratap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau sudah punya syarat-rukunnya, Raisya. Akan lekas mahir,” bujuk Mak Sima waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sudah tua. Kau penggantiku! Jadilah tukang ratap yang bisa menyelami lubuk kepiluan lebih dalam dari selaman keluarga mendiang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukankah kau sudah terlatih menanak risau?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berhari-hari terkapar di tempat tidur akhirnya lelaki itu meninggal juga. Tak ada yang tahu penyakit apa yang dideritanya. Belakangan ini ia kerap batuk-batuk kering. Tiga dari lima kali batuknya disertai muntah. Sebesar jeruk purut gumpalan darah keluar dari mulutnya. Susah ia tidur karena batuk-batuk keras itu tak kunjung reda, hingga tubuhnya terkulai tak bertenaga, kencing dan berak dipacakkannya saja di kasur. Bunaiya, istrinya, sudah berkali-kali membujuk agar ia mau dibawa ke rumah sakit, tapi ia menolak. Ini penyakit tua, tak akan lama, rintihnya. &lt;br /&gt;Kini jenazahnya sudah dimandikan, sudah pula diyasinkan, dishalatkan, tinggal menunggu waktu sebelum diusung ke pekuburan. Tapi sebagaimana kebiasaan orang-orang dusun Suayan, kurang sempurna upacara kematian jika belum diratapi. Maka, jenazahnya masih dibaringkan di ruang tengah rumah itu, menunggu kedatangan Raisya, si tukang ratap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana mungkin Raisya meratapi orang yang telah membuat ia meratap seumur-umur?” tanya Bunaiya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak usah cemaskan soal itu. Bila kematian ini tak diratapi, apa kata orang nanti?” bujuk Wan Uncu, kakak laki-laki Bunaiya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Raisya harus dijemput! Ia satu-satunya tukang ratap di dusun ini. ” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejatinya Raisya tidak pernah berdoa memohon kematian, meski hidupnya sangat bergantung pada kematian. Untunglah hari ini datang juga kabar buruk itu. Ia akan meratap sebagaimana lazimnya, beroleh upah, lalu pulang. Meski yang akan diratapinya mendiang Nurman, bekas suaminya, lelaki yang telah menghancurkan hidupnya. Ada tak ada kematian, Raisya tetap meratap. Itu karena ulah Nurman! &lt;br /&gt;Di samping pembaringan mendiang, Raisya meratap sekeras-kerasnya, sepilu-pilunya, sejadi-jadinya. Tak ada yang tahu apakah Raisya benar-benar menyelam di kerak kepiluan, atau dalam ratap itu ia justru menyimpan amarah yang tak terkata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-4274701742984945030?l=damhurimuhammad.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/4274701742984945030/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=4274701742984945030&amp;isPopup=true' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/4274701742984945030'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/4274701742984945030'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2008/08/ratap-gadis-suayan-cerpen-damhuri.html' title=''/><author><name>damhurimuhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>hulutualang@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='08966147596844497280'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-7156178630030544006</id><published>2008-06-17T09:32:00.002+07:00</published><updated>2008-06-17T09:43:48.023+07:00</updated><title type='text'>Wajah Baru Anak-anak Revolusi</title><content type='html'>Oleh : DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;em&gt;Jawa Pos&lt;/em&gt;, 15 Juni 2008) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kairo, 30 Agustus 2006, lelaki ringkih 95 tahun menghembuskan napas penghabisan. Mesir berkabung, dan para penggemar novel di seluruh dunia berduka atas wafatnya Naguib Mahfouz, pemenang nobel sastra 1988 itu. Sepanjang riwayat kepengarangannya, ia sudah menulis tidak kurang dari 40 novel dan ratusan cerita pendek. Penulis The Cairo Trilogy (&lt;em&gt;Bayn Qasrayn&lt;/em&gt;,1956, &lt;em&gt;Qasr al Shawq&lt;/em&gt;, 1957 dan &lt;em&gt;As Sukkariyya, &lt;/em&gt;1957) itu tak luput dari kontroversi. Pada 1994, seseorang menghunuskan belati di lehernya tatkala ia sedang dalam perjalanan menuju pertemuan mingguan dengan rekan-rekan sesama pengarang di sebuah kafe di Kairo. Naguib Mahfouz luka parah, saraf  tangan kanannya terganggu. Serangan itu sebentuk harga yang mesti dibayar Naguib Mahfouz lantaran novelnya &lt;em&gt;Aulad Haratyna &lt;/em&gt;(1962) yang dituding sesat. Ceritanya berkisar di Kairo masa silam dengan tokoh utama, Gabalawi. Banyak yang menganggap tokoh ayah dalam novel yang semula dimuat bersambung di harian Al Ahram itu sebagai alegori bahwa Tuhan lebih sayang pada Adham (nabi Adam) dibanding pada Gabal (Musa)  Rifa’a (Isa Almasih) dan Qasim (Muhammad). Karena itu, Naguib Mahfouz dituding atheis. Seorang ulama garis keras Mesir mengeluarkan pernyataan; jika Naguib Mahfouz tidak menulis &lt;em&gt;Awlad Haratyna&lt;/em&gt;, barangkali Salman Rushdie tidak akan menulis &lt;em&gt;The Satanic Verses &lt;/em&gt;yang menggemparkan itu. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Tidak sukar menemukan novel-novel Naguib Mahfouz dalam edisi Indonesia, misalnya &lt;em&gt;Awal dan Akhir &lt;/em&gt;(2001), &lt;em&gt;Lorong Midaq &lt;/em&gt;(1996), &lt;em&gt;Pengemis&lt;/em&gt; (1997), &lt;em&gt;Tragedi di Puncak Bukit &lt;/em&gt;(2000) dan lain-lain. Novel berjudul &lt;em&gt;Karnak Cafe&lt;/em&gt; (2008) ini merupakan karya Naguib Mahfouz paling anyar dalam edisi terjemahan Indonesia. Edisi Arabnya (Al Karnak) terbit pertamakali di Kairo,1974. Sementara edisi Inggrisnya terbit pada 2007 untuk mengenang satu tahun kematian Naguib Mahfouz. Dalam sebuah sesi wawancara, sebagaimana dicatat Nadine Gordimer (1995), Naguib Mahfouz pernah ditanya perihal tema apa yang paling dekat di hati anda? Novelis itu menjawab; "Kebebasan. Ya, kekebasan dari penjajahan, dari kepemimpinan absolut raja-raja, dan kebebasan dalam konteks masyarakat dan keluarga. Dalam Trilogi saya misalnya, setelah revolusi membawa kebebasan politik, keluarga Abdul Jawad menuntut kebebasan yang lebih dari dirinya." Tapi, berbeda dengan novel-novel Naguib Mahfouz sebelumnya, &lt;em&gt;Karnak Cafe &lt;/em&gt;justru menggambarkan pandangan pesimistik terhadap isu kebebasan dan demokrasi yang menyeruak pasca revolusi 1952. Trauma kekalahan Mesir dari Israel pada perang Juni 1967 menjadi mainstream novel ini. Kafe Karnak sebagai poros dari  keseluruhan kisah buku  ini bukan kafe biasa, tapi sebuah wadah tempat berkumpulnya ‘anak-anak revolusi’ yang kecewa akibat perang enam hari yang membawa Mesir terpuruk pada fase kemunduran, jauh sebelum revolusi 1952 (terbebasnya Mesir dari absolutisme kerajaan) terjadi. Di dunia Arab, malapetaka Juni 1967 itu biasa disebut dengan al naksa (kemerosotan). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Periode kekalutan ini bermula dari pengunduran diri presiden Gamal Abdul Nasser, figur utama yang tak tergoyahkan. Tak lama berselang, pada 1970 ia meninggal dalam sebuah serangan setelah berpidato di hadapan para pemimpin Arab yang tengah berkumpul di Kairo. Penggantinya Anwar Sadat, wakil presiden waktu itu. Banyak darah tertumpah di bawah jembatan di Mesir sejak Sadat dikukuhkan menjadi presiden. Para ekstrimis agama, politisi dan intelektual kiri dibersihkan. Para penyetia revolusi 1952 seperti Hilmi Hamada, Ismail Syeikh dan Zaenab Diyab, tokoh-tokoh imajiner dalam Karnak Cafe tidak lagi bisa menghirup udara kebebasan. Hilmi Hamada, pengunjung setia kafe itu berkali-kali dipenjara, dituduh sebagai pengkhianat revolusi hanya karena gagasan politiknya berhaluan sosialisme. Lelaki tambatan hati Qurunfula (mantan artis kondang Mesir, pemilik kafe Karnak) itu akhirnya mati di penjara, tanpa kejelasan di mana jenazahnya dimakamkan. Zaenab, aktifis muda, mengalami pencabulan di salah satu ruang interogasi. Ia ditangkap karena punya hubungan khusus dengan Ismail Syeikh yang dituduh sebagai antek  Ikhwanul Muslimin, gerakan bawah tanah yang hendak diberangus oleh  pemerintahan Sadat. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Qurunfula, daya pikat kafe Karnak itu sangat terpukul oleh kematian Hilmi Hamada. Namun kesepiannya sedikit terobati oleh kembalinya Ismail dan Zaenab hingga keriuhan senda gurau masih tetap berdengung di kafe Karnak. Tapi, Ismail ternyata bukan lagi lelaki yang teguh pendirian seperti dulu, bukan pengikut setia revolusi lagi. Ia bebas setelah menerima tawaran untuk menjadi spion guna membekuk para pembelot yang saban malam berkumpul di kafe Karnak. Begitu juga Zaenab, ia kembali dengan wajah baru sebagai agen rahasia yang tidak segan-segan menjual kehormatannya demi memperoleh informasi perihal para ekstrimis dan para aktivis kiri yang harus disingkirkan. Tak jelas lagi siapa kawan, siapa lawan. Para pengunjung kafe Karnak saling curiga, hingga tak ada lagi kenyamanan saat menikmati suguhan kopi seperti dulu. Mereka dalam situasi terancam oleh ‘musang-musang berbulu Ayam’ yang berkeliaran di kafe Karnak.   &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Strategi literer pengarang belum bergeser dari realisme usang khas Naguib Mahfouz, dengan satu narator dan sudut pandang tunggal. Selain itu, eksplorasi prosaiknya benar-benar tidak berjarak dari realitas keseharian Naguib Mahfouz. Baik sebelum maupun sesudah memenangkan nobel, Naguib Mahfouz akrab dengan kafe. Mulai dari kafe El Feshawi  yang bernuansa klasik di kawasan kota tua  Kairo, hingga cafe Riche di seberang sungai Nil. Di El Feshawi, ia pelanggan terhormat, setiap pagi sebelum berangkat ke kantornya, ia memesan kopi hitam, menyapa orang-orang di sekitarnya, membaca koran dan menulis. Berbeda dengan El Feshawi, kafé Riche terkenal sebagai tempat berkumpulnya pimpinan majelis revolusi dan tokoh-tokoh pergerakan nasional kelas menengah, seiring dengan pulangnya kaum intelektual Mesir dari Perancis. Sejak 1963, di kafe Riche kerap diselenggarakan ‘salon sastra Mahfouz’ yang dihadiri oleh sastrawan dan budayawan Mesir seperti Gamal el-Gheitani, Amal Danqel, Yahya Tahir Abdullah, Sarwat Abaza dan lain-lain. “Jika kamu baca cerita-ceritanya, kamu akan menemukan sejumlah karakter yang diambil dari sejumlah pelanggan Kafe ini,” kata pemilik kafe itu seperti dikutip Qaris Tajuddin (2006). Di kafe ini Naguib Mahfouz memotret pelbagai sisi kegamangan akibat malapetaka Juni 1967, yang tergambar secara benderang dalam novel &lt;em&gt;&lt;em&gt;Karnak Café&lt;/em&gt; &lt;/em&gt;ini. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Tapi, semata-mata merujuk pada peristiwa perang enam hari itu akan  mengabaikan kompleksitas persoalan yang tersirat. Sebab, &lt;em&gt;Karnak Cafe&lt;/em&gt; bukanlah buku sejarah yang mesti terukur keakuratan konsep historiografinya, tapi teks yang digarap dengan keterampilan artistik dan berhulu pada pencapaian estetika tertentu. Bukankah hubungan ganjil Qurunfula dengan Hilmi Hamada menyuguhkan realitas baru yang terlepas dari ‘fakta keras’ perang Mesir-Israel 1967? Begitu juga dengan kegilaan Arif Sulaiman, mantan staf ahli menteri keuangan Mesir yang tergila-gila pada Qurunfula. Ia menghamburkan-hamburkan uang demi menaklukkan artis kondang itu, hingga akhirnya dipenjara karena kasus korupsi. Setelah bebas, Arif Sulaiman terlunta-lunta, Qurunfula menampungnya sebagai pelayan di kafe Karnak. “Ia bukan korbanku, tapi korban dari ketidakberdayaannya sendiri,” kilah Qurunfula. Kalimat yang seolah-olah menjadi bentuk pengamsalan terhadap keterpurukan Mesir masa itu.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DATA BUKU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul  :  Karnak Cafe&lt;br /&gt;Penulis  :  Naguib Mahfouz&lt;br /&gt;Penerbit :  Alvabet, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan         :  I, Februari 2008&lt;br /&gt;Tebal  :  166  halaman&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-7156178630030544006?l=damhurimuhammad.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/7156178630030544006/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=7156178630030544006&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/7156178630030544006'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/7156178630030544006'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2008/06/wajah-baru-anak-anak-revolusi.html' title='Wajah Baru Anak-anak Revolusi'/><author><name>damhurimuhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>hulutualang@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='08966147596844497280'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-7402061904725197598</id><published>2008-05-12T10:59:00.002+07:00</published><updated>2008-05-12T11:04:58.186+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;SEMBILU TALANG  PERINDU&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;em&gt;Jawa Pos&lt;/em&gt;, Minggu 11 Mei 2008)&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Jangan dikira tiada puncak di atas puncak! Begitu kalian menginjakkan kaki di tepi kawah seluas dua lingkar pacuan kuda itu, arahkan pandang ke sisi kiri, kalian akan melihat sepasang pohon kembar yang tegak dalam posisi bersilang hingga menyerupai huruf X. Awas! Itu tanda larangan, agar para pendaki gunung Seribu Bidadari tak gegabah menerobosnya. Tapi jikalau kalian memang punya nyali untuk menantang bahaya, duapuluh depa saja dari persilangan pohon kembar tak terbilang usia itu, akan tersingkap jalan setapak penuh semak kelimunting yang makin ke ujung makin menanjak. Itulah jalan menuju puncak yang lebih tinggi dari puncak tempat para pendaki memancang bendera pertanda telah menaklukkan gunung Seribu Bidadari yang keganasannya tersohor di segala  penjuru mata angin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, puncak terlarang bagi siapa saja yang tak hendak berpisah dengan sanak-saudara setelah pendakian yang bersabung nyawa itu. Di puncak larangan itu terhampar sebuah telaga yang airnya begitu jernih, tapi dinginnya menusuk hingga tulang sumsum. Bila daya tahan tubuh sedang menurun, jangan coba-coba membasuh badan dengan air telaga itu, bisa mati beku kalian dibuatnya. Sejak lama, orang-orang di sekitar lereng Seribu Bidadari menamainya, Telaga Dewi. Telaga pemandian dewi-dewi penunggu puncak terlarang. Kecantikan mereka nyaris menyerupai malaikat tatkala menyamar sebagai bidadari. Itu sebabnya gunung itu dinamai Seribu Bidadari. Banyak yang percaya, bidadari-bidadari itulah yang telah membuat pendaki-pendaki yang tersesat di kedalaman belukar puncak terlarang, merasa tidak perlu dicari, tidak perlu kembali, untuk selamanya. Berapa banyak pendaki yang raib, tapi akhirnya dianggap mati lantaran tak satu mayat pun ditemukan? Sebenarnya mereka masih hidup, bahkan usia mereka bakal lebih panjang ketimbang sanak saudara yang belum sepenuhnya merelakan kehilangan tak berjejak itu. Tidak hilang, hanya saja jasad mereka tak terjangkau pandang mata telanjang. Mereka sudah menjelma makhluk halus dan hidup bahagia sebagai pasangan bidadari-bidadari yang memang harus terus beranak-pinak.&lt;br /&gt;"Akan kami renangi telaga hantu itu. Sebab, Talang Perindu ada di tengah-tengahnya," begitu tekad Gacik Pangawan, salah satu dari tiga pendekar tanggung yang datang dari negeri jauh.    &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;"Barang keramat itu syarat pokok untuk menyempurnakan kesaktian kami," sambung  Incekmato Batangkai, pendekar yang tampangnya cukup bersahabat, tapi cepat sekali naik pitam.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;"Lebih baik mati terjungkang di puncak terlarang daripada turun tanpa Talang Perindu!" dukung Sakotok Takujai, pendekar paling muda, tapi dadanya paling membusung.      &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Tak salah lagi. Ada serumpun aur yang tumbuh subur di telaga itu. Setiap buluh di rumpun itu kelak memang akan menjadi Talang Perindu, barang keramat yang sejak dulu dicari-cari para penghamba ilmu pelet.  &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;"Jaga mulutmu tua bangka! Kami bukan pemuja ilmu pelet.” gertak Incekmato Batangkai.   &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Cecunguk ini benar juga, kita memang akan merenggut semua bunga yang kita suka. Bila perlu bunga di jambangan. Dengan begitu, akan ternobatlah kita  sebagai  Pendekar Pemetik Bunga," sela Sakotok Tagujai. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;"Pokoknya semua makluk bernama perempuan bakal berlutut di kaki kita." &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Barangkali ada yang kalian lupa. Rumpun aur itu tidak tumbuh di tengah-tengah Telaga Dewi sebagaimana kalian duga. Mungkin kalian juga lupa kalau rumpun aur itu bisa berpindah dari tengah ke tepi telaga, sekali waktu juga bisa  menghilang seolah terhisap arus di dasar telaga. Lalu, bagaimana cara kalian mendapatkan Talang Perindu? Saya kuatir, pendakian kalian akan sia-sia. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;"Aha, tua bangka ini meragukan kehebatan kita?"   &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;"Tunggulah, sebentar lagi ia akan melihat tuah Talang Perindu di perkampungan lereng gunung ini. Perempuan-perempuan di tanah kelahirannya itu akan kita boyong pergi jauh. Dan, anak gadisnya yang bermata biru itu pantas pula melayani juragan-juragan di negeri kita."&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;"Sebelumnya tentu kita ujicoba lebih dahulu. Ua ha ha ha….." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Semasa darah mudanya masih menggelegak, lelaki ringkih pencari belerang itu pernah pula menggebu-gebu hendak memiliki Talang Perindu sebagaimana tiga pendekar pongah itu. Andai mereka tahu bahwa ia adalah Pendekar Pemetik Bunga yang sesungguhnya, tentu mereka tidak akan berani menggertak, apalagi mengancam akan meneluh anak gadisnya dengan Talang Perindu. Lelaki setengah bongkok itu memang gagal menggapai rumpun aur di tengah Telaga Dewi lantaran diserang kawanan elang gunung yang bertubi-tubi mencengkram kuduk dan pucuk kepalanya. Tubuhnya terapung-apung sebelum tangannya sempat berpegangan pada salah satu buluh di rumpun aur itu. Apa boleh buat, hasrat hendak membuat seruling dari Talang Perindu  pupus sudah.  Sedianya seruling itu akan menjadi seruling bertuah yang bila ditiup akan menaburkan benih-benih rindu setiap perempuan yang mendengarnya. Itu sebabnya disebut Talang Perindu, talang penumbuh rindu. Sayup-sayup bunyi seruling akan membuat gadis-gadis mabuk kepayang hingga datang mendekat satu persatu, serupa gerombolan ikan berbondong lantaran mencium bau umpan dalam jala. Ia bisa pilih, ranum tubuh mana yang mesti dicicip lebih dulu. Jangan segan-segan, mereka sudah jadi budak, dan lelaki peniup seruling adalah tuannya. Budak-budak tiada bakal bebas, bila pemilik Talang Perindu belum melepasnya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ah, itu hanya angan-angan yang tak kesampaian. Tapi, berputus asa pantang bagi seorang pendekar. Meski Talang Perindu tak didapat, suatu masa ia beroleh mujur juga. Saat terbungkuk-bungkuk memikul karung berisi belerang lembab, kakinya tersandung sarang elang yang baru saja jatuh dari dahan pohon Medang. Saking kagetnya, tak sengaja ia mengeluarkan jurus Terjang Halimbubu, hingga  gumpalan berisi rumput-rumput kering itu hancur menjadi serpihan-serpihan halus seperti tepung terigu dihembus angin. Tapi ia masih saja kesal, sebab kelingking jari kakinya terasa perih.  Seperti ada duri yang mencucuk daging kelingking itu. Terus saja ia berjalan sembari menjinjit kaki. Saat membasuh kaki di kali yang hanya beberapa langkah dari dangau tempat tinggalnya, ia mencabut duri yang tertancap di kelingking kaki kirinya. Bukan duri ternyata, tapi patahan sembilu sebesar ujung batangan tusuk gigi. Mungkin sembilu yang terkelupas dari batangan buluh kering, lalu elang gunung membawanya terbang untuk membuat sarang. Sembilu yang telah mendarahi kelingkingnya itu mengapung, hanyut perlahan. Tapi, tampaknya ada yang  ganjil. Sembilu itu tidak hanyut ke hilir, justru mengarah ke hulu kali. Hanyut sungsang. Lekas ia memungutnya. Bila sudah rejeki tak hendak ke mana, itu bukan sembilu biasa, tapi sembilu yang terkelupas dari Talang Perindu di puncak Seribu Bidadari. Tak ada rotan, akar pun jadi. Tak ada Talang, sembilu pun cukup. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Benda yang semula jadi duri dalam dagingnya kelak membuat ia ternobat sebagai  Pendekar Pemetik  Bunga. Sembilu dari Talang Perindu menjadi jimat ajaib di tangannya. Tapi, seumur-umur hanya sekali ia meneluh perempuan dengan sembilu bertuah itu. Masa itu, sekelompok perempuan pirang datang hendak mendaki  gunung Seribu Bidadari, dan lelaki penambang pelerang itu terpilih sebagai  penunjuk jalan. Jane, perempuan paling mancung, sekali waktu menutup hidung saat berdekatan dengan si penunjuk jalan itu. Seolah-olah Jane tidak tahan dengan bau tubuhnya. Maklum, ia hanya akan sungguh-sungguh mandi di malam satu Syuro, setahun sekali.  Ia tersinggung, dan obat satu-satunya hanya perempuan itu sendiri. Sembilu Talang Perindu membuat Jane bersenang hati jadi bininya. Pantaslah anak gadisnya kelak juga bermata biru sepertinya Jane. Sejak itu, tak pernah lagi ia meneluh. Puas ia dengan satu perempuan saja, tidak seperti hasrat tiga pendekar tanggung yang hendak menjadi tuhan bagi semua makhluk bernama perempuan, padahal mereka belum tentu sanggup menggapai puncak terlarang di gunung  Seribu Bidadari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Gelang-gelang Kawat marah besar. Warung Kopang miliknya sedang terancam gulung tikar. Sepi pengunjung, karena perempuan-perempuan yang tersedia sudah kadaluarsa, tak menggairahkan lagi. Suguhan kopi di warung remang-remang itu memang tiada duanya, tapi para pejajan tentu lebih tergiur dengan kenikmatan saat duduk di atas paha gadis-gadis muda sembari menyeruput kopi. Itu sebabnya disebut Kopang, Kopi Pangku, minum kopi sambil dipangku. Saatnya gadis-gadis pelayan Kopang itu diganti dengan perawan-perawan kinclong, segar dan berkulit kencang. Tapi, tiga murid Gelang-gelang Kawat yang diutusnya ke puncak gunung Seribu Bidadari pulang dengan tangan kosong.  &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Keparat busuk! Masih berani kalian pulang tanpa Talang Perindu?” bentak Gelang-gelang Kawat, tubuh bongsornya gemetar hendak lekas menghabisi bedebah-bedebah itu.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Tuan guru, beri kami satu kesempatan lagi,” jawab Incekmato Batangkai dengan kepala menunduk.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Kami janji, Talang Perindu akan jatuh ke tangan kita. Warung Kopang akan semarak kembali seperti dulu!” &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Akan kami paksa tua bangka penambang belerang itu menunjukkan di mana sebenarnya Talang Perindu itu berada,” tambah Sakotok Tagujai&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Penambang Belerang? ” Tanya Gelang-gelang Kawat, terperangah.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Ya, lelaki sepuh di lereng Seribu Bidadari itu tahu segala rahasia tentang Talang Perindu. Ia mengenal Talang Perindu seperti mengenal urat lehernya sendiri.”&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Jadi, berilah kami kesempatan!” mohon Gacik Pangawan, mulai ketakutan, sebab geraham Gelang-gelang Kawat sudah bergemeretuk, seolah akan mengunyah-ngunyah mereka bertiga.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Gelang-gelang Kawat langsung teringat raut wajah lelaki pencari belerang yang diceritakan murid-muridnya itu. Ia tidak lain adalah Pendekar Pemetik  Bunga  yang  sebenarnya. Dulu, Gelang-gelang Kawat pernah berguru pada empunya jurus Terjang Halimbubu itu. Tapi  sesungguhnya ia hanya berpura-pura jadi murid, untuk mencuri sembilu Talang Perindu, jimat ampuh yang diincarnya sejak lama. Tapi, memiliki Talang Perindu rupanya tak segampang mengirim Gacik Pangawan, Sakotok Takujai, Incekmato Batangkai,  tiga murid  tololnya itu ke liang kubur.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelapa Dua, 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-7402061904725197598?l=damhurimuhammad.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/7402061904725197598/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=7402061904725197598&amp;isPopup=true' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/7402061904725197598'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/7402061904725197598'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2008/05/sembilu-talang-perindu-cerpen-damhuri.html' title=''/><author><name>damhurimuhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>hulutualang@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='08966147596844497280'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-5732774066784752926</id><published>2008-04-28T12:31:00.003+07:00</published><updated>2008-12-11T13:12:04.276+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/SBVibPIeyFI/AAAAAAAAAC4/9x3Rwykfisg/s1600-h/snow.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/SBVibPIeyFI/AAAAAAAAAC4/9x3Rwykfisg/s320/snow.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5194165965299828818" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Malu (Aku) Jadi Orang Turki...&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;em&gt;Media Indonesia&lt;/em&gt;, 26 April 2008)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam sebuah wawancara dengan koran Swiss,  Tages Anzeiger (2005), Orhan Pamuk  terang-terangan bicara tentang  “Genosida Armenia” di masa kesultanan Ottoman (1915). Novelis Turki pemenang Nobel Sastra (2006) itu juga mengungkit-ungkit soal perseteruan antara Turki dan minoritas Kurdi sejak 1980-an. “Sejuta orang Armenia dan tigapuluh ribu orang Kurdi dibunuh di tanah ini. Tak ada  yang berani menyatakannya, kecuali saya,” ungkap Pamuk dengan kepala tegak. Akibatnya, ia harus berurusan dengan pengadilan. Pemerintah Turki menjeratnya dengan tuduhan menghina negara. Tapi, pengarang yang berhasil menggambarkan konstelasi perbenturan antara sekularisme warisan Kemal Attaturk, militer pro pemerintah, Islam militan dan nasionalisme Kurdi dalam novel-novelnya itu menyangkal bahwa ia tidak sedang menghina negara. Ia hanya meminta pemerintah Turki untuk menjunjung tinggi kebebasan berekspresi. Lagi pula, pernyataan itu bukan isapan jempol belaka, tapi fakta sejarah yang seolah-olah hendak dilupakan begitu saja.    &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jalan kepengarangan Orhan Pamuk seumpama “menepuk air di dulang”, makin ditepuk, makin basah muka sendiri. Tengoklah Darkness and Light (1979),  Bey and His Son (1982), White Castle (1991), The Black Book (1990), My Name is Red (2000) dan Snow  (2004). Banyak yang menuding Pamuk sebagai “pengarang Turki yang  gandrung menghina agama dan menyumpah-serapahi tanah airnya sendiri.” Mungkin  ini resiko yang mesti ditanggung oleh sastrawan yang hidup di dalam tubuh peradaban yang sedang retak dan nyaris terbelah. Separuh hendak mengembalikan kejayaan Ottoman Empire yang pernah tercatat dalam sejarah, separuhnya lagi digoda oleh denyut modernisasi yang  berkiblat  ke Eropa. Pamuk seperti terjerembab ke dalam ranah kemenduaan yang kerap membuatnya bimbang dan gamang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kegamangan itu tampak nyata dalam Snow, novel karya Orhan Pamuk  yang baru saja diedisi-indonesiakan oleh penerbit Serambi. Pusaran kisahnya berlangsung di Kars, sebuah kota kecil di Anatolia. Strategi literer Pamuk seperti sedang menapaktilasi kepulangan penyair Turki, Kerim Alakusoglu (Pamuk menggunakan inisial; Ka) ke Istambul setelah terbuang ke Jerman selama 12 tahun. Ia datang ke Kars untuk menyelidiki sejumlah kasus bunuh diri di kalangan gadis-gadis muda kota itu. Salahsatunya Teslime, siswi madrasah aliah yang bunuh diri karena kecewa dengan peraturan sekolah yang melarang siswi-siswinya mengenakan jilbab. Bila larangan itu diabaikan, Teslime dan kawan-kawan akan diusir dari ruang kelas. Orangtua Teslime sudah berkali-kali menasehati agar ia mematuhi larangan itu, mencopot jilbabnya, hingga ia tetap bisa bersekolah. Tapi, Teslime bersikukuh mempertahankan jilbabnya. Pada suatu malam, ia berwudlu, dan shalat di kamarnya. Selesai shalat, ia mengikatkan jilbabnya ke cantolan lampu, dan gantung diri.    &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kasus bunuh diri yang meruyak di Kars hanya pintu masuk untuk menelusuri kompleksitas perbenturan antara militer pro pemerintahan sekuler, kelompok Islam garis keras dan nasionalis Kurdi yang sedang mencuat sebelum pemilihan walikota Kars. Para penghamba Ataturk menunggangi kasus bunuh diri gadis-gadis muda Kars untuk menghantam kelompok Islam yang menurut mereka tidak mampu menyelamatkan para pengikutnya dari tindakan konyol yang sudah pasti berujung di kerak Neraka. Itu sebabnya, Lazuardi, pemimpin kelompok Islam militan yang termashur di seantero Istambul, datang ke Kars. Ka makin sulit melepaskan diri dari lingkaran perseteruan itu sejak ia (secara kebetulan) menyaksikan pembunuhan seorang direktur Institut Pendidikan. Desas-desus pun bergulir, lelaki itu ditembak, karena ia orang pertama yang mengesahkan peraturan pelarangan jilbab. Pemimpin redaksi surat kabar lokal, Border City News, Serday Bey, diintimidasi oleh kelompok tertentu agar ia membangun opini publik bahwa pelaku pembunuhan itu tidak lain adalah kaki tangan Lazuardi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pamuk juga merancang sebentuk ‘romantika tak biasa’ perihal hubungan Ka dengan perempuan masa lalunya, Ipek. Kehadiran Ka di Kars tidak semata-mata untuk penyelidikan kasus bunuh diri yang menghebohkan itu. Diam-diam, ia hendak menyambung kembali hubungan asmaranya dengan Ipek, dan ingin memboyong perempuan itu ke Frankfurt. Namun, kembali mendapatkan cinta Ipek teryata tidak segampang menulis puisi yang kerap dipersembahkannya untuk perempuan itu. Ipek ternyata sudah janda. Ia pernah dipersunting Muhtar, calon walikota Kars yang terus diganjal oleh lawan-lawan politiknya. Persoalan makin runyam ketika Ka berhasil mengungkap bahwa beberapa tahun sebelum kedatangannya ke Kars, ternyata Lazuardi pernah pula menjadi laki-laki yang dicintai Ipek. Maka, kedatangan buronan politik kelas kakap itu ke Kars juga bukan hanya untuk membereskan kasus-kasus bunuh diri. Sebagaimana Ka, Lazuardi juga hendak menyambung kembali hubungan asmaranya dengan Ipek.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lewat novel setebal 731 halaman ini, Pamuk menggambarkan betapa tidak nyamannya “hidup di tanah orang mati yang terus saja berkuasa.” Tidak hanya sikap politik, ideologi, dan gaya hidup, kesenian pun harus menghamba pada sekularisme. Gejala inilah disuguhkan lewat proganda-proganda politik dalam pementasan-pementasan teater pimpinan Sunay. Di atas panggung, Sunay memaklumatkan bahwa jilbab menghambat kebebasan perempuan. Sudah saatnya, gadis-gadis Kars mencopot jilbab mereka, sebagaimana perempuan-perempuan Eropa.  Ketegangan makin memuncak ketika Sunay (didukung oleh agen-agen rahasia dari Istambul) memaksa  Kadife (adik Ipek), pemimpin kaum berjilbab Kars untuk tampil menjadi pemain pada pementasan penting di teater nasional. Kadife harus memerankan adegan perempuan yang mencopot jilbabnya, lalu melemparkannya ke hadapan penonton. Dengan begitu, acaman laten kaum berjilbab di Kars dapat dilumpuhkan. Tidak ada yang tahu bahwa Kadife sebenarnya sedang terancam. Ia menerima tawaran itu karena Lazuardi, kekasihnya, sedang disandra oleh Sunay di sebuah tempat tersembunyi. Bila ia ingin Lazuardi bebas, Kadife itu harus mau memainkan peran itu. Dan Ka, adalah orang yang menegosiasikan perjanjian itu dengan Sunay. Agen-agen rahasia yang berada di belakang Sunay berjanji akan membiarkan Ka keluar dari Kars dengan selamat, tentu  bersama Ipek, dan mereka akan hidup bahagia di Frankfurt. Celakanya, pada hari yang sudah dijanjikan, tersiar kabar bahwa Lazuardi tewas setelah persembunyian dibombardir tentara. Ipek menuduh Ka telah berkhianat. Sebab, hanya Ka satu-satunya orang yang tahu persembunyian Lazuardi. Ia kecewa dan membatalkan keberangkatannya ke Frankfurt bersama Ka. Lazuardi memang sudah jadi milik Kadife, tapi Ipek masih mencintai pemberontak berwajah tampan itu. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Siapa pelaku pembunuhan direktur Institut Pendidikan? Benarkah Ka  berkhianat pada Kadife, Ipek dan Lazuardi? Siapa pula pelaku pembunuhan Ka yang terjadi setelah ia kembali ke Frankfurt? Pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah terjawab. Tampaknya Pamuk memang sengaja menggantung kisah thriller politik ini. Tapi, ia benar-benar sempurna menggambarkan identitas ‘keturkian’ Ka yang terbelah dua. Menggunakan nama Turki (Kerim Alakusoglu) saja ia begitu terbebani, ia lebih suka menyebut dirinya; Ka. Sebaliknya, alih-alih menghirup udara bebas di Eropa, Ka malah mati bersimbah darah di sana. Agaknya, keberanian mengungkap krisis identitas di Turki inilah yang membuat Pamuk dituding sebagai pengarang yang sedang menguliti wajah sendiri… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DATA BUKU&lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;        Judul  :  SNOW (Di Balik Keheningan Salju)&lt;br /&gt; Penulis  :  Orhan Pamuk&lt;br /&gt; Penerbit :  SERAMBI, Jakarta&lt;br /&gt; Cetakan         :  I, April  2008&lt;br /&gt; Tebal  :  731  halaman&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-5732774066784752926?l=damhurimuhammad.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/5732774066784752926/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=5732774066784752926&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/5732774066784752926'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/5732774066784752926'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2008/04/malu-aku-jadi-orang-turki.html' title=''/><author><name>damhurimuhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>hulutualang@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='08966147596844497280'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/SBVibPIeyFI/AAAAAAAAAC4/9x3Rwykfisg/s72-c/snow.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-7753254505378002430</id><published>2008-04-07T12:01:00.000+07:00</published><updated>2008-04-07T12:10:46.289+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;TIKAM KUKU&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;em&gt;Suara Merdeka,&lt;/em&gt; 6/April/2008)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar silat pada lelaki itu barangkali memang seperti menyongsong kematian. Betapa tidak? Barangsiapa yang hendak menjadi murid harus menyerahkan sebilah pisau siraut dibungkus selembar kain kafan sebagai mahar sebelum pendekar itu mengajarkan gerak pelangkahan, jurus-jurus elak dan tentu saja; jurus-jurus terkam yang terbilang mematikan. Apa gunanya kain kafan kalau bukan buat bekal bila kelak muridnya mati ditikam pisau siraut atau dicabik cakaran jurus Tikam Kuku? Mungkin tak hanya pisau siraut dan kain kafan yang sebelumnya harus diserahkan, jangan-jangan pendekar itu sudah menggali kubur untuk murid-muridnya, tentu bila kelak murid-muridnya sampai ajal saat  berguru. Dan, bila tiba saatnya seorang murid diputus kaji, ia harus menempuh ujian Gulung Tikar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eit, tunggu dulu Kisanak!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin Kisanak menduga, kalau hanya disuruh menggulung tikar, apa pula susahnya ujian itu? Bukankah semua murid pendekar berjulukan Harimau Campo itu sangat  terlatih menggulung tikar karena mereka memang anak-anak surau? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aha, tak semudah yang Kisanak bayangkan.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujian itu lebih tepat disebut Tikar Gulung ketimbang  Gulung Tikar. Apa sebab? Murid yang hendak putus kaji itu akan digulung dengan selembar tikar pandan serupa kain kafan menggulung mayat. Maka, tubuh yang terbebat gulungan itu tak akan bisa bergerak, apalagi mengelak. Jangankan bergerak, mengambil napas saja susah alang kepalang. Nah, saat itulah Harimau Campo menghunus tombak, menghujani gulungan tikar pandan dengan jurus tusuk dan tikam. Ia tak peduli, apakah muridnya bakal mati dengan usus terbusai, atau mati dalam keadaan kepala retak-rengkah. Bertubi-tubi, hingga gulungan tikar berisi mayat hidup itu koyak-moyak, bolong di sana sini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kisanak tahu apa jadinya calon pendekar itu?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulit tubuhnya tak tergores mata tombak barang sedikitpun. Jangankan luka gores, tersentuh pun tidak. Dalam kesempitan rupanya ia masih bisa bergerak dan mengelak serangan Harimau Campo yang tak henti-henti hingga ayam kinantan berkokok tiga kali. Tersebab pertarungan hidup mati dalam ujian Tikar Gulung itulah tidak banyak orang-orang dusun Subakir yang berani memercayakan anak-anak mereka untuk belajar silat pada Harimau Campo. Lagi pula, dari sekian banyak murid yang pernah berguru pada pendekar gaek itu, hampir duapertiganya, alih-alih putus kaji, malah putus di tengah jalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kisanak tahu siapa murid yang lulus dalam ujian Tikar Gulung itu?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salahsatunya Dahlan. Tapi orang-orang dusun Subakir menambahkan kata ‘Beruk’ di belakang namanya, hingga jadilah ; Dahlan Beruk. Lama-kelamaan orang-orang menghilangkan  kata ‘Dahlan’,  dan  lebih suka menyebut nama belakang  saja ;  Beruk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin Kisanak menduga, ia  dipanggil Beruk karena mukanya seperti muka Beruk?” &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dugaan Kisanak hampir benar, tapi bukan mukanya yang serupa Beruk, melainkan perangainya. Kisanak pernah mendengar cerita tentang peristiwa kebakaran rumah gonjong  milik  keluarga tuan Gedang puluhan tahun silam? Waktu itu orang-orang dusun Subakir sengaja membiarkan rumah warisan gembong PKI itu dilalap api hingga rata dengan tanah. Mereka mengira, itu balasan dari kekejaman tuan Gedang yang telah membunuh orang-orang dusun Subakir dalam jumlah tak terbilang. Kisanak tahu kenapa bukit di sebelah utara dusun ini dinamai Bukit Sibusuk? Di bukit itu tuan Gedang dan anak buahnya menguburkan orang-orang dusun Subakir yang sudah dihabisinya karena dianggap membangkang. Mayat-mayat ditumpuk dalam sebuah lubang besar yang tidak terlalu dalam, ditimbun sekenanya saja, hingga bau busuk menyeruak ke dalam kampung. Berhari-hari orang-orang dusun tidak berani keluar rumah lantaran bau bangkai yang bikin mual, hingga kelak mereka menamai bukit itu ; Bukit Sibusuk. Ya, bau bangkai korban kebiadaban orang-orang gestapu. Jadi, meski mereka tak sempat balas dendam pada tuan Gedang yang tiba-tiba lenyap seolah diculik orang Bunian, maka kebakaran itu setidaknya dapat melunaskan sakit hati yang mereka pendam sejak lama. Tapi, tatkala jilatan api sudah mencapai atap rumah gonjong sembilan ruang itu, Dahlan sudah bergelayut serupa Beruk di dahan pohon durian, belakang rumah itu. Hanya dari pohon itu Dahlan bisa meloncat masuk, dari tangga hingga anjungan, kobaran api sudah tak mungkin diterobos. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Hoi, Dahlan, mau cari mati kau?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Biarkan saja anak-cucu si Gedang itu mati terpanggang!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Apa kau lupa, bapakmu juga mati di tangan si Gedang bukan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Turun kau, Beruk!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahlan memang lekas turun sambil menggendong cucu tuan Gedang yang tadi terperangkap kobaran api. Tapi, sigap ia meloncat lagi ke atas dahan pohon durian, dan lagi-lagi berayun serupa beruk, masuk lewat atap, lalu kembali dengan menggendong cucu tuan Gedang yang lain. Begitu seterusnya, hingga semua penghuni rumah itu selamat. Sejak itu Dahlan beroleh gelar ’Beruk’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musuh tidak dicari, tapi jika bersua pantang dielakkan. Begitu petuah Harimau Campo saat Dahlan masih berguru. Itu sebabnya, aliran silat Dahlan Beruk lebih banyak memiliki jurus elak ketimbang jurus serang. Ia tak bakal menyerang bila musuh tidak menyerang. Kalau terpaksa menyerang, itupun dilakukan Dahlan dengan menghisap kekuatan serangan lawan. Ia tak gamang dengan ukuran badan lawan. Makin besar tubuh lawan, makin gampang Dahlan menumbangkannya. Dan yang paling berbahaya tentu jurus Tikam Kuku yang sempurna dikuasai Dahlan. Jarang yang selamat dari terkaman Tikam Kuku. Bila tak langsung dikirim ke liang lahat, setidaknya musuh bakal tergolek berlumur darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kisanak pernah dengar Jilatang Layur, tukang pukul Cen Bi, tengkulak tembakau di dusun Subakir ini?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki jangkung itu pendekar yang mahir dalam jurus Patah-Mematah. Ia tak segan-segan mematahkan leher petani-petani yang tidak berkenan menjual tembakau pada Cen Bi lantaran harganya sangat miring. Cen Bi mematok harga seenaknya, padahal untung yang diperolehnya berlipat-lipat. Jangan coba-coba beralih pada toke lain, bila tak ingin berhadapan dengan kebengisan Jilatang Layur. Tapi suatu masa, pendekar dari aliran hitam itu ketemu lawan bersengat. Ia tertangkap basah sedang menghabisi  Tunjang, petani tembakau yang tak lain adalah adik ipar Dahlan Beruk. Sudah kerap   Dahlan mengingatkan centeng keparat itu untuk tidak lagi memeras petani tembakau di dusun Subakir. Tapi dasar orang bayaran, Jilatang Layur malah makin beringas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Langkahi dulu mayatku sebelum kau ganggu keluargaku!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Tak usah  banyak cakap, Beruk! Sudah lama awak ingin patahkan lehermu. Bersiaplah!”                   &lt;br /&gt;            &lt;br /&gt;Satu dua serangan Jilatang Layur masih dielakkan Dahlan, tapi serangan ketiga tiada ampun. Dahlan tak ingin berlama-lama. Cengkraman tangan Jilatang yang hendak menangkap batang lehernya, sigap dipiuhnya hingga mengeluarkan bunyi deruk. Lalu, dua jari  Dahlan menyelinap di rusuk Jilatang, hingga membuat dua lubang, satu sebesar jari telunjuk, satu lagi sebesar jari tengah. Centeng itu tergeletak dalam posisi tidak siap. Pada saat yang sama, Dahlan berayun serupa Beruk hendak menjangkau dahan, lalu mendarat di dada Jilatang. Sekali lagi jurus Tikam Kuku bersarang di rusuknya yang sudah bocor itu. Jilatang mengerang kesakitan, dari mulutnya keluar gumpalan darah sebesar limau purut. Tukang pukul tengkulak tembakau itu beres di tangan Dahlan Beruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Membuat Cen Bi enyah berarti membunuh penghidupan orang sedusun,”  begitu kemarahan Tumanggung, petinggi adat dusun Subakir setelah Dahlan melumpuhkan Jilatang Layur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau tidak karena Cen Bi, anak-cucu kita tidak bisa makan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak usah jadi pahlawan. Mentang-mentang punya lading tajam, jangan sembarang kau catukkan! Kau kira tak ada langit di atas langit, hah?”   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekali lagi kau cari masalah dengan orang-orang Cen Bi, kami buang kau dari suku. Paham kau Beruk?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang tak suka perangai Dahlan tentulah mereka yang terancam periuk nasinya. Dahlan sudah maklum, tuan-tuan itu sudah disuap Cen Bi. Tak hanya urusan tembakau, mereka juga melindungi cukong-cukong yang mengeruk kerikil di lereng Bukit Sibusuk, hingga lahan-lahan sawah tertimbun longsoran. Mereka tak segan lagi pada Dahlan Beruk. Pendekar Tikam Kuku sudah mati kutu. Lagi pula, sejak beroleh ancaman itu, Dahlan tak tampang lagi batang hidungnya. Tak ada yang tahu, ia pergi ke mana. Hanya ada desas-desus bahwa Dahlan Beruk dihabisi oleh sekelompok orang  sebagai balasan atas  kekalahan Jilatang Layur.  Tapi ada pula yang bilang,  Dahlan Beruk berdiam di  Hutan Sirasah, ia sedang menjalankan laku putus kaji  bagi murid-murid terbaiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kisanak tahu apa yang terjadi di dusun Subakir sejak Dahlan Beruk menghilang tak tentu sebab?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tengkulak tembakau tidak puas hanya memeras petani tembakau dusun Subakir, mereka menyulap Bukit Sibusuk menjadi arena sabung ayam yang penuh sesak dikunjungi pejudi. Lubang-lubang bekas pengerukan kerikil di sepanjang lereng bukit itu berubah jadi danau  buatan. Para cukong membangun kawasan itu menjadi obyek wisata. Di sana sudah berdiri ratusan pondok beratap rumbia yang disewakan pada pasangan muda-mudi yang datang hendak bersenang-senang. Bagi tamu yang tidak membawa pasangan, perempuan-perempuan muda dusun Subakir siap melayani, tentu dengan imbalan yang setimpal. Orang-orang dusun beroleh untung pula dari tempat mesum itu. Mereka berjualan rokok, tuak atau jadi calo dengan penghasilan sepuluh kali lipat dibanding hasil ladang tembakau. Bukit Sibusuk sudah menjadi jamban tempat orang buang hajat. Kalau dulu, bukit itu menebarkan bau bangkai, kini menyeruakkan aroma lendir yang menjijikan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Kau tahu di mana kuburan Dahlan Beruk?”     &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Saat orang-orang dusun Subakir sudah melupakan jawara itu, Kisanak malah mencarinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa perlunya Kisanak mencari Dahlan  Beruk?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, melihat tampang Kisanak, saya ingat raut muka tuan Gedang. Jangan-jangan  Kisanak salah seorang cucu tuan Gedang yang pernah diselamatkan Dahlan Beruk dari  kebakaran puluhan tahun lalu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Siapa Kisanak sebenarnya?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelapa Dua, 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-7753254505378002430?l=damhurimuhammad.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/7753254505378002430/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=7753254505378002430&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/7753254505378002430'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/7753254505378002430'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2008/04/tikam-kuku-cerpen-damhuri-muhammad.html' title=''/><author><name>damhurimuhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>hulutualang@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='08966147596844497280'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-7649364126732537409</id><published>2008-03-10T11:37:00.000+07:00</published><updated>2008-03-10T11:44:33.932+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Nasionalisme  Sastra  Pinggiran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Pikiran Rakyat, 8/Maret/2008)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Politik kolonial jelas membias dalam geliat pertumbuhan sastra Indonesia. Gejala ini tampak kentara sejak berdirinya Balai Pustaka (1918) sebagai lembaga penerbitan Belanda yang bukan saja ‘memperalat’ sastra, tapi juga ‘mengendalikan’ gerak-geriknya agar tak menjadi ancaman laten. D.A Rinkes (direktur pertama Balai Pustaka) seperti dikutip Maman S. Mahayana (2001), mencatat tiga kriteria yang digunakan Balai Pustaka dalam menyensor naskah-naskah yang akan diterbitkan yaitu tidak antikolonial, tidak menyinggung perasaan dan etika golongan tertentu, tidak menyinggung perasaan agama tertentu. Akibatnya, lahirlah sastra elitis, tak menyinggung masalah perbedaan etnis, dan yang paling muntlak adalah terlarang menghembuskan  semangat  kebangsaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah kolonial tak henti-henti berupaya membendung pengaruh bacaan non Balai Pustaka. Diusungnya sejumlah istilah pejoratif yang meminggirkan proses kreatif para pengarang di luar pagar Balai Pustaka. Karya-karya mereka diklaim sebagai ‘bacaan liar’, berbahaya, menyesatkan. Sentimentalisme D.A Rinkes (1923) menyebut mereka saudagar kitab jang kurang sutji hatinja. Untuk menyediakan bacaan sastra (yang ‘tidak liar’) bagi bumiputera, pada 1918 Balai Pustaka menerbitkan Tjerita Si Djamin dan Si Djohan (saduran dari Jan Smees karya J. Van Maurik). Dua tahun kemudian, terbitlah roman Azab dan Sengsara (1920), karya Merari Siregar, disusul Siti Nurbaja (1922), karya Marah Rusli. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tapi, ‘bacaan-bacaan liar’ justru makin liar menyuarakan etos perlawanan terhadap pemerintah kolonial. Buah karya para pengarang yang ‘membangkang’ itu serupa api dalam sekam, yang di permukaan panasnya tak terasa, tapi di kedalaman timbunan sekam, gejolaknya tiada kunjung padam. Ironisnya, sejarah sastra kita tidak mencatat gejolak perlawanan itu (dalam batas-batas tertentu ada kesengajaan menghapus jejaknya). Padahal, sepak terjang sastra pinggiran ini berperan penting dalam membangun kesadaran kebangsaan paling awal. Jangan-jangan keterceceran ini juga bagian dari kepentingan tertentu untuk mengukuhkan bahwa sejarah sastra Indonesia modern lahir sejak Balai Pustaka tegak berdiri?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Siswa-siswa sekolah dewasa ini merasa asing dengan teks-teks sastra karya para pengarang pribumi seperti Hikajat Siti Mariah (1912 ), karya Haji Moekti, Njai Permana (1912) karya RM. Tirto Adhi Soerjo, Hikajat Kadiroen (1924), karya Semaoen dan Studen Hidjo (1919) karya M.M Kartodikromo. Begitu juga karya-karya pengarang Tionghoa peranakan seperti Oey Se (1903), karya Thio Tjien Boen, Lo Fen Koei (1903) karya Gouw Peng Liang, Tjerita si Riboet (1917) karya Tam Boen Kim, Nyai Marsina (1923) karya Numa, Boenga Roos Dari Tjikembang (1927) karya Kweek Tek Hoaij, Itu Bidadari dari Rawa Pening (1929) karya Madame d’Eden Lovely dan Njai Isah (1931) karya Sie Liplap. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Roman Njai Permana berkisah perihal seorang mantri polisi berwatak serakah. Menghalalkan segala tipu muslihat untuk menguasai kepemilikan tanah pada saat rakyat sedang terpuruk dalam kemiskinan dan ancaman kelaparan. Sementara Hikajat Kadiroen, menceritakan seorang pegawai negeri (Tjitro) yang semula mengabdi pada pemerintah Belanda, lalu berhenti dari pekerjaannya dan bergabung dalam aktivitas politik sebagai bentuk perlawanan. Semaoen menunjukkan bagaimana persinggungan dengan realitas objektif menjadi muasal kesadaran kritis di kalangan menengah terpelajar (Agus Hernawan, 2004). Hasrat melawan ‘bacaan-bacaan liar’ berbeda dengan produk-produk Balai Pustaka yang mengawal para pengarangnya agar tidak kebablasan memperlihatkan watak kekuasaan kolonial. Maka, yang terbaca adalah sikap apatis dan pasrah pada nasib. Dalam banyak roman, yang tergambar hanyalah  perwatakan hitam putih, ‘kebaikan’ selalu mengalahkan ‘kejahatan’. Tapi, yang ‘baik’ itu selalu tokoh kolonial atau setidaknya pro kolonial. Watak kolonial dicitrakan sebagai orang sabar, dan bijak, sementara yang ‘jahat’ selalu pribumi seperti Datuk Maringgih (tokoh  zalim, tidak taat pajak dan membangkang) dalam Siti Nurbaja.       &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Selain pencitraan yang merendahkan sastra non Balai Pustaka, pemerintah kolonial juga memarginalkan peranan bahasa Melayu sebagai media ekspresi sastra perlawanan dengan pemisahan dikotomik antara  Melayu Tinggi dan Melayu Rendah (Melayu Pasar). Bahasa Melayu tinggi adalah bahasa Melayu baku yang dikembangkan oleh guru-guru Melayu, utamanya yang bekerja di Balai Pustaka. Ditegaskan bahwa bahasa Melayu Tinggi (Melayu Balai Pustaka) inilah yang kemudian menjadi muasal Bahasa Indonesia (A.Teeuw, 1972). Sementara bahasa Melayu Pasar adalah bahasa yang berkembang di kalangan rakyat dan penerbitan swasta milik orang-orang Tionghoa peranakan (Hindia Bergerak, Sinar Hindia, Oetoesan Hindia, dan Persatoean Hindia) dan Indo Eropa sebagai ‘bukan bahasa’ dan tidak patut digunakan (Hilmal Farid, 1996). Pola pemisahan ini bertolak belakang dengan egaliterianisme dan iklusivisme bahasa Melayu. Di sini, lagi-lagi ada agenda tersembunyi yang hendak dilakukan pemerintah kolonial (melalui Balai Pustaka); memperlakukan bahasa Melayu dalam jenjang hirarkis, kasta-kasta dan derajat bertingkat-tingkat. Perumusan tata bahasa Melayu Tinggi yang dipelopori C.A Van Ophuijsen telah menempatkan peradaban tanah jajahan dalam tata pandang universalitas Barat (Ariel Heryanto, 1989). Ada gelagat hendak menguasai bahasa untuk memperkokoh dominasi dan kekuatan, language is also a medium of domination and power, kata  Jurgen Habermas (1967).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Geliat sastra pinggiran ini juga dilatarbelakangi oleh corak karya sastra pengarang-pengarang Belanda yang menggambarkan masyarakat pribumi dalam image yang berderajat rendah (malas, bodoh, kampungan). Salah satunya terlihat pada kejelian G. Francis dalam Njai Dasima, seperti dicatat Saifur Rohman (2002). Nyai Dasima adalah gundik Edward (Belanda totok). Kebahagiaan mereka terusik oleh seorang pribumi berstatus kyai. Diceritakan, kyai itu berhasil membujuk Nyai Dasima agar memeluk Islam. Dengan piawai, pengarang menuturkan bahwa seorang muslimah tidak boleh bersuami orang Belanda. Maka, Nyai Dasima harus melepaskan diri dari Edward. Tapi, kyai yang kemudian menikahi Nyai Dasima (setelah lari dari Edward) ternyata berniat jahat, ingin menguasai harta Nyai Dasima. Setelah jatuh miskin, Nyai Dasima dibunuh, mayatnya dibuang ke sungai yang mengalir sampai ke belakang rumah Edward. Edward menemukan mayat Nyai Dasima yang sudah membusuk. Pribumi digambarkan secara berjarak oleh pengarang ; pembohong, licik, penipu. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Berangkat dari model penggambaran distortif ini, para pengarang pribumi (juga pengarang Tionghoa peranakan) membangun budaya tanding untuk mengembalikan dan menempatkan etos masyarakat terjajah pada ‘maqam’ yang lebih bermartabat. Di titik ini, sastra dilawan dan dipatahkan dengan sastra pula. Amat disayangkan, geliat sastra pinggiran sebagai ‘juru bicara zaman’ di saat keadaban bumiputera sedang terhimpit di bawah hegemoni kolonial dilupakan dalam sejarah sastra kita? Menghapus jejak sastra pinggiran sama saja dengan mengakui bahwa sastra Indonesia bermula sejak berdirinya Balai Pustaka yang berwatak kolonial itu…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-7649364126732537409?l=damhurimuhammad.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/7649364126732537409/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=7649364126732537409&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/7649364126732537409'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/7649364126732537409'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2008/03/nasionalisme-sastra-pinggiran-oleh.html' title=''/><author><name>damhurimuhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>hulutualang@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='08966147596844497280'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-340868418209687250</id><published>2008-01-29T10:33:00.000+07:00</published><updated>2008-01-29T10:39:34.238+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Juru  Masak&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Tabloid NOVA, edisi Senin, 21-27 Jan 2008)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Perhelatan bisa kacau tanpa kehadiran lelaki itu. Gulai Kambing akan terasa hambar lantaran racikan bumbu tak meresap ke dalam daging. Kuah Gulai Kentang dan Gulai Rebung bakal encer karena keliru menakar jumlah kelapa parut hingga setiap menu masakan kekurangan santan. Akibatnya, berseraklah gunjing dan cela yang mesti ditanggung tuan rumah, bukan karena kenduri kurang meriah, tidak pula karena pelaminan tempat bersandingnya pasangan pengantin tak sedap dipandang mata, tapi karena macam-macam hidangan yang tersuguh tak menggugah selera. Nasi banyak gulai melimpah, tapi helat tak bikin kenyang. Ini celakanya bila Makaji, juru masak handal itu tak dilibatkan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Beberapa tahun lalu, pesta perkawinan Gentasari dengan Rustamadji yang digelar dengan menyembelih tigabelas ekor kambing dan berlangsung selama tiga hari, tak berjalan mulus, bahkan hampir saja batal. Keluarga mempelai pria merasa dibohongi oleh keluarga mempelai wanita yang semula sudah berjanji bahwa semua urusan masak-memasak selama kenduri berlangsung akan dipercayakan pada Makaji, juru masak nomor satu di Lareh Panjang ini. Tapi, di hari pertama perhelatan, ketika rombongan keluarga mempelai pria tiba, Gulai Kambing, Gulai Nangka, Gulai Kentang, Gulai Rebung dan aneka hidangan yang tersaji ternyata bukan masakan Makaji. Mana mungkin keluarga calon besan itu bisa dibohongi? Lidah mereka sudah sangat terbiasa dengan masakan Makaji.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Kalau besok Gulai Nangka masih sehambar hari ini, kenduri tak usah dilanjutkan!” ancam Sutan Basabatuah, penghulu tinggi dari keluarga Rustamadji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Apa susahnya mendatangkan Makaji?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Percuma bikin helat besar-besaran bila menu yang terhidang hanya bikin malu.” &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Begitulah pentingnya Makaji. Tanpa campur tangannya, kenduri terasa hambar, sehambar Gulai Kambing dan Gulai Rebung karena bumbu-bumbu tak diracik oleh tangan dingin lelaki itu. Sejak dulu, Makaji tak pernah keberatan membantu keluarga mana saja yang hendak menggelar pesta, tak peduli apakah tuan rumah hajatan itu orang terpandang yang tamunya membludak atau orang biasa yang hanya sanggup menggelar syukuran seadanya. Makaji tak pilih kasih, meski ia satu-satunya juru masak yang masih tersisa di Lareh Panjang. Di usia senja, ia masih tangguh menahan kantuk, tangannya tetap gesit meracik bumbu, masih kuat ia berjaga  semalam suntuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;        “Separuh umur Ayah sudah habis untuk membantu setiap kenduri di kampung ini, bagaimana kalau tanggungjawab itu dibebankan pada yang lebih muda?” saran Azrial, putra sulung Makaji sewaktu ia pulang kampung enam bulan lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Mungkin sudah saatnya Ayah berhenti,” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Belum! Akan Ayah pikul beban ini hingga tangan Ayah tak lincah lagi meracik bumbu,” balas Makaji waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Kalau memang masih ingin jadi juru masak, bagaimana kalau Ayah jadi juru masak di salah satu Rumah Makan milik saya di Jakarta? Saya tak ingin lagi berjauhan dengan Ayah,” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sejenak Makaji diam mendengar tawaran Azrial. Tabiat orangtua selalu begitu, walau terasa semanis gula, tak bakal langsung direguknya, meski  sepahit empedu tidak pula buru-buru dimuntahkannya, mesti matang ia menimbang. Makaji memang sudah lama menunggu ajakan seperti itu. Orangtua mana yang tak ingin berkumpul dengan anaknya di hari tua? Dan kini, gayung telah bersambut, sekali saja ia mengangguk, Azrial segera memboyongnya ke rantau, Makaji tetap akan punya kesibukan di Jakarta, ia akan jadi juru masak di Rumah Makan milik anaknya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Beri Ayah kesempatan satu kenduri lagi!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Kenduri siapa?” tanya Azrial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Mangkudun. Anak gadisnya baru saja dipinang orang. Sudah terlanjur Ayah sanggupi, malu kalau tiba-tiba dibatalkan,” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Merah padam muka Azrial mendengar nama itu. Siapa lagi anak gadis Mangkudun kalau bukan Renggogeni, perempuan masa lalunya. Musabab hengkangnya ia dari Lareh Panjang tidak lain adalah Renggogeni, anak perempuan tunggal babeleng itu. Siapa pula yang tak kenal Mangkudun? Di Lareh Panjang, ia dijuluki tuan tanah, hampir sepertiga wilayah kampung ini miliknya. Sejak dulu, orang-orang Lareh Panjang yang kesulitan uang selalu beres di tangannya, mereka tinggal menyebutkan sawah, ladang atau tambak ikan sebagai agunan, dengan senang hati Mangkudun akan memegang gadaian itu. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Masih segar dalam ingatan Azrial, waktu itu Renggogeni hampir tamat dari akademi perawat di kota, tak banyak orang Lareh Panjang yang bisa bersekolah tinggi seperti Renggogeni. Perempuan kuning langsat pujaan Azrial itu benar-benar akan menjadi seorang juru rawat. Sementara Azrial bukan siapa-siapa, hanya tamatan madrasah aliyah yang sehari-hari bekerja honorer sebagai sekretaris di kantor kepala desa. Ibarat emas dan loyang  perbedaan mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Bahkan bila ia jadi kepala desa pun, tak sudi saya punya menantu anak juru masak!” bentak Mangkudun, dan tak lama berselang berita ini berdengung juga di  kuping Azrial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Dia laki-laki taat, jujur, bertanggungjawab. Renggo yakin kami berjodoh,” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Apa kau bilang? Jodoh? Saya tidak rela kau berjodoh dengan Azrial. Akan saya carikan kau jodoh yang lebih bermartabat!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Apa dia salah kalau ayahnya hanya juru masak?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Jatuh martabat keluarga kita bila laki-laki itu jadi suamimu. Paham kau?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Derajat keluarga Azrial memang seumpama lurah tak berbatu, seperti sawah tak berpembatang, tak ada yang bisa diandalkan. Tapi tidak patut rasanya Mangkudun memandangnya dengan sebelah mata. Maka, dengan berat hati Azrial melupakan Renggogeni. Ia hengkang dari kampung, pergi membawa luka hati. Awalnya ia hanya tukang cuci piring di Rumah Makan milik seorang perantau dari Lareh Panjang yang lebih dulu mengadu untung di Jakarta. Sedikit demi sedikit dikumpulkannya modal, agar tidak selalu bergantung pada induk semang. Berkat kegigihan dan kerja keras selama bertahun-tahun, Azrial kini sudah jadi juragan, punya enam Rumah Makan dan duapuluh empat anak buah yang tiap hari sibuk melayani pelanggan. Barangkali, ada hikmahnya juga Azrial gagal mempersunting anak gadis Mangkudun. Kini, lelaki itu kerap disebut sebagai orang Lareh Panjang paling sukses di rantau. Itu sebabnya ia ingin membawa Makaji ke Jakarta. Lagi pula, sejak ibunya meninggal, ayahnya itu sendirian saja di rumah, tak ada yang merawat, adik-adiknya sudah terbang-hambur pula ke negeri orang. Meski hidup Azrial sudah berada, tapi ia masih saja membujang. Banyak yang ingin mengambilnya jadi menantu, tapi tak seorang perempuan pun yang mampu luluhkan hatinya. Mungkin Azrial masih sulit melupakan Renggogeni, atau jangan-jangan ia tak sungguh-sungguh melupakan perempuan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Kenduri di rumah Mangkudun begitu semarak. Dua kali meriam ditembakkan ke langit, pertanda dimulainya perhelatan agung. Tak biasanya pusaka peninggalan sesepuh adat Lareh Panjang itu dikeluarkan. Bila yang menggelar kenduri bukan orang berpengaruh seperti Mangkudun, tentu tak sembarang dipertontonkan. Para tetua kampung menyiapkan pertunjukan pencak guna menyambut kedatangan mempelai pria. Para pesilat turut ambil bagian memeriahkan pesta perkawinan anak gadis orang terkaya di Lareh Panjang itu. Maklumlah, menantu Mangkudun bukan orang kebanyakan, tapi perwira muda kepolisian yang baru dua tahun bertugas, anak bungsu pensiunan tentara, orang disegani di kampung sebelah. Kabarnya, Mangkudun sudah banyak membantu laki-laki itu, sejak dari sebelum ia lulus di akademi kepolisian hingga resmi jadi perwira muda. Ada yang bergunjing, perjodohan itu terjadi karena keluarga pengantin pria hendak membalas jasa yang dilakukan Mangkudun di masa lalu. Aih, perkawinan atas dasar hutang budi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mangkudun benar-benar menepati janji pada Renggogeni, bahwa ia akan carikan jodoh yang sepadan dengan anak gadisnya itu, yang jauh lebih bermartabat. Tengoklah, Renggogeni kini tengah bersanding dengan Yusnaldi, perwira muda polisi yang bila tidak ‘macam-macam’ tentu karirnya lekas menanjak. Duh, betapa beruntungnya keluarga besar Mangkudun. Tapi, pesta yang digelar dengan menyembelih tiga ekor kerbau jantan dan tujuh ekor kambing itu tak begitu ramai dikunjungi. Orang-orang Lareh Panjang hanya datang di hari pertama, sekedar menyaksikan benda-benda pusaka adat yang dikeluarkan untuk menyemarakkan kenduri, setelah itu mereka berbalik meninggalkan helat, bahkan ada yang belum sempat mencicipi hidangan tapi sudah tergesa  pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Gulai Kambingnya tak ada rasa,” bisik seorang tamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Kuah Gulai Rebungnya encer seperti kuah sayur Toge. Kembung perut kami dibuatnya,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Dagingnya keras, tidak kempuh. Bisa rontok gigi awak dibuatnya,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Masakannya tak mengeyangkan, tak mengundang selera.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Pasti juru masaknya bukan Makaji!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Makin ke ujung, kenduri makin sepi. Rombongan pengantar mempelai pria diam-diam juga kecewa pada tuan rumah, karena mereka hanya dijamu dengan menu masakan yang asal-asalan, kurang bumbu, kuah encer dan daging yang tak kempuh. Padahal mereka bersemangat datang karena pesta perkawinan di Lareh Panjang punya keistimewaan tersendiri, dan keistimewaan itu ada pada rasa masakan hasil olah tangan juru masak nomor satu. Siapa lagi kalau bukan Makaji?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Kenapa Makaji tidak turun tangan dalam kenduri sepenting ini?” begitu mereka bertanya-tanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Sia-sia saja kenduri ini bila bukan Makaji yang meracik bumbu,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Ah, menyesal kami datang ke pesta ini!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dua hari sebelum kenduri berlangsung, Azrial, anak laki-laki Makaji, datang dari Jakarta. Ia pulang untuk menjemput Makaji. Kini, juru masak itu sudah berada di Jakarta, mungkin tak akan kembali, sebab ia akan menghabiskan hari tua di dekat anaknya. Orang-orang Lareh Panjang telah kehilangan juru masak handal yang pernah ada di kampung itu. Kabar kepergian Makaji sampai juga ke telinga pengantin baru Renggogeni. Perempuan itu dapat membayangkan betapa terpiuh-piuhnya perasaan Azrial setelah mendengar kabar kekasih pujaannya telah dipersunting lelaki lain.   &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Kelapa Dua, 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-340868418209687250?l=damhurimuhammad.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/340868418209687250/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=340868418209687250&amp;isPopup=true' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/340868418209687250'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/340868418209687250'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2008/01/juru-masak-cerpen-damhuri-muhammad.html' title=''/><author><name>damhurimuhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>hulutualang@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='08966147596844497280'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-5294393898434294960</id><published>2008-01-17T09:46:00.000+07:00</published><updated>2008-12-11T13:12:04.460+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/R47Eby3ZrtI/AAAAAAAAACM/956gdqyAFoI/s1600-h/janda+dr+jirah.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/R47Eby3ZrtI/AAAAAAAAACM/956gdqyAFoI/s320/janda+dr+jirah.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5156274605175451346" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Citra  Mendua &lt;br /&gt;Janda Calon  Arang &lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(GATRA, edisi Kamis, 10-16 Januari 2008)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah cerita, betapapun fiktifnya ternyata mampu mendedahkan pencitraan buruk yang bahkan tak lekang dihantam jaman. Tengoklah cerita Calon Arang yang sudah berbilang kurun menikam jejak pencitraan perihal seorang pandita perempuan pemuja Dewi Durga, kemudian berubah jadi bengis dan sadis. Ia menyalahgunakan kesaktiannya untuk menzalimi orang-orang tak berdosa. Riwayat mencatat, Calon Arang murka lantaran tidak seorang lelaki pun yang tertarik meminang Ratna Manggali, putri kesayangannya. Itu sebabnya, ia memohon kesediaan Dewi Durga untuk menyebarkan wabah penyakit mematikan di seluruh penjuru wilayah Daha (ibukota kerajaan Kediri) yang kala itu dipimpin Airlangga. Calon Arang punya banyak murid yang kedigdayaan mereka sudah menjadi cerita turun temurun. Disebut-sebut, ia dan murid-muridnya kerap melakukan tirakat ;  berkeramas dengan darah manusia. Inilah salah satu versi cerita Calon Arang yang berkembang di Jawa. Purbatjaraka menerjemahkannya ke dalam bahasa Belanda, kemudian dimacapatkan (dilagukan) oleh Raden Wiradat dan diterbitkan Balai Pustaka pada 1931. Versi lain cerita Calon Arang berkembang di Bali. Pramoedya Ananta Toer (1954) membenarkan bahwa ada sedikit perbedaan di antara kedua versi cerita itu, namun katanya, tak perlu dipanjanglebarkan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Meski tidak sepatah katapun menyebut nama Calon Arang, Janda dari Jirah, novel terbaru Cok Sawitri ini dapat disambut sebagai satu serpihan cerita Calon Arang yang berserakan di Bali. Lebih jauh, buku ini dapat dimaklumi sebagai cerita tandingan terhadap Calon Arang versi Jawa yang terlalu sarkastis menggambarkan watak jahat janda dari Jirah itu, padahal di Bali hingga hari ini, cerita Calon Arang masih menjadi rujukan dalam ritual ruwatan. Maka selayaknya, novel ini bukan sekedar membenarkan adanya ‘sedikit’ perbedaan antara Calon Arang versi Jawa dan versi Bali, tapi hendak memaklumatkan bahwa perbedaan itu amat mencolok, bahkan saling bertolak belakang. Bila naskah-naskah kuno di Jawa menggambarkan Calon Arang sebagai penyihir jahat yang telah menelan banyak korban, Cok Sawitri malah membangun pencitraan Calon Arang sebagai perempuan suci yang sangat dihormati. Saking sucinya, pejabat istana tidak berani menginjakkan kaki di tanah Kabikuan Jirah, tempat tinggal Rangda Ing Jirah (begitu novel ini menyebutnya). Mereka takut melanggar tatakrama Kabikuan Jirah yang dijaga oleh sang Ibu Kebajikan (begitu Calon Arang dijuluki). Barangsiapa melanggar, akibatnya sangat berbahaya, masa kecermelangan Kediri bisa padam seketika. Para pengikut ajaran Rangda Ing Jirah menjalani laku asketik, menjauhi urusan duniawi, lebih-lebih perkara politik.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Cerita bermula tatkala di istana Kediri sedang terjadi perseteruan diam-diam antara pendukung Airlangga dengan para pejabat yang ingin membangkitkan kembali kejayaan wangsa Isana setelah mengalami kehancuran. Airlangga (putra sulung Udayana yang datang dari Bali) tidak disukai karena ia hanyalah menantu Dharmmawangsa Tguh, tak pantas menggenggam tahta, sebab tidak berasal dari wangsa Isana. Semula Rangda Ing Jirah tidak mau terlibat ‘perang dingin’ itu, tapi  Mpu Narotama, pengawal Airlangga kerap datang menemuinya di Kabikuan Jirah. Narotama kerap minta nasehat perihal niat Airlangga yang akan menobatkan anak perempuannya sebagai putri mahkota. Karena itu, Rangda Ing Jirah merasa perlu mengurai silsilah wangsa Isana jauh sebelum Airlangga berkuasa. Ia juga menjelaskan sebab-musabab kenapa orang-orang Kabikuan Jirah dari masa ke masa nyaris tak tersentuh kewajiban membayar upeti. Percakapan kedua orang ini menjadi pintu masuk untuk menyingkap wajah baru Calon Arang. Sekali waktu Rangda Ing Jirah berkisah pada Narotama ; di suatu masa seusai melakukan sembah di tempat pemujaan Brahma, sepasang suami-istri lupa membawa tempayan air suci mereka. Keesokan hari, dari tempayan air itu lahir seorang bayi perempuan, bayi itu adalah Rangda Ing Jirah. Penggalan riwayat ini kerap dirujuk untuk menjelaskan ontologi penciptaan manusia dalam ajaran Budha Tantra. Air simbol kebajikan, maka Calon Arang adalah Ibu Kebajikan (muasal segala kebaikan), bukan Ibu Kejahatan sebagaimana ditemukan dalam teks-teks kuno di Jawa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sama sekali tidak ada dendam-kusumat, apalagi permusuhan antara Airlangga dan Rangda Ing Jirah. Buku ini juga tidak menyebut-nyebut tirakat keramas darah Calon Arang sebagai syarat terkabulnya teluh seperti  yang ditulis Pramoedya Ananta Toer dalam Cerita Calon Arang (1999). Alih-alih menyebarkan wabah penyakit di wilayah kekuasaan Airlangga, orang-orang Kabikuan Jirah malah membina masyarakat Dusun Buangan, mengajarkan mereka bertani dan berladang hingga dusun itu jadi makmur karena hasil pertanian. Kalaupun ada permusuhan, Airlangga yang justru mencurigai gerak-gerik Rangda Ing Jirah. Ia menyimpan sak wasangka bahwa kelak orang-orang Kabikuan Jirah bisa saja bersekutu dengan orang-orang Wura-wuri yang kabarnya sedang merencanakan sebuah pemberontakan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebelum Bahula melamar Ratna Manggali, memang tidak ada yang berminat mempersunting putri Rangda Ing Jirah itu. Tapi pinangan itu atas kemauan Bahula sendiri, bukan karena siasat Mpu Bharadah (guru Bahula) untuk mencuri kitab, sumber kesaktian Calon Arang sebagaimana cerita yang jamak terdengar. Dalam teks ini, Mpu Bharadah bukan orang asing, penasehat istana itu adalah kakak seperguruan Rangda Ing Jirah, dan mereka tidak pernah bermusuhan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tapi, terasa janggal ketika pengarang mengungkit-ungkit sikap bijak Rangda Ing Jirah membesarkan seorang bayi dan menyembunyikan harta pusaka peninggalan wangsa Isana. Kelak bayi itu diperkenalkan sebagai Samarawijaya, cucu  Dharmmawangsa Tguh, orang yang paling berhak mewarisi tahta kerajaan Kediri. Setelah ia beranjak dewasa, Rangda Ing Jirah menyerahkan sejumlah daerah binaannya pada Samarawijaya, luasnya hampir separuh wilayah kekuasaan Airlangga. Inilah muasal pecahnya kekuasaan Airlangga menjadi Kediri dan Jenggala. Tanpa pasukan, tanpa pertumpahan darah, Rangda Ing Jirah berhasil menobatkan Samarawijaya menjadi raja. Tapi, bukankah ini urusan politik yang sejak mula hendak dijauhi oleh tatakarama Kabikuan Jirah? Tidakkah perkara duniawi ini akan menodai kesucian ajaran Rangda In Jirah? Ah, barangkali Calon Arang memang tak sungguh-sungguh suci. Pembaca akan bimbang memosisikan ketokohan Calon Arang, apakah ia layak disebut pahlawan ataukah musuh dalam selimut? Tapi jangan lupa, ini teks sastra, bukan buku sejarah! Sudah sepatutnya buku ini membuka kemungkinan tafsir ganda.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Novel ini juga mencantumkan kisah usang tentang Uma (nama lain Dewi Durga) yang diusir ke bumi oleh Siwa (suaminya), karena sebuah kesalahan. Semula Uma turun dengan kecantikan yang sempurna, kemudian menjelma raksasa yang menakutkan. Di sebuah kuburan, Uma bertemu Kalika (raksasa yang wajahnya mirip dengan Uma). Keduanya terlibat perkelahian hebat, hingga Brahma datang  mendamaikan. Uma dan Kalika akhirnya dibimbing Brahma, lalu berubah wujud menjadi dua perempuan cantik dan dipercaya menjadi juru tulis Brahma. Menimbang kisah ini, boleh jadi Dewi Durga yang dipuja Calon Arang versi Jawa adalah Kalika, bukan Dewi Durga sebenarnya. Bila yang dipuja Calon Arang adalah Dewi Durga yang sesungguhnya, tentu ia tak bakal berkeramas dengan darah manusia.     &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DATA BUKU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul   : Janda dari Jirah&lt;br /&gt;Penulis  : Cok  Sawitri&lt;br /&gt;Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan         : I,  Juni 2007&lt;br /&gt;Tebal  : 187 halaman&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-5294393898434294960?l=damhurimuhammad.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/5294393898434294960/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=5294393898434294960&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/5294393898434294960'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/5294393898434294960'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2008/01/citra-mendua-janda-calon-arang-oleh.html' title=''/><author><name>damhurimuhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>hulutualang@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='08966147596844497280'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/R47Eby3ZrtI/AAAAAAAAACM/956gdqyAFoI/s72-c/janda+dr+jirah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-3008031898632791865</id><published>2007-12-03T11:55:00.000+07:00</published><updated>2008-12-11T13:12:04.646+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/R1OMtdsIv-I/AAAAAAAAABk/FCOE3yItx8g/s1600-R/sampul+meede.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/R1OMtdsIv-I/AAAAAAAAABk/AOAd0uj54s0/s200/sampul+meede.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5139606312451620834" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Menggagas  Sejarah &lt;br /&gt;dengan  Timbunan  Cerita&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;em&gt;Media Indonesia&lt;/em&gt;, 01 Desember 2007)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tak perlu diragukan bahwa gerak kepengarangan tak henti-henti memproduksi cerita yang siap dilepas ke pasaran, atau untuk sementara ditimbun, dan disimpan sebagai ‘stock cerita’. Tapi, tidak banyak pengarang yang terampil memayungi koleksi ceritanya dengan gagasan-gagasan besar. Sebutlah misalnya Dan Brown yang piawai menghubungkaitkan konstruksi ceritanya dengan alur hidup seniman besar, Leonardo Davinci, hingga novelis itu berhasil melahirkan &lt;em&gt;The Davinci Code &lt;/em&gt;yang menggemparkan. Begitu juga dengan Matthew Pearl yang membingkai kisahnya dengan kepeloporan penyair, Dante Alighieri (1265-1321), hingga sukses mendedahkan &lt;em&gt;The Dante Club,&lt;/em&gt; novel yang telah melambungkan namanya dalam kancah sastra dunia. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;em&gt;Rahasia Meede&lt;/em&gt;, novel karya pengarang muda, Es Ito ini, juga bertolak dari semangat membingkai kisah dengan gagasan besar sebagaimana dilakukan Dan Brown dan Matthew Pearl. Ia memayungi kisahnya dengan sejarah kartel dagang Belanda, VOC, sejak masa awal, masa kejayaan, hingga fase kebangkrutannya, 1799. Pusaran kisahnya berkisar di seputar perburuan harta karun VOC yang bermula dari kedatangan laki-laki misterius ke penginapan delegasi Indonesia untuk Konfrensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag. Kala itu, para juru runding Indonesia sedang dihadapkan pada pilihan sulit. Pihak Belanda menyodorkan klausul tentang pengalihan utang Hindia Belanda sebesar 4,3miliar gulden kepada Indonesia. Bung Hatta sudah mencari jalan tengah, tapi para perunding tak berhasil mencapai mufakat. Orang asing itu memberikan selembar kertas lusuh pada seorang delegasi, Ontvangen maar die onderhandeling. Indonesie heeft niets te verliezen! (Terima itu perundingan! Indonesia tidak akan rugi!), begitu ia berbisik. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tentu saja Indonesia tak bakal rugi, sebab yang diserahkan laki-laki itu adalah dokumen rahasia berisi petunjuk tentang lokasi penyimpanan emas batangan milik VOC. Celakanya, dokumen itu raib, tak ditemukan di dalam peti dokumen KMB  yang dibawa delegasi Indonesia. Inilah cikal soal setiap rangkaian cerita dalam novel setebal 671halaman ini. Tapi, pengarang tidak langsung menukik pada perburuan harta karun yang tertimbun selama lebih dari tiga abad itu. Es Ito malah membuka cerita dengan kasus pembunuhan berantai yang meninggalkan sejumlah tanda tanya besar. Dalam waktu kurang lebih lima bulan, ditemukan lima mayat yang  semuanya terbilang orang penting. Mayat Saleh Sukira (ulama) ditemukan Bukittinggi, Santoso Wanadjaya (pengusaha) dibunuh di Brussels, Nursinta Tegarwati (anggota DPR) dibunuh di Bangka, JP Surono (birokrat) dibunuh di Boven Digoel dan Nono Didaktika (peneliti) dibunuh di Banda Besar. Wartawan harian Indonesiaraya, Batu Noah Gultom, mencurigai ini bukan pembunuhan biasa. Lima kali pembunuhan terjadi di kota yang selalu diawali huruf B (Bukittinggi, Brussels, Bangka, Boven Digoel, Banda Besar). Lebih jauh, Batu menyebut kasus ini dengan ‘pembunuhan Gandhi’. Sebab, di setiap tubuh korban selalu ditemukan pesan, antara lain ; peribadatan tanpa pengorbanan, perniagaan tanpa moralitas, politik tanpa etika,  kekayaan tanpa kerja keras, dan sains tanpa humanita. Pesan-pesan itu adalah lima item dari ‘Tujuh Dosa Sosial’ dalam pemikiran Mahatma Gandhi. Andai dugaan itu benar, tentu akan ada dua korban lagi dengan pesan ; pengetahuan tanpa karakter dan kesenangan tanpa nurani. Anehnya lagi, setiap TKP pembunuhan adalah kota-kota yang pernah dikunjungi Bung Hatta semasa hidupnya. Jadi, pembunuhan itu merujuk pada dua nama tokoh penting ; Gandhi dan Hatta. Satu lagi gagasan besar meresap dalam konstruksi cerita novel ini.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Satu selubung misteri belum tersingkap, pengarang sudah merancang keterkejutan baru. Batu makin dipusingkan oleh penculikan Cathleen Zwinckel, mahasiswi universitas Leiden yang sedang melakukan penelitian tentang sejarah ekonomi kolonial di Jakarta. Sebelum diculik, Cathleen dititipkan oleh Prof. Huygens (pembimbingnya) di  lembaga penelitian partikelir, Central Strategic Affair (CSA). Redaktur senior Indonesiaraya, Parada Gultom, juga hilang entah ke mana. Batu hampir memastikan bahwa dalang semua peristiwa itu adalah gerakan bawah tanah yang menyebut dirinya ; Anarki Nusantara. Sebelumnya, kelompok pengacau yang dipimpin Attar Malaka itu juga dituduh sebagai otak penyerangan bersenjata dan perusakan gedung di sebelah utara Jakarta. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam membingkai suspense-fiction dengan latar belakang sejarah VOC, pengarang berani untuk tidak berjarak dengan realitas kekinian. Dengan leluasa, Es Ito menggiring pembaca ke dalam suasana Batavia di masa gubernur jenderal Cornelis J Spellman (1682) dan sepak terjang Monsterverbond (persekutuan rahasia yang mengendalikan VOC), lalu dengan sangat tiba-tiba ia mengungkap penemuan terowongan bawah tanah (De Ondergrondse Stad) di  Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah). Terowongan itu diduga berujung di tempat penyimpanan dokumen rahasia tentang harta karun VOC yang hilang sejak 1949. Pada saat yang sama, Es Ito memotret suasana  Jakarta hari ini, ia menyebut ‘Bis Transjakarta’, Mikrolet S-11 jurusan Pasar Minggu-Lebak Bulus dan KRL Bojongggede Ekspress. Realitas yang sangat ‘menyehari’ bagi warga Jakarta hari ini. Agak ganjil ketika Es Ito menghubungkan ‘pembunuhan Gandhi’ (peristiwa yang terjadi di tahun 2000-an) dengan harian Indonesiaraya, sementara harian itu sudah gulung tikar sejak 1980-an. Ini bisa merusak asosiasi pembaca dan mencemari nalar cerita.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Makin ke ujung, buku ini makin mengejutkan. Batu Noah Gultom ternyata bukan wartawan biasa, ia anggota intelijen militer yang menyusup di Indonesiaraya guna melacak persembunyian Attar Malaka (sebelum buron ia bekerja di sana). Saat menyelamatkan Cathleen dari penculikan, Batu mengaku polisi bernama Roni, padahal ia adalah Batu August Mendrofa, intelijen militer dengan nama sandi ‘Lalat Merah’. Sebenarnya Batu tahu pelaku penculikan Parada Gultom. Redaktur senior itu ‘diambil’ oleh orang-orang suruhan Darmoko, jenderal purnatugas, pemimpin ‘Operasi Omega’ untuk membasmi antek-antek Anarki Nusantara. Parada diinterogasi untuk mengorek informasi perihal keterlibatan Attar Malaka dalam penyerangan bersenjata, perusakan gedung, pembunuhan berantai dan penculikan Cathleen. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Batu yang sudah berhasil mengelabui orang-orang Indonesiaraya, menipu Cathleen, bahkan berhasil membekuk Attar Malaka, ternyata masih jadi pecundang dalam sebuah permainan yang lebih besar. Permainan itu dikendalikan Darmoko, orang yang ingin memiliki emas batangan warisan VOC untuk pembelian senjata guna melakukan gerakan makar. Suryono Lelono (CSA), Darmoko (Operasi Omega) dan Prof. Huygens (Oud Batavie) bersekongkol mengambinghitamkan kelompok Anarki Nusantara sebagai pelaku pembunuhan orang-orang bertato pasca kekisruhan di Jakarta Utara dan ‘pembunuhan Gandhi’, padahal pelakunya adalah Darmoko dan Suryo Lelono. Lima orang penting yang tewas mengenaskan itu  dibunuh, sebab mereka terlalu banyak tahu tentang rencana besar Darmoko dan Suryo Lelono. Eksekutor ‘pembunuhan Gandhi’  seorang guru sejarah yang sangat terobsesi pada Hatta dan Gandhi. Ia bukan guru biasa, tapi mantan anggota intelijen militer yang pernah terlibat dalam Operasi Pidie dengan kode sandi ‘Melati Putih’. Sejak lama, ia di bawah kendali Darmoko, hingga berbalik melakukan kekerasan sebesar pesan perdamaian yang diusung Hatta dan Gandhi. ‘Melati Putih’ menerima pesan pembunuhan yang selalu mengatasnamakan Anarki Nusantara, padahal itu hanya akal bulus Darmoko. Dua sejawat sesama alumni SMA Taruna Nusantara, Batu dan Kalek alias Attar Malaka akhirnya bergabung untuk menggagalkan penggalian emas batangan di pulau Onrust. Attar Malaka berhasil menyelamatkan Cathleen sebelum Batu ditembak oleh anak buah Darmoko. Tak lama kemudian, Kalek menarik pemicu granat di dalam terowongan panjang yang setiap batu batanya berisi  batangan emas.        &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Buku ini tidak berpretensi untuk disebut ‘novel sejarah’ sebagaimana dinobatkan oleh para komentator di sampul depan. Pengarang hanya membingkai kompleksitas cerita dengan detailitas sejarah Batavia Tempoe Doeloe. Setidaknya ada dua pilihan ; cerita atau sejarah? Atau ‘jangan-jangan’ kita memang lebih gampang membangun kesadaran sejarah bila ‘diumpan’ dengan sederet cerita. Apa mau dikata…         &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;                          &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DATA  BUKU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul         :  RAHASIA  MEEDE&lt;br /&gt;Penulis  :  ES.Ito&lt;br /&gt;Penerbit :  HIKMAH, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan         :  I, Agustus 2007&lt;br /&gt;Tebal  :  671 halaman&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-3008031898632791865?l=damhurimuhammad.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/3008031898632791865/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=3008031898632791865&amp;isPopup=true' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/3008031898632791865'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/3008031898632791865'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2007/12/menggagas-sejarah-dengan-timbunan.html' title=''/><author><name>damhurimuhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>hulutualang@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='08966147596844497280'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/R1OMtdsIv-I/AAAAAAAAABk/AOAd0uj54s0/s72-c/sampul+meede.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-2341235823935323762</id><published>2007-09-18T11:58:00.000+07:00</published><updated>2007-09-18T12:12:07.422+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Jo Ampok&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;em&gt;Media Indonesia&lt;/em&gt;, 16 September 2007)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak dipercaya menjadi guru mengaji, Engku tidak pernah lagi mampir di lapau.*) Sekedar melepas lelah sambil minum kopi dan bergurau pun ia tidak punya waktu lagi. Padahal, sepulang dari surau, Engku selalu melewati lapau yang selalu berjibun pengunjung itu. Mungkin ia takut disangka ikut-ikutan berjudi bila masih berbaur dengan orang-orang lapau. Jadi, lebih baik bujangan jebolan madrasah itu menjauhi lapau, meski ia juga tidak mau dianggap sok alim. Mentang-mentang sudah jadi orang surau, lupa pada kawan-kawan di lapau.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Dipikirnya orang lapau tak pandai mengaji?” begitu Jo Ampok menyindir kelakuan Engku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa pula urusan kau? Apa rugimu bila Engku tak singgah ke lapau?” sela Bunduk, agak sinis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sejak Engku jadi guru mengaji, awak kalah terus.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Biasanya selalu awak modali dia main Remi. Menang terus. Murah benar rejeki anak tu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Engku sudah jadi orang surau, mana mungkin duduk di meja judi?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Awak tak larang Engku ke surau. Tapi, kalau bisa, jangan tinggalkan lapau. Di surau dia mengaji, di lapau dia berjudi.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Huss….jangan campur aduk begitu. Apa awak sudah gila hah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Selain tempat ngopi sembari melepas penat, lapau-lapau di lingkar kampung Guci juga menyediakan meja-meja khusus untuk berjudi. Begitu pula dengan lapau milik Sinaro yang letaknya tidak terlalu jauh dari surau Baitul Hikmah, tempat Engku mengajar anak-anak mengaji. Lapau itu buka siang malam, dua puluh empat jam. Macam-macam judi tersedia di sana. Para pelanggan bebas memilih ; Domino, Remi, Koa **) atau Putar Dadu. Jangan tertipu! Sepintas lalu memang tampak sepi-sepi saja. Barangkali hanya terlihat tiga sampai empat orang yang sedang mengobrol sambil bersilunjur kaki, atau main Domino dengan taruhan kecil. Tapi, ada banyak bilik di bagian dalam dan belakang lapau. Sinaro sengaja membuat bilik-bilik itu untuk para penjudi dengan taruhan tingkat tinggi. Di sanalah permainan Remi, Koa dan Putar Dadu dilangsungkan. Jangan dikira Sinaro takut polisi. Sama sekali tidak! Di kampung Guci, aparat hukum agak kewalahan. Tak terhitung lagi berapa kali lapau-lapau digerebek, dan berapa banyak penjudi yang meringkuk dalam sel. Tapi, mereka tak pernah jera. Setelah bebas, mereka kembali ke lapau, berjudi lagi. Mungkin, karena judi sudah begitu mengakar di kalangan orang-orang kampung Guci. Jangan sekali-kali mengaku orang Guci, bila tidak mahir berjudi. Kartu-kartu Remi ibarat tikar sembahyang bagi orang-orang Guci, begitu kelakar yang biasa terdengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;“Judi di kampung kami tak bisa dibasmi, tapi bisa dijauhi,” tegas Nduk Angkang, tetua kampung Guci saat membuat kesepakatan dengan polisi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Bisa lebih jelas pak tua?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Para penjudi jangan ditangkapi, kami berjanji akan menjauhkan judi dari pandangan masyarakat. Bersembunyi. Yang penting lingkungan tetap aman. Bagaimana pak?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Tidak ada kompromi dengan judi! Selama lapau-lapau belum bebas judi, kalian tetap melanggar hukum.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Kami paham. Tapi, di kampung Guci, judi sudah jadi tradisi.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sinaro benar-benar berkelimpahan rejeki sejak membangun lapau itu. Kalau hanya berjualan makanan dan minuman, tentu pendapatannya tidak seberapa. Tapi, dengan judi, ia menerima sewa bilik, tikar, lampu, alat-alat judi dan sewa-sewa lain dari para penjudi. Dulu, sewaktu Engku masih bersekolah di madrasah, tiap malam ia nongkrong di sana, kadang-kadang sampai tidur di lapau itu. Engku membantu Sinaro, menggelar tikar, membersihkan bilik-bilik judi, menyuguhkan makanan dan minuman untuk para penjudi dan menagih macam-macam uang sewa, lalu disetorkan pada Sinaro. Dari sana, Engku beroleh uang sekolah, hingga ia tidak lagi membebani ibu-bapaknya. Tak ada salahnya bila disebut ; Engku bersekolah dengan uang judi. Tak jarang, Engku juga ikut berjudi, meski dengan taruhan kecil-kecilan. Karena setiap malam bergaul dengan para penjudi, Engku makin mahir berjudi. Ia penjudi berbakat yang jarang kalah. Karena itu, banyak penjudi kelas kakap yang berani memodalinya bermain Domino, Remi, Koa atau Putar Dadu. Itu sebabnya Jo Ampok merasa kehilangan sejak Engku hengkang dari lapau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Awak tak ingin lanjutkan sekolah Ngku?” tanya Sinaro, sehabis shalat Maghrib berjamaah di surau Baitul Hikmah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Ah, dari mana pula awak bakal beroleh biaya? Ijazah madrasah cukup lah,”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Itu tak soal lah Ngku, Jo Ampok menunggumu di lapau.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Segan awak dilihat murid-murid.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Kenapa pula Ngku segan? Orang tua murid-murid Ngku semuanya orang lapau.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Kalau Ngku mau, mungkin bisa lanjutkan sekolah.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Ngku itu cerdas. Masa’ cuma jadi guru ngaji?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Tak usah sungkan, segeralah temui Jo Ampok di lapau!” &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Akhir-akhir ini Jo Ampok memang mengalami kekalahan beruntun. Kabarnya, raja judi kampung Guci itu terpaksa melego tiga ekor hewan ternak dan menggadaikan  lima  petak sawah guna membayar utang karena kalah judi. Tapi, soal jual-menjual dan gadai-menggadai, itu biasa bagi Jo Ampok. Harta peninggalan orang tuanya tidak akan ludes untuk tujuh orang istri sekalipun. Kini, Jo Ampok baru punya tiga istri. Masing-masing istrinya sudah dapat jatah rumah baru. Beruntung sekali perempuan-perempuan yang menjadi istri Jo Ampok. Dari ketiga istri Jo Ampok, tidak ada yang berani melarang kebiasaan buruk suami mereka ; menghambur-hamburkan uang di lapau. Mencampuri urusan Jo Ampok sama saja artinya dengan minta cerai. Istri yang tak bakal ditalak Jo Ampok hanyalah ; judi.  Tapi, kini Jo Ampok merasa kurang percaya diri. Lebih-lebih setelah Engku, anak muda kepercayaannya itu enyah dari lapau. Padahal, jika ia masih bersetia, Jo Ampok tentu tak akan segan-segan menyambung sekolah Engku. Seberapa lah biaya menjadi sarjana bagi Jo Ampok?    &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Namun, tekad Engku benar-benar sudah bulat, tiada sumbing sedikit pun. Sepertinya tak dapat ditawar-tawar. Buktinya, guru mengaji itu telah membelakang bulat ke lapau. Tak peduli orang-orang lapau mau bilang ia sok alim, sok suci atau sok insaf. Engku memang teguh pendirian. Ia berjanji tidak akan menyentuh kartu Remi, Koa dan  Batu  Domino lagi.  Itulah yang membuat Jo Ampok mulai jarang muncul di lapau. Tak ada lagi orang yang bisa diandalkannya. Lagi pula, untuk apa datang ke lapau kalau hanya akan menanggung malu karena terus-terusan kalah judi? Berhari-hari Jo Ampok mengurung diri di rumah istri pertamanya, hingga suatu hari ia dikabarkan jatuh sakit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Semula, orang-orang lapau, kawan-kawan Jo Ampok, termasuk Sinaro si pemilik lapau menduga Jo Ampok cuma terserang demam biasa. Dipijit sebatang badan akan segera sembuh, setelah itu kembali ke lapau. Tapi, sudah dua minggu, tak tampak juga batang hidung Jo Ampok. Ada yang memberitahu kalau sakitnya makin parah. Dan, tanpa pikir panjang, orang-orang lapau pun bersegera menjenguk Jo Ampok.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nafasnya sesak. Merintih-rintih sambil ngorok. Sekujur badannya menggigil hebat. Ujung-ujung jari tangan dan jari kakinya terasa dingin sekali. Pasi. Mukanya pucat serupa mayat. Mulutnya komat-kamit menyebut kata-kata yang terdengar agak ganjil.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“LLLaaaaaaa…………”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“LLLaaaaaaaaaaaaa………”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“LLLaaaaaaaaaaaaaaaa………Nnnnnnnnaaaam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinaro, Baba, Mampalar, Cunambai, Yombauk, Bunduk, Kurai, Dalinas, Jilatang  dan konco-konco Jo Ampok yang duduk bersila dalam posisi setengah lingkaran saling berbisik. Satu sama lain saling bertanya-tanya, apa sesungguhnya yang sedang terjadi pada Jo Ampok,  apa pula  arti gigauannya itu? &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Istighfar Mpok, Istighfar! Astagfirullah, astagfirullah, astagfirullah….” begitu Sinaro membisiki  Jo Ampok yang serupa orang sekarat. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“LLLaaaaaaa………Nnnnnnnnaaaaam.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“LLLaaaaaaaaaaaa………Nnnnnnnnaaaaam.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“LLLaaaaaaaaaaaaaaaa………Nnnnnnnnaaaaam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu begitu suara janggal yang keluar dari mulut Jo Ampok. Sama sekali tidak dihiraukannya ajakan menyebut asma Tuhan. Entah karena disengaja atau karena Jo Ampok memang sudah tak sadar diri. Orang-orang lapau seolah kehabisan akal. Mereka mulai kebingungan dan nyaris putus harapan. Tabi’at Jo Ampok seperti menujumkan firasat bahwa umur si raja judi itu tak bakal panjang. Mungkin sebentar lagi mereka akan kehilangan kawan sepermainan. Jo Ampok kepayahan menghadang sakratul maut.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Mengucap, mengucap, mengucaplah!” tiba-tiba saja Engku muncul di tengah kerumunan orang-orang lapau itu. Perlahan ia merangsek masuk, lantas menghampiri pembaringan Jo Ampok, kawan lama yang kerap memodalinya berjudi itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Lailaha illallah, lailaha illallah, lailaha illallah...” bimbing Engku sambil mengusap kepala Jo Ampok yang mulai berkeringat dingin.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Lailaha illallah, Lailaha illallah, Lailaha illallah…” ulang Engku  lagi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“LLLaaaaaaa………Nnnnnnnnaaaaam.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“LLLaaaaaaaaaaaa………Nnnnnnnnaaaaaaaaaam.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“LLLaaaaaaaaaaaaaaaaa………Nnnnnnnnaaaaaaaaaam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi gigauan itu yang keluar dari mulut Jo Ampok. Entah apa maksudnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bergegas Engku bangkit dari duduknya. Setengah berlari ia keluar rumah yang sedang penuh sesak itu, lantas buru-buru menuju arah lapau Sinaro yang lumayan jauh. Engku Seperti hendak mengambil sesuatu. Orang-orang hanya terperangah heran dan melongo melihat tingkah aneh anak muda yang kini dipercaya sebagai guru mengaji di surau Baitul Hikmah itu. Tapi, tak berselang lama Engku muncul lagi di kerumunan orang-orang lapau yang mulai panik menghadapi pesakitan Jo Ampok.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“LLLaaaa………Nnnnnnnnaaam.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“LLLaaaaaaaaa………Nnnnnnnnaaaaaam.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“LLLaaaaaaaaaaaaaaa………Nnnnnnnnaaaaam.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tak henti-henti Jo Ampok menyeracau. Masih racauan yang sukar dimengerti. Sementara, Engku masih mengusap ubun-ubun Jo Ampok. Tak lama kemudian, ia mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya. O, ternyata sebuah batu berbentuk segiempat, kombinasi warnanya putih-biru menyerupai potongan kue agar-agar. Batu domino berjenis Balak Enam. Dua belas titik hitam yang dibatasi satu garis melintang. Pelan-pelan ditaruhnya balak enam itu dalam genggaman Jo Ampok. Seketika, raja judi itu tersenyum lega sambil menghembuskan nafas terakhir. Jo Ampok mati sebagai penjudi sejati. Tangannya masih mengenggam balak enam. Orang-orang lapau terhenyak dalam sunyi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelapa Dua, 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan :  * ) warung kopi&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;                **) kartu ceki Cina&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-2341235823935323762?l=damhurimuhammad.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/2341235823935323762/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=2341235823935323762&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/2341235823935323762'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/2341235823935323762'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2007/09/jo-ampok-cerpen-damhuri-muhammad-media.html' title=''/><author><name>damhurimuhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>hulutualang@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='08966147596844497280'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>1</thr:total></entry></feed>