<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243</id><updated>2012-01-16T12:29:38.140+07:00</updated><title type='text'>membendakan gagasan dengan tulisan</title><subtitle type='html'>TENTANG CERITA PENDEK, YANG MESKIPUN PENDEK, TAPI TAK KUNJUNG KHATAM KUNUKILKAN.JUGA TENTANG DUNIA BUKU INDONESIA YANG TERABAIKAN, KARENA PENERBIT KITA LEBIH GANDRUNG MENGIMPOR NASKAH DARI LUAR NEGERI</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Damhuri Muhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/-JgCVFjccVOA/Tkyc-iydAsI/AAAAAAAAAIY/v_ip-0ze6tg/s220/pic-id-edit.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>73</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-881520278001855618</id><published>2012-01-16T11:32:00.003+07:00</published><updated>2012-01-16T12:29:38.150+07:00</updated><title type='text'>Elegi Kafilah Lumpur</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-lSeFLqZH8bQ/TxO0O6VHwiI/AAAAAAAAAJE/G9UYT7C7U_M/s1600/novel%2Blumpur.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 181px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-lSeFLqZH8bQ/TxO0O6VHwiI/AAAAAAAAAJE/G9UYT7C7U_M/s320/novel%2Blumpur.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5698096121822822946" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jawa Pos,&lt;/span&gt; 15/01/2012)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENIMBANG  kata “Lumpur” yang secara lugas dan tegas dipajang sebagai tajuk novel karya Yazid R Passandre ini, sepintas lalu barangkali dapat dibayangkan betapa meluap-meluapnya kekecewaan, sakit-hati, bahkan amuk-amarah ribuan keluarga korban lumpur Lapindo, yang hendak digambarkan pengarang. Namun, dugaan itu ternyata meleset. Novel setebal 471 halaman ini  sekadar menukilkan tarikh dan riwayat sejumlah bocah di desa Renokenongo, Porong, Sidoarjo. Akibat semburan lumpur panas yang hampir mustahil dibendung, mereka kehilangan tempat tinggal, arena bermain, dan gedung sekolah, tempat mereka membangun jembatan guna melesat ke masa depan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah Tanur, Senjah, Banjar, Panji, bocah usia sekolah dasar, yang selalu menjadi poros pengisahan, sekaligus menjadi sudut pandang jernih dan tanpa beban, yang digunakan pengarang guna memetakan akibat laten dari sebuah maha-bencana buatan manusia, hingga penduduk enambelas desa di tiga kecamatan harus kehilangan tanah tumpah darah, lahan sawah, dan nyala gairah guna melanjutkan hidup. Betapa tidak?  Tengoklah nasib dan peruntungan Daya, janda muda yang tersia-sia selama berbilang tahun, hingga ia harus pontang-panting membanting tulang, bekerja demi menyekolahkan Tanur. Bocah yang merasa yatim─meski ayahnya belum mati─itulah harapan Daya satu-satunya, setelah suaminya pergi tanpa sebab yang dapat dimaklumi, setelah Mak Inah─tetangga baik hati yang sudah dipandangnya sebagai orangtua─dibunuh secara keji, setelah tubuh ranumnya nyaris diperkosa oleh begundal Parto, kaki-tangan Suro, kepala desa yang tak henti-henti membujuk agar  Daya berkenan menjual sepetak tanahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak banyak yang berkelakuan manusiawi semenjak kedatangan orang-orang yang hendak mengeruk gas alam di kedalaman tanah Renokenongo. Kalaupun ada itu hanya armarhumah Mak Inah, tetua kampung yang paling teguh pendirian mempertahankan tanahnya, meski akhirnya ia membayar mahal perlawanan itu dengan nyawa. Ada pula Kiai Sola, yang dalam situasi miskin tak terpermanai, berani mendirikan sekolah gratis bagi anak-anak Renokenongo. Juga ustadz Kasan, mubaligh melarat yang tiada bosan-bosan memompa semangat belajar pada Tanur, Senjah, Banjar, Panji, Sanip dan segenap anak-anak miskin di pinggir kali Porong. Perlawanan lunak (tanpa dukungan siapa-siapa) dari segelintir orang-orang lemah inilah yang selalu hendak dihadang oleh kepala desa Suro, yang telah berhasil menumpuk kekayaan semenjak bersekongkol dengan para pengusaha pengeboran gas alam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firasat tentang semburan lumpur panas sejak mula telah disuarakan oleh Mak Inah, bahwa akan datang suatu masa ketika Renokenongo ditenggelamkan oleh danau lumpur, dan oleh karena itu ia meminta pada segenap warga Renokenongo untuk jangan sekali-kali tergiur oleh rayuan muluk Suro dan para begundal peliharaannya. Kepala desa itu tak lebih dari pejabat kemaruk yang diperalat oleh tuan-tuan berduit yang hendak mengeruk keuntungan di kampung mereka. Tersiar pula sejumlah hikayat perihal “naga lumpur” yang bila tersentuh mata bor bakal mengamuk, lalu menyemburkan lumpur panas yang tiada bakal dapat dihentikan hingga wilayah Porong dan sekitar bakal menjadi selat yang memisahkan Surabaya dan Pasuruan. Mitos-mitos semacam itulah yang selalu menjadi duri dalam daging bagi  Tanur dan kawan-kawannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Suro dan para kaki-tangannya tak henti-henti bersiasat agar semua orang Renokenongo bersenang hati melepas tanah mereka, lalu hengkang dari permukiman itu. Ustadz Kasan dan Daya difitnah telah melakukan perselingkuhan keji  hingga warga mengusirnya dari kampung itu. Tanur meringkuk di kantor polisi lantaran tuduhan palsu sebagai pelaku pembunuhan Mak Inah. Tapi, semua muslihat Suro akhirnya tiada berguna setelah Renokenongo digemparkan oleh peristiwa semburan lumpur panas di salah satu titik pengeboran, dan dalam waktu singkat membuat perkampungan mereka tenggelam. Maka, dengan berat hati mereka harus meninggalkan rumah, sawah, dan segala kenangan tentang kampung halaman. Tanur, Banjar, Panji, Sanip, Daya, Ustadz Kasan menamai iring-iringan pengungsian mereka dengan “Kafilah Lumpur”, rombongan orang-orang yang telah kehilangan tanah tempat lahir, berjalan dengan langkah-langkah berat dan perasaan terhina.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini sama sekali tidak berpretensi mengungkap data-data perihal jumlah rumah yang tenggelam, harta benda yang tak terselamatkan, tidak pula tentang perdebatan sengit  apakah semburan lumpur itu bencana alam atau  petaka akibat kelalaian manusia. Pengarang hanya menghidangkan semacam alegori dengan membangun peristiwa-peristiwa sederhana namun ironis, ketika Ustadz Kasan harus berhadapan dengan  pertanyaan kanak-kanak Tanur dalam setiap pengajian di musholla. “Apakah pemerentah yang ingkar janji dapat disebut pemerentah munafik?”, “Apakah peraturan-peraturan dari pemimpin munafik tetap harus dipatuhi?” Seolah-olah hendak menyentil tokoh-tokoh terkemuka di sekitar wilayah bencana, yang semestinya turun-tangan memperjuangkan ganti-rugi bagi mereka, tapi entah karena sebab apa, mereka diam dan berpangku tangan. Pertanyaan Tanur muncul ketika beasiswa pendidikan bagi anak-anak miskin Renokenongo dari pemerintah diulur-ulur pencairannya oleh  Suro. Lebih parah lagi, kepala desa bahkan menggunakan beasiswa itu sebagai umpan agar Daya menyerah dan mau menjual tanahnya. Begitu pula peristiwa ringan dalam sebuah perlombaan layang-layang di Renokenongo. Tanur dan kawan-kawan membuat layang-layang bertulisan: “antikorupsi” hingga Suro mencak-mencak. Dan, yang paling berkesan adalah peristiwa pengibaran bendera merah-putih setengah tiang di atas tumpukan lumpur, yang lagi-lagi dilakukan oleh anak-anak bau kencur dari kampung yang telah tenggelam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran Garin yang tiba-tiba di ujung kisah agaknya mengganggu kompleksitas pengisahan yang telah dirangkai sedemikian ketat dan bulat. Sebagai sosok pahlawan yang mengembalikan anak-anak korban lumpur ke lingkungan sekolah, barangkali tidak ada persoalan. Namun, menghubungkaitkan Garin dengan Daya atas dasar romantika masa lalu, rasanya terlalu dipaksakan, sebab porsi penceritaan sosok Garin di bagian awal hampir tidak ada. Muncul kesan ada mata rantai penceritaan yang terputus. Terlepas dari kejanggalan itu, buku ini adalah novel pertama yang menegaskan panggilan penciptaannya dari malapetaka lumpur Lapindo, atau yang belakangan hendak dialih-istilahkan menjadi “lumpur-Sidoarjo”. Pengarang sedapat-dapatnya berupaya membendakan sebuah peristiwa besar tentang kampung yang telah terbenam untuk selama-lamanya. Kelak  bila sudah dewasa, anak-anak korban lumpur Lapindo tentu dapat menziarahi tanah kelahiran mereka dengan mengunjungi “museum kenangan” penuh elegi,  yang  termonumentasi sedemikian rupa dalam novel ini.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data Buku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul :  LUMPUR&lt;br /&gt;Penulis :  Yazid R. Passandre &lt;br /&gt;Penerbit:  Tonggak, Yogyakarta&lt;br /&gt;Cetakan :  I,  November  2011 &lt;br /&gt;Tebal :  471  halaman&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-881520278001855618?l=damhurimuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/881520278001855618/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=881520278001855618&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/881520278001855618'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/881520278001855618'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2012/01/elegi-kafilah-lumpur.html' title='Elegi Kafilah Lumpur'/><author><name>Damhuri Muhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/-JgCVFjccVOA/Tkyc-iydAsI/AAAAAAAAAIY/v_ip-0ze6tg/s220/pic-id-edit.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-lSeFLqZH8bQ/TxO0O6VHwiI/AAAAAAAAAJE/G9UYT7C7U_M/s72-c/novel%2Blumpur.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-4864814888159354863</id><published>2011-11-14T08:39:00.003+07:00</published><updated>2011-11-14T08:47:44.338+07:00</updated><title type='text'>Para Pecundang dari Lampuki</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-dFBZz9Qszjs/TsBy6kOqW6I/AAAAAAAAAI4/2SlVNCMBJq0/s1600/lampuki.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 161px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-dFBZz9Qszjs/TsBy6kOqW6I/AAAAAAAAAI4/2SlVNCMBJq0/s200/lampuki.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5674661880969976738" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kompas,&lt;/span&gt; 13 Nov 2011)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEKALI LAGI, silang-sengkarut konflik Aceh masa silam membuahkan novel. Kali ini bertajuk Lampuki, karya Arafat Nur, yang ternobat sebagai pemenang unggulan dalam  sayembara menulis novel Dewan Kesenian Jakarta, 2010. Lampuki─dirujuk dari nama sebuah kampung di wilayah Pasai─adalah realitas remuk, lantaran trauma perang dan  iklim ketertindasan yang bagai tiada pernah khatam. Berkisah tentang remah-remah militansi seorang pemberontak bernama Ahmadi. Bila sedang aman, lelaki kekar berkumis tebal itu turun gunung, menyulut nyala-gairah anak-anak muda Lampuki, dengan janji muluk perihal martabat dan kejayaan bangsa Aceh masa datang, bila terbebas dari “penjajahan” orang-orang seberang. Mulut besar si Kumis Tebal berbusa-busa, meneriakkan ajakan berperang di balai-balai pengajian, kedai-kedai kopi, dan Pasar Simpang. Namun, tidak banyak yang tergiur. Alih-alih  mengamini, mereka malah sibuk mencari alibi. Sebagian besar orang-orang Lampuki rela membayar pajak ketimbang masuk hutan keluar hutan bersama laskar pimpinan Ahmadi. Ulah komplotan Ahmadi, yang kerap menyerang pos-pos penjagaan militer di sekitar Lampuki, telah sempurna menciptakan suasana mencekam, dan tentu akan semakin menakutkan bila suami atau anak-anak mereka bergabung dengan  para  pembangkang itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Inilah masa ketika militansi untuk terus menggenggam etos perlawanan di kalangan orang-orang Aceh telah surut─bila bukan padam sama sekali─yang habis-habisan hendak  dieksplorasi Arafat Nur. Pesimisme akut itu digambarkan pengarang bukan dengan modus yang biasa, melainkan dengan cara menertawakannya. Menertawakan kepatuhan orang-orang Lampuki pada perintah Ahmadi untuk menutup semua sekolah, karena hanya mengajarkan kebodohan dan membutakan mata anak-cucu mereka pada situasi keterjajahan yang terus berlangsung. Mengolok-ngolok kemalasan mereka yang enggan masuk hutan guna menggarap ladang. Alasannya tegas, tentara bakal meringkus mereka sebagai pemberontak sebagaimana komplotan Ahmadi. Padahal, mereka memang malas tiada terkira. “Pesong” (bodoh), begitu  narator menyebutnya. &lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;Watak mendua akibat trauma perang begitu kentara dalam novel ini. Hayati, Laila, dan Rukiyah membenci Ahmadi setengah mati, tapi sekaligus juga menghormati si Kumis Tebal itu. Bukan saja karena ia satu-satunya laki-laki Lampuki yang masih terus menyalakan gairah perlawanan, tapi juga karena Ahmadi tidak banyak membuat keributan di sekitar Kampung Bawah, tempat keluarganya bermukim. Dengan begitu, Lampuki masih terbilang aman, dan mereka merasa terlindungi. Begitu pula keterbelahan persepsi terhadap Halimah (istri Ahmadi), yang tiada gentar mengutip pajak dari rumah ke rumah, bahkan dalam situasi genting sekalipun. Ia berani membentak dan mengancam bila ada warga yang mangkir membayar pajak. Halimah penyamar handal, ia leluasa lalu-lalang di depan pos jaga sebagaimana orang biasa, tak ada tentara yang mencurigainya sebagai antek pemberontak. Itu sebabnya, guru mengaji─narator yang diperalat pengarang di sepanjang novel ini─sesekali mengungkapkan nada penghormatan pada sosok perempuan licik itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang bermatabat dari yang keparat, ada  yang terpuji dari yang dibenci, ada yang  luhur dalam yang bejat. Lelaku estetik  semacam inilah yang ditandai  oleh  Mikhail Bakhtin (1895-1975) dengan konsep “Carnaval.”  Ada yang terang dalam yang gelap, ada riuh dalam sunyi, ada nyala dalam yang padam. Maka, narator novel ini bisa saja menggoda pembaca untuk berpihak pada Karim, si pedagang ganja, kaki-tangan Ahmadi. Karim melakoni pekerjaan itu demi menghidupi komplotan pimpinan Ahmadi yang tengah berlatih dalam hutan. Guru mengaji dengan senang hati menerima pemberian Karim, ia berdamai dengan  sak-wasangka bahwa uang itu adalah hasil dari penjualan barang haram.       &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ranah abu-abu tidak saja perihal orang-orang Lampuki, tapi juga berlangsung di pos-pos jaga hampir di semua penjuru Lampuki. Mereka dilanda kejenuhan laten lantaran ditugaskan begitu lama, dan saban hari terancam oleh serangan tiba-tiba. Tak sekali-dua sejawat mereka sesama tentara mati terjungkal dalam sebuah kontak senjata. Itu sebabnya, mereka membabi-buta, menghabisi siapa pun laki-laki yang berkumis tebal, meski tak pernah terpastikan apakah itu benar-benar Kumis Tebal yang mereka incar. Dalam sebuah penceritaan, narator meledek kebodohan sebuah regu tentara selepas menghabisi seorang laki-laki Lampuki yang ditengarai pemberontak, padahal korban hanyalah salah satu dari orang pesong di Lampuki. Lagi-lagi, muncul empati dari  narator, perihal betapa tersiksanya tentara-tentara muda yang tiada tahu-menahu perihal konflik Aceh, tapi mesti menyabung nyawa saban hari, hanya karena mereka terpilih untuk dikirim ke Aceh selepas kejatuhan Soeharto, 1998. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, pengarang memperlihatkan anasir-anasir luhur dalam yang keji. Dengan senjata di tangan, mereka memang bisa menghabisi siapa saja, tapi pada saat yang sama, mereka juga berada dalam situasi terancam sebagaimana orang-orang Lampuki. Dua muka narator ini mengingatkan kita pada kebimbangan Olenin saat bertugas sebagai tentara penjaga wilayah perbatasan Kaukasus, dalam novel Kazak (1863), karya Leo Tolstoy. Ia tegak-berdiri di wilayah antara; menggapai kehormatan bangsanya dengan cara membunuh, atau diam-diam berpihak pada kaum terjajah yang sedang mati-matian berjuang mempertahankan  hak dan kedaulatan mereka.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menimbang komposisi penokohan yang rata-rata bermuka ganda lantaran kegamangan akibat trauma perang berkepanjangan, sosok Jibral si Rupawan yang sejak mula hendak dipentingkan narator sebagaimana Ahmadi, Halimah, dan Karim, agaknya tidak begitu berhasil. Selain, perangainya bergonta-ganti pasangan, tiada terasa pijakan dan panggilan penciptaan yang tegas bagi kemunculan tokoh ini. Ada atau tiadanya Jibral, novel setebal 433 halaman ini tetap menjanjikan pengalaman baca yang tiada bakal tuntas dalam sekali duduk. Selain itu, bagaimanapun juga, dengan keterampilan literer yang sangat terukur dan memadai, Lampuki  telah berhasil membendakan sebuah kesadaran bahwa perang hanya akan membuat yang kalah jadi abu, sementara yang menang bakal jadi arang...  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul :  LAMPUKI&lt;br /&gt;Penulis :  Arafat Nur &lt;br /&gt;Penerbit:  Serambi, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan :  I,  Mei  2011 &lt;br /&gt;Tebal :  433  halaman&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-4864814888159354863?l=damhurimuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/4864814888159354863/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=4864814888159354863&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/4864814888159354863'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/4864814888159354863'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2011/11/para-pecundang-dari-lampuki.html' title='Para Pecundang dari Lampuki'/><author><name>Damhuri Muhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/-JgCVFjccVOA/Tkyc-iydAsI/AAAAAAAAAIY/v_ip-0ze6tg/s220/pic-id-edit.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-dFBZz9Qszjs/TsBy6kOqW6I/AAAAAAAAAI4/2SlVNCMBJq0/s72-c/lampuki.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-3119953690290627361</id><published>2011-07-25T11:18:00.002+07:00</published><updated>2011-07-25T11:26:49.071+07:00</updated><title type='text'>Ari-ari Puisi</title><content type='html'>DAMHURI  MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pikiran Rakyat&lt;/span&gt;, 24 Juli 2011) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SECARA  fisik, ari-ari tak lebih dari selaput pelindung  janin semasa bersemayam di rahim ibu. Namun jangan lupa, ari-ari adalah pangkal dari segala macam obsesi, busur yang melesatkan anak panah harapan, doa, dan cita-cita. Selepas prosesi kelahiran yang melelahkan, bukankah banyak syarat-rukun yang mesti dipenuhi sebelum ari-ari ditanamkan? Bila menginginkan watak luhur yang dipuja-sanjung banyak orang, maka serakkan lah kembang tujuh-rupa dalam wadah ari-ari.  Mendambakan kejeniusan yang  pilih tanding? Sertakan pensil dan buku. Atau bilamana menginginkan jiwa petualang, bubuhkan pasir dari tujuh muara. Untuk syarat yang disebutkan terakhir, percaya atau tidak, bila sudah tiba saatnya, seorang anak akan melesat bagai pelor yang ditembakkan dari muncung senapan laras panjang. Pergi sejauh-sejauhnya, dan jangan harap ia bakal pulang. Anak itu akan menjadi petualang sejati, yang bakal segera melupakan jalan pulang. Lupa kembali ke pangkal jalan.   &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Inilah panggilan penciptaan sajak bertajuk “Bangkinang” dalam antologi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Manusia Utama&lt;/span&gt; (2011) karya terkini penyair muda Y.Thendra BP. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pernah sekali/angin dini hari/menyusup lewat jendela bis/yang tak terkunci/menegur aku/menoleh pada tanah kelahiran itu/tapi tak tahu aku/di bawah pohon apa ibu/menanam ari-ariku/dan bis terus melaju.&lt;/span&gt; Tentu saja bukan sekadar alam Bangkinang, kampung kelahiran itu, yang bakal dieksplorasi penyair. Menurut hemat saya, perhatian utama sajak ini adalah ari-ari. Sejarah mula-mula, muasal paling purba dari sebuah identitas. Tiada satu pun teori yang dapat menakar sejauhmana signifikansi ketercapaian obsesi dan cita-cita itu, kelak di kemudian hari. Namun, pengharapan dan hasrat selalu saja hendak dilekatkan pada ari-ari, dari satu kelahiran ke kelahiran yang baru. Maka, sajak ini adalah sebuah ikhtiar penggalian kenangan yang nyaris hilang perihal dunia ari-ari, atau lebih jauh, sebuah pemancangan tanda bahwa di bawah “pohon yang entah di mana” itulah segala macam tarikh manusia bermula. Kecenderungan semacam inilah yang dalam bahasa filsuf Jacques Ranciere (2010) disebut &lt;span style="font-style:italic;"&gt;petrification&lt;/span&gt;, sebuah upaya pembatuan kenangan, pemosilan sebuah peristiwa yang nyaris tertimbun oleh  debu dan residu sejarah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajak-sajak yang terbuhul dalam antologi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Manusia Utama&lt;/span&gt; itu sebagian besar─bila tak dapat disebut dominan─bermula dari sejumlah peristiwa perjalanan, baik perjalanan spasial-temporal maupun mental-transendental. Tengoklah sajak bertajuk “Di Jembatan Siti Nurbaya,” yang menegaskan sebuah afirmasi betapa latennya pengaruh  the power of imagination.  Betapa tidak?  Hingga esai ini dinukilkan, di belahan Indonesia manapun, bila ada peristiwa kawin-paksa, selalu saja muncul hasrat melawan yang direpresentasikan dengan ungkapan: “Ah, ini bukan lagi zaman Siti Nurbaya!” Pertanyaan saya, dalam ranah historiografi kita, kapan sesungguhnya kurun yang patut disebut zaman Siti Nurbaya itu?  Sama sekal tidak bisa ditandai bukan? Inilah bukti paling absah dari upaya pemosilan (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;to petrify&lt;/span&gt;) sebagaimana disinyalir Ranciere. Sedemikian besarnya pengaruh pembatuan itu, di Ranah Minang masa kini─ latar tempatan roman karya Marah Rusli itu─bahkan ada kuburan Siti Nurbaya (entah siapa yang berinisiatif menggali dan menuliskan efitapnya), ada umat yang rutin  berziarah ke sana, mendoakan keselamatan arwah Siti Nurbaya. Ada pula jembatan yang diberinama “Siti Nurbaya,” yang kemudian menjadi asbab al-wurud sajak Y. Thendra B.P: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;siti, muara teramat senja/mengalir di bawah rambutmu/mengingat kasih menggenggam/untuk melepas.&lt;/span&gt; Sajak ini, lagi-lagi tampak hendak membendakan sebuah kenangan yang bermuasal dari dunia bernama imajinasi, dunia khayali, dunia antah barantah.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan yang lain, tak lupa Thendra menyinggahi kampung halaman, Minangkabau selepas megabencana, gempa yang tak hanya mengakibatkan korban manusia, tapi juga korban kemanusiaan, sebagaimana ternukil dalam sajak “Kepada Farits dan 30 September 2009.” Pada sajak itu, penyair tidak sekadar singgah, lalu memotret semesta duka sebagaimana kerja seorang pewarta. Tidak! Subjek penyair berada dalam ketegangan antara penyelamat dan korban. Ia survivor, sekaligus korban. aku sanggup melupakan yang datang/tapi tak sanggup melupakan yang pergi. Rumah kalau mau rubuh rubuh lah, sawah-ladang kalau mau amblas ya  amblas lah, namun masih ada kemujuran, sebab nyawa dapat terselamatkan. Bukankah selalu begitu kita mencari yang luhur dan yang  mujur  dari setiap musibah yang datang tiba-tiba? Ada yang luhur dalam petaka. Inilah yang barangkali ditegaskan oleh  Mikhail Bakhtin (1895-1975) dengan konsep “Karnaval.” Ada yang terang dalam yang gelap, ada riuh dalam sunyi.  Dalam batas-batas tertentu, subjek pembaca bisa saja berpihak pada pemegang kuasa bencana. Lantaran musibah yang telah menyebabkan kematian, yang tak pernah terpanggil untuk menengok kampung halaman, akan datang, yang tercerai-berai bakal tersambung. Kalau begitu, tak heran bila orang-orang kampung selalu berharap pada kematian, sebab hanya dengan kematian itu kerinduan pada orang-orang rantau bakal terlunaskan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, di titik manakah tualang kepenyairan bakal berlabuh?  Di dunia kepenyairan, bukan perjalanan lagi namanya bila gerak petualangan itu sudah berhenti. Namun, sajak yang hendak membendakan kenangan dari setiap perjalanan (Merak-Bakauheni, Tanjung Pinang, Papua, Jalan Lintas Sumatera, Bangkinang, dll) tentu bukan sekadar  perjalanan spasial-temporal  yang sama sekali  tak menyisakan memorable-line. Bila itu yang terjadi, maka sajak-sajak dalam antologi itu akan jatuh sebagai  feature perjalanan belaka, atau sekadar reportase tanpa kesadaran puitik yang dapat diandalkan. Selain itu, mengingat Thendra  telah memaklumatkan jalan sajaknya sebagai jalan “yang bukan buat ke pesta” (April, Haiku, Chairil), maka riwayat perjalanannya tak lagi sekadar singgah dari kota ke kota, berlabuh dari pelabuhan ke pelabuhan, melainkan perantauan yang semestinya berangkat dari sebuah obsesi, pencapaian, tujuan, sebagaimana obsesi seorang ayah saat menanamkan ari-ari bayinya. Bila tidak, maka perjalanan tanpa haluan, tanpa tujuan, sesungguhnya lebih pantas disebut pelarian…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-3119953690290627361?l=damhurimuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/3119953690290627361/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=3119953690290627361&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/3119953690290627361'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/3119953690290627361'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2011/07/ari-ari-puisi.html' title='Ari-ari Puisi'/><author><name>Damhuri Muhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/-JgCVFjccVOA/Tkyc-iydAsI/AAAAAAAAAIY/v_ip-0ze6tg/s220/pic-id-edit.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-5265792734459216488</id><published>2011-07-11T16:10:00.005+07:00</published><updated>2011-07-11T16:18:12.536+07:00</updated><title type='text'>Mata Kesejarahan Onghokam</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-ri8tRGKlYr0/Thq_F19kqJI/AAAAAAAAAH4/ZTZLpkL5E5w/s1600/2.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 116px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-ri8tRGKlYr0/Thq_F19kqJI/AAAAAAAAAH4/ZTZLpkL5E5w/s200/2.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5628020791458441362" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;(Majalah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;TEMPO&lt;/span&gt;, edisi 4-10 Juli 2011)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PAGI buta di sudut Jakarta, lelaki ringkih dengan muka pasi dan gigil lutut melangkah terhuyung-huyung. Ia berhenti di pinggiran got yang penuh-sesak gundukan sampah, lalu melepaskan beberapa muntahan,  hingga dari kejauhan tubuhnya tampak meliuk-liuk, nyaris terjungkal. Seorang wartawan muda bergegas meminggirkan mobilnya, berhenti di belakang orang tua bersimbah muntah itu. Wajah lelaki tua itu tidak asing baginya, karena ia pernah mewawancarainya perihal peristiwa pembantaian massal anti-komunis pasca 1965. Dipapahnya pemabuk itu, dituntunnya masuk mobil, diantarkannya pulang.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki renta itu adalah Onghokam (1933-2007), sejarawan senior, doktor jebolan Yale University, AS (1975). Pagi itu adalah perjalanan pulang Ong selepas pesta wine entah di mana. Cerita ini dituturkan seorang alumnus sejarah FSUI yang pernah mengecap kuliah Ong, dosen “killer” yang tidak taat pada disiplin administratif perkuliahan. Buku absensi mahasiswa selalu hilang, mengajar tak taat silabus. Satu topik perkuliahan bisa terulang dalam tiga kali petemuan. Bila diingatkan, Ong ngotot dengan suara tinggi. “Memang harus tiga kali! Supaya sempurna tanaknya di benak kalian!”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah Ong, sejarawan nyentrik yang di era 1980-1990-an  begitu produktif menyiarkan tulisannya di Kompas, Tempo, dan Prisma. Sepanjang riwayatnya, Ong bergelimang buku, memenuhi undangan kedutaan asing, diskusi sejarah, memasak, dan mabuk Scotch. Ia berbeda haluan dengan Sartono Kartodirjo dan Nugroho Notosusanto, dua sejarawan yang pernah “dinobatkan” negara sebagai penentu bulat-lonjong historiografi Indonesia. Ong tak peduli pada gelar profesor yang layak ia sandang. Alih-alih  predikat guru besar, kepangkatan pegawai pun tidak ia urus, bahkan sampai pensiun. Ia sibuk menelaah buku-buku babon─dari George Lefebvre, Albert Soboul, Braudel─menerima tamu–tamu ilmuan dari luar negeri, dan tentu saja menulis guna memancangkan pemahaman tentang hakikat ilmu sejarah yang dianutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa artinya Indonesia bagi Ong?” begitu Andi Achdian, penulis buku  “Sang Guru dan Secangkir Kopi” ini bertanya dalam sebuah obrolan. “Bila tidak ada Indonesia,  kau akan berjalan membungkuk-bungkuk di hadapan raja-raja Jawa,” jawab Ong. Baginya, Indonesia adalah sebuah konstruksi realitas yang memungkinkan persamaan antara warganegara, dan membebaskan orang dari ikatan primordial dari Sabang sampai Merauke. Indonesia adalah pencapaian paling ajaib sebuah negara-bangsa dengan wilayah geografis yang sebanding dengan perjalanan dari London menuju Istambul dari ujung barat sampai timur. Gerakan separatisme di Aceh dan Papua tidak mengakibatkan Balkanisasi, tidak pula terbelah sebagaimana India menjadi Pakistan dan Bangladesh (1947). Pada suatu masa ketika siswa-siswa Sekolah Menengah Belanda (HBS) ditawari pilihan menjadi warga negara Belanda atau tetap menjadi orang Indonesia, dari puluhan siswa di kelas itu hanya satu yang memilih Indonesia. Orang itu bernama Onghokham.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lewat buku ini, Andi memetakan penglihatan mata kesejarahan Ong dengan cara tak biasa. Data-data ia himpun dari kenangan semasa menjadi murid sekaligus sahabat Ong sejak 2002. Cakrawala intelektualitas Ong yang sedemikian kaya itu tentu tidak terbuhul secara utuh, tapi obrolan yang melibatkan sisi personalitas Ong memperlihatkan cara kerja seorang sejarahwan yang unik dan khas. Tengoklah obrolan perihal kegemaran Ong meracik bumbu saat memasak makanan kegemarannya. Awalnya hanya soal merica, tapi obrolan meluas menjadi sejarah mula-mula pelayaran orang Eropa guna memburu rempah-rempah, sebagaimana pelayaran Vasco Da Gama dan Cornelis de Houtman. Diceritakan, ketika para perempuan Inggris mencampurkan rempah-rempah ke dalam masakan, rasanya lebih enak, makanan lebih awet dan tak perlu dimasak setiap hari. Maka, perempuan-perempuan itu menyuruh suami mereka mencari rempah-remah, hingga para suami takut istri itu menjadi pelaut-pelaut tangguh.    &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mata kesejarahan Ong yang disingkap Andi─disebut-sebut murid paling bungsu Ong─memaklumatkan pemahaman sejarah sebagai “his-story,” sejarah tentang manusia, bukan sejarah institusi, struktur, bukan pula sekadar peristiwa. Dengan mata itulah Ong melahirkan gagasan brilian dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Brotodiningrat Affair,&lt;/span&gt; yang menurut Andi adalah masterpiece Ong. Pilihan yang kurang masuk akal, sebab tulisan itu masih berupa paper yang belum sempat  terbit. Tarikh kecil tentang kehilangan gordin penutup ruang depan sebuah rumah keresedinan di Madiun abad ke-18. Asisten residen menuding kehilangan itu tak lepas dari  peran Bupati bernama Brotodiningrat, yang hendak menelanjangi wajah kemaruk kolonialisme. Karya sejarah yang alegorik dan metaforik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mata kawan-kawan, kedekatan Andi dengan Ong menimbulkan kecurigaan bahwa sejarawan muda ini hendak mendompleng popularitas. Tapi, menimbang perbincangan dari hati ke hati  sebagaimana tersuguh dalam buku ini, kenyataannya malah terbalik. Seamsal dunia persilatan, di akhir hayatnya justru Ong yang ingin  mewariskan jurus paling sulung pada Andi, si murid paling bungsu itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DATA BUKU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul :  Sang Guru dan Secangkir Kopi  &lt;br /&gt;Penulis :  Andy Achdian&lt;br /&gt;Penerbit:  Kekal Press, Bogor&lt;br /&gt;Cetakan :  I,  April  2011 &lt;br /&gt;Tebal :  139  halaman&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-5265792734459216488?l=damhurimuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/5265792734459216488/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=5265792734459216488&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/5265792734459216488'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/5265792734459216488'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2011/07/mata-kesejarahan-onghokam.html' title='Mata Kesejarahan Onghokam'/><author><name>Damhuri Muhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/-JgCVFjccVOA/Tkyc-iydAsI/AAAAAAAAAIY/v_ip-0ze6tg/s220/pic-id-edit.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-ri8tRGKlYr0/Thq_F19kqJI/AAAAAAAAAH4/ZTZLpkL5E5w/s72-c/2.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-7699440795692708350</id><published>2011-05-31T01:39:00.004+07:00</published><updated>2011-05-31T01:47:08.435+07:00</updated><title type='text'>Korupsi Dalam Teks Fiksi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-AzeBzLV7vy8/TePlfAZ_veI/AAAAAAAAAHY/jedoDjbGvlU/s1600/sampul%2B86.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 213px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-AzeBzLV7vy8/TePlfAZ_veI/AAAAAAAAAHY/jedoDjbGvlU/s320/sampul%2B86.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5612581881481510370" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh:  DAMHURI  MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kompas,&lt;/span&gt; 29/5/2011)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TERMINOLOGI “lapan-anam” (86) yang menjadi gairah utama  novel  karya  Okky Madasari ini terpelanting ke dalam tafsir yang pejoratif. Salah satu kata sandi kepolisian─selain 10.2, 813, 871, dan lain-lain─yang digunakan dalam berbagai komunikasi kedinasan itu pada dasarnya berarti  dimengerti, dimaklumi, namun di sekujur tubuh novel setebal 252 halaman ini, “lapan-anam” bergeser menjadi sinisme, sekaligus pemakluman terhadap berbagai modus jual-beli perkara di sebuah kantor pengadilan, lantaran sudah menyehari, dianggap lazim, dan sama-sama tahu. Maka, dunia “lapan-anam” adalah dunia yang tidak lagi tabu, tapi dunia yang serba tersingkap, serba dibenarkan. Dunia yang memelintir kejujuran dan kebersetiaan pada kebenaran menjadi cacat-historis. Sebaliknya, kebohongan dan hipokritas  berubah menjadi keluhuran yang pantas dipuja-puji. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemakluman─lebih tepat disebut pembenaran─semacam inilah muasal nestapa Arimbi, juru ketik putusan perkara yang akhirnya tergoda juga menerima suap. Sebelumnya Arimbi gadis lugu asal Ponorogo yang tidak tahu apa-apa soal dunia “lapan-anam.”  Ia  PNS yang bekerja sebagaimana pegawai biasa, dan menerima gaji bulanan yang tak seberapa. Namun, lantaran praktik suap-menyuap telah sedemikian banal di lingkungan kerjanya─bermula dari tips-tips kecil, hadiah berupa barang elektronik, hingga amplop berisi uang─mentalitas Arimba berubah 180 derajat. Tak tanggung-tanggung, gadis itu kemudian  terobsesi hendak mengubah nasibnya dengan jalan-pintas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puncak nestapa Arimbi terjadi ketika ia tertangkap tangan oleh petugas KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) dengan tuduhan menerima suap guna memenangkan sebuah perkara besar.  Waktu itu,  Arimbi disuruh menemui seseorang di sebuah restoran. Ia  menerima koper berisi uang senilai 2M yang akan diserahkan pada bu Danti. Atasan Arimbi itu “makelar perkara” yang menjembatani pengacara kasus-kasus korupsi dengan oknum hakim nakal yang dapat membebaskan terdakwa. Lagi-lagi  ini dunia “lapan-anam.” Dengan uang, semua tuntutan yang memberatkan koruptor dapat diringankan, bahkan dihapuskan. Celakanya, sebagai orang suruhan, Arimbi yang sejatinya beroleh jatah 50 juta, akhirnya digelandang ke tahanan bersama Danti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kronologi kisah sejak Arimbi lulus kuliah hingga merantau ke Jakarta, lalu diterima sebagai PNS, terasa linear dan datar, sebagaimana kisah orang-orang yang merantau ke Jakarta yang tervisualisasikan dalam film-film Indonesia tahun 80-an. Cerita berputar-putar di sekitar kepayahan hidup keluarga Arimbi dan orang-orang kampungnya yang selalu ditakar dengan penghasilan berupa uang. Tak ada upaya membangun alegori guna menggambarkan mentalitas yang kronis dan dekaden. Menjadi pegawai negeri bagi manusia-manusia di republik ini nyaris sama derajatnya dengan “masuk-sorga.” Begitu mulia, begitu terpandang.  Itu sebabnya banyak orang rela menghamburkan ratusan juta, menyuap sana-sani, guna meraih obsesi menjadi pegawai negeri. Padahal, secara finansial, penghasilan pegawai negeri seperti Arimbi jauh dari memadai. Lalu, apa persoalannya?  Inilah yang tidak diselami lebih dalam oleh Pengarang. Okky hanya memperlihatkan fenomena “lapan-anam” dalam praktik suap-menyuap. Dianggap biasa, bahkan hampir tidak dipandang sebagai ketercelaan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketegangan baru terasa pada peristiwa-peristiwa yang dialami Arimbi selama di penjara, khususnya hubungan ganjil antara Arimbi dengan sejawat sesama napi bernama Tutik. Dikisahkan, Tutik janda beranak satu, pembantu rumah tangga yang tertuduh melakukan percobaan pembunuhan majikan, meski kenyataannya ia membela diri saat dicelakai majikan. Tak berselang lama setelah Danti dan Arimbi datang, Tutik dipercaya menjadi pelindung, sekaligus pelayan semua kebutuhan Danti,  napi yang beroleh perlakuan istimewa. Ia punya ruangan khusus, dengan fasilitas mewah sebagaimana hotel berbintang. Tutik tidak pernah tahu bahwa Arimbi adalah staf Danti, dan Arimbi pun merahasiakannya. Di balik perhatian Tutik pada Arimbi ternyata ada maksud tersembunyi. Lantaran merasa berhutang budi, Arimbi akhirnya pasrah ketika Tutik memperlakukannya sebagai pasangan lesbian. Lagi-lagi muncul fatsoen “lapan-anam.” Semua biaya rumah sakit ibu Arimbi ditanggung Tutik, maka wajar Arimbi melunaskan hasrat seksual Tutik. Namun, suspensi perihal rahasia Arimbi-Danti  tidak menjadi perhatian novel ini. Okky lebih terdorong membangun militansi Arimbi dalam mempertahankan hidup dan keluarganya di saat-saat genting. Ia bahkan nekad menjadi pengedar narkoba demi membiayai pengobatan orangtuanya di kampung. Arimbi juga merelakan suaminya menjadi pengedar sabu-sabu demi akumulasi laba yang bakal membuat hidupnya sejahtera selepas menjadi napi. Maka, novel ini bergelimang dengan angka-angka, nominal rugi-laba, dan berbagai hitungan matematis-ekonomis lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena korupsi, pejabat negara yang tertangkap tangan, jual-beli perkara, perlakuan khusus terhadap napi kelas kakap, bisnis narkoba di lembaga pemasyarakatan, adalah fakta-fakta yang setiap hari berhamburan di televisi, sejak beberapa tahun belakangan ini. Peristiwa-peristiwa yang sedemikian dramatik dan sinetronik, lebih dramatik dari prosa paling dramatik. Tengoklah betapa dramatiknya pemberitaan tentang anggota parlemen yang tertangkap tangan oleh KPK di sebuah hotel berbintang. Lihat pula perlakuan khusus terhadap Artalyta Suryani di tahanan, yang bukan rahasia lagi. Kalau begitu, boleh jadi  novel “86” yang mengetengahkan serba-serbi peristiwa tersebut, akan kalah dramatik dari kejadian sebenarnya. Sinyalemen ini dibenarkan oleh novelis Afrika, Njabulo Ndebele (1998), bahwa kesulitan terbesar para novelis abad ini adalah menemukan metafora dari kehidupan sehari-hari yang sudah sedemikian mengerikan.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prosa bukan sekadar fiksionalisasi dari peristiwa-peristiwa saban hari yang berseliweran di koran, majalah, dan tabloid gosip. Kompetensi artistik semestinya  menggiling fakta-fakta keras menjadi realitas baru, yang dalam konteks novel ini, dapat memunculkan tafsir baru perihal watak korup, yang hingga kini belum terpecahkan. Pengarang dapat membangun ironi, atau memancangkan alegori tentang mentalitas korup, tanpa harus habis-habisan memperlihatkan bagaimana praktik-praktik suap itu berlangsung dengan berbagai modus dan siasat. Bila tidak, maka teks sastra akan terpelanting menjadi feature atau sejenis reportase, yang bila tidak “diprosakan” pun, pembaca sudah “lapan-anam” lebih dulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu penceritaan linear dan corak realisme yang dipertahankan pengarang dari awal hingga akhir memang cukup jitu menyingkap praktik suap-menyuap serinci-rincinya, meski dalam kerja kreatif ada wilayah sumir dan samar yang hendaknya tersisa bagi pembaca. Tapi, corak serba-terang macam ini barangkali memang sedang dibutuhkan oleh penyuka prosa  masa  kini. Di belahan dunia lain, novelis  Chili, Isabel Allende, dalam  The Art and Craft of The Political Novel (1989) menegaskan, bahwa “dunia ketiga memerlukan ketersingkapan realitas serinci mungkin, ketimbang eksperimentasi bentuk yang membuat sastra kehilangan gairah perlawanannya.”  Jadi, “lapan-anam”  lah…            &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DATA BUKU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul :  86 &lt;br /&gt;Penulis :  Okky Madasari&lt;br /&gt;Penerbit:  Gramedia Pustaka Utama, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan :  I,  Maret 2011 &lt;br /&gt;Tebal :  252  halaman&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-7699440795692708350?l=damhurimuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/7699440795692708350/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=7699440795692708350&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/7699440795692708350'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/7699440795692708350'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2011/05/korupsi-dalam-teks-fiksi.html' title='Korupsi Dalam Teks Fiksi'/><author><name>Damhuri Muhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/-JgCVFjccVOA/Tkyc-iydAsI/AAAAAAAAAIY/v_ip-0ze6tg/s220/pic-id-edit.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-AzeBzLV7vy8/TePlfAZ_veI/AAAAAAAAAHY/jedoDjbGvlU/s72-c/sampul%2B86.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-8973568235438427887</id><published>2011-04-18T11:00:00.006+07:00</published><updated>2011-04-18T11:21:41.991+07:00</updated><title type='text'>Orang-orang Larenjang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-xILI7KR9FmQ/Tau4w4-QJzI/AAAAAAAAAHQ/rVI5b44NQTg/s1600/upload.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 260px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-xILI7KR9FmQ/Tau4w4-QJzI/AAAAAAAAAHQ/rVI5b44NQTg/s320/upload.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5596770112004695858" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen: DAMHURI MUHAMMAD &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kompas,&lt;/span&gt; Minggu, 17 April 2011)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DARI pagi ke pagi, mulut-mulut itu, satu demi satu, bagai beralih-rupa menjadi toa. Bila toa di surau mengumandangkan azan, maka toa-toa segala rupa yang terpancang seperti antena itu begitu kemaruk memancar-luaskan gunjing, asung, dan pitanah, bahkan sekali-dua melepas umpat dan makian. Gema suara mereka bagai gendang irama gambus di musim helat,  begitu semarak,  begitu menyentak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, betapa lekas, betapa gegas, gunjing itu tersiar, bahkan jauh sebelum pantang dan larang kami langgar. Toa-toa itu bagai beranak-pinak, sambung-menyambung, balik-bertimbal, berteriak di pangkal kuping kami. Perihal beban berat yang bakal ditimpakan di pundak kami, tentang hutang yang selekasnya mesti kami lunasi. Diselang-selingi pula dengan peringatan yang kadang terdengar serupa ancaman: "siapa melompat siapa jatuh." Sekali lagi, jauh sebelum pantang dan larang yang disebut-sebut itu kami terabasi. Seolah-olah kami telah lengah menimbang dan menakar, bahwa bila "hidung dicucuk, tentulah mata bakal berair."  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toa yang terus menyala itu telah menjadi sebab paling absah menghilangnya yang terhormat pengulu kami, Bendara Gemuk. Sudah empat petang tak tampak batang hidungnya di lepau kopi, tidak pula di surau. Di usia kepala tujuh, Gemuk tentu tiada bakal pergi jauh. Sesungguhnya ia tidak pergi, hanya saja tidak pulang, dari ladang gambirnya, di rimba Cempuya. Mengingat, kerabat dekat kami, Julfahri, bersikeras hendak mempersunting Nurhusni, yang tidak lain adalah juga sanak-famili kami. Dua sejoli yang sedang mabuk kepayang itu berasal dari rumpun yang sama: Larenjang. "Kawin sesuku," demikian leluhur  kami menukilkan sebutan  bagi  pantang dan larang itu. Bila dilanggar, suku kami akan terbuang. Julfahri dan Nurhusni wajib kami hapus dari ranji silsilah dan hak waris. Keduanya diharamkan menginjakkan kaki di tanah Larenjang. Mereka harus angkat kaki dan tidak akan pernah ada tempat berpulang. Sementara itu, dalam beberapa musim, akibat menerabas pantangan, orang-orang Larenjang─tanpa kecuali─akan dikucilkan dari pergaulan antarsuku. Bagi kami, tidak akan berlaku lagi, duduk sama-rendah, apalagi tegak sama-tinggi. Pucuk pimpinan yang membawahi semua wilayah persukuan akan menetapkan denda, dan hukuman yang mesti kami jalani. Pendeknya, sebagaimana Julfahri dan Nurhusni, kami pun bakal merantau, meski  bermukim  di kampung sendiri.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, bagi Bendara Gemuk, daripada hidup berkalang malu, tentulah lebih baik mati berkalang tanah. Ia bertahan di rimba  Cempuya, menggelepak di dangau lapuk dengan bekal seadanya. Meski lengang dan hawa dingin menusuk-nusuk tulang tuanya, tetap saja terasa lebih baik ketimbang terus-menerus mendengar desas-desus yang tak kunjung reda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa awak mesti menghamba pada aturan usang itu?" begitu Julfahri berkelit ketika Gemuk mendesaknya untuk membatalkan rencana itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mentang-mentang bersekolah tinggi, berani kau melanggar pantangan adat?" bentak Gemuk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami tidak punya hubungan tali-darah, jadi kami bisa menikah! Kami siap dibuang dari Larenjang!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi, bagaimana dengan kami yang akan menanggung malu seumur-umur?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bila tidak berbuat salah, kenapa harus malu?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau tidak takut akibat dari melanggar pantangan itu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Awak hanya takut melanggar ajaran Tuhan!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jaga mulutmu, Julfahri. Bisa kualat kau nanti!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tidak menutup mata, bahwa tiga dari lima pengulu di setiap suku di kampung ini lebih kerap beroleh celaan ketimbang menerima pujian. Alih-alih  mencurahkan perhatian pada kemenakan, mereka lebih kerap menjadi benalu dalam suku. Betapa tidak?  Tengoklah, para pengulu itu, bagai berlomba-lomba mengeruk  kekayaan suku, lalu hasilnya diboyong ke rumah anak-bini. Mentang-mentang berkuasa, tak segan-segan mereka menggadai-melego tanah suku, guna membangun rumah batu, untuk istri dan anak-anaknya, sementara banyak kemenakannya putus-sekolah lantaran tidak ada biaya. Maka jangan heran, kalau ada pengulu yang sudah dibawa-lalu,  tidak lagi diperlakukan sebagaimana  pengulu. Sekali waktu, ada  pengulu yang sampai  babak-belur  setelah dihajar-digebuk  oleh  kemenakannya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, yang terhormat Bendara Gemuk, selalu dapat  kami kecualikan. Sejak dulu, belum sekali pun ia  mengecewakan kami. Nyaris separuh umumrnya telah  habis oleh segala macam urusan kemenakan. Tak jarang ia mesti bersitegang urat leher dengan istrinya, lantaran perhatiannya lebih tercurah pada kemenakan dalam suku Larenjang. Perkara seremeh apapun yang menimpa kami, Gemuk selalu menjadi orang yang pertamakali turun-tangan menyelesaikannya. Bahkan bila terjadi kegentingan, ia tidak gamang  “pasang-badan” demi membela kami, para kemenakannya.  Suatu hari,  ketika judi sabung merajalela di kampung ini, kami tertangkap tangan dan beberapa hari harus meringkuk di sel kantor polisi. Bendara Gemuk kasak-kusuk, berupaya mencarikan jalan, agar secepatnya kami terbebas dari kurungan. Begitu pun ketika kerabat kami Julfahri bertekad hendak menjadi sarjana, meski ibu-bapaknya melarat. Gemuk pula orang yang tak bisa dilupakan jasanya. Betapa tidak?  Waktu itu, di kota propinsi, ia mencarikan induk-semang bagi Julfahri.  Dari  sanalah  ia  dapat membiayai kuliah  hingga tercapai juga cita-citanya. Dan, ketika tiba masanya kami menerima pembagian jatah lahan untuk berladang, Gemuk melakukan pembagian dengan cara seadil-adilnya hingga tak seorang pun  dari  kami yang merasa kurang, apalagi mencurigai ada yang curang. Bila ada keluarga kami yang jatuh sakit, Gemuk yang pertamakali tahu kabar itu. Apalagi bila ada di antara kami yang merasa sudah patut menikah, Gemuk mengurusnya hingga tuntas. Pokoknya, bagi kami─orang-orang Larenjang yang tak sempat mengecap sekolah tinggi ini─Bendara Gemuk lebih dari sekadar pengulu. Kami menghormatinya, sebagaimana kami menghormati ayah kami. Ajaran dan nasihatnya kami patuhi sebagaimana kami menuruti ajaran ibu-bapak kami.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, membuat lelaki sepuh itu terluka, sama dengan melukai perasaan kami. Merendahkan martabat Gemuk berarti juga menghina kami. Melangkahi Gemuk  adalah juga menampar muka kami. Oleh karena itu, siapa pun yang mendukung rencana pernikahan terlarang antara Julfahri dan Nurhusni  akan berhadapan dengan kami.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bila ajal Gemuk lebih lekas lantaran menanggung malu akibat perangai gilamu itu,  kau tak bakal selamat!"  begitu kami menggertak  Julfahri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lantaran kami tidak berpendidikan sepertimu, kami tidak pandai menyelesaikan kusut ini dengan cara berunding."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lalu dengan cara apa kalian akan menyelesaikannya?" tanya Julfahri, pongah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dengan kerat kayu. Paham kau, keparat busuk?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Atau mulut besarmu itu kami sumpal dengan ketupat bengkulu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DI USIA sepetang ini, hidup sebatangkara─di tanah rantau pula─tentu akan menjadi tahun-tahun penghujung yang sulit bagi lelaki ringkih itu. Selepas kematian Yanuar, ia mengira musibah bakal bersudah.  Namun, suratan nasib berkata lain, tak lama berselang, Imelda, anak perempuan yang dibangga-banggakannya, mengidap kanker otak stadium puncak. Berbagai cara telah ditempuh Julfahri dan Nurhusni guna menyelamatkan satu-satunya keturunan mereka yang tersisa. Selepas menjalani operasi dengan pertaruhan hidup-mati, kondisi Imelda kian memburuk.  Julfahri  dan  Nurhusni  mulai dihantui rasa gamang pada kehilangan yang kedua. Mereka begitu was-was, begitu cemas, bilamana hidup Imelda berakhir seperti saudaranya, Yanuar.  Itu berarti mereka tidak akan punya siapa-siapa lagi, selain harta-benda yang melimpah-ruah itu. Apa guna kekayaan yang bertahun-tahun ia kumpulkan, bila akhirnya ia hidup seorang diri? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, dalam kecemasan bakal kehilangan Imelda, istrinya perlahan-lahan menunjukkan tanda-tanda orang yang kurang sehat. Badannya kurus, sorot matanya begitu sayu, tak bergairah sebagaimana dulu. Kerisauan Julfahri kian bertambah-tambah. Dan, setelah berkali-kali diperiksa, Nurhusni divonis menderita diabetes, yang akhirnya berujung pada kehilangan daya  penglihatannya. Buta permanen.  Hanya berselang satu tahun selepas kepergian Imelda untuk selamanya, Nurhusni─perempuan yang diperjuangkan Julfahri dengan cara melanggar pantang dan larangan adat─menghembuskan napas penghabisan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, betapa lekas, betapa gegas, orang-orang dekat  Julfahri pergi. Musibah yang bagai sambung-menyambung itu mengingatkan ia  pada mulut orang-orang kampungnya puluhan tahun silam, yang dari pagi ke pagi, bagai bersalin-rupa menjadi toa. Memaklumatkan gunjing dan pitanah perihal orang-orang Larenjang yang bakal terbuang, bahkan sebelum pantang dan larang itu dilanggar. Kenangan usang itu pula yang membangkitkan ingatannya pada Bendara Gemuk, yang di masa itu terpaksa menyingkir dari  kampung, lantaran tak sanggup menanggung malu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini─setelah puluhan tahun perantauannya di tanah seberang─tajam sorot mata pengulu yang separuh usianya telah terkuras oleh urusan orang-orang Larenjang itu, kerap muncul dalam lamunannya. Ia sukar melupakan jasa Bendara Gemuk yang telah mencarikan induk-semang di kota propinsi, hingga ia bisa bekerja dan membiayai kuliah, meraih cita-cita sarjananya.  Dan, yang paling menghantui kesendiriannya  saat ini adalah perseteruan hebatnya dengan Bendara Gemuk sebelum ia nekat melanggar pantang. Ia  menyadari, betapa perbuatannya di masa lalu telah melukai hati pengulu, dan menistai keluarga besar suku Larenjang. Hingga bumi jungkir-balik pun, kesalahan fatal itu tiada bakal terampuni. Tanah orang-orang Larenjang sudah mustahil menjadi tempat ia berpulang.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesepian yang terasa semakin ganjil, kadang lelaki renta itu berangan-angan, kelak bila waktunya tiba, ia ingin dimakamkan di tanah pemakaman suku  Larenjang.  Pulang ke pangkal jalan.  Namun, tiba-tiba saja ada yang mendenging di  kupingnya, dan lekas ia batalkan niat itu. Bila menimbang pantang dan larang yang telah ia langkahi, apalagi menakar arang yang tercoreng di kening Bendara Gemuk, dan amarah orang-orang Larenjang, tanah pemakaman itu tiada bakal sudi menerima  bangkainya.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tanah baru, 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-8973568235438427887?l=damhurimuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/8973568235438427887/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=8973568235438427887&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/8973568235438427887'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/8973568235438427887'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2011/04/orang-orang-larenjang.html' title='Orang-orang Larenjang'/><author><name>Damhuri Muhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/-JgCVFjccVOA/Tkyc-iydAsI/AAAAAAAAAIY/v_ip-0ze6tg/s220/pic-id-edit.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-xILI7KR9FmQ/Tau4w4-QJzI/AAAAAAAAAHQ/rVI5b44NQTg/s72-c/upload.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-3381885433846899552</id><published>2011-01-12T10:55:00.004+07:00</published><updated>2011-01-12T13:53:47.677+07:00</updated><title type='text'>Elitisme Kritikus Seni</title><content type='html'>Oleh:  DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kompas &lt;/span&gt;,2/1/2011) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ARIF B Prasetyo memaklumatkan kurun Facebook dan Twitter sebagai era kematian kritikus seni (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kompas&lt;/span&gt;, 9/1). Ia membincang berlimpah-ruahnya ulasan karya seni di dunia maya, yang lantaran demokratisasi pembacaan, kemudian merenggut otoritas para kritikus. “Siapa pun kini bisa menjadi kritikus yang berhak mengevaluasi puisi, dan melegitimasi siapa pun yang ingin menjadi penyair,” ungkap Arif. Ia memperkokoh argumentasinya dengan diktum “kematian pengarang” Roland Barthes (1915-1980) sebagai akibat dari meluasnya pembaca. Menurut Arif, otoritas pengarang yang telah dilumpuhkan oleh perayaan tafsir-bebas pembaca juga berakibat pada “kematian kritikus.” Sebab, dalam banalitas pembacaan, komentar pakar seni tidak ada lagi bedanya dengan suara khalayak ramai. Tak jarang, pembaca jamak lebih berwibawa ketimbang kritikus seni.   &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam konteks “kematian pengarang”, Barthes hanya mendeklarasikan perluasan hak pembaca, agar pengarang tidak menjadi satu-satunya penentu bulat-lonjongnya makna sebuah teks. Barthes tidak mengklaim “kematian kritikus”─yang juga pembaca─seperti disinyalir Arif. Justru bila Arif mengatakan “kematian pengarang” sebagai momen “kelahiran pembaca,” itu juga berarti “kelahiran kritikus,” bukan sebaliknya, bahkan kematian kritikus konvensional sekalipun. Bukankah pada akhir esainya Arif menegaskan bahwa kematian pengarang dapat menjadi momen kebangkitan kritikus? Selain itu, merajalelanya ulasan-ulasan karya seni dalam hiruk-pikuk banalitas pembacaan di jagad maya yang tak terbendung itu, tidak relevan dengan diktum “kematian pengarang.” Ada atau tidaknya diktum itu, perluasan hak pembacaan terhadap karya seni tetap tak terelakkan, karena yang bekerja bukan lagi gagasan filsafat, tapi teknologi  IT yang bergerak sedemikian cepat dan  pesat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demokratisasi pembaca lebih tepat ditimbang sebagai akibat paling nyata dari gelombang industrialisasi sejak awal abad 20, yang telah memperlakukan karya seni sebagai komoditas, sebagaimana barang-barang hasil produksi. “Nilai-guna” karya seni telah merosot menjadi sekadar “nilai-tukar,” begitu sinisme filsuf Jerman, Theodor W Adorno (1903-1969). Maka, parameter keberhasilan sebuah karya sastra kini hanya ditakar dengan jumlah eksemplar buku yang terjual di pasaran. Padahal, membeli sebuah novel, belum tentu berarti memahami dan menyelami kedalamannya. Fenomena pergeseran paradigma seni semacam inilah yang ditandai Walter Benjamin (1892-1940) sebagai akibat dari reproduksi mekanistik hingga seni kehilangan aura, subtilitas, dan otentisitasnya.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;Dalam khazanah sastra Indonesia mutakhir, tengoklah fenomena berhamburannya novel-novel dengan embel-embel “pembangunan jiwa”, “kisah inspiratif”, yang sejak lima tahun terakhir menggemparkan dunia perbukuan, karena angka penjualannya mencapai ratusan ribu eksemplar, puluhan kali lipat dibanding penjualan karya sastra semacam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ronggeng Dukuh Paruk, Kunang-kunang di Manhattan,&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Orang-orang Bloomington&lt;/span&gt;. Meski buku laku belum tentu buku bermutu. Bagaimana bisa dikatakan bermutu bila yang bermunculan hanya prosa yang mementingkan segi didaktik (motivasi, menginspirasi, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;how to&lt;/span&gt;) ketimbang unsur estetik sebagai kekuatan paling inti. Kematian kritikus barangkali bukan karena banalitas pembacaan, tapi karena sastra kita sedang defisit mutu estetik.                &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gagasan Arif tentang kematian kritikus seni menyisakan dua hal penting yang patut dibincang. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;, hak pembacaan yang panjang-lebar diuraikannya. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kedua,&lt;/span&gt;  kualitas pembacaan yang kurang dipertimbangkan, atau memang sengaja dilupakan. Muncul kesan, Arif memandang sebelah mata  pada  mutu pembacaan khalayak ramai, dan menaruh respek pada pembaca “yang kritikus.” Padahal, dalam kejamakan pembacaan yang dilakukan oleh para blogger dan facebooker tidak bisa dipukul rata bahwa semuanya berselera rendah. Emas tiada bakal menjadi loyang, meski tercampak di comberan. Masalahnya hanya karena mereka tidak berbasis akademik, atau tidak berafiliasi pada sebuah “institusi sastra” yang kerap menjadi tolak-ukur sebuah pengakuan. Sebagai contoh, kajian komprehensif penyuka sastra Amerika Latin, Ronny Agustinus, terhadap novel-novel Isabel Allende di blog pribadinya (www.sastraalibi.blogspot.com) menurut saya bisa bersaing dengan ulasan para akademisi di jurnal sastra. Dalam keriuhan tafsir-bebas pembaca─apapun medianya─tetap ada yang dapat ditimbang sebagai kerja kritikus, bukan “pembaca sekadar.” Lagi pula, bila Arif sudah meniscayakan tidak ada lagi beda antara suara kritikus seni dengan suara pembaca massal, tentulah esai perihal kematian kritikus seni itu tidak akan muncul. Maka, alih-alih meratapi kematian kritikus, esai itu malah membuat saya riang-gembira, karena ia justru memperlihatkan jantung kritikus seni masih berdetak, dan akan terus bersuara dalam gemuruh banalitas pembacaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analogi kritikus sebagai “ia yang menari” dan pembaca awam sebagai “mereka yang berjoged” dapat membuktikan mutu pembacaan yang terabaikan itu. “Ia yang menari,” menyiratkan sebentuk elitisme kritikus yang masih berhasrat mengenggam otoritas penilaian terhadap karya seni. Garis demarkasi ini mengingatkan saya pada masalah usang tentang otoritas filsuf dan non-filsuf dalam sejarah filsafat. Tokoh filsafat profetik, Al-Farabi (850-950), membuat kategori &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘am&lt;/span&gt; (umum) dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;khawwas&lt;/span&gt; (khusus). Hanya kelompok &lt;span style="font-style:italic;"&gt;khawwas&lt;/span&gt; yang berpeluang meraih &lt;span style="font-style:italic;"&gt;aql al-mustafad,&lt;/span&gt; kemampuan kognitif paling puncak dalam abstraksi filsafat. Di ranah penciptaan “surplus makna,” kaum &lt;span style="font-style:italic;"&gt;khawwas&lt;/span&gt; dapat dinisbahkan kepada seniman dan  kritikus. Bila Arif bereksperimen dengan menceburkan dirinya dalam kemassalan penikmat seni,  menyiarkan esai-esainya di blog pribadi, akan tetap terasa beda antara pembaca expert dengan pembaca biasa─yang menulis secara instant, tanpa pijakan metodologi, dan tentu saja serampangan sebagaimana analogi; “yang berjoged.”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;endorsement&lt;/span&gt; di sampul buku-buku sastra. Akan sangat berbeda mutu endorsement yang ditulis kritikus sastra seperti Budi Dharma, Sapardi Djoko Damono, Melani Budianta─untuk menyebut beberapa nama─dengan testimoni seorang artis yang dipasang hanya untuk mendongkrak penjualan. Akan tampak jelas mana emas, mana loyang, mana yang hampa, mana yang bernas. Maka, kritikus seni tak pernah mati, ia akan terus menguasai panggung sebagai “penari” dengan pesona lenggang-lenggok tubuhnya di tengah-tengah kerumunan “pejoget” yang berjingkrak-jingkrak dengan hasrat murahan… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;catatan: &lt;br /&gt;esai tanggapan ini disiarkan lebih dahulu dari esai sumber polemik.&lt;br /&gt;minggu (9/1) lalu, saat esai Arif B Prasetyo bertajuk "kritik seni sudah mati" diturunkan, redaksi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kompas&lt;/span&gt; telah memberikan penjelasan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-3381885433846899552?l=damhurimuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/3381885433846899552/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=3381885433846899552&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/3381885433846899552'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/3381885433846899552'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2011/01/elitisme-kritikus-seni.html' title='Elitisme Kritikus Seni'/><author><name>Damhuri Muhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/-JgCVFjccVOA/Tkyc-iydAsI/AAAAAAAAAIY/v_ip-0ze6tg/s220/pic-id-edit.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-7684624915800905713</id><published>2011-01-04T11:31:00.004+07:00</published><updated>2011-01-04T12:07:38.135+07:00</updated><title type='text'>Intrik  Politik  dalam  Cerita  Silat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/TSKlE6YPW8I/AAAAAAAAAHE/926HCoL_CeI/s1600/nagabumi.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 206px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/TSKlE6YPW8I/AAAAAAAAAHE/926HCoL_CeI/s320/nagabumi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558186393937599426" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh:  DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAK diragukan bahwa gairah kepengarangan tiada bakal bersudah memproduksi cerita yang siap dilepas ke pasaran, atau untuk sementara disimpan sebagai “stock cerita”. Namun, tidak banyak pengarang yang terampil membuhul koleksi ceritanya dengan gagasan-gagasan besar. Sebutlah misalnya, Dan Brown, yang menghubung-kaitkan rancang-bangun ceritanya dengan alur hidup dan riwayat kekaryaan seniman besar, Leonardo Davinci, hingga ia berhasil mendedahkan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Davinci Code&lt;/span&gt; yang menggemparkan itu. Begitu pun dengan Matthew Pearl yang membingkai kisahnya dengan kepeloporan penyair, Dante Alighieri (1265-1321), hingga sukses menyuguhkan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Dante Club,&lt;/span&gt; novel yang telah melangitkan namanya dalam kancah sastra dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepiawaian memadu-padankan kepengrajinan berkisah dengan sebuah gagasan besar tampaknya juga terupayakan dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Nagabumi,&lt;/span&gt; (2010) karya terkini Seno Gumira Ajidarma. Sekilas, mungkin hanya tampak sebagai kelebat pertarungan dengan jurus-jurus jitu dalam rimba persilatan, sebagaimana telah dijejakkan oleh sejumlah novel silat pendahulunya, dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bu Kek Siansu&lt;/span&gt;  (Kho Ping Hoo), &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Naga Sastra Sabuk Inten&lt;/span&gt; (S.H Mintardja), &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Giring-Giring Perak&lt;/span&gt; (Makmur Hendrik) hingga &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Senopati Pamungkas&lt;/span&gt; (Arswendo Atmowiloto). Namun, riwayat kependekaran dengan latar sejarah Jawa abad 8-9 dalam novel itu dipancangkan di tengah-tengah perseteruan pada masa kekuasaan Samaratungga, selepas berdirinya Kamulan Bhumisambhara─kini dikenal sebagai candi Borobudur─satu dari tujuh keajaiban dunia. Inilah yang agaknya dapat memartabatkan Nagabumi menjadi bukan sekadar novel silat biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah Pendekar Tanpa Nama yang mengungkit-ungkit kembali riwayat usang tentang ribuan orang yang diperbudak selama pembangunan Kamulan Bhumisambhara. Penduduk yang telah merelakan tanah mereka untuk mendirikan candi itu, dipaksa bekerja—dengan cara menyandera keluarga mereka—karena pembangunan candi itu memerlukan ribuan tenaga. Penguasa bahkan semena-mena memperlakukan anak-anak mereka sebagai "ulun" (budak). Kesucian Kamulan Bhumisambhara telah ternodai oleh kesewenang-wenangan. Pendekar Tanpa Nama menghembuskan gairah perlawanan, hingga beberapa kali terjadi gelombang protes dan mogok kerja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah salah satu kemungkinan jawaban kenapa para pendekar di rimba persilatan tidak sabar menunggu kematian Pendekar Tanpa Nama, meski usianya sudah 100 tahun. Tapi, menyibak misteri dan teka-teki ini tidak segampang membalik telapak tangan. Dari beberapa pendekar yang telah ia “sempurnakan” dalam kematian, Pendekar Tanpa Nama memang kerap menemukan lembaran lontar dengan maklumat—&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pendekar Tanpa Nama. Pengkhianat negara. 10.000 keping emas bagi yang bisa membunuhnya&lt;/span&gt;—tapi menjadi biang-kerok terjadinya mogok kerja pada masa pembangunan candi suci itu tampaknya bukan satu-satunya dalih yang menyebabkan ia ternobat sebagai pengkhianat negara. Maka, Pendekar Tanpa Nama pun turun gunung setelah mengundurkan diri selama bertahun-tahun, mencari sebab-musabab kenapa penguasa Yavabhumi dan semua pendekar di rimba persilatan menginginkan kematiannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengarang tidak menyia-nyiakan peluang ini. Pencarian Pendekar Tanpa Nama menjadi jurus ampuh guna menyingkap selapang-lapangnya ruang pengisahan dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Nagabumi&lt;/span&gt;. Diceritakan, pemilik jurus "Bayangan Cermin" yang dalam satu kali kedipan mampu menghisap kedigdayaan semua jurus musuh itu, berhasrat hendak menulis risalah yang kelak dapat meluruskan penyimpangan dalam berbagai kisah, desas-desus, bahkan dongeng tentang Pendekar Tanpa Nama. Risalah itulah yang menjadi materi utama novel itu. Sebagaimana gerombolan Kera Gila, murid Naga Hitam—musuh bebuyutan Pendekar Tanpa Nama—mengepung pemilik jurus "Dua Pedang Menulis Kematian" itu di sebuah penyergapan, setiap  bagian dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Nagabumi&lt;/span&gt; juga mengepung pembaca dengan rasa penasaran yang terus membiak dan beranak-pinak. Teka-teki perihal perburuan Pendekar Tanpa Nama belum terpecahkan, pengarang sudah merancang teka-teki baru perihal Naga Hitam yang bersekutu dengan kelompok Cakrawarti dalam menggulingkan kekuasaan Rakai Panangkaran, hingga Rakai Panunggalan naik tahta. Namun, setelah ambisi politik Rakai Panunggalan tercapai, Naga Hitam yang bernafsu hendak menjadi petinggi istana ternyata tak beroleh apa-apa. Lalu, ia mengacau hampir di semua wilayah Yavabhumi. Tapi, Naru, Telapak Darah, Kera Gila, murid-murid terbaik Naga Hitam tewas di tangan Pendekar Tanpa Nama. Ini menimbulkan kecurigaan baru, bahwa karena dendam, Naga Hitam bisa saja terlibat dalam muslihat yang memaklumatkan Pendekar Tanpa Nama sebagai pengkhianat yang harus segera ditamatkan riwayatnya. Namun, lagi-lagi ini menjadi siasat penceritaan untuk terus membiakkan suspensi dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Nagabumi,&lt;/span&gt; dan karena itu misteri Naga Hitam tidak buru-buru disingkap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semula, Pendekar Tanpa Nama, mungkin tampak seperti orang biasa yang  memilih jalan kependekaran, bisa menyamar sebagai tukang batu di masa pembangunan candi, dan setelah berusia 100 tahun menyamar sebagai pengrajin lontar. Tak jauh beda dengan Wiro Sableng, Bajing Ireng, atau Giring-giring Perak, dalam cerita silat pada umumnya. Tapi, dalam riwayat Sepasang Naga dari Celah Kledung terceritakan bahwa bayi laki-laki yang mereka besarkan hingga usia 15 tahun itu bukan anak kandung mereka. Bayi tak bernama itu  ditemukan  dalam sebuah gerobak di tepi jurang. Wajah mungilnya penuh cipratan darah lantaran semua orang di gerobak itu dihabisi dengan tebasan pedang. Satu-satunya yang selamat hanya bayi itu. Sepasang Naga menemukan secarik surat di keranjang bayi itu: selamatkan putra kami! Siapa sebenarnya pendekar tanpa nama? Boleh jadi ia putra mahkota yang hendak dilenyapkan demi sebuah ambisi politik. Namun, lagi-lagi ini tidak segera dijelaskan titik terangnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membuhul cerita dengan gagasan besar yang terupayakan dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Nagabumi,&lt;/span&gt; tidak sekadar membutuhkan fantasi guna membangun kelebat pertarungan maut di antara para pendekar demi menggapai wibawa naga (Naga Hitam, Naga Putih, Naga Emas, Naga Jingga, Naga Laut, Naga Kembar, dan  Nagabumi), tapi juga memerlukan apa yang disebut filsuf Arab, Al-Farabi (850-950), sebagai "Quwwah Al-Muttahilah," yang dalam kerja kepengarangan terus-menerus menggiling fakta-fakta sejarah Mataram kuno, sehalus-halusnya, hingga yang tersisa hanya konstruksi alegorik dari intrik-intrik politik kurun itu. Tak sengaja, juga mencerminkan pergulatan politik hari ini. Terlepas dari keganasannya di masa silam, Pendekar Tanpa Nama adalah sosok yang dikambing-hitamkan penguasa. Untunglah, setelah menggapai wibawa naga dengan Jurus Tanpa Bentuk yang mematikan itu, dalam menulis risalah guna membersihkan namanya, ia juga meraih keseimbangan antara ilmu silat dengan ilmu surat. Naga di dunia silat, pujangga di dunia surat…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-7684624915800905713?l=damhurimuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/7684624915800905713/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=7684624915800905713&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/7684624915800905713'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/7684624915800905713'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2011/01/intrik-politik-dalam-cerita-silat.html' title='Intrik  Politik  dalam  Cerita  Silat'/><author><name>Damhuri Muhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/-JgCVFjccVOA/Tkyc-iydAsI/AAAAAAAAAIY/v_ip-0ze6tg/s220/pic-id-edit.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/TSKlE6YPW8I/AAAAAAAAAHE/926HCoL_CeI/s72-c/nagabumi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-1985366941672402577</id><published>2010-12-19T16:43:00.007+07:00</published><updated>2010-12-31T16:20:34.896+07:00</updated><title type='text'>Menghormati Pengarang Negeri  Sendiri</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/TR2gCFSYKtI/AAAAAAAAAG8/Lc4d8vbnpqc/s1600/koord%2Bjuri.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/TR2gCFSYKtI/AAAAAAAAAG8/Lc4d8vbnpqc/s320/koord%2Bjuri.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5556773472884501202" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh:   DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Pikiran Rakyat,&lt;/span&gt; 12 Desember 2010)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sejumlah Perkutut Buat Bapak&lt;/span&gt; (2010), karya Gunawan Maryanto dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Buwun&lt;/span&gt; (2010) karya Mardi Luhung ternobat sebagai pemenang kembar anugerah Khatulistiwa Literary Award 2010 untuk kategori puisi, selain &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Rahasia Selma &lt;/span&gt;(2010), kumpulan cerpen karya Linda Christanty, untuk kategori prosa.  Dua buku sajak itu  menyisihkan tiga nominator lain: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Penyeret Babi&lt;/span&gt; (2010) karya Inggit Putria Marga, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tersebab Aku Melayu&lt;/span&gt; (2010) karya Taufik Ikram Jamil, dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Konde Penyair Han&lt;/span&gt; (2010) karya Hanna  Fransisca. Sementara pemenang kategori prosa menyisihkan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kekasih Marionette&lt;/span&gt; (2009) karya Dewi Ria Utari, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia&lt;/span&gt; (2010) karya Agus Noor, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;9 Dari Nadira&lt;/span&gt; (2010) karya Leila S Chudori, dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Klop&lt;/span&gt; (2010) karya Putu Wijaya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengalami sebuah peristiwa sederhana di akhir kerja penjurian yang telah berlangsung sejak Juli 2010. Meski sederhana, pengaruhnya masih terngiang hingga kini. Waktu itu, saya menghubungi salah seorang nominator kategori puisi via telpon, meminta soft-copy biodata dan foto terkini untuk keperluan publikasi pada malam anugerah. Dengan nada bimbang sekaligus sinis, nominator itu mempertanyakan keseriusan kerja penjurian. Ia bilang, bukunya tipis, tapi bisa masuk 5 besar. Saya tidak menanggapi pertanyaan itu, sebab saya yakin bahwa yang bersangkutan tidak akan menyanggah bahwa kerja penjurian tidak mempertimbangkan tebal-tipis dan berat-ringan buku sastra yang sedang diseleksi. Namun, keragu-raguan semacam itu tampaknya bermuasal dari inferioritas kepenyairan dan keterpinggiran dunia puisi itu sendiri. Pesimisme serupa disinyalir pula oleh testimoni Sindu Putra (pemenang KLA 2009) yang mengacungkan jempol pada ketekunan dan kerja keras pihak penyelenggara KLA hingga dapat bertahan sampai tahun ke-10, namun ia masih mengeluhkan bahwa wajah kepenyairan Indonesia belum tergambar secara utuh. Sebab, sangat boleh jadi, banyak naskah puisi bermutu yang tersembunyi di rak dan laci, lantaran penyairnya tiada kunjung mendapatkan penerbit. Akibatnya, naskah-naskah itu tidak terjaring dalam kerja penjurian KLA. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecemasan Sindu dapat dimaklumi. Tengoklah berapa banyak penyair  yang menenteng naskah puisi ke sana-ke mari,  namun dengan alasan selling point dan segmentasi pembaca yang tidak menjanjikan, penerbit mentah-mentah menolaknya.  Memang ada satu-dua penerbit major label yang tidak alergi dengan naskah  puisi. Tapi, mekanisme kuratorial dalam memutuskan kelayakan naskah sudah mengabaikan segala macam pertimbangan pasar dan semata-mata hanya untuk menghargai tradisi puisi. Maka, setidaknya masih ada jatah 1 buku pusi dalam setahun, yang bila ditakar dengan analisis pasar dipastikan tiada bakal balik-modal. Peluang sempit inilah yang diperebutkan oleh ratusan penyair di negeri yang konon sangat menggandrungi puisi ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, bila tetap menginginkan buku sajak, seorang penyair mesti menyodorkan estimasi biaya produksi buku pada sejumlah pihak─baik perorangan maupun lembaga─yang sudi membiayai penerbitannya. Bila tidak ada sponsor yang berkenan, penyair terpaksa merogoh kantong sendiri. Tengoklah daftar shortlist KLA 2010, khususnya kategori puisi, hampir semuanya terbit dengan siasat, kerja keras dan militansi para penyair dalam memperjuangkan puisi-puisi mereka. Dalam pidato singkat pada malam anugerah KLA 2010, Gunawan Maryanto, membenarkan bahwa bukunya diterbitkan secara POD (print on demand); dicetak terbatas, sesuai pesanan. Inilah yang saya sebut dengan keterpinggiran buku puisi di dunia perbukuan kita, yang pada akhirnya menimbulkan kebimbangan, pesimisme, bahkan inferioritas penyair. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, keagungan puisi yang konon dapat melampaui pencapaian filsafat sebagaimana pembelaan filsuf eksistensialis Martin Heidegger (1889-1976) terhadap sajak-sajak penyair Jerman, Friedrich Holderin, atau gairah  keberpihakan  Octavia Paz (1914-1998) terhadap puisi yang pantas dipertahankan seperti mempertahankan kemerdekaan untuk mendedahkan pikiran, agaknya sukar terpetakan dalam khazanah perpuisian kita belakangan ini. Karya-karya para penyair Indonesia mutakhir tertimbun jauh di kedalaman tumpukan novel-novel best-seller semacam Laskar Pelangi, Ayat-ayat Cinta, dan Negeri 5 Menara. Tersembunyi di rak-rak paling pojok yang jarang disambangi pembaca. Tergeletak penuh debu, hingga akhirnya digudangkan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novelis, cerpenis, apalagi penyair, sedang mengalami ketidakmujuran yang sama. Kerja para sastrawan dalam segi-segi non-artistik sama kerasnya dengan pergelutan kreatif guna membuahkan karya-karya bermutu. Buku sastra jenis prosa pun tak luput dari persoalan serupa. Penerbit-penerbit komersial, akhir-akhir ini, lebih gandrung mengimpor novel dari luar negeri ketimbang menerbitkan novel karya pengarang negeri sendiri. Rasio antara novel terjemahan dan novel lokal saat ini sedemikian jomplang; 10 : 1. Artinya, penerbit-penerbit yang concern pada  buku sastra, mencetak 10 novel asing, dan hanya 1 novel lokal. Konon, untuk sekadar memperlihatkan penghargaan terhadap sastra Indonesia, meski sudah dipastikan bakal merugi. Maka, tengoklah cerpenis yang belakangan ini begitu gencar melakukan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;self-marketing&lt;/span&gt; lewat situs jejaring sosial Facebook. Sebutlah misalnya Benny Arnas yang baru saja melepas antologi cerpen bertajuk &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bulan Celurit Api&lt;/span&gt; (2010). Awal Oktober 2010 bukunya turun-cetak, tapi sejak September 2010 ia sudah melakukan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;direct selling&lt;/span&gt; di dunia maya. Hasilnya terbilang spektakuler untuk ukuran buku sastra, 100 exp BCA  telah terjual, tiga minggu sebelum buku terbit. Pemesanan langsung berdatangan dari Jakarta, Aceh, Makassar, Kalimatan, Yogyakarta, Padang, Medan.  Kabar terkini yang saya terima, Bulan Celurit Api, bakal cetak-ulang, padahal launching-nya belum diselenggarakan. Kerja serupa juga dilakukan oleh Bamby Cahyadi untuk bukunya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tangan Untuk Utik&lt;/span&gt; (2009), dan Khrisna Pabichara untuk kumpulan cerpen &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mengawini Ibu &lt;/span&gt;(2010). Mungkin fenomena ini patut disambut sebagai kabar baik bagi sastra Indonesia, namun stamina para pengarang kita tentu bakal terus terkuras untuk hal-ihwal yang non-artistik. Para pengarang yang sekaligus juga pedagang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, dalam konteks inilah peran Khatulistiwa Literary Award dapat ditandai. Ia ditegakkan di atas sebuah itikad untuk menghargai, bukan saja kedalaman eksplorasi estetik dalam sebuah karya sastra, tapi yang jauh lebih penting adalah menghargai pilihan hidup sebagai pengarang, jalan kepengarangan yang terjal dan berliku, sebelum membuahkan karya besar. Dengan nilai penghargaan yang terbilang memadai, KLA dapat memperkuat posisi tawar para pengarang, untuk terus bertahan dan bersetia menempuh jalan kepengarangan, dan tidak tergoda untuk berganti haluan lantaran apresiasi yang setengah hati…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;Koordinator Tim Juri KLA 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-1985366941672402577?l=damhurimuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/1985366941672402577/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=1985366941672402577&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/1985366941672402577'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/1985366941672402577'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2010/12/menghormati-pengarang-negeri-sendiri.html' title='Menghormati Pengarang Negeri  Sendiri'/><author><name>Damhuri Muhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/-JgCVFjccVOA/Tkyc-iydAsI/AAAAAAAAAIY/v_ip-0ze6tg/s220/pic-id-edit.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/TR2gCFSYKtI/AAAAAAAAAG8/Lc4d8vbnpqc/s72-c/koord%2Bjuri.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-6058185426918021843</id><published>2010-10-25T10:22:00.001+07:00</published><updated>2010-10-25T10:31:34.186+07:00</updated><title type='text'>BANUN</title><content type='html'>Cerpen: DAMHURI MUHAMMAD  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;span style="font-style:italic;"&gt;KOMPAS,&lt;/span&gt; 24 Oktober 2010)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BILA ada yang bertanya, siapa makhluk paling kikir di kampung itu, tidak akan ada yang menyanggah bahwa perempuan ringkih yang punggungnya telah melengkung serupa sabut kelapa itulah jawabannya. Semula ia hanya dipanggil Banun. Namun, lantaran sifat kikirnya dari tahun ke tahun semakin mengakar, pada sebuah pergunjingan yang penuh dengan kedengkian, seseorang menambahkan kata “kikir” di belakang nama ringkas itu, hingga ia ternobat sebagai Banun Kikir. Konon, hingga riwayat ini disiarkan, belum ada yang sanggup menumbangkan rekor kekikiran Banun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak Banun di perkampungan lereng bukit yang sejak dulu tanahnya subur hingga tersohor sebagai daerah penghasil padi kwalitet nomor satu itu. Pertama, Banun dukun patah-tulang yang dangau usangnya kerap didatangi laki-laki pekerja keras bila pinggang atau pangkal lengannya terkilir akibat terlampau bergairah mengayun cangkul. Disebut-sebut, kemampuan turun-temurun Banun ini tak hanya ampuh mengobati patah-tulang orang-orang tani, tapi juga bisa mempertautkan kembali lutut kuda yang retak, akibat bendi yang dihelanya terguling lantaran sarat muatan. Kedua, Banun dukun beranak yang kehandalannya  lebih dipercayai ketimbang bidan desa yang belum apa-apa sudah angkat tangan, lalu menyarankan pasien buntingnya bersalin di rumah sakit kabupaten. Sedemikian mumpuninya kemampuan Banun kedua ini, bidan desa merasa lebih banyak menimba pengalaman dari dukun itu ketimbang dari buku-buku semasa di akademi. Ketiga, Banun tukang lemang yang hanya akan tampak sibuk pada hari Selasa dan Sabtu, hari berburu yang nyaris tak sekali pun dilewatkan oleh para penggila buru babi dari berbagai pelosok. Di hutan mana para pemburu melepas anjing, di sana pasti tegak lapak lemang-tapai milik Banun. Berburu seolah tidak afdol tanpa lemang-tapai bikinan Banun, yang hingga kini belum terungkap rahasianya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, hanya ada satu Banun Kikir yang karena riwayat kekikirannya begitu menakjubkan, tanpa mengurangi rasa hormat pada Banun-banun yang lain, sepatutnyalah ia menjadi lakon dalam cerita ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sepanjang usianya, Banun Kikir tak pernah membeli minyak tanah untuk mengasapi dapur keluarganya. Perempuan itu menanak nasi dengan cara menyorongkan seikat daun kelapa kering ke dalam tungku, dan setelah api menyala, lekas disorongkannya pula beberapa keping kayu bakar yang selalu tersedia di bawah lumbungnya. Saban petang, selepas bergelimang lumpur sawah, daun-daun kelapa kering itu dipikulnya dari kebun yang sejak lama telah digarapnya. Mungkin sudah tak terhitung berapa jumlah simpanan Banun selama ia menahan diri untuk tidak membeli minyak tanah guna menyalakan tungku. Sebab, daun-daun kelapa kering di kebunnya tiada bakal pernah berhenti berjatuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hasil sawah yang tak seberapa itu hendak dibawa mati, Mak?” tanya Rimah suatu ketika. Kuping anak gadis Banun itu panas karena gunjing perihal Banun Kikir tiada kunjung reda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mak tak hanya kikir pada orang lain, tapi juga kikir pada perut sendiri,” gerutu Nami,&lt;br /&gt; anak kedua Banun.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;“Tak usah hiraukan gunjingan orang! Kalau benar apa yang mereka tuduhkan, kalian tak bakal mengenyam bangku sekolah, dan seumur-umur akan jadi orang tani,”  bentak Banun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebagai anak yang lahir dari rahim orang tani, semestinya kalian paham bagaimana tabiat petani sejati.”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itulah Banun menyingkapkan rahasia hidupnya pada anak-anaknya, termasuk pada Rimah, anak bungsunya itu. Ia menjelaskan kata “tani” sebagai penyempitan dari “tahani”, yang bila diterjemahkan ke dalam bahasa orang kini berarti: “menahan diri.” Menahan diri untuk tidak membeli segala sesuatu yang dapat diperoleh dengan cara bercocok tanam. Sebutlah misalnya, sayur-mayur, cabai, bawang, seledri, kunyit, lengkuas, jahe. Di sepanjang riwayatnya dalam menyelenggarakan hidup, orang tani hanya akan membeli garam. Minyak goreng sekalipun, sedapat-dapatnya dibikin sendiri. Begitu ajaran mendiang suami Banun, yang meninggalkan perempuan itu ketika anak-anaknya belum bisa mengelap ingus sendiri. Semakin banyak yang dapat “ditahani” Banun, semakin kokoh ia  berdiri sebagai orang tani.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Maka, selepas kesibukannya menanam, menyiangi, dan menuai padi di sawah milik sendiri, dengan segenap tenaga yang tersisa, Banun menghijaukan pekarangan dengan bermacam-ragam sayuran, cabai, seledri, bawang, lengkuas, jahe, kunyit, gardamunggu, jeruk nipis, hingga semua kebutuhannya untuk memasak tersedia  hanya beberapa jengkal  dari  sudut dapurnya. Bila semua kebutuhan memasak harus dibeli Banun dengan penghasilannya sebagai petani padi, tentu akan jauh dari memadai. Bagi Banun, segala sesuatu yang dapat tumbuh di atas tanahnya─lagipula apa yang tak bisa tumbuh di tanah kampung itu?─akan ditanamnya, agar ia selalu terhindar dari keharusan membeli. Dengan begitu, penghasilan dari panen padi, kelak bakal terkumpul, guna membeli lahan sawah yang lebih luas lagi. Dan, setelah bertahun-tahun menjadi orang tani, tengoklah keluarga Banun kini. Hampir separuh dari lahan sawah yang terbentang di wilayah kampung tempat ia lahir dan dibesarkan, telah jatuh ke tangannya. Orang-orang menyebutnya tuan tanah, yang seolah tidak pernah kehabisan uang guna meladeni mereka yang terdesak keperluan biaya sekolah anak-anak─tak jarang pula untuk biaya keberangkatan anak-anak gadis mereka ke luar negeri, untuk menjadi TKW─lalu menggadai, bahkan menjual lahan sawah. Empat orang anak Banun telah disarjanakan dengan kucuran peluhnya selama menjadi orang tani. &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya Banun tidak lupa pada orang yang pertamakali menjulukinya Banun Kikir hingga nama buruk itu melekat sampai umurnya hampir berkepala tujuh.  Orang itu tidak lain adalah Palar, laki-laki pewaris tunggal kekayaan ibu-bapaknya. Namun, karena tak terbiasa berkubang lumpur sawah, Palar tak pernah sanggup menjalankan lelaku orang tani. Untuk sekebat sayur Kangkung pun, Zubaidah (istri Palar), harus berbelanja ke pasar. Pekarangan rumahnya gersang. Kolamnya kering. Bahkan sebatang pohon Singkong pun menjadi tumbuhan langka. Selama masih tersedia di pasar, kenapa harus ditanam? Begitu kira-kira prinsip hidup Palar. Baginya, bercocok tanam aneka tumbuhan untuk kebutuhan makan sehari-hari, hanya akan membuat pekerjaan di sawah jadi terbengkalai. Lagipula, bukankah ada tauke yang selalu berkenan memberi pinjaman, selama orang tani masih mau menyemai benih? Namun,  tauke-tauke yang selalu bermurah-hati itu─bahkan sebelum sawah digarap─akan mematok harga jual padi seenak perutnya, dan para petani tidak berkutik dibuatnya. Perangai lintah-darat itu sudah merajalela, bahkan sejak Banun belum mahir menyemai benih. Palar salah satu korbannya. Dua-pertiga lahan sawah yang diwarisinya telah berpindah tangan pada seorang tauke, lantaran dari musim ke musim hasil panennya merosot. Palar juga terpaksa melego beberapa petak sawah guna membiayai kuliah Rustam, anak laki-laki satu-satunya, yang kelak bakal menyandang gelar Insinyur Pertanian. Dalam belitan hutang yang entah kapan bakal terlunasi, Palar mendatangi rumah Banun, hendak meminang Rimah untuk Rustam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena kita sama-sama orang tani, bagaimana kalau Rimah kita nikahkan dengan Rustam?” bujuk  Palar  masa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pinanganmu terlambat. Rimah sudah punya calon suami,” balas Banun dengan sorot mata sinis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Keluargamu beruntung bila menerima Rustam. Ia akan menjadi satu-satunya Insinyur Pertanian di kampung ini, dan hendak menerapkan cara bertani jaman kini, hingga orang-orang tani tidak lagi terpuruk dalam kesusahan,” ungkap Palar sebelum meninggalkan rumah Banun.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan saya, Palar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya penolakan Banun telah menyinggung perasaan Palar. Lelaki itu merasa terhina. Mentang-mentang sudah kaya, Banun mentah-mentah menolak pinangannya. Dan, yang lebih menyakitkan, ini bukan penolakan yang pertama. Tiga bulan setelah suami Banun meninggal, Palar menyampaikan niatnya hendak mempersunting janda kembang itu. Tapi,  Banun bertekad akan membesarkan anak-anaknya tanpa suami baru. Itu sebabnya Palar menggunakan segala siasat dan muslihat agar Banun termaklumatkan sebagai perempuan paling kikir di kampung itu. Palar hendak membuat Banun menanggung malu, bila perlu sampai ajal datang menjemputnya.  &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski kini sudah jaman gas elpiji, Banun masih mengasapi dapur dengan daun kelapa kering dan kayu bakar, hingga ia masih menyandang julukan si Banun Kikir. “Nasi tak terasa sebagai nasi bila dimasak dengan elpiji,” kilah Banun saat  menolak tawaran Rimah yang hendak membelikannya kompor gas. Rimah sudah hidup berkecukupan bersama suaminya yang bekerja sebagai guru di ibukota kabupaten. Begitu pula dengan Nami dan dua anak Banun yang lain. Sejak  menikah, mereka tinggal di rumah masing-masing. Setiap Jumat, Banun datang berkunjung, menjenguk cucu, secara bergiliran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau Mak menerima pinangan Rustam, tentu julukan buruk itu tak pernah ada,” sesal Rimah suatu hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masa  itu kenapa Mak mengatakan bahwa aku sudah punya calon suami, padahal belum, bukan?” &lt;br /&gt;“Bukankah calon menantu Mak calon insinyur?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak usah kau ungkit-ungkit lagi cerita lama. Mungkin Rustam bukan jodohmu!” sela Banun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi seandainya kami berjodoh, Mak tak akan dinamai Banun Kikir!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat Banun diam. Tanya-tanya nyinyir Rimah mengingatkan ia pada Palar yang begitu bangga punya anak bertitel Insinyur Pertanian, yang katanya dapat melipatgandakan hasil panen dengan mengajarkan teori-teori pertanian. Tapi, bagaimana mungkin Rustam akan memberi contoh cara bertani modern, sementara sawahnya sudah ludes terjual?  Kalau memang benar Palar orang tani yang sesungguhnya, ia tidak akan gampang menjual lahan sawah, meski untuk mencetak Insinyur Pertanian yang dibanggakannya itu. Apalah guna Insinyur Pertanian bila tidak mengamalkan laku orang tani?  Banun menolak pinangan itu bukan karena Palar sedang terbelit hutang, tidak pula karena ia sudah jadi tuan tanah, tapi karena perangai buruk Palar yang dianggapnya sebagai penghinaan pada jalan hidup orang tani…  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tanah baru, 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-6058185426918021843?l=damhurimuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/6058185426918021843/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=6058185426918021843&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/6058185426918021843'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/6058185426918021843'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2010/10/banun.html' title='BANUN'/><author><name>Damhuri Muhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/-JgCVFjccVOA/Tkyc-iydAsI/AAAAAAAAAIY/v_ip-0ze6tg/s220/pic-id-edit.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-911038099762321918</id><published>2010-09-20T12:28:00.005+07:00</published><updated>2010-09-20T12:39:27.603+07:00</updated><title type='text'>LETUSAN  KRAKATAU DALAM  SYAIR  MELAYU</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/TJbzSUBhjbI/AAAAAAAAAGQ/A3x7er6WRVs/s1600/syair+lampung.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 133px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/TJbzSUBhjbI/AAAAAAAAAGQ/A3x7er6WRVs/s200/syair+lampung.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5518865889327418802" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;LETUSAN  KRAKATAU &lt;br /&gt;DALAM  SYAIR  MELAYU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(versi panjang dari resensi yang tersiar di harian &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kompas,&lt;/span&gt; 19/9/2010)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEPULAN awan panas membubung setinggi 70 km. Gelombang tsunami  menyapu bersih kawasan pantai sebelah Sumatera (Lampung) dan Jawa (Banten dan sekitarnya). 36.000 orang tewas. Ribuan permukiman luluh-lantak. Harta-benda hanyut tergilas arus. Begitu para peneliti menggambarkan suasana kalut selepas letusan gunung Krakatau, 1883. Ombak setinggi 40 m dari perairan Selat Sunda mencapai pantai Australia, Srilangka, Calcutta, bahkan Cape Town, selang beberapa jam kemudian. Sementara letusan terdengar  hingga 3000 mil. Tak mengherankan bila seorang peneliti menyebutnya letusan terbesar sepanjang sejarah bumi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lebih dari 1000 kajian tentang letusan Krakatau telah ditulis, sejak dari geologi, vulkanologi, metereologi hingga oseanografi. Bermunculan pula sejumlah prosa karya seniman Eropa dari tahun 1889 hingga 1969. Beberapa film yang menggambarkan bencana akbar itu telah diproduksi. Sebutlah misalnya Krakatoa—&lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Last Days&lt;/span&gt; (2006). Tapi, beragam kajian dan karya seni berlatar letusan Krakatau, melulu dari perspektif orang asing.   &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Maka, buku "Syair Lampung Karam" (Sebuah Dokumen Pribumi tentang Dahsyatnya Letusan Krakatau 1883) karya Suryadi ini patut ditimbang sebagai penemuan yang mengejutkan. Ahli filologi dan peneliti sastra klasik di Universitas Leiden itu menemukan naskah usang mengenai peristiwa letusan Krakatau 1883, bertajuk "Syair Lampung Karam"  karya Muhammad Saleh, terbit di Singapura pada akhir abad 19. Suryadi mencatat, SLK  pernah terbit dalam bentuk litografi (cetak batu) dengan aksara Arab-Melayu sebanyak 4  kali. Edisi 1 berjudul "Syair Negeri Lampung yang Dinaiki oleh Air dan Hujan Abu" (1883/1884), kini tersimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dan The Russian State Library, Moscow. Edisi 2, "Inilah Syair Lampung Dinaiki Air laut"  (1884), juga tersimpan di PNRI.  Edisi 3, "Syair Lampung  dan Anyer dan Tanjung Karang" (1886)─tersimpan di Cambridge University Library─dan edisi 4, "Inilah Syair Lampung Karam Adanya" (1888), penyalinnya Encik Ibrahim dan penerbitnya “Al-Hajj Muhammad Tayib” di Singapura, tersimpan di PNRI, Perpustakaan Universitas Leiden, SOAS University of London, Universiti Malaya dan dalam koleksi kitab-kitab Melayu milik penginjil Methodist Emil Luring di Frankfurt, Jerman.   &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Muhammad Saleh menulis SLK di Kampung Bengkulu─kini Bencoolen Street─Singapura. "Di Singapura duduk mengarang/Di kampung Bangkahulu disebut orang" (bait 369). Ia berasal dari Tanjung Karang (Lampung) tempat ia secara langsung menyaksikan bencana itu. "Awal mula hamba berpikir/Di Tanjung Karang tempat musyafir" (bait 4). Boleh jadi ia salah seorang pengungsi dari Lampung yang menyeberang  ke Singapura selepas bencana.  "Orang banyak nyatalah tentu/bilangan lebih daripada seribu/mati sekalian orangnya itu/ditimpa lumpur, api dan abu"  (bait 128). Demikian salah satu potret suasana setelah letusan Krakatau dalam SLK. Sejumlah peneliti menyebutnya “syair kewartawanan”, semacam laporan pandang mata tentang sebuah peristiwa, sebagaimana kerja jurnalistik masa kini. Namun, aspek “khayali” (imajinasi) dan efek dramatik tentu tak lepas dari kerja kepenyairan. Tak diragukan bahwa  SLK bersandar pada fakta-fakta di seputar peristiwa letusan Krakatau 1883, tapi penyair biasanya tidak semata-mata menyalin rupa peristiwa. Mata kepenyairan lebih menukik pada labirin “suasana hati” saat berhadapan dengan fakta (bukan fakta itu sendiri), atau yang disebut “Stimmung” oleh filsuf eksistensialis Jerman, Martin Heidegger (1889-1976). &lt;br /&gt;Tengoklah pengakuan Muhammad Saleh pada bait 3: "Fakir yang daif dagang yang hina/mengarang syair sebarang guna/sajaknya janggal banyak tak kena." Ungkapan perihal kekhilafan yang bisa saja terjadi. Lagi pula, bukankah teks sastra terikat pada bahasa yang digunakannya? Sementara realitas itu semakin dibahasakan, bukan semakin terang, tapi justru semakin menyusut. Itu sebabnya Ludwig Wittgeisten (1889-1951) mensinyalir bahwa bahasa “sewenang-wenang” terhadap realitas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, argumentasi apa yang dapat memperkuat hipotesis bahwa SLK  bisa ditempatkan sebagai dokumentasi historis tentang letusan Krakatau? Sementara dalam ulasannya untuk bait penutup─"Kerana hati gundah gulana/Terlalu banyak pikir kiranya/Terkena demam hampir matinya"─Suryadi mengakui, tak ada jaminan apa yang digambarkan penyair sepenuhnya benar, sebab dalam sastra selalu terbuka ruang untuk berimajinasi (hal.18). Pada bait 235 penyair bahkan menegaskan permohonan maaf bila penggambarannya tentang peristiwa penting itu salah; "Sekedar itulah hamba sebutkan/Khabar yang betul hamba katakan/tetapi tidak dengan penglihatan/Jikalau salah Tuan maafkan." Terbuka kemungkinan bahwa beberapa bagian dari 375 bait dalam SLK  bukan sebagai laporan pandang mata, tapi sebatas tafsir terhadap cerita yang didengar penyair dari sumber tertentu, sebagaimana diakuinya pada bait 84; "Neneknya sendiri yang membilang/Bukannya hamba mengarang-ngarang."        &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kesulitan menjangkau rujukan faktual dari naskah kuno berupa teks sastra pernah pula dialami Henri Chambert-Loir (2009) saat menelaah "Hikayat Nakhoda Asik" dan "Hikayat Merpati Mas," terbit pada paruh kedua abad ke-19. Rujukan geografis dalam kedua teks itu kabur. Hanya ada satu unsur yang dipertahankan pengarang—itupun hanya dalam HNA—yaitu laut. Nakhoda Asyik terus berlayar dari satu negeri ke negeri lain. Di laut ia bertemu dengan putri Asma Penghibur. Di laut pula ia dicelakai menteri yang zalim. Laut di sini sukar ditimbang sebagai rujukan geografis, karena lebih terasa sebagai laut simbolik. "Hikayat Merpati Mas" juga menggambarkan tentang sebuah negeri yang dilanda petaka. "Pada suatu malam datanglah air dari sebekah wetan, gemuruh suaranya, maka segala isi negeri habislah, ada yang berlari ke sana ke mari, ada yang mencari pohon yang tinggi-tinggi." Menurut Henri, teks ini erat kaitannya dengan SLK. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketimbang menegaskan bahwa Hikayat Merpati Mas mengandung fakta-fakta tentang letusan Krakatau 1883, Henri hanya merujuk pada SLK yang berusia lebih tua. Lagi pula, siapa yang menjamin tidak akan ditemukan lagi naskah yang lebih tua? Maka, daripada memartabatkan SLK dalam kerangka kerja historiografi, akan lebih bebas-risiko menempatkannya sebagai teks yang menjalankan fungsi konservasi terhadap sebuah kenangan yang mengharukan, tentang bencana besar yang pernah melanda negeri ini, agar kita tak lupa, tak lena, dan selalu waspada.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul  :  Syair Lampung Karam&lt;br /&gt;(Sebuah Dokumen Pribumi tentang Dahsyatnya Letusan Krakatau 1883)&lt;br /&gt;Penulis  :  Suryadi &lt;br /&gt;Penyunting :  Yurnaldi &lt;br /&gt;Penerbit :  KPSP, Padang&lt;br /&gt;Cetakan  :  II,  Januari 2010 &lt;br /&gt;Tebal  :  200  halaman&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-911038099762321918?l=damhurimuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/911038099762321918/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=911038099762321918&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/911038099762321918'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/911038099762321918'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2010/09/letusan-krakatau-dalam-syair-melayu.html' title='LETUSAN  KRAKATAU DALAM  SYAIR  MELAYU'/><author><name>Damhuri Muhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/-JgCVFjccVOA/Tkyc-iydAsI/AAAAAAAAAIY/v_ip-0ze6tg/s220/pic-id-edit.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/TJbzSUBhjbI/AAAAAAAAAGQ/A3x7er6WRVs/s72-c/syair+lampung.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-4656872905439323854</id><published>2010-06-21T09:01:00.004+07:00</published><updated>2010-06-21T09:13:23.576+07:00</updated><title type='text'>Anak-anak Masa Lalu</title><content type='html'>Cerpen: DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jawa Pos&lt;/span&gt;, Minggu 20 Juni 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BILA tidak ingin celaka, jangan melintas di Jembatan Sinamar pada waktu-waktu lengang, apalagi tepat di saat berserah-terimanya ashar dan magrib! Bukankah begitu sejak dulu, petuah para tetua, perihal jembatan yang tak pernah lekang dan usang itu? Namun, sebagaimana titian biasa runtuh, pantangan biasa dilanggar, bukankah pula, dari masa ke masa, selalu ada gerombolan anak-anak kampung ini, yang diam-diam hendak menyingkap rahasia tersuruk di sebalik pantang dan larang yang terus dimaklumatkan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, dengan segelimang gamang yang tak ditampakkan, mengendap-endaplah bocah-bocah kerempeng itu, tepat pada waktu terlarang. Mula-mula, sayup-sayup terdengar jerit dan rintih anak-anak seusia mereka, bagai sedang didera rasa sakit yang tak tertanggungkan. Seiring rembang petang, makin terang kedengarannya, hingga mereka memercayai suara gaib yang membuat bulu kuduk meremang itu berasal dari lantai Jembatan Sinamar. Menimbang keriuhan yang kian meninggi, rasa-rasanya asal jerit-rintih itu bukan dari satu orang, mungkin dua atau tiga. Lalu, di benak mereka, terbayang jasad anak-anak yang terjepit dalam jejaring beton bertulang. Mereka lekas berbalik, lari pontang-panting, seperti benar-benar sedang diburu hantu petang hari. &lt;br /&gt;Dua hari selepas petang  itu, Tongkin turun tangan. Sebab, Alimba, salah satu dari gerombolan anak-anak pelanggar pantang itu kesurupan. Ia mencak-mencak, lalu membanting barang-barang pecah-belah di rumahnya. Beling dari piring yang berserak di lantai, satu persatu ia kunyah, seperti mengunyah keripik singkong, hingga berderuk-deruk di tenggorokannya. Lantaran tingkah Alimba makin liar, dua  penambang pasir sungai Sinamar meringkusnya, hingga ia menghentak-hentak sambil mengeluarkan pekik yang membuat pedih gendang telinga. Tongkin, dukun pilih tanding, mengerahkan segenap kesaktian, guna merenggut makhluk halus itu dari jasad Alimba. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rumahku di sini, di kampung ini, bukan di Jembatan Sinamar!” ancam Alimba, dengan tatap bengis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tongkin tak peduli gertakan itu. Mulutnya terus komat-kamit, melafalkan mantra-mantra. &lt;br /&gt;“Kau tak akan sanggup mengusirku,” bentaknya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat Tongkin mundur, ia memperkokoh posisi duduknya. Rupanya ia sedang berhadapan dengan lawan bersengat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa kau sebenarnya?” tanya Tongkin dengan napas terengah-engah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Jangan pura-pura tidak tahu! Aku salah satu dari tiga anak yang kepalanya dibenamkan di lantai Jembatan Sinamar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang terperangah. Tongkin menghela napas dalam-dalam. Tak biasanya, roh jahat yang merasuk ke dalam tubuh kasar mengungkap asal-muasalnya. Sesaat kemudian, Alimba tumbang, lalu pingsan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dulu, bila ada yang kesurupan, Tongkin selalu berkilah bahwa makhluk halus yang merasuk hanyalah penghuni sungai Sinamar yang terusik sejak pembangunan jembatan. Namun, setelah Alimba kerasukan, rahasia Jembatan Sinamar mulai tersingkap. Tongkin membenarkan bahwa riwayat usang tentang pemenggal kepala bukan cerita bohong. Kekejaman pemenggal kepala yang telah menjadi kabar petakut di kampung Subarang, ternyata bukan sekadar dongeng pengantar tidur bagi anak-anak malas yang lebih banyak bermain gundu ketimbang membantu orangtua di  ladang. Mulai dari ibu-bapak Alimba, tetangga-tetangga dekat hingga tersiar ke seluruh penjuru kampung, Tongkin membeberkan bahwa jika Jembatan Sinamar hanya dipancangkan dengan beton-beton bertulang, menimbang usianya yang sudah uzur, tentu sudah rubuh. Namun, tiga kepala yang dibenamkan bersama adukan cor, telah membuatnya bagai tiada pernah lekang dimakan usia. Saat gempa dahsyat memporak-porandakan rumah-rumah warga kampung Subarang, Jembatan Sinamar, jangankan runtuh, terguncang pun tidak. Tiang-tiangnya masih menancap kokoh, apalagi lantainya, meski setiap hari truk pasir bermuatan sarat lalu-lalang melintasinya. Dan, itu sudah berlangsung selama bertahun-tahun.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa lalu, kampung Subarang pernah gempar lantaran kehilangan tiga bocah laki-laki, sepulang menonton pacuan sapi, tak jauh dari tepian sungai Sinamar. Mereka dikabarkan hanyut saat menyeberangi sungai itu. Begitu hasil penerawangan batin para dukun yang melacak keberadaan mereka. Berhari-hari sungai Sinamar diselami, dari hilir hingga hulu, tapi mayat mereka tak ditemukan. Setelah semua daya-upaya dilakukan, akhirnya ketiga orangtua dari anak-anak yang hilang tak jelas rimbanya itu memercayai bahwa mereka telah diculik orang bunian. Tidak meninggal sebagaimana yang diperkirakan, tapi mustahil kembali, karena mereka sudah terhisap ke dalam alam halus. Orang-orang Subarang merelakan tiga bocah itu menjadi anak-anak masa lalu yang tak pernah lagi diungkit-ungkit riwayatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, mereka tergoda oleh iming-iming dua lelaki asing namun berperawakan ramah dan baik hati. Mereka dibujuk dengan ajakan menonton pertunjukan kelompok sirkus yang waktu itu sedang manggung di kota kabupaten. Dua lelaki itu mengendarai mobil bak, dan sudah pasti mereka akan dibolehkan bergelantungan di mobil itu. Pengalaman yang mahal untuk ukuran anak-anak kampung Subarang  masa itu. &lt;br /&gt;Namun, sebelum sampai di kota, di sebuah tempat lengang, mobil tiba-tiba berhenti. Salah satu dari dua lelaki asing  turun, mendekati tiga bocah yang sedang asyik bergelantungan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebelum masuk ke arena sirkus, kalian harus pakai ini,” katanya, sembari membagikan topi  warna  hijau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekilas topi itu mirip lackpet yang biasa dipakai tentara zaman dulu. Bila cuaca dingin, dua sisi bawahnya dapat dikancingkan di dagu. Sementara di sisi belakang, yang bersentuhan langsung dengan kuduk, menyembul dua ujung kawat halus sepanjang empat senti. Kawat baja itu tersembunyi di dalam kain yang akan melingkari leher.     &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Arena sirkus akan ramai pengunjung. Topi itu memudahkan  kami mencari kalian, begitu pertunjukan usai.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bila tidak, kalian bisa hilang dalam keramaian.” &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mereka bergegas menyarungkan topi di kepala masing-masing, dan memasang kancing di bawah dagu. Ada yang berdetak di kuduk, bunyinya seperti gembok yang terkunci, hingga leher mereka bagai tercekik. Anak-anak yang telah masuk perangkap diminta turun. Mereka tidak membantah lantaran tenggorokan yang tersekat, sementara topi  tidak bisa dibuka lagi. Dengan posisi menyilang dua lelaki itu menyentakkan kawat baja di kuduk anak-anak itu. Seketika kepala mereka lepas dari badan. Nyaris tak ada pekikan. Penyembelihan yang dingin. Lebih lekas dari menggorok leher sapi. Tiga topi berisi kepala menggelinding di dalam mobil bak, segera diserahkan pada pimpinan proyek pembangunan Jembatan Sinamar.  &lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah meraih gelar insinyur dengan predikat cum-laude dari sebuah universitas ternama di Jawa, belasan tahun lalu, Alimba memang belum pernah pulang. Namun, sosoknya seumpama layang-layang yang sedang tegak-tinggi tali. Jauh, namun tampak dekat. Dekat, tapi tampak jauh. Selalu ada yang berkabar bahwa di tanah Jawa, insinyur Alimba, telah menjadi pemborong besar, utamanya dalam proyek pembangunan jembatan layang. Kualitas konstruksi yang dikerjakan oleh perusahaan milik Alimba telah teruji. Tiga dari lima tender proyek jembatan layang selalu dimenangkan oleh PT.Sinamar Jaya Karya. Tak terbayangkan, Alimba bocah kerempeng dari kampung Subarang, terlahir dari keluarga susah, kini menjadi kontraktor dengan reputasi tak tertandingi, bahkan konstruksi jembatan karya para insinyur tamatan luar negeri tak sanggup mengimbangi  karya-karyanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun ada kelemahan Alimba, itu hanya soal suara-suara gaib yang menyeruak dari setiap jembatan yang pernah dibangunnya. Tepat  di saat bertimbang- terimanya ashar dan magrib, akan terdengar jerit dan rintih anak-anak yang seolah-olah sedang terjepit di dalam jejaring beton bertulang. Siapa yang melintas pada waktu terlarang itu, bakal celaka. Bila tidak tabrakan beruntun, setidaknya kendaraan terguling lantaran kecepatan yang tak terkendali. Sejauh ini sudah tak terhitung jumlah korbannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pasti ada yang tidak beres! Mesti diungkap. Bila kita tidak ingin terus kalah tender,” begitu sinisme seorang pesaing Alimba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana cara membuktikan setan-setan jembatan itu?” tanya anak buahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alimba terlalu kuat. Sekuat konstruksi jembatan hasil karyanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, apalah guna mutu, bila setiap bulan selalu menagih darah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila di masa lalu, Subarang heboh karena kehilangan tiga bocah laki-laki yang telah direlakan menjadi anak-anak masa lalu, kini kampung itu kembali gempar setelah tv dan koran-koran menayangkan kabar tentang seorang kontraktor proyek jembatan layang yang diduga sebagai otak di balik penemuan potongan-potongan tubuh mayat yang belakangan ini telah meresahkan. Dikabarkan, buronan bernama Alimba itu telah membenamkan ratusan butir kepala anak-anak jalanan di dalam jejaring beton bertulang, sebagai tumbal demi kekokohan konstruksi setiap jembatan yang dibangunnya. Orang-orang suruhan Alimba berkhianat, dan menyebarkan jasad-jasad tanpa kepala di setiap penjuru kota, hingga reputasi PT.Sinamar Jaya Karya tak terselamatkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kejauhan, orang-orang Subarang berdoa semoga Alimba, si pemenggal kepala, beroleh tempat bersembunyi yang tidak bakal terlacak siapapun. Betapapun sadisnya perbuatan Alimba, ia telah menghidupi anak-anak muda yang dulu hanya pemadat jalan di kampung Subarang, kini menjadi orang-orang yang beruntung di perantauan. Alimba menampung dan mempekerjakan mereka.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini salah Tongkin,” umpat salah seorang tetua kampung Subarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tongkin sudah mati. Ia  jangan dibawa-bawa!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukankah Tongkin yang membeberkan cerita tentang pemenggal kepala, dan Alimba mengambil pelajaran dari situ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daruih, dukun muda pewaris kesaktian Tongkin, menyanggah. Baginya, kabar yang telah menjadi aib kampung Subarang bukan salah Tongkin, bukan pula  Alimba, tapi ulah salah seorang dari anak-anak masa lalu, tumbal Jembatan Sinamar. Arwah yang pernah merasuki Alimba semasa kanak-kanak tak sungguh-sungguh pergi, hingga kini bahkan masih bersarang di tubuh insinyur hebat itu. Ia melunaskan dendam lewat tangan Alimba…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cahaya titis, 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-4656872905439323854?l=damhurimuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.jawapos.com/mingguan/index.php?act=detail&amp;nid=140600' title='Anak-anak Masa Lalu'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/4656872905439323854/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=4656872905439323854&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/4656872905439323854'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/4656872905439323854'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2010/06/anak-anak-masa-lalu.html' title='Anak-anak Masa Lalu'/><author><name>Damhuri Muhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/-JgCVFjccVOA/Tkyc-iydAsI/AAAAAAAAAIY/v_ip-0ze6tg/s220/pic-id-edit.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-910322002117953033</id><published>2009-10-22T12:34:00.002+07:00</published><updated>2009-10-22T12:40:51.499+07:00</updated><title type='text'>Dari Gontor ke Trafalgar Square...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/St_wGbZ8j4I/AAAAAAAAAFA/Wlpn3wE5ijE/s1600-h/n5m+2.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/St_wGbZ8j4I/AAAAAAAAAFA/Wlpn3wE5ijE/s320/n5m+2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5395294871839608706" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jawa Pos,&lt;/span&gt; Minggu 18/10/2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BEBERAPA bulan lalu sebuah media melansir kabar perihal sinisme seorang pejabat—di lingkungan Pemprov Sumbar—terhadap etos kepengarangan novelis-novelis asal Minang yang katanya sedang merosot, sehingga mereka tidak mampu melahirkan karya-karya besar seperti "Laskar Pelangi", novel yang bisa membuat Belitong—kampung asal pengarangnya—tersohor hingga ke pelosok-pelosok. Ekspektasi petinggi itu terhadap “novel bermutu” dari para pengarang Minang dapat memicu sejumlah pertanyaan, misalnya, apa kriteria “karya besar” itu? Apakah novel yang berhasil menangguk apresiasi ratusan ribu pembaca, sehingga latar demografi dan geografi—sandaran kisahnya—menjadi termasyhur, dengan serta-merta dapat dinobatkan sebagai karya besar? Kalau begitu apa bedanya teks sastra dengan teks-teks dalam brosur-brosur yang diiklankan oleh biro perjalanan wisata? Bagaimana dengan novel yang sengaja menyamarkan latar tempatan? Apakah novel itu mustahil terkukuhkan sebagai karya besar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain “karya besar” yang ditakar dengan ketersohoran latar tempatannya di kemudian hari, ada pula yang menimbang keberhasilan novel dari sisi “memotivasi” atau “tidak-memotivasi” pembaca. Kalau begitu, apa bedanya novel dengan buku-buku berjenis how to? Bagaimana kalau sebuah novel tidak berpretensi mempromosikan latar tempatan dan tidak berkecenderungan memotivasi pembacanya? Apakah novel itu tidak memenuhi “syarat-rukun” kenovelan, dan tak patut dikukuhkan sebagai buku bermutu? Inilah sejumlah kegamangan yang muncul akibat dominasi pendekatan non-artistik terhadap kreativitas literer. Akibatnya, unsur-unsur estetik dan artistik menjadi terabaikan lantaran pengalaman baca hanya sampai pada pencapaian pesan-pesan etik dan didaktik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Negeri 5 Menara", novel karya A. Fuadi ini memperlihatkan betapa dominannya parameter non-artistik dalam menentukan kualitas dan kedalaman sebuah karya sastra. Sampul belakang buku ini sarat dengan endorsement yang ditulis oleh nama-nama beken, dari mantan presiden, sutradara tersohor, gubernur, budayawan, intelektual hingga pimpinan pesantren. Hampir semua komentar itu menyingkapkan segi-segi etik dan didaktik dari novel setebal 416 halaman ini. Tak satupun ulasan dari sudut pandang estetika sastrawi. Apakah segi-segi estetik dan artistik yang sepatutnya menjadi kriteri utama dalam menimbang sebuah karya sastra tidak lagi penting?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkisah tentang upaya keras enam orang santri di sebuah pondok pesantren dalam menggapai obsesi dan cita-cita besar mereka. Setelah menghadapi kegiatan belajar-mengajar yang sedemikian padat dan aturan-aturan kedisiplinan ekstra ketat di Pondok Madani (PM), Alif (Padang), Atang (Bandung), Raja (Medan), Dulmajid (Sumenep) Said (Mojokerto) dan Baso (Gowa), bersembunyi di bawah menara masjid PM, membangun mimpi-mimpi masa depan dengan mantra ampuh yang sama-sama mereka percayai; man jadda wajada (siapa yang bersungguh pasti akan sukses). Alif tidak pernah mengira bahwa ia akan jadi santri PM yang disebut-sebut telah mencetak banyak ulama dan intelektual muslim itu. Sebab, sejak kecil ia ingin menjadi “habibie”. Baginya, Habibie tidak dalam arti seorang teknokrat jenius, tapi sebuah profesi sendiri, lantaran ia sangat kagum pada tokoh itu. Itu sebabnya Alif ingin masuk SMA, dan kelak akan melanjutkan pendidikannya ke ITB, sebagaimana riwayat perjalanan intelektual Habibie. Namun, ibunda Alif menginginkan anaknya mewarisi keulamaan Buya Hamka, ulama kondang yang lahir dan besar tidak jauh dari Bayur, tanah kelahiran Alif. Maka, dalam kebimbangan Alif menerima tawaran itu, hingga ia bertemu dengan santri-santri berkemauan keras seperti Baso yang mati-matian menghafal 30 juzz Qur’an sebagai syarat guna menggapai impiannya bersekolah di Madinah. Begitu juga dengan Raja, Dulmajid, Said, dan Atang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya beberapa bulan waktu berbicara dengan bahasa Indonesia bagi santri-santri baru di PM, setelah itu mereka wajib berbicara dalam bahasa Arab atau bahasa Inggris. Bila aturan dilanggar, ganjarannya tidak main-main, bila tidak digunduli, sekurang-kurangnya bakal dapat jeweran berantai. Bahkan bila pelanggarannya berat, santri bisa dipulangkan. Saking kerasnya kemauan para sahibul-menara untuk menguasai percakapan dalam kedua bahasa asing itu, gigaun dalam tidur mereka pun terungkapkan dalam bahasa Arab. Berkali-kali mereka tertangkap basah melanggar aturan, terlambat datang ke masjid—lantaran matanya yang sukar diajak kompromi—atau ketahuan berbicara dalam bahasa Indonesia, berkali-kali pula mereka harus menghadap ke "Qism Al-amni" (bagian keamanan pondok), diganjar hukuman dengan menjadi "jasus" (mata-mata bagi santri yang melakukan pelanggaran).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan deskripsi ruang yang nyaris sempurna, A Fuadi berhasil memetakan seluk-beluk dunia pesantren modern yang selama ini hanya menjadi cerita dari mulut ke mulut. Pahit dan getir, riang dan gamang kaum santri dengan humor khas pesantren ditandaskannya dengan modus pengisahan yang menakjubkan. Tengoklah pelbagai alasan yang sengaja dirancang sahibul-menara agar mereka beroleh ijin keluar PM, bersepeda mengelilingi kota Ponorogo, dan tak lupa melintas di pintu gerbang pesantren puteri, sekadar “nampang”. Begitu pula dengan siasat Dulmajid memengaruhi ustadz Torik agar beroleh ijin nonton bareng pertandingan final bulutangkis di lingkungan PM, padahal "Qanun" (aturan pondok) menegaskan, santri PM dilarang menonton TV. “Ustad, lob antum itu mirip sekali dengan punya Icuk dan smes antum mirip Liem Swie King. Kalau nggak percaya kita tonton siaran langsung besok malam.” Ustad Torik langsung takluk, dan terjadilah peristiwa bersejarah itu: TV masuk PM. Satirisme macam ini mengingatkan kita pada kolom Emha Ainun Nadjib, "Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai" (1994) tentang seorang kiai pesantren yang bersikukuh melarang murid-muridnya mendengar lagu dangdut, tapi begitu alunan lagu yang mendayu-dayu itu sayup-sayup terdengar, di bawah meja, ujung kaki kiai bergoyang-goyang ritmik secara spontan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat satirisme khas kaum santri inilah segi-segi estetik novel ini dapat ditandai, hingga martabat kenovelannya tidak semata-mata ditakar dengan nilai didaktik dan etiknya saja. Bukankah jalan sastra adalah ikhtiar merancang sebuah alegori dari pelbagai realitas faktual yang menjadi panggilan penciptaan pengarangnya? Maka, kerja pemaknaan terhadap teks novel tak segampang sebagaimana yang dilakukan para komentator novel ini. Bahwa kemudian ditemukan tendensi-tendensi didaktik, itu kenyataan yang tak bisa dielakkan, karena setiap pembaca berhak menafsirkannya sesuai dengan kepentingan masing-masing. Pelbagai istilah yang dewasa ini berhamburan di bursa penjualan buku sastra seperti “novel pembangunan jiwa”, “novel spritual”, “novel motivasi”, termasuk “novel yang terinspirasi kisah nyata” sebagaimana termaktub di sampul depan Negeri 5 Menara ini, alih-alih dapat menjembatani novel ini dengan penikmatnya, justru akan mendistorsi estetika kenovelannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak dipungkiri bahwa di sebalik kisah yang digarap A. Fuadi dalam buku ini, ada pengalaman empirik, katakanlah semacam fakta-fakta keras semasa pengarang mondok di Gontor yang menjadi muasal pengisahannya. Tapi, dalam kerja kepengarangan, fakta-fakta keras itu digiling sehalus-halusnya oleh imajinasi, sehingga tidak bisa lagi dilihat dengan kaca mata hitam-putih, tidak bisa diukur secara positivistik. “Imajinasi” di sini bukan dalam pemahaman yang menyehari. Filsuf Arab, Al-Farabi (850-950) dalam kitabnya Ara’ Ahl Madinah Wa Al-Fadhilah menyebutnya "Quwwatul Muttakhilah", semacam potensi dalam subyek, yang berpijak pada pengalaman empirik dan penalaran (reasoning), sehingga ia sangat berbeda dengan “fantasi”—yang tidak perlu berangkat dari pengalaman inderawi, apalagi penalaran. Dalam epistemologi Al-Farabi, “imajinasi” dalam batas-batas tertentu bahkan dapat melampaui pencapaian akal-budi dan pengalaman empirik itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, dunia imajiner dalam Negeri 5 Menara, bukan lagi semata-mata dunia A Fuadi dan sejawat-sejawatnya semasa di Gontor. Kisah yang disudahi pengarang dengan reuni bersejarah di Trafalgar Square, London— setelah 15 tahun masa-masa sulit di PM berlalu—telah terdedahkan sebagai ruang fiksional dengan segenap kemungkinan tak terduga yang menyertainya. Bukankah Alif (Washington DC), Atang (Kairo) dan Raja (London) yang bertemu pada sebuah konfrensi di London tidak pernah terbayangkan sebelumnya? Mereka tak pernah menyangka para sahibul-menara bakal mengenggam impian masing-masing. Yang mereka tahu hanya "man jadda wajada", siapa bersungguh-sungguh, bakal sukses. Dulu memendam gamang di bawah menara masjid PM, kini girang-gemirang di bawah menara Trafalgar Square, London. Dulu menjual mengkudu, kini berdagang durian, dulu tidak laku, kini jadi rebutan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DATA BUKU :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul     : Negeri 5 Menara&lt;br /&gt;Penulis   : A.Fuadi&lt;br /&gt;Penerbit  : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan   : I, Juli 2009&lt;br /&gt;Tebal     : 416 halaman&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-910322002117953033?l=damhurimuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/910322002117953033/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=910322002117953033&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/910322002117953033'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/910322002117953033'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2009/10/dari-gontor-ke-trafalgar-square.html' title='Dari Gontor ke Trafalgar Square...'/><author><name>Damhuri Muhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/-JgCVFjccVOA/Tkyc-iydAsI/AAAAAAAAAIY/v_ip-0ze6tg/s220/pic-id-edit.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/St_wGbZ8j4I/AAAAAAAAAFA/Wlpn3wE5ijE/s72-c/n5m+2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-385511171540608482</id><published>2009-08-07T11:59:00.002+07:00</published><updated>2009-08-07T12:06:21.316+07:00</updated><title type='text'>ROMANTIKA PASCA-ENAM LIMA</title><content type='html'>Oleh: DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kompas,&lt;/span&gt; Minggu 02/08/2009)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BILA watak kepengarangan ditinjau berdasarkan ranah tematik yang dijelajahi seorang sastrawan, maka luka dan nestapa para eks-tapol pasca-1965 begitu identik dengan prosa-prosa karya Martin Aleida. Sukar disanggah jika dikatakan bahwa rupa-rupa peristiwa tragis-traumatis yang ditanggung para pewaris “dosa turunan”—lantaran stigma PKI—adalah “kampung halaman” kepengarangan mantan aktivis termuda LEKRA itu, sejak dari kumpulan cerpen "Malam Kelabu, Ilyana dan Aku" (1998), novelet "Layang-Layang Itu Tak Lagi Mengepak Tinggi-tinggi" (2000), hingga kumpulan cerpen "Leontin Dewangga" (2003). Sastrawan yang dijuluki sebagai penggerak “sastra kesaksian” itu tampak sukar untuk beranjak dari medan tempuh yang itu-itu juga. Disingkapnya setiap pintu, disiginya setiap ruang, disibaknya setiap tabir. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Demikian pula dengan konstruksi realitas yang terbangun dalam kumpulan cerpen, "Mati Baik-Baik, Kawan" (2009). Meski dimaksudkan sebagai antologi baru, namun dari segi materi cerpen, mungkin lebih patut disambut sebagai “barang lama stok baru”. Dari sembilan cerpen dalam buku itu, masih ada "Leontin Dewangga",  "Ode Untuk Selembar KTP"  dan  "Malam Kelabu" yang sudah pernah terbit sebelumnya. Begitupun "Dendang Perempuan Pendendam"—pernah terbit tahun 2007—dan "Bertungkus Lumus", yang masuk dalam antologi cerpen TITIAN (2008). Kalaupun ada kebaruan, mungkin bukan pada aspek kandungan cerpen, tapi dari payung tematik yang dengan ketat membuhul semua cerpen, yakni serba-serbi pengalaman traumatik pasca-1965. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Asvi Warman Adam (2004) pernah menimbang cerpen-cerpen Martin sebagai upaya mengejek dan menertawakan nasib orang-orang yang tergetahi stigma PKI. Bila bagi orang-orang beriman, jodoh, rejeki, dan mati, ada di tangan Tuhan, bagi mereka yang diduga terlibat G30S/PKI, ada yang jauh lebih berkuasa. Peruntungan mereka lebih ditentukan oleh stigma PKI itu. Perjodohan bisa batal bila seseorang ketahuan berasal dari keturunan keluarga PKI—meski ia tidak tahu-menahu soal komunisme dan tidak pernah meminta untuk dilahirkan sebagai anak PKI. Bagi Asvi, di titik inilah upaya perlawanan cerpen-cerpen Martin Aleida dapat ditandai.  Lebih jauh, Katrin Bandel (2009)—sebagaimana tertera pada catatan penutup buku itu—menegaskan, “tampak jelas Martin bukan sekadar ingin menceritakan peristiwa 65 dari perspektif yang berbeda, ia juga punya misi untuk melawan pemalsuan sejarah.” Cara menimbang yang agak berlebihan dalam konteks pembacaan teks sastra. Sekadar geliat perlawanan tentu tak disangsikan, tapi cukup berdayakah teks sastra disetarakan dengan konsep historiografi tertentu? Sejarah dipancangkan atas dasar kepastian epistemologis (benar-salah, terjadi atau tak-terjadi) sementara teks sastra digubah atas dasar pencapaian estetika sastrawi. Sejarah adalah “dunia sesungguhnya”, sebaliknya sastra adalah “dunia seandainya”. Lalu, di titik manakah napas perlawanan itu bisa tertandai?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Maka, sudah waktunya semesta cerita dalam cerpen-cerpen Martin Aleida diselami lebih dalam, agar pembaca tidak buru-buru pada fakta yang memang sengaja dimunculkan, dan tidak lupa bahwa cerpen adalah sebuah karya seni yang dibangun dengan keterampilan artistik, yang tentu tidak hanya berdiri sebagai juru bicara “sejarah versi baru” sebagaimana diharapkan. Salah satu sisi yang kerap terabaikan—bila tidak bisa disebut ‘sengaja dilupakan’—adalah bahwa kerja pembacaan tidak pernah lepas dari konteks ruang-waktu yang menyertainya, sehingga pengulangan demi pengulangan tidak menjadi sebuah kesalahan.  Akan selalu ada yang “baharu” di setiap fase pembacaan, lantaran ruang-waktu yang terlibat di dalamnya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dipastikan ada perbedaan persepsi yang signifikan antara pengalaman baca terhadap cerpen "Malam Kelabu" lima tahun lalu dengan pengalaman baca terhadap cerpen yang sama di tahun ini. Boleh jadi, mainstream-nya bukan lagi peristiwa amuk massa yang membakar rumah Partini lantaran keluarga itu menyembunyikan gembong PKI—hingga Partini, Ibu dan adik-adiknya tewas dalam kebakaran itu—tapi beralih pada gejolak asmara Kamaluddin Armada yang jauh-jauh datang dari Jakarta ke desa Soroyudan—seberang sungai Bengawan Solo—guna melamar Partini, kekasih pujaannya. Sejak mula, tiada sesuatu  yang disembunyikan Partini. Pada Kamaluddin, ia mengakui bahwa ayahnya (Mulyoraharjo), mantan gembong PKI yang semasa berkuasa sangat ditakuti, ia pembela setia Barisan Tani Indonesia (BTI) dalam aksi-aksi pencaplokan tanah. Kamaluddin juga tahu bahwa calon mertuanya itu menghilang dan tak pernah kembali setelah gestapu. Tapi, kejujuran Partini tidak meredupkan gairah cinta Kamaluddin. Dengan segenap rindu yang membuncah ia datang ke Solo, hendak mempersunting anak gadis gembong PKI itu. Sejauh-jauh matamu memandang, yang tampak hanya sawah. Sawah semata.Dan lihatlah ke kanan Mas, inilah desa di mana adikmu menunggu, Soroyudan, begitu bunyi surat Partini yang menjadi petunjuk jalan bagi Kamaluddin. Inilah romantika tak biasa yang digarap Martin guna melawan stigma PKI. Atas nama cinta, diterabasnya segala pantangan, dilangkahinya segala tabu, termasuk tabu menikahi anak PKI. Realitas ini bertolak belakang dengan tinjauan Asvi Warman Adam—karena stigma PKI perjodohan bisa batal. Di cerpen Malam Kelabu ini, jangankan anak PKI, bahkan bila Partini “anak-jadah” sekalipun, Kamaluddin tiada bakal berpaling ke lain hati. Tengoklah, begitu kematian Partini terpastikan, ia bunuh-diri, menyusul kekasihnya. Dan, kematian itu dipastikan tak ada hubungannya peristiwa-peristiwa berdarah pasca-65. Ia mati demi cintanya pada Partini. Tragedi yang tak kalah lebih menyakitkan dari kematian orang-orang eks PKI yang satu persatu “dijemput malam” selepas peristiwa gestapu.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Romantika serupa juga muncul di "Leontin Dewangga", khususnya kisah cinta Abdullah Peureulak dan Dewangga, dua sejoli yang justru dipertemukan oleh silang-sengkarut peristiwa 65. Setelah bertahun-tahun hidup sebagai pasangan suami-istri  Abdullah akhirnya mengaku telah mengkhianati Dewangga, bahwa sebelum menikahi perempuan itu, ia bukan “lelaki baik-baik” tapi mantan tapol yang dimusuhi banyak orang dan hidup menggelandang demi menghindari kejaran. Dewangga yang saat itu sedang bertarung melawan kanker stadium akhir bukannya kecewa dan berpaling, tapi makin teguh memercayai bahwa Abdullah sungguh-sungguh telah memartabatkan ia sebagai perempuan. Pada detik-detik terakhir sebelum kematiannya, Dewangga merenggut Leontin yang melingkar di lehernya, lalu diberikannya pada suaminya. Abdullah terperangah melihat simbol bulan sabit merah dari sebuah katup yang ia buka pada Leontin itu, lambang gerakan tani yang melancarkan aksi sepihak guna melaksanakan Undang-Undang Pokok Agraria. Dewangga menerima hadiah Leontin itu dari ayahnya sewaktu ia berusia 17 tahun. Sejak 1965, ayah Dewangga tak pernah pulang, persisnya setelah seorang algojo datang menjemputnya. Maka, nasib Dewangga tak jauh beda dengan ketakmujuran Abdullah, perempuan itu juga pernah ditahan, ia bebas setelah merelakan tubuhnya ditiduri oleh seorang komandan militer. Setali tiga uang dengan Kamaluddin-Partini, Abdullah-Dewangga, dua sejoli yang sehidup-semati, meski kedua pasangan itu sama-sama tak mampu melarikan diri dari  stigma PKI yang telah menelan banyak korban tak berdosa. Tapi, tabu setangguh apapun, tiada bakal berkutik  di hadapan cinta sejati. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Seandainya tabu lantaran stigma PKI sebagaimana tampak pada romantika Malam Kelabu dan Leontin Dewangga dialih-rupa dengan tabu-tabu subversif lainnya, kisah tetap akan berdiri sebagai peristiwa yang mandiri, tanpa harus bergantung pada fakta-fakta yang selalu dimunculkan. Inilah yang disebut Willem G. Weststeijn (terj  Akhadiati Ikram, 1991) sebagai kisah yang “memiliki dunianya sendiri”, sehingga pembaca tidak perlu mencari rujukan-rujukan faktualnya. Dengan begitu, cerpen-cerpen Martin Aleida tidak perlu pula dicurigai mengusung tendensi tertentu.  “Kisah yang memiliki dunianya sendiri” pada "Malam Kelabu", "Leontin Dewangga", "Bertungkus Lumus" dapat disebut  sebagai  Romantika Pasca-65…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-385511171540608482?l=damhurimuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/385511171540608482/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=385511171540608482&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/385511171540608482'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/385511171540608482'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2009/08/romantika-pasca-enam-lima.html' title='ROMANTIKA PASCA-ENAM LIMA'/><author><name>Damhuri Muhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/-JgCVFjccVOA/Tkyc-iydAsI/AAAAAAAAAIY/v_ip-0ze6tg/s220/pic-id-edit.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-6558141579353030723</id><published>2009-07-23T19:07:00.000+07:00</published><updated>2009-07-23T19:09:18.778+07:00</updated><title type='text'>Optimisme Dalam Prosa Betawi</title><content type='html'>Oleh: DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kompas&lt;/span&gt;, 18/07/09)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KHAZANAH Betawi yang terhidang dalam prosa tidak lepas dari peran kepengarangan SM Ardan (1932-2006) sebagaimana terlihat dalam bukunya "Terang Bulan Terang Di Kali" (1955)—dicetak-ulang oleh Masup Jakarta (2007). HB Jassin (1954) mencatat, karya-karya Ardan sangat membantu ahli ilmu bahasa, ilmu bangsa-bangsa dan kemasyarakatan dalam penelitian tentang Jakarta. Dialek lahir, tumbuh dan mati. Adat dan kebiasaan muncul, berubah, dan hilang. Begitu pula permainan anak-anak Betawi yang lahir, tumbuh, sirna. Amat besar jasa Ardan dalam mendokumentasikannya. Menurut Ajip Rosidi (2007), istilah “cerita” pada antologi cerita pendek SM Ardan itu kurang tepat, karena (kecuali satu-dua cerpen) tidak ada ceritanya sama sekali. Periksalah Pulang Pesta, Pulang Siang, atau Bang Senan Mau ke Mekah, tidak menjalin cerita, hingga yang terasa hanya “suasana”. Kalaupun ada cerpennya yang mengandung “cerita”, bagi Ajip, cerita itu tidak seru, menyehari, gampang dijumpai dalam keseharian orang-orang kecil Jakarta masa itu. Tapi, justru di sinilah keistimewaan Ardan. Boejoeng Saleh (1955)—dikutip JJ.Rizal (2007)—mencatat, ibarat seorang kameramen, Ardan punya lensa tajam. Ia tak hanya memotret realitas eksotik-romantik, tapi juga realistik; kenyataan yang sepahit-pahitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila pengalaman baca terhadap karya-karya Aman Dt. Majoindo (1896-1969), M. Balfas (1921-1975), Firman Muntaco, hingga SM. Ardan, menimbulkan kesan: “Ternyata orang Betawi seperti itu ya,” maka prosa-prosa berlatar Betawi garapan para pengarang masa kini mendedahkan sebentuk keheranan: “Ternyata orang Betawi kini sudah banyak berubah, tidak seperti Betawi yang dulu.” Tengoklah "Rumah Kawin" (2004) antologi cerpen Zen Hae, "Sebelas Colen di Malam Lebaran" (2008) karya C.G Ramadhan, "Rosid dan Delia" (2008) novel karya Ben Sohib, dan yang paling mutakhir, "Kronik Betawi" (2009) karya Ratih Kumala. Resistensi masyarakat Betawi terhadap modernisasi Jakarta yang semakin mengaburkan—bila tidak bisa disebut menggerus—identitas dan kejatidirian mereka, ditampakkan oleh karya-karya pengarang muda itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zen Hae dalam "Kelewang Batu" misalnya, melakukan demitologisasi kisah usang tentang para pemburu mustika api milik naga raksasa yang konon diberkati dewa-dewa sebagai penguasa jazirah selatan selama 2882 purnama. Maka, pertarungan hebat tak terhindarkan, hingga naga itu tumbang. Selepas pertarungan itu, danau kering, tanah tempat matinya naga itu menjadi sebuah kampung yang kelak disebut Kampung Naga. Bekas-bekas jejak naga menjelma sungai yang kelak dikenal “Kali Bangkai”. Penduduk setempat menyebutnya Kali Bangke, dan keturunann berikutnya melafalkannya; Kali Angke. Begitu salah satu versi riwayat Kali Angke yang kini telah dilupakan, karena itu perlu dibangkitkan kembali. Modus pengisahan serupa terjadi pula pada Hikayat Siti Rahima, bertolak dari mitos sebagai medium guna menyuarakan sikap kritis orang Betawi terhadap gairah hedonisme Jakarta yang nyaris tak terbendung itu, tentang sebuah pohon keramat yang ditunggui arwah perempuan terkutuk akibat bunting di luar nikah. Sebagaimana cerita-cerita tentang pohon anker, siapa nekat menebangnya, fatal akibatnya. Tapi karena tamak dan kemaruk, pohon keramat “diembat” juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak banyak warga Jakarta yang tahu bahwa dulu, di salah satu belahan kota itu, orang Belanda pernah membangun sebuah rumah mewah dengan ukiran-ukiran Jawa dan lukisan-lukisan ala Eropa. Pemilik rumah itu menyebutnya “pondog”, dan karena ukurannya besar sekali—sementara rumah-rumah di sekitarnya rata-rata berukuran kecil—orang menyebutnya “pondog gede”. Begitu riwayat singkat perihal sebuah nama daerah yang kini dikenal sebagai Pondok Gede. Para pendatang hanya tahu “menteng” sebagai kawasan gedongan, hunian orang-orang “tajir” dan berada , padahal “menteng” sejatinya adalah nama buah. Begitu pula “bintaro” yang sesungguhnya adalah nama pohon. Seiring dengan semakin menterengnya wajah Jakarta, tak hanya khazanah tanaman itu yang terlupakan, sejarah, kearifan dan memori kolektif tentang Jakarta juga tenggelam dalam hingar-bingar panggung kosmopolitanisme. Suasana nostalgik—sekaligus ironik—semacam ini tergambar dalam novel "Kronik Betawi" (2009), karya Ratih Kumala, yang secara terang-benderang memperlihatkan wajah Jakarta sebagai ironi. Betapa tidak ironis bila orang asli Jakarta terlambat menyadari bahwa tugu monas yang tersohor itu ternyata tidak lagi menjadi bangunan tertinggi, karena ketinggiannya telah dilampaui oleh gedung-gedung jangkung tegak-berdiri bak cendawan di musim hujan. Lebih ironis lagi ketika kampung mereka telah menjadi deretan ruko-ruko yang tidak lagi menyisakan ruang, bahkan untuk sekadar leluasa berjalan kaki, arena bermain masa kanak-kanak mereka disulap menjadi kompleks perkantoran—saking berdempetannya, tidak menyisakan sekadar tanda, di titik mana lingkungan masa kecil itu pernah berada. Inilah dampak dari gerak perubahan yang sedemikian tergesa. Artifak-artifak yang menyimpan kesadaran kolektif orang Betawi tentang tanah kelahiran mereka telah karam, mereka kehilangan kampung halaman, dan perlahan-lahan tergusur ke pinggiran, menjadi perantau di negeri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kronik Betawi" mengisahkan sebuah keluarga Betawi, pewaris usaha peternakan sapi perah. Setelah berkali-kali mengelak dari bujuk-goda dan iming-iming untuk tidak melepas tanahnya di daerah Kuningan, Jaelani—kepala keluaga itu—akhirnya takluk juga, menyusul sejawat dan kerabat yang telah lebih dahulu angkat kaki. Keluarga Jaelani pindah ke Ciganjur, sementara sapi-sapi perah itu diboyongnya ke Pondok Rangon. Meski telah tersingkir, Jaelani tidak tertarik membangun rumah-rumah kontrakan seperti sejawat-sejawatnya yang “ujug-ujug” telah menjadi juragan. Tapi, bertahan dengan etos kemandirian orang Betawi ternyata tidak gampang. Japri dan Juned, dua anak laki-lakinya lebih tergiur menjadi tukang ojek ketimbang mengurus sapi-sapi di kandang, hingga akhirnya usaha itu nyaris bangkrut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap tokoh dalam Kronik Betawi memikul beban persoalan orang Betawi masa kini. Bila Jaelani harus menerima kenyataan tentang anak-anak yang tidak punya etos mandiri, Jarkasi (adik Jaelani) berhadapan dengan betapa sulitnya mempertahankan kesenian tradisional Betawi di kurun R &amp; B dan Jazz ini. Ia mendedikasikan hidupnya demi kelesatrian Gambang Kromong—semacam orkes, perpaduan antara gamelan, musik Barat dan corak kesenian Cina. Jarkasi jatuh-bangun sebagai seniman Betawi. Baginya, tanah kelahiran bolehlah lenyap ditelan gemuruh perubahan Jakarta, tapi Betawi masih punya Lenong dan Gambang Kromong, yang sedapat-dapat harus tetap hidup. Seni, satu-satunya milik mereka yang belum terbeli. Namun, Jarkasi tak bisa menutup mata bahwa apresiasi terhadap kesenian tradisional begitu minim. Kerap ia berselisih paham dan Enden (istrinya) lantaran ia bersikukuh mendukung bakat seni Edah (anak gadisnya) sebagai penari. Di mata sebagian orang, penari identik dengan perempuan panggung yang boleh dicolak-colek oleh para lelaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibanding dengan pesimisme orang Betawi yang telah kehilangan tanah-pangkal, seperti dalam cerpen "Dahulu" (C.G. Ramadhan), atau keterasingan Mat Jago, lantaran tidak bisa lagi unjuk gigi di panggung-panggung Gambang Kromong, seperti dalam cerpen "Rumah Kawin" (Zen Hae), tokoh-tokoh dalam "Kronik Betawi" lebih riang—lelucon khas Betawi terselip di sana-sini—dan bergairah. Tengoklah Juleha (adik bungsu Jaelani)—meski juga menanggung beban—habis-habisan mendukung Edah sebagai penari Betawi, bahkan ia ikut berperan dalam keberhasilan Edah sebagai salah satu penari Betawi yang terpilih untuk tampil di pentas terhormat di negeri Belanda. Di satu sisi, Juleha yang terpuruk dalam kesendirian sejak suaminya menikah lagi terasa memperkuat citraan tentang laki-laki Betawi yang “doyan kawin”, tapi pada sisi lain, pengarang memperlihatkan kesetiaan Jaelani pada almarhumah istrinya. Bahwa kemudian ia menikahi Salomah, itu bukan karena Jaelani “doyan kawin”, tapi karena “tidak baik lama-lama menduda”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Optimisme dalam menyongsong masa depan Betawi yang gemilang tampak kentara pada kerja keras Salomah guna melanjutkan pendidikan anaknya (Fauzan), hingga jenjang universitas. Diceritakan, Fauzan berhasil meraih predikat “tukang insinyur” dari perguruan tinggi terbaik di Jakarta, lalu beroleh beasiswa untuk melanjutkan studi di Amerika. Bagian ujung "Kronik Betawi" menampilkan Salomah- Jaelani sebagai manusia Betawi yang terobsesi hendak mencetak kaum intelek, agar orang Betawi tidak sekadar menjadi juragan kontrakan, calo tanah, atau tukang ojek. Sebagaimana dibuktikan oleh sejarah terkini, Jaelani ingin kaumnya menjadi orang-orang yang diperhitungkan, disegani, dan bukan kuli di kampung sendiri…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-6558141579353030723?l=damhurimuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/6558141579353030723/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=6558141579353030723&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/6558141579353030723'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/6558141579353030723'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2009/07/optimisme-dalam-prosa-betawi.html' title='Optimisme Dalam Prosa Betawi'/><author><name>Damhuri Muhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/-JgCVFjccVOA/Tkyc-iydAsI/AAAAAAAAAIY/v_ip-0ze6tg/s220/pic-id-edit.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-7624095514489097963</id><published>2009-06-15T14:33:00.001+07:00</published><updated>2009-06-15T14:35:19.103+07:00</updated><title type='text'>BADAR BESI</title><content type='html'>Cerpen DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jawa Pos&lt;/span&gt;, Minggu, 14/6/2009) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Centeng los daging yang ditakuti para pemalak di pasar ini di masa lalu hanya seorang tukang cukur. Meski begitu, menjadi tukang cukur, baginya, adalah sebuah kuasa yang belum tentu dimiliki oleh pembunuh bertangan dingin sekalipun. Betapa tidak? Tanpa gamang dan was-was, leluasa tangannya menekan, menekuk, dan bila perlu memelintir tempurung kepala siapa saja yang sedang dicukurnya. Di tangannya, semua kepala sama harganya, atau barangkali tak berharga. Tak peduli orang terpandang, tetua adat yang pantang disentuh bahkan ujung rambutnya sekalipun, atau jawara kampung yang kerap menagih jatah begitu gilirannya duduk di kursi cukur, bila bertingkah macam-macam, tukang cukur itu tentu sangat berpeluang menggunting daun kupingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di suatu senja yang sepi pelanggan, ia kedatangan bocah sembilan tahun yang memohon-mohon, merengek-rengek, agar rambutnya lekas dipangkas. Rona mukanya ketakutan, matanya merah-sembab. Ia mengaku rusuk dan pinggangnya memar setelah dicambuki bapaknya dengan ikat pinggang ukuran sedang. Bapaknya naik darah, sebab sudah kerap ia disuruh pangkas rambut, tapi suruhan itu bagai masuk di telinga kanan, tapi keluar lagi di telinga kiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Upah pangkas dari bapak sudah habis untuk beli gundu. Begitu ada uang jajan lagi, akan saya bayar.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tukang cukur tak berpikir panjang. Dililitkannya kain belacu buram di leher anak itu hingga tertutup sekujur tubuhnya, agar bekas-bekas potongan rambut tidak lengket di bajunya. Gunting di kanan, sisir di kiri. Tak berselang lama, ia merasa ada yang janggal. Rambut anak itu tak seperti rambut pelanggan biasanya --yang begitu dimakan gunting langsung jatuh berserak di atas kain belacu. Ia mengira mungkin guntingnya sudah majal lantaran lama tak diasah, karena itu digantinya dengan yang lebih tajam. Tapi rambut itu tetap tak mempan digunting. Begitu keras, begitu kesat, bagai menggunting kawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Ini rambut atau kawat baja? Semua gunting dan pisauku pepat dibuatnya,'' gerutu tukang cukur yang mulai berkeringat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak itu diam, sementara ia mulai menduga-duga. Jangan-jangan bukan rambutnya saja yang tak mempan dimakan mata gunting. Mungkin kulitnya juga tak bisa dilukai. Diam-diam digoreskannya pisau cukur paling tajam di kuduk anak itu. Diulangnya sekali lagi. Ditikamnya lebih dalam, lebih mencukam. Lagi-lagi pisau itu bagai tumpul. Jangankan luka, tergores pun tidak. Rupanya ia benar-benar sedang berhadapan dengan bocah kebal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Apa yang kau simpan dalam saku celanamu?'' tanya tukang cukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Cuma batu. Saya menukarnya dengan batu milik bapak. Cukup licin dan bulat untuk main gundu-gunduan,'' jawabnya sambil menunjukkan batu seukuran gundu yang baru saja dirogohnya dari saku. ''Bila suka, ambil saja. Lumayan buat batu cincin, daripada dibuang.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Ayolah, kau harus segera dicukur.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Bagaimana dengan upahnya?''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Tak usah pikirkan soal itu!''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu, tak tampak lagi batang hidung si tukang cukur. Orang-orang bilang, ia hengkang sebab upah cukur tidak lagi memadai. Diterimanya tawaran seorang sejawat untuk membuka usaha pangkas rambut di rantau orang. Diboyongnya anak-bini ke tanah seberang, hingga orang-orang kampungnya harus merelakan kepala mereka di tangan tukang pangkas keliling yang kadang datang, kadang tidak, lantaran ia menyambi sebagai kusir bendi. Ada pula yang bercukur di kampung sebelah, meski mutu cukuran itu tidak ada apa-apanya dibanding kerapian cukuran tukang pangkas cekatan yang sudah terbang-hambur itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanbasa nyaris dihabisi oleh tiga sejawatnya karena ia sembarangan menyimpan barang berharga hasil penggalian mereka selama berbulan-bulan. Satu di antara tiga sejawat itu, Sitorus, mantan anggota polisi yang meminta pensiun dini setelah menemukan selembar peta usang dalam sebuah penggeledahan di rumah yang ditengarai sebagai markas pengedar ganja. Bukan sembarang peta, tapi peta yang menandai tempat-tempat rahasia penyimpanan barang-barang berharga peninggalan orang-orang di masa dahulu. Peta harta karun, barangkali. Menurut perkiraan Sitorus, bila satu titik saja berhasil digali, nilainya setara dengan kekayaan tujuh turunan. Dari sekian banyak tempat yang tertandai, terpilih satu titik di lereng sebelah selatan Bukit Tui yang menurut mereka paling aman. Tanbasa, petani kentang yang begitu tekun, terbujuk iming-iming Sitorus. Kentang yang mulai matang tidak lagi diurusnya. Istrinya kerap marah-marah karena Tanbasa sibuk bolak-balik ke lereng Bukit Tui. Selalu pulang larut malam, karena harus memperlihatkan setiap hasil penggalian pada Nisar, dukun pilih tanding yang dipercaya Sitorus mengawal penggalian itu. Selepas dua minggu penggalian, Nisar menyampaikan kabar baik. Menurut penglihatan mata batinnya, di lubang yang telah mereka gali itu tersimpan sebuah peti besi berisi bongkahan-bongkahan emas, batu-batu permata, dan barang-barang pecah-belah berusia ratusan tahun. Namun, makhluk penunggu lubang itu baru bisa memberikan sebuah batu seukuran gundu. Barang siapa memegang dan menyimpan batu itu, niscaya semua anggota tubuhnya kebal dari semua senjata yang berasal dari unsur besi. Orang-orang dulu menyebutnya Badar Besi. Maka, pada malam yang telah ditentukan, Nisar turun ke lokasi penggalian. Dikerahkannya segenap kesaktian guna membangkitkan Badar Besi dari lubang itu. Tanah di sekeliling lubang retak-rengkah, nyaris terbelah dua, lalu serpihan-serpihannya membesut ke permukaan. Nisar menyediakan kain seukuran sapu tangan yang katanya dirajut dari benang tujuh rupa, guna menampungnya saat jatuh kembali ke permukaan. Badar Besi ada dalam salah satu serpihan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Bagaimana cara kami membaginya, sementara hanya ada satu batu?''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Barang itu hanya bisa menjadi milik bersama.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Bagaimana kalau dijual? Hasilnya dibagi rata.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Begitu lebih baik. Tapi, tak boleh ada keculasan. Bisa celaka.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka memercayai Tanbasa sebagai orang yang paling layak menyimpan Badar Besi sebelum tiba saatnya dijemput oleh seseorang, tentu setelah mereka sepakat perihal imbalan yang setimpal dengan kehebatan Badar Besi. Calon pembeli yang duitnya konon tak berseri itu bahkan berkenan menanggung berapa pun biaya yang diperlukan untuk penggalian selanjutnya, tentu setelah terbukti bahwa Badar Besi yang berada di tangan Tanbasa benar-benar asli. Celakanya, Badar Besi itu ternyata omong kosong belaka. Orang suruhan pembeli membelitkan Badar Besi yang masih terbungkus sapu tangan dari rajutan benang tujuh rupa itu di leher seekor kucing. Ia menyembelihnya, dan kucing itu menggelepar-gelepar sebelum tumbang berlumur darah, sebagaimana penyembelihan biasa. Badar Besi yang semula bakal mengubah peruntungan Sitorus, Tanbasa, Tuninjun, dan Jukamba telah ditukar seseorang dengan batu lain. Meski warna, kebulatan dan kelicinannya hampir sama, tapi itu palsu, tak lebih bernilai dari batu akik yang biasa dijajakan di kaki lima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Bila Badar Besi tidak kembali, kusembelih kau seperti kucing kurap itu!'' gertak Sitorus yang mulai naik pitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Gara-gara penggalian itu, anakku sering kerasukan setan. Dan, kau lalai menjaga barang itu. Setan!'' tambah Tuninjun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Kau sia-siakan kepercayaan kami. Keparat busuk!''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertahun-tahun mereka menunggu. Badar Besi tiada kunjung kembali. Sia-sia belaka kerja keras mereka. Sialnya lagi, mereka tak henti-henti dirundung petaka. Para penggali itu tak setangguh dulu. Kini, Sitorus lumpuh. Separo badannya mati-rasa, terkulai tak berdaya di atas kursi roda. Orang-orang bilang ia terserang stroke, sementara Sitorus yakin bahwa penyakit itu akibat dari penggalian harta karun yang ia pimpin puluhan tahun silam. Anak laki-laki Tuninjun tak kunjung sembuh. Saat kerasukan, ia mengunyah-ngunyah pisau silet seperti mengunyah keripik talas. Belum ada dukun yang sanggup mengobatinya, termasuk Nisar, yang semakin menurun saja kesaktiannya. Begitu pun Jukamba, ia sering mengeluh lantaran hidupnya tak pernah tenteram sejak malam penemuan Badar Besi itu. Kerap ia dihantui mimpi buruk. Dalam mimpi itu ia didatangi sosok berwajah iblis yang selalu mengingatkan bahwa tidak lama lagi ia akan mati, dan celakanya, kematian itu bakal berdarah-darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya Tanbasa yang masih segar-bugar. Meski tubuhnya mulai ringkih, lelaki tua itu sehat walafiat, tak kurang satu apa pun. Tidak pula mengalami keganjilan-keganjilan sebagaimana sejawat-sejawatnya. Bila Sitorus, Tuninjun, dan Jukamba sudah membuang semua angan-angan muluk tentang Badar Besi, Tanbasa justru kian bergairah untuk kembali menemukan barang keramat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Dulu, bapak pernah menyambukimu dengan ikat pinggang hingga rusukmu memar. Masih ingat?'' tanya Tanbasa pada Juangkat, anak laki-lakinya yang mulai beranjak dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Tentu. Hingga kini aku tidak pernah telat pangkas rambut.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Waktu itu bapak ingin menguji kekuatan Badar Besi di dalam saku celanamu. Kau menukarnya dengan batu gundu bukan? Tapi bapak biarkan saja.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Bapak juga tahu kalau batu itu kuberikan pada tukang cukur sebagai ganti upah cukur?'' tanya Juangkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Untuk sementara Badar Besi lebih aman di tangan cukur itu.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Bapak lakukan itu agar kelak kau memilikinya. Kini saatnya kau merebutnya kembali.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama sekali aku mengabdi sebagai kaki-tangan centeng los daging di pasar ini. Tapi ia tak pernah tahu asal-usulku. Lagi pula, itu tidak penting baginya, ia hanya perlu anak semang yang siap mati demi ketersohorannya. Tapi aku sangat mengenalnya, seperti aku mengenal puncak hidungku sendiri. Kutandai segala tindak-tanduknya, kuhapal segala pantangannya, kumata-matai di tubuh bagian mana ia menyembunyikan Badar Besi yang konon menjadi sumber kesaktiannya. Ia makin menua, tak sebengis dulu. Ia memang tak mempan ditikam, tapi mustahil ia kebal dari ajal. Akan tiba saatnya aku merenggut Badar Besi dari tangannya. Aku bukan Marpaung --kacung yang dipercayainya rela hilang nyawa demi nama besarnya. Tidak! Nama asliku Juangkat. Saat umurku sembilan tahun, aku pernah membuat ia berkeringat dingin lantaran rambutku tak mempan dimakan mata gunting dan mata pisau cukurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-7624095514489097963?l=damhurimuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/7624095514489097963/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=7624095514489097963&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/7624095514489097963'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/7624095514489097963'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2009/06/badar-besi.html' title='BADAR BESI'/><author><name>Damhuri Muhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/-JgCVFjccVOA/Tkyc-iydAsI/AAAAAAAAAIY/v_ip-0ze6tg/s220/pic-id-edit.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-2909297194687716572</id><published>2009-06-02T13:08:00.001+07:00</published><updated>2009-06-02T13:10:03.600+07:00</updated><title type='text'>IKHTIAR  MENYELAMATKAN  PUISI</title><content type='html'>Oleh : DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pikiran Rakyat&lt;/span&gt;, Minggu 17/5/2009)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SENI paling unggul adalah seni yang mampu membangkitkan hasrat-berkehendak setelah sekian lama tersumbat. Begitu ketegasan penyair mashur kelahiran Pundjab, India, Muhammad Iqbal, sebagaimana dikutip S.A Vahid  dalam  Iqbal, His Art &amp; Thought (1916). Oleh karena itu, the dogma of Art for the sake of Art  is a clever invention of decadence to cheat us out of life and power—dogma ‘seni untuk seni’ adalah sebuah rekayasa cerdas dari kebobrokan yang mengecoh dan menipu agar kita semakin terasing dari realitas kehidupan dan kekuatan—lanjut Iqbal lagi. Bagi penulis epos Javid  Nama (1932) itu, seni harus menghayati manusia dan segala kehidupannya. Di samping memberi rasa nikmat, seni harus dapat memandu pikiran manusia. Demikian Iqbal menegakkan kepenyairannya, sebagaimana tercermin dalam Asrar-i Khudi (1915), Rumuz-i Bekhudi (1918), dan  Payam-i-Mashriq (1923). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tak disangsikan bahwa puisi adalah ekspresi estetik paling hulu. Induk segala bentuk ekspresi sastrawi, dan belum ada yang melampauinya. Itu sebabnya, penyair Arab tersohor, Adonis (Ali Ahmad Said), tak segan-segan menyejajarkan antara “jalan kepenyairan” dengan “jalan kenabian”. Baginya, penyair—dengan azwaq al-adaby (cita-rasa sastra) yang mereka genggam—sanggup menggapai anak-tangga paling puncak guna menangkap pesan-pesan profetik sebagaimana kemampuan nabi dalam menyambut risalah Tuhan yang  bermuasal dari lauh-mahfuz. Bila  filsuf Arab, Al-Farabi  ((870-950) menegaskan bahwa derajat kenabian dapat diraih oleh manusia-manusia khawwas (khusus) berkat pencapaian mereka pada jenjang aql-fa’al (akal aktif), maka dalam batas-batas tertentu golongan penyair juga berlabuh di maqam itu. Bagi Adonis, “komunikasi nubuwwat” yang secara bulat-penuh disambut oleh sejumlah penyair Arab pra-kenabian, mampu mendedahkan sajak-sajak yang nyaris menyamai estetika qur’ani. Ada “lelaku kenabian” yang secara tak sengaja terbangun dalam proses kreatif mereka, sebagaimana lelaku kenabian yang dimiliki oleh orang-orang yang bakal terpilih sebagai pembawa risalah. Inilah puncak pencapaian para penyair Arab yang dalam catatan sejarah dikenal sebagai muallaqat (penyair-penyair terpilih yang sajak-sajak mereka digantungkan di dinding Ka’bah)  dan  muhazzabat (sajak-sajak yang ditulis dengan tinta emas). Thomas Patrick Hughes dalam Dictionary of Islam (1895)  mencatat tujuh nama penyair Arab klasik yang lahir dari tradisi muhazzabat dan muallaqat ini, antara lain: Zuhair, Trafah, Imrul Qays, Amru ibn Kulsum, al-Haris, Antarah dan Labid. Di antara tujuh penyair itu, yang paling berpengaruh adalah Imrul Qays (wafat tahun 550 M), sebagaimana diakui oleh al-Ashma’i dalam al-Fuhul asy-Syuara’ (1971). Menurutnya,  Imrul Qays  pionir bagi para penyair “jahiliyah” lainnya. Ibnu Qutaibah dalam asy-Syi’ir wa asy-Syu’ara (1969) mencatat, di masa selanjutnya, bahkan tokoh penting, Umar bin Khattab pernah memuji kepiawaian penyair ini. Khalifah kedua setelah Abu Bakar Siddieq itu bilang, Imrul Qays pencipta mata air puisi bagi para penyair di zamannya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Imrul Qays memperlihatkan gairah pencarian terhadap kesadaran puitik yang sama sekali baru, setidaknya bila ditakar dengan langgam estetika puisi “jahiliyah”. Diterabasnya batas-batas, dilanggarnya tabu, dibangkitkannya hasrat-berkehendak yang selama berkurun-kurun tertimbun dalam ortodoksi dan kekolotan tetua-tetua kabilah Quraisy, dengan menciptakan metafora baru yang tanpa disadarinya ternyata melampaui konvensi-konvensi bahasa yang masih merujuk pada masa lalu. Aku naiki kuda dalam peperangan/bagaikan belalang/lembut gemulai/jambulnya tergerai menutupi wajahnya, begitu bunyi salah satu sajaknya. “Kuda” yang lazim digunakan sebagai simbol heroik dan kegagah-beranian di medan tempur antar suku, dialih-fungsikan menjadi pengamsalan yang  dianggap janggal dan bermasalah di masa itu; simbol kejantanan laki-laki yang tergeletak sebagai pecundang di atas ranjang. Akibatnya, “kuda” itu bagai “belalang” yang gemulai, atau lemah syahwat, tepatnya. Selain  itu, seperti dicatat Al-Marzabani dalam Al-Muwassiyah (1965), sajak-sajak Imrul Qays juga melanggar kelaziman struktur  puisi Arab yang setiap baitnya tidak boleh saling bertentangan, setiap kata saling mengokohkan, hingga membentuk kesatuan makna yang utuh dan tak tergoyahkan—dalam terminologi sastra Arab disebut Qafiyah. Bagi Adonis, gairah kepenyairan para perintis genre sajak rasya’ (ratapan), ghazzal  (erotik), dan madh (pujian) itu memperlihatkan rancangan realitas yang terus  berubah (mutahawwil) sebagai antitesis dari ortodoksi, dan fanatisme  tokoh-tokoh Quraisy  yang stagnan, dogmatis, atau dalam bahasa Adonis as-tsabit  (yang tetap).  &lt;br /&gt;Contoh sederhana ini kiranya dapat memaklumatkan  betapa beratnya beban yang dipikul puisi. Ia mengemban desakan gerak transformasi sosial dan kultural dalam masyarakat yang melahirkannya. Sama halnya dengan tanggung jawab para nabi yang dengan teks-teks suci memikul risalah guna menyempurnakan watak dan moralitas umat. Maka, tidak ada alasan untuk bermain-main, apalagi mendistorsi martabat kepenyairan menjadi puisi-puisi yang hanya mahir berbicara tentang hujan, salju, embun, atau bunga mawar. Gagasan ganjil inilah yang menjadi pangkal-bala silang pendapat antara saya (Kesadaran Puitis &amp; Politik (PR, 5/4) dan Yopi Setia Umbara (Dam, Dam, Dam, (PR, 19/4). Beberapa hari selepas esai saya diturunkan, dengan nada sinis, seorang sejawat penyair bertanya; “benarkah tuan mencintai puisi?” Tegas saya menjawab; “sepenuh hati.” Tapi, tampaknya itu belum dapat melenyapkan kecurigaannya pada saya, yang menurutnya tidak bulat-bulat menyukai puisi. “Tapi mengapa tuan bilang;  apalah guna sebait sajak yang hanya mampu menggambarkan setetes embun yang jatuh di atas sehelai daun?” tanyanya lagi. Saya jadi maklum, ternyata kalimat itu telah membuat panas kuping seorang penyair. Ia tidak sedang bertanya, tapi menagih pertanggungjawaban atas kesembronoan saya, lantaran telah meremehkan pencapaian estetika dari puisi-puisi gemulai yang dibelanya itu. “Sebab, bagi saya, itu bukan puisi!”  Begitu saya mengakhiri pembicaraan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antologi sajak Demonstran Sexy (2008) karya Binhad Nurrohmat yang menjadi cikal-soal perbantahan ini, bagi saya, dapat menjadi umpan yang jitu guna memancing penggalian yang lebih berkedalaman perihal nilai-guna puisi di tengah kebisingan suasana politis yang kian hari kian menyengsarakan. Bila Khudori Husnan (PR, 3/5) menimbangnya dengan hipotesis “bergerak bersama puisi”, saya hendak menegaskan; puisi—tidak hanya puisi Binhad, tentunya—adalah gerak (aksi) itu sendiri, sebab ia subjek yang aktif, bukan sekadar medium. Di tangan Binhad, puisi  selekasnya mesti turun dari menara gading kepenyairan yang sejak lama dipuja-puji itu. Puisi harus merakyat, hidup berdampingan dengan rakyat, muasal puisi itu sendiri. Ini berarti puisi harus segera “diselamatkan” dari keterasingan lantaran keterikatannya pada kultus dan ritus, sebagaimana syair-syair Homerus di masa lalu. Walter Benjamin (1892-1940) filsuf Jerman terkemuka, pernah membincang perihal pudarnya basis-basis kultus dan ritual seiring dengan gelombang sekularisasi pasca-renaisance, yang di satu sisi memang mengakibatkan seni kehilangan autentisitas dan otonomi, tapi pada sisi lain, seni mampu mendedahkan emansipasi sosial tanpa harus bergantung pada ritus dan kultus itu. Menurut Benjamin, sesuatu yang menarik dalam peradigma baru sejarah seni itu adalah bahwa ruang kosong  yang di masa lalu diisi oleh ritus dan kultus, dalam seni modern dipenuh-sesaki oleh praktik sosial lain, yakni: politik. (F.Budi Hardiman, 2007).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, sejak itu, seni mengalami perubahan dari coraknya yang esoterik menjadi  eksoterik. Seni mulai disuguhkan secara langsung pada “rakyat jelata”—meminjam ungkapan khas Binhad—dan tentu saja sarat dengan muatan politis, sebagaimana terlihat pada drama-drama karya Bertold Brect (1898–1956). Segala bentuk tabir yang selama berkurun-kurun telah mengaburkan makna puisi, harus selekasnya disingkap, dibuka selebar-lebarnya, agar ia dapat dimasuki oleh sebanyak-banyaknya “umat puisi”. Demonstran Sexy yang ditegakkan atas dasar kepekaaan politis demi tendensi praksis-emansipatoris—karena itu ia bermuatan politis—meski bukan tanpa persoalan, agaknya dapat menjadi langkah awal dalam ikhtiar “menyelamatkan” riwayat perpuisian kita yang akhir-akhir  ini semakin tertimbun di lubuk keterasingan…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-2909297194687716572?l=damhurimuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/2909297194687716572/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=2909297194687716572&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/2909297194687716572'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/2909297194687716572'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2009/06/ikhtiar-menyelamatkan-puisi.html' title='IKHTIAR  MENYELAMATKAN  PUISI'/><author><name>Damhuri Muhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/-JgCVFjccVOA/Tkyc-iydAsI/AAAAAAAAAIY/v_ip-0ze6tg/s220/pic-id-edit.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-3754025086235049109</id><published>2009-04-20T14:45:00.002+07:00</published><updated>2009-04-20T14:53:47.164+07:00</updated><title type='text'>JURU MASAK; Sebuah Telisik Ringan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/SewpWeWU1zI/AAAAAAAAAE4/1O-xWoEDh34/s1600-h/sample+cover+revisi.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 269px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/SewpWeWU1zI/AAAAAAAAAE4/1O-xWoEDh34/s320/sample+cover+revisi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5326677925353019186" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : KHRISNA PABICHARA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Mulanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KAMPUNG. Dari sanalah “Juru Masak” berpangkal. Dari sanalah Damhuri Muhammad, selanjutnya saya sebut Damhuri, mulai merakit cerita-cerita yang dikemasnya dengan telaten. Kampung, itu pula yang membuka gerbang ingatan masa kecil saya dan membuat saya “jatuh hati” pada kisah demi kisah yang dituturkan Damhuri dalam sehimpun cerita pendeknya itu. Kenapa? Karena saya orang kampung, itu jelas. Namun, ada pernik lain yang menyeret segala ingatan saya ke “kampung”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya menelisik cerpen-cerpen Damhuri, saya tiba-tiba teringat sentilan Raudal Tanjung Banua. Pengarang sebagai narator, dalam teropong Raudal, belakangan tampak begitu dominan dengan balutan bahasa yang rimbun dan miskin dialog. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntunglah, ketika saya memasuki kampung Damhuri yang dikemas dengan bahasa sederhana dan bersahaja, saya menemukan narasi dan dialog yang ditata begitu imbang. Boleh jadi, sebagaimana tutur Damhuri, karena ia menulis cerpen layaknya meraut sepasang bilah layang-layang dengan sangat telaten, sampai permukaannya benar-benar halus dan imbang bila ditimbang. Bahkan, ada beberapa cerpen yang disimpannya berbulan-bulan. Dibaca lagi, diraut lagi. Dibaca lagi, ditimbang lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca Juru Masak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DALAM JURU MASAK, Damhuri menampilkan suasana kampung dari segala sisi. Pada Gasing Tengkorak, Damhuri berkisah tentang kehebatan Dinir menaklukkan semua perempuan yang diidamkannya, dengan jimat yang didapatkannya sebagai warisan turun-temurun dari para leluhur. Namun, ketika jimat itu digelandang ke kota sebagai aset untuk diniagakan, atas hasut isteri-isterinya, jimat itu ternyata tidak bisa menunjukkan daya pukaunya yang mumpuni itu. Saya sempat menaruh syak, jangan-jangan ini kisah nyata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara pada Ratap Gadis Suayan, Damhuri menyeret saya ke masa lalu. Di pelosok Jeneponto, sekitar 80 kilometer dari Makassar ke arah selatan, memang ada budaya appitoto, menangis-meratap-meraung setiap ada orang yang meninggal. Hanya saja, dalam cerpen ini, Damhuri meletakkannya dengan suguhan warna yang lain, meratap itu menjadi profesi yang dibenci sekaligus dicari-cari. Dibenci karena mengais rupiah dari upacara kematian, dan dicari-cari karena upacara dianggap kurang khidmat tanpa ritual ratap-meratap itu. Namun, apa yang akan terjadi jika jenazah yang harus diratapi Raisya adalah jenazah orang yang telah menghancurkan hidupnya? Lagi-lagi, saya sempat menduga ini kisah nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana kampung juga sangat kental dalam Tikam Kuku. Di beberapa daerah biasanya ada “bekal khusus” bagi yang hendak merantau. Sebelum calon perantau (bukan calon legislatif!) itu meninggalkan kampung, biasanya dibekali dulu dengan rerupa jurus silat. Damhuri berkisah dengan lincah tentang kehebatan Harimau Campo dan kedigjayaan Dahlan Beruk. Akan tetapi, bukan semata bagaimana proses bersilat yang digambarkan oleh Damhuri dengan narasi yang indah. Jika direntang lebih lapang, cerita ini juga dibidik untuk memanah “tengkulak-tengkulak modern” yang menguasai negara, lebih dari kuasa “tengkulak tembakau” yang menyingkirkan “patriot” seperti Dahlan Beruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, sebagai cerita yang dipilih sebagai andalan, Juru Masak pun menawarkan aroma khas “kampung”, yang benar-benar kampung. Kali ini, Damhuri menilik suasana kampung dari sudut perhelatan, pesta pernikahan. Di kampung saya, pesta pernikahan adalah prestise yang menunjukkan kelas dan martabat seseorang. Hal sama, boleh jadi, berlaku pada kampung-kampung lain di seantero nusantara. Hanya saja, bukan sekadar bercerita tentang betapa “wah” sebuah perhelatan digelar, Damhuri mengerucutkan kisahnya pada “masakan” yang disajikan. Alkisah, tidaklah lengkap sebuah kenduri, jika bukan Makaji yang menjadi Juru Masak. Konflik terjadi ketika yang menggelar hajat adalah Mangkudun, tuan tanah yang pernah memiuh harga diri Makaji. Sementara, yang hendak dinikahkan adalah Renggogeni, perempuan yang sangat dicintai putra juru masak itu, Azrial. Sungguh, cerita ini menyuguhkan nilai yang sangat manusiawi, cinta dan harga diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, saya membaca Juru Masak seperti orang kampung membaca kitab di surau. Khidmat, dan nikmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menelisik Juru Masak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAYA SEDANG BELAJAR menjadi pembaca sastra yang selalu menikmati kenyamanan dan keindahan karya sastra, termasuk cerpen. Sebelum saya membaca sebuah karya sastra, meminjam istilah Hernowo, saya bertanya hal mendasar, “Apakah karya sastra ini bermanfaat bagi saya?” Jika tidak, saya tidak akan membacanya. Mungkin ini terkesan arogan. Padahal, biasa saja. Lumrah. Dan, sah-sah saja. Karena saya tidak mau melakukan sesuatu yang sia-sia, yang tidak memberi apa-apa, meski hanya secuil manfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, membaca itu menyerap tenaga, waktu, dan pikiran. Membaca adalah pekerjaan serius.. Karena itu, saya tidak mau membuang tenaga, waktu, dan pikiran itu dengan percuma. Hal sama berlaku ketika saya membaca Juru Masak. Saya berharap ada, nilai atau hikmah, yang bisa saya serap seusai membacanya. Ya, saya berharap dapat menemukan sesuatu yang “menggugah”. Syukur-syukur “mengubah” atau “menggerakkan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika berpijak pada saran Budi Darma, formula yang digunakan dalam penulisan cerpen oleh Damhuri, telah memenuhi dua komponen penting penulisan karya sastra, termasuk cerpen. Kedua komponen itu adalah isi dan bentuk. Isi adalah bahan utama penulisan, dan bentuk adalah cara untuk mengungkapkan isi. Dengan cerdas, Damhuri memenuhi kedua komponen itu, isi dan bentuk. Meskipun pada beberapa cerpen, saya merasa kurang “klik”. Seperti pada cerpen Anak Bapak, yang bagi saya terkesan belum “diraut” dan “ditimbang” dengan telaten. Ada juga cerpen yang sarat “kekuatan pesan” dengan latar sejarah, yakni Mardijker, namun kurang nyambung dengan cerpen lainnya, meskipun tetap mengusung tema “kampoeng depok tempo doeloe”. Hal sama terlihat pada Kesturi, kuat pada pencitraan, narasi, dan dialog, tetapi tidak terlihat benang merahnya dengan cerita lain, yang beraroma “kampung” itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, tidak harus sebuah antologi diikat dengan merah melalui kesamaan setting atau tema. Hanya saja, suasana membaca saya yang “nyaman” dan “khidmat”, yang terbangun dari awal, menjadi “sedikit” buyar ketika membaca Anak Bapak, Mardijker, dan Kesturi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, apa yang saya dapatkan dari Juru Masak? &lt;br /&gt;Ada dua hal penting yang saya petik dari jejak pena cerpenis kelahiran Payakumbuh ini. Pertama, kemampuan menggugah. Membaca Juru Masak bukan semata membuka-buka romansa atau mengorek-ngorek ingatan masa kecil, melainkan lahirnya sebentuk kesadaran baru, bagi saya, bahwa bersastra adalah pekerjaan yang serius. Yang harus dilakukan dengan telaten dan penuh kesabaran. Yang harus dicicil setiap hari. Yang harus diraut dan ditimbang. Hanya dengan cara seperti itulah yang bisa membuat saya bisa bertumbuh-berkembang dengan subur dan rimbun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, kekuatan mengubah atau menggerakkan. Tamu dari Kampung adalah cerpen yang paling “saya”, dengan kata lain paling mencerminkan kondisi saya sebagai “orang kampung” yang merantau ke pinggiran Jakarta. Sebenarnya, lebih tepat disebut pinggiran Bogor. Ya, saya sering mengalami hal sama seperti yang dialami Tanur. Menerima tamu dari kampung, lalu ketika mereka kembali ke kampung, tersebarlah cerita yang sebenarnya jauh panggang dari api. Mengapa kita harus membagus-baguskan sesuatu yang hakikatnya belum boleh disebut “bagus”? Itulah dua manfaat mendasar yang saya temukan dari Juru Masak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Akhirnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEKARANG, kita kembali ke filosofi “meraut bilah” untuk dijadikan layang-layang itu. Kegiatan bersastra, termasuk mengarang cerpen, adalah kegiatan yang menantang, sekaligus menyenangkan. Sama seperti membuat layang-layang. Tidak boleh kesusu. Tidak boleh tergesa-gesa. Tidak boleh asal-asalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Damhuri, juga saya, tidak ada kegirangan yang lebih hebat bagi seorang pengarang selain kegirangan ketika karya-karyanya dibaca orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parung, 19 April 2009&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Khrisna Pabichara&lt;/span&gt;, motivator pembelajaran dan penyuka cerpen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini disampaikan pada Diskusi Bulanan D'Smart Community, sebuah komunitas pelajar yang "kurang beruntung" dari sudut ekonomi, pada Minggu, 19 April 2009, bertempat di Madrasah Ibtidaiyah Al-Ijtihad Kp. Lengkong Barang Desa Iwul Kecamatan Parung Kabupaten Bogor. &lt;br /&gt;Terima kasih kepada Damhuri Muhammad atas sumbangsih tulisannya dalam JURU MASAK: sehimpun cerita pendek.Terima kasih kepada Kepala MI Al-Ijtihad, Dedi Munadih, atas ijin dan kepeduliannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-3754025086235049109?l=damhurimuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/3754025086235049109/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=3754025086235049109&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/3754025086235049109'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/3754025086235049109'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2009/04/juru-masak-sebuah-telisik-ringan.html' title='JURU MASAK; Sebuah Telisik Ringan'/><author><name>Damhuri Muhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/-JgCVFjccVOA/Tkyc-iydAsI/AAAAAAAAAIY/v_ip-0ze6tg/s220/pic-id-edit.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/SewpWeWU1zI/AAAAAAAAAE4/1O-xWoEDh34/s72-c/sample+cover+revisi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-6432228270092333816</id><published>2009-04-13T10:38:00.002+07:00</published><updated>2009-04-13T10:47:36.242+07:00</updated><title type='text'>Sastra  yang Mendustai  Pembaca...</title><content type='html'>(&lt;span style="font-style:italic;"&gt;KOMPAS,&lt;/span&gt; Sabtu, 4 April 2009) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang kawan, sebutlah Fulan, pernah datang memenuhi panggilan sebuah perusahaan penerbitan buku berkelas di Jakarta. Konon, ia memperoleh tawaran menjadi penyunting naskah sastra terjemahan, khususnya dari roman-roman berbahasa Arab.Dalam perjalanan, kawan itu tiba-tiba khawatir bakal gagal sebab tak ada yang bisa diandalkannya, selain sedikit kemahiran menulis fiksi dan sedikit kemampuan membaca teks-teks berbahasa Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas bincang-bincang penuh basa-basi yang sesekali bernada menguji, Fulan bertanya kepada penguji yang tampak sudah kenyang pengalaman di dunia sastra terjemahan dari bahasa Arab itu—seperti roman- roman karya para pengarang Mesir: Thaha Husain, Naguib Mahfouz, Nawwal el-Saadawi, Radwa Ashour, atau Ala Al-Aswany.&lt;br /&gt;”Jebolan universitas Al-Azhar (Kairo) banyak sekali. Kemampuan bahasa Arab mereka tak diragukan, kenapa Bapak malah memanggil saya?” Sambil menggeleng penguji itu bilang, ”Bahasa Arab mereka memang hebat, tetapi mereka kurang cakap dalam berbahasa Indonesia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan penguji memperlihatkan problem dunia penerjemahan Arab-Indonesia. Para penerjemah begitu menguasai aspek gramatikal Arab (qawaid al-lughah), tetapi kurang ”maju” dalam berbahasa Indonesia. Banyak dari mereka yang belum mempraktikkan bahasa Indonesia yang ”baik” dan ”benar”. Kerja terjemahan mereka bukan alih bahasa dalam arti sejatinya, tetapi hanya mendedahkan teks bahasa Indonesia yang masih bercita rasa Arab. Meski sudah (meng)-Indonesia, jejak Arabnya masih saja tersisa. Setengah Arab, setengah Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Terjemahan, satu contoh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Seorang pelayan keluar dari sebuah vila yang megah, matanya sibuk mengitari jalanan yang lengang. Angin sepoi-sepoi bertiup dengan lembut, menyanyikan pada dedaunan sebuah nyanyian senja.” Kutipan ini salah satu contoh teks terjemahan dari sebuah roman berbahasa Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tengoklah, kata "keluar" yang terbaca rancu meski mungkin tidak salah. Lebih tepat bila diganti "muncul". Kata "megah" tidak tepat menyifati vila—sebab, "megah" lazimnya menyifati gedung. Lebih sepadan bila "megah" diganti "mewah". Begitupun kata "sibuk" tidak serasi bersanding dengan "mata", lagi-lagi meski tidak salah. Sorot mata lebih berjodoh dengan kata "awas"—kejelian, ketelitian mengamati obyek. Mengitari akan terasa lebih tajam bila diganti dengan "menyigi" atau "menelusuri".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyunting bukan sekadar menggunting kalimat, tetapi juga memperkaya pilihan kata guna mempertajam pesan-pesan teks. Agaknya belum memadai bila kerja penyuntingan hanya mempertimbangkan aspek leksikal-gramatikal saja, dituntut pula eksplorasi yang mendalam untuk memilih padanan kata yang jitu, yang sepadan satu sama lain, dan karena yang disunting adalah teks sastra, ambiguitasnya tentu harus tetap terjaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Angin sepoi-sepoi bertiup dengan lembut, menyanyikan pada dedaunan sebuah nyanyian senja” terdengar janggal. Dalam cita rasa bahasa Indonesia, "sepoi-sepoi" sesungguhnya lebih tepat bila ditempatkan sebagai kata sifat. "Bertiup" dapat diganti dengan "berembus" atau "berkesiur." Hal kata "dengan", inilah yang disebut sebagai jejak bahasa asal dalam teks terjemahan. Dapat diduga, "dengan" adalah terjemahan dari "bi" (huruf ba berharakat kasrah), yang di dalam kaidah tata bahasa Arab disebut huruf Jar. "Angin berembus/berkesiur sepoi-sepoi" sudah mengandung sifat lembut. Maka, dengan lembut tidak perlu lagi. Inilah salah satu cara menghapus jejak bahasa asal dalam teks terjemahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun frase ”menyanyikan pada dedaunan sebuah nyanyian senja”, selain mengulang kata (nyanyi), preposisinya terdengar tidak logis. Seolah-olah embusan angin sepoi-sepoi yang bernyanyi. Padahal yang bernyanyi bukan angin, melainkan daun-daun. Dedaunan bergerak—melenggok-lenggok, menimbulkan bunyi—akibat embusan angin. Karena kesiur angin sepoi-sepoi, dedaunan (seolah-olah) menyanyikan sebuah lagu senja. Maka boleh jadi akan lebih baik bila kalimat tersebut berbunyi, ”angin berembus sepoi-sepoi, hingga daun-daun seolah-olah menyanyikan sebuah lagu senja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan perubahan itu, preposisinya menjadi sangat logis dan secara tidak sengaja malah menciptakan sebuah metafora (”lenggok-lenggok daun yang menimbulkan bunyi serupa nyanyian lagu senja”).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah disunting dengan cara mempertajam diksi, memangkas kata yang tak perlu, menghilangkan repetisi, meluruskan preposisi, rumusan teks hasil terjemahan di atas akan berubah menjadi: ”Seorang pelayan muncul dari sebuah vila mewah. Sorot matanya awas menelusuri jalan yang lengang. Angin berkesiur sepoi-sepoi, hingga daun-daun seolah-olah sedang menyanyikan sebuah lagu senja”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Buah dusta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyunting teks terjemahan, tampaknya tidak hanya perlu penguasaan terjemahan tekstual, tetapi juga membutuhkan kecerdasan dalam menyingkap tafsir kontekstual. Sebagai contoh, kata "hadist" (bahasa Arab) dalam teks ilmu hadis, asosiasi maknanya mengarah pada sumber hukum Islam kedua setelah Al Quran. Namun, bila kata itu ditemukan dalam teks filsafat, tidak bisa lagi dimaknai sebagaimana maknanya dalam konteks ilmu hadis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hadist" dalam bahasa filsafat bermakna ”temporal” (nisbi, relatif). Begitu juga kata "qadim", dalam ilmu sejarah, asosiasi maknanya mengarah pada waktu yang telah berlalu (lampau, dahulu). Namun, dalam konteks ilmu kalam (teologi Islam), filsafat dan sebagian besar teks sastra, "qadim" bermakna; ”eternal” (kekal, tak berubah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerja penyuntingan teks terjemahan sangat berpeluang membuahkan dusta. Itu terjadi ketika muncul ketidakselarasan antara pesan teks asli dan teks alih bahasa. Dusta yang bermula dari penerjemah, dilanjutkan oleh penyunting, hingga menjadi dusta berkepanjangan yang terus-menerus ditimpakan kepada khalayak pembaca ”tak berdosa”. Ini kerap terjadi dalam penerjemahan dan penyuntingan teks sastra terjemahan, khususnya dari roman-roman berbahasa Arab yang terus berhamburan dalam khazanah perbukuan Tanah Air sejak beberapa tahun belakangan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironisnya, dalam banjir naskah itu, masih saja ditemukan sebagian penyunting yang bekerja tanpa pengetahuan yang memadai terhadap aspek ketatabahasaan Arab. Sementara kebutuhan pengetahuan tentang itu sangat vital, bahkan masih perlu dilengkapi dengan pemahaman tentang dasar-dasar ilmu stilistika Arab (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bayan, Ma’ani, Badi’, ’Arudh&lt;/span&gt; dan Qawafi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itupun sebenarnya masih perlu dilengkapi dengan kemampuan yang terlatih dalam menulis karya sastra, membentangkan layar estetik, meraih diksi-diksi yang tepat, dan piawai bermain tamsil, amsal, dan umpama. Dengan begitu, penyunting dapat menyulap roman-roman berbahasa Arab menjadi (seolah-olah) bukan karya terjemahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, saya jadi mengerti, kenapa kawan saya, Fulan, lebih bisa dipercaya dibandingkan dengan para penyunting yang canggih bahasa Arab-nya, tetapi payah dan bermasalah bahasa Indonesia-nya. Pilihan tersebut sudah tepat. Tentu saja penguji tersebut berharap agar kerja penyuntingan dapat menghasilkan sastra terjemahan yang bisa dipertanggungjawabkan keabsahannya sehingga tidak lagi sewenang-wenang mendustai pembaca...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-6432228270092333816?l=damhurimuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/6432228270092333816/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=6432228270092333816&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/6432228270092333816'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/6432228270092333816'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2009/04/sastra-yang-mendustai-pembaca.html' title='Sastra  yang Mendustai  Pembaca...'/><author><name>Damhuri Muhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/-JgCVFjccVOA/Tkyc-iydAsI/AAAAAAAAAIY/v_ip-0ze6tg/s220/pic-id-edit.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-450481638365764837</id><published>2009-03-16T09:26:00.002+07:00</published><updated>2009-03-16T09:35:03.635+07:00</updated><title type='text'>Wajah sebagai Topeng</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/Sb25qnhOLpI/AAAAAAAAAEw/R53J1GCohyc/s1600-h/cover+the+face+of+another-edisi+terjemahan+.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 194px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/Sb25qnhOLpI/AAAAAAAAAEw/R53J1GCohyc/s320/cover+the+face+of+another-edisi+terjemahan+.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5313607277181021842" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;span style="font-style:italic;"&gt;KOMPAS&lt;/span&gt;,15/Maret/2009)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEBERAPA jernih raut wajah mencerminkan kejatidirian yang paling asali? Lelaku, sifat dan tabiat  barangkali memang dapat tergambar dari garis-garis wajah. Dalam realitas yang menyehari, pertanda amarah biasa digambarkan oleh rona muka merah-padam, begitupun keramahan, tertandai dengan raut wajah yang bersih dan berseri-seri. Itu sebabnya,  kerap terniscaya bahwa manusia itu adalah wajahnya, bukan akal-budinya, bukan pula ruhnya. Tak soal bila tuan tidak punya kaki lantaran diamputasi, tidak punya tangan lantaran cacat semenjak rahim. Tuan masih leluasa bergaul, bahkan menjalin hubungan asmara dengan orang-orang normal. Dijamin tuan masih bisa dikenali, wajahnya tuan masih bisa bersitatap dengan wajah-wajah lain, dan terus-menerus mengirimkan sinyal tentang segi-segi  kedirian tuan. Tapi, apa jadinya bila yang cacat dari tubuh tuan adalah wajah? Masih percaya dirikah tuan tegak-berdiri, berinteraksi sebagaimana layaknya orang-orang yang punya wajah? Bagaimana orang akan mengenal tuan yang tidak lagi punya wajah, meski tuan masih punya tubuh?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Inilah pertanyaan penting yang terdedahkan dalam novel Wajah Lelaki Lain (terjemahan dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Face of Another&lt;/span&gt;) karya pengarang Jepang terkemuka, Kobo Abe (1924-1993) ini. Namun, alih-alih mengafirmasi wajah sebagai pusat eksistensi sebagaimana pengandaian ringan di atas, buku ini justru sedang berupaya menjungkirbalikkan kuasa wajah sebagai satu-satunya penanda identitas, tabiat, dan kejatidirian. Demi penyangkalan telak itu, “aku” (tokoh utama)—seorang ahli kimia molekuler yang wajahnya terbakar akibat kecelakaan di laboratorium hingga yang tersisa hanya gundukan-gundukan jejaring daging akibat luka keloid—merancang sebuah topeng guna mengganti wajah lamanya. Sejak kehilangan wajah, ia merasa terkucil, terasing dari lingkungannya, dan yang paling memberatkan adalah ketidakrelaan istrinya menjadi pendamping bagi seorang suami yang tidak lagi punya wajah. Lebih parah lagi, dalam keterasingan yang tak terpermanai itu, dengan mata kepala sendiri terus-menerus ia menyaksikan perselingkuhan istrinya dengan lelaki lain. Mungkin itu sebabnya ia ingin terlahir kembali dengan wajah utuh sebagaimana dulu. Bila perlu lebih sempurna, lebih asali dari wajah aslinya. Maka, ia menopengi dirinya dengan perangkat dan bahan-bahan yang ia olah sedemikian rupa dengan kecanggihan tingkat tinggi, hingga topeng hasil  karyanya itu bahkan bisa berkeringat, di permukaannya bisa tumbuh kumis, jenggot dan jerawat, sebagaimana wajah sungguhan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sayangnya, topeng itu, alih-alih membebaskannya dari ceruk keterasingan, malah membuat ia semakin terpuruk dalam skeptisisme eksistensial yang sukar terpecahkan. Jangankan topeng itu, bahkan wajah aslinya yang sudah remuk tak berbentuk itu, tetap tidak bisa merepresentasikan kediriannya yang paling sejati. Ia seakan-akan terus didesak untuk memercayai bahwa wajah asli itu juga topeng, tak lebih berharga dari topeng bikinan yang memang telah berhasil mengelabui mantan istrinya. Baginya, tak ada sesuatu yang bisa dimaklumatkan oleh seraut wajah, selain kepalsuan, pengkhianatan, kebohongan, dan basa-basi. Kalaupun wajah memberikan sasmita dan pertanda, itu semu dan palsu. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Semula, dengan topeng itu, ia merasa telah menaklukkan perempuan yang memberhalakan wajah itu. Di luar dugaan, sejak mula pula, mantan istrinya itu  tahu bahwa lelaki tampan yang telah membuat ia bertekuk lutut  itu tidak lain adalah mantan suaminya yang sedang menyamar. Realitas yang terbangun  menjadi serba terbalik, serba jungkir-balik. Betapa tidak? Lelaki bertopeng merasa telah menguasai permainan, padahal kenyataannya ia sudah kalah, bahkan jauh sebelum permainan itu dimulai. Bukan ia yang mematai-matai mantan istrinya, sebaliknya sedetikpun perempuan itu tidak pernah lalai mengawasi gerak-geriknya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hampir tiga perempat dari buku setebal  350 halaman ini  dipenuh-sesaki oleh ketegangan-ketegangan eksistensial yang diperankan oleh lelaki bertopeng itu. Ia begitu menggebu-gebu hendak meraih eksistensi diri yang bulat dengan mewujud menjadi orang lain. Tapi, pada saat yang sama, ia begitu bergairah untuk kembali pada diri yang asali dengan cara membuka topeng itu, lalu tampil sebagai sosok lelaki dengan wajahnya dibalut gulungan perban. Sebentuk keraguan-raguan eksistensial yang keduanya terbukti tidak menjanjikan apa-apa selain kepalsuan. Lalu, dengan apa semestinya jejak eksistensi diri itu bisa ditandai?  &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Novelis pemenang Akutagawa Prize (1961, untuk novel &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Crime of Mr.S.Karuma&lt;/span&gt; ) dan pengagum berat eksistensialis Martin Heidegger dan Karl Jasper ini  dengan cara yang unik berhasil membangun semacam alegori eksistensial yang menakjubkan lewat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Face of Another&lt;/span&gt;. Dalam perkembangannya, tidak banyak sastrawan yang berhasil menitiskan kompleksitas persoalan eksistensialisme modern ke dalam karya sastra, apalagi novel.  Sebelumnya hanya Frans Kafka, Edgar Allan Poe dan Samuel Becket yang melakukannya—meski dengan ultimate concern,  mainstream, perspektif dan keterampilan artistik yang berbeda-beda. Itu sebabnya dalam sejumlah telaah akademik terhadap novel-novel Kobo Abe (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Woman in The Dunes, The Ruined Map, The Face of  Another&lt;/span&gt;)  para kritikus  kerap membandingkannya dengan karya-karya Kafka, Poe dan Becket. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Amat disayangkan, edisi Indonesia novel ini tampaknya hanya mengolah dan dan menonjolkan segi-segi dramatik dari remuk-redam dan terpiuh-piuhnya perasaan lelaki bertopeng lantaran penyamarannya dibalas pula dengan penyamaran, kepalsuan dibalas kepalsuan, lantaran cintanya bertepuk sebelah tangan, lantaran dendam yang tiada kunjung tertuntaskan. Problem kesadaran eksistensial—bagian paling rumit dari sumbu pemikiran eksistensialisme modern—sebagai mainstream yang hendak dieksplorasi oleh novel ini menjadi hambar. Barangkali karena penerjemahnya tidak begitu menguasai akar-akar persoalan kefilsafatan kontemporer, khususnya yang berkaitan dengan sayap pemikiran eksistensialisme. Begitu juga dengan kerja penyuntingan  yang  tampaknya main gunting sembarangan hingga sejumlah bagian yang semestinya menjadi inti, menjadi substansi, tapi terposisikan hanya sebagai sisipan, suplemen, pelengkap belaka. Akibatnya, kedalaman yang dijanjikannya—sebagaimana terbaca dalam edisi Inggrisnya—sukar untuk diselami. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Meski ada gairah yang menyala-nyala untuk  menyangkal wajah sebagai pusat kejatidirian, novel ini tidak berpretensi untuk menuntaskan pertanyaan besar perihal bagian manakah dari jagad cilik (mikromosmos) itu yang paling jujur memancarkan kejadirian yang paling utuh? Buku ini hanya menawarkan sejumlah kemungkinan guna menolak kepalsuan yang selama ini bermuasal dari wajah—tapi terus-menerus dipercayai sebagai kejujuran. Jangan-jangan sisi paling hakiki dari kedirian “mengada” justru setelah kita kehilangan wajah, bahkan setelah kita menghilangkan semua fungsi ketubuhan. Maka, lelaki bertopeng itu tidak sedang mencari keasalian eksistensi diri dengan wajah baru, tapi justru terus-menerus membangun semesta kehilangan guna memberi ruang bagi kehadiran diri yang asali. Ia yang justru “mengada” setelah “meniada”…    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DATA BUKU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul  :  The Face of Another&lt;br /&gt;Penulis  :  Kobo Abe&lt;br /&gt;Penerjemah :  Wawan E  Yulianto  &lt;br /&gt;Penerbit :  Jalasutra, Yogyakarta&lt;br /&gt;Cetakan  :  I,  Oktober 2008 &lt;br /&gt;Tebal  :  350 halaman&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-450481638365764837?l=damhurimuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/450481638365764837/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=450481638365764837&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/450481638365764837'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/450481638365764837'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2009/03/wajah-sebagai-topeng.html' title='Wajah sebagai Topeng'/><author><name>Damhuri Muhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/-JgCVFjccVOA/Tkyc-iydAsI/AAAAAAAAAIY/v_ip-0ze6tg/s220/pic-id-edit.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/Sb25qnhOLpI/AAAAAAAAAEw/R53J1GCohyc/s72-c/cover+the+face+of+another-edisi+terjemahan+.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-3427748128589094561</id><published>2009-01-21T13:49:00.002+07:00</published><updated>2009-01-21T13:55:15.812+07:00</updated><title type='text'>MARDIJKER</title><content type='html'>Cerpen: DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;em&gt;Suara Merdeka&lt;/em&gt;,Minggu 18/01/2009)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepintas lalu, orang-orang yang lalu lalang dari dan ke arah Latanza Cafe  tentu  sudah mafhum bahwa lelaki ringkih itu tidak jauh berbeda dengan gembel-gembel yang terus membiak seperti kuman ganas yang menggerogoti kota ini. Satu kakinya diselunjurkan, satunya lagi ditekuk untuk menyangga tangan yang sedang memegang puntung rokok kretek, tapi belum sempat dinyalakannya. Tampang kusutnya masih seperti yang sudah-sudah. Bajunya lusuh, penuh tambalan dengan jahitan serampangan. Celana belacunya panjang sebelah, pisaknya bolong, hingga kancutnya menyembul keluar. Tapi, tepat jam setengah lima sore, di saat pengunjung Latanza Cafe sedang ramai, ia akan tampak berbeda dari gelandangan-gelandangan yang lain. Lelaki itu akan berdiri dengan dada sedikit membusung, mengacung-acungkan jari telunjuk ke arah Latanza Café, lalu  berteriak, &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Rumah itu memang sudah jadi milik kalian. Tapi jangan sombong! Kalian tetap saja  Mardijker, sama seperti saya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak perlu cemas dengan teriakan yang meledak-ledak dan setengah mengancam itu. Sebagaimana biasanya, salah seorang pelayan akan lekas membalas teriakan itu dari balik jendela Latanza Café. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Kita semua memang orang-orang Mardijker, termasuk kamu.” &lt;br /&gt;Lelaki itu akan diam seketika, dan kembali duduk bersilunjur seperti semula. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Begitulah yang terjadi setiap hari, sejak cafe bergaya arsitektur Eropa klasik itu mulai beroperasi. Seorang pengusaha dari Jakarta membeli rumah kuno peninggalan zaman VOC itu (kabarnya dengan harga miring), lalu merehapnya sedemikian rupa hingga menjadi Latanza Cafe, tempat nongkrong anak-anak muda kalangan kelas menengah kota ini. Petugas keamanan Latanza Café rupanya belum berhasil membuat  si tua renta kurang waras itu segera hengkang dari situ. Padahal, bermacam-macam cara sudah mereka lakukan, mulai dari membujuknya dengan nasi bungkus, rokok murahan, bahkan pernah diseret paksa oleh tiga orang satpam sekaligus. Percuma, malam diusir, besok pagi ia akan nongol lagi. Entah apa yang membuatnya begitu betah duduk berlama-lama di keramaian itu. Belum ada pula pengunjung Latanza Café yang sungguh-sungguh mengerti kata  “Mardijker”  yang  kerap terpacak dari mulut monyongnya. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Suatu ketika, Timor, salah satu pelanggan setia memberanikan diri mendekatinya. Mahasiswa pecandu café itu tampaknya mulai risih melihat perangai ganjil gembel gaek yang tak semestinya menganggu kenyamanan para pengunjung Latanza Cafe. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Apa yang bisa membuat bapak bisa meninggalkan tempat ini?” tanya Timor, sedikit membentak.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Mardijker tengik, beraninya kau mengusirku!” balasnya, menggertak. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Bapak mau apa? Sebutkan saja, akan kami kasih. Asal bapak mau pergi dan tidak kembali lagi.”&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Kurang ajar!  Kau kira saya gembel hah?”&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Kalau bukan gembel, lalu siapa?”&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Saya  Mardijker! Sama seperti kalian. ”&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Apa itu Mardijker?”&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Cari tahu dulu apa arti ‘Mardijker’, dan jelaskan pada mereka. Setelah itu saya akan pergi dari sini,” jawabnya sambil menunjuk ke arah Latanza Café.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;Mahasiswa sejarah yang waktunya lebih banyak habis di Latanza Cafe  ketimbang di bangku kuliah itu tidak buru-buru menyibak tabir di balik kata “Mardijker”. Sebelumnya Timor melacak siapa sebenarnya lelaki sinting itu. Dari beberapa orang warga di sekitar lokasi Latanza Cafe ia beroleh keterangan bahwa orang itu bernama Soedira, lengkapnya Natan Soedira. Nama yang asing di telinga Timor. Setelah itu barulah ia memulai pelacakan yang sesungguhnya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dan, inilah temuannya;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Titik terang pertamakali saya temukan di gereja tua yang masih tegak berdiri di jalan protokol kota ini. Nama “Soedira” tertera di salah satu pintu dari duabelas pintu gereja itu. Di sebelas pintu yang lain tertulis; Jonathans, Leander, Loens, Bakar, Samuel, Jacob, Laurens, Joseph,Tholense, Iskah dan Zadokh. Nama-nama itu erat hubungannya dengan Cornelis Chastelein, tuan tanah yang pernah hidup di kota ini ratusan tahun silam. Konon, ia bisa sampai di Batavia karena peristiwa berdarah yang pernah dialami orangtuanya. Di negeri asalnya, peristiwa itu dikenang sebagai malam Bartholomeus, saat pesta perkawinan petinggi Hugenot  dengan perempuan bangsawan penganut keyakinan berbeda diselenggarakan. Malam itu para pengikut Hugenot berbondong-bondong datang menghadiri pesta pernikahan yang sekaligus bisa mendamaikan penganut dua keyakinan yang berbeda, hingga permusuhan bisa disudahi.Tapi, ternyata pesta besar-besaran itu tak lebih dari muslihat para pengikut aliran yang dipimpin wanita bangsawan itu. Orang-orang Hugenot yang tertidur karena kelelahan kemudian dibantai hingga nyaris tak tersisa. Kalaupun ada yang selamat, itu hanya seorang lelaki bernama Anthony Chastelein. Setelah peristiwa naas itu ia melarikan diri ke Belanda, menikah dengan putri walikota, Maria Cruydenier, dan lahirlah seorang anak bernama Cornelis Chastelein.  &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Cornelis Chastelein menginjakkan kaki di tanah Batavia pada 16 Agustus 1674, setelah menempuh pelayaran selama 233 hari dengan kapal t Huis te Cleff. Ia bekerja pada VOC sebagai akuntan. Cornelis bisa menjalin hubungan baik dengan Champhuys, gubernur jenderal VOC waktu itu. Tapi, ia mulai kurang nyaman bekerja setelah Van Outhoorn menggantikan Champuys. Lebih tidak nyaman lagi setelah Van Outhoorn mengangkat menantunya sebagai atasan Cornelis Chastelein. Akhirnya, ia berhenti sebagai pejabat VOC. Cornelis keluar dari Batavia dan membeli sebidang tanah di kota ini. Kelak, di kota inilah ia mewujudkan segala impiannya. Digarapnya tanah itu menjadi lahan perkebunan yang menghasilkan panen melimpah. Orang-orang yang menggarap lahan itu adalah tawanan perang (berstatus budak) setelah Belanda mengalahkan Malaka, 1941. Cornelis memerdekakan budak-budak itu hingga mereka disebut “Mardijker” atau ‘orang merdeka’. Supaya gampang diatur, ia mengelompokkan mereka menjadi duabelas marga. Hingga kini nama-nama marga itu masih termaktub di duabelas pintu gereja tua kota ini. Sekali lagi, salahsatunya “Soedira”. Nama belakang gembel yang setiap hari bersilunjur kaki di sisi kiri pintu masuk Latanza Cafe. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Cornelis Chastelein pernah menikah dengan gadis Bali dan punya anak bernama Maria Chastelein. Itu sebabnya ia menaruh perhatian pada alat musik gamelan, utamanya gamelan Bali. Ia punya dua gamelan. Satu hanya dipakai pada upacara-upacara penting, satu lagi dipakai untuk latihan di hari-hari biasa. Tak hanya itu, ia juga punya sebuah gong yang di kemudian hari dikenal dengan; Gong Bolong. Meski bolong, bila dipukul, bunyinya begitu nyaring hingga terdengar dari jarak yang sangat jauh. Kini, Gong Bolong masih tersimpan di kota ini, masih kerap dipakai dalam acara-acara  ruwatan. Seseorang yang tidak mau disebut namanya mengatakan; Chastelein juga mengoleksi lukisan-lukisan karya seniman-seniman abad pencerahan. Ia membangun sebuah landhuis (semacam villa) dengan arsitektur khas Eropa guna menyimpan lukisan-lukisan berselera tinggi itu. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Dalam surat wasiatnya, Chastelein menyebutkan marga “Soedira” sebagai satu-satunya pewaris villa itu, sekaligus dengan koleksi lukisan-lukisan yang sangat berharga itu. Saya teringat pada gembel dengan nama belakang “Soedira” itu. Dan, yang membuat saya makin penasaran adalah soal Latanza Café, tempat nongkrong favorit saya itu. Boleh jadi cafe itu adalah bekas landhuis milik Chastelein di masa lalu. Boleh jadi pula Natan Soedira adalah keturunan yang kesekian ratus dari marga “Soedira”. Mardijker yang paling disukai Chastelein. Lalu, siapa yang beruntung mendapatkan lukisan-lukisan abad pencerahan itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Timor sudah tak sabar ingin segera memberitahukan penemuannya pada kawan-kawan sesama pelanggan Latanza Cafe. Semua hal ihwal menyangkut misteri  Mardijker telah tersingkap. Tuntas dari A sampai Z, dari ekor hingga kepala. Jangankan menjelaskan maksud  kata ganjil yang selama ini diteriakkan Natan Soedira, mengungkap asal muasal kota ini sejak zaman VOC pun Timor tidak merasa kesulitan. Itu artinya, ia akan menjadi orang yang berhasil mengusir “Mardijker Soedira” dari  Latanza Café hingga kenyamanan pengunjung tak bakal terusik lagi.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Tapi, sejak dua hari lalu, Latanza Café, tutup. Timor belum tahu alasan yang paling masuk akal perihal penutupan yang begitu mendadak itu. Hanya ada desas desus yang bergulir bahwa satu bulan terakhir ini pengelola Latanza Cafe merugi lantaran sepi pengunjung. Ini terjadi sejak tua bangka gembel yang saban hari bersilunjur di sisi kiri pintu masuk cafe itu mati mengenaskan. Mayatnya ditemukan menggelantung di salah satu dahan pohon beringin, lebih kurang duapuluh langkah dari pelataran halaman Latanza Cafe. Para pelanggan ketakutan. Sebab, setiap malam selasa legi, hantu gembel itu bergentayangan di sekitar lokasi café. Timor tidak bisa langsung memercayai kabar simpang siur itu. Apalagi hasil visum menyimpulkan; korban telah meninggal beberapa jam sebelum ditemukan menggelantung di pohon beringin itu. Karena terlalu banyak tahu tentang bangunan Latansa Café masa lalu, bisa saja ia menghalangi niat busuk orang-orang tertentu. Maka, Mardijker itu barangkali harus ‘dimerdekakan’ dari hidupnya yang tak mujur. Bisa saja, ia dihabisi dulu, kemudian mayatnya digantung di pohon beringin. Timor seperti hendak menceritakan sesuatu pada kawan-kawan sesama penongkrong di Latanza Café yang sudah bangkrut itu. Tapi ia tidak terlalu yakin bakal ada percaya pada omongannya. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Mardijker, landhuis warisan tuan tanah Cornelis Chalestein dan koleksi lukisan abad pencerahan tetap jadi misteri yang awet tersimpan dalam ingatan Timor. Tak lama kemudian, di sebelah barat bekas Latanza Café berdiri sebuah Mall, pusat perbelanjaan terbesar di kota ini. Rumah usang itupun berganti pemilik. Meski tidak sampai dirobohkan, tata ruangnya dirancang dengan sentuhan yang bernuansa metropolitan. Namanya berubah menjadi; Olala Café. Timor masih saja betah tinggal di kota ini. Sesekali ia nongkrong di café baru itu,  utamanya di malam selasa legi. Kadang-kadang hingga  larut malam. &lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;Depok, 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-3427748128589094561?l=damhurimuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/3427748128589094561/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=3427748128589094561&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/3427748128589094561'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/3427748128589094561'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2009/01/mardijker.html' title='MARDIJKER'/><author><name>Damhuri Muhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/-JgCVFjccVOA/Tkyc-iydAsI/AAAAAAAAAIY/v_ip-0ze6tg/s220/pic-id-edit.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-1147212314556614699</id><published>2009-01-05T12:32:00.002+07:00</published><updated>2009-01-05T12:39:46.772+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/SWGc9N_5ZFI/AAAAAAAAAEY/bEIElsqXVnI/s1600-h/ilustr+BBT.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 170px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/SWGc9N_5ZFI/AAAAAAAAAEY/bEIElsqXVnI/s320/ilustr+BBT.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5287680013053289554" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bayang-Bayang Tujuh &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;em&gt;JAWA POS, &lt;/em&gt;Minggu, 4 Januari 2009)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sekali helaan napas, riuh sorak-sorai para petaruh yang berdiri di sekeliling lingkar arena sabung ayam di lereng Bukit Limbuku tiba-tiba terhenyak dalam hening. Orang-orang seperti dihadang kegamangan. Tiada hirau lagi para petaruh itu pada kibasan dan kelebat kaki-kaki bertaji dalam tarung Jalak Itam dan Kurik Bulu yang tengah berlaga begitu sengit hingga jambul kedua jago turunan Bangkok itu bergelimang darah. Semua mata seolah terisap ke dalam pancaran mata bengis Langkisau yang sedang mengamuk. Ia baru saja menghajar lelaki tanggung yang tampaknya orang baru di kalangan para petaruh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat raut mukanya yang begitu teduh, hampir bisa dipastikan ia bukan penggila judi sabung yang tengah menunggu kokok kemenangan Jalak Itam dan keok kekalahan Kurik Bulu, atau sebaliknya. Menurut penuturan seorang pejudi, ia guru ngaji yang sedang memantau kalau-kalau ada di antara murid-muridnya yang ikut-ikutan menonton permainan itu. Bila ada murid yang tertangkap tangan sedang berada di arena judi sabung, guru muda itu akan menyeretnya turun. Di surau ia akan beroleh hukuman sepadan. Biasanya, telapak tangan si murid dicambuk dengan rotan, berkali-kali, tak henti-henti, dari selepas Magrib hingga tiba waktu Isya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu menginjak tanah lereng Bukit Limbuku, ia berjalan mengendap-endap di sela-sela kerumunan para petaruh yang sedang berdebar-debar, cemas kalau-kalau jagoan mereka tumbang, dan segepok uang taruhan tentu bakal melayang. Pada saat yang sama, Langkisau sedang sibuk mengumpulkan taruhan. Tanpa disengaja, guru muda itu melangkahi bayang-bayang tubuh Langkisau. Telapak kakinya menginjak bayangan kepala Langkisau. Perlu ditegaskan, ia tidak melangkahi kepala Langkisau, hanya melangkahi bayang-bayangnya. Tapi, itu sudah melanggar pantangan. Langkisau menyeringai, menyerungut, serupa anjing yang hendak menerkam buruan. Dari arah depan, dua kali tendangan gasingnya mendarat di ulu hati lelaki itu. Aliran napasnya seolah disumbat oleh hantaman kaki Langkisau. Ia sempoyongan. Badannnya oleng. Pandangannya kabur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Mampus kau!''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Melangkahi bayang-bayang kepalaku sama dengan menginjak kepalaku.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Belum tahu siapa Langkisau kau rupanya?''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Huaaap...'' &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiada ampun, guru muda tumbang, kepalanya mencukik ke dalam comberan tempat membasuh luka-luka di jambul ayam jago selepas berlaga. Buruk benar cara jatuhnya. Menelungkup dengan muka berkubang lumpur. Sementara itu, para petaruh makin ketakutan kalau-kalau anak muda itu tidak bangun lagi, apalagi kalau ia mati terkulai di tangan Langkisau. Kalau benar ia salah satu guru ngaji, keributan kecil itu tiada bakal berhenti sampai di sini. Para tetua Surau Tuo tak akan tinggal diam. Bukan Langkisau saja yang akan terancam, semua petaruh di lereng bukit itu akan tahu akibatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Cukup Langkisau!'' &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu teriak Inyik Centang, kaki-tangan Langkisau. Ia muncul tiba-tiba, menghadang Langkisau yang hendak mencatukkan lading di kuduk lelaki tanggung yang sudah tak berkutik itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Belum puas aku kalau orang ini masih hidup,'' bentak Langkisau, ''kukirim sekalian ke liang lahat.'' &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Sekali lagi, cukup! Dia orang Surau Tuo. Bisa jadi orang suruhan Engku 21.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Nah, itu yang kutunggu sejak dulu. Sudah lama aku ingin menjajal kehebatan tuan-tuan Engku 21 itu.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Jangan takabur! Mereka sukar dikalahkan. Lebih-lebih si Gelang-Gelang Kawat. Ilmu Bayang-Bayang Tujuh matang di tangannya.'' &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Keparat! Kau pikir aku takut? Akan kucincang si Bayang-Bayang Tujuh itu.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Cincang? Saat kau hendak menggoroknya, tubuh kasarnya hilang. Kau hanya bisa mendengar suaranya.'' &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita Inyik Centang benar. Jauh sebelum lereng Bukit Limbuku penuh sesak oleh para penyabung, Gelang-Gelang Kawat menebang Betung di lahan itu. Ia beroleh upah dari seorang cukong yang konon telah memborong semua rumpun aur di lereng bukit itu. Suatu ketika, di musim kemarau, terjadi kebakaran karena ulah para penebang yang abai mematikan puntung rokok sebelum dibuang ke semak-semak. Celakanya, Gelang-Gelang Kawat tertuduh sebagai perokok yang buang puntung sembarangan itu hingga seperempat lereng bukit gosong dilalap api. Maka, ia harus berurusan dengan aparat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Benar Saudara yang menyebabkan Bukit Limbuku terbakar?'' bentak seorang petugas dengan memasang tampang sangar agar Gelang-Gelang Kawat lekas mengaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Bukan saya, tapi tangan saya!'' balasnya. Tegas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat Gelang-Gelang Kawat mengucapkan kata-kata itu, polisi yang memeriksanya hanya bisa mendengar suara paraunya, tidak bisa melihat wujud si tertuduh. Tubuhnya bagai menguap, bagai mengelayap entah ke mana, lenyap seketika. Lutut petugas itu gemetar karena takut. Bulu kuduknya meremang. Seumur-umur ia mengurus kasus kebakaran hutan, baru kali itu ia ketemu orang yang tak bertubuh kasar. Ia merasa tidak lagi berhadapan dengan tersangka, tapi dengan hantu penunggu lereng Bukit Limbuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak peristiwa itu, Gelang-Gelang Kawat jarang ke lereng Bukit Limbuku. Pohon-pohon betung yang biasa ditebangnya sudah jadi abu. Ia mencurahkan perhatian untuk mengajar anak-anak mengaji di Surau Tuo. Lebih-lebih, sejak ia dipercaya menjadi salah satu Engku dari dua puluh satu Engku di surau itu. Sejak lama, masing-masing suku mengutus tiga orang Engku guna menyemarakkan surau usang itu; satu bilal, satu imam, satu khatib. Lantaran ada tujuh suku di kampung itu, maka azan-iqamah, salat berjamaah, belajar ngaji, wirid mingguan, dan khatib Jumat diurus oleh dua puluh satu Engku. Itu sebabnya mereka disebut Engku 21. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Kalaulah tidak karena permintaan Engku-Engku, sudah kupatahkan pinggangnya,'' kata lelaki muda itu, sesekali ia meringis kesakitan saat Gelang-Gelang Kawat mengobati tulang belikatnya yang memar akibat tendangan gasing Langkisau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Makanya jangan lengah, masa' kau langkahi kepalanya? Ha ha ha...''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Bukan kepalanya, hanya bayang-bayang kepalanya...''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Di situ letak kelemahan Langkisau. Ada enam bagian lagi dari tubuhnya yang harus kau langkahi.'' &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Tapi, kenapa aku tidak boleh mengelak? Jangankan melawan, mengelak pun pantang,'' &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Kau ingin mengalahkan Langkisau bukan?'' sela Gelang-Gelang Kawat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepulangan Langkisau ke kampung ini barangkali kepulangan paling celaka bagi setiap perantau. Setelah mengadu untung selama puluhan tahun dan beranak-pinak di negeri seberang, ia pulang dengan gairah hidup yang hampir redup. Tubuh jangkungnya kian ceking, namun perutnya buncit-padat lantaran berhari-hari ia tak bisa berak. Kabarnya, waktu itu, seseorang dengan kemampuan guna-guna tingkat tinggi menahan semua unsur yang berjenis racun untuk tetap bersarang di tubuh Langkisau, hingga tiba saatnya racun-racun itu menjadi penyakit yang bakal menyudahi riwayat si raja copet itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehebat-hebatnya Langkisau, tetap saja ada yang lebih hebat. Selihai-lihai tupai melompat, sekali waktu jatuh-terpelanting juga. Padahal, bila tidak terlalu kemaruk, Langkisau tak bakal ketemu lawan bersengat seperti itu. Anak buahnya banyak, wilayah kuasanya luas, ia disegani lantaran ilmu Bayang-Bayang Tujuh sempurna dikuasainya. Betapa tidak? Langkisau bisa menguras uang dari tujuh saku korban sekaligus, itu hanya dengan sekali gerak. Tubuhnya membelah jadi tujuh, tiada yang tahu mana jasad aslinya. Yang pasti, tujuh bayangan itu tidak pernah pulang percuma. Tapi, Langkisau tidak pernah puas. Masih saja ia menyabot wilayah orang lain. Ingin menjadi satu-satunya raja copet ia rupanya, ingin semua pencopet kota itu tunduk, bertekuk lutut di hadapannya. Langkisau lupa, di atas langit ada langit. Akibatnya, ia harus pulang sebagai pecundang. Dengan kekuatan guna-guna, ia ditumbangkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untunglah, saudara seperguruannya, Gelang-Gelang Kawat, tidak tinggal diam. Meski Langkisau sudah menempuh jalan berbeda, Gelang-Gelang Kawat tetap mengerahkan segenap kesaktiannya guna menyelamatkan Langkisau yang sudah di ambang kematian. Tak lama Gelang-Gelang Kawat bekerja, sejawatnya sesama pewaris ilmu Bayang-Bayang Tujuh itu sembuh dan gairah jawaranya kembali menyala. ''Menyelamatkan nyawa Langkisau sama dengan membangunkan harimau tidur,'' kata orang-orang yang menginginkan kematian Langkisau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Biarkan saja keparat itu mati busuk!''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Tak ingin jadi nomor satu? Bila Langkisau masih hidup, kau tetap nomor dua." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lereng Bukit Limbuku yang lapang selepas terbakar disulap Langkisau menjadi arena sabung ayam. Diundangnya para penyabung dari mana-mana hingga setiap hari lereng bukit itu seperti pasar. Bila di rantau Langkisau raja copet, di sini, di kampung ini, ia raja judi. Tak ada yang berani menghadangnya, tidak pula para tetua kampung yang diam-diam ternyata sudah menjadi kacung-kacung Langkisau. Tak jelas lagi, siapa kawan siapa lawan, sejak Langkisau kembali bertaji. Kalaupun ada yang dapat mengimbangi kesaktiannya, itu hanya dapat dilakukan oleh orang-orang Engku 21, utamanya Gelang-Gelang Kawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Menurut Engku, aku sanggup menumbangkannya?'' tanya murid terbaik Gelang-Gelang Kawat yang tulang belikatnya sudah enam kali jadi sasaran tendangan gasing Langkisau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Bayang-bayang Langkisau bagian mana lagi yang harus aku langkahi?''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Jangan gegabah! Tinggal satu lagi.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Cepat katakan!'' &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Langkahi bayang-bayang daerah gelang-gelang*) Langkisau! Itu pantangan ilmu Gelang-Gelang Kawat. Langkisaulah Gelang-gelang Kawat sebenarnya.'' &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu mulai bimbang. Jangan-jangan Langkisau dan Gelang-Gelang Kawat hanyalah dua kepingan dari satu jasad yang telah membelah. Bukankah keduanya sama-sama menempuh tarekat Bayang-Bayang Tujuh? Mungkin Langkisau telah membelah diri menjadi Gelang-Gelang Kawat atau Gelang-gelang Kawat yang membiak jadi Langkisau. Lalu, siapa wujud aslinya, di mana lima bayangan yang lain? Ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Apa yang kau tunggu?'' desak Gelang-Gelang Kawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lekas ia beranjak. Tapi, langkahnya bagai ditahan. Apa mungkin Engku Guru membunuh bayangan sendiri? Ia membatin. Sejurus kemudian, ia merasa telah menjadi orang lain. Kadang-kadang merasa sebagai Gelang-Gelang Kawat, tapi sesekali menggebu hendak jadi jawara seperti Langkisau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Usus besar &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-1147212314556614699?l=damhurimuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/1147212314556614699/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=1147212314556614699&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/1147212314556614699'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/1147212314556614699'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2009/01/bayang-bayang-tujuh-cerpen-damhuri.html' title=''/><author><name>Damhuri Muhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/-JgCVFjccVOA/Tkyc-iydAsI/AAAAAAAAAIY/v_ip-0ze6tg/s220/pic-id-edit.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/SWGc9N_5ZFI/AAAAAAAAAEY/bEIElsqXVnI/s72-c/ilustr+BBT.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-5160521372058802083</id><published>2008-12-11T13:56:00.002+07:00</published><updated>2008-12-11T14:06:06.896+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/SUC6XpVnaeI/AAAAAAAAAEQ/qC3eDFc5tGM/s1600-h/Adonis+cover+buku.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 270px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/SUC6XpVnaeI/AAAAAAAAAEQ/qC3eDFc5tGM/s400/Adonis+cover+buku.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5278423678674495970" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ateisme Kepenyairan, Jalan Menuju Tuhan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                    Oleh DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;em&gt;Kompas,&lt;/em&gt; Selasa, 9/12/2008)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisakah sastra dan agama bersekutu, lalu mendedahkan kebenaran yang sama? Bila pertanyaan ini diajukan kepada Adonis, dipastikan jawabnya mustahil. Bagi penyair Arab terkemuka itu, puisi dan agama bagai dua sumbu kebenaran yang bertolak belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi adalah pertanyaan, sementara agama adalah jawaban. Puisi adalah pengembaraan yang dituntun oleh keragu-raguan, sedangkan agama adalah tempat berlabuhnya iman dan kepasrahan. Lebih jauh, di ranah kesusastraan Arab, puisi dan agama bukan saja tak seiring jalan, agama bahkan memaklumatkan, jalan puisi bukan jalan yang menghulu pada kebenaran, tetapi menjerumuskan pada lubang kesesatan. Agama menyingkirkan para penyair Arab jahiliah ke dalam kelompok orang-orang sesat, orang-orang &lt;em&gt;majnun&lt;/em&gt; (gila), penyihir. Inilah muasal segala kegelisahan dalam kepenyairan Adonis, yang disampaikannya pada kuliah umum di Komunitas Salihara, Jakarta (3/11/2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ragu Adonis mengatakan bahwa sejak munculnya agama, tradisi puisi Arab redup dan akhirnya padam. Para penyair dianggap gila lantaran jalan puisi adalah jalan sesat, lagi menyesatkan. Itu sebabnya Adonis menjadi pembela jalan puisi yang telah disumbat rapat-rapat itu. Lahir dengan nama asli Ali Ahmad Said di Desa Al-Qassabin, Suriah, 1930. Meski baru bersekolah di usia 13 tahun, anak seorang petani yang juga imam masjid itu sudah belajar menulis dan membaca pada seorang guru di desanya dan sudah hafal Al Quran di usia sebelia itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1944 ia membacakan puisi heroiknya di hadapan Presiden Suriah Shukri al-Kuwatli. Presiden terpesona dan mengirimkan Adonis masuk ke sebuah sekolah Perancis di kota Tartus. Adonis lulus dari Universitas Damaskus (1954) dengan spesifikasi filsafat.Ia menerbitkan kumpulan sajak pertamanya pada 1955 dan pernah dipenjara karena pandangan politiknya. Pada 1956, Adonis meninggalkan tanah airnya, pindah ke Lebanon. Selama 20 tahun ia tinggal dan jadi warga negara di tanah jiran itu. Sejak 1986 Adonis pindah ke Paris. Ia telah menulis karya: puisi dan prosa lebih kurang 30 buku dan telah diterjemahkan ke pelbagai bahasa. Namanya kerap disebut sebagai calon kuat peraih Hadiah Nobel Sastra (tahun 2005, 2006, 2007).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antologi puisi &lt;em&gt;Nyanyian Mihyar dari Damaskus &lt;/em&gt;(terjemahan dari &lt;em&gt;Aghânî Mihyâr Dimasyqî&lt;/em&gt; ini disebut-sebut sebagai karyanya yang paling masyhur di samping &lt;em&gt;al-Tsawâbit wal Mutahawwil &lt;/em&gt;(Yang Tetap dan Yang Berubah)—yang kerap disebut karya pengarang ateis khas Timur. Adonis mengagumi pencapaian puitis para penyair Arab klasik seperti Imrul Qays (w. 550 M) yang menurutnya telah meniupkan ruh kebebasan berkreasi, memperlihatkan upaya pencarian ”yang baharu” dalam ungkapan, susunan kata, dan tidak mengacu pada ukuran-ukuran masa lampau. Namun, menurut dia, tradisi puisi yang gemilang ini mati sejak munculnya tradisi wahyu. Dalam pencarian kebenaran, penyair digantikan nabi. Di titik inilah ateisme kepenyairan Adonis bertumbuh, berkembang lalu memuncak pada sajak-sajak pendeknya seperti;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;kita mati jika tidak kita ciptakan Tuhan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;kita mati jika tidak kita bunuh Tuhan &lt;/em&gt;(dari sajak ”Sebuah Kematian”).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Mihyar&lt;/em&gt; sebentuk lagu pilu, elegi guna meratapi matinya kebebasan di jalan puisi. Adonis membangun sekian banyak pengamsalan tentang ketersingkiran penyair Arab kuno; penyihir debu, lonceng tanpa denting, orang-orang asing yang bahkan diasingkan oleh bahasanya sendiri. Ini senada dengan penilaian Ulil Abshar Abdalla (2004) bahwa Adonis mengumpamakan tradisi kepenyairan Arab seperti keterlunta-luntaan dan kepahitan hidup Al-Mutanabbi, penyair besar masa Dinasti Abbasiyah (abad ke-9). Al-Mutanabbi salah satu penyair yang dikagumi Adonis dan ia hendak mengasosiasikan diri pada sosok penyair yang hidupnya penuh liku dan dramatis itu. Satu ketika menjadi penyair istana, dipuja-puji, dihormati, tetapi kemudian dimusuhi istana, dijauhi oleh masyarakat, sejak itu ia menulis sajak-sajak yang pesimistis. Hidupnya berantakan dan akhirnya meninggal dengan cara yang tragis karena miskin. Pesimisme macam itu juga tergambar dalam sajak-sajak Adonis;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;em&gt;&lt;em&gt;akan kami bunuh kebangkitan dan harapan&lt;/em&gt;kami akan menyanyi dan berlindung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kami akan hidup bersama batu: kami, puisi, dan hujan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarkan kami o, Abu Nuwas.&lt;/em&gt; (&lt;em&gt;Elegi untuk Abu Nuwas&lt;/em&gt;).&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, benarkah Adonis mengingkari jalan wahyu karena tradisi kenabian telah mengalahkan tradisi kepenyairan? Apakah tuduhan ”ateis” layak diberikan kepadanya lantaran ia hendak meniadakan Tuhan demi kelapangan jalan puisi? Kalaupun ada teks agama yang memaktubkan ketersesatan penyair Arab, tentu tidak serta-merta berarti ketersesatan semua penyair pada masa itu. Tengoklah Hasan bin Tsabit yang tetap menggubah syair-syair madah (pujian) setelah teks turun. Berapa banyak penyair Arab yang cemerlang di masa nabi, lebih- lebih masa sesudah nabi? Lagi pula setiap ayat yang turun selalu dilatarbelakangi oleh asbab an-nuzul (sebab-sebab turun ayat). Artinya, penegasan teks perihal penyair sebagai penyihir dan majnun itu sifatnya kasuistik, tidak menggeneralisasi semua penyair. Bila Adonis kecewa dengan jalan kepenyairan yang menurutnya telah dibuntukan itu, kenapa ia masih mengakui pencapaian estetik Al-Mutanabbi, Al-Ma’arri dan Al-Buhturi yang ketiganya hidup di kurun pasca-kenabian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski Adonis ”meniadakan” Tuhan di jalan kepenyairan, tetapi ”ateisme” itu tidak dalam rangka menjauhi Tuhan sebagaimana lelaku para ateis lain. Tampaknya Adonis hanya sedang dijangkiti kegelisahan lantaran sekian banyak jalan lama ternyata gagal mengantarkannya kepada Tuhan. Itu sebabnya ia meneruka jalan baru, yang meski tanpa Tuhan, tetapi pasti menghulu ke hadirat-Nya. Diam-diam Adonis sedang mempersiapkan sajak-sajaknya menjadi sebentuk ”bahasa lain” guna menjelaskan Tuhan masa depan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;sungguh, aku bahasa untuk Tuhan masa depan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;sungguh aku penyair debu &lt;/em&gt;(Orpheus).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan puisi yang hendak menyelamatkan nama Tuhan, yang selama berkurun-kurun terperangkap dalam bahasa agama-agama. Sampai di sini, Mihyar bukan lagi elegi untuk kematian puisi, di tangan Adonis, ia menjadi gairah asketis yang tiada bersudah dalam meraih persekutuan dengan Tuhan. Maka, tak ada yang perlu dicemaskan pada kepenyairan Adonis sebab ia bukan ateis, tetapi (mungkin) seorang perenialis….&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-5160521372058802083?l=damhurimuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/5160521372058802083/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=5160521372058802083&amp;isPopup=true' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/5160521372058802083'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/5160521372058802083'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2008/12/ateisme-kepenyairan-jalan-menuju-tuhan.html' title=''/><author><name>Damhuri Muhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/-JgCVFjccVOA/Tkyc-iydAsI/AAAAAAAAAIY/v_ip-0ze6tg/s220/pic-id-edit.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/SUC6XpVnaeI/AAAAAAAAAEQ/qC3eDFc5tGM/s72-c/Adonis+cover+buku.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-2502017778948867266</id><published>2008-12-04T11:27:00.002+07:00</published><updated>2008-12-04T11:32:34.655+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Satu Wajah, Dua Muka...&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;em&gt;KOMPAS&lt;/em&gt;, Minggu, 30 November 2008)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekanbaru, Riau, 1954. Menteri Pendidikan dan Perkembangan Kebudayaan Mohammad Yamin berpidato. Tak lama selepas pidato itu, seorang lelaki naik panggung. Tanpa sungkan, ia menyanggah bahwa dalam urusan pendidikan, masyarakat Riau dianggap ”anak tiri” oleh pemerintah pusat. Buktinya, di Riau belum ada SMA negeri. Yamin tersinggung. Tergesa ia kembali ke Jakarta, tanpa sepatah kata pun. Beberapa hari kemudian, ia menyurati Gubernur Sumatera Tengah Marah Ruslan, sebagai pegawai pemerintah, tidak semestinya orang itu menggunakan istilah ’anak tiri’. Yamin meminta Marah Ruslan menyampaikan teguran itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang telah membuat Menteri Pendidikan (kabinet Ali Sastroamidjojo, 1953-1955) itu marah adalah Soeman Hs (1904-1999), pengarang dua roman penting; &lt;em&gt;Kasih Tak Terlerai &lt;/em&gt;(1930) dan &lt;em&gt;Mencari Pencuri Anak Perawan &lt;/em&gt;(1932). Tak banyak yang tahu, novelis kelahiran Tapanuli Selatan (kemudian menetap di Riau) itu juga pejuang pendidikan yang gigih. Di Riau, ia mendirikan SMA Setia Dharma, sekolah menengah atas pertama, sebelum SMA negeri berdiri di sana. Tak hanya itu, pada tahun 1961 ia mendirikan Universitas Islam Riau (UIR), perguruan tinggi pertama di Riau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ranah sastra, penelitian terbaru tentang karya-karya Soeman Hs dilakukan oleh Eko Sugiarto—dibukukan dengan tajuk &lt;em&gt;Melayu di Mata Soeman Hs&lt;/em&gt; (Yogyakarta, Adicita, 2007)—membuka jalan untuk lebih jauh membincang roman-roman karya Soeman Hs yang telah menikam jejak selama puluhan tahun. Eko melakukan pembacaan sintagmatik-paradigmatik terhadap roman &lt;em&gt;Kasih Tak Terlerai &lt;/em&gt;(KTT) guna melacak jejak perlawanan Soeman Hs terhadap eksklusivisme adat melayu yang pada masanya dianggap kolot. Eko berhasil menggambarkan masa pancaroba budaya melayu di awal persinggungannya dengan budaya Arab-Islam di kawasan pesisir Riau yang dipasang sebagai latar roman ini. Menurut dia, roman itu, lewat karakter tokoh-tokohnya, berhasil mendedahkan kiasan perihal jurang pemisah antara ”orang asli” dan ”orang di pinggang” dalam konstelasi adat melayu masa itu, juga membangun pengamsalan perihal bangsa ”loyang” yang mustahil bersekutu dengan bangsa ”emas”. Tapi, sesederhana itukah pencapaian estetis roman itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semula Eko telah meneruka jalan untuk menguliti perwatakan si Taram, Nurhaida, Encik Abbas, dan Syekh Wahab dengan mencincang roman itu menjadi beberapa fase penceritaan. Tapi, lantaran dibebani oleh tantangan pengujian hipotesis (apakah KTT benar-benar kritis terhadap adat melayu?), hal-ihwal yang kompleks dalam struktur roman itu terabaikan sehingga hasil penelitian itu terjebak pada legitimasi akademik bahwa upaya kreatif Soeman Hs dalam KTT itu masih dalam laku ”menyalin rupa” realitas. Padahal, KTT mendobrak realitas kebekuan adat, dan lewat perwatakan si Taram yang bersusah payah menghadang kekolotan, Soeman sedang menawarkan sebuah kemungkinan baru dalam menegakkan etos egalitarianisme dalam situasi yang seterkungkung apa pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaku penceritaan Soeman berada di luar langgam roman-roman Balai Pustaka yang sarat keberpihakan pada kepentingan kolonial di satu sisi, dan sinis pada perlawanan kaum terjajah di sisi lain, sebagaimana tergambar dalam Adab dan Sengsara ((1920), Siti Nurbaya (1922). KTT memang tidak mengembuskan denyut perlawanan terhadap kaum penjajah, tapi menghadang kebobrokan dan pembusukan yang berlangsung dalam ranah adat melayu masa itu. Berkisah tentang si Taram, anak angkat seorang batin (pemangku adat) yang jatuh hati kepada Nurhaida, anak orang terpandang, Encik Abbas. Lamaran ditolak karena si Taram hanya anak pungut, derajatnya sebatas ”orang di pinggang”, orang datang, yang tak tumbuh dan berakar dalam struktur adat setempat. Pada suatu kesempatan, si Taram dan Nurhaida melarikan diri, berlayar ke Singapura, menikah di sana. Sementara itu, keluarga Encik Abbas terus melacak jejak si Taram yang telah berani melarikan anak gadisnya itu. Utusan Encik Abbas berhasil membujuk, lalu memboyong Nurhaida kembali pulang. Kepergian Nurhaida tidak diketahui si Taram, suaminya, karena pada waktu itu ia sedang bepergian ke Johor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di sini, kisah seolah-olah bersudah, tapi ternyata pengarang memulai kisah baru. Diceritakan tentang sebuah kapal dagang yang merapat di pantai, kampung Nurhaida. Syekh Wahab nama nakhodanya. Lelaki berperawakan Arab, jenggotnya lebat, lengkap dengan jubah dan sorban. Selama kapalnya merapat, beberapa kali Syekh Wahab tampil sebagai khatib Jumat di masjid kampung itu, bahkan sampai diangkat menjadi guru mengaji. Tak hanya itu, saking mulianya orang Arab di mata penduduk kampung itu, lamaran Syekh Wahab untuk mempersunting janda kembang, Nurhaida, pun diterima dengan senang hati. Orangtua si Taram (yang dulu pernah melarikan Nurhaida) paling banyak menyumbang dalam kenduri pernikahan Syekh Wahab dan Nurhaida.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua penggal kisah ini seperti tiada berhubungan, apalagi ketika pengarang menyudahi cerita perihal perkawinan agung itu dengan berlayarnya pasangan pengantin menuju Singapura. Kalaupun ada, itu hanya soal pelayaran Nurhaida yang kedua ke tanah seberang itu. Bila dulu kepergian Nurhaida dan si Taram dicerca-dimaki orang sekampung, pada pelayaran ini ia dilepas dengan doa dan sukaria. Ia digandeng suami yang sah. Orang Arab, guru mengaji, saudagar kaya, pula. Pembaca lagi-lagi mengira roman ini sudah khatam. Tapi, Soeman masih menyisakan sepenggal kisah lagi. Diceritakan perihal kepulangan Syekh Wahab dan istrinya pada Lebaran Idul Fitri. Syekh Wahab didaulat menjadi khatib pada shalat id. Inilah puncak pengisahannya. Pada khotbah kali ini, Syekh Wahab digambarkan begitu berbeda dari biasanya. Jenggotnya dicukur gundul, sorbannya dilepas, ia tidak seperti orang Arab lagi sebab Syekh Wahab yang selama ini dipuja-puja orang sekampung tak lain adalah si Taram yang sedang menyamar, untuk kembali mendapatkan Nurhaida. Orang-orang terperangah, ternyata si Taram yang telah mereka campakkan adalah orang yang dalam sekali pengetahuan ilmu agamanya, dan telah berjasa membuat anak- anak di kampung itu pandai mengaji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Double casting &lt;/em&gt;ala Soeman Hs ibarat perbedaan ”loyang” dan ”emas”. Satu muka mencerminkan sosok pembangkang, muka yang lain harus menampilkan sosok lelaki santun, lemah lembut, dan karena ia mubalig tentu harus cermat menjaga tindak-tanduk. Soeman tidak lengah ketika dua muka pada satu wajah itu menjadi protagonis sekaligus antagonis. Memang ada beberapa kejanggalan, misalnya ciri fisik Syekh Wahab yang tidak lagi dirinci sebagaimana rincinya penggambaran fisik si Taram yang bertampang melayu. Bagaimana mungkin Nurhaida bisa lupa pada ciri fisik dan kebiasaan suaminya? Fisik boleh berubah, tapi bagaimana dengan perasaan seorang istri kepada suami? Begitu pula kejanggalan pada orangtua angkat si Taram yang bulat-bulat tertipu oleh penyamaran itu. Anehnya, kejanggalan-kejanggalan itu kiat mempertajam pencitraan betapa memukaunya sosok Syekh Wahab, yang Arab, padahal, setiap yang bulat belum tentu telur, meski setiap telur sudah barang tentu bulat….&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-2502017778948867266?l=damhurimuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/2502017778948867266/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=2502017778948867266&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/2502017778948867266'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/2502017778948867266'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2008/12/satu-wajah-dua-muka.html' title=''/><author><name>Damhuri Muhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/-JgCVFjccVOA/Tkyc-iydAsI/AAAAAAAAAIY/v_ip-0ze6tg/s220/pic-id-edit.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-2785742203482679846</id><published>2008-11-24T12:12:00.004+07:00</published><updated>2008-11-24T12:25:12.556+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Jacques Derrida: Biar Tergugat Tetap Berhala&lt;/strong&gt;...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;em&gt;KOMPAS,&lt;/em&gt; Sabtu, 22 November 2008)  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laku filsafat lazimnya dimaknai sebagai ikhtiar ”memburu” kebenaran. Memburu hingga ke ujung yang paling hulu. Di sanalah kapal filsuf yang setia berlayar bakal berlabuh. Bila kebenaran hulu telah direngkuh, berakhir pulakah kelananya yang jauh?&lt;br /&gt;Sepertinya tidak. Tidak seorang pun yang sebenarnya sungguh-sungguh dapat menggapai kebenaran hulu itu. Makin jauh mereka bergerak menuju hulu, biduk yang mereka kayuh justru makin terseret ke hilir. Sebagaimana amsal para penggali sumur yang berharap hendak menemukan mata air. Akan tetapi, makin digali, sumur malah terasa makin dangkal. Seolah-olah mata air kebenaran itu tak pernah ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebenaran seakan-akan mengelak setiap ada upaya menghampirinya. Inilah problem rasionalitas modern yang telah melahirkan ”anak kandung” bernama logosentrisme. Cara berpikir yang selalu bergerak menuju sebuah telos dan arkhe transendental. Sebuah metafisika yang mengandalkan Pikiran (cogito), Diri, Tuhan, Ada (being) sebagai hulu kebenaran, sebagai pusat yang stabil dan kokoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabiat berpikir macam ini mendedahkan sebuah asumsi yang dalam terminologi Jacques Derrida (1930-2004) disebut &lt;em&gt;metaphysics of presence &lt;/em&gt;(Metafisika Kehadiran), yang meniscayakan &lt;em&gt;logos&lt;/em&gt; (kebenaran transendental) di sebalik semesta fenomena. Dalam teks, utamanya teks sastra, kehadiran logos begitu nyata dan kentara lewat hadirnya pengarang (&lt;em&gt;author&lt;/em&gt;). Subyek yang memiliki otoritas terhadap makna. Lebih jauh, Derrida menganggap ”kehadiran pengarang” sebagai logos itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang hendak dirobohkan filsuf itu dengan palu godam: dekonstruksi. Agar makna (kebenaran) tak terpasung dalam ”kuasa tunggal” pengarang. Di tangan Derrida, laku filsafat sebagai perburuan mencari kebenaran bergeser menjadi ikhtiar penafsiran terhadap teks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teks, seumpama tenunan kain, terbentuk dari untaian-untaian benang yang jalin-menjalin tak terhingga banyaknya. Makna (kebenaran) ada dalam kompleksitas kerumitan tenunan itu. Dalam situasi itu, tidak ada lagi pusat dan hulu. Tak ada oposisi bineriknya: pinggiran. Semua dapat berposisi pusat dapat berposisi pinggiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bukan makna, tapi prosesnya&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketaklaziman cara berfilsafat Derrida yang hendak meruntuhkan tradisi logosentrisme itu antara lain dipetakan oleh Muhammad Al-Fayyadl dalam bukunya &lt;em&gt;Derrida&lt;/em&gt; (2005). Lewat pembacaan intens, sabar, dan hati-hati terhadap karya-karya Derrida (&lt;em&gt;Of Grammatology, Writing and Difference, Dissemination, Margin of Philosophy&lt;/em&gt;), Fayyadl berhasil menggambarkan betapa tradisi logosentrisme filsafat pencerahan telah runtuh dan sedang di ambang kehancuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain menghadirkan Derrida sebagai ”problema”, Fayyadl juga membangun pembelaan terhadap sosok kefilsafatan Derrida yang memang tak disambut ramah kalangan pendukung logosentrisme. Keberatan utama terhadap dekonstruksi adalah karena ”metode” (sekaligus anti-metode) itu cenderung relatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak yang menuduh proyek prestisius Derrida itu tak lebih dari &lt;em&gt;intellectual gimmick&lt;/em&gt; (tipu-muslihat intelektual) yang tak berisi apa-apa selain permainan kata-kata. Oleh karena itu, berkali-kali Fayyadl menegaskan bahwa dekonstruksi tak bermaksud menihilkan, apalagi menafikan makna (kebenaran). Makna tetap ada, tetapi ia tidak mungkin dicapai dengan sebuah rumusan mutlak. Cuma saja, penekanan dekonstruksi bukan pada makna, melainkan pada proses meraihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila Derrida memaklumatkan afirmasi terhadap ”yang lain” (&lt;em&gt;the Other&lt;/em&gt;) dengan menolak kehadiran pengarang (kuasa tafsir tunggal) dalam teks, bagaimana cara menemukan makna (kebenaran) pada sebuah peristiwa pembunuhan? Bukankah Derrida meniscayakan ”tak ada sesuatu di luar teks” (&lt;em&gt;il n’y a pas de hors-texte&lt;/em&gt;)?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini berarti, seluruh semesta fenomena adalah teks, termasuk peristiwa pembunuhan di atas. Bagaimana cara menemukan pelaku (makna) bila si pembunuh (pengarang) telah disingkirkan? Pelaku harus hadir, bukan? Dilema ini tak sempat ditelaah Fayyadl. Ini akibat terlalu sibuk membela pembacaan dekonstruktif Derrida, hingga abai pada ”problema” dekonstruksi yang tak kunjung terselesaikan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Derrida tetap berhala&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara berpikir Fayyadl tampaknya sangat terpengaruh oleh ”pola permainan” Derrida. Padahal, istilah ”permainan” tanda-tanda dalam teks itu masih problematis. Bukankah dalam sebuah permainan masih ada logika kalah-menang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Derrida belum terbebas dari perangkap oposisi biner yang hendak ditolaknya. Mungkinkah laku penafsiran teks ditempuh tanpa pretensi (tanpa tujuan, tanpa telos)? Tendensi penafsiran mutlak ada, yakni; makna (kebenaran). Meski, makna itu bukan sosok kebenaran tunggal. Bukan makna yang stabil dan tak sumbing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, laku pembacaan dekonstruktif Derrida ibarat permainan sepak bola paling ironis sepanjang sejarah. Semua pemain dari kedua kesebelasan dilarang keras menciptakan gol. Para pemain hanya boleh menggiring bola, men-&lt;em&gt;dribling,&lt;/em&gt; mengoper dan memberi umpan-umpan silang. Misalkan Fayyadl salah satu pemain dalam pertandingan itu, tentu ia akan bermain secantik mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sialnya, ia akan selalu terhalang untuk memasukkan bola ke gawang lawan. Sebab, dalam logika dekonstruksi tak boleh ada gol (&lt;em&gt;telos&lt;/em&gt;). Bila ceroboh dan tidak mampu ”menjinakkan” hasrat ingin menang, dikhawatirkan pemain akan melakukan gol bunuh diri, menendang bola ke gawang sendiri. Senjata makan tuan. Dekonstruksi (yang berperilaku meruntuhkan) akhirnya merobohkan tatanan analisis komprehensif yang bersusah-payah dibangun Fayyadl sejak mula. Sia-sia ia menghadirkan Derrida sebagai ”problema”. Ujung-ujungnya, Derrida malah tegak sebagai ”berhala”….&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-2785742203482679846?l=damhurimuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/2785742203482679846/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=2785742203482679846&amp;isPopup=true' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/2785742203482679846'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/2785742203482679846'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2008/11/jacques-derrida-biar-tergugat-tetap.html' title=''/><author><name>Damhuri Muhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/-JgCVFjccVOA/Tkyc-iydAsI/AAAAAAAAAIY/v_ip-0ze6tg/s220/pic-id-edit.JPG'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-4484785251555713004</id><published>2008-09-24T10:58:00.002+07:00</published><updated>2008-09-24T11:13:30.059+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Pergolakan PRRI dalam Cerpen&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh:  DAMHURI MUHAMMAD &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;em&gt;Kompas,&lt;/em&gt; Minggu 21/09/2008)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“SAYA hadir dalam pertemuan Dewan Banteng di Bukittinggi (1956). Malam itu telah mengubah wajah Sumatera Tengah, dan menyeretnya ke suatu medan laga mengerikan,” begitu pengakuan Soewardi Idris (1930-2004), satu-satunya jurnalis yang menyaksikan pertemuan rahasia tokoh-tokoh PRRI. Setelah itu  Soewardi bergabung dengan PRRI, tiga tahun keluar-masuk hutan, hingga akhirnya “turun gunung” setelah mendapat amnesti dari pemerintah. Soewardi bukan “pembangkang” biasa. Ia wartawan, juga sastrawan—bukan tentara atau bekas tentara seperti pemberontak lainnya. Setelah lelah bergerilya, ia menukilkan asam-garamnya perjuangan PRRI melawan pemerintah pusat, tulisan-tulisan itu digarapnya menjadi karya sastra. Soewardi telah menulis novel &lt;em&gt;Dari Puncak Bukit Talang&lt;/em&gt; (1964), dan dua antologi cerpen; &lt;em&gt;Di Luar Dugaan &lt;/em&gt;(1964) dan &lt;em&gt;Istri Seorang Sahabat &lt;/em&gt;(1964). Dua buku terakhir, baru-baru ini diterbit-ulangkan oleh penerbit Beranda (Yogyakarta, 2008) dengan tajuk &lt;em&gt; Antologi Cerpen Pergolakan &lt;/em&gt;(senarai kisah pemberontakan PRRI). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Menurut kritikus HB. Jassin (1985), cerita tentang pemberontakan PRRI yang meletus pada 1958 itu tidak banyak, karena para pengarang menganggap pemberontakan itu kurang menarik, dianggap tabu, karena itu mereka takut membicarakannya. Beberapa cerpen karya A Bastari Amin memang menyinggung soal ini, juga sajak-sajak Mansur Samin, tapi hanya Soewardi Idris yang keseluruhan karyanya mengambil tema pemberontakan PRRI. Itu sebabnya Wisran Hadi (2008) hendak menyejajarkan kepengarangan Soewardi dengan AA Navis, khususnya dalam pilihan tematik; Pergolakan Daerah. Lagi pula, keduanya sama-sama berasal dari Sumbar dan masa kekaryaan mereka berada pada kurun yang sama.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sisi menarik dari Soewardi adalah ketertarikannya yang begitu intens pada moralitas para pejuang PRRI, menjelang kegagalan gerakan itu. Semacam sisi lain dari individu-individu pemberontak yang tidak tercatat di buku-buku sejarah. Ia tidak membincang sebab-musabab pemberontakan itu, tapi menukik untuk sedalam-dalamnya mengekplorasi situasi mental para pejuang akibat perang saudara itu. Ia seperti hendak menakar berapa banyak istri yang telah menjanda lantaran suaminya tewas, berapa banyak anak-anak yang telah yatim lantaran bapaknya terbunuh, berapa banyak orangtua yang telah kehilangan anak lantaran terlibat dalam pergolakan. Karya-karya Soewardi banyak memaklumatkan “mudharat” ketimbang  “maslahat” dari pergolakan itu. Kalah  jadi arang, menang jadi abu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strategi literernya jauh dari pengisahan yang dramatik dan heroik sebagaimana teks-teks sastra yang menggambarkan kemelut perang. Ia pencerita yang memang sedang memikul, namun serasa tiada berbeban, karena kuatnya sense of humor dalam cerita-ceritanya. Cerpen “Di Luar Dugaan,” dapat mencontohkan keterampilan artistik yang unik dari cerpenis ini. Dikisahkan seorang pejuang PRRI yang mencegat kendaraan umum yang melintas di sekitar persembunyian mereka. Begitu bis berhenti, mereka mengepung, menurunkan semua penumpang, melucuti pakaian, merampas benda-benda berharga. Ini mereka lakukan karena penduduk setempat tidak sanggup lagi menyuplai logistik, sementara perlawanan tak boleh padam. Dalam kekalutan itu, Hadi (tokoh rekaan) berhadapan dengan seorang wanita yang sudah dilucuti pakaiannya. Ia berusaha membela diri dengan mengatakan bahwa kakak iparnya juga sedang berada di hutan, bergabung dengan PRRI. Hadi mengurungkan niat “menggarap” wanita itu setelah ia mengaku bahwa kakak iparnya itu bernama Hadi, asal Solok. Hadi gugup. Ia nyaris “menggagahi” perempuan yang tak lain adalah istri adik kandungnya. Inilah yang dimaksud dengan “kemudharatan” akibat pergolakan PRRI yang ditakar oleh Soewardi. Orang-orang yang semula teguh berpegang pada idealisme perlawanan, saat terdesak dan terkepung oleh APRI, bisa menghalalkan segala cara, dan tak segan-segan memerkosa gadis-gadis kampung di wilayah yang “konon” sedang mereka perjuangkan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Akibat terlalu berani menyingkap mentalitas bobrok para pejuang PRRI, buku-buku Soewardi ditarik dari peredaran, master cetaknya dimusnahkan. Itu tidak datang pemerintah, tapi dari sejumlah mantan pejuang PRRI yang merasa dipermalukan. Tentang pemberangusan ini AA. Navis menulis “Tingkah Laku Bangsa Kita Mengganggu Penciptaan” (Kompas, 14/07/1981). Sejarahwan Taufik Abdullah juga mencatat, pada pertengahan dekade 50-an, Soewardi pernah diadili secara in absentia oleh sejumlah sastrawan Yogyakarta, karena karya-karyanya dianggap terlalu “terbuka”. Terbuka di sini tentu saja “jujur” atau dalam cemoohan khas Minang;  “lurus-tabung”. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebaliknya, cerpen “Isteri Seorang Sahabat” (1964) memperlihatkan etos kesetiakawanan antar sesama pemberontak dalam keadaan terdesak sekalipun. Berkisah tentang “Aku” yang tercampak sebagai pecundang; gagal dalam perjuangannya, juga kehilangan istri. Karena tak kunjung pulang, Tini (istri tokoh “Aku”) menganggap suaminya sudah gugur, ia menikah dengan lelaki lain, lalu merantau ke Jawa. Sementara itu, “Aku” yang dengan mata kepala sendiri menyaksikan Martunus, teman seperjuangannya, ditembak mati oleh APRI, berusaha menutup-nutupi kabar kematian itu pada Nani (istri Martunus). Ia bahkan berpura-pura menyerahkan titipan uang dari Martunus untuk Nani, padahal uang itu dari kantongnya sendiri, agar Nani teryakinkan bahwa suaminya benar-benar masih hidup. Namun, dari seseorang Nani beroleh kabar bahwa Martunus sudah tiada. Tapi kesedihannya berangsur-angsur hilang karena sejawat Martunus itu memberikan perhatian penuh pada Nani, juga pada anaknya. Nani ingin lelaki itu menggantikan posisi Martunus. Berkali-kali Nani bermohon, berkali-kali pula ia menolak ajakan menikah. Bukan karena tidak mencintai Nani, tapi karena ia tidak akan pernah mengkhianati sahabat karibnya sesama pejuang PRRI, Martunus.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Cerpen tentu bukan fakta sejarah, dan mustahil menjadi buku sejarah. Bila sejarah mengacu pada kepastian epistemologis (benar-salah, terjadi-tidak terjadi), sastra berkiblat pada pencapaian kualitas estetik yang  tak  perlu diverifikasi keabsahannya. Meski cerpen-cerpen Soewardi memuat sejumlah fakta keras tentang “sisi lain” pergolakan PRRI yang latar belakang dan tendensi politisnya masih diperdebatkan, itu hanya satu sudut pandang yang berbeda, yang lebih unik ketimbang perspektif sejarah yang dibebani kaidah keilmiahan, juga tendensi politis tertentu. Soewardi, lewat karya-karyanya, dengan cara yang bersahaja, memberi warna baru pada konsep historiografi perihal sejarah PRRI, agar tidak menjadi fakta yang baku dan beku, dan tidak disepakati secara  tergesa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-4484785251555713004?l=damhurimuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/4484785251555713004/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=4484785251555713004&amp;isPopup=true' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/4484785251555713004'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/4484785251555713004'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2008/09/pergolakan-prri-dalam-cerpen-oleh.html' title=''/><author><name>Damhuri Muhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/-JgCVFjccVOA/Tkyc-iydAsI/AAAAAAAAAIY/v_ip-0ze6tg/s220/pic-id-edit.JPG'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-6185590128677321393</id><published>2008-08-29T09:50:00.003+07:00</published><updated>2008-08-29T09:58:55.858+07:00</updated><title type='text'>BUKU BARU</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/SLdkUcaZ0VI/AAAAAAAAADA/MYJkPOTGSlg/s1600-h/Juru+Masak+Cover+-+Front.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/SLdkUcaZ0VI/AAAAAAAAADA/MYJkPOTGSlg/s400/Juru+Masak+Cover+-+Front.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5239766993855959378" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenduri itu memang semarak, tapi keluarga mempelai laki-laki nyaris meninggalkan helat lantaran aneka juadah yang tersuguh ternyata bukan masakan Makaji, Juru Masak handal Lareh Panjang itu. Gulai Kambing terasa hambar karena racikan bumbu tidak meresap ke dalam daging. Kuah Gulai Rebung encer karena keliru menakar jumlah kelapa parut, lebih banyak air ketimbang santan. Maka, berseraklah gunjing dan cela yang mesti ditanggung tuan rumah. Bukan karena kenduri kurang meriah, tidak pula karena pelaminan tempat bersandingnya pasangan mempelai tak sedap dipandang mata, tapi karena macam-macam menu yang tersaji tak menggugah selera. &lt;em&gt;Nasi banyak gulai melimpah,&lt;/em&gt; tapi helat tiada membuat kenyang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makaji tak mungkin menjadi Juru Masak di kenduri pernikahan Renggogeni dengan lelaki lain. Ngeri ia membayangkan betapa terpiuh-piuhnya perasaan Azrial, anak laki-lakinya, yang mencintai Renggogeni, lebih dari mencintai dirinya sendiri. Tapi Mangkudun (ayah Renggogeni) bulat-bulat menolak pinangan itu; &lt;em&gt;jatuh martabat keluarga kita bila anak Juru Masak itu jadi suamimu… &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kampung di luar kota bisa tampak eksotik, apalagi jika jarak yang terbentuk bukan hanya ruang, melainkan juga waktu. Dalam sebagian besar cerita Damhuri, kampung terungkapkan dalam bahasanya sendiri, yakni bahasa yang mengungkap perbendaharaan kampung, tanpa harus berarti usang, karena baik persoalan, maupun sudut pandang dan pendekatannya, sepenuhnya berpijak pada masa kini. Bagai menjawab suatu nostalgia, sekaligus mengingatkan agar tak terlena.&lt;/em&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Seno Gumira Ajidarma&lt;/strong&gt;, &lt;em&gt;novelis&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul :  &lt;em&gt;Juru Masak&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Penulis :  Damhuri Muhammad &lt;br /&gt;Penerbit:  KOEKOESAN &lt;br /&gt;Cetakan :  I, September 2008&lt;br /&gt;Tebal :  170 halaman&lt;br /&gt;ISBN :  978-979-1442-23-7&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-6185590128677321393?l=damhurimuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/6185590128677321393/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=6185590128677321393&amp;isPopup=true' title='10 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/6185590128677321393'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/6185590128677321393'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2008/08/buku-baru.html' title='BUKU BARU'/><author><name>Damhuri Muhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/-JgCVFjccVOA/Tkyc-iydAsI/AAAAAAAAAIY/v_ip-0ze6tg/s220/pic-id-edit.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/SLdkUcaZ0VI/AAAAAAAAADA/MYJkPOTGSlg/s72-c/Juru+Masak+Cover+-+Front.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-4274701742984945030</id><published>2008-08-28T16:45:00.002+07:00</published><updated>2008-08-28T16:51:35.866+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Ratap Gadis Suayan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen: DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;em&gt;Kompas&lt;/em&gt;,Minggu,24/08/08)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mana ada kematian, di sana ada Raisya, janda beranak satu yang bibir pipihnya masih menyisakan kecantikan masa belia. Ia pasti datang, meski tanpa diundang. Di dusun Suayan ini, kabar baik dihimbaukan, kabar buruk berhamburan. Maka, bilamana kabar kematian dimaklumatkan, orang-orang akan bergegas menuju rumah mendiang. Begitu pula Raisya. Tapi ia tidak bakal ikut-ikutan sibuk meramu daun serai, pandan wangi dan minyak kesturi sebelum jenazah dimandikan, tidak pula memetik bunga-bunga guna ditabur di tanah makam seperti kesibukan para pelayat perempuan. Raisya hanya akan mengisi tempat yang telah tersedia, di samping pembaringan mendiang, lalu meratap sejadi-jadinya, sekeras-kerasnya, sepilu-pilunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duduk, berdiri, melonjak-lonjak, menghentak-hentakkan kaki, berputar-putar mengelilingi jenazah sambil terus menyebut-nyebut dan memuji tabiat baik mendiang semasa hidup. Ada irama di suara tangisnya, kadang seperti melantunkan sebuah nyanyian yang memiuh-miuh ulu hati. Lagu kematian itu serasi dengan hentak kakinya. Ratapan, tarian, nyanyian, bersekutu jadi satu. Remuknya perasaan tuan rumah tidak mampu menandingi dalamnya kepiluan Raisya, tukang ratap yang telah mahir menanak risau itu. Mendengar ratapannya, mungkin Raisya lebih berduka ketimbang keluarga mendiang. Padahal ia bukan siapa-siapa, hanya tukang ratap yang terbiasa mendulang perih rasa kehilangan di setiap kematian yang dijenguknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua penyebab yang membuat orang-orang gampang mengingat dusun Suayan. Sebab pertama, perempuan paruh baya bernama Raisya, tukang ratap itu. Namanya mashur berkat kepiawaian meratap. Kerap ia dijemput-antar oleh karib kerabat yang sedang tertimpa musibah kematian. Mereka datang dari dusun-dusun tak terduga, guna memohon kematian itu diratapi. Bagi mereka, kematian kurang khidmat tanpa ratapan Raisya. Sebab kedua, Suayan gampang dikenang karena dusun itu pabrik jodoh. Bila tuan sedang bimbang untuk menjatuhkan pilihan perihal gadis mana yang bakal tuan persunting, barangkali tak ada salahnya tuan berkunjung ke Suayan. Bisa jadi tuan bakal abai dengan pilihan-pilihan tuan sebelumnya. Sebab, di dusun Suayan, meminang perempuan dalam keadaan mata terpicingpun dijamin tidak salah pilih. Sembilan dari sepuluh laki-laki pencari jodoh yang datang ke Suayan berhasil menggondol pasangan. Kalaupun ada yang gagal, sebabnya pasti bukan pada pihak perempuan, tapi karena pihak laki-laki tidak sanggup membayar uang pinangan yang terbilang mahal. Harga pinangan termurah untuk gadis Suayan cukup untuk menebus empat bidang ladang yang tergadai. Konon, hidup orang-orang Suayan terselamatkan oleh pinangan demi pinangan. Memiliki anak perempuan di dusun Suayan seperti menyimpan celengan gemuk yang sewaktu-waktu bisa dibanting-hempaskan, tentu setelah pinangan datang. Dan, celakalah setiap keluarga yang tidak punya anak perempuan. Mereka terpuruk di kerak kemelaratan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak dulu kecantikan gadis-gadis Suayan belum terkalahkan oleh perempuan-perempuan di dusun manapun. Dusun Suayan memang bukan daerah subur penghasil Damar atau Gambir sebagaimana dusun-dusun lain. Tanahnya gersang, padi tak menjadi, hampa sebelum berbuah. Tapi Tuhan memberi anugerah dari pintu yang tak diduga-duga. Bayi-bayi perempuan selalu terlahir dengan kecantikan yang menakjubkan. Mereka tumbuh dan mendewasa menjadi gadis-gadis yang memiliki bibir pipih seperti bibir Raisya, pipi merah merona, kulit mulus seperti kulit orang Jepang, hidung mancung seperti hidung orang Arab. Postur tubuh tinggi, langsing, sintal seperti bintang film. Bila bintang film yang kerap mereka lihat di layar tivi itu tampak anggun dan molek karena olesan bedak yang berlapis tujuh, maka kecantikan gadis-gadis Suayan mukjizat yang jatuh dari langit, bawaan sejak dari rahim. Tanpa olesan bedak dan lipstikpun wajah mereka sudah memancarkan aura kecantikan yang mencengangkan. Siapa tak tergiur? Dusun Suayan seamsal hamparan ladang luas tempat bersitumbuhnya bunga-bunga anggun segala rupa, tiada pernah langkas, meski kumbang-kumbang datang silih berganti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana Raisya? Sekarang atau tidak sama sekali!” desak Datuk Pucuk, penghulu suku Pilawas, suku Raisya. &lt;br /&gt;Seorang lelaki datang hendak meminang Laila, anak gadis Raisya. Satu-satunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak! Biarkan dia melanjutkan sekolah,” sangkal Raisya.Tegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekolah? Kau akan menguliahkan Laila dengan upah meratap? Berapa banyak kematian harus kau tunggu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terimalah pinangan itu! Hidupnya bakal selamat dengan lelaki itu. Juga hidupmu. Tak perlu kau menunggu-nunggu kabar kematian lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak ada kematianpun aku tetap meratap!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memandang raut wajah Laila serasa menatap Raisya. Ada jernih mata Raisya di jernih matanya. Ada pipih bibir Raisya di pipih bibirnya. Ada alis Raisya di alisnya (tebal, hitam, nyaris bertaut). Tapi, bakal adakah malang nasib Raisya di malang nasibnya? Raisya tidak mau itu terjadi. Laila tak boleh kawin muda. Jangan sampai ia terbujuk godaan para pencari jodoh yang berhamburan ke dusun ini, seperti berhamburannya orang-orang selepas mendengar kabar kematian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raisya tidak rela Laila hanya menjadi sebatang tebu yang disesap rasa manisnya, setelah jadi ampas, dicampakkan begitu saja, seperti yang dialaminya di masa lalu. Waktu itu Raisya baru lulus tsanawiyah, Nurman meminangnya. Mentah-mentah ia menolak pinangan ganjil itu. Tapi siapa berani melawan kehendak Datuk Pucuk? Satu-satunya keluarga Raisya yang tersisa. Dengan berat hati ia mengubur segala impian. Rela ia diperistri Nurman, lelaki yang sebenarnya lebih patut menjadi ayahnya. Raisya daun muda ketiga yang takluk di tangan toke Damar itu. Dari gunjing yang berserak di dusun Suayan, ada kabar tak sedap, dengan perjodohan itu Datuk Pucuk sesungguhnya tidak hendak menyelamatkan hidup Raisya, kemenakannya itu, tapi hendak menyelamatkan hidup anak-bininya sendiri. Belakangan Raisya tahu, adik kandung mendiang ibunya itu, sedang terlilit utang, dan ia membayarnya dengan menyerahkan Raisya pada Nurman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya berselang beberapa bulan setelah kelahiran Laila, Nurman lagi-lagi memetik daun muda. Dipersuntingnya Bunaiya, sahabat karib Raisya sewaktu bersekolah dulu. Tiada alasan yang absah saat Nurman meninggalkan Raisya. Barangkali hanya karena lelaki itu sudah hilang gairah, sebab tubuh Raisya tak montok lagi. Ia sibuk mengurus anak, lupa merawat tubuhnya sendiri. Kabar terakhir yang didengar Raisya, suaminya pergi karena memang begitulah perjanjiannya dengan Datuk Pucuk. Ia sanggup membayar pinangan seharga dua ekor sapi jantan, hanya untuk mencicip ranum tubuh Raisya. Hutang-hutang Datuk Pucuk lunas, Raisya punya anak, Nurman pergi, dan kawin lagi. Sejak itu Raisya hidup sendiri, menghidupi anak tanpa suami. Laila yatim, meski ayahnya belum mati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semasa bersekolah dulu, Raisya bintang Qasidah. Napasnya panjang, suaranya tinggi, nyaring. Bila tampil di panggung, lengking suaranya membuat para penonton melonjak-lonjak girang, lebih-lebih kalau ia menyanyikan ya rabbi barik. Tartilnya benar-benar seperti tartil orang Arab, cengkok suaranya membuat penonton terhenyak dan berdecak kagum. Tapi sejak menjadi istri orang, nama Raisya seolah menguap, tak pernah lagi ia tampil di atas panggung, kalah bersaing dengan biduan-biduan muda yang suara dan penampilan mereka lebih cemerlang. Raisya kehilangan banyak hal, empat bidang ladang peninggalan orangtuanya dikuasai Datuk Pucuk, kehilangan suami, dan tentu saja; kehilangan ranum tubuhnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mak Sima, sesepuh suku Pilawas merasa terpanggil untuk meringankan beban Raisya. Ia mewariskan kepandaian meratap pada janda muda itu. Setidaknya ia bisa membesarkan Laila dari upah meratap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau sudah punya syarat-rukunnya, Raisya. Akan lekas mahir,” bujuk Mak Sima waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sudah tua. Kau penggantiku! Jadilah tukang ratap yang bisa menyelami lubuk kepiluan lebih dalam dari selaman keluarga mendiang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukankah kau sudah terlatih menanak risau?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berhari-hari terkapar di tempat tidur akhirnya lelaki itu meninggal juga. Tak ada yang tahu penyakit apa yang dideritanya. Belakangan ini ia kerap batuk-batuk kering. Tiga dari lima kali batuknya disertai muntah. Sebesar jeruk purut gumpalan darah keluar dari mulutnya. Susah ia tidur karena batuk-batuk keras itu tak kunjung reda, hingga tubuhnya terkulai tak bertenaga, kencing dan berak dipacakkannya saja di kasur. Bunaiya, istrinya, sudah berkali-kali membujuk agar ia mau dibawa ke rumah sakit, tapi ia menolak. Ini penyakit tua, tak akan lama, rintihnya. &lt;br /&gt;Kini jenazahnya sudah dimandikan, sudah pula diyasinkan, dishalatkan, tinggal menunggu waktu sebelum diusung ke pekuburan. Tapi sebagaimana kebiasaan orang-orang dusun Suayan, kurang sempurna upacara kematian jika belum diratapi. Maka, jenazahnya masih dibaringkan di ruang tengah rumah itu, menunggu kedatangan Raisya, si tukang ratap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana mungkin Raisya meratapi orang yang telah membuat ia meratap seumur-umur?” tanya Bunaiya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak usah cemaskan soal itu. Bila kematian ini tak diratapi, apa kata orang nanti?” bujuk Wan Uncu, kakak laki-laki Bunaiya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Raisya harus dijemput! Ia satu-satunya tukang ratap di dusun ini. ” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejatinya Raisya tidak pernah berdoa memohon kematian, meski hidupnya sangat bergantung pada kematian. Untunglah hari ini datang juga kabar buruk itu. Ia akan meratap sebagaimana lazimnya, beroleh upah, lalu pulang. Meski yang akan diratapinya mendiang Nurman, bekas suaminya, lelaki yang telah menghancurkan hidupnya. Ada tak ada kematian, Raisya tetap meratap. Itu karena ulah Nurman! &lt;br /&gt;Di samping pembaringan mendiang, Raisya meratap sekeras-kerasnya, sepilu-pilunya, sejadi-jadinya. Tak ada yang tahu apakah Raisya benar-benar menyelam di kerak kepiluan, atau dalam ratap itu ia justru menyimpan amarah yang tak terkata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-4274701742984945030?l=damhurimuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/4274701742984945030/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=4274701742984945030&amp;isPopup=true' title='10 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/4274701742984945030'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/4274701742984945030'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2008/08/ratap-gadis-suayan-cerpen-damhuri.html' title=''/><author><name>Damhuri Muhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/-JgCVFjccVOA/Tkyc-iydAsI/AAAAAAAAAIY/v_ip-0ze6tg/s220/pic-id-edit.JPG'/></author><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-7156178630030544006</id><published>2008-06-17T09:32:00.002+07:00</published><updated>2008-06-17T09:43:48.023+07:00</updated><title type='text'>Wajah Baru Anak-anak Revolusi</title><content type='html'>Oleh : DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;em&gt;Jawa Pos&lt;/em&gt;, 15 Juni 2008) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kairo, 30 Agustus 2006, lelaki ringkih 95 tahun menghembuskan napas penghabisan. Mesir berkabung, dan para penggemar novel di seluruh dunia berduka atas wafatnya Naguib Mahfouz, pemenang nobel sastra 1988 itu. Sepanjang riwayat kepengarangannya, ia sudah menulis tidak kurang dari 40 novel dan ratusan cerita pendek. Penulis The Cairo Trilogy (&lt;em&gt;Bayn Qasrayn&lt;/em&gt;,1956, &lt;em&gt;Qasr al Shawq&lt;/em&gt;, 1957 dan &lt;em&gt;As Sukkariyya, &lt;/em&gt;1957) itu tak luput dari kontroversi. Pada 1994, seseorang menghunuskan belati di lehernya tatkala ia sedang dalam perjalanan menuju pertemuan mingguan dengan rekan-rekan sesama pengarang di sebuah kafe di Kairo. Naguib Mahfouz luka parah, saraf  tangan kanannya terganggu. Serangan itu sebentuk harga yang mesti dibayar Naguib Mahfouz lantaran novelnya &lt;em&gt;Aulad Haratyna &lt;/em&gt;(1962) yang dituding sesat. Ceritanya berkisar di Kairo masa silam dengan tokoh utama, Gabalawi. Banyak yang menganggap tokoh ayah dalam novel yang semula dimuat bersambung di harian Al Ahram itu sebagai alegori bahwa Tuhan lebih sayang pada Adham (nabi Adam) dibanding pada Gabal (Musa)  Rifa’a (Isa Almasih) dan Qasim (Muhammad). Karena itu, Naguib Mahfouz dituding atheis. Seorang ulama garis keras Mesir mengeluarkan pernyataan; jika Naguib Mahfouz tidak menulis &lt;em&gt;Awlad Haratyna&lt;/em&gt;, barangkali Salman Rushdie tidak akan menulis &lt;em&gt;The Satanic Verses &lt;/em&gt;yang menggemparkan itu. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Tidak sukar menemukan novel-novel Naguib Mahfouz dalam edisi Indonesia, misalnya &lt;em&gt;Awal dan Akhir &lt;/em&gt;(2001), &lt;em&gt;Lorong Midaq &lt;/em&gt;(1996), &lt;em&gt;Pengemis&lt;/em&gt; (1997), &lt;em&gt;Tragedi di Puncak Bukit &lt;/em&gt;(2000) dan lain-lain. Novel berjudul &lt;em&gt;Karnak Cafe&lt;/em&gt; (2008) ini merupakan karya Naguib Mahfouz paling anyar dalam edisi terjemahan Indonesia. Edisi Arabnya (Al Karnak) terbit pertamakali di Kairo,1974. Sementara edisi Inggrisnya terbit pada 2007 untuk mengenang satu tahun kematian Naguib Mahfouz. Dalam sebuah sesi wawancara, sebagaimana dicatat Nadine Gordimer (1995), Naguib Mahfouz pernah ditanya perihal tema apa yang paling dekat di hati anda? Novelis itu menjawab; "Kebebasan. Ya, kekebasan dari penjajahan, dari kepemimpinan absolut raja-raja, dan kebebasan dalam konteks masyarakat dan keluarga. Dalam Trilogi saya misalnya, setelah revolusi membawa kebebasan politik, keluarga Abdul Jawad menuntut kebebasan yang lebih dari dirinya." Tapi, berbeda dengan novel-novel Naguib Mahfouz sebelumnya, &lt;em&gt;Karnak Cafe &lt;/em&gt;justru menggambarkan pandangan pesimistik terhadap isu kebebasan dan demokrasi yang menyeruak pasca revolusi 1952. Trauma kekalahan Mesir dari Israel pada perang Juni 1967 menjadi mainstream novel ini. Kafe Karnak sebagai poros dari  keseluruhan kisah buku  ini bukan kafe biasa, tapi sebuah wadah tempat berkumpulnya ‘anak-anak revolusi’ yang kecewa akibat perang enam hari yang membawa Mesir terpuruk pada fase kemunduran, jauh sebelum revolusi 1952 (terbebasnya Mesir dari absolutisme kerajaan) terjadi. Di dunia Arab, malapetaka Juni 1967 itu biasa disebut dengan al naksa (kemerosotan). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Periode kekalutan ini bermula dari pengunduran diri presiden Gamal Abdul Nasser, figur utama yang tak tergoyahkan. Tak lama berselang, pada 1970 ia meninggal dalam sebuah serangan setelah berpidato di hadapan para pemimpin Arab yang tengah berkumpul di Kairo. Penggantinya Anwar Sadat, wakil presiden waktu itu. Banyak darah tertumpah di bawah jembatan di Mesir sejak Sadat dikukuhkan menjadi presiden. Para ekstrimis agama, politisi dan intelektual kiri dibersihkan. Para penyetia revolusi 1952 seperti Hilmi Hamada, Ismail Syeikh dan Zaenab Diyab, tokoh-tokoh imajiner dalam Karnak Cafe tidak lagi bisa menghirup udara kebebasan. Hilmi Hamada, pengunjung setia kafe itu berkali-kali dipenjara, dituduh sebagai pengkhianat revolusi hanya karena gagasan politiknya berhaluan sosialisme. Lelaki tambatan hati Qurunfula (mantan artis kondang Mesir, pemilik kafe Karnak) itu akhirnya mati di penjara, tanpa kejelasan di mana jenazahnya dimakamkan. Zaenab, aktifis muda, mengalami pencabulan di salah satu ruang interogasi. Ia ditangkap karena punya hubungan khusus dengan Ismail Syeikh yang dituduh sebagai antek  Ikhwanul Muslimin, gerakan bawah tanah yang hendak diberangus oleh  pemerintahan Sadat. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Qurunfula, daya pikat kafe Karnak itu sangat terpukul oleh kematian Hilmi Hamada. Namun kesepiannya sedikit terobati oleh kembalinya Ismail dan Zaenab hingga keriuhan senda gurau masih tetap berdengung di kafe Karnak. Tapi, Ismail ternyata bukan lagi lelaki yang teguh pendirian seperti dulu, bukan pengikut setia revolusi lagi. Ia bebas setelah menerima tawaran untuk menjadi spion guna membekuk para pembelot yang saban malam berkumpul di kafe Karnak. Begitu juga Zaenab, ia kembali dengan wajah baru sebagai agen rahasia yang tidak segan-segan menjual kehormatannya demi memperoleh informasi perihal para ekstrimis dan para aktivis kiri yang harus disingkirkan. Tak jelas lagi siapa kawan, siapa lawan. Para pengunjung kafe Karnak saling curiga, hingga tak ada lagi kenyamanan saat menikmati suguhan kopi seperti dulu. Mereka dalam situasi terancam oleh ‘musang-musang berbulu Ayam’ yang berkeliaran di kafe Karnak.   &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Strategi literer pengarang belum bergeser dari realisme usang khas Naguib Mahfouz, dengan satu narator dan sudut pandang tunggal. Selain itu, eksplorasi prosaiknya benar-benar tidak berjarak dari realitas keseharian Naguib Mahfouz. Baik sebelum maupun sesudah memenangkan nobel, Naguib Mahfouz akrab dengan kafe. Mulai dari kafe El Feshawi  yang bernuansa klasik di kawasan kota tua  Kairo, hingga cafe Riche di seberang sungai Nil. Di El Feshawi, ia pelanggan terhormat, setiap pagi sebelum berangkat ke kantornya, ia memesan kopi hitam, menyapa orang-orang di sekitarnya, membaca koran dan menulis. Berbeda dengan El Feshawi, kafé Riche terkenal sebagai tempat berkumpulnya pimpinan majelis revolusi dan tokoh-tokoh pergerakan nasional kelas menengah, seiring dengan pulangnya kaum intelektual Mesir dari Perancis. Sejak 1963, di kafe Riche kerap diselenggarakan ‘salon sastra Mahfouz’ yang dihadiri oleh sastrawan dan budayawan Mesir seperti Gamal el-Gheitani, Amal Danqel, Yahya Tahir Abdullah, Sarwat Abaza dan lain-lain. “Jika kamu baca cerita-ceritanya, kamu akan menemukan sejumlah karakter yang diambil dari sejumlah pelanggan Kafe ini,” kata pemilik kafe itu seperti dikutip Qaris Tajuddin (2006). Di kafe ini Naguib Mahfouz memotret pelbagai sisi kegamangan akibat malapetaka Juni 1967, yang tergambar secara benderang dalam novel &lt;em&gt;&lt;em&gt;Karnak Café&lt;/em&gt; &lt;/em&gt;ini. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Tapi, semata-mata merujuk pada peristiwa perang enam hari itu akan  mengabaikan kompleksitas persoalan yang tersirat. Sebab, &lt;em&gt;Karnak Cafe&lt;/em&gt; bukanlah buku sejarah yang mesti terukur keakuratan konsep historiografinya, tapi teks yang digarap dengan keterampilan artistik dan berhulu pada pencapaian estetika tertentu. Bukankah hubungan ganjil Qurunfula dengan Hilmi Hamada menyuguhkan realitas baru yang terlepas dari ‘fakta keras’ perang Mesir-Israel 1967? Begitu juga dengan kegilaan Arif Sulaiman, mantan staf ahli menteri keuangan Mesir yang tergila-gila pada Qurunfula. Ia menghamburkan-hamburkan uang demi menaklukkan artis kondang itu, hingga akhirnya dipenjara karena kasus korupsi. Setelah bebas, Arif Sulaiman terlunta-lunta, Qurunfula menampungnya sebagai pelayan di kafe Karnak. “Ia bukan korbanku, tapi korban dari ketidakberdayaannya sendiri,” kilah Qurunfula. Kalimat yang seolah-olah menjadi bentuk pengamsalan terhadap keterpurukan Mesir masa itu.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DATA BUKU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul  :  Karnak Cafe&lt;br /&gt;Penulis  :  Naguib Mahfouz&lt;br /&gt;Penerbit :  Alvabet, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan         :  I, Februari 2008&lt;br /&gt;Tebal  :  166  halaman&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-7156178630030544006?l=damhurimuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/7156178630030544006/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=7156178630030544006&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/7156178630030544006'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/7156178630030544006'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2008/06/wajah-baru-anak-anak-revolusi.html' title='Wajah Baru Anak-anak Revolusi'/><author><name>Damhuri Muhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/-JgCVFjccVOA/Tkyc-iydAsI/AAAAAAAAAIY/v_ip-0ze6tg/s220/pic-id-edit.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-7402061904725197598</id><published>2008-05-12T10:59:00.002+07:00</published><updated>2008-05-12T11:04:58.186+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;SEMBILU TALANG  PERINDU&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;em&gt;Jawa Pos&lt;/em&gt;, Minggu 11 Mei 2008)&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Jangan dikira tiada puncak di atas puncak! Begitu kalian menginjakkan kaki di tepi kawah seluas dua lingkar pacuan kuda itu, arahkan pandang ke sisi kiri, kalian akan melihat sepasang pohon kembar yang tegak dalam posisi bersilang hingga menyerupai huruf X. Awas! Itu tanda larangan, agar para pendaki gunung Seribu Bidadari tak gegabah menerobosnya. Tapi jikalau kalian memang punya nyali untuk menantang bahaya, duapuluh depa saja dari persilangan pohon kembar tak terbilang usia itu, akan tersingkap jalan setapak penuh semak kelimunting yang makin ke ujung makin menanjak. Itulah jalan menuju puncak yang lebih tinggi dari puncak tempat para pendaki memancang bendera pertanda telah menaklukkan gunung Seribu Bidadari yang keganasannya tersohor di segala  penjuru mata angin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, puncak terlarang bagi siapa saja yang tak hendak berpisah dengan sanak-saudara setelah pendakian yang bersabung nyawa itu. Di puncak larangan itu terhampar sebuah telaga yang airnya begitu jernih, tapi dinginnya menusuk hingga tulang sumsum. Bila daya tahan tubuh sedang menurun, jangan coba-coba membasuh badan dengan air telaga itu, bisa mati beku kalian dibuatnya. Sejak lama, orang-orang di sekitar lereng Seribu Bidadari menamainya, Telaga Dewi. Telaga pemandian dewi-dewi penunggu puncak terlarang. Kecantikan mereka nyaris menyerupai malaikat tatkala menyamar sebagai bidadari. Itu sebabnya gunung itu dinamai Seribu Bidadari. Banyak yang percaya, bidadari-bidadari itulah yang telah membuat pendaki-pendaki yang tersesat di kedalaman belukar puncak terlarang, merasa tidak perlu dicari, tidak perlu kembali, untuk selamanya. Berapa banyak pendaki yang raib, tapi akhirnya dianggap mati lantaran tak satu mayat pun ditemukan? Sebenarnya mereka masih hidup, bahkan usia mereka bakal lebih panjang ketimbang sanak saudara yang belum sepenuhnya merelakan kehilangan tak berjejak itu. Tidak hilang, hanya saja jasad mereka tak terjangkau pandang mata telanjang. Mereka sudah menjelma makhluk halus dan hidup bahagia sebagai pasangan bidadari-bidadari yang memang harus terus beranak-pinak.&lt;br /&gt;"Akan kami renangi telaga hantu itu. Sebab, Talang Perindu ada di tengah-tengahnya," begitu tekad Gacik Pangawan, salah satu dari tiga pendekar tanggung yang datang dari negeri jauh.    &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;"Barang keramat itu syarat pokok untuk menyempurnakan kesaktian kami," sambung  Incekmato Batangkai, pendekar yang tampangnya cukup bersahabat, tapi cepat sekali naik pitam.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;"Lebih baik mati terjungkang di puncak terlarang daripada turun tanpa Talang Perindu!" dukung Sakotok Takujai, pendekar paling muda, tapi dadanya paling membusung.      &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Tak salah lagi. Ada serumpun aur yang tumbuh subur di telaga itu. Setiap buluh di rumpun itu kelak memang akan menjadi Talang Perindu, barang keramat yang sejak dulu dicari-cari para penghamba ilmu pelet.  &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;"Jaga mulutmu tua bangka! Kami bukan pemuja ilmu pelet.” gertak Incekmato Batangkai.   &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Cecunguk ini benar juga, kita memang akan merenggut semua bunga yang kita suka. Bila perlu bunga di jambangan. Dengan begitu, akan ternobatlah kita  sebagai  Pendekar Pemetik Bunga," sela Sakotok Tagujai. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;"Pokoknya semua makluk bernama perempuan bakal berlutut di kaki kita." &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Barangkali ada yang kalian lupa. Rumpun aur itu tidak tumbuh di tengah-tengah Telaga Dewi sebagaimana kalian duga. Mungkin kalian juga lupa kalau rumpun aur itu bisa berpindah dari tengah ke tepi telaga, sekali waktu juga bisa  menghilang seolah terhisap arus di dasar telaga. Lalu, bagaimana cara kalian mendapatkan Talang Perindu? Saya kuatir, pendakian kalian akan sia-sia. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;"Aha, tua bangka ini meragukan kehebatan kita?"   &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;"Tunggulah, sebentar lagi ia akan melihat tuah Talang Perindu di perkampungan lereng gunung ini. Perempuan-perempuan di tanah kelahirannya itu akan kita boyong pergi jauh. Dan, anak gadisnya yang bermata biru itu pantas pula melayani juragan-juragan di negeri kita."&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;"Sebelumnya tentu kita ujicoba lebih dahulu. Ua ha ha ha….." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Semasa darah mudanya masih menggelegak, lelaki ringkih pencari belerang itu pernah pula menggebu-gebu hendak memiliki Talang Perindu sebagaimana tiga pendekar pongah itu. Andai mereka tahu bahwa ia adalah Pendekar Pemetik Bunga yang sesungguhnya, tentu mereka tidak akan berani menggertak, apalagi mengancam akan meneluh anak gadisnya dengan Talang Perindu. Lelaki setengah bongkok itu memang gagal menggapai rumpun aur di tengah Telaga Dewi lantaran diserang kawanan elang gunung yang bertubi-tubi mencengkram kuduk dan pucuk kepalanya. Tubuhnya terapung-apung sebelum tangannya sempat berpegangan pada salah satu buluh di rumpun aur itu. Apa boleh buat, hasrat hendak membuat seruling dari Talang Perindu  pupus sudah.  Sedianya seruling itu akan menjadi seruling bertuah yang bila ditiup akan menaburkan benih-benih rindu setiap perempuan yang mendengarnya. Itu sebabnya disebut Talang Perindu, talang penumbuh rindu. Sayup-sayup bunyi seruling akan membuat gadis-gadis mabuk kepayang hingga datang mendekat satu persatu, serupa gerombolan ikan berbondong lantaran mencium bau umpan dalam jala. Ia bisa pilih, ranum tubuh mana yang mesti dicicip lebih dulu. Jangan segan-segan, mereka sudah jadi budak, dan lelaki peniup seruling adalah tuannya. Budak-budak tiada bakal bebas, bila pemilik Talang Perindu belum melepasnya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ah, itu hanya angan-angan yang tak kesampaian. Tapi, berputus asa pantang bagi seorang pendekar. Meski Talang Perindu tak didapat, suatu masa ia beroleh mujur juga. Saat terbungkuk-bungkuk memikul karung berisi belerang lembab, kakinya tersandung sarang elang yang baru saja jatuh dari dahan pohon Medang. Saking kagetnya, tak sengaja ia mengeluarkan jurus Terjang Halimbubu, hingga  gumpalan berisi rumput-rumput kering itu hancur menjadi serpihan-serpihan halus seperti tepung terigu dihembus angin. Tapi ia masih saja kesal, sebab kelingking jari kakinya terasa perih.  Seperti ada duri yang mencucuk daging kelingking itu. Terus saja ia berjalan sembari menjinjit kaki. Saat membasuh kaki di kali yang hanya beberapa langkah dari dangau tempat tinggalnya, ia mencabut duri yang tertancap di kelingking kaki kirinya. Bukan duri ternyata, tapi patahan sembilu sebesar ujung batangan tusuk gigi. Mungkin sembilu yang terkelupas dari batangan buluh kering, lalu elang gunung membawanya terbang untuk membuat sarang. Sembilu yang telah mendarahi kelingkingnya itu mengapung, hanyut perlahan. Tapi, tampaknya ada yang  ganjil. Sembilu itu tidak hanyut ke hilir, justru mengarah ke hulu kali. Hanyut sungsang. Lekas ia memungutnya. Bila sudah rejeki tak hendak ke mana, itu bukan sembilu biasa, tapi sembilu yang terkelupas dari Talang Perindu di puncak Seribu Bidadari. Tak ada rotan, akar pun jadi. Tak ada Talang, sembilu pun cukup. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Benda yang semula jadi duri dalam dagingnya kelak membuat ia ternobat sebagai  Pendekar Pemetik  Bunga. Sembilu dari Talang Perindu menjadi jimat ajaib di tangannya. Tapi, seumur-umur hanya sekali ia meneluh perempuan dengan sembilu bertuah itu. Masa itu, sekelompok perempuan pirang datang hendak mendaki  gunung Seribu Bidadari, dan lelaki penambang pelerang itu terpilih sebagai  penunjuk jalan. Jane, perempuan paling mancung, sekali waktu menutup hidung saat berdekatan dengan si penunjuk jalan itu. Seolah-olah Jane tidak tahan dengan bau tubuhnya. Maklum, ia hanya akan sungguh-sungguh mandi di malam satu Syuro, setahun sekali.  Ia tersinggung, dan obat satu-satunya hanya perempuan itu sendiri. Sembilu Talang Perindu membuat Jane bersenang hati jadi bininya. Pantaslah anak gadisnya kelak juga bermata biru sepertinya Jane. Sejak itu, tak pernah lagi ia meneluh. Puas ia dengan satu perempuan saja, tidak seperti hasrat tiga pendekar tanggung yang hendak menjadi tuhan bagi semua makhluk bernama perempuan, padahal mereka belum tentu sanggup menggapai puncak terlarang di gunung  Seribu Bidadari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Gelang-gelang Kawat marah besar. Warung Kopang miliknya sedang terancam gulung tikar. Sepi pengunjung, karena perempuan-perempuan yang tersedia sudah kadaluarsa, tak menggairahkan lagi. Suguhan kopi di warung remang-remang itu memang tiada duanya, tapi para pejajan tentu lebih tergiur dengan kenikmatan saat duduk di atas paha gadis-gadis muda sembari menyeruput kopi. Itu sebabnya disebut Kopang, Kopi Pangku, minum kopi sambil dipangku. Saatnya gadis-gadis pelayan Kopang itu diganti dengan perawan-perawan kinclong, segar dan berkulit kencang. Tapi, tiga murid Gelang-gelang Kawat yang diutusnya ke puncak gunung Seribu Bidadari pulang dengan tangan kosong.  &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Keparat busuk! Masih berani kalian pulang tanpa Talang Perindu?” bentak Gelang-gelang Kawat, tubuh bongsornya gemetar hendak lekas menghabisi bedebah-bedebah itu.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Tuan guru, beri kami satu kesempatan lagi,” jawab Incekmato Batangkai dengan kepala menunduk.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Kami janji, Talang Perindu akan jatuh ke tangan kita. Warung Kopang akan semarak kembali seperti dulu!” &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Akan kami paksa tua bangka penambang belerang itu menunjukkan di mana sebenarnya Talang Perindu itu berada,” tambah Sakotok Tagujai&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Penambang Belerang? ” Tanya Gelang-gelang Kawat, terperangah.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Ya, lelaki sepuh di lereng Seribu Bidadari itu tahu segala rahasia tentang Talang Perindu. Ia mengenal Talang Perindu seperti mengenal urat lehernya sendiri.”&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Jadi, berilah kami kesempatan!” mohon Gacik Pangawan, mulai ketakutan, sebab geraham Gelang-gelang Kawat sudah bergemeretuk, seolah akan mengunyah-ngunyah mereka bertiga.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Gelang-gelang Kawat langsung teringat raut wajah lelaki pencari belerang yang diceritakan murid-muridnya itu. Ia tidak lain adalah Pendekar Pemetik  Bunga  yang  sebenarnya. Dulu, Gelang-gelang Kawat pernah berguru pada empunya jurus Terjang Halimbubu itu. Tapi  sesungguhnya ia hanya berpura-pura jadi murid, untuk mencuri sembilu Talang Perindu, jimat ampuh yang diincarnya sejak lama. Tapi, memiliki Talang Perindu rupanya tak segampang mengirim Gacik Pangawan, Sakotok Takujai, Incekmato Batangkai,  tiga murid  tololnya itu ke liang kubur.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelapa Dua, 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-7402061904725197598?l=damhurimuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/7402061904725197598/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=7402061904725197598&amp;isPopup=true' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/7402061904725197598'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/7402061904725197598'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2008/05/sembilu-talang-perindu-cerpen-damhuri.html' title=''/><author><name>Damhuri Muhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/-JgCVFjccVOA/Tkyc-iydAsI/AAAAAAAAAIY/v_ip-0ze6tg/s220/pic-id-edit.JPG'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-5732774066784752926</id><published>2008-04-28T12:31:00.003+07:00</published><updated>2008-12-11T13:12:04.276+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/SBVibPIeyFI/AAAAAAAAAC4/9x3Rwykfisg/s1600-h/snow.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/SBVibPIeyFI/AAAAAAAAAC4/9x3Rwykfisg/s320/snow.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5194165965299828818" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Malu (Aku) Jadi Orang Turki...&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;em&gt;Media Indonesia&lt;/em&gt;, 26 April 2008)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam sebuah wawancara dengan koran Swiss,  Tages Anzeiger (2005), Orhan Pamuk  terang-terangan bicara tentang  “Genosida Armenia” di masa kesultanan Ottoman (1915). Novelis Turki pemenang Nobel Sastra (2006) itu juga mengungkit-ungkit soal perseteruan antara Turki dan minoritas Kurdi sejak 1980-an. “Sejuta orang Armenia dan tigapuluh ribu orang Kurdi dibunuh di tanah ini. Tak ada  yang berani menyatakannya, kecuali saya,” ungkap Pamuk dengan kepala tegak. Akibatnya, ia harus berurusan dengan pengadilan. Pemerintah Turki menjeratnya dengan tuduhan menghina negara. Tapi, pengarang yang berhasil menggambarkan konstelasi perbenturan antara sekularisme warisan Kemal Attaturk, militer pro pemerintah, Islam militan dan nasionalisme Kurdi dalam novel-novelnya itu menyangkal bahwa ia tidak sedang menghina negara. Ia hanya meminta pemerintah Turki untuk menjunjung tinggi kebebasan berekspresi. Lagi pula, pernyataan itu bukan isapan jempol belaka, tapi fakta sejarah yang seolah-olah hendak dilupakan begitu saja.    &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jalan kepengarangan Orhan Pamuk seumpama “menepuk air di dulang”, makin ditepuk, makin basah muka sendiri. Tengoklah Darkness and Light (1979),  Bey and His Son (1982), White Castle (1991), The Black Book (1990), My Name is Red (2000) dan Snow  (2004). Banyak yang menuding Pamuk sebagai “pengarang Turki yang  gandrung menghina agama dan menyumpah-serapahi tanah airnya sendiri.” Mungkin  ini resiko yang mesti ditanggung oleh sastrawan yang hidup di dalam tubuh peradaban yang sedang retak dan nyaris terbelah. Separuh hendak mengembalikan kejayaan Ottoman Empire yang pernah tercatat dalam sejarah, separuhnya lagi digoda oleh denyut modernisasi yang  berkiblat  ke Eropa. Pamuk seperti terjerembab ke dalam ranah kemenduaan yang kerap membuatnya bimbang dan gamang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kegamangan itu tampak nyata dalam Snow, novel karya Orhan Pamuk  yang baru saja diedisi-indonesiakan oleh penerbit Serambi. Pusaran kisahnya berlangsung di Kars, sebuah kota kecil di Anatolia. Strategi literer Pamuk seperti sedang menapaktilasi kepulangan penyair Turki, Kerim Alakusoglu (Pamuk menggunakan inisial; Ka) ke Istambul setelah terbuang ke Jerman selama 12 tahun. Ia datang ke Kars untuk menyelidiki sejumlah kasus bunuh diri di kalangan gadis-gadis muda kota itu. Salahsatunya Teslime, siswi madrasah aliah yang bunuh diri karena kecewa dengan peraturan sekolah yang melarang siswi-siswinya mengenakan jilbab. Bila larangan itu diabaikan, Teslime dan kawan-kawan akan diusir dari ruang kelas. Orangtua Teslime sudah berkali-kali menasehati agar ia mematuhi larangan itu, mencopot jilbabnya, hingga ia tetap bisa bersekolah. Tapi, Teslime bersikukuh mempertahankan jilbabnya. Pada suatu malam, ia berwudlu, dan shalat di kamarnya. Selesai shalat, ia mengikatkan jilbabnya ke cantolan lampu, dan gantung diri.    &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kasus bunuh diri yang meruyak di Kars hanya pintu masuk untuk menelusuri kompleksitas perbenturan antara militer pro pemerintahan sekuler, kelompok Islam garis keras dan nasionalis Kurdi yang sedang mencuat sebelum pemilihan walikota Kars. Para penghamba Ataturk menunggangi kasus bunuh diri gadis-gadis muda Kars untuk menghantam kelompok Islam yang menurut mereka tidak mampu menyelamatkan para pengikutnya dari tindakan konyol yang sudah pasti berujung di kerak Neraka. Itu sebabnya, Lazuardi, pemimpin kelompok Islam militan yang termashur di seantero Istambul, datang ke Kars. Ka makin sulit melepaskan diri dari lingkaran perseteruan itu sejak ia (secara kebetulan) menyaksikan pembunuhan seorang direktur Institut Pendidikan. Desas-desus pun bergulir, lelaki itu ditembak, karena ia orang pertama yang mengesahkan peraturan pelarangan jilbab. Pemimpin redaksi surat kabar lokal, Border City News, Serday Bey, diintimidasi oleh kelompok tertentu agar ia membangun opini publik bahwa pelaku pembunuhan itu tidak lain adalah kaki tangan Lazuardi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pamuk juga merancang sebentuk ‘romantika tak biasa’ perihal hubungan Ka dengan perempuan masa lalunya, Ipek. Kehadiran Ka di Kars tidak semata-mata untuk penyelidikan kasus bunuh diri yang menghebohkan itu. Diam-diam, ia hendak menyambung kembali hubungan asmaranya dengan Ipek, dan ingin memboyong perempuan itu ke Frankfurt. Namun, kembali mendapatkan cinta Ipek teryata tidak segampang menulis puisi yang kerap dipersembahkannya untuk perempuan itu. Ipek ternyata sudah janda. Ia pernah dipersunting Muhtar, calon walikota Kars yang terus diganjal oleh lawan-lawan politiknya. Persoalan makin runyam ketika Ka berhasil mengungkap bahwa beberapa tahun sebelum kedatangannya ke Kars, ternyata Lazuardi pernah pula menjadi laki-laki yang dicintai Ipek. Maka, kedatangan buronan politik kelas kakap itu ke Kars juga bukan hanya untuk membereskan kasus-kasus bunuh diri. Sebagaimana Ka, Lazuardi juga hendak menyambung kembali hubungan asmaranya dengan Ipek.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lewat novel setebal 731 halaman ini, Pamuk menggambarkan betapa tidak nyamannya “hidup di tanah orang mati yang terus saja berkuasa.” Tidak hanya sikap politik, ideologi, dan gaya hidup, kesenian pun harus menghamba pada sekularisme. Gejala inilah disuguhkan lewat proganda-proganda politik dalam pementasan-pementasan teater pimpinan Sunay. Di atas panggung, Sunay memaklumatkan bahwa jilbab menghambat kebebasan perempuan. Sudah saatnya, gadis-gadis Kars mencopot jilbab mereka, sebagaimana perempuan-perempuan Eropa.  Ketegangan makin memuncak ketika Sunay (didukung oleh agen-agen rahasia dari Istambul) memaksa  Kadife (adik Ipek), pemimpin kaum berjilbab Kars untuk tampil menjadi pemain pada pementasan penting di teater nasional. Kadife harus memerankan adegan perempuan yang mencopot jilbabnya, lalu melemparkannya ke hadapan penonton. Dengan begitu, acaman laten kaum berjilbab di Kars dapat dilumpuhkan. Tidak ada yang tahu bahwa Kadife sebenarnya sedang terancam. Ia menerima tawaran itu karena Lazuardi, kekasihnya, sedang disandra oleh Sunay di sebuah tempat tersembunyi. Bila ia ingin Lazuardi bebas, Kadife itu harus mau memainkan peran itu. Dan Ka, adalah orang yang menegosiasikan perjanjian itu dengan Sunay. Agen-agen rahasia yang berada di belakang Sunay berjanji akan membiarkan Ka keluar dari Kars dengan selamat, tentu  bersama Ipek, dan mereka akan hidup bahagia di Frankfurt. Celakanya, pada hari yang sudah dijanjikan, tersiar kabar bahwa Lazuardi tewas setelah persembunyian dibombardir tentara. Ipek menuduh Ka telah berkhianat. Sebab, hanya Ka satu-satunya orang yang tahu persembunyian Lazuardi. Ia kecewa dan membatalkan keberangkatannya ke Frankfurt bersama Ka. Lazuardi memang sudah jadi milik Kadife, tapi Ipek masih mencintai pemberontak berwajah tampan itu. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Siapa pelaku pembunuhan direktur Institut Pendidikan? Benarkah Ka  berkhianat pada Kadife, Ipek dan Lazuardi? Siapa pula pelaku pembunuhan Ka yang terjadi setelah ia kembali ke Frankfurt? Pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah terjawab. Tampaknya Pamuk memang sengaja menggantung kisah thriller politik ini. Tapi, ia benar-benar sempurna menggambarkan identitas ‘keturkian’ Ka yang terbelah dua. Menggunakan nama Turki (Kerim Alakusoglu) saja ia begitu terbebani, ia lebih suka menyebut dirinya; Ka. Sebaliknya, alih-alih menghirup udara bebas di Eropa, Ka malah mati bersimbah darah di sana. Agaknya, keberanian mengungkap krisis identitas di Turki inilah yang membuat Pamuk dituding sebagai pengarang yang sedang menguliti wajah sendiri… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DATA BUKU&lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;        Judul  :  SNOW (Di Balik Keheningan Salju)&lt;br /&gt; Penulis  :  Orhan Pamuk&lt;br /&gt; Penerbit :  SERAMBI, Jakarta&lt;br /&gt; Cetakan         :  I, April  2008&lt;br /&gt; Tebal  :  731  halaman&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-5732774066784752926?l=damhurimuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/5732774066784752926/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=5732774066784752926&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/5732774066784752926'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/5732774066784752926'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2008/04/malu-aku-jadi-orang-turki.html' title=''/><author><name>Damhuri Muhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/-JgCVFjccVOA/Tkyc-iydAsI/AAAAAAAAAIY/v_ip-0ze6tg/s220/pic-id-edit.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/SBVibPIeyFI/AAAAAAAAAC4/9x3Rwykfisg/s72-c/snow.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-7753254505378002430</id><published>2008-04-07T12:01:00.000+07:00</published><updated>2008-04-07T12:10:46.289+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;TIKAM KUKU&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;em&gt;Suara Merdeka,&lt;/em&gt; 6/April/2008)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar silat pada lelaki itu barangkali memang seperti menyongsong kematian. Betapa tidak? Barangsiapa yang hendak menjadi murid harus menyerahkan sebilah pisau siraut dibungkus selembar kain kafan sebagai mahar sebelum pendekar itu mengajarkan gerak pelangkahan, jurus-jurus elak dan tentu saja; jurus-jurus terkam yang terbilang mematikan. Apa gunanya kain kafan kalau bukan buat bekal bila kelak muridnya mati ditikam pisau siraut atau dicabik cakaran jurus Tikam Kuku? Mungkin tak hanya pisau siraut dan kain kafan yang sebelumnya harus diserahkan, jangan-jangan pendekar itu sudah menggali kubur untuk murid-muridnya, tentu bila kelak murid-muridnya sampai ajal saat  berguru. Dan, bila tiba saatnya seorang murid diputus kaji, ia harus menempuh ujian Gulung Tikar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eit, tunggu dulu Kisanak!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin Kisanak menduga, kalau hanya disuruh menggulung tikar, apa pula susahnya ujian itu? Bukankah semua murid pendekar berjulukan Harimau Campo itu sangat  terlatih menggulung tikar karena mereka memang anak-anak surau? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aha, tak semudah yang Kisanak bayangkan.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujian itu lebih tepat disebut Tikar Gulung ketimbang  Gulung Tikar. Apa sebab? Murid yang hendak putus kaji itu akan digulung dengan selembar tikar pandan serupa kain kafan menggulung mayat. Maka, tubuh yang terbebat gulungan itu tak akan bisa bergerak, apalagi mengelak. Jangankan bergerak, mengambil napas saja susah alang kepalang. Nah, saat itulah Harimau Campo menghunus tombak, menghujani gulungan tikar pandan dengan jurus tusuk dan tikam. Ia tak peduli, apakah muridnya bakal mati dengan usus terbusai, atau mati dalam keadaan kepala retak-rengkah. Bertubi-tubi, hingga gulungan tikar berisi mayat hidup itu koyak-moyak, bolong di sana sini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kisanak tahu apa jadinya calon pendekar itu?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulit tubuhnya tak tergores mata tombak barang sedikitpun. Jangankan luka gores, tersentuh pun tidak. Dalam kesempitan rupanya ia masih bisa bergerak dan mengelak serangan Harimau Campo yang tak henti-henti hingga ayam kinantan berkokok tiga kali. Tersebab pertarungan hidup mati dalam ujian Tikar Gulung itulah tidak banyak orang-orang dusun Subakir yang berani memercayakan anak-anak mereka untuk belajar silat pada Harimau Campo. Lagi pula, dari sekian banyak murid yang pernah berguru pada pendekar gaek itu, hampir duapertiganya, alih-alih putus kaji, malah putus di tengah jalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kisanak tahu siapa murid yang lulus dalam ujian Tikar Gulung itu?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salahsatunya Dahlan. Tapi orang-orang dusun Subakir menambahkan kata ‘Beruk’ di belakang namanya, hingga jadilah ; Dahlan Beruk. Lama-kelamaan orang-orang menghilangkan  kata ‘Dahlan’,  dan  lebih suka menyebut nama belakang  saja ;  Beruk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin Kisanak menduga, ia  dipanggil Beruk karena mukanya seperti muka Beruk?” &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dugaan Kisanak hampir benar, tapi bukan mukanya yang serupa Beruk, melainkan perangainya. Kisanak pernah mendengar cerita tentang peristiwa kebakaran rumah gonjong  milik  keluarga tuan Gedang puluhan tahun silam? Waktu itu orang-orang dusun Subakir sengaja membiarkan rumah warisan gembong PKI itu dilalap api hingga rata dengan tanah. Mereka mengira, itu balasan dari kekejaman tuan Gedang yang telah membunuh orang-orang dusun Subakir dalam jumlah tak terbilang. Kisanak tahu kenapa bukit di sebelah utara dusun ini dinamai Bukit Sibusuk? Di bukit itu tuan Gedang dan anak buahnya menguburkan orang-orang dusun Subakir yang sudah dihabisinya karena dianggap membangkang. Mayat-mayat ditumpuk dalam sebuah lubang besar yang tidak terlalu dalam, ditimbun sekenanya saja, hingga bau busuk menyeruak ke dalam kampung. Berhari-hari orang-orang dusun tidak berani keluar rumah lantaran bau bangkai yang bikin mual, hingga kelak mereka menamai bukit itu ; Bukit Sibusuk. Ya, bau bangkai korban kebiadaban orang-orang gestapu. Jadi, meski mereka tak sempat balas dendam pada tuan Gedang yang tiba-tiba lenyap seolah diculik orang Bunian, maka kebakaran itu setidaknya dapat melunaskan sakit hati yang mereka pendam sejak lama. Tapi, tatkala jilatan api sudah mencapai atap rumah gonjong sembilan ruang itu, Dahlan sudah bergelayut serupa Beruk di dahan pohon durian, belakang rumah itu. Hanya dari pohon itu Dahlan bisa meloncat masuk, dari tangga hingga anjungan, kobaran api sudah tak mungkin diterobos. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Hoi, Dahlan, mau cari mati kau?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Biarkan saja anak-cucu si Gedang itu mati terpanggang!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Apa kau lupa, bapakmu juga mati di tangan si Gedang bukan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Turun kau, Beruk!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahlan memang lekas turun sambil menggendong cucu tuan Gedang yang tadi terperangkap kobaran api. Tapi, sigap ia meloncat lagi ke atas dahan pohon durian, dan lagi-lagi berayun serupa beruk, masuk lewat atap, lalu kembali dengan menggendong cucu tuan Gedang yang lain. Begitu seterusnya, hingga semua penghuni rumah itu selamat. Sejak itu Dahlan beroleh gelar ’Beruk’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musuh tidak dicari, tapi jika bersua pantang dielakkan. Begitu petuah Harimau Campo saat Dahlan masih berguru. Itu sebabnya, aliran silat Dahlan Beruk lebih banyak memiliki jurus elak ketimbang jurus serang. Ia tak bakal menyerang bila musuh tidak menyerang. Kalau terpaksa menyerang, itupun dilakukan Dahlan dengan menghisap kekuatan serangan lawan. Ia tak gamang dengan ukuran badan lawan. Makin besar tubuh lawan, makin gampang Dahlan menumbangkannya. Dan yang paling berbahaya tentu jurus Tikam Kuku yang sempurna dikuasai Dahlan. Jarang yang selamat dari terkaman Tikam Kuku. Bila tak langsung dikirim ke liang lahat, setidaknya musuh bakal tergolek berlumur darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kisanak pernah dengar Jilatang Layur, tukang pukul Cen Bi, tengkulak tembakau di dusun Subakir ini?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki jangkung itu pendekar yang mahir dalam jurus Patah-Mematah. Ia tak segan-segan mematahkan leher petani-petani yang tidak berkenan menjual tembakau pada Cen Bi lantaran harganya sangat miring. Cen Bi mematok harga seenaknya, padahal untung yang diperolehnya berlipat-lipat. Jangan coba-coba beralih pada toke lain, bila tak ingin berhadapan dengan kebengisan Jilatang Layur. Tapi suatu masa, pendekar dari aliran hitam itu ketemu lawan bersengat. Ia tertangkap basah sedang menghabisi  Tunjang, petani tembakau yang tak lain adalah adik ipar Dahlan Beruk. Sudah kerap   Dahlan mengingatkan centeng keparat itu untuk tidak lagi memeras petani tembakau di dusun Subakir. Tapi dasar orang bayaran, Jilatang Layur malah makin beringas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Langkahi dulu mayatku sebelum kau ganggu keluargaku!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Tak usah  banyak cakap, Beruk! Sudah lama awak ingin patahkan lehermu. Bersiaplah!”                   &lt;br /&gt;            &lt;br /&gt;Satu dua serangan Jilatang Layur masih dielakkan Dahlan, tapi serangan ketiga tiada ampun. Dahlan tak ingin berlama-lama. Cengkraman tangan Jilatang yang hendak menangkap batang lehernya, sigap dipiuhnya hingga mengeluarkan bunyi deruk. Lalu, dua jari  Dahlan menyelinap di rusuk Jilatang, hingga membuat dua lubang, satu sebesar jari telunjuk, satu lagi sebesar jari tengah. Centeng itu tergeletak dalam posisi tidak siap. Pada saat yang sama, Dahlan berayun serupa Beruk hendak menjangkau dahan, lalu mendarat di dada Jilatang. Sekali lagi jurus Tikam Kuku bersarang di rusuknya yang sudah bocor itu. Jilatang mengerang kesakitan, dari mulutnya keluar gumpalan darah sebesar limau purut. Tukang pukul tengkulak tembakau itu beres di tangan Dahlan Beruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Membuat Cen Bi enyah berarti membunuh penghidupan orang sedusun,”  begitu kemarahan Tumanggung, petinggi adat dusun Subakir setelah Dahlan melumpuhkan Jilatang Layur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau tidak karena Cen Bi, anak-cucu kita tidak bisa makan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak usah jadi pahlawan. Mentang-mentang punya lading tajam, jangan sembarang kau catukkan! Kau kira tak ada langit di atas langit, hah?”   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekali lagi kau cari masalah dengan orang-orang Cen Bi, kami buang kau dari suku. Paham kau Beruk?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang tak suka perangai Dahlan tentulah mereka yang terancam periuk nasinya. Dahlan sudah maklum, tuan-tuan itu sudah disuap Cen Bi. Tak hanya urusan tembakau, mereka juga melindungi cukong-cukong yang mengeruk kerikil di lereng Bukit Sibusuk, hingga lahan-lahan sawah tertimbun longsoran. Mereka tak segan lagi pada Dahlan Beruk. Pendekar Tikam Kuku sudah mati kutu. Lagi pula, sejak beroleh ancaman itu, Dahlan tak tampang lagi batang hidungnya. Tak ada yang tahu, ia pergi ke mana. Hanya ada desas-desus bahwa Dahlan Beruk dihabisi oleh sekelompok orang  sebagai balasan atas  kekalahan Jilatang Layur.  Tapi ada pula yang bilang,  Dahlan Beruk berdiam di  Hutan Sirasah, ia sedang menjalankan laku putus kaji  bagi murid-murid terbaiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kisanak tahu apa yang terjadi di dusun Subakir sejak Dahlan Beruk menghilang tak tentu sebab?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tengkulak tembakau tidak puas hanya memeras petani tembakau dusun Subakir, mereka menyulap Bukit Sibusuk menjadi arena sabung ayam yang penuh sesak dikunjungi pejudi. Lubang-lubang bekas pengerukan kerikil di sepanjang lereng bukit itu berubah jadi danau  buatan. Para cukong membangun kawasan itu menjadi obyek wisata. Di sana sudah berdiri ratusan pondok beratap rumbia yang disewakan pada pasangan muda-mudi yang datang hendak bersenang-senang. Bagi tamu yang tidak membawa pasangan, perempuan-perempuan muda dusun Subakir siap melayani, tentu dengan imbalan yang setimpal. Orang-orang dusun beroleh untung pula dari tempat mesum itu. Mereka berjualan rokok, tuak atau jadi calo dengan penghasilan sepuluh kali lipat dibanding hasil ladang tembakau. Bukit Sibusuk sudah menjadi jamban tempat orang buang hajat. Kalau dulu, bukit itu menebarkan bau bangkai, kini menyeruakkan aroma lendir yang menjijikan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Kau tahu di mana kuburan Dahlan Beruk?”     &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Saat orang-orang dusun Subakir sudah melupakan jawara itu, Kisanak malah mencarinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa perlunya Kisanak mencari Dahlan  Beruk?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, melihat tampang Kisanak, saya ingat raut muka tuan Gedang. Jangan-jangan  Kisanak salah seorang cucu tuan Gedang yang pernah diselamatkan Dahlan Beruk dari  kebakaran puluhan tahun lalu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Siapa Kisanak sebenarnya?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelapa Dua, 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-7753254505378002430?l=damhurimuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/7753254505378002430/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=7753254505378002430&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/7753254505378002430'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/7753254505378002430'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2008/04/tikam-kuku-cerpen-damhuri-muhammad.html' title=''/><author><name>Damhuri Muhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/-JgCVFjccVOA/Tkyc-iydAsI/AAAAAAAAAIY/v_ip-0ze6tg/s220/pic-id-edit.JPG'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-7649364126732537409</id><published>2008-03-10T11:37:00.000+07:00</published><updated>2008-03-10T11:44:33.932+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Nasionalisme  Sastra  Pinggiran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Pikiran Rakyat, 8/Maret/2008)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Politik kolonial jelas membias dalam geliat pertumbuhan sastra Indonesia. Gejala ini tampak kentara sejak berdirinya Balai Pustaka (1918) sebagai lembaga penerbitan Belanda yang bukan saja ‘memperalat’ sastra, tapi juga ‘mengendalikan’ gerak-geriknya agar tak menjadi ancaman laten. D.A Rinkes (direktur pertama Balai Pustaka) seperti dikutip Maman S. Mahayana (2001), mencatat tiga kriteria yang digunakan Balai Pustaka dalam menyensor naskah-naskah yang akan diterbitkan yaitu tidak antikolonial, tidak menyinggung perasaan dan etika golongan tertentu, tidak menyinggung perasaan agama tertentu. Akibatnya, lahirlah sastra elitis, tak menyinggung masalah perbedaan etnis, dan yang paling muntlak adalah terlarang menghembuskan  semangat  kebangsaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah kolonial tak henti-henti berupaya membendung pengaruh bacaan non Balai Pustaka. Diusungnya sejumlah istilah pejoratif yang meminggirkan proses kreatif para pengarang di luar pagar Balai Pustaka. Karya-karya mereka diklaim sebagai ‘bacaan liar’, berbahaya, menyesatkan. Sentimentalisme D.A Rinkes (1923) menyebut mereka saudagar kitab jang kurang sutji hatinja. Untuk menyediakan bacaan sastra (yang ‘tidak liar’) bagi bumiputera, pada 1918 Balai Pustaka menerbitkan Tjerita Si Djamin dan Si Djohan (saduran dari Jan Smees karya J. Van Maurik). Dua tahun kemudian, terbitlah roman Azab dan Sengsara (1920), karya Merari Siregar, disusul Siti Nurbaja (1922), karya Marah Rusli. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tapi, ‘bacaan-bacaan liar’ justru makin liar menyuarakan etos perlawanan terhadap pemerintah kolonial. Buah karya para pengarang yang ‘membangkang’ itu serupa api dalam sekam, yang di permukaan panasnya tak terasa, tapi di kedalaman timbunan sekam, gejolaknya tiada kunjung padam. Ironisnya, sejarah sastra kita tidak mencatat gejolak perlawanan itu (dalam batas-batas tertentu ada kesengajaan menghapus jejaknya). Padahal, sepak terjang sastra pinggiran ini berperan penting dalam membangun kesadaran kebangsaan paling awal. Jangan-jangan keterceceran ini juga bagian dari kepentingan tertentu untuk mengukuhkan bahwa sejarah sastra Indonesia modern lahir sejak Balai Pustaka tegak berdiri?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Siswa-siswa sekolah dewasa ini merasa asing dengan teks-teks sastra karya para pengarang pribumi seperti Hikajat Siti Mariah (1912 ), karya Haji Moekti, Njai Permana (1912) karya RM. Tirto Adhi Soerjo, Hikajat Kadiroen (1924), karya Semaoen dan Studen Hidjo (1919) karya M.M Kartodikromo. Begitu juga karya-karya pengarang Tionghoa peranakan seperti Oey Se (1903), karya Thio Tjien Boen, Lo Fen Koei (1903) karya Gouw Peng Liang, Tjerita si Riboet (1917) karya Tam Boen Kim, Nyai Marsina (1923) karya Numa, Boenga Roos Dari Tjikembang (1927) karya Kweek Tek Hoaij, Itu Bidadari dari Rawa Pening (1929) karya Madame d’Eden Lovely dan Njai Isah (1931) karya Sie Liplap. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Roman Njai Permana berkisah perihal seorang mantri polisi berwatak serakah. Menghalalkan segala tipu muslihat untuk menguasai kepemilikan tanah pada saat rakyat sedang terpuruk dalam kemiskinan dan ancaman kelaparan. Sementara Hikajat Kadiroen, menceritakan seorang pegawai negeri (Tjitro) yang semula mengabdi pada pemerintah Belanda, lalu berhenti dari pekerjaannya dan bergabung dalam aktivitas politik sebagai bentuk perlawanan. Semaoen menunjukkan bagaimana persinggungan dengan realitas objektif menjadi muasal kesadaran kritis di kalangan menengah terpelajar (Agus Hernawan, 2004). Hasrat melawan ‘bacaan-bacaan liar’ berbeda dengan produk-produk Balai Pustaka yang mengawal para pengarangnya agar tidak kebablasan memperlihatkan watak kekuasaan kolonial. Maka, yang terbaca adalah sikap apatis dan pasrah pada nasib. Dalam banyak roman, yang tergambar hanyalah  perwatakan hitam putih, ‘kebaikan’ selalu mengalahkan ‘kejahatan’. Tapi, yang ‘baik’ itu selalu tokoh kolonial atau setidaknya pro kolonial. Watak kolonial dicitrakan sebagai orang sabar, dan bijak, sementara yang ‘jahat’ selalu pribumi seperti Datuk Maringgih (tokoh  zalim, tidak taat pajak dan membangkang) dalam Siti Nurbaja.       &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Selain pencitraan yang merendahkan sastra non Balai Pustaka, pemerintah kolonial juga memarginalkan peranan bahasa Melayu sebagai media ekspresi sastra perlawanan dengan pemisahan dikotomik antara  Melayu Tinggi dan Melayu Rendah (Melayu Pasar). Bahasa Melayu tinggi adalah bahasa Melayu baku yang dikembangkan oleh guru-guru Melayu, utamanya yang bekerja di Balai Pustaka. Ditegaskan bahwa bahasa Melayu Tinggi (Melayu Balai Pustaka) inilah yang kemudian menjadi muasal Bahasa Indonesia (A.Teeuw, 1972). Sementara bahasa Melayu Pasar adalah bahasa yang berkembang di kalangan rakyat dan penerbitan swasta milik orang-orang Tionghoa peranakan (Hindia Bergerak, Sinar Hindia, Oetoesan Hindia, dan Persatoean Hindia) dan Indo Eropa sebagai ‘bukan bahasa’ dan tidak patut digunakan (Hilmal Farid, 1996). Pola pemisahan ini bertolak belakang dengan egaliterianisme dan iklusivisme bahasa Melayu. Di sini, lagi-lagi ada agenda tersembunyi yang hendak dilakukan pemerintah kolonial (melalui Balai Pustaka); memperlakukan bahasa Melayu dalam jenjang hirarkis, kasta-kasta dan derajat bertingkat-tingkat. Perumusan tata bahasa Melayu Tinggi yang dipelopori C.A Van Ophuijsen telah menempatkan peradaban tanah jajahan dalam tata pandang universalitas Barat (Ariel Heryanto, 1989). Ada gelagat hendak menguasai bahasa untuk memperkokoh dominasi dan kekuatan, language is also a medium of domination and power, kata  Jurgen Habermas (1967).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Geliat sastra pinggiran ini juga dilatarbelakangi oleh corak karya sastra pengarang-pengarang Belanda yang menggambarkan masyarakat pribumi dalam image yang berderajat rendah (malas, bodoh, kampungan). Salah satunya terlihat pada kejelian G. Francis dalam Njai Dasima, seperti dicatat Saifur Rohman (2002). Nyai Dasima adalah gundik Edward (Belanda totok). Kebahagiaan mereka terusik oleh seorang pribumi berstatus kyai. Diceritakan, kyai itu berhasil membujuk Nyai Dasima agar memeluk Islam. Dengan piawai, pengarang menuturkan bahwa seorang muslimah tidak boleh bersuami orang Belanda. Maka, Nyai Dasima harus melepaskan diri dari Edward. Tapi, kyai yang kemudian menikahi Nyai Dasima (setelah lari dari Edward) ternyata berniat jahat, ingin menguasai harta Nyai Dasima. Setelah jatuh miskin, Nyai Dasima dibunuh, mayatnya dibuang ke sungai yang mengalir sampai ke belakang rumah Edward. Edward menemukan mayat Nyai Dasima yang sudah membusuk. Pribumi digambarkan secara berjarak oleh pengarang ; pembohong, licik, penipu. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Berangkat dari model penggambaran distortif ini, para pengarang pribumi (juga pengarang Tionghoa peranakan) membangun budaya tanding untuk mengembalikan dan menempatkan etos masyarakat terjajah pada ‘maqam’ yang lebih bermartabat. Di titik ini, sastra dilawan dan dipatahkan dengan sastra pula. Amat disayangkan, geliat sastra pinggiran sebagai ‘juru bicara zaman’ di saat keadaban bumiputera sedang terhimpit di bawah hegemoni kolonial dilupakan dalam sejarah sastra kita? Menghapus jejak sastra pinggiran sama saja dengan mengakui bahwa sastra Indonesia bermula sejak berdirinya Balai Pustaka yang berwatak kolonial itu…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-7649364126732537409?l=damhurimuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/7649364126732537409/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=7649364126732537409&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/7649364126732537409'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/7649364126732537409'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2008/03/nasionalisme-sastra-pinggiran-oleh.html' title=''/><author><name>Damhuri Muhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/-JgCVFjccVOA/Tkyc-iydAsI/AAAAAAAAAIY/v_ip-0ze6tg/s220/pic-id-edit.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-340868418209687250</id><published>2008-01-29T10:33:00.000+07:00</published><updated>2008-01-29T10:39:34.238+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Juru  Masak&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Tabloid NOVA, edisi Senin, 21-27 Jan 2008)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Perhelatan bisa kacau tanpa kehadiran lelaki itu. Gulai Kambing akan terasa hambar lantaran racikan bumbu tak meresap ke dalam daging. Kuah Gulai Kentang dan Gulai Rebung bakal encer karena keliru menakar jumlah kelapa parut hingga setiap menu masakan kekurangan santan. Akibatnya, berseraklah gunjing dan cela yang mesti ditanggung tuan rumah, bukan karena kenduri kurang meriah, tidak pula karena pelaminan tempat bersandingnya pasangan pengantin tak sedap dipandang mata, tapi karena macam-macam hidangan yang tersuguh tak menggugah selera. Nasi banyak gulai melimpah, tapi helat tak bikin kenyang. Ini celakanya bila Makaji, juru masak handal itu tak dilibatkan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Beberapa tahun lalu, pesta perkawinan Gentasari dengan Rustamadji yang digelar dengan menyembelih tigabelas ekor kambing dan berlangsung selama tiga hari, tak berjalan mulus, bahkan hampir saja batal. Keluarga mempelai pria merasa dibohongi oleh keluarga mempelai wanita yang semula sudah berjanji bahwa semua urusan masak-memasak selama kenduri berlangsung akan dipercayakan pada Makaji, juru masak nomor satu di Lareh Panjang ini. Tapi, di hari pertama perhelatan, ketika rombongan keluarga mempelai pria tiba, Gulai Kambing, Gulai Nangka, Gulai Kentang, Gulai Rebung dan aneka hidangan yang tersaji ternyata bukan masakan Makaji. Mana mungkin keluarga calon besan itu bisa dibohongi? Lidah mereka sudah sangat terbiasa dengan masakan Makaji.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Kalau besok Gulai Nangka masih sehambar hari ini, kenduri tak usah dilanjutkan!” ancam Sutan Basabatuah, penghulu tinggi dari keluarga Rustamadji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Apa susahnya mendatangkan Makaji?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Percuma bikin helat besar-besaran bila menu yang terhidang hanya bikin malu.” &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Begitulah pentingnya Makaji. Tanpa campur tangannya, kenduri terasa hambar, sehambar Gulai Kambing dan Gulai Rebung karena bumbu-bumbu tak diracik oleh tangan dingin lelaki itu. Sejak dulu, Makaji tak pernah keberatan membantu keluarga mana saja yang hendak menggelar pesta, tak peduli apakah tuan rumah hajatan itu orang terpandang yang tamunya membludak atau orang biasa yang hanya sanggup menggelar syukuran seadanya. Makaji tak pilih kasih, meski ia satu-satunya juru masak yang masih tersisa di Lareh Panjang. Di usia senja, ia masih tangguh menahan kantuk, tangannya tetap gesit meracik bumbu, masih kuat ia berjaga  semalam suntuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;        “Separuh umur Ayah sudah habis untuk membantu setiap kenduri di kampung ini, bagaimana kalau tanggungjawab itu dibebankan pada yang lebih muda?” saran Azrial, putra sulung Makaji sewaktu ia pulang kampung enam bulan lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Mungkin sudah saatnya Ayah berhenti,” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Belum! Akan Ayah pikul beban ini hingga tangan Ayah tak lincah lagi meracik bumbu,” balas Makaji waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Kalau memang masih ingin jadi juru masak, bagaimana kalau Ayah jadi juru masak di salah satu Rumah Makan milik saya di Jakarta? Saya tak ingin lagi berjauhan dengan Ayah,” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sejenak Makaji diam mendengar tawaran Azrial. Tabiat orangtua selalu begitu, walau terasa semanis gula, tak bakal langsung direguknya, meski  sepahit empedu tidak pula buru-buru dimuntahkannya, mesti matang ia menimbang. Makaji memang sudah lama menunggu ajakan seperti itu. Orangtua mana yang tak ingin berkumpul dengan anaknya di hari tua? Dan kini, gayung telah bersambut, sekali saja ia mengangguk, Azrial segera memboyongnya ke rantau, Makaji tetap akan punya kesibukan di Jakarta, ia akan jadi juru masak di Rumah Makan milik anaknya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Beri Ayah kesempatan satu kenduri lagi!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Kenduri siapa?” tanya Azrial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Mangkudun. Anak gadisnya baru saja dipinang orang. Sudah terlanjur Ayah sanggupi, malu kalau tiba-tiba dibatalkan,” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Merah padam muka Azrial mendengar nama itu. Siapa lagi anak gadis Mangkudun kalau bukan Renggogeni, perempuan masa lalunya. Musabab hengkangnya ia dari Lareh Panjang tidak lain adalah Renggogeni, anak perempuan tunggal babeleng itu. Siapa pula yang tak kenal Mangkudun? Di Lareh Panjang, ia dijuluki tuan tanah, hampir sepertiga wilayah kampung ini miliknya. Sejak dulu, orang-orang Lareh Panjang yang kesulitan uang selalu beres di tangannya, mereka tinggal menyebutkan sawah, ladang atau tambak ikan sebagai agunan, dengan senang hati Mangkudun akan memegang gadaian itu. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Masih segar dalam ingatan Azrial, waktu itu Renggogeni hampir tamat dari akademi perawat di kota, tak banyak orang Lareh Panjang yang bisa bersekolah tinggi seperti Renggogeni. Perempuan kuning langsat pujaan Azrial itu benar-benar akan menjadi seorang juru rawat. Sementara Azrial bukan siapa-siapa, hanya tamatan madrasah aliyah yang sehari-hari bekerja honorer sebagai sekretaris di kantor kepala desa. Ibarat emas dan loyang  perbedaan mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Bahkan bila ia jadi kepala desa pun, tak sudi saya punya menantu anak juru masak!” bentak Mangkudun, dan tak lama berselang berita ini berdengung juga di  kuping Azrial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Dia laki-laki taat, jujur, bertanggungjawab. Renggo yakin kami berjodoh,” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Apa kau bilang? Jodoh? Saya tidak rela kau berjodoh dengan Azrial. Akan saya carikan kau jodoh yang lebih bermartabat!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Apa dia salah kalau ayahnya hanya juru masak?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Jatuh martabat keluarga kita bila laki-laki itu jadi suamimu. Paham kau?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Derajat keluarga Azrial memang seumpama lurah tak berbatu, seperti sawah tak berpembatang, tak ada yang bisa diandalkan. Tapi tidak patut rasanya Mangkudun memandangnya dengan sebelah mata. Maka, dengan berat hati Azrial melupakan Renggogeni. Ia hengkang dari kampung, pergi membawa luka hati. Awalnya ia hanya tukang cuci piring di Rumah Makan milik seorang perantau dari Lareh Panjang yang lebih dulu mengadu untung di Jakarta. Sedikit demi sedikit dikumpulkannya modal, agar tidak selalu bergantung pada induk semang. Berkat kegigihan dan kerja keras selama bertahun-tahun, Azrial kini sudah jadi juragan, punya enam Rumah Makan dan duapuluh empat anak buah yang tiap hari sibuk melayani pelanggan. Barangkali, ada hikmahnya juga Azrial gagal mempersunting anak gadis Mangkudun. Kini, lelaki itu kerap disebut sebagai orang Lareh Panjang paling sukses di rantau. Itu sebabnya ia ingin membawa Makaji ke Jakarta. Lagi pula, sejak ibunya meninggal, ayahnya itu sendirian saja di rumah, tak ada yang merawat, adik-adiknya sudah terbang-hambur pula ke negeri orang. Meski hidup Azrial sudah berada, tapi ia masih saja membujang. Banyak yang ingin mengambilnya jadi menantu, tapi tak seorang perempuan pun yang mampu luluhkan hatinya. Mungkin Azrial masih sulit melupakan Renggogeni, atau jangan-jangan ia tak sungguh-sungguh melupakan perempuan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Kenduri di rumah Mangkudun begitu semarak. Dua kali meriam ditembakkan ke langit, pertanda dimulainya perhelatan agung. Tak biasanya pusaka peninggalan sesepuh adat Lareh Panjang itu dikeluarkan. Bila yang menggelar kenduri bukan orang berpengaruh seperti Mangkudun, tentu tak sembarang dipertontonkan. Para tetua kampung menyiapkan pertunjukan pencak guna menyambut kedatangan mempelai pria. Para pesilat turut ambil bagian memeriahkan pesta perkawinan anak gadis orang terkaya di Lareh Panjang itu. Maklumlah, menantu Mangkudun bukan orang kebanyakan, tapi perwira muda kepolisian yang baru dua tahun bertugas, anak bungsu pensiunan tentara, orang disegani di kampung sebelah. Kabarnya, Mangkudun sudah banyak membantu laki-laki itu, sejak dari sebelum ia lulus di akademi kepolisian hingga resmi jadi perwira muda. Ada yang bergunjing, perjodohan itu terjadi karena keluarga pengantin pria hendak membalas jasa yang dilakukan Mangkudun di masa lalu. Aih, perkawinan atas dasar hutang budi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mangkudun benar-benar menepati janji pada Renggogeni, bahwa ia akan carikan jodoh yang sepadan dengan anak gadisnya itu, yang jauh lebih bermartabat. Tengoklah, Renggogeni kini tengah bersanding dengan Yusnaldi, perwira muda polisi yang bila tidak ‘macam-macam’ tentu karirnya lekas menanjak. Duh, betapa beruntungnya keluarga besar Mangkudun. Tapi, pesta yang digelar dengan menyembelih tiga ekor kerbau jantan dan tujuh ekor kambing itu tak begitu ramai dikunjungi. Orang-orang Lareh Panjang hanya datang di hari pertama, sekedar menyaksikan benda-benda pusaka adat yang dikeluarkan untuk menyemarakkan kenduri, setelah itu mereka berbalik meninggalkan helat, bahkan ada yang belum sempat mencicipi hidangan tapi sudah tergesa  pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Gulai Kambingnya tak ada rasa,” bisik seorang tamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Kuah Gulai Rebungnya encer seperti kuah sayur Toge. Kembung perut kami dibuatnya,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Dagingnya keras, tidak kempuh. Bisa rontok gigi awak dibuatnya,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Masakannya tak mengeyangkan, tak mengundang selera.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Pasti juru masaknya bukan Makaji!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Makin ke ujung, kenduri makin sepi. Rombongan pengantar mempelai pria diam-diam juga kecewa pada tuan rumah, karena mereka hanya dijamu dengan menu masakan yang asal-asalan, kurang bumbu, kuah encer dan daging yang tak kempuh. Padahal mereka bersemangat datang karena pesta perkawinan di Lareh Panjang punya keistimewaan tersendiri, dan keistimewaan itu ada pada rasa masakan hasil olah tangan juru masak nomor satu. Siapa lagi kalau bukan Makaji?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Kenapa Makaji tidak turun tangan dalam kenduri sepenting ini?” begitu mereka bertanya-tanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Sia-sia saja kenduri ini bila bukan Makaji yang meracik bumbu,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Ah, menyesal kami datang ke pesta ini!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dua hari sebelum kenduri berlangsung, Azrial, anak laki-laki Makaji, datang dari Jakarta. Ia pulang untuk menjemput Makaji. Kini, juru masak itu sudah berada di Jakarta, mungkin tak akan kembali, sebab ia akan menghabiskan hari tua di dekat anaknya. Orang-orang Lareh Panjang telah kehilangan juru masak handal yang pernah ada di kampung itu. Kabar kepergian Makaji sampai juga ke telinga pengantin baru Renggogeni. Perempuan itu dapat membayangkan betapa terpiuh-piuhnya perasaan Azrial setelah mendengar kabar kekasih pujaannya telah dipersunting lelaki lain.   &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Kelapa Dua, 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-340868418209687250?l=damhurimuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/340868418209687250/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=340868418209687250&amp;isPopup=true' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/340868418209687250'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/340868418209687250'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2008/01/juru-masak-cerpen-damhuri-muhammad.html' title=''/><author><name>Damhuri Muhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/-JgCVFjccVOA/Tkyc-iydAsI/AAAAAAAAAIY/v_ip-0ze6tg/s220/pic-id-edit.JPG'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-5294393898434294960</id><published>2008-01-17T09:46:00.000+07:00</published><updated>2008-12-11T13:12:04.460+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/R47Eby3ZrtI/AAAAAAAAACM/956gdqyAFoI/s1600-h/janda+dr+jirah.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/R47Eby3ZrtI/AAAAAAAAACM/956gdqyAFoI/s320/janda+dr+jirah.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5156274605175451346" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Citra  Mendua &lt;br /&gt;Janda Calon  Arang &lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(GATRA, edisi Kamis, 10-16 Januari 2008)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah cerita, betapapun fiktifnya ternyata mampu mendedahkan pencitraan buruk yang bahkan tak lekang dihantam jaman. Tengoklah cerita Calon Arang yang sudah berbilang kurun menikam jejak pencitraan perihal seorang pandita perempuan pemuja Dewi Durga, kemudian berubah jadi bengis dan sadis. Ia menyalahgunakan kesaktiannya untuk menzalimi orang-orang tak berdosa. Riwayat mencatat, Calon Arang murka lantaran tidak seorang lelaki pun yang tertarik meminang Ratna Manggali, putri kesayangannya. Itu sebabnya, ia memohon kesediaan Dewi Durga untuk menyebarkan wabah penyakit mematikan di seluruh penjuru wilayah Daha (ibukota kerajaan Kediri) yang kala itu dipimpin Airlangga. Calon Arang punya banyak murid yang kedigdayaan mereka sudah menjadi cerita turun temurun. Disebut-sebut, ia dan murid-muridnya kerap melakukan tirakat ;  berkeramas dengan darah manusia. Inilah salah satu versi cerita Calon Arang yang berkembang di Jawa. Purbatjaraka menerjemahkannya ke dalam bahasa Belanda, kemudian dimacapatkan (dilagukan) oleh Raden Wiradat dan diterbitkan Balai Pustaka pada 1931. Versi lain cerita Calon Arang berkembang di Bali. Pramoedya Ananta Toer (1954) membenarkan bahwa ada sedikit perbedaan di antara kedua versi cerita itu, namun katanya, tak perlu dipanjanglebarkan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Meski tidak sepatah katapun menyebut nama Calon Arang, Janda dari Jirah, novel terbaru Cok Sawitri ini dapat disambut sebagai satu serpihan cerita Calon Arang yang berserakan di Bali. Lebih jauh, buku ini dapat dimaklumi sebagai cerita tandingan terhadap Calon Arang versi Jawa yang terlalu sarkastis menggambarkan watak jahat janda dari Jirah itu, padahal di Bali hingga hari ini, cerita Calon Arang masih menjadi rujukan dalam ritual ruwatan. Maka selayaknya, novel ini bukan sekedar membenarkan adanya ‘sedikit’ perbedaan antara Calon Arang versi Jawa dan versi Bali, tapi hendak memaklumatkan bahwa perbedaan itu amat mencolok, bahkan saling bertolak belakang. Bila naskah-naskah kuno di Jawa menggambarkan Calon Arang sebagai penyihir jahat yang telah menelan banyak korban, Cok Sawitri malah membangun pencitraan Calon Arang sebagai perempuan suci yang sangat dihormati. Saking sucinya, pejabat istana tidak berani menginjakkan kaki di tanah Kabikuan Jirah, tempat tinggal Rangda Ing Jirah (begitu novel ini menyebutnya). Mereka takut melanggar tatakrama Kabikuan Jirah yang dijaga oleh sang Ibu Kebajikan (begitu Calon Arang dijuluki). Barangsiapa melanggar, akibatnya sangat berbahaya, masa kecermelangan Kediri bisa padam seketika. Para pengikut ajaran Rangda Ing Jirah menjalani laku asketik, menjauhi urusan duniawi, lebih-lebih perkara politik.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Cerita bermula tatkala di istana Kediri sedang terjadi perseteruan diam-diam antara pendukung Airlangga dengan para pejabat yang ingin membangkitkan kembali kejayaan wangsa Isana setelah mengalami kehancuran. Airlangga (putra sulung Udayana yang datang dari Bali) tidak disukai karena ia hanyalah menantu Dharmmawangsa Tguh, tak pantas menggenggam tahta, sebab tidak berasal dari wangsa Isana. Semula Rangda Ing Jirah tidak mau terlibat ‘perang dingin’ itu, tapi  Mpu Narotama, pengawal Airlangga kerap datang menemuinya di Kabikuan Jirah. Narotama kerap minta nasehat perihal niat Airlangga yang akan menobatkan anak perempuannya sebagai putri mahkota. Karena itu, Rangda Ing Jirah merasa perlu mengurai silsilah wangsa Isana jauh sebelum Airlangga berkuasa. Ia juga menjelaskan sebab-musabab kenapa orang-orang Kabikuan Jirah dari masa ke masa nyaris tak tersentuh kewajiban membayar upeti. Percakapan kedua orang ini menjadi pintu masuk untuk menyingkap wajah baru Calon Arang. Sekali waktu Rangda Ing Jirah berkisah pada Narotama ; di suatu masa seusai melakukan sembah di tempat pemujaan Brahma, sepasang suami-istri lupa membawa tempayan air suci mereka. Keesokan hari, dari tempayan air itu lahir seorang bayi perempuan, bayi itu adalah Rangda Ing Jirah. Penggalan riwayat ini kerap dirujuk untuk menjelaskan ontologi penciptaan manusia dalam ajaran Budha Tantra. Air simbol kebajikan, maka Calon Arang adalah Ibu Kebajikan (muasal segala kebaikan), bukan Ibu Kejahatan sebagaimana ditemukan dalam teks-teks kuno di Jawa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sama sekali tidak ada dendam-kusumat, apalagi permusuhan antara Airlangga dan Rangda Ing Jirah. Buku ini juga tidak menyebut-nyebut tirakat keramas darah Calon Arang sebagai syarat terkabulnya teluh seperti  yang ditulis Pramoedya Ananta Toer dalam Cerita Calon Arang (1999). Alih-alih menyebarkan wabah penyakit di wilayah kekuasaan Airlangga, orang-orang Kabikuan Jirah malah membina masyarakat Dusun Buangan, mengajarkan mereka bertani dan berladang hingga dusun itu jadi makmur karena hasil pertanian. Kalaupun ada permusuhan, Airlangga yang justru mencurigai gerak-gerik Rangda Ing Jirah. Ia menyimpan sak wasangka bahwa kelak orang-orang Kabikuan Jirah bisa saja bersekutu dengan orang-orang Wura-wuri yang kabarnya sedang merencanakan sebuah pemberontakan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebelum Bahula melamar Ratna Manggali, memang tidak ada yang berminat mempersunting putri Rangda Ing Jirah itu. Tapi pinangan itu atas kemauan Bahula sendiri, bukan karena siasat Mpu Bharadah (guru Bahula) untuk mencuri kitab, sumber kesaktian Calon Arang sebagaimana cerita yang jamak terdengar. Dalam teks ini, Mpu Bharadah bukan orang asing, penasehat istana itu adalah kakak seperguruan Rangda Ing Jirah, dan mereka tidak pernah bermusuhan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tapi, terasa janggal ketika pengarang mengungkit-ungkit sikap bijak Rangda Ing Jirah membesarkan seorang bayi dan menyembunyikan harta pusaka peninggalan wangsa Isana. Kelak bayi itu diperkenalkan sebagai Samarawijaya, cucu  Dharmmawangsa Tguh, orang yang paling berhak mewarisi tahta kerajaan Kediri. Setelah ia beranjak dewasa, Rangda Ing Jirah menyerahkan sejumlah daerah binaannya pada Samarawijaya, luasnya hampir separuh wilayah kekuasaan Airlangga. Inilah muasal pecahnya kekuasaan Airlangga menjadi Kediri dan Jenggala. Tanpa pasukan, tanpa pertumpahan darah, Rangda Ing Jirah berhasil menobatkan Samarawijaya menjadi raja. Tapi, bukankah ini urusan politik yang sejak mula hendak dijauhi oleh tatakarama Kabikuan Jirah? Tidakkah perkara duniawi ini akan menodai kesucian ajaran Rangda In Jirah? Ah, barangkali Calon Arang memang tak sungguh-sungguh suci. Pembaca akan bimbang memosisikan ketokohan Calon Arang, apakah ia layak disebut pahlawan ataukah musuh dalam selimut? Tapi jangan lupa, ini teks sastra, bukan buku sejarah! Sudah sepatutnya buku ini membuka kemungkinan tafsir ganda.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Novel ini juga mencantumkan kisah usang tentang Uma (nama lain Dewi Durga) yang diusir ke bumi oleh Siwa (suaminya), karena sebuah kesalahan. Semula Uma turun dengan kecantikan yang sempurna, kemudian menjelma raksasa yang menakutkan. Di sebuah kuburan, Uma bertemu Kalika (raksasa yang wajahnya mirip dengan Uma). Keduanya terlibat perkelahian hebat, hingga Brahma datang  mendamaikan. Uma dan Kalika akhirnya dibimbing Brahma, lalu berubah wujud menjadi dua perempuan cantik dan dipercaya menjadi juru tulis Brahma. Menimbang kisah ini, boleh jadi Dewi Durga yang dipuja Calon Arang versi Jawa adalah Kalika, bukan Dewi Durga sebenarnya. Bila yang dipuja Calon Arang adalah Dewi Durga yang sesungguhnya, tentu ia tak bakal berkeramas dengan darah manusia.     &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DATA BUKU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul   : Janda dari Jirah&lt;br /&gt;Penulis  : Cok  Sawitri&lt;br /&gt;Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan         : I,  Juni 2007&lt;br /&gt;Tebal  : 187 halaman&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-5294393898434294960?l=damhurimuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/5294393898434294960/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=5294393898434294960&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/5294393898434294960'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/5294393898434294960'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2008/01/citra-mendua-janda-calon-arang-oleh.html' title=''/><author><name>Damhuri Muhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/-JgCVFjccVOA/Tkyc-iydAsI/AAAAAAAAAIY/v_ip-0ze6tg/s220/pic-id-edit.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/R47Eby3ZrtI/AAAAAAAAACM/956gdqyAFoI/s72-c/janda+dr+jirah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-3008031898632791865</id><published>2007-12-03T11:55:00.000+07:00</published><updated>2008-12-11T13:12:04.646+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/R1OMtdsIv-I/AAAAAAAAABk/FCOE3yItx8g/s1600-R/sampul+meede.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/R1OMtdsIv-I/AAAAAAAAABk/AOAd0uj54s0/s200/sampul+meede.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5139606312451620834" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Menggagas  Sejarah &lt;br /&gt;dengan  Timbunan  Cerita&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;em&gt;Media Indonesia&lt;/em&gt;, 01 Desember 2007)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tak perlu diragukan bahwa gerak kepengarangan tak henti-henti memproduksi cerita yang siap dilepas ke pasaran, atau untuk sementara ditimbun, dan disimpan sebagai ‘stock cerita’. Tapi, tidak banyak pengarang yang terampil memayungi koleksi ceritanya dengan gagasan-gagasan besar. Sebutlah misalnya Dan Brown yang piawai menghubungkaitkan konstruksi ceritanya dengan alur hidup seniman besar, Leonardo Davinci, hingga novelis itu berhasil melahirkan &lt;em&gt;The Davinci Code &lt;/em&gt;yang menggemparkan. Begitu juga dengan Matthew Pearl yang membingkai kisahnya dengan kepeloporan penyair, Dante Alighieri (1265-1321), hingga sukses mendedahkan &lt;em&gt;The Dante Club,&lt;/em&gt; novel yang telah melambungkan namanya dalam kancah sastra dunia. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;em&gt;Rahasia Meede&lt;/em&gt;, novel karya pengarang muda, Es Ito ini, juga bertolak dari semangat membingkai kisah dengan gagasan besar sebagaimana dilakukan Dan Brown dan Matthew Pearl. Ia memayungi kisahnya dengan sejarah kartel dagang Belanda, VOC, sejak masa awal, masa kejayaan, hingga fase kebangkrutannya, 1799. Pusaran kisahnya berkisar di seputar perburuan harta karun VOC yang bermula dari kedatangan laki-laki misterius ke penginapan delegasi Indonesia untuk Konfrensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag. Kala itu, para juru runding Indonesia sedang dihadapkan pada pilihan sulit. Pihak Belanda menyodorkan klausul tentang pengalihan utang Hindia Belanda sebesar 4,3miliar gulden kepada Indonesia. Bung Hatta sudah mencari jalan tengah, tapi para perunding tak berhasil mencapai mufakat. Orang asing itu memberikan selembar kertas lusuh pada seorang delegasi, Ontvangen maar die onderhandeling. Indonesie heeft niets te verliezen! (Terima itu perundingan! Indonesia tidak akan rugi!), begitu ia berbisik. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tentu saja Indonesia tak bakal rugi, sebab yang diserahkan laki-laki itu adalah dokumen rahasia berisi petunjuk tentang lokasi penyimpanan emas batangan milik VOC. Celakanya, dokumen itu raib, tak ditemukan di dalam peti dokumen KMB  yang dibawa delegasi Indonesia. Inilah cikal soal setiap rangkaian cerita dalam novel setebal 671halaman ini. Tapi, pengarang tidak langsung menukik pada perburuan harta karun yang tertimbun selama lebih dari tiga abad itu. Es Ito malah membuka cerita dengan kasus pembunuhan berantai yang meninggalkan sejumlah tanda tanya besar. Dalam waktu kurang lebih lima bulan, ditemukan lima mayat yang  semuanya terbilang orang penting. Mayat Saleh Sukira (ulama) ditemukan Bukittinggi, Santoso Wanadjaya (pengusaha) dibunuh di Brussels, Nursinta Tegarwati (anggota DPR) dibunuh di Bangka, JP Surono (birokrat) dibunuh di Boven Digoel dan Nono Didaktika (peneliti) dibunuh di Banda Besar. Wartawan harian Indonesiaraya, Batu Noah Gultom, mencurigai ini bukan pembunuhan biasa. Lima kali pembunuhan terjadi di kota yang selalu diawali huruf B (Bukittinggi, Brussels, Bangka, Boven Digoel, Banda Besar). Lebih jauh, Batu menyebut kasus ini dengan ‘pembunuhan Gandhi’. Sebab, di setiap tubuh korban selalu ditemukan pesan, antara lain ; peribadatan tanpa pengorbanan, perniagaan tanpa moralitas, politik tanpa etika,  kekayaan tanpa kerja keras, dan sains tanpa humanita. Pesan-pesan itu adalah lima item dari ‘Tujuh Dosa Sosial’ dalam pemikiran Mahatma Gandhi. Andai dugaan itu benar, tentu akan ada dua korban lagi dengan pesan ; pengetahuan tanpa karakter dan kesenangan tanpa nurani. Anehnya lagi, setiap TKP pembunuhan adalah kota-kota yang pernah dikunjungi Bung Hatta semasa hidupnya. Jadi, pembunuhan itu merujuk pada dua nama tokoh penting ; Gandhi dan Hatta. Satu lagi gagasan besar meresap dalam konstruksi cerita novel ini.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Satu selubung misteri belum tersingkap, pengarang sudah merancang keterkejutan baru. Batu makin dipusingkan oleh penculikan Cathleen Zwinckel, mahasiswi universitas Leiden yang sedang melakukan penelitian tentang sejarah ekonomi kolonial di Jakarta. Sebelum diculik, Cathleen dititipkan oleh Prof. Huygens (pembimbingnya) di  lembaga penelitian partikelir, Central Strategic Affair (CSA). Redaktur senior Indonesiaraya, Parada Gultom, juga hilang entah ke mana. Batu hampir memastikan bahwa dalang semua peristiwa itu adalah gerakan bawah tanah yang menyebut dirinya ; Anarki Nusantara. Sebelumnya, kelompok pengacau yang dipimpin Attar Malaka itu juga dituduh sebagai otak penyerangan bersenjata dan perusakan gedung di sebelah utara Jakarta. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam membingkai suspense-fiction dengan latar belakang sejarah VOC, pengarang berani untuk tidak berjarak dengan realitas kekinian. Dengan leluasa, Es Ito menggiring pembaca ke dalam suasana Batavia di masa gubernur jenderal Cornelis J Spellman (1682) dan sepak terjang Monsterverbond (persekutuan rahasia yang mengendalikan VOC), lalu dengan sangat tiba-tiba ia mengungkap penemuan terowongan bawah tanah (De Ondergrondse Stad) di  Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah). Terowongan itu diduga berujung di tempat penyimpanan dokumen rahasia tentang harta karun VOC yang hilang sejak 1949. Pada saat yang sama, Es Ito memotret suasana  Jakarta hari ini, ia menyebut ‘Bis Transjakarta’, Mikrolet S-11 jurusan Pasar Minggu-Lebak Bulus dan KRL Bojongggede Ekspress. Realitas yang sangat ‘menyehari’ bagi warga Jakarta hari ini. Agak ganjil ketika Es Ito menghubungkan ‘pembunuhan Gandhi’ (peristiwa yang terjadi di tahun 2000-an) dengan harian Indonesiaraya, sementara harian itu sudah gulung tikar sejak 1980-an. Ini bisa merusak asosiasi pembaca dan mencemari nalar cerita.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Makin ke ujung, buku ini makin mengejutkan. Batu Noah Gultom ternyata bukan wartawan biasa, ia anggota intelijen militer yang menyusup di Indonesiaraya guna melacak persembunyian Attar Malaka (sebelum buron ia bekerja di sana). Saat menyelamatkan Cathleen dari penculikan, Batu mengaku polisi bernama Roni, padahal ia adalah Batu August Mendrofa, intelijen militer dengan nama sandi ‘Lalat Merah’. Sebenarnya Batu tahu pelaku penculikan Parada Gultom. Redaktur senior itu ‘diambil’ oleh orang-orang suruhan Darmoko, jenderal purnatugas, pemimpin ‘Operasi Omega’ untuk membasmi antek-antek Anarki Nusantara. Parada diinterogasi untuk mengorek informasi perihal keterlibatan Attar Malaka dalam penyerangan bersenjata, perusakan gedung, pembunuhan berantai dan penculikan Cathleen. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Batu yang sudah berhasil mengelabui orang-orang Indonesiaraya, menipu Cathleen, bahkan berhasil membekuk Attar Malaka, ternyata masih jadi pecundang dalam sebuah permainan yang lebih besar. Permainan itu dikendalikan Darmoko, orang yang ingin memiliki emas batangan warisan VOC untuk pembelian senjata guna melakukan gerakan makar. Suryono Lelono (CSA), Darmoko (Operasi Omega) dan Prof. Huygens (Oud Batavie) bersekongkol mengambinghitamkan kelompok Anarki Nusantara sebagai pelaku pembunuhan orang-orang bertato pasca kekisruhan di Jakarta Utara dan ‘pembunuhan Gandhi’, padahal pelakunya adalah Darmoko dan Suryo Lelono. Lima orang penting yang tewas mengenaskan itu  dibunuh, sebab mereka terlalu banyak tahu tentang rencana besar Darmoko dan Suryo Lelono. Eksekutor ‘pembunuhan Gandhi’  seorang guru sejarah yang sangat terobsesi pada Hatta dan Gandhi. Ia bukan guru biasa, tapi mantan anggota intelijen militer yang pernah terlibat dalam Operasi Pidie dengan kode sandi ‘Melati Putih’. Sejak lama, ia di bawah kendali Darmoko, hingga berbalik melakukan kekerasan sebesar pesan perdamaian yang diusung Hatta dan Gandhi. ‘Melati Putih’ menerima pesan pembunuhan yang selalu mengatasnamakan Anarki Nusantara, padahal itu hanya akal bulus Darmoko. Dua sejawat sesama alumni SMA Taruna Nusantara, Batu dan Kalek alias Attar Malaka akhirnya bergabung untuk menggagalkan penggalian emas batangan di pulau Onrust. Attar Malaka berhasil menyelamatkan Cathleen sebelum Batu ditembak oleh anak buah Darmoko. Tak lama kemudian, Kalek menarik pemicu granat di dalam terowongan panjang yang setiap batu batanya berisi  batangan emas.        &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Buku ini tidak berpretensi untuk disebut ‘novel sejarah’ sebagaimana dinobatkan oleh para komentator di sampul depan. Pengarang hanya membingkai kompleksitas cerita dengan detailitas sejarah Batavia Tempoe Doeloe. Setidaknya ada dua pilihan ; cerita atau sejarah? Atau ‘jangan-jangan’ kita memang lebih gampang membangun kesadaran sejarah bila ‘diumpan’ dengan sederet cerita. Apa mau dikata…         &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;                          &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DATA  BUKU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul         :  RAHASIA  MEEDE&lt;br /&gt;Penulis  :  ES.Ito&lt;br /&gt;Penerbit :  HIKMAH, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan         :  I, Agustus 2007&lt;br /&gt;Tebal  :  671 halaman&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-3008031898632791865?l=damhurimuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/3008031898632791865/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=3008031898632791865&amp;isPopup=true' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/3008031898632791865'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/3008031898632791865'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2007/12/menggagas-sejarah-dengan-timbunan.html' title=''/><author><name>Damhuri Muhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/-JgCVFjccVOA/Tkyc-iydAsI/AAAAAAAAAIY/v_ip-0ze6tg/s220/pic-id-edit.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/R1OMtdsIv-I/AAAAAAAAABk/AOAd0uj54s0/s72-c/sampul+meede.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-2341235823935323762</id><published>2007-09-18T11:58:00.000+07:00</published><updated>2007-09-18T12:12:07.422+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Jo Ampok&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;em&gt;Media Indonesia&lt;/em&gt;, 16 September 2007)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak dipercaya menjadi guru mengaji, Engku tidak pernah lagi mampir di lapau.*) Sekedar melepas lelah sambil minum kopi dan bergurau pun ia tidak punya waktu lagi. Padahal, sepulang dari surau, Engku selalu melewati lapau yang selalu berjibun pengunjung itu. Mungkin ia takut disangka ikut-ikutan berjudi bila masih berbaur dengan orang-orang lapau. Jadi, lebih baik bujangan jebolan madrasah itu menjauhi lapau, meski ia juga tidak mau dianggap sok alim. Mentang-mentang sudah jadi orang surau, lupa pada kawan-kawan di lapau.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Dipikirnya orang lapau tak pandai mengaji?” begitu Jo Ampok menyindir kelakuan Engku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa pula urusan kau? Apa rugimu bila Engku tak singgah ke lapau?” sela Bunduk, agak sinis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sejak Engku jadi guru mengaji, awak kalah terus.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Biasanya selalu awak modali dia main Remi. Menang terus. Murah benar rejeki anak tu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Engku sudah jadi orang surau, mana mungkin duduk di meja judi?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Awak tak larang Engku ke surau. Tapi, kalau bisa, jangan tinggalkan lapau. Di surau dia mengaji, di lapau dia berjudi.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Huss….jangan campur aduk begitu. Apa awak sudah gila hah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Selain tempat ngopi sembari melepas penat, lapau-lapau di lingkar kampung Guci juga menyediakan meja-meja khusus untuk berjudi. Begitu pula dengan lapau milik Sinaro yang letaknya tidak terlalu jauh dari surau Baitul Hikmah, tempat Engku mengajar anak-anak mengaji. Lapau itu buka siang malam, dua puluh empat jam. Macam-macam judi tersedia di sana. Para pelanggan bebas memilih ; Domino, Remi, Koa **) atau Putar Dadu. Jangan tertipu! Sepintas lalu memang tampak sepi-sepi saja. Barangkali hanya terlihat tiga sampai empat orang yang sedang mengobrol sambil bersilunjur kaki, atau main Domino dengan taruhan kecil. Tapi, ada banyak bilik di bagian dalam dan belakang lapau. Sinaro sengaja membuat bilik-bilik itu untuk para penjudi dengan taruhan tingkat tinggi. Di sanalah permainan Remi, Koa dan Putar Dadu dilangsungkan. Jangan dikira Sinaro takut polisi. Sama sekali tidak! Di kampung Guci, aparat hukum agak kewalahan. Tak terhitung lagi berapa kali lapau-lapau digerebek, dan berapa banyak penjudi yang meringkuk dalam sel. Tapi, mereka tak pernah jera. Setelah bebas, mereka kembali ke lapau, berjudi lagi. Mungkin, karena judi sudah begitu mengakar di kalangan orang-orang kampung Guci. Jangan sekali-kali mengaku orang Guci, bila tidak mahir berjudi. Kartu-kartu Remi ibarat tikar sembahyang bagi orang-orang Guci, begitu kelakar yang biasa terdengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;“Judi di kampung kami tak bisa dibasmi, tapi bisa dijauhi,” tegas Nduk Angkang, tetua kampung Guci saat membuat kesepakatan dengan polisi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Bisa lebih jelas pak tua?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Para penjudi jangan ditangkapi, kami berjanji akan menjauhkan judi dari pandangan masyarakat. Bersembunyi. Yang penting lingkungan tetap aman. Bagaimana pak?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Tidak ada kompromi dengan judi! Selama lapau-lapau belum bebas judi, kalian tetap melanggar hukum.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Kami paham. Tapi, di kampung Guci, judi sudah jadi tradisi.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sinaro benar-benar berkelimpahan rejeki sejak membangun lapau itu. Kalau hanya berjualan makanan dan minuman, tentu pendapatannya tidak seberapa. Tapi, dengan judi, ia menerima sewa bilik, tikar, lampu, alat-alat judi dan sewa-sewa lain dari para penjudi. Dulu, sewaktu Engku masih bersekolah di madrasah, tiap malam ia nongkrong di sana, kadang-kadang sampai tidur di lapau itu. Engku membantu Sinaro, menggelar tikar, membersihkan bilik-bilik judi, menyuguhkan makanan dan minuman untuk para penjudi dan menagih macam-macam uang sewa, lalu disetorkan pada Sinaro. Dari sana, Engku beroleh uang sekolah, hingga ia tidak lagi membebani ibu-bapaknya. Tak ada salahnya bila disebut ; Engku bersekolah dengan uang judi. Tak jarang, Engku juga ikut berjudi, meski dengan taruhan kecil-kecilan. Karena setiap malam bergaul dengan para penjudi, Engku makin mahir berjudi. Ia penjudi berbakat yang jarang kalah. Karena itu, banyak penjudi kelas kakap yang berani memodalinya bermain Domino, Remi, Koa atau Putar Dadu. Itu sebabnya Jo Ampok merasa kehilangan sejak Engku hengkang dari lapau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Awak tak ingin lanjutkan sekolah Ngku?” tanya Sinaro, sehabis shalat Maghrib berjamaah di surau Baitul Hikmah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Ah, dari mana pula awak bakal beroleh biaya? Ijazah madrasah cukup lah,”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Itu tak soal lah Ngku, Jo Ampok menunggumu di lapau.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Segan awak dilihat murid-murid.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Kenapa pula Ngku segan? Orang tua murid-murid Ngku semuanya orang lapau.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Kalau Ngku mau, mungkin bisa lanjutkan sekolah.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Ngku itu cerdas. Masa’ cuma jadi guru ngaji?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Tak usah sungkan, segeralah temui Jo Ampok di lapau!” &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Akhir-akhir ini Jo Ampok memang mengalami kekalahan beruntun. Kabarnya, raja judi kampung Guci itu terpaksa melego tiga ekor hewan ternak dan menggadaikan  lima  petak sawah guna membayar utang karena kalah judi. Tapi, soal jual-menjual dan gadai-menggadai, itu biasa bagi Jo Ampok. Harta peninggalan orang tuanya tidak akan ludes untuk tujuh orang istri sekalipun. Kini, Jo Ampok baru punya tiga istri. Masing-masing istrinya sudah dapat jatah rumah baru. Beruntung sekali perempuan-perempuan yang menjadi istri Jo Ampok. Dari ketiga istri Jo Ampok, tidak ada yang berani melarang kebiasaan buruk suami mereka ; menghambur-hamburkan uang di lapau. Mencampuri urusan Jo Ampok sama saja artinya dengan minta cerai. Istri yang tak bakal ditalak Jo Ampok hanyalah ; judi.  Tapi, kini Jo Ampok merasa kurang percaya diri. Lebih-lebih setelah Engku, anak muda kepercayaannya itu enyah dari lapau. Padahal, jika ia masih bersetia, Jo Ampok tentu tak akan segan-segan menyambung sekolah Engku. Seberapa lah biaya menjadi sarjana bagi Jo Ampok?    &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Namun, tekad Engku benar-benar sudah bulat, tiada sumbing sedikit pun. Sepertinya tak dapat ditawar-tawar. Buktinya, guru mengaji itu telah membelakang bulat ke lapau. Tak peduli orang-orang lapau mau bilang ia sok alim, sok suci atau sok insaf. Engku memang teguh pendirian. Ia berjanji tidak akan menyentuh kartu Remi, Koa dan  Batu  Domino lagi.  Itulah yang membuat Jo Ampok mulai jarang muncul di lapau. Tak ada lagi orang yang bisa diandalkannya. Lagi pula, untuk apa datang ke lapau kalau hanya akan menanggung malu karena terus-terusan kalah judi? Berhari-hari Jo Ampok mengurung diri di rumah istri pertamanya, hingga suatu hari ia dikabarkan jatuh sakit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Semula, orang-orang lapau, kawan-kawan Jo Ampok, termasuk Sinaro si pemilik lapau menduga Jo Ampok cuma terserang demam biasa. Dipijit sebatang badan akan segera sembuh, setelah itu kembali ke lapau. Tapi, sudah dua minggu, tak tampak juga batang hidung Jo Ampok. Ada yang memberitahu kalau sakitnya makin parah. Dan, tanpa pikir panjang, orang-orang lapau pun bersegera menjenguk Jo Ampok.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nafasnya sesak. Merintih-rintih sambil ngorok. Sekujur badannya menggigil hebat. Ujung-ujung jari tangan dan jari kakinya terasa dingin sekali. Pasi. Mukanya pucat serupa mayat. Mulutnya komat-kamit menyebut kata-kata yang terdengar agak ganjil.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“LLLaaaaaaa…………”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“LLLaaaaaaaaaaaaa………”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“LLLaaaaaaaaaaaaaaaa………Nnnnnnnnaaaam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinaro, Baba, Mampalar, Cunambai, Yombauk, Bunduk, Kurai, Dalinas, Jilatang  dan konco-konco Jo Ampok yang duduk bersila dalam posisi setengah lingkaran saling berbisik. Satu sama lain saling bertanya-tanya, apa sesungguhnya yang sedang terjadi pada Jo Ampok,  apa pula  arti gigauannya itu? &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Istighfar Mpok, Istighfar! Astagfirullah, astagfirullah, astagfirullah….” begitu Sinaro membisiki  Jo Ampok yang serupa orang sekarat. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“LLLaaaaaaa………Nnnnnnnnaaaaam.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“LLLaaaaaaaaaaaa………Nnnnnnnnaaaaam.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“LLLaaaaaaaaaaaaaaaa………Nnnnnnnnaaaaam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu begitu suara janggal yang keluar dari mulut Jo Ampok. Sama sekali tidak dihiraukannya ajakan menyebut asma Tuhan. Entah karena disengaja atau karena Jo Ampok memang sudah tak sadar diri. Orang-orang lapau seolah kehabisan akal. Mereka mulai kebingungan dan nyaris putus harapan. Tabi’at Jo Ampok seperti menujumkan firasat bahwa umur si raja judi itu tak bakal panjang. Mungkin sebentar lagi mereka akan kehilangan kawan sepermainan. Jo Ampok kepayahan menghadang sakratul maut.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Mengucap, mengucap, mengucaplah!” tiba-tiba saja Engku muncul di tengah kerumunan orang-orang lapau itu. Perlahan ia merangsek masuk, lantas menghampiri pembaringan Jo Ampok, kawan lama yang kerap memodalinya berjudi itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Lailaha illallah, lailaha illallah, lailaha illallah...” bimbing Engku sambil mengusap kepala Jo Ampok yang mulai berkeringat dingin.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Lailaha illallah, Lailaha illallah, Lailaha illallah…” ulang Engku  lagi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“LLLaaaaaaa………Nnnnnnnnaaaaam.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“LLLaaaaaaaaaaaa………Nnnnnnnnaaaaaaaaaam.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“LLLaaaaaaaaaaaaaaaaa………Nnnnnnnnaaaaaaaaaam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi gigauan itu yang keluar dari mulut Jo Ampok. Entah apa maksudnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bergegas Engku bangkit dari duduknya. Setengah berlari ia keluar rumah yang sedang penuh sesak itu, lantas buru-buru menuju arah lapau Sinaro yang lumayan jauh. Engku Seperti hendak mengambil sesuatu. Orang-orang hanya terperangah heran dan melongo melihat tingkah aneh anak muda yang kini dipercaya sebagai guru mengaji di surau Baitul Hikmah itu. Tapi, tak berselang lama Engku muncul lagi di kerumunan orang-orang lapau yang mulai panik menghadapi pesakitan Jo Ampok.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“LLLaaaa………Nnnnnnnnaaam.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“LLLaaaaaaaaa………Nnnnnnnnaaaaaam.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“LLLaaaaaaaaaaaaaaa………Nnnnnnnnaaaaam.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tak henti-henti Jo Ampok menyeracau. Masih racauan yang sukar dimengerti. Sementara, Engku masih mengusap ubun-ubun Jo Ampok. Tak lama kemudian, ia mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya. O, ternyata sebuah batu berbentuk segiempat, kombinasi warnanya putih-biru menyerupai potongan kue agar-agar. Batu domino berjenis Balak Enam. Dua belas titik hitam yang dibatasi satu garis melintang. Pelan-pelan ditaruhnya balak enam itu dalam genggaman Jo Ampok. Seketika, raja judi itu tersenyum lega sambil menghembuskan nafas terakhir. Jo Ampok mati sebagai penjudi sejati. Tangannya masih mengenggam balak enam. Orang-orang lapau terhenyak dalam sunyi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelapa Dua, 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan :  * ) warung kopi&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;                **) kartu ceki Cina&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-2341235823935323762?l=damhurimuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/2341235823935323762/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=2341235823935323762&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/2341235823935323762'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/2341235823935323762'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2007/09/jo-ampok-cerpen-damhuri-muhammad-media.html' title=''/><author><name>Damhuri Muhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/-JgCVFjccVOA/Tkyc-iydAsI/AAAAAAAAAIY/v_ip-0ze6tg/s220/pic-id-edit.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-7495941221500625099</id><published>2007-09-06T11:09:00.000+07:00</published><updated>2008-12-11T13:12:05.053+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/Rt-Bv5z_0lI/AAAAAAAAABc/z0iTSkoiVJU/s1600-h/Cover+Glonggong.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/Rt-Bv5z_0lI/AAAAAAAAABc/z0iTSkoiVJU/s200/Cover+Glonggong.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5106943162434179666" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fiksi &lt;em&gt;Thriller&lt;/em&gt; Berkedok Novel Sejarah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul   : Glonggong&lt;br /&gt;Penulis  : Junaedi Setiyono&lt;br /&gt;Penerbit : Serambi, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan         : I,  Juli 2007&lt;br /&gt;Tebal  : 293 halaman &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;em&gt;MEDIA INDONESIA&lt;/em&gt;, Sabtu, 25 Agustus 2007)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang berwenang menentukan sebuah novel dapat disebut &lt;em&gt;novel sejarah?&lt;/em&gt; Apa kriteria artistik sebuah novel sejarah? Khazanah kita mungkin belum memiliki pengertian yang bulat tentang novel sejarah. Tapi kenapa tim juri Sayembara Novel DKJ (2006) memasang ‘harga mati’ bahwa Glonggong (juara harapan I), karya Junaedi Setiyono ini adalah novel sejarah? Bahkan ada yang menulis pujian di sampul depan ; &lt;em&gt;novel sejarah paling mengesankan yang pernah saya baca.&lt;/em&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski tak ada definisi utuh tentang novel sejarah, setidaknya genre ini diidentifikasi sebagai teks yang berpijak pada peristiwa masa lalu, sehingga tokoh rekaan, plot, alur dan gagasannya dapat dilacak dari perspektif  historiografi. Bila ditimbang dengan alat takar macam ini, mungkin novel berlatar Perang Diponegoro ini patut disebut novel sejarah. Tapi, novelis yang memaktubkan fakta dan pelaku-pelaku sejarah dalam karyanya selalu dipicu oleh ketidakpuasan terhadap sejarah yang taken for granted, tapi cenderung menyesatkan. Maka, novel kerap mendekonstruksi kemapanan konsep historiografi, agar sejarah tak melulu digenggam oleh kuasa tafsir tunggal. Inilah yang dilakukan oleh Sir Walter Scott lewat &lt;em&gt;Waverley&lt;/em&gt; (1810) yang disebut-sebut sebagai novel sejarah pertama di dunia. Ia sepenuhnya mengambil karakter Alasdair Ranaldson MacDonell (1771-1828), prajurit yang nyaris tak tercatat dalam sejarah panjang klan Skotlandia. (Bagja Hidayat,2006). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila ditakar dengan semangat dekonstruksi sebagaimana dilakukan Sir Walter Scott agaknya Glonggong segera gugur sebagai novel sejarah. Buku ini tidak menawarkan kebaruan dalam menyikapi sejarah Perang Diponegoro. &lt;em&gt;Java Oorlog &lt;/em&gt;(Perang Jawa), penangkapan dan tahun kematian Pangeran Diponegoro dalam teks novel ini persis sama dengan data buku-buku sejarah. Ini tentu dapat ditolerir, karena pengarang tak hendak menyingkap segi-segi tak tercatat dalam peristiwa itu, tapi mengungkap moralitas bobrok para priyayi yang bersekutu dengan Belanda untuk menghadang Laskar Dipanegaran. Penggambaran itu terkuak melalui sudut pandang Glonggong (tokoh utama) yang sejak awal ditegaskan berasal dari keluarga ningrat, tapi hidup sebagai orang biasa dan bergabung dalam barisan prajurit Pangeran Diponegoro. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jadi, &lt;em&gt;alih-alih &lt;/em&gt;‘menobatkan’ Glonggong sebagai novel sejarah, barangkali lebih patut bila buku ini ditimbang sebagai fiksi &lt;em&gt;thriller&lt;/em&gt; yang sejak awal tiada henti merancang ketegangan, intrik-intrik politik, siasat dan muslihat yang bikin penasaran. Ketegangan bermula sejak terusirnya Glonggong dan ibunya dari Puri Suwandan. Den Mas Suwanda (ayah tiri Glonggong), pejabat kraton itu malu punya istri yang tiba-tiba berubah jadi tak waras, tak lama setelah dipersuntingnya. Dulu, Ibu Glonggong dibujuk untuk menerima lamaran Den Mas Suwanda dengan memastikan bahwa Ki Sela (ayah kandung Glonggong), prajurit pemberontak itu sudah tewas. Tapi kelak, Glonggong menyadari, cerita perihal tewasnya Ki Sela hanyalah muslihat Den Mas Suwanda untuk meluluhkan hati ibunya. Seseorang memberitahu, Ki Sela masih hidup dan sedang meringkuk di tahanan. Meski tidak tinggal di Puri Suwandan lagi, di mata teman-teman kecilnya, ia tetap pendekar yang sukar dikalahkan dalam perang-perangan dengan menggunakan Glonggong, pedang dari tangkai daun pepaya (karena itu ia digelari Glonggong). Dari Kyai Ngali, ia belajar ilmu agama, juga beroleh cerita perihal seorang kerabat istana yang hidup bersahaja dan menjauh dari kemewahan kraton. Kelak Glonggong tahu, orang itu adalah Kanjeng Pangeran Aria Dipanegara. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pengarang menghadirkan sejumlah tokoh antagonis dan menempatkannya pada posisi yang ‘seabu-abu’ mungkin. Den Mas Surya, musuh bebuyutan yang pernah mengalahkan Glonggong dalam sebuah perkelahian tiba-tiba berubah menjadi orang baik setelah ia menginjak usia dewasa. Glonggong tak ragu menjadi penunjuk jalan tatkala  Surya hendak menyusup ke Puri Suwandan. Ia jadi tahu, ternyata rumah itu sudah dihuni oleh istri muda Den Mas Suwanda,  Den Ayu Sekar. Perempuan ini punya anak gadis, Endang namanya, inilah gadis incaran Surya. Ia minta tolong pada Glonggong untuk mengantarkan surat ke kamar tidur Endang. Meski Surya gagal memiliki Endang, persahabatannya mereka terus berlanjut. Ketika gubuk tempat tinggal Glonggong dibakar seseorang tak dikenal, Surya yang menyelamatkannya, meski ibu Glonggong tewas. Surya pula yang membantu Glonggong agar ia dapat bekerja sebagai abdi di Puri Pringgawinatan. Semula, Glongong hanya tukang sapu, tapi kemudian dipercaya menjadi pengawal para priyayi di lingkungan karib kerabat  Den Mas Pringga, bahkan kerap mengawal Den Mas Pringga sendiri. Di sini Glonggong mulai menyibak sekian banyak selubung teka-teki, tentang ayahnya yang ternyata masih hidup, tentang tabiat bejat para priyayi yang doyan perempuan, desas-desus tentang perang besar yang bakal pecah, tentang Laskar Dipanegaran yang sedang menyusun rencana perang. Di rumah itu pula Glonggong bertemu Danar, centeng andalan Den Mas Pringga yang berkedok sebagai penjaga perpustakaan di Puri Pringgadinatan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketegangan terus meninggi selepas Glonggong hengkang dari Puri Pringgadinatan, ia bergabung dalam barisan laskar Dipanegaran. Seseorang berupaya menyelamatkan Glonggong dari tangan Den Mas Pringga yang telah bersekongkol dengan kompeni untuk meringkus Pangeran. Sayangnya, penegasan bahwa Glonggong bergabung dalam barisan prajurit Pangeran Diponegoro seperti tertera di sampul belakang buku ini berbeda dengan perjalanan kisah yang sebenarnya. Tak ada satu bagian pun yang menjelaskan bahwa Glonggong terlibat dalam perang. Ia (lagi-lagi) hanya pengawal, mengantarkan barang-barang berharga milik laskar ke suatu tempat rahasia. Puncak ketegangan terjadi saat kereta Glonggong dihadang gerombolan rampok yang ternyata dipimpin oleh Danar. Glonggong berhasil membunuh centeng berjuluk Dasamuka itu. Kelak, seseorang memberitahu, Danar adalah saudara kandungnya. Kekecewaannya sama dengan kekecewaan setelah mengetahui kakak perempuannya, Danti Arumdalu, dipergundik oleh Den Mas Pringga, bekas majikannya sendiri. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Meski Danar sudah tewas, Glonggong tetap kehilangan kereta berisi harta milik laskar. Seseorang menodongkan bedil di kuduknya, ia luka parah dan setelah siuman sudah berada di rumah Rubinem, perempuan yang dikenalnya di rumah pelacuran Ngluwek, saat mencari Danti Arumdalu. Tokoh-tokoh rekaan yang semula tampak abu-abu, perlahan mulai buka topeng, Kyai Ngali yang dulu mendukung Pangeran kemudian membelot ke kraton, begitu pun  Surya, Pringga, Danar, bahkan Kyai Sufyan (murid Kyai Maja) yang mengaku telah berkhianat pada Pangeran. Otak perampokan ternyata Den Mas Suwanda. Ia yang menembak Glonggong selepas membunuh Danar, bahkan pelaku pembakaran rumah Glonggong, juga Suwanda. Glonggong berhasil merebut kembali ‘harta karun’ milik laskar itu berkat bantuan Den Ayu Sekar. Tapi, ia gagal menemui Pangeran. Setiba di Magelang, Glonggong melihat Pangeran sudah berada dalam pengawalan ketat serdadu kompeni.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Selain kompleksitas ketegangan yang terus terjaga, intrik politik, siasat dan muslihat para priyayi dalam pusaran sejarah Perang Dipenogoro, sedikit bumbu romantika Glonggong dan  Endang, rasanya buku ini tak menjanjikan apa-apa, apalagi pretensi untuk meraih derajat novel sejarah. Ah, mungkin para juri saja yang tergesa hendak menobatkannya...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-7495941221500625099?l=damhurimuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/7495941221500625099/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=7495941221500625099&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/7495941221500625099'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/7495941221500625099'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2007/09/fiksi-thriller-berkedok-novel-sejarah.html' title=''/><author><name>Damhuri Muhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/-JgCVFjccVOA/Tkyc-iydAsI/AAAAAAAAAIY/v_ip-0ze6tg/s220/pic-id-edit.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/Rt-Bv5z_0lI/AAAAAAAAABc/z0iTSkoiVJU/s72-c/Cover+Glonggong.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-6239871640930760782</id><published>2007-08-21T13:13:00.000+07:00</published><updated>2007-08-26T08:03:07.168+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Anjing  Pemburu&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;em&gt;MEDIA INDONESIA&lt;/em&gt;,19 Agustus 2007) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Secepat kilat kepalan tinju mendarat di mulut Ipun, bocah sembilan tahun itu sempoyongan, terhuyung-huyung, hilang keseimbangan, lalu jatuh tersungkur. Piring berisi nasi dingin tanpa lauk yang tadi dalam genggamannya pecah berkeping-keping. Remah-remah tumpah, berserak di lantai. Tapi, ayah belum puas melampiaskan amarah, Ipun yang sudah tertelungkup dengan mulut berdarah, ditendangnya kuat-kuat hingga tubuh cekingnya terguling, menggelinding serupa bola pingpong. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ampun, ampun!” pekik Ipun, kesakitan.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bila ayah sedang marah, aku, ibu, Ipun, dan adik-adik yang lain kerap hanya diam sambil berharap semoga amuk ayah segera reda. Kalau dihadang, ayah bisa lebih buas. Barangkali lebih buas dari binatang-binatang buruan yang selalu hendak ditaklukkannya. Kemarahan ayah pada Ipun seperti kemarahan yang menggelegak tatkala ia sedang berburu babi di hutan. Mungkin karena terlalu sering berburu, bagi ayah, rumah ini seolah-olah hutan penuh belukar, dan kami seumpama hewan-hewan buruan yang selayaknya dicabik-cabik. Seperti tiada beda antara kami dan babi-babi buruan ayah. Bila seekor babi sudah roboh, para pemburu biasanya menyerahkan bangkai itu pada anjing-anjing kesayangan mereka. Tak begitu dengan Ipun, setelah tumbang tak berkutik, ayah masih bernafsu hendak menerkam dan mencekik batang lehernya. &lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;“Sekali lagi kau mencuri makanan Kalupak, kupatahkan lehermu seperti aku mematahkan leher babi,” bentak ayah, makin beringas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ampun, ampun….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Diam kau, anak babi!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kalaulah bukan karena Kalupak, seekor anjing pemburu yang sepanjang hari melolong dan menggonggong di rumah kami, tentulah Ipun tiada bakal jadi sasaran hantaman kaki ayah. Pagi na’as itu perut Ipun keroncongan alang kepalang, menggigil lulutnya menahan lapar, sementara di dapur hanya ada sepiring nasi dingin yang disiapkan ayah untuk Kalupak. Berani benar Ipun mencuri makanan anjing peliharaan ayah. Akibatnya, muka Ipun jadi bonyok, bibirnya bengkak sebesar limau sundai. Itu imbalan yang setimpal bagi siapa saja yang menelantarkan Kalupak.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayah lebih sayang pada Kalupak daripada anak-anaknya sendiri,” keluhku pada ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lebih baik kasih racun serangga saja anjing itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anggap saja Kalupak bagian dari keluarga kita,” bujuk ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, tak sudi aku bersaudara dengan anjing!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sssst….nanti didengar ayahmu.”   &lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;Ayah kami pemburu ternama yang sangat disegani di kampung ini. Keberingasan Kalupak saat membunuh babi telah mengangkat martabat ayah sebagai pemburu nomor satu. Belum ada yang mampu menandingi tajamnya pengendusan anjing pemburu itu. Pada setiap perburuan, selalu saja Kalupak yang pertamakali mengendus jejak buruan, yang pertamakali pula memburaikan isi perut babi. Anjing-anjing pemburu lain selalu memangsai buruan yang sebelumnya telah membangkai dalam terkaman Kalupak. Seolah-olah perburuan itu hanya dilakukan oleh anjing pemburu milik ayah semata. Berkat kehebatan Kalupak, ayah telah menjadi penguasa para pemburu. Tanpa Kalupak, ayah bukan siapa-siapa, hanya pecundang malang yang tiada bakal dihormati orang. Maka, jangan sia-siakan hidup Kalupak, jangan coba-coba merampas hak hidupnya. Anjing pemburu itu lebih berharga ketimbang hidup kami yang hanya membebani, tiada memberi arti. Kami hanyalah babi-babi jinak yang bila tiba saatnya bakal dimangsai.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kalupak bukan anjing sembarangan. Bukan anjing penjaga rumah yang bila tidak diberi makan, bisa makan tai atau sisa-sisa tulang setelah pasar usai. Kalupak anjing mahal, sebidang sawah telah tergadai guna membeli anjing itu. Dua butir telur mentah dicampur susu kental dijatahkan ayah untuk Kalupak tiap hari. Belum lagi obat-obatan khusus yang dioleskan di lubang hidungnya guna mempertajam pengendusan dan shampoo bermerk guna membasmi kutu dan kuman di bulunya. Makin hari Kalupak makin gemuk, gesit larinya, panjang kejarannya. Tak begitu dengan ibu dan kami, anak-anak ayah. Seumur-umur, ibu belum pernah keramas pakai shampoo hingga rambutnya kusut, tak terurus. Sejak bayi, aku dan adik-adik tak pernah minum susu. Kata ibu, kami hanya diberi air tajen, air bekas menanak nasi. Lihatlah, Ipun, Izen dan Iyen, kurus kering, mata mereka mencukam ke dalam, tidak gesit seperti anak-anak lain, larinya lambat, tak bergairah, sekali kena tendang, langsung tumbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya Ipun, Izen, Iyen dan aku yang kerap dihajar ayah. Ibu sering pula jadi korbannya. Pernah ayah melempari muka ibu dengan kotak sabun mandi. Saking kuatnya ayunan tangan ayah, kotak sabun itu remuk berderai di kening ibu. Waktu itu, Ipun, Izen dan Iyen menjerit melihat darah meleleh di kening ibu. Ketiganya  mendekap ibu, membentengi tubuh ibu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan ibu yang salah, kami yang mengambil shampoo itu. Hu…hu….hu”  mohon  Izen, terisak-isak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami ingin mandi pakai shampoo, buihnya banyak,” dukung  Iyen dan Ipun serentak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami saja yang dihukum. Hu…hu…hu.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Diam kalian, anak-anak babi!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah makin kesetanan, ia belum puas melihat ibu yang sudah bersimpuh di pojok dapur dikelilingi Ipun, Izen dan Iyen yang merasa bersalah telah membuat ibu diamuki. Meskipun mereka telah menghalang-halangi, tetap saja tamparan ayah mendarat di pelipis ibu. Spontan tubuhku terloncat, dan seketika aku berada di antara ayah dan ibu. Kusuruh adik-adik cepat menyingkir. Kutantang sorot mata garang ayah, kujadikan tubuhku sebagai tameng ibu. Ayo, tampar aku, jangan hanya berani pada perempuan, batinku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rupanya sudah berani kau melawan pemburu?” gertak ayah, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Babi saja bisa melawan, kenapa kami tidak?” ungkapku dalam hati.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naluri berburu ayah tiba-tiba mengendor. Tergesa ia pergi meninggalkan kami. Padahal aku sudah siap jadi babi buruannya. Rupanya pemburu itu punya rasa takut juga. Kukumpulkan keping-keping kotak sabun yang berserakan di lantai dapur. Kuseka bekas-bekas luka di kening ibu dan kupapah ibu masuk kamar. Kami paham mengapa ayah ngamuk lagi. Shampoo yang disiapkannya untuk memandikan Kalupak dipakai Ipun,  Izen dan  Iyen buat main keramas-keramasan di kali belakang rumah.  Padahal besok Kalupak bakal unjuk taring, ada buru babi besar-besaran. Kurang lengkap rasanya bila Kalupak belum dikeramasi. Ayah tentu malu bila Kalupak menggaruk-garuk di depan anjing-anjing pemburu lain karena kutu-kutu dibulunya belum dibersihkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;        Keng, keng, keng, keng, keng, hauk, hauk, hauk…..&lt;br /&gt; Keng, keng, keng, keng, keng, keng………..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balok kayu peyangga pintu menghantam kepala Kalupak. Anjing itu menyeringai dan menghentak hendak lepas dari rantai yang mengebatnya. Tak terhitung berapakali balok kayu itu kupukulkan tepat di kepala Kalupak. Dalam sekejap, anjing kesayangan ayah itu tergeletak, kepalanya retak. Setelah kuhampiri, ternyata Kalupak sudah tak bernapas. Seperti mimpi saja rasanya, padahal aku benar-benar telah menghabisi seekor anjing pemburu. Kalau memang kami hanya babi-babi jinak yang suatu saat bakal dimangsai, kini seekor babi telah menerkam anjing pemburu. Entah kenapa aku jadi seberani ini. Mungkin karena ketakutanku sudah memuncak. Kata orang, puncak rasa takut adalah berani tiada tanding. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiba di rumah, ayah langsung panik, muka bengisnya berkeringat dingin. Dibolak-baliknya tubuh Kalupak yang terkapar dengan lidah menjulur. Bulu di bagian kepala Kalupak menyisakan bercak-bercak merah yang mulai mengering. Langau hijau mengerubungi bangkai itu. Kami terus menyigi ayah yang masih duduk membatu di depan bangkai Kalupak. Entah seperti apa kemarahan yang bakal meledak sesaat lagi. Tak lama berselang, ayah bergegas masuk. Satu tamparan tiba-tiba bersarang di bawah alisku, tubuhku terpelingsut ke dinding, berkali-kali sepak kaki ayah menghantam rusukku. Ia belum puas. Dijambaknya rambutku, lalu dengan sigap tangannya menerkam leherku. Akh….sukar aku bernapas. Cengkraman tangan ayah di leherku tertahan oleh jerit ibu yang sejak tadi menyaksikan upacara penyiksaan itu. Ia berpaling menghadap ibu, keduanya saling bersitatap. Kini, ibu yang menantang keberingasan ayah. Ibu dihajar habis-habisan, dihantam dari belakang hingga tubuhnya terjepit di sela-sela pintu. Kaki ayah yang akan menginjak-injak perut ibu tertahan oleh teriakan Ipun, Izen dan Iyen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian memang anak-anak babi, tunggu giliran kalian! ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan kuatir, semua babi di rumah ini bakal dapat jatah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sudah tak berdaya, berdiri saja tak ada tenaga. Adik-adik pucat mendengar hardikan ayah. Mereka berlindung di samping ibu yang sudah tergeletak sambil merintih kesakitan. Ipun, Izen dan Iyen pun beroleh bogem mentah, jatah dari ayah, satu persatu  terkapar. Sunyi seketika. Perlahan aku merangkak ke arah ibu. Lagi-lagi aku mengusap darah segar yang masih meleleh di pipinya. Ipun, Izen dan Iyen tergolek di samping ibu, entah pingsan, entah tertidur. Rasanya upacara ini sudah usai, ayah sudah tak ada. Ibu bangun, merapikan rambut yang acak-acakan, kami duduk berhadap-hadapan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kini, Kalupak sudah tiada. Entah di mana ayah mengubur bangkainya. Sejak kematian anjing pemburu itu, ayah tak pernah pulang menjenguk kami. Kami yatim, meski ayah belum mati. Lama-lama kami sadari, ada atau tidak adanya lelaki itu di rumah ini, sama saja, tak ada bedanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebaiknya kita pelihara anjing pemburu yang baru, supaya rumah ini tidak terasa sepi,” begitu kata ibu suatu hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, tapi kita tebus dulu sawah yang tergadai untuk membeli Kalupak.” bantahku, sambil menatap kerinduan di mata ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelapa Dua, 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-6239871640930760782?l=damhurimuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/6239871640930760782/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=6239871640930760782&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/6239871640930760782'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/6239871640930760782'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2007/08/anjing-pemburu-cerpen-damhuri-muhammad.html' title=''/><author><name>Damhuri Muhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/-JgCVFjccVOA/Tkyc-iydAsI/AAAAAAAAAIY/v_ip-0ze6tg/s220/pic-id-edit.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-405896662660347370</id><published>2007-08-15T10:07:00.000+07:00</published><updated>2007-08-15T10:13:54.656+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Bigau &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen  DAMHURI MUHAMMAD &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;em&gt;Kompas, &lt;/em&gt;Minggu, 12 Agustus 2007) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak usianya genap 80 tahun, orang-orang Kampung Lekung berkeyakinan, ajal Kurai sudah dekat. Melihat tubuh ringkihnya terkulai letai di atas dipan usang tanpa selimut, barangkali tak akan habis baju sehelai, ia sudah mengembuskan napas penghabisan. Rimba persilatan tentu berkabung sebab kehilangan pendekar paling licin yang pernah ada di Kampung Lekung. Mungkin sudah tiba saatnya, lelaki yang seluruh bagian tubuhnya tahan bacok dan tak mempan peluru itu mewariskan ilmu silat tua, lebih-lebih mewariskan Rantai Celeng yang telah tertanam selama bertahun-tahun di dalam daging paha sebelah kirinya. Sebelum terlambat, sebelum mayatnya dibenam ke liang lahat, sebaiknya Kurai segera menentukan siapa yang pantas menjawab hak waris barang keramat itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Harganya lebih mahal dari harga diri Kurai sendiri," begitu luapan kekesalan seorang cukong barang antik yang datang ke Kampung Lekung tapi ditolak mentah-mentah oleh Kurai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bujuk tua bangka itu, agar mau mewariskannya pada salah seorang di antara kalian! Itu bila kalian tidak ingin melarat seumur-umur." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jaga mulutmu, kau bisa mati berdiri sepulang dari sini. Enyahlah! Itu kalau kau masih ingin melihat matahari besok pagi," gertak Candung, anak muda kampung Lekung, penguasa lahan parkir di kota kabupaten. Ia pulang menjenguk Kurai yang dikabarkan mulai sakit-sakitan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sekali lagi kau meremehkan Kurai, kujamin kau pulang dengan hidung disumpal kapas." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurang tepat bila benda itu dinamai rantai, karena bentuknya bulat melingkar, hampir menyerupai cincin. Tapi, tidak patut pula disebut cincin, sebab diameternya terlalu besar untuk ukuran jari tangan manusia. Disebut rantai, mungkin karena orang-orang membayangkan bila logam menyerupai ring itu dihubungkaitkan dengan logam sejenis, dalam jumlah banyak tentu akan membentuk seutas rantai. Menurut para tetua kampung, Kurai berhasil menggondol Rantai Celeng seusai menyabung nyawa dalam pertarungan melawan celeng berbulu putih sebesar anak kerbau jantan yang keganasannya sudah menjadi kisah turun temurun. Binatang yang dipercaya sebagai raja celeng itu berkali-kali menubruk rusuk Kurai dengan kecepatan melebihi kemampuan celeng biasa. Bila kurang awas, taring sepanjang satu setengah jengkal itu tentu sudah menikam ulu hati dan membuat usus-usus Kurai berhamburan keluar. Semua jurus tangkis dikerahkan Kurai, sesekali tubuhnya terloncat ke atas dahan pohon jirak saat posisinya terdesak, kali lain ia berayun serupa siamang, lalu dalam sekejap mata sudah berdiri di atas punggung celeng tua yang tengah mengamuk itu. Kurai sengaja membuat bermacam-macam gerak tipu, memancing agar celeng terus menyerang, hingga tiba saatnya kehabisan tenaga. Dan benar, begitu serudukannya mulai melemah, sigap tangan Kurai merenggut logam kuning gelap berbentuk bulat melingkar yang tersangkut di salah satu taringnya. Ia berhasil merebut Rantai Celeng yang konon di situlah letak kekuatan celeng itu. Ini hanya satu serpihan cerita perihal kehebatan Kurai tatkala merobohkan raja celeng dan membuat pendekar itu tersohor sampai ke pelosok-pelosok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riwayat lain menuturkan, setelah Kurai menumbangkan binatang itu, ia belum sepenuhnya menguasai Rantai Celeng, karena tiba-tiba ia dihadang makhluk berperawakan ganjil. Meski masih menyerupai manusia, tapi tinggi badan makhluk itu hanya sepinggang Kurai dan kedua tumitnya menghadap ke depan, sedang jari-jari kakinya menghadap ke belakang, berkebalikan dengan bentuk kaki manusia biasa. Orang-orang menamainya; Bigau, makhluk jadi-jadian, penjaga babi-babi liar di hutan Kampung Lekung. Suatu masa di musim berburu, tak seekor babi pun ditemukan, ketajaman pengendusan anjing-anjing pemburu tak mempan melacak jejak. Tapi kegagalan itu dianggap lazim, para pemburu akan mempercayai bahwa gerombolan babi tengah disembunyikan oleh Bigau. Jadi, masuk akal bila seusai pertarungan paling melelahkan itu, Kurai dihadang Bigau, meski tak ada yang tahu apa yang terjadi setelah keduanya saling bersiap, pasang kuda-kuda. Orang-orang tergesa mengambil langkah seribu, ketakutan melihat rupa buruk Bigau yang sebelumnya hanya didengar dari cerita di kedai-kedai kopi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan dibayangkan Kurai membedah paha kirinya dengan pisau, lalu menanam Rantai Celeng di dalamnya, kemudian menjahit belahan itu kembali sebagaimana pekerjaan dokter bedah. Tidak! Kurai melakukannya tanpa mengeluarkan darah, lebih kurang seperti orang menanam susuk di salah satu bagian tubuh perempuan, tanpa harus merasakan perih dan sakit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang ingin memiliki Rantai Celeng tak mau pusing dengan urusan nama, apakah benda ajaib yang bikin Kurai jadi kebal itu layak disebut cincin ataukah rantai? Yang pasti, telah ada kesepakatan diam-diam, bahwa barang keramat yang kini bersarang di tubuh pendekar itu adalah benar Rantai Celeng. Kurai tidak hanya masyhur sebagai satu-satunya pewaris silat tua, tak hanya tangkas menangkis serangan musuh, lelaki yang tahan membujang sampai gaek itu juga kebal senjata, dan karena itu jurus-jurus tangkisnya tidak terlalu berguna lagi. Untuk apa menangkis serangan lawan, tiada senjata yang mempan lukai tubuhnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari di musim petai, seorang anggota tim buru sergap melepas tembakan saat mengejar peladang ganja yang diduga bersembunyi di hutan tempat Kurai biasa mencari petai rimba. Kurai yang sedang terbungkuk-bungkuk mengumpulkan buah petai yang baru saja dipanjatinya dikira peladang ganja yang akan mereka ringkus, timah panas bersarang di kuduk lelaki itu. Tapi Kurai hanya merasa ditimpa kencing tupai, perlahan ada sesuatu yang terasa dingin di punggungnya, karena geli Kurai menyentuhnya. Ternyata cairan itu bukan kencing tupai, tapi peluru yang sudah leleh. Polisi berpangkat sersan mayor itu terbirit-birit seperti dikejar hantu, meremang semua bulu di badannya setelah menyaksikan peluru meleleh di punggung lelaki pemetik buah petai. Saat masih terengah-engah ia bersumpah tak bakal menginjakkan kaki di hutan celaka itu lagi. Sejak itu, orang-orang Kampung Lekung bebas membuka ladang ganja, sebebas menanam jagung atau tembakau. Para peladang membiarkan Kurai memetik daun ganja sepuasnya. Ia mau menggelek hingga mabuk tiga hari tiga malam pun mereka tak peduli. Nyatanya, seberapa pun banyaknya lintingan ganja digasak Kurai, tak sekalipun ia mabuk dibuatnya. Rupanya Kurai tak hanya kebal senjata, tapi juga kebal dari mabuk ganja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Rantai itu mau dibawa mati?" kelakar Candung, centeng lahan parkir yang selalu mengaku cucu Kurai lantaran kerap mengirimkan pendekar itu minuman keras murahan merek T.K.W, meski Kurai tak pernah teler dibuatnya. Menenggak minuman keras sama dengan berkumur-kumur tiap bangun pagi bagi Kurai. Rupanya ia tak hanya kebal senjata dan kebal mabuk ganja, tapi juga kebal dari mabuk minuman beralkohol, jangan-jangan juga kebal dari mabuk buah kecubung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siapa yang bakal mewarisinya? Sebaiknya lekas diputuskan, agar kelak tidak jadi sengketa." bujuk Candung lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku masih menunggu!" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Menunggu? Menunggu mati? Tidakkah cucumu ini orang yang beruntung itu?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurai tak bergairah menjawab pertanyaan bodoh si cucu gadungan itu. Sejak mula ia mencium gelagat jahat Candung. Penguasa lahan parkir yang kabarnya sedang terancam oleh musuh-musuh bersengat itu tidak tertarik hendak berguru ilmu silat tua pada Kurai. Ia ingin mentahnya saja; kebal senjata, tahan celurit, tak mempan pistol. Selain akan membuat musuh-musuhnya bertekuk lutut, Candung hendak memperlebar sayap kekuasaan, bila perlu hengkang dari kota kabupaten, mencaplok lahan parkir di kota-kota besar. Tak perlu gamang bila Rantai Celeng sudah dalam genggaman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para kolektor barang antik belum sepenuhnya percaya kalau pendekar pemetik petai benar- benar memiliki Rantai Celeng, sebab rantai itu bukan sembarang peliharaan. Dalam setahun, sekurang-kurangnya tiga kali benda itu mesti didarahi dengan menyembelih kambing jantan di malam terang bulan. Penyembelihan dipersembahkan untuk Bigau, si penjaga celeng. Sekali syarat itu diabaikan, Rantai Celeng tiada bakal ampuh lagi, kekuatannya akan diisap Bigau. Bagaimana mungkin Kurai mampu melakukan tirakat penyembelihan tiga ekor kambing dalam setahun, sementara hidupnya hanya mengandalkan petai rimba yang kadang berbuah, kadang tak bersisa dimakan beruk. Kalaupun ia masih menyimpan Rantai Celeng, tentu keampuhannya sudah hilang, atau pendekar itu sudah menyerahkannya kembali pada Bigau. Tapi, dugaan itu tidak sepenuhnya benar. Mereka tidak pernah tahu betapa berterima kasihnya para peladang ganja pada Kurai. Selagi ia masih hidup, tak bakal ada yang berani membakar ladang-ladang mereka. Itu sebabnya, secara bergilir mereka menyediakan seekor kambing jantan bila tiba saatnya Rantai Celeng harus didarahi. Apa pun sanggup mereka lakukan demi kedigdayaan Kurai, orang yang telah membuat mereka seperti kejatuhan durian runtuh. Jangankan kambing jantan, kerbau jantan pun mereka sanggupi, asal ladang-ladang ganja aman dari kejaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurai mulai resah, bukan karena sesak napasnya kambuh, tapi karena teringat perjanjian dengan Bigau selepas perkelahian mati-matian puluhan tahun silam. Makhluk jadi-jadian itu memang tidak mampu merebut Rantai Celeng di genggaman Kurai, tapi Bigau mengancam, bila Kurai nekat menggondol Rantai Celeng, sawah-sawah di wilayah Kampung Lekung tidak akan bisa dipanen. Bila sawah-sawah mulai menguning, Bigau akan menghalau gerombolan babi liar guna mengobrak-abrik dan membucuti setiap rumpunnya. Buah padi akan ludes sebelum sempat dituai. Paceklik bakal menimpa Kampung Lekung dan tidak akan berhenti selama Rantai Celeng masih bersarang di tubuh Kurai. Itu sebabnya, para petani tidak bersemangat lagi menggarap sawah, mereka membuka lahan baru dalam hutan, menggarap ladang-ladang terlarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi, siapa orang yang beruntung itu?" tanya Candung lagi, kali ini penuh harap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bigau!" balas pendekar gaek itu, dan tak lama kemudian sesak napasnya kambuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelapa Dua, 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-405896662660347370?l=damhurimuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/405896662660347370/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=405896662660347370&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/405896662660347370'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/405896662660347370'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2007/08/bigau-cerpen-damhuri-muhammad-kompas.html' title=''/><author><name>Damhuri Muhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/-JgCVFjccVOA/Tkyc-iydAsI/AAAAAAAAAIY/v_ip-0ze6tg/s220/pic-id-edit.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-1031380812971210411</id><published>2007-08-02T16:44:00.000+07:00</published><updated>2008-12-11T13:12:05.328+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/RrGoXNq6ixI/AAAAAAAAABE/utWK2dLGpGI/s1600-h/Sampul_Sintren.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/RrGoXNq6ixI/AAAAAAAAABE/utWK2dLGpGI/s200/Sampul_Sintren.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5094037770292857618" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sintren, Riwayatmu Kini… &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data Buku : &lt;em&gt;Sintren&lt;/em&gt; -novel, karya Dianing Widya Yudhistira, Jakarta : Grasindo, 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;em&gt;Kompas,&lt;/em&gt; 30 Juli 2007) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bilamana tabiat para sastrawan hanya sekadar menjalankan laku mimetik dan menggambarkan wajah realitas sebagaimana yang "tersurat" saja (bukan tersirat), karya sastra tentu saja bakal segera menjemukan, lekas lapuk dimakan waktu. Lagi pula, laku peniruan sukar dipertanggungjawabkan sebagai kerja kreatif yang selalu saja menyimpan obsesi-obsesi literer. Maka, pergulatan melahirkan karya sastra semestinya bergeser dari sekadar tiru-meniru realitas menjadi sebuah "ikhtiar" menciptakan realitas baru, bila perlu dengan cara meloncati atau "melampaui" realitas usang, merangsek masuk ke lorong-lorong permenungan yang tidak berhasil ditembus oleh para filsuf. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali, di titik inilah letak perbedaan antara jalan sastra dan jalan filsafat. Bila tradisi berpikir diskursif-spekulatif di medan filsafat senantiasa mengayuh biduk menuju hulu, tempat kebenaran bersemayam, sastra justru bersitungkin menggali lubang-lubang kemungkinan sebanyak mungkin agar pencarian itu tidak berlabuh pada wujud kebenaran yang bulat, dan tidak melulu tertumpu pada arche transendental yang tunggal dan tak sumbing sebagaimana yang hendak digenggam oleh filsafat. Filsafat begitu bernafsu dan menggebu-gebu ingin menggapai "semesta kepastian", sebaliknya, sastra malah tekun membukakan pintu-pintu "keserbamungkinan". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Watak literer yang terobsesi hendak membangun (setidaknya menawarkan) dunia baru dalam sastra sangat terasa pada novel Sintren, karya novelis muda Dianing Widya Yudhistira ini. Ia mempertentangkan dua sisi realitas dalam posisi saling membelakangi. Realitas pertama adalah dunia keseharian Saraswati, murid SD berparas ayu tapi terlahir dari keluarga miskin. Pada jam istiharat, ia lebih suka membaca buku di ruang kelas, sementara kawan-kawannya menghambur-hamburkan uang jajan di kantin sekolah. Jangankan beroleh uang jajan dari Mak, uang sekolah saja sudah menunggak tiga bulan. Kemiskinan itulah yang membuat ia selalu tergesa-gesa melucuti seragam seusai jam sekolah, lalu bergegas ke Klidang, membantu Mak yang bekerja sebagai buruh penjemur ikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara realitas kedua adalah ruang dan waktu suprainderawi yang diselami Saraswati tatkala gadis bau kencur itu harus tampil sebagai penari sintren. Tubuhnya dibebat dengan berlapis-lapis pakaian, lalu diikat erat-erat dengan tali yang melilit sekujur badan sebagaimana kerap dijumpai dalam atraksi sulap tingkat tinggi, setelah itu ia dimasukkan ke kurungan ayam.Tak lama kemudian, Mbah Mo mulai melafalkan mantra-mantra gaib, hingga datanglah serombongan anak kecil menghampiri Saraswati. Mereka akan segera merasuki raga Saraswati untuk kemudian dilenggak-lenggokkan serupa anak-anak kecil sungguhan bermain boneka. Penonton bertepuk tangan dan bersorak sorai kegirangan menyaksikan sintren yang tiba-tiba muncul dalam keadaan sudah berdandan ala penari, memancarkan aura kecantikan yang membuat mata para lelaki enggan berkedip, pinggang langsing Saraswati meliuk-liuk, sampai tiba saatnya menagih saweran. Padahal, sesungguhnya, Saraswati tidak beranjak ke mana- mana, ia tetap duduk diam dalam kurungan, bahkan ikut pula menyaksikan lentik jemarinya berayun-berayun gemulai seiring irama gendang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa metafisis tatkala Saraswati menjadi sintren inilah yang dapat disebut sebagai salah satu lubang "keserbamungkinan" hasil galian pengarang dalam rangka membangun dan menawarkan realitas baru. Boleh jadi tidak ada pretensi pengarang untuk menonjolkan salah satu sisi dari dua dunia yang saling membelakang bulat itu. &lt;br /&gt;Tetapi, "diam-diam" kekuatan teks seolah menyuarakan bahwa pengalaman supranatural dan adikodrati yang dialami Saraswati adalah sungguh-sungguh nyata. Senyata peristiwa ketika gadis kecil itu dipaksa menerima lamaran Kirman, anak juragan Wargo, di usia yang belum genap empat belas tahun (meski pernikahan itu gagal), senyata kemelaratan yang tak jemu-jemu menimpa keluarganya. Ketakmujuran itu pula yang membuat Saraswati terpaksa menjadi sintren agar ia tetap bisa sekolah. Membiayai sekolah dengan uang saweran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia sintren memang dunia gaib, asing dan tak kasatmata, selayaknya dunia pesugihan yang selalu menghendaki tumbal. Tumbal paling mula tentulah si penari itu sendiri. Betapa tidak? Sejak jadi penari sintren, Saraswati dengan lapang dada harus menerima kenyataan bakal kerasukan setan di setiap penampilan, harus pula pasrah pada "takdir" sintren yang cantik alang kepalang, tapi pantang disentuh laki-laki sebab dunia sintren menghendaki keperawanan abadi, tiada seorang laki-laki pun yang boleh menjamah tubuhnya. Tumbal selanjutnya tentu saja para lelaki yang mabuk kepayang dan tergila-gila ingin mempersunting Saraswati. Lihatlah riwayat peruntungan Dharma, Warno, Royali, dan Sumito, empat laki-laki yang pernah nekat mempersunting Saraswati, semuanya mati mengenaskan sebelum sempat mencicipi ranum tubuh sintren paling masyhur di Kampung Batang itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, Saraswati sudah kadung menjatuhkan pilihan, tidak bakal sanggup ia melarikan diri dari kurungan gaib itu, mustahil ia berhenti jadi penari sintren. Saraswati siap menanggung segala akibat dari pilihannya, siapa melompat siapa jatuh. Sampai di titik ini, realitas yang tidak kasatmata telah menjelma dunia yang sesungguhnya, sementara keseharian Saras dengan Wati, Sinur dan teman-teman sekolahnya seolah-olah tidak nyata, seakan-akan fiksi belaka, begitu juga kesehariannya dengan Mak, Bapak, Lik Wastini, Lik Menur, dan juragan Wargo. Itu sebabnya Saraswati dengan berat hati menolak lamaran Sinur. Menerimanya sama saja dengan mempercepat kematian laki-laki pujaannya itu. Saraswati berusaha memercayai gejolak cintanya kepada Sinur adalah angan-angan saja, tidak nyata, karena yang paling nyata bagi gadis itu adalah dirinya sintren yang telah menelan banyak korban. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir separuh dari kisah yang disuguhkan buku ini menyiratkan semacam kerinduan pada tarian sintren yang perlahan-lahan mulai punah di Batang, kampung kelahiran Saraswati. Dan separuhnya lagi menampakkan kelegaan setelah kematian Saraswati, pangkal segala bala, biang segala tumbal, musabab segala sial. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laku bertutur Dianing memang tidak terlalu menggiurkan, datar, bersahaja, dan tidak pongah mempermainkan bentuk sebagaimana perilaku novelis muda lainnya. Alurnya lempeng, gampang ditebak, tidak berpilin-pilin. Tapi, justru dalam kesederhanaan itu keistimewaan novel ini mengemuka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun pilihan tematiknya terbilang berat, setidaknya memerlukan penghayatan dan kepekaan tingkat tinggi, Dianing berhasil mengangkat sintren dengan menggunakan point of view masa kanak-kanak. Ia menghayati sintren seperti merindukan kenangan masa kecil yang begitu mengasyikkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tangan Dianing, jelajah prosaik yang "asing" sekalipun ternyata dapat tergarap dengan laku penuturan yang lugas dan terang-benderang sehingga buku sastra tidak melulu dinikmati oleh peminat sastra belaka, tapi juga digandrungi peminat buku-buku fiksi umumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali, kebersahajaan dalam merancang kisah macam inilah yang selama ini terabaikan dalam kerja kreatif novelis-novelis kita yang kerap sumringah hendak melahirkan teks sastra simbolik, metaforik, bila perlu (sengaja) dirumit-rumitkan. Tapi, celakanya, sebagian besar buku sastra hanya dapat digauli oleh peminat sastra yang jumlahnya tak seberapa, seperti cemoohan bahasa iklan; jeruk makan jeruk…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-1031380812971210411?l=damhurimuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/1031380812971210411/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=1031380812971210411&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/1031380812971210411'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/1031380812971210411'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2007/08/sintren-riwayatmu-kini-oleh-damhuri.html' title=''/><author><name>Damhuri Muhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/-JgCVFjccVOA/Tkyc-iydAsI/AAAAAAAAAIY/v_ip-0ze6tg/s220/pic-id-edit.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/RrGoXNq6ixI/AAAAAAAAABE/utWK2dLGpGI/s72-c/Sampul_Sintren.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-6869023118412410021</id><published>2007-07-24T10:19:00.000+07:00</published><updated>2007-07-24T10:34:02.731+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Gasing Tengkorak&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;em&gt;Suara Merdeka&lt;/em&gt;, minggu 22 Juli 2007)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan coba-coba meludah di hadapan lelaki itu! Ia memang buruk rupa, muka kusut, mata juling, gigi kuning, mulut bau tembakau murahan, hanya satu dua orang yang tahan duduk lama-lama di dekatnya. Tapi jangan lupa, ia punya Gasing Tengkorak. Bila ia mau, semua perempuan di kampung ini bisa jadi bininya, tak peduli gadis belia, janda kembang atau bini orang. Bila Gasing Tengkorak sudah berkehendak, tak bakal ada perempuan yang menolak. Siapapun bakal takluk, tergila-gila pada tukang panjat pohon kelapa itu. Gasing bukan sembarang gasing. Bila lelaki itu sudah membaca mantra teluh sambil menggasing di malam buta, perempuan yang dituju akan terjaga, badannya serasa sedang direbus, panas alang kepalang, uring-uringan dan mulai menggigau, &lt;em&gt;Dinir, Dinir, jadikan aku istrimu! &lt;/em&gt;Besok pagi, perempuan itu akan bergegas mencari Dinir, lalu bermohon ;  &lt;em&gt;Dinir, Dinir, jadikan aku istrimu!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah kejadian yang menimpa Nurmala, gadis muda yang baru saja menyelesaikan kuliah di kota. Setelah menyandang gelar sarjana,  Nurmala pulang kampung minta doa restu mak dan bapak. Ia sudah mengajukan lamaran kerja, semoga mak dan bapak ikut berdoa, agar Nurmala diterima. Selain itu, Nurmala juga membawa kabar gembira bahwa sudah ada laki-laki yang berniat mempersuntingnya. Syamsudin nama kekasihnya itu, dokter muda yang kini bertugas di kota. Bila mak dan bapak merestui, keluarga Syamsudin bakal datang melamar Nurmala. Mujur benar nasib Nurmala. Sudah sarjana, akan segera bekerja, dan bakal dapat jodoh pula. Tapi, petaka muncul tiba-tiba. Suatu pagi, Dinir, tukang panjat pohon kelapa dipanggil ke rumah. Mak dan bapak hendak menggelar syukuran sederhana, karena anak gadis mereka sudah jadi sarjana, indeks prestasinya memuaskan pula. Untuk acara masak-memasak mak butuh buah kelapa. Setelah buah kelapa berjatuhan dari pohon belakang rumah, Dinir menyelunsu turun serupa Beruk. Tak sengaja, mata liarnya melirik Nurmala yang sibuk mengumpulkan buah kelapa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        “Rupanya tak hanya buah kelapa yang sudah matang. Anak perempuan di rumah ini sudah patut pula kiranya.” kata Dinir sambil membetulkan simpul tali pengebat celananya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Jangan banyak cakap! Angku cuma tukang panjat.” sela Nurmala, angkuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Jangan kasar begitu, dinda! Awak cuma bercanda.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Angku cuma tukang panjat, seperti Beruk. Jangan ganggu anak gadis orang!” gerutu Nurmala lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Ketemu orang bersengat awak rupanya. Mukamu rancak, tapi muncungmu bercirit.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hirau Dinir pada upah panjat yang belum diterima. Tergesa ia meninggalkan tempat itu. Seolah ada yang baru saja menampar mukanya. Mentang-mentang bersekolah di kota, Nurmala seenaknya menghina tukang panjat seperti dirinya, disamakan dengan Beruk pula. Dinir sudah berusaha sabar, tapi kata-kata Nurmala terngiang-ngiang terus di telinganya. Siapa melompat siapa jatuh. Agaknya Gasing Tengkorak bakal berputar nanti malam. Tunggulah Nurmala, sebentar lagi tukang panjat pohon kelapa akan memanjat tubuhmu, Dinir membatin.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tatkala orang-orang kampung masih melungkar tidur, mak dan bapak kelimpasingan, tak tahu harus berbuat apa. Nurmala anak gadisnya tiba-tiba bertingkah ganjil, seperti orang kesurupan setan. Menggelinjang-gelinjang kepanasan, berguling-guling di tempat tidur. Mula-mula selimut dicampakkanya, bantal guling dibantingnya. Nurmala masih tidak tahan panas, daster pun ditanggalkan, hingga tubuhnya telanjang bulat. Sebesar biji jagung peluh di kuduknya. Tak lama kemudian, Nurmala menyeracau, &lt;em&gt;Dinir sayang, Dinir sayang, datanglah, datanglah! Dinir sayang, Dinir sayang, datanglah, datanglah! &lt;/em&gt; begitu berulang-ulang. Wakbai, dukun hebat yang konon belum ada tandingannya dijemput malam itu juga. Semula, mak dan bapak menduga Nurmala hanya mimpi buruk. Tapi, setelah wajahnya disembur air yang keluar dari mulut Wakbai, ia masih saja bertingkah ganjil seperti orang kesurupan. Makin menjadi-jadi. Nurmala menyeringai sambil meronta-ronta, &lt;em&gt;antarkan awak ke ke rumah Dinir, antarkan awak ke rumah Dinir! &lt;/em&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        “Dinir? Apa salahmu pada tukang panjat itu?” tanya  mak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Antarkan awak ke rumah Dinir, antarkan awak ke rumah Dinir!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wakbai geleng-geleng kepala. Dukun masyhur itu angkat tangan. Rupanya ia berhadapan dengan kekuatan pukau Gasing Tengkorak. Dari siapa lagi muasalnya kalau bukan dari Dinir. Wakbai keok. Tak punya nyali melawan guna-guna  Dinir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Segera temui Dinir! Mungkin anakmu buat kesalahan pada tukang panjat itu. Minta maaf!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Pukau Gasing Tengkorak tak ada tandingannya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak tercegah, Nurmala akhirnya jatuh ke tangan Dinir. Kesalahannya tak terampuni. Nurmala harus membayar dengan menjadi istri kelima. Upah panjat memang tak sempat diterima Dinir, tapi bukankah tubuh Nurmala imbalan yang tak ternilai? Mak dan bapak tiada punya pilihan. Banyak dukun didatangkan untuk menghadang pukau Gasing Tengkorak. Tapi, semuanya menyerah. Mak dan bapak pasrah, merelakan anak gadisnya dipersunting Dinir. Apa boleh buat. Bila dicegah, Nurmala bisa gila selamanya. Maka, jadilah mak dan bapak bermenantu lelaki bergigi kuning, bermata juling. Sudahlah, mungkin Dinir memang  jodohnya Nurmala, kata mak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kini, Nurmala sudah lupa peristiwa malam itu. Lupa kalau ia harus kembali ke kota, memenuhi panggilan kerja. Lupa pada Syamsudin yang hendak melamarnya.Yang ia tahu hanya Dinir, suami tercinta, ayah empat orang anaknya. Dua laki-laki, dua perempuan. Yang perempuan mukanya mirip Dinir, sedang yang laki-laki wajahnya mirip Nurmala. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lama kelamaan, Rukaya, Saanih, Simatukila, Sansida dan Nurmala (lima istri Dinir) jadi tahu, ternyata Gasing Tengkorak itu benar-benar dibuat dari tengkorak manusia, tengkorak kepala bayi laki-laki tepatnya.Ukurannya tidak sebesar tengkorak orang dewasa, hanya sebesar kepalan tinju. Sebab, mayat yang digali dari kuburan itu mayat bayi yang mati di usia tujuh hari, dan konon, bayi itu mati berdarah. Sisi kanan dan kiri tengkorak itu dilubangi, masing-masing dua lubang sebesar buah rimbang. Di kedua lubang itulah dimasukkan tali gasing yang sebelumnya sudah dibelit benang tujuh rupa, jadilah Gasing Tengkorak. Bukan Dinir yang menggali kubur, ia hanya beroleh cerita. Dinir mewarisi gasing  ajaib itu dari kakek-buyutnya. Ia diajari mantra teluh, juga diberitahu pantangan-pantangan yang harus dihindari selama ia masih ingin memelihara Gasing Tengkorak itu. Bila Dinir patuh pada pantangan, kekuatan pukau Gasing Tengkorak tiada bakal tertandingi. Dan benar, sejak memiliki Gasing Tengkorak, Dinir tak hanya piawai memanjat pohon kelapa sebagaimana pekerjaannya sehari-hari, tapi juga lincah memanjati tubuh perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Bawalah gasingmu ke kota? Pasti banyak yang butuh.” bujuk Nurmala suatu hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Ada-ada saja awak tu, siapa pula yang mau?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Banyak laki-laki patah hati di sana. Kau bisa kaya kalau mau bantu mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Bagaimana caranya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Kucarikan kau pelanggan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Kalau mereka mau, datang saja ke sini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Dari mana pula mereka tau, kalau kau punya Gasing Tengkorak?"&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; “Ke kotalah, kalau mau kaya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rayuan Nurmala didukung Rukaya, Saanih, Simatukila dan Sansida. Lama-lama Dinir tergoda juga. Nurmala berhasil membawa Dinir dan Gasing Tengkorak itu keluar dari kampung ini. Sementara istri-istri Dinir yang lain berharap semoga suami mereka beroleh celaka di kota. Agar mereka bebas dari pasungan lelaki itu. Diam-diam mereka mulai berontak. Betapa tidak? Dinir tak pernah memberi nafkah untuk menghidupi anak-anak. Dasar tukang panjat, Dinir hanya bisa memanjat tubuh istri-istrinya. Setelah beranak-pinak seperti kucing, Dinir membiarkan mereka begitu saja. Untunglah, Rukaya, Saanih, Simatukila, dan Sansida orang-orang berada. Justru mereka yang menafkahi Dinir. Anehnya, mereka sudah menyadari kebodohan itu selama bertahun-tahun, tapi mereka tak kunjung lepas dari pukau Gasing Tengkorak. Mengajak Dinir ke kota mungkin hanya muslihat istri-istrinya, agar tidak ada lagi korban-korban Gasing Tengkorak berikutnya. Cukup mereka saja. Bila Dinir terus berada di kampung ini, bisa-bisa semua gadis dimakannya bulat-bulat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Semula, memang banyak laki-laki yang tertarik menggunakan jasa Dinir. Ada yang sekedar ingin punya istri baru, supaya ada variasi. Ada pula yang benar-benar patah hati karena cintanya ditolak, entah karena melarat, entah karena ketahuan sudah punya istri. Mereka menjanjikan bayaran menggiurkan, tentu bila Dinir berhasil membuat perempuan-perempuan pilihan mereka bertekuk lutut dan minta dikawini. Sementara itu, Nurmala mulai membeberkan bahwa Dinir, suaminya itu, menyimpan tengkorak kepala manusia yang digalinya dari kuburan, entah di mana, ya tengkorak bayi yang mati berdarah. &lt;br /&gt; Jonatan, salah seorang pelanggan, mulai meragukan kehebatan Dinir. Ia sudah membayar mahal, tapi Karina, perempuan idamannya tidak mengalami kejadian apa-apa. Padahal, hampir tiap malam Dinir memutar Gasing Tengkorak yang mantra teluhnya ditujukan pada perempuan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Bila perempuan itu tak bisa kau taklukkan, kulaporkan kau ke polisi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Tuduhannya jelas, kau menyimpan tengkorak bayi. Bisa-bisa kau tertuduh sebagai pembunuh.” ancam Jonatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dinir pucat. Tangannya gemetar. Tapi, Nurmala senang bukan main. Jebakannya berhasil menjerat Dinir. Tunggu petakamu, Dinir! &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tak lama berselang, Gasing Tengkorak itu disita sebagai barang bukti kejahatan Dinir. Dinir meringkuk dalam tahanan. Nurmala dan anak-anak melenggang pulang. Tapi, ia tak bisa melupakan Dinir, lelaki yang telah mengguna-gunai itu. Begitu pula Rukaya, Saanih, Simatukila dan Sansida. Mereka malah sering berkunjung ke kota, membawakan makanan kesukaaan Dinir. Di mata anak-anaknya (kalau tidak salah jumlahnya delapan belas), Dinir tetaplah ayah yang mereka rindukan. Belakangan, Nurmala menyesal telah menjebak suaminya. Cintanya pada lelaki bermata juling itu makin membara. Sejak Dinir ditahan, makannya tak enak, tidurnya tak nyenyak. Kini, Nurmala mati-matian berusaha membebaskan Dinir dari tahanan. &lt;em&gt;Sabarlah suamiku, kita akan berkumpul kembali seperti dulu…&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelapa Dua, 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-6869023118412410021?l=damhurimuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/6869023118412410021/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=6869023118412410021&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/6869023118412410021'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/6869023118412410021'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2007/07/gasing-tengkorak-cerpen-damhuri.html' title=''/><author><name>Damhuri Muhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/-JgCVFjccVOA/Tkyc-iydAsI/AAAAAAAAAIY/v_ip-0ze6tg/s220/pic-id-edit.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-779438210582991566</id><published>2007-07-24T10:06:00.000+07:00</published><updated>2007-07-24T10:18:58.127+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Anak Bapak&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;em&gt;Pikiran Rakyat&lt;/em&gt;, Sabtu 21 Juli 2007)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seolah ada tangan-tangan gaib yang tengah sibuk menggaruk-garuk daging di dada tipis bapak. Geli campur nyeri, sedikit perih. Makin kencang garukan itu, makin geli rasanya.Lalu gundukan daging kedua belah dada bapak berangsur-angsur mengembang. Seperti ada yang bergerak dan menyentak hendak menyembul keluar, hingga kedua bulatannya menegang dan membesar serupa balon ditiup pelan-pelan. Begitu juga putingnya, makin mekar. Montok serupa buah kelimunting matang. Kenyal dan setengah basah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan risau, nak! Tak akan lama kau tersiksa! Lihatlah, sebentar lagi Bapak bakal punya payudara. Kau meneteklah sepuasnya! Tak perlu mimik botol lagi. Bila haus, menyeruduk saja ke dada bapak. Ngangakan mulut, kenyotlah! Bila perlu sampai kempot. Kau suka yang mana? Kiri atau kanan? Setiap hari Bapak menyantap sayuran bergizi tinggi, agar kandungan susu Bapak melimpah. Supaya kau cepat besar. Sekarang, diamlah! Jangan menangis terus. Anak Bapak tak boleh rewel. Agar kelak, tidak manja. Jangan terlalu berharap air susu ibumu. Tak ada air susu ibu, air susu dari payudara Bapak yang baru tumbuh ini pun jadi. Toh, sama-sama air susu manusia. Bukan air susu sapi. Sabar ya, ini sudah bengkak. Pasti sebentar lagi airnya muncrat. Boboklah dulu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kelahiranmu, Bapak kerap berpikiran ganjil. Saat ibumu tidur pulas, ingin sekali Bapak memotong dua payudaranya, lalu Bapak pasangkan di dada bapak. Masih disebut perempuankah ibumu bila tak punya payudara lagi? Masih ibukah namanya bila ia tidak mau menyusuimu? Dulu ibumu seperti kebelet pingin anak. Hidupku sunyi bila tak ada suara bayi, begitu katanya. Tapi setelah kau lahir, jangankan merawat, menyusuimu saja ia keberatan. Bukan aku tak mau, tapi tak punya waktu. Kasih saja susu formula! Isapannya bikin payudara jadi lembek, dalih ibumu lagi. Apa bedanya kau dengan ternak bila yang kau minum susu sapi? Untunglah kini Bapak punya payudara. Tengoklah, bulatannya makin padat. Tentu isinya air susu. Kau tak bakal minum susu ternak lagi. Tapi, masih bapakkah namanya bila punya payudara? Masih laki-lakikah Bapak bila kau menetek pada Bapak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ngeyaaaaak, ngeyaaaaaaak, ngeyaaaaaaaak…..!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lho, kok nangis lagi? Kau tak suka Bapak punya payudara? Apa kelihatannya janggal? Tak apa-apalah. Yang penting kau sehat dan cepat besar. Emangnya cuma perempuan yang bisa menyusui? Bapak juga bisa! Bapak telah menjelma perempuan. Menggendongmu, memandikanmu, ganti popok, gurita, dan bedong bila ngompol, bersihkan e'ek dan kini juga, menyusui. Kalau begitu kenapa kau tak lahir dari rahim Bapak saja? Kenapa bukan Bapak yang hamil? Bapak pula yang menahan sakit saat melahirkan. Biar lengkap wujud Bapak sebagai perempuan. Siapa tahu Bapak juga punya rahim dan bisa melahirkan. Tapi, dari mana keluarnya? Tak ada jalan keluar bayi di organ vital bapak. O iya, bukankah bisa dioperasi caesar? Zaman sudah maju, melahirkan anak tak perlu lewat jalan keluarnya. Dibedah juga bisa. Tapi, masih disebut lahir jugakah bila kau tak terpacak di jalan yang semestinya? Bila kau keluar dari perut, bagaimana cara Bapak menentukan waktu kelahiranmu? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, ini sudah muncrat. Minumlah! Jangan rewel. Ibumu tak suka anak rewel. Pusing kepalaku mendengar tangis bayi, katanya. Lho, bayi memang bisanya cuma nangis. Bahasamu, ya eyak-eyak itu! Berisik, tapi Bapak tak merasa pusing kalau kau nangis. Begitulah dunia bayi. Mau mimik nangis, mau tidur nangis, ngompol nangis, mandi nangis, kegerahan nangis. Ibumu kok pusing? Dikiranya anak baru lahir langsung bisa ngomong, begitu? Atau langsung berdiri dan lari-lari? Repot sekali punya anak, katanya. Wah, kalau tak mau repot, jangan beranak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa-apaan ini? Dadamu kok membusung seperti semangka begitu? Doa apa yang kau baca hah? Lucu juga kelihatannya laki-laki punya payudara. Mau jadi perempuan rupanya. Kenapa tidak bilang dari dulu? Kau bisa operasi kelamin. Rahimku pindahkan ke tubuhmu. Kita bertukar kelamin. Kau pakai semua daster dan rokku. Kemeja, kaus oblong, celana jeansmu aku yang pakai. Kau yang belanja dapur, masak, nyuci pirinng, nyuci pakaian. Aku jadi bapak. Kerja. Cari nafkah. Aku suami. Kau istriku. Harus patuh dan hormat kau padaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak, aku tetap suami! Meski kini aku punya payudara. Aku tetap laki-laki meski aku menyusui bayi kita."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku hanya ingin ia beroleh susu. Itu saja!" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku laki-laki. Suamimu. Harus patuh kau padaku. Ngerti?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah kubilang, aku sibuk. Pergi pagi pulang malam. Mimik botol apa salahnya? Banyak juga bayi yang tak minum air susu ibu. Kau saja yang terlalu berlebihan. Kini lihatlah akibatnya, kau tak malu? Punya jakun, tapi ada payudara. Laki-laki tidak, perempuan juga tanggung. Lalu apa kelaminmu? Apa dunia mau kiamat? Laki-laki menyusui. Sebentar lagi mungkin laki-laki hamil. Edan! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku juga heran, tiba-tiba tumbuh sendiri, tak disuntik sama sekali"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tak apalah, mudahan-mudahan setelah anak kita besar, payudaraku menyusut kembali." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iya. Tapi bagaimana aku menyebutmu suami bila kau setengah jantan setengah betina? Apa kata orang nanti? Masa suamiku punya payudara? Apalagi bila kau benar-benar bunting. Terus siapa ba paknya? Siapa yang menghamili? Gila apa? Jijik aku melihat payudaramu itu. Pergilah ke rumah sakit. Dioperasi bila perlu! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ngeyak…..ngeyak…..ngeyaaaaaaaaaaaaaak….!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak Ibu kok rewel? Udah mimik belum? Ah, jangan-jangan ini karena terlalu banyak minum susu bapakmu. Ibu sudah bilang, minum susu formula saja! Bapakmu itu terlalu keibuan. Saking keibuan, payudaranya tumbuh sendiri. Bengkak serupa semangka. Apa enak susu bapakmu hah? Serbasusah punya suami seperti bapakmu. Coba kalau bapakmu kerja, Ibu bisa di rumah. Masak, nyuci, nyapu, ngepel, ngurus anak, apa saja Ibu kerjakan. Tapi, kalau Bapak di rumah, Ibu di rumah, kita makan apa? Jadi, Ibu harus banting tulang. Cari uang. Biar dapur kita tetap ngepul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ngeyak…..ngeyak…..ngeyaaaaaaaaaaaaaak….!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ngeyaaaak…..ngeyaaaaaaaak…..ngeyaaaaaaaaaaaaaak….!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah, sudah! Diam! Tuh kan, jadi nggak mau mimik botol. Duh, gimana caranya biar kau diam? Repot kalau tak ada bapakmu. Sebentar ya, bapakmu lagi belanja sayur-sayuran, katanya biar air susunya banyak. Ayolah, sementara mimik botol dulu! Mau ya? Ih, gimana ini? Bingung Ibu jadinya… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bapak jahat, bapak jahat! Dedek mau mobil-mobilan, bapak nggak beliin, hu….. hu…….hu……"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah, sudah, Dek! Jangan cengeng begitu! Dedek udah gede. Ntar Ibu yang beliin. Dedek mau yang mana?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bapak nakal, bapak nakal…..hu…..hu….hu….."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya. Bapak nakal. Nanti kita jalan-jalan ya. Beli mobil-mobilan. Sudah, diam dulu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dedek mau main ama Ibu aja. Nggak mau ama Bapak. Bapak jahat!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah besar anak bapak rupanya. Sudah bisa bilang bapak nakal, bapak jahat. Kenapa tidak mau jalan-jalan sama bapak? Pinginnya sama Ibu terus ya? Memang menyenangkan kalau sama ibu. Tiap akhir pekan diajak main ke mal. Beli mobil-mobilan, robot-robotan, pedang-pedangan, pistol-pistolan. Sampai-sampai kau kecanduan ke mal. Bapak memang bisanya cuma ngajak Dedek lihat gajah, buaya, burung, ikan, dan angsa di kebun binatang. Jalan-jalan sama Bapak tidak pernah jajan ya? Ah, bapak memang jahat, nakal, pelit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa kubilang? Ntar kalau sudah besar mau juga sama aku. Kau lihat sendiri kan? Kecil-kecil sudah bisa bilang tidak suka bapak"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dedek biar ikut aku saja. Di kantor ada penitipan anak"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi, tapi….."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi apa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dia kan sudah berhenti mimik susumu, mimik botol aja!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dedek rewel terus kalau sama bapaknya!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kurang ajar! Hati-hati kalau ngomong! Dulu, waktu masih bayi kenapa tidak mau ngurus?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau sudah besar begini aku mau. Sudah ngerti bila dikasih tahu. Pokoknya sekarang aku yang ngurus anak!" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau mulai nggak becus!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Buktinya, dia minta mainan, kenapa diam saja? Makanya, kerja! Cari duit, biar bisa beliin mobil-mobilan buat anak." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serasa ditampar berkali-kali mukanya ketika bocah enam tahun yang gendut itu bilang bapak nakal, bapak jahat. Sejak umur 1 hari ia menggendong Dedek. Tiap malam berjaga-jaga bila sewaktu-waktu Dedek kecil bangun, ngeyak dan ngompol. Ganti popok, bedong, gurita. Di tangannya Dedek tumbuh hingga jadi imut-imut seperti sekarang. Dalam aliran darah Dedek, tentu masih ada resapan air susu laki-laki itu. Air susu dari payudara yang tumbuh secara ajaib. Kini, setelah Dedek kuat berlari ke sana ke mari. Sudah lancar ngomong dan berhenti nyusu, ia seolah tak diperlukan lagi. Dedek lebih suka main dan jalan-jalan bersama ibu. Berkeliling di pusat-pusat perbelanjaan, cari mainan model baru. Baju baru. Sepatu baru. Sudah menumpuk mobil-mobilan pembelian ibu, tapi Dedek tak pernah puas. Terus-terusan ingin mainan baru. Belakangan Dedek minta Play Station 2. Sudah pasti, laki-laki itu tak bakal mampu belikan Dedek. Lagi-lagi Dedek bilang bapak jahat, bapak nakal dan bapak pelit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Makanya, punya anak jangan modal dengkul aja!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangankan PS2, robot-robotan kaki lima saja kau tidak mampu beli. Ih, gimana sih jadi bapak?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Payah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu malam, (sekali lagi) laki-laki itu mengalami kejadian ajaib. Seolah ada tangan-tangan gaib sedang sibuk menggaruk-garuk daging di dada tipisnya. Geli bercampur nyeri, sedikit perih. Makin kencang garukannya, makin geli rasanya. Lalu, tonjolan daging kedua buah dadanya berangsur-angsur menyusut seperti ada yang menghisap dari dalam, hingga kedua bulatannya kempes serupa balon mengisut pelan-pelan. Begitu pun bulatan putingnya, makin layu, mengering, tak segar seperti kelimunting matang lagi. Dadanya kembali rata, seperti semula. Ia kembali jadi laki-laki. Payudaranya hilang seketika. Sayang sekali, Dedek tak menyadari perubahan mencolok di tubuh bapaknya. Bocah yang makin nakal itu juga tak diberi tahu kalau dulu ia pernah menetek pada bapaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ikut Bapak yuk, nak!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak mau, nggak mau, nggak mau. Dedek nggak suka liat ikan. Maunya mandi bola di mal."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayolah nak! Bapak kangen jalan-jalan ama Dedek."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bosan ah…!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelapa Dua 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-779438210582991566?l=damhurimuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/779438210582991566/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=779438210582991566&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/779438210582991566'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/779438210582991566'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2007/07/anak-bapak-cerpen-damhuri-muhammad.html' title=''/><author><name>Damhuri Muhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/-JgCVFjccVOA/Tkyc-iydAsI/AAAAAAAAAIY/v_ip-0ze6tg/s220/pic-id-edit.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-8178007768336736980</id><published>2007-07-19T12:17:00.000+07:00</published><updated>2007-07-19T12:34:13.616+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Yth, Tuan Nirwan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh :  DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Esai ini disampaikan dalam acara TEMU KANGEN SENIMAN, di Yayasan PITALOKA, Kukusan, Depok, Minggu 15 Juli 2007).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyoal pergeseran selera penjurian dalam cerpen ‘Kompas’ pilihan 2005-2006, lewat esai &lt;em&gt;Mendustai Sastra Koran &lt;/em&gt;(Kompas, 8/07/07), Binhad Nurrohmat hampir memaklumatkan ‘harga mati’ bahwa pemilihan cerpen terbaik yang diselenggarakan harian Kompas tiap tahun (sejak 1991 hingga sekarang) sudah tegak sebagai tradisi. Padahal, pihak Kompas yang kali ini langsung dipengantari Suryopratomo (Pemimpin Redaksi) telah menegaskan bahwa momentun tahunan itu hanyalah rutinitas yang kemudian secara serampangan dianggap ‘tradisi’. Berkebalikan dengan sikap Binhad yang begitu was-was ketika penjurian tahun ini sepenuhnya dipercayakan pada pihak luar bakal berpotensi ‘mencederai’ pilihan estetik Kompas yang telah dirawat sejak lama, Kompas justru sedang ‘berikhtiar’ agar rutinitas itu tak terjerumus ke dalam lubang kemapanan dan tak terkungkung dalam ‘jerat’ tradisi. Maka, dengan pergeseran dari mekanisme penjurian ‘orang dalam’ ke ‘orang luar’ (kali ini dipercayakan pada Nirwan Dewanto dan Bambang Sugiharto), Kompas mengharapkan &lt;em&gt;munculnya kemungkinan-kemungkinan baru dan kriteria-kriteria artistik yang lain, yang boleh jadi berbeda, andai itu dilakukan oleh redaksi Kompas sebagaimana lazimnya. &lt;/em&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterbukaan dan kerendah-hatian ini tentu bukan tanpa resiko, mengingat setiap laku penjurian terhadap karya sastra (khususnya cerpen) selalu didera kesulitan menentukan parameter dan standar penilaian, dan akibatnya selera subyektif sukar dihindari. Agaknya, bagian inilah yang perlu diberi catatan, bila perlu diperdebatkan. Kata pembuka Nirwan Dewanto di bagian awal buku itu barangkali bukan sekedar laporan penjurian, tapi semacam lemparan ‘bola liar’ yang patut ditanggapi, setidaknya perlu diimbangi. Nirwan bilang, &lt;em&gt;sastra yang unggul terselenggara jika si pengarang menjadi pengrajin belaka,&lt;/em&gt; lalu pada paragraf selanjutnya ia begitu tergesa hendak menegaskan ;  &lt;em&gt;pengarang tidak bisa semau-maunya memperalat bahasa (atau ia akan dibinasakan oleh bahasa)&lt;/em&gt;. Bukankah kepengrajinan adalah laku kreatif yang mustahil menghasilkan produk kerajinan tanpa perkakas yang memadai? Dalam kerja sastra, perkakas itu tidak lain adalah bahasa. Lalu, bagaimana mungkin etos kepengrajinan bakal terbangun bila pengarang dilarang memperalat bahasa? Mungkin tuan Nirwan lupa bahwa hingga kini kata pengarang masih disebut &lt;em&gt;author,&lt;/em&gt; artinya orang yang punya otoritas untuk ’memperkakasi’ bahasa, menggerakkan bahasa, menghidupkan bahasa, bahkan ’menyuntikkan’ pesan-pesan tertentu ke dalam teks. Lelaku ini tetaplah lelaku sastra, bukan &lt;em&gt;setengah-psikologi, setengah-sosiologi, setengah-antropologi, setengah-historiografi dan akhirnya setengah-sastra &lt;/em&gt;sebagaimana  simpulan Nirwan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jatuhnya pilihan pada cerpen &lt;em&gt;Ripin,&lt;/em&gt; karya cerpenis muda Ugoran Prasad untuk menempati peringkat terbaik dalam bunga rampai itu memang tak perlu disangkal. Saya bersetuju dengan penilaian Nirwan bahwa &lt;em&gt;Ripin&lt;/em&gt; memberi contoh tentang bagaimana realisme dikerjakan hari ini. Sudut pandang seorang anak lelaki (tokoh utama cerita) telah membebaskan pengarang dari heroisme yang tak perlu. Ia membiarkan tokoh-tokohnya berkelindan sendiri dengan latarnya. Saya pun ‘lumayan’ percaya, dalam &lt;em&gt;Ripin, &lt;/em&gt;pengarang berhasil menghilang  ke sebalik lelaku dan ujaran tokoh, dan karena itu patut dianggap yang paling berhasil. Tapi, agak janggal, ketika &lt;em&gt;Rumah Hujan &lt;/em&gt;(Dewi Ria Utari) dan &lt;em&gt;Nistagmus&lt;/em&gt; (Danarto) terpilih sebagai dua cerpen yang satu garis identifikasi dengan &lt;em&gt;Ripin. &lt;/em&gt;Meski dalam &lt;em&gt;Rumah Hujan&lt;/em&gt;, pengarang berhasil melebur ke dalam lelaku tokoh, tapi peleburan itu membuat cerpen ini begitu remang, berpilin-pilin, sukar dicerna. Perihal &lt;em&gt;Nistagmus,&lt;/em&gt; bukankah cerpen ini hendak menunjukkan keterlibatan pengarang dalam sebuah peristiwa faktual tertentu? Tidakkah ini hanyalah esai komentar sosial yang ’menyaru’ sebagai cerpen seperti tudingan Nirwan pada &lt;em&gt;Bocah-bocah Berseragam Biru Laut &lt;/em&gt;(Puthut EA) dan &lt;em&gt;Piknik&lt;/em&gt; (Agus Noor)? Bukankah tuan Nirwan juga bilang bahwa &lt;em&gt;memaksakan muatan, pesan, hikmah, filosofi, ajaran tertentu tidak bisa dituangkan begitu saja di dalam karya sastra? &lt;/em&gt;Bila tuan Nirwan bersetia pada ’cita-cita’ literernya, enam dari enam belas cerpen yang terhimpun dalam buku itu, semestinya disingkirkan. Sebab, keenam cerpen itu sungguh memperlihatkan betapa berita meresap ke dalam cerita, &lt;em&gt;dan membuat cerita tak mampu bergerak dengan kaki sendiri, cerita hanyalah semacam berita yang tidak bergerak ke mana pun,&lt;/em&gt; demikian tuan Nirwan berwejang. Bagaimana mungkin tikam jejak pengarang dapat dihapus dalam teks? Pada seorang teman penyuka cerpen, iseng-iseng saya pernah menyuguhkan salah satu cerpen karya Kuntowijoyo dengan menghapus nama pengarangnya. Setelah khatam membaca, saya mengujinya ; &lt;em&gt;coba tebak, ini cerpen karya siapa?&lt;/em&gt; Ia menjawab, &lt;em&gt;siapa lagi kalau bukan Kuntowijoyo? &lt;/em&gt;Saya mulai percaya, teman penyuka cerpen itu dapat mengendus jejak pengarang  dalam setiap cerpen yang dilahapnya. Ah, barangkali pengarang tak sungguh-sungguh menghilang dalam teks. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Munculnya sudut pandang baru dalam laku penjurian sebagaimana didedahkan Nirwan Dewanto dan Bambang Sugiharto lewat buku cerpen ’Kompas’ pilihan 2005-2006, barangkali cukup berhasil ’menganggu’ rutinitas pemilihan cerpen terbaik versi Kompas agar tidak terjerembab menjadi ’tradisi’ yang baku dan beku. ‘Realisme bertendens’ (yang selama ini dianggap khas Kompas) secara terang benderang dihadang dengan eksperimentalisme (meski belum menemukan bentuk yang sepadan) sebagai siasat baru dalam menggarap cerpen. ’Umpan lambung’ Nirwan Dewanto patut disambut dengan girang-gemirang, tentu bila itu dilakukan dengan kearifan bahwa apapun ’mazhab’  kesenian dapat bersitumbuh dalam khazanah cerpen kita, berdampingan secara bijak, saling menghormati, tanpa hasrat untuk saling menggantikan satu sama lain, apalagi hasrat hendak menguasai....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-8178007768336736980?l=damhurimuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/8178007768336736980/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=8178007768336736980&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/8178007768336736980'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/8178007768336736980'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2007/07/yth-tuan-nirwan.html' title=''/><author><name>Damhuri Muhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/-JgCVFjccVOA/Tkyc-iydAsI/AAAAAAAAAIY/v_ip-0ze6tg/s220/pic-id-edit.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-2095381302836419455</id><published>2007-06-26T19:23:00.000+07:00</published><updated>2008-12-11T13:12:05.601+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/RoEGrrEgnoI/AAAAAAAAAA8/C5QXwqE2eQw/s1600-h/Sampul+Perantau.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/RoEGrrEgnoI/AAAAAAAAAA8/C5QXwqE2eQw/s200/Sampul+Perantau.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5080349202016411266" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;MERANTAU DI KAMPUNG SENDIRI &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul  : Perantau&lt;br /&gt;Penulis  : Gus Tf  Sakai&lt;br /&gt;Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta &lt;br /&gt;Cetakan         : I, 2007&lt;br /&gt;Tebal  : 130 halaman &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;em&gt;Koran Tempo&lt;/em&gt;, Minggu, 24 Juni 2007)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana mungkin pengarang yang tak pernah merantau tiba-tiba menulis cerita tentang perantau? Begitu sak wasangka yang menggelayut di benak saya saat berhadapan dengan buku kumpulan cerpen Perantau karya terkini Gus Tf  Sakai ini. Saya begitu tergesa hendak menyingkap watak perantauan macam apa yang bakal dimaklumatkan cerpenis asal Payakumbuh itu. Bagi anak rantau seperti saya, merantau tidak sekedar jalan terjal dan berliku yang mesti ditempuh untuk melesap ke masa depan, tidak pula semata-mata mengadu nasib di negeri orang, dan kelak bila sudah beruntung akan kembali ke kampung halaman. Tidak sesederhana itu! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merantau adalah sebuah keniscayaan, keharusan yang tidak dapat ditolak, atau (barangkali) semacam sisi lain dari ‘takdir’ malang laki-laki Minang. Ini resiko yang mesti ditanggung akibat dalamnya tikaman ‘garis ibu’ yang tak lekang dimakan waktu. Setelah sampai akil baligh, anak laki-laki ‘dihalau’ ke surau. Mengaji sekaligus tidur di surau. Di rumah-rumah gedang sembilan ruang  yang halamannya luas itu tidak tersedia kamar bagi mereka. Kamar hanya diperuntukkan bagi anak perempuan. Maka, berhimpitan-himpitanlah mereka tidur di  surau, seperti ikan pindang dalam wajan. Itu tak lama, hanya sampai mereka terbiasa jauh dari ketiak emak, setelah itu tiba saatnya ;  pergi merantau. &lt;em&gt;Merantau bujang dahulu&lt;/em&gt;, (sebab) &lt;em&gt;di kampung perguna belum&lt;/em&gt;. Falsafah ini sudah menjadi ‘lagu wajib’ yang selalu didendangkan ibu-ibu di ranah Minang, hingga anak-anak mereka berani merantau, terbang-hambur dari tanah kelahiran. Tiada tempat di rumah, lantas menggelandang ke surau-surau, setelah itu  merantau ke negeri orang, tidakkah itu siasat pengusiran yang paling santun?         &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Inilah musabab sak wasangka saya, betapa seorang Gus Tf Sakai, laki-laki Minang yang tidak pernah merantau kemudian merancang kisah tentang  perantau? Saya kuatir, buku ini tidak mencukam di kedalaman pahit-getir hidup anak rantau yang terbuang dari kampung sendiri. Buktinya, &lt;em&gt;alih-alih &lt;/em&gt;mengenggam realitas rantau yang sejatinya, cerpenis peraih The Lontar Foundation (2002) ini malah buru-buru mengunci cerpennya dengan kalimat &lt;em&gt;tak perlu jadi burung untuk tahu rahasia sayap&lt;/em&gt;. Tampak nyata obsesi literer pengarang yang hendak membangun konsep merantau tanpa (harus) jadi anak rantau. Karena pengarang tak pernah merantau kah?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketakpatuhan pada suruhan Merantaulah, Nak! diperkokoh dengan menghadirkan sosok Mak Itam, lelaki gaek yang sepanjang umurnya tak beranjak dari kampung, hidup menyendiri di dangau usang, lemah digasak batuk. Mak Itam membujuk si calon perantau (tokoh utama) yang sedang gamang dan ragu-ragu memilih jalan antara merantau atau tidak. Lelaki renta itu memberi petuah bahwa masa depan tidak ditentukan oleh merantau atau tak merantau, tapi bakal datang sendiri. Persoalannya apakah ketika masa depan itu datang, kita masih ada atau tidak? Dan Mak  Itam yang sudah hampir bau tanah itu belum menemukan masa depannya, (tapi sudah pasti akan segera menemui ajalnya).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Agak mencengangkan kenapa Gus Tf Sakai mengidentifikasi konsep merantau dengan sudut pandang futuristik, bahwa etos merantau bertujuan untuk meraih masa depan, agar roda nasib bergerak ke atas. Padahal merantau tidak selalu berarti &lt;em&gt;menuju sesuatu,&lt;/em&gt; tapi lebih kerap &lt;em&gt;meninggalkan sesuatu&lt;/em&gt;. Membebaskan diri dari iklim ketakberdayaan, hengkang sebagai pecundang malang, hidup menumpang di negeri orang, dan tak bakal kembali pulang. Bukankah tak terhitung berapa banyak perantau yang sudah melupakan jalan pulang? Seamsal &lt;em&gt;merantau cina, &lt;/em&gt;sekali pergi, tiada pernah kembali. Sekali layar terkembang, pantang surut ke belakang.   &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Meski begitu, ada sisi lain perantauan yang hendak digambarkan buku ini, bahwa laki-laki Minang yang tidak merantau pun pada akhirnya tetap saja (seolah-olah) merantau. Meski tidak berlayar ke negeri seberang, mereka tetap akan meninggalkan rumah, hidup dan tinggal di rumah anak-bini. Tapi, fase ini tidak akan bertahan lama, hanya selagi tangan kuat mengayun cangkul, menggarap sawah dan ladang guna menghidupi keluarga. Bila tenaga mulai berkurang, tulang-tulang tak berdaya, mereka tak berguna lagi, serupa tebu yang telah habis disesap rasa manisnya. Tengoklah betapa banyaknya peruntungan laki-laki Minang yang berakhir menjadi duda-duda tua, tercampak dari rumah bini. Jalan satu-satunya adalah kembali ke surau. Kecil di surau, setelah beranjak tua pun kembali ke surau, menunggu mati di surau. Ketakmujuran macam ini &lt;em&gt;setali tiga uang &lt;/em&gt;dengan nasib Mak Itam yang lapuk digasak batuk, tinggal seorang diri di dangau usang sebagaimana dikisahkan dalam &lt;em&gt;Perantau.&lt;/em&gt; Meski tidak pernah merantau, tapi sepanjang hidup, ia seperti  berada di rantau, tersisih, kesepian dan tak dihargai. Merantau di kampung sendiri.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Corak pengisahan sejumlah cerpen dalam buku ini (&lt;em&gt;Lelaki Bermantel, Tujuh Puluh Lidah Emas, Jejak Yang Kekal, Tok Sakat&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;Sumur&lt;/em&gt;) seperti hendak mewartakan bahwa jalan kepengarangan cerpenis peraih SEA Write Award (2004) ini telah menyimpang ke arah laku penuturan yang meliuk-liuk, berkelok-kelok. Alurnya berbelit-belit, rumit. Diksinya gelap, sukar dicerna. Cerpen-cerpen Gus Tf Sakai tidak lagi terang, lugas dan peka isi seperti karya-karya sebelumnya (&lt;em&gt;Istana Ketirisan,&lt;/em&gt; 1996, &lt;em&gt;Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta, &lt;/em&gt;1999 dan &lt;em&gt;Laba-laba, &lt;/em&gt;2003). Buku ini lebih &lt;em&gt;asik-masyuk &lt;/em&gt;mengolah cara bercerita ketimbang membangun kepekaan pada substansi cerita itu sendiri. Meski belum pernah merantau, dalam proses kreatif  paling mutakhir, Gus Tf Sakai benar-benar sudah ‘merantau’ jauh. Saya was-was, dalam perantauan ini, ia bakal lupa jalan pulang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-2095381302836419455?l=damhurimuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/2095381302836419455/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=2095381302836419455&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/2095381302836419455'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/2095381302836419455'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2007/06/merantau-di-kampung-sendiri-judul.html' title=''/><author><name>Damhuri Muhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/-JgCVFjccVOA/Tkyc-iydAsI/AAAAAAAAAIY/v_ip-0ze6tg/s220/pic-id-edit.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/RoEGrrEgnoI/AAAAAAAAAA8/C5QXwqE2eQw/s72-c/Sampul+Perantau.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-3545051803055295720</id><published>2007-06-26T19:07:00.000+07:00</published><updated>2008-12-11T13:12:05.853+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/RoEDXrEgnnI/AAAAAAAAAA0/i-rQ3q1Dr-w/s1600-h/bau+betina.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/RoEDXrEgnnI/AAAAAAAAAA0/i-rQ3q1Dr-w/s200/bau+betina.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5080345559884144242" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Laku Etik dan Estetik dalam Watak Kepenyairan  &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;em&gt;Pikiran Rakyat&lt;/em&gt;, 23 Juni 2007)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sejak akhir Juli hingga pertengahan Agustus 2004 silam, sejumlah koran riuh oleh polemik menyoal diluncurkannya buku kumpulan puisi Kuda Ranjang, karya Binhad Nurrohmat. Tak kurang dari 15 esai telah menimbang buku itu. Banyak yang memuji kepiawaian Binhad mengurai tubuh perempuan dalam bait sajak, banyak pula yang menghujat, bahkan ada yang terang-terangan menyeringai : “Menjijikkan membaca puisimu.” Tapi,  Binhad tak kunjung jera menuai cela, penyair itu baru saja melepas antologi puisi terbaru, Bau Betina (2007). Setali tiga uang dengan Kuda Ranjang, lewat Bau Betina ia masih latah bergunjing perihal ‘dunia basah’, ‘dunia tengah’, (tapi diburu banyak watak). Bukan berarti ia sedang mengutukinya sebagaimana para ustazd berwejang di mimbar-mimbar khutbah, Binhad justru mendekonstruksi seks sebagai dunia yang tak perlu ‘diaibkan’. Nalar puitiknya bernujum bahwa peristiwa seksual seamsal peristiwa buang hajat (Berak). Bukankah buang hajat adalah gejala alamiah yang niscaya? Jadi, tak perlu malu berbincang soal buang hajat, sebagaimana tak harus tabu bersijujur bahwa kita mendambakan kenikmatan seksual. Berak memang kotor, sebagaimana persetubuhan liar juga keji, tapi kenapa malu mengakui bahwa kita memang ‘doyan’ pada yang kotor dan keji itu. Hubungan antara peristiwa seks dan peristiwa buang hajat dipetakan Binhad dengan permisalan  baru ;  &lt;em&gt;Kota Tanpa Bordil adalah Rumah Tanpa Kakus. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Bagi Binhad, seks dipotret sebagai realitas yang kacau, carut marut, beringas. Seks identik dengan kata menggigit, mencekik, menghujah, bukan menyentuh, mengelus atau membelai. Persebadanan tak lagi berarti bersekutunya dua tubuh dalam bingkai ‘suka sama suka’, tapi  pertarungan satu lawan satu yang berhasrat saling mengalahkan. Gejala ini jelas pada “Ajal Begundal” : &lt;em&gt;Setelah empatpuluh hari kematian/seluruh kota bernafas lega/tak ingat lagi coretan dinding penuh ancaman/atau erang perkosaan di belakang bioskop murahan/&lt;/em&gt;. Pejantan yang sebelumnya disimbolisasikan dengan Kuda (dalam &lt;em&gt;Kuda Ranjang&lt;/em&gt;) dan Singa (dalam &lt;em&gt;Bau Betina&lt;/em&gt;) rupanya tidak melulu ‘menaklukkan’, tapi kerap pula ‘ditaklukkan’. Sebagai pejantan yang diburu banyak betina, ringkik dan aungnya hanya terdengar bila sedang di ranjang, setelah itu bakal menelentang sebagai pecundang. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kepenyairan Binhad yang menjalankan laku ‘tarekat tubuh’ seperti termaktub dalam sajak Hidung Belang, Sex After Lunch, Pengakuan Sepasang Girang, Ulang Tahun Tubuhmu, Malam Janda, Homo Eroticus, Tak Sedalam Tubuhmu memang bukan tanpa resiko. Antologi puisi &lt;em&gt;Kuda Ranjang &lt;/em&gt;yang semula sudah terpajang di rak sastra toko-toko buku, tiba-tiba raib, ditarik dari peredaran. Seperti dilaporkan Anton Kurnia (mailing list pasarbuku@yahoogroups.com), sejak  3 Agustus 2004 lalu, toko buku Gramedia telah menarik peredaran buku itu dari toko-tokonya di seluruh Jakarta. Dalam salah satu seminar sastra, seorang penyair senior mengukuhkan nama Binhad sebagai penyair perusak moral bangsa. Bakal seperti apakah nasib  &lt;em&gt;Bau Betina? &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Wallahualam.&lt;/em&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada masa orde baru, teks sastra yang berseberangan dengan ideologi stabilitas politik (Binhad menyebutnya ; ‘sastra sosial’) dianggap subversif. Masa itu, ‘sastra sosial’ lebih berisiko ketimbang ‘sastra seks’. Penguasa bebas memberangus teks dan ‘mengamankan’ sastrawan tanpa proses peradilan. Kini, situasinya terbalik, sastra seks yang dianggap subversif. Bedanya, teks-teks ‘berlendir’ itu tidak lagi berhadapan dengan kekuasaan negara, tapi menuai sinisme dan caci maki dari sebagian sastrawan, pengamat sastra dan khalayak pembaca umum dengan alasan-alasan moral. Penyair Taufik Ismail tak sudi menyebutnya sebagai karya sastra, melainkan pornografi (Ermina K, &lt;em&gt;Suara Karya&lt;/em&gt;, 14/03/05). Padahal, sastra seks juga berperan sebagaimana sastra sosial. Jika sastra sosial menggambarkan kobobrokan moral kekuasaan, sastra seks memetakan kemunafikan dan kebobrokan moralitas masyarakat, begitu Binhad berdalih. Jadi, mana yang lebih tak senonoh antara para petinggi negara yang menjarah uang rakyat (di tengah-tengah duka-nestapa rakyat akibat bencana bertubi-tubi) dengan sajak-sajak Binhad? Tapi, di sinilah celakanya. Sastra diukur berdasarkan sudut pandang etika, bukan ditelaah berdasarkan pencapaian estetika sastrawi. Sukar mencari titik temu antara sastra dan etika, seperti pernah dikemukakan Ribut Wijoto (2002), etika menciptakan pagar, sementara sastra membongkarnya. Sastra merayakan kerapuhan, sementara etika memperkokohnya kembali. Laku estetik kerap tak berjalan seiring dengan laku etik. Lagi pula, teks sastra tentu bukan kitab suci, bukan traktat dogmatik agama tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agak mengejutkan, seorang alumnus pesantren Krapyak (Yogyakarta) seperti Binhad memilih jalan ‘menyimpang’ dengan menulis sajak-sajak bergelimang syahwat. Apakah ia sudah terjerembab dalam asyik-masyuk dunia malam kota Jakarta yang memang kerap menyesatkan? Marshall Clark, peneliti sastra Indonesia di School of Asian Languages and Studies memang menyebut puisi-puisi Binhad sebagai ‘puisi metropolitan’.  Kuda Ranjang dan Bau Betina adalah buah dari ekplorasi estetik selama ia tinggal di Jakarta. Tapi, bukan berarti ia telah ‘membelakang bulat’ dari etos santri yang membesarkannya. Justru latar belakang pesantren yang mewarnai kepenyairan Binhad. Hipotesis ini terdengar ganjil. Mestinya, Binhad menulis puisi sufistik sebagaimana Ahmadun Y Herfanda menulis Sembahyang Rumputan (1996) atau mengikuti jejak kepenyairan Jamal D Rahman, Radhar P Dahana dan Ahmad Nurullah, bukan menulis sajak-sajak yang tidak mencerminkan budaya santri. Tapi, kitab-kitab kuning sangat akrab dengan wacana seks. Bukalah kitab &lt;em&gt;Qurrat al-Uyun &lt;/em&gt;yang detail mengurai tipe-tipe perempuan berdasarkan perspektif seks, juga membahas tahapan-tahapan dalam hubungan suami-istri serta seluk beluk masalah seks lainnya. Begitu pun &lt;em&gt;Kitabun Nikah,&lt;/em&gt; &lt;em&gt;Uqudullijain&lt;/em&gt;, dan &lt;em&gt;Ushfuriyah&lt;/em&gt; yang tak asing lagi bagi para santri. Berkat pembacaan terhadap kitab-kitab itu, seks bukan sesuatu yang terlarang dibicarakan. Mata pelajaran tentang seks di pesantren, tak ada bedanya dengan &lt;em&gt;Tarikh, Tasawwuf, Nahwu, Syaraf &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;Balaghah&lt;/em&gt;. Mungkin, wacana seks sudah menjadi air berkumur Binhad setiap pagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, penghakiman terhadap kepenyairan Binhad hanya akan dihadang dengan jurus Anjing Menggongong Kafilah Berlalu. Bukankah Moammar Emka (&lt;em&gt;Jakarta Undercover&lt;/em&gt;, 2003) yang sempat menghebohkan jagat perbukuan Indonesia itu juga lahir dari tradisi pesantren? Jika Inul Daratista menujumkan sasmita tentang kemunafikan massal dengan bahasa bokong, maka jalan yang ditempuh Binhad lebih santun, menorehkan kata &lt;em&gt;Pantat, Selangkang &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;Cupang&lt;/em&gt; dalam sajak. Ketika mulut-mulut para ustazd tak mempan lagi menyeru kesadaran umat dari ketersesatan, Binhad berwejang dengan sajak-sajak telanjang…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-3545051803055295720?l=damhurimuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/3545051803055295720/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=3545051803055295720&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/3545051803055295720'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/3545051803055295720'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2007/06/laku-etik-dan-estetik-dalam-watak.html' title=''/><author><name>Damhuri Muhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/-JgCVFjccVOA/Tkyc-iydAsI/AAAAAAAAAIY/v_ip-0ze6tg/s220/pic-id-edit.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/RoEDXrEgnnI/AAAAAAAAAA0/i-rQ3q1Dr-w/s72-c/bau+betina.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-787858305815772248</id><published>2007-06-20T17:23:00.000+07:00</published><updated>2008-12-11T13:12:06.095+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/RnkA7bEgnmI/AAAAAAAAAAs/ldqGlnE2gCw/s1600-h/Buku_Poligami.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/RnkA7bEgnmI/AAAAAAAAAAs/ldqGlnE2gCw/s200/Buku_Poligami.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5078091075715898978" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyingkap Akar Sejarah Poligami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul  : Duduk Perkara Poligami&lt;br /&gt;Judul Asli :  The Right of Women in Islam&lt;br /&gt;Penulis  : Murthadha Muthahhari&lt;br /&gt;Penerbit : Serambi, Jakarta &lt;br /&gt;Cetakan         : I, 2007&lt;br /&gt;Tebal  : 154  halaman &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Majalah Mingguan GATRA, edisi 14-20 Juni 2007)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poligami merupakan topik kajian yang selalu sengit diperdebatkan dalam diskursus fiqh munakahat Islam. Tak jarang sejumlah sejarahwan melancarkan serangan telak bahwa nabi Muhammad lah yang pertamakali memprakarsai tradisi poligami, sampa-sampai ada yang berkesimpulan bahwa salah satu penyebab cepatnya penyebaran Islam karena penghalalan poligami, namun kemunduran dunia Islam disebabkan oleh poligami pula. Sepintas lalu, kesimpulan itu seolah-olah masuk akal, tapi bila ditelusuri lebih dalam, tudingan macam itu terlalu mengada-ada dan sukar dipertanggungjawabkan. Sebab, sejarah membuktikan bahwa tradisi poligami sudah ada dan berkembang pesat puluhan tahun sebelum Islam datang. Praktik mengawini lebih dari satu istri telah berlangsung di kalangan suku-suku Arab pra-Islam, Persia,Yahudi dan suku-suku lainnya. Tak hanya dilakukan oleh suku-suku primitif, poligami juga beroleh tempat di kalangan suku-suku beradab. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Inilah cikal bakal silang pendapat perihal poligami yang hendak didedahkan Murthadha Muthahhari dalam bukunya Duduk Perkara Poligami  dengan menggali akar sejarah tradisi poligami sejak dari perkembanganya yang paling purba. Bagaimana mungkin para sejarahwan itu berkesimpulan bahwa Islam menumbuhsuburkan adat poligami, padahal usia sejarah poligami lebih tua dari usia Islam itu sendiri. Sinyalemen ini diakui oleh seorang sarjana Barat, Wiil Durant dalam The Story of Civilization bahwa bertahun-tahun sebelum kedatangan Islam, poligami telah menjadi adat yang lumrah di kalangan suku-suku primitif Arab. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kalau memang demikian, kenapa Islam tidak menghapus tradisi perkawinan majemuk yang hanya akan memperkokoh dominasi pria terhadap wanita? Bukankah penghalalan poligami akan mengingkari hak-hak perempuan yang semestinya dijunjung tinggi dan dihormati? Bagi Murthadha, pertanyaan-pertanyaan di atas muncul akibat dangkalnya pemahaman terhadap poligami. Islam memang tidak sepenuhnya menghapus poligami (meski sepenuhnya menghapus poliandri), tapi membatasi poligami, artinya menghapus ketidakterbatasan poligami dan membatasinya sampai empat istri. Itupun dengan syarat dan batasan-batasan yang sangat ketat. Sayang sekali, buku ini hanya hasil terjemahan satu bab dari The Right of  Women in Islam  (1981), bukan gagasan utuh Murthadha yang sangat erat kaitannya dengan polemik soal poligami. Inilah resiko yang mesti ditanggung akibat ketergesaan penerbit dalam mengejar target tema yang sedang santer dibincang, tapi abai pada bagian-bagian yang ‘diduga’ tak punya  nilai jual.         &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Murthadha menyangkal poligami sebagai tirani, dominasi dan perbudakan pria atas wanita sebagaimana kerap didengungkan para pemuja feminisme. Muasal sejarah poligami bukan karena pria mendominasi wanita, lalu mereka merancang adat dan peraturan yang menguntungkan mereka. Kemunduran poligami juga bukan karena dominasi pria sudah mulai goyah bahkan hampir roboh. Dalam konteks ini, ia menggunakan logika terbalik, kalau memang dominasi pria menjadi sebab poligami, kenapa Barat tidak menerapkannya? Mengapa sistem partriarkat dianggap hanya terbatas di wilayah Timur saja? Padahal, di abad pertengahan, wanita Barat adalah wanita yang paling tidak beruntung di dunia, sebagaimana diakui Gustave le Bon bahwa pada zaman peradaban Islam, wanita diberi kedudukan yang persis sama dengan wanita Barat jauh hari kemudian. Kita tahu bahwa raja-raja kita tidak menaruh hormat pada wanita. Setelah mempelajari sejarah zaman dahulu, tak ada lagi keraguan bahwa sebelum Islam mengajari kakek-kakek kita mengasihi wanita dan menghormatinya, raja-raja kita memperlakukan wanita dengan sangat biadab.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kalau memang Islam menaruh hormat pada hak-hak wanita, kenapa hanya kaum pria yang boleh menikahi lebih dari satu istri (poligami) sementara wanita tidak diberi hak menikah lebih dari satu suami (poliandri)? Murthadha merujuk sebuah riwayat tentang peristiwa ketika sekelompok wanita menghadap saidina Ali r.a dan mereka bertanya, “Mengapa Islam memperkenankan laki-laki punya lebih dari seorang istri tapi tidak mengizinkan wanita bersuami lebih dari seorang? Bukankah ini tidak adil?” Ali menyuruh masing-masing mereka  mengambil cangkir berisi air, lalu meminta mereka menuangkan air dalam cangkir masing-masing ke dalam mangkuk besar yang diletakkan di tengah-tengah pertemuan itu. Setelah cangkir-cangkir mereka kosong, Ali meminta masing-masing wanita itu mengisi kembali cangkir mereka dengan air dalam mangkuk besar itu dengan ketentuan ; setiap orang harus mengambil air yang tadi ditumpahkannya ke dalam mangkuk itu. “Air itu sudah tercampur, tidak mungkin dipisahkan lagi” kata mereka. Maka, Ali berkata ; “Apabila seorang istri mempunyai beberapa orang suami, ia akan melakukan hubungan seks dengan setiap suaminya, kemudian ia akan hamil. Bagaimana ia menentukan ayah dari anak yang dikandungnya?” &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Murthadha hendak meluruskan pemahaman yang keliru terhadap tradisi poligami yang telah memicu polemik tak kunjung usai. Buku ini tidak berpretensi memaklumatkan poligami lebih bermartabat ketimbang monogami, hanya mempertanyakan kenapa banyak orang mengecam keras perilaku poligami dan menuding poligami menindas hak-hak perempuan? Ironisnya, ketika mereka menentang poligami, pada saat yang sama, seks bebas dan homoseksual justru diperkenankan. Pria-pria modern bisa gonta-ganti pacar tanpa harus memerlukan formalitas dalam bentuk mahar, nafkah atau perceraian. Mungkin itu sebabnya Moise Tshombe (mantan perdana menteri Kongo) menentang poligami. Ia pernah sesumbar dalam sebuah wawancara surat kabar, bahwa satu istri sudah cukup baginya selama ia dapat mengganti sekretaris wanitanya setiap tahun. Bertrand Russell, pemikir paling keras mengecam poligami, dalam otobiografinya berkisah bahwa dalam hidupnya ada dua orang wanita setelah ibunya, yaitu Aliys (istrinya) dan Lady Ottoline Morell (kekasihnya). Meski Russell tidak menyukai poligami, suatu hari filsuf itu bersijujur mengakui ; mendadak saya sadar bahwa saya tidak lagi mencintai Alys. Kalau sudah begini, tentu poligami tak berguna lagi…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-787858305815772248?l=damhurimuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/787858305815772248/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=787858305815772248&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/787858305815772248'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/787858305815772248'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2007/06/menyingkap-akar-sejarah-poligami-judul.html' title=''/><author><name>Damhuri Muhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/-JgCVFjccVOA/Tkyc-iydAsI/AAAAAAAAAIY/v_ip-0ze6tg/s220/pic-id-edit.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/RnkA7bEgnmI/AAAAAAAAAAs/ldqGlnE2gCw/s72-c/Buku_Poligami.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-8158947746391256250</id><published>2007-06-05T19:47:00.000+07:00</published><updated>2007-06-05T20:00:36.630+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Asung Pitanah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen : DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(tabloid &lt;em&gt;NOVA,&lt;/em&gt; edisi 28 Mei 2007)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat umur Nupik masih enam tahun, kampung Sikabalapa heboh karena Rifayah pulang dari pulau Mbata dalam keadaan berbadan dua. Bunting. “Siapa bapaknya?” tanya nyinyir orang-orang waktu itu. Ah, mungkin teman lelaki sesama buruh pabrik, mungkin sopir taksi, tukang ojek, centeng pasar, mungkin pula supervisor bermata sipit. Kini, si Rifayah sudah janda, beranak satu. Zaituna, nama anaknya, sudah kelas tiga SMU. "Anak haram dari pulau Mbata." begitu orang menggunjingkannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak berselang lama sejak musibah menimpa Rifayah, orang-orang Sikabalapa kembali dirundung petaka karena kepulangan Salma. Masih dari pulau Mbata. Lebih menyedihkan dari sekedar pulang dalam keadaan perut buncit, Salma hanya pulang nama. Jenazahnya tergeletak kaku dalam usungan keranda. Desas-desus yang bergulir, Salma meninggal setelah mabuk berat pada suatu malam di sebuah diskotik ternama. Saat ditemukan, masih tercium aroma alkohol di mulutnya. Tak ada yang bertanggung jawab atas kematian itu. Orang-orang Sikabalapa tak mampu berbuat apa-apa, kecuali menangisi dan meratapi. Sesungguhnya masih banyak lagi risalah luka tentang gadis-gadis Sikabalapa yang mengadu untung di pulau Mbata. Tapi, apalah gunanya cerita itu diungkit-ungkit lagi. Hanya membuat orang-orang Sikabalapa makin berduka, makin terluka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedari awal emak sudah katakan, “Hujan uang di negeri orang, hujan batu di kampung kita, sebaiknya anak gadis tak usah ke mana-mana, tetap sajalah di Sikabalapa!”  Tapi, si Nupik keras kepala, tak hirau ia pada petuah emak. Merengek-rengek mohon ijin hendak berlayar ke pulau jauh, Mbata. Pulau yang dulu hanya semak belukar dan rawa-rawa, tiada penghuni selain lintah, ular dan biawak. Tapi,  sejak pohon rupiah tumbuh di sana, pulau pun penuh sesak para perantau. Berbondong-bondong, berdatangan entah dari negeri mana. Seperti petuah emak yang lain, “Di mana ada gula, di situ banyak semut.” Tapi, mestinya Nupik tak menjadi semut yang ikut pula mengerubungi tumpukan gula. Bukankah Nupik gadis belia, kembang bunga Sikabalapa? Banyak kumbang berhasrat hendak hinggap. Ada kumbang janti putih kaki yang jinak tak bersengat. Terbang rendah hendak menghisap madu. Ada pula kumbang dari rantau, ingin membawa bunga, terbang tinggi ke negeri seberang. Tapi, Nupik acuh, seolah tak butuh.  Kumbang-kumbang pun terbang lagi, lalu hinggap di kelopak bunga lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nupik ingin dik Tantri jadi guru seperti keinginan mendiang ayah. Dik Hudan bisa kursus mengemudi. Dik Rafki sekolahnya mesti sampai. Sebab, cita-citanya mulia, mau jadi ulama.” ungkap Nupik, tulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emak tak menyangka, Nupik yang hanya tamatan madrasah, ternyata sudah bisa berfikir dewasa. Lebih dewasa dari usianya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nupik mau jadi apa nak?”  tanya emak, ragu-ragu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nupik hanya ingin anak-anak emak jadi orang semua.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah rumah sederhana telah berdiri tegak, berkat lembar demi lembar rupiah kiriman Nupik dari pulau Mbata. Atapnya seng, lantainya keramik. Lengkap pula dengan perabotan rumah tangga. Kursi tamu, lampu kristal, gorden warna lembayung, televisi 14 inch, rice cooker dan magic jar. Semuanya dibeli dari wesel yang datang dari Mbata. Kabarnya, Nupik bekerja sebagai karyawan pabrik, berseragam biru muda. Kepalanya sudah terbuka, tak berkerudung lagi, tak serupa gadis tamatan madrasah lagi. Apa lagi yang emak risaukan? Tantri sedang menyelesaikan tugas akhir untuk meraih gelar sarjana di fakultas Tarbiyah. Sebentar lagi akan jadi guru. Hudan sudah punya SIM A, bekerja sebagai sopir pribadi di kota. Rafki sudah bersekolah di pesantren modern. Ia satu-satunya anak muda Sikabalapa yang bisa bersekolah di sana. Tak ada yang mahal bagi rupiah yang dikirim Nupik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pantas saja dia mampu bangun rumah, menyekolahkan anak sampai sarjana. Ternyata si Nupik tak hanya karyawan pabrik, tapi ada kerja sampingan yang menghasilkan uang berjuta-juta.” begitu asung pitanah perlahan mulai berserak di kampung Sikabalapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kerja sampingan? Wah, apa pula itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, rendah benar antenamu. Sudah heboh kampung awak karena berita si Nupik. Sudah kaya dia di sana, jadi bini simpanan lelaki bermata sipit, orang asing dari Singapura.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Duh, tak usahlah mengada-ada! Kalau belum jelas benar, jangan disebarkan dulu, nanti jadi fitnah! Lagi pula, tak baik membuka aib orang kampung sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Telinga kau saja yang pekak. Semua orang sudah tahu. Awak dengar langsung dari  Janilah, anak gadis sutan Pambangih yang baru pulang dari Mbata.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau lihat saja sendiri! Sudah dua pekan emak si Nupik tak keluar rumah, mengurung diri. Malu mendengar desas-desus anak gadisnya menjual diri di rantau orang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iba juga kita melihat nasibnya ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iba apanya? Bodoh kau ini!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pekerja pabrik yang tergabung dalam Koalisi Buruh Perempuan (KBP) cabang Mbata, bolehlah sedikit berbangga. Mereka sedang jadi pusat perhatian. Lebih-lebih, setelah Nupita Darwis, pimpinan mereka, meraih penghargaan bergengsi dari organisasi buruh internasional. Akhir-akhir ini, perempuan muda pemberani itu kerap dihadang tanya para pewarta.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Sebagai aktivis buruh yang baru saja dapat penghargaan, bagaimana perasaan anda?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Tentu saya bangga. Kerja keras kami mendokumentasikan kasus-kasus pelecehan seksual terhadap buruh perempuan akhirnya beroleh perhatian serius dari dunia internasional. Tak sia-sia kami berjuang.” jawab Nupik, lugas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anda layak disebut lokomotif perjuangan buruh perempuan di Mbata, massa pendukung anda ribuan orang, tak tertarik terjun ke dunia politik?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lembaga ini non partisan, wadah untuk menampung segala macam permasalahan buruh perempuan, jangan sampai jadi komoditas politik!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamat! O, ya hadiah uang sebanyak itu, kalau boleh tau mau digunakan untuk apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau tau saja anda ini, yang pasti akan saya kirim ke kampung. Adik-adik saya sedang butuh biaya pendidikan.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Luar biasa! Anda bukan saja pahlawan bagi ribuan buruh perempuan, tapi juga pahlawan bagi keluarga anda.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bisa aja anda ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkali-kali wajah Nupik terpampang di halaman surat kabar. Nupik, kini tak lagi sekedar buruh yang mengadu nasib di pulau Mbata. Di mata kawan-kawan sesama buruh, ia pejuang gigih, tak henti-henti memperjuangkan kepentingan kaumnya. Perempuan bernyali besar yang konon hanya tamatan madrasah itu, telah menjadi ikon perjuangan buruh perempuan. Di mana ada demonstarsi buruh, di barisan paling depan pasti ada Nupik sedang bersemangat meneriakkan yel-yel tuntutan. Makin lama, Nupik makin sibuk. Sering ke Jakarta, memenuhi undangan-undangan seminar diskriminasi gender, bahkan beberapa minggu terakhir ini sering bolak balik Mbata-Lamaka, karena KBP Mbata sedang bekerjasama dengan sebuah LSM di Lamaka yang bergerak di bidang rehabilitasi mental tekawe asal Indonesia korban-korban pemerkosaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, di kampung, emak masih saja gelisah. Tak kuasa menanggung malu. Asung pitanah tentang Nupik tak kunjung reda. Makin menjadi-jadi. Maklumlah, mulut orang-orang Sikabalapa. Selalu saja merasa lebih tahu, meski belum terang duduk perkaranya. Berita masih simpang siur, sudah disemburkan ke mana-mana. Berita baik bisa saja jadi kabar buruk. Memang benar, lidah tak bertulang. Tapi, sekali menyampaikan berita bohong, fatal akibatnya. Lihatlah! Kini emak si Nupik terbaring lemas dalam bilik. Letai. Selera makannya hilang. Makin hari badannya makin kurus. Tinggal kulit pembalut belulang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rafki tak usah diberitahu kalau emak sakit, nanti mengganggu konsentrasi belajarnya!” pinta emak, lirih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana dengan kak Nupik, mak?” tanya Tantri, agak gugup.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Seketika, merah menyala rona muka emak, seperti memendam marah tak terkata. &lt;br /&gt;“Jangan sebut nama itu lagi!” bentaknya,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Lupakan dia! Anak tak tahu diuntung. Mencoreng arang di kening orang tua.” ulangnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kak Nupik tak seburuk yang dibicarakan orang-orang. Emak lebih tahu sifat kak Nupik, bukan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Diam kau! Tau apa kau soal  Nupik, hah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan percaya gunjingan orang, mak. Itu tidak benar!" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan dengar asungan orang!”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah hardikan emak yang terakhir, sebelum perempuan ringkih itu tenggelam dalam sakratul maut yang singkat. Lalu, mata lelah emak terpejam seiring mengaburnya pelangi di ujung senja yang berangsur lindap.“Mak, Mak, Maaaaaak…….. !! Jangan tinggalkan kami, mak!” Tantri meratap sambil memeluk jasad emak kuat-kuat.Orang-orang Sikabalapa berkabung karena kepergian emak si Nupik. Setiba di kampung, Nupik hanya melihat gundukan tanah yang masih merah. Saat berita duka itu diterimanya, ia sedang berada di Jakarta, mengiringi pemulangan puluhan buruh perempuan yang mengalami gangguan mental setelah dipaksa menjadi pekerja seks komersial di Mbata. Berkali-kali Nupik bermohon pada sanak keluarga, agar jenazah emak jangan dikubur dulu, sebelum ia tiba. Tapi, permintaannya tak dihiraukan. Mungkin, mereka masih menganggap Nupik durhaka pada emak. Tersebab asung pitanah, Nupik tak dapat mencium kening emak untuk kali yang terakhir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Kenapa tak ada yang berkabar kalau emak sakit?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Tiba-tiba saja datang berita duka, mengabarkan emak sudah tiada.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Maafkan Nupik, terlambat menjenguk emak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berat kaki Nupik beranjak dari pusara emak. Lelah terasa. Lebih lelah lagi setelah didengarnya gunjing perihal gadis muda Sikabalapa yang menjual diri di pulau Mbata.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Kelapa Dua, 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-8158947746391256250?l=damhurimuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/8158947746391256250/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=8158947746391256250&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/8158947746391256250'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/8158947746391256250'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2007/06/asung-pitanah-cerpen-damhuri-muhammad.html' title=''/><author><name>Damhuri Muhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/-JgCVFjccVOA/Tkyc-iydAsI/AAAAAAAAAIY/v_ip-0ze6tg/s220/pic-id-edit.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-8274325603011539330</id><published>2007-05-20T17:08:00.000+07:00</published><updated>2008-12-11T13:12:06.404+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/RlAfTAHF0VI/AAAAAAAAAAk/82KJk6b57ho/s1600-h/sampul_bk_sobron_1.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/RlAfTAHF0VI/AAAAAAAAAAk/82KJk6b57ho/s200/sampul_bk_sobron_1.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5066583992099524946" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Gairah Kebangsaan dalam Menu Masakan &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul Buku : &lt;em&gt;Melawan dengan Restoran&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Penulis    : Sobron Aidit &amp; Budi Kurniawan &lt;br /&gt;Penerbit   : Mediakita, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan    : I, 2007&lt;br /&gt;Tebal      : 154 halaman &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;em&gt;JAWA POS&lt;/em&gt;, 20 Mei 2007)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenang sosok Sobron Aidit seamsal menengadah pandang pada sebuah layang-layang yang sedang &lt;em&gt;tegak tinggi tali&lt;/em&gt;. Jauh, tapi terasa begitu dekat. Tinggi, tapi terasa terbang rendah. Adik mantan ketua Centra Commite Partai Komunis Indonesia (PKI), D.N. Aidit itu adalah salah seorang dari sekian banyak "orang-orang terbuang" pasca tragedi 30 September 1965. Sejak 1964, Sobron Aidit bekerja sebagai pengajar Sastra dan Bahasa Indonesia di Institut Bahasa Asing Beijing. Selain itu ia juga menjadi wartawan di &lt;em&gt;Peking Review. &lt;/em&gt; Tak berselang lama setelah Sobron berdomisili di Beijing, tersiar kabar perihal tewasnya Bang Amat (begitu Sobron memanggil kakaknya, D.N. Aidit) setelah dibunuh tentara di Boyolali, Jawa Tengah. Karena sedang berada di Beijing, Sobron dan keluarga serta ratusan orang Indonesia lainnya, selamat dari pembantaian rezim Orba. Mereka terpaksa bermukim di Tiongkok sambil terus berharap bisa pulang ke tanah air. Namun, harapan itu serupa pungguk merindukan bulan, pemerintahan Orde Baru terus-menerus memupuk dendam kusumat pada kaum kiri. Akhirnya, Sobron Aidit harus "menggelandang" di negeri orang. Delapan belas tahun di Tiongkok, 21 tahun di Paris. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun jauh, hampir setiap hari tulisan-tulisan Sobron (puisi, cerpen, kolom, esai, dan catatan-catatan perjalanan) dapat dijumpai di berbagai mailing list (grup diskusi di internet). Ia berdiskusi, berpolemik bahkan tidak jarang berdebat sengit dengan kawan-kawan penulis muda tanah air. Sobron memang pecandu diskusi, meski usianya sudah renta. Ia tak pernah abai pada kritik dan tanggapan kawan-kawan sesama anggota mailing list terhadap tulisan-tulisannya. Selalu dibalas, dan balasan itu jauh lebih panjang dari esainya yang tengah jadi pusat perhatian. Dalam sehari, tak kurang dari tiga sampai empat tulisan ia kirimkan ke sejumlah mailing list. Rata-rata panjang tulisan itu lebih dari delapan halaman dengan format 1,5 spasi. Sebuah gambaran tentang energi kreatif yang tiada pernah sumbing meski usia Sobron sudah berkepala tujuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat dibayangkan betapa sabar dan tekunnya ia duduk berlama-lama di depan komputer. Beberapa hari sebelum Sobron Aidit meninggal dunia pada 10 Februari 2007, seperti diceritakan salah seorang anaknya, dia terpeleset dan jatuh di sebuah stasiun bawah tanah di Paris saat mencari layanan internet. Lagi-lagi untuk urusan berkomunikasi dengan kawan-kawan mudanya di dunia maya, di Indonesia. Sobron sepertinya "tidak di sana", sebab ia sungguh "dekat di sini", di negerinya sendiri, di Indonesia yang selalu disinggahinya, meski hanya lewat internet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku Melawan dengan Restoran yang ditulis Sobron bersama Budi Kurniawan ini adalah salah satu buah dari stamina kepengarangan Sobron yang tiada pernah surut itu. Berbeda dengan buku-buku yang sudah terbit sebelumnya, kali ini Sobron tampil dengan bahasa tutur yang bersahaja, kalimat-kalimatnya dibumbui senda gurau khas kaum eksil. Berkisah perihal suka duka ketika Sobron Cs tertatih-tatih mendirikan restoran Indonesia di Paris. Sobron, Umar Said, J.J. Kusni, Ibbaruri (putera D.N. Aidit) dan kawan-kawan sesama eksil saling bahu-membahu, hingga akhirnya restoran Indonesia pertama pun tegak berdiri di Rue de Vaugirard, jantung kota Paris (1982). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang hendak dicari Sobron? Selain untuk bertahan hidup, restoran itu saksi bahwa kaum eksil tak sungguh-sungguh merasa terasing dari tanah air mereka, Indonesia. Di restoran itu mereka berjuang, melawan hasrat rindu ingin pulang ke tanah kelahiran. Mereka sajikan aneka masakan khas Indonesia (aasi rawon, gudeg Jogja, rendang Padang dan lain-lain) seolah-olah tidak sedang berada di negeri orang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak aral melintang menghadang Sobron setelah mendirikan restoran itu. KBRI Perancis bahkan mengeluarkan maklumat larangan berkunjung ke restoran milik orang-orang kiri itu. Tapi, banyak pula yang tidak patuh pada larangan tak masuk akal itu. Masak makan di restoran saja dilarang? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertentangan ideologis masa lalu telah membuat hidup Sobron Aidit selalu di bawah tekanan dan ancaman, bahkan dalam urusan restoran yang tujuannya hanya untuk menyediakan lapangan kerja bagi kaum eksil pun dihubung-kaitkan dengan persoalan ideologi. Tapi, begitulah Sobron Aidit! Bila memang lewat restoran itu ia berpeluang melawan, ia tak bakal sia-siakan peluang itu. Sobron akan terus melawan, meski hanya lewat restoran. Nasib dan peruntungan kaum eksil yang terkatung-katung selama berbilang tahun di negeri orang harus diperjuangkan. Lewat menu makanan, Sobron mengibarkan semangat keindonesiaan di restoran yang kemudian menjadi tempat berkumpul yang mengasikkan bagi para pejabat tanah air bila berkunjung ke Prancis. Tak kurang-kurang, mantan presiden Gus Dur berkali-kali singgah di sana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, Sobron Aidit sudah tiada. Tapi, restoran Indonesia yang berdiri kokoh di jantung kota Paris tetap saja menjadi "posko perlawanan" orang-orang buangan. Begitu pula dengan buku setebal 154 halaman yang (amat disayangkan) penggarapan sampul dan perwajahan isinya tidak maksimal dan buru-buru ini, hendak menikamkan jejak tekstual perlawanan Sobron Aidit lewat restoran, lewat menu rendang Padang yang sudah dimodifikasi sesuai selera orang Paris, lewat obrolan-obrolan nostalgik tentang tanah tumpah darah yang selalu dirindukannya. Terlepas dari anutan ideologi di masa silam, bagaimana pun, Sobron telah menyalakan gairah kebangsaan yang tiada kunjung padam. Maka, Sobron Aidit perlu dicatat, dibukukan, dibaca, dihargai… (*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-8274325603011539330?l=damhurimuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/8274325603011539330/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=8274325603011539330&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/8274325603011539330'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/8274325603011539330'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2007/05/gairah-kebangsaan-dalam-menu-masakan.html' title=''/><author><name>Damhuri Muhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/-JgCVFjccVOA/Tkyc-iydAsI/AAAAAAAAAIY/v_ip-0ze6tg/s220/pic-id-edit.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_HiIWDAb2cfo/RlAfTAHF0VI/AAAAAAAAAAk/82KJk6b57ho/s72-c/sampul_bk_sobron_1.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-2946838378657365025</id><published>2007-05-10T20:17:00.000+07:00</published><updated>2007-05-10T20:25:34.636+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Pawang  Hujan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen : DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;em&gt;PIKIRAN RAKYAT&lt;/em&gt;, 5 Mei 2007)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sudah berpuluh-puluh batang rokok dari lintingan daun Nipah dihisap Iwik sejak ia bertirakat menahan hujan. Sepanjang malam ia mengelilingi kompleks perumahan Griya Kemilau Asri sambil menghembus-hembuskan asap rokoknya ke langit sebelah utara. Dengan kepulan asap dari linting demi linting yang sudah dimantra-mantrai, Iwik menghalau gerakan angin, agar hujan deras tidak mengguyur wilayah itu. Sebenarnya sudah cukup lama Iwik tidak menggunakan kepandaiannya sebagai pawang hujan. Lagi pula, di kota besar ini siapa pula yang masih percaya bahwa ada orang yang sanggup menahan hujan?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, tidak disangka-sangka, pak Satmoko minta bantuan Iwik untuk menahan hujan di pemukiman yang tiap tahun menjadi langganan banjir. Ketua RW yang juga pensiunan tentara itu bisa memastikan rumah-rumah di wilayahnya bakal terendam banjir bila hujan lebat tiba. Tak perlu menunggu kali Cilesung meluap, tumpukan sampah yang menyumbat saluran pembuangan saja sudah cukup untuk bikin  air comberan naik ke permukaan, lalu masuk ke rumah-rumah warga. Tahun lalu, banjir datang begitu tiba-tiba, di saat warga sedang tidur pulas. Air meninggi sampai tiga meter. Warga berhamburan keluar rumah. Mengungsi tanpa memikirkan mobil-mobil import, lukisan-lukisan dinding, kursi-kursi antik dan barang-barang elektronik yang tenggelam dan hanyut terseret arus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai ketua RW,  bang Sat (begitu warga memanggilnya) benar-benar malu dan merasa bersalah karena tidak mampu menanggulangi banjir yang kerap menimpa warganya. Ia kerap dibilang seperti keledai yang berkali-kali terjerembab di lubang yang sama. Sejak dipercaya menjadi ketua RW, sudah tiga kali perumahan itu ditenggelamkan banjir. Maka, di akhir masa jabatannya yang tinggal dua bulan lagi, bang Sat ingin lengser tanpa cela dan kesan buruk, setidaknya tanpa bencana banjir yang membuat warganya kerepotan, panik,  lalu menuduh ketua RW ;  pimpinan yang tak becus, tak peduli got-got yang tersumbat, tak memikirkan jalan keluar agar perumahan mereka terselamatkan dari luapan kali Cilesung. Karena itulah Iwik sengaja didatangkan. Bang Sat memperbantukan pawang hujan itu sebagai satpam paruh waktu. Itu hanya penyamaran yang diatur oleh ketua RW. Sebenarnya Iwik bukan petugas jaga sungguhan seperti Rojak, Jauhar, Jakdul, Paijin dan Ripin yang tiap hari bertugas di pos penjagaan, pintu gerbang perumahan. Kalaupun disebut penjaga, Iwik adalah penjaga pemukiman itu dari ancaman banjir. Ia pawang hujan tersohor yang konon sanggup menahan hujan selama berbulan-bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Saya tidak mau kebanjiran lagi. Malu saya!” keluh bang Sat penuh harap. Ia tampak mulai resah, sebab akhi-akhir ini cuaca memang kurang bersahabat. Lebih banyak mendung ketimbang cerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Upayakan menahan hujan selama mungkin! Minimal sampai dua bulan ke depan” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Waduh, apa ndak terlalu lama bang?” tanya Iwik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Jangan kuatir, bayarannya setimpal!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Bukan soal itu bang! Bang Sat lihat sendiri kan? Perkampungan yang bersebelahan dengan perumahan ini sudah lama kekeringan. Mereka butuh hujan bang!” jelas Iwik meyakinkan bang Sat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; “Ah, itu bukan urusan saya. Pokoknya, sebelum saya melepaskan jabatan ketua RW, jangan sampai turun hujan. Setelah itu, mau tenggelam, mau kelelep, ya terserah!” tegas bang Sat, sedikit mengancam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehebatan Iwik memang tak diragukan lagi. Lelaki itu benar-benar mampu menenangkan kegelisahan bang Sat. Siang malam Iwik berjaga dengan kepulan-kepulan asap rokok daun Nipah yang selalu dihembuskan ke arah utara. Setelah berkali-kali mengitari areal perumahan, biasanya Iwik istirahat sejenak di pos penjagaan, di pintu gerbang utama. Seperti biasa pula, selalu didapatinya satpam yang piket malam sudah melungkar dalam kain sarung. Iwik duduk bersila sambil menengadah. Lintingan rokok daun Nipah tak kunjung lepas dari mulutnya. Lagi-lagi, ia mengepul-ngepulkan asap, lalu menghembuskan ke langit sebelah utara. Bila arah yang dituju berlawanan dengan pergerakan angin, Iwik akan menghalau asap itu dengan kibasan kain sarung yang menebarkan bau tak sedap. Bau tembakau usang berbaur dengan aroma apak kain sarung yang sudah berbulan-bulan tak dicuci. Bila ada pertanda mendung, Iwik akan menghisap rokok lebih sering, lebih ngebut, hingga mulutnya serupa moncong lokomotif. Bila perlu, lintingan rokok itu dibakarnya sebanyak mungkin, lalu Iwik membangunkan Rojak dan Jauhar untuk dimintai bantuan menghisap rokok yang rasanya pahit minta ampun itu. Satu mulut bisa menghisap tiga linting sekaligus. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; “Aku bisa muntah kalau terus-terusan menghisap daun Nipah itu! Apa ndak bisa diganti Dji Sam Soe?” kelakar Rojak, yang kebetulan sedang kehabisan rokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Ini bukan sembarang tembakau, Jak! Tapi tembakau pengusir angin. Tembakau pawang hujan.  Apa kau mau kebanjiran lagi seperti tahun lalu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Malah bagus kalau ada banjir. Kita dapat Durian Runtuh!” sela Jauhar yang terbangun karena pembicaran mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Durian Runtuh?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Ya, rejeki nomplok. Bila banjir datang, pastilah kita juga sibuk. Anggarannya lumayan besar. Dari banjir tahun lalu, Rojak bisa bayar cicilan motor tuh!”&lt;br /&gt; “Huh, resek lu Har!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Ayo kita halau lagi anginnya. Ini mulai mendung tampaknya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Biarkan saja hujan turun, jangan ditahan lagi Wik! Anggaran banjir lebih besar dari upah menahan hujan. Nanti kita bagi rata.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Sudah lama nggak ada pendapatan tambahan. Biniku mau melahirkan Wik. Butuh biaya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hisapan Iwik terhenti sejenak setelah mendengar keluhan Jauhar. Sepertinya ia tidak main-main. Dari mana pula Jauhar akan beroleh biaya persalinan bila hanya mengharapkan gaji bulanan? Seketika, Iwik pun teringat wasiat gurunya sebelum menurunkan ilmu pawang hujan itu, dulu sewaktu ia masih di kampung. Bagaimanapun  sulitnya keadaanmu, jangan sampai kau salahgunakan kepandaian itu, begitu pesan guru Iwik sebelum meninggal. Iwik tentu tahu akibatnya bila nekat melanggar pantangan. Bisa kualat seumur-umur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;        “Kalau sampai terjadi banjir lagi, copot saja ketua RW yang nggak becus itu!” begitu gunjing yang terdengar saat arisan ibu-ibu rumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Jangan main pecat gitu dong! Kalau banjir datang, kenapa selalu RW yang disalahkan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Lho, itu tanggungjawab ketua RW.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Bukan saja tanggungjawab RW, tapi juga tanggungjawab semua warga perumahan ini. Kita harus jaga kebersihan, jangan buang sampah sembarangan, jangan sampai ada saluran pembuangan yang mampet. Masa’ semua harus dibebankan pada ketua RW?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Tapi bagaimana kalau kali Cilesung meluap seperti tahun lalu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Kalau itu sih  banjir kiriman, bukan salah kita!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Tapi, RW bisa ngusulin ke lurah, agar tempat tinggal kita tidak menerima kiriman banjir terus-terusan. Ini salahnya ketua RW! Abai pada keselamatan warga. Maunya jabatan saja. Rumah-rumah warga tenggelam karena luapan kali Cilesung, malah tenang-tenang saja”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Pecat saja!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Pilih lagi ketua RW yang baru!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Nggak beres tuh! Mungkin dulu waktu jadi tentara juga nggak beres”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Usaha Iwik lumayan mendatangkan hasil. Setidaknya, pawang hujan itu sudah unjuk kebolehan. Ia sudah menahan hujan selama satu setengah bulan. Bang Sat agak lega. Sebab, tinggal setengah bulan lagi ia menjabat ketua RW, dan tampaknya cuaca masih menggembirakan. Cerah, meski suhu tidak terlalu panas. Ini berkat kerja keras Iwik yang tak henti-henti mengusir hujan dari wilayah perumahan Griya Kemilau Asri. Ia terus waspada dan berjaga-jaga. Kepulan-kepulan asap dari lintingan rokok daun Nipah itu benar-benar ampuh menghalau angin ke arah utara. Hujan yang mestinya turun di pemukiman itu, akhirnya tumpah di laut. Sejauh ini, warga masih merasa aman-aman saja. Setidaknya, ibu-ibu rumah tangga yang judes dan cerewet itu belum sungguh-sungguh menggelar demonstrasi untuk menumbangkan jabatan bang Sat sebagai ketua RW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Kau sudah salahgunakan kesaktianmu Wik.” ketus Rojak pada Iwik yang masih sibuk melinting rokok daun Nipah, sebab persediaannya mulai menipis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Ta, ta, ta, tapi….ini demi keselamatan warga perumahan ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Ndak usah basa-basi, Wik! Bilang saja kau sudah dibayar ketua RW.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Bang Sat ingin lepaskan jabatan tanpa cela bukan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Kami justru ingin daerah ini kebanjiran, supaya ada pendapatan tambahan. Cicilan sepeda motorku sudah nunggak dua bulan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Apa yang bisa kubantu, Jak?” tanya Iwik, sedikit bersimpati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Berhenti saja melinting rokok itu, berhentilah menahan hujan. Biarkan hujan deras turun. Bila perlu perumahan ini kelelep. Nanti pasti ada anggaran penanggulangan banjir. Bagaimana? Bisa bantu kami Wik?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tiga hari tiga malam hujan lebat tak henti-henti mengguyur perumahan elit Griya Kemilau Asri. Pada saat yang sama, air kali Cilesung meninggi, mungkin karena tingginya curah hujan di hulu. Dini hari, saat warga tidur nyenyak, air hujan dan luapan kali Cilesung dalam sekejap menggenangi areal perumahan. Mula-mula hanya setinggi tumit orang dewasa, tapi dalam waktu yang tidak terlalu lama, jadi sepinggang hingga seleher orang dewasa. Orang-orang kasak-kasuk, berteriak-teriak minta tolong, lalu berhamburan keluar rumah, menyelamatkan diri dengan peralatan seadanya. Tak lama kemudian, genangan air sudah mencapai atap rumah mereka. Tak satupun barang-barang yang terselamatkan, termasuk mobil-mobil pribadi yang masih terparkir di garasi. Semuanya terendam. Sebagian warga memang masih ada yang bertahan di lantai dua rumah mereka. Mereka diminta bersegera menaiki perahu karet tim penyelamat, mengungsi ke tempat aman, karena diperkirakan genangan air bakal terus meninggi. Bisa saja, banjir tahun ini, lebih besar dari tahun lalu. Bila tidak ingin terjebak banjir, sebaiknya warga mengungsi saja, begitu ajakan bang Sat, ketua RW yang lebih duluan mengungsi. Rojak, Jauhar, Jakdul, Paijin dan Ripin sibuk mengayuh perahu karet, berusaha sekuat tenaga menyelamatkan warga yang masih bertahan di rumah masing-masing. Tak nampak batang hidung Iwik di sana. Pawang hujan itu menghilang, entah ke mana.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelapa Dua, 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23329243-2946838378657365025?l=damhurimuhammad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/feeds/2946838378657365025/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=23329243&amp;postID=2946838378657365025&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/2946838378657365025'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23329243/posts/default/2946838378657365025'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://damhurimuhammad.blogspot.com/2007/05/pawang-hujan-cerpen-damhuri-muhammad.html' title=''/><author><name>Damhuri Muhammad</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08210344190267632869</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/-JgCVFjccVOA/Tkyc-iydAsI/AAAAAAAAAIY/v_ip-0ze6tg/s220/pic-id-edit.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23329243.post-4876925549665344963</id><published>2007-05-10T20:01:00.000+07:00</published><updated>2007-05-10T20:16:45.184+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Ulil,  Adab Al-Jadl  dan  Tipu Muslihat Intelektual &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Judul  : Menyegarkan Kembali Pemikiran Islam&lt;br /&gt;Penulis  : Ulil Abshar Abdalla&lt;br /&gt;Penerbit : NALAR, Jakarta &lt;br /&gt;Cetakan         : I, Februari 2007&lt;br /&gt;Tebal  : 234 halaman &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : DAMHURI MUHAMMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(MEDIA INDONESIA, 28 April 2007)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku  Menyegarkan Kembali Pemikiran Islam (Bunga Rampai Surat-surat Tersiar) karya terbaru Ulil Abshar Abdalla ini tentu saja mengingatkan pembaca pada sebuah artikel dengan redaksi judul yang kurang lebih sama ; Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam yang juga ditulis Ulil sekitar empat tahun lalu (Kompas, 18/11/2002). Artikel pendek itu telah menyita perhatian sejumlah tokoh Islam, baik yang pro maupun kontra. Reaksi yang muncul terbilang cukup menggemparkan, hingga popularitas Ulil pun melambung tinggi. Silang pendapat yang terjadi saat itu, tidak lagi sekedar wacana versus wacana sebagaim
