Search This Blog

Tuesday, January 29, 2008

Juru Masak

Cerpen DAMHURI MUHAMMAD

(Tabloid NOVA, edisi Senin, 21-27 Jan 2008)


Perhelatan bisa kacau tanpa kehadiran lelaki itu. Gulai Kambing akan terasa hambar lantaran racikan bumbu tak meresap ke dalam daging. Kuah Gulai Kentang dan Gulai Rebung bakal encer karena keliru menakar jumlah kelapa parut hingga setiap menu masakan kekurangan santan. Akibatnya, berseraklah gunjing dan cela yang mesti ditanggung tuan rumah, bukan karena kenduri kurang meriah, tidak pula karena pelaminan tempat bersandingnya pasangan pengantin tak sedap dipandang mata, tapi karena macam-macam hidangan yang tersuguh tak menggugah selera. Nasi banyak gulai melimpah, tapi helat tak bikin kenyang. Ini celakanya bila Makaji, juru masak handal itu tak dilibatkan.

Beberapa tahun lalu, pesta perkawinan Gentasari dengan Rustamadji yang digelar dengan menyembelih tigabelas ekor kambing dan berlangsung selama tiga hari, tak berjalan mulus, bahkan hampir saja batal. Keluarga mempelai pria merasa dibohongi oleh keluarga mempelai wanita yang semula sudah berjanji bahwa semua urusan masak-memasak selama kenduri berlangsung akan dipercayakan pada Makaji, juru masak nomor satu di Lareh Panjang ini. Tapi, di hari pertama perhelatan, ketika rombongan keluarga mempelai pria tiba, Gulai Kambing, Gulai Nangka, Gulai Kentang, Gulai Rebung dan aneka hidangan yang tersaji ternyata bukan masakan Makaji. Mana mungkin keluarga calon besan itu bisa dibohongi? Lidah mereka sudah sangat terbiasa dengan masakan Makaji.

“Kalau besok Gulai Nangka masih sehambar hari ini, kenduri tak usah dilanjutkan!” ancam Sutan Basabatuah, penghulu tinggi dari keluarga Rustamadji.

“Apa susahnya mendatangkan Makaji?”

“Percuma bikin helat besar-besaran bila menu yang terhidang hanya bikin malu.”

Begitulah pentingnya Makaji. Tanpa campur tangannya, kenduri terasa hambar, sehambar Gulai Kambing dan Gulai Rebung karena bumbu-bumbu tak diracik oleh tangan dingin lelaki itu. Sejak dulu, Makaji tak pernah keberatan membantu keluarga mana saja yang hendak menggelar pesta, tak peduli apakah tuan rumah hajatan itu orang terpandang yang tamunya membludak atau orang biasa yang hanya sanggup menggelar syukuran seadanya. Makaji tak pilih kasih, meski ia satu-satunya juru masak yang masih tersisa di Lareh Panjang. Di usia senja, ia masih tangguh menahan kantuk, tangannya tetap gesit meracik bumbu, masih kuat ia berjaga semalam suntuk.

***

“Separuh umur Ayah sudah habis untuk membantu setiap kenduri di kampung ini, bagaimana kalau tanggungjawab itu dibebankan pada yang lebih muda?” saran Azrial, putra sulung Makaji sewaktu ia pulang kampung enam bulan lalu.

“Mungkin sudah saatnya Ayah berhenti,”

“Belum! Akan Ayah pikul beban ini hingga tangan Ayah tak lincah lagi meracik bumbu,” balas Makaji waktu itu.

“Kalau memang masih ingin jadi juru masak, bagaimana kalau Ayah jadi juru masak di salah satu Rumah Makan milik saya di Jakarta? Saya tak ingin lagi berjauhan dengan Ayah,”


Sejenak Makaji diam mendengar tawaran Azrial. Tabiat orangtua selalu begitu, walau terasa semanis gula, tak bakal langsung direguknya, meski sepahit empedu tidak pula buru-buru dimuntahkannya, mesti matang ia menimbang. Makaji memang sudah lama menunggu ajakan seperti itu. Orangtua mana yang tak ingin berkumpul dengan anaknya di hari tua? Dan kini, gayung telah bersambut, sekali saja ia mengangguk, Azrial segera memboyongnya ke rantau, Makaji tetap akan punya kesibukan di Jakarta, ia akan jadi juru masak di Rumah Makan milik anaknya sendiri.

“Beri Ayah kesempatan satu kenduri lagi!”

“Kenduri siapa?” tanya Azrial.

“Mangkudun. Anak gadisnya baru saja dipinang orang. Sudah terlanjur Ayah sanggupi, malu kalau tiba-tiba dibatalkan,”


Merah padam muka Azrial mendengar nama itu. Siapa lagi anak gadis Mangkudun kalau bukan Renggogeni, perempuan masa lalunya. Musabab hengkangnya ia dari Lareh Panjang tidak lain adalah Renggogeni, anak perempuan tunggal babeleng itu. Siapa pula yang tak kenal Mangkudun? Di Lareh Panjang, ia dijuluki tuan tanah, hampir sepertiga wilayah kampung ini miliknya. Sejak dulu, orang-orang Lareh Panjang yang kesulitan uang selalu beres di tangannya, mereka tinggal menyebutkan sawah, ladang atau tambak ikan sebagai agunan, dengan senang hati Mangkudun akan memegang gadaian itu.

Masih segar dalam ingatan Azrial, waktu itu Renggogeni hampir tamat dari akademi perawat di kota, tak banyak orang Lareh Panjang yang bisa bersekolah tinggi seperti Renggogeni. Perempuan kuning langsat pujaan Azrial itu benar-benar akan menjadi seorang juru rawat. Sementara Azrial bukan siapa-siapa, hanya tamatan madrasah aliyah yang sehari-hari bekerja honorer sebagai sekretaris di kantor kepala desa. Ibarat emas dan loyang perbedaan mereka.

“Bahkan bila ia jadi kepala desa pun, tak sudi saya punya menantu anak juru masak!” bentak Mangkudun, dan tak lama berselang berita ini berdengung juga di kuping Azrial.

“Dia laki-laki taat, jujur, bertanggungjawab. Renggo yakin kami berjodoh,”

“Apa kau bilang? Jodoh? Saya tidak rela kau berjodoh dengan Azrial. Akan saya carikan kau jodoh yang lebih bermartabat!”

“Apa dia salah kalau ayahnya hanya juru masak?”

“Jatuh martabat keluarga kita bila laki-laki itu jadi suamimu. Paham kau?”


Derajat keluarga Azrial memang seumpama lurah tak berbatu, seperti sawah tak berpembatang, tak ada yang bisa diandalkan. Tapi tidak patut rasanya Mangkudun memandangnya dengan sebelah mata. Maka, dengan berat hati Azrial melupakan Renggogeni. Ia hengkang dari kampung, pergi membawa luka hati. Awalnya ia hanya tukang cuci piring di Rumah Makan milik seorang perantau dari Lareh Panjang yang lebih dulu mengadu untung di Jakarta. Sedikit demi sedikit dikumpulkannya modal, agar tidak selalu bergantung pada induk semang. Berkat kegigihan dan kerja keras selama bertahun-tahun, Azrial kini sudah jadi juragan, punya enam Rumah Makan dan duapuluh empat anak buah yang tiap hari sibuk melayani pelanggan. Barangkali, ada hikmahnya juga Azrial gagal mempersunting anak gadis Mangkudun. Kini, lelaki itu kerap disebut sebagai orang Lareh Panjang paling sukses di rantau. Itu sebabnya ia ingin membawa Makaji ke Jakarta. Lagi pula, sejak ibunya meninggal, ayahnya itu sendirian saja di rumah, tak ada yang merawat, adik-adiknya sudah terbang-hambur pula ke negeri orang. Meski hidup Azrial sudah berada, tapi ia masih saja membujang. Banyak yang ingin mengambilnya jadi menantu, tapi tak seorang perempuan pun yang mampu luluhkan hatinya. Mungkin Azrial masih sulit melupakan Renggogeni, atau jangan-jangan ia tak sungguh-sungguh melupakan perempuan itu.

***

Kenduri di rumah Mangkudun begitu semarak. Dua kali meriam ditembakkan ke langit, pertanda dimulainya perhelatan agung. Tak biasanya pusaka peninggalan sesepuh adat Lareh Panjang itu dikeluarkan. Bila yang menggelar kenduri bukan orang berpengaruh seperti Mangkudun, tentu tak sembarang dipertontonkan. Para tetua kampung menyiapkan pertunjukan pencak guna menyambut kedatangan mempelai pria. Para pesilat turut ambil bagian memeriahkan pesta perkawinan anak gadis orang terkaya di Lareh Panjang itu. Maklumlah, menantu Mangkudun bukan orang kebanyakan, tapi perwira muda kepolisian yang baru dua tahun bertugas, anak bungsu pensiunan tentara, orang disegani di kampung sebelah. Kabarnya, Mangkudun sudah banyak membantu laki-laki itu, sejak dari sebelum ia lulus di akademi kepolisian hingga resmi jadi perwira muda. Ada yang bergunjing, perjodohan itu terjadi karena keluarga pengantin pria hendak membalas jasa yang dilakukan Mangkudun di masa lalu. Aih, perkawinan atas dasar hutang budi.

Mangkudun benar-benar menepati janji pada Renggogeni, bahwa ia akan carikan jodoh yang sepadan dengan anak gadisnya itu, yang jauh lebih bermartabat. Tengoklah, Renggogeni kini tengah bersanding dengan Yusnaldi, perwira muda polisi yang bila tidak ‘macam-macam’ tentu karirnya lekas menanjak. Duh, betapa beruntungnya keluarga besar Mangkudun. Tapi, pesta yang digelar dengan menyembelih tiga ekor kerbau jantan dan tujuh ekor kambing itu tak begitu ramai dikunjungi. Orang-orang Lareh Panjang hanya datang di hari pertama, sekedar menyaksikan benda-benda pusaka adat yang dikeluarkan untuk menyemarakkan kenduri, setelah itu mereka berbalik meninggalkan helat, bahkan ada yang belum sempat mencicipi hidangan tapi sudah tergesa pulang.

“Gulai Kambingnya tak ada rasa,” bisik seorang tamu.

“Kuah Gulai Rebungnya encer seperti kuah sayur Toge. Kembung perut kami dibuatnya,”

“Dagingnya keras, tidak kempuh. Bisa rontok gigi awak dibuatnya,”

“Masakannya tak mengeyangkan, tak mengundang selera.”

“Pasti juru masaknya bukan Makaji!”


Makin ke ujung, kenduri makin sepi. Rombongan pengantar mempelai pria diam-diam juga kecewa pada tuan rumah, karena mereka hanya dijamu dengan menu masakan yang asal-asalan, kurang bumbu, kuah encer dan daging yang tak kempuh. Padahal mereka bersemangat datang karena pesta perkawinan di Lareh Panjang punya keistimewaan tersendiri, dan keistimewaan itu ada pada rasa masakan hasil olah tangan juru masak nomor satu. Siapa lagi kalau bukan Makaji?

“Kenapa Makaji tidak turun tangan dalam kenduri sepenting ini?” begitu mereka bertanya-tanya.

“Sia-sia saja kenduri ini bila bukan Makaji yang meracik bumbu,”

“Ah, menyesal kami datang ke pesta ini!”

***

Dua hari sebelum kenduri berlangsung, Azrial, anak laki-laki Makaji, datang dari Jakarta. Ia pulang untuk menjemput Makaji. Kini, juru masak itu sudah berada di Jakarta, mungkin tak akan kembali, sebab ia akan menghabiskan hari tua di dekat anaknya. Orang-orang Lareh Panjang telah kehilangan juru masak handal yang pernah ada di kampung itu. Kabar kepergian Makaji sampai juga ke telinga pengantin baru Renggogeni. Perempuan itu dapat membayangkan betapa terpiuh-piuhnya perasaan Azrial setelah mendengar kabar kekasih pujaannya telah dipersunting lelaki lain.

Kelapa Dua, 2007

Thursday, January 17, 2008



Citra Mendua
Janda Calon Arang




Oleh : DAMHURI MUHAMMAD

(GATRA, edisi Kamis, 10-16 Januari 2008)

Sebuah cerita, betapapun fiktifnya ternyata mampu mendedahkan pencitraan buruk yang bahkan tak lekang dihantam jaman. Tengoklah cerita Calon Arang yang sudah berbilang kurun menikam jejak pencitraan perihal seorang pandita perempuan pemuja Dewi Durga, kemudian berubah jadi bengis dan sadis. Ia menyalahgunakan kesaktiannya untuk menzalimi orang-orang tak berdosa. Riwayat mencatat, Calon Arang murka lantaran tidak seorang lelaki pun yang tertarik meminang Ratna Manggali, putri kesayangannya. Itu sebabnya, ia memohon kesediaan Dewi Durga untuk menyebarkan wabah penyakit mematikan di seluruh penjuru wilayah Daha (ibukota kerajaan Kediri) yang kala itu dipimpin Airlangga. Calon Arang punya banyak murid yang kedigdayaan mereka sudah menjadi cerita turun temurun. Disebut-sebut, ia dan murid-muridnya kerap melakukan tirakat ; berkeramas dengan darah manusia. Inilah salah satu versi cerita Calon Arang yang berkembang di Jawa. Purbatjaraka menerjemahkannya ke dalam bahasa Belanda, kemudian dimacapatkan (dilagukan) oleh Raden Wiradat dan diterbitkan Balai Pustaka pada 1931. Versi lain cerita Calon Arang berkembang di Bali. Pramoedya Ananta Toer (1954) membenarkan bahwa ada sedikit perbedaan di antara kedua versi cerita itu, namun katanya, tak perlu dipanjanglebarkan.

Meski tidak sepatah katapun menyebut nama Calon Arang, Janda dari Jirah, novel terbaru Cok Sawitri ini dapat disambut sebagai satu serpihan cerita Calon Arang yang berserakan di Bali. Lebih jauh, buku ini dapat dimaklumi sebagai cerita tandingan terhadap Calon Arang versi Jawa yang terlalu sarkastis menggambarkan watak jahat janda dari Jirah itu, padahal di Bali hingga hari ini, cerita Calon Arang masih menjadi rujukan dalam ritual ruwatan. Maka selayaknya, novel ini bukan sekedar membenarkan adanya ‘sedikit’ perbedaan antara Calon Arang versi Jawa dan versi Bali, tapi hendak memaklumatkan bahwa perbedaan itu amat mencolok, bahkan saling bertolak belakang. Bila naskah-naskah kuno di Jawa menggambarkan Calon Arang sebagai penyihir jahat yang telah menelan banyak korban, Cok Sawitri malah membangun pencitraan Calon Arang sebagai perempuan suci yang sangat dihormati. Saking sucinya, pejabat istana tidak berani menginjakkan kaki di tanah Kabikuan Jirah, tempat tinggal Rangda Ing Jirah (begitu novel ini menyebutnya). Mereka takut melanggar tatakrama Kabikuan Jirah yang dijaga oleh sang Ibu Kebajikan (begitu Calon Arang dijuluki). Barangsiapa melanggar, akibatnya sangat berbahaya, masa kecermelangan Kediri bisa padam seketika. Para pengikut ajaran Rangda Ing Jirah menjalani laku asketik, menjauhi urusan duniawi, lebih-lebih perkara politik.

Cerita bermula tatkala di istana Kediri sedang terjadi perseteruan diam-diam antara pendukung Airlangga dengan para pejabat yang ingin membangkitkan kembali kejayaan wangsa Isana setelah mengalami kehancuran. Airlangga (putra sulung Udayana yang datang dari Bali) tidak disukai karena ia hanyalah menantu Dharmmawangsa Tguh, tak pantas menggenggam tahta, sebab tidak berasal dari wangsa Isana. Semula Rangda Ing Jirah tidak mau terlibat ‘perang dingin’ itu, tapi Mpu Narotama, pengawal Airlangga kerap datang menemuinya di Kabikuan Jirah. Narotama kerap minta nasehat perihal niat Airlangga yang akan menobatkan anak perempuannya sebagai putri mahkota. Karena itu, Rangda Ing Jirah merasa perlu mengurai silsilah wangsa Isana jauh sebelum Airlangga berkuasa. Ia juga menjelaskan sebab-musabab kenapa orang-orang Kabikuan Jirah dari masa ke masa nyaris tak tersentuh kewajiban membayar upeti. Percakapan kedua orang ini menjadi pintu masuk untuk menyingkap wajah baru Calon Arang. Sekali waktu Rangda Ing Jirah berkisah pada Narotama ; di suatu masa seusai melakukan sembah di tempat pemujaan Brahma, sepasang suami-istri lupa membawa tempayan air suci mereka. Keesokan hari, dari tempayan air itu lahir seorang bayi perempuan, bayi itu adalah Rangda Ing Jirah. Penggalan riwayat ini kerap dirujuk untuk menjelaskan ontologi penciptaan manusia dalam ajaran Budha Tantra. Air simbol kebajikan, maka Calon Arang adalah Ibu Kebajikan (muasal segala kebaikan), bukan Ibu Kejahatan sebagaimana ditemukan dalam teks-teks kuno di Jawa.

Sama sekali tidak ada dendam-kusumat, apalagi permusuhan antara Airlangga dan Rangda Ing Jirah. Buku ini juga tidak menyebut-nyebut tirakat keramas darah Calon Arang sebagai syarat terkabulnya teluh seperti yang ditulis Pramoedya Ananta Toer dalam Cerita Calon Arang (1999). Alih-alih menyebarkan wabah penyakit di wilayah kekuasaan Airlangga, orang-orang Kabikuan Jirah malah membina masyarakat Dusun Buangan, mengajarkan mereka bertani dan berladang hingga dusun itu jadi makmur karena hasil pertanian. Kalaupun ada permusuhan, Airlangga yang justru mencurigai gerak-gerik Rangda Ing Jirah. Ia menyimpan sak wasangka bahwa kelak orang-orang Kabikuan Jirah bisa saja bersekutu dengan orang-orang Wura-wuri yang kabarnya sedang merencanakan sebuah pemberontakan.

Sebelum Bahula melamar Ratna Manggali, memang tidak ada yang berminat mempersunting putri Rangda Ing Jirah itu. Tapi pinangan itu atas kemauan Bahula sendiri, bukan karena siasat Mpu Bharadah (guru Bahula) untuk mencuri kitab, sumber kesaktian Calon Arang sebagaimana cerita yang jamak terdengar. Dalam teks ini, Mpu Bharadah bukan orang asing, penasehat istana itu adalah kakak seperguruan Rangda Ing Jirah, dan mereka tidak pernah bermusuhan.

Tapi, terasa janggal ketika pengarang mengungkit-ungkit sikap bijak Rangda Ing Jirah membesarkan seorang bayi dan menyembunyikan harta pusaka peninggalan wangsa Isana. Kelak bayi itu diperkenalkan sebagai Samarawijaya, cucu Dharmmawangsa Tguh, orang yang paling berhak mewarisi tahta kerajaan Kediri. Setelah ia beranjak dewasa, Rangda Ing Jirah menyerahkan sejumlah daerah binaannya pada Samarawijaya, luasnya hampir separuh wilayah kekuasaan Airlangga. Inilah muasal pecahnya kekuasaan Airlangga menjadi Kediri dan Jenggala. Tanpa pasukan, tanpa pertumpahan darah, Rangda Ing Jirah berhasil menobatkan Samarawijaya menjadi raja. Tapi, bukankah ini urusan politik yang sejak mula hendak dijauhi oleh tatakarama Kabikuan Jirah? Tidakkah perkara duniawi ini akan menodai kesucian ajaran Rangda In Jirah? Ah, barangkali Calon Arang memang tak sungguh-sungguh suci. Pembaca akan bimbang memosisikan ketokohan Calon Arang, apakah ia layak disebut pahlawan ataukah musuh dalam selimut? Tapi jangan lupa, ini teks sastra, bukan buku sejarah! Sudah sepatutnya buku ini membuka kemungkinan tafsir ganda.

Novel ini juga mencantumkan kisah usang tentang Uma (nama lain Dewi Durga) yang diusir ke bumi oleh Siwa (suaminya), karena sebuah kesalahan. Semula Uma turun dengan kecantikan yang sempurna, kemudian menjelma raksasa yang menakutkan. Di sebuah kuburan, Uma bertemu Kalika (raksasa yang wajahnya mirip dengan Uma). Keduanya terlibat perkelahian hebat, hingga Brahma datang mendamaikan. Uma dan Kalika akhirnya dibimbing Brahma, lalu berubah wujud menjadi dua perempuan cantik dan dipercaya menjadi juru tulis Brahma. Menimbang kisah ini, boleh jadi Dewi Durga yang dipuja Calon Arang versi Jawa adalah Kalika, bukan Dewi Durga sebenarnya. Bila yang dipuja Calon Arang adalah Dewi Durga yang sesungguhnya, tentu ia tak bakal berkeramas dengan darah manusia.




DATA BUKU

Judul : Janda dari Jirah
Penulis : Cok Sawitri
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan : I, Juni 2007
Tebal : 187 halaman