Search This Blog

Monday, April 28, 2008


Malu (Aku) Jadi Orang Turki...




Oleh : DAMHURI MUHAMMAD

(Media Indonesia, 26 April 2008)


Dalam sebuah wawancara dengan koran Swiss, Tages Anzeiger (2005), Orhan Pamuk terang-terangan bicara tentang “Genosida Armenia” di masa kesultanan Ottoman (1915). Novelis Turki pemenang Nobel Sastra (2006) itu juga mengungkit-ungkit soal perseteruan antara Turki dan minoritas Kurdi sejak 1980-an. “Sejuta orang Armenia dan tigapuluh ribu orang Kurdi dibunuh di tanah ini. Tak ada yang berani menyatakannya, kecuali saya,” ungkap Pamuk dengan kepala tegak. Akibatnya, ia harus berurusan dengan pengadilan. Pemerintah Turki menjeratnya dengan tuduhan menghina negara. Tapi, pengarang yang berhasil menggambarkan konstelasi perbenturan antara sekularisme warisan Kemal Attaturk, militer pro pemerintah, Islam militan dan nasionalisme Kurdi dalam novel-novelnya itu menyangkal bahwa ia tidak sedang menghina negara. Ia hanya meminta pemerintah Turki untuk menjunjung tinggi kebebasan berekspresi. Lagi pula, pernyataan itu bukan isapan jempol belaka, tapi fakta sejarah yang seolah-olah hendak dilupakan begitu saja.

Jalan kepengarangan Orhan Pamuk seumpama “menepuk air di dulang”, makin ditepuk, makin basah muka sendiri. Tengoklah Darkness and Light (1979), Bey and His Son (1982), White Castle (1991), The Black Book (1990), My Name is Red (2000) dan Snow (2004). Banyak yang menuding Pamuk sebagai “pengarang Turki yang gandrung menghina agama dan menyumpah-serapahi tanah airnya sendiri.” Mungkin ini resiko yang mesti ditanggung oleh sastrawan yang hidup di dalam tubuh peradaban yang sedang retak dan nyaris terbelah. Separuh hendak mengembalikan kejayaan Ottoman Empire yang pernah tercatat dalam sejarah, separuhnya lagi digoda oleh denyut modernisasi yang berkiblat ke Eropa. Pamuk seperti terjerembab ke dalam ranah kemenduaan yang kerap membuatnya bimbang dan gamang.

Kegamangan itu tampak nyata dalam Snow, novel karya Orhan Pamuk yang baru saja diedisi-indonesiakan oleh penerbit Serambi. Pusaran kisahnya berlangsung di Kars, sebuah kota kecil di Anatolia. Strategi literer Pamuk seperti sedang menapaktilasi kepulangan penyair Turki, Kerim Alakusoglu (Pamuk menggunakan inisial; Ka) ke Istambul setelah terbuang ke Jerman selama 12 tahun. Ia datang ke Kars untuk menyelidiki sejumlah kasus bunuh diri di kalangan gadis-gadis muda kota itu. Salahsatunya Teslime, siswi madrasah aliah yang bunuh diri karena kecewa dengan peraturan sekolah yang melarang siswi-siswinya mengenakan jilbab. Bila larangan itu diabaikan, Teslime dan kawan-kawan akan diusir dari ruang kelas. Orangtua Teslime sudah berkali-kali menasehati agar ia mematuhi larangan itu, mencopot jilbabnya, hingga ia tetap bisa bersekolah. Tapi, Teslime bersikukuh mempertahankan jilbabnya. Pada suatu malam, ia berwudlu, dan shalat di kamarnya. Selesai shalat, ia mengikatkan jilbabnya ke cantolan lampu, dan gantung diri.

Kasus bunuh diri yang meruyak di Kars hanya pintu masuk untuk menelusuri kompleksitas perbenturan antara militer pro pemerintahan sekuler, kelompok Islam garis keras dan nasionalis Kurdi yang sedang mencuat sebelum pemilihan walikota Kars. Para penghamba Ataturk menunggangi kasus bunuh diri gadis-gadis muda Kars untuk menghantam kelompok Islam yang menurut mereka tidak mampu menyelamatkan para pengikutnya dari tindakan konyol yang sudah pasti berujung di kerak Neraka. Itu sebabnya, Lazuardi, pemimpin kelompok Islam militan yang termashur di seantero Istambul, datang ke Kars. Ka makin sulit melepaskan diri dari lingkaran perseteruan itu sejak ia (secara kebetulan) menyaksikan pembunuhan seorang direktur Institut Pendidikan. Desas-desus pun bergulir, lelaki itu ditembak, karena ia orang pertama yang mengesahkan peraturan pelarangan jilbab. Pemimpin redaksi surat kabar lokal, Border City News, Serday Bey, diintimidasi oleh kelompok tertentu agar ia membangun opini publik bahwa pelaku pembunuhan itu tidak lain adalah kaki tangan Lazuardi.

Pamuk juga merancang sebentuk ‘romantika tak biasa’ perihal hubungan Ka dengan perempuan masa lalunya, Ipek. Kehadiran Ka di Kars tidak semata-mata untuk penyelidikan kasus bunuh diri yang menghebohkan itu. Diam-diam, ia hendak menyambung kembali hubungan asmaranya dengan Ipek, dan ingin memboyong perempuan itu ke Frankfurt. Namun, kembali mendapatkan cinta Ipek teryata tidak segampang menulis puisi yang kerap dipersembahkannya untuk perempuan itu. Ipek ternyata sudah janda. Ia pernah dipersunting Muhtar, calon walikota Kars yang terus diganjal oleh lawan-lawan politiknya. Persoalan makin runyam ketika Ka berhasil mengungkap bahwa beberapa tahun sebelum kedatangannya ke Kars, ternyata Lazuardi pernah pula menjadi laki-laki yang dicintai Ipek. Maka, kedatangan buronan politik kelas kakap itu ke Kars juga bukan hanya untuk membereskan kasus-kasus bunuh diri. Sebagaimana Ka, Lazuardi juga hendak menyambung kembali hubungan asmaranya dengan Ipek.

Lewat novel setebal 731 halaman ini, Pamuk menggambarkan betapa tidak nyamannya “hidup di tanah orang mati yang terus saja berkuasa.” Tidak hanya sikap politik, ideologi, dan gaya hidup, kesenian pun harus menghamba pada sekularisme. Gejala inilah disuguhkan lewat proganda-proganda politik dalam pementasan-pementasan teater pimpinan Sunay. Di atas panggung, Sunay memaklumatkan bahwa jilbab menghambat kebebasan perempuan. Sudah saatnya, gadis-gadis Kars mencopot jilbab mereka, sebagaimana perempuan-perempuan Eropa. Ketegangan makin memuncak ketika Sunay (didukung oleh agen-agen rahasia dari Istambul) memaksa Kadife (adik Ipek), pemimpin kaum berjilbab Kars untuk tampil menjadi pemain pada pementasan penting di teater nasional. Kadife harus memerankan adegan perempuan yang mencopot jilbabnya, lalu melemparkannya ke hadapan penonton. Dengan begitu, acaman laten kaum berjilbab di Kars dapat dilumpuhkan. Tidak ada yang tahu bahwa Kadife sebenarnya sedang terancam. Ia menerima tawaran itu karena Lazuardi, kekasihnya, sedang disandra oleh Sunay di sebuah tempat tersembunyi. Bila ia ingin Lazuardi bebas, Kadife itu harus mau memainkan peran itu. Dan Ka, adalah orang yang menegosiasikan perjanjian itu dengan Sunay. Agen-agen rahasia yang berada di belakang Sunay berjanji akan membiarkan Ka keluar dari Kars dengan selamat, tentu bersama Ipek, dan mereka akan hidup bahagia di Frankfurt. Celakanya, pada hari yang sudah dijanjikan, tersiar kabar bahwa Lazuardi tewas setelah persembunyian dibombardir tentara. Ipek menuduh Ka telah berkhianat. Sebab, hanya Ka satu-satunya orang yang tahu persembunyian Lazuardi. Ia kecewa dan membatalkan keberangkatannya ke Frankfurt bersama Ka. Lazuardi memang sudah jadi milik Kadife, tapi Ipek masih mencintai pemberontak berwajah tampan itu.

Siapa pelaku pembunuhan direktur Institut Pendidikan? Benarkah Ka berkhianat pada Kadife, Ipek dan Lazuardi? Siapa pula pelaku pembunuhan Ka yang terjadi setelah ia kembali ke Frankfurt? Pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah terjawab. Tampaknya Pamuk memang sengaja menggantung kisah thriller politik ini. Tapi, ia benar-benar sempurna menggambarkan identitas ‘keturkian’ Ka yang terbelah dua. Menggunakan nama Turki (Kerim Alakusoglu) saja ia begitu terbebani, ia lebih suka menyebut dirinya; Ka. Sebaliknya, alih-alih menghirup udara bebas di Eropa, Ka malah mati bersimbah darah di sana. Agaknya, keberanian mengungkap krisis identitas di Turki inilah yang membuat Pamuk dituding sebagai pengarang yang sedang menguliti wajah sendiri…


DATA BUKU

Judul : SNOW (Di Balik Keheningan Salju)
Penulis : Orhan Pamuk
Penerbit : SERAMBI, Jakarta
Cetakan : I, April 2008
Tebal : 731 halaman

Monday, April 07, 2008

TIKAM KUKU

Cerpen DAMHURI MUHAMMAD

(Suara Merdeka, 6/April/2008)

Belajar silat pada lelaki itu barangkali memang seperti menyongsong kematian. Betapa tidak? Barangsiapa yang hendak menjadi murid harus menyerahkan sebilah pisau siraut dibungkus selembar kain kafan sebagai mahar sebelum pendekar itu mengajarkan gerak pelangkahan, jurus-jurus elak dan tentu saja; jurus-jurus terkam yang terbilang mematikan. Apa gunanya kain kafan kalau bukan buat bekal bila kelak muridnya mati ditikam pisau siraut atau dicabik cakaran jurus Tikam Kuku? Mungkin tak hanya pisau siraut dan kain kafan yang sebelumnya harus diserahkan, jangan-jangan pendekar itu sudah menggali kubur untuk murid-muridnya, tentu bila kelak murid-muridnya sampai ajal saat berguru. Dan, bila tiba saatnya seorang murid diputus kaji, ia harus menempuh ujian Gulung Tikar.

“Eit, tunggu dulu Kisanak!”

Mungkin Kisanak menduga, kalau hanya disuruh menggulung tikar, apa pula susahnya ujian itu? Bukankah semua murid pendekar berjulukan Harimau Campo itu sangat terlatih menggulung tikar karena mereka memang anak-anak surau?

”Aha, tak semudah yang Kisanak bayangkan.”

Ujian itu lebih tepat disebut Tikar Gulung ketimbang Gulung Tikar. Apa sebab? Murid yang hendak putus kaji itu akan digulung dengan selembar tikar pandan serupa kain kafan menggulung mayat. Maka, tubuh yang terbebat gulungan itu tak akan bisa bergerak, apalagi mengelak. Jangankan bergerak, mengambil napas saja susah alang kepalang. Nah, saat itulah Harimau Campo menghunus tombak, menghujani gulungan tikar pandan dengan jurus tusuk dan tikam. Ia tak peduli, apakah muridnya bakal mati dengan usus terbusai, atau mati dalam keadaan kepala retak-rengkah. Bertubi-tubi, hingga gulungan tikar berisi mayat hidup itu koyak-moyak, bolong di sana sini.

“Kisanak tahu apa jadinya calon pendekar itu?”

Kulit tubuhnya tak tergores mata tombak barang sedikitpun. Jangankan luka gores, tersentuh pun tidak. Dalam kesempitan rupanya ia masih bisa bergerak dan mengelak serangan Harimau Campo yang tak henti-henti hingga ayam kinantan berkokok tiga kali. Tersebab pertarungan hidup mati dalam ujian Tikar Gulung itulah tidak banyak orang-orang dusun Subakir yang berani memercayakan anak-anak mereka untuk belajar silat pada Harimau Campo. Lagi pula, dari sekian banyak murid yang pernah berguru pada pendekar gaek itu, hampir duapertiganya, alih-alih putus kaji, malah putus di tengah jalan.

“Kisanak tahu siapa murid yang lulus dalam ujian Tikar Gulung itu?”

Salahsatunya Dahlan. Tapi orang-orang dusun Subakir menambahkan kata ‘Beruk’ di belakang namanya, hingga jadilah ; Dahlan Beruk. Lama-kelamaan orang-orang menghilangkan kata ‘Dahlan’, dan lebih suka menyebut nama belakang saja ; Beruk.

“Mungkin Kisanak menduga, ia dipanggil Beruk karena mukanya seperti muka Beruk?”

Dugaan Kisanak hampir benar, tapi bukan mukanya yang serupa Beruk, melainkan perangainya. Kisanak pernah mendengar cerita tentang peristiwa kebakaran rumah gonjong milik keluarga tuan Gedang puluhan tahun silam? Waktu itu orang-orang dusun Subakir sengaja membiarkan rumah warisan gembong PKI itu dilalap api hingga rata dengan tanah. Mereka mengira, itu balasan dari kekejaman tuan Gedang yang telah membunuh orang-orang dusun Subakir dalam jumlah tak terbilang. Kisanak tahu kenapa bukit di sebelah utara dusun ini dinamai Bukit Sibusuk? Di bukit itu tuan Gedang dan anak buahnya menguburkan orang-orang dusun Subakir yang sudah dihabisinya karena dianggap membangkang. Mayat-mayat ditumpuk dalam sebuah lubang besar yang tidak terlalu dalam, ditimbun sekenanya saja, hingga bau busuk menyeruak ke dalam kampung. Berhari-hari orang-orang dusun tidak berani keluar rumah lantaran bau bangkai yang bikin mual, hingga kelak mereka menamai bukit itu ; Bukit Sibusuk. Ya, bau bangkai korban kebiadaban orang-orang gestapu. Jadi, meski mereka tak sempat balas dendam pada tuan Gedang yang tiba-tiba lenyap seolah diculik orang Bunian, maka kebakaran itu setidaknya dapat melunaskan sakit hati yang mereka pendam sejak lama. Tapi, tatkala jilatan api sudah mencapai atap rumah gonjong sembilan ruang itu, Dahlan sudah bergelayut serupa Beruk di dahan pohon durian, belakang rumah itu. Hanya dari pohon itu Dahlan bisa meloncat masuk, dari tangga hingga anjungan, kobaran api sudah tak mungkin diterobos.

“Hoi, Dahlan, mau cari mati kau?”

“Biarkan saja anak-cucu si Gedang itu mati terpanggang!”

“Apa kau lupa, bapakmu juga mati di tangan si Gedang bukan?”

“Turun kau, Beruk!”

Dahlan memang lekas turun sambil menggendong cucu tuan Gedang yang tadi terperangkap kobaran api. Tapi, sigap ia meloncat lagi ke atas dahan pohon durian, dan lagi-lagi berayun serupa beruk, masuk lewat atap, lalu kembali dengan menggendong cucu tuan Gedang yang lain. Begitu seterusnya, hingga semua penghuni rumah itu selamat. Sejak itu Dahlan beroleh gelar ’Beruk’.

Musuh tidak dicari, tapi jika bersua pantang dielakkan. Begitu petuah Harimau Campo saat Dahlan masih berguru. Itu sebabnya, aliran silat Dahlan Beruk lebih banyak memiliki jurus elak ketimbang jurus serang. Ia tak bakal menyerang bila musuh tidak menyerang. Kalau terpaksa menyerang, itupun dilakukan Dahlan dengan menghisap kekuatan serangan lawan. Ia tak gamang dengan ukuran badan lawan. Makin besar tubuh lawan, makin gampang Dahlan menumbangkannya. Dan yang paling berbahaya tentu jurus Tikam Kuku yang sempurna dikuasai Dahlan. Jarang yang selamat dari terkaman Tikam Kuku. Bila tak langsung dikirim ke liang lahat, setidaknya musuh bakal tergolek berlumur darah.

”Kisanak pernah dengar Jilatang Layur, tukang pukul Cen Bi, tengkulak tembakau di dusun Subakir ini?”

Lelaki jangkung itu pendekar yang mahir dalam jurus Patah-Mematah. Ia tak segan-segan mematahkan leher petani-petani yang tidak berkenan menjual tembakau pada Cen Bi lantaran harganya sangat miring. Cen Bi mematok harga seenaknya, padahal untung yang diperolehnya berlipat-lipat. Jangan coba-coba beralih pada toke lain, bila tak ingin berhadapan dengan kebengisan Jilatang Layur. Tapi suatu masa, pendekar dari aliran hitam itu ketemu lawan bersengat. Ia tertangkap basah sedang menghabisi Tunjang, petani tembakau yang tak lain adalah adik ipar Dahlan Beruk. Sudah kerap Dahlan mengingatkan centeng keparat itu untuk tidak lagi memeras petani tembakau di dusun Subakir. Tapi dasar orang bayaran, Jilatang Layur malah makin beringas.

“Langkahi dulu mayatku sebelum kau ganggu keluargaku!”

“Tak usah banyak cakap, Beruk! Sudah lama awak ingin patahkan lehermu. Bersiaplah!”

Satu dua serangan Jilatang Layur masih dielakkan Dahlan, tapi serangan ketiga tiada ampun. Dahlan tak ingin berlama-lama. Cengkraman tangan Jilatang yang hendak menangkap batang lehernya, sigap dipiuhnya hingga mengeluarkan bunyi deruk. Lalu, dua jari Dahlan menyelinap di rusuk Jilatang, hingga membuat dua lubang, satu sebesar jari telunjuk, satu lagi sebesar jari tengah. Centeng itu tergeletak dalam posisi tidak siap. Pada saat yang sama, Dahlan berayun serupa Beruk hendak menjangkau dahan, lalu mendarat di dada Jilatang. Sekali lagi jurus Tikam Kuku bersarang di rusuknya yang sudah bocor itu. Jilatang mengerang kesakitan, dari mulutnya keluar gumpalan darah sebesar limau purut. Tukang pukul tengkulak tembakau itu beres di tangan Dahlan Beruk.

***

“Membuat Cen Bi enyah berarti membunuh penghidupan orang sedusun,” begitu kemarahan Tumanggung, petinggi adat dusun Subakir setelah Dahlan melumpuhkan Jilatang Layur.

“Kalau tidak karena Cen Bi, anak-cucu kita tidak bisa makan.”

“Tak usah jadi pahlawan. Mentang-mentang punya lading tajam, jangan sembarang kau catukkan! Kau kira tak ada langit di atas langit, hah?”

“Sekali lagi kau cari masalah dengan orang-orang Cen Bi, kami buang kau dari suku. Paham kau Beruk?”

Orang-orang yang tak suka perangai Dahlan tentulah mereka yang terancam periuk nasinya. Dahlan sudah maklum, tuan-tuan itu sudah disuap Cen Bi. Tak hanya urusan tembakau, mereka juga melindungi cukong-cukong yang mengeruk kerikil di lereng Bukit Sibusuk, hingga lahan-lahan sawah tertimbun longsoran. Mereka tak segan lagi pada Dahlan Beruk. Pendekar Tikam Kuku sudah mati kutu. Lagi pula, sejak beroleh ancaman itu, Dahlan tak tampang lagi batang hidungnya. Tak ada yang tahu, ia pergi ke mana. Hanya ada desas-desus bahwa Dahlan Beruk dihabisi oleh sekelompok orang sebagai balasan atas kekalahan Jilatang Layur. Tapi ada pula yang bilang, Dahlan Beruk berdiam di Hutan Sirasah, ia sedang menjalankan laku putus kaji bagi murid-murid terbaiknya.

“Kisanak tahu apa yang terjadi di dusun Subakir sejak Dahlan Beruk menghilang tak tentu sebab?”

Tengkulak tembakau tidak puas hanya memeras petani tembakau dusun Subakir, mereka menyulap Bukit Sibusuk menjadi arena sabung ayam yang penuh sesak dikunjungi pejudi. Lubang-lubang bekas pengerukan kerikil di sepanjang lereng bukit itu berubah jadi danau buatan. Para cukong membangun kawasan itu menjadi obyek wisata. Di sana sudah berdiri ratusan pondok beratap rumbia yang disewakan pada pasangan muda-mudi yang datang hendak bersenang-senang. Bagi tamu yang tidak membawa pasangan, perempuan-perempuan muda dusun Subakir siap melayani, tentu dengan imbalan yang setimpal. Orang-orang dusun beroleh untung pula dari tempat mesum itu. Mereka berjualan rokok, tuak atau jadi calo dengan penghasilan sepuluh kali lipat dibanding hasil ladang tembakau. Bukit Sibusuk sudah menjadi jamban tempat orang buang hajat. Kalau dulu, bukit itu menebarkan bau bangkai, kini menyeruakkan aroma lendir yang menjijikan.

“Kau tahu di mana kuburan Dahlan Beruk?”

“Saat orang-orang dusun Subakir sudah melupakan jawara itu, Kisanak malah mencarinya.”

“Apa perlunya Kisanak mencari Dahlan Beruk?”

“Tapi, melihat tampang Kisanak, saya ingat raut muka tuan Gedang. Jangan-jangan Kisanak salah seorang cucu tuan Gedang yang pernah diselamatkan Dahlan Beruk dari kebakaran puluhan tahun lalu.”

”Siapa Kisanak sebenarnya?”


Kelapa Dua, 2007