Search This Blog

Thursday, July 23, 2009

Optimisme Dalam Prosa Betawi

Oleh: DAMHURI MUHAMMAD

(Kompas, 18/07/09)

KHAZANAH Betawi yang terhidang dalam prosa tidak lepas dari peran kepengarangan SM Ardan (1932-2006) sebagaimana terlihat dalam bukunya "Terang Bulan Terang Di Kali" (1955)—dicetak-ulang oleh Masup Jakarta (2007). HB Jassin (1954) mencatat, karya-karya Ardan sangat membantu ahli ilmu bahasa, ilmu bangsa-bangsa dan kemasyarakatan dalam penelitian tentang Jakarta. Dialek lahir, tumbuh dan mati. Adat dan kebiasaan muncul, berubah, dan hilang. Begitu pula permainan anak-anak Betawi yang lahir, tumbuh, sirna. Amat besar jasa Ardan dalam mendokumentasikannya. Menurut Ajip Rosidi (2007), istilah “cerita” pada antologi cerita pendek SM Ardan itu kurang tepat, karena (kecuali satu-dua cerpen) tidak ada ceritanya sama sekali. Periksalah Pulang Pesta, Pulang Siang, atau Bang Senan Mau ke Mekah, tidak menjalin cerita, hingga yang terasa hanya “suasana”. Kalaupun ada cerpennya yang mengandung “cerita”, bagi Ajip, cerita itu tidak seru, menyehari, gampang dijumpai dalam keseharian orang-orang kecil Jakarta masa itu. Tapi, justru di sinilah keistimewaan Ardan. Boejoeng Saleh (1955)—dikutip JJ.Rizal (2007)—mencatat, ibarat seorang kameramen, Ardan punya lensa tajam. Ia tak hanya memotret realitas eksotik-romantik, tapi juga realistik; kenyataan yang sepahit-pahitnya.

Bila pengalaman baca terhadap karya-karya Aman Dt. Majoindo (1896-1969), M. Balfas (1921-1975), Firman Muntaco, hingga SM. Ardan, menimbulkan kesan: “Ternyata orang Betawi seperti itu ya,” maka prosa-prosa berlatar Betawi garapan para pengarang masa kini mendedahkan sebentuk keheranan: “Ternyata orang Betawi kini sudah banyak berubah, tidak seperti Betawi yang dulu.” Tengoklah "Rumah Kawin" (2004) antologi cerpen Zen Hae, "Sebelas Colen di Malam Lebaran" (2008) karya C.G Ramadhan, "Rosid dan Delia" (2008) novel karya Ben Sohib, dan yang paling mutakhir, "Kronik Betawi" (2009) karya Ratih Kumala. Resistensi masyarakat Betawi terhadap modernisasi Jakarta yang semakin mengaburkan—bila tidak bisa disebut menggerus—identitas dan kejatidirian mereka, ditampakkan oleh karya-karya pengarang muda itu.

Zen Hae dalam "Kelewang Batu" misalnya, melakukan demitologisasi kisah usang tentang para pemburu mustika api milik naga raksasa yang konon diberkati dewa-dewa sebagai penguasa jazirah selatan selama 2882 purnama. Maka, pertarungan hebat tak terhindarkan, hingga naga itu tumbang. Selepas pertarungan itu, danau kering, tanah tempat matinya naga itu menjadi sebuah kampung yang kelak disebut Kampung Naga. Bekas-bekas jejak naga menjelma sungai yang kelak dikenal “Kali Bangkai”. Penduduk setempat menyebutnya Kali Bangke, dan keturunann berikutnya melafalkannya; Kali Angke. Begitu salah satu versi riwayat Kali Angke yang kini telah dilupakan, karena itu perlu dibangkitkan kembali. Modus pengisahan serupa terjadi pula pada Hikayat Siti Rahima, bertolak dari mitos sebagai medium guna menyuarakan sikap kritis orang Betawi terhadap gairah hedonisme Jakarta yang nyaris tak terbendung itu, tentang sebuah pohon keramat yang ditunggui arwah perempuan terkutuk akibat bunting di luar nikah. Sebagaimana cerita-cerita tentang pohon anker, siapa nekat menebangnya, fatal akibatnya. Tapi karena tamak dan kemaruk, pohon keramat “diembat” juga.

Tidak banyak warga Jakarta yang tahu bahwa dulu, di salah satu belahan kota itu, orang Belanda pernah membangun sebuah rumah mewah dengan ukiran-ukiran Jawa dan lukisan-lukisan ala Eropa. Pemilik rumah itu menyebutnya “pondog”, dan karena ukurannya besar sekali—sementara rumah-rumah di sekitarnya rata-rata berukuran kecil—orang menyebutnya “pondog gede”. Begitu riwayat singkat perihal sebuah nama daerah yang kini dikenal sebagai Pondok Gede. Para pendatang hanya tahu “menteng” sebagai kawasan gedongan, hunian orang-orang “tajir” dan berada , padahal “menteng” sejatinya adalah nama buah. Begitu pula “bintaro” yang sesungguhnya adalah nama pohon. Seiring dengan semakin menterengnya wajah Jakarta, tak hanya khazanah tanaman itu yang terlupakan, sejarah, kearifan dan memori kolektif tentang Jakarta juga tenggelam dalam hingar-bingar panggung kosmopolitanisme. Suasana nostalgik—sekaligus ironik—semacam ini tergambar dalam novel "Kronik Betawi" (2009), karya Ratih Kumala, yang secara terang-benderang memperlihatkan wajah Jakarta sebagai ironi. Betapa tidak ironis bila orang asli Jakarta terlambat menyadari bahwa tugu monas yang tersohor itu ternyata tidak lagi menjadi bangunan tertinggi, karena ketinggiannya telah dilampaui oleh gedung-gedung jangkung tegak-berdiri bak cendawan di musim hujan. Lebih ironis lagi ketika kampung mereka telah menjadi deretan ruko-ruko yang tidak lagi menyisakan ruang, bahkan untuk sekadar leluasa berjalan kaki, arena bermain masa kanak-kanak mereka disulap menjadi kompleks perkantoran—saking berdempetannya, tidak menyisakan sekadar tanda, di titik mana lingkungan masa kecil itu pernah berada. Inilah dampak dari gerak perubahan yang sedemikian tergesa. Artifak-artifak yang menyimpan kesadaran kolektif orang Betawi tentang tanah kelahiran mereka telah karam, mereka kehilangan kampung halaman, dan perlahan-lahan tergusur ke pinggiran, menjadi perantau di negeri sendiri.

"Kronik Betawi" mengisahkan sebuah keluarga Betawi, pewaris usaha peternakan sapi perah. Setelah berkali-kali mengelak dari bujuk-goda dan iming-iming untuk tidak melepas tanahnya di daerah Kuningan, Jaelani—kepala keluaga itu—akhirnya takluk juga, menyusul sejawat dan kerabat yang telah lebih dahulu angkat kaki. Keluarga Jaelani pindah ke Ciganjur, sementara sapi-sapi perah itu diboyongnya ke Pondok Rangon. Meski telah tersingkir, Jaelani tidak tertarik membangun rumah-rumah kontrakan seperti sejawat-sejawatnya yang “ujug-ujug” telah menjadi juragan. Tapi, bertahan dengan etos kemandirian orang Betawi ternyata tidak gampang. Japri dan Juned, dua anak laki-lakinya lebih tergiur menjadi tukang ojek ketimbang mengurus sapi-sapi di kandang, hingga akhirnya usaha itu nyaris bangkrut.

Setiap tokoh dalam Kronik Betawi memikul beban persoalan orang Betawi masa kini. Bila Jaelani harus menerima kenyataan tentang anak-anak yang tidak punya etos mandiri, Jarkasi (adik Jaelani) berhadapan dengan betapa sulitnya mempertahankan kesenian tradisional Betawi di kurun R & B dan Jazz ini. Ia mendedikasikan hidupnya demi kelesatrian Gambang Kromong—semacam orkes, perpaduan antara gamelan, musik Barat dan corak kesenian Cina. Jarkasi jatuh-bangun sebagai seniman Betawi. Baginya, tanah kelahiran bolehlah lenyap ditelan gemuruh perubahan Jakarta, tapi Betawi masih punya Lenong dan Gambang Kromong, yang sedapat-dapat harus tetap hidup. Seni, satu-satunya milik mereka yang belum terbeli. Namun, Jarkasi tak bisa menutup mata bahwa apresiasi terhadap kesenian tradisional begitu minim. Kerap ia berselisih paham dan Enden (istrinya) lantaran ia bersikukuh mendukung bakat seni Edah (anak gadisnya) sebagai penari. Di mata sebagian orang, penari identik dengan perempuan panggung yang boleh dicolak-colek oleh para lelaki.

Dibanding dengan pesimisme orang Betawi yang telah kehilangan tanah-pangkal, seperti dalam cerpen "Dahulu" (C.G. Ramadhan), atau keterasingan Mat Jago, lantaran tidak bisa lagi unjuk gigi di panggung-panggung Gambang Kromong, seperti dalam cerpen "Rumah Kawin" (Zen Hae), tokoh-tokoh dalam "Kronik Betawi" lebih riang—lelucon khas Betawi terselip di sana-sini—dan bergairah. Tengoklah Juleha (adik bungsu Jaelani)—meski juga menanggung beban—habis-habisan mendukung Edah sebagai penari Betawi, bahkan ia ikut berperan dalam keberhasilan Edah sebagai salah satu penari Betawi yang terpilih untuk tampil di pentas terhormat di negeri Belanda. Di satu sisi, Juleha yang terpuruk dalam kesendirian sejak suaminya menikah lagi terasa memperkuat citraan tentang laki-laki Betawi yang “doyan kawin”, tapi pada sisi lain, pengarang memperlihatkan kesetiaan Jaelani pada almarhumah istrinya. Bahwa kemudian ia menikahi Salomah, itu bukan karena Jaelani “doyan kawin”, tapi karena “tidak baik lama-lama menduda”.

Optimisme dalam menyongsong masa depan Betawi yang gemilang tampak kentara pada kerja keras Salomah guna melanjutkan pendidikan anaknya (Fauzan), hingga jenjang universitas. Diceritakan, Fauzan berhasil meraih predikat “tukang insinyur” dari perguruan tinggi terbaik di Jakarta, lalu beroleh beasiswa untuk melanjutkan studi di Amerika. Bagian ujung "Kronik Betawi" menampilkan Salomah- Jaelani sebagai manusia Betawi yang terobsesi hendak mencetak kaum intelek, agar orang Betawi tidak sekadar menjadi juragan kontrakan, calo tanah, atau tukang ojek. Sebagaimana dibuktikan oleh sejarah terkini, Jaelani ingin kaumnya menjadi orang-orang yang diperhitungkan, disegani, dan bukan kuli di kampung sendiri…