Search This Blog

Wednesday, January 12, 2011

Elitisme Kritikus Seni

Oleh: DAMHURI MUHAMMAD

(Kompas ,2/1/2011)


ARIF B Prasetyo memaklumatkan kurun Facebook dan Twitter sebagai era kematian kritikus seni (Kompas, 9/1). Ia membincang berlimpah-ruahnya ulasan karya seni di dunia maya, yang lantaran demokratisasi pembacaan, kemudian merenggut otoritas para kritikus. “Siapa pun kini bisa menjadi kritikus yang berhak mengevaluasi puisi, dan melegitimasi siapa pun yang ingin menjadi penyair,” ungkap Arif. Ia memperkokoh argumentasinya dengan diktum “kematian pengarang” Roland Barthes (1915-1980) sebagai akibat dari meluasnya pembaca. Menurut Arif, otoritas pengarang yang telah dilumpuhkan oleh perayaan tafsir-bebas pembaca juga berakibat pada “kematian kritikus.” Sebab, dalam banalitas pembacaan, komentar pakar seni tidak ada lagi bedanya dengan suara khalayak ramai. Tak jarang, pembaca jamak lebih berwibawa ketimbang kritikus seni.

Dalam konteks “kematian pengarang”, Barthes hanya mendeklarasikan perluasan hak pembaca, agar pengarang tidak menjadi satu-satunya penentu bulat-lonjongnya makna sebuah teks. Barthes tidak mengklaim “kematian kritikus”─yang juga pembaca─seperti disinyalir Arif. Justru bila Arif mengatakan “kematian pengarang” sebagai momen “kelahiran pembaca,” itu juga berarti “kelahiran kritikus,” bukan sebaliknya, bahkan kematian kritikus konvensional sekalipun. Bukankah pada akhir esainya Arif menegaskan bahwa kematian pengarang dapat menjadi momen kebangkitan kritikus? Selain itu, merajalelanya ulasan-ulasan karya seni dalam hiruk-pikuk banalitas pembacaan di jagad maya yang tak terbendung itu, tidak relevan dengan diktum “kematian pengarang.” Ada atau tidaknya diktum itu, perluasan hak pembacaan terhadap karya seni tetap tak terelakkan, karena yang bekerja bukan lagi gagasan filsafat, tapi teknologi IT yang bergerak sedemikian cepat dan pesat.

Demokratisasi pembaca lebih tepat ditimbang sebagai akibat paling nyata dari gelombang industrialisasi sejak awal abad 20, yang telah memperlakukan karya seni sebagai komoditas, sebagaimana barang-barang hasil produksi. “Nilai-guna” karya seni telah merosot menjadi sekadar “nilai-tukar,” begitu sinisme filsuf Jerman, Theodor W Adorno (1903-1969). Maka, parameter keberhasilan sebuah karya sastra kini hanya ditakar dengan jumlah eksemplar buku yang terjual di pasaran. Padahal, membeli sebuah novel, belum tentu berarti memahami dan menyelami kedalamannya. Fenomena pergeseran paradigma seni semacam inilah yang ditandai Walter Benjamin (1892-1940) sebagai akibat dari reproduksi mekanistik hingga seni kehilangan aura, subtilitas, dan otentisitasnya.

Dalam khazanah sastra Indonesia mutakhir, tengoklah fenomena berhamburannya novel-novel dengan embel-embel “pembangunan jiwa”, “kisah inspiratif”, yang sejak lima tahun terakhir menggemparkan dunia perbukuan, karena angka penjualannya mencapai ratusan ribu eksemplar, puluhan kali lipat dibanding penjualan karya sastra semacam Ronggeng Dukuh Paruk, Kunang-kunang di Manhattan, dan Orang-orang Bloomington. Meski buku laku belum tentu buku bermutu. Bagaimana bisa dikatakan bermutu bila yang bermunculan hanya prosa yang mementingkan segi didaktik (motivasi, menginspirasi, how to) ketimbang unsur estetik sebagai kekuatan paling inti. Kematian kritikus barangkali bukan karena banalitas pembacaan, tapi karena sastra kita sedang defisit mutu estetik.

Gagasan Arif tentang kematian kritikus seni menyisakan dua hal penting yang patut dibincang. Pertama, hak pembacaan yang panjang-lebar diuraikannya. Kedua, kualitas pembacaan yang kurang dipertimbangkan, atau memang sengaja dilupakan. Muncul kesan, Arif memandang sebelah mata pada mutu pembacaan khalayak ramai, dan menaruh respek pada pembaca “yang kritikus.” Padahal, dalam kejamakan pembacaan yang dilakukan oleh para blogger dan facebooker tidak bisa dipukul rata bahwa semuanya berselera rendah. Emas tiada bakal menjadi loyang, meski tercampak di comberan. Masalahnya hanya karena mereka tidak berbasis akademik, atau tidak berafiliasi pada sebuah “institusi sastra” yang kerap menjadi tolak-ukur sebuah pengakuan. Sebagai contoh, kajian komprehensif penyuka sastra Amerika Latin, Ronny Agustinus, terhadap novel-novel Isabel Allende di blog pribadinya (www.sastraalibi.blogspot.com) menurut saya bisa bersaing dengan ulasan para akademisi di jurnal sastra. Dalam keriuhan tafsir-bebas pembaca─apapun medianya─tetap ada yang dapat ditimbang sebagai kerja kritikus, bukan “pembaca sekadar.” Lagi pula, bila Arif sudah meniscayakan tidak ada lagi beda antara suara kritikus seni dengan suara pembaca massal, tentulah esai perihal kematian kritikus seni itu tidak akan muncul. Maka, alih-alih meratapi kematian kritikus, esai itu malah membuat saya riang-gembira, karena ia justru memperlihatkan jantung kritikus seni masih berdetak, dan akan terus bersuara dalam gemuruh banalitas pembacaan.

Analogi kritikus sebagai “ia yang menari” dan pembaca awam sebagai “mereka yang berjoged” dapat membuktikan mutu pembacaan yang terabaikan itu. “Ia yang menari,” menyiratkan sebentuk elitisme kritikus yang masih berhasrat mengenggam otoritas penilaian terhadap karya seni. Garis demarkasi ini mengingatkan saya pada masalah usang tentang otoritas filsuf dan non-filsuf dalam sejarah filsafat. Tokoh filsafat profetik, Al-Farabi (850-950), membuat kategori ‘am (umum) dan khawwas (khusus). Hanya kelompok khawwas yang berpeluang meraih aql al-mustafad, kemampuan kognitif paling puncak dalam abstraksi filsafat. Di ranah penciptaan “surplus makna,” kaum khawwas dapat dinisbahkan kepada seniman dan kritikus. Bila Arif bereksperimen dengan menceburkan dirinya dalam kemassalan penikmat seni, menyiarkan esai-esainya di blog pribadi, akan tetap terasa beda antara pembaca expert dengan pembaca biasa─yang menulis secara instant, tanpa pijakan metodologi, dan tentu saja serampangan sebagaimana analogi; “yang berjoged.”

Begitu pula dengan endorsement di sampul buku-buku sastra. Akan sangat berbeda mutu endorsement yang ditulis kritikus sastra seperti Budi Dharma, Sapardi Djoko Damono, Melani Budianta─untuk menyebut beberapa nama─dengan testimoni seorang artis yang dipasang hanya untuk mendongkrak penjualan. Akan tampak jelas mana emas, mana loyang, mana yang hampa, mana yang bernas. Maka, kritikus seni tak pernah mati, ia akan terus menguasai panggung sebagai “penari” dengan pesona lenggang-lenggok tubuhnya di tengah-tengah kerumunan “pejoget” yang berjingkrak-jingkrak dengan hasrat murahan…


catatan:
esai tanggapan ini disiarkan lebih dahulu dari esai sumber polemik.
minggu (9/1) lalu, saat esai Arif B Prasetyo bertajuk "kritik seni sudah mati" diturunkan, redaksi Kompas telah memberikan penjelasan.

Tuesday, January 04, 2011

Intrik Politik dalam Cerita Silat


Oleh: DAMHURI MUHAMMAD

TAK diragukan bahwa gairah kepengarangan tiada bakal bersudah memproduksi cerita yang siap dilepas ke pasaran, atau untuk sementara disimpan sebagai “stock cerita”. Namun, tidak banyak pengarang yang terampil membuhul koleksi ceritanya dengan gagasan-gagasan besar. Sebutlah misalnya, Dan Brown, yang menghubung-kaitkan rancang-bangun ceritanya dengan alur hidup dan riwayat kekaryaan seniman besar, Leonardo Davinci, hingga ia berhasil mendedahkan The Davinci Code yang menggemparkan itu. Begitu pun dengan Matthew Pearl yang membingkai kisahnya dengan kepeloporan penyair, Dante Alighieri (1265-1321), hingga sukses menyuguhkan The Dante Club, novel yang telah melangitkan namanya dalam kancah sastra dunia.

Kepiawaian memadu-padankan kepengrajinan berkisah dengan sebuah gagasan besar tampaknya juga terupayakan dalam Nagabumi, (2010) karya terkini Seno Gumira Ajidarma. Sekilas, mungkin hanya tampak sebagai kelebat pertarungan dengan jurus-jurus jitu dalam rimba persilatan, sebagaimana telah dijejakkan oleh sejumlah novel silat pendahulunya, dari Bu Kek Siansu (Kho Ping Hoo), Naga Sastra Sabuk Inten (S.H Mintardja), Giring-Giring Perak (Makmur Hendrik) hingga Senopati Pamungkas (Arswendo Atmowiloto). Namun, riwayat kependekaran dengan latar sejarah Jawa abad 8-9 dalam novel itu dipancangkan di tengah-tengah perseteruan pada masa kekuasaan Samaratungga, selepas berdirinya Kamulan Bhumisambhara─kini dikenal sebagai candi Borobudur─satu dari tujuh keajaiban dunia. Inilah yang agaknya dapat memartabatkan Nagabumi menjadi bukan sekadar novel silat biasa.

Adalah Pendekar Tanpa Nama yang mengungkit-ungkit kembali riwayat usang tentang ribuan orang yang diperbudak selama pembangunan Kamulan Bhumisambhara. Penduduk yang telah merelakan tanah mereka untuk mendirikan candi itu, dipaksa bekerja—dengan cara menyandera keluarga mereka—karena pembangunan candi itu memerlukan ribuan tenaga. Penguasa bahkan semena-mena memperlakukan anak-anak mereka sebagai "ulun" (budak). Kesucian Kamulan Bhumisambhara telah ternodai oleh kesewenang-wenangan. Pendekar Tanpa Nama menghembuskan gairah perlawanan, hingga beberapa kali terjadi gelombang protes dan mogok kerja.

Inilah salah satu kemungkinan jawaban kenapa para pendekar di rimba persilatan tidak sabar menunggu kematian Pendekar Tanpa Nama, meski usianya sudah 100 tahun. Tapi, menyibak misteri dan teka-teki ini tidak segampang membalik telapak tangan. Dari beberapa pendekar yang telah ia “sempurnakan” dalam kematian, Pendekar Tanpa Nama memang kerap menemukan lembaran lontar dengan maklumat—Pendekar Tanpa Nama. Pengkhianat negara. 10.000 keping emas bagi yang bisa membunuhnya—tapi menjadi biang-kerok terjadinya mogok kerja pada masa pembangunan candi suci itu tampaknya bukan satu-satunya dalih yang menyebabkan ia ternobat sebagai pengkhianat negara. Maka, Pendekar Tanpa Nama pun turun gunung setelah mengundurkan diri selama bertahun-tahun, mencari sebab-musabab kenapa penguasa Yavabhumi dan semua pendekar di rimba persilatan menginginkan kematiannya.

Pengarang tidak menyia-nyiakan peluang ini. Pencarian Pendekar Tanpa Nama menjadi jurus ampuh guna menyingkap selapang-lapangnya ruang pengisahan dalam Nagabumi. Diceritakan, pemilik jurus "Bayangan Cermin" yang dalam satu kali kedipan mampu menghisap kedigdayaan semua jurus musuh itu, berhasrat hendak menulis risalah yang kelak dapat meluruskan penyimpangan dalam berbagai kisah, desas-desus, bahkan dongeng tentang Pendekar Tanpa Nama. Risalah itulah yang menjadi materi utama novel itu. Sebagaimana gerombolan Kera Gila, murid Naga Hitam—musuh bebuyutan Pendekar Tanpa Nama—mengepung pemilik jurus "Dua Pedang Menulis Kematian" itu di sebuah penyergapan, setiap bagian dalam Nagabumi juga mengepung pembaca dengan rasa penasaran yang terus membiak dan beranak-pinak. Teka-teki perihal perburuan Pendekar Tanpa Nama belum terpecahkan, pengarang sudah merancang teka-teki baru perihal Naga Hitam yang bersekutu dengan kelompok Cakrawarti dalam menggulingkan kekuasaan Rakai Panangkaran, hingga Rakai Panunggalan naik tahta. Namun, setelah ambisi politik Rakai Panunggalan tercapai, Naga Hitam yang bernafsu hendak menjadi petinggi istana ternyata tak beroleh apa-apa. Lalu, ia mengacau hampir di semua wilayah Yavabhumi. Tapi, Naru, Telapak Darah, Kera Gila, murid-murid terbaik Naga Hitam tewas di tangan Pendekar Tanpa Nama. Ini menimbulkan kecurigaan baru, bahwa karena dendam, Naga Hitam bisa saja terlibat dalam muslihat yang memaklumatkan Pendekar Tanpa Nama sebagai pengkhianat yang harus segera ditamatkan riwayatnya. Namun, lagi-lagi ini menjadi siasat penceritaan untuk terus membiakkan suspensi dalam Nagabumi, dan karena itu misteri Naga Hitam tidak buru-buru disingkap.

Semula, Pendekar Tanpa Nama, mungkin tampak seperti orang biasa yang memilih jalan kependekaran, bisa menyamar sebagai tukang batu di masa pembangunan candi, dan setelah berusia 100 tahun menyamar sebagai pengrajin lontar. Tak jauh beda dengan Wiro Sableng, Bajing Ireng, atau Giring-giring Perak, dalam cerita silat pada umumnya. Tapi, dalam riwayat Sepasang Naga dari Celah Kledung terceritakan bahwa bayi laki-laki yang mereka besarkan hingga usia 15 tahun itu bukan anak kandung mereka. Bayi tak bernama itu ditemukan dalam sebuah gerobak di tepi jurang. Wajah mungilnya penuh cipratan darah lantaran semua orang di gerobak itu dihabisi dengan tebasan pedang. Satu-satunya yang selamat hanya bayi itu. Sepasang Naga menemukan secarik surat di keranjang bayi itu: selamatkan putra kami! Siapa sebenarnya pendekar tanpa nama? Boleh jadi ia putra mahkota yang hendak dilenyapkan demi sebuah ambisi politik. Namun, lagi-lagi ini tidak segera dijelaskan titik terangnya.

Membuhul cerita dengan gagasan besar yang terupayakan dalam Nagabumi, tidak sekadar membutuhkan fantasi guna membangun kelebat pertarungan maut di antara para pendekar demi menggapai wibawa naga (Naga Hitam, Naga Putih, Naga Emas, Naga Jingga, Naga Laut, Naga Kembar, dan Nagabumi), tapi juga memerlukan apa yang disebut filsuf Arab, Al-Farabi (850-950), sebagai "Quwwah Al-Muttahilah," yang dalam kerja kepengarangan terus-menerus menggiling fakta-fakta sejarah Mataram kuno, sehalus-halusnya, hingga yang tersisa hanya konstruksi alegorik dari intrik-intrik politik kurun itu. Tak sengaja, juga mencerminkan pergulatan politik hari ini. Terlepas dari keganasannya di masa silam, Pendekar Tanpa Nama adalah sosok yang dikambing-hitamkan penguasa. Untunglah, setelah menggapai wibawa naga dengan Jurus Tanpa Bentuk yang mematikan itu, dalam menulis risalah guna membersihkan namanya, ia juga meraih keseimbangan antara ilmu silat dengan ilmu surat. Naga di dunia silat, pujangga di dunia surat…