Search This Blog

Monday, February 20, 2012

Sastra Dalam Kepungan Warna Lokal

Oleh: DAMHURI MUHAMMAD

(Kompas, Minggu, 19 Februari 2012)

SEORANG pengamat sastra menuding warna lokal sebagai perhatian utama prosa yang muncul beberapa tahun belakangan ini, tak lebih dari sekadar kerja ornamentasi dengan memancangkan diktum dan peribahasa khas etnik tertentu dalam teks, hingga sebuah prosa memerlukan sederetan catatan kaki guna menjelaskan maksudnya. Sebutlah misalnya kumpulan cerpen Perempuan Bawang dan Lelaki Kayu (2009) karya Ragdi F Daye, yang penuh-sesak oleh ungkapan khas Minangkabau semacam “melepongkan,” ‘basilemak,” dan “manggoro.” Bila tidak merujuk pada glosarium yang terukur tentu akan membuat kening pembaca berkerut, utamanya pembaca non-Minang. Siasat literer serupa juga ditemukan dalam Bulan Celurit Api (2010) karya Benny Arnas, dengan diktum khas melayu Lubuk Linggau (Sumsel) seperti “Singup,” “Pudur,” dan “Tarup.” Begitupun diksi khas Bugis yang berseliweran dalam antologi cerpen Mengawini Ibu (2011) karya Khrisna Pabichara.

Sepintas lalu, klaim itu mungkin ada benarnya. Namun, warna-lokal tidak sesederhana sebagaimana disangka. Mewabahnya jenis prosa dengan ekspresi estetik yang tegak-berdiri di atas warna-lokal bukan tanpa sebab, tidak taken for granted, sebagaimana wejangan yang meluncur dari langit ke tujuh. Sebab paling absah adalah karena realitas bernama “Indonesia” yang sejak lama hendak diniscayakan sebagai fondasi kepengarangan para sastrawan bertumpah-darah Indonesia, kini sukar digenggam. Tak disangkal bahwa secara teritorial realitas “Indonesia” masih terang-benderang, tapi secara kultural, adakah yang dapat membulat-lonjongkan definisi kebudayaan Indonesia? Alih-alih mengunci sebuah pemahaman yang paripurna tentang Indonesia sebagai entitas universal, yang kerap bersilang-pintang dalam keseharian adalah Indonesia rasa Jawa, rasa Makassar, rasa Bali, rasa Batak, rasa Aceh, dan seterusnya.

Maka, inilah sebuah kurun tempat segala bentuk totalitas dan universalitas dirobohkan. Segala rupa partikularitas terus menyesak, “yang pinggiran” merangsek masuk, “yang terabaikan” bermunculan bagai jamur musim hujan. Kaum filsuf pasca-modernisme menyebut “yang partikular,” “yang tak terperhatikan” itu sebagai “yang lain” (the others). Bagi mereka, “yang lain” (Minang, Batak, Bugis, Banjar, Bali, dll) itu harus diafirmasi dan dihargai keberadaannya. Bila tidak, ia akan terus menganggu dan menjadi benalu dalam entitas universal bernama “Indonesia” itu. Dalam kacamata pascamodernisme, tak ada pusat, tak ada pula pinggiran. Semuanya berjalin-kelindan dalam jejaring permainan tanda bernama: Simulakra. Tiada makna tunggal dalam lingkar Simulakra. Makna selalu tenggelam─atau menenggelamkan diri─dalam keberbagaian tafsir yang tak berhingga. Differance, begitu Jacques Derrida (1930-2004) menamai kompleksitasnya.

Maka, baik “Indonesia” maupun “warna-lokal” tak sebatas kata-kata, bukan pula benda-benda, melainkan “peristiwa” yang terus berubah, beralih-rupa, dan karena itu akan terus ditunda kuasa tafsir tunggalnya. Lalu kenapa warna lokal menjadi lahan subur ekspresi kepengarangan belakangan ini? Saya menggambarkannya dengan sebuah ilustrasi sederhana. Suatu ketika dalam keseharian orang Melayu, seorang suami kesal lantaran sayur bikinan istrinya keasinan. Satu-dua sendok kuah sayur dicicipinya, selepas itu tak disentuhya lagi. Ia tidak marah, apalagi mengumpat. Dengan tekanan suara datar, ia hanya bergumam: apakah garam sedang murah? Istrinya gugup dan salah tingkah. Sejak peristiwa itu, ia menghafal takaran garam bagi sayur yang digandrungi suami tercintanya.

Saya menandai ungkapan yang sudah menyehari dalam kehidupan orang Melayu itu sebagai kekesalan yang artistik. Tidak berterus-terang, tapi tajamnya boleh diuji, jauh melebihi ungkapan yang paling terang-benderang sekalipun. Peristiwa kecil di meja makan itu merepresentasikan live in art, hidup di dalam kesenian. Pahit tak selekasnya mereka muntahkan. Manis tak tergesa mereka telan. Di sinilah problem utama seni mutakhir; apakah karya seni─apapun bentuk dan jenisnya─sekadar melahirkan sensasi estetik, atau justru berpretensi menenggelamkan penikmatnya dalam realitas kesenian itu sendiri. Mungkin itu sebabnya, Jacques Ranciere (2010) dalam Disensus, on Politics and Aesthetics membuat garis demarkasi antara art of beauty dengan art of living. Menurutnya, seni modern sedang berada dalam ketegangan laten antara kesadaran estetik atau hidup dan terlibat dalam lingkaran estetika itu sendiri.

Beberapa waktu lalu, pemerintahan kota Batam meluncurkan buku bertajuk Mengemban Amanah dengan Pantun Melayu (2011) karya Ahmad Dahlan. Buku itu menegaskan betapa dunia pantun telah menyehari dalam riwayat orang Melayu. Telah menjadi air berkumur-kumur saban pagi. Ahmad Dahlan─kebetulan juga walikota Batam─memaklumatkan bahwa sejak dari perkembangan sejarah paling mula, pantun telah tertandai sebagai identitas orang Melayu. Kembang mawar di dalam taman/petik sekuntum bawa berjalan/budaya bangsa kita kembangkan/pantun melayu jadi kebanggaan. Sepintas mungkin terasa biasa, namun penggalan “pantun melayu jadi kebanggaan” mengandung gairah kebersetiaan pada identitas Melayu, atau yang dalam terminologi filsuf Alain Badiou (2008) disebut fidelity.

Bila Anda dipercaya menjadi pemimpin, dan Anda berlaku adil pada rakyat yang Anda pimpin, maka muasal kearifan itu bukan humanisme universal yang selama berabad-abad dipuja-puji oleh kebudayaan dunia, melainkan karena idat-istiadat Anda mengajarkan prinsip-prinsip keadilan dan kejujuran. Tengok pula pantun; apa guna meranti/dibeli untuk membuat rumah/dukungan rakyat sangat dinanti/agar kami tetap amanah─disampaikan saat jumpa pers setelah pelantikan pada 2006. Media tentu mendokumentasikan peristiwa itu, namun kelisanan pantun akan jauh lebih bertahan. Sebab, pantun tidak hanya dituliskan di atas kertas, tapi juga dinukilkan dalam kenangan. Inilah yang disebut Ranciere sebagai “pembatuan” kenangan, atau dalam bahasanya; petrification. Kelak, bila ada yang melafalkan larik apa guna meranti/untuk membuat rumah, kesinambungan pantun itu tak perlu dilanjutkan, sebagaimana kita mengungkapkan kura-kura dalam perahu, atau sudah gaharu, cendana pula.

Begitulah konsekuensi estetis dari masyarakat yang senantiasa bergelimang dalam kubangan seni. Mereka tidak bisa lepas dari kesadaran artistik. Dan, inilah sebab paling nyata kenapa sastra kita bersetia pada kearifan lokal, ranah tempat para kreatornya lahir dan bergelimang dengan kesadaran estetik. Maka, berhamburannya karya sastra berbasis warna lokal adalah sebuah keniscayaan yang tiada bakal terelakkan.