Search This Blog

Thursday, June 26, 2014

Perempuanologi


catatan ringan untuk buku "Negeri Atas Angin" kumpulan cerpen karya Wina Bojonegoro



 

1.
Laki-laki sebagai Prosa, Perempuan sebagai Puisi


Saya punya dua anak. Satu laki-laki, satu perempuan. Jarak usia mereka hanya terpaut tiga tahun. Semula saya mempercayai laki-laki atau perempuan sama saja, sebagaimana jargon program Keluarga Berencana (KB) warisan penguasa Orde Baru. Sama-sama bakal diasuh-dibesarkan, dituntun, dididik hingga mereka tumbuh menjadi anak-anak masa datang, yang mampu tegak dengan kaki sendiri, mampu merancang hidupnya secara mandiri. Namun--setelah menjadi ayah bagi sepasang anak yang akan saya kenang sebagai bagian paling ajaib dalam hidup saya--ternyata saya keliru besar. Laki-laki dan perempuan rupanya ibarat langit dan bumi. Bila laki-laki dapat diamsalkan sebagai prosa, maka perempuan adalah puisi. Yang disebut pertama luwes, sportif, stabil, dan konsisten. Sementara yang kedua, maju-mundur, tarik-ulur, labil, dan inkonsisten. Pendeknya, perempuan adalah sebuah kompleksitas yang runyam sekaligus misterius.
Anak laki-laki saya gampang diberi pengertian--apalagi dengan memberi contoh--dan mudah diajak bernegosiasi. Meski tingkahnya urakan dan aktivitas fisiknya lebih aktif, saya sama sekali tidak kesulitan mengendalikannya. Bila hendak melarang sebuah aksi yang membahayakan keamanannya, saya cukup menatap matanya tanpa harus berkata-kata. Ia pun paham, lalu mundur teratur. Atau bilamana saya hendak mengajarkan sesuatu, hanya perlu sekali-dua saya memberi contoh di hadapannya, ia mengerti dan selanjutnya ia akan terbiasa. Tapi anak perempuan? Sejak usia tiga tahun, ia sudah terasa sangat berbeda. Judes dan cerewetnya mulai muncul. Sinisme dalam setiap ungkapannya yang masih cadel itu, mampu membangkitkan kembali ingatan saya pada perempuan-perempuan masa silam, yang pernah saya kenali. Ngomongnya meletup-letup seperti suara kacang yang merengkah-rengkah dalam wajan penggorengan. Apa saja dikomentarinya, nyinyir ditanyakannya dengan nada sinis, hingga tak jarang saya juga sinis memberi jawaban.
Ia selalu meminta perhatian lebih. Keranjingan dipuji. Manja minta ampun, dan yang paling ajaib adalah merajuk tanpa sebab. Saya pernah iseng mencatat daftar permintaan ganjilnya. Dalam sehari, tak kurang dari 85 permintaan, meski waktu saya bersamanya sangat terbatas bersamanya. Bangun tidur, ia minta dipeluk, lalu minta susu. Saat saya mulai berkemas, ia minta boneka Barbie yang lupa ia taruh sebelum tidur. Begitu saya di kamar mandi, ia berteriak dari kamar, meminta saya segera keluar karena ia kebelet pipis. Sesaat saya mengecek surat-surat elektronik sebelum berangkat, ia minta dicarikan satu properti mainan alat-alat memasak yang hilang entah di mana. Baru mulai online, ia minta baju bermotif Hello Kitty yang katanya akan dipakai selepas mandi. Sebelum berangkat, tepatnya ketika satu-dua suap sarapan pagi mendarat masuk mulut, ia minta dicebokin karena sudah selesai BAB, hingga jadilah saya masuk kamar mandi lagi.
Itu baru kesibukan-kesibukan kecil yang sudah menyehari bersamanya. Belum termasuk bisikan-bisikan di kuping sesaat sebelum saya meninggalkan rumah. Sepatu kets warna pink, kaos kaki motif Angry Bird, DVD Bakcyardigan seri terkini, yang sudah harus ada di dalam tas kerja saya nanti malam. Bila kurang yakin punya waktu yang cukup untuk mencari pesanan nyonya kecil itu, maka jangan terlalu banyak mengumbar janji. Sebab, kurang satu pesanan saja, risikonya berat. Saya akan dicuekin. Pelukan saya akan ditolak dengan memasang bibir manyun. Pendeknya, saya akan dibuat merasa bersalah, lalu membujuk-bujuknya dengan sejumlah janji baru. Itu juga masih terbilang biasa. Adapun yang paling ganjil adalah merajuk tak tentu sebab. Tak ada angin tak hujan, tiba-tiba berubah dingin. Tak mau diajak bercanda, tidak tergiur oleh tawaran es krim, tidak menjawab bila ditanya “ada apa?”. Banyak modus telah dicoba, ia tetap manyun dengan muka cemrungut, hingga saya tidak tahu lagi cara merayunya. Dalam situasi kalut seperti itu, saya hanya bisa bilang pada ibunya; “tolong urus anakmu, saya repot!”
Begitulah tabiat anak perempuan saya yang baru menanjak 5 tahun. Anehnya, semua “keganjilan” yang saya lihat dalam personalitasnya, juga pernah saya hadapi pada masa-masa ketika saya berteman dekat dengan beberapa perempuan, di masa lalu tentunya. Pertanyaan saya adalah, apakah semua perempuan begitu? Sulit ditebak isi hatinya, gampang merajuk tanpa sebab, gandrung memonopoli perhatian, dan gemar membuat lawan jenisnya merasa bersalah, hingga harus bertekuk lutut di hadapannya. 


Serba-serbi keganjilan, atau barangkali “keanehan” tabiat perempuan inilah yang saya catat dari beberapa cerpen karya Wina Bojonegoro dalam buku ini. Naomi dalam cerpen Rumah Rahasia misalnya. Ia tampil seolah-olah  peduli dan bersimpati pada kaumnya sesama perempuan, terutama Layla. Tapi dalam kenyataannya, ia tidak sudi kehilangan perhatian dari Kiby. Buktinya, sudah tujuh tahun ia “menguasai” Kiby. Naomi dan Kiby membangun sebuah rumah rahasia, di luar rumah “resmi” masing-masing. Pengarang kemudian merancang sebuah adegan yang bercorak sinetronik, yang membuat Layla akhirnya menemukan rumah rahasia itu. Pasti dapat ditebak apa yang terjadi dalam peristiwa tatap mata segitiga itu; Layla, Naomi, Kiby. Dikatakan, rahasia Kiby-Naomi terbongkar, Layla tahu ternyata suaminya telah menjalin hubungan dengan Naomi, seniman musik terkemuka itu, jauh sebelum ia menikah dengan Kiby. Anehnya, dalam cerpen ini, tabiat keperempuanan Naomi terasa lebih alamiah dan kodrati; menguasai, merebut perhatian, bahkan dalam batas-batas tertentu, mempertahankan Kiby dalam situasi bersalah bila abai mendatangi “rumah rahasia”. Sementara Layla, problemnya terasa klasik, klise, dan banal; dinikahi hanya untuk mendapatkan keturunan, mungkin hidup dalam keberlimpahan, namun tanpa cinta. Wina lebih memperlihatkan “kemenangan” Naomi ketimbang upaya perlawanan Layla. Ia seolah-olah hendak mengafirmasi bahwa perempuan memang bermuka dua. Mendapatkan cinta kalau bisa, dan menguasainya sekaligus, bila perlu.   

2.
Dua Muka Kaum Perempuan
           
Saya punya sejawat yang hingga kini masih bertahan sebagai bujangan. Pasalnya hampir-hampir bisa diterka; patah hati. Namun, riwayat putus-cinta yang satu ini agak berbeda. Di masa lalu ia pernah jatuh pada seorang perempuan. Kebetulan perempuan itu sudah janda dan beranak dua, pula. Namun, sejawat saya itu menyadari betapa orangtuanya--khususnya ibunya--tiada bakal merelakan anak bujangnya mempersunting perempuan yang tidak sepadan. Lazimnya, perjaka tingting  tentu selayaknya mendapatkan perawan. Sebagai anak yang patuh, ia tidak mampu berhadapan dengan kehendak ibunya. Maka, ia memilih untuk mengalah, dan hingga kini tidak lagi tertarik untuk menikah. Poin penting saya dalam kisah ini adalah ibunda dari sejawat saya. Ia ingin anak bujangnya menikah dan berbahagia dengan pasangannya, tapi tidak dengan menikahi janda. Sebab, ia merasa rugi bila menantunya “hanya” seorang janda, beranak dua pula. Dengan begitu, atas kehendak dan otoritasnya, ia mesti tega melihat anaknya membujang, bahkan mungkin untuk selamanya. Peristiwa ini terjadi dalam cerpen Lebaran Untuk Palupi. Ibunda Sakti sama sekali tidak menduga bila anaknya ternyata kecantol pada Palupi, janda beranak dua. Perempuan itu teman sekolah Sakti di masa lalu, setelah beberapa tahun mereka bertemu kembali, hingga dapat pula ditebak apa yang terjadi. Sakti dianggap melanggar kelaziman, namun dalam cerpen ini pengarang mengisahkan bahwa hubungan Sakti-Palupi akhirnya disetujui. Meski begitu, batin sang mertua masih saja bergolak. “Dengan segala kelebihan yang dia punya, mestinya ia pantas mendapatkan gadis jelita dengan karir mantap dan dari keluarga baik-baik.” Persoalannya hanya karena Sakti memang sudah mesti menikah, dan karena itu bagi ibunya; janda pun jadi, asal mau menikah. Namun, kompromi semacam itu, tidak dapat membuat perempuan terselamatkan dari mentalitas standar ganda.
            Situasi dilematis semacam itu terulang kembali dalam cerpen Hujan Bulan Januari. Bedanya, kali ini perempuan perawan yang jatuh cinta pada laki-laki yang sudah berkeluarga. Sedemikian kerasnya karakter tokoh rekaan bernama Pelangi itu, ibundanya sendiri tidak memiliki kekuatan untuk menghadang langkah anak gadisnya. Meski sudah berkali-kali diingatkan betapa bejatnya perangai merampas suami orang, Pelangi tiada goyah sedikitpun. Bahkan ibunya sudah berterus-terus bahwa di masa silam ayahnya pergi, juga karena diambil oleh perempuan lain. Ibunya tidak lain adalah korban dari perempuan selingkuhan, sementara Pelangi melakukan perbuatan serupa secara terang-terangan. Suatu ketika diceritakan, setelah cukup lama mengayuh bahtera keluarga, Pelangi kena batunya juga. Suaminya pergi dan tak kembali. Ia harus berjuang sendiri membesarkan anak-anak.Pelangi jadi tahu betapa menyakitkan dikhianati laki-laki.
Pertanyaan pentingnya adalah, kenapa ketika Sakti--laki-laki dalam cerpen Lebaran Untuk Palupi--menikahi seorang janda, pengarang tidak menceritakan betapa terhinanya Palupi yang dipandang sebelah mata, atau katakanlah direndahkan oleh calon mertuanya? Sementara ketika Pelangi--perempuan dalam cerpen Hujan Bulan Januari--memilih laki-laki yang sudah punya istri sebagai suami, pengarang begitu gairah membangun peristiwa dramatik tentang sedemikian tragisnya nasib perempuan yang dilukai oleh laki-laki? Kalau begitu, apa pilihan pretensi pengarang yang sesungguhnya? Membela perempuan yang dilemahkan oleh laki-laki, atau justru berdiri di pihak laki-laki yang sepanjang hidupnya dikendalikan oleh kuasa perempuan?
Mentalitas standar ganda perempuan juga berlangsung dalam cerpen bertajuk Mozaik. Betapa tidak? Lewat tokoh bernama Jo, guru privat piano yang kemudian menjadi pasangan selingkuh nyonya rumah bernama Vie, kisah bergulir memperlihatkan betapa Jo hanya berperan sebagai pelampiasan atas kekecewaan Vie akibat perlakuan suaminya. Laki-laki yang dibayar oleh Bram (suami Vie) untuk menjadi guru piano agar istrinya punya kesibukan, mampu membaca betapa dirinya tak lebih dari sekadar oase di tengah padang gersang hubungan Bram-Vie. Namun, jika ditilik dengan perspektif lain, cerpen ini sesungguhnya tidak hendak menyumpahi permainan liar Bram dengan perempuan-perempuan selingkuhannya, melainkan justru menegaskan betapa berkuasa Vie. Tengoklah, ia berhasil menguasai suaminya dalam urusan uang dan gelimang kemewahan. Pengarang menyebut Bram sebagai mesin ATM bagi Vie, sementara Jo adalah laki-laki idaman yang juga berhasil ia rengkuh untuk mereguk kepuasan yang lain. Alhasil, atas nama harga diri, Bram kemudian menembak mati Jo, laki-laki yang telah meniduri istrinya. Pertanyaannya, bukankah dalam peristiwa ini, Bram dan Jo adalah korban dari siasat keperempuanan Vie? Nyonya besar itu memang mengutuk kebejatan suaminya, tapi bukankah ia masih dapat memanfaatkan Bram suaminya? Maka, alih-alih hendak memonumentasikan petaka kaum perempuan, Wina akhirnya malah terjerumus menegaskan kuasa perempuan atas laki-laki.    
Akibat-akibat tak tersengaja yang akhirnya menyingkap dua muka kaum perempuan sebagaimana yang terjadi dalam beberapa cerpen Wina, mengingatkan saya pada sebuah film berjudul  Las Vegas (2013). Berkisah tentang empat orang laki-laki (Robert De Niro, Michael Douglas, Morgan Freeman, Kevin Kline) yang bersahabat sejak masa kanak-kanak hingga usia mereka mendekati 60 tahun. Billy--yang diperankan oleh aktor kawakan Michael Douglas--diceritakan akan mengakhiri masa lajangnya di usia 58 tahun dengan sebuah pesta di Las Vegas. Ia menyampaikan kabar baik itu pada Paddy (Robert De Niro), Archie (Morgan Freeman) dan Sam (Kevin Kline) yang tinggal di kota berbeda-beda.  Berita ini cukup mengagetkan bagi tiga orang sahabat Billy. Betapa tidak?  Bukan saja karena Billy hendak menikahi gadis yang terlalu muda untuk ukuran usianya yang sudah hampir berkepala enam, tetapi juga karena mereka hampir mempercayai bahwa Billy akan membujang seumur hidupnya. Namun, atas dasar kesetiaan, dengan segala keterbatasan di usia tua, mereka tetap datang ke Las Vegas. Bahkan Paddy yang baru saja kematian istri dan sangat kecewa pada Billy, setelah dibujuk akhirnya juga bergabung dalam perjalanan yang melelahkan ke  Las Vegas. Paddy hampir-hampir tidak bisa memaafkan kesalahan Billy. Betapa tidak?  Mereka berteman sejak usia 7 tahun, tapi Billy tidak datang pada hari pemakaman Sophie, istri Paddy. Padahal, di masa berkabung itu, Paddy sangat mengharapkan kedatangan sejawat-sejawat karibnya--apalagi Billy--yang diinginkannya untuk menyampaikan pidato pemakaman Sophie. Namun, dalam keriuhan pesta di Las Vegas akhirnya terungkap juga penyebab kesalahan fatal Billy itu. Di masa muda, Billy dan Paddy ternyata jatuh cinta pada perempuan yang sama; Sophie. Paddy dan Billy meminta Sophie untuk memilih, dan mereka sama-sama siap untuk menerima kenyataan. Dikisahkan, ternyata Sophie mendatangi Billy, ia menjatuhkan pilihan pada laki-laki itu. Dengan begitu, Paddy mesti mengalah. Namun, Billy tidak sampai hati membiarkan sahabatnya terluka karena ditolak cintanya. Tanpa sepengetahuan Paddy, ia meminta Sophie mendatangi Paddy, dan meminta perempuan yang dicintainya itu untuk memilih dan mencintai Paddy saja.  Billy tidak tega melihat teman setianya kecewa. Alhasil, Sophie benar-benar memilih Paddy, mereka menikah, dan rahasia tentang kedatangan Sophie ke rumah Billy, tentang permintaan Billy agar Sophie mencintai Paddy, tersimpan rapi bahkan hingga Sophie meninggal dunia.
Pertanyaan pentingnya adalah, kenapa Sophie mau saja melenggang dan meninggalkan Billy? Padahal sudah jelas pilihan jatuh pada laki-laki itu. Apakah cinta bisa berubah haluan seketika? Bagaimana dengan teori-teori yang mengklaim perempuan lebih setia dari laki-laki. Apakah batinnya tidak bergejolak ketika melihat orang yang disayanginya merana seumur-umur? Inilah kerunyaman personalitas perempuan yang nyaris tak dapat dijelaskan, meskipun korbannya telah berjatuhan di mana-mana. 

3.
Sebuah Kemungkinan Perempuanologi?

Hingga ulasan sederhana ini saya tulis, saya masih angkat tangan dengan lapisan-lapisan topeng yang senantiasa menutupi wajah perempuan. Saya sungguh-sungguh belum berhasil menyelami kedalaman dunia keperempuanan. Perempuan, bagi saya, bagai sumur tanpa dasar. Tiada bakal ada ujungnya. Barangkali Anda tidak pernah membayangkan ada seorang perempuan yang menyelenggarakan majelis Yasinan keluarga, guna meyakinkan bahwa anak laki-lakinya sudah mati. Padahal anaknya masih sehat dan segar-bugar, nun jauh di tanah rantau. Pasalnya sederhana,  anaknya menikah dengan perempuan rantau, tidak direstui, dihukum haram menginjak kampung halaman, dan dianggap sudah tiada. Itu sebabnya dibacakan Yasin. Bukan untuk mendoakan arwahnya, melainkan untuk memaklumatkan pada khalayak bahwa anak durhaka itu sudah meninggal. Perempuan dan ibu macam apa yang bisa segila itu? Saya pastikan ia nyata adanya.
       Dapatkah disiplin ilmu sosial semacam psikologi menjelaskan tentang perempuan yang berkesimpulan bulat bahwa kekasihnya tidak lagi mencintainya hanya karena laki-laki itu lupa hari ulang tahunnya? Atau hanya karena pasangan laki-lakinya lupa warna pink kesukaannya? Bagaimana mungkin hal-hal remeh dapat menjadi tolak ukur cinta atau tidak-cinta? Percaya atau tidak, di kurun mutakhir ini banyak pasangan putus di tengah jalan hanya karena laki-lakinya tidak gandrung bertanya; “apa kabarmu say?” “lagi di mana”? “Lagi ngapa,” “Udah makan belum?”. Tapi anehnya, karena kuasa perempuan, laki-laki sekeras dan sekaku apapun, bisa bersimpuh di hadapannya. Teman tajir saya yang seumur-umur tidak pernah memikul beban berat, demi seorang perempuan pujaan, rela hati mengusung dan menjinjing barang bawaan di bandara. Laki-laki yang tidak biasa berbelanja barang-barang keperluan perempuan, bisa dibuat pulang dengan tas belanjaan berisi lingerie, celana dalam, bahkan pembalut wanita. Itu semua bisa terjadi karena kuasa perempuan yang menakjubkan itu.
Jangan coba-coba mengabaikan perempuan, Anda bisa menderita dibuatnya. Tengoklah berapa banyak laki-laki yang siap berbaku-hantam demi perempuan, laki-laki yang setengah gila setelah ditinggal pergi perempuannya, laki-laki yang menyia-nyiakan keluarga demi perempuan selingkuhannya, laki-laki yang hancur berantakan karirnya karena perempuan, bahkan laki-laki yang jatuh merana lantaran kekayaannya dikuras-tuntas oleh perempuan pujaan. Saya tidak bisa memahami mengapa perempuan bisa setangguh itu? Memasuki dunia keperempuanan bagi saya, seperti memasuki alam metafisis, yang tiada bakal tersingkap misterinya. Seorang sahabat, korban kedigdayaan perempuan, pernah mengungkapkan bahwa kalau Saudara ingin tahu siapa sesungguhnya makhluk bernama perempuan, hanya ada satu cara; menjadi perempuan. Masuki alam bawah sadarnya, sibak semua lapisan tabirnya, lepaskan semua topengnya.  Ia menyebut studinya dengan “Perempuanologi”. Sebuah disiplin yang belum terdaftar dalam khazanah ilmu-ilmu sosial dan humaniora mutakhir.  
Sebagian besar cerpen karya Wina Bojonegoro dalam buku ini berkemungkinan menyediakan banyak pintu menuju alam keperempuanan yang menyimpan banyak tanda tanya, misteri, dan teka-teki itu. Namun, betapapun runyamnya hidup berdampingan dengan perempuan, betapapun repotnya melayani segala kebutuhan perempuan, betapapun abu-abunya warna perempuan, hingga saat ini, anehnya, saya belum sanggup hidup tanpa perempuan…