Search This Blog

Friday, March 03, 2006

Perempuan Berkerudung Api

Cerpen : Damhuri Muhammad

(Media Indonesia, 27 November 2005)

TIADA cela pada diri Nilam Sari. Cerdas otaknya. Tinggi sekolahnya. Taat ibadahnya. Anggun paras wajahnya. Santun tutur katanya. Lembut suaranya bila menyapa. Pandai benar ia membawa diri. Maka, banyaklah lelaki yang menaruh hati, berhasrat ingin mempersuntingnya. Pinangan pernah datang dari Tanbara. Lelaki dari kampung sebelah. Kabarnya, sudah tiga tahun berdinas sebagai tentara. Nilam Sari hanya menunduk dan diam sewaktu Tanbara beserta keluarga datang melamar. Tapi, bukankah tak menjawab sudah berarti sebuah jawaban? Diam pertanda menerima.

Senang tiada terkira Cu Sidar merasa. Tak disangka, ia bakal punya menantu tentara. Berpangkat sersan pula. Tegap tampangnya. Berwibawa penampilannya. Serasa mendiang ayah si Nilam bakal hidup lagi. Almarhum suami Cu Sidar, dulu juga tentara. Maka, yang hilang bakal berganti. Tentara berganti tentara. Semoga kelak mereka dikaruniai anak laki-laki yang bercita-cita jadi tentara pula.

Saat akad nikah akan digelar, (sebelum ijab dan qabul diucapkan di depan penghulu), tiba-tiba Tanbara menghentak-hentak seperti kesurupan, dan menolak duduk bersanding dengan calon istrinya. Gemetar dan menggigil lelaki berkepala cepak itu setelah melihat Nilam Sari muncul dari kamar, mengenakan baju pengantin, lengkap dengan kerudung yang melingkar di kepalanya. Konon, dari kerudung merah jambu penuh renda-renda itu, asal-muasalnya petaka. Percaya atau tidak, Tanbara bersaksi, kerudung itu dilihatnya serupa lidah api yang menjalar-jalar di ubun-ubun Nilam Sari. Perempuan itu seperti sedang menjunjung tungku yang menyala. Panas minta ampun hawa di dalam rumah Cu Sidar. Tanbara berkeringat, disertai cemas dan waswas bakal dilalap api bila mereka tetap menghadap penghulu. Seperti dikejar hantu Tanbara lari terbirit-birit, meninggalkan kerumunan orang-orang yang terperangah keheranan.

"Tidak, saya tidak akan menikah dengan Nilam. Ia memakai kerudung api. Bisa mati gosong saya dibuatnya," ucap Tanbara berulang-ulang, serupa orang mengigau.

Malanglah nasib Cu Sidar. Maksud hati hendak menggelar pesta besar-besaran. Kambing dan sapi sudah siap disembelih. Undangan sudah tersebar pula. Tapi celaka! Akad nikah batal. Entah iya, entah tidak. Nilam Sari mengenakan kerudung api. Membikin takut si tentara, hingga tak berani mendekat. Ah, siapa pula yang tak gamang melihat kobaran api? Hari itu, Cu Sidar gagal bermenantu tentara.

"Kerudung macam apa pula kiranya yang kaupakai, Nilam?"
"Apa benar yang dikatakan Tanbara?"
"Sudahlah, Mak! Mungkin tak berjodoh awak dengan tentara."

Tak sekali dua musibah ini menimpa Cu Sidar. Pernah pula pinangan datang dari Zulkifli, si perantau muda. Kabarnya, sudah punya toko kelontong di Jakarta. Setinggi-tinggi terbangnya burung bangau, di kubangan juga tempat hinggapnya. Sejauh-jauh Zulkifli merantau, di kampung juga ia hendak mencari bini. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Nilam Sari, si gadis elok laku kebetulan masih sendiri. Jatuhlah pilihan pada perempuan itu.

Sejatinya, sudah tersiar 'kabar kabur' soal Nilam Sari. Anak tunggal Cu Sidar itu memang cantik alang kepalang, mengundang puja-puji, decak kagum di sana-sini. Tapi, manalah mungkin Zulkifli dapat memilikinya? Nilam Sari serupa mawar berduri. Sedap hanya dipandang mata. Bila disentuh, Eiit…! Tangan bisa terluka. Dari mulut ke mulut diceritakan, perempuan itu kerap terlihat memakai kerudung api. Menyala, menjalar-jalar, serupa api unggun yang berkobar di ubun-ubunnya. Lebih-lebih, bila yang melihat adalah lelaki yang menaruh hati.

"Awak tak peduli. Akan awak lamar itu si Nilam," tekad Zulkifli, meluap-luap, menggebu-gebu.
"Setelah menikah, akan awak boyong ia ke Jakarta."
"Coba saja kalau kau berani!"
"Tubuhmu bakal hangus terbakar di malam pertama."
"Ingat, Nilam Sari tak akan pernah bersuami!"
"Diam kalian! Sebentar lagi awak akan jadi lakinya."

Begitulah. Nilam Sari tak menyela barang sepatah kata pun ketika ibu-bapak Zulkifli melamar ke rumah Cu Sidar. Seolah tiada bertenaga ia mengangkat kepala, sekadar menatap kening Zulkifli yang makin mengilat saja sejak sukses jadi pedagang. Tentu, diam sudah jadi kiasan sebuah jawaban. Nilam Sari tak banyak pilih.

Giranglah pula hati Cu Sidar. Dihitung-hitungnya persediaan uang yang tersisa, guna menggelar helat yang hanya sekali seumur hidupnya. Bila tak cukup, tidaklah soal. Jual saja satu-dua koin emas yang tersimpan rapi dalam kaleng bekas biskuit di biliknya. Tak perlu khawatir, bila kelak si Nilam benar-benar diboyong ke Jakarta. Sekali waktu bila rindu, bolehlah Cu Sidar berkunjung ke sana. Menjenguk cucu sambil melihat-lihat usaha si menantu. Pun, bila modal berdagang perlu ditambah, tak pula sukar bagi mertua kaya seperti Cu Sidar. Lelang saja sawah barang sepetak dua petak. Lalu, uangnya kirimkan untuk Zulkifli!

Tapi musibah datang lagi. Meski baju pengantin sudah berganti. Kali ini bersulam benang emas, mengilat kekuning-kuningan. Kerudung penutup kepala juga bukan Merah Jambu lagi. Sudah berganti Putih, pertanda hati yang suci. Namun, tetap saja ubun-ubun Nilam Sari menyemburkan hawa panas yang membara. Lidah api menjilat-jilat, menjalar-jalar. Belum lagi penghulu datang, Zulkifli sudah lari terkangkang-kangkang. Serupa dikejar hantu, calon mempelai itu menghamburi kerumunan tamu, lalu melompat lewat jendela. Tak tahan ia menanggung panas yang menyeruak dari kerudung api di kepala Nilam Sari.

"Menyesal awak cari bini di kampung ini. Masa si Nilam berkerudung api. Bisa hangus jadi abulah awak nanti."
"Cari gadis lain, jangan kawin dengan perempuan berkerudung api!"

****
Mana mungkin kami dapat memiliki delapan belas bidang sawah, empat bidang kebun kelapa, tiga kaveling ladang cengkih, dan berpuluh-puluh keping koin emas itu, bila anak gadisnya masih ada? Silsilah keluarga Cu Sidar tidak akan punah selama Nilam Sari, putri tunggalnya itu masih hidup. Tentu, ke tangan perempuan itulah hak waris bakal jatuh. Akan bertambah panjang pula penantian kami bila gadis hitam manis itu sudah dilamar orang. Menikah, berketurunan, berkembang biak melahirkan ahli-ahli waris baru. Tapi, kami sudah lama melarat. Kami ingin hidup makmur seperti Cu Sidar, saudara jauh kami itu. Kami ingin menjadi ahli waris hartanya. Sudah bosan kami hidup miskin. Tapi, bagaimana caranya?

"Nilam Sari tak boleh dapat jodoh!"
"Banyak yang jatuh hati padanya. Mana mungkin kita halangi?"
"Pokoknya, jangan sampai ia menikah, apalagi punya keturunan."
"Apa yang mesti kita perbuat?"
"Bila tak mempan cara lahir, pakai cara batin. Guna-gunai saja perempuan itu!"

Sedikit lega kami merasa. Kini, Cu Sidar sudah tiada. Sejak kegagalan demi kegagalan perkawinan anak gadisnya itu, sering ia sakit-sakitan. Jarang keluar rumah, mengurung diri dalam bilik. Ada kami tawarkan bantuan, hendak membawa perempuan ringkih itu ke rumah sakit. Siapa tahu ia mengidap penyakit kronis. Soal biaya, tidaklah jadi pikiran. Tinggal menjual satu-dua koin emas yang masih menumpuk dalam kaleng bekas biskuit. Tapi Cu Sidar menolak. Ini sudah penyakit tua, percuma, katanya. Kian hari, kian buruk saja keadaannya, hingga Cu Sidar terbaring lemas, berhari-hari tak sadar diri. Meninggal juga Cu Sidar akhirnya. Kami kuburkan jenazahnya di belakang rumah, sesuai wasiatnya.

Agaknya tidak akan lama lagi kami menunggu. Delapan belas bidang sawah, empat bidang kebun kelapa, tiga kaveling ladang cengkih dan berpuluh-puluh keping koin emas itu bakal jadi milik kami. Tentu, setelah Nilam Sari, perempuan berkerudung api itu juga mati, menyusul Cu Sidar, emaknya. Mustahil Nilam Sari beroleh suami. Sebab, ia masih dikuasai kekuatan jampi-jampi kami. Maka, ia tetap saja perempuan berkerudung api. Siap membakar tubuh lelaki mana pun yang berhasrat memperistrinya.

"Persingkat saja penungguan kita!"
"Apa pula maksudmu?"
"Putuskan tali jantung perempuan itu! Biar mampus...."
"Jangan buru-buru, sabar sedikit!"
"Tak dibunuh pun, bakal mati sendiri"

****
Lengang benar rumah itu sepeninggal Cu Sidar. Sementara itu, gunjing perihal perempuan berkerudung api tak kunjung reda. Tak tahu Nilam, ke mana hendak mengadu. Kawan-kawan sejawat dan tetangga-tetangga dekat tiada berkenan mendengar keluh kesahnya.

"Kelak bila tak ada lagi yang dapat dianggap saudara, lebih baik pergi jauh-jauh!" begitu nasihat Cu Sudar pada Nilam Sari, beberapa hari sebelum kematiannya.
"Bolehlah kau tak berjodoh di kampung ini. Siapa tahu di negeri seberang, ada lelaki yang menunggumu."

Delapan belas bidang sawah, empat bidang kebun kelapa, tiga kaveling ladang cengkih, dan berpuluh-puluh keping koin emas peninggalan Cu Sidar, dijual Nilam Sari, ludes tak bersisa. Juga rumah dan semua perabotannya. Bukankah itu semua memang milik Nilam Sari?

"Kenapa tak kausisakan kami barang sedikit, Nilam?"
"Kami juga saudara emakmu, bukan?"
"Sisakanlah barang sebidang kebun kelapa atau ladang cengkih!"
"Saudara? Saudara apa namanya yang tega mengguna-gunai anak gadis saudaranya sendiri?"
"Kalian buat saya berkali-kali gagal menikah. Kalian baca jampi-jampi agar kerudungku tampak serupa kobaran api. Kalian ingin kami punah. Lalu, kalian bakal menjawab hak waris. Kalian masih menganggap emak saya sebagai saudara?"

Tergesa-gesa Nilam Sari pergi meninggalkan kami. Entah ke mana ia hendak menuju. Terus kami perhatikan langkah-langkah gegasnya. Di ujung jalan, sedan cokelat tua berhenti dalam keadaan pintu terbuka, siap membawa perempuan itu. Sebelum masuk ke dalam mobil, masih kami lihat kobaran api menjalar-jalar di ubun-ubunnya. Nilam Sari tetaplah perempuan berkerudung api, selama masih menginjakkan kaki di kampung ini. Pengaruh guna-guna itu akan musnah, bila ia sudah menyeberang laut. Entah siapa yang membuka rahasia jampi-jampi kami. Mungkin, Nilam bakal berlayar. Jauh, ke negeri seberang. Agar kutukan kerudung api itu hilang. Agar, ia segera beroleh jodoh. Menikah. Meneruskan silsilah keluarga Cu Sidar. Meski usianya sudah berkepala empat.

** Kelapa Dua, 2005

No comments: