Search This Blog

Wednesday, October 04, 2006

P A D U S I

Cerpen : DAMHURI MUHAMMAD

(Tabloid NOVA, Edisi 09/04/2006)

Seolah ada yang menghentak di rongga dadanya bila menatap mata perempuan itu, serasa menguap cairan di tenggorokan bila mendengar suaranya. Risih, salah tingkah, gugup. Mereka masih kelas dua waktu itu. Masih bau kencur. Duduknya di lajur meja murid perempuan.Sementara lelaki itu di deret paling belakang lajur meja murid laki-laki. Saat guru uraikan materi ajar, ia asyik mematut-matut bentuk tubuh perempuan itu, dan berharap sesekali ia menoleh ke belakang. Padusi, namanya. Tak termasuk kategori cantik bila dibanding dengan perempuan lain di kelas itu. Juga tak terlalu cerdas. Sedang-sedang saja rangkingnya. Tapi, kulitnya putih. Amat putih. Parasnya seperti orang Jepang. Mirip Oshin. Memang ia tidak cantik, tapi berwajah unik. Dan, lelaki itu suka!

Kota kecil itu terhampar di dataran tinggi, di garis tengah antara Padang dan Bukittinggi. Paling dingin dari kota-kota lain. Yang penting bukan soal suhu udaranya itu, tapi perihal sejarah yang mencatatnya sebagai Serambi Mekah. Pesantren-pesantren tegak berdiri. Kota Santri. Tempat orang mengaji. Tiga tahun Husnan di sana, sejak terdaftar sebagai siswa Madrasah Aliyah Negeri. Sebagian besar siswa tinggal di asrama. Tapi, Husnan menyewa kamar kost. Jangankan bayar biaya asrama, minta persetujuan emaknya untuk bersekolah di sana saja susahnya minta ampun. Bukan tak mau, tapi karena emaknya tak mampu. Husnan tinggal di kamar berlantai palupuah. Bambu kering yang dihancurkan, lalu dihamparkan seperti tikar. Memadai sebagai lantai, pengganti papan. Pemilik rumah itu perempuan paruh baya yang bersendiri sejak kematian suaminya. Di sisi kiri kamar Husnan, ia buka warung sederhana. Jualan bubur kacang hijau, ketan dan lontong sayur. Husnan memanggilnya : Etek. Sebutan paling santun bagi perempuan seusianya. Belum sempat ia bertanya, etek punya anak? jika punya di mana mereka? kenapa anaknya tak pulang? Yang jelas, etek kewalahan kerja sendiri

Tanpa disuruh, Husnan turun tangan mencuci piring kotor yang menumpuk. Diperhatikannya cara etek hidangkan porsi kacang hijau, lontong sayur dan ketan. Lambat laun, Husnan belajar cara masaknya. Sebelum subuh ia sudah bangun, kadang lebih dulu bangun dari etek. Dimulainya pekerjaan yang ia bisa. “Sejak dulu banyak anak-anak aliyah tinggal di sini, tapi belum ada yang ringan tangan sepertimu” begitu etek memuji. Tak lama, Husnan makin telaten. Masak, bumbui gulai, bikin adonan tepung untuk pisang goreng, layani pembeli. Bulan ketiga Husnan mesti bayar sewa kamar, etek menolak. Dimintanya Husnan tak merasa sebagai penyewa lagi. Sejak itu, hubungan mereka tak serupa penyewa dan pemilik barang sewaan.


Pulang sekolah Husnan ke pasar. Belanja keperluan warung. Aneka jajanan ringan pengisi toples, bumbu-bumbu masak. Kerap ia kepergok teman-teman perempuan sekelas di angkutan umum. Mukanya berpeluh setelah memikul barang bawaan. Seragamnya belepotan bumbu giling, karena plastiknya bocor. Mereka bisik-bisik, sesekali tertawa cekikik. Entah apa yang lucu. Tapi Husnan duga, tentu mereka sedang asyik bergunjing dan menertawakan kemiskinannya.

Nama lengkapnya Husnan Daresta. Tapi, di daerah sekitar warung itu dipanggil : Oyong. Karena kerempeng, cara jalannya agak aneh. Terhuyung-huyung seperti orang mabuk. Di sana, ‘terhuyung-huyung’ lebih tepat disebut ‘Oyong’. Oleng, karena tak imbang. Jadilah : Oyong. Nama warungnya ; Lepau Baru. Pagi, ia layani teman-teman asrama, malamnya bapak-bapak, preman-preman kampung yang nongkrong sambil minum kopi, nonton tv dan berjudi. Di sana, warung bakal sepi bila tak sediakan fasilitas judi.
***


Mengendap-ngendap Husnan di halaman asrama puteri. Pelan-pelan mendekat ke jendela kamar. Mengintip. Tak hanya hafal letak kamar, ia juga hafal posisi tidur perempuann itu. Tak ada hasrat apa-apa, meski nyaris tiap malam Husnan mengintipnya. Meski ada bagian tubuhnya yang tersingkap. Nyaris semua anak-anak daerah itu kenal Husnan. Meski tertangkap, mereka hanya akan ketawa atau bergabung mengintip. Bila bergabung, disarankannya agar mereka intip kamar yang lain, selain kamar Padusi.
“Cari sasaran sendiri-sendiri! Jangan caplok sasaran sesama pengintip!” bisiknya memberi peringatan
“Bilang saja kalau ndak boleh mengintip si Oshin itu!”
“Banyak cewek, tinggal pilih! Asal jangan Oshin. Jika belum ada lubang, buatlah lubang baru! Awas, jangan sampai ketahuan!”

Banyak catatan ditulisnya, tak selembar pun sampai ke tangan Oshin. Saban hari mereka berpapasan, bahkan kerap dapat kesempatan berdua. Tapi lidahnya seakan menggulung, tak mampu ucap apa-apa. Sering Oshin beli ketan dan pisang goreng masakannya. Berkeringat dingin ia saat bungkusi pesanan Oshin. Suatu pagi saat Oshin datang sendiri ke warung, tak sengaja ia pecahkan tiga gelas sekaligus.

Seorang teman dekat Husnan lancang berterus-terang pada Padusi. Maksudnya baik. Ia ingin Padusi tahu, Husnan jatuh hati setengah mati padanya. Reaksi Padusi kurang santun,

“Husnan itu preman, temannya orang-orang pasar”
“Anak sekolah kok mau jadi preman?”

Tak nyaman Husnan dengar nada sumbang itu. Tiba-tiba ia nekat. Dimintanya teman dekat itu panggil Padusi, Husnan menunggu di samping bangunan SD, tak jauh dari asrama itu. Padusi datang, Husnan langsung saja sampaikan perasaannya yang meluap-meluap selama ini. Oshin diam sambil menelan ludah, tak beri jawaban. Lalu, pergi.

Mungkin Padusi menolaknya mentah-mentah. Husnan lega. Hasrat menggebubung itu sudah terkatakan. Tapi, tak henti-henti Husnan dengar gunjing Padusi. Soal Husnan yang punya teman-teman preman, perokok berat, tak terpelajar, penjudi, suka mabuk. Bahkan Oshin pernah semburkan kalimat,“Husnan itu miskin”. Ini didengarnya dengan telinga sendiri.

Malam larut. Warung sepi. Tinggal Husnan dan teman-teman preman. Dibukanya sebotol Mansion ukuran sedang. Digasaknya sendiri. Tanpa sadar, semua kegilaannya pada Padusi terungkap. Juga luapan patah hati, karena cintanya bertepuk sebelah tangan. Rindu Seorang. Tiada berbalas. Hanya seorang.
“Ditolak ya ditolak, tapi jangan menghina!” ketus Bocet,
Husnan mabuk berat. Muntah-muntah. Wes, Jon Kompo, Cepong, Acil, Pencino, Mentiko, Onal, Muncak merasa kurang senang.
“Tenang Yong, kita buat Oshin mau. Masa’ orang seganteng kau ditolak?” kata Cepong membujuk, sekaligus meledek Husnan.
“Bila perlu kita paksa. Kalau ndak mau kita buat susah dia” dukung Pencino bersemangat.
Husnan mencegah. Tak mungkin ia biarkan preman-preman itu mencak-mencak, apalagi ngamuk-ngamuk di asrama puteri. Jangan sampai mereka bikin Husnan malu.
***

Seperti lazimnya, Koto Baru Padangpanjang penuh sesak oleh para pencinta alam. Mereka bakal nikmati detik-detik pergantian tahun di puncak gunung Singgalang. Sekilas Husnan lihat Padusi dalam keramaian itu. Rupanya Oshin juga hendak mendaki bersama rombongan teman-teman asrama. Berani-beraninya mereka berpasang-pasangan. Masa’ cewek-cewek jilbab ikut-ikutan pesta tahun baru di puncak gunung? Bila ketahuan, bisa dikeluarkan dari sekolah.

Padusi bergandengan dengan siswa kelas satu. Gila!. Ia pacaran dengan adik kelas. Husnan, Wes, Pul Cepong, Mentico, Onal, Muncak sedang nongkrong (sambil nyanyikan lagu-lagu lama dengan iringan gitar yang dimainkan Husnan), di gerbang pesangrahan yang dilewati para pendaki. Bagaimana pun desir di dadanya tak bisa sembunyi.Petikan gitarnya sejenak berhenti, Husnan ingin dekati Padusi. Walau sekedar tegur sapa.

Menyeringai seperti kucing laki-laki itu, menggertak Husnan.Postur tubuhnya besar. Lebih besar dari Husnan. Tanpa jeda, Husnan langsung tinju batang hidungnya. Berdarah. Saat ia berusaha melawan, Husnan hantam ulu hatinya, hingga tersungkur di depan Padusi. Masih mau membalas, teman-teman Husnan datang berhamburan.Satu persatu beroleh jatah. Babak belur pacar si Oshin, mukanya bonyok setelah dikeroyok. Husnan mulai kasihan, dilerainya keributan itu. Diberdirikannya laki-laki itu, dipapahnya. Bocet, Pencino, Pul Cepong dan Muncak melongo.

“Mau apa kau sebenarnya? Sudah kau hajar tapi kau pula yang menolong”
“Ndak baik berkelahi malam tahun baru” balas Husnan
“Hmn..! tapi dia sudah kau buat bengkak-bengkak”
Padusi dan rombongan batal mendaki. Berbalik arah kembali ke asrama. Ketakutan setelah saksikan sepak terjang Oyong Lepau Baru.

Sejak malam tahun baru kelabu itu, Padusi gamang lihat tampang Husnan. Ia mulai jaga cara bicaranya yang pongah itu. Diam-diam cari simpati. Tapi, Husnan tak selera lagi, meski rasa sukanya masih ada. Kegemarannya mengintip dari balik jendela kamar Padusi terus berlanjut, begitu pun kebiasaannya bayangkan segala kemungkinan paling indah andai Oshin jadi kekasihnya.
***

Lelaki itu, mahasiswa tahun pertama. Selain berkuliah ia kerja serabutan ; pengantar Susu Segar Murni keliling. Sewaktu antar pesanan pelanggan baru di sebuah perumahan di kota ini, seolah ada yang menghentak di rongga dadanya, serasa menguap cairan di tenggorokannya. Pelanggan itu mahasiswi berkulit putih serupa perempuan Jepang. Mirip Oshin ; Padusi. Ganjil penampilan Oshin. Leher mulus dan rambut lurusnya yang dulu hanya terlihat saat lelaki itu mengintip dari lubang jendela, tersingkap kini. Tanpa kerudung. Padusi pura-pura tak kenal.Padahal lekuk-lekuk wajah Oshin, mana mungkin ia lupa? Sorot mata perempuan itu ingin agar ia segera enyah. Lelaki itu pun cabut. Tapi ia lega. Sudah lama tak bertemu Oshin.

Sore itu pertemuan terakhir mereka. Tak nampak lagi batang hidung lelaki itu. Mungkin, telah dikuburnya rindu pada Padusi. Mungkin, ia sudah paham, perempuan itu tak akan berdamai dengan kemiskinannya. Mungkin sudah dilupakannya Padusi. Dilupakannya Oshin. Meski, tak pernah ia benci perempuan itu.

Jogja, 16 Juli 2001

“Di mana ia kini?”
“Di mana Oshin-mu itu, Husnan?”

Kabar terakhir yang kudengar, kuliahnya kacau. Padusi drop out. Karena buru-buru harus nikah dengan juragan kelapa sawit di kampungnya. Padusi bunting di luar nikah. Kini, ia sudah beranak tiga. Dua perempuan, satu laki-laki. Dan, raut mukanya tak serupa Oshin lagi.

Kelapa Dua, 2005

No comments: