Search This Blog

Monday, October 02, 2006

Taman Benalu

Cerpen : Damhuri Muhammad

(Koran Tempo, 9 Juli 2006)

Bagaimana mungkin cucu-cucunya kelak bakal memetik buah? Pohon Limau*) yang ditanamnya mati sebelum berputik. Jangankan berbuah, berputik pun belum. Mula-mula benalu tumbuh di pangkal-pangkal daun, di ujung reranting. Tapi, perlahan-lahan akarnya menjalar. Meliuk, melingkar serupa ular, membelit dahan. Lalu, melilit pohon induk. Sukar membedakan mana daun limau, mana daun benalu yang hidup menumpang. Bukankah daun benalu dan daun limau sama-sama hijau?

Ingatan Muncak tentu makin tumpul di usia yang sesenja ini. Makin tua, makin banyak yang terlupa. Apalagi mengingat-ingat, kapan persisnya pohon limau itu mati tercekik dibelit akar benalu. Kapan persisnya tumbuhan parasit itu menikmati hisapan terakhir sari makanan dalam daging pohon limau. Muncak hanya ingat, sejak benalu tumbuh, berurat-berakar, daun-daun limau layu. Warnanya berubah kekuning-kuningan, mersik dan akhirnya lepas dari ranting dan dahan. Helai demi helai jatuh berguguran ditiup angin. Pohon induk, dahan, ranting pun bertelanjang ditempa terik, tanpa lindungan rerimbun daun. Bila masih tumbuh daun, itu bukan daun limau lagi. Tapi, daun benalu. Menghijau, sejak kematian pohon limau.

Angin apa yang menghembuskan bibit-bibit benalu ke kampung ini? Dari mana benalu itu bermuasal? Muncak hanya ingat, ia mulai bertanam limau, rambutan, durian, mangga, kuini, karena tak ada yang dapat ia wariskan pada cucu-cucu, selain tanaman-tanaman tua itu. Itupun sudah terlambat. Kenapa tidak dari dulu? Kenapa baru bertanam setelah umurnya berkepala delapan? Mungkin tak ada lagi pohon yang bakal tumbuh di tanah ini. Lihatlah! limau, rambutan, durian, mangga, kuini yang kelak buahnya bakal dipetik cucu-cucu, mati sebelum berputik. Mati muda, setelah batang dan akarnya digerogoti benalu.

Siapa penyemai benih benalu di lahan-lahan subur kampung ini? Mungkinkah ini ulah para pendatang dari kampung-kampung jauh? Para perantau dari dusun-dusun tak bertuan? Tamu-tamu tak diundang dari pedalaman tak bersuku? Dulu, mereka bukan siapa-siapa. Hanya para pengais rejeki di tanah leluhur Muncak. Anak-anak semang. Para kacung yang rela bekerja keras, andalkan tulang empat kerat. Mendulang upah demi perut tak berisi, punggung tak bertutup. Mengolah sawah tuan-tuan tanah. Menggembala ternak. Menebang kayu di hutan-hutan. Mengeping, menjual, menyetor uang pada juragan. Mereka hanya beroleh upah. Bila musim panen tiba, merekalah kuli-kuli angkut padi. Terbungkuk-bungkuk badan mereka saat memikul beban berat yang tak imbang dengan imbalan yang diperoleh.

“Apa mungkin mereka yang menyemai bibit benalu di kampung kita, pak?” tanya Nukman, putera Muncak. Dulu, sebelum ia pergi merantau jauh.

“Bukan hanya pembawa benalu. Tapi, merekalah benalu yang sesungguhnya”

Tuduhan Muncak boleh jadi benar. Andai penduduk asli seperti Muncak, keponakan-keponakannya, karib-kerabatnya sebagai pohon limau. Lalu andaikan pula para pendatang itu sebagai benalu. Tengoklah benalu-benalu itu! Bukankah si Danu, dulu hanya orang upahan yang mengolah sawah milik Muncak? Membajak, menyemai benih, bertanam, menyiang, memupuk, menuai, Danu yang mengerjakan. Tapi, setelah padi dituai, Danu membuat lukah dari anyaman bambu. Perangkap belut yang bakal dibenam ke dalam lumpur sawah sebelum tiba saatnya sawah itu ditanam kembali. Nyaris setiap sehari Danu mencari cacing tanah, sebagai umpan agar belut-belut masuk perangkap. Belut-belut sawah hasil tangkapannya, dijemur dua sampai tiga hari, sebelum dijual ke pasar Payakumbuh. Lambat laun Danu disebut-sebut sebagai penangkap belut sawah yang harga jualnya kian melonjak saja.

Orang-orang kampung sini kerap mengejek Danu, si tukang belut itu. Tiap hari tangannya bergelimang cacing. Menjijikkan. Sukar membedakan antara bau badan Danu dengan anyir bau cacing tanah. Orang-orang tak mau berlama-lama di dekatnya. Tapi, lihatlah Danu kini! Kerja kerasnya berbuah sudah. Sepetak dua petak sawah berangsur-angsur jadi miliknya. Saat Muncak perlu uang untuk biaya sekolah Nukman, ia harus melelang sawah dan sejumlah hewan ternak. Tak jauh-jauh Muncak cari pembeli. Danu pembelinya. Sejak itu, Danu mulai menggarap sawah milik sendiri. Mengembala ternak sendiri. Tak berbeda lagi antara orang datang dan orang asli kampung sini. Danu orang berpunya, kini.

Danu, Nuan, Ujangkol, Jalak dan para pendatang yang dulu hanya anak-anak buah, kini tak dapat dipandang sebelah mata. Danu bahkan sudah membeli sebidang tanah milik Muncak. Di atas tanah itu dibangunnya rumah batu. Beratap seng, berlantai keramik. Di sana ia dan anak-bininya tinggal. Di teras rumah itu, terparkir sepeda motor bebek buatan Jepang keluaran terbaru. Tak berlebihan bila disebut, Danulah orang pertama yang punya rumah besar dan terbilang mewah untuk ukuran kampung itu. Orang belum mampu beli sepeda motor, Danu sudah berjalan di atas roda. Kaki yang dulu tak berterompah itu, kini terbungkus sepatu kulit. Berpijak di atas pedal sepeda motor. Warna biru mengkilat. Halus suara mesinnya, tapi nyaring bunyi klaksonnya.

Waktu itu, Muncak lagi-lagi harus melelang tanah. Konon, untuk biaya pelicin agar Nukman diterima menjadi pegawai negeri di Jakarta. Pernah Muncak ditentang keponakan-keponakannya karena menjual tanah suku tanpa urung rembuk lebih dulu. Tapi, Muncak adalah pimpinan tertinggi para penghulu. Itu sebabnya ia bernama Muncak. Asal katanya ‘puncak’. Pucuk teratas kepemimpinan suku. Karena perubahan artikulasi, ‘puncak’ menjadi ‘muncak’. Anak dipangku keponakan dibimbing, begitu mestinya kearifan penghulu seperti Muncak. Nyatanya, Anak dipangku, keponakan dibanting. Harta warisan leluhur diboyong Muncak ke rumah bini. Ia menghidupi keluarga, membesarkan anak dengan menggadai, menjual harta pusaka. Jangankan sawah, ladang atau tanah garapan, lahan pemakaman suku pun bakal dilegonya bila perlu. Tak jauh-jauh Muncak cari pembeli. Danu, Nuan, Ujangkol, Jalak dan para pendatang yang makin kaya itu para pembelinya.

Kini tiba saatnya, Muncak hendak bertanam sesuatu. Meski hanya di lahan sempit yang tersisa, di belakang rumah kayu yang mulai lapuk. Itupun bukan miliknya. Tapi lahan milik keluarga Baiti (almarhumah istrinya), yang masih izinkan Muncak tinggal di sana. Untunglah mereka berbaik hati. Bila tidak, mungkin Muncak akan tinggal di surau. Kembali pada keponakan? Tak mungkin! Mereka tak punya rumah. Tanah yang mestinya menjadi hak mereka, ludes terjual. Tak bersisa. Keponakan-keponakan Muncak tinggal di rumah orang. Menyewa, seperti para perantau di kota-kota. Mereka merantau di tanah kelahiran sendiri.

Namun, sepohon pun tak tumbuh, apalagi berbuah. Semuanya mati sebelum berputik. Limau ditanam, benalu yang hidup. Rambutan, durian, mangga, kuini ditanam, benalu yang tumbuh. Tak ada pohon yang tumbuh di tanah gembur dan subur ini, kecuali benalu. Lahan tempat Muncak mengais-ngais tanah menanam pohon-pohon itu seumpama taman hijau yang makin rimbun, makin rindang. Tapi tak kunjung berbunga, berputik, apalagi berbuah. Bagaimana akan berbuah bila yang tumbuh hanya benalu?

****

Ragita senang bertanam-tanam. Bukan jenis bunga-bunga seperti kegemaran gadis belia lazimnya, tapi pohon-pohon yang kelak berbuah ranum dan manis. Pekarangan rumah itu penuk sesak oleh aneka pohon kesukaan Ragita. Dengan tangan halusnya Ragita menancapkan bibit jambu cangkok, kelapa hibrida, jeruk import yang dibonsaikan. Saban sore disiramnya. Ditaburkannya pupuk daun dan pupuk perangsang buah. Lalu, disemprotkannya racun pembasmi hama perusak.

Nukman heran mengamati tabi’at ganjil Ragita, anak perempuan satu-satunya itu. Tak serupa gadis-gadis sebayanya yang suka mendengar musik, baca novel teenlit atau nonton film-film bertema cinta. Ragita malah hobi bermain tanah. Meski, hanya di lahan pekarangan rumah. Sementara, papanya yang berasal dari kampung, tak pernah berfikir akan bertanam apa di tanah rantau ini. Maklumlah, sebagai pejabat eselon, Nukman sibuk dengan rutinitas pekerjaan kantor yang menyita waktu.

“Ntar kalo udah tamat SMU, sebaiknya Gita kuliah di fakultas Teknik saja! Lapangan kerjanya lebih menjanjikan”

“Ah, Papa. Nggak mungkin lah. Gita pengen pilih fakultas Pertanian”

“Mau jadi petani?”

Mungkin, Nukman ingin beritahu Ragita bahwa ia terlahir dari keluarga petani. Nun, di kampung yang sudah lama tak ditengoknya. Sejak Ragita masih bayi, hingga tumbuh jadi gadis remaja, belum pernah Nukman mengajaknya pulang kampung. Nukman hanya bilang, nenek sudah meninggal sebelum Ragita lahir. Kini, di kampung hanya ada kakek. Kakek Muncak, namanya.

“Bila ingin jadi petani, belajar dulu pada kakekmu!”

Saat musim liburan tiba, Ragita diajak papanya pulang kampung. Sambil menjenguk kakek Muncak yang mulai sakit-sakitan, tentu Ragita hendak bertanya-tanya perihal tanam menanam. Utamanya menanam bibit pohon yang kelak berbuah ranum dan manis. Dan, tiba juga saatnya Muncak perlihatkan apa yang pernah ditanamnya pada cucu tersayang itu. Di lahan sempit belakang rumahnya memang masih tersisa tunggul-tunggul pohon limau, rambutan, durian, mangga, kuini yang telah mati mengering, setelah akar dan batangnya dibelit benalu.

“Kenapa kakek biarkan benalu tumbuh di batang pohon-pohon itu?”

“Sudah kakek lakukan segala cara, tapi benalu itu ndak bisa mati”

“Wah, ini bukan kebun. Tapi, taman”

“Taman? Taman apa, Gita?”

“Taman Benalu”

Perjalanan kembali ke Jakarta amat menjengkelkan. Ragita kesal. Betapa tidak? Semula ia mengira bakal beroleh pelajaran berharga tentang bagaimana cara menanam yang baik. Sia-sia saja kepulangan Ragita temui kakek Muncak. Sesungguhnya, tak ada yang bisa tumbuh dari tangan dingin lelaki gaek itu, kecuali daun-daun benalu. Masih petanikah namanya bila yang ditanam bibit pohon jeruk, tapi yang tumbuh hanya benalu?

Kelapa Dua, 2006

Catatan :

*) Jeruk

2 comments:

papae_marvel said...

Setelah membaca "Taman Benalu" dan "Anak Peluru", saya tidak melihat "tuduhan" yang sempat dilontarkan Ito Ita Mustafa ketika diskusi. Mungkin memang terlalu bermain dengan prasangka sendiri ketika mencerna cerita Damhuri hingga terjebak pada pertanyaan sendiri.
Cuma memang sumber konflik di "Anak Peluru" yaitu Si Pelukis Wanita - Wafa berkesan tidak dalam. Tapi toh di dunia nyata juga kita sering menemukan hal seperti itu. Bertemu dengan seorang wanita yang oleh keluarga kita dan ditentang, meskipun alasannya tidak masuk akal. Sedang di "Taman Benalu" perenungan (maaf) picik seorang Muncak bisa jadi disalahartikan oleh pembaca bahwa "pendatang" adalah "benalu" padahal jika kita tanggap membacanya kita akan tidak simpatik terhadap pemikiran Muncak.

damhurimuhammad said...

Makasih apresiasinya kang.
Saya tidak mau menanggapi Ita Siregar, karena melihat gelagatnya membaca cerpen saya, dia tidak paham apa itu cerpen. Jadi, lebih baik saya diam.

DM