Search This Blog

Tuesday, January 09, 2007



Bila Jurnalis Jadi Cerpenis…

Oleh : DAMHURI MUHAMMAD

(Jawa Pos, Minggu, o7 Jan 2007)

Banyak dalih dapat diacungkan untuk menjawab tanya; kenapa seorang jurnalis tiba-tiba jadi cerpenis? Mungkin, karena jurnalis punya tumpukan data, dan sayang sekali bila hanya digunakan untuk menulis laporan jurnalistik. Seiring dengan berhamburannya buku-buku fiksi akhir-akhir ini, tentu tidak ada salahnya bila data-data yang berlimpah itu diracik dan diolah untuk "memproduksi" karya sastra, khususnya cerita pendek. Kenapa tidak? Mungkin pula karena para jurnalis hendak menyuarakan sesuatu yang tidak tersampaikan dalam laporan jurnalistik, dan salah satu pintu yang dapat mereka lalui adalah dengan menulis cerpen. Atau (jangan-jangan) karena sejak mula jurnalis itu memang sudah terobsesi hendak menjadi cerpenis.


Latar belakang kewartawanan memang cukup potensial menggiring sesorang menjadi sastrawan. Barangkali, karena dalam penggarapan karya jurnalistik mereka mesti taat kode etik, patuh pada rambu-rambu. Sementara dalam penulisan karya sastra, kode etik boleh dilanggar, tak ada rambu-rambu yang mesti dipatuhi. Bila cerpenis diamsalkan serupa pengendara di jalan raya, maka ia boleh menerobos lampu merah, parkir di sembarang tempat, bahkan boleh pula "mabuk berat" saat mengemudi. Agaknya, inilah pintu paling "aman" yang dapat disingkap sebelum masuk ke dalam "rumah kreatif" Akmal Nasery Baseral yang dijudulinya Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku.

Sekali lagi, ibarat seorang pengendara, "kecerpernisan" Akmal memang terbilang lumayan ngebut, meski saat mengemudi ia belum pernah mabuk (jadi, belum pernah mengalami kecelakaan). Saya bilang ngebut, karena hanya dalam rentang waktu empat bulan (Juli-Oktober 2006) cerpen-cerpennya yang "bergentanyangan" di sejumlah media cetak sudah memenuhi "kuota" untuk sebuah antologi. Bilamana staminanya terus terjaga, dalam setahun, Akmal tentu sanggup menelurkan empat kumpulan cerpen. Tergesa-gesakah Akmal membukukan cerpen-cerpennya? Inilah tanya yang merasuki saya saat menggauli 13 cerpen dalam buku ini. Lebih-lebih setelah mencermati catatan penutup kritikus sastra, Budi Darma, yang kerap menyebut kata instant dan seolah-olah hendak meniscayakan bahwa isi kumpulan cerpen ini sederhana, dan untuk mengimbanginya, Akmal menyediakan bentuk yang sederhana pula. Celakanya, pada catatan pencerita (Memoria), alih-alih menyela dan membantah, Akmal justru mengamini kata sederhana itu. Padahal, terminologi sederhana terdengar agak pejoratif (meremehkan). Menyiratkan ketidakcukupan, kekuranglengkapan, ketidaksempurnaan.

Bila seorang ibu tega membakar bayinya, lalu mengunyah-ngunyah dagingnya seperti menyantap ayam panggang, sebagaimana yang terjadi di Kelapa Dua, Depok, sebulan lalu, mungkin masih patut disebut masalah sederhana. Apa pasal? Si kanibal yang dijuluki "Sumanti" itu terbukti tidak waras alias sinting. Tapi, ihwal tentang perempuan terdidik (Nila) yang meringkuk di penjara setelah menghabisi nyawa suami dan anaknya (Ada Seseorang di Kepalaku…), apakah itu usungan tema yang sederhana? Di mana letak sederhananya? Lalu, tema macam apa yang "tidak sederhana" bagi Budi Darma?O, iya, mungkin karena Akmal berprofesi sebagai wartawan. Pelbagai peristiwa, setragis dan sesadis apa pun, karena tiap hari diamati, lalu dianggap biasa-biasa saja. Tapi, bagaimana dengan Abdullah (Lelaki yang Berumah di Tepi Pantai) yang tiba-tiba bergelar si Mulhid (Orang Sesat) karena nekat hendak menantang kuasa Tuhan? Masih sederhanakah "tirakat" Mulhid? Lagi-lagi pertanyaannya, di mana letak kesederhanaan eksplorasi tematik buku ini? Perwatakan yang terbangun dalam cerpen-cerpen Akmal justru memperlihatkan kerunyaman gagasan yang sukar diurai satu per satu. Pengarang berupaya meninggalkan jejak pikiran dengan meminimalisasi jejak tindakan pada cerpen-cerpennya. Di titik inilah keunikan cita rasa cerpen-cerpen Akmal dapat dinikmati.

Maka, bila saya jadi Akmal, akan saya tolak (mentah-mentah) kata sederhana sebagaimana ditudingkan Budi Darma. Bagaimana mungkin menyederhanakan musibah banjir lumpur panas (yang telah menimbun tidak hanya rumah-rumah penduduk Sidoarjo, tapi juga menenggelamkan mata air penghidupan mereka), yang dijadikan sandaran faktual cerpen Lebaran Terakhir? Ini jelas runyam. Rumit. Serupa benang kusut. Sukar dicari, mana ujung, mana pangkal.

Sebagai pendatang baru di jagat cerpen (Akmal lebih dulu membukukan novel ketimbang cerpen), tampaknya Akmal sudah tidak bermasalah dengan teknik berkisah, jelajah tematik, bahkan (lagi-lagi) Budi Darma sampai mencatat: Akmal telah memilih putusan bijak, yaitu menyeimbangkan tuntutan isi dan bentuk. Tapi, cerpenis ini belum sungguh-sungguh melepaskan baju jurnalisnya. Ia masih taat kode etik, patuh rambu-rambu. Karena itu, Akmal tampil seperti cerpenis lugu, polos, dan (terlalu) jujur. Semua cerpen yang didedahkan buku ini dilengkapinya dengan catatan kaki, mulai dari lirik lagu Gun’s N Roses, novel Ernest Hemingway hingga film James Bond. Padahal, tanpa membubuhkan referensi macam itu, cerpen-cerpen Akmal tetap utuh, tak bakal bercela. Justru dengan bersijujur membeberkan riwayat proses kreatifnya, Akmal seolah-olah sedang melukis di atas lukisan (meski ia berdalih; tak ada yang baru di bawah matahari). Cerpen Lelaki yang Berumah di Tepi Pantai, disebut-sebut terinspirasi dari Robohnya Surau Kami (A.A. Navis), padahal tanpa diberi tahu pun, pembaca yang telaten akan tergiring ke sana. Bukankah sebaiknya pengarang menyerahkan "bulat-bulat" karyanya pada khalayak pembaca? Cerpen bukan makalah ilmiah, Bung! Jadi, tak perlu kejujuran akademik. Karena, terlalu lugu, Akmal menjadi pencerita yang tidak mandiri, selalu bergantung pada referensi dan catatan kaki (apa yang terjadi bila Akmal kehabisan referensi?).

Barangkali, Akmal memang pembaca yang rakus, lalu menjadi pengarang yang terlalu lurus (padahal, mana ada pengarang yang jujur?). Mungkin, beginilah tabiat literer yang terbangun, bila jurnalis sudah jadi cerpenis…

No comments: