Search This Blog

Sunday, February 04, 2007

Mengapa Damhuri Jadi Pengarang?

Oleh : DAHRIS SIREGAR


Tanpa mengurangi kenikmatan membaca dan menghayati sebuah kisah sebagai ‘wacana imajiner’ alias ‘dunia khayal’ sang pengarang, rasanya kita patut menyimak : mengapa seorang menjadi pengarang dan mengarang kisah? Apa sesungguhnya ultimate concern yang dipikul seseorang sehingga ia dengan sengaja ‘mencipta’ suatu dunia yang sejatinya tidak ada?

Juru kisah di masa lalu (dalam tradisi lisan) membawakan cerita-cerita sebagai aktualisasi atau komentar terhadap masyarakatnya. Boleh jadi semacam kritik sosial, minimal unek-unek, yang dihadirkan tanpa pretensi tertentu kecuali menghibur. Namun, sebagaimana semua seni lisan lainnya (semisal pantun, nyanyian, mantra, atau puisi), tercium dengan segera aroma ’aktual’ di mana para pendengar (yang arif) dapat maklum kemana ‘angin bertiup’ alias tujuan si pengarang. Mungkin Butet dengan monolog ‘Soeharto’-nya tempo hari adalah metamorfosis juru cerita semacam ini. Fiksinya adalah bukan fiksi.

Damhuri, saya rasa, tidak bermaksud menyesatkan kita manakala dengan ‘telanjang’ menceritakan motivasi yang menggiring dia menjadi seorang penulis cerpen yang barangkali paling produktif belakangan ini. Tak jadi soal, sebab PENGARANG TELAH MATI, kata penganut post-mo; sehingga biarlah dia mengatakan apa pun tentang kepengarangannya, kita tetap mengacu pada ‘teks’. Kebetulan ‘teks’ yang disajikan pengarang satu ini lumayan gurih dan bercita-rasa, jadi tidak sulit ‘mengunyah’-nya. Barangkali lebih aman kalau kita menganggapnya sebagai ‘proses’, bukan ‘pengakuan dosa’ apalagi pembelaan diri si pengarang.

Lagipula, ini suatu kekhasan pula, fiksi Damhuri adalah DIKSI. Dia melemparkan di sana-sini berbagai ‘istilah’ yang berwarna, bukan sekedar hitam-putihnya makna denotatif di dalam kamus. Ya memang, pengarang mana pun dan dimana pun (bukan cuma Damhuri) tak urung bertolak dari DIKSI alias kekayaan wahana bahasa. Namun agak istimewa dengan cerpen-cerpen Damhuri ini, karena ia bukan sekadar dekorasi. Jumlahnya tidak banyak, tapi ’menggigit’. Perhatikanlah, misalnya istilah lidah sembilu (yang diambil sebagai judul buku), rindusorang (mungkin aliterasi dari rindu kepada (kau) seorang) dan berhala kertas (cerita raja midas versi lain).

Maka kita layak curiga, motivasi Damhuri dalam menulis cerita-cerita pendeknya apakah tidak melangkah lebih jauh daripada ’yang itu-itu saja’, sekedar memberi wawasan dan pilihan kenikmatan estetis kepada para penggemar cerita fiksi (wabilkhusus di koran minggu)? Dia menyebut-nyebut A.A. Navis, Wisran Hadi, Darman Moenir, dan lain pengarang yang berwacana dengan khasanah lokal Alam Minangkabau...

Kegelisahan seorang pengarang memang sukar ditebak. Bahkan ketika ’rasionalitas’ dari kehidupan riil menjadi taruhannya. Seolah-olah pilihan asketik di tengah dunia yang sesak-napas oleh jual-beli, maka kepengarangan yang ’murni’ barangkali memang semacam bunuh diri. Mungkin bunuh diri yang ’heroik’, tapi tetap saja suicide! Tapi nyatanya, kitalah yang barangkali (berulang-ulang) bunuh-diri --melalui pilihan-pilihan ’realisitis’ yang kita ambil dengan suka hati atas nama perut dan ’bawahnya perut’ -- bukan Damhuri!

Ideologi “Keminangkabauan” di Balik Cipta Dan Cerita

Maka, dari motivasi yang digagas secara ‘supra-rasional’ pun, kembali pertanyaan purba itu muncul. Pertanyaan yang dipanggul manusia sejak peradaban ada : antara modernitas dan tradisi. Di mana jarak dan garis batasnya? Bagi mereka yang akrab dengan kehidupan di Sumatera (wabilkhusus Sumatera Barat), permainan etimologis antara ‘adat’ dan ‘adab’ sudah cukup untuk menggambarkan ‘sembilu eksistensial’ ini. Kalau belum paham juga, buatlah oposisi binernya: adab vs biadab. Di sini ketemu sebuah esensi, bahwa modernitas akan selalu membunuh (minimal melakukan percobaan pembunuhan) terhadap adat, sementara keunggulan adab memaksa seseorang mempertahankan adat. Jadi modernitas adalah simalakama: dimakan mati adat, tak dimakan mati adab. Justru tidak ada manusia waras yang mau DENGAN SUKARELA mengalami kebiadaban, padahal sampai derajat tertentu ’modernitas’ mengandaikan kebiadaban (anomie, alienasi, dan seterusnya). Begitulah, tercermin pada kisah-kisah (yang mestinya tidak seratus persen fiksi) suatu ’ketegangan’ yang tarik-menarik antara kedua kekuatan itu. Damhuri, kebetulan lahir dan besar di Ranah Minang, barangkali mahfum betapa dilematis posisi semacam ini. Dengan mengambil setting orang-orang dari dunia ’dilema’ tersebut, dia membawa kita pada berbagai ujung yang dimungkinkan oleh daya khayalnya sebagai pengarang. Maka, lahirlah Karnaval Pusar, Buya, dan yang paling ’lembut-sederhana’ di antara semuanya: Menantu Baru.

Apakah Damhuri wakil baru dari Keminangkabauan, khususnya keminangkabauan milenium II, keminangkabaun abad informasi? Saya rasa tidak! Menyimak kisah-kisahnya, barangsiapa yang pernah mengalami ’alam minangkabau’ niscaya akan mahfum bahwa sebagian besar ’citarasa’ yang dihidangkan Damhuri bukanlah Minangkabau. Ibarat nasi padang yang sudah mengadaptasi diri dengan selera ’nasional’ dengan mengurangi tajamnya bumbu dan pedasnya sambal. Benar, Damhuri seorang koki asli Minangkabau, tapi kesadarannya tentang khalayak pembaca yang dituju bukanlah orang-orang tua yang ingin bernostalgia melainkan anak-anak muda yang lebih kurang seumuran dia, yang tidak tahu-menahu dengan Robohnya Surau Kami, Di Bawah Lindungan Ka’bah, atau Siti Nurbaya. Maka, keniscayaanlah dia mempersenjatai kepengarangannya dengan idom-idom masa kini (Keranda Kerinduan). Namun sekali lagi, apakah Damhuri wakil dari suatu generasi baru Minangkabau? Tradisi adalah tradisi, karena ia hanya akan hidup bila ada yang menghidupinya. Di sinilah barangkali ’peran’ yang hendak dimainkan Damhuri.

Sesungguhnya sumbangsih semacam ini nyaris tidak bisa dimaafkan, bila menimbang ’mendesaknya’ agenda melawan disintergasi yang sedang menggerogoti bangsa ini. Kok malah menyorongkan etnisitas, di tengah-tengah maraknya orang ’minta merdeka’ di mana-mana? Jika ini menjadi senjata untuk menohok Damhuri, rasanya tidak kena. Bak menabur garam ke laut, menunggu kucing bertanduk. Soalnya, dibalik segala ’kedaerahan’ yang kental itu ternyata bukan masalah ’politik’ yang sedang diagendakan si pengarang. Sekedar cerita kemanusiaan belaka. Dan mana pula ada yang melarang orang untuk menggunakan khasanah lokal yang dikenal dan sah menjadi hak waris baginya? Kalau saya jadi Damhuri, jawabannya sederhana: ”salah sendiri, kenapa kau tak bikin cerita soal Kebatakanmu (misalnya)?” Satu nusa satu bangsa satu bahasa adalah satu hal, kecintaan pada kampung halaman/bumi kelahiran adalah soal lain.

Karya dan Pasar ; Cerpen Koran sebagai Short-short story

Menilik liga ‘sepakbola’ pengarang saat ini, agaknya sudah cukup lama majalah sastra tidak lagi menjadi ‘liga premier’ atau Seri A. Sekarang tempatnya adalah koran. Dan takdir dari sastra koran adalah nafasnya yang hanya sekali hela, cuma 4-7 halaman kuarto (kalau tidak salah). Kadang-kadang ini menjebak. Pengarang-pengarang harus memutar otak, pasang siasat untuk mendapatkan formula penceritaan yang paling meng-enak-kan bagi gagasan cerita maupun bagi ‘sidang pembaca’. Kadang-kadang kita mencium bau ‘self-sensor’ pengarang ketika ada bagian-bagian cerita yang seolah-olah ‘dipercepat’ (seperti kita nonton VCD yang di-fast forwadI). Bagi selera tradisional, pembaca akan ‘gemas’, bahkan bisa kecewa, karena seolah-olah dipaksa mengalami coitus interruptus di tengah-tengah pergulatannya menikmati cerita.

Tapi, sekali lagi, itu adalah takdir ‘sastra koran’. Mungkin kita boleh berharap, kalau suatu waktu kelak majalah sastra kembali menjadi Liga Premier, maka kita akan mendapatkan hidangan makan malam yang lengkap, bukan sekedar snack ringan seperti saat ini. Sejauh yang kita bisa tunggu, siapa tahu ada terobosan lain. Pokoknya, jangan sampai kita terjerembab dalam su’udhon bahwa yang namanya cerpen hanya seperti di koran-koran minggu saja. Masih banyak........

Saya tidak mengatakan bahwa Damhuri adalah pengarang ‘berlidah sembilu’, karena orangnya sehari-hari justru sangat ‘tidak sembilu’. Dia rendah hati dan sangat sopan-santun. Maka, kita harus cari denotasi baru dibalik sembilu-sembilu yang ditawarkan Damhuri lewat cerpen-cerpen dalam kumpulan ini.

DAHRIS SIREGAR
Pengamat Sepakbola, Penyuka Sastra, bermukim di Jakarta


Esai ini ditulis dalam rangka disku buku, Kumpulan Cerpen LIDAH SEMBILU, karya Damhuri Muhammad, pada 25 November 2006 di CAK TARNO INSTITUTE, (KOBER TOM SQUARE–Depok).

6 comments:

Jody said...

Halo, ada yg ingin tahu kalau bisa bicara langsung sama Damhuri Muhammad. Jadi saya teruskan ke blog ini (kebetulan ketemu). Oya, ybs telah membaca review sy ttg LARAS. Trims.

damhurimuhammad said...

Maksih mas Jodi...

zenrs88@gmail.com said...

Sepertinya penulis kita ini sibuk nian. Sampaisampai blognya terbengkalai nih... hehehe...

damhurimuhammad said...

tenkiyu mas Zen,

dm

Takur said...

Apo kaba da?

damhurimuhammad said...

kaba baik da. makasih udah berkunjung ya