Search This Blog

Thursday, May 10, 2007



Harta Karun di Atas Kursi Panas

Judul : Q & A
Penulis : Vikas Swarup
Penerjemah : Agung Prihantoro
Penerbit : Serambi, Jakarta
Cetakan : I, Desember 2006
Tebal : 458 halaman

Oleh : DAMHURI MUHAMMAD

(GATRA, edisi Maret 2007)

Produser kuis spektakuler Who Will Win A Billion? (W3B) kelimpasingan setelah pelayan Jimmy’s Bar and Restaurant berhasil menjawab pertanyaan terakhir dengan sukses. Entah muslihat apa yang dipakai lelaki delapan belas tahun itu. Rekor hadiah 1 milyar rupee pecah sudah. Penonton berdecak kagum. Mungkin karena keluasan pengetahuan pramusaji yang konon tak pernah bersekolah itu, mungkin juga karena keberuntungan belaka. Lagi pula, dalam kuis-kuis berhadiah, memang tipis sekali beda antara pengetahuan dengan keberuntungan. Tapi, yang pasti, perusahaan pemegang lisensi megakuis Who Want To Be A Millionaire versi India itu bakal rugi besar. Mereka baru ‘balik modal’ setelah bulan ke delapan. Celaka, Ram Mohammad Thomas mengacaukan segalanya. Ia tumbangkan kuis itu di episode kelimabelas. Ini tak boleh terjadi, bila mereka tak ingin gulung tikar. Untunglah episode itu belum ditayangkan TV, masih ada kesempatan ‘berkompromi’. Ram pun dibekuk. Ia meringkuk dalam sel dengan tuduhan ; curang. Meski, polisi tak punya bukti.

Pesakitan Ram menghadang interogasi dan intimidasi menjadi titik tolak pengisahan novel Q & A (mungkin singkatan Question and Answer) karya diplomat India, Vikas Swarup ini. Menengok maklumat yang termaktub dalam dua tanda kurung di bawah judul ; sebuah novel tentang seorang pelayan restoran yang menang kuis satu milyar rupee, ada kesan seolah-olah buku ini hendak menyingkap rahasia di balik penyelenggaraan kuis-kuis spektakuler, atau paling tidak, ingin membocorkan trik-trik jitu memenangkan hadiah satu milyar. Siapa yang tak tergiur uang sebanyak itu? Sebagaimana diakui Ram, godaan terbesar di dunia ini bukan seks, tapi uang. Makin besar jumlahnya, makin menggoda. Itu sebabnya ia mati-matian berusaha agar terpilih menjadi salah satu peserta yang duduk di kursi panas. Tak dinyana, Ram menang. Sialnya, alih-alih dapat ‘harta karun’, ia malah dihadiahi ‘bogem mentah’ di kantor polisi.

Seorang pengacara berbaik hati ingin membela Ram, dengan syarat ; ia harus jujur menjelaskan apa sebab pertanyaan-pertanyaan sulit itu jadi mudah baginya. Vikas Swarup memanfaatkan momen pertemuan empat mata antara Ram dan pengacara itu sebagai pintu masuk untuk merancang struktur penceritaan yang beranak-pinak. Cerita beranak cerita. Berlapis-lapis. Setiap pertanyaan yang berhasil dijawab Ram ternyata memiliki riwayat sendiri-sendiri. Ram tak mungkin lupa bahwa Surdas adalah nama seorang penyair buta pemuja dewa Khrisna (pertanyaan keempat). Sebab, ia, Salim, Kallu, Pyare, Pawan dan Jashim pernah menjadi korban kekerasan di rumah penampungan anak-anak terlantar. Dari panti remaja, Ram diadopsi seorang yang berpura-pura akan menjadi orangtua asuh, padahal orang itu adalah anggota sindikat kejahatan yang telah menelan banyak korban. Ram dan kawan-kawan diajarkan membaca syair-syair Surdas, si penyair buta. Tak hanya itu, mereka kemudian benar-benar dibutakan (dibuat cacat), lalu dipaksa membaca syair di gerbong-gerbong kereta api ekspres, berjalan terseok-seok sambil membawa tongkat. Semua penghasilan pengamen-pengamen buta itu jatuh ke tangan Maman, gembong penjahat yang memelihara mereka. Ram dan Salim kabur dari tempat itu.

Kenapa Ram yang tak biasa baca buku tahu kalau Neelima Kumari, aktris kondang India itu pernah beroleh penghargaan nasional pada 1985? (pertanyaan kesepuluh). Tentu saja. Sebab ia pernah jadi babu di apartemen Juhu Vile Parle, tempat tinggal Neelima. Di sana, berkali-kali Ram menyaksikan keberingasan lelaki begundal yang seperti hendak mencabik-cabik kecantikan Neelima. Kedua belah pipinya penuh luka memar bekas pukulan kasar, bibirnya pecah dan berdarah, sukar Neelima bicara. Tapi, bekas bintang film terkenal itu masih saja menerima lelaki yang setiap kedatangannya menggores perih tak terkira. Bila tak dicegah Neelima, Ram sudah pasti membunuh bajingan itu. Lalu, kenapa Ram juga tahu sejarah Taj Mahal? Sehingga benar pula pilihan jawaban ‘Asaf Jah’ pada pertanyaan keduabelas (siapa nama ayah Mumtaz Mahal?). Ram cukup lama bekerja sebagai pemandu wisata di Taj Mahal, salah satu keajaiban dunia itu. Di sanalah Ram bertemu Nita, pelacur yang kemudian hendak dinikihanya. Tersebab hasrat ganjil itu, ia mesti berhadapan dengan mucikari yang terus menerus memerasnya, hingga suatu hari Nita tergeletak di rumah sakit dalam kondisi mengenaskan. Di sekujur tubuh perempuan itu tercetak bekas-bekan cambukan, alat vitalnya penuh luka bakar akibat sulutan puntung rokok.

Banyak peristiwa kebetulan dalam novel ini. Tapi, keberhasilan dalam memenangkan kuis, faktor kebetulan dan keberuntungan memang dominan. Lagi pula, pertanyaan kenapa Ram mampu pecahkan rekor satu mliyar rupee?, hanyalah celah untuk menyingkap potret suram realitas sosial masyarakat India modern, mulai dari Delhi, Mumbai, Dharavi hingga Agra, kota-kota ‘neraka’ yang sempat disinggahi Ram. Dengan keterampilan pengisahan yang mendebarkan, Vikas Swarup berhasil menggambarkan wajah India yang sangar dan menyeramkan ; jaringan mafia yang merusak masa depan anak-anak, para ekspatriat kulit putih yang menghajar babu-babu mereka dan praktek spionase berkedok diplomat. Ada pula kisah tentang sebuah suku yang melelang keperawanan anak-anak perempuan mereka. Edisi terjemahan buku ini cukup memadai, meski tergesa dalam penyuntingan. Sejumlah kesalahan ketik terabaikan.

Makin ke ujung, novel ini makin menegangkan. Keikutsertaan Ram dalam megakuis itu ternyata tidak semata-mata karena uang, tapi karena hasrat hendak membunuh orang yang sudah lama diburunya. Orang itu adalah Prem Kumar, presenter W3B. Ram mengaku pada Smita, pengacaranya, bahwa Prem Kumar adalah pelaku penyiksaan terhadap Neelima Kumari. Lebih mencengangkan lagi, Prem Kumar pula yang menyulut puntung rokok pada alat-alat vital Nita, kekasih Ram yang sampai saat ia duduk di kursi panas masih terbaring di rumah sakit. Tekad Ram sudah bulat, berharap pertanyaan pertama gagal terjawab, lalu ia akan bergegas mengeluarkan pistol dari saku celana, menembak kepala Prem Kumar. Tapi, tigabelas pertanyaan terlewati, hingga produser W3B terancam bangkrut. Tak terduga pula, Smita ternyata hanya nama samaran. Pengacara muda itu adalah Gudiya, perempuan yang di masa remajanya nyaris diperkosa ayah kandung sendiri. Beruntung, orang tak dikenal muncul dari arah belakang, menghantam kuduk keparat itu dengan balok kayu hingga tersungkur tak sadar diri. Si penolong Gudiya tak lain adalah Ram. Sebentuk lingkaran cerita yang terbuhul kokoh, padat dan padu.

No comments: