Search This Blog

Thursday, September 06, 2007



Fiksi Thriller Berkedok Novel Sejarah

Judul : Glonggong
Penulis : Junaedi Setiyono
Penerbit : Serambi, Jakarta
Cetakan : I, Juli 2007
Tebal : 293 halaman


Oleh : DAMHURI MUHAMMAD


(MEDIA INDONESIA, Sabtu, 25 Agustus 2007)

Siapa yang berwenang menentukan sebuah novel dapat disebut novel sejarah? Apa kriteria artistik sebuah novel sejarah? Khazanah kita mungkin belum memiliki pengertian yang bulat tentang novel sejarah. Tapi kenapa tim juri Sayembara Novel DKJ (2006) memasang ‘harga mati’ bahwa Glonggong (juara harapan I), karya Junaedi Setiyono ini adalah novel sejarah? Bahkan ada yang menulis pujian di sampul depan ; novel sejarah paling mengesankan yang pernah saya baca.

Meski tak ada definisi utuh tentang novel sejarah, setidaknya genre ini diidentifikasi sebagai teks yang berpijak pada peristiwa masa lalu, sehingga tokoh rekaan, plot, alur dan gagasannya dapat dilacak dari perspektif historiografi. Bila ditimbang dengan alat takar macam ini, mungkin novel berlatar Perang Diponegoro ini patut disebut novel sejarah. Tapi, novelis yang memaktubkan fakta dan pelaku-pelaku sejarah dalam karyanya selalu dipicu oleh ketidakpuasan terhadap sejarah yang taken for granted, tapi cenderung menyesatkan. Maka, novel kerap mendekonstruksi kemapanan konsep historiografi, agar sejarah tak melulu digenggam oleh kuasa tafsir tunggal. Inilah yang dilakukan oleh Sir Walter Scott lewat Waverley (1810) yang disebut-sebut sebagai novel sejarah pertama di dunia. Ia sepenuhnya mengambil karakter Alasdair Ranaldson MacDonell (1771-1828), prajurit yang nyaris tak tercatat dalam sejarah panjang klan Skotlandia. (Bagja Hidayat,2006).

Bila ditakar dengan semangat dekonstruksi sebagaimana dilakukan Sir Walter Scott agaknya Glonggong segera gugur sebagai novel sejarah. Buku ini tidak menawarkan kebaruan dalam menyikapi sejarah Perang Diponegoro. Java Oorlog (Perang Jawa), penangkapan dan tahun kematian Pangeran Diponegoro dalam teks novel ini persis sama dengan data buku-buku sejarah. Ini tentu dapat ditolerir, karena pengarang tak hendak menyingkap segi-segi tak tercatat dalam peristiwa itu, tapi mengungkap moralitas bobrok para priyayi yang bersekutu dengan Belanda untuk menghadang Laskar Dipanegaran. Penggambaran itu terkuak melalui sudut pandang Glonggong (tokoh utama) yang sejak awal ditegaskan berasal dari keluarga ningrat, tapi hidup sebagai orang biasa dan bergabung dalam barisan prajurit Pangeran Diponegoro.

Jadi, alih-alih ‘menobatkan’ Glonggong sebagai novel sejarah, barangkali lebih patut bila buku ini ditimbang sebagai fiksi thriller yang sejak awal tiada henti merancang ketegangan, intrik-intrik politik, siasat dan muslihat yang bikin penasaran. Ketegangan bermula sejak terusirnya Glonggong dan ibunya dari Puri Suwandan. Den Mas Suwanda (ayah tiri Glonggong), pejabat kraton itu malu punya istri yang tiba-tiba berubah jadi tak waras, tak lama setelah dipersuntingnya. Dulu, Ibu Glonggong dibujuk untuk menerima lamaran Den Mas Suwanda dengan memastikan bahwa Ki Sela (ayah kandung Glonggong), prajurit pemberontak itu sudah tewas. Tapi kelak, Glonggong menyadari, cerita perihal tewasnya Ki Sela hanyalah muslihat Den Mas Suwanda untuk meluluhkan hati ibunya. Seseorang memberitahu, Ki Sela masih hidup dan sedang meringkuk di tahanan. Meski tidak tinggal di Puri Suwandan lagi, di mata teman-teman kecilnya, ia tetap pendekar yang sukar dikalahkan dalam perang-perangan dengan menggunakan Glonggong, pedang dari tangkai daun pepaya (karena itu ia digelari Glonggong). Dari Kyai Ngali, ia belajar ilmu agama, juga beroleh cerita perihal seorang kerabat istana yang hidup bersahaja dan menjauh dari kemewahan kraton. Kelak Glonggong tahu, orang itu adalah Kanjeng Pangeran Aria Dipanegara.

Pengarang menghadirkan sejumlah tokoh antagonis dan menempatkannya pada posisi yang ‘seabu-abu’ mungkin. Den Mas Surya, musuh bebuyutan yang pernah mengalahkan Glonggong dalam sebuah perkelahian tiba-tiba berubah menjadi orang baik setelah ia menginjak usia dewasa. Glonggong tak ragu menjadi penunjuk jalan tatkala Surya hendak menyusup ke Puri Suwandan. Ia jadi tahu, ternyata rumah itu sudah dihuni oleh istri muda Den Mas Suwanda, Den Ayu Sekar. Perempuan ini punya anak gadis, Endang namanya, inilah gadis incaran Surya. Ia minta tolong pada Glonggong untuk mengantarkan surat ke kamar tidur Endang. Meski Surya gagal memiliki Endang, persahabatannya mereka terus berlanjut. Ketika gubuk tempat tinggal Glonggong dibakar seseorang tak dikenal, Surya yang menyelamatkannya, meski ibu Glonggong tewas. Surya pula yang membantu Glonggong agar ia dapat bekerja sebagai abdi di Puri Pringgawinatan. Semula, Glongong hanya tukang sapu, tapi kemudian dipercaya menjadi pengawal para priyayi di lingkungan karib kerabat Den Mas Pringga, bahkan kerap mengawal Den Mas Pringga sendiri. Di sini Glonggong mulai menyibak sekian banyak selubung teka-teki, tentang ayahnya yang ternyata masih hidup, tentang tabiat bejat para priyayi yang doyan perempuan, desas-desus tentang perang besar yang bakal pecah, tentang Laskar Dipanegaran yang sedang menyusun rencana perang. Di rumah itu pula Glonggong bertemu Danar, centeng andalan Den Mas Pringga yang berkedok sebagai penjaga perpustakaan di Puri Pringgadinatan.

Ketegangan terus meninggi selepas Glonggong hengkang dari Puri Pringgadinatan, ia bergabung dalam barisan laskar Dipanegaran. Seseorang berupaya menyelamatkan Glonggong dari tangan Den Mas Pringga yang telah bersekongkol dengan kompeni untuk meringkus Pangeran. Sayangnya, penegasan bahwa Glonggong bergabung dalam barisan prajurit Pangeran Diponegoro seperti tertera di sampul belakang buku ini berbeda dengan perjalanan kisah yang sebenarnya. Tak ada satu bagian pun yang menjelaskan bahwa Glonggong terlibat dalam perang. Ia (lagi-lagi) hanya pengawal, mengantarkan barang-barang berharga milik laskar ke suatu tempat rahasia. Puncak ketegangan terjadi saat kereta Glonggong dihadang gerombolan rampok yang ternyata dipimpin oleh Danar. Glonggong berhasil membunuh centeng berjuluk Dasamuka itu. Kelak, seseorang memberitahu, Danar adalah saudara kandungnya. Kekecewaannya sama dengan kekecewaan setelah mengetahui kakak perempuannya, Danti Arumdalu, dipergundik oleh Den Mas Pringga, bekas majikannya sendiri.

Meski Danar sudah tewas, Glonggong tetap kehilangan kereta berisi harta milik laskar. Seseorang menodongkan bedil di kuduknya, ia luka parah dan setelah siuman sudah berada di rumah Rubinem, perempuan yang dikenalnya di rumah pelacuran Ngluwek, saat mencari Danti Arumdalu. Tokoh-tokoh rekaan yang semula tampak abu-abu, perlahan mulai buka topeng, Kyai Ngali yang dulu mendukung Pangeran kemudian membelot ke kraton, begitu pun Surya, Pringga, Danar, bahkan Kyai Sufyan (murid Kyai Maja) yang mengaku telah berkhianat pada Pangeran. Otak perampokan ternyata Den Mas Suwanda. Ia yang menembak Glonggong selepas membunuh Danar, bahkan pelaku pembakaran rumah Glonggong, juga Suwanda. Glonggong berhasil merebut kembali ‘harta karun’ milik laskar itu berkat bantuan Den Ayu Sekar. Tapi, ia gagal menemui Pangeran. Setiba di Magelang, Glonggong melihat Pangeran sudah berada dalam pengawalan ketat serdadu kompeni.

Selain kompleksitas ketegangan yang terus terjaga, intrik politik, siasat dan muslihat para priyayi dalam pusaran sejarah Perang Dipenogoro, sedikit bumbu romantika Glonggong dan Endang, rasanya buku ini tak menjanjikan apa-apa, apalagi pretensi untuk meraih derajat novel sejarah. Ah, mungkin para juri saja yang tergesa hendak menobatkannya...

2 comments:

Geger CTI said...

Resensi ini menginspirasi.

Novel sejarah tak sekadar menempatkan sejarah sebagai hiasan dalam alur ceritanya, apalagi menjadikan novel sebagai subordinat sejarah, atau sekadar alat bantu untuk menyampaikan pelajaran sejarah.

Tapi, melihat kembali kepada definisi seni dari Alain Badiou, seni adalah suatu prosedur untuk mencapai kebenaran. Begitulah novel. Novel sejarah bukanlah subordinat dari ilmu sejarah, tapi sebuah proposal gagasan sejarah yang diajukan pengarang untuk dikontestasikan.

Pada derajat yang sama dengan Sir Walter Scott, Pram sungguh-sungguh merepresentasikan seorang novelis sejarah. Pram, sosok yang dalam dirinya meletup-letup hasrat untuk memutarbalik historiografi yang dipandang dari geladak kapal, menjadi historiografi dari kepulauan Hindia Belanda.

Sungguh luar biasa, mengingat bagaimana selama ini secara keilmuan negeri ini didikte oleh paradigma dan metodologi dari Barat, namun melalui jalur seni Pram berusaha menawarkan suatu perspektif baru.

Ah...

nur fatihah said...

hai saya mau bertanya, apakah anda punya buku glonggong? kalo punya hubungi saya ke 085707343111 karena saya membutuhkan utk skripsi:(