Pintu Belakang Sastra Indonesia?


DAMHURI MUHAMMAD




Artwork by Michael Dagoni/https://id.pinterest.com/  


Dalam ramai perbincangan tentang bagaimana cara mengantarkan sastra Indonesia pada khalayak pembaca dunia, di penghujung Desember 2025 lalu, sebuah direktorat bidang diplomasi budaya  di Kementerian Kebudayaan RI secara resmi meluncurkan platform digital bernama "Read Indonesia". Yang disebut "platform" itu sejatinya tak lebih dari sebuah situs dengan konsep perwajahan lebih kurang sama dengan tampilan visual situs resmi lembaga negara pada umumnya. Hanya saja kali ini digarap dalam dua pilihan bahasa (Indonesia-Inggris) dengan tagline berbunyi Bridging Stories, Connecting Culture (menjembatani cerita, menghubungkan budaya), dan dideklarasikan sebagai gateway (pintu gerbang) untuk memasuki kekayaan khazanah sastra Indonesia dengan segala macam keunikannya. Rubrikasi yang tersedia di antaranya adalah buku, penerbit, penulis, agen sastra (literary agency), termasuk konten-konten berita yang berkaitan dengan strategi promosi sastra Indonesia sebagai soft power dalam berbagai aktivitas diplomasi budaya. 

Semula saya amat bergembira melihat itikad pemerintah yang makin intens dalam kerja promosi sastra kita di panggung global, namun perihal "Read Indonesia" yang baru saja dideklarasikan sebagai "pintu gerbang" sastra Indonesia itu, kiranya masih terasa sebagai "pintu belakang". Betapa tidak?  Buku—jenis fiksi—terkini yang tersedia jumlahnya hanya 20 judul, itupun tidak disertai dengan ulasan-ulasan yang menjelaskan kualitas substansi sastrawi, lebih-lebih aspek selling point-nya sebagai bahan pertimbangan bagi penerbit-penerbit asing. Demikian pula dengan data di rubrik Author, yang jumlahnya tak lebih dari 20 nama. Sementara rubrik  Publisher hanya menampilkan 14 penerbit, ditambah dengan 3 perusahaan Literary Agency. 

Dari sisi ketersediaan data, kalau para pengurus "Read Indonesia" memang serius hendak membangun semacam directories untuk buku, penulis, dan penerbit yang berkaitan dengan produksi sastra Indonesia dalam kerja promosi untuk pembaca global, tak ada salahnya mereka menggunakan direktori yang sudah dikerjakan oleh IDWRITERS (www.idwriters.com) selama 12 tahun. Platform direktori sastra berbahasa Inggris yang didirikan oleh Valent Mustamin secara filantropis dan tanpa anggaran pemerintah itu, memiliki data lengkap 671 penulis Indonesia, 944 buku, dari 307 penerbit. Tak hanya itu, platform yang dikerjakan atas dasar kecintaan pada sastra Indonesia itu juga menyediakan informasi seputar novel-novel Indonesia yang telah dan sedang dalam proses penerbitan edisi terjemahan asing, termasuk ulasan-ulasan media luar negeri atas karya-karya yang sudah sampai di tangan pembaca global tersebut. 

Para awak redaksi IDWRITERS yang bekerja secara voluntary, dan sebagian besar adalah penerjemah sastra bersertifikat yang  berdomisili di Amerika Serikat, Eropa, Australia, Singapura dan Indonesia itu, secara rutin berbagi informasi tentang peluang keberterimaan karya-karya penulis Indonesia di penerbit-penerbit arus utama di belahan dunia barat. Dengan begitu, mereka tidak hanya menyediakan data berisi khazanah kekayaan sastra Indonesia pada dunia, tetapi juga aktif melibatkan para penulis dan penerbit kita dengan jaringan global yang mereka miliki—terutama sebagai warga diaspora Indonesia di berbagai benua.  

Strategi promosi sastra Indonesia untuk dunia sejatinya tidaklah sesederhana menyediakan laboratorium penerjemahan sastra, sebagaimana yang juga diinisiasi oleh Kementerian Kebudayaan. Tapi, yang jauh lebih penting, adalah menciptakan ekosistem penciptaan karya di mana urusan terjemahan dapat diselesaikan, bahkan oleh penulis secara mandiri. Pada sisi publikasi, penerbit-penerbit lokal juga harus berani menyediakan edisi Inggris dari setiap terbitannya, khusus untuk distribusi kepembacaan global—dapat dipasarkan di berbagai marketplace yang tersedia. Pada level yang lebih ekstrem, beberapa penulis Asia Tenggara, seperti Ada Pelonia (Filipina), Nguyễn  Phan Quế Mai (Vietnam), dan Aneeta Sundararaj (Malaysia),  tidak lagi menulis dalam bahasa lokal masing-masing, tapi langsung menawarkan manuskrip karya dalam bahasa Inggris ke penerbit-penerbit besar di Inggris dan AS, hingga mereka tidak membutuhkan jasa penerjemah sama sekali. 

Membangun ekosistem kekaryaan sastra Indonesia dalam bahasa asing bukanlah pilihan tanpa risiko. Banyak pihak akan memandang penulis Indonesia sengaja melepaskan identitas keindonesiaan mereka, demi pengakuan global. Tapi, tanpa jembatan bahasa asing, diplomasi budaya sebagaimana yang dibayangkan oleh Kementerian Kebudayaan di atas, sastra kita tidak bakal sampai ke pentas dunia. Situasi dilematis inilah yang hendak dikompromikan oleh platform kuratorial sastra Indonesia dalam terjemahan bernama Other Maps. Jurnal berkala yang juga bagian dari IDWRITERS itu didirikan sebagai inisiatif jangka panjang guna memperkuat kehadiran sastra Indonesia di tingkat global. Jurnal ini dikelola secara independen dengan misi meningkatkan sirkulasi, keterbacaan, dan keterlibatan kritis terhadap karya sastra Indonesia lintas bahasa dan budaya. 

Beroperasi di luar kerangka birokratis maupun institusional, Other Maps menekankan kualitas editorial, integritas terjemahan, serta keberlanjutan publikasi, sekaligus membuka ruang bagi beragam perspektif yang memperkaya percakapan sastra global.  Oleh karena fokusnya pada karya terjemahan, proses alih bahasa menempati posisi sentral dalam kerja editorial Other Maps. Penulis dapat mengirimkan karya dalam bahasa Indonesia, dan karya terpilih akan dikembangkan melalui kolaborasi antara penulis, editor, dan penerjemah untuk memastikan akurasi, kualitas literer, serta integritas konteks dan suara. Pendekatan ini menempatkan terjemahan sebagai kerja intelektual dan editorial yang memperluas makna lintas bahasa. Edisi perdana Other Maps dengan tema "On Indigeneity: Reclaiming Spotlight" dijadwalkan terbit pada April 2026 mendatang dan  akan hadir dalam tiga format: Web Edition (akses digital) sebagai kanal utama, PDF Edition (arsip unduhan), serta Print-on-Demand (cetak fisik untuk distribusi internasional). 

Begitulah, sekali lagi, upaya menyingkap wajah sastra Indonesia di panggung dunia, agar wujud yang mengemuka itu benar-benar pintu gerbang, bukan pintu belakang...



Damhuri Muhammad

Esais
Pendiri Porch Literary Magazine 


   






  



Comments

Popular Posts