Wajah Indonesia dari Pantauan Udara
Oleh
DAMHURI MUHAMMAD
Main
isu apa kita hari ini?
Begitu cuitan ringan yang terbaca di linimasa Twitter pada sebuah pagi di bulan
Januari 2019. Sepintas lalu, tak ada yang istimewa dari kalimat ringkas itu,
apalagi jika menimbang nama akun yang tampak ganjil, alias anonim. Tapi,
setidaknya kalimat yang mengandung tanda tanya itu tersimak sebagai bahasa kiasan
tentang betapa ruang perbincangan di media sosial (Twitter, Facebook, Instagram,
Youtube, dan semacamnya) telah menjadi hamparan luas bagi sebuah usaha
bernama; āPeternakan Isu.ā Saban hari, isu bagai digembalakan, diberi asupan
pakan yang berlebih-lebihan, beranak-pinak, berkembang biak dalam hitungan
menit, lalu digiring ke mana-mana sesuai keinginan para peternak.
![]() |
Foto: Damhuri Muhammad |
Adalah
pekerjaan yang tak terlalu sulit jika di pagi buta media-media arus utama telah
menyediakan sebuah āIsu Panasā. Katakanlah misalnya, keriuhan yang muncul
akibat protes seorang petinggi partai terhadap kehangatan antara Presiden Jokowi
dengan Jan Ethes yang tak lain adalah cucu pertamanya. Pasalnya sederhana,
terlalu sering memamerkan aktivitas ābermain dengan cucuā di masa kampanye
Pilpres 2019 disinyalir sebagai pelanggaran, karena mengekspolitasi anak di
bawah umur. Pro-kontra pun segera memenuh-sesaki linimasa. Barisan
pemandu sorak (baik yang berbayar atau pendukung suka rela) berbalik āmenyerangā
tudingan itu. Macam-macam argumentasi
dimaklumatkan dengan rupa-rupa meme,
video pendek, komik, animasi dan semacamnya, yang pada intinya adalah
memastikan bahwa tudingan āeksploitasi anak di bawah umurā tersebut tak
berdasar, karena Presiden Jokowi tak mungkin dilarang untuk menggendong cucunya
dalam keramaian. Alih-alih beroleh
pembenaran atas āseranganā-nya, elit partai yang dimaksud malah jadi
bulan-bulanan selama berhari-hari, dengan volume perbincangan mencapai ratusan
ribu, bahkan sampai pada titik yang mendistorsi reputasinya sebagai politisi
senior.
Sebaliknya,
dari isu yang sedang menjalar ke mana-mana itu, personal branding Jokowi sebagai Family Man
semakin terkukuhkan dan tanpa disengaja, warganet akhirnya membuat contrasting tajam antara Jokowi sebagai
orang yang berhasil memimpin keluarga dengan kandidat kompetitor (Prabowo
Subianto) yang dipersepsikan sebagai figur yang gagal dalam membina kehidupan
rumah tangga. Dengan begitu, keberatan
elit politik di atas rupanya berimplikasi besar terhadap munculnya sentimen negatif
pada figur Prabowo.
Namun,
tingginya volume percakapan (biasanya dapat mencapai ribuan) dan tingginya engagement (Retweet, Like, Reply, Mention) terhadap isu tersebut, tidak selalu
berlangsung secara normal dan alamiah. Dari kedua belah pihak yang sedang berkompetisi,
terdeteksi semacam CyberTroops
(Pasukan Dunia Maya) yang bekerja dengan akun-akun robot guna meramaikan
perbincangan hingga kemudian tercapailah apa yang biasa dikenal dengan Trending Topic. Tak dipungkiri bahwa
dalam setiap isu selalu ada Top Influencer dengan ratusan ribu bahkan jutaan pengikut (politisi, pengamat,
musisi, artis, ulama, atau aktivis medsos), tapi pemberdayaan robot (biasa disebut
BOT) dalam āpeternakan isuā juga tak bisa disembunyikan.
Seperti
apa robot-robot bekerja di dunia maya, dan siapa majikan dari robot-robot itu, adalah salah satu pokok perhatian dalam serial buku
Membaca Indonesia (Jilid 1-4) karya
Ismail Fahmi ini. Bila di masa lalu, para
analis media melakukan aktivitas media
monitoring secara manual dengan meng-kliping
setiap berita yang muncul di media cetak, di era big data ini pekerjaan itu
secara cepat dapat dilakukan secara digital.
Dinamika isu yang setiap hari meriuhkan jagat maya, popularitas,
favoribilitas, bahkan hingga daya rusaknya terhadap banyak persoalan, kini
dapat dilakukan secara digital, dengan āmenghisapā data perbincangan melalui
perangkat bernama Social Network Analysis (SNA). Ismail Fahmi merancang kerangka
kerja SNA itu berdasarkan algoritma big data yang dapat memantau content dalam 4 platform, yaitu Online News,
Twitter, Facebook, Youtube dan Instagram, yang kemudian ia namai dengan
Drone Emprit (DE). Tanpa bersusah payah melakukan kategorisasi dan kalkulasi, mesin
yang menggerakkan DE secara real time
dapat mengeluarkan data hasil pantauan secara kuantitatif (angka ril dan
prosentase), baik dalam bentuk tabel, grafik, maupun kurva.
Berdasarkan filter ākata kunciā yang relevan, hampir tak ada
isu yang luput dari ātangkapanā DE. Volume dan trend merupakan dua kategori
yang nyaris dapat diperoleh secara instan, sementara kurva sentimen membutuhkan sedikit pekerjaan ādata cleansingā guna
memastikan akurasi dan presisinya. Dalam hal memetakan sentimen atas setiap isu
yang sedang menjadi perhatian, engine
DE membutuhkan semacam Machine Learning
hingga kemudian terasah menjadi mesin cerdas. Tak kurang dari 118 esai analisis media
terhimpun dalam 4 jilid buku yang dibuhul dengan judul Membaca
Indonesia ini, dihasilkan dari mengolah hasil temuan SNA. Mulai dari perang
tagar #2019GantiPresiden versus
#2019TetapJokowi, Kisruh Bulog versus Mendag, #SkandalSandiagaUno, Pidato Games of Thrones, Gabener atau Goodbener,
Politikus Sontoloyo, #SaveMukaBoyolali, Sandiaga Melangkahi Makam Kyai, Reuni
PA 212, Akuisisi Saham Freeport, Tol Trans Jawa, Hoaks 7 Kontainer, Propaganda
Rusia, #SandiwaraUno, hingga Menteri Pencetak Utang, dalam rentang waktu
pantauan sejak September 2018 hingga Februari 2019.
Isu-isu besar yang telah
menggemparkan media daring dan jagat linimasa dalam rentang waktu kampanye
Pilpres 2019 tersebut dipetakan berdasarkan volume percakapan (popularitas), trend sentimen (favoribilitas),
Top Influencer (dalam hal distribusi
pesan), yang kemudian berimplikasi terhadap temuan-temuan tentang pola
penggiringan isu (baik secara alamiah maupun dengan pemberdayaan buzzer-buzzer
berbayar), bilangan usia sebuah isu, target-target tak terlihat dari setiap gelagat
ābeternakā isu, fakta-fakta tentang isu
yang justru bekerja seperti "senjata makan tuan", pola-pola kontra-narasi dari pihak yang merasa diserang, bahkan hingga potensi-potensi kisruh di dunia nyata akibat agitasi dan propaganda tak
sudah-sudah di dunia maya.
![]() |
Foto: Damhuri Muhammad |
Analisis media berbasis SNA
yang sejak lima tahun belakangan ini digunakan oleh Drone Emprit tentu bukan
tanpa kelemahan. Sejauh ini kerja penjaringan data pada lima platform yang telah disinggung di atas,
masih berbasis teks, dan itupun yang paling maksimal hanya di Twitter (karena platform ini lebih terbuka ketimbang Facebook,
Instagram, dan Youtube) dan Online News. Sementara wilayah tangkapan data di platform Facebook, lantaran sistem yang ketat dan tertutup, hanya dapat dilakukan pada FanPage (akun personal tak bisa
ditembus), lalu di Instagram hanya dapat ditangkap pada kolom komentar. Data dalan bentuk video, baik di Youtube
maupun Instagram (yang kini telah menjadi ikon dari ākuasa visualā) tak dapat
ditangkap oleh mesin SNA yang kerja pencariannya masih berbasis teks.
Terlepas dari kelemahan yang
tentu sudah dipikirkan oleh talenta-talenta kreatif di Drone Emprit, serial
buku Membaca Indonesia ini dapat diposisikan
sebagai cara mengamati Indonesia dengan kaca mata yang jernih, berimbang, dan
terukur. Rupa-rupa ācontoh kasusā yang dihadirkan para analis dalam buku ini dapat menjadi panduan bagi pembaca (yang tentu
juga adalah netizen yang terlibat),
guna menimbang setiap wacana secara penuh perhitungan, tak mudah
tersesat, apalagi hanyut dalam gelombang besar samudera big data yang tiada
batasnya. Lalu, kita akan main isu apa
ini hari?
(DATA BUKU. Judul: Membaca Indonesia (serial). Penulis: Ismail Fahmi, dkk.
Penerbit: Media Kernels, Jakarta.Cetakan: I, Mei 2019. Tebal: 4 Jilid)
Comments