Search This Blog

Wednesday, September 13, 2017

Tubuh Ayah Berwarna Tanah


Damhuri Muhammad



(versi cetak cerpen ini tersiar di harian Kompas, Minggu, 10 September 2017)



Seberapa lama kita sanggup melihat kembali wajah yang pernah kita kekalkan dalam foto setelah ia meninggal dunia? Tanyamu sambil mencari potret diri seorang tokoh penting dalam sebuah folder khusus di laptopmu. Seorang teman kolumnis spesialis obituari menginginkannya, lantaran orang besar itu baru saja dilaporkan telah meninggal dunia. Bagaimana kalau yang muncul di layar monitor adalah wajah ayahmu sendiri, yang mungkin pernah kau abadikan sebelum ia pergi untuk selamanya? Kau sanggup menatapnya lama-lama? Sekadar melakukan olah-digital ringan untuk kebutuhan cetak buku Yasin dalam acara tahlilan 40 hari setelah kematian, misalnya?
         Bagimu, itu pekerjaan paling mengerikan. Barangkali lebih berbahaya dari upaya keras mendapatkan sebuah momentum pemotretan dalam situasi yang sedemikian genting. Wajah dalam foto itu seolah-olah ingin bercakap-cakap denganmu. Bibirnya seperti nyata bergerak. Tangannya bagai menggapai-gapai memintamu diam sejenak, menyimak pembicaraannya. Dengan macam-macam ekspresi, ia seperti memohon uluran tanganmu guna menyampaikan hal-hal yang tak tersampaikan semasa hidup. Ia menyingkap segala rahasia di hadapanmu, mengakui rupa-rupa tudingan yang semasa hidup mungkin dibantah terus-menerus. Foto orang yang sudah mati itu seperti rumah virtual yang dihuni  banyak harapan, dan semuanya dialamatkan kepadamu. “Semestinya bila orangnya sudah almarhum, datanya juga dikuburkan! Supaya tidak bikin repot,” ungkapmu, ketus.
Itulah yang kemudian membuat kau lebih gandrung mengabadikan benda-benda mati ketimbang memotret orang-orang hidup. Bila tak bisa mengelak dari manusia, kau pasti akan memilih manusia yang sudah menelentang di peti jenazah. Tapi, tentu ada saja saatnya kau tak bisa menolak untuk mengarahkan mulut lensa ke wajah orang hidup. Masih ingat saat ayahmu tiba-tiba minta dipotret dengan latar belakang kebun Kangkung yang ia garap dengan sisa-sisa tenaga setelah bertahun-tahun bekerja sebagai tukang sumur?
            “Jangan sibuk memotret orang lain saja. Bikinlah foto Ayah.  Tampakkan hamparan kebun sayur ini sebagai bukti bahwa Ayah masih bertenaga,” kata ayahmu pada satu kesempatan pulang beberapa tahun silam.
            “Tolong kau atur bagaimana caranya supaya muka Ayah tidak tampak terlalu tua. Begitu juga tubuh Ayah, upayakanlah tak terkesan ringkih,” mohon ayahmu, meski usianya saat itu sudah berkepala tujuh.
            “Kenapa masih diam? Lekas siapkan perkakasmu!”




            Permintaan yang bukan saja ganjil, tapi juga membuatmu terperangah beberapa jeda. Kau tahu, sejak kecil hingga dewasa, tak ada foto keluarga yang terpajang di dinding ruang tengah rumahmu. Kalaupun ada, itu hanya foto adikmu saat menerima piala lomba pidato, atau foto-foto adikmu yang satu lagi, saat ia bersama teman-temannya di SMP,  mengikuti lomba cerdas cermat antarsekolah. Bahkan hingga dari rumah itu sudah terlahir tiga orang sarjana--termasuk dirimu--tak satu pun terpampang foto wisuda. Tak ada foto ibumu, tak juga ayahmu, apalagi foto pernikahan mereka. Tapi kemudian, di usia tujuh puluhan ayahmu tiba-tiba memintamu untuk menyiapkan perkakas pemotretan guna mengabadikan dirinya. Entah untuk keperluan apa.
            Tanpa banyak bertanya-tanya, lensa-lensa terbaik kau keluarkan dari ransel, lampu-lampu flash off, tripod, dan alat-alat pemantul cahaya, terpasang di area kebun Kangkung di belakang rumah masa kecilmu itu. Kau biarkan ayahmu berdiri dengan posisi yang dia sukai, tanpa diarahkan sama sekali. Kau bebaskan saja ayahmu berbincang-bincang dengan leluasa saat pemotretan berlangsung. Cahaya petang itu cukup cerah. Suasananya sejuk dan tenang, dengan selingan candaan-candaan ringan, hingga akhirnya kau berhasil memperoleh 50 frame dari macam-macam sudut pembidikan, dengan ketajaman gambar dan detail yang sempurna.
            “Ayah tak  perlu memeriksa hasilnya. Ayah percaya kau sudah mahir!”
            “Satu-dua mungkin perlu kau kirim pada saudara-saudara Ayah. Sekadar menunjukkan bahwa Ayah masih kokoh. Tak lapuk digasak penyakit seperti mereka.” 
“Selebihnya kau simpan saja. Barangkali kau memerlukannya nanti.”
Dari raut mukanya, sebenarnya kau mengerti, ia ingin punya pose berdua denganmu, yang bisa saja kau lakukan dengan menyalakan mode swafoto pada kamera digitalmu. Tapi ayahmu sungkan menyampaikan keinginan yang mungkin berlebihan itu. Sebab ia tahu, sejak kecil kau adalah anaknya yang paling getol menolak setiap ajakan berfoto. Pengalaman pertamamu dengan dunia fotografi adalah pengalaman menghadapi ketakutan. Masa itu, berdiri beberapa depa di depan mulut lensa, bagimu bagai pasrah menyambut tembakan mematikan dari senapan seorang algojo berwajah sangar, meski fotografernya adalah pamanmu sendiri, adik bungsu ayahmu. Kau merasa terancam setiap kali harus berhadapan dengan kamera. Mukamu terasa akan dikuliti, telingamu serasa akan digunting, dadamu terasa bakal ditikam.
“Orang yang takut difoto di masa kecil, kelak bila sudah besar akan menjadi juru foto,” demikian doa pamanmu, yang tampaknya segera diaminkan oleh ayahmu.
Doa itu terkabul di kemudian hari. Nasib mengantarkan hidupmu ke dunia foto. Hari-harimu tak pernah lepas dari kamera. Tak ada yang lebih menarik bagimu selain kegiatan menggambar dengan cahaya, meskipun bidang keilmuanmu sama sekali tak ada kaitannya dengan fotografi. Namun, perangaimu tak kunjung berubah. Jangankan di dunia citraan, di dunia nyata pun kau takut menampakkan diri. Kau selalu mengurangi risiko tampak muka bagi banyak orang. Kau gemar meniadakan tubuh dari siapapun. Tatkala tidak bisa menghindar dari keharusan berpose di depan kamera, hasilnya sudah bisa ditebak; senyum terpaksa, tatapan basa-basi, dan aura gamang yang tak bisa kau dustakan. Teman-teman menggelarimu sebagai juru foto dengan satu pantangan; difoto. Bila itu terjadi, kata mereka, reputasimu sebagai juru foto handal akan jatuh. Seperti pendekar yang rahasia kesaktiannya terbongkar, hingga bertekuk lutut di hadapan musuh.
            Satu tahun selepas kau mengirimkan beberapa frame  foto ayahmu pada saudara-saudaranya melalui surat elektronik, dari kejauhan kau mendengar kabar bahwa ayahmu telah berpulang. Dari kebun Kangkung itulah tubuh ayahmu dipapah oleh beberapa orang. Saat itu ia sedang panen, dan hasilnya sudah ditunggu seorang tauke untuk dibawa ke pasar yang jatuh di hari Kamis. Tiba-tiba ayahmu diserang sesak napas yang sulit dihadang, hingga ia ambruk dan terkulai lemas di atas pembatang. Ayahmu terkapar dalam keadaan yang terus melemah selama beberapa bulan, hingga nyawanya tak terselamatkan.
Maka, peristiwa pemotretan yang menghasilkan 50 frame itu adalah perjumpaanmu yang terakhir dengan ayahmu. Bahkan sekadar mengantarkan ayahmu ke tempat istirahat penghabisan kau gagal memenuhinya. Pesawat yang kau tumpangi dari Jakarta mengalami keterlambatan. Yang dapat kau saksikan setiba di kampung halaman hanyalah tanah pemakaman ayah yang masih merah.
           “Hingga kini aku belum sanggup membuka folder berisi foto-foto ayahku!” ungkapmu dengan tampang yang semakin gamang.
            “Pernah aku tak sengaja membukanya, lalu aku buru-buru menutupnya. Ayahku hidup dalam foto-foto itu!”

***
              Foto-foto dalam folder khusus di laptop itu belum seberapa menggetarkan dadamu, Kawan. Semasa kita masih mahasiswa, kau masih ingat pernah mengajakku pulang ke kampungmu? Waktu itu aku membawa sebuah kamera analog, hadiah yang kuperoleh dari sebuah photo-contest. Dengan kamera itu--tentu dengan kemampuan yang masih amatir dan perkakas pendukung yang murahan--aku membuat sebuah pose foto bersama di halaman rumahmu; kau, dua adikmu, dan ayahmu. Foto itu kini masih utuh dalam arsip yang kuberi nama; dibuang sayang.
Memang sudah lusuh. Warnanya tentu sudah kusam. Tapi, kenangan yang bersarang di dalamnya, kupastikan tak akan berkarat. Dulu, setelah negatifnya kita cetak, dengan amat bersemangat kau bilang bahwa ayahmu masih kokoh. Kau ceritakan pula, saat memperbaiki pintu dapur yang lepas dari engselnya, ayahmu masih was-was bila tenaga mudamu tak sanggup menggeret daun pintu itu sendirian, lalu ayahmu tergesa datang membantu, hingga kalian merehab dapur ibumu bersama-sama. Masa itu ayahmu juga masih tangguh. Sepulang bekerja menggali sumur di rumah orang, sekujur tubuhnya bergelimang tanah liat. Kau bilang, hanya lidahnya yang tak berwarna tanah.
"Sepanjang sekop masih beradu dengan batu-batu di kedalaman sumur, jangan pernah ragu. Ayah akan terus bergelimang tanah, sementara kalian riang-gembiralah di dunia sekolah," begitu ayahmu memompa semangat kalian.
Kau tak bisa merawat ayahmu sebagaimana ia dengan santai menggendong tubuh kecilmu ke Puskesmas tatkala kau panas tinggi selepas bermain bola dalam hujan lebat. Kau tak bisa menyuapinya dengan makanan kegemaran karena ia sudah kehilangan selera. Sementara di masa kanak-kanak, sepotong Martabak yang nyaris terdorong ke dalam mulutnya ia renggut kembali, karena ia melihat matamu menginginkan Martabak Terang Bulan itu.
Kini ayahmu sudah tiada. Kegembiraan kalian juga sudah lama berlalu. Tapi kau tak akan lupa bau tanah yang telah bersekutu dengan tubuh ayahmu. Kau tak akan lupa napas kelelakiannya, cara tertawanya, kekar pangkal lengannya. Merindukan masa bergelantungan di pundak ayahmu adalah semacam kegembiraan yang tidak lagi akan bersuara. Atau semacam kesenyapan yang tidak lagi akan terbahasakan di sepanjang hidupmu.
Klise foto itu sudah hilang, Kawan. Tapi, aku sudah menyelamatkannya dengan mengubah lembaran foto usang itu ke dalam format digital. Telah kukirimkan berkas lunaknya ke alamat emailmu. Unduh dan simpanlah baik-baik. Kelak, kau akan memerlukannya…


Depok, 2017

Thursday, June 15, 2017

Tarekat Puasa Bicara


Damhuri Muhammad


(versi cetak artikel ini tersiar di harian  Kompas, Rabu, 14 Juni 2017)



Dalam keseharian kaum urban, saat Tuan berkunjung ke pusat perbelanjaan, mungkin sebelumnya Tuan hanya ingin mengisi waktu luang di akhir pekan, dan tidak berniat untuk berbelanja. Namun, macam-macam barang yang terpajang di etalase toko di pasar berpenyejuk udara itu, amat menggoda, hingga Tuan menyentuhnya. Sepatu model terkini, kemeja berkelas dengan potongan harga 50%,  atau gadget canggih yang menggiurkan. Akhirnya Tuan takluk juga, dan ujung-ujungnya Tuan membawa salah satu barang itu ke meja kasir. Tuan sudah berbelanja sesuatu yang sejatinya tidak Tuan butuhkan.
            Demikian pula suasana keriuhan dalam karnaval kelisanan di dunia maya. Saat memeriksa kabar penting di linimasa akun media sosial, boleh jadi kita sedang tidak ingin menulis sesuatu, karena memang sedang tak ada yang perlu diperbincangkan. Namun, percakapan yang berhamburan, katakanlah isu yang sedang menjalar ke mana-mana (viral) atau perseteruan panas di antara dua kelompok tentang satu persoalan, sering membuat kita tergoda. Hasrat untuk selekasnya melibatkan diri dalam perbincangan itu, sungguh tak gampang  dijinakkan. Akhirnya, kita takluk juga. Sekadar memutakhirkan status facebook, menyiarkan kicauan ringan, atau bahkan langsung memosisikan diri sebagai penantang. Padahal, belum tentu kita menguasai duduk-perkaranya.
            Setelah terjun bebas ke dalam sungai kenyinyiran itu, tak jarang kita hanyut terlalu jauh. Perdebatan yang meluas ke mana-mana kerap menimbulkan perseteruan, menyalakan kebencian yang hari-hari ini hampir tegak sebagai kebiasaan. Oleh karena itu, maka godaan yang paling laten di bulan Ramadhan ini, bukan lagi nafsu untuk makan dan minum dalam situasi lapar dan dahaga seharian, tapi bujukan untuk senantiasa berbicara.
            Maka, laku puasa yang paling esoteris di semesta kelisanan yang nyaris menjadi berhala ini, menurut hemat saya, adalah puasa bicara. Semacam ikhtiar besar-besaran guna menggapai posisi diam, atau yang dalam bahasa Alquran disebut dengan as-sukut dan as-shumt. Terminologi yang saya sebut terakhir dekat sekali bunyinya dengan as-shaum, yang lazim dimaknai dengan ”puasa.” Para ulama memang berbeda pendapat tentang makna hakiki as-siyam dan as-shaum, tapi setidaknya as-shumt identik sekali dengan sikap diam alias tak nyinyir berkata-kata.
            Siti Maryam a.s--sebagaimana dikisahkan Alqur’an dalam surat Maryam ayat 26--pernah diperintahkan Tuhan untuk menjalankan tarekat puasa bicara, agar ia tidak terpancing untuk menanggapi berbagai tuduhan yang ditujukan pada dirinya. Aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah. Maka, aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini, demikian kata Maryam dalam kisah itu. Menurut ulasan Jalaluddin Rakhmat (2008) dalam Madrasah Ruhaniah, tarekat puasa bicara yang dilakukan Maryam a.s membuat ia mampu mendengarkan suara bayi yang masih berada dalam kandungannya. Bayi itu pulalah yang kemudian menjawab hujatan banyak orang kepadanya. Sufi besar abad 14, Sayyid Haydar Amuli (1319-1385)--sebagaimana dikutip Jalal--berpesan bahwa bila seorang manusia terlalu banyak berbicara, ia tidak akan mampu menangkap isyarat-isyarat gaib yang datang kepadanya. Suara mulut manusia terlalu riuh, sehingga isyarat-isyarat yang datang dari alam malakut tidak dapat ditangkap oleh batinnya.

          


 
Bukan hanya Siti Maryam a.s, Alquran juga mengisahkan tarekat puasa bicara yang pernah ditempuh oleh Nabi Zakaria a.s. Peristiwa itu berlangsung ketika Zakaria a.s akan dikaruniai seorang anak, setelah ia bertahun-tahun menunggu datangnya keturunan, hingga usianya renta. Dalam surat Maryam ayat 8 diceritakan bahwa Zakaria a.s sukar mempercayai kabar tentang kehadiran anak yang kelak bernama Yahya a.s itu, karena usianya waktu itu sudah sangat tua, sementara istrinya adalah seorang perempuan mandul. Apa tandanya ya Allah, demikian Zakaria bertanya. Lalu, Allah menjawab, tanda bagimu adalah kamu tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga malam (QS.Maryam 19: 10).
            Ayat itulah dalil yang kemudian dipegang oleh Zakaria a.s sebagai perintah Tuhan untuk menjalankan puasa bicara, guna mensyukuri nikmat yang telah diberikan Tuhan kepadanya. Di kemudian hari, kisah penting ini menjadi etos kultural dalam kehidupan setiap keluarga muslim. Kepada para suami yang istrinya sedang mengandung, disarankan untuk tidak terlalu banyak berbicara. Jika seorang suami menjalankan tarekat puasa bicara selama istrinya  mengandung, dipercayai ia akan dianugerahi seorang anak seperti Yahya a.s,  yang cerdas, arif, berhati lembut, dan bertaqwa kepada Allah SWT (Jalaluddin Rakhmat, 2008).
            Tarekat puasa bicara adalah laku berpuasa yang dijalankan oleh pribadi-pribadi muslim yang telah melampaui fase awwam dalam beribadah. Prof. Nasaruddin Umar (2014) menyebut puasa bicara ini sebagai ciri puasa khawas al-khawash (sangat khusus). Laku berpuasa dalam derajat yang sangat khusus ini bukan sekadar menjauhkan diri dari segala bentuk pembicaraan kotor dan membuang jauh-jauh keinginan untuk mempergunjingkan orang lain--yang di jaman ini dapat dilakukan hanya dengan memencet tombol-tombol huruf di layar telpon pintar--tetapi juga menahan diri sekeras-kerasnya untuk tidak nyinyir membicarakan hal-ihwal yang tidak perlu.
            Tapi di sinilah tantangan itu semakin mengeras. Kita sedang berada dalam kepungan jaman yang setiap saat mengundang banyak orang untuk terus-menerus berbicara. Dalam pergaulan di media sosial, orang yang tidak terlalu gencar berbicara akan dianggap sebagai pengguna akun yang pasif, tidak gaul, dan sangat rentan di-unfollow, atau bahkan dihapus dari daftar pertemanan. Di dunia maya, prinsip yang berlaku adalah saya bicara, maka saya ada. Itu sebabnya di bulan Ramadhan ini, alih-alih kenyinyiran sedikit mereda, arus kelisanan yang mengalir dari pagi hingga pagi kembali, justru semakin banal dan tak terkendali.  Makian, sumpah-serapah, dan rupa-rupa bahasa kedengkian meningkat tajam, karena aktivitas berselancar di dunia maya diperlakukan sebagai kegiatan ngabuburit, sembari menanti waktu berbuka tiba. 
            Akibatnya, banyak persoalan yang sesungguhnya tidak dapat dibahasakan secara jernih, tetap meluncur dari mulut kita, dengan segenap risiko kesalahpahaman, bahkan perseteruan yang tiada berkesudahan. Terhadap apa yang tak dapat kita bicarakan, mungkin sebaiknya kita diam, demikian kata filsuf Ludwig Wittgeinstein (1889-1951). Semakin banyak berbicara semakin banyak sesat-pikir yang mengemuka. Semakin banyak aib yang tersingkap, semakin marak fitnah dan kebencian yang diakibatkannya…





Thursday, April 20, 2017

Dalam Kepungan Kisah


 
 
Damhuri Muhammad




(versi cetak artikel ini tersiar di harian Kompas, Rabu, 19/4/17)




Gue sekarang nggak tahu mau apa. Gue bimbang. Kita lihat aja gue berani apa nggak.  
Mungkin gue akan siarin langsung. Kalo nggak, ya hanya video kenang-kenangan 
untuk istri gue aja



Begitu curhatan seorang lelaki yang bermukim di Jagakarsa (Jakarta Selatan), sebelum ia bunuh diri dengan cara gantung diri, Jumat (17/3/17). Hingga artikel ini diturunkan, video pendek  itu masih dapat ditonton di Youtube. Para netizen gempar, sebab lelaki itu menyiarkan aksinya secara live di laman akun pribadi. Media melaporkan, sebelum ditemukan dalam keadaan tak bernyawa, ia terlibat pertengkaran dengan istrinya, dan diduga pasalnya adalah cemburu. Sekilas, peristiwa itu seperti dramaturgi belaka, tapi amat nyata di depan mata.
Orang tak perlu repot berhari-hari membaca guna meraih puncak peristiwa dramatik dari roman percintaan setebal 800 halaman misalnya. Tak perlu pula datang ke gedung teater, menyaksikan kisah cinta berdurasi satu-dua jam. Sebab, dunia keseharian telah menyuguhkan dramaturgi. Dalam sepersekian menit, kisah-kisah dramatik datang silih-berganti. Satu peristiwa berlalu, datang lagi peristiwa baru, yang boleh jadi jauh lebih tragik. Begitu seterusnya.
Dalam arus deras kisah-kisah itu, ibarat menginjakkan kaki di sungai dangkal, sesungguhnya kita tak pernah turun ke sungai yang sama. Air yang menyentuh lingkar tumit kita selalu air yang baru. Sementara air yang kemarin telah mengalir menuju muara. Tak ada kisah yang kekal, sebab yang abadi hanyalah perubahan dari satu dramaturgi ke dramaturgi baru. Berselang beberapa hari dari kegemparan yang datang dari Jagakarsa, 20 Maret 2017, dari Desa Nampu, Kecamatan Gemarang, Kabupaten Madiun, tersiar kabar tentang pernikahan antara Rokim (24) dan Tampi (67). Kisah pengantin baru dengan selisih usia 43 tahun itu bukan dongeng, tapi peristiwa yang berlangsung dengan cinta yang utuh dan ijab-kabul di hadapan penghulu, 15 Maret 2017--dua hari sebelum lelaki di Jagakarsa bunuh diri, juga atas nama cinta.
"Saya menikahi Tampi karena cinta dan kasihan hidupnya yang menyendiri terus," kata Rokim,  pria kelahiran Nganjuk itu, sebagaimana dikutip  www.kompas.com (20/3/17). Disebutkan, Tampi berprofesi sebagai tukang pijat dengan penghasilan tak menentu. Sejak usia 16 tahun, Rokim sudah mengenal  Tampi. Bila letih sepulang bekerja, Rokim datang ke rumah Tampi. Rokim mulai menyukai Tampi setahun terakhir. Bermula dari rasa kasihan, lama-lama Rokim jatuh cinta. Apalagi Tampi selalu memberikan perhatian tulus saat Rokim datang ke rumahnya. Meski usia Rokim jauh lebih muda dari Tampi, pria itu mengaku tidak malu punya istri dengan usia sepantaran neneknya.
Sekali lagi netizen mengurut dada. Bila kisah lelaki dari Jagakarsa membuat netizen berduka-cita, kisah dari Madiun membawa emosi netizen  ke batas antara sedih dan bahagia. Sebagai anak-anak muda yang selalu riang  tentu netizen sulit membayangkan rumah tangga seperti apa yang bakal berlangsung pada pasangan Rokim-Tampi. Namun, sebagai generasi yang masih mendambakan ketulusan cinta di abad milenial, pengantin baru dari Madiun itu dapat membuktikan bahwa keajaiban cinta yang termaktub dalam novel-novel besar dari ratusan tahun silam, tak dapat dibantah. Bermuram-durja sekaligus gembira. Terperangah sedemikian rupa, tapi takjub luar biasa pada saat yang sama. Netizen bagai terombang-ambing di laut lepas. Dilanda takut bakal karam sia-sia, tapi beroleh harapan bakal terdampar dengan selamat, pada saat yang sama. 





Dua kisah penting itu bukan hoax, bukan omong kosong. Tapi kenyataan yang mungkin lebih mencemaskan ketimbang kabar bohong yang selama ini dikhawatirkan. Kisah-kisah itu patah tumbuh hilang berganti. Netizen mustahil mengelak dari kepungannya. Sepanjang hidup masih berdenyut, kisah demi kisah akan terus muncul. Manusia adalah makhluk yang selalu membuat kisah. Bukan kisah rekaan sebagaimana dalam prosa atau sinema-sinema garapan sutradara terkemuka, melainkan kisah nyata yang tak dapat disangkal keberadaannya.
Kepungan kisah ini mengingatkan saya pada diskusi kecil bersama Bagus Takwin, Pengajar Psikologi, Universitas Indonesia, di Cak Tarno Institute (CTI) pada 2006 lalu. Bagi Takwin, setiap manusia adalah produsen kisah, yang di dalamnya ia selalu memegang peran utama. Kisah itu bernama “Diri” (self), pusat dari aktivitas kesadaran, sekaligus medan tempat berbagai daya dari luar ikut menyumbangkan cerita guna melengkapi kisah utama itu. Dengan memahami kisah itu, menurut Takwin, kita dapat memahami bahwa “Diri” setiap orang  senantiasa terhubung dengan “Diri” orang lain. Seperti tanda dan lambang dalam sebuah roman--yang merujuk pada berbagai peristiwa di luar roman itu--maka diri manusia juga mengandung berbagai rujukan ke luar, pada kehidupannya bersama dengan manusia lain.
Maka, kisah-kisah yang berhamburan saban hari di tengah-tengah keseharian kita, tak mungkin lepas dari keterhubungannya dengan kehidupan orang-orang di sekitarnya. Memang, yang melakukan aksi bunuh diri dan menyebarluaskannya secara live adalah seorang lelaki di Jagakarsa, tapi alur, plot, dan karakter yang terkandung dalam kisah itu boleh jadi erat kaitannya dengan kita, orang-orang di sekitar kisah itu. Secara hermeneutik dapat dibenarkan bahwa mentalitas yang rapuh dan ketakberdayaan kita dalam menghadapi persoalan yang semakin runyam di kurun mutakhir ini adalah “panggilan penciptaan” dari kisah dramatik dari Jagakarsa itu.
“Manusia sebagai pembuat kisah” adalah analogi yang digunakan Bagus Takwin untuk menjelaskan konsep diri sebagai identitas naratif  dari  filsuf Paul Ricoeur (1913-2005). Tokoh hermeneutika modern itu berpandangan bahwa manusia memahami identitas pribadinya seperti seorang pembaca memahami identitas dari tokoh-tokoh rekaan dalam sebuah cerita yang sedang dibacanya.
Prinsip hermeneutik mengajarkan, setiap kisah yang lahir dari tangan pengarang, tak pernah berdiri sendiri, tapi berjalin-kelindan dengan kisah-kisah lain yang muncul sebelum, atau bersamaan dengannnya. Bagi Takwin, "aku yang berinisiatif membuat kisah selalu terkait dengan orang lain yang juga berinisiatif membangun kisah." Dari situ jelaslah bahwa setiap identitas individual selalu bersekutu dengan “identitas-kita.”
Dengan begitu, asmara tak biasa Rokim-Tampi adalah juga kisah kita semua. Tanda dan lambang yang terkandung di dalamnya merujuk pada kepasrahan kita menerima kepayahan dalam situasi yang tak banyak memberi pilihan. Tak apa-apa dipandang sebelah mata, asal kita bahagia dalam cinta. Biarlah sawah-ladang saudara-saudara kita di Jawa digempur alat-alat berat guna pembangunan pabrik raksasa, asal Indonesia gemilang masa depannya...

 
 

Monday, April 17, 2017

K E S U M B A


Damhuri Muhammad


(versi cetak cerita ini tersiar di harian Jawa Pos, Minggu, 16 April 2017) 

1
Peternak Kecemasan

Anak-anakku. Di usia yang menjelang renta ini, tibalah saatnya Ibu kisahkan kepada kalian tentang seorang lelaki yang sanggup melakukan apa saja demi hidup Ibu, kecuali bersetia!
Ibu menyebutnya peternak kecemasan. Sebagaimana lelaku peternak, cemas yang saban hari ia rawat, diberinya pakan terbaik, dibiarkannya kawin-mawin secara leluasa, hingga beranak-pinak dari waktu ke waktu. Sebuah rongga di dadanya--yang Ibu andaikan sebagai kandang dari ternak-ternak itu--menjadi penuh-sesak, dan mungkin tak memadai lagi sebagai kandang. Akibatnya, kecemasan itu melimpah-limpah, lalu menjalar ke sekujur tubuhnya.
Lututnya menggigil hebat bila Ibu terlambat berkabar, hanya untuk memastikan apakah Ibu telah selamat sampai di rumah, atau barangkali kereta api yang Ibu tumpangi mengalami gangguan signal di perjalanan. Kabar dari Ibu bagai siraman air yang senantiasa ia butuhkan guna memadamkan bara kecemasan yang menyala di pembuluh darahnya.   
“Sudah merapatkah kapalmu di dermaga, Kesumba?” begitu ia bertanya dengan isyarat-isyarat ganjil melalui pesan singkat.
Sepanjang tanya itu belum dijawab, ia akan terus membuat pertanyaan-pertanyaan baru.
            “Apakah pelayaranmu diamuk badai?”
            “Kau tidak salah membaca arah angin?”
            “Ah, semoga kau baik-baik saja!”
Demikian cara ia beternak kecemasan. Kenyinyiran itu biasanya ia sampaikan bersamaan dengan gigil lutut yang sulit diredakan. Padahal, penyebab dari pesan-pesan yang tak berbalas itu begitu remeh. Setiba di rumah, Ibu dilanda kantuk yang tak dapat ditawar-tawar, lalu terkapar pulas hingga dini hari. Ibu tak sempat memeriksa pesan-pesan pendek yang masuk selama perjalanan. Lagi pula, bila Ibu sudah di rumah, mata ayah kalian sangat awas, seperti mata pengintai kelas berat yang tak mau abai pada gelagat sekecil apapun. Agar level kewaspadaannya tidak meningkat menjadi curiga, Ibu langsung rebah saja di sampingnya.
            Dari pagi hingga malam, peternak kecemasan bertugas memastikan keadaan Ibu aman, dan terhindar dari segala bahaya. Dalam situasi serepot apapun, ia selalu hadir saat Ibu sedang menginginkan seorang teman. Bila janji berjumpa kami sepakati di tempat ramai, jangan coba-coba muncul pakai rok mini. Perkaranya akan panjang. Dia akan bilang, cara berpakaian Ibu terlalu mencolok, dan mengundang perhatian banyak mata.
        “Mencolok apanya? Ini masih di bawah lutut,” begitu kilah Ibu mempertahankankan pilihan.       
“Rokmu di atas,  lututmu di bawah. Itu yang kau maksud di bawah lutut?” bantahnya, lugas.
Ibu memang jengkel. Tapi, diam-diam Ibu merasa diperhatikan, merasa dibimbing, dan yang paling Ibu kenang adalah, Ibu merasa terlindungi. Berada di dekat si peternak kecemasan membuat Ibu tidak takut lagi hidup sendirian. Ibu jadi pemberani. Termasuk berani melawan dalam pertengkaran-pertengkaran yang berkesinambungan  dengan ayah kalian.
Kalian tahu, hampir satu dekade lamanya Ibu merasa sendiri. Selama itu pula  sekeping demi sekeping keriangan masa muda Ibu, hilang tak berjejak. Sejak Ibu menikah hingga kalian menginjak usia remaja, Ibu tidak lagi mendengarkan musik, sebagaimana kegemaran Ibu semasa gadis. Ibu absen menonton ke bioskop, hingga Ibu menjadi buta sinema. Dan, yang paling berbahaya dari semua kehilangan itu adalah, Ibu tidak lagi berminat untuk berdandan. Wajah Ibu seperti daun yang meranggas dari ranting mati. Bibir Ibu kerontang setelah digilas kemarau. Tubuh Ibu jauh dari bugar. Kedatangan peternak kecemasan itu seperti suara klakson kapal yang menyeruakkan lengkingan lantang, hingga laut mati tidur panjang Ibu bergejolak tak tanggung-tanggung. Sekeping demi sekeping dari yang hilang itu hendak Ibu raih kembali. Apa yang di masa lalu menjadi milik Ibu hendak Ibu kuasai kembali.
Ia memanggil Ibu dengan nama Merah Kesumba. “Merah yang tak akan luntur. Seperti keriangan hidupmu yang tak akan redup lagi,” katanya suatu ketika. Itulah titik awal Ibu mulai sibuk merenovasi tubuh yang hampir tumbang. Hari-hari Ibu tak pernah lepas dari kegiatan bersolek. Ibarat merehab rumah yang sudah lama tak berpenghuni, dari teras, ruang tamu, hingga dapur dipugar sedemikian rupa oleh tukang-tukang handal. Si peternak kecemasan memilih anting-anting terbaik di sebuah toko perhiasan yang kami kunjungi. Tak lama berselang, tanpa diduga ia mengajukan sebuah penawaran yang terdengar ganjil. Ia meminta Ibu memakai gelang kaki.
“Ah, jangan aneh-aneh kau!” kata Ibu sambil menggerutu.
“Tumitmu seksi. Akan lebih menakjubkan bila dilingkari dengan sebuah gelang kaki,” katanya sambil mengeluarkan sebuah gelang kaki dari kotak perhiasan berwarna merah kesumba. Si peternak kecemasan telah memesan perhiasan itu jauh-jauh hari, entah dari mana.
Ibu masih ingat sentuhan jari tangannya yang gemetar saat memasangkan gelang itu di kaki kiri Ibu. Gelang dari bahan titanium halus dengan logo ikan kecil di bagian tengahnya.
“Ikan kecil ini pertanda bahwa aku telah menelan umpanmu?” tanya Ibu waktu itu.
“Ikan jinak tak perlu diringkus dengan umpan. Ia hanya perlu air yang baru.” 
Hari-hari Ibu semarak oleh lagu-lagu terkini pilihan si peternak kecemasan. Waktu senggang Ibu bagai tak pernah cukup lantaran selalu kami gunakan untuk menonton di film-film favorit. Ibu menyadari, si peternak kecemasan ternyata juga beternak kegembiraan yang saban hari berkembang-biak hingga tumpah-ruah ke dalam hidup Ibu. Dalam keberlimpahan suka-cita itu, Ibu hampir lupa bahwa si peternak kecemasan adalah lelaki yang bisa melakukan apa saja demi Ibu, kecuali bersetia!
Ia memang orang baik, tapi daftar mantannya lebih panjang dari tabel pengalaman kerja di curriculum vitae. Pacarnya di mana-mana. Seperti seorang pelaut, di mana kapalnya berlabuh, selalu saja ada perempuan yang berlabuh di pelukannya. Mungkin karena kecemasannya yang berlebih-lebih itu, ia harus mendistribusikannya pada banyak perempuan.
Saat itu Ibu dilanda mabuk keriangan. Ibu sungguh-sungguh tentram di bawah perlindungannya. Lalu, Ibu ingin menggenggamnya. Ibu ingin kecemasannya yang militan itu hanya untuk Ibu seorang. Namun, dari situ pulalah bermulanya ngilu di dada Ibu. Kedatangan si peternak kecemasan itu hanya  membuat Ibu makin sakit. Ibu sudah bergantung sepenuhnya kepadanya, tapi ia tidak selalu bisa datang, apalagi di saat-saat genting, ketika Ibu sangat membutuhkannya.
Semakin Ibu merindukannya, Ibu semakin sakit. Tubuh Ibu letih dibuatnya. Itu sebabnya Ibu melawan keinginan untuk mencintainya. Mencintai si peternak kecemasan, sama saja dengan memasrahkan hidup pada penyakit yang tak akan sembuh. Ibu menyayanginya, tapi pada saat yang sama, Ibu meronta-ronta hendak membebaskan diri dari perangkapnya.
“Aku akan terus menjagamu, Kesumba!”
“Aku bisa beli anjing Buldog sebagai penjaga!”
“Aku bisa melakukan apa saja untukmu!”
“Kecuali setia, bukan?”
Begitulah anak-anakku. Keping-keping kegembiraan masa belia yang  telah sempurna di genggaman Ibu, harus Ibu bayar mahal dengan kehilangan si peternak kecemasan.
            “Aku tidak menghilang, tapi sedang mengurangi jumlah kedatangan!” 

***









2
Rahasia Tentang Gelang Kaki

Anak-anakku. Dalam keringkihan yang mustahil dielakkan ini, perkenankan Ayah menyingkap rahasia perihal gelang kaki dari bahan titanium dengan motif berbentuk kail, yang kalian temukan di ruang penyimpanan barang-barang pribadi Ayah. Masa itu kalian berebut hendak memilikinya, tapi Ayah bersikukuh mempertahankannya.
            “Itu barang pribadi. Jangan coba-coba menyentuhnya!”  bentak Ayah.
“Bakal karatan bila disimpan saja,” ketus Rimba, dengan wajah cemberut.
“Kasih buat Bukit aja, Yah?” sambung Bukit, bersemangat.
“Rimba yang temukan pertama kali. Siapa cepat dia yang dapat!”
“Akan Ayah belikan gelang emas buat Rimba dan Bukit. Lupakan benda itu!”
“Tapi, siapa pemilik gelang itu? Dan, kenapa motifnya kail?”
“Seperti pemancing saja! Mancing perempuan, barangkali?”
            Anak-anakku. Dulu, gelang kaki itu sepasang. Satu bermotif kail yang bikin kalian penasaran itu, satu lagi bermotif ikan kecil, yang telah melingkar di pergelangan kaki seorang perempuan. Tangan Ayah sendiri yang memasang gelang itu di kakinya. Masih sempurna dalam ingatan Ayah, bentuk jari kakinya, dari jempol hingga kelingking. Begitu juga urat-urat halus yang membayang di permukaan punggung kakinya.Sejak itulah ikan dan kail bersekutu. Ayah percaya, persekutuan itu tak akan lepas sampai kapan pun.
Ayah menyebutnya si penyayang keras kepala. Sekali menjatuhkan pilihan untuk menumpahkan rasa sayang pada seseorang, ia bisa mengorbankan apa saja, termasuk hidupnya. Oleh karena tenaganya telah terkuras lantaran menyayangi seseorang dengan cara yang militan, sekali waktu tubuhnya akan mengalami keletihan, hingga Ayah menggambarkannya seperti rusa kecil yang tertatih-tatih di rimba raya. Rentan diterkam hewan-hewas buas.
Itulah yang terjadi saat Ayah menemukannya. Staminanya nyaris tak bersisa. Nyala hidupnya hampir padam. Ayah menyelamatkan rusa kecil itu agar ia tidak menjadi santapan dalam sekali terkam. Ayah menjaganya, karena Ayah menyukainya. “Ini saatnya kau menerima, setelah memberi tak henti-henti,” kata Ayah.  
Perlahan-lahan tenaganya pulih. Segala yang padam dalam tubuhnya kembali terang-benderang. Tapi, suatu hari Ayah terkejut mendengar permohonan ganjilnya. Ia meminta Ayah enyah dari hidupnya. Ia bilang, semakin Ayah menjaganya, ia semakin terancam oleh ketakutan. Semakin Ayah melindunginya, ia semakin tersiksa. 
            “Lepaskan tikaman mata kailmu dari mulut ikanku!”
            “Insangnya akan berdarah, Kesumba!”
            “Lebih baik berdarah sekali saja, daripada luka sepanjang masa!”
Demikianlah anak-anakku. Mata kail Ayah hanya menancap di bibir ikan itu. Sementara ada mata kail lain yang lebih dahulu telah menikam jantungnya. Kini, mata kail Ayah telah berkarat. Seperti hidup Ayah yang terus bergerak menuju sekarat…

Depok,  2017

Monday, February 13, 2017

Seni Mengolah Perasaan

-->
Damhuri Muhammad


 (versi cetak artikel ini tersiar di harian Kompas, Kamis 9/2/17)



 
Selamat istirahat, akal sehat. Damai-tentramlah dalam perasaan! 

Demikian  bunyi kalimat singkat saya di laman akun media sosial pribadi, sekadar berkomentar perihal makin mengentalnya warna politik sektarian dalam keriuhan kontestasi antarkandidat menjelang Pilkada serentak 15 Februari 2017. Tak berselang lama, sejawat sesama tamatan madrasah, menulis kalimat panjang di linimasa akunnya, yang saya pastikan ditujukan ke muka saya. Meskipun dia tidak berani mengungkapkan keberatan secara terang-terangan--entah karena sungkan, atau keliru memahami maksud saya.
Inti dari kekesalannya adalah, karena menurut dia, saya telah melecehkan partisipasi politik berbasis keyakinan. Padahal, saya yang jelas-jelas jebolan sekolah agama, seyogyanya menghormati dan membela pilihan politik semacam itu. Tak tanggung-tanggung, dia menggunakan analogi; kalau saudara berdekatan dengan pedagang parfum, saudara akan kecipratan wanginya. Tapi, bila saudara suka bermain di dekat jamban, sepanjang hari tubuh saudara akan bergelimang bau kotoran.
Saya tidak beritikad menanggapi, apalagi menangkis sindiran itu. Sebab, tangkisan saya hanya akan mengembangbiakkan umpat-cela yang jauh lebih gawat. Di panggung Pilkada yang disusupi oleh hasrat sektarian, rasionalitas sebagai syarat utama bagi subyek politik bernama demos, alih-alih diafirmasi, justru disingkirkan ke tepi-tepi. Apa saja yang berangkat dari pikiran jernih dan logika yang terukur, dapat dinobatkan sebagai lawan, dan akan berhadapan dengan letupan emosi yang meluap-meluap. Siapapun rela berkerumun bila salah satu fondasi keyakinannya dihina, apapun risiko, dan berapapun biayanya.
Inilah yang kemudian membuat sektarianisme begitu menggiurkan, apalagi dalam suasana kontestasi politik di mana setiap kandidat mesti berupaya keras mendulang suara guna meraih kemenangan. Strategi kampanye yang bermain di seputar isu-isu sektarian memang ampuh dan lekas menghimpun dukungan. Propaganda yang tersiar secara massif dengan bumbu-bumbu sektarianisme terdengar lebih menggairahkan, ketimbang penjelasan rinci tentang program kerja lima tahun ke depan. Akibatnya, cuaca politik menjelang Pilkada penuh sesak oleh idiom-idiom kedengkian atas nama etnis dan agama, yang bila tak segera dibendung dapat menimbulkan keretakan yang sukar diselamatkan. 
Tak dapat dipungkiri, sentimen agama sangat jitu dalam mengelola perasaan orang banyak. Betapapun payahnya penghidupan, kalau sudah perkara agama, hukum yang berlaku; tiada kayu, jenjang dikeping. Itu sebabnya, selama tiga dekade, rejim Orde Baru menganggapnya sebagai ancaman. Maka, berbagai sayap sektarian pun disatukan dalam sebuah wadah, agar mudah dikendalikan. Pihak-pihak yang terlalu keras diberi stempel ekstrim kiri atau ekstrim kanan, lalu dibabat tiada ampun. Sementara kelompok moderat cukup dibius dengan mekanisme ideologis yang halus.
Di sisi lain, sebagaimana dicatat oleh Donny Gahral Adian (2006), sektarianisme dapat pula memfasilitasi lahirnya totaliterisme. Di bawah naungan demokrasi, diam-diam Hitler menjalankan modus sektarian. Atas nama kebebasan berpendapat, ia berpidato membangkitkan sentimen antisemitisme di hadapan masyarakat Jerman, meskipun maklumatnya tak dapat dikatakan sebagai dusta, karena kenyataannya perekonomian Jerman masa itu memang dikuasai oleh kelompok Yahudi. Selain itu, Hitler juga melakukan self-fulfilled prophecy, sebuah ramalan tentang lenyapnya orang-orang Yahudi di tanah Jerman, dan ia sendiri yang mengeksekusinya. Modus sektarian itu kemudian memberinya keuntungan politis  sedemikian besar.
Namun, hasrat sektarian yang berangkat dari ruang privat, tidak dapat menjadi pijakan moralitas politik. Bagi filsuf Roussseau (1712-1728) misalnya, politik adalah seni mewujudkan kehendak umum dalam sebuah tatanan hidup bersama. Kehendak umum adalah “diri sejati yang rasional” dalam personalitas setiap orang. Tapi, rasionalitas itu kerap terhasut oleh hasrat jangka pendek yang destruktif. Sebagai contoh, atas nama kebebasan, setiap orang berhak menarik uangnya di bank di masa krisis, tapi ketika semua orang semata-mata mengikuti hasrat jangka pendeknya, yang terjadi adalah bank tersebut kolaps dan nasabah  gagal menarik uang mereka. Para nasabah yang mengikuti hasrat jangka pendeknya tidak bertindak berdasarkan kehendak umum, tapi atas dasar kepentingan pribadi. Politik bukan tempat bagi yang pribadi, jangka pendek, dan irasional.
Untuk membuhul berbagai proposal kepentingan dari macam-macam kelompok dalam masyarakat majemuk hingga mewujud sebagai kehendak umum, filsuf John Rawls (1974) dalam Theory of Justice, menawarkan sebuah alat uji yang disebut nalar publik (public reason). Artinya, setiap kehendak yang berasal dari basis agama, etnis, atau ideologi tertentu, harus dapat diterima oleh akal-sehat sebanyak-banyaknya orang. Setiap gagasan, meski berasal dari dalil agama, bila diterima oleh semua pihak berdasarkan akal-sehat, tidaklah akan menyulut persoalan. Fondasi dari perwujudan kehendak umum itu adalah rasionalitas. Tanpa nalar publik, demokrasi tidak dapat menjamin keberlangsungan masyarakat yang plural. Atas nama kebebasan berserikat, sebuah kelompok bisa menabrak hak kelompok lain. Tanpa akal sehat, demokrasi hanya akan menjadi dalih guna melangsungkan modus-modus sektarian.  
Memberdayakan sentimen agama di tengah-tengah kemajemukan sangat berbahaya. Seperti menyemprotkan minyak ke dalam kobaran api (sabbu az-zait ala an-nar), demikian pemikir muslim, Muhammad Arkoun (1928-2010) pernah menggambarkannya. Di panggung politik masa kini, kekhawatiran itu tampaknya tidaklah menakutkan. Buktinya, klaim kebenaran atas nama agama, masih menjadi komoditas. Nalar publik sekadar topik perbincangan metateoretik, belum menjadi bagian pokok dari budaya demokrasi kita. Pikiran yang absen dalam sikap politik setiap konstituen, dipandang sebagai peluang untuk merengkuh dukungan. Budaya politik kita masih sebatas seni mengolah perasaan, ketimbang keterampilan mengelola pikiran, demi kemaslahatan bersama. 
Kepada kawan yang telah menyumpahi saya, ada pesan sederhana yang hendak saya sampaikan. Sebagai warga negara dan subjek politik yang waras, saya tidak akan berpaling dari pikiran guna memperkokoh sikap politik saya. Oleh karena saudara sudah merasa benar dengan keyakinan saudara, dan telah menutup pintu bagi setiap kemungkinan yang datang dari pikiran, lebih baik saudara beristirahat, lalu tidur panjang dalam kelambu kejumudan…