Oleh: DAMHURI MUHAMMAD
(Kompas, Minggu, 19 Februari 2012)
SEORANG pengamat sastra menuding warna lokal sebagai perhatian utama prosa yang muncul beberapa tahun belakangan ini, tak lebih dari sekadar kerja ornamentasi dengan memancangkan diktum dan peribahasa khas etnik tertentu dalam teks, hingga sebuah prosa memerlukan sederetan catatan kaki guna menjelaskan maksudnya. Sebutlah misalnya kumpulan cerpen Perempuan Bawang dan Lelaki Kayu (2009) karya Ragdi F Daye, yang penuh-sesak oleh ungkapan khas Minangkabau semacam “melepongkan,” ‘basilemak,” dan “manggoro.” Bila tidak merujuk pada glosarium yang terukur tentu akan membuat kening pembaca berkerut, utamanya pembaca non-Minang. Siasat literer serupa juga ditemukan dalam Bulan Celurit Api (2010) karya Benny Arnas, dengan diktum khas melayu Lubuk Linggau (Sumsel) seperti “Singup,” “Pudur,” dan “Tarup.” Begitupun diksi khas Bugis yang berseliweran dalam antologi cerpen Mengawini Ibu (2011) karya Khrisna Pabichara.
Sepintas lalu, klaim itu mungkin ada benarnya. Namun, warna-lokal tidak sesederhana sebagaimana disangka. Mewabahnya jenis prosa dengan ekspresi estetik yang tegak-berdiri di atas warna-lokal bukan tanpa sebab, tidak taken for granted, sebagaimana wejangan yang meluncur dari langit ke tujuh. Sebab paling absah adalah karena realitas bernama “Indonesia” yang sejak lama hendak diniscayakan sebagai fondasi kepengarangan para sastrawan bertumpah-darah Indonesia, kini sukar digenggam. Tak disangkal bahwa secara teritorial realitas “Indonesia” masih terang-benderang, tapi secara kultural, adakah yang dapat membulat-lonjongkan definisi kebudayaan Indonesia? Alih-alih mengunci sebuah pemahaman yang paripurna tentang Indonesia sebagai entitas universal, yang kerap bersilang-pintang dalam keseharian adalah Indonesia rasa Jawa, rasa Makassar, rasa Bali, rasa Batak, rasa Aceh, dan seterusnya.
Maka, inilah sebuah kurun tempat segala bentuk totalitas dan universalitas dirobohkan. Segala rupa partikularitas terus menyesak, “yang pinggiran” merangsek masuk, “yang terabaikan” bermunculan bagai jamur musim hujan. Kaum filsuf pasca-modernisme menyebut “yang partikular,” “yang tak terperhatikan” itu sebagai “yang lain” (the others). Bagi mereka, “yang lain” (Minang, Batak, Bugis, Banjar, Bali, dll) itu harus diafirmasi dan dihargai keberadaannya. Bila tidak, ia akan terus menganggu dan menjadi benalu dalam entitas universal bernama “Indonesia” itu. Dalam kacamata pascamodernisme, tak ada pusat, tak ada pula pinggiran. Semuanya berjalin-kelindan dalam jejaring permainan tanda bernama: Simulakra. Tiada makna tunggal dalam lingkar Simulakra. Makna selalu tenggelam─atau menenggelamkan diri─dalam keberbagaian tafsir yang tak berhingga. Differance, begitu Jacques Derrida (1930-2004) menamai kompleksitasnya.
Maka, baik “Indonesia” maupun “warna-lokal” tak sebatas kata-kata, bukan pula benda-benda, melainkan “peristiwa” yang terus berubah, beralih-rupa, dan karena itu akan terus ditunda kuasa tafsir tunggalnya. Lalu kenapa warna lokal menjadi lahan subur ekspresi kepengarangan belakangan ini? Saya menggambarkannya dengan sebuah ilustrasi sederhana. Suatu ketika dalam keseharian orang Melayu, seorang suami kesal lantaran sayur bikinan istrinya keasinan. Satu-dua sendok kuah sayur dicicipinya, selepas itu tak disentuhya lagi. Ia tidak marah, apalagi mengumpat. Dengan tekanan suara datar, ia hanya bergumam: apakah garam sedang murah? Istrinya gugup dan salah tingkah. Sejak peristiwa itu, ia menghafal takaran garam bagi sayur yang digandrungi suami tercintanya.
Saya menandai ungkapan yang sudah menyehari dalam kehidupan orang Melayu itu sebagai kekesalan yang artistik. Tidak berterus-terang, tapi tajamnya boleh diuji, jauh melebihi ungkapan yang paling terang-benderang sekalipun. Peristiwa kecil di meja makan itu merepresentasikan live in art, hidup di dalam kesenian. Pahit tak selekasnya mereka muntahkan. Manis tak tergesa mereka telan. Di sinilah problem utama seni mutakhir; apakah karya seni─apapun bentuk dan jenisnya─sekadar melahirkan sensasi estetik, atau justru berpretensi menenggelamkan penikmatnya dalam realitas kesenian itu sendiri. Mungkin itu sebabnya, Jacques Ranciere (2010) dalam Disensus, on Politics and Aesthetics membuat garis demarkasi antara art of beauty dengan art of living. Menurutnya, seni modern sedang berada dalam ketegangan laten antara kesadaran estetik atau hidup dan terlibat dalam lingkaran estetika itu sendiri.
Beberapa waktu lalu, pemerintahan kota Batam meluncurkan buku bertajuk Mengemban Amanah dengan Pantun Melayu (2011) karya Ahmad Dahlan. Buku itu menegaskan betapa dunia pantun telah menyehari dalam riwayat orang Melayu. Telah menjadi air berkumur-kumur saban pagi. Ahmad Dahlan─kebetulan juga walikota Batam─memaklumatkan bahwa sejak dari perkembangan sejarah paling mula, pantun telah tertandai sebagai identitas orang Melayu. Kembang mawar di dalam taman/petik sekuntum bawa berjalan/budaya bangsa kita kembangkan/pantun melayu jadi kebanggaan. Sepintas mungkin terasa biasa, namun penggalan “pantun melayu jadi kebanggaan” mengandung gairah kebersetiaan pada identitas Melayu, atau yang dalam terminologi filsuf Alain Badiou (2008) disebut fidelity.
Bila Anda dipercaya menjadi pemimpin, dan Anda berlaku adil pada rakyat yang Anda pimpin, maka muasal kearifan itu bukan humanisme universal yang selama berabad-abad dipuja-puji oleh kebudayaan dunia, melainkan karena idat-istiadat Anda mengajarkan prinsip-prinsip keadilan dan kejujuran. Tengok pula pantun; apa guna meranti/dibeli untuk membuat rumah/dukungan rakyat sangat dinanti/agar kami tetap amanah─disampaikan saat jumpa pers setelah pelantikan pada 2006. Media tentu mendokumentasikan peristiwa itu, namun kelisanan pantun akan jauh lebih bertahan. Sebab, pantun tidak hanya dituliskan di atas kertas, tapi juga dinukilkan dalam kenangan. Inilah yang disebut Ranciere sebagai “pembatuan” kenangan, atau dalam bahasanya; petrification. Kelak, bila ada yang melafalkan larik apa guna meranti/untuk membuat rumah, kesinambungan pantun itu tak perlu dilanjutkan, sebagaimana kita mengungkapkan kura-kura dalam perahu, atau sudah gaharu, cendana pula.
Begitulah konsekuensi estetis dari masyarakat yang senantiasa bergelimang dalam kubangan seni. Mereka tidak bisa lepas dari kesadaran artistik. Dan, inilah sebab paling nyata kenapa sastra kita bersetia pada kearifan lokal, ranah tempat para kreatornya lahir dan bergelimang dengan kesadaran estetik. Maka, berhamburannya karya sastra berbasis warna lokal adalah sebuah keniscayaan yang tiada bakal terelakkan.
membendakan gagasan dengan tulisan
TENTANG CERITA PENDEK, YANG MESKIPUN PENDEK, TAPI TAK KUNJUNG KHATAM KUNUKILKAN.JUGA TENTANG DUNIA BUKU INDONESIA YANG TERABAIKAN, KARENA PENERBIT KITA LEBIH GANDRUNG MENGIMPOR NASKAH DARI LUAR NEGERI
Monday, February 20, 2012
Monday, January 16, 2012
Elegi Kafilah Lumpur

Oleh: DAMHURI MUHAMMAD
(Jawa Pos, 15/01/2012)
MENIMBANG kata “Lumpur” yang secara lugas dan tegas dipajang sebagai tajuk novel karya Yazid R Passandre ini, sepintas lalu barangkali dapat dibayangkan betapa meluap-meluapnya kekecewaan, sakit-hati, bahkan amuk-amarah ribuan keluarga korban lumpur Lapindo, yang hendak digambarkan pengarang. Namun, dugaan itu ternyata meleset. Novel setebal 471 halaman ini sekadar menukilkan tarikh dan riwayat sejumlah bocah di desa Renokenongo, Porong, Sidoarjo. Akibat semburan lumpur panas yang hampir mustahil dibendung, mereka kehilangan tempat tinggal, arena bermain, dan gedung sekolah, tempat mereka membangun jembatan guna melesat ke masa depan.
Adalah Tanur, Senjah, Banjar, Panji, bocah usia sekolah dasar, yang selalu menjadi poros pengisahan, sekaligus menjadi sudut pandang jernih dan tanpa beban, yang digunakan pengarang guna memetakan akibat laten dari sebuah maha-bencana buatan manusia, hingga penduduk enambelas desa di tiga kecamatan harus kehilangan tanah tumpah darah, lahan sawah, dan nyala gairah guna melanjutkan hidup. Betapa tidak? Tengoklah nasib dan peruntungan Daya, janda muda yang tersia-sia selama berbilang tahun, hingga ia harus pontang-panting membanting tulang, bekerja demi menyekolahkan Tanur. Bocah yang merasa yatim─meski ayahnya belum mati─itulah harapan Daya satu-satunya, setelah suaminya pergi tanpa sebab yang dapat dimaklumi, setelah Mak Inah─tetangga baik hati yang sudah dipandangnya sebagai orangtua─dibunuh secara keji, setelah tubuh ranumnya nyaris diperkosa oleh begundal Parto, kaki-tangan Suro, kepala desa yang tak henti-henti membujuk agar Daya berkenan menjual sepetak tanahnya.
Tidak banyak yang berkelakuan manusiawi semenjak kedatangan orang-orang yang hendak mengeruk gas alam di kedalaman tanah Renokenongo. Kalaupun ada itu hanya armarhumah Mak Inah, tetua kampung yang paling teguh pendirian mempertahankan tanahnya, meski akhirnya ia membayar mahal perlawanan itu dengan nyawa. Ada pula Kiai Sola, yang dalam situasi miskin tak terpermanai, berani mendirikan sekolah gratis bagi anak-anak Renokenongo. Juga ustadz Kasan, mubaligh melarat yang tiada bosan-bosan memompa semangat belajar pada Tanur, Senjah, Banjar, Panji, Sanip dan segenap anak-anak miskin di pinggir kali Porong. Perlawanan lunak (tanpa dukungan siapa-siapa) dari segelintir orang-orang lemah inilah yang selalu hendak dihadang oleh kepala desa Suro, yang telah berhasil menumpuk kekayaan semenjak bersekongkol dengan para pengusaha pengeboran gas alam.
Firasat tentang semburan lumpur panas sejak mula telah disuarakan oleh Mak Inah, bahwa akan datang suatu masa ketika Renokenongo ditenggelamkan oleh danau lumpur, dan oleh karena itu ia meminta pada segenap warga Renokenongo untuk jangan sekali-kali tergiur oleh rayuan muluk Suro dan para begundal peliharaannya. Kepala desa itu tak lebih dari pejabat kemaruk yang diperalat oleh tuan-tuan berduit yang hendak mengeruk keuntungan di kampung mereka. Tersiar pula sejumlah hikayat perihal “naga lumpur” yang bila tersentuh mata bor bakal mengamuk, lalu menyemburkan lumpur panas yang tiada bakal dapat dihentikan hingga wilayah Porong dan sekitar bakal menjadi selat yang memisahkan Surabaya dan Pasuruan. Mitos-mitos semacam itulah yang selalu menjadi duri dalam daging bagi Tanur dan kawan-kawannya.
Sementara itu, Suro dan para kaki-tangannya tak henti-henti bersiasat agar semua orang Renokenongo bersenang hati melepas tanah mereka, lalu hengkang dari permukiman itu. Ustadz Kasan dan Daya difitnah telah melakukan perselingkuhan keji hingga warga mengusirnya dari kampung itu. Tanur meringkuk di kantor polisi lantaran tuduhan palsu sebagai pelaku pembunuhan Mak Inah. Tapi, semua muslihat Suro akhirnya tiada berguna setelah Renokenongo digemparkan oleh peristiwa semburan lumpur panas di salah satu titik pengeboran, dan dalam waktu singkat membuat perkampungan mereka tenggelam. Maka, dengan berat hati mereka harus meninggalkan rumah, sawah, dan segala kenangan tentang kampung halaman. Tanur, Banjar, Panji, Sanip, Daya, Ustadz Kasan menamai iring-iringan pengungsian mereka dengan “Kafilah Lumpur”, rombongan orang-orang yang telah kehilangan tanah tempat lahir, berjalan dengan langkah-langkah berat dan perasaan terhina.
Buku ini sama sekali tidak berpretensi mengungkap data-data perihal jumlah rumah yang tenggelam, harta benda yang tak terselamatkan, tidak pula tentang perdebatan sengit apakah semburan lumpur itu bencana alam atau petaka akibat kelalaian manusia. Pengarang hanya menghidangkan semacam alegori dengan membangun peristiwa-peristiwa sederhana namun ironis, ketika Ustadz Kasan harus berhadapan dengan pertanyaan kanak-kanak Tanur dalam setiap pengajian di musholla. “Apakah pemerentah yang ingkar janji dapat disebut pemerentah munafik?”, “Apakah peraturan-peraturan dari pemimpin munafik tetap harus dipatuhi?” Seolah-olah hendak menyentil tokoh-tokoh terkemuka di sekitar wilayah bencana, yang semestinya turun-tangan memperjuangkan ganti-rugi bagi mereka, tapi entah karena sebab apa, mereka diam dan berpangku tangan. Pertanyaan Tanur muncul ketika beasiswa pendidikan bagi anak-anak miskin Renokenongo dari pemerintah diulur-ulur pencairannya oleh Suro. Lebih parah lagi, kepala desa bahkan menggunakan beasiswa itu sebagai umpan agar Daya menyerah dan mau menjual tanahnya. Begitu pula peristiwa ringan dalam sebuah perlombaan layang-layang di Renokenongo. Tanur dan kawan-kawan membuat layang-layang bertulisan: “antikorupsi” hingga Suro mencak-mencak. Dan, yang paling berkesan adalah peristiwa pengibaran bendera merah-putih setengah tiang di atas tumpukan lumpur, yang lagi-lagi dilakukan oleh anak-anak bau kencur dari kampung yang telah tenggelam itu.
Kehadiran Garin yang tiba-tiba di ujung kisah agaknya mengganggu kompleksitas pengisahan yang telah dirangkai sedemikian ketat dan bulat. Sebagai sosok pahlawan yang mengembalikan anak-anak korban lumpur ke lingkungan sekolah, barangkali tidak ada persoalan. Namun, menghubungkaitkan Garin dengan Daya atas dasar romantika masa lalu, rasanya terlalu dipaksakan, sebab porsi penceritaan sosok Garin di bagian awal hampir tidak ada. Muncul kesan ada mata rantai penceritaan yang terputus. Terlepas dari kejanggalan itu, buku ini adalah novel pertama yang menegaskan panggilan penciptaannya dari malapetaka lumpur Lapindo, atau yang belakangan hendak dialih-istilahkan menjadi “lumpur-Sidoarjo”. Pengarang sedapat-dapatnya berupaya membendakan sebuah peristiwa besar tentang kampung yang telah terbenam untuk selama-lamanya. Kelak bila sudah dewasa, anak-anak korban lumpur Lapindo tentu dapat menziarahi tanah kelahiran mereka dengan mengunjungi “museum kenangan” penuh elegi, yang termonumentasi sedemikian rupa dalam novel ini.
Data Buku
Judul : LUMPUR
Penulis : Yazid R. Passandre
Penerbit: Tonggak, Yogyakarta
Cetakan : I, November 2011
Tebal : 471 halaman
Monday, November 14, 2011
Para Pecundang dari Lampuki

Oleh: DAMHURI MUHAMMAD
(Kompas, 13 Nov 2011)
SEKALI LAGI, silang-sengkarut konflik Aceh masa silam membuahkan novel. Kali ini bertajuk Lampuki, karya Arafat Nur, yang ternobat sebagai pemenang unggulan dalam sayembara menulis novel Dewan Kesenian Jakarta, 2010. Lampuki─dirujuk dari nama sebuah kampung di wilayah Pasai─adalah realitas remuk, lantaran trauma perang dan iklim ketertindasan yang bagai tiada pernah khatam. Berkisah tentang remah-remah militansi seorang pemberontak bernama Ahmadi. Bila sedang aman, lelaki kekar berkumis tebal itu turun gunung, menyulut nyala-gairah anak-anak muda Lampuki, dengan janji muluk perihal martabat dan kejayaan bangsa Aceh masa datang, bila terbebas dari “penjajahan” orang-orang seberang. Mulut besar si Kumis Tebal berbusa-busa, meneriakkan ajakan berperang di balai-balai pengajian, kedai-kedai kopi, dan Pasar Simpang. Namun, tidak banyak yang tergiur. Alih-alih mengamini, mereka malah sibuk mencari alibi. Sebagian besar orang-orang Lampuki rela membayar pajak ketimbang masuk hutan keluar hutan bersama laskar pimpinan Ahmadi. Ulah komplotan Ahmadi, yang kerap menyerang pos-pos penjagaan militer di sekitar Lampuki, telah sempurna menciptakan suasana mencekam, dan tentu akan semakin menakutkan bila suami atau anak-anak mereka bergabung dengan para pembangkang itu.
Inilah masa ketika militansi untuk terus menggenggam etos perlawanan di kalangan orang-orang Aceh telah surut─bila bukan padam sama sekali─yang habis-habisan hendak dieksplorasi Arafat Nur. Pesimisme akut itu digambarkan pengarang bukan dengan modus yang biasa, melainkan dengan cara menertawakannya. Menertawakan kepatuhan orang-orang Lampuki pada perintah Ahmadi untuk menutup semua sekolah, karena hanya mengajarkan kebodohan dan membutakan mata anak-cucu mereka pada situasi keterjajahan yang terus berlangsung. Mengolok-ngolok kemalasan mereka yang enggan masuk hutan guna menggarap ladang. Alasannya tegas, tentara bakal meringkus mereka sebagai pemberontak sebagaimana komplotan Ahmadi. Padahal, mereka memang malas tiada terkira. “Pesong” (bodoh), begitu narator menyebutnya.
Watak mendua akibat trauma perang begitu kentara dalam novel ini. Hayati, Laila, dan Rukiyah membenci Ahmadi setengah mati, tapi sekaligus juga menghormati si Kumis Tebal itu. Bukan saja karena ia satu-satunya laki-laki Lampuki yang masih terus menyalakan gairah perlawanan, tapi juga karena Ahmadi tidak banyak membuat keributan di sekitar Kampung Bawah, tempat keluarganya bermukim. Dengan begitu, Lampuki masih terbilang aman, dan mereka merasa terlindungi. Begitu pula keterbelahan persepsi terhadap Halimah (istri Ahmadi), yang tiada gentar mengutip pajak dari rumah ke rumah, bahkan dalam situasi genting sekalipun. Ia berani membentak dan mengancam bila ada warga yang mangkir membayar pajak. Halimah penyamar handal, ia leluasa lalu-lalang di depan pos jaga sebagaimana orang biasa, tak ada tentara yang mencurigainya sebagai antek pemberontak. Itu sebabnya, guru mengaji─narator yang diperalat pengarang di sepanjang novel ini─sesekali mengungkapkan nada penghormatan pada sosok perempuan licik itu.
Ada yang bermatabat dari yang keparat, ada yang terpuji dari yang dibenci, ada yang luhur dalam yang bejat. Lelaku estetik semacam inilah yang ditandai oleh Mikhail Bakhtin (1895-1975) dengan konsep “Carnaval.” Ada yang terang dalam yang gelap, ada riuh dalam sunyi, ada nyala dalam yang padam. Maka, narator novel ini bisa saja menggoda pembaca untuk berpihak pada Karim, si pedagang ganja, kaki-tangan Ahmadi. Karim melakoni pekerjaan itu demi menghidupi komplotan pimpinan Ahmadi yang tengah berlatih dalam hutan. Guru mengaji dengan senang hati menerima pemberian Karim, ia berdamai dengan sak-wasangka bahwa uang itu adalah hasil dari penjualan barang haram.
Ranah abu-abu tidak saja perihal orang-orang Lampuki, tapi juga berlangsung di pos-pos jaga hampir di semua penjuru Lampuki. Mereka dilanda kejenuhan laten lantaran ditugaskan begitu lama, dan saban hari terancam oleh serangan tiba-tiba. Tak sekali-dua sejawat mereka sesama tentara mati terjungkal dalam sebuah kontak senjata. Itu sebabnya, mereka membabi-buta, menghabisi siapa pun laki-laki yang berkumis tebal, meski tak pernah terpastikan apakah itu benar-benar Kumis Tebal yang mereka incar. Dalam sebuah penceritaan, narator meledek kebodohan sebuah regu tentara selepas menghabisi seorang laki-laki Lampuki yang ditengarai pemberontak, padahal korban hanyalah salah satu dari orang pesong di Lampuki. Lagi-lagi, muncul empati dari narator, perihal betapa tersiksanya tentara-tentara muda yang tiada tahu-menahu perihal konflik Aceh, tapi mesti menyabung nyawa saban hari, hanya karena mereka terpilih untuk dikirim ke Aceh selepas kejatuhan Soeharto, 1998.
Sekali lagi, pengarang memperlihatkan anasir-anasir luhur dalam yang keji. Dengan senjata di tangan, mereka memang bisa menghabisi siapa saja, tapi pada saat yang sama, mereka juga berada dalam situasi terancam sebagaimana orang-orang Lampuki. Dua muka narator ini mengingatkan kita pada kebimbangan Olenin saat bertugas sebagai tentara penjaga wilayah perbatasan Kaukasus, dalam novel Kazak (1863), karya Leo Tolstoy. Ia tegak-berdiri di wilayah antara; menggapai kehormatan bangsanya dengan cara membunuh, atau diam-diam berpihak pada kaum terjajah yang sedang mati-matian berjuang mempertahankan hak dan kedaulatan mereka.
Menimbang komposisi penokohan yang rata-rata bermuka ganda lantaran kegamangan akibat trauma perang berkepanjangan, sosok Jibral si Rupawan yang sejak mula hendak dipentingkan narator sebagaimana Ahmadi, Halimah, dan Karim, agaknya tidak begitu berhasil. Selain, perangainya bergonta-ganti pasangan, tiada terasa pijakan dan panggilan penciptaan yang tegas bagi kemunculan tokoh ini. Ada atau tiadanya Jibral, novel setebal 433 halaman ini tetap menjanjikan pengalaman baca yang tiada bakal tuntas dalam sekali duduk. Selain itu, bagaimanapun juga, dengan keterampilan literer yang sangat terukur dan memadai, Lampuki telah berhasil membendakan sebuah kesadaran bahwa perang hanya akan membuat yang kalah jadi abu, sementara yang menang bakal jadi arang...
Judul : LAMPUKI
Penulis : Arafat Nur
Penerbit: Serambi, Jakarta
Cetakan : I, Mei 2011
Tebal : 433 halaman
Monday, July 25, 2011
Ari-ari Puisi
DAMHURI MUHAMMAD
(Pikiran Rakyat, 24 Juli 2011)
SECARA fisik, ari-ari tak lebih dari selaput pelindung janin semasa bersemayam di rahim ibu. Namun jangan lupa, ari-ari adalah pangkal dari segala macam obsesi, busur yang melesatkan anak panah harapan, doa, dan cita-cita. Selepas prosesi kelahiran yang melelahkan, bukankah banyak syarat-rukun yang mesti dipenuhi sebelum ari-ari ditanamkan? Bila menginginkan watak luhur yang dipuja-sanjung banyak orang, maka serakkan lah kembang tujuh-rupa dalam wadah ari-ari. Mendambakan kejeniusan yang pilih tanding? Sertakan pensil dan buku. Atau bilamana menginginkan jiwa petualang, bubuhkan pasir dari tujuh muara. Untuk syarat yang disebutkan terakhir, percaya atau tidak, bila sudah tiba saatnya, seorang anak akan melesat bagai pelor yang ditembakkan dari muncung senapan laras panjang. Pergi sejauh-sejauhnya, dan jangan harap ia bakal pulang. Anak itu akan menjadi petualang sejati, yang bakal segera melupakan jalan pulang. Lupa kembali ke pangkal jalan.
Inilah panggilan penciptaan sajak bertajuk “Bangkinang” dalam antologi Manusia Utama (2011) karya terkini penyair muda Y.Thendra BP. Pernah sekali/angin dini hari/menyusup lewat jendela bis/yang tak terkunci/menegur aku/menoleh pada tanah kelahiran itu/tapi tak tahu aku/di bawah pohon apa ibu/menanam ari-ariku/dan bis terus melaju. Tentu saja bukan sekadar alam Bangkinang, kampung kelahiran itu, yang bakal dieksplorasi penyair. Menurut hemat saya, perhatian utama sajak ini adalah ari-ari. Sejarah mula-mula, muasal paling purba dari sebuah identitas. Tiada satu pun teori yang dapat menakar sejauhmana signifikansi ketercapaian obsesi dan cita-cita itu, kelak di kemudian hari. Namun, pengharapan dan hasrat selalu saja hendak dilekatkan pada ari-ari, dari satu kelahiran ke kelahiran yang baru. Maka, sajak ini adalah sebuah ikhtiar penggalian kenangan yang nyaris hilang perihal dunia ari-ari, atau lebih jauh, sebuah pemancangan tanda bahwa di bawah “pohon yang entah di mana” itulah segala macam tarikh manusia bermula. Kecenderungan semacam inilah yang dalam bahasa filsuf Jacques Ranciere (2010) disebut petrification, sebuah upaya pembatuan kenangan, pemosilan sebuah peristiwa yang nyaris tertimbun oleh debu dan residu sejarah.
Sajak-sajak yang terbuhul dalam antologi Manusia Utama itu sebagian besar─bila tak dapat disebut dominan─bermula dari sejumlah peristiwa perjalanan, baik perjalanan spasial-temporal maupun mental-transendental. Tengoklah sajak bertajuk “Di Jembatan Siti Nurbaya,” yang menegaskan sebuah afirmasi betapa latennya pengaruh the power of imagination. Betapa tidak? Hingga esai ini dinukilkan, di belahan Indonesia manapun, bila ada peristiwa kawin-paksa, selalu saja muncul hasrat melawan yang direpresentasikan dengan ungkapan: “Ah, ini bukan lagi zaman Siti Nurbaya!” Pertanyaan saya, dalam ranah historiografi kita, kapan sesungguhnya kurun yang patut disebut zaman Siti Nurbaya itu? Sama sekal tidak bisa ditandai bukan? Inilah bukti paling absah dari upaya pemosilan (to petrify) sebagaimana disinyalir Ranciere. Sedemikian besarnya pengaruh pembatuan itu, di Ranah Minang masa kini─ latar tempatan roman karya Marah Rusli itu─bahkan ada kuburan Siti Nurbaya (entah siapa yang berinisiatif menggali dan menuliskan efitapnya), ada umat yang rutin berziarah ke sana, mendoakan keselamatan arwah Siti Nurbaya. Ada pula jembatan yang diberinama “Siti Nurbaya,” yang kemudian menjadi asbab al-wurud sajak Y. Thendra B.P: siti, muara teramat senja/mengalir di bawah rambutmu/mengingat kasih menggenggam/untuk melepas. Sajak ini, lagi-lagi tampak hendak membendakan sebuah kenangan yang bermuasal dari dunia bernama imajinasi, dunia khayali, dunia antah barantah.
Dalam perjalanan yang lain, tak lupa Thendra menyinggahi kampung halaman, Minangkabau selepas megabencana, gempa yang tak hanya mengakibatkan korban manusia, tapi juga korban kemanusiaan, sebagaimana ternukil dalam sajak “Kepada Farits dan 30 September 2009.” Pada sajak itu, penyair tidak sekadar singgah, lalu memotret semesta duka sebagaimana kerja seorang pewarta. Tidak! Subjek penyair berada dalam ketegangan antara penyelamat dan korban. Ia survivor, sekaligus korban. aku sanggup melupakan yang datang/tapi tak sanggup melupakan yang pergi. Rumah kalau mau rubuh rubuh lah, sawah-ladang kalau mau amblas ya amblas lah, namun masih ada kemujuran, sebab nyawa dapat terselamatkan. Bukankah selalu begitu kita mencari yang luhur dan yang mujur dari setiap musibah yang datang tiba-tiba? Ada yang luhur dalam petaka. Inilah yang barangkali ditegaskan oleh Mikhail Bakhtin (1895-1975) dengan konsep “Karnaval.” Ada yang terang dalam yang gelap, ada riuh dalam sunyi. Dalam batas-batas tertentu, subjek pembaca bisa saja berpihak pada pemegang kuasa bencana. Lantaran musibah yang telah menyebabkan kematian, yang tak pernah terpanggil untuk menengok kampung halaman, akan datang, yang tercerai-berai bakal tersambung. Kalau begitu, tak heran bila orang-orang kampung selalu berharap pada kematian, sebab hanya dengan kematian itu kerinduan pada orang-orang rantau bakal terlunaskan.
Lalu, di titik manakah tualang kepenyairan bakal berlabuh? Di dunia kepenyairan, bukan perjalanan lagi namanya bila gerak petualangan itu sudah berhenti. Namun, sajak yang hendak membendakan kenangan dari setiap perjalanan (Merak-Bakauheni, Tanjung Pinang, Papua, Jalan Lintas Sumatera, Bangkinang, dll) tentu bukan sekadar perjalanan spasial-temporal yang sama sekali tak menyisakan memorable-line. Bila itu yang terjadi, maka sajak-sajak dalam antologi itu akan jatuh sebagai feature perjalanan belaka, atau sekadar reportase tanpa kesadaran puitik yang dapat diandalkan. Selain itu, mengingat Thendra telah memaklumatkan jalan sajaknya sebagai jalan “yang bukan buat ke pesta” (April, Haiku, Chairil), maka riwayat perjalanannya tak lagi sekadar singgah dari kota ke kota, berlabuh dari pelabuhan ke pelabuhan, melainkan perantauan yang semestinya berangkat dari sebuah obsesi, pencapaian, tujuan, sebagaimana obsesi seorang ayah saat menanamkan ari-ari bayinya. Bila tidak, maka perjalanan tanpa haluan, tanpa tujuan, sesungguhnya lebih pantas disebut pelarian…
(Pikiran Rakyat, 24 Juli 2011)
SECARA fisik, ari-ari tak lebih dari selaput pelindung janin semasa bersemayam di rahim ibu. Namun jangan lupa, ari-ari adalah pangkal dari segala macam obsesi, busur yang melesatkan anak panah harapan, doa, dan cita-cita. Selepas prosesi kelahiran yang melelahkan, bukankah banyak syarat-rukun yang mesti dipenuhi sebelum ari-ari ditanamkan? Bila menginginkan watak luhur yang dipuja-sanjung banyak orang, maka serakkan lah kembang tujuh-rupa dalam wadah ari-ari. Mendambakan kejeniusan yang pilih tanding? Sertakan pensil dan buku. Atau bilamana menginginkan jiwa petualang, bubuhkan pasir dari tujuh muara. Untuk syarat yang disebutkan terakhir, percaya atau tidak, bila sudah tiba saatnya, seorang anak akan melesat bagai pelor yang ditembakkan dari muncung senapan laras panjang. Pergi sejauh-sejauhnya, dan jangan harap ia bakal pulang. Anak itu akan menjadi petualang sejati, yang bakal segera melupakan jalan pulang. Lupa kembali ke pangkal jalan.
Inilah panggilan penciptaan sajak bertajuk “Bangkinang” dalam antologi Manusia Utama (2011) karya terkini penyair muda Y.Thendra BP. Pernah sekali/angin dini hari/menyusup lewat jendela bis/yang tak terkunci/menegur aku/menoleh pada tanah kelahiran itu/tapi tak tahu aku/di bawah pohon apa ibu/menanam ari-ariku/dan bis terus melaju. Tentu saja bukan sekadar alam Bangkinang, kampung kelahiran itu, yang bakal dieksplorasi penyair. Menurut hemat saya, perhatian utama sajak ini adalah ari-ari. Sejarah mula-mula, muasal paling purba dari sebuah identitas. Tiada satu pun teori yang dapat menakar sejauhmana signifikansi ketercapaian obsesi dan cita-cita itu, kelak di kemudian hari. Namun, pengharapan dan hasrat selalu saja hendak dilekatkan pada ari-ari, dari satu kelahiran ke kelahiran yang baru. Maka, sajak ini adalah sebuah ikhtiar penggalian kenangan yang nyaris hilang perihal dunia ari-ari, atau lebih jauh, sebuah pemancangan tanda bahwa di bawah “pohon yang entah di mana” itulah segala macam tarikh manusia bermula. Kecenderungan semacam inilah yang dalam bahasa filsuf Jacques Ranciere (2010) disebut petrification, sebuah upaya pembatuan kenangan, pemosilan sebuah peristiwa yang nyaris tertimbun oleh debu dan residu sejarah.
Sajak-sajak yang terbuhul dalam antologi Manusia Utama itu sebagian besar─bila tak dapat disebut dominan─bermula dari sejumlah peristiwa perjalanan, baik perjalanan spasial-temporal maupun mental-transendental. Tengoklah sajak bertajuk “Di Jembatan Siti Nurbaya,” yang menegaskan sebuah afirmasi betapa latennya pengaruh the power of imagination. Betapa tidak? Hingga esai ini dinukilkan, di belahan Indonesia manapun, bila ada peristiwa kawin-paksa, selalu saja muncul hasrat melawan yang direpresentasikan dengan ungkapan: “Ah, ini bukan lagi zaman Siti Nurbaya!” Pertanyaan saya, dalam ranah historiografi kita, kapan sesungguhnya kurun yang patut disebut zaman Siti Nurbaya itu? Sama sekal tidak bisa ditandai bukan? Inilah bukti paling absah dari upaya pemosilan (to petrify) sebagaimana disinyalir Ranciere. Sedemikian besarnya pengaruh pembatuan itu, di Ranah Minang masa kini─ latar tempatan roman karya Marah Rusli itu─bahkan ada kuburan Siti Nurbaya (entah siapa yang berinisiatif menggali dan menuliskan efitapnya), ada umat yang rutin berziarah ke sana, mendoakan keselamatan arwah Siti Nurbaya. Ada pula jembatan yang diberinama “Siti Nurbaya,” yang kemudian menjadi asbab al-wurud sajak Y. Thendra B.P: siti, muara teramat senja/mengalir di bawah rambutmu/mengingat kasih menggenggam/untuk melepas. Sajak ini, lagi-lagi tampak hendak membendakan sebuah kenangan yang bermuasal dari dunia bernama imajinasi, dunia khayali, dunia antah barantah.
Dalam perjalanan yang lain, tak lupa Thendra menyinggahi kampung halaman, Minangkabau selepas megabencana, gempa yang tak hanya mengakibatkan korban manusia, tapi juga korban kemanusiaan, sebagaimana ternukil dalam sajak “Kepada Farits dan 30 September 2009.” Pada sajak itu, penyair tidak sekadar singgah, lalu memotret semesta duka sebagaimana kerja seorang pewarta. Tidak! Subjek penyair berada dalam ketegangan antara penyelamat dan korban. Ia survivor, sekaligus korban. aku sanggup melupakan yang datang/tapi tak sanggup melupakan yang pergi. Rumah kalau mau rubuh rubuh lah, sawah-ladang kalau mau amblas ya amblas lah, namun masih ada kemujuran, sebab nyawa dapat terselamatkan. Bukankah selalu begitu kita mencari yang luhur dan yang mujur dari setiap musibah yang datang tiba-tiba? Ada yang luhur dalam petaka. Inilah yang barangkali ditegaskan oleh Mikhail Bakhtin (1895-1975) dengan konsep “Karnaval.” Ada yang terang dalam yang gelap, ada riuh dalam sunyi. Dalam batas-batas tertentu, subjek pembaca bisa saja berpihak pada pemegang kuasa bencana. Lantaran musibah yang telah menyebabkan kematian, yang tak pernah terpanggil untuk menengok kampung halaman, akan datang, yang tercerai-berai bakal tersambung. Kalau begitu, tak heran bila orang-orang kampung selalu berharap pada kematian, sebab hanya dengan kematian itu kerinduan pada orang-orang rantau bakal terlunaskan.
Lalu, di titik manakah tualang kepenyairan bakal berlabuh? Di dunia kepenyairan, bukan perjalanan lagi namanya bila gerak petualangan itu sudah berhenti. Namun, sajak yang hendak membendakan kenangan dari setiap perjalanan (Merak-Bakauheni, Tanjung Pinang, Papua, Jalan Lintas Sumatera, Bangkinang, dll) tentu bukan sekadar perjalanan spasial-temporal yang sama sekali tak menyisakan memorable-line. Bila itu yang terjadi, maka sajak-sajak dalam antologi itu akan jatuh sebagai feature perjalanan belaka, atau sekadar reportase tanpa kesadaran puitik yang dapat diandalkan. Selain itu, mengingat Thendra telah memaklumatkan jalan sajaknya sebagai jalan “yang bukan buat ke pesta” (April, Haiku, Chairil), maka riwayat perjalanannya tak lagi sekadar singgah dari kota ke kota, berlabuh dari pelabuhan ke pelabuhan, melainkan perantauan yang semestinya berangkat dari sebuah obsesi, pencapaian, tujuan, sebagaimana obsesi seorang ayah saat menanamkan ari-ari bayinya. Bila tidak, maka perjalanan tanpa haluan, tanpa tujuan, sesungguhnya lebih pantas disebut pelarian…
Monday, July 11, 2011
Mata Kesejarahan Onghokam
(Majalah TEMPO, edisi 4-10 Juli 2011)
Oleh: DAMHURI MUHAMMAD
PAGI buta di sudut Jakarta, lelaki ringkih dengan muka pasi dan gigil lutut melangkah terhuyung-huyung. Ia berhenti di pinggiran got yang penuh-sesak gundukan sampah, lalu melepaskan beberapa muntahan, hingga dari kejauhan tubuhnya tampak meliuk-liuk, nyaris terjungkal. Seorang wartawan muda bergegas meminggirkan mobilnya, berhenti di belakang orang tua bersimbah muntah itu. Wajah lelaki tua itu tidak asing baginya, karena ia pernah mewawancarainya perihal peristiwa pembantaian massal anti-komunis pasca 1965. Dipapahnya pemabuk itu, dituntunnya masuk mobil, diantarkannya pulang.
Lelaki renta itu adalah Onghokam (1933-2007), sejarawan senior, doktor jebolan Yale University, AS (1975). Pagi itu adalah perjalanan pulang Ong selepas pesta wine entah di mana. Cerita ini dituturkan seorang alumnus sejarah FSUI yang pernah mengecap kuliah Ong, dosen “killer” yang tidak taat pada disiplin administratif perkuliahan. Buku absensi mahasiswa selalu hilang, mengajar tak taat silabus. Satu topik perkuliahan bisa terulang dalam tiga kali petemuan. Bila diingatkan, Ong ngotot dengan suara tinggi. “Memang harus tiga kali! Supaya sempurna tanaknya di benak kalian!”
Begitulah Ong, sejarawan nyentrik yang di era 1980-1990-an begitu produktif menyiarkan tulisannya di Kompas, Tempo, dan Prisma. Sepanjang riwayatnya, Ong bergelimang buku, memenuhi undangan kedutaan asing, diskusi sejarah, memasak, dan mabuk Scotch. Ia berbeda haluan dengan Sartono Kartodirjo dan Nugroho Notosusanto, dua sejarawan yang pernah “dinobatkan” negara sebagai penentu bulat-lonjong historiografi Indonesia. Ong tak peduli pada gelar profesor yang layak ia sandang. Alih-alih predikat guru besar, kepangkatan pegawai pun tidak ia urus, bahkan sampai pensiun. Ia sibuk menelaah buku-buku babon─dari George Lefebvre, Albert Soboul, Braudel─menerima tamu–tamu ilmuan dari luar negeri, dan tentu saja menulis guna memancangkan pemahaman tentang hakikat ilmu sejarah yang dianutnya.
“Apa artinya Indonesia bagi Ong?” begitu Andi Achdian, penulis buku “Sang Guru dan Secangkir Kopi” ini bertanya dalam sebuah obrolan. “Bila tidak ada Indonesia, kau akan berjalan membungkuk-bungkuk di hadapan raja-raja Jawa,” jawab Ong. Baginya, Indonesia adalah sebuah konstruksi realitas yang memungkinkan persamaan antara warganegara, dan membebaskan orang dari ikatan primordial dari Sabang sampai Merauke. Indonesia adalah pencapaian paling ajaib sebuah negara-bangsa dengan wilayah geografis yang sebanding dengan perjalanan dari London menuju Istambul dari ujung barat sampai timur. Gerakan separatisme di Aceh dan Papua tidak mengakibatkan Balkanisasi, tidak pula terbelah sebagaimana India menjadi Pakistan dan Bangladesh (1947). Pada suatu masa ketika siswa-siswa Sekolah Menengah Belanda (HBS) ditawari pilihan menjadi warga negara Belanda atau tetap menjadi orang Indonesia, dari puluhan siswa di kelas itu hanya satu yang memilih Indonesia. Orang itu bernama Onghokham.
Lewat buku ini, Andi memetakan penglihatan mata kesejarahan Ong dengan cara tak biasa. Data-data ia himpun dari kenangan semasa menjadi murid sekaligus sahabat Ong sejak 2002. Cakrawala intelektualitas Ong yang sedemikian kaya itu tentu tidak terbuhul secara utuh, tapi obrolan yang melibatkan sisi personalitas Ong memperlihatkan cara kerja seorang sejarahwan yang unik dan khas. Tengoklah obrolan perihal kegemaran Ong meracik bumbu saat memasak makanan kegemarannya. Awalnya hanya soal merica, tapi obrolan meluas menjadi sejarah mula-mula pelayaran orang Eropa guna memburu rempah-rempah, sebagaimana pelayaran Vasco Da Gama dan Cornelis de Houtman. Diceritakan, ketika para perempuan Inggris mencampurkan rempah-rempah ke dalam masakan, rasanya lebih enak, makanan lebih awet dan tak perlu dimasak setiap hari. Maka, perempuan-perempuan itu menyuruh suami mereka mencari rempah-remah, hingga para suami takut istri itu menjadi pelaut-pelaut tangguh.
Mata kesejarahan Ong yang disingkap Andi─disebut-sebut murid paling bungsu Ong─memaklumatkan pemahaman sejarah sebagai “his-story,” sejarah tentang manusia, bukan sejarah institusi, struktur, bukan pula sekadar peristiwa. Dengan mata itulah Ong melahirkan gagasan brilian dalam Brotodiningrat Affair, yang menurut Andi adalah masterpiece Ong. Pilihan yang kurang masuk akal, sebab tulisan itu masih berupa paper yang belum sempat terbit. Tarikh kecil tentang kehilangan gordin penutup ruang depan sebuah rumah keresedinan di Madiun abad ke-18. Asisten residen menuding kehilangan itu tak lepas dari peran Bupati bernama Brotodiningrat, yang hendak menelanjangi wajah kemaruk kolonialisme. Karya sejarah yang alegorik dan metaforik.
Di mata kawan-kawan, kedekatan Andi dengan Ong menimbulkan kecurigaan bahwa sejarawan muda ini hendak mendompleng popularitas. Tapi, menimbang perbincangan dari hati ke hati sebagaimana tersuguh dalam buku ini, kenyataannya malah terbalik. Seamsal dunia persilatan, di akhir hayatnya justru Ong yang ingin mewariskan jurus paling sulung pada Andi, si murid paling bungsu itu.
DATA BUKU
Judul : Sang Guru dan Secangkir Kopi
Penulis : Andy Achdian
Penerbit: Kekal Press, Bogor
Cetakan : I, April 2011
Tebal : 139 halaman
Tuesday, May 31, 2011
Korupsi Dalam Teks Fiksi

Oleh: DAMHURI MUHAMMAD
(Kompas, 29/5/2011)
TERMINOLOGI “lapan-anam” (86) yang menjadi gairah utama novel karya Okky Madasari ini terpelanting ke dalam tafsir yang pejoratif. Salah satu kata sandi kepolisian─selain 10.2, 813, 871, dan lain-lain─yang digunakan dalam berbagai komunikasi kedinasan itu pada dasarnya berarti dimengerti, dimaklumi, namun di sekujur tubuh novel setebal 252 halaman ini, “lapan-anam” bergeser menjadi sinisme, sekaligus pemakluman terhadap berbagai modus jual-beli perkara di sebuah kantor pengadilan, lantaran sudah menyehari, dianggap lazim, dan sama-sama tahu. Maka, dunia “lapan-anam” adalah dunia yang tidak lagi tabu, tapi dunia yang serba tersingkap, serba dibenarkan. Dunia yang memelintir kejujuran dan kebersetiaan pada kebenaran menjadi cacat-historis. Sebaliknya, kebohongan dan hipokritas berubah menjadi keluhuran yang pantas dipuja-puji.
Pemakluman─lebih tepat disebut pembenaran─semacam inilah muasal nestapa Arimbi, juru ketik putusan perkara yang akhirnya tergoda juga menerima suap. Sebelumnya Arimbi gadis lugu asal Ponorogo yang tidak tahu apa-apa soal dunia “lapan-anam.” Ia PNS yang bekerja sebagaimana pegawai biasa, dan menerima gaji bulanan yang tak seberapa. Namun, lantaran praktik suap-menyuap telah sedemikian banal di lingkungan kerjanya─bermula dari tips-tips kecil, hadiah berupa barang elektronik, hingga amplop berisi uang─mentalitas Arimba berubah 180 derajat. Tak tanggung-tanggung, gadis itu kemudian terobsesi hendak mengubah nasibnya dengan jalan-pintas itu.
Puncak nestapa Arimbi terjadi ketika ia tertangkap tangan oleh petugas KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) dengan tuduhan menerima suap guna memenangkan sebuah perkara besar. Waktu itu, Arimbi disuruh menemui seseorang di sebuah restoran. Ia menerima koper berisi uang senilai 2M yang akan diserahkan pada bu Danti. Atasan Arimbi itu “makelar perkara” yang menjembatani pengacara kasus-kasus korupsi dengan oknum hakim nakal yang dapat membebaskan terdakwa. Lagi-lagi ini dunia “lapan-anam.” Dengan uang, semua tuntutan yang memberatkan koruptor dapat diringankan, bahkan dihapuskan. Celakanya, sebagai orang suruhan, Arimbi yang sejatinya beroleh jatah 50 juta, akhirnya digelandang ke tahanan bersama Danti.
Kronologi kisah sejak Arimbi lulus kuliah hingga merantau ke Jakarta, lalu diterima sebagai PNS, terasa linear dan datar, sebagaimana kisah orang-orang yang merantau ke Jakarta yang tervisualisasikan dalam film-film Indonesia tahun 80-an. Cerita berputar-putar di sekitar kepayahan hidup keluarga Arimbi dan orang-orang kampungnya yang selalu ditakar dengan penghasilan berupa uang. Tak ada upaya membangun alegori guna menggambarkan mentalitas yang kronis dan dekaden. Menjadi pegawai negeri bagi manusia-manusia di republik ini nyaris sama derajatnya dengan “masuk-sorga.” Begitu mulia, begitu terpandang. Itu sebabnya banyak orang rela menghamburkan ratusan juta, menyuap sana-sani, guna meraih obsesi menjadi pegawai negeri. Padahal, secara finansial, penghasilan pegawai negeri seperti Arimbi jauh dari memadai. Lalu, apa persoalannya? Inilah yang tidak diselami lebih dalam oleh Pengarang. Okky hanya memperlihatkan fenomena “lapan-anam” dalam praktik suap-menyuap. Dianggap biasa, bahkan hampir tidak dipandang sebagai ketercelaan.
Ketegangan baru terasa pada peristiwa-peristiwa yang dialami Arimbi selama di penjara, khususnya hubungan ganjil antara Arimbi dengan sejawat sesama napi bernama Tutik. Dikisahkan, Tutik janda beranak satu, pembantu rumah tangga yang tertuduh melakukan percobaan pembunuhan majikan, meski kenyataannya ia membela diri saat dicelakai majikan. Tak berselang lama setelah Danti dan Arimbi datang, Tutik dipercaya menjadi pelindung, sekaligus pelayan semua kebutuhan Danti, napi yang beroleh perlakuan istimewa. Ia punya ruangan khusus, dengan fasilitas mewah sebagaimana hotel berbintang. Tutik tidak pernah tahu bahwa Arimbi adalah staf Danti, dan Arimbi pun merahasiakannya. Di balik perhatian Tutik pada Arimbi ternyata ada maksud tersembunyi. Lantaran merasa berhutang budi, Arimbi akhirnya pasrah ketika Tutik memperlakukannya sebagai pasangan lesbian. Lagi-lagi muncul fatsoen “lapan-anam.” Semua biaya rumah sakit ibu Arimbi ditanggung Tutik, maka wajar Arimbi melunaskan hasrat seksual Tutik. Namun, suspensi perihal rahasia Arimbi-Danti tidak menjadi perhatian novel ini. Okky lebih terdorong membangun militansi Arimbi dalam mempertahankan hidup dan keluarganya di saat-saat genting. Ia bahkan nekad menjadi pengedar narkoba demi membiayai pengobatan orangtuanya di kampung. Arimbi juga merelakan suaminya menjadi pengedar sabu-sabu demi akumulasi laba yang bakal membuat hidupnya sejahtera selepas menjadi napi. Maka, novel ini bergelimang dengan angka-angka, nominal rugi-laba, dan berbagai hitungan matematis-ekonomis lainnya.
Fenomena korupsi, pejabat negara yang tertangkap tangan, jual-beli perkara, perlakuan khusus terhadap napi kelas kakap, bisnis narkoba di lembaga pemasyarakatan, adalah fakta-fakta yang setiap hari berhamburan di televisi, sejak beberapa tahun belakangan ini. Peristiwa-peristiwa yang sedemikian dramatik dan sinetronik, lebih dramatik dari prosa paling dramatik. Tengoklah betapa dramatiknya pemberitaan tentang anggota parlemen yang tertangkap tangan oleh KPK di sebuah hotel berbintang. Lihat pula perlakuan khusus terhadap Artalyta Suryani di tahanan, yang bukan rahasia lagi. Kalau begitu, boleh jadi novel “86” yang mengetengahkan serba-serbi peristiwa tersebut, akan kalah dramatik dari kejadian sebenarnya. Sinyalemen ini dibenarkan oleh novelis Afrika, Njabulo Ndebele (1998), bahwa kesulitan terbesar para novelis abad ini adalah menemukan metafora dari kehidupan sehari-hari yang sudah sedemikian mengerikan.
Prosa bukan sekadar fiksionalisasi dari peristiwa-peristiwa saban hari yang berseliweran di koran, majalah, dan tabloid gosip. Kompetensi artistik semestinya menggiling fakta-fakta keras menjadi realitas baru, yang dalam konteks novel ini, dapat memunculkan tafsir baru perihal watak korup, yang hingga kini belum terpecahkan. Pengarang dapat membangun ironi, atau memancangkan alegori tentang mentalitas korup, tanpa harus habis-habisan memperlihatkan bagaimana praktik-praktik suap itu berlangsung dengan berbagai modus dan siasat. Bila tidak, maka teks sastra akan terpelanting menjadi feature atau sejenis reportase, yang bila tidak “diprosakan” pun, pembaca sudah “lapan-anam” lebih dulu.
Waktu penceritaan linear dan corak realisme yang dipertahankan pengarang dari awal hingga akhir memang cukup jitu menyingkap praktik suap-menyuap serinci-rincinya, meski dalam kerja kreatif ada wilayah sumir dan samar yang hendaknya tersisa bagi pembaca. Tapi, corak serba-terang macam ini barangkali memang sedang dibutuhkan oleh penyuka prosa masa kini. Di belahan dunia lain, novelis Chili, Isabel Allende, dalam The Art and Craft of The Political Novel (1989) menegaskan, bahwa “dunia ketiga memerlukan ketersingkapan realitas serinci mungkin, ketimbang eksperimentasi bentuk yang membuat sastra kehilangan gairah perlawanannya.” Jadi, “lapan-anam” lah…
DATA BUKU
Judul : 86
Penulis : Okky Madasari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan : I, Maret 2011
Tebal : 252 halaman
Monday, April 18, 2011
Orang-orang Larenjang
Cerpen: DAMHURI MUHAMMAD
(Kompas, Minggu, 17 April 2011)
1
DARI pagi ke pagi, mulut-mulut itu, satu demi satu, bagai beralih-rupa menjadi toa. Bila toa di surau mengumandangkan azan, maka toa-toa segala rupa yang terpancang seperti antena itu begitu kemaruk memancar-luaskan gunjing, asung, dan pitanah, bahkan sekali-dua melepas umpat dan makian. Gema suara mereka bagai gendang irama gambus di musim helat, begitu semarak, begitu menyentak.
Ah, betapa lekas, betapa gegas, gunjing itu tersiar, bahkan jauh sebelum pantang dan larang kami langgar. Toa-toa itu bagai beranak-pinak, sambung-menyambung, balik-bertimbal, berteriak di pangkal kuping kami. Perihal beban berat yang bakal ditimpakan di pundak kami, tentang hutang yang selekasnya mesti kami lunasi. Diselang-selingi pula dengan peringatan yang kadang terdengar serupa ancaman: "siapa melompat siapa jatuh." Sekali lagi, jauh sebelum pantang dan larang yang disebut-sebut itu kami terabasi. Seolah-olah kami telah lengah menimbang dan menakar, bahwa bila "hidung dicucuk, tentulah mata bakal berair."
Toa yang terus menyala itu telah menjadi sebab paling absah menghilangnya yang terhormat pengulu kami, Bendara Gemuk. Sudah empat petang tak tampak batang hidungnya di lepau kopi, tidak pula di surau. Di usia kepala tujuh, Gemuk tentu tiada bakal pergi jauh. Sesungguhnya ia tidak pergi, hanya saja tidak pulang, dari ladang gambirnya, di rimba Cempuya. Mengingat, kerabat dekat kami, Julfahri, bersikeras hendak mempersunting Nurhusni, yang tidak lain adalah juga sanak-famili kami. Dua sejoli yang sedang mabuk kepayang itu berasal dari rumpun yang sama: Larenjang. "Kawin sesuku," demikian leluhur kami menukilkan sebutan bagi pantang dan larang itu. Bila dilanggar, suku kami akan terbuang. Julfahri dan Nurhusni wajib kami hapus dari ranji silsilah dan hak waris. Keduanya diharamkan menginjakkan kaki di tanah Larenjang. Mereka harus angkat kaki dan tidak akan pernah ada tempat berpulang. Sementara itu, dalam beberapa musim, akibat menerabas pantangan, orang-orang Larenjang─tanpa kecuali─akan dikucilkan dari pergaulan antarsuku. Bagi kami, tidak akan berlaku lagi, duduk sama-rendah, apalagi tegak sama-tinggi. Pucuk pimpinan yang membawahi semua wilayah persukuan akan menetapkan denda, dan hukuman yang mesti kami jalani. Pendeknya, sebagaimana Julfahri dan Nurhusni, kami pun bakal merantau, meski bermukim di kampung sendiri.
Maka, bagi Bendara Gemuk, daripada hidup berkalang malu, tentulah lebih baik mati berkalang tanah. Ia bertahan di rimba Cempuya, menggelepak di dangau lapuk dengan bekal seadanya. Meski lengang dan hawa dingin menusuk-nusuk tulang tuanya, tetap saja terasa lebih baik ketimbang terus-menerus mendengar desas-desus yang tak kunjung reda.
"Kenapa awak mesti menghamba pada aturan usang itu?" begitu Julfahri berkelit ketika Gemuk mendesaknya untuk membatalkan rencana itu.
"Mentang-mentang bersekolah tinggi, berani kau melanggar pantangan adat?" bentak Gemuk.
"Kami tidak punya hubungan tali-darah, jadi kami bisa menikah! Kami siap dibuang dari Larenjang!"
"Tapi, bagaimana dengan kami yang akan menanggung malu seumur-umur?"
"Bila tidak berbuat salah, kenapa harus malu?”
"Kau tidak takut akibat dari melanggar pantangan itu?"
"Awak hanya takut melanggar ajaran Tuhan!"
"Jaga mulutmu, Julfahri. Bisa kualat kau nanti!"
2
Kami tidak menutup mata, bahwa tiga dari lima pengulu di setiap suku di kampung ini lebih kerap beroleh celaan ketimbang menerima pujian. Alih-alih mencurahkan perhatian pada kemenakan, mereka lebih kerap menjadi benalu dalam suku. Betapa tidak? Tengoklah, para pengulu itu, bagai berlomba-lomba mengeruk kekayaan suku, lalu hasilnya diboyong ke rumah anak-bini. Mentang-mentang berkuasa, tak segan-segan mereka menggadai-melego tanah suku, guna membangun rumah batu, untuk istri dan anak-anaknya, sementara banyak kemenakannya putus-sekolah lantaran tidak ada biaya. Maka jangan heran, kalau ada pengulu yang sudah dibawa-lalu, tidak lagi diperlakukan sebagaimana pengulu. Sekali waktu, ada pengulu yang sampai babak-belur setelah dihajar-digebuk oleh kemenakannya sendiri.
Namun, yang terhormat Bendara Gemuk, selalu dapat kami kecualikan. Sejak dulu, belum sekali pun ia mengecewakan kami. Nyaris separuh umumrnya telah habis oleh segala macam urusan kemenakan. Tak jarang ia mesti bersitegang urat leher dengan istrinya, lantaran perhatiannya lebih tercurah pada kemenakan dalam suku Larenjang. Perkara seremeh apapun yang menimpa kami, Gemuk selalu menjadi orang yang pertamakali turun-tangan menyelesaikannya. Bahkan bila terjadi kegentingan, ia tidak gamang “pasang-badan” demi membela kami, para kemenakannya. Suatu hari, ketika judi sabung merajalela di kampung ini, kami tertangkap tangan dan beberapa hari harus meringkuk di sel kantor polisi. Bendara Gemuk kasak-kusuk, berupaya mencarikan jalan, agar secepatnya kami terbebas dari kurungan. Begitu pun ketika kerabat kami Julfahri bertekad hendak menjadi sarjana, meski ibu-bapaknya melarat. Gemuk pula orang yang tak bisa dilupakan jasanya. Betapa tidak? Waktu itu, di kota propinsi, ia mencarikan induk-semang bagi Julfahri. Dari sanalah ia dapat membiayai kuliah hingga tercapai juga cita-citanya. Dan, ketika tiba masanya kami menerima pembagian jatah lahan untuk berladang, Gemuk melakukan pembagian dengan cara seadil-adilnya hingga tak seorang pun dari kami yang merasa kurang, apalagi mencurigai ada yang curang. Bila ada keluarga kami yang jatuh sakit, Gemuk yang pertamakali tahu kabar itu. Apalagi bila ada di antara kami yang merasa sudah patut menikah, Gemuk mengurusnya hingga tuntas. Pokoknya, bagi kami─orang-orang Larenjang yang tak sempat mengecap sekolah tinggi ini─Bendara Gemuk lebih dari sekadar pengulu. Kami menghormatinya, sebagaimana kami menghormati ayah kami. Ajaran dan nasihatnya kami patuhi sebagaimana kami menuruti ajaran ibu-bapak kami.
Maka, membuat lelaki sepuh itu terluka, sama dengan melukai perasaan kami. Merendahkan martabat Gemuk berarti juga menghina kami. Melangkahi Gemuk adalah juga menampar muka kami. Oleh karena itu, siapa pun yang mendukung rencana pernikahan terlarang antara Julfahri dan Nurhusni akan berhadapan dengan kami.
"Bila ajal Gemuk lebih lekas lantaran menanggung malu akibat perangai gilamu itu, kau tak bakal selamat!" begitu kami menggertak Julfahri.
"Lantaran kami tidak berpendidikan sepertimu, kami tidak pandai menyelesaikan kusut ini dengan cara berunding."
"Lalu dengan cara apa kalian akan menyelesaikannya?" tanya Julfahri, pongah.
"Dengan kerat kayu. Paham kau, keparat busuk?"
“Atau mulut besarmu itu kami sumpal dengan ketupat bengkulu!”
3
DI USIA sepetang ini, hidup sebatangkara─di tanah rantau pula─tentu akan menjadi tahun-tahun penghujung yang sulit bagi lelaki ringkih itu. Selepas kematian Yanuar, ia mengira musibah bakal bersudah. Namun, suratan nasib berkata lain, tak lama berselang, Imelda, anak perempuan yang dibangga-banggakannya, mengidap kanker otak stadium puncak. Berbagai cara telah ditempuh Julfahri dan Nurhusni guna menyelamatkan satu-satunya keturunan mereka yang tersisa. Selepas menjalani operasi dengan pertaruhan hidup-mati, kondisi Imelda kian memburuk. Julfahri dan Nurhusni mulai dihantui rasa gamang pada kehilangan yang kedua. Mereka begitu was-was, begitu cemas, bilamana hidup Imelda berakhir seperti saudaranya, Yanuar. Itu berarti mereka tidak akan punya siapa-siapa lagi, selain harta-benda yang melimpah-ruah itu. Apa guna kekayaan yang bertahun-tahun ia kumpulkan, bila akhirnya ia hidup seorang diri?
Sementara itu, dalam kecemasan bakal kehilangan Imelda, istrinya perlahan-lahan menunjukkan tanda-tanda orang yang kurang sehat. Badannya kurus, sorot matanya begitu sayu, tak bergairah sebagaimana dulu. Kerisauan Julfahri kian bertambah-tambah. Dan, setelah berkali-kali diperiksa, Nurhusni divonis menderita diabetes, yang akhirnya berujung pada kehilangan daya penglihatannya. Buta permanen. Hanya berselang satu tahun selepas kepergian Imelda untuk selamanya, Nurhusni─perempuan yang diperjuangkan Julfahri dengan cara melanggar pantang dan larangan adat─menghembuskan napas penghabisan.
Ah, betapa lekas, betapa gegas, orang-orang dekat Julfahri pergi. Musibah yang bagai sambung-menyambung itu mengingatkan ia pada mulut orang-orang kampungnya puluhan tahun silam, yang dari pagi ke pagi, bagai bersalin-rupa menjadi toa. Memaklumatkan gunjing dan pitanah perihal orang-orang Larenjang yang bakal terbuang, bahkan sebelum pantang dan larang itu dilanggar. Kenangan usang itu pula yang membangkitkan ingatannya pada Bendara Gemuk, yang di masa itu terpaksa menyingkir dari kampung, lantaran tak sanggup menanggung malu.
Kini─setelah puluhan tahun perantauannya di tanah seberang─tajam sorot mata pengulu yang separuh usianya telah terkuras oleh urusan orang-orang Larenjang itu, kerap muncul dalam lamunannya. Ia sukar melupakan jasa Bendara Gemuk yang telah mencarikan induk-semang di kota propinsi, hingga ia bisa bekerja dan membiayai kuliah, meraih cita-cita sarjananya. Dan, yang paling menghantui kesendiriannya saat ini adalah perseteruan hebatnya dengan Bendara Gemuk sebelum ia nekat melanggar pantang. Ia menyadari, betapa perbuatannya di masa lalu telah melukai hati pengulu, dan menistai keluarga besar suku Larenjang. Hingga bumi jungkir-balik pun, kesalahan fatal itu tiada bakal terampuni. Tanah orang-orang Larenjang sudah mustahil menjadi tempat ia berpulang.
Dalam kesepian yang terasa semakin ganjil, kadang lelaki renta itu berangan-angan, kelak bila waktunya tiba, ia ingin dimakamkan di tanah pemakaman suku Larenjang. Pulang ke pangkal jalan. Namun, tiba-tiba saja ada yang mendenging di kupingnya, dan lekas ia batalkan niat itu. Bila menimbang pantang dan larang yang telah ia langkahi, apalagi menakar arang yang tercoreng di kening Bendara Gemuk, dan amarah orang-orang Larenjang, tanah pemakaman itu tiada bakal sudi menerima bangkainya.
tanah baru, 2011
Subscribe to:
Posts (Atom)