Search This Blog

Loading...

Wednesday, November 30, 2016

Dalam Kebencian, Cinta Tak Hilang…


 
Damhuri Muhammad


 (versi cetak artikel ini tersiar di harian Kompas, Selasa, 29 November 2016)


“Bayangkanlah seorang gadis belia di Israel. Ia hidup di zona nyaman dan tak pernah bertemu muka dengan orang-orang Palestina”, demikian salah satu penggalan percakapan Niza Yanay, penulis buku Ideology of Hatred; The Psychic Power of Discourse (2012) dalam sebuah wawancara yang disiarkan oleh www.aljazeera.com (14/11/2012). “Secara personal, mungkinkah gadis itu memiliki kebencian terhadap warga Palestina atau semua orang Arab? Tapi,  kenapa begitu banyak warga Israel--yang tak pernah dilukai oleh rakyat Palestina--kemudian membenci saudara-saudaranya di Palestina?” lanjut Niza, menjelaskan bagaimana cara kebencian bekerja. Baginya, kebencian bukan lagi sekadar hasrat yang membara di labirin personal, tapi kesadaran palsu yang sudah bergerak secara massal, karena dikendalikan oleh sebuah kekuatan yang tak kasat mata. Atas dasar itu, ia berkesimpulan, kebencian telah beralih rupa menjadi ideologi.
            Dalam realitas politik di Indonesia hari ini, pengandaian associate professor Departemen Sosiologi dan Antropologi Universitas Ben Gurion, Beer Sheva (Israel) itu cukup masuk akal. Mungkinkah seorang anak muda di pedalaman Sumatera bisa membenci sejawat dunia mayanya--katakanlah ia bermukim di Jakarta--meskipun keduanya tak pernah bertatap muka secara langsung? Tapi di media sosial, dua anak muda yang berbeda pilihan politik itu tiada henti-henti saling memaki, tiada sudah-sudah saling menyerang--dengan berbagai macam argumen, alibi, dan fitnah guna mempertajam kebencian masing-masing--dan tak kunjung letih dari aktivitas saling mengejek, saling mempermalukan, saling menantang.
            Pengandaian Niza Yanay dapat pula diputarbalikkan ke kutub yang berlawanan. Bagaimana mungkin dua orang yang bersahabat karib selama bertahun-tahun, hidup setikar-setempat tidur, lapar-kenyang dan sedih-riang bersama, bisa pecah kongsi kemudian saling membenci, karena berbeda pilihan politik dalam sebuah kontestasi Pilkada? Dalam perseteruan yang berkesinambungan itu, ucapan selamat ulang tahun, atau ungkapan turut berduka pun dapat ditimbang sebagai muslihat dan ancaman. Pilihan politik yang berbeda telah mengakibatkan jembatan persahabatan mereka runtuh, pertemanan yang karib pecah berkeping-keping, dan yang tersisa hanyalah kebencian.









            Inilah sisi tak terbayangkan dari pergaulan dunia maya yang sedang merebak di mana-mana. Di awal pertumbuhannya, media sosial mendekatkan kembali semua yang renggang, menyatukan kembali orang-orang yang terpisah selama bertahun-tahun, dan menghadirkan rasa menemukan bagi sekian banyak orang yang dulu merasa kehilangan. Media sosial juga dapat membiakkan kasih sayang dan cinta di antara orang-orang yang sebelumnya tak pernah bertemu muka. Banyak orang, yang sedemikian bahagianya menikmati asmara tanpa temu muka, lalu menganggap perjumpaan fisik hanya akan menyusutkan kedalaman perasaan mereka. Namun pada sisi yang kelam, pergaulan dunia maya juga dapat menjauhkan yang semula berkerabat, merenggangkan yang semula akrab, menghancurkan banyak hubungan persahabatan, dan menistai etos kepedulian yang telah dibangun sejak lama. Kehangatan, kebersamaan, dan solidaritas berubah wajah menjadi sinisme, kedengkian, dan caci-maki yang tiada henti, hanya karena pilihan politik yang berseberangan. Seorang tokoh penting tidak lagi dianggap sebagai bagian dari kampung halamannya, lantaran ia memiliki pandangan yang  berbeda dengan orang-orang di tanah kelahirannya. Sejak kapan berbeda pendapat menjadi dalil guna membenci seseorang? Begitu pertanyaan seorang kawan di laman medsosnya.
            Tentang hal ini, ada pelajaran berharga dari persahabatan Buya Hamka dengan Mr. Mohamad Yamin, sebagaimana diikhtisarkan kembali oleh situs www.ranah.id (12/11/2016). Sidik jari politik Yamin adalah PNI, sementara Hamka mewakili Partai Masyumi yang menghendaki Islam sebagai ideologi negara. Pidato keras Hamka di konstituante menjadi awal mula permusuhan keduanya. Bagi Yamin, Hamka bukan hanya musuh ideologis tapi juga seteru pribadi. Setelah konstituante dibubarkan dan Demokrasi Terpimpin dijalankan, Yamin menjabat sebagai Menteri Sosial dan Kebudayaan, sementara Partai Masyumi dibubarkan. Hamka kian terjepit karena tuduhan keterlibatan Masyumi dalam PRRI/Permesta. Sikap Yamin yang memusuhi PRRI di kampung halamannya membuat ia terus dipercaya dalam pemerintahan. Pada 1962, Chairul Saleh mendatangi rumah Hamka. Menteri Perindustrian itu membawa pesan dari Yamin yang sedang sakit di RSPAD. Pada musuh ideologisnya itu, Yamin meminta agar ia didampingi menjelang akhir hayatnya, dan jika Hamka berkenan agar memakamkan jenazahnya di Talawi, Sijunjung. Yamin khawatir, orang kampungnya tidak mau menerima jenazahnya, karena sikapnya yang memusuhi PRRI. Permintaan itu ikhlas ditunaikan oleh Hamka. Yamin meninggal dalam genggaman tangannya di RSPAD. Hamka pula yang mengantarkan jenazah Yamin ke Minangkabau. Kisah ini membuktikan ungkapan Niza Yanay; In hate, love is never lost  (dalam benci, cinta tak pernah hilang).  
            Kini, dalam arus kebencian yang begitu deras, ikhtiar menyampaikan pendapat pribadi saja bukanlah perkara yang gampang. Di musim Pilkada, bila dilakukan secara terang-terangan, itu sama saja dengan berdiri di hadapan gerombolan anak-anak berandalan dengan ketapel di genggaman masing-masing. Inilah risiko yang mesti ditanggung orang-orang yang hidup di era personal politic. Tak ada yang tak bisa dikaitkan dengan politik. Sekadar menginformasikan kemacetan parah selepas hujan di jalur tertentu, bisa ditanggapi sebagai sikap politik. Ibu rumah tangga yang mengeluh tentang harga cabai yang terus melambung, adalah juga pernyataan politik yang bisa direspon macam-macam. “Tak ada yang kebal dari jaring laba-laba politik. Dunia sedang bernapas politik. Makan politik. Berak politik”, kata sastrawan Argentina, Luisa Valenzuela.
            Begitu pula ideologi kebencian bekerja. Kebencian bukan lagi hasrat individual, tapi hasrat komunal untuk bertahan dari rasa takut. Dalam iklim Pilkada, tentulah itu rasa takut akan kekalahan. Iklim politik yang minim pikiran, menyambut baik karnaval kebencian itu. Bila realitas politik di masa lalu adalah arena pertarungan gagasan demi kemaslahatan bersama, politik masa kini semata-mata meringkus kuasa dengan karnaval kebencian sebagai kendaraannya. Selepas kompetisi, kebencian tak menyusut, ia meluas ke mana-mana. Dalam kebencian, cinta mungkin tak hilang, tapi akal sehat yang sekarat bisa mengubah pesta demokrasi menjadi sekadar kisah panjang tentang sumbu-sumbu yang pendek…      
           
           
           

Monday, November 07, 2016

Nelayan yang Malas Melepas Jala



Damhuri Muhammad


(versi cetak dari cerita ini telah tersiar di harian Kompas, Minggu 6 November 2016)


Bagaimana sebaiknya kau mengumpamakan persekutuan dua manusia yang sama-sama meringkuk di lubuk asmara, tapi tak mungkin hidup bersama? Seorang penasihat hubungan percintaan spesialis usia setengah tua (es-te-we) pernah menyarankan; andaikan kau dan kekasih gelapmu sedang dilanda kegemaran mencari kesenyapan di sebuah pulau asing, atau sebut saja pulau tak bernama. Tapi kalian hanya boleh berada di sana sepanjang petang! Sebelum malam sempurna kelam, kalian sudah harus berlayar kembali ke pulau masing-masing. Kau pulang ke pangkuan suamimu. Kekasih gelapmu kembali menunaikan tugas mengurus keluarganya.  
           Bagaimana bila kelak pulau tak bernama itu sudah menjadi target intel-intel swasta guna memotret setiap gerak-gerik penghuninya, lalu kabar akan  tersiar di pulauku dan pulau kekasihku? Tanyamu pada suatu senja sambil memasang muka was-was ketimbang waspada. Di pulau tak bernama, cinta juga tak bisa dinamai, kata kekasih gelapmu, sekadar menenangkan kecemasan berdua. Intel-intel swasta yang mungkin dikirim khusus dari pulaumu--tentu juga dari pulau kekasih gelapmu--membawa kamera tersembunyi, dan mereka tak perlu perkakas bahasa saat melaporkan rupa-rupa peristiwa.
            Akhirnya kau tidak lagi percaya pada konsultan asmara itu, meski belum sedikit pun terbersit niatmu untuk menyudahi persekutuan ganjilmu. Kau dan kekasih gelapmu tetap melepas rindu, paling tidak seminggu sekali, baik di ruang terbuka maupun di tempat-tempat rahasia. Kalian tetap bertukar kabar dalam situasi sepayah apapun. Kekasih gelapmu maklum, bahwa sebelum senja tiba kau mesti pulang, dan itu berarti perjumpaan kalian mesti bubar sampai di situ. Ia tak pernah ngeyel menahanmu barang sejenak. Justru ia tak pernah alpa menjadi alarm bagi waktu berpisah, yang sama-sama kalian benci.




     
Kenapa ia tak pernah protes bila aku terlambat membalas pesan-pesan singkatnya? Tanyamu pada seorang peramal hubungan gelap yang lagi-lagi spesialis perselingkuhan kaum setengah tua. Kekasih gelapmu adalah pribadi yang tidak hobi berburuk sangka. Di matanya, apapun yang kau lakukan adalah benar. Apa saja yang kau perbuat adalah wajar. Dadamu berdebar saat mendengar komentar dukun kekinian itu. Sedikit-banyaknya mekar juga rasa banggamu karena punya kekasih yang tidak cerewet, apalagi kepo tak karuan.
            Kau masih ingat saat mengunggah foto bersama suamimu tatkala kalian merayakan ulang tahun pernikahan? Kau merangkul bahu suamimu sekuat kau memeluk bantal guling di kala hujan lebat tengah malam--sementara suamimu sedang dinas ke luar kota. Saking eratnya, seolah-olah bahu suamimu menyatu dengan sekujur kulit di tubuhmu. Celakanya lagi, itu kau selenggarakan sambil mendaratkan sebuah kecupan modern di pipinya, bukan? Hampir semua teman dekatmu di laman media sosial itu memberi selamat, serta mendoakan kejayaan sejarah perkawinanmu. Apakah selepas itu kekasih gelapmu merajuk atau setidaknya menampakkan muka cemburu? Alih-alih bersedih, ia malah ikut menumpang bahagia dan bersuka-cita. “Usia pernikahan boleh bertambah, tapi umur kemesraan hendaknya kekal di masa muda. Berbahagialah sampai usia renta,” begitu bunyi sebuah kalimat yang termaktub dalam sebuah surat panjang. Ia mengirimkannya menjelang dini hari, mungkin sebelum suamimu terjaga untuk memberi selamat.
Kekasih gelapmu adalah seorang fotografer, spesialis potret keluarga. Soal membaca jiwa dari sebuah potret keluarga, mungkin kemampuannya melampaui ketajaman mata batin cenayang-cenayang metropolis yang sering kau sewa.  Ia tak sembarangan mengumbar ucapan “selamat berbahagia” bila jiwa yang ia tangkap dalam potret keluarga itu adalah nestapa yang disamarkan. Maka, kekasih gelapmu telah memastikan bahwa kau dan suamimu adalah pasangan yang sejahtera lahir-batin, tak kurang satu apapun juga.
Masih ingat perjumpaan di sebuah restoran tepi laut, saat ia mendiskusikan hasil pengamatannya terhadap foto-foto reunian yang berseliweran di laman-laman media sosial? Busana, pose, sudut pandang, dan latar-tempatan boleh saja berbeda-beda, tapi jiwa dari sebagian besar foto-foto itu menurutnya punya corak yang serupa. Riang-gembira, tapi diam-diam seperti menyimpan luka. Bersahaja, tapi menyembunyikan ambisi tak terkira. Bersuka-ria, tapi memelihara dengki yang tak kasat mata. Berbahagia tapi sekadar basa-basi yang dipaksakan. Suci dan berseri-seri, tapi mengoleksi banyak laku hipokrasi.
Sandiwara dalam pose-pose itu mengingatkan ia pada pesan seorang kerabat dekat bahwa ia sudah lama tak berkunjung ke rumahnya, ia sudah bertahun-tahun tak menjaga silaturahmi, ia hanya datang dan berjabat tangan bila sudah ada yang mati di sana. Itupun kalau hatinya sedang terpanggil. Lalu, ia bilang, kenapa yang harus datang berkunjung itu selalu yang lemah kepada yang kuat, yang muda kepada yang tua, dan yang paling sering terjadi adalah yang miskin kepada yang kaya? Pernahkah sekali saja pihak-pihak yang kuat itu beritikad untuk menjenguk saudara lemahnya, yang tua berkenan singgah sejenak di rumah saudara mudanya?

***
Bandingkan dengan sikapmu setelah kekasih gelapmu menyiarkan sebuah foto keluarga saat ia dan istrinya merayakan hari jadi putri mereka. Pose yang sama sekali tak mengumbar keintiman mencolok. Meski terbilang dekat, di antara kekasih gelapmu dan istrinya masih dibatasi oleh tubuh putri kecilnya yang tampak sedang meniup lilin di atas permukaan kue. Apa yang terjadi selepas itu?  Kau mengirim surat panjang yang bila disimpulkan dapat berarti kau telah menudingnya sebagai laki-laki jahat yang tak pandai menjaga perasaan perempuan. Lebih dari dua pekan kau tak merespons satu pun pesan pendeknya. Kau diserang penyakit ngambek stadium parah, meski kekasih gelapmu tidak panik dan malah segera memaafkanmu.
“Ia mungkin bukan laki-laki yang baik, apalagi laki-laki yang suci dari rupa-rupa kenakalan pada perempuan. Tapi, saya pastikan ia orang yang jujur!” kata konsultan amatir yang diperkenalkan seorang sejawatmu selepas menghadiri seminar bertajuk “Usaha Mencegah Kerut Ketuaan” di sebuah pusat perniagaan.  Kau tidak menunjukkan sikap percaya. Sebaliknya, kau cuek sambil menulis komentar atas pesan-pesan sampah di sebuah chat-group kumpulan ibu-ibu hebring kurang piknik. Tapi, ramalan cenayang pemula itu membuatmu tak bisa lupa obrolan ringan dengan kekasih gelapmu, tepatnya pada pertemuan ketiga sejak kalian berkenalan di dunia maya.
“Boleh aku menyebutmu sebagai pendekar pemetik bunga?” tanyamu dengan nada mengejek. Kata “pemetik” dalam kalimatmu menurutnya  berkonotasi kegemaran mencari. Sementara ia bukan tipe pencari atau sebutlah pemburu. Maka, kata “pendekar” sebaiknya diganti dengan “nelayan.” Itupun kalau bisa nelayan yang diumpamakan tidak sedang membentangkan jala. Bayangkan saja nelayan itu sedang mendayung perahu di sebuah danau, sementara jala menggumpal dan teronggok  begitu saja di sudut perahunya. Hanya beberapa bagian ujung jala yang menjuntai ke permukaan air. Di situlah sesekali ikan kecil datang dan kerap terjaring tak sengaja. Demikianlah, ia tak pernah mencari, tapi sekadar menyambut setiap perempuan yang berkenan singgah.
“Lalu sudah berapa ekor ikan yang datang suka-suka ke dalam jalamu?” tanyamu, ketus.
“Setiap yang datang biasanya sudah  punya rencana pamit sendiri-sendiri.”
“Iya. Sudah berapa yang pamit setelah kau karantina dalam perangkapmu?”
”Dan, sampai kapan kau membiarkan jala itu menjuntai di permukaan air hingga ikan-ikan terperangkap silih berganti?”
Kau mencecarnya dengan banyak pertanyaan. Makin lama suaramu makin terdengar sebagai kemarahan.

***
Pada perjumpaan selanjutnya ia tegaskan bahwa kasusmu sedikit berbeda dengan hikayat nelayan yang enggan melepas jala itu. “Sebelum menemukanmu, nelayan itu sedang dilanda keinginan hendak melepas mata kail,” katanya. Bukan kau yang merapat sukarela ke jalanya, tapi ia yang gigih hendak menangkapmu.
Lalu, ia menyerupakan dirinya seperti sepeda motor yang akan turun mesin. Mur dan baut di tubuhnya sudah berguguran. Ada yang lepas sendiri lantaran aus, ada yang direnggut paksa sekuat tenaga. Ia mengaku telah bertelanjang di hadapanmu. Tak ada lagi yang belum ia singkap. Tentang ikan-ikan yang sukarela melekat di jalanya, rencananya melacak kembali kesendirian yang lenyap sejak ia berkeluarga, dan keberuntungan tak terduga sejak ia bertemu perempuan yang ternyata juga pecandu kesunyian, hingga terbangunlah hubungan gelap yang amat mendebarkan, sekaligus rawan-ketahuan itu.  
Kau punya anak-anak yang manis dan lucu. Ia punya anak-anak yang girang dan menyenangkan. Kau punya suami yang tekun bekerja dan sayang keluarga. Ia punya istri yang tabah mempercayai kesetiaan seorang laki-laki. Hubungan gelap kalian adalah cinta yang mustahil. Rencana-rencana kalian percuma. Kau bahagia bersama keluargamu. Ia rukun-tentram bersama istri dan anak-anaknya. 
Tapi kalian tetap hobi meringkus senja di pulau tak bernama. Tetap gemar melarikan diri dari sumbu-sumbu kebahagiaan masing-masing. Sehari saja kalian tak bertukar kabar, bagai akan tiba amuk badai, mengguncang tugu kerinduan yang kalian lestarikan di sana. Itu sebabnya kau masih mencari umpama yang relevan bagi hubungan rahasia, dan konon terus diincar oleh mata liar intel-intel swasta.
Aku bukan konsultan orang kasmaran. Bukan pula ahli nujum kontemporer yang bisa meramal masa depan permainan serong. Tapi baiklah, kusumbangkan sebuah permisalan yang paten. Andaikan kau dan kekasihmu sebagai dua narapidana. Kalian meringkuk di sel yang bersebelahan. Di antara selmu dan selnya ada sebuah meja kecil dengan papan catur yang terbuka, berikut dengan bidak-bidak yang siap digerakkan. Julurkan tanganmu dari balik jeruji besi. Kekasih gelapmu juga melakukan gerakan serupa. Bermainlah sepanjang hari. Jangan pernah berhenti. Kalian memang sedang menanggung vonis berat, tapi menyudahi permainan itu akan mengakibatkan kalian menjadi terpidana seumur hidup…

Tuesday, October 11, 2016

Tahayul dan Nalar yang Lumpuh

-->

 
-->
Damhuri Muhammad


(versi asli dari artikel opini yang sebelumnya telah tersiar di harian Kompas, Jumat, 7/10/2016)


Jaman boleh maju, sains modern boleh pula tegak sebagai tonggak peradaban mutakhir, tapi mitos dan tahayul belum musnah dari rahim kultural kita. Dalam ketergesaan berkendara di lalu lintas Jakarta yang padat senantiasa, sekali waktu seseorang mungkin pernah melindas seekor kucing secara tak sengaja. Saat itu, biasanya ia akan langsung terhubung dengan nasihat orang-orang dahulu, bahwa segeralah hentikan kendaraan, bungkuslah jasad kucing yang berlumur darah itu dengan kain putih, lalu pusarakanlah secara layak.
Perilaku semacam itu diselenggarakan bukan atas dasar pertimbangan etik, tapi digerakkan oleh seperangkat dalil mistik. Bila prosedur itu diabaikan, katakanlah si pelaku tancap gas belaka, sementara kucing yang naas dibiarkan terkapar tak berdaya, dipercayai akibatnya fatal; si pelaku bisa celaka. Ditabrak truk, atau mengalami kecelakaan tunggal, dan tewas seketika. Setidaknya begitulah pesan-pesan mistik yang kita warisi secara turun-temurun, dan rasanya masih menjadi “tauladan” hingga kini.
            Dalam sebuah perjalanan, bila sekali waktu saudara melintasi tikungan-tikungan tak biasa dengan jurang menganga di kiri-kanan, banyak orang menyarankan agar saudara melemparkan sebuah koin logam ke sisi kiri, sebagai sikap hormat pada makhluk-makhluk halus penghuni wilayah itu. Saudara bisa tidak selamat bila mengabaikan prosedur ganjil itu. Kendaraan saudara bisa terguling tanpa sebab yang masuk akal, lalu terjun bebas masuk jurang. Sekali lagi, etos kesantunan di medan-medan rawan kecelakaan itu, tak berlangsung dengan prinsip-prinsip etik, tapi diamalkan atas dorongan sugesti-sugesti mistik.
Sahabat saya, master filsafat lulusan universitas terkemuka di Paris, pernah dilanda kecemasan tak terkira. Istrinya sedang hamil muda dan mengidamkan sebutir buah manggis mengkal, sementara kios-kios buah di kotanya tidak menyediakan buah pengidaman itu lantaran musim manggis belum tiba. Ia sudah berusaha keras, mendatangi setiap kios buah-buahan di segenap penjuru kota kecil tempat tinggalnya, tapi hasilnya nihil. Istrinya kecewa, dan ia amat khawatir bila nanti bayinya lahir sebagai anak ngences, dengan liur yang meleleh terus menerus dari bibirnya, lantaran pengidaman yang tak kesampaian.
Saat itu, dalil-dalil rasional dan gagasan kefilsafatan yang penuh-sesak di kepalanya bagai lumpuh seketika. Ia dikepung oleh hawa mistik dan klenik, hingga nalarnya buta. Ia hanya memikirkan bayi yang sudah lama dinantikannya, yang bisa jadi akan lahir sebagai anak yang kurang sempurna. Ia merasa bersalah, hanya karena tidak mampu mengabulkan keinginan istri tercinta yang sedang mengidam.
Kompleks permukiman yang baru saja saudara tempati, dulu adalah area rawa-rawa yang dipercayai warga sekitar sebagai daerah tempat jin membuang anak! Kabar ini juga kerap terdengar. Atas dasar itulah biasanya kita menggelar doa selamatan dengan mengundang orang-orang yang dipercayai mampu mengusir energi gaib. Bila prosedur itu tidak dilakukan, maka kekuatan gaib akan mengusik ketenangan, dan tak jarang dapat menyebabkan penyakit ganjil yang berakibat buruk bagi masa depan sebuah keluarga. Tahayul tetap hadir di ruang tamu dan kamar tidur kita, setinggi apapun tingkat pendidikan, betapapun canggihnya kemampuan nalar. Di tengah malam, bila samar-samar terdengar lolongan anjing, biasanya kita percayai sebagai pertanda kerumunan hantu yang sedang bergentayangan. Jangan menjahit baju di malam hari, jangan duduk di depan pintu, jangan mandi di sungai di tengah hari, jangan masuk hutan bila cuaca gerimis, begitu rupa-rupa nasihat orangtua di masa kecil, yang hampir semuanya bukanlah pesan etis, tapi mengandung muatan mistik dan metafisis.
Barangkali “habitus” inilah yang menjadi basis argumentasi sastrawan Mochtar Lubis (1978) untuk mencatat “percaya tahayul” sebagai salah satu ciri manusia Indonesia. Bagi Mochtar, kepercayaan purba manusia Indonesia yang identik dengan animisme dan dinamisme mengakibatkan betapapun majunya cara kita bernalar, kita masih mempertahankan kesetiaan pada dunia supranatural. Mungkin itu pula sebabnya beberapa waktu lalu ketika pimpinan Padepokan Syekh Sangga Buana Putra bernama Abdul Muhjib menjual tiket ke surga seharga dua juta rupiah, sejumlah orang di Karawang (Jawa Barat), dengan senang hati membelinya. 
Demikian pula dengan sekelompok anak-anak muda yang terobsesi hendak menjadi artis. Mereka merasa perlu digembleng mentalnya oleh seorang penasihat spritual. Sekali waktu, sang penasihat spritual mengaku sebagai kolektor jin dengan segenap kemampuan gaib yang akan mengantarkan anak-anak muda polos dan lugu itu menggapai cita-cita. Di kesempatan lain, ia bisa pula menobatkan dirinya sebagai titisan nabi yang bekerja dengan bantuan malaikat. Kemampuan istimewa tersebut ditegaskan dapat melapangkan jalan, baik bagi anak-anak muda yang hendak menjadi bintang terkenal, maupun orang-orang yang sedang dilanda nestapa akibat prahara rumah tangga. Di titik ini, kekuatan nalar mengalami kelumpuhan sementara, sama halnya dengan prinsip-prinsip rasionalisme, empirisisme, dan positivisme sains--yang dianut oleh sahabat saya di atas--yang tak bisa bekerja, hanya karena gagal dalam ikhtiar memperoleh manggis mengkal bagi istri tercinta.
Revolusi keilmuan yang berlangsung di Eropa sejak zaman Renaisance dan Aufklarung memang telah mengantarkan manusia modern ke puncak kemampuan kognitif tertinggi yang dalam istilah filsuf August Comte (1798-1857) disebut fase “positivistik.” Bahwa fase “teologis” dan “metafisis” telah terlampaui, dan manusia sudah bebas dari kuasa dogma, mitos, dan klenik. Tapi di republik yang di musim Pilkada para kandidatnya datang meminta restu dan dukungan pada dukun-dukun kontemporer, atau dalam tradisi keilmuan ketika seorang akademisi telah menyandang predikat guru besar, tapi masih rajin mengoleksi keris pusaka, rasanya teori Comte tidak terlalu berguna.
Maka, tidaklah mengherankan bila seorang cerdik-cendikia lantang membela Dimas Kanjeng Taat Pribadi, pemimpin sebuah padepokan di Probolinggo (Jatim). Dimas disebut-sebut mampu menggandakan uang dengan kekuatan gaib, tapi kemudian berstatus tersangka atas dugaan sebuah tindak pidana. Bila dalam sejarah filsafat Barat, mitos binasa setelah akal berkuasa, di negeri kita, tahayul justru sanggup melucuti nalar seorang doktor lulusan Amerika… 


Friday, September 02, 2016

Dunia Digital dalam Teropong Analog



 
Damhuri Muhammad


 (versi cetak artikel ini tersiar di harian Kompas, Senin 29 Agustus 2016)




Suatu ketika, sahabat saya yang bermukim di Berlin (Jerman), mengunggah foto satelit Google Maps yang menampilkan jalan masuk menuju rumah masa kecilnya di Brebes, Jawa Tengah. Entah karena ia sedang rindu pulang, atau sekadar mengakui betapa sempurnanya Google Maps memetakan setiap wilayah di seluruh pelosok bumi. Bagai tak ada lagi yang luput dari intaian mata Google, bahkan hingga jalan setapak menuju kebun bawang tempat ayah bekerja saban hari, atau sudut dapur tempat ibu menanak nasi saban pagi. “Google Maps sudah memotret teliti sudut jalan kita. Ini jalan masuk ke rumah saya,” demikian saya kutipkan caption pendek dari laman media sosial kawan itu. 
            Apa yang bertahun-tahun silam hanya dapat kita saksikan dalam tayangan film-film science-fiction kini betul-betul telah mewujud-nyata. Teknologi layar sentuh dan perintah suara (SIRI) yang dulu hanya dapat kita saksikan dalam film Minority Report (2002) karya Steven Spielberg, kini menjadi bagian yang tak terhindarkan dalam dunia keseharian kita. Demikian pula dengan komputer tablet dan perangkat lunak seperti Skype, yang puluhan tahun lalu tiada lebih dari imajinasi Stanley Kubrick dalam film 2001: A Space Odyssey (1968), tapi di kurun ini telah menjadi perkakas yang hampir bersekutu dengan tubuh setiap orang. Memiliki gawai di masa kini seperti memiliki pesawat radio sekitar tiga dekade silam.
Kendaraan tanpa awak yang ditumpangi Arnold Schwarzenegger dalam film Total Recall (1990), dulu mungkin dianggap mustahil dan terlalu mengada-ada, tapi tengoklah, kini benda itu nyaris mendekati kenyataan. Dunia transportasi mutakhir telah memaklumatkan penemuan spektakuler yang jamak disebut driverless, alias kendaraan swakemudi. Saat ini, uji coba mobil otonom besutan Google itu telah mencapai jarak tempuh 3,2 juta km. Raksasa otomotif semacam Ford, Lexus, Fiat, dan BMW telah mengambil ancang-ancang hendak “menyesuaikan diri” dengan penemuan itu.
Riset panjang yang dilakukan Google sejak 2009, telah menciptakan perkakas transportasi darat tanpa pengemudi. Mobil dilengkapi dengan sistem sensor digital berbasis peta visual alias Google Maps, Radar, Lidar (Light Detector and Ranging), yang memungkinkan ia mendeteksi tanjakan berliku, tikungan-tikungan berbahaya, jarak aman dengan kendaraan lain, pengguna sepeda, pejalan kaki, dan segala potensi kecelakaan di jalan raya. Pemerintah AS menyambut baik kehadiran teknologi kelas berat itu dan kini sedang mempersiapkan regulasi yang relevan guna mempersilahkan mobil-mobil autopilot itu turun ke jalan mengantarkan para pemiliknya menuju kantor, berbelanja ke supermarket, dan berbagai keperluan keseharian. Pemerintah Inggris memperkirakan, mobil swakendara sudah dapat beroperasi secara massal pada 2020.
            Bagaimana sebuah negara berdaulat mesti bersikap tatkala wilayah kekuasaannya bagai dikapling-kapling, lalu disensor-digital guna memuluskan laju kendaraan swakemudi? Google tentu tak akan memancangkan rambu-rambu atau marka jalan di dunia nyata--sebagaimana yang dilakukan Dinas Perhubungan (Dishub)--tapi memasang sensor pada peta visual yang lazim dikenal sebagai GPS. Sistem komputer dengan basis teknologi interconnection juga tidak akan membuat klakson bising, sebagaimana yang saban petang kita hadapi dalam kesembrautan lalu lintas Jakarta. Ia hanya merancang keterhubungan digital antarkendaraan otonom, guna menghindari setiap penyebab kecelakaan.
Dalam keriuhan kabar tentang kembali berjatuhannya “korban” pasal karet Undang-Undang ITE, pikiran udik saya membayangkan, kelak bila mobil otonom sudah dijual-bebas di Indonesia (ditambah pula dengan kegandrungan kita mengoleksi mobil pribadi), apa lagi faedahnya rambu-rambu dan marka jalan, UU Lalu Lintas, dan Bapak-Ibu Polantas yang budiman? Bagaimana masa depan sopir-sopir pribadi? Akan gulung tikarkah perusahaan-perusahaan asuransi? Selanjutnya bagaimana caranya hukum mengatur aktivitas warga yang hampir semuanya telah dikemudikan dari medan digital? Masih mumpunikah risalah hukum dunia nyata dalam meringkus begundal-begundal dunia digital?
Atas berbagai persoalan serius hari-hari ini, dunia maya (khususnya media sosial semacam facebook, twitter, instagram, dan sejenisnya) ditunjuk atau “dikambing-hitamkan” sebagai penyebabnya. Disebut-sebut pemerintah sedang melakukan kajian mendalam tentang akibat-akibat massifnya. Tapi, sepanjang negara masih melihat dunia digital dengan teropong analog dan cara berpikir manual, lalu menghadang keliaran yang terus bergentayangan itu dengan Undang-Undang konvensional, maka kerumunan di jagad maya dengan rupa-rupa soal yang mereka perbincangkan, tiada bakal terbendung. Di media sosial, aktivitas berbelanja celana dalam di sebuah mall kemarin petang, atau keributan kecil dengan tetangga sebelah rumah lantaran kucing piaraannya menerobos masuk dapur misalnya, dengan gampang menjadi pergunjingan ramai, menjadi konsumsi publik. Hal-ihwal pribadi menjadi santapan banyak orang. Sebaliknya, urusan publik menjadi sekadar urusan  seorang.
Barangkali di sanalah pangkal-soalnya. Puji dan maki, ikhlas dan dengki, sabar dan amuk, senantiasa berputar dalam lingkaran setan yang tiada ujungnya. Bertengkar, damai, bertengkar lagi, begitu seterusnya. Bersetuju, menyangkal, bersetuju kembali. Memfitnah, insyaf, minta maaf, memfitnah kembali. UU ITE dan edaran Hate Speech hanya mampu meringkus segelintir pelaku, itupun setelah terjadi kasus-kasus besar seperti demonstrasi anarkis, konflik SARA, dan semacamnya. Bagaimana dengan ribuan bahkan jutaan akun yang hampir setiap aktivitasnya adalah hasutan, provokasi, dan perang hoax?     
Bila negara benar-benar ingin melakukan intervensi, hadirlah di dalam dunia digital itu sendiri. Pancangkan infrastruktur digital di mana ada kedaulatan negara di situ. Jago-jago IT melimpah-ruah di republik ini. Mereka siap bekerja untuk itu. Pengawasan, sanksi, bahkan pengadilan, dapat digelar secara digital. Bila ada yang melanggar, misalnya mengumbar ujaran kebencian, atau mengunggah pernyataan adu-domba, secara otomatis sistem akan menghapusnya, lalu menjatuhkan sanksi awal dengan mengunci akun misalnya. Risalah UU ITE, kitab Ujaran Kebencian, dan ancaman blokir situs, hanya perkakas manual yang hendak mengatasi persoalan di dunia nyata, padahal sumbernya berasal dari ruang digital. Alam maya tak bisa sama dan sebangun dengan alam kasat-mata. Dunia digital tak bisa diringkus, apalagi dikuasai, oleh cara berpikir analog…



Wednesday, July 27, 2016

Jangkrik Aduan dan Monster Pokemon

-->
Damhuri Muhammad



 (versi cetak artikel ini tersiar di harian Kompas, Selasa, 26 Juli 2016)


Dalam imajinasi awam saya, demam berburu Pokemon yang kini sedang mewabah, tak jauh beda dengan kegemaran berburu Jangkrik dalam permainan anak-anak sekitar tiga dekade silam.  Monster virtual  seperti Pikachu, Bulbasaur, Charmander dan Pidgey, saya analogikan dengan rupa-rupa jenis Jangkrik dengan sejumlah kebolehan saat serangga itu berlaga dalam kontes dunia kanak-kanak.
PokeBall--perkakas untuk menangkap Pokemon--mungkin seperti ranting kayu, atau pisau tumpul guna menggali lubang Jangkrik, sementara PokeStop adalah semacam dapur emak di mana tersedia kaleng-kaleng bekas ikan sarden atau botol bekas guna mengurung Jangkrik-jangkrik hasil tangkapan. Begitu pun dengan Gym--arena pertarungan monster yang hanya dapat dimasuki bila pemainnya sudah mencapai level 5--saya bayangkan sebagai medan laga sederhana para Jangkrik andalan, yang biasanya berlokasi di tebing-tebing lapang, dan sedapat-dapatnya jauh dari perhatian orangtua.
Dengan analogi itu, maka tak ada yang istimewa dari kegemaran baru yang perkembangannya saban hari berhamburan di laman-laman media sosial. Kalaupun ada bedanya, adu Jangkrik mungkin sudah terkubur sebagai bangkai-bangkai kenangan masa kecil, sementara Pokemon Go adalah awal dari sejarah baru yang akan mengubah cara pandang  dan  mentalitas kita terhadap alam nyata.
            Tapi, Pokemon Go ternyata tak sesederhana cara berpikir kampungan saya. Penggemarnya bukan saja anak-anak, tapi hampir tanpa mengenal batasan usia dan jenis kelamin. Gara-gara kegandrungan--atau mungkin sudah layak disebut kecanduan--itu, sejumlah instansi pemerintah telah mengambil ancang-ancang untuk melarang para pegawainya bermain game besutan Nintendo dan Niantic Inc (anak perusahaan Google) tersebut. Selain menyita waktu, Pokemon Go mengharuskan player berjalan dari satu tempat ke tempat lain guna menemukan titik-titik tertentu di mana monster-monster mesti ditangkap. Perjalanan itu bukan pergerakan visual sebagaimana dalam game digital umumnya, tapi perjalanan fisik, seperti anak-anak jaman dahulu mencari Jangkrik dari area sawah bekas panen ke area bekas kebun mentimun. Tapi dalam pencarian Pokemon,  player menggunakan telpon pintar dengan sensor kamera dan teknologi GPS sebagai pemandu arahnya.
            Maka, di ruang-ruang publik kota besar, banyak orang dengan kepala menunduk berjalan seperti tak tentu arah, sambil memegang gawai tanpa menoleh kanan-kiri. Atau anak-anak muda mengendarai sepeda motor sambil memegang gawai dengan tangan kiri. Terus bergerak seperti sedang mencari barang yang hilang dan abai pada dunia sekitar. Akibatnya, ada yang bertabrakan dengan pengendara lain, ada yang diseruduk mobil, atau yang paling sial; terjebak di wilayah tak dikenal, lalu menjadi santapan pelaku kejahatan.
          Jangan bayangkan mereka sedang memburu Jangkrik, Capung, atau Belalang seperti kegemaran anak-anak masa lalu. Squitle, Caterpie, Weedle, dan Rattata yang akan mereka ringkus adalah monster-monster virtual yang  dihadirkan secara bersamaan dengan dunia nyata. Makhluk-makhluk digital itu bisa saja bersembunyi di bawah meja kerja staf khusus Presiden, di area rerumputan Taman Monas, di halaman belakang sebuah masjid raya, atau di balik rak buku dalam ruang kepala Badan Intelijen Nasional (BIN). Ruang-ruang nyata seperti itu boleh jadi telah “dikuasai” monster Pokemon berkat dukungan Google Maps. Pokemon Go disebut-sebut menyekutukan dunia nyata dengan dunia maya, dan membuat pemainnya dapar berinteraksi secara real time.
        Dalam bahasa canggih, teknologi ini disebut augmented reality (AR) atau yang jamak dialihbahasakan sebagai  “realitas tertambah.” Tak dapat disangkal bahwa AR telah berkontribusi besar di dunia kemiliteran, medis, pendidikan, perdagangan, dan periklanan. AR memungkinkan kita melihat atau paling tidak menganggap-nyata realitas yang tak terjangkau mata telanjang. Sekali waktu bila tuan berbelanja pakaian, tuan tidak perlu repot-repot mencoba sebuah kemeja di kamar pas, tapi cukup dengan merapatkan tubuh tuan pada tampilan visual yang muncul di layar digital, dan tuntaslah perkara ukuran.  
Lantaran kita tidak akan pernah sanggup menggenggam kenyataan secara paripurna, disediakanlah benda-benda digital guna membantu kita menggauli kenyataan itu secara memadai. Begitu kira-kira pengandaian sederhananya. Tapi persoalan yang muncul kemudian tidaklah segampang itu. Teknologi tinggi yang dulu hanya dapat digunakan dan tentu saja dikendalikan secara teliti dan hati-hati oleh para ahli, kini dapat diakses siapa saja. Teknologi sinar infra merah yang memungkinkan seorang dokter spesialis memperoleh citraan tentang anatomi dalam dari tubuh manusia kini bukan lagi barang baru, karena telah tersedia secara instan di berbagai aplikasi online. Perkakas yang dulu hanya berada dalam genggaman orang-orang terdidik di berbagai bidang--dengan takaran dan pengawasan ketat hingga tidak membahayakan orang banyak--kini sudah menjadi milik semua orang, bahkan menjadi perkakas dalam permainan waktu senggang. Itu sebabnya ia menimbulkan keterkejutan yang ganjil,  kecanduan, bahkan histeria. Sementara takaran, pertimbangan risiko, tidak lagi menjadi perhatian, hingga monster-monster Pokemon itu tidak hanya mencelakai musuhnya di gelanggang laga visual, tapi juga membunuh di dunia nyata;  senjata makan tuan.
Adapun yang disebut “alam nyata” oleh teknologi AR sejatinya tidak lebih dari citraan, atau saya sebut saja; peniruan terhadap kenyataan. Foto dan video hasil jepretan kamera canggih sekalipun, hanyalah pantulan dari kenyataan, dan pasti bukan kenyataan itu sendiri. Alam nyata yang dicampur-baurkan dengan benda-benda virtual seolah-olah nyata, padahal itu juga manipulasi dari kenyataan. Kenyataan adalah dunia yang sungguh-sungguh ada di hadapan kita, yang dapat kita sentuh, kita raba, kita endus, bahkan kita selami kedalamannya dengan ketelanjangan tubuh kita. Bukan kenyataan yang dipantulkan oleh kamera telpon pintar.
Maka, alih-alih kenyataan itu tertambah atau terkayakan, makin hari ia justru makin miskin dan terkurangi, akibat manipulasi yang tiada henti-henti. Sebagai warga negara misalnya, mungkin akan lebih baik kita melihat kebobrokan dan dekadensi secara apa adanya, ketimbang mengamatinya lewat aneka citraan atau pantulan kenyataan tentang kegemilangan dan keadaban, tapi tak pernah mewujud secara kasat mata. Di arena permainan yang sudah dianggap udik, seekor Jangkrik kebanggaan mungkin ganas tatkala melumpuhkan musuh-musuhnya, tapi ia tak pernah lancang mencelakai tuannya. Sementara monster-monster Pokemon itu haus darah senantiasa, melukai secara semena-mena…

             

Tuesday, June 21, 2016

Anak-anak Dunia Maya

-->
-->
Damhuri Muhammad


(versi cetak artikel ini tersiar di harian Kompas, Selasa, 14 Juni 2016)


Di masa lalu, bila seorang anak hendak berpamitan, ia mesti mengetuk pintu kamar ayahnya, atau menghampiri ibunya ke dapur, untuk bersalaman, cium tangan, sebelum meninggalkan rumah. Tata krama dan laku santun itu kini telah diringkas oleh perkakas bernama gawai. Ia cukup mengetik satu-dua kalimat di layar telpon pintar, lalu kirim melalui fasilitas online messenger ke nomor Mama-Papa, dan tuntas perkara. Mama-Papa akan membalas pesan-pesan digital dari anak-anaknya, lantas kembali tenggelam dalam rutinitas yang tiada sudah-sudah. Begitu selalu, hingga banyak keluarga seperti sedang membangun rumah di semesta jagad maya. Seolah-olah ramai perbincangan, seakan-akan semarak kehangatan, padahal mereka jarang bertemu-muka.
          Generasi yang lahir di era 1980-an hingga 2000-an adalah generasi yang tumbuh di lingkungan serba digital. Mereka meluncur ke bumi ketika dunia internet telah merajalela. Hampir semua aktivitas mereka dijembatani oleh internet. Mereka mencari informasi untuk keperluan tugas-tugas sekolah di Google, YouTube, Facebook, Twitter, Instagram, dan berkomunikasi dengan macam-macam fasilitas online messenger semacam BBM, WhatsApp, Line. Pendeknya, tak ada satu urusan pun yang lepas dari dunia maya.  Gawai adalah perkakas. Jagad maya adalah napas.
Marc Prensky (2001) menyebut mereka sebagai generasi digital native. Bila anak-anak yang terbiasa berbincang dengan ibu-bapaknya via  WhatsApp--meski mereka berada di rumah yang sama--disebut digital native, maka orangtua atau generasi di atas usia mereka, adalah kaum digital immigrant. Orang-orang yang lahir di jaman analog, tapi tidak bisa lari dari kepungan dunia digital. Ada yang bisa beradaptasi, tapi lebih banyak yang kepayahan, karena generasi masa kini tidak lagi bisa memahami fitur-fitur analog dalam bahasa mereka.
Kolumnis M Burhanuddin (2016) mencatat, generasi digital native membangun gaya,  perilaku, dan bahasa-bahasa baru dalam alur komunikasi dan interaksi yang cepat, massif, dan penuh fantasmagoria. Mereka mengubah tatanan nilai dan gaya hidup menjadi serba digital. Jumlah mereka sangat besar, dan akan menjadi yang terbesar di Indonesia pada 2030. Bila menggunakan istilah Manuel Castel (1996), pertumbuhan generasi digital native dianalogikan seperti rhizome, tumbuhan yang berkembang dengan cara menjalar ke segala arah.
Di berbagai belahan dunia, kaum digital native terus bermunculan. Bahkan di negara yang dikuasai oleh junta militer dan paling represif terhadap media seperti Myanmar sekalipun, sejak 1988--sebagaimana dicatat oleh Reza AA Wattimena--muncul kelompok virtual bernama Support the Monks Protest. Setiap 12 jam, 10.000 anggota baru mendaftar. “Kini, Anda bisa menyaksikan komunitas-komunitas yang kuat, dari orang-orang Myanmar di Norwegia, Thailand, India, dan Inggris. Teknologi digital membuat jaringan bawah tanah menjadi lebih efektif,” ungkap Vincent Brossel, wartawan Reporters Without Border. Di negara-negara Arab, revolusi digital bahkan menggerakkan perubahan sosial politik. Otoritarianisme bertumbangan digilas gelombang perlawanan yang bermula dari suara anak-anak dunia maya.
Dari kaum digital native pula lahirnya sosok seperti Travis Kalanick, pendiri sekaligus CEO Uber, aplikasi penghubung para pengguna jasa transportasi. Sebagaimana dilansir www.cnnindonesia.com (24/03/16), Kalanick mendirikan Uber pada 2009 di San Fransisco, California. Uber diterima  masyarakat, karena harganya terjangkau. Uber mengekspansi layanan ke berbagai negara secara agresif, mengganggu tatanan transportasi, dan memicu kontroversi. Pada 2015 di New York, Uber menyediakan layanan kepada 1,9 juta pengguna dalam waktu tiga tahun dan menciptakan rata-rata 13.750 pekerjaan.  Sementara di London, pengguna Uber sudah mencapai 900 ribu dan membuka 7.800 pekerjaan. Kini Uber telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, dan  dianggap mengganggu bisnis transportasi konvensional.
Anthony Tan, putra seorang konglomerat Malaysia, suatu hari saat ia kuliah di Harvard Business School (AS), temannya berkabar perihal sulitnya mendapatkan taksi di Malaysia. Ia kemudian menyusun rencana bisnis yang mirip layanan Uber pada 2012. Tan membangun GrabTaxi, aplikasi yang semula dirancang guna mendukung operasional perusahaan taksi, tapi kemudian malah menggoyang perusahaan taksi itu sendiri. GrabTaxi semakin membuat pusing perusahaan taksi dengan meluncurnya GrabCar, Juni 2015 di Bali. Aplikasi online yang memungkinkan mobil pribadi mengangkut penumpang. GrabCar hadir di Jakarta pada Agustus 2015 (www.cnnindonesia.com 15/3/2016).
Generasi digital native adalah para penggerak ekonomi digital.  Pertumbuhan kelas menengah dan penetrasi internet tak dapat diabaikan. Menurut catatan Bank Dunia,  Indonesia telah mengalami pertumbuhan kelas menengah yang fantastis sejak krisis moneter 1998. Pertumbuhan itu diperkirakan akan terus meningkat hingga tahun 2030 dengan populasi sebanyak 141 juta jiwa. Lembaga riset eMarketer mensinyalir, pada 2014 jumlah pengguna internet dalam negeri sudah 83.7 juta jiwa. Litbang Kompas memprediksi, pada 2017 jumlahnya akan sebanyak 117 juta jiwa.
Uber, Grab, Go-jek, hanya sebagian kecil dari bentuk-bentuk kreativitas kaum digital native, yang kini sedang menggelinding menjadi buah simalakama. Disukai banyak orang, tapi dicerca banyak orang pula. Dalam silang-singkarut layanan transportasi publik yang tak kunjung terurus, banyak orang merasa terbantu, ratusan ribu orang terlapangkan ekonominya. Tapi, penyelenggara negara tak bisa membiarkan itu bergulir tanpa aturan. Maka, dalil undang-undang lekas dibacakan, himbauan dimaklukmatkan, bahkan ancaman memblokir situs, telah dikumandangkan. Solusi analog dan super-manual. Kreativitas dihadang dengan undang-undang. Keleluasaan berinovasi dikunci dengan regulasi yang kaku.
Jarak ideologis antara digital native dan digital immigrant, dalam psikologi disebut “efek juvenoia.” Orang-orang masa lalu memandang anak-anak masa kini sebagai gerombolan tak bermoral. Sebaliknya, anak-anak masa kini memandang generasi tua sebagai kerumunan yang tak mampu berpikir. Undang-undang tak akan mempan menjinakkan keliaran kaum digital native, kecuali negara menjadi bagian dari ranah digital itu sendiri. Kontrol, sanksi, dan hukuman seharusnya juga berlaku secara digital, bukan mengandalkan undang-undang, ancaman pemblokiran, dan semacamnya.    
Anak-anak dunia maya tak terbiasa banyak bicara di dunia analog. Mereka akan terus berselancar di layar-layar digital, mencari celah yang bisa ditelusuri untuk kembali menemukan bentuk-bentuk kreativitas baru, dan boleh jadi akan jatuh sebagai buah simalakama yang jauh lebih pahit. Begitu seterusnya, hingga negara ini lapuk dalam keletihan…