Search This Blog

Monday, June 11, 2018

Yudi Latif dan Kuliah Umum tentang Keadilan



 
Damhuri Muhammad


Saya buka catatan ini dengan keributan kecil yang terjadi antara saya, Tenaga Ahli Unit Kerja Presiden-Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) dengan oknum Sekretariat UKP-PIP di Kantor UKP-PIP, pukul 14.45 WIB, Rabu, 13 Desember 2017. Sebut saja namanya Arum Sari (bukan nama sebenarnya) dengan jabatan Kepala Bagian Keuangan.
Siang itu, saya hendak mengajukan pencairan anggaran produksi sebuah Festival Seni dalam rangka sosialisasi nilai-nilai Pancasila yang akan diselenggarakan di desa Sodongan, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah (14/12/17). Penanggungjawab program itu adalah sejawat saya, budayawan Ngatawi Al-Zastrouw (Tenaga Ahli UKP-PIP), dan rincian pembiayaan produksi festival tersebut telah diajukan oleh yang bersangkutan 1 minggu sebelumnya. Memorandumnya juga sudah ditandatangani Kepala UKP-PIP, Yudi Latif. Saya hanya membantu penagihan dalam bentuk UP (Uang Persediaan) yang sudah didahului oleh kesepakatan antara Al-Zastrouw dengan Arum Sari. Oleh karena Al-Zastrouw sedang berada di Palopo (Sulsel), ia meminta bantuan saya untuk menghadap Arum Sari, dan kalau memungkinkan, langsung membawa dana produksi tersebut ke lokasi kegiatan di Magelang.
Saya bertanya baik-baik soal kemungkinan pencairan dana UP tersebut kepada Arum Sari. Ia segera menghubungi seseorang di Sekretariat Kabinet (Setkab), karena anggaran UKP-PIP masih menumpang pada Setkab. Saya mendengar percakapan Arum Sari secara langsung bahwa pencairan UP tersebut tak ada masalah, dan Arum Sari sendiri sudah menyatakan telah menerima dana UP itu dari Bendahara Setkab.
“Coba lihat anggarannya Pak?” itu pertanyaan pertama Arum Sari pada saya. Tegas saya menjawab, “Anggaran sudah tertera dalam memo yang sudah diajukan  seminggu lalu.” Tak lama berselang, Arum Sari meminta stafnya untuk mencari berkas tentang Festival Seni tersebut, lalu ia mempelajarinya di hadapan saya dan dua orang stafnya. “Teman-teman UKP ini kalau dikasih uang, tak bisa mempertanggungjawabkan!” kata Arum Sari selanjutnya, dengan nada yang di kuping saya terdengar begitu sinis. 






Pernyataan Arum Sari membuat saya gusar. Betapa tidak? Kalau uang yang dimaksud adalah uang dalam bentuk UP yang sedang diperlukan dalam produksi Festival Seni tersebut, maka saya ingin bertanya;  Apakah sebelum saya menghadap, ia sudah pernah memberikan UP untuk produksi festival yang lain? Siapa yang dia maksud dengan teman-teman UKP yang tidak bisa mempertanggungjawbkan uang tersebut? Tapi saya masih diam. Saya perhatikan saja kesibukannya mengoreksi item-item pembiayaan dalam daftar kebutuhan Festival Seni itu. Sesekali dia mencoret nilai nominal yang menurutnya tak sesuai harga normal dan  Standar Biaya Umum (SBU). Satu hal yang menarik bagi saya adalah Arum Sari bilang, item pembiayaan honor pengisi acara kenapa tidak digabung saja dengan sewa-sewa alat musik? Spontan saya bantah; “Dalam setiap produksi festival yang pernah saya kerjakan, honor pengisi acara adalah akun sendiri, dan tak bisa digabung-gabung dengan sewa panggung atau alat musik!”
           Arum Sari mengerti maksud saya. Lalu dia kembali me-review item-item pembiayaan. “Bapak nanti bikin kwitansi begini ya. Bapak juga bikin ini ya. Bapak juga sertakan CD hasil dokumentasi ya. Bapak lampirkan pula Surat Setor Pajak dari pemilik perusahaan yang menyewakan barang ini ya, dan seterusnya, dan seterusnya…” Seolah-olah saya adalah staf keuangan yang saban hari berurusan dengan kwitansi dan segala macam dokumen yang berhubungan dengan pertanggungjawaban keuangan dari setiap kegiatan.
          Masih dalam pembicaraan yang sama, tiba-tiba Arum Sari mengamati sebuah item pembiayaan yang menurutnya kurang lazim. Lalu dia bilang; “Bapak mau mengembalikan uang ke negara?” Kalimat ini saya dengar sampai tiga kali di sepanjang percakapan kami. Ini mengingatkan saya pada pembicaraan tanggal 8 Desember 2017 ketika saya mengurus keuangan untuk kegiatan FGD Pancasila dan Kreator Muda di Bandung (12/12/17). Waktu itu terjadi sedikit perdebatan antara saya dan Arum Sari perihal nilai nominal honor narasumber. Saya mengajukan nilai Rp.1.400.000/jam karena narasumber FGD tersebut adalah orang-orang profesional dengan reputasi dalam dan luar negeri, dan nilai itu tertera pada lembaran RKKL yang sudah disetujui pihak berwenang. “Silahkan saja Pak. Asalkan nanti Bapak bisa mempertanggungjawabkan angka itu pada BPK!”
Di kuping saya, kalimat-kalimat itu terdengar mengandung nada menakut-nakuti, terutama bagi saya yang tak punya pengalaman dalam urusan pertanggungjawaban keuangan. Oleh karena saya sudah berkali-kali mendengarnya, maka saya memandang cara-cara seperti itu sebagai modus agar saya melakukan amputasi nilai honorarium narasumber untuk FGD yang saya kelola. Dengan kata lain, saya bisa tunduk pada segala keinginan Kabag Keuangan karena dialah pemegang otoritas pencairan dana. Saya merasa seperti anak kecil yang dapat ditakut-takuti, hingga saya patuh saja pada keinginan orang yang menakut-nakuti itu.
Alhasil, saya tinggalkan ruangan itu dengan segenap kejengkelan yang sukar saya kendalikan. Saya tak peduli lagi dengan dana UP yang sangat diperlukan untuk membayar ini-itu di arena kegiatan Festival Seni di Magelang. Saya katakan kepada Arum Sari: “Yang perlu saudari ketahui adalah, para Tenaga Ahli UKP-PIP, adalah orang-orang terpilih dengan reputasi yang boleh diuji. Tak elok rasanya saudari memperlakukan saya seperti anak kecil dengan modus menakuti-nakuti dengan temuan dan pertanggungjawaban pada BPK.”  Saya tetap berangkat ke Magelang dengan uang pribadi, tanpa membawa UP sepeser pun dari Sekretariat UKP-PIP!
Selepas keributan kecil itu, yang selalu mengusik pikiran saya adalah, kalau orang keuangan mengkhawatirkan “temuan,” kenapa mereka tidak mengirim staf terlebih dahulu sebelum acara dilangsungkan? Itu tak pernah terjadi. Kami, penyelenggara program, yang seyogyanya berkonsentrasi pada ide dan konsep-konsep agar setiap kegiatan dapat menghasilkan output dan outcome yang maksimal, malah dibiarkan kasak-kusuk mengurus kwitansi dan segala macam tetek-bengek prosedur administratif laporan keuangan. Celakanya lagi, bila terjadi kesalahan, maka kesalahan itu ditimpakan bulat-bulat kepada kami. Sebagai satuan kerja, sebagai supporting system guna melancarkan setiap kegiatan UKP-PIP, saya ingin bertanya, apa sebenarnya pekerjaan mereka?  Bahkan Rencana Anggaran Biaya (RAB) setiap program dengan angka-angka yang sangat runyam pun kami yang mengerjakannya. Mereka terima bersih saja.
Kisah kecil saya bersama Arum Sari adalah gambaran sederhana tentang pengalaman-pengalaman besar yang dialami oleh 27 Tenaga Ahli UKP-PIP dari 3 bidang Kedeputian sejak Juli 2017 hingga Mei 2018. Kami dituntut menyerap anggaran dalam tempo amat singkat, tapi pada saat yang bersamaan kami tidak beroleh dukungan tata administrasi yang memadai. Alih-alih dipermudah, didukung dan dilancarkan, yang terjadi malah keterlambatan pelaksanaan kegiatan akibat bertele-telenya urusan pengajuan anggaran.
Yang paling ganjil menurut saya adalah, anggaran untuk penyelenggaraan program ada (meski turunnya  terlambat dan prosesnya berbelit-belit) tapi anggaran untuk penyelenggara program tidak ada. Lalu, siapa yang menjalankan program itu? Tuyul?  Sejak Juli 2017 hingga Mei 2018 kami tidak menerima gaji sepeser pun. Tak jarang para Tenaga Ahli merogoh kantong pribadi guna membiayai transportasi luar kota, pembayaran uang muka ini-itu, akomodasi selama kegiatan berlangsung, lantaran keterlambatan pencairan anggaran. Kami membuat utang di sana-sini dengan harapan setiap program terlaksana sesuai jadwal. Namun, giliran mengajukan penggantian ke Sekretariat, leletnya alang-kepalang, alasannya seribu satu, hingga akhirnya kami tanggung sendiri dan kami relakan saja. Dalam bahasa pimpinan, Yudi Latif pernah mengungkapkan, berurusan dengan birokrasi di UKP-PIP seperti membentur-benturkan kepala ke tembok gedung UKP-PIP itu sendiri.
Atas berbagai pengalaman yang saya peroleh selama bekerja di UKP-PIP yang sejak Februari 2018 lalu telah beralih rupa menjadi Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), saya merasa patut bertanya, seberapa serius sebenarnya pemerintah pada lembaga sekelas BPIP? Bagaimana mungkin para TA dibiarkan bekerja dengan supporting-system amburadul dan tata administrasi yang kusut-masai? Dalam situasi kebimbangan seperti itulah UKP-PIP berubah menjadi lembaga setingkat kementerian dengan dasar Peraturan Presiden No.7 Tahun 2018. Organisasinya akan sangat bongsor. 9 Dewan Pengarah, Kepala, Wakil Kepala, 5 Deputi (sebelumnya 3 deputi), Sestama, Direktur, dan Kelompok Ahli.
Dalam sebuah rapat rutin, Yudi Latif mengaku terperangah dengan postur organisasi BPIP sebagaimana yang termaktub dalam Perpres tersebut. “Saya tidak membayangkan organisasinya akan segemuk ini,” katanya di hadapan para TA. Selain itu, postur organisasi BPIP muncul begitu saja, tanpa melibatkan Yudi Latif dan segenap jajaran pimpinan UKP-PIP dalam perencanaannya. Tak berselang lama setelah turunnya Perpres pembentukan BPIP itu, Dewan Pengarah kemudian membentuk Satuan Tugas Khusus (Satgassus), semacam lembaga ad-hoc yang bertugas membentuk struktur organisasi BPIP, dimulai dengan rekrutmen terbuka calon-calon pejabat yang akan menempati posisi-posisi sebagaimana disebutkan di atas. Yang tampak agak janggal dalam lembaga ad-hoc itu adalah absennya Yudi Latif. Kepala BPIP yang sudah bekerja sejak dari lembaga bernama UKP-PIP tak dilibatkan dalam Satgassus. Nama yang muncul sebagai pimpinan Satgassus adalah Prof.Dr.Widodo Ekatjahjana, Dirjen Peraturan dan Perundang-undangan Kemenkumham RI. Pertanyaan yang saya ajukan pada teman-teman Tenaga Ahli kemudian adalah, mengapa urusan transisi dari UKP-PIP ke BPIP justru dipercayakan kepada orang di luar UKP-PIP? Hingga kini saya dan kawan-kawan belum memperoleh jawaban yang jernih soal itu.
Sementara Satgassus mulai bekerja, pada April 2018, Wakil Kepala BPIP dilantik. Jabatan itu ditempati oleh Prof.Dr.Hariyono yang sebelumnya menjabat sebagai Deputi 2 (Bidang Advokasi). Baik Perpres No. 7 Tahun 2018 maupun peraturan turunannya, mengatur tentang tugas dan kewenangan jabatan Wakil Kepala itu. Ada satu poin yang saya garisbawahi dari sejumlah butir peraturan tersebut, yakni aturan yang menegaskan bahwa Wakil Kepala dapat terhubung secara langsung dengan Dewan Pengarah, tanpa harus melalui Kepala BPIP. Bagian ini tentulah menimbulkan sejumlah prasangka di antara kami, misalnya apakah aturan tersebut tidak akan berakibat pada munculnya dualisme kepemimpinan di BPIP? Dalam level yang lebih ekstrem, saya pernah mengungkapkan, apakah aturan-aturan yang memberi ruang terlalu lapang bagi Wakil Kepala tidak akan berarti sebagai amputasi terhadap kewenangan Yudi Latif sebagai Kepala BPIP?
Dalam keriuhan obrolan kami di ruang kerja BPIP, lalu terbitlah Perpres 42 Tahun 2018 (akhir Mei 2018) yang mengatur tentang hak keuangan pejabat dan pegawai BPIP yang menggemparkan itu. Yang beroleh sorotan sedemikian rupa tentulah tokoh-tokoh nasional yang tercatat sebagai ketua dan anggota Dewan Pengarah BPIP. Sementara twitwar terus berhamburan di linimasa twitter, 27 orang Tenaga Ahli terus bekerja karena dikejar tenggat sejumlah kegiatan  guna menyemarakkan Bulan Pancasila (1 Juni s.d 18 Agustus 2018). Rapat tak henti-henti, persiapan teknis hampir tak mengenal waktu, pekerjaan menumpuk sementara jumlah TA terbatas, hingga kami tak punya banyak waktu mengikuti kegemparan yang berlangsung akibat isu “Gaji Jumbo” Dewan Pengarah BPIP itu.
Dalam kesibukan demi kesibukan, kami tergoda juga untuk sekadar menerka-nerka tentang bagaimana kelanjutan kisah hak keuangan kami yang sudah terlantar 9 bulan, bagaimana kami bakal mengasapi dapur, terutama menjelang mudik lebaran di mana tuntutan kebutuhan rumah tangga kian gencar. Diam-diam saya berharap, semoga ada yang sudi dan berkenan menyebut-nyebut tentang nasib 27 Tenaga Ahli BPIP. Meski kami bukan siapa-siapa, hanya gumpalan debu yang menempel di terompah tuan-tuan guru, tapi kami telah bekerja dan menunjukkan dedikasi dalam waktu cukup lama. Kami tahu, kami sedang bekerja di lembaga yang sangat mulia, dan tak elok rasanya menghitung-hitung kucuran keringat dalam pengabdian untuk Pancasila. Tapi kami adalah juga manusia, yang punya tanggungjawab pada keluarga. Maka jujur saja, kami ingin hak keuangan itu dipenuhi. 
Harapan itu rupanya disambut dengan upaya yang terukur dari pimpinan. Baik Wakil Kepala maupun Kepala, bahu-membahu berikhtiar agar hak keuangan 27 TA dapat dibayarkan menjelang cuti lebaran. Tapi tampaknya, upaya tersebut lagi-lagi berbenturan dengan tebalnya tembok birokrasi dan mekanisme yang bertele-tele, hingga apa yang semula membuat kami girang-gemirang kemudian berujung dengan kenyataan yang terasa begitu pahit. Upaya pimpinan tak membuahkan hasil. Bahkan sekadar permohonan pimpinan kami kepada lembaga yang berwenang untuk mencairkan 1 bulan saja dari 9 bulan gaji kami, pun tak dapat dikabulkan.
Dalam rencana mudik yang tak terlalu menggembirakan, di awal masa cuti lebaran, media sosial kembali gempar oleh kabar tentang mundurnya Yudi Latif sebagai Kepala BPIP. Saya terperanjat bukan main dan merasa kehilangan seorang pemikir kebangsaan yang begitu tekun merambah banyak jalan bagi pengarusutamaan nilai-nilai Pancasila di republik yang sedang terguncang ini. Di forum rapat rutin yang lain, jauh sebelum heboh gaji jumbo Dewan Pengarah dan gempar jagat maya karena kemunduran Kepala BPIP secara mengejutkan,  Yudi Latif pernah menegaskan bahwa ia siap mundur, melepas jabatan, bila itu dapat mempercepat proses pencairan gaji 27 orang Tenaga Ahli. Dan, rupanya janji itu bukan isapan jempol belaka, tapi benar-benar ia penuhi dengan segenap kerelaan. Bahwa ada indikasi kewenangannya dilucuti dengan kemunculan Perpres pembentukan BPIP dan beberapa peraturan turunannya, itu bukan soal besar bagi Yudi. Sebab, yang jauh lebih penting baginya adalah etos kegotongroyongan dalam tim BPIP. Ijinkan saya mengutip pernyataan wartawan senior Dhia Prekasha Yoedha, sejawat sesama Tenaga Ahli BPIP, yang mengatakan bahwa perspektif kepancasilaan yang hendak ditegakkan oleh Yudi latif dan tim adalah Pancasila yang tumbuh-berakar sebagai civic culture (budaya kewargaan) dalam keseharian masyarakat Indonesia. Bukan Pancasila formal dan kaku yang dinujumkan melalui kuasa aparatus negara.
Bagi Yudi Latif, segigih dan setulus apapun para pegawainya bekerja dalam menyemai nilai-nilai Pancasila, mereka tetap manusia yang juga harus bertanggung jawab menafkahi anak-istri. Dengan begitu, dalam pengamatan saya, salah satu penyebab ia mundur adalah karena merasa gagal memperjuangkan keriangan kami bersama keluarga di hari lebaran. Bagi intelektual sekelas Yudi, urusan gaji pasti bukan perkara genting, tapi memartabatkan dan memanusiakan orang-orang yang sudah bekerja di bawah kepemimpinannya selama 9 bulan adalah  bagian penting dari pengamalan sila 5 Pancasila, yang selama ini telah ia suarakan di mana-mana.
Atas dasar itulah saya merasa perlu menulis catatan ini. Saya hendak berterimakasih atas keberanian dan kerelaan Yudi Latif melepaskan jabatan tinggi demi para pekerja di BPIP. Yudi pamit karena perwujudan keadilan bagi para pegawainya berjalan mundur. Kepada para pegawai itu, juga kepada khayalak banyak, Yudi sesungguhnya sedang menyampaikan Kuliah Umum tentang keadilan…

             
Damhuri Muhammad
Sastrawan
Mantan Tenaga Ahli BPIP

Friday, March 23, 2018

MENCARI KABAR MUTAWATIR




 
Damhuri Muhammad
-->


(Versi cetak artikel ini telah tersiar di harian Kompas, Kamis 15 Maret 2018)

Ribuan tahun silam, nun di Yunani kuno, filsuf Plato (427-347 SM), menukilkan sebuah kisah yang lazim dikenal sebagai Allegory of  The Cave. Tentang sejumlah manusia yang terkurung dalam goa. Dalam Politeia (514a-517a)--sebagaimana dikutip A Setyo Wibowo (2010)--Plato menggambarkan satu sisi dari dinding goa itu memantulkan bayang-bayang dari api unggun yang menyala di belakang orang-orang terkurung itu. Oleh karena sekumpulan manusia dalam goa itu berada dalam keadaan terbelenggu--tak bisa menengok ke kiri, ke kanan dan ke belakang--lalu mereka memercayai bayang-bayang yang memantul di dinding goa sebagai kenyataaan yang sejati. Hingga suatu saat ada yang berhasil membebaskan diri, lalu menengok ke belakang, melihat secara langsung realitas yang lebih asali dari sekadar bayang-bayang di dinding goa.
            Dari kisah alegorik itu Plato kemudian merumuskan empat tingkatan pengetahuan. Pertama, pengetahuan yang didasarkan pada bayang-bayang di dinding goa, yang ia sebut pengetahuan konjektural, alias dugaan belaka. Kedua, sebagaimana  manusia bebas yang telah melihat kenyataan secara langsung, tapi masih berada di dalam goa, maka pengetahuan inderawi itu masih diselimuti oleh doxa (opini) atau pistis (kepercayaan). Bagi Plato, bila manusia bebas itu mau bersusah payah, ia akan mencapai pengetahuan sejati, atau dalam istilah Plato disebut noetik. Meski begitu, noetik tak mudah digapai, karena sebelum menggapainya orang terlebih dahulu harus melihat bayang-bayang sebagai simbol dari pengetahuan analitis dan matematis. Dengan demikian, pada level inderawi (di dalam goa) atas dasar objek inderawi yang dapat dilihat (bayang-bayang atau benda ril), manusia memang memiliki semacam pengertian, tapi hanya dalam arti konjektur dan doxa. Sementara di level intelligible, di luar goa, manusia dapat meraih pengetahuan rasional.
             
sumber: https://countercurrents.org/2017/01/18/post-truth-is-a-relative-concept-india-experiencing-it-for-years/



Alegori platonik itu mengingatkan saya pada lalu-lalang informasi di linimasa media sosial semacam facebook--secara kebetulan juga menggunakan istilah ”dinding” (wall)--yang dapat saya umpamakan sebagai bayang-bayang lidah api di dinding goa, sementara para facebooker adalah orang-orang yang terpenjara di labirin goa. Para netizen begitu lekas menerima setiap kabar yang muncul  sebagai pengetahuan. Padahal informasi yang berseliweran itu masih diselubungi doxa. Tak banyak yang bersusah payah untuk membebaskan diri dari kepungan linimasa, akibatnya mutu pengetahuan yang diperoleh tak meningkat ke level intelligible.
            Inilah sebuah kurun ketika fakta dan fiksi telah bersenyawa hingga sukar dipilah secara jernih. Dukungan dari kerumunan orang bisa membuat dusta beralihrupa menjadi kebenaran. Sebaliknya, kebenaran yang minim pembela bisa terpelanting sebagai bohong belaka. Berangkat dari dunia yang sedang terkeranda oleh semesta keabu-abuan itu, tahun 2016 lalu kamus Oxford memilih terminologi post-truth sebagai Word of the Year. Menurut catatan Wisnu Prasetya Utomo (2017),  jumlah penggunaan istilah tersebut di tahun 2016 meningkat 2000 persen bila dibandingkan 2015. Di “dunia pasca fakta”--demikian terjemahan Reza A.A Wattimena (2017) atas istilah post-truth era--kebenaran tak lagi penting. Yang dicari adalah kehebohan sesaat. Politisi bisa memenangkan Pilkada bukan karena ia berpijak pada kebenaran, tapi karena ia mampu menghibur massa dengan kebohongan dan kehebohan yang dangkal. Oleh karena itu, kata Reza, “fakta dan data tidak lagi penting. Yang dicari adalah sensasi yang mengaduk-aduk emosi. Berita di media sosial lebih berpengaruh ketimbang data dan fakta tentang kenyataan. Ini semua lalu menjadi pembenaran untuk kemalasan dan kedangkalan berpikir”.
Maka, terbuktilah kiranya apa yang telah diramalkan oleh filsuf Friedrich Nietzsche (1844-1900) dalam  On Truth and Lies in a Nonmoral Sense (1896) dengan konsep army of metaphors. Bagi  Nietzsche, yang kita sebut sebagai “kebenaran” tak lebih dari ilusi tentang sesuatu yang telah dikelupaskan dari diri sejatinya. Nietzsche menggunakan analogi sebuah koin yang martabatnya telah terdistorsi sebagai logam, karena simbol dan gambar di permukaan koin itu sudah luntur dan tak dapat dikenali lagi. Adapun yang mengakibatkan kebenaran terpelanting menjadi ilusi menurut Nietzsche adalah armada metafora (army of methapors), yang di era digital mungkin dapat diamsalkan  dengan  cyber army atau pasukan buzzer yang saban hari berkhidmat mendistribusikan informasi berdasarkan pesanan, guna membangun persepsi atas kepentingan tertentu. Akibatnya, seperti koin yang hanya tersisa sebagai logam, maka kebenaran terdegradasi menjadi persepsi dan opini.
Lalu, masih mungkinkah kita melarikan diri dari goa platonik atau keterbelengguan di dinding linimasa alam maya? Saya teringat kaji lama semasa di madrasah, nun di pedalaman Sumatra, khususnya  perbincangan intens perihal hadist mutawatir. Makna dasar kata mutawatir sama artinya dengan kata at-tatabu’u, yakni berturut-turut atau beriring-iringan. Mahmud Thahhan (2007) menjelaskan, hadist mutawatir adalah hadis yang diriwayatkan oleh banyak perawi (orang yang meriwayatkan) pada semua thabaqat (generasi) yang menurut akal dan adat (kebiasaan) tak mungkin bersekongkol untuk  berdusta.
Dari pengertian ini A. Qadir Hassan (1966) kemudian merumuskan sejumlah syarat bagi hadist mutawatir. Pertama, sanad-nya (rangkaian perawi yang mengantarkan materi hadist sampai ke sumber mula-mulanya;  Muhammad SAW) harus banyak. Para ulama berbeda pendapat dalam menentukan besaran jumlah perawi tersebut dan pendapat yang terpilih adalah minimal 10 orang. Kedua, ada keseimbangan jumlah perawi dari satu generasi ke generasi berikutnya. Misalnya, jika sanad di generasi terkini berjumlah 50 perawi, maka generasi di belakangnya harus berjumlah sama, begitu seterusnya, hingga generasi sanad yang secara langsung mendengar matan (materi) hadist dari Nabi. Ketiga, dari semua tingkatan generasi sanad yang sampai kepada sumber pertama, secara rasional dan secara adat (kebiasaan), mustahil mereka melakukan dusta bersama. Keempat, sandaran kabarnya adalah pancaindera alias pengalaman empirik, yang ditandai dengan kalimat ra-ai-na (kami telah melihat) dan sami’na (kami telah mendengar). Artinya, perawi paling mula sungguh berhadapan secara langsung dengan sumbernya. Satu saja dari empat syarat itu tak terpenuhi, derajat kemutawatiran hadist akan gugur seketika. 
Tentang mutu kebenaran hadist mutawatir, jumhur ulama telah menyepakatinya dengan nilai dharury, yakni suatu keharusan untuk mengakui kebenaran informasinya, sebagaimana orang yang telah menyaksikan suatu peristiwa dengan mata kepala sendiri. Semua hadist mutawatir adalah maqbul alias dapat diterima sebagai dasar hukum. Metode verifikasi yang ketat, terukur, dan sudah ratusan tahun bekerja di ranah ulumul-hadist ini sangat berguna dalam memilah dan menyaring setiap kabar yang berhamburan di jagat maya. Kabar mutawatir dapat menyelamatkan kita dari kepungan doxa dan armada metafora di rimba raya dunia pasca fakta… 
-->

Friday, January 19, 2018

Algoritma Kerja Bersama


Damhuri Muhammad


(versi cetak artikel ini tersiar di harian Kompas, Kamis, 18 Januari 2018)


Tak akan terbayangkan panjangnya petualangan manusia di jagat maya, tanpa pintu gerbang bernama World Wide Web atau yang biasa disingkat www. Itulah pangkal jalan dari setiap pengembaraan di dunia digital dengan segala macam faedah dan kompleksitas persoalannya. Tak banyak yang mengenang siapa yang telah berjasa menemukan pintu gerbang itu. Dia adalah Tim Berners-Lee, pria kelahiran London, 8 Juni 1955. Pada 1980, saat bekerja sebagai kontraktor lepas Conseil Européene pour la Recherche Nucléaire (CERN)--dewan yang dibentuk untuk mendiskusikan pembangunan fasilitas penelitian fisika nuklir di Eropa--Berners-Lee mengajukan proyek berbasis hypertext guna memfasilitasi pembagian dan pembaharuan informasi di antara peneliti. Atas bantuan Robert Cailliau, ia menciptakan sistem prototipe bernama Enquire. Pada 1984, Berners-Lee menggunakan ide yang mirip dengan apa yang ia gunakan pada Enquire guna menciptakan World Wide Web. Lalu, ia membuat situs jaringan internet dengan alamat www.http://info.cern.ch, sekaligus menjadi server-web pertama di dunia, yang  mengudara 6 Agustus 1991. Di sinilah awal mula keterhubungan milyaran manusia dari segenap penjuru dunia di bumi, dalam ruang tak berbatas bernama cyberspace. Gegap gempita dunia maya yang kian tak terbendung kini, tak lepas dari sumbangsih besar Lee.
Di usia 62 tahun, Lee hidup sebagai pribadi yang rendah hati. Ia tak berkeinginan mematenkan penemuannya, hingga bisa dipakai secara bebas sampai detik ini. Atas jasa besar itu, lulusan terbaik Fakultas Fisika Queen’s College, Oxford University itu memperoleh penghargaan Order of Merit (2007), anugerah bergengsi di Inggris Raya, penghargaan personal Ratu Inggris yang untuk memberikannya Sang Ratu tak perlu nasihat dari siapapun. Keteladanan Lee ditemukan pula pada sosok Blake Ross, pengembang piranti lunak yang telah menciptakan Mozilla, fasilitas penjelajah internet. Anak muda kelahiran  Miami, Florida  12 Juni 1985 itu membuat website pertamanya di usia 10 tahun. Saat Mozilla Web Browser diudarakan pada 2004, usianya baru 11 tahun. Mozilla kemudian digabungkan dengan Firefox--program yang diciptakan bersama Dave
Hyatt
--hingga namanya berubah menjadi Mozilla Firefox. Secara  cepat Mozilla Firefox diterima para pengguna internet karena dinilai lebih aman dan mudah digunakan, hingga merebut sebagian pasar penjelajah internet yang sebelumnya dikuasai oleh Microsoft Internet Explorer. Pertama kali mengudara, Firefox versi 1.0 diunduh  lebih dari 5 juta  pengguna dalam 12 hari pertama.

 
sumber gambar: https://goo.gl/35WgpH


Sebagaimana pintu gerbang dunia maya temuan Lee, Mozilla Firefox, yang dikembangkan oleh Yayasan Mozilla dan ratusan sukarelawan, juga dapat digunakan secara cuma-cuma. Dari kerja para sukarelawan yang dimulai dari tangan dingin Ross, warganet dapat menjelajahi dunia maya dan berinteraksi di medan-medan pergaulan yang dalam bahasa Manuel Castells (2010) kemudian disebut Masyarakat Jaringan (network society). Tuan tak akan dapat masuk ke dalam situs media sosial tanpa Mozilla Firefox. Karena World Wide Web dan Mozila Firefox, jutaan orang dari berbagai negara, latar belakang keilmuan, suku dan agama, saling bertukar informasi, hingga keramaian itu berujung pada apa yang dibahasakan Castells sebagai mass self communication, yakni individu-individu yang menggunakan berbagai perangkat media sosial, lalu mengirimkan pesan yang dapat menjangkau banyak orang.
Namun, apa yang telah dihibahkan oleh Lee dan Ross untuk kemanfaatan bersama itu kemudian disambut oleh kepentingan ekonomi yang berdenyut di belakang layar media-media sosial. Dalam pergaulan digital yang sedang kita digandrungi, ada sebuah mesin pintar bernama Algoritma. Dalam bahasa sederhana, Maulida Sri Handayani (2016) menjelaskan cara kerja mesin itu. Jika Anda sedang kehausan di halte Transjakarta dan kebetulan ada mesin minuman, Anda memasukkan koin ke dalam mesin itu. Dalam hitungan detik, keluarlah minuman yang Anda inginkan. Tentu bukan jin yang membuat minuman itu muncul. Tanpa uang tak mungkin minuman bisa keluar. Tapi, mesin itu punya seperangkat aturan tak terlihat yang memungkinkan minuman bisa keluar saat Anda memasukkan koin. Seperangkat aturan atau rumus itulah Algoritma. Istilah ini berasal dari nama matematikawan Baghdad, Mohammed ibn-Musa al-Khawarizmi (780-850).
Algoritma media sosial semacam Facebook misalnya, adalah Algoritma berbasis keseragaman. Kabar terkini yang melintas di linimasa Tuan adalah hasil saringan dari rekam jejak digital Tuan; buku, musik, film, olahraga yang Tuan suka, topik perbincangan yang Tuan gemari, teman dari latar belakang apa yang ingin Tuan gauli, dan semacamnya. Dengan begitu, ia hanya akan mendekatkan Tuan dengan orang-orang yang punya kesamaan dengan Tuan. Keseragaman itu--sebagaimana dicatat oleh Aulia Adam (2017)--dapat mengancam iklim intelektualitas. Orang yang saban hari disuguhi informasi tentang bahaya pemikiran tertentu, bakal alergi dengan gagasan baru yang datang bukan dari kelompoknya, hingga timbullah fanatisme buta. Aulia Adam mengungkapkan kecemasan Eli Pariser, seorang pemerhati internet, dengan istilah Filter Bubble (gelembung saringan). “Sebuah dunia yang dibangun dari kesamaan (familiar), adalah tempat kita tak bisa belajar apa pun,” kata Eli Pariser.
Algoritma inilah penyebab dari keterbelahan warganet dalam dua kutub besar saja;  pro dan kontra, mendukung atau menolak,  kita dan mereka,  suka dan benci. Sulit mendapatkan varian-varian alternatif dari kedua kutub yang terus berbenturan secara keras itu. Demikian Algoritma media sosial membentuk cara berpikir kita. Lalu, jutaan orang dalam dua kutub itu dilahap oleh industri periklananan. Menurut statistik yang dilaporkan oleh Ahmad Zaenudin (2017) di www.tirto.id, hampir seperempat populasi di dunia adalah pengguna Facebook—tepatnya 22,9 persen. Pada 2015, Facebook memiliki 1,15 miliar pengguna mobile bulanan. Dengan jumlah pengguna yang besar itu, pada tahun yang sama, Facebook berhasil meraup uang sebanyak $17,1 miliar, yang sebagian besarnya diperoleh melalui iklan.
Bila kita masih mengharapkan kemanfaatan yang luas bagi kebersamaan di dunia virtual, sebagaimana telah dimulai Lee, Ross, dan para pencipta piranti lunak berbasis open-source lainnya, maka Algoritma berbahaya itu, mesti diubah menjadi Algoritma sosial untuk kerja bersama. Dalam konteks Indonesia, pertumbuhan co-working space (ruang bersama) di Bandung, Jakarta, dan kota-kota lainnya dua tahun belakangan, dapat menjadi harapan. Co-working adalah kerja sama anak-anak muda pendiri Startup dan para pekerja paruh-waktu dengan konsep open-space atau transparansi, hingga setiap individu di dalamnya aktif berinteraksi tanpa batasan.
Perjumpaan intens insan-insan kreatif itu memungkinkan mereka membentuk jaringan (networking) dalam berkarya demi kemaslahatan banyak orang. Tak disangkal, ada bisnis di dalamnya, tapi merancang, apalagi memfungsikan sebuah aplikasi digital, tak dapat dilakukan sendiri. Dibutuhkan banyak keahlian dan mesti tegak di atas etos kerja sama. Kebutuhan untuk bergotong-royong ini dapat melahirkan Algoritma sosial yang tak berakibat membelah dan membagi. Dengan begitu, gotong-royong yang sudah menjadi DNA Pancasila sejak lama, akan berdenyut di dunia maya.

Wednesday, December 27, 2017

Keriangan yang Punah


Damhuri Muhammad


(versi cetak artikel ini tersiar di harian Kompas, Selasa 12 Desember 2017)



Jangan bergegas menuju dewasa. Tak perlu tergesa menuju tua. Sebab, puncak kegembiraan ada di masa kanak-kanak




Demikian pesan seorang ayah kepada anaknya dalam sebuah obrolan ringan akhir pekan. Sekilas terdengar ganjil dan barangkali dapat menimbulkan banyak pertanyaan. Sebab, lazimnya orangtua menginginkan anaknya lekas besar, segera matang, hingga secepatnya pula menggapai cita-cita.
            Saya membayangkan kegembiraan yang dimaksud oleh nasihat di atas. Jauh sebelum game online merajalela, anak-anak masa silam hanya mengenal permainan mobil-mobilan dari kulit Jeruk Bali. Bodi utamanya terbuat dari satu belahan simetris kulit Jeruk. Lalu, bagian atapnya diambil dari belahan simetris yang lain dalam ukuran lebih kecil. Empat roda dibentuk dari bahan yang sama, dengan perkakas sederhana hingga ukurannya sulit untuk dibikin persis sama. Rangka penghubung antara bodi, atap, dan empat roda hanya memerlukan beberapa bilah bambu ukuran kecil. Mobil Kulit Jeruk segera meluncur di jalan setelah dihubungkan dengan tali rapia hingga dapat dihela ke mana suka.
          Satu-dua hari kulit Jeruk Bali tentu akan layu dan lisut, hingga mobil berjalan egol-egol lantaran putaran rodanya tak imbang lagi. Selain itu, warnanya juga akan berubah. Tapi anak-anak masa lalu masih menyeretnya ke mana-mana. Bahkan masih digasak di gelanggang balapan dengan anak-anak lain hingga akhirnya semua mobil itu hancur berantakan di jalan berbatu. Tak usah kuatir, sebab persediaan Jeruk Bali melimpah. Mereka akan kembali membuat mobil baru esok hari, untuk kemudian dihancurkan kembali. Di sanalah kegembiraan tumbuh. Membuat mainan dengan tangan sendiri, meminjam pisau dari dapur ibu, saling meledek karena hasilnya mungkin terlalu jauh dari bentuk mobil sebenarnya, tertawa terpingkal-pingkal, lalu main bersama hingga tiba waktu senja.  
Anak-anak masa silam juga terbiasa bermain Meriam Bambu. Terbuat dari dua ruas bambu tua yang mereka tebang dari rumpun aur sendiri. Bagian pangkal ruas pertama dilubangi sebagai pintu untuk memasukkan minyak tanah dan kain bekas. Perlu sebilah bambu ukuran kecil sebagai pemantik api yang akan disulutkan ke lubang di pangkal Meriam. Setelah itu, terdengarlah suara dentuman yang saling berbalas di antara satu kampung dengan kampung lain. Kadang-kadang Meriam Bambu juga digunakan sebagai senjata dalam perang-perangan. Biasanya dilakukan di tengah sawah selepas panen. Satu kelompok anak-anak dengan 5 Meriam berposisi saling berhadap-hadapan dengan kelompok anak-anak lain dengan jumlah Meriam yang sama, dalam jarak 150 meter. Sebelum saling menyerang sesuai aba-aba, di ujung setiap Meriam dipasangkan tempurung kelapa terlebih dahulu. Dentuman yang bertubi-tubi makin semarak oleh tempurung kelapa yang beterbangan. Tak ada ukuran baku guna menentukan pemenang dari perang itu, tapi yang menarik dari permainan itu adalah bulu mata para operator Meriam yang gundul akibat lidah api yang menyembul di lubang penyulut. Panas tinggi dari ruas bambu mengakibatkan cipratan api. Sekali lagi, di situlah keriangan menyala. Kedua pasukan terbahak-bahak melihat muka sahabat-sahabatnya belepotan arang dan bulu mata yang gundul lantaran jilatan api Meriam Bambu.
Siapa tak kenal Petak Umpet? Tak ada wilayah Indonesia yang tidak memiliki permainan ini, meski nama dan cara bermainnya berbeda-beda. Permainan popular ini telah menyisakan banyak kegembiraan yang mustahil diulang setelah kita beranjak dewasa. Manakala sekelompok anak-anak sudah bersembunyi di ceruk-ceruk yang paling sukar ditemukan, ternyata anak yang bertugas mencari, pulang diam-diam. Berjam-jam mereka meringkuk di persembunyian, sementara si pencari tak kunjung tiba. Ketika hari beranjak sore, yang muncul di lokasi justru teriakan seorang ibu yang merasa kehilangan  anaknya. Begitu mereka keluar dari persembunyian, meledaklah kekecewaan, juga tawa karena mereka telah tertipu secara berjamaah.  Meski begitu, esok hari mereka bermain kembali.









Kini, keriangan demi keriangan itu adalah barang langka, baik di desa, apalagi di kota-kota besar. Suatu kali di masa liburan sekolah, saya mengajak anak-anak saya mudik ke pedalaman Sumatra. Saya hendak memperkenalkan Adu Sijontu alias Adu Jangkrik, permainan masa kecil yang saya gemari. Sebelum kami bertolak ke areal bekas kebun cabai guna mencari beberapa ekor Sijontu jantan, saya bertanya pada seorang anak tetangga, perihal di mana Sijontu jantan mudah diperoleh. Ia menggeleng tanpa beban. Bukan saja karena ia tidak bisa menunjukkan sarang Sijontu, tapi juga karena ia betul-betul tidak mengenal makhluk bernama Sijontu itu. Telapak kaki anak-anak kampung masa kini ternyata tidak lagi bersentuhan dengan pematang sawah. Sepulang sekolah, mereka duduk berdesak-desakan, bermain game elektronik di tempat-tempat penyewaan PlayStation (PS). Atau bila penyewaan PS sedang penuh, mereka akan terpaku berjam-jam di kamar, bermain game online di telpon pintar. Dalam permainan digital itu mereka terhubung oleh koneksi internet, tapi tidak saling berjumpa, meski berada di kampung yang sama.
Kecanduan gawai yang sedang menjangkiti generasi “Kids Jaman Now” telah membuat mereka malas bergerak, dan tak gandrung bercengkrama di alam terbuka. Michael Rich (2015), peneliti Center on Media and Child Health di Boston Children’s Hospital, mensinyalir bahwa pada 2013, 70% anak usia 8 tahun ke bawah sudah menggunakan perangkat gawai seperti smartphone, tablet, dan iPod. Padahal, pada 2011 datanya masih berada di angka 38%. Hasil riset yang dilansir www.uswitch.com (2014) juga melaporkan lebih dari seperempat anak-anak di seluruh dunia memiliki komputer genggam sebelum usia mereka genap 8 tahun. Hasil survei dari lembaga yang sama mencatat, satu dari 3 anak bahkan mulai menggunakan smartphone ketika berumur tiga tahun. Laporan ini menunjukkan bahwa jutaan anak telah mengalami kecanduan gawai.
Bila Tuan dan Puan meragukan kabar ini, periksalah tingkah anak saat mereka ketinggalan gawai dalam sebuah perjalanan piknik, atau saat jaringan Wifi di rumah sedang bermasalah. Mereka akan uring-uringan, gelisah tiada tentu arah. Sebab, kebiasaan bermain di dunia virtual, adalah nyawa kedua mereka. Lalu di mana Gundu, Congklak, Lompat Tali, Gobak Sodor, Pletokan, Engklek, dan rupa-rupa permainan anak-anak Nusantara yang hingga kini belum terhitung jumlah pastinya? Seorang blogger telah menginventarisir tak kurang dari 50 permainan tradisional anak-anak masa silam, kini terancam punah.   
Boleh jadi beberapa jenis permainan itu telah mengalami digitalisasi hingga dapat dimainkan melalui aplikasi digital, tapi proses kreatif saat memproduksinya, persentuhan fisik dengan kawan-kawan sebaya, kekompakan dalam permainan kolektif, dan keriangan yang dapat digapai bila permainan itu digelar di dunia nyata, tiada bakal tergantikan oleh histeria dunia maya. Alih-alih dapat meraih keriangan dalam kebersamaan, generasi “Kids Jaman Now” justru karam di liang-liang keterasingan…    

Wednesday, September 13, 2017

Tubuh Ayah Berwarna Tanah


Damhuri Muhammad



(versi cetak cerpen ini tersiar di harian Kompas, Minggu, 10 September 2017)



Seberapa lama kita sanggup melihat kembali wajah yang pernah kita kekalkan dalam foto setelah ia meninggal dunia? Tanyamu sambil mencari potret diri seorang tokoh penting dalam sebuah folder khusus di laptopmu. Seorang teman kolumnis spesialis obituari menginginkannya, lantaran orang besar itu baru saja dilaporkan telah meninggal dunia. Bagaimana kalau yang muncul di layar monitor adalah wajah ayahmu sendiri, yang mungkin pernah kau abadikan sebelum ia pergi untuk selamanya? Kau sanggup menatapnya lama-lama? Sekadar melakukan olah-digital ringan untuk kebutuhan cetak buku Yasin dalam acara tahlilan 40 hari setelah kematian, misalnya?
         Bagimu, itu pekerjaan paling mengerikan. Barangkali lebih berbahaya dari upaya keras mendapatkan sebuah momentum pemotretan dalam situasi yang sedemikian genting. Wajah dalam foto itu seolah-olah ingin bercakap-cakap denganmu. Bibirnya seperti nyata bergerak. Tangannya bagai menggapai-gapai memintamu diam sejenak, menyimak pembicaraannya. Dengan macam-macam ekspresi, ia seperti memohon uluran tanganmu guna menyampaikan hal-hal yang tak tersampaikan semasa hidup. Ia menyingkap segala rahasia di hadapanmu, mengakui rupa-rupa tudingan yang semasa hidup mungkin dibantah terus-menerus. Foto orang yang sudah mati itu seperti rumah virtual yang dihuni  banyak harapan, dan semuanya dialamatkan kepadamu. “Semestinya bila orangnya sudah almarhum, datanya juga dikuburkan! Supaya tidak bikin repot,” ungkapmu, ketus.
Itulah yang kemudian membuat kau lebih gandrung mengabadikan benda-benda mati ketimbang memotret orang-orang hidup. Bila tak bisa mengelak dari manusia, kau pasti akan memilih manusia yang sudah menelentang di peti jenazah. Tapi, tentu ada saja saatnya kau tak bisa menolak untuk mengarahkan mulut lensa ke wajah orang hidup. Masih ingat saat ayahmu tiba-tiba minta dipotret dengan latar belakang kebun Kangkung yang ia garap dengan sisa-sisa tenaga setelah bertahun-tahun bekerja sebagai tukang sumur?
            “Jangan sibuk memotret orang lain saja. Bikinlah foto Ayah.  Tampakkan hamparan kebun sayur ini sebagai bukti bahwa Ayah masih bertenaga,” kata ayahmu pada satu kesempatan pulang beberapa tahun silam.
            “Tolong kau atur bagaimana caranya supaya muka Ayah tidak tampak terlalu tua. Begitu juga tubuh Ayah, upayakanlah tak terkesan ringkih,” mohon ayahmu, meski usianya saat itu sudah berkepala tujuh.
            “Kenapa masih diam? Lekas siapkan perkakasmu!”




            Permintaan yang bukan saja ganjil, tapi juga membuatmu terperangah beberapa jeda. Kau tahu, sejak kecil hingga dewasa, tak ada foto keluarga yang terpajang di dinding ruang tengah rumahmu. Kalaupun ada, itu hanya foto adikmu saat menerima piala lomba pidato, atau foto-foto adikmu yang satu lagi, saat ia bersama teman-temannya di SMP,  mengikuti lomba cerdas cermat antarsekolah. Bahkan hingga dari rumah itu sudah terlahir tiga orang sarjana--termasuk dirimu--tak satu pun terpampang foto wisuda. Tak ada foto ibumu, tak juga ayahmu, apalagi foto pernikahan mereka. Tapi kemudian, di usia tujuh puluhan ayahmu tiba-tiba memintamu untuk menyiapkan perkakas pemotretan guna mengabadikan dirinya. Entah untuk keperluan apa.
            Tanpa banyak bertanya-tanya, lensa-lensa terbaik kau keluarkan dari ransel, lampu-lampu flash off, tripod, dan alat-alat pemantul cahaya, terpasang di area kebun Kangkung di belakang rumah masa kecilmu itu. Kau biarkan ayahmu berdiri dengan posisi yang dia sukai, tanpa diarahkan sama sekali. Kau bebaskan saja ayahmu berbincang-bincang dengan leluasa saat pemotretan berlangsung. Cahaya petang itu cukup cerah. Suasananya sejuk dan tenang, dengan selingan candaan-candaan ringan, hingga akhirnya kau berhasil memperoleh 50 frame dari macam-macam sudut pembidikan, dengan ketajaman gambar dan detail yang sempurna.
            “Ayah tak  perlu memeriksa hasilnya. Ayah percaya kau sudah mahir!”
            “Satu-dua mungkin perlu kau kirim pada saudara-saudara Ayah. Sekadar menunjukkan bahwa Ayah masih kokoh. Tak lapuk digasak penyakit seperti mereka.” 
“Selebihnya kau simpan saja. Barangkali kau memerlukannya nanti.”
Dari raut mukanya, sebenarnya kau mengerti, ia ingin punya pose berdua denganmu, yang bisa saja kau lakukan dengan menyalakan mode swafoto pada kamera digitalmu. Tapi ayahmu sungkan menyampaikan keinginan yang mungkin berlebihan itu. Sebab ia tahu, sejak kecil kau adalah anaknya yang paling getol menolak setiap ajakan berfoto. Pengalaman pertamamu dengan dunia fotografi adalah pengalaman menghadapi ketakutan. Masa itu, berdiri beberapa depa di depan mulut lensa, bagimu bagai pasrah menyambut tembakan mematikan dari senapan seorang algojo berwajah sangar, meski fotografernya adalah pamanmu sendiri, adik bungsu ayahmu. Kau merasa terancam setiap kali harus berhadapan dengan kamera. Mukamu terasa akan dikuliti, telingamu serasa akan digunting, dadamu terasa bakal ditikam.
“Orang yang takut difoto di masa kecil, kelak bila sudah besar akan menjadi juru foto,” demikian doa pamanmu, yang tampaknya segera diaminkan oleh ayahmu.
Doa itu terkabul di kemudian hari. Nasib mengantarkan hidupmu ke dunia foto. Hari-harimu tak pernah lepas dari kamera. Tak ada yang lebih menarik bagimu selain kegiatan menggambar dengan cahaya, meskipun bidang keilmuanmu sama sekali tak ada kaitannya dengan fotografi. Namun, perangaimu tak kunjung berubah. Jangankan di dunia citraan, di dunia nyata pun kau takut menampakkan diri. Kau selalu mengurangi risiko tampak muka bagi banyak orang. Kau gemar meniadakan tubuh dari siapapun. Tatkala tidak bisa menghindar dari keharusan berpose di depan kamera, hasilnya sudah bisa ditebak; senyum terpaksa, tatapan basa-basi, dan aura gamang yang tak bisa kau dustakan. Teman-teman menggelarimu sebagai juru foto dengan satu pantangan; difoto. Bila itu terjadi, kata mereka, reputasimu sebagai juru foto handal akan jatuh. Seperti pendekar yang rahasia kesaktiannya terbongkar, hingga bertekuk lutut di hadapan musuh.
            Satu tahun selepas kau mengirimkan beberapa frame  foto ayahmu pada saudara-saudaranya melalui surat elektronik, dari kejauhan kau mendengar kabar bahwa ayahmu telah berpulang. Dari kebun Kangkung itulah tubuh ayahmu dipapah oleh beberapa orang. Saat itu ia sedang panen, dan hasilnya sudah ditunggu seorang tauke untuk dibawa ke pasar yang jatuh di hari Kamis. Tiba-tiba ayahmu diserang sesak napas yang sulit dihadang, hingga ia ambruk dan terkulai lemas di atas pembatang. Ayahmu terkapar dalam keadaan yang terus melemah selama beberapa bulan, hingga nyawanya tak terselamatkan.
Maka, peristiwa pemotretan yang menghasilkan 50 frame itu adalah perjumpaanmu yang terakhir dengan ayahmu. Bahkan sekadar mengantarkan ayahmu ke tempat istirahat penghabisan kau gagal memenuhinya. Pesawat yang kau tumpangi dari Jakarta mengalami keterlambatan. Yang dapat kau saksikan setiba di kampung halaman hanyalah tanah pemakaman ayah yang masih merah.
           “Hingga kini aku belum sanggup membuka folder berisi foto-foto ayahku!” ungkapmu dengan tampang yang semakin gamang.
            “Pernah aku tak sengaja membukanya, lalu aku buru-buru menutupnya. Ayahku hidup dalam foto-foto itu!”

***
              Foto-foto dalam folder khusus di laptop itu belum seberapa menggetarkan dadamu, Kawan. Semasa kita masih mahasiswa, kau masih ingat pernah mengajakku pulang ke kampungmu? Waktu itu aku membawa sebuah kamera analog, hadiah yang kuperoleh dari sebuah photo-contest. Dengan kamera itu--tentu dengan kemampuan yang masih amatir dan perkakas pendukung yang murahan--aku membuat sebuah pose foto bersama di halaman rumahmu; kau, dua adikmu, dan ayahmu. Foto itu kini masih utuh dalam arsip yang kuberi nama; dibuang sayang.
Memang sudah lusuh. Warnanya tentu sudah kusam. Tapi, kenangan yang bersarang di dalamnya, kupastikan tak akan berkarat. Dulu, setelah negatifnya kita cetak, dengan amat bersemangat kau bilang bahwa ayahmu masih kokoh. Kau ceritakan pula, saat memperbaiki pintu dapur yang lepas dari engselnya, ayahmu masih was-was bila tenaga mudamu tak sanggup menggeret daun pintu itu sendirian, lalu ayahmu tergesa datang membantu, hingga kalian merehab dapur ibumu bersama-sama. Masa itu ayahmu juga masih tangguh. Sepulang bekerja menggali sumur di rumah orang, sekujur tubuhnya bergelimang tanah liat. Kau bilang, hanya lidahnya yang tak berwarna tanah.
"Sepanjang sekop masih beradu dengan batu-batu di kedalaman sumur, jangan pernah ragu. Ayah akan terus bergelimang tanah, sementara kalian riang-gembiralah di dunia sekolah," begitu ayahmu memompa semangat kalian.
Kau tak bisa merawat ayahmu sebagaimana ia dengan santai menggendong tubuh kecilmu ke Puskesmas tatkala kau panas tinggi selepas bermain bola dalam hujan lebat. Kau tak bisa menyuapinya dengan makanan kegemaran karena ia sudah kehilangan selera. Sementara di masa kanak-kanak, sepotong Martabak yang nyaris terdorong ke dalam mulutnya ia renggut kembali, karena ia melihat matamu menginginkan Martabak Terang Bulan itu.
Kini ayahmu sudah tiada. Kegembiraan kalian juga sudah lama berlalu. Tapi kau tak akan lupa bau tanah yang telah bersekutu dengan tubuh ayahmu. Kau tak akan lupa napas kelelakiannya, cara tertawanya, kekar pangkal lengannya. Merindukan masa bergelantungan di pundak ayahmu adalah semacam kegembiraan yang tidak lagi akan bersuara. Atau semacam kesenyapan yang tidak lagi akan terbahasakan di sepanjang hidupmu.
Klise foto itu sudah hilang, Kawan. Tapi, aku sudah menyelamatkannya dengan mengubah lembaran foto usang itu ke dalam format digital. Telah kukirimkan berkas lunaknya ke alamat emailmu. Unduh dan simpanlah baik-baik. Kelak, kau akan memerlukannya…


Depok, 2017